CUKUP SETENGAH TON KARET UNTUK SEBUAH SEPEDA MOTOR

Oleh Hasan Zainuddin
Banjarmasin,26/2 (ANTARA) – Membaiknya harga karet di pasar dunia menggeliatkan kehidupan di sejumlah sentra perkebunan karet di Kalsel.
Geliat itu sangat terlihat di Banua Enam (enam kabupaten utara). Banyak warga desa di kawasan itu, yang sejak beberapa tahun lalu merantau, kembali ke kampung halaman untuk menggarap karet mereka.
Desa Panggung, Pulauwanin, Baruh Bahinu Dalam, Pudak, Inan, Maradap dan desa-desa sekitarnya di Kabupaten Balangan terlihat kian ramai,
Bukan hanya petani karet dan buruh sadap yang kini meramaikan desa-desa itu, tapi juga para pedagang.
Perputaran uang di desa-desa yang mengiringi meningkatkannya harga karet terlihat dari semaraknya jual beli di pasar mingguan. Hal itu, misalnya, terlihat di pasar Paringin, ibukota Kabupaten Balangan yang ramai tiap hari Senin.
Atau tiap Sabtu di Kota Kecamatan Awayan,  Selasa di kota Kecamatan Batumandi, dan hari lainnya di kecamatan berbeda.

menyadap karetkaret asalan jenis lum yang disimpan petani
Pengusaha karet  Kodrat Syukur mengakui harga karet alam belakangan ini menggairahkan petani karet di Kalsel. Karet yang dijual ke pabrik pengolahan meningkat tajam.
Menurut dia, harga karet alam belakangan ini tercatat paling tinggi dalam sejarah perkaretan di Indonesia, dan itu membahagiakan.
“Harga karet alam dunia sekarang ini sudah mencapai 2,8 dolar AS per kilogramm suatu harga yang sungguh menggiurkan bagi dunia perkaretan,” kata Kodrat Syukur, pemilik pabrik terbesar di Kalsel.
Pemilik PT Insan Bonafide Banjarmasin itu mengatakan, bila dulu seorang petani harus mengumpulkan sedikitnya empat ton karet  agar bisa membeli sebuah sepeda motor, sekarang cukup dengan setengah ton.
Dengan tingkat harga karet yang demikian maka kesejahteraan petani karet Kalsel belakangan ini paling tinggi dibandingkan dengan petani komoditi lain.
“Lihat saja hampir semua petani dan penyadap karet Kalsel sudah memiliki sepeda motor,” katanya.
Peningkatan jumlah permintaan karet di pasar dunia juga berdampak positif pada ekspor karet Kalsel. Berdasarkan data ekspor di Dinas Perkebunan (Disbun) Kalsel selama dua tahun terakhir ekspor karet Kalsel mengalami pertumbuhan sangat tinggi.
Selama dua tahun ini, volume ekspor karet Kalsel melonjak hingga 140 persen dengan nilai ekspor meningkat  sebesar 200 persen.
Data ekspor produksi karet Kalsel selama dua tahun terakhir itu, komoditas karet SIR paling mendominasi. Untuk tahun 2006, ekspor karet SIR meningkat volumenya hingga mencapai 120 persen dan peningkatan ekspor mencapai 187 persen.
Setelah itu disusul karet RSS yang meningkat 143 persen dan 208 persen untuk nilai ekspor. Sedangkan untuk produk karet Lateks meningkat volumenya sebesar 77 persen dengan nilai ekspor tumbuh 68 persen sejak 2005.
Kembangkan karet
Meningkatnya harga karet alam belakangan  ini menggairahkan masyarakat kawasan Banua Enam  yang dikenal wilayah sentra kebun karet rakyat Kalsel.
Tak terlihat lagi lahan semak belukar dan padang alang-alang di sepanjang jalan trans Kalimantan yang melintasi kawasan Banua Enam Kalsel, hampir semua lahan menghijau dengan tanaman karet muda.
Kawasan Banua Enam meliputi Kabupaten Tapin, Hulu Sungai Selatan, Hulu Sungai Utara, Hulu Sungai Tengah, Balangan, serta Kabupaten Tabalong.
Beberapa warga di Kecamatan Paringin, Kabupaten Balangan menuturkan pengembangan budidaya kebun karet yang marak sudah berlangsung sejak lima tahun terakhir ini, setelah harga karet terus membaik.
Kini, bagi mereka, usaha menyadap karet lebih menguntungkan dibandingkan usaha lainnya.
Akibatnya, hampir semua orang di sana mengembangkan kebun karet dengan memanfaatkan lahan-lahan kosong, semak belukar, dan padang alang-alang.
“Dulu tak ada yang mau menjamah kawasan pegunungan Meratus, sehingga kawasan di sana hanya padang alang-alang, semak belukar, dan sebagian gundul. Tapi kini lahan di sana jadi rebutan untuk kebun karet,” kata Mahlan, penduduk setempat.
Jenis karet yang belakangan dikembangkan adalah varietas unggul, dan warga sudah meninggalkan bibit karet varietas lokal.
“Bibit unggul dalam  empat tahun sudah bisa disadap dan lateks dari jenis karet ini lebih banyak,” tambahnya.
Dengan menyadap karet unggul, setiap warga minimal menghasilkan Rp50 ribu hingga Rp100 ribu per hari.
Harga karet di tingkat petani sudah tinggi. Untuk jenis marlung (karet lembaran kering) Rp20.000 per kilogram,  jenis lum (karet bakuan basah) Rp6.000 hingga Rp10.000 per kilogram.
Bila seorang petani menghasilkan 5 kg karet lembaran kering maka hasil yang diperolehnya sudah mencapai Rp100 ribu.
Berdasarkan catatan di Dinas Perkebunan Kalsel, pengembangan kebun karet itu bukan saja di kawasan Banua Enam, tapi meluas ke kabupaten lain sepeti di Kabupaten Kotabaru, Tanah Bumbu, seta Tanah Laut.
Luas kebun karet Kalsel mencapai 178 ribu hektare, terdiri atas perkebunan rakyat 154 ribu hektare dengan produksi 79.552 ton per tahun, perkebunan besar swasta seluas 13,9 ribu hektare dengan produksi 4.267 ton per tahun, dan perkebunan besar milik negara seluas ) 9.9 ribu hektare dengan produksi 7.585 ton per tahun.
Rata-rata produktivitas per ha untuk tiga kategori pengembangan kebun karet Kalsel itu mencapai 925,75 kg per hektare per tahun.
Dinas Perkebunan setempat berupaya terus memperluas kebun karet melalui program revitalisasi kebun serta berusaha memberikan penyuluhan kepada petani agar menjaga kualitas produksi karet dan kualitas pohon karetnya.
Penyuluhan itu antara lain untuk mengingatkan kepada petani agar melakukan penyadapan dengan benar serta adanya pemeliharaan yang baik agar umur produksi pohon karet bisa diperpanjang.
Pemerintah propinsi Kalsel, kini mengajak masyarakat mengembangkan kebun karet lebih luas lagi melalui  peremajaan kebun karet.
Seperti penuturan Kepala Dinas Perkebunan Kalsel Haryono, peremajaan karet rakyat tersebut untuk  mengganti pohon karet yang terbilang tua dan kurang produktif, khususnya kebun karet milik rakyat.
Untuk tahun 2007 peremajaan karet di lakukan di sebelas wilayah kabupaten/kota se Kalsel dengan luasan areal peremajaan mencapai 1.500 hektare.

