“KOLANG KALING” MAKANAN PENYEGAR BUKA PUASA

Oleh Hasan Zainuddin


Suara bergurau terdengar memecah kesunyian kawasan semak belukar di belakang pemukiman penduduk Desa Panggung Kecamatan Paringin Selatan, Kabupaten Balangan Provinsi Kalimantan Selatan.

Suara tersebut ternyata datang dari dua remaja putra kakak beradik, Ifan dan Udin warga setempat yang sedang memanjat sebatang pohon enau (aren) di lokasi tersebut.

Setandan buah enau yang disebut penduduk setempat “timbatu” diboyong ke rumah mereka, tentu saja buah yang diambil yang bewarna hijau, bukan bewarna hijau kehitaman atau kekuningan.

Yang berarti buah yang mereka ambil tersebut masih terbilang muda, kemudian buah tersebut mereka bakar dengan kayu bakar setelah beberapa saat buah itupun layu dan ada yang terlihat angus dengan warna kehitaman.

Kemudian buah yang dibakar didinginkan, serta merta mereka berdua mengambil dua buah pisau lalu satu persatu isi buah enau yang disebut kolang kaling tersebut diambil dan ditempatkan pada sebuah wadah yang diberi air kapur.

Ketika ditanya mereka menceritakan proses pengambilan kolang kaling harus melalui proses pembakaran buah enau, sebab buah enau mengandung getah yang bila terkena kulit tangan maka rasanya gatal sekali.

“Kami pernah mencoba mengambil kolang kaling tanpa proses pembakaran buah enau, maka kulit tangan kami gatal sekali, dan menyebabkan kulit merah-merah dan iritasi dan sulit diobati,” kata Ifan.

Dengan kejadian tersebut mereka pun tak berani lain main-main mengolah makanan tersebut tanpa harus dibakar.

Selain dibakar menurut mereka bisa pula dengan cara direbus dalam “kawah” (wajan besar), maksudnya sama agar menghilangkan getah dalam buah tersebut.

Setelah kolang kaling terkumpul dalam wadah khusus yang diberi air kapur, biji kolang kaling itu pun dibersihkan pula dengan mengambil benda putih di dalam kolang kaling, benda itu nantinya bisa menjadi tunas kalau buah sudah tua, tutur Udin menambahkan.

Sebab benda putih dalam kolang kaling itupun kalau tak dibuang bisa menyebabkan gatal pula bila kolang kaling dikonsumsi, tambahnya lagi.

Menurut mereka kolang kaling tersebut hanya keperluan sendiri, dan itupun sering dilakukan saat Ramadhan ini saja sementara hari-hari biasa jarang dikerjakan.

Sebab, buah kolang kaling enak untuk berbuka puasa karena sifatnya yang menyegarkan, bila dicampur dengan air santan dan sedikit “juruh” (air gula merah).

Mengkonsumsi kolang kaling berbuka puasa bukan kegemaran kedua kakak beradik yang masih duduk di bangku sekolah tersebut, tetapi juga kebanyakan warga lain di Kaki Pegunungan Meratus Kalimantan Selatan tersebut.

Oleh karena itu banyak warga di kawasan tersebut juga mencari kolang kaling ke hutan dan semak belukar, karena wilayah yang berdataran pegunungan di Kabupaten Balangan memang merupakan habitat dari pohon enau, karena itu pula kawasan tersebut merupakan sentra pembuatan gula aren.

Tetapi sebagian besar warga mencari kolang kaling hanya untuk keperluan sendiri, dan beberapa warga saja yang mencarinya untuk dijual lagi untuk menambah penghasilan keluarga.

Di Pasar Paringin ibukota Kabupaten Balangan kolang kaling terlihat banyak dijual dengan harga bervariasi sekitar Rp12 ribu per kilogram, dan disebutkan oleh penjualnya bahwa permintaan barang tersebut saat bulan puasa ini melonjak hingga seratus persen.

Sementara di pasar terbesar Banjarmasin, Pasar Sentra Antasari kolang kaling dijual antara Rp15 ribu hingga Rp16 ribu per kilogram.

Kolang kaling yang ada di wilayah Kalsel ini, ada yang dibiarkan tetap bulat putih dan kenyal seperti itu, ada pula yang dibelah-belah dua sehingga terlihat seperti kepingan.

Kemudian ada pula kolang kaling yang diberi pewarna hijau,merah, atau kuning, dan biasanya digunakan untuk bahan es campur, cendol, ronde, dan aneka minuman lainnya.

Di Kota Banjarmasin kolang kaling banyak dijual dan hampir terlihat dimana-mana, terutama di Pasar Wadai Ramadan (Ramadan Cake Fair).

Kolang kaling ditempatkan dalam toples dan biasanya berdampingan dengan toples yang berisikan irisan “bilungka batu” (timun suri) untuk es campur atau es buah.

Kolang kaling yang juga sering disebut sebagai buah atap adalah nama cemilan kenyal mempunyai rasa yang menyegarkan.
Kolang kaling yang dalam bahasa Belanda biasa disebut glibbertjesini, dibuat dari biji pohon aren (Arenga pinnata).

Berdasarkan sebuah hasil penelitian, Kolang kaling memiliki kadar air sangat tinggi, hingga mencapai 93,8 persen, hal itu yang membuat makanan ini menyegarkan bila dikonsumsi.

Dalam setiap 100 gram-nya, kolang kaling juga mengandung 0,69 gram protein, empat gram karbohidrat, serta kadar abu sekitar satu gram dan serat kasar 0,95 gram.

Selain memiliki rasa yang menyegarkan, mengonsumsi kolang kaling juga membantu memperlancar kerja saluran cerna manusia.

Kandungan karbohidrat yang dimiliki kolang kaling bisa memberikan rasa kenyang bagi orang yang mengonsumsinya, selain itu juga menghentikan nafsu makan dan mengakibatkan konsumsi makanan jadi menurun, sehingga cocok dikonsumsi sebagai makanan diet.

Manfaat lain dari makanan ini memang banyak digunakan sebagai bahan campuran beraneka jenis makanan atau minuman misalnya manisan, kolak, ronde, roti, minuman kaleng, dan bajigur dan lain sebagainya.

Sekarang muncul pula aneka produk makanan baru yang menggunakan kolang kaling sebagai bahannya seperti kolang kaling genji, kolang kaling mania, kolang kaling berjuruh.

Kolang kaling selain dapat dimanfaatkan untuk bahan aneka makanan dan minuman, kandungan seratnya juga baik untuk kesehatan.

Serat kolang kaling dan serat dari bahan makanan lain yang masuk ke dalam tubuh menyebabkan proses pembuangan air besar teratur sehingga dapat mencegah kegemukan atau obesitas.

About these ads

Satu Tanggapan

  1. Reblogged this on pasifo98 and commented:
    buah hutan yang banyak di cari saat bulan puasa………

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 41 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: