
MENGEMBALIKAN KEJAYAAN “TABAT BASAR” KALI MARAUP INAN
Oleh Hasan Zainuddin
Berbicara Desa Inan, Kecamatan Paringin, Kabupaten Balangan (dulu Hulu Sungai Utara),pasti akan ingat di sana terdapat sebuah bendungan mini yang disebut warga setempat sebagai “tabat Basar.”
Mengapa lokasi ini begitu dikenal, bukan saja sebagai objek wisata, tetapi juga sebagai lokasi irigasi sederhana pedesaan, sekaligus sebagai berkembang biaknya, ikan sungai dan rawa.
Keunikan lain lagi, dari tabat basar, karena ini hasil karya nenek moyang warga Desa Inan, yang mampu berkarya menciptakan bendungan kecil yang berasal dari sungai setempat yang disebut kali maraup.
Sungai kali marapu yang berhulu ke wilayah Kecamatan Awayan ini, tadinya hanya sungai kecil yang mengalir sebagaimana sungai kecil lainnya.
Tetapi melalui buah karya tetuha masyarakat Inan yang kala itu sekitar 30 tetuha kampung membuat bendungan sederhana yang berhasil menjadi lokasi irigasi pedesaan yang mampu mengairi ratusan hektare persawahan setempat.
Bukan saja, ribuan ton padi sudah berhasil diproduksi dari hasil pengairan sederhana, tetapi sudah ribuan kwintal ikan dihasilkan dari hasil produksi tabat basar ini dikala tabat ini dikeringkan.
Suasana hiruk pikuk bagaikan pasar, seringkali mewarnai hari demi hari bahkan berminggu-minggu warga bergerombol mencari ikan di tabat basar ini di kala tabat ini dibuka dan lokasi bendungan mengering hingga ikan terkumpul di lokasi itu.
Susana ini terus berlangsung tahun per tahun, bahkan warga setempat mampu menyediakan makanan “wadi” (ikan yang dipermentasi) hasil dari tangkapan ikan di Tabat Basar ini, hingga bertahun-tahun pula.
Umpamanya saja, bila mencari ikan tahun ini, lalu ikan diwadi, wadinya itu mampu bertahan untuk mencukupi kebutuhan keluarga hingga tahun berikutnya disaat kembali tabat basar dibuka untuk menangkap ikan, kata Mursidi warga Desa Inan, yang kini menetap di Kota Palangkaraya Kalteng.
Ikan yang dihasilkan dari lokasi ini, beraneka ragam ada ikan baung, bakut, lais, puyau, sapat, haruan, tauman, sapat siam, papuyu, patung, junjulung, saluang, sanggiringan, tauman, khung, mihau, kapar,pentet, walut, lampam, dan banyak lagi jenis ikan hidup di lokasi tersebut.
Menangkap ikan warga setempat biasanya dengan cara bakacal, melonta, merinji, mehauk, membandung atau mahancau, menangguk, mangaring, mamancah, maraba, menyarakap, dan banyak lagi cara lainnya.
Saat-saat mencari ikan itu, biasanya warga kosentrasi hanya mencari ikan dan meningglkan usaha rutin seperti menoreh gatah bahuma dan lainnya, agar mereka dapat mengumpukan ikan sebanyak-banyaknya baik untuk makan segar atau diwadi.
Hanya saja dalam mencari ikan, hasil penangkapan warga umum harus dibagi dengan ahli waris pendiri tabat basar ini, dengan sistem bagi dua dan untuk ahli waris tersebut kemudian dibagi lagi untuk keluarga keturunannya.
Kalau dulu pendiri tabat basar sekitar 30 orang kemudian karena beranak pinak maka sekarang ahli waris menjadi 70 orang, kata Mursidi.
Kendati hasil penangkapan dibagi dua tetapi masyarakat umum tetap bersemangat menangkap ikan di lokasi itu, karena hasilnya masih melimpah ruah.
Tetapi seiring perjalanan waktu, lokai bendungan tabat yang disebut kali meraup terjadi pendangkalan lantaran sidementasi, disamping diserang tanaman gulma, seperti ilung dan kayapu hingga sungai menyampit dan bendungan tertutup oleh gulma dan surut akibat lumpur.
Guna mengembalikan ke kondisi asal, maka proyek rehabilitasi diserahkan kepada pemerintah, lalu oleh pemerintah sungai dikeruk dan tabat diperbaiki.
Tetapi apa nyana, maksud untuk lebih baik ternyata kondisinya tambah patal, dimana bendungan roboh, kondisi sidementasi tidak tambah baik.
Bila dulu masih bisa mengairi persawahan sekarang banyak persawahan yang kering lantaran tidak bisa diairi oleh irigasi sederhana ini.
Pihak warga sudah beberapa kali mengatasi persoalan ini tetapi kondisinya tambah parah, cerita mencari ikan rame-rame hanya tinggal kenangan, oleh karena itu semua pihak berharap baik pemerintah maupun masyarakat harus berusaha sekuat tenaga mengembalikan tabat basar tersebut.
BALANGAN KABUPATEN TERMUDA DI KALSEL
Berdasarkan hasil registrasi penduduk, jumlah penduduk Kabupaten Balangan tahun 2005 sebesar 97.519 orang, mencakup sebanyak 26.972 rumah tangga yang tersebar di 159 desa.
Kabupaten Balangan dengan luas wilayah 1.878,30 km2 ini
memiliki kepadatan penduduk (population density) 52 jiwa per km2.
Rasio jenis kelamin adalah perbandingan banyaknya penduduk laki-laki dengan banyaknya penduduk perempuan disuatu daerah dalam kurun waktu tertentu. Angka rasio dinyatakan dalam banyaknya penduduk laki-laki per 100 penduduk perempuan.
Pada tahun 2005 rasio jenis kelamin ( sex ratio )
penduduk Balangan dibawah 100. Ini berarti penduduk perempuan lebih besar dibanding laki-laki.
Secara umum dalam kurun tahu 1994-2004 perkembangan penduduk Balangan mengalami pertambahan/meningkat. Pada tahun 2005 jumlah penduduk bertambah 306 jiwa (0,003 persen) dari 97.213 menjadi 97.519 jiwa
Bupati Balangan, Ir Sefek Effendi saat bersama penulis ketika menghadiri Mauludan Rasul di Desa Panggung Kecamatan Paringin, Kabupaten Balangan.
Kabupaten Balangan terben-
tuk pada 08 April 2003 yang meliputi 6 kecamatan dengan jumlah desa sebebar seluruh kecamatan sebanyak 159 desa.
Dari jumlah desa yang ada terbagi atas dua klasifikasi yaitu : Desa Swakarya sebanyak 28 desa dan Desa Swasembada sebanyak 131 desa. Menurut klasifikasi LKMD terbagi atas klasifikasi II ada 6 desa dan klasifikasi III ada 153 desa.
pengalaman perjalanan masuk kawasan Pegunungan Meratus dengan Wakil Bupati, Drs.Ansharudin cukup menyenangkan, karena penuh dengan canda gurau dan saling adu cerita lucu.
Dalam perjalanan sekitar satu jam seakan tak terasa, padahal jalan yang ditempuh penuh liku, berlembah, di sisi jurang, jalan ada yang rusak parah berlumpur, ada yang berkerikil menuju Desa Hampang, Kecamatan Halong dalam kaitan peresmian SD Kecil di kawasan tersebut.
Penulis dan Wabup Balangan, Drs.Ansharudin
Sejarah berdirinya Kab balangan
———————————————
Keinginan Masyarakat Balangan utuk menjadikan sebuah Kabupaten sendiri yang terlepas dari Kabupaten Hulu Sungai Utara (HSU) telah dicetuskan sejak tahun 1963 yang ditandai dengan adanya Resolusi Pertama dan Resolusi Kedua pada tahun 1968.
Kedua Resolusi tersebut berakhir dengan kegagalan, karena kodisi politik yang bergejolak, masa transisi pergantian Pemerintahan Orde Lama dengan Pemerintahan Orde Baru, kuatnya sentralisasi sehingga aspirasi masyarakat bawah kurang mendapat perhatian, dan perundangan yang tidak memungkinkan.
Kuatnya arus reformasi pada pertangahan tahun 1997 yang ditandai runtuhnya Pemerintahan Orde Baru, sangat memicu kuatnya tuntutan daerah untuk melaksanakan desentralisasi. Semangat Desentralisasi ini telah melahirkan Undang-Undang Nomor 22 tahun 1999 tentang Pemerintah Daerah sebagai pengganti UU No. 5 tahun 1974. Undang-Undang Nomor 22 ini telah memberikan kesempatan yang luas kepada daerah untuk melakukan pemekaran wilayah.
Terbukanya kesempatan untuk memekarkan wilayah ini merupakan momentum yang sangat tepat dan tidak disia-siakan oleh Panitia Penuntutan Kabupaten Balangan untuk kembali melakukan tuntutan berdirinya Kabupaten Balangan. Dalam Musyawarah Besar Masyarakat Balangan yang berlangsung pada tanggal 13 Mei 1999 berhasil disepakati sebuah Pernyataan dan Sikap Masyarakat Balangan yang sudah mengkristal. Dari pernyataan ini dicetuskan sebuah Resolusi Ketiga.
Kerja keras yang dilakukan Panitia Penuntutan Kabupaten Balangan berhasil mendapat dukungan politik dengan dikeluarkannya Surat Keputusan Nomor 27 Tahun 2000 Tentang Persetujuan Menyalurkan Aspirasi Masyarakat Balangan untuk mendirikan Kabupaten Balangan.
Kemudian disusul dengan Rekomendasi Nomor 125/0889/Pem. dari Pemerintah Kabupaten Hulu Sungai Utara berupa dukungan penuh terhadap aspirasi masyarakat Balangan.
Sesuai dengan Peraturan Pemerintan Nomor 129 tahun 2000 Pemerintah Kabupaten Hulu Sungai Utara membentuk Tim Peneliti sebagai persyaratan pembentukan dan pemekaran wilayah.
Hasil Tim Peneliti menunjukkan bahwa wilayah Balangan layak untuk dijadikan Kabupaten, yang hingga sekarang ini bernama Kabupaten Balangan dengan ibu kota Paringin. Merupakan salah satu kabupaten termuda di Kalimantan Selatan.
Saat ini Pemerintahan Kabupaten Balangan dipimpin oleh Bapak Ir. H.Sefek Effendi, ME.
grobak sapi masih alat angkut vital di Balangan
Potensi Kabupaten Balangan
—————————-
Tujuan Pembangunan dibidang Pertanian adalah untuk meningkatkan produksi pertanian dan pendapatan petani. Data statistik yang disajikan dalam hal ini dibagi dalam 6 sub sektor, yaitu :
1. Tanaman Bahan Makanan
2. Hortikultura
3. Tanaman Perkebunan
4. Peternakan
5. Perikanan dan
6. Kehutanan
Di Kabupaten Balangan pada tahun 2005 produksi padi sawah dan padi ladang sebesar 61.297
ton dengan luas panen 18.180 Ha
PERKEBUNAN
Jika melihat geografis Kabupaten Balangan, maka tanaman perkebunan mempunyai peranan yang cukup besar dalam pengembangan pertanian di daerah ini. Jenis perkebunan yang potensial untuk menjadi tanaman andalan dewasa ini adalah Karet dan Kelapa Sawit…
Populasi ternak besar di kabupaten Balangan cukup potensi terutama ternak Sapi yaitu sebanyak 3.713 ekor.
Perikanan kolam atau ternak kolam di kab ini mencapai 46 rumah tangga dengan luas area 14.054 m2 dan ikan karamba sebanyak 35 rumahtangga.
Sektor Pertambangan berperan cukup besar dalam perekonomian suatu wilayah. Sektor ini merupakan salah satu sumber penerimaan devisa, terutama yang datang dari pendapatan ekspor hasil tambang. (sumber Pemkab Balangan)
titian sarana transportasi yang banyak ditemui di Balangan
data lain potensi Balangan
————————–
Kabupaten Balangan punya slogan Banua Sanggam. Dalam Bahasa Banjar, Banua berarti kampung atau daerah. Sedangkan Sanggam bermakna rasa persaudaraan yang kuat.
Tapi, Sanggam dalam slogan ini sebenarnya merupakan singkatan dari Sanggup Begawi Gasan Masyarakat. Artinya, Sanggup Bekerja untuk Masyarakat. Inilah slogan para pemimpin di daerah ini. [Slogan yang cuma gombal atau tidak, ya?]
Balangan memiliki luas wilayah 1.878,3 kilometer persegi. Delapan puluh tujuh persen diantaranya berupa daratan. Termasuk di dalamnya, hutan-hutan di Pegunungan Meratus. Sementara sisanya daerah perairan, yang terdiri dari sungai dan rawa-rawa. Ada sekitar 117 ribu jiwa yang berdiam di Balangan.
Terdapat delapan kecamatan di Balangan, yaitu Paringin, Paringin Selatan, Batumandi, Lampihong, Juai, Halong, Awayan dan Tebing Tinggi. Halong merupakan kecamatan terluas dengan 659,84 kilometer persegi. Dan Lampihong yang luas wilayahnya 96,96 kilometer persegi, menjadi yang terkecil.
Pusat kabupaten berada di Paringin. Monumen Perjuangan Rakyat Balangan dan Pasar Paringin menjadi landmark daerah ini.
Balangan terletak di bagian utara Provinsi Kalimantan Selatan. Dari Kota Banjarmasin, dengan jarak lebih kurang 215 kilometer di sebelah utara, Balangan dapat dicapai setelah melalui beberapa kota dan kabupaten di Kalimantan Selatan: Banjarbaru, Banjar, Tapin, Hulu Sungai Selatan dan Hulu Sungai Tengah.
Kabupaten ini merupakan daerah transit. Balangan menjadi tempat persinggahan perjalanan antarkota dari Provinsi Kalimantan Timur dan Kalimantan Tengah menuju Kalimantan Selatan, maupun sebaliknya.
Secara administratif, Kabupaten Balangan berbatasan dengan: Kabupaten Tabalong di sebelah utara, Kabupaten Kota Baru dan Kabupaten Paser (Kalimantan Timur) di bagian timur, Kabupaten Hulu Sungai Tengah di sebelah selatan, dan Kabupaten Hulu Sungai Utara di bagian barat. (diambil dari data Sahrudin)***
| HAMPIR semua sumber daya alam strategis dimiliki Kabupaten Balangan seperti tambang batu bara, bijih besi, minyak bumi, marmer, galian C, batu gamping dan emas. Berdasarkan data yang dimiliki pemerintah kabupaten, saat ini terdapat 73.288 hektare tambang batu bara yang dikelola PMA/PMDN. ‘Emas hitam’ ini sebagian telah eksploitasi dan eksplorasi.Sedangkan tambang bijih besi seluas 4.461 hektare terdapat di Gunung Tanalang dan Gunung Batu Berani, Muara Pitap Awayan dengan jumlah deposit 21. 124. 166 366 ton, dalam proses eksplorasi oleh PMA/PMDN.Balangan juga memiliki enam sumur minyak yang kini dikelola PMDN dan Pertamina.Kekayaan alam lain kabupaten ini adalah batu marmer, galian C dan Batu gamping yang saat ini dikelola masyarakat. Selain sejumlah potensi alam tadi, kandungan emas primer dan sekunder pun terdapat di Kecamatan Awayan dan Halong.Dengan kekayaan alamnya ini Balangan merupakan kabupaten masa depan yang diperhitungkan sebagai salah satu penyangga Banua Enam bersama Kabupaten Tabalong, Kabupaten Hulu Sungai Tengah, Hulu Sungai Selatan, Hulu Sungai Utara, dan Tapin. Letaknya yang strategis di posisi silang antara Kabupaten HST, HSU dan Tabalong menjadikan Balangan berpotensi menjadi pusat perdagangan.Meskipun begitu, Bupati Sefek Effendi menyatakan tak mau tergantung dengan sumber daya alam yang tak bisa diperbaharui itu. Potensi sektor perkebunan karet, kelapa sawit dan aren merupakan unggulan Balangan dalam dalam mengembangkan sektor perkebunan.Saat ini luas cadangan areal perkebunan di Kabupaten Balangan mencapai 50.000 hektare. Sebagian lahan sudah dimanfaatkan untuk perkebunan rakyat 37.897 hektare, perkebunan besar swasta 2.280 hektare dan perkebunan besar negara 536 hektare. Sisa areal seluas 9.283 hektare ditambah perkebunan rakyat tanaman tua 8.992 hektare. Total areal pengembangan seluas 18.275 hektare, dengan jumlah petani 8.000 orang atau 368 kelompok akan dikembangkan untuk program peremajaan.Program peremajaan dan pengembangan karet, sawit dan aren ini akan tuntas 2.010, dengan target 2006 peremajaan karet terealisasi 100 hektare dengan keperluan bibit 500.000 batang ditambah pembangunan kebun entrys 4 hektare.Untuk kelapa sawit, 2006 ditarget 350 hektare dengan bibit 52.500 batang. Sedangkan pohon aren rakyat yang selama ini hanya tumbuh secara liar, akan dilakukan peremajaan seluas 10 hektare dengan keperluan bibit 1.500 batang. Lokasi peremajaan tersebar di kecamatan Awayan, Paringin, Batumandi, Juai, Lampihong dan Halong.Pohon aren perlu diremajakan, karena selama ini mampu menjadi andalan ekonomi para petani penyadap gula aren. Kata Sefek, anggaran peremajaan 2006 tersedia saat ini sebesar 11.934.829.337. Sumber dana berasal dari APBD kabupaten 52,25 persen, APBN 40,39 persen dan APBD propinsi 7,36 persen.”Program ini merupakan upaya kami mengembangkan sektor riil ekonomi masyarakat Balangan. Didukung semakin stabilnya harga karet alam seiring kembalinya konsumen ke karet alam, prosfek perkebunan karet sangat bagus,” imbuh bupati.Saat ini tersedia 505.500 bibit karet unggul yang di tangkarkan di sejumlah lokasi, dan siap disalurkan pemerintah Kabupaten Balangan untuk merealisasikan program pengembangan dan peremajaan tanaman karet tersebut. ***PEMERINTAHAN BALANGAN——————————————— Untuk menjalankan roda pemerintahan di Kabupaten Balangan telah dibentuk beberapa Dinas / Instansi seperti Sekretariat Pemerintah Daerah, Bappeda, Bawasda, Dispenda, Dinas Pekerjaan Umum, Dinas Perhubungan, Dinas Pertambangan dan lain-lain.
Dalam penyelenggaraan Pemilu juga telah dibentuk lembaga yang menangani, yaitu Komisi Pemilihan Umum Daerah (KPUD) dengan sejumlah anggota. Adapun organisasi Sosial dan Partai Politik di Kabupaten Balangan berjumlah 27 buah. Pada pesta Demokrasi Pemilu tahun 2004 Partai Golkar dan PDI-P memperoleh kursi terbanyak di DPRD Kabupaten Balangan dengan masing-masing 4 kursi. Sedangkan Pilpres dimenangkan pasangan SBY-Kalla dengan 24.888 suara. Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) kabupaten Balangan adalah sebuah lembaga yang mewakili aspirasi masyarakat Balangan. Selama tahun 2004 DPRD Balangan telah melakukan beberapa kegiatannya, kegiatan tersebut dalam rangka penyampaian aspirasi masyarakat, peningkatan kinerja DPRD dan penyampaian Visi dan Misi kepada masyarakat. Dari beberapa kegiatan selama tahun 2004 telah melahirkan antara lain PERDA, Keputusan DPRD dan Keputusan Pimpinan DPRD
Kabupaten Balangan merupakan kabupaten pemekaran dari Kabupaten Hulu Sungai Utara. Mottonya adalah “Sanggam” (bahasa Banjar: rasa persaudaraan yang kuat dalam bergotongroyong, misal : “Urang kampung itu sanggam banar”), yang juga merupakan akronim “Sanggup Bagawi Gasan Masyarakat” (“Sanggup bekerja demi masyarakat”) yang maksudnya kesanggupan melaksanakan pembangunan yang didasari keikhlasan dan kebersamaan. Terdiri atas beberapa kecamatan : Lampihong, Balangan Letak Kabupaten Balangan terletak di bagian utara Provinsi Kalimantan Selatan pada garis 114°50′31 – 115°50′24 Bujur Timur dan 2°1′31 – 2°35′58 Lintang Selatan, berdasarkan letak geografis maka kabupaten Balangan cukup strategis dilalui lintas trans Kalimantan berpeluang besar untuk berkembang menjadi kota persinggahan bagi perjalanan Banjarmasin ke Kalimantan Timur dan Kalimantan Tengah. Batas wilayah Perhubungan Potensi Pertanian
Perikanan Perkebunan Peternakan Pertambangan Pariwisata
ADA 50 tempat pengajaran prasekolah alias Taman Kanak-kanak atau TK di Balangan. Lalu, 159 sekolah setingkat Sekolah Dasar [SD], sebiji Sekolah Luar Biasa atawa SLB, 14 buah sekolah setara SLTP, dan 9 sekolah setingkat SLTA. Di Balangan, belum ada universitas. Tempat pengajaran nonformal sejenis kursus, kira-kira ada 3 batang. Sekolah-sekolah selevel SD sampai SLTA, sudah ada di 6 kecamatan. Balangan sekarang punya 8 kecamatan. Angka-angka tadi, sudah termasuk 44 Madrasah Ibtidaiyah [MI], 12 Madrasah Tsanawiyah [MTs], dan 6 Madrasah Aliyah [MA]. Di bidang kesehatan, terdapat 9 unit puskesmas, 26 buah puskesmas pembantu, 62 poliklinik desa [polindes], dan 8 rumah bidan. Untuk pelayanan KB, Dinas Kesehatan setempat mencatat: ada 11 unit klinik KB, 244 buah pos KB, dan 172 persenel petugas lapangan KB. Dari Dinas Sosial ada catatan bahwa pada 2005, ada 3 buah panti asuhan dengan jumlah anak asuh sebanyak 95 orang. Ketiga panti asuhan itu berada di kecamatan Paringin. Tercatat pula, 107 buah kelompok karang taruna. Di tahun ini pula, ada 314 pekerja sosial masyarakat yang disebar ke seluruh desa di Balangan. Di lahan pos dan telekomunikasi, terdapat 5 kantor pos pembantu dan 2 unit pos desa keliling. BEBERAPA tempat yang sebenarnya potensial dijadikan objek wisata, tampaknya belum dimanfaatkan oleh Pemkab Balangan. Sampai hari ini, baru ada 2 buah losmen kecil, terletak di pusat kabupaten di Paringin. Okupansinya pun sangat menggelikan: cuma 82 orang perbulan. Balangan memang terlihat sekali sebagai kabupaten baru. 50 persen jalanannya, atau sepanjang 25,683 km saja yang sudah diaspal. Sisanya, sepanjang 141,875 km atau 21 persen diantaranya, masih berupa jalan tanah. 29 persen yang setara dengan 192,625 km telah ditutup pakai kerikil. Jalanan yang membentang di Balangan ini, 86 persen merupakan jalan kabupaten, 4 persen jalan negara dan 10 persen jalan provinsi. Kalau ditik dalam kilometer, angka-angka presentase yang terakhir barusan sama dengan 586,833 km, 27,500 km dan 63,850 km. BERDASARKAN hasil registrasi penduduk, jumlah manusia penghuni Balangan pada tahun 2006 ada 100.956 orang. Atau, kalau dihitung pakai satuan rumah tangga, kira-kira terdapat 28.541 rumah tangga yang tersebar di 159 desa. Kabupaten yang luasnya 1.878,30 km persegi ini punya kepadatan penduduk 54 jiwa perkilometer persegi. Dari Polres Balangan ada tambahan berupa komposisi etnis penghuni Balangan: 45 persen suku Banjar, 25 persen Dayak, 15 persen Bugis, 10 persen Jawa, dan 5 persen lain-lain. LUAS kawasan hutan Balangan menurut jenis dan fungsinya: hutan produksi tetap [31,195 hektare]; hutan produksi terbatas [7,510 hektare] dan hutan lindung [51,938 hektare]. “CARILAH karet sampai ke Balangan”, begitu kata pepatah, entah pepatah dari mana dan dipopulerkan oleh siapa. Yang jelas, pada tahun 2006 Balangan menghasilkan 24.066,1 ton karet, dengan angka produktivitas sebesar 1.223,37 kg perhektare. PT. ADARO Indonesia, tahun 2006 mengeruk sejumlah 34.368.053 MT batubara dari perut bumi Balangan dan Tabalong. Padahal tahun 2005, batubara yang disikat baru sebanyak 26.686.197 MT.(sumb:sahrudin)
DATU KANDANG HAJI: MASKOT KOTA BALANGAN Oleh Zulfa Jamalie Setidaknya ada dua faktor utama kenapa tulisan ini ingin saya hadirkan ke tengah pembaca. Pertama, hampir di seluruh daerah kabupaten di propinsi Kalimantan Selatan (memiliki) dan pernah melahirkan tokoh-tokoh besar yang berjasa terhadap perkembangan Islam. Mereka merupakan maskot daerah yang patut diteladani keilmuan, sejarah hidup, dan perjuangannya dalam membumikan ajaran Islam. Sebutlah misalnya Khatib Dayyan dan Datu Anggah Amin (Banjarmasin), Datu Abdussamad Bakumpai (Batola), Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari, Syekh Abdul Wahab Bugis dan lain-lain (Martapura), Syekh Ahmad Nawawi Panjaratan (Tanah Laut), Syekh Muhammad Arsyad Lamak (Tanah Bumbu), Datu Sanggul, Datu Suban dan lain-lain (Tapin-Rantau), Datu Taniran, Habib Negara, Datu Kubah Dingin, dan lain-lain (HSS), Syekh Muhammad Nafis Al-Banjari (Tabalong), dan sebagainya. Sebagian di antara tokoh-tokoh dimaksud telah ditulis oleh para penulis tentang riwayat hidup dan perjuangan mereka secara singkat. Bahkan, melalui kajian literatur dan wawancara dengan beberapa orang nara sumber, saya juga telah menulis secara singkat riwayat beberapa orang tokoh tersebut dalam buku Perjuangan Tokoh Membumikan Islam di Tanah Banjar. Ada pula yang masih dalam proses penelitian dan pengayaan. Karena itu saya merasa perlu menghadirkan sosok Datu Kandang Haji (walaupun singkat) untuk dijadikan sebagai maskot daerah Kabupaten Balangan yang belum begitu banyak dikenal orang, apalagi terpublikasi secara luas. Kedua, Sejarah permulaan masuk dan perkembangan dakwah Islam di Kalimantan Selatan tidak bisa lepas dari jasa, peranan dan perjuangan dari para ulama dan tokoh-tokoh Islam yang hidup pada masa dahulu. Karena berkat jasa dan perjuangan merekalah Islam berkembang dan menjadi pegangan hidup masyarakat Banjar hingga sekarang. Di samping itu kehadiran mereka di Bumi Kalimantan telah menjadikan daerah ini kaya dengan khazanah-khazanah intelektual Islam, sehingga dalam catatan sejarah pernah menjadi pusat studi Islam yang banyak menghasilkan karya-karya keagamaan dan sastra, selain Palembang dan Aceh (Karel S. Steenbrink, 1985: 5). Tetapi, menurut Azyumardi Azra, (1998: 251) perkembangan Islam Kalimantan Selatan masih belum ditelaah secara memadai, jikapun ada, kebanyakannya hanya terpusat pada masalah-masalah kapan, bagaimana, dan darimana Islam memasuki wilayah ini, hampir tidak ada pembahasan mengenai pertumbuhan lembaga-lembaga Islam dan tradisi keilmuan di kalangan penduduk Muslimnya. Untuk menyahut dua faktor di atas, diperlukan kajian dan penelitian yang terus-menerus, intensif, dan komprehensif terhadap sejarah hidup, pemikiran, dan perjuangan para tokoh yang telah berjasa besar mengisi ruang khazanah intelektual dan peradaban di Bumi Kalimantan. Memang, menjadikan sejarah hidup dan perjuangan para tokoh, yang hidup zaman dahulu, zaman di mana tradisi menulis belum berkembang, bukanlah perkara yang mudah. Apalagi untuk melacak secara tuntas sejarah hidup dan perjuangan mereka, karena minimnya data dan dokumentasi yang ada. Secara khusus, berkenaan dengan Datu Kandang Haji, saya berkeyakinan, jasa dan peranan beliau dalam menyebarkan Islam, terutama di daerah Paringin dan sekitarnya sangat besar. Dalam buku Zafri Zamzam (1974: 4) ditulis secara singkat kiprah dakwah Datu Kandang Haji. “Datu Kandang Haji adalah salah seorang dari dua orang datu (satunya lagi Datu Sanggul dibagian Selatan Banjarmasin, Tatakan Rantau dan sekitarnya) yang aktif berdakwah, mengajar masyarakat mengaji Alquran dan menghidupkan pelaksanaan shalat Jumat di bagian Utara Banjarmasin (Paringin dan sekitarnya). Beliau wafat dengan meninggalkan Alquran tulisan tangan, sepasang terompah, dan tongkat untuk berkhutbah. Makam beliau terletak di samping masjid yang didirikannya di Paringin (Kabupaten Balangan sekarang)”. Berita yang disampaikan Zafry Zamzam sangat singkat, namun dari situ kita bisa menangkap beberapa kesimpulan penting berkenaan dengan aktivitas Datu Kandang Haji. Pertama, Datu Kandang Haji hidup sezaman dengan Datu Sanggul (Rantau) yang wafat pada tahun 1772 M, karena itu, besar kemungkinan Datu Kandang Haji hidup di era tahun 1760-an dan tahun-tahun sebelumnya. Kedua, Datu Kandang Haji aktif menyebarkan Islam di Paringin dan sekitarnya, beliau menyebarkan dan mengajarkan Islam kepada masyarakat Paringin, mengajar mereka mengaji atau membaca Alquran, membimbing kegiatan keagamaan masyarakat (terutama khutbah Jumat), menyalin Alquran, serta memotivasi masyarakat untuk melaksanakan ajaran Islam dalam kehidupan sehari-hari dengan baik, beliau juga menjadi pelopor bagi masyarakat untuk melaksanakan kewajiban shalat Jumat. Shalat Jumat sendiri pada waktu itu tidak hanya sekadar kewajiban agama, tetapi juga diwajibkan oleh negara, karena itu jika ada yang tidak shalat Jumat, maka mereka akan dikenakan denda. Ketiga, Datu Kandang Haji adalah ulama yang bertanggung jawab terhadap penyebaran dan pengajaran Islam kepada masyarakat, khususnya wilayah bagian Utara Banjarmasin, yakni Paringin dan sekitarnya ketika itu, karena untuk dakwah di Banjarmasin, martapura, dan sekitarnya sudah diisi oleh ulama kerajaan sedangkan bagian Selatan yakni Tatakan Rantau dan sekitarnya sudah diisi oleh Datu Sanggul. Keempat, pelaksanaan kegiatan keagamaan yang dipelopori oleh Datu Kandang Haji pada waktu itu tentu saja masih dalam bentuknya yang sederhana, namun walau demikian diyakini bahwa dakwah beliau cukup berhasil, sehingga masyarakat Paringin termasuk kelompok masyarakat yang sudah lama mengenal agama Islam. Masih banyak hal lain yang perlu diungkap dalam sejarah hidup dan perjuangan Datu Kandang Haji dalam menyebarkan dan mengajarkan Islam, termasuk hubungannya dengan berbagai tokoh penyebar Islam di daerah lainnya. Guna mengungkap secara lebih jelas tentang sejarah hidup beliau saya telah melakukan penelitian awal secara mandiri, terutama dalam melacak sumber lisan dan cerita rakyat (folklore) yang berkembang di tengah masyarakat Paringin. Mudah-mudahan mendapat perhatian dan sokongan dari Pemerintah Kabupaten Balangan guna mengangkat sejarah hidup seorang tokoh yang merupakan maskot Kabupaten Balangan.(sumb:rumah Banjar)
ARUH BAHARIN
|
|
|






meski muda..kalo pinter mengelola bisa jadi yang muda yang terkaya lho!…mudahan para pemilik banua balangan pinter2 mengelola SDAnya bagi kesejahteraan masyarakat
Saya berharap dengan adanya pa hasan bisa membantu kami di dunia pendidikan karena kami merasa pendidikan balangan tidak akan maju kalau kebijakan seperti ini terus, dengan sekolah gratis bisa menghambat kemajuan dunia pendidikan, atas perhatian kami ucapakan terimakasi
http://fadliraifa81.blogspot.com/