KAYU KHAS “ULIN” OBJEK WISATA PALANGKA RAYA

Oleh Hasan Zainuddin

Keberadaan jenis kayu khas Kalimantan yang disebut kayu Ulin (Eusideroxylon zwageri) yang masih tumbuh di hutan wilayah Kota Palangka Raya, ibukota Provinsi Kalimantan Tengah (Kalteng) ternyata dijadikan objek wisata pemerintah kota setempat.

Seperti penuturan Kepala bidang Pariwisata, Dinas Pariwisata dan Budaya Kota cantik Palangka Raya, Anna Menur kepada ANTARA di kantornya, Palangka Raya, Senin keberadaan kayu khas tersebut justru memberikan warna kepariwisataan kota setempat.
Ternyata kehidupan pohon kayu ulin di hutan memperoleh perhatian wisatawan, bukan saja wisatawan nusantara juga wisatawan mancanegara.
Jenis kayu tersebut, menarik untuk dikunjungi lantaran memang sudah langka, hanya ada di hutan-hutan tertentu saja di Kalimantan, dan ternyata masih terdapat di hutan wilayah Palangka Raya.
Banyak pengunjung yang hanya tahu kayu ulin tersebut, setelah menjadi papan, balok, atau bahan bangunan lainnya, sementara kayu yang masih hidup tidak pernah melihatnya, makanya keberadaan kayu ulin yang masih hidup justru menarik untuk bagi mereka yang belum pernah melihat tersebut.
Pohon kayu ulin yang masih hidup itu bisa dilihat di hutan Kota Palangka Raya di wilayah objek wisata susur sungai Kahayan.
Bagi mereka yang mengikuti wisata susur sungai akan melewati kawasan hutan yang di sana terdapat pohon-pohon ulin, susur sungai itu sebuah paket wisata yang dikelola Kalimantan Tpur Destination sebuah yayasan yang bergerak di bidang promo dan penyediaan paket wisata lainnya.
Selain di kawasan wisata susur sungai, kayu ulin juga bisa dijumpai di kawasan objek wisata Bukit Tangkiling, sebuah taman wisata alam bernuansa alam perbukitan, Kecamatan Bukit Batu berjarak 34 KM dari pusat Kota Palangka Raya.
Di kawasan ini, pengunjung bukan saja bisa melihat kayu ulin juga jenis kayu khas kalimantan lainnya, seperti meranti, keruing, ramin serta ratusan spicies flora dan fauna lainnya yang susah ditemui di daerah lainn, tambahnya.
Melihat kondisi alam Palangka Raya yang demikian, maka wisata alam menjadi andalan wilayah ini disamping wisata budaya.
Sulit diperoleh
Kayu ulin merupakan jenis kayu yang tak mudah lapuk baik didalam air maupun didaratan sehingga kayu ini diburu untuk bahan bangunan, khususnya pembuatan tongkat rumah panggung yang umumnya rumah penduduk kawasan rawa Pulau kalimantan.
Akibat terus diperjualbelikan, akhirnya keberadaan kayu ulin kian sulit diperoleh dan harganya pun sudah dua hingga tiga kali lipat dibandingkan satu dasawarsa lalu.
Beberapa pemerintah daerah di wilayahnya terdapat kayu ulin sudah melarang jenis kayu ini diantar pulaukan, dalam upaya pelestarian mengingat usia kayu ini ratusan tahun baru bisa dipanen.
Akibat sulitnya berkembang biak maka jenis kayu inipun tidak ada yang bersedia membudidayakan, kedati harganya relatif mahal, akibatnya kayu ini kian habis dan populasinya terus diburu oleh mereka yang ingin mencari keuntungan pribadi.
Berdasarkan catatan, kayu ulin merupakan salah satu jenis kayu hutan tropika basah yang tumbuh secara alami di wilayah Sumatera Bagian Selatan dan Kalimantan.
Jenis ini dikenal dengan nama daerah ulin, bulian, bulian rambai, onglen, belian, tabulin dan telian.
Pohon ulin termasuk jenis pohon besar yang tingginya dapat mencapai 50 m dengan diameter samapi 120 cm, tumbuh pada dataran rendah sampai ketinggian 400 m.
Kayu ulin banyak digunakan sebagai konstruksi bangunan berupa tiang bangunan, sirap (atap kayu), papan lantai,kosen, bahan untuk banguan jembatan, bantalan kereta api dan kegunaan laiinya.

About these ads

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 41 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: