FLUKTUASI HARGA KARET RISAUKAN PETANI KALSEL

Oleh Hasan Zainuddin


Paringin, Kalsel 8/7 (ANTARA)- Kalangan Petani Karet di sentra perkebunan karet alam Kabupaten Balangan Provinsi Kalimantan Selatan dalam dua bulan terakhir ini mengeluh lantaran harga karet di tingkat petani anjlok melebihi 50 persen.
Didon, 25 tahun petani setempat, di desa Inan Kecamatan Paringin Kabupaten Balangan, Minggu menyatakan akibat turunnya harga ketingkat bawah tersebut menyebabkan pendapatan petani juga anjlok.
Bayangkan saja harga karet jenis lum, saat normal antara Rp10 ribu hingga Rp12 ribu per kilogram, sementara harga berlaku yang dibeli kalangan pedagang pengumpul yang datang ke kampung-kampung belakangan ini hanya Rp5 ribu saja per kilogram.
Rendahnya harga karet tersebut melemahkan semangat kalangan petani setempat untuk mengembangkan lahan kebun karet luas lagi, padahal belakangan kegairahan berkebun karet telah hidup di wilayah kaki Pegunungan Meratus tersebut.
“Kita berharap harga karet kembali membaik, seperti sedia kala agar petani kembali bergairah,” katanya.
Ia mengkhawatirkan turunnya harga karet tersebut lantaran permainan spekulan atau para pedagang pengumpul yang bersekongkol dengan para pengusaha pabrikan.
Sebab kabar yang ia peroleh harga karet tersebut ternyata cukup baik di daerah lain, seperti di Kalimantan Tengah atau bagian Indonesia lain.
Menurutnya bila harga turun tersebut berlangsung lama dikhawatirkan akan menambah kemiskinan di kawasan pemukiman penduduk kabupaten Balangan yang merupakan wilayah kabupaten pemekaran dari Kabupaten Hulu Sungai Utara (HSU) tersebut.
Sebab tambahnya, berbagai kebutuhan pokok di kawasan tersebut begitu mahal, harga gula pasir saja tercatat Rp15 ribu per kilogram, sehingga harga karet yang anjlok tak mampu menutupi kebutuhan sehari-hari.
Belum lagi harga beras, ikan, dan kebutuhan lainnya terus melambung yang semua itu terus memberatkan petani setempat.
Kerisauan tentang anjloknya harga karet tersebut hampir merata di kalangan penduduk yang meyoritas berkebun karet itu.
Oleh karena itu berbagai saran dan pendapatpun bermunculkan menanggapi turunnya harga barang dagangan ekspor andalan Indonesia tersebut.
Seperti diutarakan AbdulKadir penduduk Desa Panggung, Paringin Selatan ini yang berharap adanya semacam badan ataulembaga yang bisa menjadi penyangga produksi karet alam.
Harga yang berfluktuasi yang begitu tajam belakangan ini sangat merugikan petani karet,karena itu diperlukan badan atau lembaga menyangga agar harga bisa stabil, kata Abdul Kadir tokoh masyarakat yang sering disebut Bapak Anum ini.
Ia sendiri mengaku sangat sedih melihat kondisi petani karet belakangan ini yang selalu terombang-ambing oleh fluktuasinya harga karet.

Buat Lum
Dengan harga yang turun naik begitu tajam membuat petani menjadi bingung, di sisi lain sudah bergairah menggeluti kebun karet dan meninggalkan usaha lain dengan harapan hidup lebih sejahtera.
Alasan menggeluti karet karena dinilai menguntungkan setelah sekian lama karet tak terpengaruh oleh resesi ekonomi, baik ekonomi dunia maupun resesi ekonomi nasional.
Selain itu bertani karet lebih mudah dan murah investasi disamping mampu memperbaiki lingkungan yang rusak akibat penggundulan hutan tidak bertanggungjawab.
Dengan pertimbangan tersebut membuat banyak lahan terlantar digarap jadi kebun karet, lahan kebun lain bahkan kebun buah-buhan dikonversi jadi kebun karet.
Di sisi lain, harga sering turun naik tak menentu dan sekarang berada pada titik terendah Rp5 ribu per kilogram dari sebelumnya Rp12 ribu per kilogram untuk jenis karet lum, yaitu jenis karet yang diproduksi petani setempat.
Dengan harga yang begitu rendah tersebut membuat banyak petani ingin berpaling lagi ke usaha lain.
Alasan mereka karet yang tadinya sebuah usaha menjanjikan kini dinilai sebuah usaha yang mengancam kehidupan, karena dengan harga Rp5 ribu per kilogram maka hasil yang diperoleh petani tidak akan sebanding dengan harga kebutuhan yang lain.
“Bayangkan saja harga satu kilogram gula pasir Rp15 ribu poer kilogram, bila harga karet hanya Rp5 ribu per kilogram berarti untuk memperoleh satu kilogram gula pasir harus menghasilkan tiga kilogram karet,” kata Abdul Kadir.
Oleh karena itu, Abdul Kadir berharap pemerintah turun tangan mengatasi harga karet tersebut, dengan membentuk sebuah badan atau lembaga semacam Depot Logistik (Dolog) yang mampu menyangga produksi beras petani.
Sebab tambahnya, bila harga karet membaik maka usaha lain seperti industri rumah, bertani sawah, petambak ikan, dan usaha lainnya juga ikut bergairah karena warga punya uang dan mampu membeli mahal produksi usaha lainnya tersebut.
Melalui badan atau lembaga, baik yang didirikan tersendiri oleh pemerintah, atau melalui Badan Usaha Milik Negara (BUMN) atau dibawah departemen Perdagangan akan mempu menjaga harga karet.
Melalui badan atau lembaga tersebut, bila membeli karet petani dengan harga wajar, kemudian badan atau lembaga tersebut bisa mendirikan pabrik karet di lokasi sentra perkebunan.
Dengan demikian maka karet alam petani tidak lagi dikuasai oleh sekelompok pengusaha yang memiliki “kaki-tangan” seperti para pedagang pengumpul yang datang ke kampung-kampung.
Kelompok pengusaha dan kaki tangan serta para tengkulak itu yang selama ini mempermainkan harga karet petani, sehingga petani benar-benar tak berkutik dan pasrah menghadapi keadaan dengan anjloknya harga karet tersebut.
Menurut Abdul Kadir melalui badan yang dikelola pemerintah tersebut pula kalau perlu merubah kebiasaan hanya mengekspor karet mentah keluar negeri, tetapi menciptakan industri yang berbahan baku karet seperti ban kendaraan di dalam negeri.
Kemudian ban kendaraan tersebut yang diekspor sehingga memiliki nilai tambah yang berlipat ganga dibandingkan hanya ekspor karet mentah.
Apalagi luasan kebun Kalsel begitu memadai untuk menciptakan industri berbahan baku karet di wilayah ini.
Berdasarkan data dari Badan Koordinasi Penanaman Modal Daerah (BKPMD) Kalsel, sampai dengan saat ini Luas areal tanaman karet di Kalimantan Selatan mencapai 182.527 Hektare.
Luasan tersebut terdiri dari perkebunan Rakyat 182.527 Hektare dengan produksi 113.250 ton, Perkebunan Besar Swasta (PBS) 13.168 hektare dengan produksi 11.753 ton dan Perkebunan Besar Negara (PBN) 14.545 hektare dengan produksi 7.590 ton per tahun.
Bila pemerintah mau serius memperhatikan keluhan petani karet maka kedua belah pihak akan diuntungkan, disisi lain petani akan terselamtkan dengan harga karet terus membaik, disisi lain pemerintah bisa memperoleh keuntungan dengan meraih devisa ekspor industri dari bahan karet tersebut.

Timbang karet lum

About these ads

4 Tanggapan

  1. wah.saya berminat menjadi petani karet tapi harga karet naik lg ya

  2. Biasanya petani akan menyimpan karet untuk smentara waktu sampai harga dirasa pas dipasaran, harga juga dipengaruhi para tengkulak yg banyak mengambil keuntungan

  3. Apa ya yang mempengaruhi turunya harga karet?

  4. kurang bergairah lg klau mau k kebun….

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 42 pengikut lainnya.

%d blogger menyukai ini: