Budaya Banjar

naga banjar

Aku (Penulis) berada di tengah “Nanang” dan “Galuh” Banjar 2014

 

 

 

Nanang dan Galuh Banjar (semacam abang dan none Jakarta) yang dipilih setiap tahun diKalsel.

 

 

KAIN KHAS SASIRANGAN

Warga Kalsel, boleh merasa bangga dengan adanya kain sasirangan, sebagai simbol budaya masyarakat sejak nenek moyang, walau tadinya kain itu diciptakan untuk pengobatan, tetapi belakangan kain itu telah menjadi nilai jual yang tinggi, dipakai bukan saja sebagai pakaian resmi, acara pesta, dan perkawinan, tetapi sudah masuk sebagai bahan baku perancangan busana kelas nasional.

Buktinya saja, seorang perancang busana, Ian Adrian dari jakarta telah mempopulerkan kain tersebut sebagai bahan utama rancangannya dan telah pula di peragakan pada acara fashion show bertajuk “ulun bungas” bahkan acara tersebut telah tercatat di Museum Record Indonesia (MURI). Berdasarkan catatan

c.jpg Gubernur Kalsel beserta 20 peragawati dan perancang Ia Adrian pada acara fashion show Ulun Bungas di Banjarmasin

Sasirangan dibuat dengan teknik tusuk jelujur kemudian diikat tali rafia dan selanjutnya dicelup. Kain  ini ada beberapa motif antara lain Iris Pudak, Kambang Raja, Bayam Raja, Kulit Kurikit, Ombak Sinapur Karang, Bintang Bahambur, Sari Gading, Kulit Kayu, Naga Balimbur, Jajumputan, Turun Dayang, Kambang Tampuk Manggis, Daun Jaruju, Kangkung Kaombakan, Sisik Tanggiling, dan Kambang Tanjung

d.jpg beberapa peragawati gunakan kain sasirangan

Presiden SBY dan ibu Ani SBY menggunakan kain Sasirangan khas Kalsel

  1. Kain sasirangan yang merupakan kerajinan khas daerah Kalimantan Selatan (Kalsel) menurut para tetua masyarakat setempat, dulunya digunakan sebagai ikat kepala (laung), juga sebagai sabuk dipakai kaum lelaki serta sebagai selendang, kerudung, atau udat (kemben) oleh kaum wanita. Kain ini juga sebagai pakaian adat dipakai pada upacara-upacara adat, bahkan digunakan pada pengobatan orang sakit. Tapi saat ini, kain sasirangan peruntukannya tidak lagi untuk spiritual sudah menjadi pakaian untuk kegiatan sehari-hari, dan merupakan ciri khas sandang dari Kalsel. Di Kalsel, kain sasirangan merupakan salah satu kerajinan khas daerah yang perlu dilestarikan dan dikembangkan. Kata “Sasirangan” berasal dari kata sirang (bahasa setempat) yang berarti diikat atau dijahit dengan tangan dan ditarik benangnya atau dalam istilah bahasa jahit menjahit dismoke/dijelujur. Kalau di Jawa disebut jumputan. Kain sasirangan dibuat dengan memakai bahan kain mori, polyester yang dijahit dengan cara tertentu. Kemudian disapu dengan bermacam-macam warna yang diinginkan, sehingga menghasilkan suatu bahan busana yang bercorak aneka warna dengan garis-garis atau motif yang menawan.Proses Pembuatan Kain Sasirangan
    Pertama menyirang kain, Kain dipotong secukupnya disesuaikan untuk keperluan pakaian wanita atau pria. Kemudian kain digambar dengan motif-motif kain adat, lantas disirang atau dijahit dengan tangan jarang-jarang/renggang mengikuti motif. Kain yang telah dijahit, ditarik benang jahitannya dengan tujuan untuk mengencangkan jahitannya, sehingga kain mengerut dengan rapat dan kain sudah siap untuk masuk proses selanjutnya.
    Kedua penyiapan zat warna, Zat warna yang digunakan adalah zat warna untuk membatik. Semua zat warna yang untuk membatik dapat digunakan untuk pewarnaan kain sasirangan. Tapi zat warna yang sering digunakan saat ini adalah zat warna naphtol dengan garamnya. Bahan lainnya sebagai pembantu adalah soda api (NaOH), TRO/Sepritus, air panas yang mendidih. Mula-mula zat warna diambil secukupnya, kemudian diencerkan/dibuat pasta dengan menambahkan TRO/Spirtus, lantas diaduk sampai semua larut/melarut. Setelah zat melarut semua, kemudian ditambahkan beberapa tetes soda api dan terakhir ditambahkan dengan air panas dan air dingin sesuai dengan keperluan. Larutan harus bening/jernih. Untuk melarutkan zat warna naphtol sudah dianggap selesai dan sudah dapat dipergunakan untuk mewarnai kain sasirangan.
    Untuk membuat warna yang dikehendaki, maka zat warna naphtol harus ditimbulkan/dipeksasi dengan garamnya. Untuk melarutkan garamnya, diambil sesuai dengan keperluan kemudian ditambahkan air panas sedikit demi sedikit sambil diaduk-aduk kuat-kuat sehingga zat melarut semua dan didapatkan larutan yang bening. Banyaknya larutan disesuaikan dengan keperluan. Kedua larutan yaitu naphtol dan garam sudah dapat dipergunakan untuk mewarnai kain sasirangan, yaitu dengan cara pertama-tama mengoleskan/menyapukan zat warna naphtol pada kain yang telah disirang yang kemudian disapukan lagi/dioleskan larutan garamnya sehingga akan timbul warna pada kain sasirangan yang sudah diolesi sesuai dengan warna yang diinginkan. Setelah seluruh kain diberi warna, kain dicuci bersih-bersih sampai air cucian tidak berwarna lagi.
    Kain yang sudah bersih, kemudian dilepaskan jahitannya sehingga terlihat motif-motif bekas jahitan diantara warna-warna yang ada pada kain tersebut. Sampai disini proses pembuatan kain sasirangan telah selesai dan dijemur salanjutnya diseterika dan siap untuk dipasarkan, (diktp dr tlisn bambang miranto)
  2. DALAM BAHASA BANJAR MEMILIKI “SEGUDANG” PERIBAHASA
    Banjarmasin,3/11 (ANTARA)- Seorang ahli bahasa Banjar yang juga dosen senior Universitas Lambung Mangkurat (Unlam) Banjarmasin,Haji Djantera Kawi mengungkapkan bahwa dalam bahasa Banjar yang digunakan masyarakat terbesar di wilayah Kalimantan Selatan (Kalsel) serta daerah komunitas suku Banjar di tempat lain mengandung segudang peribahasa atau ungkapan-ungkapan.
    “Berdasarkan penelitian seorang tak kurang dari 1.371 buah pribahasa atau ungkapan yang digunakan dalam kesempatan berbahasa Banjar,” kata Djantera Kawi seperti dilaporkan, Sabtu.
    Masalah peribahasa dalam  sastra  Banjar ini pula yang disampaikannya melalui kegiatan Kongres Budaya Banjar beberapa hari lalu dengan judul  “Sastra banjar untuk meningkatkan apresiasi generasi muda” dalam sebuah seminar kaitan kongres budaya banjar ke -1 di Banjarmasin.
    Menurut budayawan ini, jika diasumsikan setiap ungkapan atau peribahasa tersebut  mengandung satu ‘pra-ide’ sebagai segmen realita yang berarti masyarakat Banjar memiliki kekayaan batin luar biasa nilainya yang menyiratkan ‘pra-ide’ atau pandangan dunia yang khas.
    Sebagai contoh saja, tambahnya peribahasa yang dimulai dengan kata ‘kada’ dan ‘jangan’  seperti ‘kada ada buriniknya’ (tak ada  ceritanya), kada ada kancur jeriangaunya (kada ada hubungannya), kada ada urat tulangnya, kada babuku baruas, kada bakar kabawah, kada bataring lagi, kada ingat burit kepala, kada hanyar belalawasan, kada jadi baras, kada kulih kiwa, dan ungkapan lainnya.
    Ungkapan mengggunakan kata jangan seperti jangan bacakut papadaan,  jangan mahabui muha kawan, jangan manahipunai, jangan jadi laki urukan, jangan membuka pajaan, jangan maungkai pakasam, jangan sampai bungkas dimuntung, dan sebagainya.
    Ungkapan seperti kada ingat burit kepala, adalah sebuah konsep intropeksi, kada ingat dimaknai dengan lupa atau tidak sadar, tidak melihat, tidak kenal, sehingga secara keseluruhan ungkapan itu dapat dimaknai tidak menyadari atas komponen dirinya atau sekitarnya, atau tidak mengenali lingkungan internal dirinya, tidak sadar akan keberadaan bagian-bagian yang tak terpisahkan darinya sebagai sebuah kesatuan.
    Ungkapan, jangan manahi punai secara realitas orang sering membedakan antara ‘tanah’ biasa dengan tahi atau kotoran dari burung punai. Ungkapan ini menyiratkan bahwa jejelasan identitas adalah sebuah prinsip yang harus dihayati dan dijunjung tinggi, jangan seperti tahi punai yang tidak jelas adanya.
    Ungkapan lain seperti jangan bacakut papadaan yang bisa diartikan sebagai anjuran untuk tidak terjadi perselisihan, pertentangan, perbedaan yang menjurus kepada perpecahan diantara sesama lingkungan sendidi demi membela dan mempertahankan prinsip ataupun kepentingan masing-masing.
    Walau dalam sastra Banjar tersebut terdapat banyak peribahasa dan ungkapan yang syarat arti positif tetapi penggunaan ungkapan dan peribhasa tersebut sudah mulai ditinggalkan seiring kian kemajuan zaman.
    Oleh karena itu Haji Djantera Kawi dalam seminar yang diikuti peserta dari kalangan tokoh Suku Banjar baik dari Kalsel, sendiri Kalteng, Kaltim dan Tembilahan (Riau), Langkat (Sumatera Utara) Jogyakarta, Jakarta, Surabaya, dan Selangor (Malaysia) mengajak semua pihak yang berkomitmen terhadap keberadaan ungkapan Banjar itu untuk mendata kembali jumlah ungkapan dan peribahasa tersebut lalu mendokumentasikannya.
    Selain itu harus ada pula upaya atau melakukan analisis ilmiah berdasarkan teori relatifitas linguitik dan teori semiotika, serta melakukan kodifikasi dan kategorisasi untuk berbagai keperluan, serta merumuskan langkah revitalisasi, akualisasi dan strategis sosilaisasi apresiasinya, kata budayawan Banjar tersebut
  3. KESENIAN MADIHIN

Kesenian madihin memiliki kemiripan dengan kesenian lamut, bedanya terdapat pada cara penyampaian syairnya. Dalam lamut syair yang disampaikan berupa sebuah cerita atau dongeng yang sudah sering didengar dan lebih mengarah pada seni teater dengan adanya pemain dan tokoh cerita. Sedangkan lirik syair dalam madihin sering dibuat secara spontan oleh pemadihinnya dan lebih mengandung humor segar yang menghibur dengan nasihat-nasihat yang bermanfaat.
Menurut berbagai keterangan asal kata madihin dari kata madah, sejenis puisi lama dalam sastra Indonesia karena ia menyanyikan syair-syair yang berasal dari kalimat akhir bersamaan bunyi. Madah bisa juga diartikan sebagai kalimat puji-pujian (bahasa Arab) hal ini bisa dilihat dari kalimat dalam madihin yang kadangkala berupa puji-pujian. Pendapat lain mengatakan kata madihin berasal dari bahasa Banjar yaitu papadahan atau mamadahi (memberi nasihat), pendapat ini juga bisa dibenarkan karena isi dari syairnya sering berisi nasihat.

Asal mula timbulnya kesenian madihin sulit ditegaskan. Ada yang berpendapat dari kampung Tawia, Angkinang, Hulu Sungai Selatan. Dari Kampun Tawia inilah kemudian tersebar keseluruh Kalimantan Selatan bahkan Kalimantan Timur. Pemain madihin yang terkenal umumnya berasal dari kampung Tawia. Ada juga yang mengatakan kesenian ini berasal dari Malaka sebab madihin dipengaruhi oleh syair dan gendang tradisional dari tanah semenanjung Malaka yang sering dipakai dalam mengiringi irama tradisional Melayu asli.

Cuma yang jelas madihin hanya mengenal bahasa Banjar dalam semua syairnya yang berarti orang yang memulainya adalah dari suku Banjar yang mendiami Kalimantan Selatan, sehingga bisa dilogikakan bahwa madihin berasal dari Kalimantan Selatan. Diperkirakan madihin telah ada semenjak Islam menyebar di Kerajaan Banjar lahirnya dipengaruhi kasidah.

Pada waktu dulu fungsi utama madihin untuk menghibur raja atau pejabat istana, isi syair yang dibawakan berisi puji-pujian kepada kerajaan. Selanjutnya madihin berkembang fungsi menjadi hiburan rakyat di waktu-waktu tertentu, misalnya pengisi hiburan sehabis panen, memeriahkan persandingan penganten dan memeriahkan hari besar lainnya.

Kesenian madihin umumnya digelarkan pada malam hari, lama pergelaran biasanya lebih kurang 1 sampai 2 jam sesuai permintaan penyelenggara. Dahulu pementasannya banyak dilakukan di lapangan terbuka agar menampung penonton banyak, sekarang madihin lebih sering digelarkan di dalam gedung tertutup.

Madihin bisa dibawakan oleh 2 sampai 4 pemain, apabila yang bermain banyak maka mereka seolah-olah bertanding adu kehebatan syair, saling bertanya jawab, saling sindir, dan saling kalah mengalahkan melalui syair yang mereka ciptakan. Duel ini disebut baadu kaharatan (adu kehebatan), kelompok atau pemadihinan yang terlambat atau tidak bisa membalas syair dari lawannya akan dinyatakan kalah. Jika dimainkan hanya satu orang maka pemadihinan tersebut harus bisa mengatur rampak gendang dan suara yang akan ditampilkan untuk memberikan efek dinamis dalam penyampaian syair. Pemadihinan secara tunggal seperti seorang orator, ia harus pandai menarik perhatian penonton dengan humor segar serta pukulan tarbang yang memukau dengan irama yang cantik.

Dalam pergelaran madihin ada sebuah struktur yang sudah baku, yaitu:

Pembukaan, dengan melagukan sampiran sebuah pantun yang diawali pukulan tarbang disebut pukulan pembuka. Sampiran pantun ini biasanya memberikan informasi awal tentang tema madihin yang akan dibawakan nantinya.
Memasang tabi, yakni membawakan syair atau pantun yang isinya menghormati penonton, memberikan pengantar, ucapan terima kasih dan memohon maaf apabila ada kekeliruan dalam pergelaran nantinya.
Menyampaikan isi (manguran), menyampaikan syair-syair yang isinya selaras dengan tema pergelaran atau sesuai yang diminta tuan rumah, sebelumnya disampaikan dulu sampiran pembukaan syair (mamacah bunga).
Penutup, menyimpulkan apa maksud syair sambil menghormati penonton memohon pamit ditutup dengan pantun penutup.
Saat ini pemadihin yang terkenal di Kalimantan Selatan adalah John Tralala dan anaknya Hendra (dikutif di situs kulaan kami)

 

Cara pendulangan intan tradisional di Desa Cempaka, Martapura Kalsel

“MAULUDAN RASUL” KALSEL DIGELAR TAK SEKEDAR PERINGATI KELAHIRAN NABI
Oleh Hasan Zainuddin
Banjarmasin,30/3 (ANTARA)- Sebuah desa yang tadinya termasuk wilayah yang sunyi senyap seketika menjadi hiruk-pikuk dengan didatangi banyak orang, bukan saja berasal dari warga masyarakat sekitar desa itu tapi tak sedikit warga yang berasal dari kota-kota besar.
Bukan hanya rakyat jelata yang berada dikumpulan banyak orang itu, bisa jadi di sana ada gubernur, bupati, camat, setidaknya dihadiri seorang kepala desa atau lurah.
Bahkan bisa pula terdapat para politikus dari berbagai partai politik berbaur di acara yang disebut sebagai atraksi budaya dan agama “Mauludan Rasul” yang hampir dipastikan digelar setiap tahun  di desa-desa wilayah Banua Enam (enam Kabupaten Utara Kalsel).
Penulis yang melakukan perjalanan ke wilayah Banua Enam atau yang disebut pula kawasan “Pahuluan” (hulu sungai) akhir Maret 2008 ini menyaksikan begitu semaraknya perayaan Mauludan Rasul, terutama tampak terlihat di di Kabupaten Balangan.
Desa Panggung dan Inan salah satu desa yang menggelar acara tersebut dikunjungi banyak orang, sehingga kampung itu menjadi ramai. Pendatang bukan saja dari desa tetangga dan sekitarnya tapi tak sedikit datang dari kota hanya untuk mengikuti proses acara Mauludan Rasul tersebut.
Meriahnya acara Mauludan Rasul di desa tersebut, karena bukan saja sebagai atraksi budaya dan agama ternyata acara tersebut dinilai sebagai ajang silaturahmi terbesar di tengah masyarakat.
Menurut beberapa warga Desa Panggung dan Inan Kecamatan Paringin Selatan, Kabupaten Balangan, bila acara  Maulud Rasul itu digelar salah satu keluarga, maka keluarga yang lain seakan wajib menghadiri acara itu, karena kehadiran keluarga dan pamily lainnya merupakan bentuk penghargaan bagi sipenyelanggara acara tersebut.
“Makanya bila ada keluarga yang tak hadir dalam  acara Maulud Rasul maka keluarga tersebut dianggap kurang hubungan kekeluargaanya, dan  nantinya bila keluarga yang tidak hadir itu menyelanggarakan acara serupa maka si keluarga yang lain bisa tidak hadir pula,” kata Hj Amnah penduduk setempat.
Oleh karena itu tidak heran bila satu keluarga menggelar acara Maulud Rasul maka hampir seluruh keluarga berdatangan, bahkan yang berada di kota juga ikut mudik untuk meramaikan acara tahunan tersebut.
Bahkan menghadiri Maulud Rasul dianggap lebih sakral ketimbang hadir saat Lebaran Idul Fitri atau Idhul Adha, karena saat acara ini merupakan ajang silaturahmi keluarga paling akbar dalam setahun.
Pada perayaan Maulud Rasul di Desa tersebut dipusatkan salah satu masjid yang ada di desa tersebut, dibarengi dengan pembacaan syair-syair Maulud Al Habsyi, dan Maulud Diba serta ceramah agama oleh seorang ulama setempat.
Berdasarkan keterangan, acara serupa merupakan yang kesekian kali di gelar oleh warga di desa-desa kawasan tersebut, bahkan terkesan setiap hari selalu saja ada yang menggelar acara tersebut sehingga selama bulan Rabiul Awal atau bulan maulid nabi ini banyak sekali undangan menghadiri acara itu, kata Syamsul penduduk setempat.
Menurut Syamsul, karena acara ini dianggap menarik maka banyak sekali warga berdatangan dari kota-kota besar bahkan warga dari propinsi tetangga Kalimantan Tengah (Kalteng) dan Kalimantan Timur (Kaltim).
Penyelanggaraan acara Mauludan Rasul dalam rangka memperingati kelahiran nabi Muhammad SAW memang dinilai mahal, tetapi bagi warga tidak menjadi masalah, karena penyelanggraan yang telah terjadi secara turun-temurun di tengah masyarakat  Muslim setempat dinilai bisa mengangkat harkat martabat, disamping nilai-nilai agama.
Oleh karena itu bagaimanapun seorang keluarga di desa-desa tersebut berusaha untuk ikut menjadi penyelanggara walau harus membayar mahal.
Tetapi warga memiliki cara tersendiri untuk meringankan beban penyelanggaraan tersebut yakni dengan cara menggelar tabungan mingguan yang disebut “handil maulud.” dengan cara menyetor uang setiap minggu kepada seorang panitia yang dipercaya mengumpulkan dana sehingga selama setahun akan terkumpul dana yang cukup besar.
“Dana yang dikumpulkan selama setahun itulah yang kemudian dibelikan seekor sapi atau kerbau, untuk disembelih, kemudian daging sapi atau kerbau itu dibagi-bagian kepada warga yang ikut menjadi anggota tabungan maulud tersebut.” kata Aspiani warga Inan yang menakui setiap tahun menggelar acara  Mauludan Rasul tersebut.
Namun, tambah warga untuk menentukan acara Mauludan Rasul setiap kampung atau desa harus ditentukan, maksudnya agar tidak berbarengan dengan desa-desa  yang lain di kawasan tersebut.
Dalam setiap penyelanggaraan di suatu desa maka warga desa lain diundang untuk hadir kemudian bila desa yang lain menggelar maka warga desa yang terlebih dahulu menggelar acara itu harus pula menghadiri acara demikian di desa yang menyelanggarakan belakangan.
“Agar penyelanggaraan Maulud Rasul pasti dihadiri warga desa lain, maka biasanya ada hukum yang tidak tertulis di dalam masyareakat setempat disebut “limit.”  Artinya warga yang menjadi anggota limit wajib hadir, kalau tidak hadir bisa dianggap kualat,” tutur Aspiani.
Oleh karena itu seorang warga dinyatakan sebagai anggota limit, walau ia banyak pekerjaan, atau kegiatan lain maka wajib membatalkan pekerjaan dan kegiatan itu hanya untuk menghadiri acara Maulud Rasul tersebut.
Memeriahkan acara Maulud Rasul bagi warga dinilai memiliki nilai-nilai tersendiri dalam agama karena sama dengan menjujung nilai-nilai kehidupan Nabi Muhamad SAW maka diharapkan mendapat reda dan safaat dari Nabi Muhammad SAW.
Berdasarkan keterangan waktu penyelanggaraan acara Mauludan Rasul di setiap desa Kaki Pegunungan Meratus tersebut, selama dua hari, hari pertama disebut sebagai hari “bamula” sementara hari edua disebut hari “H” atau hari gawi.
Oleh karena itu, keluarga warga yang mengikuti acara itu harus menginap di rumah keluarga yang mengundang untuk mengikuti hari “h” atau hari gawi.
Dalam acara tersebut dimulai dengan menghidangkan makanan awal atau makan pagi, terdiri dari berbagai makanan khas dan tradisional setempat, seperti laksa, katupat Kandangan, gangan balamak, lontong, nasi kuning, atau makanan lainnya tergantung keinginan tuan rumah.
Selain itu pada sajian awal itu juga dihidangkan penganan tradisional. Setiap rumah penyelanggara menyajikan beraneka penganan tergantung kemampuan tuan rumah.
Namun penganan yang disajikan tersebut kebanyakan penganan yang disebut  penganan khas suku Banjar yang dikenal wadai 41 macam, seperti wajik, apam, kikicak, kalelapon, sarimuka, bingka, lamang, keraraban, wadai balapis,bingka barandam, cucur, katupat balamak, gaguduh, pais, gayam, bubur habang, bubur putih, onde-onde, jalabia atau cakodok,agar-agar, cangkarok, amparan tatak, dadar gulung,puteri salat, hintalu karuang, patah dan lainnya.
Setelah hidangan awal di gelar maka seluruh undangan, khususnya undangan laki-laki berkumpul di masjid atau surau untuk membacakan syair-syair maulud, baik jenis syair Maulud Diba, Maulud Al Habsyi, maupun Maulud Barjanji semuanya berisi syair berupa puji-pujian kepada Nabi Muhamad SAW.
Dalam pembacaan syair Maulud  Rasul ini juga dibawakan kelompok-kelompok kampung, artinya saat perayaan di salah satu kampung   maka kelompok kampung lain yang menyajikan bacaan syair-syair Maulud Rasul  tersebut, kemudian nantinya bila kampung yang lain itu menyelanggarakan hajatan serupa maka kampung yang ini membacakan syair Maulud Rasul atau dengan cara berbalas-balasan.
Setelah selesai membaca syair-syair Maulud proses selanjutnya masih di dalam masjid atau surau tamu diharuskan mendengarkan lantutan pembacaan ayat suci Al Qur, an  oleh salah seorang yang ditunjuk panitia,biasanya seorang qari di kampung tersebut, serta mendengarkan tausiah atau ceramah agama dari seorang ulama.
Ulama yang diundang memberikan tausiah biasanya biasanya pula adalah ulama yang ternama, atau yang dikenal dengan sebutan tuan guru, tentu ceramah yang disampaikan didominasi berkisar sejarah kehidupan Nabi Muhamad SAW baru ajaran-ajaran agama Islam yang lainnya.
Proses acara berada di masjid atau surau sejak pembacaan syair-syair Maulud rasul, hingga pembacaan ayat suci Al Qur’an dan ceramah agama biasanya berlangsung sekitar tiga hingga empat jam, setelah itu baru ditutup dengan doa kemudian bubaran acara di masjid.
Namun tak jarang, dalam acara di masjid tersebut juga dihadiri pejabat setempat, seperti gubernur, bupati, atau camat, paling rendah harus dihadiri kepala desa. Para pejabat itupun diminta memberikan sambutan atau wejangan untuk menjelaskan berbagai program pembangunan atau wejangan lain kepada masyarakat.
Setelah bubaran di masjid itulah, kepada undangan diharapkan mendatangi rumah keluarga atau keramat masing-masing yang ikut menjadi penyelanggaran Mauludan Rasul guna menikmati hidangan utama atau makan siang, yang tentu makanannya terbuat dari daging sapi atau daging kerbau yang disembelih itu.
Namun bagi keluarga yang cukup mampu biasanya selain menyajikan makanan terbuat dari daging sapi dan kerbau juga makanan tambahan lainnya terbuat dari ikan, ayam, udang, sayuran,  yang disebut warga sebagai makanan “baampal.”
Tidak ada yang tahu persis kapan acara Mauludan Rasul mulai berkembang di daratan paling Selatan Pulau terbesar di tanah air tersebut, namun ditaksir sejak masuknya Islam di wilayah tersebut.
Dalam perkembangannya acara Mauludan Rasul di Kalsel, agaknya tidak lagi sekedar memperingati kelahiran nabi untuk memperoleh berkah sesuai anjuran agama, tetapi sudah pula terdapat muatan-muatan lain.
Yang pasti nilai yang paling besar dalam acara itu adalah nilai silaturahmi antar warga yang  sangat positip dalam upaya menjaga kebersamaan dan kerukunan.
Nilai lain bisa dilihat saat acara Mauludan Rasul yang diselanggarakan di masjid Banua Halat, Kabupaten Tapin yang dihadiri Gubernur Kalsel, Drs.Rudy Ariffin dan bupati setempat dinyatakan sebagai atraksi wisata karena digelar atraksi budaya “baayun anak” diikuti 1544 orang serta masuk Museum Recor Indonesia (MURI).
Di berbagai tempat penyelanggaraan Mauludan Rasul tak jarang panitia perayaan disusupi orang-orang yang berasal dari sebuah partai politik (parpol), sehingga dalam perayaan tersebut memunculkan  atribut salah satu partai.
Bahkan seringkali pula, dana penyelanggaraan  perayaan tersebut dibantu sebuah parpol agar parpol tersebut terkesan lebih memperhatikan masyarakat, bahkan tak jarang pula dalam perayaan bukan saja menghadirkan kalangan pejabat tetapi juga tokoh-tokoh partai baik yang ada di tingkat propinsi maupun parpol ditingkat kabupaten/kota atau kecamatan.
Apalagi bila saat perayaan Maulud Rasul itu bertepatan dengan diselanggarakannya Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) untuk memilih bupati di suatu daerah kabupaten maka kuat nuansa Pilkada tersebut, umpamanya saja dengan menampilkan atribut atau simbol-simbol dari seorang tokoh peserta  Pilkada di daerah itu.
Atau isi ceramah dan wejangan yang tadinya berupa wejangan agama secara tak sadar bisa terjadi menggiring hadirin untuk memilih salah seorang peserta pilkada,atau parpol tertentu, dengan demikian maka Mauludan Rasul di Kalsel sudah terdapat segudang makna.

INTAN KALSEL BANYAK DIPERDAGANGKAN KE KESULTANAN DI JAWA
Banjarmasin,1/11 (ANTARA)- Ingat intan mungkin orang akan ingat Kalimantan Selatan, khususnya kota Martapura, dimana warga kota itu sudah lama memproduksi batu permata dan menjualnya secara turun-temurun, bahkan sejak lama intan kalsel diperdagangkan ke dalam kesultanan yang ada di Pulau Jawa.
Drs.Haji Ramli  Nawawi seorang budayawan Banjar dalam sebuah seminar dalam kaitan kongres budaya Banjar di Banjarmasin, Kamis menyatakan perdagangan batu permata yang mahal ini sudah lama berlangsung antara pedagang intan dengan kalangan kesultanan yang ada  di Pulau Jawa.
Para pedagang intan yang sering disebut masyarakat sebagai penggurijaan tersebut sejak lama berdagang batu permata itu ke Pulau Jawa  seperti Surabaya, Semarang, Surakarta, Bandung, Jogyakarta, atau ke Jakarta.
Para pedagang intan ke Surakarta biasanya terlebih dahulu ke Surabaya, kemudian selama di Surakarta pedafang intan ini biasanya menghubungi pemilik toko, atau datang langsung ke kerajaan atau ke orang Belanda yang banyak mengkoleksi barang mahal itu.
Berdasarkan sejarahnya, kata Ramli Nawawi dihadapan ratusan  peserta kongres ke -1 budaya banjar yang dihadiri peserta dari Malaysia, Tembilahan (Riau), langkat (Sumut), Jogyakarta, Jakarta, surabaya dan empat wilayah di Kalimantan, pedagang intan berlian Kalsel itu ke Surakarta sudah berlangsung sejak kerajaan Mataram (1746).
Akibat hubungan dagang intan berlian yang terus berlangsung sejak dulu itu, maka tak sedikit pedagang intan tersebut kemudian menetap di Surakarta seperti di kawasan Jayengan Surakarta, kata Ramli Nawawi dalam makalah berjudul para pedagang intan perintis komunitas warga Banjar di kesultanan Jogyakarta.
Salah seeorang pedagang intan yang tinggal di Jayengan itu adalah Anang yang kemudian melahirkan seorang putra yang kemudian juga menjadi pedagang intan adalah Haji yusuf  yang akhirnya mendirikan gudang penggosokan intan di Jayengan Solo.
Memasuki tahun 1900 para pedagang batu mulia asal Banjarmasin ini memasuki pula wilayah Jogyakarta kemudian akibat maraknya perdagangan berlian mereka ada yang tinggal  di kota itu seperti kampung Katandan yang tak jauh dari Pasar Seringharjo.
Kemudian belakangan pemukiman Suku Banjar yang berjualan intan tersebut terdapat di kampung Suryatmajan, Kauman, tegalpanggung, Gembelaan, Cokrodirjan, bahkan secara sporadis tersebar di beberapa kampung lainnya.
Komunitas Suku Banjar di Jayengan Solo atau Katandan Jogyakarta sebagai komunitas pertama warga Banjar di kota itu, dan mereka umumnya berasal dari kota Martapura, yang kota ini dikenal pula sebagai kota intan di tanah air dan termasuk warga yang taat terhadap agama Islam yang kemudian mendirikan masjid di kota itu.
Karena pedagang intan di Pasar Beringharjo ini sering berhubungan dengan pengkoleksi berlian maka hubungan antara pedagang dengan pengkoleksi itu kian dekat termasuk dari kesultanan Ngayogyakarta.
Mengenai intan yang diperdagangkan di wilayah Pulau Jawa tersebut umumnya diperoleh melalui pendulangan intan tradisional di Martapura, yang bahan mentahnya di bawa ke Pulau Jawa lalu digosok di sana, tetapi ada juga bahan mentah di beli di daerah lain bahkan dari negara eropah tetapi di gosok oleh perajin yang kawasan gudang pengosokan intan Suku Banjar di wilayah tersebut.

SENI BUDAYA BANJAR HIDUP EKEMBANG DI LUAR KALSEL
Banjarmasin,30/10 (ANTARA)- Seni budaya Suku Banjar, baik seni tutur atau seni pentas hasil penelitian masih hidup dan tumbuh berkembang di luar Kalimantan Selatan, seperi di Tembilahan Riau, Lankat Sumatera Utara, bahkan di Pahang dan Selangor Malaysia.
“Kesenian Suku Banjar tersebut tentu hidup dan berkembang di wilayah komunitas Suku Banjar yang sudah hidup turun menurun di kawasan-kawasan tersebut,” kata Kepala Bidang Seni Budaya, Dinas Pariwisata Kalsel, Yusirwan Bangsawan kepada pers di Banjarmasin, Selasa.
Hanya saja, tambah mantan Kepala Bdang Kehumasan Badan Informasi Daerah (BID) Kalsel itu, bentuk kesenian tersebut terdapat modifikasi yang disesuaikan dengan budaya masyarakat dimana komunikasi suku Banjar tersebut berada, seperti terpengaruh budaya Melayu.
Walau sedikit terkontaminasi tetapi dasar-dasar kesenian tersebut masih sangat kental nuasnsa Suku Banjar, seperti bahasa yang digunakan, pakaian, atau simbol-simbol budaya Banjar.
Ia mencontohkan saja, seni pentas Bamanda (semacam Lenong) yang menampilkan cerita kerajaan tempo dulu, bentuk seni itu tetap menggunakan bahasa Banjar, begitu juga pakaian seperti pakaian raja-raja Banjar tempo dulu, mungkin cerita yang dsesuaikan dengan cerita rakyat setmpat dimana komunitas itu berada.
Senin lain yang terus bekembang di wilayah perantuan Suku Banjar tersebut, seperti Madihin dan Lamut (seni tutur) serta tarian-tarian jepen.
Mengenai bahasa Banjar di komunitas perantuauan tersebut terkesan lebih orisinil bila dibandingkan dengan bhasa Banjar yang ada di wilayah Kalimantan Selatan sendiri.
“Banyak bahasa-bahasa nenek moyang suku Banjar yang masih  dipergunakan di wilayah perantuaan tersebut, sementara di Kalsel bahasa-bahasa seperti itu sudah slit didengar kecuali digunakan orang-orang tua saja,” kata Yusirwan Bangsawan.
Sebagai contoh saja, dalam bahasa Banjar tempo dulu menyebut untuk jalan-jalan dikatawan dalam bahasa nenek moyang balalah atau rawunan, sementara di suku Banjar Kalsel sendiri tetap menggunakan jalan-jalan.
Seperti menyebutkan kelupaan atau lupa, dalam bahasa Banjar di Kalsel menggnakan bahasa sekarang seperti kada ingatan atau kada ingat, sedangkan bahasa nenek moyang disebut kalumpanan.
Banyak lagi bahasa-bahasa nenek moyang Kalsel yang terus dilestarikan di komunitas Suku banjar perantuan tersebut termasuk budaya masak memasak atau kuliner, terus dipertahankan.
Komunitas Suku Banjar yang berhasil dicatat Pemprop Kalselyang terbanyak d kawasan Tembilahan Indragiri Hilir (Inhil) yang tercatat 40 persen penduduk setempat adalah Suku banjar.
Kemudian di kawasan Kuala Tungkal Kabupaten Sambung Jagung Propinsi Jambi, Dili Serdang dan Langkat Propinsi Sumatera Utara, Makasar Sulawesi Selatan, Jogyakarta, Surabaya, Jakarta, Selangor, Pahang, dan Negeri Sembilan Malaysia, Brunei Darussalam, dan terbanyak suku Banjar hijrah ke propinsi Tetangga Kalimantan Timur, kalimantan Tengah dan Kalimantan Barat.
Utusan-utusan Suku banjar diperantuan tersebut kini sudah berdatangan ke Banjarmasin untuk mengikuti kongres Budaya Banjar yang berlangsung tiga hari sejak Selasa malam dan dibuka Gubernur Kalsel, Drs.Rudy Ariffin.

tari.jpg baksa.jpg tari baksa kembang sebagai tarian selamat datang dari seni budaya Kalsel

BAAYUN, ANTARA ATRAKSI BUDAYA, PARIWISATA, AGAMA, DAN PENGOBATAN
Oleh Hasan Zainuddin

SUASANA - ISTIMEWA(Bpost)
Banjarmasin, 22/3 (ANTARA)- Baayun (ber-ayun) dalam buaian terbuat dari kain memang salah satu kiat seorang ibu dalam meninabobokan (menidurkan) seorang anak yang dilakukan sebagian besar masyarakat di tanah air, namun dalam cara baayun di masjid kramat Banua Halat Kabupaten Tapin, Propinsi Kalimantan Selatan (Kalsel) memiliki nuansa yang beda dari kebiasaan itu.
Karena saat maayun harus diberikan mantra-mantra serta kain ayunan yang digunakan juga didominasi kain kuning ditambah ornamen ayunan harus ada bunga-bunga rampai dan janur kuning.
Saat baayun di acara bernuansa agama, budaya serta atraksi pariwisata inipun bukan untuk menidurkan anak melainkan untuk maksud yang lebih jauh bagi masa depan anak kelak, yakni orang tua yang mengikutkan anaknya dalam acara baayun itu agar anak kelak taat beragama, anak yang sehat, anak yang cerdas, serta anak yang berbakti kepada orang tua.
Namun yang unik saat acara baayun di lokasi masjid tertua Banua Halat Kalsel ini, bukan saja diikuti bayi dan anak balita tetapi diikuti pula kalangan orang dewasa sampai nenek-kakek, akhirnya tak heran dalam acara yang menjadi kalender kepariwisataan Kalsel itu melahirkan banyak senyum simpul ribuan pangunjung saat menyaksikan seorang kakek atau nenek juga ikut diayun.
Tujuan orang dewasa untuk ikut proses baayun ini beragam maksud, ada yang sekedar ingin ikut-ikutan tetapi sebagian besar karena nazar, ingin sembuh dari penyakit, membuang sial, mencari berkah, serta sebagai ucapan syukur setelah satu keinginan telah terwujud lalu ucapan syukur ini diwujudkan dengan ikut baayun  ini.
Prosesi Baayun  saat perayaan peringatan Maulid Rasul yang digelar setiap 12 Rabiul Awal untuk memperingati kelahiran Nabi Besar Muhammad SAW di Masjid AL Mukarramah di Desa Banua Halat itupun selalu menarik untuk dikunjungi dan akhirnya acara tahunan itupun terus dipromosikan.
Karena kian terkenal maka proses baayun Banua Halat bukan saja dikunjungi warga Kalsel, tetapi juga dikunjungi pendatang dari propinsi tetangga Kalimantan Tengah, Kalimantan Timur bahkan dari Pulau Jawa, Sumatera, dan Malaysia. Atraksi ini sudah menjadi kalender kepariwisataan Kabupaten Tapin dan Kalsel, kata Kepala Dinas Pariwisata dan Budaya Kabupaten Tapin, Drs. Rahmadi.
Ketika acara baayun tahun ini tepatnya pada hari Kamis 20 Maret 2008 pesertanya kian membludak bahkan terbanyak dari selama ini akhirnya masuk Museum Rekor Indonesia (MURI).
Jumlah peserta tahun ini sebanyak 1.544 orang terdiri dari 1.643 anak-anak, dan sisanya 401 orang dewasa. Dibandingkan tahun 2007 lalu jumlah peserta  hanya 1.055 orang yang berarti terjadi peningkatan 489 orang.
Piagam MURI diserahkan Manager MURI Paulus Pangka kepada Bupati Tapin Drs H Idis Nurdin Halidi MAP dan Ketua Panitia Kegiatan H Nafiah Khairani, disaksikan Gubernur Kalsel H Rudy Arifin dan Guru Riduan atau Guru Kapuh, serta para pejabat di Provinsi Kalsel.
Dalam piagam yang berbingkai keemasan tersebut tercatat MURI No 30311/R.MURI/III/2008 yang menyatakan Masjid Al Mukarramah Banua Halat sebagai penyelenggara Baayun Maulid dengan peserta terbanyak, yang ditandatangani oleh Jaya Suprana di Semarang, Maret 2008.
Menurut Paulus Pangka, MURI mencatat kegiatan Baayun Maulid di Banua Halat ini dengan alasan acara ini telah menciptakan rekor MURI dengan jumlah peserta baayun terbanyak di Indonesia.
Baayun tahun ini peserta yang paling tua berusia 75 tahun, nenek Hj Masriah dari Kandangan, dan yang termuda seorang bayi yang baru berumur 4 hari.
Prosesi baayun dimulai saat Kelompok Maulid Al Habsy dari Martapura membaca Asyrakal dan seluruh peserta yang diayunpun langsung duduk, berbaring di ayunan yang sudah disediakan. Selain peserta anak-anak yang diayun, peserta dewasa pun duduk dan diayun oleh kerabat dan keluarganya.
Menurut Kadis Pariwisata dan Budaya, Rahmadi banyak orang sakit yang menahun, sudah berobat kemana-mana termasuk ke rumah sakit tidak sembuh-sembuh penyakit itu, tetapi setelah ikut baayun maka penyakit itu sembuh, akhirnya baayun  juga dipercayai sebagai sarana pengobatan,” kata Rahmadi.
Seorang penduduk Rantau ibukota Kabupaten Tapin, Abdurahman (55 th) mengaku ikut dalam proses baanyun ini lantaran ingin sembuh dari penyakit sesak nafas yang menahun, selain itu sebagai nazar agar bisa menunaikan ibadah haji.
“Setelah saya bernazar itu kemudian terkabul, lalu saya ikut dalam proses baayun di Banua Halat itu,” kata Abdurahman yang dikenal sebagai seorang pensiunan PNS tersebut.

 

ayun.jpg

Sejarah baayun
Berdasarkan sebuah tulisan karya Zulfa Jamalie berjudul “Kearifan Lokal Dakwah Dalam Tradisi Baayun Anak” disebutkan baayun di Banua Halat sebagai sebuah tradisi yang saban tahun digelar, Baayun Anak sarat dengan sejarah, muatan nilai, filosofis, akulturasi, dan prosesi budaya yang berharga untuk dikaji secara komprehensif.
Menurut catatan sejarah, Baayun Anak semula adalah upacara peninggalan nenek moyang yang masih beragama Kaharingan. Sejarawan H.A.Gazali Usman menyatakan tradisi ini semula hanya ada di Kabupaten Tapin (khususnya di Desa Banua Halat Kecamatan Tapin Utara). Namun kemudian, berkembang dan dilaksanakan diberbagai daerah di Kalimantan Selatan.
Tradisi ini menjadi penanda konversi agama orang-orang Dayak yang mendiami Banua Halat dan daerah sekitarnya, yang semula beragama Kaharingan kemudian memeluk agama Islam. Karena itu upacara Baayun Anak tidak bisa dilepaskan dari sejarah masuknya Islam ke daerah ini.
Sebagaimana diketahui, setelah Islam diterima dan dinyatakan sebagai agama resmi kerajaan oleh pendiri kerajaan Islam Banjar, Sultan Suriansyah, pada tanggal 24 September 1526, maka sejak itulah Islam dengan cepat berkembang, terutama daerah-daerah aliran pinggir sungai (DAS) sebagai jalur utama transportasi dan perdagangan ketika itu.
Jalur masuknya Islam ke Banua Halat adalah, jalur lalu lintas sungai dari Banjarmasin ke Marabahan, Margasari, terus ke Muara Muning, hingga Muara Tabirai sampai ke Banua Gadang. Dari Banua Gadang dengan memudiki sungai Tapin sampailah ke kampung Banua Halat. Besar kemungkinan Islam sudah masuk ke daerah ini sekitar abad ke-16.
Sebelum Islam masuk, orang-orang Dayak Kaharingan yang berdiam di kampung Banua Halat biasanya melaksanakan acara Aruh Ganal. Upacara ini dilaksanakan secara meriah dan besar-besaran ketika pahumaan (sawah) menghasilkan banyak padi, sehingga sebagai ungkapan rasa syukur sehabis panen mereka pun melaksanakan Aruh Ganal, yang diisi oleh pembacaan mantra dari para Balian. Tempat pelaksanaan upacara adalah Balai.
Setelah Islam masuk dan berkembang serta berkat perjuangan dakwah para ulama, akhirnya upacara tersebut bisa “diislamisasikan”. Sehingga jika sebelumnya upacara ini diisi dengan bacaan-bacaan balian, mantra-mantra, doa dan persembahan kepada para dewa dan leluhur, nenek moyang di Balai, akhirnya digantikan dengan pembacaan syair-syair maulud, yang berisi sejarah, perjuangan, dan pujian terhadap Nabi Muhammad SAW, dilaksanakan di masjid, sedangkan Sistem dan pola pelaksanaan upacara tetap.
Nilai utama yang hendak ditanamkan oleh para ulama dalam upacara Baayun Anak dan mengisinya dengan pembacaan syair-syair maulud di Desa Banua Halat tersebut tidak lain sebagai bagian dari strategi dakwah kultural, yakni bentuk dakwah yang dilakukan melalui pendekatan aspek penjelasan dan tindakan yang bersifat sosiokultural dan keagamaan, jadi bukan dengan pendekatan politik, salah satunya adalah dengan mengunakan medium seni budaya Atau dimaknai sebagai suatu upaya menyampaikan ajaran Islam dengan mengakomodir budaya lokal serta lebih menyatu dengan lingkungan hidup masyarakat setempat.
Karenanya pada akhirnya dakwah kultural menghendaki adanya kecerdikan dalam memahami kondisi masyarakat dan kemudian mengemasnya sesuai dengan pesan-pesan dakwah Islam.
Dengan model dakwah itu mereka tetap menjaga dan melestarikan sebuah tradisi dengan prinsip “setiap budaya yang tidak merusak akidah dapat dibiarkan hidup”, sekaligus mewariskan dan menjaga nilai-nilai dasar kecintaan umat kepada Nabi Muhammad Saw, untuk dijadikan panutan dan teladan dalam kehidupan berkeluarga, bermasyarakat, dan berpemerintahan.
BAAYUN MAULUD DI BANJARMASIN

SUASANA Baayun Maulid atau prosesi mengayun anak, Sabtu (15/3) di Ballroom Swiss Belhotel Borneo, Banjarmasin. ISTIMEWASEBAGAI tradisi Banjar turun temurun, upacara Baayun Maulid atau Baayun Anak, mengundang antusias masyarakat luas. Selain ingin mengambil berkah keluhuran dan kemuliaan Nabi Muhammad SAW, dalam upacara ini terkandung harapan agar anak-anak yang diayun selalu mendapat kebaikan dalam menempuh kehidupan.

Untuk memperingati perayaan Maulidurrasul, hari kelahiran Nabi Muhammad SAW, Swiss Belhotel Borneo Banjarmasin mengadakan tradisi ritual baayun maulid, yakni prosesi mengayun anak, Sabtu (15/3) di di ballroom Swiss Belhotel Borneo.

Sekitar 10 ayunan yang dibuat dari tapih bahalai (kain sarung wanita) atau selendang tampak berjejer. Juga ada pembacaan syair-syair maulid kemudian ada 41 wadai Banjar, Maulid Habsyi dan doa bersama 100 anak Panti Asuhan Ashabul Kahfi, Ar Risalah, Intan Sari serta Harapan Ibu Banjarmasin.

Manajer Humas Swiss Belhotel Borneo, Evaldo Desfarillo mengatakan acara Tradisi Baayun Mulud ini jadi agenda tetap tetap setiap bulan Rabiul Awal sekaligus pelestarian budaya Banjar agar tak hilang digerus modernisasi.

“Hakikat upacara sebagai sarana membangun dan menyempurnakan akhlak dan moral mulia sebagaimana tugas Nabi Muhammad SAW membawa Islam yang penuh kedamaian terhadap manusia dan alam,” papar Aldo.

Dari sejarahnya, prosesi baayun maulid diperkirakan sudah ada sejak masuknya Islam di daerah itu pada awal abad ke-17. Baayun sendiri bukan datang dari tradisi Islam. Tradisi ini diperkirakan terkait dengan kebiasaan dan kepercayaan masyarakat setempat yang sudah ada sejak lama dan terus bertahan.

Terkait syiar Islam yang dikembangkan ulama masa itu, baayun dilakukan untuk tetap menjaga aqidah masyarakat yang telah memeluk Islam tanpa menghilangkan budaya setempat.

Sebagai tradisi Banjar turun temurun, upacara Baayun Maulud atau Baayun Anak, mengundang antusias masyarakat luas. Selain ingin mengambil berkah keluhuran dan kemuliaan Nabi Muhammad SAW, dalam upacara ini terkandung harapan agar anak-anak yang diayun selalu mendapat kebaikan dalam menempuh kehidupan.

Baayun asal katanya dari ‘ayun’, jadi bisa diterjemahkan bebas ‘melakukan proses ayunan atau buaian’. Bayi yang mau ditidurkan biasanya akan diayun oleh ibunya, ayunan ini memberikan kesan melayang-layang bagi si bayi sehingga ia bisa tertidur lelap. Asal kata ‘mulud’ dari sebutan masyarakat untuk peristiwa maulud Nabi.

Upacara baayun mulud dilaksanakan pada pagi hari dimulai pukul 10.00 Wita, lebih afdhol apabila dilaksanakan bertepatan dengan tanggal 12 Rabiul Awal. Bagi orangtua yang mendapat kesempatan untuk mengikutsertakan anaknya dalam upacara ini akan merasa sangat bahagia dan beruntung. (ncu/bpost)

Kembang berenteng, sering dimanfaatkan sebagai peralatan budaya masyarakat Banjar

BENDA-BENDA BERNILAI SAKRAL

RAKYAT KALSEL BERHASIL MEMBUAT SENDIRI 12 JENIS SENJATA API MODERN

Banjarmasin,21/5 (ANTARA)- Siapa  sangka rakyat Kalimantan Selatan yang hanya dikenal sebagai masyarakat petani dan pedagang itu ternyata dalam sejarahnya berhasil membuat sendiri berbagai jenis senjata api modern, yang dulunya digunakan untuk mengusir penjajahan.
Masalah senjata api modern buatan rakyat Kalsel tersebut dijelaskan Kepala Badan Pengelola Museum Perjuangan Rakyat Kalimantan Selatan “Waja Sampai Kaputing” Banjarmasin,Drs.H.Sjarifuddin kepada Gubernur Kalsel, Drs.Rudy Ariffin ketika meninjau pameran keliling museum tersebut di Banjarmasin, Senin.
Pameran keliling yang digelar, Museum Perjuangan Rakyat Kalimantan Selatan “Waja Sampai Kaputing,” yang berlokasi di ruang pamer Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Kalsel itu, dalam rangkaian memeriahkan Hari Kebangkitan Nasional (Harkitnas).
Menurut Sjarifuddin, berbagai senjata api yang diolah masyarakat Kalsel tersebut terbuat dari bahan yang berasal dari daerah setempat, seperti kayu, besi, aluminium, serta logam lainnya.
Melalui senjata-senjata api itulah serta senjata tradisional yang lain rakyat Kalsel berhasil mengusir penjajajan, melalui berbagai peperangan di wilayah ini.
Senjata-senjata hasil buatan rakyat Kalsel tersebut, ikut pula dipamerkan dalam pameran keliling tersebut, dan walau sudah kusam tetapi jelas terlihat dan masih lengkap.
Senjata buatan sendiri yang dipamerkan tersebut antara lain, tiga pucuk Senapan dumbum  milik M Majedi seorang pejuang asal Desa Limau Manis, Kabupaten Tabalong, yang digunakan zaman revolosi yang dikenal sebagai serangan umum  di Kota Tanjung.
Senjata lainnya,milik Anwar dari Desa Hawang, Kabupaten Hulu Sungai tengah yang digunakan zaman revolosi yang digunakan dalam pertempuran Hawang 1948, serta senapan dumdum milik seorang pejuang markas daerah X i8 Kabupaten Hulu sungai Selatan (HSS) yang pernah digunakan pada pertempuran garis  damarkasi di Kandangan 1949.
Kemudian senjara yang dipamerkan hasil buatan sendiri itu, adalah pistol dumdum milik seorang pejuang Sutra Ali yang pernah digunakan dalam perang garis damarkasi Kanangan, serta pistol dumdum milik markas daerah X 18 dari HSS.
Senjata api lain, senapan barujak milik seorang pejuang di Batakan Kabupaten Tanah Laut, granat mlik seorang pejuang Atak Ibrahim Desa Cerbon Kabupaten Barito Kuala, granat kuningan adalah jenis senjata yang diolah masyarakat Negara HSS digunakan masyarakat mengusir penjajah.
Senjata buatan sendiri yang lain dipamerkan adalah dua meriam pipa milik Maslan Ijab dari daerah Batu Benawa Pagat HST, dan milik Muhayan juga dari daerah yang sama yang jug digunakan mengusir penjajah pada garis damarkasi Karang Jawa Kandangan.
Sepucuk lagi senjata api meriam lila, yakni milik seorang pejuang HSS digunakan pada garis damarkasi Kandangan HSS pula, tambah  Sjarifuddin.
Dalam masa perjuangan rakyat Kalsel itu juga rakyat setempat membuat beraneka macam senjata tradisional, seperti parang, parang pacat gantung, parang dayang, parang bungkul, pisau belati, ambang, mandau, tombak, tombak sumpitan, tombak TKR, damak yang merupakan anak sumpitan, keris, belitung, padang, cabang, kapak siam, bayonet, taji ayam, dan tongkat senjata, badik.

UPACARA TRADISIONALYANG BERKAITAN DENGAN PERISTIWA ALAM DAN KEPERCAYAAN

Upacara tradisional merupakan kegiatan sosial yang melibatkan para warga masyarakat dalam usaha kerjasama untuk mencapai tujuan keselamatan bersama.  Kerjasama antar warga masyarakat itu sesuai dengan kodrat manusia sebagai makhluk sosial.
Didalam upacara tradisional penuh dengan simbol  atau lambang yang berperan sebagai alat komunikasi antar sesama manusia, dan juga menjadi penghubungdengan dunia gaib.  Bagi gaib itu menjadi tampak nyata dalam pemahamannya melalui simbol-simbol.  Sebagai alat komunikasi, maka dengan simbol-simbol itu pesan-pesan, ajaran agama, nilai-nilai etis dan norma-norma yang berlaku dalam masyarakat dapat disampaikan kepada semua warga.
Manusia dalam hidupnya selalu berusaha menyelamatkan diri atau membebaskan dari segala bentuk ancaman.  Untuk itulah manusia baik secara perorangan maupun kelompok berusaha perlindungan diri dengan cara melakukan hubungan dengan alam super-natural (gaib).  Oleh karena itu sesuai dengan pemahaman budaya warga masyarakat setempat diadakan suatu upacara yang berhubungan dengan peristiwa alam dan kepercayaan.  Dengan melakukan upacara itu diharapkan kehidupan sehari-hari tidak terancam.
Upacara ini dapat dilaksanakan perorangan (keluarga) dan bisa pula secara berkelompok.  Penyelenggaraan upacara ini merupakan ungkapan rasa syukur dan terima kasih tehadap kekuatan yang dianggap maha tinggi.  Selain itu upacara yang berhubungan dengan peristiwa alam dan kepercayaan diadakan untuk memohon keselamatan atau kesejahteraan berkenaan dengan rasa takut dan tunduk, serta timbul rasa kagum terhadap kekuatan supernaturalyang diyakini.
Upacara religi di daerah Kalimantan Selatan terlihat pada dua jenis kegiatan yaitu aruh dan selamatan.  Aruh diadakan sebagai upacara yang wajib dan mengikat secara turun-temurun, sedang selamatan diadakan sesuai dengan keperluan.  Tujuan aruh mengumpulkan masyarakat untuk meleksanakan upacara-upacara tertentu dengan aspek-aspek religi dan hiburan bisa terkandung di dalamnya.
Tekanan aruh terdapat pada usaha pengumpulan orang banyak yang punya kepentingan bersama untuk mengadakan gawi.  Sedangkan selamatan timbulnya setelah masuk pengaruh Islam, dan dapat dilakukan dengan kehadiran tiga atau empat orang saja.  Dengan demikian tekanan selamatan pada pembacaan doa selamat yang dipanjatkan kepada Tuhan YME agar dikaruniai keselamatan atau kesejahteraan hidup.

Asal Usul Suku Banjar
Suku bangsa Banjar diduga berintikan penduduk asal Sumatera atau daerah sekitarnya, yang membangun tanah air baru di kawasan ini sekitar lebih dari seribu tahun yang lalu. Setelah berlalu masa yang lama sekali akhirnya,-setelah bercampur dengan penduduk yang lebih asli, yang biasa dinamakan sebagai suku Dayak, dan dengan imigran-imigran yang berdatangan belakangan-terbentuklah setidak-tidaknya tiga subsuku, yaitu (Banjar) Pahuluan, (Banjar) Batang Banyu, dan Banjar (Kuala).

Orang Pahuluan pada asasnya ialah penduduk daerah lembah-lembah sungai (cabang sungai Negara) yang berhulu ke pegunungan Meratus, orang Batang Banyu mendiami lembah sungai Negara, sedangkan orang Banjar (Kuala) mendiami sekitar Banjarmasin (dan Martapura).

Bahasa yang mereka kembangkan dinamakan bahasa Banjar, yang pada asasnya adalah bahasa Melayu-sama halnya ketika berada di daerah asalnya di Sumatera atau sekitarnya-, yang di dalamnya terdapat banyak kosa kata asal Dayak dan asal Jawa.

Nama Banjar diperoleh karena mereka dahulu-sebelum dihapuskan pada tahun 1860-, adalah warga Kesultanan Banjarmasin atau disingkat Banjar, sesuai dengan nama ibukotanya pada mula berdirinya. Ketika ibukota dipindahkan ke arah pedalaman, terakhir di Martapura, nama tersebut nampaknya sudah baku atau tidak berubah lagi.

Banjar Pahuluan

Sangat mungkin sekali pemeluk Islam sudah ada sebelumnya di sekitar keraton yang dibangun di Banjarmasin, tetapi pengislaman secara massal diduga terjadi setelah raja, Pangeran Samudera yang kemudian dilantik menjadi Sultan Suriansyah, memeluk Islam diikuti warga kerabatnya, yaitu bubuhan raja-raja. Perilaku raja ini diikuti elit ibukota, masing-masing tentu menjumpai penduduk yang lebih asli, yaitu suku Dayak Bukit, yang dahulu diperkirakan mendiami lembah-lembah sungai yang sama. Dengan memperhatikan bahasa yang dikembangkannya, suku Dayak Bukit adalah satu asal usul dengan cikal bakal suku Banjar, yaitu sama-sama berasal dari Sumatera atau sekitarnya, tetapi mereka lebih dahulu menetap. Kedua kelompok masyarakat Melayu ini memang hidup bertetangga tetapi, setidak-tidaknya pada masa permulaan, pada asasnya tidak berbaur.

Jadi meskipun kelompok suku Banjar (Pahuluan) membangun pemukiman di suatu tempat, yang mungkin tidak terlalu jauh letaknya dari balai suku Dayak Bukit, namun masing-masing merupakan kelompok yang berdiri sendiri. Untuk kepentingan keamanan, dan atau karena memang ada ikatan kekerabatan, cikal bakal suku Banjar membentuk komplek pemukiman tersendiri.

Komplek pemukiman cikal bakal suku Banjar (Pahuluan) yang pertama ini merupakan komplek pemukiman bubuhan, yang pada mulanya terdiri dari seorang tokoh yang berwibawa sebagai kepalanya, dan warga kerabatnya, dan mungkin ditambah dengan keluarga-keluarga lain yang bergabung dengannya.

Model yang sama atau hampir sama juga terdapat pada masyarakat balai di kalangan masyarakat Dayak Bukit, yang pada asasnya masih berlaku sampai sekarang. Daerah lembah sungai-sungai yang berhulu di Pegunungan Meratus ini nampaknya wilayah pemukiman pertama masyarakat Banjar, dan di daerah inilah konsentrasi penduduk yang banyak sejak jaman kuno, dan daerah inilah yang dinamakan Pahuluan. Apa yang dikemukakan di atas menggambarkan terbentuknya masyarakat (Banjar) Pahuluan, yang tentu saja dengan kemungkinan adanya unsur Dayak Bukit ikut membentuknya

Banjar Batang Banyu

Masyarakat (Banjar) Batang Banyu terbetuk diduga erat sekali berkaitan dengan terbentuknya pusat kekuasaan yang meliputi seluruh wilayah Banjar, yang barangkali terbentuk mula pertama di hulu sungai Negara atau cabangnya yaitu sungai Tabalong. Selaku warga yang berdiam di ibukota tentu merupakan kebanggaan tersendiri, sehingga menjadi kelompok penduduk yang terpisah.

Daerah tepi sungai Tabalong adalah merupakan tempat tinggal tradisional dari suku Dayak Maanyan (dan Lawangan), sehingga diduga banyak yang ikut serta membentuk subsuku Batang Banyu, di samping tentu saja orang-orang asal Pahuluan yang pindah ke sana dan para pendatang yang datang dari luar.

Bila di Pahuluan umumnya orang hidup dari bertani (subsistens), maka banyak di antara penduduk Batang Banyu yang bermata pencarian sebagai pedagang dan pengrajin.

Banjar Kuala

Ketika pusat kerajaan dipindahkan ke Banjarmasin (terbentuknya Kesultanan Banjarmasin), sebagian warga Batang Banyu (dibawa) pindah ke pusat kekuasaan yang baru ini dan, bersama-sama dengan penduduk sekitar keraton yang sudah ada sebelumnya, membentuk subsuku Banjar.

Di kawasan ini mereka berjumpa dengan suku Dayak Ngaju , yang seperti halnya dengan dengan masyarakat Dayak Bukit dan masyarakat Dayak Maanyan atau Lawangan , banyak di antara mereka yang akhirnya melebur ke dalam masyarakat Banjar, setelah mereka memeluk agama Islam.

Mereka yang bertempat tinggal di sekitar ibukota kesultanan inilah sebenarnya yang dinamakan atau menamakan dirinya orang Banjar, sedangkan masyarakat Pahuluan dan masyarakat Batang Banyu biasa menyebut dirinya sebagai orang (asal dari) kota-kota kuno yang terkemuka dahulu. Tetapi bila berada di luar Tanah Banjar, mereka itu tanpa kecuali mengaku sebagai orang Banjar.

(Alfani Daud, Islam dan Asal Usul Masyarakat Banjar)
Inti Suku Banjar

Menurut Alfani Daud (Islam dan Masyarakat Banjar, 1997), inti suku Banjar adalah para pendatang Melayu dari Sumatera dan sekitarnya, sedangkan menurut Idwar Saleh justru penduduk asli suku Dayak (yang kemudian bercampur membentuk kesatuan politik sebagaimana Bangsa Indonesia dilengkapi dengan bahasa Indonesia-nya).

Menurut Idwar Saleh (Sekilas Mengenai Daerah Banjar dan Kebudayaan Sungainya Sampai Akhir Abad ke-19, 1986): ” Demikian kita dapatkan keraton keempat adalah lanjutan dari kerajaan Daha dalam bentuk kerajaan Banjar Islam dan berpadunya suku Ngaju, Maanyan dan Bukit sebagai inti. Inilah penduduk Banjarmasih ketika tahun 1526 didirikan. Dalam amalgamasi (campuran) baru ini telah bercampur unsur Melayu, Jawa, Ngaju, Maanyan, Bukit dan suku kecil lainnya diikat oleh agama Islam, berbahasa Banjar dan adat istiadat Banjar oleh difusi kebudayaan yang ada dalam keraton….Di sini kita dapatkan bukan suku Banjar, karena kesatuan etnik itu tidak ada, yang ada adalah group atau kelompok besar yaitu kelompok Banjar Kuala, kelompok Banjar Batang Banyu dan Banjar Pahuluan. Yang pertama tinggal di daerah Banjar Kuala sampai dengan daerah Martapura. Yang kedua tinggal di sepanjang sungai Tabalong dari muaranya di sungai Barito sampai dengan Kelua. Yang ketiga tinggal di kaki pegunungan Meratus dari Tanjung sampai Pelaihari. Kelompok Banjar Kuala berasal dari kesatuan-etnik Ngaju, kelompok Banjar Batang Banyu berasal dari kesatuan-etnik Maanyan, kelompok Banjar Pahuluan berasal dari kesatuan-etnik Bukit. Ketiga ini adalah intinya. Mereka menganggap lebih beradab dan menjadi kriteria dengan yang bukan Banjar, yaitu golongan Kaharingan, dengan ejekan orang Dusun, orang Biaju, Bukit dan sebagainya”.

Selanjutnya menurut Idwar Saleh (makalah Perang Banjar 1859-1865, 1991): “Ketika Pangeran Samudera mendirikan kerajaan Banjar ia dibantu oleh orang Ngaju, dibantu patih-patihnya seperti patih Balandean, Patih Belitung, Patih Kuwin dan sebagainya serta orang Bakumpai yang dikalahkan. Demikian pula penduduk Daha yang dikalahkan sebagian besar orang Bukit dan Manyan. Kelompok ini diberi agama baru yaitu agama Islam, kemudian mengangkat sumpah setia kepada raja, dan sebagai tanda setia memakai bahasa ibu baru dan meninggalkan bahasa ibu lama. Jadi orang Banjar itu bukan kesatuan etnis tetapi kesatuan politik, seperti bangsa Indonesia.

Penyebaran Suku Bangsa Banjar
Ulama Banjar
Populasi Suku Bangsa Banjar
Bubuhan
Persaudaraan Suku Banjar dengan Suku Dayak
Seni Tradisional Banjar
Kerajaan Banjar
Organisasi suku Banjar
Penyebaran Suku Bangsa Banjar

Keadaan geomorfologis Nusantara tempo dulu sangat berbeda, dimana telah terjadi pendangkalan lautan menjadi daratan. Hal tersebut mempengaruhi penyebaran suku-suku bangsa di Kalimantan. Pada jaman purba pulau Kalimantan bagian selatan dan tengah merupakan sebuah teluk raksasa. Kalimantan Selatan merupakan sebuah tanjung, sehingga disebut pulau Hujung Tanah dalam Hikayat Banjar dan disebut Tanjung Negara dalam kitab Negarakertagama. Seperti dalam gambaran Kitab Negarakertagama, sungai Barito dan sungai Tabalong pada jaman itu masih merupakan dua sungai yang terpisah yang bermuara ke teluk tersebut. Ketika orang Melayu generasi pertama yang menjadi nenek moyang suku bangsa Banjar bermigrasi ke daerah ini mereka mendarat di sebelah timur teluk tersebut, diduga di sekitar kota Tanjung, di Tabalong yang di masa tersebut terletak di tepi pantai, mereka bertetangga dengan suku Dayak Maanyan.

Suku Dayak Maanyan bermigrasi datang dari arah timur Kalimantan Tengah dekat pegunungan Meratus dan karena tempat tinggalnya dekat laut, suku Maanyan telah melakukan pelayaran hingga ke Madagaskar. Setelah berabad-abad sekarang wilayah suku Maanyan di Barito Timur sangat jauh dari laut karena adanya pendangkalan.

Sementara suku Dayak Ngaju yang bermigrasi dari datang arah barat Kalimantan Tengah, merupakan keturunan dari suku Dayak Ot Danum yang tinggal dari sebelah hulu sungai-sungai besar di wilayah tersebut. Sedangkan suku Dayak Bakumpai di wilayah Barito merupakan keturunan cabang dari suku Dayak Ngaju yang akhirnya memeluk agama Islam dan merupakan komunitas suku bangsa tersendiri.

Suku Banjar yang bertempat tinggal di daerah atas di kaki pegunungan Meratus dari kota Tanjung sampai Pelaihari merupakan kelompok Pahuluan. Kelompok Pahuluan bermigrasi ke arah hilir menuju dataran rendah berawa-rawa di tepi sungai Negara (Batang Banyu) yang telah mengalami pendangkalan. Di wilayah tersebut terbentuk kerajaan-kerajaan yang dipengaruhi agama Hindu dan Majapahit dibuktikan dengan adanya peninggalan bekas-bekas candi di Amuntai dan Margasari.

Dari wilayah Batang Banyu yaitu daerah tepian sungai Negara dari Kelua hingga muaranya di sungai Barito, suku Banjar bergerak ke hilir membentuk pusat kerajaan baru dekat muara sungai Barito yaitu kesultanan Banjarmasin, sehingga terbentuklah kelompok Banjar Kuala yang merupakan amalgamasi dari unsur-unsur Melayu, Jawa, Bukit, Maanyan, Ngaju dan suku-suku kecil lainnya. Dari wilayah Kalimantan Selatan, suku Banjar bermigrasi ke wilayah lainnya di Kalimantan.

Migrasi suku Banjar (Batang Banyu) ke Kalimantan Timur terjadi tahun 1565 yaitu orang-orang Amuntai yang dipimpin Aria Manau dari Kerajaan Kuripan (Hindu) yang merupakan cikal bakal berdirinya Kerajaan Sadurangas ( Pasir Balengkong) di daerah Pasir, selanjutnya suku Banjar juga tersebar di daerah lainnya di Kalimantan Timur.

Sedangkan migrasi suku Banjar (Banjar Kuala) ke Kalimantan Tengah terutama terjadi pada masa pemerintahan Sultan Banjar IV yaitu Raja Maruhum atau Sultan Mustainbillah (1650-1672), yang telah mengijinkan berdirinya Kerajaan Kotawaringin dengan rajanya yang pertama Pangeran Adipati Antakusuma.

Sedangkan migrasi suku Banjar ke wilayah Barito, Kalimantan Tengah terutama pada masa perjuangan Pangeran Antasari melawan Belanda sekitar tahun 1860-an. Suku-suku Dayak di wilayah Barito mengangkat Pangeran Antasari (Gusti Inu Kartapati) sebagai raja dengan gelar Panembahan Amiruddin berkedudukan di Puruk Cahu (Murung Raya), setelah mangkat beliau dilanjutkan oleh putranya yang bergelar Sultan Muhammad Seman.

Suku Banjar terbagi 3 kelompok berdasarkan teritorialnya dan unsur pembentuk suku :

Banjar Pahuluan adalah campuran Melayu dan Bukit (Bukit sebagai ciri kelompok)
Banjar Batangbanyu adalah campuran Melayu, Maanyan, Lawangan, Bukit dan Jawa (Maanyan sebagai ciri kelompok)
Banjar Kuala adalah campuran Melayu, Ngaju, Barangas, Bakumpai, Maanyan, Lawangan, Bukit dan Jawa (Ngaju sebagai ciri kelompok)
Dengan mengambil pendapat Idwar Saleh tentang inti suku Banjar, maka percampuran suku Banjar dengan suku Dayak Ngaju/suku serumpunnya yang berada di sebelah barat Banjarmasin (Kalimantan Tengah) dapat kita asumsikan sebagai kelompok Banjar Kuala juga. Di sebelah utara Kalimantan Selatan terjadi percampuran suku Banjar dengan suku Maanyan/suku serumpunnya seperti Dusun, Lawangan dan suku Pasir di Kalimantan Timur yang juga berbahasa Lawangan, dapat kita asumsikan sebagai kelompok Banjar Batang Banyu. Percampuran suku Banjar di tenggara Kalimantan yang banyak terdapat suku Bukit kita asumsikan sebagai Banjar Pahuluan.

Migrasi suku Banjar ke Sumatera khususnya ke Tembilahan, Indragiri Hilir sekitar tahun 1885 di masa pemerintahan Sultan Isa, raja Indragiri sebelum raja yang terakhir. Tokoh etnis Banjar yang terkenal dari daerah ini adalah Syekh Abdurrahman Siddiq Al Banjari (Tuan Guru Sapat) yang berasal dari Martapura yang menjabat sebagai Mufti Kerajaan Indragiri.

Dalam masa-masa tersebut, suku Banjar juga bermigrasi ke Malaysia antara lain ke negeri Kedah, Perak( Kerian, Sungai Manik, Bagan Datoh), Selangor(Sabak Bernam, Tanjung Karang), Johor(Batu Pahat) dan juga negeri Sabah(Sandakan, Tenom, Keningau, Tawau) yang disebut Banjar Melau. Tokoh etnis Banjar yang terkenal dari Malaysia adalah Syekh Husein Kedah Al Banjari, mufti Kerajaan Kedah. Salah satu etnis tokoh Banjar dari Malaysia yang terkenal saat ini adalah Dato Seri (DR) Harussani bin Haji Zakaria yang menjadi Mufti Kerajaan Negeri Perak. Daerah (setingkat kabupaten) yang paling banyak terdapat etnis Banjar di Malaysia adalah Daerah Kerian di Negeri Perak Darul Ridzuan
Populasi Suku Bangsa Banjar

Populasi suku Banjar diperkirakan sebagai berikut :

2.271.586 di Propinsi Kalimantan Selatan (BPS – sensus th. 2000)
500.000 di Propinsi Kalimantan Timur
500.000 di Propinsi Kalimantan Tengah
50.000 di Propinsi Kalimantan Barat
300.000 di pulau Sumatera
519.000 di negara Malaysia (situs Joshua Project)
Menurut situs “Joshua Project” jumlah suku Banjar adalah

3.040.000 di Indonesia
519.000 di Malaysia
Berdasarkan sensus penduduk tahun 2000 oleh Badan Pusat Statistik (BPS), populasi suku Banjar di Kalimantan Selatan berjumlah 2.271.586 jiwa, yang terdistribusi pada beberapa kabupaten dan kota, yaitu :

142.731 jiwa di kabupaten Tanah Laut
154.399 jiwa di kabupaten Kota Baru (termasuk kab. Tanah Bumbu)
361.692 jiwa di kabupaten Banjar
184.180 jiwa di kabupaten Barito Kuala
417.309 jiwa di kota Banjarmasin
75.537 jiwa di kota Banjarbaru
Orang Banjar Hulu Sungai yang bertutur Bahasa Banjar Hulu terdapat pada 6 kabupaten (Banua Enam) yaitu :

114.265 jiwa di kabupaten Tapin
188.672 jiwa di kabupaten Hulu Sungai Selatan
213.725 jiwa di kabupaten Hulu Sungai Tengah
277.729 jiwa di kabupaten Hulu Sungai Utara (termasuk kab. Balangan)
141.347 jiwa di kabupaten Tabalong
Suku Banjar di Kalimantan Timur

Suku Banjar (Banjar Samarinda) di Kalimantan Timur sering disebut juga suku Melayu, merupakan 20 % dari populasi penduduk. Suku Banjar terdapat seluruh kabupaten dan kota di Kaltim. Beberapa kecamatan yang terdapat banyak suku Banjarnya misalnya Kecamatan Kenohan dan Jempang di Kutai Kartanegara; Kecamatan Samarinda Ulu dan Samarinda Ilir di kota Samarinda.

Migrasi suku Banjar (Batang Banyu) ke Kalimantan Timur terjadi tahun 1565 yaitu orang-orang Amuntai yang dipimpin Aria Manau dari Kerajaan Kuripan (Hindu) yang merupakan cikal bakal berdirinya Kerajaan Sadurangas ( Pasir Balengkong) di daerah Pasir, selanjutnya suku Banjar juga tersebar di daerah lainnya di Kalimantan Timur.

Suku Banjar di Kalimantan Tengah

Suku Banjar di Kalimantan Tengah sering pula disebut Banjar Melayu Pantai atau Banjar Dayak maksudnya suku Banjar yang terdapat di daerah Dayak Besar yaitu nama lama Kalimantan Tengah. Suku Banjar merupakan 25 % dari populasi penduduk dan sebagai suku terbanyak di Kalteng dibanding suku Dayak Ngaju, suku Dayak Bakumpai, Dayak Sampit dan lain-lain. Sedangkan migrasi suku Banjar (Banjar Kuala) ke Kalimantan Tengah terutama terjadi pada masa pemerintahan Sultan Banjar IV yaitu Raja Maruhum atau Sultan Mustainbillah (1650-1672), yang telah mengijinkan berdirinya Kerajaan Kotawaringin dengan rajanya yang pertama Pangeran Adipati Antakusuma.

Suku Banjar di Sumatera dan Malaysia

Suku Banjar yang tinggal di Sumatera dan Malaysia merupakan anak, cucu, intah, piat dari para imigran etnis Banjar yang datang dalam tiga gelombang migrasi besar. Pertama, pada tahun 1780 terjadi migrasi besar-besaran ke pulau Sumatera. Etnis Banjar yang menjadi emigran ketika itu adalah para pendukung Pangeran Amir yang menderita kekalahan dalam perang saudara antara sesama bangsawan Kerajaan Banjar, yakni Pangeran Tahmidullah. Mereka harus melarikan diri dari wilayah Kerajaan Banjar karena sebagai musuh politik mereka sudah dijatuhi hukuman mati. Kedua, pada tahun 1862 terjadi lagi migrasi besar-besaran ke pulau Sumatera. Etnis Banjar yang menjadi imigrannya kali adalah para pendukung Pangeran Antasari dalam kemelut Perang Banjar. Mereka harus melarikan diri dari pusat pemerintahan Kerajaan Banjar di kota Martapura karena posisi mereka terdesak sedemikian rupa. Pasukan Residen Belanda yang menjadi musuh mereka dalam Perang Banjar yang sudah menguasai kota-kota besar di wilayah Kerajaan Banjar. Ketiga, pada tahun 1905 etnis Banjar kembali melakukan migrasi besar-besaran ke pulau Sumatera. Kali ini mereka terpaksa melakukannya karena Sultan Muhammad Seman yang menjadi Raja di Kerajaan Banjar ketika itu mati syahid di tangan Belanda.
Bubuhan

Bubuhan adalah unit kesatuan famili atau kekerabatan biasanya sampai derajat sepupu dua atau tiga kali, bersama-sama para suami atau kadang-kadang dengan para isteri mereka. Anggota bubuhan tinggal di rumah masing-masing, (dahulu) dalam suatu lingkungan yang nyata batas-batasnya. Diantara anggota bubuhan ini terdapat seseorang yang menonjol sehingga dianggap sebagai pemimpin bubuhan yang disebut tatuha bubuhan. Pemukiman terbentuk dari satu atau beberapa bubuhan.

Pengislaman bubuhan

Suku bangsa Melayu yang menjadi inti masyarakat Banjar memasuki daerah ini ketika dataran dan rawa-rawa yang luas  yang kini membentuk bagian besar Provinsi Kalimantan Selatan dan Kalimantan Tengah masih merupakan teluk raksasa yang jauh menjorok ke pedalaman.

Suku bangsa Melayu ini, dengan melalui laut Jawa-memasuki teluk raksasa tersebut, lalu memudiki sungai-sungai yang bermuara ke sana, belakangan menjadi cabang-cabang sungai Negara, yang semuanya berhulu di kaki Pegunungan Meratus. Mereka disertai kelompok bubuhan-nya, dan oleh elit daerah, juga diikuti warga bubuhannya, dan demikianlah seterusnya sampai bubuhan rakyat jelata di tingkat bawah.

Dengan masuk Islam-nya para bubuhan, kelompok demi kelompok, maka dalam waktu relatif singkat Islam akhirnya telah menjadi identitas orang Banjar dan merupakan cirinya yang pokok, meskipun pada mulanya ketaatan menjalankan ajaran Islam tidak merata.

Dapat dikatakan bahwa pada tahapan permulaan berkembangnya Islam tersebut, kebudayaan Banjar telah memberi bingkai dan Islam telah terintegrasikan ke dalamnya; dengan masuk Islamnya bubuhan secara berkelompok, kepercayaan Islam diterima sebagai bagian dari kepercayaan bubuhan.

Menurut Alfani Daud (1997 : 50),pada dasarnya masyarakat Banjar merupakan penganut Islam yang taat, walaupun terdapat pengaruh kepercayaan lama. Corak keislaman orang Banjar mencakup konsepsi-konsepsi dari imigran-imigran Melayu yang menjadi nenek moyang orang Banjar, dari sisa-sisa kepercayaan Hindu, dan sisa-sisa kepercayaan Dayak yang ikut membentuk suku bangsa Banjar.

Pemerintahan bubuhan tempo dulu

Kenyataan bahwa bubuhan memeluk Islam secara berkelompok telah memberikan warna pada keislaman masyarakat kawasan ini, yaitu pada asasnya diintegrasikannya kepercayaan Islam ke dalam kepercayaan bubuhan, yaitu kepercayaan yang dianut oleh warga bubuhan yang sama terjadi pada masyarakat Dayak Bukit sampai setidak-tidaknya belum lama berselang.

Kelompok bubuhan dipimpin oleh warganya yang berwibawa. Sama halnya dengan masyarakat balai saat ini, kepala bubuhan yang pada masa kesultanan sering disebut sebagai asli, berfungsi sebagai tokoh yang berwibawa, sebagai tabib, sebagai kepala pemerintahan dan mewakili bubuhan bila berhubungan dengan pihak luar, sama halnya seperti kepala balai yang biasanya seorang balian, bagi masyarakat Dayak Bukit sampai belum lama ini.

Ketika terbentuk pusat kekuasaan, kelompok masyarakat bubuhan diintegrasikan ke dalam ke dalamnya; kewibawaan kepala bubuhan terhadap warganya diakui. Biasanya sebuah kelompok bubuhan membentuk sebuah anak kampung, gabungan beberapa masyarakat bubuhan membentuk sebuah kampung, dan salah satu kepala bubuhan yang paling berwibawa diakui sebagai kepala kampung itu.

Untuk mengkoordinasikan beberapa buah kampung ditetapkan seorang lurah, suatu jabatan Kesultanan di daerah yang dahulu disebut banua, yaitu biasanya seorang kepala bubuhan yang berwibawa pula.

Beberapa lurah dikoordinasikan oleh seorang lalawangan, suatu jabatan yang mungkin dapat disamakan dengan jabatan bupati di Jawa pada kurun yang sama. Dengan sendirinya seorang yang menduduki jabatan yang formal sebagai mantri atau penghulu merupakan tokoh pula dalam lingkungan bubuhannya.

Dengan demikian dapat dinyatakan bahwa sistem pemerintahan pada masa kesultanan, dan mungkin regim-regim sebelumnya, diatur secara hirarkis sebagai pemerintahan bubuhan. Di tingkat pusat yang berkuasa ialah bubuhan raja-raja, yang terdiri dari sultan dan kerabatnya ditambah pembesar-pembesarkerajaan (baca:mantri-mantri).

Pada tingkat daerah memerintah tokoh-tokoh bubuhan, mulai dari lurah-lurah, yang dikoordinasikan oleh seorang lalawangan; berikutnya ialah kepala-kepala kampung, yang adalah seorang tokoh bubuhan, semuanya yang paling berwibawa di dalam lingkungannya, dan membawahi beberapa kelompok rakyat jelata pada tingkat paling bawah. Peranan bubuhan ini sangat dominan pada zaman sultan-sultan. dan masih sangat kuat pada permulaan pemerintahan Hindia Belanda. Belakangan memang dilakukan perombakan-perombakan; jabatan kepala pemerintahan di desa (kampung) tidak lagi melalui keturunan, melainkan melalui pendidikan.
Persaudaraan Suku Banjar dengan Suku Dayak

Hubungan Persaudaraan Suku Banjar dan Suku-suku DayakSejak jaman dahulu telah terjadi hubungan persaudaraan dan ikatan kekeluargaan serta toleransi yang tinggi antara suku Banjar dan suku-suku Dayak.

Perkawinan Sultan Banjar dengan Puteri-puteri Dayak

Dari tradisi lisan suku Dayak Ngaju dapat diketahui, isteri Raja Banjar pertama yang bernama Biang Lawai beretnis Dayak Ngaju. Sedangkan isteri kedua Raja Banjar pertama yang bernama Noorhayati, menurut tradisi lisan Suku Dayak Maanyan, berasal dari etnis mereka. Jadi perempuan Dayaklah yang menurunkan raja-raja Banjar yang pernah ada. Dalam Hikayat Banjar menyebutkan salah satu isteri Raja Banjar ketiga Sultan Hidayatullah juga puteri Dayak, yaitu puteri Khatib Banun, seorang tokoh Dayak Ngaju. Dari rahim putri ini lahir Marhum Panembahan yang kemudian naik tahta dengan gelar Sultan Mustainbillah. Putri Dayak berikutnya adalah isteri Raja Banjar kelima Sultan Inayatullah, yang melahirkan Raja Banjar ketujuh Sultan Agung. Dan Sultan Tamjidillah (putera Sultan Muda Abdurrahman bin Sultan Adam) juga lahir dari seorang putri Dayak berdarah campuran Cina yaitu Nyai Dawang.

Sultan Muhammad Seman

Salah satu sayap militer Pangeran Antasari yang terkenal tangguh dan setia, adalah kelompok Suku Dayak Siang Murung dengan kepala sukunya Tumenggung Surapati. Hubungan kekerabatan sang pangeran melalui perkawinannya dengan Nyai Fatimah yang tak lain adalah saudara perempuan kepala suku mereka, Surapati. Dari puteri Dayak ini lahir Sultan Muhammad Seman yang kelak meneruskan perjuangan ayahnya sampai gugur oleh peluru Belanda tahun 1905. Dalam masa perjuangan tersebut, Muhammad Seman juga mengawini dua puteri Dayak dari Suku Dayak Ot Danum. Puteranya, Gusti Berakit, ketika tahun 1906 juga mengawini putri kepala suku Dayak yang tinggal di tepi sungai Tabalong. Sebagai wujud toleransi yang tinggi, ketika mertuanya meninggal, Sultan Muhammad Seman memprakarsai diselenggarakannya tiwah, yaitu upacara pemakaman secara adat Dayak (Kaharingan).

Puteri Mayang Sari

Putri Mayang Sari yang berkuasa di Jaar-Singarasi, kabupaten Barito Timur adalah puteri dari Raja Banjar Islam yang pertama (Sultan Suriansyah) dari isteri keduanya Norhayati yang berdarah Dayak, cucu Labai Lamiah tokoh Islam Dayak Maanyan. Walau Mayang Sari beragama Islam, dalam memimpin sangat kental dengan adat Dayak, senang turun lapangan mengunjungi perkampungan Dayak dan sangat memperhatikan keadilmakmuran masyarakat Dayak di masanya. Itu sebabnya ia sangat dihormati dan makamnya diabadikan dalam Rumah Adat Banjar di Jaar, kabupaten Barito Timur.(Marko Mahin, 2005)

Perang Banjar

Eratnya persahabatan Banjar-Dayak, juga karena kedua suku ini terlibat persekutuan erat melawan Belanda dalam Perang Banjar. Setelah terdesak di Banjarmasin dan Martapura, Pangeran Antasari beserta pengikut dan keturunannya mengalihkan perlawanan ke daerah Hulu Sungai dan sepanjang sungai Barito sampai ke hulu Barito, dimana terdapat beragam etnis Dayak terlibat di dalamnya. Perang antara koalisi etnis Banjar bersama etnis Dayak di satu pihak versus Belanda dan antek-anteknya di pihak lain, sebagaimana watak peperangan pada umumnya, jauh lebih banyak duka daripada sukanya. Kedua suku serumpun ini sudah merasa bersaudara senasib sepenanggungan, dimana harta benda, jiwa raga, darah dan airmata sama-sama tumpah di tengah api perjuangan mengusir penjajah. Beberapa pahlawan perang Banjar dan perang Barito dari etnis Dayak :

Tumenggung Surapati, meninggal 1904 dimakamkan di Puruk Cahu, Murung Raya
Panglima Batur, dari suku Dayak Siang Murung dimakamkan di Komplek Makam Pangeran Antasari, Banjarmasin
Panglima Unggis, dimakamkan di desa Ketapang, Kecamatan Gunung Timang, Barito Utara
Panglima Sogo, yang turut menenggelamkan kapal Onrust milik Belanda 26 Desember 1859 di Lewu Lutung Tuwur, makamnya di desa Malawaken, Kecamatan Teweh Tengah, Barito Utara.
Panglima Batu Balot (Tumenggung Marha Lahew), panglima wanita yang pernah menyerang Fort Muara Teweh tahun 1864-1865, makamnya di desa Malawaken (Teluk Mayang), Kecamatan Teweh Tengah, Barito Utara.
Panglima Wangkang, dari suku Dayak Bakumpai di Marabahan, putera dari Damang Kendet dan ibunya wanita Banjar dari Amuntai
Perang Montallat tahun 1861 juga menyebabkan gugurnya dua putera Ratu Zaleha yang dimakamkan di desa Majangkan, kec. Gunung Timang.
Dammung Sayu

Dammung Sayu merupakan seorang pemimpin masyarakat suku Dayak Maanyan Paju Sapuluh yang telah berjasa dalam membantu salah seorang kerabat raja Banjar yang bersembunyi di wilayahnya dari pengejaran pihak Belanda. Karena itu akhirnya Belanda membumihanguskan perkampungan suku ini yang terletak di Desa Magantis, Tamiang Layang, Kabupaten Barito Timur. Pihak kerajaan Banjar yang berjuang melawan penjajah Belanda mengangkat Dammung Sayu sebagai panglima dengan gelar Tumenggung dan memberikan seperangkat payung kuning dan perlengkapan kerajaan.

Sangiang

Toleransi antara suku Banjar dan Dayak, juga dapat dilihat dari sastera suci suku Dayak Ngaju, Panaturan. Digambarkan disana, Raja Banjar (Raja Maruhum) beserta Putri Dayak yang menjadi isterinya Nyai Siti Diang Lawai adalah bagian leluhur orang Dayak Ngaju. Bahkan mereka juga diproyeksikan sebagai sangiang (manusia illahi) yang tinggal di Lewu Tambak Raja, salah satu tempat di Lewu Sangiang (Perkampungan para Dewa). Karena Sang Raja beragama Islam maka disana disebutkan juga ada masjid.(Marko Mahin, Urang Banjar, 2005)

Balai Hakey

Secara sosiologis-antropologis antara etnis Banjar dan Dayak diibaratkan sebagai dangsanak tuha dan dangsanak anum (saudara tua dan muda). Urang Banjar yang lebih dahulu menjadi muslim disusul sebagian etnis Dayak yang bahakey (berislam), saling merasa dan menyebut yang lain sebagai saudara. Mereka tetap memelihara toleransi hingga kini. Tiap ada upacara ijambe, tewah dan sejenisnya, komunitas Dayak selalu menyediakan Balai Hakey, tempat orang muslim dipersilakan menyembelih dan memasak makanannya sendiri yang dihalalkan menurut keyakinan Islam.

Intingan dan Dayuhan

Toleransi antara suku Banjar dengan suku Dayak Bukit di pegunungan Meratus di daerah Tapin di Kalimantan Selatan, juga dapat dilihat pada mitologi suku bangsa tersebut. Dalam pandangan mereka, Urang Banjar adalah keturunan dari Intingan, yaitu dangsanak anum (adik) dari leluhur mereka yang bernama Dayuhan. Meskipun kokoh dengan kepercayaan leluhur, suku Dayak Bukit selalu menziarahi Masjid Banua Halat yang menurut mitologi mereka dibangun oleh Intingan, ketika saudara leluhur mereka tersebut memeluk agama Islam.
Kerajaan Banjar

Kerajaan Banjar adalah kerajaan yang terdapat di Kalimantan Selatan.

Raja-raja Banjarmasin

Raja I adalah Sultan Suriansyah, dimakamkan di Komplek Makam Sultan Suriansyah
Raja II adalah Sultan Rahmatullah, dimakamkan di Komplek Makam Sultan Suriansyah
Raja III adalah Sultan Hidayatullah, dimakamkan di Komplek Makam Sultan Suriansyah
Raja IV adalah Sultan Mustainbillah, dimakamkan di Martapura
dan lain-lain

Komplek Makam Sultan Suriansyah

Makam Sultan Suriansyah.

Komplek Makam Sultan Suriansyah adalah sebuah kompleks pemakaman yang terletak di Kelurahan Kuin Utara, Kecamatan Banjarmasin Utara, Kota Banjarmasin.

Sultan Suriansyah

Sultan Suriansyah merupakan raja Kerajaan Banjar pertama yang memeluk agama Islam. Sewaktu kecil namanya adalah Raden Samudera, setelah diangkat menjadi raja namanya menjadi Pangeran Samudera dan setelah memeluk Islam namanya menjadi Sultan Suriansyah. Gelar lainnya adalah Panembahan atau Susuhunan Batu Habang.

Sejarah pemugaran Komplek Makam Sultan Suriansyah

Studi kelayakan dalam rangka pemugaran dilakukan oleh sebuah tim yang dipimpin Drs. Machi Suhadi dengan biaya dari Proyek Pemugaran dan Pemeliharaan Peninggalan Sejarah dan Purbakala Kalimantan Selatan 1982/1983.

Kegiatan Pemugaran

Pemugaran situs dimulai tahun 1984/1985. Sasaran pokonya ialah memugar makam-makam kuno dan pentrasiran pondasi batu bata,

Pemugaran makam kuno terurai atas kegiatan: memperkuat pagar bagian bawah dengan slof beton, membersihkan dan membetulkan letak nisan makam, memperkuat dan merapikan letak marmer makam, memperbaiki ukira-ukiran yang rusak dan mengembalikan cat makam seperti warna semula. Kegiatan pentrasiran menampakan adanya dua kelompok susunan batu bata/tanggul dengan warna yang berbeda. Kelompok tanggul dengan batu bata merah merupakan pengaman bagi kestabilan makam Sultan Suriansyah dan Ratu, makam Khatib Dayan, makam Patih Masih, makam Patih Kuin, Makam hulubaklang raja dan lain-lain. Kelompok tanggul ini terdapat pada bagian barat dengan ukuran 17 x 17 meter.

Kelompok tanggul dengan batu bata putih merupakan pengaman bagi kestabilan makam Sultan Rahmatullah dan Makam Sultan Hidayatullah. Kelompok tanggul ini terdapat di bagian timur dengan ukuran 17 x 17 meter. Pada bagian timur sisi selatan ditemukan susunan tanggul batu bata putih yang diberi hiasan/ukiran.

Pemugaran situs tahun 1985/1986 diarahkan pada kegiatan penyusunan kembali batu bata tanggul dan membangun cungkup yang baru menggantikan cungkup lama yang didirikan pada tahun 1985.

Tokoh-tokoh yang dimakamkan

Sultan Suriansyah

Sultan Suriansyah berasal dari keturunan raja-raja Kerajaan Negara Daha. Beliau merupakan Raja Banjar pertama yang memeluk Islam, dan sejak beliaulah agama Islam berkembang resmi dan pesat di Kalimantan Selatan. Untuk pelaksanaan dan penyiaran agama Islam beliau membangun sebuah masjid yang dikenal sebagai Masjid Sultan Suriansyah yang merupakan masjid tertua di Kalimantan SelatanJudul pranala. Menurut sarjana Belanda J.C. Noorlander bahwa berdasarkan nisan makam, maka umur kuburan dapat dihitung sejak lebih kurang tahun 1550, berarti Sultan Suriansyah meninggal pada tahun 1550, sehingga itu dianggap sebagai masa akhir pemerintahannya. Ia bergelar Susuhunan Batu Habang. Menurut M. Idwar Saleh bahwa masa pemerintahan Sultan Suriansyah berlangsung sekitar tahun 1526-1550. Sehubungan dengan hal ini juga dapat menetapkan bahwa hari jadi kota Banjarmasin jatuh pada tanggal 24 September 1526.

Ratu Intan Sari

Ratu Intan Sari atau Puteri Galuh adalah ibu kandung Sultan Suriansyah. Ketika itu Raden Samudera baru berumur 7 tahun dengan tiada diketahui ayahnya Raden Manteri Jaya menghilang, maka tinggallah Raden Samudera bersama ibunya. Pada masa itu Maharaja Sukarama, raja Negara Daha berwasiat agar Raden Samudera sebagai penggantinya ketika ia mangkat. Tatkala itu pula Raden Samudera menjadi terancam keselamatannya, berhubung kedua pamannya tidak mau menerima wasiat, yaitu Pangeran Mangkubumi dan Pangeran Tumenggung, karena kedua orang ini sebenarnya kemenakan Sukarama. Ratu Intan Sari khawatir, lalu Raden Samudera dilarikan ke Banjar Masih dan akhirnya dipelihara oleh Patih Masih dan Patih Kuin. Setelah sekitar 14 tahun kemudian mereka mengangkatnya menjadi raja (berdirinya kerajaan Banjar Masih/Banjarmasin). Ratu Intan Sari meninggal pada awal abad ke-16.

Sultan Rahmatullah

Sultan Rahmatullah putera Sultan Suriansyah, beliau raja Banjar ke-2 yang bergelar Susuhunan Batu Putih. Masa pemerintahannya tahun 1550-1570.

Makam Sultan Rahmatullah.Sultan Hidayatullah

Sultan Hidayatullah, raja Banjar ke-3, cucu Sultan Suriansyah. Beliau bergelar Susuhunan Batu Irang. Masa pemerintahannya tahun 1570-1595. Ia senang memperdalam syiar agama Islam. Pembangunan masjid dan langgar (surau) telah banyak didirikan dan berkembang pesat hingga ke pelosok perkampungan.

Khatib Dayan

Pada tahun 1521 datanglah seorang tokoh ulama besar dari Kerajaan Demak bernama Khatib Dayan ke Banjar Masih untuk mengislamkan Raden Samudera beserta sejumlah kerabat istana, sesuai dengan janji semasa pertentangan antara Kerajaan Negara Daha dengan Kerajaan Banjar Masih. Khatib Dayan merupakan keturunan Sunan Gunung Jati dari Cirebon, Jawa Barat. Beliau menyampaikan syiar-syiar Islam dengan kitab pegangan Surat Layang Kalimah Sada di dalam bahasa Jawa. Beliau seorang ulama dan pahlawan yang telah mengembangkan dan menyebarkan agama Islam di Kerajaan Banjar sampai akhir hayatnya.

Patih Kuin

Patih Kuin adalah adik kandung Patih Masih. Ia memimpin di daerah Kuin. Ketika itu ia telah menemukan Raden Samudera dan memeliharanya sebagai anak angkat. Pada masa beliau keadaan negerinya aman dan makmur serta hubungan dengan Jawa sangat akrab dan baik. Beliau meninggal pada awal abad ke-16.

Patih Masih

Patih Masih adalah seorang pemimpin orang-orang Melayu yang sangat bijaksana, berani dan sakti. Beliau memimpin di daerah Banjar Masih secara turun temurun. Beliau keturunan Patih Simbar Laut yang menjabat Sang Panimba Segara, salah satu anggota Manteri Ampat. Beliau meninggal sekitar awal abad ke-16.

Senopati Antakusuma

Senopati Antakusuma adalah cucu Sultan Suriansyah. Beliau seorang panglima perang di Kerajaan Banjar dan sangat pemberani yang diberi gelar Hulubalang Kerajaan. Beliau meninggal pada awal abad ke-16.

Syekh Abdul Malik

Syekh Abdul Malik atau Haji Batu merupakan seorang ulama besar di Kerajaan Banjar pada masa pemerintahan Sultan Rahmatullah. Beliau meninggal pada tahun 1640.

Haji Sa’anah

Wan Sa’anah berasal dari keturunan Kerajaan Brunei Darussalam. Beliau menikah dengan Datu Buna cucu Kiai Marta Sura, seorang menteri di Kerajaan Banjar. Semasa hidupnya Wan Sa’anah senang mengaji Al-Qur’an dan mengajarkan tentang keislaman seperti ilmu tauhid dan sebagainya. Beliau meninggal pada tahun 1825.

Pangeran Ahmad

Pangeran Ahmad merupakan seorang senopati Kerajaan Banjar di masa Sultan Rahmatullah, yang diberi tugas sebagai punggawa atau pengatur hulubalang jaga. Beliau sangat disayangi raja dan dipercaya. Beliau meninggal pada tahun 1630.

Pangeran Muhammad

Pangeran Muhammad adlah adik kandung Pangeran Ahmad, juga sebagai senopati Kearton di masa Sultan Hidayatullah I. Beliau meninggal pada tahun 1645.

Sayyid Ahmad Iderus

Sayyid Ahmad Iderus adalah seorang ulama dari Mekkah yang datang ke Kerajaan Banjar bersama-sama Haji Batu (Syekh Abdul Malik). Beliau menyampaikan syiar-syiar agama Islam dan berdakwah di tiap-tiap masjid dan langgar (surau). Beliau meninggal pada tahun 1681.

Gusti Muhammad Arsyad

Gusti Muhammad Arsyad putera dari Pangeran Muhammad Said. Ia meneruskan perjuangan kakeknya Pangeran Pangeran Antasari melawan penjajah Belanda. Beliau kena tipu Belanda, hingga diasingkan ke Cianjur beserta anak buahnya, setelah meletus perang dunia, ia dipulangkan ke Banjarmasin. Beliau meninggal pada thaun 1938.

Kiai Datu Bukasim

Kiai Datu Bukasim merupakan seorang menteri di Kerajaan Banjar. Ia keturunan Kiai Marta Sura, yang menjabat Sang Panimba Segara (salah satu jabatan menteri). Beliau meninggal pada tahun 1681.

Anak Cina Muslim

Pada permulaan abad ke-18, seorang Cina datang berdagang ke Banjarmasin. Ia berdiam di Kuin Cerucuk dan masuk Islam sebagai muallaf. Tatkala itu anaknya bermain-main di tepi sungai, hingga jatuh terbawa arus sampai ke Ujung Panti. Atas mufakat tetua di daerah Kuin, mayat anak itu dimakamkan di dalam komplek makam Sultan Suriansyah.
Organisasi suku Banjar

Definisi

Organsisasi suku Banjar merupakan organisasi, badan (pertubuhan), perkumpulan, yayasan, ikatan keluarga, paguyuban, kerukunan (kerakatan) maupun wadah tempat berhimpun keturunan suku Banjar dan wadah mengembangkan kebudayaan suku Banjar.

Organisasi Banjar/Kalimantan di Jakarta
Kerukunan Keluarga Kalimantan (K3), DKI Jakarta
Yayasan Kerakatan Perantau Banjar (YKPB) Jakarta Raya.
Kerukunan Warga Kalimantan Selatan (KWKS) Jabodetabek.
Masjid Sabilal Muhtadin, Jakarta Timur
(Jl. Pisangan Baru II, Kecamatan Jatinegara, Kotamadya Jakarta Timur) Merupakan masjid yang dibangun warga asal Martapura di Jakarta tahun 1980, Imam masjid : K.H. Maulana Kamal Yusuf, Sekretaris : Gusti Kaspul Usman.
Organisasi Banjar/Kalimantan di Jawa Barat

K3
Asrama Mahasiswa Kalsel Lambung Mangkurat
alamat : Bogor Baru Blok A VIII/3-4 RT 007 RW 009 Kelurahan Tegallega, Kecamatan Bogor Tengah, Kota Bogor 16114, telpon 0251 328861
Persatuan Mahasiswa Kalimantan Selatan (PMKS) konsulat Bogor dengan alamat Asrama Mahasiswa Kalsel Lambung Mangkurat
Organisasi Banjar/Kalimantan di Jawa Tengah

Ikatan Keluarga Banjar (IKB), Semarang, Prov. Jawa Tengah.
Ikatan Keluarga Kalimantan (IKK), Semarang, Prov. Jawa Tengah
Yayasan Darussalam, Solo, Jawa Tengah (wadah organisasi keturunan suku Banjar di Solo, Surakarta)
Persatuan Mahasiswa Kalimantan Selatan (PMKS) Konsulat Semarang
Asrama Mahasiswa Kalsel Brigjen H. Hasan Basry
Organisasi Banjar/Kalimantan di Yogyakarta

Kerukunan Keluarga Kalimantan (K3)
Persatuan Mahasiswa Kalimantan Selatan (PMKS) Konsulat Yogyakarta
Asrama Mahasiswa Kalsel Lambung Mangkurat
Himpunan Mahasiswa Sa-ijaan Kabupaten Kota Baru (HMSKK) Yogyakarta
Organisasi Banjar/Kalimantan di Jawa Timur

Kerukunan Keluarga Kalimantan (K3), Surabaya, Jawa Timur.
Organisasi Banjar/Kalimantan di Kalimantan Selatan

Lembaga Budaya Banjar, Banjarmasin
Organisasi Banjar/Kalimantan di Kalimantan Timur

Kerukunan Bubuhan Banjar (KBB), Samarinda, Kalimantan Timur
Gerakan Pemuda Asli Kalimantan (GEPAK), Balikpapan
Organisasi Banjar/Kalimantan di Kalimantan Tengah

Nanang Galuh Banjar (Naga Banjar), Palangkaraya, Kalimantan Tengah
Persatuan Keluarga Banjar (Perkaban) Kapuas, Kalimantan Tengah
Organisasi Banjar/Kalimantan di Kalimantan Barat

Kerukunan Keluarga Banjar (KKB)
Organisasi Banjar/Kalimantan di Riau

Kerukunan Keluarga Banjar (KKB),Indragiri Hilir,Riau
Organisasi Banjar di Malaysia

Pertubuhan Banjar Malaysia (PBM)

Suku Banjar di Kalimantan Timur

Suku Banjar (Banjar Samarinda) di Kalimantan Timur sering disebut juga suku Melayu, merupakan 20 % dari populasi penduduk. Suku Banjar terdapat seluruh kabupaten dan kota di Kaltim. Beberapa kecamatan yang terdapat banyak suku Banjarnya misalnya Kecamatan Kenohan dan Jempang di Kutai Kartanegara; Kecamatan Samarinda Ulu dan Samarinda Ilir di kota Samarinda.

Migrasi suku Banjar (Batang Banyu) ke Kalimantan Timur terjadi tahun 1565 yaitu orang-orang Amuntai yang dipimpin Aria Manau dari Kerajaan Kuripan (Hindu) yang merupakan cikal bakal berdirinya Kerajaan Sadurangas ( Pasir Balengkong) di daerah Pasir, selanjutnya suku Banjar juga tersebar di daerah lainnya di Kalimantan Timur.

Suku Banjar di Kalimantan Tengah

Suku Banjar di Kalimantan Tengah sering pula disebut Banjar Melayu Pantai atau Banjar Dayak maksudnya suku Banjar yang terdapat di daerah Dayak Besar yaitu nama lama Kalimantan Tengah. Suku Banjar merupakan 25 % dari populasi penduduk dan sebagai suku terbanyak di Kalteng dibanding suku Dayak Ngaju, suku Dayak Bakumpai, Dayak Sampit dan lain-lain. Sedangkan migrasi suku Banjar (Banjar Kuala) ke Kalimantan Tengah terutama terjadi pada masa pemerintahan Sultan Banjar IV yaitu Raja Maruhum atau Sultan Mustainbillah (1650-1672), yang telah mengijinkan berdirinya Kerajaan Kotawaringin dengan rajanya yang pertama Pangeran Adipati Antakusuma.

Suku Banjar di Sumatera dan Malaysia

Suku Banjar yang tinggal di Sumatera dan Malaysia merupakan anak, cucu, intah, piat dari para imigran etnis Banjar yang datang dalam tiga gelombang migrasi besar. Pertama, pada tahun 1780 terjadi migrasi besar-besaran ke pulau Sumatera. Etnis Banjar yang menjadi emigran ketika itu adalah para pendukung Pangeran Amir yang menderita kekalahan dalam perang saudara antara sesama bangsawan Kerajaan Banjar, yakni Pangeran Tahmidullah. Mereka harus melarikan diri dari wilayah Kerajaan Banjar karena sebagai musuh politik mereka sudah dijatuhi hukuman mati. Kedua, pada tahun 1862 terjadi lagi migrasi besar-besaran ke pulau Sumatera. Etnis Banjar yang menjadi imigrannya kali adalah para pendukung Pangeran Antasari dalam kemelut Perang Banjar. Mereka harus melarikan diri dari pusat pemerintahan Kerajaan Banjar di kota Martapura karena posisi mereka terdesak sedemikian rupa. Pasukan Residen Belanda yang menjadi musuh mereka dalam Perang Banjar yang sudah menguasai kota-kota besar di wilayah Kerajaan Banjar. Ketiga, pada tahun 1905 etnis Banjar kembali melakukan migrasi besar-besaran ke pulau Sumatera. Kali ini mereka terpaksa melakukannya karena Sultan Muhammad Seman yang menjadi Raja di Kerajaan Banjar ketika itu mati syahid di tangan Belanda. diambil dari situs

*Sumber: Wikipidea Indonesia

BUDAYA BANJAR DAN NILAI-NILAI DEMOKRASI

diambil dari tulisan  Humaidy Abdussami A sisalah satu situs internet

Propinsi Kalimantan Selatan merupakan propinsi kecil dari empat buah propinsi yang terdapat di pulau Kalimantan. Luas daerahnya sekitar 414.675 Km2 yang terletak didaerah garis khatulistiwa. Pola kehidupan masyarakat Kalimantan Selatan terutamauntuk suku Banjar, hampir 80% dari hulu sampai hilir ditandai dengan budaya yangkhas, yaitu kebudayaan sungai. Kebudayaan sungai hampir sama dengan kebudayaan air atau kebudayaan pantai yang mempunyai kesadaran kuat atas kepemilikan maritim(lautan). Sebaliknya berbeda dengan kebudayaan agraris atau kebudayaan pedalaman(daratan) yang mempunyai kesadaran kuat atas kepemilikan tanah. Ia berada sangatdekat dengan kebudayaan pantai dan berjarak jauh dengan kebudayaan pedalaman. Artinya, sangat kuat mempunyai kesadaran atas pemilikan maritim dan agakmengabaikan pemilikan tanah. Di daerah ini, sungai sejak zaman purba memang sebagai jalur lalu lintas utama antara daerah satu dengan daerah lainnya, sehingga Banjarmasin sering dijuluki sebagai River City (Kota sungai) atau Kota Seribu Sungai. Tempat konsentrasi penduduk di daerah ini disebut sebagai kampung. Istilahdesa baru dipakai setelah pemerintah Republik Indonesia selang beberapa waktu berdiri. Ada juga istilah lain untuk menyebut daerah tersebut sebagai benua. Secara historis suku Banjar adalah hasil pembauran unik dari sejarah sungai-sungai Bahau, Barito, Martapura, dan Tarebanio. Masayarakat Banjar sendiri sebenarnyaterdiri dari tiga golongan; kelompok Banjar Muara (Kuala), kelompok Banjar Hulu, kelompok Banjar Batang Banyu. Dari ketiga kelompok tersebut dalam perkembanganberikutnya mengalami proses akulturasi budaya yang saling mengisi dan saling memperbaharui. Proses pewarisan budaya Banjar tidak hanya terjadi secara turun-temurun tetapi juga ada pengaruh kondisi lain yang berupa kesatuan wilayah (sebagai bekas kerajaan Banjar) dan kesatuan agama (Islam), bahkan adanya pembaharuan yangunik antara penduduk yang asli yaitu Dayak (suku Ngaju, Bukit dan Maanyan), Melayu danJawa. Dalam rentetan sejarah berikutnya kebudayaan Banjar dimulai dari percampurankebudayaan Melayu, kebudayaan Bukit, dan kebudayaan Maanyun sebagai kebudayaan intiyang membentuk kerajaan Tanjungpura dengan menganut agama Budha.Percampuran kebudayaan setempat dengan kebudayaan Jawa, pertama kaliterjadi ketika terbentuk kerajaan Negara Dipa di Amuntai dan kerajaan Negara Daha di Nagara yang beragama Hindu. Pada akhirnya terjadi perpaduan kebudayaan Ngaju,Maanyan, Bukit, Melayu dengan kebudayaan Jawa yang membentuk Kerajaan Banjar yangberagama Islam.Jadi masyarakat Banjar ada yang mendefinisikan sebagai komunitas etnik ataukumpulan penduduk asli Kalimantan Selatan yang termasuk dalam kelompok Melayu Muda (terdiri dari etnik Melayu sebagai etnik dominan kemudian ditambah denganunsur Bukit, Ngaju, Maanyan dan Jawa) yang umumnya tinggal disekitar pantai dandialiran sungai serta telah menganut agama Islam. Masyarakat ini terbentuk beriringandengan kemenangan Sultan Syuriansyah dalam perang tanding melawan pamannya sendiriPangeran Tumenggung yang mengangkangi amanah. Kemudian istilah Banjar sendiri bukan sekadar konsep etnis akan tetapi sekaligus konsep politis, sosiologis, dan agamis. Artinya masyarakat Banjar adalah masyarakatIslam karena memang mayoritas mereka memeluk agama Islam yang taat dan bahkan cederung fanatik. Dengan identitas inilah biasanya mereka dibedakan dengan orangDayak yang tinggal di pedalaman dan umumnya tidak beragama Islam, disamping untuk membedakan dengan masa lalu mereka yang beragama Hindu, Budha, Animisme,Dinamisme, Totemisme, dan kepercayaan sejenisnya. Tetapi bukan berarti seluruh kepercayaan lama ini dibabat habis oleh masyarakat Banjar sesudah memeluk agamaIslam, melainkan masih terdapat sisa-sisanya yang diserap menjadi satu kesatuan mata rantai dalam ajaran Islam terutama hal-hal yang tidak bertentangan dengan nilai-nilaiesensialnya. Sebab memang Islam masuk di daerah ini dengan cara lembut dan damai sehingga hal-hal lama yang bersesuaian dengan ruh Islam akan terserap sedemikian rupake dalam menjadi kesatuan utuh yang saling mengisi dan memperkaya satu sama lain.Sedangkan bahasa yang dipakai masyarakat Banjar adalah Bahasa Banjar yangelemen bahasa Melayu sangat dominan, kemudian ada unsur Bahasa Jawa, dan BahasaNgaju. Kata Banjarmasih yang sekarang menjadi Banjarmasin berasal dari unsur bahasaMelayu yaitu Banjar yang berarti kampung dalam bahasa Melayu, dan kata masih adalah sebutan perkampungan orang Melayu dalam ucapan bahasa Ngaju. Kata Banjarmasih inilahyang kemudian menjadi Banjarmasin sebagai Ibukota propinsi Kalimantan Selatan.
Dari rentetan persentuhan berbagai budaya ini, budaya Banjar seolah-olah tenggelam dan kehilangan orisinalitas-otentisitasnya karena sedemikian terbuka, apalagi kemudian daerah pesisir menjadi basis dan pusat kerajaan membuat budaya Banjar lebih terbuka lagi, sehingga ada yang bilang budaya Banjar itu seolah-olah tidak ada, yang adaadalah budaya Dayak, budaya Jawa, budaya Melayu yang terbungkus menjadi satu dalam baju budaya Banjar.Sampai di sini saja sudah terlihat bahwa budaya Banjar punya watak demokratis. Hal ini ditandai dengan sangat terbuka dan sedemikian lenturnya budaya Banjar dalam menerima berbagai budaya lain yang pada mulanya asing. Ia sanggup mendudukkanbudaya-budaya lain tersebut sebagai mitra sejajar dan teman dialog yang setara dalamlokus dirinya. Bisa dikatakan, rasa-rasanya tidak mungkin masyarakat Banjar bersikapfanatik kesukuan (chauvinistik) apalagi sampai mengkultuskan rasa ashabiyahnya.C. Beberapa Nilai Demokrasi Memasuki lebih mendalam nilai-nilai demokrasi dalam budaya Banjar, dapatdisebutkan beberapa bentuk, di antaranya:1. Tradisi Musyawarah dan Keadilan Nilai-nilai demokrasi pada masyarakat Banjar, dalam tingkat tertentusebenarnya sudah dimulai sejak abad ke 17, bahkan mungkin lebih ke belakang lagi, karena feodalisme Jawa kata Faruk HT di tanah Antasari ini tidak begitu kuat, belum pernah merasuk dalam dan tak sempat melembaga. Kepemimpinan dan pengaturan masyarakat di kerajaan Banjar melalui dua komponen utama yang sangat berpengaruh secara langsung terhadap proses terbentuknya nilai-nilaidemokrasi. Kedua komponen berpengaruh itu meliputi kehidupan bernegara yang menjamin terjadinya persamaan kesempatan bidang ekonomi dan kekuasaan, plusadanya ikatan kekeluargaan. Dalam masyarakat Banjar, pemimpin dari struktur yang paling atas hinggaterbawah tidak terlepas dari struktur politik, ekonomi dan sistem kekerabatan yangberkait-berkelindan antara satu dan yang lain. Nilai-nilai demokrasi tersebut, dimulai ketika Sultan Suriansyah (1526-1545),sebagai raja pertama kerajaan Banjar mengatur tata pemerintahannya. Langkah pertama yang diambil Sultan adalah tidak memilih jabatan Patih dan Mangkubumi dari golongan bangsawan, dari pemilik atau keluarga kerajaan, melainkan diambil dari Urang Jaba (rakyat biasa) yang cakap, memiliki kemampuan dan loyalitas-dedikasi yang tinggi terhadap kerajaan. Orang pertama yang dipilih kerajaan atas kehendak rakyat umum waktu itu adalah Patih Masih seorang anak nelayan ditepian sungai Martapura, tepatnya di daerah Kuin.Selain tradisi demokrasi yang tercermin dalam pengangkatan Patih dan Mangkubumi dari rakyat kecil tersebut, kerajaan Banjar juga mempunyai lembaga perwakilan yang disebut sebagai Dewan Musyawarah. Dewan Musyawarah iniberfungsi untuk membicarakan masalah-masalah agama Islam. DewanMusyawarah melakukan rapat untuk memutuskan hasil musyawarah secara demokratis. Di dalamnya yang berperan adalah Mangkubumi, Dipati, Jaksa, Khalifah dan Pengulu (Penghulu). Yang disebut terakhir bertugas memimpin jalannya lalu lintas pembicaraan dalam rapat.. Dalam urusan yang berkaitan dengan hukum-hukum duniawi (biasa disebutDirgama), persoalan ini dibicarakan secara khusus dengan rapat tersendiri olehSultan, Mangkubumi, Dipati dan Jaksa. Yang berperan memimpin rapat adalah Jaksa. Begitu juga untuk urusan yang berkaitan dengan tata urusan kerajaan adalah merupakan agenda pembicaraan antara Sultan, Mangkubumi dan Dipati. Dari struktur pemerintahan, terdapat pula tradisi demokrasi, meskipun wujudnya lebih berkonsentrasi dalam sebuah kelompok kekerabatan besar (group) yakni kelompok kekerabatan yang di dalamnya terdapat proses pemilihanpemimpin, baik di tingkat adat di masyarakat maupun tingkat pemerintahan dikerajaan. Dalam ungkapan lain, masyarakat Banjar dari lapisan yang paling bawah sampai lapisan paling atas diatur dalam kelompok kekerabatan besar yang lebih dikenal oleh orang Banjar sebagai Bubuhan. Sebenarnya kalau dilihat mekanisme kerja sistem Bubuhan ini; Sultan adalah kepala, ketua dari seluruh Bubuhan. Biasanya ketua Bubuhan ini dipilih berdasarkan senioritas (yang lebih tua), kekuatan, kecerdasan, kecakapan, kearifan, kepemimpinan dan memiliki rasa tanggung jawab sangat besar baik terhadap masyarakat maupun kerajaan. Sebagai ketua atau kepala Bubuhan, Sultan bertanggung jawab memutuskan soal-soal ke dalam, yakni persoalan interen yang ada di dalam Kulawarga Bubuhan, juga bertanggung jawab ke luar, yakni persoalaneksteren baik yang berkaitan dengan urusan pemerintahan maupun perniagaan. Model fungsi pengembangan wewenang dan kewajiban tersebut secara manajerial memiliki mekanisme yang jelas. Keterlibatan dalam mengambil kebijakan pada tingkat tertentu baik melalui musyawarah maupun instruksi ternyata bisa mengangkat orang untuk berbeda pendapat dan sependapat, yang mana keduanya merupakan bagian demokrasi. Penciptaan kondisi seperti ini akan berjalan sacara hirarkis, tetapi demokratis ke bawah, sesuai dengan lapisankedudukannya dalam masyarakat. Kesatuan yang ada dalam sistem Bubuhan antara lain terbukti denganadanya keterkaitan Bubuhan yang satu dengan Bubuhan yang lain. Ada banyak aspek yang terkandung dalam Bubuhan yang mampu menjaga kesatuan Bubuhan tersebut antara lain : Kesatuan kelompok darah yang bilateral, kesatuan ekonomis, kesatuan gotong-royong, kesatuan tindakan dalam mempertahankan diri dari serangan pihak musuh dan sebagainya. Kemudian ada juga tradisi yang berkaitan dengan keadilan, yang jugamerupakan salah satu nilai demokrasi paling esensial dan prinsipal. Selama kekuasaan Sultan Musta’in Billah (1650-1678) sistem politik dan pemerintahan kerajaan menjadi lebih kompleks di mana ada spesifikasi dalam pembidanganpersoalan-persoalan hukum. Dalam hal ini Mangkubumi yang bertindak sebagai King Vice Regent yang mempunyai empat Deputi dan empat Hakim, bertugas untuk memecahkan dan memutuskan persoalan-persoalan hukum. Begitu juga, persoalan pemerintahan dalam hubungannya dengan kerajaan luar (hubungan luar negeri), monopoli perdagangan, surat kontrak dan lisensi diselesaikan oleh Mangkubumi dan para Dipati, sedangkan Sultan dalam persoalan ini sebagai penentu pengetuk palu. Tradisi demikian, kemudian berkembang menjadi suatu sistem yang pada akhirnya membentuk suatu institusi yang pada saat itu dikenal sebagai Dewan Mahkota (The Royal Council). Tradisi musyawarah sebagai nilai demokrasi, baik di lingkungan kerajaanmaupun masyarakat terlihat hidup, ini bisa dibuktikan pada Undang-Undang Sultan Adam (1825-1827) dalam pasal 3 berbunyi; Tiap-tiap tetuha kampung kusuruhakan mamadahi anak buahnya dengan bamufakat, astamiyah lagi antara bakarabat supaya jangan banyak pamandiran dan babantahan. Maksudnya agar tokoh-tokoh (sesepuh) kampung membiasakan musyawarah untuk menghindari terjadinya salah paham dan percekcokan. Dengan demikian musyawarah yang bertujuan untuk mencari jalan keluarsecara bersama sekaligus memecahkan segala persoalan baik yang terjadi di dalamkeluarga maupun masyarakat, sejak dahulu sudah dilaksanakan masyarakat Banjar. Lebih dari itu, jika terjadi sengketa di suatu kampung, maka tetuha harusmendamaikannya dengan musyawarah, jika tidak selesai secara kekeluargaan barudibawa ke hadapan Hakim. Hal ini tercantum pada pasal 21 dalam Undang-Undang Sultan Adam; Tiap-tiap kampun kalu ada perbantahan, isi kampungnya kusuruhakan mamandirakan dan mamatutkan mufakat lawan nang tuha-tuha kampungnya itu, lamun tiada jua, mamandirakan ikam bawa pada Hakim. Maksudnya, jika tidak bisa selesai secara kekeluargaan, maka baru dibawa kehadapan Hakim. Demikian juga halnya dengan tradisi keadilan di masyarakat Banjar sudahlama berkembang. Di sana terdapat semacam lembaga keadilan yang disebut sebagai Mahkamah Syar’iyah yang dikepalai oleh seorang Mufti. Menurut Karel A. Steenbrink Undang-Undang Sultan Adam yang ditetapkan pada tanggal 15 Muharram 1251 H memberikan kesan bahwa kedudukan Mufti nirip denganMahkamah Agung yang ada sekarang, yang berfungsi pula sebagai lembaga untuk naik banding dari pengadilan di bawahnya yang disebut Karapatan Kadi. Tugas Mufti ini tercantum dalam Undang-Undang Sultan Adam terutama pada perkara7-8 yang berbunyi; Mufti batugas mambarikan fatwa kapada urang nang handak manjalankan hukum, dan bila urang itu maminta disuruh Sultan, dan urang ituharus malihatakan surat bukti dengan cap Sultan. Maksudnya, tugas Mufti adalah memberikan fatwa bagi mereka yang hendak menjalankan proses hukum dengan memperlihatkan surat bukti yang berstempel atau legalitas tandatangan Sultan.2. Tradisi Gotong Royong Tradisi gotong-royong sebagai ciri demokrasi, juga hidup dalam masyarakatBanjar. Ada ungkapan cukup terkenal yang menjadi pegangan hidup masyarakatBanjar; Gawi Sabumi Sampai Manuntung (kerja bersama sampai tuntas) atau WajaSampai Kaputing (kerja bersama dari awal sampai akhir) atau Kayuh Baimbai (dayung secara serempak). Maksudnya dalam melakukan pekerjaan sampai selesaidengan bergotong-royong secara bersama-sama, rambate rata hayu, singsingkanlengan baju, berat sama dipikul dan ringan sama dijinjing. Gotong royong ini banyak muncul dalam upacara adat dan upacarakeagamaan. Sebut saja beberapa sebagai umpama, upacara Manyanggar Banuayakni suatu upacara memberikan aneka ragam sesajen secara bersama-sama mulai pemimpin sampai rakyat biasa, baik kaum miskin maupun kaum kaya, orang tuaataupun anak-anak, dan lelaki atau perempuan, ikut hadir dengan peran masing-masing. Ada yang berperan sebagai pemimpin upacara, ada yang mengumpulakan sesajen, ada yang tugas menari, ada pula yang membunyikan gamelan, rebab dan rebana dengan diiringi lagu masbangun. Kemudian dalam upacara perkawinan dalam masyarakat Banjar, gotong-royong terlihat sangat kental. Beberapa hari menjelang perkawinan para keluarga, tetangga dan kawan-kawan datang membantu segala persiapan yang berkaitandengan upacara perkawinan seperti mendirikan serobong (tenda) untuk tempat para saruan (undangan) memperluas palatar (teras) serambi depan,mempersiapkan pangawahan (bejana besar) untuk memasak, mendirikan nagapenantian (kursi pelaminan), memasang kakambangan (dekorasi), mengaturpaguringan (tempat tidur) kedua mempelai, yang diletakkan di tengah rumah dikelilingi oleh dinding air gici (gorden berhias), seperti adanya titian naga, kebun raja, taburan bintang, aneka kembang dan lain-lain. 3. Tradisi Persamaan Tradisi persamaan dalam masyarakat Banjar sudah terlihat pada aspek bahasa pengantar dan pergaulan hampir di seluruh Kalimantan (kecualiKalimantan Barat, Kalimantan Utara dan Brunai Darussalam), sangat sederhana, tidak memiliki hirarkis yang sedemikian rigid sebagaimana bahasa Jawa, adatingkatan kromo, madyo dan kasar.Hal ini tampak pada rumah tangga masyarakat Banjar. Posisi suami sama dengan isteri selaku kepala keluarga dan profesinya dianggap sebagai sama-sama bekerja. Komunikasi antara suami dan isteri tampak sangat lugas, hampir tidak memakai bahasa yang hirarkis, dengan masing-masing memanggil ui atau umanya si anu atau ding dan ui atau abahnya si anu atau ka dalamtegur sapa dialog ulun-piyan (halus), aku-ikam (menengah) atau unda-nyawa (kasar),tanpa ada aturan untuk memakai bahasa yang halus saja. Demikian juga, hubunganantara kaka (kakak) dan ading (adik) baik laki-laki dengan laki-laki, perempuandengan perempuan maupun laki-laki dengan perempuan berjalan sangatdemokratis. Dalam komunikasi kaka dan ading, tidak ada hirarkis sama sekali. Kaka memanggil adingnya tidak dengan ding, cukup dengan menyebut ujung namanya (semisal Masniah, cukup dipanggil Niah). Begitu juga sebaliknya, ading tidak harus memanggil ka, mas atau abang, cukup menyebut ujung namanya saja(semisal Fauzi, cukup dipanggil Zi). Kemudian dalam budaya Banjar sejak dulu sampai sekarang tidak membedakan kedudukan lelaki dengan perempuan. Disebutkan dalam legenda atau Hikayat Lambung Mangkurat telah hidup seorang Ratu bernama Junjung Buih yang memerintah kerajaan Negara Dipa di daerah Amuntai (Hulu Sungai Utara), sejajar kedudukannya dengan Mpu Jatmika, Lambung Mangkurat danPangeran Suryanata. Lebih dari itu, dalam perkembangan berikutnya terutama pada Lambung Mangkurat, justru tunduk patuh di bawah telapak kaki Junjung Buih, hingga sampai hati membunuh keponakannya sendiri Sukmaraga danPatmaraga demi memenuhi ambisinya memiliki sendiri sang ratu tanpa ada persaingan. Selanjutnya, tercatat dalam sejarah Banjar pada masa pemerintahan SultanTahmidullah II yang menjadi ulama besar tidak saja lelaki, melainkan jugaperempuan. Ketika itu hidup ulama besar Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari, Syekh Muhammad Nafis Al-Banjari, Syekh Abdul Hamid Abulung, Syekh Abdul Wahab Bugis, Datu Sanggul, Syekh Muhammad As’ad dan Syekh Abu Su’uddidampingi ulama besar perempuan Syarifah (puteri Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari) dan Fatimah (pengarang kitab Parukunan, puteri Syekh Abdul WahabBugis). Di samping itu, tercatat juga dalam sejarah perang Banjar yang sangatpanjang, seorang pahlawan perempuan bernama Ratu Zaleha yang gigih berjuangmengusir penjajah Belanda (melanjutkan perjuangan Pangeran Antasari) bersama-sama ayahnya Sultan Muhammad Seman, suaminya Gusti Muhammad Arsyad dan ibunya Nyai Salamah.
Melihat kenyataan sosial dan budaya semacam ini, sangat menarik pembahasan Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari ketika membahas tentangkonsep harta perpantangan dalam hukum faraid. Daya tariknya adalah nilai-nilaipersamaan yang sangat kental dalam pemikirannya yang hidup jauh sebelum wacana ini berkembang dengan baik. Di tangannya, fiqih faraid yang selama ini sangat bias perempuan, justru mampu memperlihatkan semangat egaliterianisme.Keegaliterianan pemikirannya ini dalam menetapkan hukum faraid tersebut sesungguhnya disinyalir banyak pihak sebagai bentuk dari salah satu sikapnya yang sangat akomodatif terhadap budaya lokal yang sudah sangat kuat mengakar. Meskipun kitab fiqih faraid karya Arsyad ini, baik naskah asli maupun salinannya atau yang sudah dicetak belum ditemukan. Ada yang mengatakan bahwa naskah aslinya berada di tangan salah seorang keturunannya yang bernama Syekh Abdurrahman Siddiq yang pernah menjabat Mufti di Kesultanan Siak, Indragiri, Riau. Namun demikian, pemikiran Arsyad dalam kitab tersebut tentang harta perpantangan dan ishlah telah mengakar kuat dalam masyarakat Banjar. Tradisi hidup (living tradition) hasil buah pemikirannya yang berdialektika denganrealitas sosial dan budaya masyarakat setempat ini mampu menjadi ketentuan selama berabad-abad masyarakat Banjar dalam pembagian harta warisan.Ada dua hal yang dikemukakan dalam kitab itu, yang berbeda denganketentuan fiqih konvensional. Pertama, istilah harta perpantangan (harta bersama)ini lahir sebagai buah pemikiran Arsyad dalam melihat perbedaan kehidupan keluarga di kalangan masyarakat Arab dengan masyarakat Banjar. Di kalanganmasyarakat Arab, memang perempuan sama sekali tidak bekerja untuk memperoleh harta. Karena itu kalau suaminya meninggal dan suami mempunyai anak, si isteri hanya mendapat seperdelapan dari harta warisan. Sementara kalau suaminya tidak meninggalkan anak, maka bagian isteri menjadi seperempat. Pembagian yang seperti ini sesuai dengan ketentuan al-Qur’an. Namun dalam masyarakat Banjar, umumnya isteri bekerja bersama-sama dengan suami. Oleh karenanya, harta yang didapat selama masih sebagai suami isteri dinamakan harta perpantangan atau harta bersama. Kalau salah satu pihak meninggal dunia, makayang masih hidup lebih dahulu mengambil 50% dari harta perpantangan, dan sisanya baru dibagi sesuai dengan ketentuan faraid. Ini jelas merupakan pengembangan yang radikal dari konsep semula, hukum waris Islam, yaitu keseluruhan harta peninggalan seseorang yang meninggal dunia dibagi antara ahliwaris.Kemudian dalam membagi harta warisan yang sudah disisihkan dari harta perpantangan, Arsyad memakai mekanisme ishlah. Ishlah artinya permufakatanantara ahli-ahli waris untuk menyerahkan sebagian yang semestinya diterima salahsatu ahli waris, diserahkan kepada ahli waris lainnya yang menerima lebih kecil. Contohnya satu orang saudara laki-laki dengan dua orang saudara perempuan. Kalau jumlah harta warisan tersebut Rp 1.000.000, maka bagian saudara perempuan masing-masing Rp 250.000, sementara bagian saudara laki-laki adalahRp 500.000,. Setelah masing-masing pihak mengetahui bagiannya sesuai denganhukum faraid, lalu mereka bersepakat bahwa saudara laki-laki memberikan sebagian dari yang diterimanya kepada kedua orang saudara perempuannya sehingga jumlah yang mereka sama. Pengembangan hukum waris semacam ini jelas disemangati oleh persamaan derajat antara lelaki dan perempuan. Tidak hanya sampai di situ, bahkan lebih dari itu perempuan boleh juga dipilih untuk menjadi kepala Bubuhan dalammasyarakat Banjar. Suatu posisi yang sangat terhormat dan menjadi dambaan setiap individu orang Banjar. 4. Tradisi KebebasanSejak kecil anak Banjar sudah dilatih dan dididik orang tuanya untuk bebas memilih jalan hidupnya masing-masing agar cepat mandiri. Hal ini terkait eratdengan budaya dagang masyarakat Banjar yang sedemikian kuat. Sudah barang tentu kebebasan yang dimaksud lebih pada bidang ekonomi. Ada yang diajak berdagang kecil-kecilan, sekedar membantu orang tuanya berjualan, belajar kerja serabutan dengan memperoleh imbalan seadanya, diwanti-wanti prihal seluk-beluk berdagang atau mau meneruskan sekolah sepuas-puasnya. Bagi orang Banjar yangpenting bukan mau berdagang atau mau sekolah, melainkan bagaimana secepatmungkin melepaskan ketergantungan kepada orang tua dan segera bebas, mandiridan merdeka.Untuk menuju kebebasan itu, anak Banjar berani menempuh jalan berat sekalipun. Tidak berhasil mencari atau mengembangkan pekerjaan di kampunghalaman, mereka akan nekat pergi mengembara ke tanah seberang-negeri orang, menjadi pengembara gigih dan madam (menetap) di sana. Sementara orang tuanyapun—jika itu sudah menjadi anaknya—dengan lapang dada dan rela hati melepaskan anaknya tanpa tangis dan rasa sedih, bahkan terkadang senyum-senyum saja karena dianggap sebagai kepergian yang biasa. Tidak heran, jika kemudian banyak dari pengembara-pengembara Banjar ini membangun koloni-koloni di tanah perantauan yang hampir meliputi seluruh Nusantara. Sebut sajabeberapa perkampungan Banjar di luar Kalimantan yang cukup terkenal, seperti Bangil, Nyamplungan (Surabaya), Jayengan (Solo), Kauman (Yogya), Johar (Semarang), Kuala Tungkal (Jambi), Tambilahan (Riau), Sapat, Batu Pahat dan Pulau Pinang (Malaysia) Tidak kalah pentingnya, tradisi kebebasan yang masih sangat kental di lembaga pendidikan punduk (semacam pondok pesantren) yang melatih danmendidik murid-muridnya untuk cepat mandiri, menjadi manusia merdeka. Di sana mereka mendalami berbagai ilmu agama sambil dilatih mandiri tanpa ada keharusan di kelak kemudian hari menjadi Tuan Guru (Kiyai atau Ulama).Meskipun lazimnya, memang kebanyakan dari jebolan punduk ini menjadi TuanGuru, tetapi tetap saja ada beberapa yang tidak berbakat atau bisa mencapai kesana. Suasana di dalam punduk juga mendorong semangat kebebasan. Hubunganantara Tuan Guru dan muridnya terjalin secara demokratis, tidak ada keharusan cium tangan atau serba patuh cukup sekedar hormat, dan itupun terbatas padasang Tuan Guru, tidak sampai kepada anak-cucu dan keturunannya. Dalam proses belajar-mengajar Tuan Guru lebih dialogis, membuka kesempatan cukup luas bagimurid untuk ikut aktif berinisiatif dalam rangka pencarian bersama. Hal ini,didukung lagi suasana sekitar punduk, banyak Tuan Guru ternama yang membuka pengajian spesifik, tempat para murid menguji, meneguhkan, mengembangkan dan memperluas keagamaannya yang diperoleh di dalam punduk. Lingkungan punduk Darussalam di Martapura dan punduk Rakha di Amuntai yang telah melahirkan banyak Tuan Guru berkualitas dan penuh semangat pembebasan.
Tradisi OposisiTradisi oposisi merupakan salah satu nilai demokrasi juga, yang dalam masyarakat Banjar sudah tumbuh sejak lama. Dalam sejarah Banjar senantiasa muncul kekuatan oposisi yang berusaha mengontrol jalannya sebuah rezim yang berkuasa. Keberadaan kekuatan oposisi ini terlihat dari sejak berdirinya kerajaanBanjar sampai keruntuhan, bahkan terus berlanjut hingga awal kemerdekaan. Ketika penguasa kerajaan Banjar dipegang oleh Pangeran Tumenggung, muncul Sultan Suriansyah (1526-1545) memberontaknya. Ketika Amirullah Bagus berkuasa (1660-1663), Pangeran Adipati Anum (1663-1679) melakukan kudeta. Sebaliknya, ketika Adipati Anum berkuasa Amirullah Bagus (1680-1700), gantimengkudeta. Ketika Tahmidullah II (1761-1801) berkuasa, Pangeran Amir memberontak dengan 3000 orang bala tentara Bugis. Namun sayang, PangeranAmir kalah dan kemudian dibuang ke Sailon. Ketika Sultan Tamjidillah (1857-1859) berkuasa menjadi boneka penjajah Belanda, Pangeran Hidayatullah dan Pangeran Antasari yang keras menantangnya. Ketika memasuki zaman kemerdekaan Hasan Basri setia mengintegrasikan Kalimantan Selatan ke dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia, muncul Ibnu Hajar memberontak untuk mendirikan negara sendiri berlandaskan Islam. 6. Tradisi KritikTradisi Kritik dalam budaya Banjar, kebanyakan terekspresi dalam ungkapan seni. Pertama, pada kesenian Madihin salah satu kesenian tradisional masyarakat Banjar yang sangat populer, seringkali dalam melantunkan syair-syairnya Pemadihin (sekarang sangat terkenal John Tralala dan anaknya Hendra)menyelipkan kritikan pedas pada siapa saja yang sok alim, sok kuasa, sok pintar dan sok hebat dengan sindiran halus yang dibungkus bahasa pantun, indah, puitisdan humoris dalam bentuk dialogis bersahutan atau berbalas pantun baturai syairyang familiar dengan iringan irama gendang dari terbang (semacam rebana).Kedua, pada kesenian Mamanda yang merupakan teater rakyat, berisi ceritera hubungan raja dan para bangsawan dengan rakyatnya, dan biasanya berakhir secara Happy Ending. Dalam drama ini ditampilkan pemerintahan yang baik danbijaksana akan mendapat pujian rakyatnya. Sebaliknya pemerintahan zalim dan menindas akan mendapat tantangan dan perlawanan dari rakyatnya. Cerminankritik rakyat terhadap raja yang zalim dilontarkan oleh Ladon yang lucu sehinggakritiknya yang sangat tajam, tak terasa menusuk hati karena diiringi denganbanyolan-banyolan lucu dan menggelikan. Ketiga, pada legenda kisah si Palui yang setiap hari, setia hadir di koran Banjarmasin Post (koran yang terbesar oplahnya di Banjarmasin). Tokoh ini agak mirip dengan tokoh Kabayan di Jawa Barat, digambarkan sebagai sosok manusia lucu yang lugu, nakal, unik, agak pintar-pintar bodoh, agak bodoh-bodoh pintar dan agak berani-berani takut. Ia tampil sebagaipengkritik siapa saja yang dianggapnya berlebihan, arogan dan pongah. Sasarankritiknya bisa dirinya sendiri dan orang lain. Dari jago pukul kampung sampaipejabat pemerintah. Dari orang dusun sampai orang kota. Dari murid sampai Tuan Guru. Dari menantu sampai mertua. Dari anak sampai orang tuanya. Dari isteri sampai suaminya. Demikian seterusnya meliputi berbagai wajah tokoh yang perlu dikritik. Ungkapan kritiknya dibungkus dengan bahasa Banjar prokem yanghumoris dan menggelikan dengan metode berkisah yang khas dan sangat akrab dengan pembaca.
Sebenarnya banyak jenis kesenian lain dalam budaya Banjar yang memuatpesan kritik yang tidak mungkin diuraikan satu persatu di dalam ruangan tulisan sempit ini. Cukup uraian tiga kesenian di atas sebagai representasi signifikan. D. KesimpulanDemikianlah uraian nilai demokrasi dalam budaya Banjar yang berupa nilai musyawarah, keadilan, gotong-royong, persamaan, kebebasan, oposisi dan kritik. Nilai-nilai ini saya kira, bisa menjadi modal sosial dan modal kultural bagimasyarakat Banjar khususnya dan bangsa Indonesia pada umumnya untuk mengembangkan nilai demokrasi yang kontekstual, relevan dan berakar kuat di ranah kebudayaan sendiri sehingga proses perjalanan demokratisasi bisa diharapkan bisa berjalan alami, mulus, anggun, damai dan elegan.

Melestarikan Ukiran Banjar
Minggu, 09-09-2007 | 02:19:03
URANG Banjar mengembangkan sistem budaya, sosial dan material budaya yang berkaitan dengan religi melalui berbagai proses adaptasi, akulturasi dan assimilasi. Sehingga nampak terjadinya pembauran dalam aspek-aspek budaya.

Meskipun demikian, pandangan atau pengaruh Islam lebih dominan dalam kehidupan budaya Banjar. Hampir identik dengan Islam, terutama pandangan yang berkaitan dengan keTuhanan (Tauhid), meskipun dalam kehidupan keseharian masih ada unsur budaya asal, Hindu dan Budha.

Salah satunya terlihat pada seni ukir dan arsitektur tradisional Banjar, sebuah ukiran di dahi lawang (atas pintu) pada rumah bubungan tinggi yang memperlihatkan paduan ukiran khas Banjar dan kaligrafi Arab.

Pintu berukir di Banjarmasin sudah mulai langka. Di Kelurahan Sungai Jingah Kecamatan Banjarmasin Utara dan Kelurahan Kuin Utara, ukiran khas Banjar masih ditemui di beberapa rumah.

Ukiran tak hanya dibuat di atas rangka pintu namun di bagian ventilasi dan pegangan tangga. Dengan menggunakan ornamen jambangan dan tumbuhan, ukiran melengkung pada ambang atas rangka pintu disebut dahi lawang. Biasanya terdapat pada rumah adat Banjar Gajah Manyusu di Kuin Utara, Banjarmasin Tengah.

Ukiran gaya Banjar baik di rumah gajah baliku maupun di bubungan tinggi masih dipengaruhi khazanah budaya Arab. Ukiran tersebut terbuat dari kayu ulin yang dikenal awet, tahan air dan tahan panas.

Tipe rumah adat bumbungan tinggi memang lebih dikenal dibanding tipe rumah adat Banjar lainnya. Karena cirinya lebih mudah dilihat untuk bisa dibedakan dengan bangunan lain.

Menurut Syamsiar Seman, budayawan Banjar yang juga penulis belasan buku soal budaya Banjar, salah satunya buku Arsitektur Tradisional Banjar Kalimantan Selatan, ada sekitar 60 jenis ukiran Banjar termasuk di dalamnya kaligrafi.

Masing-masing ukiran punya makna berbeda seperti ukiran Banjar dengan motif sarang wanyi, pucuk rabung dan nanas. Sarang wanyi sebagai sumber madu diharapkan memberikan manfaat. Sedangkan ukiran bentuk nanas biasanya digunakan sebagai sungkul (pegangan) tangga, dengan dua makna menarik orang untuk masuk ke rumah dan nanas bermanfaat menghilangkan karat.

“Bentuk ukiran Banjar memang cukup banyak sekitar 60 jenis termasuk kaligrafi, kembang, buah dan daun. Biasanya setiap bentuk ukiran punya makna berbeda,” jelas Samsiar. mia/bpost

Image

Kaya Corak dan Ornamen
Minggu, 09-09-2007 | 02:16:27
RUMAH adat Banjar tak hanya kaya dengan ornamen, juga kaya dengan corak atau tipe. Syamsiar Seman merinci dalam delapan ciri rumah adat Banjar. Dari delapan ciri itu, jumlah tipe rumah adat yang bisa ditemui ada 11 tipe.

Kekayaan ornamen atau corak banyak dipengaruhi khazanah budaya setempat. Ornamen-ornamen tersebut menggabungkan budaya khas Banjar sendiri, kemudian Melayu, Dayak dan Islam.

Sedangkan 11 tipe rumah adat Banjar memiliki ciri tersendiri, perbedaan itu banyak kaitannya dengan bentuk dan konstruksi atap. Selain ada perbedaan antara 11 tipe rumah tersebut juga terdapat persamaan.

Salah satu yang dianggap tipe paling tua, menurut Syamsiar Seman, adalah tipe bubungan tinggi. Rumah tipe ini dikenal sebagai rumah bangsawan, dan pada zaman dulu merupakan istana Sultan Banjar.

Rumah kediaman gubernur secara umum mengadopsi ciri-ciri bubungan tinggi. Bangunannya terlihat megah dengan ukuran besar dan memanjang, serta memiliki tiang-tiang tinggi. Memiliki ruangan yang menempel pada samping kanan kiri rumah atau disebut anjung (konstruksi pisang sasikat).

Ciri arsitektur rumah adat Banjar adalah bangunan berbahan kayu, rumah panggung yang didukung tiang dari kayu ulin (Eusideroxylon Zwageri) yang sekarang makin langka, tipe simetris sayap kiri dan kanan seimbang, sebagian bangunan memiliki anjung (ruangan yang menjorok ke samping) kanan dan kiri.

Selain itu, atap rumah terbuat dari sirap kayu ulin dan hanya memiliki dua tangga, yaitu tangga depan serta tangga belakang dengan jumlah anak tangga biasanya ganjil. Pintu hanya ada dua, yaitu di bagian depan dan belakang yang berada di tengah-tengah, dan terakhir adanya dinding pembatas (tawing halat) antara ruang depan dan ruang tengah. mia/bpost

Bapantun Pun Mulai Dilupakan
Minggu, 11-05-2008 | 00:30:56
DARI sekian banyak seni budaya Banjar, bapantun adalah yang paling merakyat. Pasalnya, dalam prosesi adat tradisi Banjar selalu dipakai. Contohnya pada fase awal perkawinan. Namun seiring perkembangan zaman, budaya ini mengalami pergeseran.

Menurut pengamat Budaya Banjar, Yanto Madal, dalam acara perkawinan adat Banjar, pantun dipakai di acara paminangan calon pengantin dan baantar patalian (mengantar mas kawin). Sastra lisan ini dibawakan secara monolog dan spontanitas oleh satu orang atau lebih.

“Kemudian bapantun juga digelar saat maahui, yakni gawi sabumi melerai bulir padi dari tangkainya yang disebut dengan bairik banih,” sebut Yanto.

Demikian juga dengan penyampaian nasihat dalam pertunjukkan kesenian misalnya dundam, lamut, madihin. Ini menunjukkan bapantun memang mengakar dalam suasana dan tingkah laku masyarakat Banjar.

“Urang Banjar merupakan rumpun Melayu, karena kenyataan keberadaan bahasa dan seni budayanya, walaupun memiliki ciri khas spesifik. Justru itulah suku Banjar memiliki pantun-pantun seperti umumnya rumpun Melayu,” tambah pegawai Disbudpar Kalsel ini.

Saat ini, menurutnya, masyarakat menuju arah modernisasi, Bapantun sangat jarang digelar, seperti dalam bentuk even atau lomba bapantun.

“Hal ini disebabkan karena tak ada lagi syair baru yang diciptakan oleh sastrawan. Rata-rata mereka terfokus pada penciptaan puisi dan syair. Kalau pantun-pantun lama sebenarnya masih ada, tetapi apakah masih relevan dengan kondisi sekarang,” jelasnya.

Untuk menyemarakkan kegiatan bapantun, kata salah satu pelaku seni Taman Budaya Kalsel, Irwan Budiman, perlu diperbanyak kalender kegiatan bapantun yang ditujukan khusus generasi muda sehingga mereka tahu budaya daerahnya.

“Ini salah satu bentuk apresiasi. Semakin jarang festival diadakan semakin kurang pula pemahaman generasi baru tentang budaya itu. Demikian juga dengan bapantun,” papar Irwan.

Salah satu bentuk keindahan pantun adalah bisa dikemas dengan nuansa irama lagu tertentu. Apalagi memiliki intonasi seperti pada pembukaan madihin, pantun diucapkan dengan lagu berproyeksi jauh. Di sinilah bisa diselipkan pesan-pesan pembangunan untuk kemajuan masyarakat.

“Selain itu, kami juga mengharapkan kerjasama dan partisipasi pemerintah dan masyarakat untuk selalu berupaya dan melestarikan budaya ini,” pungkasnya. (ncu/bpost)

Bahasa Lisan Banjar
Oleh: Rissari Yayuk, S.Pd, S.Ag.

Berbicara masalah bahasa lisan Banjar maka tidak lepas hubungannya dengan tradisi tutur yang terdapat dalam masyarakat Banjar seperti tradisi sastranya sebagai salah satu sarana ekspresi dan komunikasi yang lebih terstruktur dan terdokumentasi secara lisan dibandingkan percakapan biasa di kehidupan sehari-hari, contohnya puisi, prosa maupun bentuk kesenian lainnya seperti madihin, lamut dan mamanda .Untuk sastra puisi dan prosa dalam bahasa lisan Banjar ini dalam penjelasan berikutnya dapat dilihat pada keterangan berikut;

Puisi

a. Pantun

Pantun merupakan puisi asli Indonesia yang bentuknya terdiri atas empat baris dalam setiapa bait dan bersajak a-b-a-b. Baris pertama dan kedua merupakan sampiran, sedangkan baris ketiga dan keempat merupakan isi pantun.

Dalam sastra lisan Banjar dikenal juga bentuk pantun sebagai bagian dari sastra lisan Banjar yang keberadaannya tidak dapat dihilangkan hingga sekarang, biasanya digunakan saat acara pinang meminang.. Pantun Banjar terbagi menjadi beberapa jenis yaitu pantun anak-anak, pantun anak muda dan pantun orang tua.

Contoh:

Cuk cuk bimbi

Bimbiku dalam sarunai

Tacucuk takulibi

Muhanya kaya panai

‘tusuk tusuk lengan

lengan dalam sarunai

tertusuk jadi merengut

mukanya seperti panai’

b Mantra

Mantra memang tidak dikenal dalam masyarakat Banjar khususnya pada zaman dahulu akan tetapi mereka menyebut mantra dengan sebutan bacaan. Bacaan yang dimaksudkan adalah berisi kekuatan yang dapat merealisasikan kehendak dari yang mengucapkannya. Karena itulah bacaan ini sangat berharga dan disimpan baik-baik sebagai barang yang tak ternilai sebab digunakan diwaktu-waktu tertentu saja.

Selain mantra ada lagi yang menjadi bagian dari bahasa lisan masyarakat Banjar yaitu doa yang dipakai pada saat upaca keagamaan, seperti maulid Nabi, selamatan dan ibadah lainnya. Doa yang dikenal oleh masyarakat Banjar umumnya ada 9 jenis yaitu yang berhubungan dengan kekeluargaan, permainan anak-anak, pengobatan, kecantikan, cinta kasih, kewibawaan, kekebalan, mata pencaharian dan keamanan atau perlindungan.Doa ini mencerminkan masyarakat Banjar yang pada umumnya adalah benar-benar kuat memeluk agama Islam.
c. syair

Syair adalah puisi lama yang tiap bait terdiri atas empat larik ayang berakhir dengan bunyi sama a-a-a-a.Sedangkan bentuk syair masyarakat Banjar zaman dahulu atau bahari memang pada umunya terdiri empat larik dengan bunyi yang sama, namun ada juga yang dua baris dua baris saja yang memiliki persamaan bunyi dan tiap baris pada umunya terdiri 9 hingga 11 kata, serta bahasa yang digunakan pun bahasa Indonesia lagam Kalimantan . Isi syair terbagi dua yaitu berupa cerita hikayat atau ibarat atau berisi ajaran agama Islam, kedua jenis syair berdasarkan isi nanti akan terbagi lagi dalam beberapa klasifikasi yang lebih terperinci.

Adapun syair sangat disukai oleh masyarakat Banjar. Biasanya digunakan saat upacara pernikahan atau setelah selesai melahirkan untuk memberi hiburan atau ungkapan kegembiraana sekaligus sebagai sarana nasihat yang dapat dijadikan bahan renungan bagi yang mendengarnya.. Klasifikasi syair dalam masyarakat Banjar dgolongkan berdasarkan tema yang terkandung di dalamya. Syair erotik, contohnya Brahma Sahdan, Siti Zubaidah dan Madi Kancana.Syair agama contohnya, syair Mayat, syair Sifat Dua Puluh dan Syair Ka’bah.

Syair Ibarat, contohnya syair Galuh Karuang yang tokoh utamanya adalah burung-burung , syair ini sangat memikat para pendengarnya. Syair Ilmu Ketuhanan contohnya, Syair Tassawuf yang menyangkut masalah Tuhan, Marifat dan hakikatnya.
Contoh:

Bersungguh mengikut firman

Dunia akhirat mendapat nyaman

Menjawab tiada lagi berpikir

Lidahnya fasih menyebut zikir
d.Baandai (baduan)

Baandai atau baduan adalah nyanyian atau lagu yang dipergunakana seorang ibu atau nenek sebagai pengantar tidur seorang anak atau cucu (lagu nina bobo). Lagu ini biasanya diperdengarkan ketika seorang ibu menimang-nimang anaknya hingga sang anak menjadi terlena.

Contoh:
Yun-yun nana

Pucuk rabung di sana

Injam payung ujar uma

Mamayungi anak Cina

‘yun-yun nana

pucuk tebung di sana

pinjam payung kata ibu

memayungi anak Cina’
e.Ungkapan

Ungkapan dikenal dalam sastra Lisan Banjar sebagai sarana pengungkapan ekspresi masyarakat penuturnya terhadap sesuatu lewat kiasan atau perbandingan.Ungkapan bahasa Banjar lisan ini ada yang bersifat instruktif, imperatif dan preventif.Contoh ungkapan yang terdapat dalam masyarakat Banjar antara lain asalnya di rabung jua ‘asalnya di rebung juga’ maknanya orang-orang muda jangan memandang rendah kepada yang tua-tua sebab mereka dahulu juga pernah muda serta merasakan asam garam kehidupan terlebih dahulu .
f. Peribahasa

Peribahasa dalam masyrakat Banjar adalah kiasan yang dituturkan dengan menggunakan kalimat-kalimat , seperti ambak-ambak bakut sakali maluncat limpua hampang ‘pendiam-pendiam bakut sekali melompat melampaui empang’ artinya orang yang pendiam belum tentu baik dan jujur
prosa

a. Sage

Sage adalah cerita rakyat berdasarkan peristiwa sejarah yang telah bercampur fantasi rakyat, sage ini bisa juga dikatakan sebagai prosa kisahan lama yang bersifat legendaris tentang kepahlawanan keluarga yang terkenal dengan hukayat petualangan yang mengagumkan

Contohnya adalah Kisah Panji Utama, Tutur Candi dan Si Pujung, Hikayat Banjar, Hikayat Lambung Mangkurat.
b. Fabel

Fabel adalah cerita mengenai binatang-binantang

Contohnya Tupai Haruan, Warik lawan Kura-kura dan Pilanduk jadi raja.
c. Humor

Humor adalah cerita rakyat yang memiliki unsur humor

Contohnya Humor Miris, Tatipu Sarawin Kada di Saru Urang.
d. Mite

Mite adalah cerita rakyat atau mitos yang berkaitan dengan mahluk- mahluk halus.

Contohnya Telaga Bidadari, Cerita Junjung Buih, Si Rintik dan si Ribut.
e. Legenda

Legenda adalah cerita rakyat yang biasanya berhubungan dengan sejarah terjadinya tempat-tempat tertentu

Contoh Gunung Batu Laki Batu Bini, Loknaga, Gunung Batu Hapu

Dari bentuk-bentuk sastra lisan Banjar diatas yang hingga sekarang masih sering diperbincangkan, diperdebatkan atau dibicarakan bahkan diformulasikan oleh para peminat sejarah Baanjar baik dari dalam maupun luar negeri dalam bentuk dokumentasi yang tidak ternilai harganya adalah sastra lisan masyarakat Banjar berbentuk Hikayat Banjar yang sebenarnya juga memuat isi mengenai tutur candi dan hikayat Lambung Mnagkurat secara umum. Hikayat Banjar ini sendiri menceritakan tentang sejarah terlahirnya masyarakat Banjar serta unsur yang terkandung di dalamnya seperti bertahtanya raja –raja di Banjar dan keturunanya di Kalimantan , sebuah cerita yang diawali dengan kedatangan Ampu Jatmika putra saudagar Keling di Amuntai Tanjung Pura hingga berhasil membangun nagara Dipa di sana bersama putranya, Patih Lambung mangkurat dan Ampu Mandastana dengan raja kerajaan Dipa adalah putri Junjung Buih dan pangeran Suryanata dengan segala alur cerita yang mengiringinya

Keberminatan terhadap Hikayat Banjar khususnya dari orang-orang Eropah, yakni dibuktikan dengan adanya penyalinan-penyalinan mengenai Hikayat Banjar berdasarkan tuturan lisan masyarakat Banjar maupun dari manuskrif-manuskrif kuno lainnya yang pada umumnya menggunakan bahasa Melayu persuratan. Keberminatan orang-orang Eropah ini terhadap bentuk manuskrif yang mengandung teks asal dari tuturan lisan masyarakat Banjar sebelumnya, berwujud manuskrif London yang disalin di kota Waringin oleh Rafles sekarang tersimpan di museum British, Manusakrif Leiden or .3211 yang disalin oleh Van der Tuuk sekarang disimpan di perpustakaan Universiti Leiden, manuskrif Berlin yang disalin untuk Schoemann sekarang tersimpan di perpustakaam Universiti di Tubingen dan teks lainnya dalam tulisan Jawi yang disalin di Klaimantan atas permintaan Hardeland sekarang tersimpan di perpustakaan John Rylands di Manchester serta teks satunya ada di perpustakaan Leiden.

Akhirnya, karena banyak orang yang mendokumentasikan sastra lisan Banjar tentang hikayat Banjar ini dengan segala pemahamnnya, sudah tentu akhirnya versi yang hadir pun menjadi beragam adanya dengan judul yang berbeda pula, seperti penerbitan pertama yang memperbincangkan agak terperinci isi hikayat Banjar ialah Contribution to the History of Borneo (sumbangan kepada sejarawan Borneo) yang ditulis J.Hageman. Kemudian 1860 , A van derVen menerbitkan Notes on the Real of Bandjarmasin (catatan berkenaan kerajaan Banjarmasin).1861 J. Hageman menyusun makalah Historical Notes on Southern Borneo (Nota – nota sejarah berkenaan dengan Kalimantan selatan).1877F.S.A. DE Clercg menrbitkan Earliest History of Bandjarmasin (Sejarah terawal Banjarmasin). 1899. J.J.Meyer menerbitkan Contribution to Our Knowledge of the history of the former realm of Bandjar ( Sumbangan kepada pengetahuan kita tentang Sejarah bekas Kerajaan Banjar).1928 A.A.Cense membuat disertasi tentang The Chronicle of Bandjarmasin (Persejarahan Banjarmasin). Hingga pada tahun 1968 Johannes Jacobus Ras menulis dengan bahasa Inggris mengenai Hikayat Banjar yang berisi perbandingan hikayat Banjar berdasarkan dua resensi serta persamaam cerita yang dikandung di dalamnya dengan cerita yang berasal dari daerah Melayu lainnya.*** ( Staf Balai Bahasa Banjarmasin di Banjarbaru /dikutif dari Radar Banjar)

BAHASA MELAYU BERASAL DARI PEDALAMAN KALIMANTAN
Bahasa Melayu yang selama ini disebutkan berasal dari Champa Thailand, mulai terbantah dengan penelitian baru yang menyebutkan rumpun bahasa yang digunanakan di sebagian wilayah Indonesia itu justtu berasal dari pedalaman pulau Kalimantan.
Guru Besar Bahasa Indonesia pada FKIP Universitas Lambung Mangkurat (Unlam) Prof.Dr.H.Djantera Kawi, di Banjarmasin, Kamis menyebutkan asal rumpun bahasa Melayu dari Champa itu merupakan hasil penelitian pertama yang dilakukan peneliti bahasa dari Eropa yang kemudian banyak dijadikan literatur di perguruan tinggi.

Namun hasil penelitian terbaru dilakukan penelitian asal Amerika dipastikan rumpun Bahasa Melayu berasal dari daratan Borneo atau tepatnya di daerah pedalaman Pulau Kalimantan.

Dari hasil penelitian itu menunjukan Pulau Kalimantan punya andil dalam tatanan bahasa-bahasa di dunia dan orang-orangnya cukup dinamis, sehingga bahasanya yaitu Bahasa Melayu menyebar pula ke berbagai belahan benua.

Mengenai Bahasa Daerah Banjar, Kalsel, dia mengatakan, hal tersebut bila ditinjau dari segi dialek, terbagi tiga yaitu Bahasa Banjar Kuala, Banjar Hulu dan Pedalaman yaitu komunitas masyarakat adat terasing atau Suku Dayak.

Tapi kalau dilihat dari segi kebahasaan itu sendiri, berdasarkan penelitian, Bahasa Daerah Banjar terbagi 13 sub, yang dalam perkembangannya tak begitu nampak lagi, demikian Djantera Kawi.

Sedangkan hasil penelitian orang Eropa yang menyebutkan rumpun Bahasa Melayu dari Champa Thailand berkembang pada sejumlah perguruan tinggi di Indonesia hingga tahun 1960-an, katanya dalam pertemuan rutin “baracau” Lembaga Budaya Banjar (LBB) Kalimantan Selatan (Kalsel) di Banjarmasin.

“Baracau” berasal dari Bahasa Daerah Banjar, Kalsel, yang pengertiannya berbincang-bincang tanpa topik yang fokus, hanya sekadar tukar informasi dan pendapat yang digelar LBB dua kali dalam sebulan tiap tanggal 7 dan 21 di Sekretariat LBB-Gedung Sultan Suriansyah Banjarmasin.

Kesimpulan peneliti dari Eropa tersebut kelihatannya cukup beralasan, karena pengguna Bahasa Melayu itu di Champa yang menyebar ke Semenanjung Malaka dan juga berkembang ke Indonesia yang merupakan gugusan nusantara. ant

Judul asli : Tragedi Intan Trisakti

* Oleh : Tajuddin Noor Ganie, M.Pd (Mantan Pedulang Intan Th.1975-1979)

(Barito Post, 16, 18, & 19 Oktober 2010)

Intan Trisakti adalah nama intan sebesar 166,75 karat yang ditemukan oleh sekelompok pedulang intan di bawah pimpinan H. Madslam dkk (24 orang) di lokasi pendulangan intan Sungai Tiung Kec. Cempaka Kab. Banjar (Kalimantan Selatan) pada tanggal 26 Agustus 1965. Nama intan Trisakti diberikan oleh Presiden Soekarno.

Menurut versi piagam yang diberikan oleh Menteri Pertambangan RI (Armunanto), Intan Trisakti tidak dijual oleh para penemunya tetapi dipersembahkan kepada Paduka Yang Mulia Presiden Soekarno (Majalah Sarinah Jakarta). Atas jasa bakti persembahan itu permerintah berjanji akan memberikan balas jasa yang sepadan kepada H. Madslam dkk.

Balas jasa memang diberikan dalam bentuk ongkos naik haji untuk para penemu intan ditambah dengan sanak keluarganya, dan para pejabat yang terlibat. Jika dihitung secara keseluruhan, akumulasi uang balas jasa yang diberikan pemerintah kepada H. Madslam dkk ketika itu tercatat sebesar Rp. 3,5 juta. Padahal, konon menurut taksiran kasar, harga yang pantas untuk Intan Trisakti ketika itu adalah Rp. 10 triliun.

Minggu, 22 Agustus 1965, pukul 01.00-02,30 wita.

H. Madslam salah seorang pedulang intan di Kec. Cempaka bermimpi menggiring ratusan ekor kerbau menuju ke sebuah bukit. Begitu kerbau-kerbau itu sampai ke tempat yang dituju, H. Madslam terbangun dari tidurnya. H. Madslam ketika itu berstatus sebagai kepala kelompok pendulangan intan yang berjumlah 22 orang. Mereka ketika itu sedang menggarap sebuah lubang pendulangan di lokasi pendulangan intan Cempaka.

Pada waktu yang sama, H. Sarimanis, anak buah H. Madslam bermimpi tubuhnya ditindih seseorang yang bertubuh tambun. Ia hampir kehabisan nafas. Untunglah pada saat yang kritis itu datang bantuan seseorang. Orang itu menolongnya membebaskan dari tindihan orang yang bertubuh gempal. Setelah itu, H. Sarimanis terbangun dari tidurnya.

H. Masykur bin H. Jerman, anak buah H. Madslam, bermimpi melihat sejumlah mayat yang berserakan di bibir mulut lubang pendulangan intan yang sedang mereka garap sejak beberapa hari yang lalu.

H. Tahir, anak buah H. Madslam, bermimpi melihat dua andaru (meteor). Satu andaru jatuh ke dalam lubang pendulangan, dan andaru yang satunya lagi jatuh ke atap rumah H. Madslam.

Seorang ulama warga kota Kec. Cempaka yang tidak bersedia menyebutkan namanya bermimpi melihat kota Cempaka dilanda banjir bandang.

Kamis, 26 Agustus 1965, pukul 11.00 wita

H. Mastiah, seorang pendulang intan anak buah H. Madslam, sedang mengerjakan tugasnya sebagai pengayak batu dulangan (piantakan, bahasa Banjar). Batu dulangan yang masih dilekati tanah liat itu dibersihkan dengan air. Tangannya yang terlatih mengaduk-aduk batu dulangan itu. Batu-batu kecil yang lolos dari lubang ayakannya langsung masuk ke dalam linggangan yang sengaja dipasang di bawahnya.

Setelah bersih, batu-batu besar yang tersisa di dalam ayakan dibolak-baliknya dengan hati-hati, sementara itu matanya menatap dengan cermat ke arah tumpukan batu bersih yang sedang dibolak-baliknya itu.

Ternyata tidak ada intan besar yang tersangkut di ayakan itu. H. Mastiah sempat kaget setengah mati karena ia melihat karena ia melihat ada seekor ular kecil berwarna ungu sedang melingkar di antara batu-batu dulangan yang sedang diperiksanya itu. Ia bisa saja menimpuk ular kecil itu dengan batu besar yang ada di tangannya. Tapi ia tidak melakukannya, karena hal itu termasuk pantangan besar bagi seorang pendulang intan. H. Mastiah juga tidak mengusir ular itu dengan kibasan tangan atau dengan bahasa isyarat hus..hus..hus,karena hal itu juga tabu dilakukan.

H. Mastiah akhirnya nekad menangkap ular itu, namun aneh bin ajaib begitu berada di dalam genggamannya ular itu tiba-tiba berubah wujud menjadi batu kecubung berwarna ungu. Ia tidak jadi melemparkannya sebagaimana yang sudah diniatkannya tadi. H. Mastiah kemudian menyerahkan batu kecubung berwarna ungu itu kepada Syukri teman sekerjanya yang kebetulan duduk berdampingan dengannya. Ketika itu Syukri juga bertugas sebagai seorang pengayak batu seperti halnya H. Mastiah.

“Galuh..!!” pekik Syukri begitu mengamati batu kecubung berwarna ungu itu. Galuh adalah kata ganti untuk menyebut intan.

Sesaat kemudian terjadilah kegaduhan kecil di lokasi pendulangan intan itu. Orang-orang yang ada di sana saling berebutan ingin melihat benda yang disebut-sebut Syukri sebagai galuh itu.

Pukul 12.10 wita

Warga desa Sungai Tiung Kec. Cemapaka gempar. Mereka berlarian dari arah kampung menuju ke lokasi pendulangan intan. Mereka tampaknya seperti berlomba ada cepat tiba di lokasi pendulangan intan.

Rupanya dalam tempo singkat berita penemuan sebutir batu besar berwarna ungu yang diduga intan itu sudah sampai ke segenap penjuru desa. Sementara itu, di lokasi pendulangan intan, orang-orang sedang ramai mengerumbungi H. Madslam yang tengah memegang sebutir bat berwarna ungu sebesar bola pimpong.

Di antara orang-orang yang sedang berkerubung itu ada yang mengatakannya bukan intan, tapi Cuma batu kecubung, tetapi banyak juga mereka yang haqqul yakin itu intan.

“ini galuh. Asli galuh. Yakin ini pasti galuh..!!”

“Bukan, ini bukan galuh. Ini Cuma batu kecubung..!!”

“Galuh..!!”

“Bukan..!!”

Tiba-tiba di antara mereka ada yang mencabut mandau dengan maksud membelah batu ungu itu menjadi dua. Jika belah bearti batu, jika tidak bearti intan.

Tapi, orang-orang serentak mencegahnya karena hal itu tidak akan menyelesaikan masalahnya malah menimbulkan masalah.

“Sudah..sudah, bagaimana kalau kita semua sama-sama pergi ke rumah Pak Kades H. Anang Syachruni saja. Biar beliau yang memutuskan apakah benda ini intan atau Cuma batu kecubung”

“Akuuuurr..!!”

Mereka lalu berbondong-bondong meninggalkan lokasi pendulangan intan menuju ke rumah Pak Kades yang terletak di jantung kota Cempaka.

Pukul 14.00 Wita

Begitu rombongan H. Madslam dan kawan-kawan tiba di rumah H. Anang Syachruni, rumah Pak Kades itu langsung penuh sesak. Penduduk tidak hanya berdesak-desakan di dalam rumah tetapi juga di sekeliling bagian luar rumah. Rumah Pak Kades ketika itu seperti kapal yang tengah berada di tengah-tengah lautan manusia.

H. Anang Syachruni ternyata tidak dapat memastikan apakah batu ungu itu intan atau Cuma batu kecubung. Mereka kemudian bersepakat untuk membawa batu ungu itu ke hadapan Bupati Banjar H. Basri BA.

Pukul 17.00 wita

Setelah segala sesuatunya siap, mereka berangkat secara berombongan ke rumah dinas Bupati Banjar yang terletak di jantung kota Martapura.

Mereka yang berangkat antara lain : H. Madslam, H. Jinu, H. Hassan, H. Anang Syachruni, H. Syukur dan Sersan Rahmat (sebagai pengawal mereka).

Pukul 19.00 wita

Rombongan H. Madslam diterima langsung oleh Bupati Banjar H. Basri, BA. Begitu melihat batu ungu itu, Bupati Banjar kemudian menelepon anggota Panca Tunggal. Mereka diminta datang untuk menjadi saksi penemuan batu ungu yang sangat menakjubkan itu. Selain itu Bupati Banjar juga memanggil seorang ahl intan untuk memastikan apakah batu ungu itu intan atau Cuma batu kecubung.

Tidak lama kemudian, orang-orang yang dpanggil Bupati Banjar berdatangan satu persatu. Mereka adalah Kapten Inf. R. Soeparno (Komandan Kodim 1006 Martapura), AKBP Aridjas Syarif (Komandan Resort Kepolisian Banjar), Dahlan (Kepala Kejaksaan Negeri Martapura), Poedjastoeti (Ketua Front Nasional Banjar), dan H. Hasnan (Camat Banjarbaru), dan ahli intan.

Begitu tiba, ahli intan segera melakukan pemeriksaan dengan menggunakan alat penguji intan yang dibawanya. Tidak lama kemudian ahli intan memastikan bahwa batu ungu itu adalah intan, bukan batu kecubung.

Mendengar penegasan itu, H. Madslam dan kawan-kawan segera mengucap syukur dan beberapa orang diantaranya langsung sujud syukur di kediaman dinas Bupati Banjar.

Kamis, 26 Agustus 1965

Pukul 21.00 wita

Tiba-tiba mereka yang berkumpul di rumah dinas Bupati Banjar dikejutkan oleh teriakan kebakaran. Ternyata, yang terbakar adalah Pasar Batuah, yakni pasar bertingkat duayang terletak persis di seberang jalan rumah dinas Bupati Banjar. Bupati Banjar memutuskan agar intan dititipkan di Kantor Resort Kepolisian Banjar, karena sangat riskan jika intan itu dibawa pulang kembali ke Cempaka pada malam hari itu juga. Salah-salah mereka akan dirampok orang ditengah jalan.

H. Madslam tidak setuju dengan keputusan Bupati Banjar. Mereka ingin membawa intan itu pulang kembali ke Cempaka pada malam itu juga. Mereka yakin tidak akan terjadi apa-apa di tengah jalan. Apalagi mereka ketika itu dikawal oleh anggota polisi (Sersan Rahmat).

Namun keputusan Bupati Banjar didukung oleh anggota Panca Tunggal lainnya. Tidak ada pilihan bagi H. Madslam dan kawan-kawan kecuali menitipkan intan itu di Kantor Resort Kepolisian Banjar.

Penitipan itu disertai dengan tanda terima yang ditandatangi oleh Bupati Banjar, Dandim, Danres Kepolisian Banjar, dan disaksikan oleh 6 orang saksi yang ikut membubuhkan tandatangannya. Pada kesempatan itu Danres Kepolisian Banjar berjanji akan membawa intan titipan itu ke Cempaka untuk diserahkan kembali kepada para pemiliknya yang dalam hal ini diwakili oleh H. Madslam pada 28 Agustus 1965.

Sabtu, 28 Agustus 1965

Pukul 07.00 wita

Warga kota Cempaka sudah berkumpul di alun-alun kota. Suasana kota Cempaka tampak hiruk pikuk oleh kehadiran warga kota yang berdatangan dari segenap pelosok kota. Mereka ingin menyaksikan peristiwa langka yang tak mungkin terulang lagi.

Hari itu, H. Madslam selaku wakil pemilik akan menerima kembali intan temuan mereka yang selama dua hari berturut-turut dititipkan di Kantor Resort Kepolisian Banjar di Martapura. Sesuai janji yang diucapkan Danres Kepolisian Banjar, intan itu akan diantarkan dan diserahkan langsung kepada H. Madslam di hadapan warga kota Cempaka.

Pukul 11.00 wita

Rombongan Danres Kepolisian Banjar tiba di alun-alun kota Cempaka. Mereka dielu-elukan oleh warga kota yang berkumpul di tempat itu. Danres Kepolisian Banjar kemudian memperlihatkan intan yang dipegangnya kepada warga kota Cempaka. Tapi, intan itu ternyata tidak diserahkan kembali kepada H. Madslam sesuai janji Danres Kepolisian Banjar.

Pada kesempatan itu diumumkan bahwa Presiden Soekarno telah memerintahkan agar intan segera dibawa ke Jakarta. Tiga orang telah ditunjuk untuk membawanya ke Jakarta, yakni Bupati Banjar, Danres Kepolisian Banjar, dan H. Madslam.

Pukul 12.00 wita

H. Madslam dan para penemu intan lainnya berunding untk merumuskan bagaimana caranya agar beberapa orang di antara mereka dapat ikut srta berangkat ke Jakarta.

Pukul 13.00 wita

Direktur Utama BPU Pertambun Jakarta mengirim surat kepada Panca Tunggal Kabupaten Banjar bahwa intan temuan H. Madslam dkk akan dibeli pemerintah. Harga belinya akan ditetapkan dengan setepat-tepatnya setelah pemerintah mendapatkan penjelasan yang diperlukan dari para ahli intan dari dalam dan luar negeri.

Surat itu dibawa langsung oleh Do’a Sulaiman selaku utusan BPU Pertambun Jakarta yang sengaja dikirim ke Banjarmasin dengan tugas khusus menjemput intan temuan H. Madslam dkk. Keberangkatannya ke Banjarmasin dikawal oleh satu tim polisi khusus.

Minggu, 29 Agustus 1965

Pukul 06.00 wita

H. Madslam, H. Hasnan, H. Anang Syachruni, dan H. Hasyim berangkat ke lapangan terbang Ulin Banjarbaru. Mereka ingin bergabung dengan rombongan Bupati Banjar, dan Danres Kepolisian Banjar yang akan berangkat ke Jakarta pada hari itu juga.

Pukul 10.00 wita

Ternyata kursi yang tersedia di pesawat terbang Garuda Indonesia Airways tujuan Jakarta sudah terisi penuh. Mendengar penjelasan itu H. Madslam jatuh pingsan. Situasi di lapangan terbang Ulin Banjarbaru menjadi mencekam karenanya.

Pada saat itulah pesawat terbang Garuda Indonesia Airways yang membawa rombongan Do’a Sulaiman tiba di lapangan terbang Ulin Banjarbaru. Kepada Bupati Banjar, Danres Kepolisian Banjar, dan H. Madslam dkk diberitahukan bahwa intan itu akan dibeli pemerintah pusat dengan harga yang pantas.

Penetapan harga yang pantas itu akan dilakukan pemerintah setelah mendengar penjelasan para ahli mengenai kualitas fisik intan dan perkiraan harga jualnya di pasaran internasional. Namun, sebelum kesepakatan harga tercapai, pemerintah akan segera memberikan uang persekot sebesar Rp. 200 juta.

Mendengar penjelasan Do’a Sulaiman itu, H. Madslam siuman. Pada saat itulah intan diserahkan kepada Do’a Sulaiman. Oleh Do’a Sulaiman intan itu dititipkan untuk disimpan di dalam tas milik isteri Irjenpol Soekahar (Panglima Daerah Kepolisian Kalselteng) yang kebetulan juga akan berangkat ke Jakarta dengan pesawat yang sama.

Pukul 12.00 wita

Sesaat sebelum naik ke pesawat terbang Garuda Indonesia Airways, lagi-lagi H. Madslam jatuh pingsan. Ia terpaksa digantikan oleh H. Hasyim pamannya sendiri. H, Madslam siuman kembali ketika roda pesawat terbang terangkat dari landasan pacu lapangan terbang Ulin Banjarbaru. Namun, tidak berapa lama kemudian H. Madslam pingsan lagi.

Pukul 12.30 wib

Pesawat terbang Garuda Indonesia Airways yang membawa intan hasil temuan H. Madslam dkk mendarat di lapangan terbang Kemayoran Jakarta. Intan kemudian dibawa ke rumah Soetjipto Joedodihardjo untuk dititipkan di sana.

Senin, 30 Agustus 1965

Pukul 12.00 wita

`   H. Madslam, H. Hasnan, dan H. Anang Syachruni berangkat ke Jakarta dengan menumpang pesawat terbang yang tinggal landas di lapangan terbang Ulin Banjarbaru. Ternyata, pesawat terbang Garuda Indonesia Airways yang mereka tumpangi tidak langsung terbang ke Jakarta, tetapi singgah dulu di Surabaya. Mereka terpaksa menginap di Surabaya.

Pukul 12.00 wib

Sementara itu, di Jakarta berlangsung pertemuan antara Presiden Soekarno dengan rombongan pembawa intan hasil temuan H. Madslam dkk. Pada kesempatan itulah intan diserahkan kepada Presiden Soekarno oleh Soetjipto Joedodihardjo dengan disaksikan langsung oleh rombongan pembawa intan yang datang dari daerah Kalsel.

Selasa, 31 Agustus 1965

Pukul 12.00 wib

H. Madslam, H. Hasnan, dan H. Anang Syachruni berangkat ke Jakarta dengan menumpang pesawat Garuda Indonesia Airways yang tinggal landas di lapangan terbang Surabaya.

Pukul 12.30 wib

H. Madslam, H. Hasnan, dan H. Anang Syachruni tiba di Jakarta. Mereka disambut oleh petugas dari BPU Pertambun Jakarta. Mereka kemudian diinapkan di Mess Tambang Batubara Jakarta.

Pukul 19.00 wib

H. Madslam, H. Hasnan, dan H. Anang Syachruni dijamu makan malam di sebuah rumah makan di Jalan Bungur Besar Jakarta. Di tempat itu mereka bertemu dengan Irjenpol Soekahar (Pangdak Kalselteng), H. Basri, BA (Bupati Banjar), AKBP Aridjas Syarif (Danres Kepolisian Banjar), dan H. Basuni (Camat Astambul).

Pada kesempatan itulah H. Madslam diberitahukan bahwa intan sudah diserahkan kepada Presiden Soekarno pada hari Senin, 30 Agustus 1965.. (Bersambung)

Rabu, 1 September 1965

H. Madslam dan rombongan dibawa berkeliling kota Jakarta. Mereka diinapkan di Hotel Indonesia, hotel terbesar dan termewah di tanah air kita ketika itu. Setelah itu mereka dibawa berkeliling kota Bandung.

Pada kesempatan berada di Jakarta ini, H. Madslam sempat meminta pihak yang berkentingan untuk membantu bagaimana caranya supaya mereka dapat bertemu langsung dengan Presiden Soekarno.

Sesuai dengan prosedur resmi, pihak protokoler istana ketika itu berjanji akkan menghubungi para ajudan supaya H. Madslam dan rombongannya dapat bertemu Presiden Soekarno. Tapi, karena padatnya jadwal acara yang harus dijalani Presiden Soekarno, maka H. Madslam dan rombongannya tak kunjung dipanggil untuk bertemu.

Kamis, 2 September 1965

Presiden Soekarno memberinama Intan Trisakti untuk intan hasil temuan H. Madslam dkk.

Senin, 6 September 1965

Setelah berada di Surabaya, Jakarta, dan Bandung selama 7 hari, H. Madslam dan rombongannya hari ini tiba kembali di kota Cempaka.

Rabu, 29 September 1965

H. Madslam hari ini menerima uang sebesar Rp. 200 jt dari pemerintah pusat. Uang yang diterimanya itu merupakan uang pembayaran tahap pertama untuk pembelian Intan Trisakti. Pada hari itu juga uang dimaksud dibagi rata kepada mereka yang berhak menerimanya.

Kamis, 30 September 1965

Terjadi huru-hara politik di Jakarta. PKI melakukan penculikan atas 7 orang petinggi TNI AD. Para petinggi TNI AD itu kemudian dibunuh dengan cara-cara yang sadis di suatu tempat di Jakarta yang disebut lubang buaya.

Jumat, 1 Oktober 1965

Panglima Kostrad Mayjend Soeharto berhasil menumpas habis G30.S/PKI yang dipimpin oleh Letkol Untung dari Resimen Tjakrabirawa.

13 Desember 1965

H. Madslam dkk kelimpungan, tanpa diduga sama sekali pemerintah pusat melakukan sanering, yakni memotong nilai uang dari Rp. 1.000,- menjadi Rp. 1,- (Lembaran Negara Nomor 102/1965). Uang pembayaran harga intan yang baru mereka terima langsung merosot nilainya menjadi Rp. 200 ribu saja.

Pebruari 1966

Presiden Soekarno berhasil meredakan suhu politik yang sempat memanas setelah meletusnya huru-hara G30.S/PKI. Kesempatan ini digunakan oleh pemerintah pusat untuk membayar harga beli Intan Trisakti pada tahap kedua sebesar Rp. 200 riba uang baru yang setara dengan Rp. 200 juta uang lama. Pada hari itu juga uang dimaksud dibagi rata kepada mereka yang berhak menerimanya.

Maret 1966

H. Madslam menerima uang sebesar Rp. 960 ribu uang baru yang setara dengan Rp. 960 juta uang lama dari pemerintah pusat. Uang yang diterimanya itu merupakan uang pembayaran tahap ketiga untuk pembelian Intan Trisakti. Tapi, uang ini tidak dibagikan karena merupakan uang yang harus mereka bayarkan untuk ongkos naik haji secara berombongan bagi 86 orang calon jemaah haji.

Rinciannya 22 orang berstatus sebagai anggota kelompok pendulang intan penemu Intan Trisakti, 22 orang isteri-isteri mereka, dan sisanya adalah calon jemaah haji yang berstatus sebagai pemilik tanah, pemilik pompa, pemilik peralatan lainnya, para pejabat Pemda Kalsel, dan para pejabat Departemen Pertambangan Jakarta (yang juga berangkat beserta isteri/suaminya masing-masing).

15 Juni 1966

Mulyono, pejabat Bank Indonesia Jakarta, hari ini menyerahkan Intan Trisakti kepada Dr. IC Berg. Penyerahan Intan Trisakti dilakukan di anak tangga pesawat terbang KLM yang sudah siap tinggal landas dari Bandara Kemayoran Jakarta menuju ke Den Haag, Negeri Belanda. Menurut rencana Intan Trisakti akan diperiksa oleh tim ahli dari NV Asecher Belanda.

9 Nopember 1966

Tim ahli NV Asecher Belanda menemukan cacat fisik pada Intan Trisakti. Ada fleks (kotoran) yang melekat di dalamnya. Fleks itu harus dibuang lebih dulu. Selain itu, pihak NV Asecher juga menyarankan agar Intan Trisakti dipotong-potong menjadi beberapa butir. Alasannya, jauh lebih mudah menjual beberapa butir intan berukuran kecil, daripada menjual sebutir intan berukuran besar.

Pemerintah pusat menyetujui semua usulan NV Asecher itu. Intan Trisakti kemudian dipotong-potong hingga menjadi beberapa butir. Butiran terbesar konon berukuran 60 karat. Intan ini kemudian dibeli oleh seorang pengusaha Jerman sebagai hadiah untuk isterinya. Butiran intan lainnya yang berukuran lebih kecil juga dibeli orang tak lama setelah selesai dipotong dan digosok oleh tim ahli NV Asecher Belanda.

Desember 1966

H. Madslam menerima uang sebesar Rp. 2.140.000,- dari pemerintah pusat. Uang yang diterimanya ini merupakan uang pembayaran tahap ke empat (tahap terakhir) untuk pembelian Intan Trisakti. Pada hari itu juga uang dimaksud dibagi rata kepada mereka yang berhak menerimanya.

Tahun 1973

H. Madslam berangkat ke Jakarta untuk menemui seorang pejabat BPU Pertambun yang berjanji akan membantunya menuntut pembayaran tambahan kepada pemerintah pusat atas harga penjualan Intan Trisakti miliknya.

H. Madslam ketika itu Cuma menerima surat penghargaan yang diberikan oleh Menteri Pertambangan RI Armunanto (Anggota Kabinet Seribu Menteri).

Setelah sempat menggelandang selama 2 hari di Istora Senayan Jakarta, H. Madslam akhirnya berhasil pulang kembali ke kota Cempaka. Biaya untuk pulang kembali ke kota Cempaka itu diperolehnya dari bantuan Ridwan Machmud, pejabat BPU Pertambun Jakarta yang bersimpati kepada nasib buruknya.

19 Juni 1975

H. Madslam dkk mengangkat Antara Hutauruk sebagai pengacara yang akan bertindak atas nama mereka dalam usaha menuntut tambahan pembayaran atas harga jual beli Intan Trisakti kepada pemerintah pusat.

Langkah pertama yang ditempuh Antara Hutauruk adalah mengirim surat kepada Direktur Utama BPU Pertambun Jakarta. Isi surat itu adalah pihak klien yang diwakilinya menuntut tambahan pembayaran atas harga jual beli Intan Trisakti kepada pemerintah pusat.

19 Agustus 1975

Antara Hutauruk mengirim surat kepada Presiden Soeharto. Isi surat itu adalah pihak klien yang diwakilinya menuntut tambahan pembayaran atas harga jual beli Intan Trisakti kepada pemerintah pusat.

2 Oktober 1975

Antara Hutauruk menerima balasan surat dari Inspektur Jenderal Departemen Pertambangan RI (Laksamana Muda JU Sulamet). Surat balasan itu berisi penjelasan bahwa masalah pembayaran harga jual beli Intan Trisakti telah lama diselesaikan oleh pemerintah pusat.

19 Oktober 1975

Antara Hutauruk mengirim surat kepada Inspektur Jenderal Departemen Pertambangan RI (Laksamana Muda JU Sulamet). Melalui surat yang dikirimkannya itu Antara Hutauruk mengajukan sejumlah argumen dan fakta-fakta yang mendukung klaimnya bahwa kliennya sangat layak untuk mendapatkan uang tambahan pembayaran dari pemerintah pusat atas transaksi jual beli Intan Trisakti telah lama diselesaikan oleh pemerintah pusat.

28 Oktober 1975

Sekretaris Menteri Negara Penertiban Aparatur Negara mengirim surat kepada Gubernur Kalsel. Surat itu berisi penegasan bahwa masalah pembayaran harga jua beli Intan Trisakti telah lama diselesaikan oleh pemerintah pusat.

19 Januari 1976

Antara Hutauruk mengirim surat kepada Presiden Soeharto dan Ketua Dewan Perwakilan Rakyat. Isi surat itu adalah pihak klien yang diwakilinya menuntut tambahan pembayaran atas harga jual beli Intan Trisakti kepada pemerintah pusat.

26 Pebruari 1976

Antara Hutauruk menerima surat balasan dari Mudjono, SH, Sekretaris Jenderal DPR RI. Surat itu berisi penegasan bahwa masalah pembayaran harga jual beli Intan Trisakti telah lama diselesaikan oleh pemerintah pusat.

16 Nopember 1976

Antara Hutauruk mengirim surat kepada Sekretaris Jenderal DPR RI di Jakarta. Melalui surat yang dikirimkannya itu Antara Hutauruk mengajukan sejumlah argumen dan fakta-fakta yang mendukung klaimnya bahwa kliennya sangat layak untuk mendapatkan uang tambahan pembayaran dari pemerintah pusat atas transaksi jual beli Intan Trisakti telah lama diselesaikan oleh pemerintah pusat.

5 Januari 1978

Anatar Hutauruk kembali mengirim surat kepada Presiden Soeharto. Isi surat itu adalah pihak klien yang diwakilinya menuntut tambahan pembayaran atas harga jual beli Intan Trisakti kepada pemerintah pusat.

Majalah Dialog Jakarta menurunkan tulisan bersambung tentang kisruhnya dan belum tuntasnya pembayaran harga jual beli Intan Trisakti oleh pemerintah pusat kepada H. Madslam dkk.

7 Nopember 1979

Antara Hutauruk mengundurkan diri sebagain pengacara H. Madslam dkk.

=

FOTO2 BUDAYA
——————–
bagasing(salim fb)mananjang (datoe boekit fb)
aruh bukit (datoe boekit) Aruh bukit (datoe boekit)
Gambar alat2 pertanian suku banjar
——————————————-
BERBAGAI TULISAN BUDAYA BANJAR
—————————————————

Warisan Tanpa PewarisSecara bergantian, empat orang lelaki Dayak Meratus, Kabupaten Hulu Sungai Tengah, Kalimantan Selatan itu mengayunkan tongkat bambu panjang di tangan kanan mereka. Ayunannya bergerak naik turun dengan irama teratur dan konstan, membuat ujung bambu yang di bentuk sedemikian rupa itu mengeluarkan nada-nada indah.Saat seorang dari mereka berpindah posisi, yang lain segera menggantikannya. Begitu pula dengan posisi bambu yang kadang diayunkan dengan tangan kanan, terkadang dengan tangan kiri.

Ayunan-ayunan tongkat bambu yang berfungsi layaknya alat musik itu, membentuk sebuah lubang kecil pada tanah ketika pangkalnya dihentakkan. Begitu lubang terbentuk, dengan cekatan kaum wanita memasukkan benih padi kedalamnya.

Itulah kesenian khas masyarakat adat Dayak Meratus yang mengiringi prosesi menanam padi atau biasa di sebut “manugal”. Sebuah prosesi kebudayaan dan tradisi berupa tarian dengan disertai hentakan-hentakan batang bambu yang mampu menghasilkan nada-nada indah itu, merupakan penggiring kegiatan bercocok tanam yang di sebut Bahilai.

Masyarakat adat Dayak Meratus tak memerlukan organ atau biola untuk dapat menciptakan komposisi-komposisi musik yang memikat. Mereka yang dekat dan hidup berdampingan dengan alam, amat pandai beradaptasi dan memanfaatkannya, bahkan dalam urusan bermusik.

Melalui media sebatang bambu yang pada bagian ujungnya di buat sedemikian rupa agar menghasilkan bunyi, bagian pangkalnya difungsikan sebagai alat pembuat lubang pada tanah.

Prosesi itu dilakukan bukan tanpa maksud dan tujuan. Bukan pula sekedar bersenang-senang atau pengusir rasa lelah belaka.

Lebih jauh lagi, padi bagi masyarakat adat Dayak Meratus adalah sesuatu yang suci sedang huma yang di garap adalah ibu pertiwi tempat menggantung harap. Karena itu, proses menanam padi dilakukan dengan keceriaan, kegembiraan dan beribu pengharapan.

Tapi jangan harap menemukan pemandangan indah nan eksotik itu lagi sekarang ini. Datanglah ke kawasan Kecamatan Batang Alai Timur (BAT) misalnya dan bertanyalah kepada pemuda Dayak disana. Tahukah mereka dengan Bahilai? Mohon jangan kecewa bila jawabannya adalah TIDAK TAHU.

Keadaan kini telah berubah. Gempuran ilmu dan teknologi dengan beragam kemudahannya, membuat Facebook mungkin lebih di kenal oleh mereka. Bahilai, kini tinggal sebuah kata yang pernah diucapkan dan kenangan bagi para tetuha masyarakat adat Dayak Meratus di sana.

Menyedihkan memang, ketika sebuah kebudayaan luhur yang luar biasa dan tidak semua orang dapat melakukannya, harus tersingkir dan terkalahkan oleh zaman. Bahilai kini bagi masyarakat adat Dayak Meratus hanyalah sebuah warisan yang ironisnya tidak seorangpun mewarisinya. Miris…

Kondisi itu menimbulkan keprihatinan seorang Mido Basmi, tokoh adat Dayak Meratus di Desa Hinas Kanan, Kecamatan Hantakan.

“Saat ini, budaya dan kesenian adat Dayak Meratus seperti Tari Bagintor, Bakanjar dan Babansai hanya di gelar saat ada Aruh Bawanang atau upacara adat lainnya, yang pelaksanaannya terkadang hanya sekedar simbol ritual adat, tanpa makna,” ujarnya sambil menghela nafas, tercekat.

Paling menyedihkan tentu saja adalah nasib Balihai yang tak lagi di kenal generasi muda Dayak Meratus di sana.

Prihatin akan punahnya budaya dan kesenian itu, mendorong ia membentuk sebuah kelompok seni yang mengajarkan berbagai kesenian dan prosesi adat kepada generasi muda Dayak Meratus.

Namun sayangnya hal itu tak bertahan lama. Bahkan kelompok itu bubar sebelum padi tugalan sempat tercicipi.

Saat mengelola kelompok seni tersebut, pernah ia mencoba meminta bantuan kepada pemerintah daerah setempat untuk pengadaan kostum. Namun permintaan itu tidak pernah ditanggapi meski yang di minta hanya sekedar baju Kabaya (Kebaya), sarung dan Kakamban (selendang) sebagai perlengkapan panggung. Itu saja.

Seiring bubarnya satu-satunya kelompok seni yang pernah ada itu, kini tak ada lagi upaya pelestarian dan pengembangan seni budaya adat Dayak Meratus, hingga di ambang kepunahan.

Koordinator Lembaga Pemberdayaan Masyarakat Adat (LPMA) Borneo Selatan, Juliade, menganggap hilang dan tidak dikenalnya lagi kesenian serta budaya adat disebabkan dua faktor, yaitu internal dan eksternal.

Faktor internal disebabkan oleh masyarakat adat itu sendiri dan faktor eksternal berupa dukungan dari pemerintah daerah setempat.

“Faktor internal, merupakan sikap dan kepedulian dari generasi muda Dayak Meratus yang kini enggan melestarikan kesenian dan budayanya sendiri,” ujarnya.

Dalam hal ini, kemajuan ilmu dan tekhnologi ikut berperan menjadi salah satu pendorong sikap apatis pada generasi muda Dayak Meratus.

Kemajuan ilmu dan tekhnologi menyebabkan kesenian dan budaya luar serta pengaruh asing sangat mudah masuk untuk kemudian merasuk dalam diri generasi muda Dayak Meratus. Lambat laun, hal itu mempengaruhi generasi muda Dayak Meratus untuk mengikutinya, termasuk gaya hidup.

Andai saja pengaruh asing yang masuk dijadikan penambah pengetahuan, tentu akan lebih arif dan bijaksana.

“Namun yang terjadi adalah, yang diikuti hanya style-nya saja tanpa peduli apakah cocok atau tidak dengan keseharian dan budaya yang ada. Sehingga yang terjadi sekarang ini, bahkan banyak dari mereka yang malu mengaku sebagai orang Dayak,” Juliade menyayangkan.

Peran dan dukungan pemerintah daerah setempat juga dinilai sangat kurang, bila tidak ingin dikatakan tidak ada sama sekali.

Hal itu di perparah oleh lembaga-lembaga yang mengayomi masyarakat adat Dayak lebih berorientasi pada perbaikan ekonomi, taraf hidup, lingkungan dan pengakuan dari masyarakat luar. Bahkan, LPMA Borneo Selatan sendiri dalam hal ini juga memiliki program kerja yang lebih cenderung kearah  itu.

Penyebab dari kurangnya konsentrasi program untuk masalah kesenian dan budaya, sedikit banyak dipengaruhi oleh pandangan dan anggapan masyarakat luar terhadap masyarakat adat, dimana mereka seringkali di anggap tertinggal, terkebelakang dan primitif.

Mido Basmipun mengatakan hal serupa. “Akhirnya lembaga dan masyarakat adat, disibukkan oleh upaya serta keinginan untuk membuktikan keberadaan mereka sehingga melupakan urusan lain di luar itu,” ujarnya.

Bagitupula dengan masyarakat adat yang telah terpelajar, mereka lebih terkonsentrasi kepada satu titik masalah hingga nilai budaya dan seni tertinggalkan.

Ada secercah harapan ketika kemudian LPMA Borneo Selatan merencanakan penambahan Divisi baru di tubuh lembaga mereka. Akan di bentuk Divisi khusus untuk menangani masalah kesenian dan budaya adat dengan harapan, Dinas Pendidikan setempat dapat memasukkannya sebagai materi dalam kurikulum Muatan Lokal.

Menyoal masalah itu, Kadisdik setempat, Agung Parnowo mengaku hanya dapat mengakomodir bila memang diprogramkan oleh Dinas Pemuda Olah Raga Seni Budaya dan Pariwisata (Disporabudpar).

“Dalam kurikulum, kita hanya mengajarkan budaya Indonesia secara global, termasuk budaya masyarakat adat Dayak. Namun bila Disporabudpar bisa memprogramkannya secara khusus, tidak tertutup kemungkinan hal itu bisa dilakukan,” ujarnya menggantung.

Sementara itu, Kepala Disporabudpar setempat, Muhammad Yusuf mengaku saat ini pihaknya tengah melakukan pendataan tentang potensi kekayaan daerah, termasuk seni dan budaya.

“Kita tengah menyusun program pengembangan seni, budaya dan pariwisata daerah yang didalamnya termasuk seni dan budaya masyarakat adat sehingga dapat diketahui kesenian dan budaya apa yang  dapat dikembangkan atau perlu penanganan,” ujarnya.

Namun hal itu dapat terwujud bila masyarakat adat setempat ikut berperan serta menginformasikan dan mendukungnya serta turut peduli.

Sekarang, terpulang kepada masyarakat adat Dayak Meratus itu sendiri, adakah sebuah keinginan dalam diri mereka untuk melestarikan adat istiadat, seni dan budaya nenek moyang? Bila memang ada terbersit keinginan itu, harapan kiranya dapat dilambungkan mengingat peluang yang diberikan pihak Disporabudpar HST.

Setidaknya, tak salah bila masyarakat adat menagih janji dikemudian hari. Walaupun untuk sementara ini, pemuda Dayak Meratus nampaknya lebih menikmati jelajah Facebook dibandingkan ikut “batandik” (prosesi adat berupa tarian).

Alhasil, Bahilaipun kini terlupakan. *_rasta

note: Bahilai juga di kenal oleh masyarakat adat Dayak Meratus di Rantau, Tapin dan Kandangan, HSS (Dayak Loksado) serta Dayak di Balangan dan Tabalong (Dayak Pitap), namun dengan nama yang berbeda.

*) Tulisan ini pernah di muat di Tabloid Urbana Edisi Maret 2010 dan di posting oleh berbagai media on line nasional setelah di tayangkan oleh Perum LKBN Antara pada 19 Agustus 2010, Rasta Al Banjari

 

 

Mudahan bisa berguna silahkan Like & Share …
1. Bubungan Tinggi Lokasi di Jl. Batuah Martapura
2. Gajah Baliku Lokasi di Telok Selong Martapura
3. Gajah Manyusu Lokasi di Sungai Jingah Banjarmasin
4. Balai Bini Lokasi di Desa Lihung Karang Intan
5. Balai Laki Lokasi di Pasayangan Martapura
6. Palimbangan Lokasi di Sungai Jingah Banjarmasin
7. Palimasan Lokasi di Desa Lihung Karang Intan
8. Cacak Burung Lokasi di Desa Amawang Kandangan
9. Tadah Alas Lokasi di Sungai Jingah Banjarmasin

rumah banjar

16 Tanggapan

  1. Senang berkunjung blog Saudara. Harapan lebih ditingkatkan lagi. Gali terus tentang budaya banjar.
    Semoga sukses

  2. Tulisan Bapak sangat lengkap dan jelas,banyak informasi yang saya dapat setelah membaca tulisan Bapak,,makasih pak atas pengetahuannya…

  3. kal-sel ok bengets… mulai dari wayah ini kita rajin-rajin pakai sasirangan wan bakreasi baulah karajinan nang lain biar kita dipinandui dampai kabanua urang jua…

  4. asa ramik banar mambaca blog nih. ulun ni dari banjar salangor, malaysia. amun di sungai basar, salangor tu , banyak lagi urang basurah banjar.. cina yang bakadai gin ada yang bisa basurah.. taga yang anum bilang ngalih handak tahagak yang bisa basurah

  5. kapan Lagi ada pameran budaya kesenian banjar n pewajiban menggunakan kain sasirangan bwt urang banjar… maklum bgt kalo urang yg dkampung n dikota kadang lupa apa lagu n bagaimana kesenian n budaya banjar tsb…. sbg anak muda kita rus sadar akan berbagai ancaman kehilangan identitas…

  6. terima kasih Pak atas tulisannya, ibu dari ibu saya (nenek) adalah orang Banjar (sudah meninggal), kediamannya di desa tg. pasir langkat Sumatera Utara. dan didesa tsb adalah mayoritas orang Banjar. namun sayang orang2 mudanya seperti kehilangan semangat untuk berbahasa banjar dalam kehidupan sehari2. dan semoga dgn adanya tulisan ini, membuat saya lebih mengerti adat dan budaya dari leluhur saya. sekali lagi terima kasih saya ucapkan.

  7. Saya orang Banjar dari Krian, Perak, Malaysia. Sesetengah perkataan di atas tidak lagi digunakan di kampung saya walaupun majoritinya adalah urang Banjar (asalnya dari Tanjung dan Haruai – Banjar hulu). Contohnya “puga” tidak pernah saya dengar. tapi kami gunakan perkataan “hanyar” maknanya baru.
    Perkataan “bibit” juga saya tidak pernah dengar dan gunakan.

  8. Alhamdulillah, tengok laman (blog) ini, maka akan ada silaturahmi antara Banjar Malaysia dan Banjar Kalimantan

  9. alhamdulillah…dengan membaca tulisan saudara Hasan, barulah saya faham kenapa urang Banjar ramai yg melarikan diri ke Sumatera. Selama ini saya
    tidak tahu akan sejarah kesultanan Banjar. Terima kasih tidak terhingga saya ucapkan kpd saudara Hasan.

    Tanya boleh..? Adakah kain ‘Sasirangan’ itu ditenun
    sendiri oleh kaum Banjar…? alangkah hebatnya urang Banjar di Kalimantan. Saya sangat kagum..!!

    Saya menantikan novel novel dalam bahasa Banjar.

    Terima kasih.

    • Kain sasirangan, untuk kainnya memang di datangkan dari daerah lain, tetapi pewarnaan atau menyirang jelas budaya setempat

  10. rasa marinding bulu awak mambaca tulisan pian, mudah-mudahan samakin banyak pangatahuan buday nenek moyang kita semakin cinta kita lawan banua,,,,,salut ukun lawan pian,,,,

  11. Alhamdulillah ikam Padlan nai, mau membaca blog aku mudahan bermanfaat lawan kam dan lainnya

  12. assalamualaikum
    ka, kalo nya pian punya video tarian kuda gipang banjar karya pa Sirajul Huda tolong kirimkan ke email ulun…. ksih kbr k facebook ulun email x itu jua. soalnya jarang buka mail… di tunggu scepatnya kalo ada… semoga koment ini tebaca pian nah… penting.. damini jua ka lah tolong banar kalo ada… lapah mencari kdd dpt2 video x… mksh sblm x. wassalam

  13. ..Terima kasih atas informasi bapak berkenaan budaya banjar…saya memperoleh banyak pengetahuan berkenaan sastera ,kesenian dan leluhur saya…sememang nya saya asal dari Krian,Perak Malaysia…moga bapak diberi kekuatan untuk dapat menulis lebih banyak tentang sejarah dan budaya banjar….jazakallah..

  14. Khairul Anwar bin Abdul Samah, terimakasih

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 41 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: