KONTAMINASI TINJA, SEBUAH ANCAMAN KESEHATAN SUNGAI BANJARMASIN

Oleh Hasan Zainuddin
Banjarmasin,3/4 (ANTARA)- Deretan jamban (bangunan kecil tempat buang tinja langsung ke sungai) merupakan pemandangan biasa di Kota Banjarmasin, dianggap tak masalah karena keberadaan jamban sudah ada secara turun temurun.
Membuang limbah rumah tangga ke sungai juga dianggap biasa di dalam masyarakat kota seribu sungai itu. Sungai dijadikan urat nadi kehidupan, sebagai tempat tinggal, sarana transportasi dan sarana ekonomi.
Akibat kebiasaan itu sungai Banjarmasin tak bersih lagi, tercemar bahan kimia, menyempit, dangkal, bahkan ada yang mati.
Kantor Dinas Permukiman dan Prasarana Kota (Kimpasko) setempat mencatat 57 sungai dinyatakan kurang berfungsi lagi.
Tahun 1995, kota ini tercatat 117 sungai berfungsi sebagaimana mestinya tapi kini tinggal 60 yang mengalir baik, jika tidak dipelihara maka sungai itu kian rusak khususnya sungai kecil anak sungai Martapura dan Barito.

deretan jamban tepi sungai
Direktur Perusahaan Daerah Instalasi Pengolahan Air Limbah (PD Ipal) Kota Banjarmasin, Muhidin MT mengakui sungai sudah tercemar sampah dan limbah serta cukup mengkhawatirkan terdapat kandungan bakteri koli di air sungai yang berasal dari pembuangan tinja sembarangan.
Pencemaran tinja itu bukan saja adanya budaya jamban, juga Septec Tank (tempat penampungan tinja WC/kakus) rumah warga kurang standar, akhirnya tinja mencemari air di sekitar kakus dan mengalir kemana-mana.
Tiap warga buang tinja sekitar 125 gram/hari, bila penduduk Kota 700 ribu jiwa dapat dibayangkan produksi tinja yang dapat mencemari lingkungan, belum lagi pencemaran limbah rumah tangga dan industri yang juga sangat mempengaruhi kondisi air sungai itu.
Dalam kaitan memperingati hari air internasional 22 Maret 2008 lalu, tambahnya pihak PD Ipal melakukan berbagai kegiatan untuk menyadarkan mayarakat guna menjaga kualitas air melalui sistem sanisati yang baik.

Sanitasi Indonesia
Masalah penanganan sanitasi buruk itu ternyata bukan saja di Banjarmasin tetapi juga dialami secara masional.
Sebuah catatan, menyebutkan satu lagi prestasi buruk terhadap Indonesia dibanding negara lain di Asean, yakni negara terburuk ketiga l penanganan sanitasi yang dampaknya bisa menimbulkan kerugian besar, sementara sanitasi terjelek Asean diraih negara laos dan Nyanmar.
Menurut Nugroho Tri Utomo yang juga Sekretaris Koordinator Indonesian Sanitasi Sector Development Program (ISSDP) saat lokakarya beberapa waktu lalu di Banjarmasin, akibat sanitasi buruk itu berdampak besar bagi Indonesia seperti masalah ekonomi, kesehatan, dan sosial budaya.
Ilustrasinya dampak ekonomi akibat sanitasi yang buruk itu, Indonesia alami kerugian sedikitnya Rp40 triliun, belum lagi dampak kesehatan dimana masyarakat miskin harus mengeluarkan sedikitnya 25 persen penghasilannya hanya untuk membayar dampak dari sanitasi yang buruk itu.
Misalnya, kerugian itu bila masyarakat harus membayar pengobatan akibat serangan berbagai penyakit dari sanitasi jelek itu, membayar keperluan air bersih, membayar keperluan mandi cuci dan kakus (MCK) dan sebagainya.
Buruknya masalah penanganan sanitasi Indonesia terlahir akibat adanya anggapan masalah sanitasi tanggungjawab tiap rumah tangga, dimana sebuah rumah tangga yang sudah menyediakan fasilitas sanitasi yang baik maka dianggap selesai.
Padahal seharusnya sanitasi bukan lagi urusan pribadi-pribadi masyarakat tetapi harus menjadi persoalan bersama, masyarakat dan pemerintah, dan itu harus bersama-sama untuk menanganinya, tidak bisa ditunda lagi dalam penanganan tersebut, katanya.
Sementara sebuah catatan lagi disebutkan bahwa dalam kurun 30 tahun terakhir ini pemerintah indonesia hanya menyediakan dana sekitar 820 juta Dolar AS untuk sektor sanitasi, artinya hanya Rp200,- setahunnya untuk setiap penduduk, jumlah yang sangat sedikit mengingat kebutuhan dana untuk itu idealnya Rp47 ribu per orang per tahun.
Anggaran pemerintah untuk sektor sanitasi memang sangat minim, apalagi bila dibandingkan dengan anggaran sektor air bersih yang besarnya lebih dari Rp6 miliar Dolar AS untuk periode yang sama, padahal untuk kedua urusan kesehatan masyarakat kedua sektor tersebut memiliki saling ketergantungan.
Mengenai penanganan buangan tinja berdasarkan sebuah catatan bukanlah masalah sepele. Seseorang tiap harinya membuang tinja seberat 125-250 gram, jika saat ini seratus juta orang Indonesia tinggal di kawasan perkotaan, maka setiap harinya kawasan perkotaan bisa menghasilkan 25 ribu ton tinja.
Selain jumlah tinja begitu banyak, tinja juga memiliki potensi dampak dari keempat kandungannya, dan dampak itu sudah tentu merepotkan.
Empat dampak tinja seperti mikroba, sebagian diantaranya tergolong sebagai mikroba patogen, seperti bakteri salmonela typhi penyebab tifus, bakteri vibrio cholerae penyebab kolera, virus penyebab hepatitis A, dan virus penyebab polio, tinja mengandung puluhan miliar mikroba termasuk bakteri koli-tinja.
Tinja juga mengandung materi organik sebagian merupakan sisa dan ampas makanan yang tidak tercerna, ia dapat membentuk karbohidrat, dapat pula berupa protein, enzim, lemak, mikroba, dan sel-sel mati. Satu liter tinja mengandung materi organik yang setara dengan 200-300 mg BOD5.
Kemudian tinja juga mengandung telur cacing, seseorang yang cacingan akan mengeluarkan tinja yang mengandung telur-telur cacing. Beragam cacing dapat dijumpai di perut seseorang, sebut saja cacing keremi, cacing cambuk, cacing tambang, serta cacing gelang.
Satu gram tinja berisi ribuan telur cacing yang siap berkembang biak di perut seseorang.
Kandungan lain tinja adalah nutrien, umumnya merupakan senyawa nitrogen (N) dan senyawa fosfor (P) yang dibawa sisa-sisa protien dan sel-sel mati. Nitrogen keluar dalam bentuk solfat. satu liter tinja manusia mengandung amonium sekitar 25 mg dan fosfat seberat 30 mg.

Pananganan
Melihat kondisi air sungai dan penanganan sanitasi buruk di Banjarmasin itu maka pemerntah setempat mendirikan PD Ipal guna mencegah pencemaran air lingkungan dengan mengolah air limbah hingga air jadi bersih alu dibuang kelingkungan agar lingkungan tetap baik.
PD Ipal sudah melakukan upaya perbaikan air dengan mendirikan tiga titik lokasi pengolahan air limbah di Jalan Lambung Mangkurat dan Pekapuran Raya serta Jalan HKSN Banjarmasin yang berhasil menjaring 900 pelanggan perhotelan, rumah sakit, pertokoan, dan sebagian rumah tangga.
Air limbah pelanggan tak lagi langsung dibuang tapi diolah dulu hingga bersih baru bisa dipergunakan atau dikocorkan ke sungai dan lingkungan.
Guna menciptakan lingkungan yang bersih PD Ipal mentargetkan membangun 14 titik lokasi Ipal agar bisa sebanyak mungkin mengcover sehingga seluruh lingkungan menjadi sehat.
Guna mewujudkan itu kini dikerjakan proyek besar pemasangan sistem perpipaan dalam upaya mengolah air limbah. Melalui dana APBN, menambah berbagai fasilitas sistem perpipaan, khususnya pipa primer.
14 titik lokasi pengembangan Ipal kedepan, antaranya di lokasi S Parman, Pekauman, Karang Mekar, Kampung Melayu, Gatot Soebroto, Kayu Tangi, Sultan Adam, Belitung, Pemurus, Pramuka, serta kawasan Teluk Dalam.
Menurutnya bila sistem perpipaan air limbah tersebut berhasil dengan baik, diharapkan satu perlima air limbah di masyarakat kota bisa tertangani baik.
Upaya lain membersihkan kondisi air dari pencemaran tinja dilakukan melalui Dinas Kimprasko dengan mengembangkan sanitasi masyarakat (sanimas).
Sanimas didirikan di lokasi kumuh, padat penduduk miskin (kumis), dibangunkan tempat mandi dan cuci, serta untuk buang tinja (MCK), kemudian air limbahnya ditampung lalu diolah hingga airnya yang terbuang tak mengandung bakteri lagi.
Tahun 2007 ada empat lokasi sanimas yakni di Kelayan Tengah, Teluk Dalam, Pelambuan, dan Antasan Kecil timur. Tahun 2008 ini kembali membangun sanimas lima lokasi di Sungai Jingah, Kelayan Luar, Kampung Melayu, Pekauman, serta di Belitung Selatan.
Melalui upaya itu ditambah meningkatnya kesadaran warga menjaga kondisi air sungai maka kedepan diharapkan ancaman penyakit akibat penanganan sanitasi buruk itu tidak terdengar lagi.

INDONESIA BARU LIMA PERSEN MENGOLAH AIR LIMBAH PEMUKIMAN
Banjarmasin,11/3 (ANTARA)- Ketua Forum Komunikasi Pengelolaan Air Limbah Pemukiman (Forkalim) H.Abimayu,BE mengungkapkan negara Indonesia baru lima persen air limbah pemukiman yang mampu diolah menjadi air bersih yang baru dibuang ke lingkungan.
Tingkat pengolahan air limbah pemukiman yang relatif kecil itu maka lingkungan Indonesia  berpotensi tercemar berat air limbah pemukiman yang pada gilirannya membahayakan kelestarian lingkungan dan kesehatan manusia, kata Abimayu, Rabu.
Ketika ditanya ANTARA di sela-sela mengikuti acara Rapat Kerja Nasional (Rakernas) Forkalim di Hotel Rodeta Banjarmasin, Abimayu menyebutkan minimnya pengelolaan air limbah pemukiman itu karena investasi untuk itu sangat  mahal sementara usaha tersebut tidak memberikan keuntungan yang besar hingga kurang diperhatikan.
Dibandingkan dengan pengolahan air bersih untuk kebutuhan dasar masyarakat yang begitu pesat perkembangannya, pengolahan air limbah pemukiman ini sangat jauh tertinggal.
Padahal di negara maju, dimana sangat memperhatikan kelestarian lingkungan dan kesehatan masyarakatnya, maka pengolahan air limbah tersebut seakan perioritas hingga tingkat pengolahannya begitu tinggi.
Mengolahan air limbah dimaksud adalah air limbah yang berada di dalam perpipaan pemukiman kemudian di olah hingga kondisi air tersebut mampu berada di kisaran baku mutu air yang aman bagi lingkungan baru di buang ke sungai dan sebagainya hingga tidak lagi merusak lingkungan.
Salah satu air limbah yang berbahaya jelas kotoran manudia yang membawa bakteri coli yang berbahaya bagi kesehatan, khususnya di wilayah pemukiman padat penduduk, seperti di perkotaan.
Sebagai contoh saja, Kota Banjarmasin tempat diselanggarakannya Rakernas Forkalim peretama di luar Jawa, ternyata kondisi limbah kotoran manusia begitu tinggi mencemari air sungai.
Secara terpisah, Kepala Perusahaan Daerah (PD) Pengolahan Air Limbal (PAL) Banjarmasin, H.Muh Muhidin,ST membenarkan kandungan baktari coli di sungai Banjarmasin sudah tercatat 16000 PPM, sementara batas baku mutu hanya 30 PPM, begitu tingginya pencemaran tinja di wilayah ini.
Hal itu terjadi karena kondisi Septec Tank (tempat penampngan tinja)  atau kakus rumah-rumah penduduk di Banjarmasin kebanyakan dibuat tidak standar,  akhirnya tinja mencemari air di sekitar kakus dan mengalir kemana-mana.
Selain itu memang ada budaya masyarakat Banjarmasin yang membuang kotoran sembarangan langsung ke  sungai melalui budaya jamban.
Oleh karena itu, Pemko Banjarmasin melalui PD Pal berusaha mencegah pencemaran air limbah pemukiman itu kemudian diolah hingga bersih agar lingkungan juga bersih, tambahnya.
Menurut Abi Mayu sesuai dengan MDG’S 2015 hendaknya air limbah pemukiman ini harus diolah menjadi air bersih yang sehat bagi lingkungan, tetapi karena investasi mengenai itu besar, maka kemungkinan sesuai MDG’S 2015 air pengelolaan limbah tidak bisa mencapainya.
Beberapa daerah di tanaha air memang sudah mulai serius mengelola air limbah ini, khususnya di Banjarmasin sudah terdapat tiga titik lokasl instalasi pengolahan air limbah dengan kapasitas cukup besar, dari 14 titik lokasi yang direncakakan agar wilayah ini bersih dari air limbah tersebut.
Kota-kota lain yang terus memacu produksi air limbah pemukiman itu, adalah 11 kota, antara lain Kota Medan, Jakarta,Bandung, Cirebon, Jogyakarta, Balikpapan, Denpasar, Solo, serta Kota Makassar.
Berdasarkan keterangan sebelum Rakernas digelar peserta yang berasal dari kota-kota pengolah air limbah tersebut berkesempatan menyusuri sungai-sungai wilayah pemukiman Banjarmasin untuk menyaksikan kondisi air sungai tersebut dari limpahan air limbah pemukiman.
Paparan yang disampaikan pada rakernas tersebut antara lain, dari ketua Forkalim Abimayu sendiri juga ada dari PDAM DKI Jaya, PDAM Balikpapan, BLU Denpasar, DLH Sekber Kerta Mantul Yogyakarta, PDAM bandung, PDAM Surakarta, serta PD PAL  Banjarmasin.

About these ads

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 41 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: