SPAM REGIONAL “BANJARBAKULA” SOLUSI AIR MINUM KALSEL

Oleh Hasan Zainuddin
Banjarmasin, 25/9 (ANTARA) – Persoalan air minum kini menghantui warga Provinsi Kalimantan Selatan, lantaran persediaan tidak sebanding dengan kebutuhan masyarakat wilayah tersebut.

Menteri Pekerjaan Umum Joko Kirmanto saat kunjungan ke Banjarmasin, Senin (24/9) menyatakan pihaknya telah mencermati kondisi pelayanan air minum di wilayah paling selatan Pulau Kalimantan ini.

Menurut dia, capaian pelayanan air minum di Kalsel sampai dengan penghujung tahun 2011, tingkat akses aman air minum masyarakat wilayah ini baru mencapai 51,79 persen, sedikit di bawah rata-rata nasional sebesar 53,26 persen.

Dengan jumlah penduduk sekitar 3,6 juta jiwa, berarti penduduk yang belum memiliki akses aman air minum di Provinsi Kalsel sebanyak 1,7 juta jiwa.

Di sisi lain, sasaran MDGs tahun 2015 untuk Provinsi Kalimantan Selatan adalah tingkat akses aman air minum sebesar 70 persen.

Dengan demikian, dalam kurun waktu 2,5 (dua setengah) tahun ke depan pemerintah provinsi dan kabupaten-kota di Kalsel perlu menyediakan tambahan akses aman air minum bagi 600 ribu jiwa.

Melihat kenyataan tersebut maka diperlukan kerja keras antara pemerintah daerah di Kalsel untuk melakukan tambahan pelayanan air minum tersebut.

“Sistem penyediaan air minum untuk Kota Banjarmasin dan lima Instalasi air Ibukota Kecamatan (IKK) di Kalsel yang akan kita resmikan pemanfaatannya hari ini akan menambah kapasitas produksi air minum sebesar 600 liter per detik,” katanya saat meresmikian proyek air bersih Kalsel di Banjarmasin tersebut.

Proyek air diresmikan SPAM Banjarmasin 500 liter per detik (l/D) menjadi 1000 l/d, IKK Paringin Selatan, Kabupaten Balangan 20 l/d, IKK Tabukan Kabupaten Hulu Sungai Utara (HSU) 20 l/d, IKK Babirik HSU 20 l/d, IKK Hatungun Kabupaten Tapin 20 l/d dan IKK Hantakan Kabupaten HST 20 l/d.

Kedatangan Menteri PU didampingi Dirjen Cipta Karya selain meresmikan proyek air bersih sekaligus menghadiri peringatan puncak hari jadi Kota Banjarmasin ke-486 di halaman balaikota setempat.

Menurut Menteri PU, adanya penambahan fasilitas air minum 600 liter per detik tersebut berarti akan menyumbang peningkatan pelayanan air minum sampai dengan 48.000 sambungan rumah atau tambahan pelayanan bagi 240.000 jiwa.

Dengan target MDGs Provinsi Kalsel sebesar 600 ribu jiwa, tambahan pelayanan tersebut masih jauh dari sasaran. Oleh karenanya diperlukan upaya yang lebih serius guna percepatan peningkatan pelayanan air minum ke depan.

“Kami yakin apabila ada komitmen yang kuat dari Pemerintah Daerah hal tersebut bisa terwujud.” katanya didampingi Wakil Gubernur Kalsel, Rudy Resnawan.

Sebagai contoh nyata adalah Kota Banjarmasin yang saat ini pelayanan air minumnya sudah mencapai 98,7 persen, keberhasilan itu tak terlepas dari tingginya komitmen pemerintah setempat dalam meningkatkan pelayanan air minum yang tercermin dari komitmen pendanaan dari daerah baik melalui alokasi pendanaan APBD maupun memanfaatkan pinjaman perbankan.

Pemerintah telah mengeluarkan kebijakan melalui Peraturan Presiden Nomor 29 tahun 2009 tentang Pemberian Jaminan dan Subsidi Bunga Oleh Pemerintah Pusat Dalam Rangka Percepatan Penyediaan Air Minum.

Saat ini telah ada komitmen dari Perbankan Nasional sebesar Rp4,36 triliun, katanya lagi.

“Saya mengapresiasi komitmen PDAM Bandarmasih yang didukung Pemerintah Kota dan DPRD Kota Banjarmasin untuk memanfaatkan fasilitas tersebut dan hasil pembangunannya akan kita resmikan hari ini,” tuturnya.

Ini adalah contoh yang baik bagi 13 pemerintah kabupaten dan kota lain di Kalsel sebagai pembelajaran dalam pelayanan air minum di masing-masing wilayah.

Ia juga berharap Pemerintah Kota Banjarmasin dan PDAM Bandarmasih dapat berbagi pengalaman kepada pemerintah daerah dan PDAM lain khususnya di Provinsi Kalsel.

PDAM Bandarmasih diharapkan dapat berperan aktif sebagai “Center Of Excellence” di Kalsel untuk dapat memacu kinerja pelayanan air minum oleh PDAM di provinsi ini.


SPAM Regional
Kehadiran Menteri PU bersama rombongan tersebut sekaligus juga menyaksikan penandatangan MoU lima pimpinan daerah di Kalsel untuk mengerjakan Sistem Pengolahan Air Minum (SPAM) Regonal “Banjarbakula.”
Banjarbakula singkatan dari Banjarmasin, Banjarbaru, Kabupaten Banjar, Kabupaten Barito Kuala, dan Kabupaten Tanah Laut.

Menteri PU Joko Kirmanto sendiri mendukung inisiatif mengembangkan SPAM regional Banjarbakula.

Menurut Joko Kirmanto, untuk pemenuhan kebutuhan air minum diperlukan jaminan ketersediaan air baku dengan kuantitas dan kualitas yang memadai.

Pemerintah pusat, provinsi, maupun pemerintah kota dan kabupaten sesuai dengan kewenangannya berkewajiban melakukan hal tersebut melalui langkah operasional yang meliputi perlindungan daerah tangkapan air, manajemen terpadu daerah aliran sungai, serta mengendalikan pencemaran air.

Penertiban izin penggunaan air serta upaya antisipasi penyediaan sumber air baku untuk masa yang akan datang, katanya.

Dengan keterbatasan air baku yang tersedia di masing-masing Kabupaten dan kota maka pemerintah pusat sangat mendukung adanya inisiatif untuk mengembangkan SPAM regional Banjarbakula.

Semua itu untuk menjawab pemenuhan kebutuhan air minum yang lebih merata dengan pemanfaatan bersama sumber air baku di wilayah ini.

Ia berharap agar Pemerintah provinsi berperan aktif dalam mengkoordinasikan dan memberikan kontribusi APBD untuk mewujudkan SPAM regional dimaksud.

Wakil Gubernur Kalsel, Rudy Resnawan sendiri mmenyebutkan kerjasama regional melalui SPAM memperoleh dukungan penuh Pemprov Kalsel, karena itu segera akan direalisasikan.

Hanya saja ia belum bisa menyebutkan di mana tempat SPAM tersebut dibangun, yang jelas bukan di Banjarmasin dan kemungkinan di Kabupaten Banjar lantaran di sana ada Bendungan dan Irigasi Riam Kanan sebagai penyedia air baku.

Menurut dia, SPAM tersebut akan dikelola Pemprov Kalsel, tetapi dalam pendistribusian air minum curah akan dilakukan oleh PDAM di lima daerah masing-masing.

Dengan adanya SPAM diharapkan penyediaan air minum di lima daerah Kalsel tersebut lebih merata, tidak lagi seperti sekarang hanya didominasi Banjarmasin.

Menurut Rudy Resnawan, tanpa SPAM, Banjarmasin yang sekarang pelayanan air minum pun dalam lima dan 10 tahun ke depan akan kesulitan mencari air baku, karena persoalan utama adalah bagaimana air baku yang terus tersedia.

Berbagai kalangan menilai walau SPAM terbentuk tetapi kalau tidak adanya pemeliharaan wilayah resapan air maka SPAM pun tak akan berhasil.

Salah satu cara terpelihara resapan air di kawasan Bendungan Riam Kanan adalah bagaimana menyelamatkan hutan kawasan bendungan yang masuk Hutan Pegunungan Meratus yang belakangan ini kian rusak saja akibat adanya pemukiman penduduk, penebangan hutan, dan pertambangan batubara.

Oleh karena itu ada saran agar Bendungan Riam Kanan dikelola secara profesional, oleh semacam lembaga khusus atau badan, tanpa pemeliharaan bendungan maka semua keinginan itu akan sia-sia belaka.

PERNIKAHAN DINI, ANCAMAN BESAR KEHIDUPAN SOSIAL KALSEL

Oleh Hasan Zainuddin

Banjarmasin, 17/9 ()- Seorang perempuan muda berambut bercat pirang, dengan pakaian minor sambil mengisap sebatang rokok duduk di warung Jalan A Yani dekat Hotel Banjarmasin Internasional (HBI).
Ketika didekati ia bertanya “bapak naikkah?” Penulis bingung harus menjawab apa, karena tak mengerti apa yang dimaksud naik.
Ketika ditanya apa maksudnya, lalu gadis berkulit putih berusia sekitar 19 tahun itu menjelaskan maksud naik itu alah masuk ke dalam diskotik yang ada di HBI tersebut.
Secara panjang lebar ia bercerita, Lisa (nama samaran) hampir tiap malam masuk diskotik, sebagai wanita penghibur tamu di dunia gemerlap (dugem), ya sekedar menambah penghasilan setelah menjanda hampir dua tahun lalu.
Dengan seorang anak hasil perkawinan dengan pasangan sama-sama muda usia, kehidupan yang menjanda sekarang ini bisa dikatakan morat-marit, tak ada orang yang bisa memberikan nafkah dalam kehidupannya termasuk mantan suaminya yang sekarang tak tahu lagi ujung rimbanya.
Ujung-ujungnya setelah kebingungan Lisa pun terjerumus ke dalam dunia malam. “Yah lumayan tiap malam, ada saja uang tip yang diberikan tamu di diskotik,” tutur Lisa tanpa malu-malu.
Menurut Lisa, di dalam dunia gemerlap, ia tak sendiri bahkan puluhan atau ratusan dan mungkin juga ribuan orang yang nasibnya serupa, yakni terjun ke dunia malam setelah menjadi korban dari perceraian yang sebelumnya nikah dini.
Berdasarkan ceritanya, dia bersama teman-temannya umumnya adalah janda muda yang mencari sesuap nasi dengan berjingkrak ria di diskotik, peramusaji di ruang karaoke, pelayan di meja biliar, pub, cafe, bahkan ada dari mereka yang bertindak lebih jauh lagi sebagai wanita panggilan.
Keberadaan wanita muda yang sudah menjadi binal tersebut,agaknya dimanfaatkan pengusaha hiburan malam, dengan memberikan fasilitas masuk gratis bagi mereka pada malam tertentu, maksudnya agar tempat hiburan tersebut dipenuhi wanita malam, hingga memancing lebih banyak pengujung pria.
Akhirnya sudah bisa dipastikan tempat-tempat hiburan malam seperti yang ada di Banjarmasin seakan-akan tak mampu lagi menampung pengunjung yang selalu memludak seperti yang terlihat di Diskotik HBI,Grand Plaza, dan Diskotik Aria Barito.
“Aku heran, wilayah  kita ini adalah daerah yang agamis, tetapi kok begitu maraknya tempat-tempat seperti itu,” kata seorang warga kota Banjarmasin.
Berarti penanganan sosial di daerah ini ada yang salah yang harus dicarikan solusi terbaik, tambah warga kota.

Pernikahan Dini
Banyak batasan mengenai arti pernikahan dini, tetapi secara umum disebutkan pernikahan dini adalah pernikahan manusia masih remajaatau masa peralihan antara masa anak-anak ke dewasa.
Saat pernikahan mereka bisa dikatakana bukan lagi anak, baik bentuk badan, sikap dan cara berpikir serta bertindak, namun bukan pula orang dewasa yang telah matang berfikir.
Angka pernikahan dini atau pernikahan pada usia dibawah yang dianjurkan ternyata masih tinggi di Kalimantan Selatan (Kalsel). Bahkan angka tersebut tertinggi di Indonesia.
Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Kalsel Rosihan Adhani kepada wartawan pernah mengungkapkan, angka pernikahan dini di Kalsel mencapai 9 persen.
Angka tersebut merupakan angka pasangan yang menikah pada usia di bawah 15 tahun.
Menurut data Riskesdas (Riset Kesehatan Dasar) Kalsel diatas angka rata-rata nasional, ucapnya.
Angka pernikahan dini nasional sendiri hanya 4,8 persen. Jumlah tersebut jauh dibandingkan dengan Kalsel.
Menurut Rosihan, tingginya angka pernikahan dini di Kalsel disebabkan oleh beberapa faktor, diantaranya faktor ekonomi dan budaya, atau lantaran tidak mampu melanjutkan pendidikan yang lebih tinggi, banyak diantara pelajar yang memilih menikah.
Fakta tersebut, lanjut Rosihan, cukup mengkhawatirkan, pasalnya usia menikah yang terlalu muda membuat risiko kesehatan terutama untuk ibu dan bayi.
“Ini penyumbang angka kematian bayi dan ibu, menikah kan perlu kesiapan fisik dan kalau usia terlalu dini tidak baik,” katanya.
Menurut Rosehan Adhani selain berisiko terhadap kesehatan, menikah terlalu dini juga membuat pasangan kerap mengalami kesulitan ekonomi. Akhirnya, banyak anak pasangan yang menikah dini tidak mendapat asupan gizi yang memadai, bahkan pola asuh anak juga kerap tidak diperhatikan.
“Makanya dianjurkan menikah usia 20 tahun untuk perempuan dan usia 25 untuk laki-laki, harapannya sudah siap fisik dan mental termasuk soal ekonomi,” tandasnya.
Sekadar diketahui, berdasarkan data Riskesdas tahun 2010 yang dirilis Kementerian Kesehatan RI, Kalimantan Selatan ternyata membukukan “prestasi” yang cukup mencengangkan. Provinsi dengan penduduk lebih dari 3,6 juta jiwa ini ternyata menempati urutan pertama angka pernikahan dini di Indonesia.
Angka pernikahan dini Kalsel menempati urutan pertama di Indonesia dan mengalahkan Jawa Barat yang pada tahun sebelumnya menempati urutan pertama. Angka umur perkawinan secara nasional masing-masing berbeda-beda.
Untuk umur 10-14 tahun tercatat sebanyak 4,8 persen pasangan menikah di usia ini. Yang cukup mencengangkan adalah perkawinan usia 15-19 tahun yang merupakan angka tertinggi yakni 41,9 persen.
Untuk usia 20-24 tahun, tercatat angka perkawinan sebanyak 33,6 persen.

Angka Perceraian
Dengan banyaknya kasus pernikahan dini di wilayah paling Selatan pulau terbesar tanah ini menyebabkan juga seringnya terjadi perceraian.
Tingkat perceraian di Kalimantan Selatan dalam setiap tahunnya cukup tinggi, kata Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Kalsel Abdul Halim Ahmad di Banjarmasin.
Menurut dia, selama 2010 jumlah perceraian di Kalsel tidak kurang dari empat ribu kasus, yang terjadi pada pihak swasta maupun pegawai negeri sipil (PNS) bahkan guru.
“Jumlah perceraian tersebut masih cukup tinggi, dengan berbagai sebab dan alasan,” katanya.
Salah satu penyebab terjadinya perceraian, tambah dia, antara lain karena masalah ekonomi baik karena ekonomi kurang maupun ekonomi yang membaik.
Selain itu, kata dia, juga karena perkawinan di bawah umur sehingga menyebabkan seseorang belum terlalu siap menghadapi persoalan rumah tangga yang terjadi.
Untuk menekan angka perceraian tersebut, kata dia, pihaknya akan melakukan sosialisasi masalah perkawinan melalui badan penasehatan perkawinan.
“Pasangan yang akan menikah akan kita berikan penyuluhan dan bimbingan, begitu juga yang ingin melakukan cerai akan dilakukan mediasi, sehingga persoalan yang dihadapi tidak harus berakhir pada perpisahan,” katanya.
Sementara data BKKBN Kalsel selama 2009 menunjukkan bahwa jumlah janda atau duda yang belum menikah kembali sebanyak 156.835 orang atau 15,82 persen dari 991.641 keluarga.
Dari jumlah tersebut, Kabupaten Hulu Sungai Tengah (HST) merupakan kabupaten paling banyak jumlah janda atau dudanya yaitu 21,58 persen.
Disusul Kabupaten Hulu Sungai Selatan (HSS) sebanyak 21,31 persen dan Hulu Sungai Utara (HSU) sebanyak 19,42 persen.
Banyaknya jumlah janda atau duda di Kalsel tersebut, kemungkinan dipicu karena tingginya pernikahan di bawah umur.
Namun tidak menutup kemungkinan tingkat perceraian akibat menikah di bawah umur lebih rentan terjadi, karena pasangan belum matang dalam menghadapi persoalan rumah tangga.
Berdasarkan hasil survei demografi kesehatan Indonesia (SDKI) tingkat pernikahan di bawah umur Kalsel cukup tinggi.
Berdasarkan hasil SDKI 2009, pasangan yang menikah di bawah umur 20 tahun sebanyak 32.483 orang dari total pasangan usia subur sebanyak 732.206.


SEKS BEBAS REMAJA SEBUAH KERISAUAN

Oleh Hasan Zainuddin


Banjarmasin,17/9 ()- Hampir sebagian besar dari 64 juta penduduk remaja Indonesia belakangan ini memiliki alat komunikasi handpone (HP) dan sebagian besar pula dari HP tersebut mampu mengakses internet.
“Sudah bisa dibayangkan kalau seorang remaja memiliki alat komunikasi yang mampu mengakses internet, siapa yang disalahkan bila remaja itu mengakses situs porno,” kata pejabat Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN), pusat.
Deputi Bidang Advodkasi,Penggerakan dan Informasi (Adpin) BKKBN Hardiyanto saat berada di Banjarmasin, mengakui keberadaan remaja belakangan ini kian merisaukan saja.
Bukan HP saja remaja dengan mudah mengakses berbagai informasi dunia tetapi juga laptop, komputer, serta peralatan elektronik lainnya yang mudah akses jaringan internet, disamping media-media lain yang beredar bebas.
“Dimanapun remaja berada termasuk dalam kamar sendirian, siapa yang bisa menangkal agar remaja tidak menyaksikan tayangan film dan gambar porno,”katanya saat berada di Banjarmasin menghadiri acara Hari Keluarga Nasional (Harganas) tingkat Kalsel.
Kerisauan pejabat BKKBN tersebut, besar kemungkinan sudah merata di Indonesia, tak terkecuali di Banjarmsin ibukota Provinsi Kalimantan Selatan sendiri.
Seperti penuturan Kepala Dinas Kesehatan Kota Banjarmasin, Hj Diah R Praswasti, angka seks bebas kalangan remaja menunjukkan peningkatan yang mencengahkan.
Berdasarkan data Dinas Kesehatan setempat hingga akhir 2011 ada peningkatan persalinan remaja. Dari sebanyak 50 orang pada 2010, melonjak menjadi 235 orang pada 2011.
Data lainnya terjadi pada kasus KTD (Kehamilan yang tidak diinginkan), dari 35 orang 2010, melonjak menjadi 220 orang pada 2011.
Data tersebut berdasarkan acuan dari 26 Pusat Kesehatan Masyarakat (Puskesmas) setempat bekerjasama dengan Unit Kesehatan Sekolah (UKS).
] Semua itu untuk jenjang Sekolah Menengah Pertama (SMP) dan Sekolah Menengah Atas (SMA) di seluruh Kota Banjarmasin, dengan rentang usia dari sembilan tahun hingga 19 tahun.
Hj Diah menerangkan setiap Puskesmas membina UKS yang ada di setiap sekolah. Kemudian hasilnya didapat dari laporan setiap UKS kepada Puskesmas dan dievaluasi Dinkes Kota Banjarmasin.
Dari perkembangan seks bebas tersebut terimplikasi terhadap perkembangan penyakit yang menakutkan yakni Aids/Hiv.


“Berdasarkan data kumpulan dari 26 Puskesmas yang tersebar se Kota Banjarmasin dan telah dievaluasi Dinkes,” ujarnya.
“Serangan Aids di kota ini juga meningkat dan itu sungguh merisaukan hingga memerlukan kewaspadaan kita semua untuk menanggulanginya,” katanya.
Yang cukup merisaukan pula penyakit yang menakutkan tersebut sudah menjalar ke kalangan usia remaja yaitu pelajar, tambahnya lagi tanpa merinci pelajar mana yang terkena penyakit tersebut.
Berdasarkan data yang dihimpun dari petugas di lapangan warga Banjarmasin yang terkena Aids 33 orang dan terinveksi Human Immunodeficiency Virus (HIV) tercatat 52 orang.
Mereka yang terbanyak terjangkit penyakit yang pernah menghebohkan dunia tersebut,adalah kelompok yang memang beresiko tinggi yaitu Pekerja Seks Komersial (PSK).
Selain itu mereka yang berprilaku seks menyimpang seperti homoseks, lesbian, serta prilaku bebas lainnya disamping jarum suntik, obat-obatan terlarang, dan akibat lainnya.
Pihak Dinkes Banjarmasin sendiri selalu melakukan penyuluhan agar penyakit tersebut tidak meluas, terutama penyuluhan di kalangan pelajar,mahasiswa, dan masyarakat umum. Adis.
Melihat kenyataan tersebut membuat Wali Kota Banjarmasin Haji Muhidin juga menjadi risau dan meminta semua pihak melakukan pengawasan terhadap perilaku remaja tersebut.
“Saya menghimbau kepada orang tua, guru, ataupun masyarakat untuk mengawasi anak-anak kita, sebab jumlah remaja yang mengalami kasus ini semakin meningkat,” katanya lagi.
Menurutnya, pengawasan tidak hanya pada lingkungan rumah, namun juga di lingkungan sekolah, seperti para guru atau pun masyarakat umum yang kebetulan melihat hal-hal ganjil dilakukan oleh remaja hendaknya diawasi hingga tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan.
“Misalnya, jika melihat dua remaja yang sengaja duduk di tempat remang-remang dan gelap segera ditegur, jangan sampai mereka terperosok ke hal-hal yang dilarang agama,”kata Muhidin.
Dia pun berencana agar Dinas Pendidikan juga menyiapkan program khusus untuk ini yakni melakukan ceramah agama untuk siswa SMP dan SMA. Program ini dimaksudkan untuk meberikan gambaran bahaya serta dampak dari pergaulan bebas.
“Nantinya kita juga anggarkan untuk program ini, sebab kita akan menggunakan tokoh agama atau alim ulama yang nanti keliling ke sekolah-sekolah tiap minggu untuk memberikan nasihat agama kepada murid-murid,”kata Muhidin.
Untuk tempat-tempat yang mungkin rentan terjadinya seks bebas oleh remaja, perlu diawasi pula, seperti warnet, maka Pemkot pun akan melakukan razia terhadap lokasi tersebut.
Misalnya ada warnet buka 24 jam dan banyak remaja yang nongkrong di situ, Pemkot melalui Satpol PP akan melakukan razia, karena seperti alporan yang diterima para remaja mudah melakukan hal-hal yang tak lazim di tempat itu.
Tiga Persoalan Besar
Menurut Deputi Adpin BKKBN, Drs Hardiyanto terdapat tiga persoalan besar yang menghadang remaja Indonesia.
Tiga persoalan besar tersebut selain masalah seks bebas pranikah, penyalahgunaan narkotika, dan berjangkitnya penyakit hiv/aids.
Padahal penduduk remaja sekarang ini begitu banyak dari 237 juta jiwa penduduk Indonesia 30 persen atau 64 juta jiwa diantaranya adalah usia remaja atau usia 10 hingga 24 tahun.
Kelompok remaja tersebut sedang galau menghadapi tiga persoalan besar tersebut, lantaran berbagai informasi belakangan yang sekarang sulit dibendung yang mempengaruhi tingkat perilaku remaja itu sendiri.
Oleh karena itu BKKBN sekarang ini mencoba mencari solusi menghadapi tiga persoalan tersebut, dengan mengembangkan apa yang disebut Remaja Berencana (Rebre),yakni pendidikan refproduksi agar mereka mengerti dan tahu apa yang baik dan tidak baik.
Dengan mengetahui persoalan remaja diharapkan mereka mengerti bahwa kawin muda itu tidak baik, dan berusaha sekolah setinggi mungkin sebelum memasuki jenjang pernikahan.
Masalahnya kawin dini menjadi persoalan dalam kemudian karena kesehatan refproduksi wanita masih belum baik, sementara laki-lakinya belum bisa bertanggungjawab.
Kalau ibu muda yang masih rawan melahirkan itu bisa menimbulkan kematian ibu lahir atau kematian bayi lahir.
“Apa mau setelah kawin dan punya anak, ditinggalkan begitu saja oleh pasangan laki-lakinya, sementara perempuan remaja yang sudah punya anak dan tidak ada kerjaan mau kemana membawa kehidupan itu, akhirnya semua jadi berentakan dan menjadi beban keluarga dan masyarakat,” tuturnya.
Pusat Informasi Pelayanan (PIP) remaja juga dibentuk BKKBN agar para meraja saling curhat mengenai refproduksi, sehingga melalui PIP mereka bisa mengetahui bahayanya pergaulan bebas, narkotika, dan hiv/aids.
Di lokasi PIP remaja tersebut BKKBN menyediakan seorang tenaga konsuling yang memberikan bimbingan terhadap remaja dalam menghadapi tiga persoalan tersebut.
Dari PIP remaja maka akan melahirkan remaja berencana yang mengerti menghadapi kehidupan kedepan, dan PIP remaja bisa dikembangkan di sekolah, madrasah, pesantren, di dalam masyarakat umum, dan kelompok dimana banyak terdapat remaja.
Seluruh indonesia tidak kurang dari 20 ribu PIP remaja yang sudah dibentuk, dan bisa dijadikan alat pengembangan pemikiran remaja menghadapi tiga persoalan besar yang dihadapi remaja tersebut, katanya.

“STIKER” CEGAH JAJANAN SEKOLAH DARI BAHAN BERBAHAYA

Oleh Hasan Zainuddin

foto :www.zonatya.blog
Anak-anak yang terus menerus mengkonsumsi jajanan berbahaya yang dijual di sekolah akan menghadapi ancaman ingkat kecerdasan terus menurun, dan berakibat pada kualitas sumber daya manusia bangsa ke depan.

“Jajanan yang banyak dijual di sekolah-sekolah terus dikonsumsi anak-anak, dan ternyata jajanan tersebut mengandung bahan berbahaya, maka lama kelamaan kesehatan anak terganggu, dan akan mempengaruhi sistem kecerdasan anak,” kata Kepala Dinas Kesehatan Kota Banjarmasin, Diah R Praswasti.

Soal jajanan, keliatannya sepele, tetapi mengandung dampak yang sangat besar, baik individu warga, masyarakat, bahkan bangsa dan negara, karena itu persoalan ini harus dituntaskan, kata Diah R Praswasti.

Melihat kenyataan itulah, Dinkes Banjarmasin mengambil sebuah program mengatasi jajanan sekolah yang disebut program “stiker jajanan”.

Program tersebut adalah dengan mendata para pedagang kecil jajanan yang biasa mangkal di sekolah-sekolah, kemudian pedagang tersebut diberikan penyuluhan dan dibina melalui pelatihan kemudian setelah mengerti lalu mereka menjual jajanan dengan bebas bahan berbahaya.

“Bagi pedagang yang dinyatakan menjual jajanan yang sudah bebas bahan berbahaya itulah yang kemudian diberikan stiker, sehingga baik petugas kesehatan, balai Pengawasan Obat dan Makanan (POM), serta anak sekolah itu sendiri bisa membedakan mana pedagang aman, dan mana pedagang yang mengkhawatirkan,” katanya seraya menunjukan bentuk stiker tersebut.

Berdasarkan pendataan Dinkes setempat, terdapat 895 pedagang jajanan anak sekolah yang mangkal di halaman 310 gedung Sekolah dasar (SD) di Banjarmasin.

Dari jumlah pedagang tersebut sebanyak 682 pedagang sudah menempelkan stiker yang membuktikan mereka tidak menjual makanan berbahaya, Sementara jumlah stiker yang dibagikan sudah 1156 lembar.

Menurut Diah, hal itu dilakukan karena beberapa kali dilakukan penelitian pihak Dinkes, Balai POM ternyata banyak jajanan yang mengandung bahan berbahaya seperti pengawet, pemanis, pewarna, dan bahan berbahaya lainnya.

Bahan berbahaya tersebut seperti rodhamin B, boraks, formalin, dan pemanis buatan, tambahnya lagi.

“Kita tak ingin masyarakat terserang penyakit lantaran mengkonsumsi makanan yang kurang sehat itu, sebab tambahnya dengan menghindari jajanan sembarangan melindungi dari serangan Penyakit Bawaan Makanan (PBM), seperti keracunan atau infeksi,” tutur Diah.

Sebelumnya pihak Balai POM Banjarmasin mengakui bukan hanya jajanan sekolah yang mengandung bahan berbahaya tetapi juga makanan dan minuman yang dijual secara umum di masyarakat.

Balai POM mencontohkan aneka penganan berupa kue beraneka warna mencolok menarik perhatian pembeli, padahal dibalik keindahan kue-kue bewarna tersebut terkandung bahan berbahaya seperti pewarna tekstil yang mengancam kesehatan masyarakat.

Kepala Balai Pengawasan Obat dan Makanan (Bali POM) Banjarmasin, Dewi Prawitasari dalam dialog dengan Wali Kota Banjarmasin, Muhidin belum lama ini mengakui adanya produk makanan mengandung bahan berbahaya tersebut.

Bukan hanya pewarna berbahaya yang ditemukan pada kue dan makanan yang dijual belikan tetapi juga pemanis buatan, pengawet, yaitu rodhamin B, boraks, formalin, dan methanyl yellow.

Pemanis buatan ditemukan penggunaan berlebihan pada kue bingka barandam, pengawet terdapat pada bakso dan makanan ringan anak-anak.

Berdasarkan hasil pendataan Balai POM setempat sedikitnya 491 tempat pembuatan produk makanan di Kota Banjarmasin yang harus diwaspadai, dan mereka perlu pembinaan.

Masalahnya muncul produk dengan bahan berbahaya tersebut boleh jadi ketidaktahuan saja, makanya diperlukan penyuluhan.

Padahal banyak saja bahan yang manfaatnya sama untuk produk makanan dan minuman tersebut tetapi tidak merusak kesehatan bagi yang mengkonsumsinya.

“Kami Balai POM mengajak Pemkot Banjarmasin untuk bersama-sama mengawasi dan mensosialisasi mengenai bahan berbahaya tersebut dengan berbagai kegiatan, seperti penyuluhan, pelatihan, atau bentuk lomba dan kontes makanan minuman tanpa bahan berbahaya,” tuturnya.

 

foto :Intisari
Dampak Kesehatan
Berdasarkan catatan, kontaminasi zat berbahaya pada produk pangan menandakan lemahnya pengawasan dan kontaminasi tersebut jelas berbahaya bagi kesehatan.

Umpamanya makanan mengandung formalin jelas merusak, formalin biasanya digunakan sebagai bahan antiseptik, germisida dan pengawet.

Fungsinya formalin sering diselewengkan untuk bahan pengawet makanan dengan alasan karena biaya lebih murah seperti mengawetkan ikan, dengan sebotol kecil dapat mengawetkan ikan secara praktis tanpa harus memakai batu es.

Biasanya makanan yang tidak diberi bahan pengawet seringkali tidak akan tahan lebih dalam 12 jam.

Formalin masuk ke dalam tubuh manusia melalui dua jalan yakni pernapasan dan mulut.

Sebetulnya setiap hari menghirup formalin dari lingkungan sekitar yang dihasilkan oleh asap knalpot dan pabrik yang mengandung formalin, formalin juga dapat menyebabkan kanker (zat yang bersifat karsinogenik).

Kemudian boraks merupakan senyawa yang bisa memperbaiki tekstur makanan sehingga menghasilkan rupa yang bagus pada makanan seperti bakso dan kerupuk.

Bakso yang menggunakan boraks memiliki kekenyalan yang kas yang berbeda dari bakso yang menggunakan banyak daging, sehingga terasa renyah dan disukai serta tahan lama.

Sedang kerupuk yang mengandung boraks kalau digoreng akan mengembang dan empuk, teksturnya bagus dan renyah.

Dalam industri boraks dipakai untuk mengawetkan kayu, anti septic kayu dan pengontrol kecoa. Bahaya boraks terhadap kesehatan diserap melalui usus, kulit yang rusak dan selaput lender.

Jika dikonsumsi dalam jangka waktu lama atau berulang-ulang akan memiliki efek toksik. Pengaruh kesehatan secara akut adalah muntah dan diare.

Dalam jangka waktu panjang dapat menyebabkan gangguan pencernaan, nafsu makan menurun, anemia, rambut rontok, dan kanker.

Pemanis Buatan hanya digunakan pada pangan rendah kalori dan pangan tanpa penambahan gula, namun kenyatannya banyak ditemukan pada produk permen, jelly dan minuman yang mengandung pemanis buatan.

Beberapa produk juga tidak mencantumkan batas maksimum penggunaan pemanis buatan Aspartam. Pemakaian Aspartam berlebihan memicu kanker dan leukimia pada tikus, bahkan pada dosis pemberian Aspartam hanya 20mg/Kg BB.

Zat pewarna alami sudah dikenal sejak dulu dalam industri makanan untuk meningkatkan daya tarik produk makanan sehingga konsumen tergugah untuk membelinya.

Namun celakanya ada juga penyalahgunaan dengan adanya pewarna buatan yang tidak diizinkan untuk digunakan sebagai zat adiktif. Contoh yang sering ditemui adalah penggunaan bahan pewarna rhodamin B, yaitu zat pewarna yang lazim digunakan dalam industri tekstil, namun digunakan dalam zat pewarna makanan.

Berbagai penelitian dan uji telah membuktikan bahwa penggunaan zat makanan ini dapat menyebabkan kerusakan pada organ hati.

Melihat dampak yang mengerikan terhadap bahan berbahaya pada makanan tersebut sudah selayaknya pemerintah dengan caranya sendiri mampu melindungi konsumen dari bahan tersebut.

 

UTUNG, ATLET CACAT BALANGAN TERUS BERENANG MENGEJAR KESEJAHTERAAN

Oleh Hasan Zainuddin


Banjarmasin,8/9 ()- Berjalan saja susah,apalagi untuk bekerja menyadap karet atau bersawah seperti temannya sekampungnya di Desa Panggung, Kabupaten Balangan Provinsi Kalimantan Selatan, sekitar 210 kilometer dari Banjarmasin.

Begitulah keaadaan Ahmat Rijali (23 tahun) seorang pemuda cacat, dengan kaki buntung sejak lahir 2 Desember 1989 tersebut hingga membuat hidupnya serba kekurangan, namun dalam benaknya tersimpan tekad bahwa cacat bukanlah awal “kiamat” bagi masa depan kehidupannya.

Tinggal di kampung kawasan lereng Pegunungan Meratus, Ahmat Rijali yang oleh warga kampung di panggil Utung tersebut mencoba bertahan hidup dalam kondisi miskin.

Utung sejak kecil memang sudah yatim, ibunya Siti Jubaidah meninggal dunia, sementara ayahnya Aspiani (60 tahun) seorang buruh sadap karet dengan kondisi miskin tak mampu membuat anak-anaknya sejahtera.

Dengan kondisi miskin Utung anak ketiga dari empat bersaudara hanya mampu bersekolah hingga lulus Sekolah Dasar (SD), hatinya ingin sekali sekolah ke lanjutan lebih tinggi tapi apa daya tak punya biaya.

“Jangankah sekolah untuk makan setiap hari saja susah,” kata Utung sambil memegang kakinya yang kedua-duanya cacat tersebut.

“Saya pernah diajak teman untuk minta-minta sedekah (mengemis) di masjid-masjid dan pasar agar memperoleh uang, tetapi ajakan ini berdasarkan hati nurani, saya tak mau, selain malu juga penilaian saya pekerjaan tersebut agak nista,” tambahnya.

Hari demi hari dilalui Utung dengan kehidupan seadanya, guna menopang kehidupannya, ia mencoba bekerja dengan memancing ikan, atau menangkap ikan dengan cara “menyumpit.”
Menyumpit yakni menangkap ikan dengan cara berenang di air deras atau menyelam untuk menangkap ikan dengan dibantu alat atau senjata yang disebut sumpit.

Ia pun terlihat berenang ke sana kemari di Sungai Pitap, anak Sungai Balangan yang berair deras dan berhulu ke Pegunungan Meratus.

Melihat kebiasanya berenang itulah yang kemudian diketahui oleh seorang pengurus organisasi atlet cacat Kabupaten Balangan, dokter Ferry.

Oleh dokter ferry Utung diajak untuk bergabung dengan atlet cacat se Kabupaten Balangan, lalu dilatih berenang di kolam renang Tanjung ibukota Kabupaten Tabalong, tetangga Kabupatan Balangan.

Melalui latihan itulah kemudian Utung diikutkan dalam kejuaraan daerah atlet Cacat se Kalsel di Kotabaru, dan berhasil berprestasi meraih medali.

Atas prestasi demikian oleh dokter Ferry, Utung diikutkan dengan kelompok atlet cacat yang tergabung dalam National Paralympic Committee (NPC), lalu latihan selama tujuh bulan di kolam renang Jebres dan Manahan Solo Jawa Tengah.

Selama di Solo Utung bersama puluhan atlet renang yang juga cacat fisik memperoleh bimbingan empat pelatih, Devi, Ratih, Handoko dan Gatot.

Setelah dinilai handal, Utung kemudian diikutkan dalam arena Para Games di Kota Solo tahun 2011.

Dalam Kejuaraan yang dibuka Wakil Presiden Boediono yang diikuti sebelas negara Asean itu, Utung berhasil meraih medali perunggu di nimor renang 50 meter gaya punggung kelas s8, katu tempuh 41.11 detik.

Sementara peraih emas diraih atlet Vietnam dengan waktu 39.10 dan peraih perak direbut atlet Thailand, Wongnongth Aphum Paibun waktu 40.91 detik.

“Waktu itu, saya pertama kali bergabung dengan begitu banyak atlet dari begitu banyak negara, ada rasa mender, dan gugup, sehingga saat bertanding gagal meraih emas, padahal saat latihan di Kota Solo tersebut, waktu yang saya tempuh selalu lebih baik,” katanya ketika ditemui saat latihan di kolam Renang Gelanggang Remaja Hasanudin HM Banjarmasin, Sabtu (8/9).

Utung yang kini bersama 10 atlet renang lainnya terus melakukan latihan intensif, lantaran ia oleh KONI Kalsel dipilih untuk mewakili daerah ini ke Pekan Paralimpic Nasional (Peparnas) XIV tahun 2012.

Peparnas XIV tahun 2012 diselenggarakan dua minggu setelah selesai pelaksanaan Pekan Olah Raga Nasional (PON) atau tepatnya pada tanggal 7 s/d 12 Oktober 2012 mendatang juga di Pekanbaru, Riau.

“Saya tak ingin gagal lagi, seperti Pra Games, saya ingin meraih medali emas,” tuturnya.

Sebab tambahnya, bila nanti berhasil berprestasi maka begitu banyak ajang kejuaraan yang terus menantinya, dan bila berhasil juara tentu memperoleh bonus dan hadiah akan menantinya , yang akan membuatnya hidup sejahtera.

“Saya sudah mikir, pekerjaan apa yang bisa saya kerjakan agar kehidupan nanti bisa sejahtera dengan kondisi fisik seperti ini, tak ada pilihan kecuali berenang dan berenang,”tambahnya dengan suara miris.

Oleh karena itu, menghadapi Papernas ia pun kosentrasi latihan, sebelum di Gelanggang Remaja Hasanudin Banjarmasin beberapa bulan sebelumnya juga terus latihan berenang di kolam Renang Banjarbaru melalui bimbingan KONI dan NPC Kalsel.

Dalam latihan yang dibimbing tiga pelatih, antaranya Imuk dan Maki tersebut Utung terjun gaya punggung 50 meter, gaya punggung 100 meter, gaya bebas 50 meter dan gaya kupu-kupou 50 meter.

“Saya pernah merasakan pemberian bonus saat saya peroleh medali Perunggu Rp5 juta dari KONI Kalsel, dan Rp5 juta lagi dari Pemkab Balangan hingga punya uang Rp10 juta, “katanya.

Satu hal yang belum kesampaian dalam cita-citanya adalah keinginannya memperbaiki rumah ayahnya yang juga tempat tinggalnya yang reot di desanya, terutama bagian “padu” (rumah bagian belakang) yang sekarang mau roboh.

“Tolong doa saja, agar di Peparnas XIV saya berhasil meraih medali emas lalu dapat bonus lagi, sehingga bisa memperbaiki rumah di kampung,” tuturnya tersenyum.

AHMAT RIJALI

ALAMAT :DESA  PANGGUNG KECAMATAN  PARINGIN  SELATAN

KABUPATEN  BALANGAN, PROVINSI  KALIMNANTAN  SELATAN

NO HP AHMAT RIJALI ATAU UTUNG : 081251758347

——————————————————

ATLET CACAT BALANGAN RAIH EMAS PEPARNAS

Utung, peraih medali emas pertama kontingen Kalsel di Peparnas Riau, ia memperoleh ucapan selamat dari Ketua Umum KONI Kalsel,Haji Sulaiman HB, seperti yang dilansir di beberapa penerbitan di Banjarmasin.
    Banjarmasin, () Hari pertama peparnas (pekan paralympic nasional) 14 di riau tgl 7- 13 oktober 2012…ahmad rijali perenang asal kabupaten balangan meraih medali emas di kelas S8 gaya punggung 100 meter,dengan waktu 1 menit 20 detik memecahkan rekor nasional atas namanya sendiri.
    Ahmad rijali dilatih oleh trio pelatih NPC (national paralympic commitee) Kalsel maki,imuh,ating dlm pelatda di banjarbaru kalsel, kata Dokter Ferry Kuntono, pembina atlet cacat Balangan visa telpon dari Pekanbaru Riau, Selasa malam.
    sementara di hari ke2 peparnas ,ahmad rijali meraih perunggu di kelas S8 gaya punggung 50 meter, medali emas guntur(kaltim),sementara perak direbut perenang tuan rumah riau chandra.yang juga rekannya selama di pelatnas paragames solo 2012..
    Hasil ini sangat membanggakan dan diharapkan memotivasi atlet paralympic kabupaten Balangan.
    “Kami mengucapkan terimakasih kepada pemerintah provinsi Kalsel, KONI kalsel serta NPC kalsel atas dukungan yg luar biasa kepada atllet NPC Kalsel dalam Peparnas ini,” kata Ferry Kuntono yang juga dokter NPC.
     Selama persiapan menuju Pelatda Peparnas di Kalsel kami mendapat dukungan dan support dari Bupati Balangan dan wakil serta Ketua KONI balangan, demikian menurut dr ferry (dokter klasifikasi NPC Kalsel) yg juga merupakan PNS kabupaten Balangan.
     Ahmad rijali masih berpeluang  menambah medali dikelas S8 pada 2 nomer gaya bebas 50 mtr dan bebas 100 mtr yg akan di ikutinya.
Pada hari ketiga, dikelas s8  gaya punggung 50 meter Ahmad Rijali kembali persembahkan emas bagi kontingan Kalsel di Peparnas Riau,perak diraih Ilham dari Jabar dan Perunggu Erliansyah dari Kalbar.
     Dengan demikian Ahmad Rijali sudah menyabet dua medali emas dan dua perunggu di arena yang dibuka oleh Wakil Presiden, Budiono tersebut

AHMAD RIJALI SUMBANG EMAS LEWAT PEPARNAS
Beberapa kali Ketua KONI Kalsel Haji Sulaiman HB memeluk erat Ahmad Rijali (23 th) atlet penyandang cacat pertama bagi kontingen Kalimantan Selatan meraih medali emas cabang renang di arena Pekan Paralympic Nasional (Peparnas) Pekan Baru Riau.

Sementara Ahmad Rijali sendiri dengan mata berkaca-kaca beberapa kali pula mencium tangan Hali Leman sebutan dari Haji Sulaiman HB, seperti yang terlihat dalam tayangan Duta TV Banjarmasin dan beberapa telvisi lokal Banjarmasin lainnya.

Pemberitaan lainnya juga terlihat di beberapa harian di ibukota Kalsel itu yang menyajikan Pemberitaan Ahmad Rijali bersama Haji Leman.

“Saya bangga, walau mereka cacat dan serba keterbatasan, tetapi semangat mereka luar biasa untuk mengharumkan nama daerah Kalsel, dan itu harus dihargai,” kata Haji Leman yang dikenal sebagai seorang pengusaha sukses di Kalsel dan juga Ketua Umum Golkar Kalsel tersebut.

Melihat perjuangan atlet cacat itulah, Haji Leman berjanji memberikan bonus yang bisa membahagiakan mereka.

Dokter Ferry Kuntono pembina atlet cacat yang dihubungi melalui telepon menuturkan, Ahmad Rijali perenang asal Kabupaten Balangan meraih medali emas di kelas S8 gaya punggung 100 meter dengan waktu 1 menit 20 detik memecahkan rekor nasional.

Ahmad Rijali kembali meraih emas di hari ketiga dikelas S8 gaya punggung 50 meter, perak diraih Ilham dari Jabar, dan Perunggu Erliansyah dari Kalbar.

sementara di hari ke-2 Peparnas, Ahmad meraih perunggu di kelas S8 gaya punggung 50 meter, medali emas diraih Guntur (Kaltim), sementara perak direbut Chandra perenang tuan rumah Riau yang juga rekannya selama di Pelatnas Paragames Solo 2012.

Hasil ini sangat membanggakan dan diharapkan memotivasi atlet paralympic kabupaten Balangan.

“Kami mengucapkan terima kasih kepada pemerintah Provinsi Kalsel, KONI kalsel serta NPC Kalsel, Bupati Balangan atas dukungan yang luar biasa kepada atllet NPC Kalsel dalam Peparnas ini,” kata Ferry Kuntono yang juga dokter NPC yang juga pengurus organisasi atlet cacat Kabupaten Balangan.

Menurut dia keinginan Ahmad Rijali meraih emas begitu besar makanya setiap hari selalu saja latihan.

Sedangkan Ahmad Rijali ketika dihubungi via telpon menyatakan gembira atas keberhasilan tersebut sehingga akan memacu semangat untuk terus berlatih.

“Masih banyak kejuaraan lain menunggu, baik kejuaraan nasional maupun kejuaraan Asean,” ujarnya.

ATLET BALANGAN SUMBANGKAN PERAK PARA GAMES MYANMAR
Oleh Hasan Zainuddin
Banjarmasin,19/1 (Antara)- Seorang atlet renang yang berasal dari Desa Inan Kabupaten Balangan, Kalimantan Selatan, kembali mengharumkan Indonesia setelah berhasil menyumbangkan satu perak dan dua perunggu di arena Asean Para Games 2014 di negara Myanmar.

Atlet Balangan yang menyumbangkan tiga medali di arena Para Games tersebut, adalah Akhmad Rijali, demikian Akhmad Rijali via SMS dari kota Nay Pyi Taw Myanmar ke ANTARA Cabang Banjarmasin, Minggu.

Menurut keterangannya, medali pertama yang diperolehnya adalah medali perunggu dalam kejuaraan yang diikuti beberapa negara di Asean tersebut.

Hari pertama itu Rabu tanggal 15 Januari 2014 dalam pertandingan renang di nomor punggung 100 meter, Ahmad Rijali mengaku hanya bisa meraih medali perunggu dengan waktu 01.28.63 sedangkan medali emas diraih perenang Vietnam dengan nama Dang ketepatan waktu 01.26.16.

Sementara juara dua atau peraih perak dimemangkan atlet dari Thailand dengan Wong dengan waktu 01.28.29.

Hari kedua 50 meter gaya punggung juara i (emas) dari Vietnam dengan nama Dang waktu 00.38.34 kemudian perak diraih Akhmah Rijali (Indonesia) waktu 00.39.46, dan perunggu diraih Wong (Thailand) catatan waktu 00.40.22.

Kemudian pertandingan hari ketiga 100 meter gaya bebas emas diraih Ilham (Indonesia) waktu 01.13.55, perak Tien Yu (Malaysia) 01.15.46, dan perunggu Akhmad Rijali waktu 01.16.74.

Menurut putra pasangan Supaini dan Jubaidah ini sebelum berangkat ke Nyanmar mewakili Indonesia ia bersama atlet cacat lainnya dari Indonesia dilatih secara intensif di Solo selama enam bulan.
Mereka memperoleh latihan oleh pelatihnya yakni bapak Dimin dan Bapak Handoko, katanya.

Sebelumnya dalam kejuaraan serupa di Solo Jawa Tengah (Indonesia) tahun 2011 lalu, Akhmad Rijali hanya bisa menyumbangkan perunggu.
Dalam kejuraan yang kala itu dibuka Wakil Presiden Boediono Ahmad Rijali meraih perunggu dicabang renang 50 meter gaya punggung kelas s8 waktu tempuh 41.11 detik.

Sementara peraih emas kala itu atlet Vietnam dengan waktu 39.10 dan peraih perak direbut atlet Thailand, Wongnongth Aphum Paibun waktu 40.91 detik.

Berdasarkan catatan Para Games diikuti atlet dari negara-negara ASEAN – Brunei, Kamboja, Indonesia, Laos, Malaysia, Myanmar, Filipina, Singapura, Thailand, Timor Leste, dan Vietnam

amat1

 

amat

Bersama Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora) Roy Suryo

“BANJARBAKULA” SOLUSI ATASI KERUWETAN KOTA BANJARMASIN

Oleh Hasan Zainuddin


Banjarmasin, 3/9 (ANTARA) – Dalam beberapa tahun terakhir Kota Banjarmasin, ibukota Provinsi Kalimantan Selatan kian sesak saja, dan hampir dipastikan dimana-mana selalu terjadi kemacetan.

“Itu baru jumlah penduduk 700 ribu jiwa, apalagi kalau sudah 900 ribu jiwa yang diprediksi tahun 2015, pasti kota ini kian sesak lagi,” kata Ketua Badan Perencanaan Pembangunan Kota (Bappeko) Banjarmasin, Fajar Desira.

Bagaimana tidak sesak, dengan jumlah penduduk sebesar itu menghuni wilayah yang hanya seluas 98 kilometer persegi.

Dengan kota seluas itu, menjadikan kota Banjarmasin sulit dirancang untuk menjadi sebuah kota yang nyaman sebagai solusi mengatasi keruwetan kota bukan hanya macet, tetapi juga kekumuhan, kebersihan, perparkiran, pemukiman, perkantoran, serta segudang persoalan lain.

Untuk membangun sebuah lokasi Ruang Terbuka Hijau (RTH) saja sampai sekarang Pemkot Banjarmasin belum mampu menyediakannya, padahal RTH sebuah persyaratan untuk kota yang nyaman.

Seperti diakui pula oleh Kepala Dinas Tata Ruang, Cipta Karya, dan Permukiman setempat, Ahmad Fanani banyak persoalan yang menghadang kota ini kedepan kalau tidak dicarikan solusi maka menjadi beban berat bagi masyarakat.

Ia menuturkan saat jumpa pers, selain lahan kota yang sempit 9700 Km2, juga topografinya yang berada 0,20 meter di bawah permukaan laut, sebagian besar lahan rawa dan banyak dialiri sungai.

Luas lahan di kota ini terdiri dari lahan pertanian 4.079 hektare atau 42,77 persen, lahan industri 278,6 hektare 3,87 persen, tanah tanah perusahaan 337 hektare 4,68 haktare, tanah jasa 447,9 hektare, dan tanah perumahan 3.057 hektare atau 42,46 hektare.

Kedepannya dipastikan lahan pertanian kian hilang, padahal wilayah ini juga perlu kesediaan pangan, tambahnya.

Dari wilayah tersebut terdapat kawasan kumuh wilayah Kecamatan Banjarmasin Selatan 46.310 hektare, Banjarmasin Tengah 34.760 hektare, Banjarmasin Barat 37.595 hektare, dan Banjarmasin Timur 40.609 hektare.

Kawasan kumuh itupun diprediksi akan terus meningkat seiring kian besarnya urbanisasi dan pertambahan penduduk lainnya, yang kesemuanya menambah keruwetan kota ini.

Dengan kondisi sedemikian menyebabkan kota ini sudah tidak nyaman yang berdampak terhadap meningkatnya biaya hidup, biaya kesehatan, biaya pendidikan, dan biaya biaya lainnya.

Melihat kondisi demikian maka harus dicarikan solusi yang terbaik dan dilakukan secara bertahap.

Untuk pemerintahan provinsi sudah mulai dipindahkan ke Kota Banjarbaru, atau berjarak 35 Kilometer dari Banjarmasin, dengan tahap awal ini pemindahan kantor Gubernur Kalsel,yang kemudian disusul oleh pembangunan dinas-dinas di lingkungan Pemrov Kalsel tersebut.

“Mudah-mudahan dengan dipindahnya kegiatan pemerintahan provinsi tersebut bisa memperlonggar Banjarmasin,” kata Fajar Desira.

Tetapi solusi terbaik mengatasi persoalan kota itu, adalah melalui konsep kota metropolitan Banjarmasin, Banjarbaru, Banjar, Barito Kuala, dan Tanah Laut atau yang sering disebut “Banjarbakula.” semacam konsep Jabodetabek.

“Belum lama ini kami diundang ke Jakarta oleh Kementerian Pekerjaan Umum. Dalam pertemuan tersebut, Kota Banjarmasin dan sekitarnya sudah diakui sebagai salah satu kota metropolitan ke-9 di Indonesia,” ungkap Fajar Desira.

Dengan demikian Banjarbakula menjadi kota metropolitan ke-9 dari 8 kawasan metropolitan lainnya.

Kota metropolitan itu diantaranya Jabodetabek (Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, Bekasi), Gerbangkertosusila (Gresik, Bangkalan, Mojokerto, Surabaya, Sidoarjo, Lamongan), Mamminasata (Makassar, Maros, Sanggumi-nasa, Takalar), Sarbagita (Denpasar, Badung, Gianyar, Tabanan), Kedungsapur (Kendang, Demak, Ungaran, Salatiga, Purwodadi), dan Mebidang (Medan, Binjai dan Deli Serdang), dan Bandung Raya.

Banjarbakula diberikan makna saling berkerabat atau berkeluarga antara masyarakat.

Makna Banjar berarti tanah suku Banjar, makna “bakula” berarti berkeluarga. Banjarbakula sama dengan orang Banjar berkeluarga.     Menurut Fajar, pemerintah Pusat memiliki penilaian tersendiri terhadap kawasan Metropolitan Banjarbakula tersebut, dengan memberikan dukungan pembangunan jembatan layan (fly over) serta pembangunan perumahan dan perkantoran.

Langkah awal untuk merealisasikan ini, tuturnya, diantaranya dengan mengadakan sejumlah program layaknya kota-kota metropolitan di provinsi lain, seperti pembangunan Tempat Pembuangan Akhir (TPA) sampah regional yang rencananya dipusatkan di Banjarbaru.

Selain itu pembangunan pasar induk, jalan tol, serta rencana pembangunan rel kereta api.

Rencana lain pembangembangan Bandara Syamsudin Noor, Pelabuhan Trisakti Banjarmasin, dan pembangunan Jembatan Barito dua.

Berdasarkan catatan konsep Banjarbakula sudah tertuang dalam Master Plan Percepatan dan Perluasan Pengembangan Ekonomi Indonesia (MP3EI).

Seperti diungkapkan Kasubdit Pengaturan Direktorat Jenderal (Ditjen) Penataan Ruang Kementerian PU Azwir Malaon dalam Dialog Tata Ruang TVRI Kalimantan selatan di Banjarmasin, belum lama ini.

Lebih jauh Azwir Malaon menambahkan bahwa Ditjen Penataan Ruang sejak tahun 2006 tanpa terputus telah memfasilitasi Pemerintah Daerah Kalsel merencanakan Kawasan Strategis Banjarbakula dimulai dari Penyusunan Rencana Tata Ruang, Bantuan Teknis Peningkatan Pelaksanaan Penataan Ruang sampai Peningkatan Kapasitas Penataan Ruang.

Materi teknis secara keseluruhan telah dibahas sehingga Pemerintah Daerah Provinsi Kalsel sekiranya perlu segera memprioritaskan dukungan legalitas agar dapat menjadi referensi resmi dalam mengembangkan Kawasan Banjarbakula.

Ditjen Penataan Ruang juga telah memfasilitasi Persetujuan Substansi untuk Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Kota Banjarmasin.
Untuk RTRW Kabupaten Banjar, Kabupaten Barito Kuala dan Kabupaten Tanah Laut telah dilakukan pembahasan di Forum Badan Koordinasi Penataan Ruang (BKPRN) dan akan segera mendapatkan Persetujuan Substansi dari Menteri PU.

Dengan terwujudnya konsep Banjarbakula tersebut diharapkan kian mempercepat pembangunan  lima daerah di Kalsel tersebut sekaligus sebagai solusi memecahkan persoalan perkotaan.

“MENGANGARUN” KIAT ORANG MISKIN MILIKI KEBUN

Oleh Hasan Zainuddin

kayu tebangan
Warga yang tergolong miskin di bilangan kaki, lereng, dan Pegunungan Meratus Pedalaman Provinsi Kalimantan Setalan agaknya tak perlu khawatir akan kehidupannya ke depan.

“Asal saja mereka tidak malas, dan mau bekerja keras dan pantang menyerah, Insya Allah, bisa menjadi kaya, setidaknya mempunyai kebun sendiri,” kata Mursidi, ketua RT 7 Desa Panggung Kecamatan Paringin Selatan, Kabupaten Balangan.

Sebab, kata Mursidi, ada cara yang berlaku di wilayah tersebut untuk mengatasi kemiskinan, yakni “mengangarun,”, atau sistem kerja bagi hasil.

Sistem kerja bagi hasil di kawasan setempat sudah berlaku sejak lama, baik usaha peternakan, usaha perikanan, persawahan, dan terakhir yang memberikan keuntungan adalah usaha perkebunan karet.

Sebagai contoh, kata Mursidi, bila seorang miskin tak memiliki kebun karet tetapi ia mau bekerja keras, maka ia bisa mengerjakan lahan milik orang lain dengan sistem mengangarun.

Caranya, lahan berupa semak belukar milik orang lain tersebut dikerjakan oleh si miskin, kemudian lahan tersebut ditanami karet unggul, dan nanti setelah usia karet berumur dua tahun hasil panenannya dibagi dua.

Satu bagian untuk pemilik lahan satu bagian lagi hak milik si penggarap, atau bila dalam satu hektare terdapat 600 pohon karet unggul maka 300 pohon untuk pemilik lahan 300 pohon lagi untuk penggarap.

memanduk

“Sekarang harga satu batang karet unggul yang baik sudah mencapai Rp1 juta per pohon, bayangkan kalau si miskin sudah memiliki 300 pohon maka ia dalam dua tahun saja sudah memperoleh uang Rp300 juta, sehingga yang bersangkutan tak bisa lagi dikatakan si miskin,” maka Mursidi.

Apalagi kalau ia berhasil menggarap lahan beberapa hektare sudah bisa dikalikan keuntungannya dalam dua atau tiga tahun ke depan, karena itu di kawasan itu kini sudah sulit mencari orang berkategori miskin, katanya.

Bukan hanya semak belukar yang bisa digarap dengan sistem mengangarun tersebut, tetapi juga lahan kebun karet yang sudah tua yang harus ditebang ulang, untuk menanam karet muda itu juga sistemnya sama, yakni bagi hasil.
Apalagi kata Mursidi, yang dibagi hasil tersebut hanyalah pohon karet, tetapi untuk tanaman lainnya itu mutlak milik si penggarap.

Contoh lagi, kata tokoh masyarakat tersebut, selama penggarapan lahan, tahap pertama lahan yang sudah dibuka ditanami padi gogo (padi gunung) bila padi itu panen maka seratus persen milik penggarap.

Saat menanam padi saat itu juga ditanam bibit pohon karet unggul, kemudian selain tanam padi penggarap juga bisa mengembangkan sayuran, seperti cabai, terung, kacang-kacangan dan apa saja semuanya hasilnya untuk penggarap.

Setelah pohon karet berumur dua hingga tiga tahun di mana lahan tidak bisa lagi ditanami padi dan sayuran barulah kebun dibagi dua, dan masing-masing bagian setelah adanya pembagian tersebut harus menjadi tanggung jawab sendiri-sendiri.

Umpamanya, bagian untuk pemilik lahan maka kebun itu harus dijaga sendiri oleh pemilik lahan, sementara bagian lain milik penggarap maka dijaga sendiri oleh penggarap.

bamasakan

Yang perlu diwaspadai terhadap pohon karet muda adalah serangan gulma ilalang, penyakit akar jamur putih, atau yang paling menakutkan adalah kebakaran hutan yang merembes ke perkebunan.

Semua itu sudah menjadi tanggung jawab masing-masing, kata Mursidi, yang diakuinya ia sendiri sudah menggarap lahan milik orang beberapa lokasi, dan akhirnya sekarang ia memiliki beberapa buah kebun karet unggul sendiri yang sudah bisa menopang kehidupan keluarganya.
Menungal

Menggarap lahan kebun karet tak ubahnya sistem ladang berpindah, yakni bila semak belukar ditebang ditanami padi kemudian jadi kebun maka dicari lagi lahan lain kemudian jadi kebun lagi begitu seterusnya.

Pertama semak belukar atau hutan ditebang kemudian kayu hasil tebangan dibiarkan hinggga kering, biasanya saat kemarau, setelah lahan yang penuh tumpukan pepohonan kering tersebut dibakar atau istilah setempat “dipanduk” saat mendekati musim penghujan.

Setelah lahan dibakar lalu bersih setelah turun hujan ditanami padi sistem tugal, makanya cara menanam padi ini disebut juga dengan istilah “manugal,” kata Suhardi mantan kepala desa Panggung menjelaskan saat penulis berada di kampung tersebut.

banih tugal

Bertani manugal ini menurut Suhardi kental gotong royong, seperti mamanduk atau membakar lahan saja itu harus gotong royong melibatkan sedikitnya 30 warga kampung, selain membakar juga untuk menjaga api agar tidak menjalar ke semakbelukar lain atau ke hutan mencegah mencegah kebakaran hutan lebih besar.

“Makanya sekeliling lahan yang hendak dibakar itu diberi batas, caranya batas tersebut harus dibersihkan dari benda yang mudah terbakar, seperti dedaunan atau ranting pohon,” katanya.

Kemudian lagi saat menugal atau menanam benih padi juga melibatkan sedikitnya 50 warga baik laki-laki maupun perempuan, sehingga dalam satu hari saja lahan sudah selesai ditanami.

Biasanya laki-laki membuatkan lubang di tanah dan perempuan menaburkan bibit benih ke lubang tersebut, cara melubangi tanah itu pun dengan hanya menancapkan sebatang kayu runcing ke tanah.

Dalam acara gotong royong baik saat memanduk atau menugal biasanya selalu dibarengi dengan “bamasakan” atau selamatan, dengan makan nasi dengan lauk seadanya, atau setidaknya hidangan ketan dengan campur kelapa bergula merah (hinti).

“Gotong rotong memanduk dan menugal tersebut sudah ada sejak nenek moyang, sehingga warga tak kesulitan mengerjakannya, walau yang dikerjakan tanah milik orang lain tetapi gotong royong itu selalu ada,” kata Suhardi.

Seorang guru besar Fakultas Pertanian, Dr Abdul Haris Mustari pernah meneliti sistem bertani menugal di kawasan Pedalaman Kalsel ini.

Menurut dia, dalam gotong royong tersebut laki-laki menugal (melubangkan lahan untuk benih) dan perempuan memasukkan benih padi ke lubang tugal dengan jarak tanam 20cm x 20cm, di mana setiap lubang diisi 5-7 benih.

Lubang tugal tidak ditutup, dibiarkan terbuka, tapi lama kelamaan lubang itu dengan sendirinya akan tertutup oleh tanah akibat aliran air hujan pada permukaan tanah.

Sebelum menanam, dilakukan doa atau permohonan kepada tuhan agar hasil padi melimpah dan dapat dinikmati oleh seluruh anggota keluarga.

Varietas padi di komunitas petani Meratus sangat tinggi, tercatat minimal 28 varietas padi, baik padi biasa maupun padi pulut (lakatan).

Orang pedalaman Kalsel telah melestarikan berbagai varietas padi secara turun temurun karena itu lingkungan alam telah menjadi bank gen (gene pool) untuk berbagai varietas padi yang sangat penting dilestarikan karena diperlukan dalam rangka pemuliaan padi yang lebih unggul yang diperlukan manusia.

Selain padi, orang pedalaman Kalsel juga menanam berbagai jenis palawija dan tanaman tahunan yang menunjang kehidupan mereka.

Beberapa varietas padi yang ditanam warga Meratus diantaranya Sabai, Tampiko, Buyung, Uluran, Salak, Kanjangah, Kihung, Kalapa, Uluran, Kunyit, Briwit, dan Sabuk.

Selain padi biasa, juga ditanam padi pulut atau lakatan yaitu jenis Kariwaya, Kalatan, Harang, Samad dan Saluang.

Diantara berbagai varietas padi itu, Buyung dan Arai adalah yang paling digemari karena wangi dan enak rasanya. Semua padi yang ditanam adalah varietas lokal, umur panen enam bulan.

Bersamaan dengan penanaman padi itu, juga ditanam berbagai jenis palawija seperti singkong atau disebut gumbili, lombok, timun, labuh, kacang panjang, berbagai jenis pisang, keladi, yang kesemuanya itu menjadi makanan tambahan.

Menurut beberapa tetuha penduduk setempat, dengan bertani dan berkebun demikian maka kehidupan warga tak pernah merasa kekurangan, sebab selain hasil padi, plawija, juga ada kebun karet, dan kebun lainnya.

tanam sayuran

DOMINASI “APAM BERAS” HIDANGAN LEBARAN MULAI TERGESER

Oleh Hasan Zainuddin

Kue apam
Banjarmasin, 20/8 (ANTARA) – Sederetan toples berisi aneka makanan seperti biskuit, manisan, dan gula-gula berjejer di meja tamu sebuah rumah penduduk di Desa Inan Kecamatan Paringin Paringin Selatan, Kabupaten Balangan, Kalimantan Selatan.

Sementara, sebuah piring beralaskan daun pisang yang berisi penganan khas setempat, berupa “apam beras”, juga disediakan pemilik rumah di saat lebaran Idul Fitri tahun 1433 Hijriah ini.

Kondisi demikian agaknya membuktikan bahwa kini telah terjadi sedikit pergeseran dominasi hidangan lebaran di kawasan kaki Pegunungan Meratus tersebut, dari dominasi penganan apam beras ke makanan yang lebih modern yang banyak diperjualbelikan di supermarket, minimarket atau pasar lainnya.

“Sekarang aneka macam biskuit, aneka manisan, dan gula-gula mudah diperoleh dan harganya relatif terjangkau, sehingga kami juga menyediakan aneka makanan modern tersebut,” kata Supian, penduduk setempat.

Masuknya kue-kue modern tersebut setelah berbagai kemajuan juga dirasakan di kawasan yang dikenal sebagai wilayah perkebunan karet alam itu, terutama jaringan jalan yang mulus sampai ke desa-desa termasuk terang benderang listrik masuk desa, sehingga pemasaran kue modern sampai ke wilayah itu.

Tetapi keberadaan kue khas apam beras tetap selalu ada, dan itu seakan harus disediakan, sebab kue tersebut dinilai lebih sakral dan bermakna, katanya.

Menurut Ibu Hasnah, penduduk setempat membuat kue itu tak terlalu susah, caranya adalah beras direndam ke dalam air satu malam, kemudian ditumbuk di dalam lesung menggunakan alu.

Agar beras tersebut lebih halus kemudian beras yang sudah ditumbuk disaring dengan alat khusus yang disebut “ayakan” hingga menghasilkan tepung beras yang lembut.

Tepung beras kemudian dicampur air secukupnya, lalu diberi kapur dan ragi, serta beberapa bahan lainnya, kemudian diaduk rata, setelah itu barulah dikamir (permentasi) satu malam.

Setelah adonan dibiarkan dipermentasi satu malam bila dinilai sudah kamir atau “rawap” (pengembang), barulah adonan tersebut dimasak dengan cara dikukus dalam panci besar.

Caranya, adonan dimasukkan dalam wadah khusus yang disebut cipir, lalu dimasukkan ke dalam panci besar yang berisikan air, tentu saja adonan di dalam cipir tak sampai terkena air.

Lalu panci besar tersebut ditaruh ke atas tungku untuk dimasak menggunakan bahan bakar berupa kayu bakar, dan dibiarkan beberapa saat. Bila sudah matang baru apam baras tersebut diambil dan dibungkus dengan daun pisang atau daun keladi (talas), kata Ibu Hasnah.

Setelah semua dinilai siap barulah kue apam dihidangkan kepada para tamu, atau bisa pula menjadi sovenir bagi pendatang ke kampung tersebut, sebagai oleh-oleh pulang.
Kue Sakral

dua kue dinilai sakral
Bukan hanya apam beras yang harus tersedia pada hidangan lebaran itu, tetapi bagi warga tertentu juga harus menyediakan tapai ketan, dan aneka kue tradisional lainnya.

Kue apem terbagi dua lagi, yaitu jenis apam beras warna merah dan apem beras bewarna putih.

Kue apem bewarna merah diberi gula merah, sementara apam beras putih tak diberi gula. Namun, untuk menikmati kue apam warna putih harus disediakan cairan gula merah (juruh) atau sirup.

Menurut Supian, hidangan kue apam seakan harus ada karena kue itu yang paling banyak dicari para pendatang dari kota.

Para perantau yang pulang kampung biasanya datang dari Kota Banjarmasin dan daerah lain di Kalsel, maupun yang datang dari kota lain Samarinda, Balikpapan (Kaltim), Palangkaraya, Kuala Kapuas, Sampit (Kalteng), bahkan dari Pulau Jawa dan Sumatra.

Para perantau datang ke kampung saat lebaran selain sungkeman kepada orang tua, sanak famili sekaligus juga berziarah ke makam orang tua atau sanak famili yang sudah meningal dunia.

Para pendatang yang umumnya berhasil mengadu nasib di kota itu rindu kampung halaman sekaligus bernostalgia mencicipi berbagai hidangan khas setempat terutama di saat musim lebaran.

Kerinduan semacam itu itu biasanya mampu menyingkirkan penganan atau biskuit serta makanan kecil yang dibuat secara modern.

Pada saat itu, menu yang dinikmati mereka justru kue-kue tradisional setempat yang seperti apam baras.

Kue apam yaitu satu kue tradisional yang dibuat melalui hasil permentasi kemudian dikukus dan dihidangkan setelah dibubuhi berbagai campuran.

Bukan hanya kue apam yang dihidangkan penduduk setempat yang mayoritas beragama Islam tersebut, tetapi juga kue-kue tradisional yang lain.

Bahkan kue tradisional lainnya itu termasuk kue langka yang biasanya hanya dibuat saat lebaran atau acara-acara kenduri yang bersifat sakral.

Taruhlah kue tradisional dimaksud seperti kue lemper, kue cucur, lemang, tapei ketan atau tapei ubi kayu, cingkarok batu, pupudak, gagatan, bulungan hayam, kikicak, kraraban, pais waluh, dan lainnya.

Ada di antara kue yang dihidangkan itu dinilai sakral dan tak sembarang orang boleh membuatnya.

Sebab dalam pembuatannya kalau tidak mengindahkan kaidah yang sudah dipercayai dan berlaku di kawasan tersebut maka pembuat kue itu bisa kualat.

Kue yang bersifat sakral tersebut, seperti lemang, wajik, bubur habang, bubur putih, cucur, serta kue sasagon.

Kue-kue ini oleh nenek moyang dulu dibuat dan digunakan untuk suguhan acara tertentu, seperti acara pengobatan untuk pasien yang sakit.

“Tak bisa dipungkiri kepercayaan nenek moyang di kawasan pedalaman Kalimantan Selatan ini masih kental nuansanya dan mempengaruhi budaya warga hingga sekarang, karena nenek moyang warga setempat sebelum masuknya Islam adalah beraliran animesme kaharingan,” kata seorang penduduk setempat.

Seorang pemudik lebaran dari Banjarmasin Abumansyur menyatakan bahagia ketika pulang kampung, karena ia bisa bernostalgia mencicipi kue-kue zaman dulu

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 41 pengikut lainnya.