karet.jpg transaksi antara pedagang pengumpul dan petani karet di desa Inan Kecamatan Paringin Selatan

ORANG KOTA MULAI “REBUT” KEBUN KARET RAKYAT BALANGAN
Banjarmasin,8/7(ANTARA)- Orang berduit yang tinggal di beberapa kota Kalimantan Selatan (Kalsel) mulai “merebut” kepemilikan kebun karet milik rakyat di pedasaan menyusul kian membaiknya harga karet alam dunia belakangan  ini.
“Menguasai kebun karet dinilai lebih menguntungkan ketimbang menyimpan uang di bank atau ikut saham perusahaan,” demikian pengakuan beberapa orang suruhan orang kota untuk membeli kebun karet rakyat di Paringin ibukota Kabupaten Balangan, Selasa.
Orang-orang suruhan orang berduit di kota kini berkeliaran di wilayah sentra-sentra perkebunan karet rakyat di wilayah Kabupaten Balangan, seperti di Kecamatan Lampihong, Juai, Halong, Batumandi, Paringin Selatan, Awayan, dan Kecamatan Tebing Tinggi.
Menurut beberapa warga di bilangan Kecamatan Paringin Selatan, orang kota melakukan penawaran lebih tinggi untuk membeli sebidang kebun karet rakyat milik penduduk setempat ketimbang penawaran yang dilakukan warga sekitar itu.
Bahkan orang kota berani membeli kebun karet bukan ukuran  luas kebun, melainkan hitungan pohon dan orang kota berani membeli satu batang pohon karet unggul dengan harga Rp100 ribu per batang.
Dengan demikian sudah bisa dibayangkan bila sebuah kebun karet memiliki seribu batang maka harga yang dibeli sudah mencapai Rp100 juta rupiah, suatu harga yang menggiurkan petani setempat.
Alasan membeli kebun karet dinilai  menguntungkan, karena hasil bisa diperoleh per hari, sementara kalau mendeposito uang di bank maka hasil paling bisa dinikmati sebulan sekali.
Apalagi dengan tingkat harga karet alam yang begitu tinggi maka hasil yang diperoleh dengan memiliki kebun karet lebih menguntungkan.
Pemilik kebun bisa saja menyuuruh buruh sadap menggarap kebun mereka dengan sistem bagi hasil 50 persen pemilik kebun dan 50 persen untuk penyadap karet.
“Bayangkan saja bila sehari kebun mampu menghasilkan Rp200 ribu saja bila dibagi dua maka Rp100 ribu pemilik kebun dan Rp100 ribu penyadap karet, dengan demikian pemilik kebun sudah mengantongi Rp3 juta per bulan,” kata Udin seorang warga di bilangan Desa Inan Paringin Selatan.
Padahal investasi yang mereka tanam hanya Rp100 ribu per kebun, seandainya uang itu dideposito ke bank pemerintah atau swasta paling banter bungannya berapa per bulannya dari uang investasi sejumlah itu.
Melihat hitung-hitungan demikian maka banyam pemilik modal yang tadinya investasi ke lembaga perbankan kini mengalihkan investasi kepemilikan kebun karet, akibatnya kebun karet menjadi rebutan.
Berdasarkan keterangan, setelah kian meningkatnya harga karet alam belakangan ini telah menggairahkan petani beraktivitas menggarap kebun karet, sehingga  produksi karet Balangan pun terus meningkat dengan  ditandai kian maraknya transaksi karet di pasar karet Paringin, Balangan.
Nilai unag transaksi komoditi karet alam antara pedagangpengumpul dengan kalangan petani karet di wilayah Kabupaten Balangan, Propinsi Kalimantan Selatan mencapai miliaran rupiah per minggu.
Bukti perputaran uang hasil transaksi karet alam itu bisa diketahui pada pasar karet Paringin, ibukota Kabupaten Balangan, kata Kepala Bagian Humas Kabupaten Balangam, Drs.Alive Yustan L saat belum lama ini.
Menurut Alive, di pasar karet Paringin merupakan pasar karet rakyat yang berkembang sejak puluhan tahun silam, sehingga banyak pedagang pengumpul berdatangan di lokasi pasar yang tak jauh dari pusat pasar Paringin tersebut.
Transaksi di pasar karet tersebut bukan saja antara petani dengan pedagang pengumpul tetapi juga antara pedagang pengumpul yang kecil dengan pedagang pengumpul yang besar, bahkan kadangkala datang pula pembeli karet dari perusahaan pabrikan yang ada di Banjarmasin.
Berdasarkan penuturan kalangan pedagang karet perputaran uang saat pasar karet alam buka pada setiap hari Senin tersebut tak kurang dari Rp3 miliar.
“Uang perputaran Rp3 miliar tersebut hanya ada di pasar karet Paringin,padahal transaksi karet di wilayah kabupaten ini bukan saja terjadi di Paringin tetapijuga di beberapaibukota kecamatan lainnya, seperti di Awayan, Lampihong, Juai, Halong, Batumandi, atau Tebing Tinggi,” katanya.
Sehingga kalau melihat lokasi transaksi demikian maka sudah bisa dibayangkan berapa uang yang berputar di kalangan petani karet sentra kebun karet rakyat di Kabupaten muda tersebut, apalagi transaksi bukan saja saat hari pekan tetapi juga seringkali terjadi transaksi pada hari-hari biasa.
Para pedagang pengumpul karet yang berasal dari berbagai daerah berkeliaran di desa-desa kebun karet menyusul kian meningkatnya harga karet alam belakangan ini, para pedang pengumpul ini setelah membeli karet di kalangan petani kemudian membawanya dengan truk untuk dijual ke perusahaan pabrikan karet besar di Banjarmasin, atau di Buntok Kalimantan Tengah.
Menurut Alive bisnis perkaretan memang kini sedang marak dan sangat mempengaruhi tingkat perekonomian setempat, apalagi hampir sebagian besar masyarakat Balangan adalah pekebun karet.
Usaha berkebun karet bagi masyarakat Balangan sudah merupakan usaha yang turun temurun, dan sempat pasang surut dan sempat pula banyak kebun karet ditelantarkan saat harga karet murah, tetapi setelah beberapa tahun belakangan ini harga karet terus meroket maka perkebunan karet marak kembali.
Bahkan banyak lahanyang tadinya kosong atau padang alang-alang digarap lagi untuk perkebunan karet, karet tua juga diremajakan, bahkan karet lokal yang puluhan tahun dikembangkan kini mulai dikonversikan dengan karet unggul yang mampu memprosuksi karet lebih banyak.
Berdasarkan data di Kabupaten setempat perkebunan karet di Balangan merupakan kebun rakyat yang luasnya mencapai 15.684 hektar, yang  menghasilkan dan 8.811 hektar yang kebunya masih muda sekitar 5.474 hektar.

pasar karet Paringinn (foto din)

DALAM PERDAGANGAN KARET, PENJUALAN LATEKS DAN KANTAL TAK TERLIHAT LAGI
Banjarmasin,3/7 (ANTARA)- Dalam perdagangan karet alam di sentra perkebunan karet rakyat di kawasan Banua Anam (enam kabupaten ) Utara Propinsi Kalimantan Selatan (Kalsel) belakangan ini tidak lagi hanya menjual lateks karet incer maupun karet asalan berupa kantal, tetapi lebih banyak dengan jenis karet bakuan lum.
Hasil pemantauan ANTARA yang melakuklan perjalanan ke sentra perkebunan karet rakyat, Kabupaten Balangan, Kamis menyaksikan proses transaksi produk karet alam antara pedagang pengumpul dan petani karet (penyadap) hanya menggunakan produk karet jenis lum.
Karet lum yaitu karet yang berasal dari lateks yang dibekukan menggunakan asam semut, di wadah penampungan karet sadapan setiap pohon karet, kemudian karet kecil-kecil itu disatukan menjadi karet bakuan besar yang disebut lum.
Menurut Aliansyah, produk karet lum kini mendominasi penjualan karet alam antara penyadap dengan pedagang pengumpul karena jenis karet ini dinilai praktis.
Harga karet jenis lum di tangan petani sekarang ini tercatat Rp8.000 per kilogram yang disebutkan meningkat dibandingkan harga lum sebelumnya yang hanya sekitar antara Rp6.000,- hingga Rp7.000,- per kiliogram.
Sehingga bila seorang penyadap karet mampu menghasilkan hasil sadapan 10 kilogram saja maka sudah menghasilkan Rp80.000,- per hari , atau bekerja hanya sekitar rmpat jama saja sehari.
Jenis karet lainnya yang masih dijual penyadap atau petani di lokasi perkebunan tersebut adalah jenis marlung.
Karet marlung adalah lateks karet yang dibekukan melalui wadah yang disebut takungan kemudian karet tersebut ditipiskan lalu dimasukan ke dalam mesin khusus, proses selanjutnya adalah dikeringkan melalui pengasapan dengan api.
Karet lembaran kering ini paling mahal harganya di tangan petani antara Rp21.000,- hingga Rp22.000,- per kilogram. Karet ini mahal lantaran proses pengolahan yang rumit dan menelan waktu panjang.
Sedangkan jenis kantal (jenis karet yang bersampur dengan sampah bekas sadapan) tidak lagi diperjual belikan karena dinilai harganya terlalu murah, akhirnya karet bercampur sampah bekas sadapan itu dijadikan lagi ke dalam karet jenis lum.
Sementara penjualan lateks (sistem jual berdref) melalui pedagang pengumpul tak pernah lagi dilakukan lantaran pembeli sulit menentukan kekantalan lateks, sehingga bila disama ratakan harganya antara yang karet yang kental dengan cair maka pembeli bisa rugi.
Usaha penyadapan karet belakangan ini marak di kawasan Banua Anam setelah kian membaiknya harga karet alam dunia, yang belakangan ini mendekati angka tiga Dolar AS per kilogram.
Dengan membaiknya harga karet itu maka banyak warga yang tadinya berprofesi bidang lain berpindah usaha  dengan mengembangkan kebun karet, atau menjadi buruh sadap karet karena penghasilan  jauh lebih lumayan dibandingkan usaha lainnya.

HARGA KARET MARLUNG KALSEL CAPAI RP25 RIBU PER KILOGRAM
Banjarmasin,28/3 (ANTARA)- Usaha perkaretan perkebunan karet di wilayah Kalimantan Selatan (Kalsel), khususnya di kawasan Banua Enam (enam kabupaten Utara Kalsel) benar-benar menggairahkan setelah kian merangkaknya kenaikan harga karet alam di sentra produksi terbesar wilayah Kalsel tersebut.
Harga karet “marlung” (karet lembaran kering yang diproses secara tradisional) kini sudah mencapai Rp25 ribu per kilogram, suatu harga yang benar-benar belum pernah terjadi sebelumnya, kata Wahyudin penduduk, Awayan Kabupaten Balangan, Jumat.
Wartawan ANTARA yang melakukan perjalanan, ke berbagai desa sentra produksi karet Balangan,  menyaksikan begitu banyaknya tumpukan karet di pinggir jalan rumah penduduk, menyaksikan transksai antara warga dengan kalangan pedagang poengumpul  yang datang ke desa-desa tersebut.
Menurut Wahyudin, harga karet marlung yang disebutkannya itu merupakan yang paling tinggi, asal diproses secara baik dengan tingkat kandungan air yang minim sekali.
Tetapi kalau di lokasi Pasar Paringin (satu-satunya pasar karet rakyat di Banua Anam) harga karet marlung itu cukup bervariasi, kalau terlihat masih basah ada yang hanya Rp20 ri8bu per kilogram, jadi harga jenis karet tersebut antara Rp20 ribu hingga Rp25 ribulah, kata Wayhyudin.
Karet marlungf, jenis karet yang sudah diproses sejak zaman penjajahan, caranya adalah lateks karet dibekukan dengan cuka asam semut, kemudian dibuat dalam wadah yang disebut takungan, lalu ditipiskan dengan cara diinjak-injak atau ditampa, kemudian di proses melalui mesin tradisional terbuat dari besi.
Setelah karet tipis kemudian karet dipanaskan dengan api berhari-hari bahkan berminggu-minggu sehingga warna karet yang tadinya putih kekuningan menjadi kuning kemerahan bahkan akhirnya lembaran karet tersebut warnanya merah kehitaman barulah karet itu layak untuk dijual dengan harga tinggi.
Tapi tambah Wahyudin, pembuatan karet marlung belakangan ini sudah kurang populer lagi, kecuali bagi mereka yang suka menyetok karet dengan jumlah besar, namun belakangan jenis karet yang disuaki hanyalah jenis karet asalan lum.
Beberapa pedagang yang berada di lokasi sentra perkebunan karet kawasan kaki Pegunungan Meratus tersebut membenarkan kalau, jenis karet lum mendominasi pembelian karet di tangan penyadap karet (petani).
Selain lum juga ada karet kantal (kantal karet yang bercampur dengan sampah bekas penyadapan yang disebut sakarap).
Menurut Radian, pedagang pengumpul karet lum, bahwa harga karet inipun sekarang kian naik sudah mencapai Rp8 ribu per kilogram, harga itu juga paling tinggi dalam sejarah perkaretan selama ini di wilayah tersebut.
Karet lum, yakni karet yang berasal dari lateks yang dibekukan di wadah karet setelah penyedapan yang disebut tempurung, sehingga karet bekuan ini kecil-kecil kemudian disatukan dengan jumlah besar sehingga berbentuk karet dengan gumpalan besar.
Karet lum tanpa proses pengeringan sehingga kadar airnya tinggi dan dijual begitu saja kepedagang pengumpul yang oleh pedagang pengumpul di jual lagi ke pabrikan karet untuk diekspor baik di Barabai Kabupaten Hulu Sungai Tengah (HST) atau ke Banjarmasin ibukota Kalsel, dan ke Buntok Kalimantan Tengah (Kalteng).
Sementara karet kantal, setelah karet yang tercampur sampah itu disatukan menjadi gumpalan-gumpalan sebesar buah kelapa kemudian disimpan begitu saja di selukan, atau lubang-lubang tanah mengandung air kemudian baru dijual, harga kantal memang murah antara Rp2 ribu hingga Rp3 ribu per kilogram, sehingga karet kantal hanya dianggap sebagai penghasilan ikutan saja.
Usaha berkebun karet bagi masyarakat Balangan sudah merupakan usaha yang turun temurun, dan sempat pasang surut dan sempat pula banyak kebun karet ditelantarkan saat harga karet murah, tetapi setelah beberapa tahun belakangan ini harga karet terus meroket maka perkebunan karet marak kembali.
Bahkan banyak lahan yang tadinya kosong atau padang alang-alang digarap lagi untuk perkebunan karet, karet tua juga diremajakan, bahkan karet lokal yang puluhan tahun dikembangkan kini mulai dikonversikan dengan karet unggul yang mampu memprosuksi karet lebih banyak.
Berdasarkan data di Kabupaten setempat perkebunan karet di Balangan merupakan kebun rakyat yang luasnya mencapai 15.684 hektar, yang  menghasilkan dan 8.811 hektar yang kebunya masih muda sekitar 5.474 hektare.

KALSEL INGIN REBUT SENTRA KARET INDONESIA

Oleh Hasan Zainuddin
Banjarmasin,20/9 (ANTARA)- Bila sepuluh tahun lalu sebagian besar lahan di kiri dan kanan jalan Trans Kalimantan baik poros Utara maupun poros Timur yang berada di wilayah Kalimantan selatan (Kalsel) hanya hamparan penuh ilalang dan semak belukar kini sudah berubah menghijau dengan luasan kebun karet.
Seakan tak ada lorong sedikitpun lahan yang tadinya terlantar untuk tidak dimanfaatkan masyarakat Kalsel dalam upaya mengembangkan kebun karet.
Masalahnya, dari usaha sektor pertanian yang agaknya berprospek dan memberikan bukti mensejahterakan petani adalah berkebun karet menyusul kian meningkatnya harga karet alam dunia belakangan ini.

Salah satu bentuk transaksi karet bakuan di sentra karet rakyat Balangan Kalsel.
Gubernur Kalsel, Drs. Rudy Ariffin sendiri selalu mengajak rakyatnya kembali ke sektor pertanian sebagai sektor unggulan meningkatkan kesejahteraan masyarakat, khususnya berkebun karet dan kelapa sawit.
Sebab tambahnya, usaha perkayuan maupun pertambangan yang sempat marak di Kalsel tidak terbukti memberikan kesejahterakan yang berarti bagi mayarakat.
Oleh karena itu Gubernur Kalsel berharap rakyat kembali berpaling ke sektor perkebunan karet yang pernah populer pada era tahun 50-an di wilayah ini.
Apalagi tambah Gubernur Kalsel, permintaan karet alam dunia terus meningkat menyusul kian meningkatnya kebutuhan karet alam. Sementara negara produsen karet dunia hanya Indoneia, Thailand , Malaysia, dan sedikit India, maka peluang usaha karet terus menjanjikan.
Membaiknya harga karet belakangan ini tak terlepas setelah adanya kebijakan tree Patrit tiga Negara Asean (Indonesia, Malaysia dan Thailand) sehingga harga karet lebih besar ditentukan negara produsen tidak lagi ditentukan negara konsumen.
Ditambah terjadinya apresiasi rupiah terhadap dolar semakin melemah, akhirnya harga karet di pasaran tanah air kian terdongkrak yang berdampak terhadap pendapatan petani.
Melihat kenyataan tersebut, agaknya tidak disia-siakan Pemprop Kalsel dalam hal ini Dinas Perkebunan setempat untuk mengetuk hati masyarakat untuk memperluas perkebunan karet.
Oleh karenanya Dinas Perkebunan Kalsel telah memprogramkan revitalisasi kebun karet rakyat agar wilayah ini bisa menjadi sentra perkebunan karet di tanah air.
Kepala Dinas Perkebunan Kalsel Ir. Haryono di Banjarmasin, Rabu mengatakan revitalisasi kebun karet rakyat tersebut menyusul kian membaiknya harga karet alam dunia.
Lokasi lahan yang bakal menjadi perkebunan karet adalah sebagian dari lahan yang dianggap terlantar selama ini yang tercatat sekitar 500 ribu hektare di Kalsel, terdiri dari padang alang-alang, semak belukar, atau hutan yang gundul.
Selain itu Pemprop Kalsel bersama petani setempat akan melakukan perluasan kebun karet rakyat, dengan cara peremajaan kebun karet yang sudah dianggap kurang berproduksi.
Haryono sendiri yakin keinginan Kalsel menjadi sentra perkebunan karet bakal terwujud mengingat Kalsel termasuk wilayah yang selama ini menjadi sentra perkebunan karet alam di Indonesia yang memberikan kontribusi cukup besar bagi mata dagangan ekspor karet yang mencapai 200 ribu ton per tahun.
Selain pengembangan karet melalui program revitalisasi dari pemerintah pusat Pemprop Kalsel sendiri juga telah menyediakan dana melalui APBD untuk mengembangkan karet rakyat seluas 2800 hektare.
Program revitalisasi kebun karet rakyat yang dilakukan pemerintah pusat dikembangkan 300 ribu hektare terdiri dari 250 ribu hektar peremajaan sedangkan 50 ribu lainnya merupakan perluasan kebun atau kebun baru.
Dari seluas 300 ribu hektare revitalisasi tersebut diharapkan Kalsel memperoleh 50 ribu hektarenya. Karena Kalsel berharap 24 ribu untuk perluasan dan 25 ribu lainnya untuk peremajaan.
Pengembangan karet melalui dana sendiri ini diharapkan melalui pembiayaan sistem sharing baik dana dari APBD tingkat I Kalsel sendiri APBD tingkat II masing-masing daerah yang mempunyai sentra kebun karet rakyat ditambah dana-dana dari APBN, katanya.
Dengan adanya pengembangan dan perluasan karet tersebut akhirnya Kalsel memiliki keluasan kebun karet rakyat mencapai 300 ribu hektare dari sekarang ini yang masih tercatat 178 ribu hektare.
Kebun karet Kalsel 178 ribu hektare itu terdiri dari perkebunan Rakyat 154 ribu hektare dengan produksi 79.552 ton per tahun, Perkebunan Besar Swasta (PBS) 13,9 ribu hektare produksi 4.267 ton per tahun dan Perkebunan Besar Negara (PBN) 9.9 ribu hektare produksi 7.585 ton per tahun.
Rata-rata produktivitas per-ha untuk tiga kategori pengembangan dimaksud baru mencapai 925,75 kg per hektare per tahun masih dibawah standart 1.500kg per hektare per tahun.
Selain melakukan perluasan kebun karet pemerintah juga berusaha memberikan penyuluhan kepada petani agar menjaga kualitas produksi karet dan kualitas pohon karet itu sendiri yakni dengan cara melakukan penyadapan dengan benar serta adanya pemeliharaan yang baik agar umur produksi pohon karet bisa diperpanjang.
Momen pengembangan kebun karet ini sekarang ini pas sekali dilakukan mengingat masyarakat lagi bergairah mengelola kebun karet menyusul kian membaiknya harga karet alam dunia yang sekarang sekitar 2 Dolar AS per kilogram dan diperkirakan akan mencapai livel 2,3 Dolar AS per kilogram dimasa mendatang.
Harga karet yang setinggi itu telah pula memicu penghasilan masyarakat penyadap karet yang sekarang sudah mendekati angka ratusan ribu rupiah per hari per orang penyadap karet.
Dampak lain dari perkebunan karet ini sebagai solusi untuk mengatasi kekurangan bahan baku kayu, menyusul kian berkurangnya kayu di hutan alam, khususnya untuk persedian bahan baku kayu lapis karena kayu karet juga berkualitas untuk berbagai industri perkayuan tersebut.
Harapan lain sebagai solusi atasi kebakaran lahan padang alang-alang dan semak belukar yang sering memproduksi asap cukup tebal, karena bila hamparan lahan terlantar menjadi perkebunan karet yang rindang maka kebakaran lahan semacam itu akan berkurang.

KARET ALAM INDONESIA CAPAI HARGA TERTINGGI
Banjarmasin, 25/2 (ANTARA)- Produksi karet alam Indonesia saat  ini memasuki masa keemasan dengan harga jual mencapai 2,8 Dollar AS per kilogram (kg) atau harga tertinggi dalam sejarah perkaretan di tanah air.
“Harga karet alam di pasaran dunia saat ini mencapai 2,8 Dolar AS suatu harga yang sungguh menggiurkan bagi dunia usaha perkaretan,” kata seorang pengusaha karet di Provinsi Kalimantan Selatan, Kodrat Syukur kepada ANTARA di Banjarmasin, Senin.
Menurut pimpinan  PT Insan Bonafide yang merupakan pabrik pengolahan karet terbesar di Banjarmasin itu, kalau  dulu seorang petani harus mengumpulkan sedikitnya empat ton karet untuk dijual agar bisa beli sebuah sepeda motor, sekarang petani cukup mengumpulkan setengah ton karet sudah mampu beli sepeda motor.
Tingginya harga karet saat ini dibanding sebelumnya, diharapkan dapat menggairahkan dan meningkatkan   kesejahteraan petani karet.
Kondisi di Kalsel dengan harga karet yang tinggi maka memberi peluang  petani dan penyadap karet Kalsel sudah memiliki sepeda motor, ujarnya.
Kian bergairah  petani berkebun karet, maka  hampir tak ada lagi lahan kosong dan terlantar di kawasan sentra perkebunan karet seperti di kawasan Banua Enam meliputi enam kabupaten di wilayah  Utara Provinsi Kalsel yang tidak ditanami komoditi karet.
Berdasarkan pengamatan Kodrat Syukur yang memiliki pula pabrik karet di wilayah Kalimantan Tengah (Kalteng) ini, harga karet yang membaik itu lantaran permintaan karet alam dunia yang terus melonjak, setelah permintaan dari negara raksasa China yang kian meningkat belakangan ini.
Kalau sebelumnya  konsumen karet alam dunia sebagian adalah Amerika Serikat, negara Eropa dan Jepang,  belakangan permintaan paling besar justru datang dari negara China setelah negara tersebut membangun insfrastruktur jalan raya seperti jaringan jalan-jalan tol yang luar biasa.
Tersedianya prasarana jalan darat yang demikian telah melahirkan kebutuhan kendaraan bermotor seperti mobil yang meningkat drastis pula di negara yang dulu dikatakan sebagai negara tirai bambu tersebut.
Meningkatnya jumlah kendaraan bermotor maka meingkat pula permintaan akan ban kendaraan tersebut yang akhirnya melahirkan pabrikan-pabrikan kendaraan bermotor di negara tersebut yang membutuhkan jumlah karet alam yang meningkat pesat.
Walaupun tersedianya sejumlah karet sentetis tetapi untuk ban kendaraan bermotor tetap kualitasnya lebih baik karet alam, dimana tingkat elastisitasnya lebih baik atau tingkat kekeyalan ban itu yang lebih baik.
Produsen karet alam dunia terbesar saat ini masih dipegang Thailand, menyusul Indonesia dan Malaysia.
Kalau dilihat luasan kebun karet maka Indonesia berada tingkat teratas, tetapi kalau melihat jumlah produksi Indonesia kalah dengan Thailand, lantaran di negara tersebut kebun karet kebanyakan di kelola skala kebun  besar oleh pemerintah.
Sementara di Indonesia kebun karet terbesar justru dikelola oleh rakyat biasa dengan skala kebun yang kecil sehingga tingkat produksi juga terbatas.
Melihat kenyataan tersebut maka sudah seharusnya pemerintah Indonesia memperhatikan perkebunan karet ini dengan skala   besar pula agar Indonesia menjadi pengekspor karet alam terbesar dunia.
Peningkatan jumlah permintaan karet di pasar dunia, ternyata juga berdampak positif ekspor karet Kalsel. Berdasarkan data ekspor di Dinas Perkebunan (Disbun) Kalsel selama dua tahun terakhir ekspor karet Kalsel mengalami pertumbuhan yang cukup menggembirakan.
Bahkan selama dua tahun ini, volume ekspor karet Kalsel melonjak hingga 140 persen dengan nilai ekspor meningkat pula menjadi sebesar 200 persen.
Dari data ekspor produksi karet Kalsel 2 tahun terakhir itu, komoditas karet SIR paling mendominasi. Untuk tahun 2006 lalu, ekspor karet SIR mengalami peningkatan volume hingga mencapai 120 persen dan peningkatan ekspor mencapai 187 persen.
Setelah itu disusul karet RSS yang mengalami peningkatan volume 143 persen dan 208 persen untuk nilai ekspor.
Sedangkan untuk produk karet Lateks mengalami pertumbuhan volume 77 persen dengan nilai ekspor tumbuh 68 persen sejak tahun 2005.

Kondisi perkaretan tahun 2009 ini memprihatinkan, setelah beberapa tahun sebelumnya petani menikmati kenaikan harga komoditi tersebut.

salah satu contoh seperti berita di bawah ini

Selasa, 14 Oktober 2008

BANJARMASIN, SELASA — Kalangan petani dan penyadap karet di sentra perkebunan karet terbesar di Kalimantan Selatan di wilayah Banua Enam (Enam Kabupaten Utara Kalsel) belakangan ini kelabakan lantaran harga karet anjlok.

“Kami petani dan buruh penyadap karet merasa bingung kok tahu-tahu harga karet turun hingga 50 persen,” kata beberapa petani karet melaporkan hal itu kepada Antara via telepon, Selasa.

Pihak petani dan penyadap karet tidak mengerti anjloknya harga karet yang begitu besar dalam sejarah perkaretan selama ini karena biasanya  naik turunnya harga karet secara berangsur-angsur antara 5 hingga 10 persen saja.

Oleh karena itu, petani dan penyadap karet meminta kepada pemerintah daerah atau pemerintah pusat menelisik penyebab turunnya harga yang begitu besar apakah hal itu karena spekulan atau karena masalah lain.

Memang ada yang menyebutkan, turunnya harga karet tersebut menyusul terjadinya krisis ekonomi di berbagai negara, terutama Amerika Serikat. Namun, isu itu diperkirakan hanya diembuskan kalangan spekulan.

Mereka mencontohkan harga karet jenis lum yang tadinya Rp 7.000 per kilogram kini hanya Rp 3.500 per kilogram. Murahnya harga karet ini sekitar setengah bulan terakhir ini saja, padahal harga yang bertahan di atas hampir setahun terakhir ini.

PELAIHARI – Krisis ekonomi global yang melanda Amerika Serikat (AS) sedikit banyak berdampak pada usaha petani karet. Pasalnya, akibat kondisi tersebut harga getah karet di Kabupaten Tanah Laut hingga kini terus mengalami penurunan. Penurunan terjadi akibat hampir seluruh getah karet dari petani-petani karet tradisional umumnya dieskpor ke luar negeri melalui perusahaan atau individu pengumpul getah karet.

“Sebelumnya Rp11 ribu per kg, terus turun lagi menjadi Rp5 ribu per kg, dan sekarang turun lagi menjadi Rp3 ribu per kgnya. Kami takut penurunan ini akan terus terjadi, jika seperti itu, kami sulit mengelola usaha ini karena keuntungan tidak ada bagi kami petani karet,” ujar Suhandoyo (50) warga Desa Suka Ramah saat ditemui wartawan Koran ini, Sabtu (25/10) siang kemarin.

Menunggu harga getah karet membaik, lanjut Suhandoyo petani memilih menghentikan aktivitas menyadap karet, berharap harga kembali normal dipuncaknya. “Kalau harganya baik baru kami akan mulai menyadap lagi. Harapan kami dengan berhentinya sementara menyadap karet, suplai getah karet terbatas di pasar, dengan begitu mau tidak mau hargapun kembali naik,” ungkapnya.

Senada dengan itu, petani karet lainnya di Desa Sungai Riam Kecamatan Pelaihari, Wage namanya lebih memilih tetap menyadap namun hasil sadapannya tidak langsung di lempar ke pasar atau dijual ke pengumpul karet.

“Kalau saya sama teman-teman lebih memilih tetap menyadap karet, namun hasil sadapan kami tampung terlebih dahulu sambil menunggu kira-kira harga getah sedikit naik dari sekarang yang hanya dihargai Rp2500 per kg. Ya…kalau naik sedikit saja, misalkan sampai Rp5000 kami lebih memilih menjualnya dari pada terlalu lama menyimpan,” ujarnya. (bym-Sumber radarbanjarmasin 27 Okt 2008).

Jika harga pun tak naik-naik, Wage tak habis akal, pasalnya jalan lain seperti getah diasapkan pun terpaksa ia lakukan. “Harganya jika diasapkan terlebih dahulu akan lebih mahal ketimbang tidak diasapkan sama sekali, tapi ya itu..menjualnya juga untung-untungan kalau harganya bagus ya..kami jual, kalau tidak, terpaksa kami tahan dulu,” ungkapnya.

Hingga saat ini mereka pun berharap harga getah karet di pasaran kembali membaik. Mereka berharap pemerintah segera menormalisasi harga getak karet dipasaran. “Kami berharap pemerintah segera mengambil langkah untuk menyelamatkan petani karet. Karena jika kondisi pasar seperti ini terus, maka lahan yang sudah belasan tahun kami tanam akan sia-sia saja ditanami karet,” tandasnya. (bym) (Sumber radarbanjarmasin 27 Okt 2008)


(foto Kmps)

Rabu, 21 Januari 2009 |
TABALONG, RABU — Petani karet tradisional di Kalimantan Selatan tengah memasuki masa-masa sulit. Mereka mengeluhkan melorotnya harga karet mentah di pasar nasional yang hanya mencapai Rp 2.200 per kilogram.

Padahal, beberapa waktu lalu tiap kilogram karet kering bisa dihargai Rp 4.500 per kilogram, bahkan mencapai Rp 9.000 sebelum Oktober 2008. Keluhan ini setidaknya terlihat dari apa yang diceritakan petani karet tradisional di Desa Tamiang, Kabupaten Tabalong, Kalsel, Rabu (21/1).

Petani di kawasan yang terletak di areal pertambangan PT Adaro Indonesia tersebut biasa menjual karet mentah kepada pengepul yang kemudian mengirim komoditas itu ke Surabaya. “Sekarang ini sedang masa sulit Pak. Kalau dari Surabaya bilang turun, ya kita terpaksa turun. Mau apa lagi? Tapi enggak papa, itulah romantismenya,” kata Sajudi, salah satu petani di daerah tersebut.

“Lagi pula semua petani karet memang sedang mangalami masa sulit sekarang ini, ya itu harga rendah dan musim hujan pula,” katanya sambil tertawa lebar.

Selain harga rendah, kondisi cuaca belakangan ini juga menghambat produksi karet. Hujan yang turun mempersulit proses pengeringan. Karet kering dengan kandungan air rendah memerlukan proses pengeringan yang panjang. “Rata-rata dengan rumah pengasapan, karet baru bisa dijual setelah satu minggu, tapi kondisi hujan begini menjadi lebih lama,” kata Sajudi.

Rumah pengasapan adalah rumah kayu berbentuk panggung, di mana lembaran-lembaran karet digantung seperti jemuran pakaian, kemudian diasapi dengan kayu bakar dari bawah rumah. Dulu, sebelum mengenal metode tersebut, petani biasa meletakkan karet cair dalam kolam, kemudian membiarkannya sampai mengeras.

Karet model ini rendah kualitasnya karena tebal dan mengandung banyak air. Di Tabalong, karet menjadi salah satu sumber penghasilan warga setempat. Kepemilikannya sederhana, hanya berdasarkan warisan turun-menurun. Sementara warga yang tidak memiliki lahan bekerja sebagai buruh sadap dengan upah per minggu.

Petani mengaduk lateks karet dengan cuka untuk proses pembekuan (fotoj  MULKI)
About these ads

7 Tanggapan

  1. Yth. Bapak Hasan Zainuddin.

    Tulisan Bapak Hasan sangat baik sekali untuk memberikan motivasi kepada Petani petani Karet di Balangan Khususnya dan di Kalsel serta indonesia umumnya, namun menurut saya, kondisi per-ekonomian kita dan bahkan dunia saat ini, sangat sangat pempengaruhi harga karet, ditambah lagi dengan adanya penurunan Bahan bakar Minyak memperparah kondisi perkaretan kita.
    Perlu kiranya Bapak Hasan menuliskan kembali (update) perihal perkaretan di Balangan atau daerah lainnya di kalsel dengan kondisi perekonomian kita saat ini.
    Demikian atas perhatiannya disampaikan terima kasih.

  2. Memang jika kita banding-bandingkan, sekarang ini nilai jual karet sudah lebih meningkat dari harga jual dahulu. Sehingga dapat kita simpulkan dari jumlah produksi lahan 1Ha tanah yang ditanami pohon karet hampir sebanding dengan jumlah penghasilan 15 Ha tanah yang ditanami kelapa sawit. Dari cara pengolahan dan jumlah data yang dibutuhkan pohon karet lebih mudah dan tidak membutuhkan biaya parawatan yang banyak. Disisi lain pohon karet lebih cepat di panen daripada kelapa sawit dekaligus periode panenya dapat dilakukan 4 kali seminggu bahkan tiap hari.
    Negara malasya yang mempunyai luas daerah yang lebih sempit lebih kaya dibandingkan indonesia. Kenapa kita tidak dapat menandingi mereka iru dikarnakan kita tidak mengolah lahan kosong kita. Mari kita tanami pohon karet di Indonesia sekaligus mengurangi pemanasan global. Kalau kita tanami karet orang tidak sembarangan lagi menebanginya karena nilai produksinya lebih tinggi.
    Masyarakat indonesia banyak pergi kemalasya hanya untuk menjadi buruh penyadap karet, apa kita tidak bisa membuat di negara kita pohon karet. Ayo tingkatkan penanaman pohon karet.

  3. Salam Kenal.
    saya mau menanyakan:
    1. Bagaimana metoda membuat karet kering?
    2. Bagaiman Kualitas Getah Karet agar Bagus dan
    Mahal Harganya?
    3. kapan waktunya Getah Karet bisa dijual kepada Pabrik
    dan memperoleh harga yang bagus

    Mohon Bimbingan dan Pencerahannya….

  4. Salam Kenal.
    saya mau menanyakan:
    1. Bagaimana metoda membuat karet kering?
    2. Bagaiman Kualitas Getah Karet agar Bagus dan
    Mahal Harganya?
    3. kapan waktunya Getah Karet bisa dijual kepada
    Pabrik dan memperoleh harga yang bagus
    4. Bagaimana sistem bagi hasilnya dengan pihak
    pengelola kebun

    hariste@rocketmail.com
    081373630845

    Mohon Bimbingan dan Pencerahannya….

  5. bagai mana saya bisa mendapatkan bibit karet.

  6. Ass.. Karet sangat mengiurkan, selain itu apa hasil pertanian jamur tiram di Kalimantan harganya bagus juga? mohon infonya sy ingin kerjasama dan buka didaerah kalimantan barangkali ada investor yg siap buka usaha pertanian jamur tiram; kami siapkan ilmu dan tenaga kerja yg trampil. Wss.. Jzlh

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 41 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: