LEBARAN BERIKAN BERKAH WARGA KAMPUNG KETUPAT

Oleh Hasan Zainuddin


Sekelompok gadis memainkan jemarinya mengayam daun kelapa dan daun nipah muda hingga menjadi kulit ketupat yang disebut “urung”.

Sementara para ibu-ibu begitu asyiknya merebus kulit ketupat yang sudah diisi dengan beras hingga menjadi ketupat matang yang siap dijual kepada pembeli yang datang dari berbagai penjuru.

Begitulah kesibukan para gadis dan ibu-ibu yang berada di “kampung ketupat” desa Sungai Baru atau Jalan Pekapuran Kota Banjarmasin, ibukota provinsi Kalimantan Selatan.

Kesibukan kian terlihat menjelang Lebaran yang seperti sekarang ini, karena permintaan akan kulit ketupat maupun ketupat yang sudah masak meningkat tiga kali lipat dibandingkan hari biasanya.

Permintaan ketupat meningkat menyusul kian digemarinya makanan yang berbahan ketupat saat suguhan tamu Idul Fitri.

“Permintaan kulit ketupat maupun ketupat yang sudah matang meningkat tajam menjelang Idul Fitri, hampir-hampir kami kewalahan menerima pesanan tersebut,” kata Acil Nurul perajin ketupat saat ditemui bekerja di kampung ketupat, Sabtu.

Menurut Acil Nurul, bila hari biasanya satu keluarganya hanya membuat 200 buah ketupat masak, tetapi karena banyaknya permintaan maka pembuatan menjadi 700 buah per hari.

“Kalau keluarga kami masih mending hanya 700 buah, kalau keluarga perajin yang lain bisa sampai 3.000 hingga 4.000 buah per perhari,”kata Acil Nurul seraya menunjuk beberapa lokasi pusat penjualan ketupat di kawasan padat penduduk tersebut.
Sebab, tambahnya, permintaan bukan datang dari Kota Banjarmasin ini saja tetapi ada yang datang dari Kota Banjarbaru, Martapura, Marabahan dan kota-kota lain di Kalsel, bahkan datang dari Kota Kuala Kapuas Kalimantan Tengah.

Ketupat masak dijual dengan harga Rp3.000 per buah, sementara kalau kulit ketupat disebut urung hanya dijual Rp5 ribu per 10 buah.

“Kalau kami mampu menjual 700 buah ketupat masak per hari dikalikan Rp3.000,- maka per hari kami memperoleh uang Rp2.100.000,-per hari, kalau dikurangi biaya produksi maka keuntungannya sekitar Rp1 juta per hari,” kata Acil Nurul.

Keuntungan tersebut hanya beberapa hari ini saja saat menjelang Lebaran, tetapi usai lebaran biasanya pasarannya biasa-biasa lagi seperti sedia kala yaitu sekitar 200 buah per hari.

Ketupat tersebut dibeli oleh masyarakat sebagai bahan makanan khas seperti soto Banjar, katupat batumis, katupat kandangan, campuran makan sate, gado-gado, maupun untuk bahan makanan lainnya.

Menurut Acil Nurul yang ditemani putrinya, mereka sekeluarga merupakan perajin yang bertindak sebagai grosir, hasil olahan mereka diambil oleh pedagang eceran yang menggelar dagangan lagi di beberapa lokasi di kota ini.

“Kami di kampung ketupat ini hanya sebagai perajin, kemudian dibeli atau dipesan oleh pedagang eceran, bila kami jual Rp3.000 per biji, maka pedagang eceran menjual lagi antara Rp3.500,- hingga Rp4.000,- per buah,” katanya.

Lihat saja di berbagai lokasi penjualan ketupat di Banjarmasin ini seperti di jalan A Yani, Jalan Pire Tendean, Jalan kelayan dan daerah lainnya hampir dipastikan mereka mengambil ketupat tersebut dari perajin kampung ketupat, kata Acil Nurul.
Sejak zaman Jepang
Menurut keterangan keberadaan kampung ketupat sebagai sentra perajin ketupat memang sudah lama berlangsung, dan konon sejak zaman penjajahan Jepang dulu.

Mulyadi (60) tahun penduduk asli setempat menuturkan, kebiasaan warga membuat ketupat itu sudah terjadi turun temurun, hampir tak ada yang tahu persis sejak mulainya kebiasaan tersebut.

“Kakek saja yang bernama Datok Elok pernah bercerita sejak ia kecil kebiasaan membuat ketupat sudah ada di kampung tersebut, yang berarti jelas sudah ratusan tahun,” kata Mulyadi.

Menurut Mulyadi, Datok Elok merupakan tetuha kampung yang membangun Desa Sungai Baru, karena itu hampir seluruh perajin ketupat di lingkungan itu sebagian besar adalah keturunan Datok Elok.

Jumlah perajin ketupat di kampung ketupat sudah sulit di hitung jumlahnya, karena menyebar di lingkungan RT 1, RT 2, RT 3, RT 4, RT 5, RT 6, hingga lingkungan RT 7.

Tadinya mereka yang membuat ketupat hanyalah penduduk asli setempat, tetapi setelah potensi ekonomi membuat ketupat begitu menjanjikan sehingga belakangan banyak pendatang yang juga ikut-ikutan menjadi perajin ketupat.

Banyak pendatang dari Jawa dan Madura yang sekarang menjadi perajin ketupat, kata Mulyadi.

Menurut Mulyadi yang mengaku sejak kecil sudah tinggal di kawasan tersebut usaha membuat ketupat memberikan lapangan pekerjaan terhadap banyak orang.

Bukan saja mereka yang hanya mengayam daun kelapa dan daun nifah menjadi kulit ketupat, tetapi tak sedikit yang menjadi pedagang grosir, pedagang eceran, sampai mereka yang bertindak sebagai pencari bahan baku daun kelapa dan daun nifah.

Untuk daun muda kelapa muda lantaran belakangan ini sudah mulai sulit diperoleh, maka banyak yang didatangkan dari daerah lain, begitu pula untuk daun muda tanaman nifah (tanaman pantai) didatangkan lebih jauh lagi.

Daun nipah ini didatangkan oleh pencarinya dari Tanipah, wilayah pesisir laut Jawa, yang dibeli oleh perajin dengan harga Rp15 ribu per ikat, satu ikat bisa menjadi 300 buah kulit ketupat,” kata Mulyadi.

Sementara daun muda kelapa juga Rp15 ribu per ikat dengan hasil yang bisa diolah lebih banyak lagi jumlah ketupatnya, karena biasanya ketupat dari daun kelapa maka lebih kecil dibandingkan dengan ketupat daun nipah.

Menurut Mulyadi, para perajin ketupat tersebut selain panen saat lebaran Idul Fitri juga biasanya panen saat lebaran Idul Adha, tetapi juga bisa meningkat saat Imlek, atau hari Natal.

Sementara pada hari-hari biasa kebanyakan perajin hanya memenuhi para pemilik warung maran, restauran, dan pesanan pribadi untuk keperluan rumah tangga.

 

BERSEPEDA MOTOR MUDIK LEBARAN SEBUAH KESENANGAN

Oleh Hasan Zainuddin


Mengendarai sepeda motor bersama keluarga, istri dan dua anak serta beberapa buah tas berisi pakaian dengan jarak tempuh 210 kilometer dari Banjarmasin ke kampung halaman sudah terbiasa di saat pulang mudik Lebaran.

Padahal saat balik mudik tentu sepeda motor bertambah beban, selain keluarga dan tas pakaian masih ada setandan pisang, kelapa, dan sayuran yang ikut bergelantungan.

“Kalau dipikir-pikir sebelumnya tak akan mampu mengendarai sepeda motor dengan beban seperti itu, tetapi setelah dijalani kok enteng-enteng saja,” kata Abu Mansyur penduduk Kota Banjarmasin yang pulang kampung ke Desa Panggung, Kecamatan Paringin Selatan, Kabupaten Balangan, Kalimantan Selatan.

Bahkan berkendaraan sepeda motor saat-saat seperti itu, merupakan sebuah tantangan, dan keasyikan tersendiri yang menyenangkan hati, kata Abu Mansur yang mengaku setiap tahun pulang kampung tersebut.

Kebiasaan mudik lebaran menggunakan sepeda motor belakangan ini seakan menjadi trend baru, sehingga seminggu sebelum dan sesudah lebaran terlihat jalan trans Kalimantan, khususnya antara Kota Banjarmasin, ibukota Provinsi Kalimantan Selatan (Kalsel) ke arah kawasan Banua Enam (enam kabupaten Utara Kalsel) atau yang sering disebut kawasan hulu sungai dipenuhi konvoi sepeda motor.

Apalagi jarak tempuh antara dua wilayah tersebut relatif tak jauh, paling jauh hanyalah ke Kabupaten Tabalong sekitar 250 kilometer Banjarmasin, ditambah dengan kondisi jalan yang mulus beraspal maka naik sepeda motor menjadi pilihan, dan waktu tempuh hanya beberapa jam saja.

“Ketimbang harus naik angkutan darat roda empat yang tarifnya kian mahal, dan harus berjubel pula mendingan naik sepeda motor sendiri, selain murah meriah, santai, bahkan ada rekreasinya,” kata Abu Mansyur.

Bayangkan saja bila seorang pemudik yang harus menggunakan angkutan kendaraan roda empat harus beberapa tempat dilalui, mulai dari rumah ke terminal angkutan kota dulu, dari terminal angkutan kota baru ke terminal induk.

Dari terminal induk di Banjarmasin itu bisa jadi akan beberapa kali singgah di terminal lainnya, baru sampai ke terminal tujuan di kota yang dituju.

Sampai di terminal di kota yang dituju harus mencari angkutan lagi baru sampai ke rumah, paling tidak mencari ojek, akibatnya selain menelan waktu lama biaya yang dikeluarkan sangat mahal.

Ambil contoh saja, kalau naik angkutan umum dari Banjarmasin ke desanya Panggung Kecamatan Paringin, mungkin satu orang bisa mengeluarkan dana minimal Rp75 ribu, bayangkan kalau satu keluarga empat orang berarti uang harus keluar Rp300 ribu, kalau pulang pergi berarti harus tersedia uang Rp600 ribu.

Dibandingkan kalau hanya menggunakan sepeda motor, tinggal mengisi bensin sepuluh liter Rp45 ribu itu sudah bisa pulang pergi berarti biaya yang harus dikeluarkan sangat murah, biaya lainnya bisa dipergunakan untuk bersedekah ke sanak famili di kampung, kata Abu Mansyur lagi.

Mengingat pertimbangan itulah maka berkendaraan mudik Lebaran sekarang menjadi banyak pilihan pemudik di Kalsel.

Apalagi, kata pemudik yang lain Aliansyan yang tujuannya ke Tanjung Kabupaten tabalong sejak beberapa tahun belakangan ini mentradisikan pulang lebaran berkonvoi ria.

Naik sepeda motor mudik banyak kelebihannya, antara lain pemudik tak mesti harus menjadwalkan waktu keberangkatan, bila sudah siap maka sudah bisa berangkat, baik pagi, siang, bahkan malam hari sekalipun.

Sementara kalau ingin naik angkutan darat atau angkutan sungai maka untuk jurusan tertentu biasanya ada jam tertentu pula keberangkatannya, makanya harus menyesuaikan jam keberangkatan tersebut.

Kelebihan lain kalau naik sepeda motor perjalanan bisa diatur sedemikian rupa, kalau sudah lelah bisa beristirahat dulu di kawasan tertentu yang nyaman, seperti singgah di perkebunan karet cukup beralaskan tikar seadanya maka bisa tiduran sekeluarga, setelah merasa segar lagi baru perjalanan dilanjutkan.
Kesetiakawanan
Biasanya dalam mudik Lebaran, banyak sekali yang menggunakan sepeda motor seperti muatan satu keluarga tersebut, sehingga ada perasaan kesetiakawanan antar pemudik.

Saling janjian berangkat, saling janjian lokasi istirahat, bahkan saling janjian bantu membantu bila ada persoalan di jalan menjadi sebuah ikatan antar pemudik.

“Dalam perjalanan mudik lebaran itu, biasanya ada sepeda motor pemudik yang ngadat atau mogok, maka secara bersama-sama pemudik untuk memperbaikinya, yang satu biasanya membawa peralatan kunci, yang lain membawa peralatan tambal ban, bahkan ada yang membawa pompa angin dan sebagainya,” kata Aliansyah.

Sementara Abdul Fatah seorang bujangan yang sudah membudayakan pulang kampung naik sepeda motor menyatakan rasa senangnya kalau mudik lebaran tersebut, masalahnya tambahnya biasanya ia bersama-sama teman satu kelompok tiga sampai lima orang janjian berangkat ke kampung halaman.

Tetapi dalam perjalanan mereka tak semata tancap gas menuju kampung, tetapi justru menyinggahi lokasi-lokasi objek-objek wisata yang dilalui.

“Kami biasanya sebelum sampai ke kampung di Paringin, Kabupaten Balangan menyempatkan dulu singgah ke sungai Batu Benawa untuk rekreasi, atau ke beberapa objek wisata lain,” kata Abdul Fatah.

“Biasanya dalam perjalanan singgah di hamparan pepohonan rindang sekitar Binuang, dan satu kelompok menggelar kemah dan sempat beberapa jam istirahat di sana bahkan biasanya kalau pulang lagi ke Banjarmasin singgah lagi di sana sempat saja menggelar acara masak-masak sehingga sungguh menyenangkan,” katanya.

Kalau cerita pemudik yang lain bersepeda motor karena mudah singgah dimana saja apalagi ia suka sekali dalam perjalanan melakukan ziarah ke kubur para ulama.

Makanya dalam perjalanan biasanya ia bersama keluarga mampir ziarah di beberapa kuburan yang dinilai kramat, seperti makam Datuk Kelampaian, atau yang lebih dikenal makam Syekh Muhamad Arsyad Al Banjari, atau maka ke makam guru sekumpul yang dikenal dengan makam KH Zainie Ganie.

Setelah itu, menyinggahi makam Datu Sanggul di Kabupaten Tapin, dan lokasi-lokasi ziarah lainnya, disamping singgah di masjid-masjid tua dinilai kramat untuk shalat, sehingga dalam kegiatan mudik lebaran ini tak sekedar pulang kampung tetapi ada nilai keagamaan yang diperoleh dalam tradisi tersebut, tambahnya.

Setibanya di kampung halaman lalu ingin kemana-mana lagi mengunjungi sanak famili mengucapkan selamat Lebaran menjadi mudah dengan kendaraan sendiri, tak perlu harus cari angkutan lagi.

Kian ramainya konvoi kendaraan bermotor mudik lebaran sekarang ini selain memang jalan sudah tersambung kemana-mana juga tingkat kesejahteraan masyarakat kian membaik.

Dengan tingkat kesejahteraan yang membaik sehingga sebagian besar keluarga di Kalsel belakangan ini memiliki sarana sepeda motor.

Apalagi belakangan ini berbagai dealer sepeda motor begitu kian gencarnya mempromosikan dagangannya serta mempermudah penjualan kendaraan roda dua itu dengan cara sistem kredit, tanpa uang muka pula, akhirnya jumlah kepemilikan sepeda motor warga Kalsel kian tak terbendung.

Hanya saja kendaraan yang dimiliki oleh warga Kalsel sebagian besar jenis bebek, sedikit sekali sepeda motor jenis lainnya.

Pihak Dinas Perhubungan Kalsel mengakui bahwa jumlah pemudik lebaran di wilayah Kalsel ini baik yang meninggalkan Kalsel maupun antar daerah di propinsi ini terus meningkat.

Jumlah pemudik lebaran di Kalsel per tahun diperkirakan 1,85 juta orang dan dari jumlah itu sebanyak 1,3 juta orang memanfaatkan mudik lebaran melalui jalur darat.

Dari 1,3 juta pemudik lebaran di Kalsel itu ditaksir 80 ribu orang pemudik menggunakan trend baru dengan memanfaatkan sepeda motor.

 

DR ABDUL HARIS MUSTARI, ILMUAN PENGGALI ILMU TANI DAYAK MERATUS

 

 

Oleh Hasan Zainuddin

Dr Abdul Haris Mustari

“Ketertarikan pada tanaman padi sudah tumbuh sejak saya masih kecil dan setiap kali melihat hamparan padi menguning, hati selalu terenyuh, senang melihat malai padi kuning menunduk berat, tanda harapan bagi petani masih ada.” kata Dr. Ir. Abdul Haris Mustari, MSc.

“Saya yakin siapapun yang melihat padi sedang menguning, hatinya pasti senang, karena kesenangan pada padi bersifat universal, padi tetaplah tanaman yang terindah dan terpenting yang Tuhan ciptakan untuk umat manusia,” kata dosen Departemen Konservasi Sumberdaya Hutan, Fakultas Kehutanan Institut Pertanian Bogor (IPB).
Oleh karena itu, ketika terlibat dalam penilItian tim ekspedisi Khatulistiwa di Pegunungan Meratus Provinsi Kalimantan Selatan bersama tim TNI, Haris Mustari mengaku matanya selalu tertuju pada hamparan padi menguning di lembah dan lereng Pegunungan Meratus itu.
Kebetulan dalam periode ekspedisi itu, April-Juli 2012, bertepatan dengan musim padi menguning di penjuru negeri Meratus.
Karena itu ia tertarik untuk menggali kehidupan agraris dan kearifan tradisional Dayak dalam bercocok tanam dan bagaimana mereka memperlakukan padi secara istimewa.
“Kami memang tidak punya uang, tapi kami sugih (kaya) banih (padi) ”, demikian pak Imar penduduk Pegunungan Meratus seperti dikutip Haris Mustari.
Menurut Haris kala itu Pak Imar berkisah ketika semalam suntuk saat ia dan Praka Paskhas Tugiran meminta ijin untuk menginap bersamanya di pehumaan (sawah lahan kering) di Gunung Nunungin yang sejuk di kampung Manakili, Loksado, Pegunungan Meratus.
Tujuan mereka menginap adalah menggali kearifan tradisional Dayak melalui tokoh itu. Meski singkat, tapi sangat mengesankan untuk menimba ilmu yang sangat berharga dari Pak Imar.
“Saya dengan latar belakang akademis dari suatu perguruan tinggi yang terkenal dan tertua ilmu-ilmu pertaniannya, IPB dan sempat menimba ilmu selama kurang lebih tujuh tahun di luar negeri, bagi saya ilmu yang diberikan tokoh dan masyarakat Dayak itu membuat saya semakin menundukkan kepala dan merendahkan hati,” Kata Haris Mustari.
Ternyata banyak ilmu bertani dan kearifan tradisional warisan leluhur yang sangat berguna yang tidak didapatkan di bangku kuliah, tambah Haris Mustari.
“Kami adalah Dayak Meratus, yang mewarisi hutan dan alam Pegunungan Meratus”, demikian mereka membuat identitas diri. Bagi orang Dayak, bercocok tanam adalah sumber utama penghidupan.
Penduduk asli Kalimantan ini menanam berbagai jenis tanaman seperti padi, singkong, keladi, pisang, ubi dan berbagai jenis palawija yang menunjang kehidupan sehari hari.
Dari berbagai jenis komoditi pertanian tersebut, padi adalah yang paling utama karena menjadi makanan pokok.
Padi dalam bahasa Dayak Meratus disebut banih, setiap nama padi didahului dengan kata banih. Bagi orang Dayak, padi bukan sekedar makanan pokok tetapi menjadi jenis tanaman yang disakralkan.
“Padi adalah pemberian langsung Sang Dewata atau Sang Hyang yang sangat penting bagi kami” ujar Pak Imar kepala adat di kampung Manakili.
Padi diperlakukan istimewa, mulai dari penyiapan lahan, penanaman, pemeliharaan dan pemanenan, bahkan setelah dipanen dan disimpan di lumbung, padi tetap diperlakukan istimewa.
Padi ditanam pada lahan kering dengan sistem perladangan berpindah/balik dengan rotasi bervariasi 5 – 10 tahun. Lokasi perladangan, dalam bahasa Dayak disebut Pahumaan, mulai dari dataran rendah sampai lereng-lereng terjal di perbukitan dan pegunungan, bahkan sampai kelerengan sekitar 70 derajat masih dapat dijumpai lahan penanaman padi orang Dayak.
Padi menguning dipuncak dan lereng gunung umum adalah pemandangan yang umum dijumpai di sekitar pemukiman Dayak Meratus.
Bagi orang awam atau bagi mereka yang sudah mengenal sistem pertanian menetap, perladangan berpindah dianggap sebagai pemborosan lahan, terlalu banyak areal yang dibuka sehingga mengorbankan kawasan hutan.
Tapi bagi orang Dayak yang telah mempraktekkan sistem perladangan berpindah secara turun temurun, perladangan berpindah dimaksudkan untuk menjaga kesuburan tanah dan memudahkan pembukaan lahan.
Alasannya dengan rotasi 5 – 10 tahun, lahan garapan diberi kesempatan untuk memulihkan unsur hara tanah yang diperlukan tanaman melalui dekomposisi serasah dan bahan organik.
Selain itu, agar lahan lebih mudah dikerjakan karena semak belukar yang segera tumbuh setelah padi dipanen, dalam jangka waktu 2-4 tahun masih sangat rapat dan sulit dibersihkan, sehingga harus menunggu berbagai jenis tumbuhan berkayu pioner seperti Mahang (Macaranga sp), Piper adunctum, dan jenis tumbuhan berkayu lainnya tumbuh dan terjadi suksesi alamiah membentuk hutan sekunder muda agar semak belukar seperti kirinyu, harendong, serta jenis perdu lainnya semakin berkurang.
Matahari, bulan dan bintang, merupakan pedoman bercocok tanam. Orang Dayak sering diidentikkan dengan suku yang terbelakang, penuh dengan kehidupan mistis, hidup mengembara dan berburu, namun jangan lupa bahwa orang Dayak justru sangat maju dalam metode pertaniannya, tambah Haris Mustari yang disampaikannya kepada penulis melalui email.
Mereka memanfaatkan benda-benda astronomi seperti matahari, bulan dan bintang sebagai pedoman dalam bercocok tanaman.
Secara turun temurun ilmu membaca benda-benda astronomi itu didapatkan dari para tetua dan leluhur mereka.
“Kami dapatkan ilmu ini dengan cara mengaji dari para tetua adat dan tetua kampung”, ujar Pak Imar dan Pak Utan (Damang Kecamatan Halong di Balangan).
Mengaji adalah istilah Dayak Meratus untuk berguru, jadi semua ilmu-ilmu leluhur didapatkan dengan cara berguru atau bertanya, betakun, kepada orang-orang tua.
Dengan cara itulah ilmu diwariskan, karena ilmu Dayak itu tidak tertulis melainkan melalui lisan.
Benda-benda astronomi itu menjadi pedoman kapan mulai memebersihkan lahan, membabat sisa-sisa tumbuhan dan semak belukar, kapan mulai menugal dan waktu yang cocok untuk menanam benih padi, sampai padi siap dipanen.
Bulan Juli dan Agustus adalah waktu untuk membersihkan lahan dari tumbuhan berkayu dan semak belukar, bertepatan dengan musim kemarau. Pada akhir September ketika puncak musim kemarau, dilakukan pembakaran tumbuhan dan semak belukar, kadar air tumbuhan yang telah ditebang berada pada titik terendah, karena itu lebih mudah dibakar.
Sisa pembakaran bahan organik itu nantinya menjadi pupuk alami tanaman padi dan palawija, sehingga tidak diperlukan pupuk buatan lagi.
Sejak dahulu kala orang Dayak telah menerapkan sistem pertanian organik, sistem yang belakangan ini baru digalakkan oleh orang “berpendidikan kota”.
Pada bulan September tanggal 23, matahari tepat berada pada garis khatulistiwa, nol derajat Lintang Selatan.
Bulan Oktober ketika matahari mulai bergeser ke arah selatan menjauh dari garis khatulistiwa, pertanda harus mulai menugal, yaitu membuat lubang tanam benih padi menggunakan tongkat kayu yang ujungnya runcing.
Menugal dilakukan secara gotong royong, sistem komunal yang masih lekat pada adat istiadat Dayak. Menugal dan menanam padi berlangsung hingga bulan Nopember.
Waktu menugal harus melihat posisi munculnya bola kuning Sang Mentari di pagi hari yaitu sekitar sepuluh derajat Lintang Selatan.
Pada posisi itu, matahari memberi tanda bahwa penanaman padi harus segera dimulai.
Dan posisi matahari itu sesungguhnya tidak sulit dibaca oleh orang Dayak, karena mereka menggunakan pedoman puncak-puncak gunung tertentu di lingkungan mereka dimana matahari muncul, dan ini dibaca dan diwariskan secara turun temurun.
Selain matahari, posisi bintang juga menjadi pedoman kapan mulai menanam. Ada tiga jenis bintang yang dipakai sebagai pedoman, yaitu Bintang Karantika, Bintang Baurbilah, dan Bintang Rambai.
Bintang Karantika dikenal juga dengan nama bintang tujuh karena jumlahnya tujuh buah. Bintang Baurbilah adalah bintang yang jumlahnya tiga dengan posisi selalu membentuk garis lurus.
Sedangkan Bintang Rambai selalu membentuk gugusan dan berkelompok. Ketika muncul di langit, posisi bintang-bintang itu dapat dibaca dengan baik oleh orang Dayak, misalnya waktu menanam yang baik adalah ketika bintang-bintang itu berada pada posisi kurang lebih sekitar pukul 9 di ufuk Timur.
Apabila lebih dari itu, misalnya posisi Bintang Karantika berada tepat di atas kepala (pukul 12), maka sudah terlambat untuk memulai penanaman padi, dan kemungkinan gagal karena padi akan terserang hama, demikian kepercayaan mereka.
Selain matahari dan bintang, bulanpun menjadi petunjuk bercocok tanam. Posisi bulan yang dipakai adalah ketika penanggalan bulan menunjukkan tanggal 3-14, yaitu ketika bulan lambat laun naik dan berubah dari bulan sabit ke bulan purnama.
Periode tanggal yang naik dipilih karena waktu itu adalah waktu naiknya rejeki, dan rasa optimisme yang tinggi akan keberhasilan panenan, demikian kepercayaan mereka.
Sebaliknya, ketika bentuk bulan berubah dari bulan purnama ke bulan sabit, ketika penanggalan bulan semakin tua, maka periode itu tidak dipakai untuk menanam, karena dianggap rejeki akan berkurang sejalan dengan semakin tuanya penanggalan bulan di langit.
Dan ketika ditanyakan kenapa ilmu pertanian yang menggunakan unsur astronomi yang sangat tinggi nilainya ini tidak tertulis kepada pak Imar dan Pak Utan, mereka mengatakan “Kitab Kami ada di sini”, sambil menunjuk dada dan hati, artinya ilmu-ilmu pertanian adiluhung itu ada di hati mereka.
Dan seperti halnya berbagai doa dan mantra-mantra dalam ritual Dayak tidak pernah tertulis, mereka percaya bahwa doa dan mantra-mantra yang tertulis akan berkurang kesakralannya, karena itu harus dihafalkan langsung dari tetua adat.

 

Teknik Bertani
Laki-laki menugal (melubangkan lahan untuk benih) dan perempuan memasukkan benih padi ke lubang tugal dengan jarak tanam 20cm x 20cm, dimana setiap lubang diisi 5-7 benih. Lubang tugal tidak ditutup, dibiarkan terbuka, tapi lama kelamaan lubang itu dengan sendirinya akan tertutup oleh tanah akibat aliran air hujan pada permukaan tanah.
Sebelum menanam, dilakukan ritual, yaitu membakar dupa yang dibawa mengelilingi lahan yang akan ditanami sebanyak tiga kali sambil membaca mantra yang isinya adalah doa dan permohonan kepada YMK agar hasil padi melimpah dan dapat dinikmati oleh seluruh anggota keluarga.
Varietas padi di komunitas petani Dayak Meratus sangat tinggi, tercatat minimal 28 varietas padi, baik padi biasa maupun padi pulut (lakatan).
Orang Dayak telah melestarikan berbagai varietas padi secara turun temurun karena itu lingkungan alam Dayak telah menjadi bank gen (gene pool) untuk berbagai varietas padi yang sangat penting dilestarikan karena diperlukan dalam rangka pemuliaan padi yang lebih unggul yang diperlukan manusia.
Selain padi, orang Dayak juga menanam berbagai jenis palawija dan tanaman tahunan yang menunjang kehidupan mereka.
Beberapa varietas padi yang ditanam orang Dayak diantaranya Sabai, Tampiko, Buyung, Uluran, Salak, Kanjangah, Kihung, Kalapa, Uluran, Kunyit, Briwit, dan Sabuk.
Selain padi biasa, juga ditanam padi pulut atau lakatan yaitu jenis Kariwaya, Kalatan, Harang, Samad dan Saluang.
Diantara berbagai varietas padi itu, Buyung dan Arai adalah yang paling digemari karena wangi dan enak rasanya. Semua padi yang ditanam adalah varietas lokal, umur panen enam bulan.
Bersamaan dengan penanaman padi itu, juga ditanam berbagai jenis palawija seperti singkong atau disebut gumbili, lombok, timun, labuh, kacang panjang, berbagai jenis pisang, keladi, yang kesemuanya itu menjadi makanan tambahan.
Sedangkan tanaman tahunan seperti karet, kemiri dan kayu manis ditanam pada areal yang terpisah dengan penanaman padi dan palawija.
Dan di tengah hamparan padi itu mereka juga menanam Kembang habang dan Kembang kuning (Celosia sp, famili Amaranthaceae) yang nantinya menjadi syarat untuk berbagai acara adat seperti Besambu, Mahanyari, Aruh Ganal, Aruh Bawanang, semuanya perlu Kembang itu, cerita Haris Mustari.
“Kembang habang dan Kembang kuning adalah Kembang yang diijinkan oleh Dato Adam untuk dipakai dalam acara acara adat agama Kaharingan”, ujar pak Imar ketika berkisah di suatu malam di pehumaannnya di Gunung Nunungin.
Bulan ketiga dari penanaman, yaitu sekitar bulan Januari dilakukan penyiangan rumput dan gulma pengganggu tanaman padi.
Penyiangan dilakukan dengan cara mencabut atau memotong rumput dengan parang.
Bulan Februari, ketika padi berumur 3-4 bulan, mulai keluar buah atau malai dan ini disambut dengan suka cita oleh mereka, dianggap berkah dan harus disambut dengan ritual, layaknya menyambut kelahiran bayi yang sangat dinantikan.
Acara meyambut keluarnya buah padi disebut Besambu atau Sambu Uma, artinya menyambut keluarnya buah dan malai padi.
Ketika padi mengeluarkan malai, maka ada beberapa pantangan bagi si pemilik padi yaitu tidak boleh memotong kayu hidup, tidak boleh memetik daun dan tidak boleh masuk hutan.
Pada saat itu diadakan acara adat yang disebut Aruh Adat Besambu di Balai Adat. Pada acara itu, ayam dan babi dipotong, lemang dibuat, dan Kembang habang dan kuning dipersembahkan, memohon kepada YMK agar padi berbuah lebat dan selamat sampai dapat dipanen untuk menghidupi keluarga.
Setelah lahan disiangi, dan adat Besambu telah dilaksanakan, kini tinggal menunggu padi menguning dan setelah enam bulan, buliran buliran mulai menguning, malai menunduk semakin dalam pertanda padi berisi penuh, dan suka cita bagi petani Dayak, pertanda panen tahun ini berhasil, berkah dari YMK.
Ketika padi berumur 4-5 bulan, yaitu pada bulan Maret-April, malai mulai menguning, namun belum matang.
Saatnya untuk acara adat Bawawar, yaitu selamatan di ladang, menyambut padi yang mulai menguning itu. Pada acara itu, daun aren, Kembang habang dan Kembang kuning serta berbagai sesajen dipersembahkan kepada YMK agar padi yang mulai menguning itu selamat sampai dapat dipanen.
Bulan April dan Mei, saatnya panen. Sebelum panen, dilakukan acara adat yaitu Mahanyari yang secara harfiah Mahanyari (hanyar=baru) artinya memulai panen padi pada tahun itu.
Suatu ungkapan rasa syukur yang mendalam atas melimpahnya panen tahun ini serta permohonan agar diberi keselamatan. Mahanyari dilakukan secara berkelompok atau secara idividu setiap keluarga. Mahanyari yang dilakukan secara berkelompok dan dilakukan di Balai Adat disebut Aruh.
Pada acara Mahanyari disediakan berbagai sesajen yang akan dibawa ke pehumaan di Tihang Bekambang (tiang bambu kuning yang dihiasi Kembang dan dedaunan) yang telah disiapkan.
Tihang bekambang terdiri dari tiang berupa bambu kuning, bagian paling atas melambangkan huruf atau kepala manusia yang disebut songkol.
Di bawah songkol terdapat daun sejenis palem yang disebut daun Risi dan ditambah Kembang habang.
Di bagian tengah Tihang Bekambang terdapat papan bundar berdiameter sekitar 70 cm tempat menyimpan berbagai sesajian disebut Dulang Campan yang melambangkan Bumi.
Sesajian yang disimpan di atas Dulang Campan terdiri dari darah ayam dengan wadah tempurung kelapa, wajit, minyak kelapa, dodol ketan, darah ayam, dan air kunyit.
Gulungan daun terep (Artocarpus sp), sejenis sukun hutan yang didalamnya terdapat daun mada, daun risi, buah merah yang disebut hibak, daun ribu ribu, daun binturung, daun buluh, daun sirih benaik, dan daun singgae singgae.
Balian (dukun) memulainya dengan membaca mantra berupa doa bertutur yang pada dasarnya adalah doa dan pemujaan kepada Tuhan YMK atas berkah panen padi yang diberikan.
Ayam dipotong di bawah Dulang Campan, yang dipersembahkan kepada YMK dimana darahnya dikucurkan dibawah Tihang Bekambang di tanah dan di tiang bambu kuning.
Selanjutnya ayam yang telah dipotong itu dibawa kepondok untuk dimasak dan dimakan bersama kerabat dan tetangga.
Setelah itu Balian membawa berbagai bahan sesajian dan gulungan daun terep yang berisi bermacam daun lain seperti tersebut di atas ke pondok pehumaan dan disimpan di dekat lumbung padi.
Selanjutnya para tetua kampung dan Balian membaca mantra-mantra yang isinya adalah rasa syukur dan permohonan keselamatan pada YMK atas berkah dan panen padi yang melimpah dan dapat dimakan oleh anggota keluarga dengan selamat.
Setelah itu dilakukan pembagian lemang, makanan khas Dayak. Lamang adalah beras ketan yang dicampur santan dan garam yang dimasukkan ke dalam bambu kemudian dibakar menggunakan kayu sekitar 2,5 jam.
Beras ketan (lakatan) yang digunakan sebagai bahan lamang adalah hasil panen padi yang baru dilakukan sebagai simbol bahwa hasil panen tahun itu telah dapat dinikmati.
Selanjutnya adalah acara makan bersama dengan menu berupa nasi yang disimpan dipiring, sayur ayam, sayur labuh.
Setiap yang hadir harus mencicipi makanan yang disediakan oleh tuan rumah. Nasi yang dihidangkan berupa nasi putih dari padi yang baru saja dipanen.
Acara Mahanyari adalah ungkapan rasa syukur kepada YMK dan acara berbagi makanan kepada para kerabat dan tetangga.
Selanjutnya adalah acara terakhir dari Mahanyari itu, yaitu penutupan oleh Balian dihadiri tetua kampung dan kepala keluarga.
Pada acara penutupan itu disajikan sesajian dan makanan berupa wajit, darah ayam kampung yang disimpan di tempurung, sagu, hanyangan, sumur Salaka (gelas berisi minuman warna coklat, dan hijau), sumur minyak, telur ayam kampung, belacu dan tumpi, menyan, karangan pandan, pisang, minyak kelapa yang disebut sumur minyak, kandutan atau andungan yang disebut buta atau wadah keranjang terbuat dari anyaman bambu.
Balian dan tetua membaca mantra berupa kalimat-kalimat bertutur saling berbalas diantara tetua adat dan Balian, dan acara ini dilakukan selama kurang lebih 30 menit.
Para anggota keluarga dan kerabat dekat menengadahkan tangan di depan Balian untuk menerima semacam “air berkah” dari karangan daun pandan dan diusapkan secara berulang oleh Balian kepada anggota keluarga dan kerabat dekat tuan rumah, simbol keberkahan.
Memanen Padi
Setelah acara Mahanyari, padi dipanen semuanya. Berbeda halnya ketika menugal dan menanam padi yang dilakukan secara gotong royong, panen dilakukan sendiri oleh keluarga yang bersangkutan.
Orang Dayak menggunakan kumpai (bambu kecil bulat yang sisinya ditajamkan), dan ranggaman (anai-anai) untuk memanen padi.
Bagi Dayak Meratus, memanen padi lahan kering harus menggunakan kedua alat tradisional itu, kecuali padi sawah.
Penggunaan sabit dan mesin perontok gabah tidak diperbolehkan, dianggap pemali dan tabu, dan apabila pemali itu dilanggar, akan menyebabkan sakit. Hari pertama panen harus dilakukan oleh perempuan yang sudah berkeluarga, yaitu ibu rumah tangga dari keluarga itu.
Hari kedua dan seterusnya perempuan gadis dapat membantu. Keterlibatan laki-laki diperbolehkan mulai hari keempat dan seterusnya sampai panen selesai.
Perempuan yang sedang haid tidak diperbolehkan memanen padi, dan kondisi itu juga berlaku ketika menanam, perempuan yang sedang haid tidak diperkenankan menanam jenis tanaman apapun termasuk padi.
Padi yang telah dipanen kemudian dibawa ke pondok, dikeringkan lalu dirontokkan pakai kaki yaitu dengan cara diinjak injak dan digulung gulung sehingga gabah rontok dari malainya.
Selanjutnya gabah dikeringkan, lalu dimasukkan ke Lulung. Lulung ini terbuat dari kulit kayu meranti putih berdiameter besar lebih 1 m yang dikupas dibuat melingkar.
Selanjutnya lulung disimpan di lumbung padi yang disebut Lampau. Agar gabah tidak diserang serangga perusak, mereka menggunakan bahan tradisional, yaitu daun tumbuhan sungkai (Veronema canescen) dipotong kecil-kecil kemudian dikeringkan lalu dicampurkan kedalam gabah yang disimpan pada lulung .
Dengan campuran daun sungkai itu, gabah tahan disimpan beberapa tahun, tidak dimakan dan dirusak serangga.
Orang Dayak memiliki persediaan padi yang melimpah. Beberapa keluarga Dayak bahkan memiliki persediaan padi yang disimpan 5-7 tahun yang lalu.
Padi yang baru dipanen setelah acara Mahanyari dan telah dimakan untuk pertama kali sebagi simbol bahwa hasil panen padi tahun ini telah dapat dinikmati, disimpan di lumbung, dan yang dikonsumsi sehari hari adalah padi yang dipanen beberapa tahun yang lalu.
Suatu pembelajaran mengenai sistem ketahanan pangan. Dayak memiliki ketahanan pangan yang tinggi, sehingga ucapan Pak Imar “kami tidak memiliki banyak uang, tapi kami sugih banih/padi” adalah benar adanya.
Dayak Meratus sangat jarang menjual beras, lebih baik disimpan bertahun tahun, padi dianggap sakral.
Namun demikian orang Dayak sangat ramah dan suka memberi beras, termasuk kami peserta ekspedisi, sering diberi beras oleh mereka ketika berada di kampung, terlebih ketika selesai menghadiri acara Mahanyari dan Aruh, pasti kami dibekali beras dan lamang, yang diberikan oleh orang Dayak dengan tulus.
“Kapan kembali ke Jakarta, saya akan membawakan beras Buyung, oleh-oleh dari kami” kata Rudinar dari kampung Kiyu menawarkan kepada kami peserta eskpedisi.
Beras adalah barang berharga, dan sangat layak sebagai oleh-oleh, apalagi beras Buyung yang sangat harum dan enak rasanya, demikian yang ada di benak Rudinar, pemuda yang telah menjadi guide kami mendaki Gunung Halau Halau Meratus, dan selama kami menginap di Balai Adat kampung Kiyu.

 

MEMANCING CARA PEMUDA BANJARMASIN BUNUH WAKTU PUASA

Oleh Hasan Zainuddin


Beberapa orang pemuda tampak duduk beralaskan tikar di bawah pohon rindang di tengah persawahan Guntung Papuyu Kecamatan Gambut, Kabupaten Banjar, Provinsi Kalimantan Selatan.

Mereka di antaranya duduk sambil mendengarkan lantunan lagu dangdut dari sebuah radio yang dibawa ke lokasi tersebut.

Sementara tangan mereka begitu kosentrasi memegang dan memperhatikan alat pancing yang ditaruh persis pada beberapa lokasi empang (danau kecil) di tengah persawahan tersebut.

“Aku dapat,” kata seorang pemuda berteriak kegirangan tatkala pancingnya dimakan seekor ikan pepuyu (betok), seraya mengambilnya dan menaruh ikan tersebut ke dalam ember yang sudah disediakan.

Hobi memancing seakan muncul di saat bulan puasa ini, dan berdasarkan keterangan Imuh (23), penduduk Laksana Indan Pekauman Kota Banjarmasin ini, hampir setiap hari selama puasa ia memancing bersama kawan-kawannya satu kampung.

“Ramai sekali memancing. Kami selalu ketagihan karena asyik,” kata Imuh, pemuda pengangguran ini.

“Apanya yang asyik,” kata penulis bertanya. “Ya itu ‘jarujutnya’ (saat pancing ditarik-tarik ikan, red), dan kenikmatan seperti itu tak bisa dibeli,” kata Imuh lagi.

Menurut Imuh, saat seperti itu sulit dilukiskan kesenangannya dalam memancing, apalagi bila “jarujutnya” sering sekali terjadi, maka kian asyik saja, rasa tak ingat waktu.

“Kalau memancing itu sering dapat, rasanya waktu ini sangat singkat, saat pagi kami datang ke lokasi ini, tahu-tahu saking asyiknya hari sudah sore aja,” kata Imuh lagi, seraya disambut senyum simpul kawan-kawannya yang berada di lokasi tersebut.
“Oleh karena itu memancing saat bulan puasa sangat cocok bagi kami yang tidak memiliki pekerjaan tetap ini, untuk membunuh waktu,” tuturnya.

Menurut mereka, hasil memancing hanya untuk keperluan rumah tangga mereka saja, dan tidak diperjualbelikan, walau kadangkala hasil yang diperoleh memelebihi kebutuhan, karenanya sebagian diawetkan.

“Lumayan dapat ikan, ketimbang harus beli, lebih baik memancing, apalagi selama Ramadan ini kami tak ada kerjaan, ketimbang nganggur lebih baik mempancing,” tutur Imuh lagi.

Memancing di saat Ramadan, agaknya bukan hanya dilakukan pemuda pengangguran itu saja, tetapi hampir oleh banyak orang, seperti pekerja saat pulang kerja, atau PNS di saat hari libur Sabtu dan Minggu.

Hasil pemantauan penulis, warga yang memancing mudah terlihat di sepanjang Jalan A Yani antara Kota Banjarmasin arah ke Bandara Syamsudin Noor karena di sisi kanan dan kiri jalan merupakan persawahan di mana banyak terdapat sungai-sungai kecil.

Selain itu juga bisa dilihat warga memancing ini di jalan trans Kalimantan antara Kota Banjarmasin arah ke Kuala Kapuas.

Para pemancing juga terlihat di beberapa lokasi Sungai Barito, Sungai Martapura. Jenis ikan yang dipancing antara lain kelabau, patin, puyau, baung, lawang, dan udang.

Namun berdasarkan keterangan, mereka yang hobi memancing itu ada yang memancing hingga berjarak puluhan dan ratusan kilometer dari tempat tinggal, seperti sampai ke Aluh-Aluh, Tabunganen, Handil Suruk, bahkan hingga ke Palingkau dan Dadahub Kalimantan Tengah.

Kian ramainya warga yang berhobi memancing, menyebabkan penjualan umpan dan peralatan pancing juga kian laku.

Menurut seorang pedagang umpan pancing di Pasar Kertak Hanyar kilometer 7 Banjarmasin, dagangannya kian laku pada bulan Ramadan ini karena permintaan akan umpan itu meningkat pula.

Ibu Hasnah, pedagang umpan tersebut menuturkan hampir pasti setiap hari daganganya habis terjual, karena begitu banyaknya warga yang ingin memancing di kawasan tersebut.

Kertak Hanyar merupakan kawasan desa yang berdekatan dengan kawasan persawahan, di mana di lokasi tersebut terdapat banyak empang, danau, atau sungai-sungai kecil yang kesemuanya adalah habitat ikan.

Jenis ikan yang banyak hidup di kawasan tersebut, seperti ikan gabus, pepuyu, sepat, biawan, lele, sepat siam, patung, sanggiringan, lundu, kihung, saluang, puyau, baung, dan aneka ikan air tawar dan ikan rawa lainnya. Jenis ikan ini termasuk ikan yang mudah dipancing.

Hanya saja, lain ikan lain pula umpan pancing, makanya Ibu Hasnah menyediakan aneka umpan, seperti anak lebah madu, anak lebah tabuan, anak lebah kerawai, anak semut merah, ulat bumbung, dan kodok kecil.

“Kalau umpan ikan gabus, kodok kecil atau anak lebah tabuan, umpan ikan pepuyu anak lebah kerawai atau ulat bumbung, umpan ikan sepat anak semut merah, ikan sanggiringan umpannya anak lebah madu,” kata Ibu Hasnah.

 

Umpan Ikam Lebah Kerawai dan Lebah Tabuan

Harga umpan yang diperjualbelikan tersebut cukup bervariasi, tetapi jenis lebah kerawai lebih mahal, karena untuk satu keping ukuran kecil saja sudah Rp15 ribu, sementara anak lebah madu satu keping kecil hanya Rp10 ribu.

Sementara anak lebah tabuan, karena semuanya berukuran besar bisa mencapai Rp30 ribu per keping.

Menurut Ibu Hasnah, ia setiap hari selalu berjualan umpan pancing di kawasan tersebut, sebab suplai umpan tersebut datang dari warga berbagai lokasi pedesaan yang setiap hari hanya mencari umpan-umpan pancing ini.

“Kebiasaan warga kota memancing ini ternyata memberikan lapangan pekerjaan baru bagi sebagian warga pedesaan dengan selalu mencari umpan pancing,” kata Ibu Hasnah.

Ibu Hasnah yang selain menjual umpan pancing juga menjual peralatan pancing lainnya, seperti tali nelon, mata kail, termasuk “tantaran” (batangan bambu kecil yang dikeringkan) sebagai batang pancing.

Mengenai tantaran pun menurut ibu beranak dua tersebut didatangkan oleh warga dari desa pula yang tentu memberikan lapangan pekerjaan pula bagi warga ini, karena tantaran bisa dijual antara Rp5 hingga Rp10 ribu per batang.

Untuk batang kail ini, memang sekarang sudah ada yang menggunakan lebih modern, seperti yang terbuat dari fiber glass, mika dan bahan alumunium.

Tetapi sebagian besar warga di Banjarmasin masih menyenangi batang pancing yang terbuat dari bambu ini, karena menurut keyakinan mereka batang bambu punya berkah dan ikan lebih suka memakan umpan pancing dari batang bambu ketimbang bahan modern lainnya.

Dengan banyaknya warga senang memancing ini memunculkan perdagangan alat memancing di mana-mana, seperti yang terlihat di Pasar Lima Banjarmasin, dari peralatan pancing tradisional hingga peralatan pancing semi modern dan modern.

Penjualan alat pancing itu juga terlihat di Pasar Lama, Kayu Tangi, Teluk Dalam, Pasar Antasari, Pasar Kuripan, dan sentranya di kertak Hanyar kilometer 7 Banjarmasin ini.

Memancing ternyata bukan sekedar hobi perintang waktu puasa, tetapi juga memiliki manfaat lain bagi perekonomian masyarakat, setidaknya bagi sebagian warga sekitar Kota Banjarmasinini.

“RAMADAN CAKE FAIR” ANTARA PELESTARIAN BUDAYA DAN WISATA

Oleh Hasan Zainuddin

Sederetan kios berornamen khas Suku Banjar berjejer di tepian Sungai Martapura atau Jalan Sudirman Kota Banjarmasin, Ibukota Provinsi Kalimantan Selatan.

Ribuan orang berjubel diantara ratusan kios yang menggelar aneka penganan, makanan, dan minuman dan jajanan untuk berbuka puasa di lokasi tersebut.

Diantara pengunjung tak sedikit yang datang diajak kalangan biro perjalanan atau agen-agen wisata untuk menimkati atraksi budaya yang hanya dilaksanalan setahun sekali pada bulan Ramadan tersebut.

“Ramadan Cake Fair (Pasar Wadai Ramadan) kota Banjarmasin ini memang sudah dipublikasi secara luas ke berbagai nusantara dan mancanegara,karena sudah masuk kalender wisata tahunan,” kata Kepala Dinas Kebudayaan, Olahraga, dan Pariwisata Kota Banjarmasin Noor Hasan.

Karena masuk kalender kepariwisataan maka kegiatan ini setiap tahun digelar, karena di lokasi ini terdapat jenis wisata kuliner, wisata keagamaan, wisata seni budaya khas, serta wisata alam.

Selain untuk kegiatan wisata, pasar wadai ramadan juga diharapkan sebagai sarana pelestarian budaya, khususnya pelestarian kekayaan budaya masyarakat setempat yang mahir mengolah aneka penganan, makanan, dan minuman khas setempat.

Dengan adanya kegiatan tersebut maka diharapkan penganan yang sejak nenek moyang sudah ada di daratan Tanah Banjar Kalsel ini tetap tersedia untuk masyarakat setidaknya saat bulan puasa seperti sekarang ini, tuturnya.

Di Tanah Banjar, dikenal penganan aneka jenis yang disebut sebagai kue 41 macam, disamping aneka jenis makanan dan lauk-pauk yang khas pula dan itu merupakan kekayaan budaya yang hendaknya tak boleh terkikis masuknya makanan dan penganan modern.

Di lokasi pasar kue tahunan yang dikelola Pemkot Banjarmasin ini memang menggelar setidaknya 41 macam kue tradisional khas suku Banjar, di Kalsel, seperti kue amparan tatak, kraraban, lamang, cingkarok batu, wajik, kelepon, sari pangantin, sarimuka, putrisalat, dan cincin.

Kemudian juga tersedia kue untuk-untuk, gagatas,onde-onde, pare, putu mayang, laksa, kokoleh, bingka, bingka barandam, bulungan hayam, kikicak, gayam, kraraban, amparan tatak, agar-agar bagula habang, dan kue tradisonal lainnya.

Selain itu juga menggelar dagangan aneka masakan khas Kalsel, seperti gangan waluh, gangan balamak, papuyu baubar, saluang basanga, masak habang, laksa, lontong, katupat kandangan, soto banjar, gangan kecap haruan, gangan humbut, gangan rabung, pais patin, pais lais, pais baung, karih ayam, karih kambing, dan masakan lainnya.

Wakil Wali Kota Banjarmasin, Iwan Anshari ketika membuka Ramadan Cake Fair, Sabtu (21/7) mengatakan tujuan penyelanggaraan kegiatan tahunan tersebut antara lain, sebagai wahana peningkatan nilai budaya dalam pengembangan seni dan budaya dan kepariwisaraan daerah.

Juga memberikan peluang untuk terbukanya lapangan kerja, karena begitu banyak menampung para pedagang.

Kemudian lagi adalah meningkatkan roda perekonomian masyarakat Kota Banjarmasin dan menekan angka pengangguran disamping memberikan peluang kepada masyarakat untuk melakukan inovasi dan kreativitas seni dan budaya khas setempat.

Disebutkan pada lokasi Ramadan Cake Fair yang selelanggarakan Pemkot Banjarmasin ini menyediakan sedikitnya 140 kios disamping lokasi-lokasi atau lapak pedagang bakulan (pedagang memanfaatkan bakul).
Selain lokasi tersebut, di kota Banjarmasin juga terdapat puluhan lagi kegiatan serupa yang dikelola oleh masyarakat itu sendiri, yang kesemuanya menjadi daya pikat tersendiri bagi pendatang ke kota yang berjuluk kawasan seribu sungai tersebut.

Untuk menambah kesemarakan lokasi budaya dan wisata ini disediakan pula lokasi untuk hiburan tari-tarian, kasidahan, atau musik tradisional setempat, dan musik Islami lainnya.

Lokasi ini selain untuk mencari penganan berbuka puasa dan menikmati wisata tak sedikit pula orang menjadikan pasar wadai sebagai lokasi ngabuburit (menunggu bedug berbuka puasa).

Karena itu, tak heran bila ada sekelompok muda mudi berjalan santai sambil bercanda gurau berada di sana hanya untuk “membunuh waktu” hingga berbuka puasa.

Berdasarkan catatan, pasar ramadan ini sudah ada di Banjarmasin sejak tahun 70-an. Saat itu hanya kelompok-kelompok kecil saja, hingga kurang teratur dan mengganggu keindahan kota.

Mulai tahun 80-an oleh Pemko Banjarmasin pedagang itu dikumpulkan di satu lokasi, lalu dinamakan Ramadan Cake Fair.

Sejak itu pula lokasi ini dinyatakan sebagai atraksi wisata tahunan.
Untuk memperkuat lokasi ini sebagai objek wisata maka digelar pula berbagai pertunjukan rakyat, seperti madihin, lamut, jepin, dan tarian serta seni-seni tradisi lainnya.

Saat Wali Kota Banjarmasin,Kamarudin pedagang wadai ini dikumpulan menjadi satu lokasi yang pertama berada di Jalan RE Martadinata.

Dengan berkumpulnya pedagang wadai itu memperoleh sambutan positip masyarakat Umat Islam karena memudahkan mereka mencari hidangan berbuka puasa.

Tetapi respon cukup menarik justru datang dari kalangan wisatawan, dimana banyak sekali kunjungan wisatawan ke lokasi tersebut.

Akhirnya oleh Pemko Banjarmasin bahkan oleh Pemprop Kalsel, lokasi itu lebih dikembangkan yang tak sekedar tempat berjualan tetapi sebagai atraksi wisata tahunan dan atraksi budaya hingga populer sampai sekarang.

GOTONG ROYONG KENTAL PADA PERKAWINAN ADAT BALANGAN

Oleh Hasan Zainuddin
Suara canda ria terdengar memecah suasana kesunyian dini hari Minggu (15/7)di Desa Pulauwanin Kecamatan Paringin Selatan,Kabupaten Balangan Provinsi Kalimantan Selatan.

Canda ria tersebut datang dari puluhan pemuda dan orang tua laki-laki di lokasi “pengawahan” (menanak nasi dengan wajan besar) di tempat acara perkawinan adat Kabupaten Balangan di desa tersebut.

Puluhan orang dengan berselimutkan sarung dan berjaket serta menggunakan songkok (kupiah) asyik bercanda ria seraya bersama-sama mengerjakan memasak nasi untuk menyiapkan hidangan perkawinan salah saru warga desa itu akan digelar pada hari Minggu.

Sementara canda ria lain terdengar pula tak jauh dari lokasi itu setelah puluhan orang gadis dan orang tua perempuan secara bersama-sama pula mengerjakan “penyambalan” (membuat sambal dan ramuan ) untuk hidangan acara serupa.

Hidangan yang disediakan pada pesta tersebut memang beraneka ragam, tetapi yang tidak ketinggalan adalah nasi dan “gangan waluh bagarih” (gulai labu campur ikan kering gabus).

Mengawah

Memang begitulah kebiasaan warga di dekat Pegunungan Meratus tersebut saat mengerjakan acara perkawinan, agar acara yang digelar cukup besar itu terasa ringan.

Perkawinan tersebut dilangsungkan oleh Keluarga Armuji setelah putranya Khairudian menyunting gadis di desa lain, kemudian menggelar acara perkawinan di rumah keluarga tersebut.

Menurut, Armuji sendiri, nilai gotong rotong tersebut tidak semata terlihat saat hari pelaksanaan perkawinan saja tetapi jauh-hari hari sudah terlihat begitu kental.

manyambal

Karena untuk menggelar acara perkawinan adat setempat menelan waktu lama, mulai dari acara “batatampanan” (pinangan), kemudian dilanjutkan dengan pernikahan hingga perta perkawinan sendiri.

Setiap proses perkawinan selalu melibatkan warga untuk selalu bergotong goyong.

Sebagai contoh saja, saat batatampanan biasanya penyelanggara perkawinan menghadirkan para ibu-ibu kedua belah pihak dan saat itu disajikan makanan khas setempat disebut wadai “gayam.”
Untuk membuat penganan itu para ibu-ibu setempat selalu bergotong royong membuatnya.

Kemudian untuk menghadapi pesta perkawinan dengan menghadirkan hidangan yang begitu banyak memerlukan kayu bakar tak sedikit.

Lantaran di kawasan tersebut masih memanfaatkan kayu bakar maka warga pun dengan bergotong royong mencari kayu bakar yang ada di hutan-hutan kemudian dikumpulkan satu per satu sehingga tumpukan kayu bakar menggunung.

Acara mencari kayu bakar bersama-sama tersebut disebut oleh warga setempat dengan “mengayu.” Acara itupun tentu dibarengi dengan makan-makan bersama, seperti nasi campur dengan “garinting” (ikan kering) ditambah sedikit sayuran.

Kemudian juga acara “bakumpulan” (berkumpul) warga desa untuk membahas tugas-tugas yang dieman warga desa saat pesta nanti, ada yang bertugas menunggu tamu, bertugas mencuci piring, bertugas mengawah, bertugas “menggangan” (membuat sayuran berkuah), bertugas menyediakan sajian, bertugas lain-lainnya.

bakakambangan

Dalam acara bakumpulan itu pula diputuskan untuk menggelar jenis hiburan jenis apa saat hari “H” pesta perkawinan, kata Kepala Desa Panggung, Iyus yang desanya juga sering menggelar acara serupa.

Menurut Iyus, jenis hiburan yang sering ditampilan saat pesta adat tersebut antara lain, “baurkes” (orkes melayu), kasidahan, karaoke, madihin, bakisah, bawayang (wayang kulit), bamanda (seni tradisi serupa lenong) atau jenis seni lainnya.

Untuk membayar biaya hiburan tersebut 70 persen dibebankan kepada hasil gotong royong masyarakat, baru 30 persen ditanggung penyelanggara, kata Iyus.

Mengupas kelapa

Untuk membangun panggung hiburan itupun seratus persen hasil gotong royong warga desa, seperti menyediakan batang nyiur untuk tiang panggung, atap rumbia, atau bambu, rotan, dan lantai papan.

Sementara rumah mempelai pun biasanya dihiasi dengan aneka hiasan atau bunga-bunga yang disebut “kakambangan.”
Untuk membuat kakambangan itupun dikerjakan seratus persen gotong royong oleh pemuda dan pemudi setempat.

Mengenai biaya perkawinan disebutkan oleh Iyus, itu merupakan hasil gotong royong warga pula dengan sistem menyerupai arisan.
Umpamanya seperti ini, bila seorang warga menggelar acara perkawinan maka warga lain membantu uang Rp100 ribu, maka disaat warga lain itu menggelar acara serupa maka warga menggelar acara terdahulu harus membayar pula dengan nilai sama Rp100 ribu.

Begitu pula bila warga membantu sekarung beras maka nantinya harus dibayar sekarung beras, sekarung gula dibayar sekarung gula, bantu kelapa bayar kelapa, bantu sayuran berupa umbut nyiur haru dibayar umbut nyiur, begitu seterusnya, walau hal itu tak ada perjanjian tertulis tetapi harus dipenuhi karena hal itumerupakan sebuah etika saja, kata Iyus.

Penyajian makanan saat pesta perkawinan biasanya dibagi dua kelompok, kelompok pertama pada pagi hari khusus menyediakan makan warga sekampung.

Kelompok kedua biasanya agak siang hari untuk para undangan yang datang dari kampung-kampung lain, katanya lagi.

Melihat nilai kegotong royongan tersebut maka walau biaya perkawinan adat Kabupaten Balangan dirasa relatif besar tetapi oleh banyak pengalaman hal itu dinilai menjadi ringan-ringan saja.

memasak wadai gayam

PDAM BANDARMASIH UBAH KAMPUNG KOLERA JADI METROPOLIS

Oleh Hasan Zainuddin


Di era sebelum tahun 90-an masih banyak terlihat berkeliaran pedagang air menggunakan gerobak menjajakan air bersih berjerigan masuk kampung Kota Banjarmasin Kalimantan Selatan.

Pemandangan itu kini sudah tak pernah terlihat lagi, lantaran air bersih mudah diperoleh warga berpenduduk sekitar 700 ribu jiwa tersebut.

Sebelumnya wilayah ini sering dilanda penyakit muntah berak (muntaber) atau diare, lantaran warga mengkonsumsi air sungai yang tercemar bakteri, terutama di saat musim kemarau.

Bahkan kota ini sempat dijuluki kampung kolera setelah sekian banyak warga yang terkena penyakit itu, dan ledakan jumlah penderita terus terjadi setiap musim kemarau pernah rumah sakit tak mampu menampung pasien lantaran terkena kolera.

Persoalan itu dipicu kelangkaan ketersediaan air bersih di kawasan sebenarnya kaya sumber daya air karena dialiri 104 sungai.

Hanya saja air daerah ini tak aman konsumsi setelah mudahnya intrusi air laut lalu airnya asin, kadar keasaman yang tinggi serta tercemar limbah yang begitu tinggi, bahkan hasil penelitian mengandung bakteri coliform atas ambang batas.

Melihat persoalan itulah, melalui perusahaan milik pemerintah kota setempat yakni Perusahaan daerah Air Minum (PDAM) Bandarmasih, berbagai upaya menyediakan air bersih bagi masyarakat.

Bertahap membangun fasilitas, mulai pembangunan mini treatment, sumur bor, reservoir, Instalasi Pengolahan Air (IPA), intake, serta jaringan perpipaan , baik pipa besar tranmisi untuk air baku , maupun pipa-pipa kecil hingga ke pelanggan.

Berkat upaya gigih dibantu semua pihak termasuk pemerintah pusat, pemerintah provinsi, dan pemerintah kota itu sendiri melalui penyertaan modal akhirnya prestasi PDAM Bandarmasih gemilang yang mengatasi kelangkaan air bersih di wilayah seribu sungai itu.

Instalasi Pengolahan Air

Seperti diakui Direktur Pengembangan Air Minum, Ditjen Cipta Karya Kementerian Pekerjaan Umum, Danni Sutjiono pelayanan air bersih Banjarmasin terbaik di Indonesia.

“Kita patut berterima kasih kepada Direksi dan seluruh karyawan PDAM Bandarmasih berhasil meningkatkan pelayanan air bersih hingga terbaik di tanah air,”kata Danni Sutjiono kepada wartawan di Banjarmasin.

Danni Sutjiono berada di Banjarmasin dalam kaitan menghadiri pertemuan pembahasan untuk menjadikan PDAM Bandarmasih, Kota Banjarmasin sebagai pilot proyek dalam pelayanan air minum.

Disebutkannya tingkat pelayanan air bersih Kota ini 98 persen lebih, prestasi gemilang melebihi prestasi PDAM lainnya di tanah air.

Sementara pelayanan perpipaan PDAM rata-rata nasional di perkotaan hanya sekitar 70 persen.

Sedangkan rata-rata pelayanan air bersih secara nasional sekarang ini hanya sekitar 50 persen, tambahnya seraya meminta prestasi PDAM Bandarmasih ditingkatkan sesuai rencana 100 persen penduduk setempat.

Direktur PDAM Bandarmasih, Ir Muslih gembira pihaknya mampu mengatasi persoalan air bersih hingga teriakan warga kesulitan air dan jeritan berjangkitnya kolera tak terdengar lagi.

Disebutkannya perusahaannya kini berhasil meningkatkan kapasitas produksi hingga mencapai 2050 liter per detik, dengan kapasitas itu mampu melayani sedikitnya 200 ribu pelanggan, bila pelanggan sekarang 130 ribu pelanggan, berarti masih tersedia sambungan baru 70 ribu pelanggan.

“Bila sekarang terlayani 98 persen warga kota, dengan kemampuan itu maka bisa 100 persen, bahkan mampu melayani sebagian warga Kabupaten Banjar, dan warga Kabupaten Barito Kuala yang berdekatan dengan Kota Banjarmasin,”katanya.

Dengan kemampuan PDAM mengatasi persoalan air bersih tersebut seringkali perusahaannya memperoleh penghargaan dari pemerintah pusat dan menjadi objek studi banding kota-kota lain di tanah air.

Meningkatkan kemampuan tersebut menyebabkan keuntungannya juga meningkat yang berdasarkan hasil audit Rp5,5 miliar 2011 tahun sebelumnya Rp4,5 miliar.

Sedangkan pendapatan juga membaik, berasal dari pendapatan air dan non air, untuk pendapatan air tahun 2011 tercatat Rp137,3 miliar lebih besar dibandingkan tahun 2010 hanya Rp119,8 miliar,katanya.

Sementara pendapatan non air Rp26,9 miliar lebih besar dari tahun sebelumnya yang tercatat Rp20,3 miliar, kemudian pendapatan lain-lain Rp2,004 miliar lebih besar dari tahun sebelumnya Rp1,9 miliar.

Dengan demikian jumlah pendapatan pada tahun 2011 sebanyak Rp166,2 miliar yang lebih besar dari tahun 2010 yang senilai Rp142,1miliar,katanya lagi.

Bukti kinerja perusahaan juga membaik bila dilihat cakupan pelayanan 98,36 persen, kehilangan air 26,27 persen, rasio karyawan per seribu pelanggan 2,44persen, serta jumlah sambungan pelanggan yang sudah mencapai 136.576 sambungan.

Aspek keuangan juga dinilai meningkat menjadi 29,25 persen sebelumnya 28,50 persen, aspek operasional 25,53persen sebelumnya 24,68 persen,aspek administarsi 14,58 persen sebelumnya 12.08 persen.

Dengan demikian hasil audit menyimpulkan jumlah kinerja 69,37 persen atau berklasifikasi kinerja baik, sebelumnya walau juga dinilai baik tetapi nilai kinerja 65,26 persen,katanya didampingi Humas PDAM Siti Nursiah.

Berbagai kalangan di Banjarmasin merasa gembira kian membaiknya kinerja PDAM yang berhasil menyediakan air bersih secara cukup yang kini berdampak terhadap pembangunan dimana air merupakan sarana vital.

Air bersih yang cukup membuat hidup warga menjadi sehat, memancing usaha industri dan perdagangan, bahkan belakangan berbagai investasi skala besar juga mulai menuju ke kota Banjarmasin yang dikatakan bagaikan gadis seksi yang menjadi perhatian banyak orang.

Direksi PDAM Bandarmasih,Kota Banjarmasin

SEKS BEBAS REMAJA SEBUAH KERISAUAN

 

Oleh Hasan Zainuddin
Banjarmasin,24/6 (ANTARA)- Hampir sebagian besar dari 64 juta penduduk remaja Indonesia belakangan ini memiliki alat komunikasi handpone (HP) dan sebagian besar pula dari HP tersebut mampu mengakses internet.
“Sudah bisa dibayangkan kalau seorang remaja memiliki alat komunikasi yang mampu mengakses internet, siapa yang disalahkan bila remaja itu mengakses situs porno,” kata pejabat Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN), pusat.
Deputi Bidang Advodkasi,Penggerakan dan Informasi (Adpin) BKKBN Hardiyanto saat berada di Banjarmasin, mengakui keberadaan remaja belakangan ini kian merisaukan saja.
Bukan HP saja remaja dengan mudah mengakses berbagai informasi dunia tetapi juga laptop, komputer, serta peralatan elektronik lainnya yang mudah akses jaringan internet, disamping media-media lain yang beredar bebas.
“Dimanapun remaja berada termasuk dalam kamar sendirian, siapa yang bisa menangkal agar remaja tidak menyaksikan tayangan film dan gambar porno,”katanya saat berada di Banjarmasin menghadiri acara Hari Keluarga Nasional (Harganas) tingkat Kalsel.
Kerisauan pejabat BKKBN tersebut, besar kemungkinan sudah merata di Indonesia, tak terkecuali di Banjarmsin ibukota Provinsi Kalimantan Selatan sendiri.
Seperti penuturan Kepala Dinas Kesehatan Kota Banjarmasin, Hj Diah R Praswasti, angka seks bebas kalangan remaja menunjukkan peningkatan yang mencengahkan.
Berdasarkan data Dinas Kesehatan setempat hingga akhir 2011 ada peningkatan persalinan remaja. Dari sebanyak 50 orang pada 2010, melonjak menjadi 235 orang pada 2011.
Data lainnya terjadi pada kasus KTD (Kehamilan yang tidak diinginkan), dari 35 orang 2010, melonjak menjadi 220 orang pada 2011.
Data tersebut berdasarkan acuan dari 26 Pusat Kesehatan Masyarakat (Puskesmas) setempat bekerjasama dengan Unit Kesehatan Sekolah (UKS).
] Semua itu untuk jenjang Sekolah Menengah Pertama (SMP) dan Sekolah Menengah Atas (SMA) di seluruh Kota Banjarmasin, dengan rentang usia dari sembilan tahun hingga 19 tahun.
Hj Diah menerangkan setiap Puskesmas membina UKS yang ada di setiap sekolah. Kemudian hasilnya didapat dari laporan setiap UKS kepada Puskesmas dan dievaluasi Dinkes Kota Banjarmasin.
Dari perkembangan seks bebas tersebut terimplikasi terhadap perkembangan penyakit yang menakutkan yakni Aids/Hiv.
“Berdasarkan data kumpulan dari 26 Puskesmas yang tersebar se Kota Banjarmasin dan telah dievaluasi Dinkes,” ujarnya.
“Serangan Aids di kota ini juga meningkat dan itu sungguh merisaukan hingga memerlukan kewaspadaan kita semua untuk menanggulanginya,” katanya.
Yang cukup merisaukan pula penyakit yang menakutkan tersebut sudah menjalar ke kalangan usia remaja yaitu pelajar, tambahnya lagi tanpa merinci pelajar mana yang terkena penyakit tersebut.
Berdasarkan data yang dihimpun dari petugas di lapangan warga Banjarmasin yang terkena Aids 33 orang dan terinveksi Human Immunodeficiency Virus (HIV) tercatat 52 orang.
Mereka yang terbanyak terjangkit penyakit yang pernah menghebohkan dunia tersebut,adalah kelompok yang memang beresiko tinggi yaitu Pekerja Seks Komersial (PSK).
Selain itu mereka yang berprilaku seks menyimpang seperti homoseks, lesbian, serta prilaku bebas lainnya disamping jarum suntik, obat-obatan terlarang, dan akibat lainnya.
Pihak Dinkes Banjarmasin sendiri selalu melakukan penyuluhan agar penyakit tersebut tidak meluas, terutama penyuluhan di kalangan pelajar,mahasiswa, dan masyarakat umum. Adis.
Melihat kenyataan tersebut membuat Wali Kota Banjarmasin Haji Muhidin juga menjadi risau dan meminta semua pihak melakukan pengawasan terhadap perilaku remaja tersebut.
“Saya menghimbau kepada orang tua, guru, ataupun masyarakat untuk mengawasi anak-anak kita, sebab jumlah remaja yang mengalami kasus ini semakin meningkat,” katanya lagi.
Menurutnya, pengawasan tidak hanya pada lingkungan rumah, namun juga di lingkungan sekolah, seperti para guru atau pun masyarakat umum yang kebetulan melihat hal-hal ganjil dilakukan oleh remaja hendaknya diawasi hingga tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan.
“Misalnya, jika melihat dua remaja yang sengaja duduk di tempat remang-remang dan gelap segera ditegur, jangan sampai mereka terperosok ke hal-hal yang dilarang agama,”kata Muhidin.
Dia pun berencana agar Dinas Pendidikan juga menyiapkan program khusus untuk ini yakni melakukan ceramah agama untuk siswa SMP dan SMA. Program ini dimaksudkan untuk meberikan gambaran bahaya serta dampak dari pergaulan bebas.
“Nantinya kita juga anggarkan untuk program ini, sebab kita akan menggunakan tokoh agama atau alim ulama yang nanti keliling ke sekolah-sekolah tiap minggu untuk memberikan nasihat agama kepada murid-murid,”kata Muhidin.
Untuk tempat-tempat yang mungkin rentan terjadinya seks bebas oleh remaja, perlu diawasi pula, seperti warnet, maka Pemkot pun akan melakukan razia terhadap lokasi tersebut.
Misalnya ada warnet buka 24 jam dan banyak remaja yang nongkrong di situ, Pemkot melalui Satpol PP akan melakukan razia, karena seperti alporan yang diterima para remaja mudah melakukan hal-hal yang tak lazim di tempat itu.


Tiga Persoalan Besar
Menurut Deputi Adpin BKKBN, Drs Hardiyanto terdapat tiga persoalan besar yang menghadang remaja Indonesia.
Tiga persoalan besar tersebut selain masalah seks bebas pranikah, penyalahgunaan narkotika, dan berjangkitnya penyakit hiv/aids.
Padahal penduduk remaja sekarang ini begitu banyak dari 237 juta jiwa penduduk Indonesia 30 persen atau 64 juta jiwa diantaranya adalah usia remaja atau usia 10 hingga 24 tahun.
Kelompok remaja tersebut sedang galau menghadapi tiga persoalan besar tersebut, lantaran berbagai informasi belakangan yang sekarang sulit dibendung yang mempengaruhi tingkat perilaku remaja itu sendiri.
Oleh karena itu BKKBN sekarang ini mencoba mencari solusi menghadapi tiga persoalan tersebut, dengan mengembangkan apa yang disebut Remaja Berencana (Rebre),yakni pendidikan refproduksi agar mereka mengerti dan tahu apa yang baik dan tidak baik.
Dengan mengetahui persoalan remaja diharapkan mereka mengerti bahwa kawin muda itu tidak baik, dan berusaha sekolah setinggi mungkin sebelum memasuki jenjang pernikahan.
Masalahnya kawin dini menjadi persoalan dalam kemudian karena kesehatan refproduksi wanita masih belum baik, sementara laki-lakinya belum bisa bertanggungjawab.
Kalau ibu muda yang masih rawan melahirkan itu bisa menimbulkan kematian ibu lahir atau kematian bayi lahir.
“Apa mau setelah kawin dan punya anak, ditinggalkan begitu saja oleh pasangan laki-lakinya, sementara perempuan remaja yang sudah punya anak dan tidak ada kerjaan mau kemana membawa kehidupan itu, akhirnya semua jadi berentakan dan menjadi beban keluarga dan masyarakat,” tuturnya.
Pusat Informasi Pelayanan (PIP) remaja juga dibentuk BKKBN agar para meraja saling curhat mengenai refproduksi, sehingga melalui PIP mereka bisa mengetahui bahayanya pergaulan bebas, narkotika, dan hiv/aids.
Di lokasi PIP remaja tersebut BKKBN menyediakan seorang tenaga konsuling yang memberikan bimbingan terhadap remaja dalam menghadapi tiga persoalan tersebut.
Dari PIP remaja maka akan melahirkan remaja berencana yang mengerti menghadapi kehidupan kedepan, dan PIP remaja bisa dikembangkan di sekolah, madrasah, pesantren, di dalam masyarakat umum, dan kelompok dimana banyak terdapat remaja.
Seluruh indonesia tidak kurang dari 20 ribu PIP remaja yang sudah dibentuk, dan bisa dijadikan alat pengembangan pemikiran remaja menghadapi tiga persoalan besar yang dihadapi remaja tersebut, katanya.

 

PAK SIGOH, RELA VASEKTOMI AGAR HIDUP SEJAHTERA

Oleh Hasan Zainuddin
Susana Desa Sameran yang berada di wilayah antara Gunung Merapi dan Gunung Merbabu Kecamatan Selo, Kabupaten Boyolali Provinsi Jawa Tengah begitu dingin.
Warga desa yang sebagian besar bermata pencarian berkebun sayuran tersebut saat malam hari lebih banyak tinggal di dalam rumah ketimbang harus pergi ke luar.
Sementara sarana hiburan begitu terbatas, penerangan listrik belum tersedia, tak ada televisi, sehingga pekerjaan yang dinilai paling menghibur dan menyenangkan hanyalah berhubungan suami isteri.
Akibat kerjaan hanya dari itu ke itu saja, maka akhirnya hampir sebagian besar warga setempat memiliki banyak anak, dan itu terjadi sebelum tahun 80-an, kata Pak Sigoh (54), warga desa setempat.
Ketika menerima kunjungan Ikatan Penulis Keluarga Berencana (IPKB) Kalsel, ke kawasan desa mereka, Jumat (4/5) Pak sigoh begitu banyak bercerita tentang banyak anak banyak membawa kesengsaraan.
Ia mencontohkan keluarganya sendiri waktu itu, ayahnya hanya seorang petani sayur mempunyai lima anak, karena tak mampu membiayai praktis semua saudaranya tidak bersekolah.
“Saya sendiri waktu kecil ingin sekali bersekolah, tapi ayah saya tak bisa menyekolahkan saya karena ketiadanya biaya, sebab anak ayah yang harus diberi makan lima orang, untuk makan saja susah, boro-boro menyekolahkan kami-kami anaknya,” kata Sigoh sambil berlinang air mata mengenang masa lalunya.
Akibat tak bisa sekolah akhirnya hidup Pak Sigoh kembali meniru gaya hidup orang tuanya dulu yakni berkebun sayuran.
Dengan berkebun sayuran maka tingkat kesejahteraannya tak lebih baik dengan kondisi orang tuanya dulu, pikirannya mengatakan dengan tingkat kesejahteraan seperti itu mana mungkin bisa menyekolahkan anak-anaknya.
Sementara dalam pikirannya pula, anak-anaknya tak boleh seperti dirinya tak bersekolah dan miskin, anak-anaknya harus sekolah dan sukses.

“Saya ingat sekali bagaimana ayah saya memberi nafkah keluarga dengan jumlah anak lima, begitu berat,” katanya lagi mengenang masa lalu itu.

Melihat kenyataan seperti itulah, timbul pikiran untuk ikut program KB pria yang diselenggarakan pemerintah.

Setelah Pak Sigoh kala itu berusia 37 tahun dan memiliki dua anak, maka ia pun memutuskan ikut program KB melalui vasektomi.
Vasektomi adalah tindakan memotong saluran sperma yang menghubungkan buah zakar dengan kantong sperma, sehingga tidak dijumpai lagi bibit dalam ejakulat seorang pria.
Dengan hanya dua anak maka maka Pak Sigoh bisa mengatur biaya hidup, akibatnya beban hidup menjadi ringan. Dengan beban ringan ia pun beritekad menyekolahkan dua anaknya itu hingga ke perguruan tinggi.
Menurut pengakuan Pak Sigoh yang didampingi Petugas Penyuluh KB Kabupaten Selo, Tony, anak pertamanya bernama Titi Wahyuni (25) yang mengikuti program D3 Sastra Inggris Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta.
Setelah lulus D3, dia kemudian menjadi pemandu wisata, lalu berkenalan dengan seorang pemuda Belanda yang akhirnya diboyong ke negeri Belanda dan melanjutkan sekolah di negeri tersebut.
Sementara anak kedua Pak Sigoh, bernama Noor Sodadi (22) sekarang masih kuliah di Sekolah Tinggi Akuntansi Negara (STAN) Yogyakarta. Sedangkan Sigoh sendiri, setelah mampu mengatur biaya kehidupan keluarganya akhirnya bisa menabung dan memiliki modal dan sekarang sudah menjadi juragan sayuran, yakni membeli sayur petani setempat lalu membawanya dalam jumlah besar ke kota seperti ke Boyolali.
Penyuluh KB Kabupaten Selo, Tony, menambahkan setelah keberhasilan Pak Sigoh mengikuti program KB pria yang mampu mengubah gaya kehidupannya itu telah melahirkan banyak peminat mengikuti program tersebut.
Untuk Kabupaten Selo sendiri tercatat 994 peserta KB pria melalui vasektomi, sedangkan di Desa Sameran yang merupakan desa tempat tinggal Sigoh tercatat 104 peserta KB pria.
Dari 104 KB Pria Desa Sameran tersebut 60 orang di antaranya adalah hasil bujukan Pak Sigoh sendiri.
Peminat KB pria, menurut Tony, memperoleh bantuan biaya operasi, selain itu selama tiga hari peserta yang dioperasi vasektomi itu diberikan tunjangan biaya hidup Rp50 ribu per hari.
Namun, peserta KB pria tersebut biasanya membentuk kelompok atau grup sendiri, para aggotanya terdiri dari antarkeluarga mereka, sehingga mereka selalu bisa bergotong royong dalam menghadapi persoalan hidup.
Umpamanya saja, saat pindah rumah kelompok itu selalu kompak bekerjasama memindah rumah salah satu anggota KB pria tersebut.
“Dengan adanya grup KB pria maka kita mudah meminta bantuan, umpamanya meminta bibit sayuran kepada pemerintah,” kata Pak Sigoh menambahkan lagi.

Pak Sigoh
Jadi Pelajaran
Ketua IPKB Kalsel, Ir Irfani, menyatakan bahwa Kalsel pun ingin menyukseskn program KB pria dengn mencontoh Kabupaten Boyolali.
Dengan keterlibatan KB pria maka kesuksesan program KB di wilayah tersebut begitu terasa, kata Irfani.
Menurut penuturan ahlinya, kata Irfani, KB pria memberikan keuntungan, pertama dampak kesehatan akibat program tersebut tidak dirasakan, bahkan tidak mempengaruhi tingkat seksualitas peserta KB Pria tersebut.
Selain itu, bila KB untuk wanita biasanya dampak kesehatan dirasakan, seperti perubahan hormonal pada wanita atau dampak-dampak lainnya.
Melihat dari dampak tersebut, maka sewajarnya KB pria Kalsel mencontoh KB pria di Kabupaten Boyolali.
Selain itu, kata Irfani, dia sempat mengunjungi lapangan program KB di Boyolali, serta mendapat banyak cerita tentang kesuksesan program KB di wilayah Jateng itu.
Melalui program pergerakan ekonomi yang dikaitkan dengan program KB yakni Usaha Peningkatan Pendapatan Keluarga Sejahtera (UPPKS) ternyata berhasil meningkatkan kesejahteraan warga setempat.
Di Kabupaten Boyolali UPPKS berhasil mengubah bahan yang tadinya tak bernilai ekonomi menjadi barang makanan yang mahal, seperti kripik kulit lele, abon lele, krupuk daging lele, dodol labu, kripik labu dan sebagainya.
Kunjungan IPKB Kalsel bersama BKKBN Kalsel dan sejumlah wartawan tersebut dipimpin Kepala Bidang Advokasi dan Pergerakan KB BKKBN Kalsel, Hermaliawati/ Selain ke Boyolali, mereka juga sempat melakukan pertemuan dengan Kepala BKKBN Jateng Dra Hj Sri Murtiningsih MSI dan Ketua IPKB Jateng Adi Susilo.
Pertemuan berlangsung di kantor Wali Kota Solo yang juga dihadiri Kepala Badan Perberdayaan Masyarakat Pemberdayaan Perempuan Perlindungan Anak dan Keluarga Berencana Kota Surakarta, Hasto Gunawan.
Kepala Badan Perberdayaan Masyarakat Pemberdayaan Perempuan Perlindungan Anak dan Keluarga Berencana Kota Surakarta, Hasno Gunawan menceritakan suksesnya KB di wilayahnya karena mereka bisa memanfaatkan peringatan momen-momen besar nasional yang selalu dikaitkan dengan KB, seperti Hari   Kartini dan Hari Pendidikan Nasional.
Pihaknya juga meluncurkan KB Smart Surakarta, yaitu KB Sejahtera, Mandiri, Aman, Rahmat, Terencana.
Melihat kesuksesan program KB Jateng, maka perlu menjadi pelajaran di wilayan lain, khususnya di Kalsel.
Tanpa program KB dikhawatirkan terjadi ledakan penduduk yang berdampak maka kian banyak pengangguran, kekumuhan, kemiskinan, kelaparan, dan sulit memperoleh leyanan kesehatan, pendidikan, dan kian rusaknya lingkungan hidup, yang berarti sama dengan kiamat.

BERBURU MADU KELULUT, JENIS MADU YANG BUKAN DARI LEBAH

Banjarmasin, 14/4 (ANTARA)- Dengan membawa kampak, parang, serta peralatan lainnya dua pemuda Desa Inan, Kecamatan Paringin Selatan, kabupaten Balangan, provinsi Kalimantan Selatan (Kalsel) bergegas masuk hutan dalam upaya pencarian sesuatu yang termasuk barang atau minuman langka.

Aliansyah dan Nahli dua pmuda tersebut seakan sudah hapal lokasi yang mereka tuju di belantara hutan Pegunungan Meratus kawasan tersebut, tak lain yang mereka lakukan adalah berburu (mencari) sejenis madu yang bukan dari lebah tetapi justru dari binatang Kelulut.

Kedua pemuda tersebut sudah terbiasa mencari madu ini lantaran kebiasaan untuk mengkonsumsi madu itu karena terbukti berkhasiat bagi kesehatan.

Apalagi di wilayah ini termasuk kawasan yang berhawa dingin, terutama di pagi hari, dengan meminum madu kalulut maka badan jadi angat dan sehat. Akibat kebiasaan mengkonsumsi madu tertebut walau harus mencarinya ke dalam hutan sekalipun.

Berdasarkan keterangan binatang yang mengolah madu tersebut bentuk kecil lebih kecil dari lalat disebut masyarakat setempat sebagai binatang kalulut, sehingga madu yang dihasilkannya itu disebut madu kelulut.

Madu kalulut kini mulai digandrungi masyarakat bukan sekedar untuk kesehatan tubuh sebagaimana madu lebah, juga sebagai teman makan kue, atau makanan pisang rebus dan ubi rebus.

Menurut, Aliansyah yang dikenal sebagai pencari madu kalulut di Desa Inan, Kecamatan Paringin, madu tersebut dianggap lebih berkhasiat dibandingkan madu lebah.

Masalahnya binatang kelulut lebih kecil dibandingkan lebah sehingga binatang ini pasti lebih teliti dalam mengekstrak madu untuk makanan anak-anaknya. Hanya saja, bagi sebagian orang di wilayah ini kurang suka terhadap jenis madu ini, lantaran rasanya sedikit asam dibandingkan madu lebah, tetapi bentuk warna atau kekentalan sama saja dibandingkan madu lebah.

Untuk mencari madu kalulut ini memang relatif lebih sulit dibandingkan madu lebah, karena setiap satu sarang kalulut hanya sedikit sekali menghasilkan madu. “Makanya untuk mendapatkan satu liter madu kalulut, itu harus mampu mengambil madu untuk beberapa sarang kalulut, sementara kalau mengambil madu lebah hanya satu sarang bisa mencapai puluhan liter” kata Aliansyah.

Apalagi sarang kalulut itu bukan berada bergelantungan di dahan pohon seperti layaknya sarang lebah, tetapi sarang kalulut itu berada dalam rongga batang pohon besar. Biasanya sarang kalulut itu berada dalam rongga batang pohon besar, Untuk mengenali batang pohon itu ada atau tidak sarang kalulut, ditandai dengan sekelompok binatang kalulut yang beterbangan di sekitar itu. Untuk mendapatkan madu kalulut tersebut pencari madu ini harus menebang dulu pohon itu, kemudian baru membelahnya pakai kampak, setelah itu baru kelihatannya sarang kalulut lengkap dengan wadah-wadah madunya.

Wadah madu ini persis seperti balon-balon kecil menggelembong, balon itu terbuat dari bahan yang diproduksi binatang ini menyerupai lilin hitam. Bila gelembong itu pecah sedikit saja maka madu akan ngocor dari gelembong tersebut.

Makanya cara mengambil madu tersebut terlebih dahulu mengumpulkan balon-balon kecil itu ke dalam wadah, setelah terkumpul baru balon itu dipecah atau diperas hingga madunya terkumpul. Enaknya mengambil madu itu karena gigitan binatang ini tidak sakit dibandingkan gigitan lebah, paling banter sakitnya seperti gigitan nyamuk, tetapi kalau binatang ini marah biasanya secara berkelompok menyerang bagian rambut orang hingga seringakali binatang ini banyak nyangkut dirambut orang.

Binatang ini selain banyak bersarang di dalam pohon besar, juga ada yang bersarang dalam gondokan tanah merah semacam gunung kecil atau yang disebut penduduk setempat tanah balambika. Bila madu kalulut yang bersarang dalam tanah merah ini diambil maka warna madu kalulut agak merah keputih-putihan, sedangkan madu dalam pohon agak merah ke hitam-hitaman.

Lantaran sulit diperoleh maka kalau ada yang menjual madu inipun harganya lebih mahal ketimbang harga madu lebah, bila harga madu lebah asli rp50 ribu per botol di pedalaman Kalsel, maka harga madu lebah ini bisa Rp60 ribu per botol. Konon agar madu ini lebih berkhasiat kalau didiamkan lebih lama dulu, sehingga dikenal ada madu kalulut usianya tahunan di tangan masyarakat.

Konon pula madu banyak sekali khasiatnya, selain bisa untuk kejantanan laki-laki atau awet muda, atau untuk obat maag, demam, atau obat luka, serta obat lainnya.

Berdasarkan perkiraan, madu ini lebih berkhasiat ketimbang madu lebah, lantaran hasil pengektrakkan dari binatang yang kecil kelulut yang mampu mengambil sari pati bunga-bungaan yang kecil pula, dengan demikian madu yang dihasilkan lebih berkualitas.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 41 pengikut lainnya.