MENGANGKAT KESEJAHTERAAN MELALUI BANK SAMPAH

Oleh Hasan Zainuddin


Banjarmasin,21/10 (ANTARA)- Sampah dulu dianggap musuh belakangan justru dinilai berkah lantaran memberikan nilai keuntungan besar setelah adanya program bank sampah.

Seperti terlihat di Kompleks Mahligai Banjarmasin Utara, Kota Banjarmasin, Kalimantan Selatan, keberadaan bank sampah mengubah kampung tadinya kotor menjadi sebuah pemukiman yang bersih, indah, dan asri.

Di lokasi itu warga diajak mengumpulkan sampah non organik, setiap barang akan dibeli sesuai harga jual yang berlaku di pengumpul barang bekas.

Misalnya kardus Rp1.000 per kilogram, besi Rp dua ribu per kilogram, kaleng Rp12 ribu per kilogram, botol kaca (kecap) Rp300 per kilogram dan banyak lagi.

Wali Kota Banjarmasin Muhidin saat pencanangan perilaku hidup bersih di lokasi itu mengaku bangga melihat pemukiman bersih dimana terdapat budaya masyarakat mengembangkan bank sampah.

Karenanya ia mengajak seluruh masyarakat membiasakan diri berperilaku hidup bersih dengan tidak membuang sampah sembarangan dan menjadikan sampah sebagai barang ekonomis.

“Saya senang melihat di pemukiman lokasi ini, terdapat bank sampah, seharusnya bank-bank sampah ini diperbanyak saja,” katanya.

Kepala Dinas Kebersihan dan Pertamanan Rusmin mengakui bahwa pihaknya memperbanyak lokasi bank sampah, sata ini baru terdapat 20 bank sampah, dan akan bertambah lagi 10 bank sampah dalam waktu dekat ini, hingga akhirnya mencapai 50 bank sampah.

Bank sampah bisa memberikan tambahan penghasilan anggota atau nasabahnya, lingkungan mereka juga terjaga kebersihannya.

Keberadaan bank sampah dinilai penting karena tumpukan sampah rumah tangga bisa dikelola di lokasi tersebut, setiap yang bernilai bisa dijual langsung sementara sampah organik akan dibuat pupuk kompos yang kemudian di paking untuk kemudian dijual pula.

“Daripada membuang sampah tidak jadi apa-apa, lebih baik dikumpulkan di bank sampah. Mengumpulkan sampah diberi uang. Bahkan bisa pinjam uang, bayarnya hanya dengan sampah,” ujarnya.

Setelah masyarakat mengumpulkan barang bekas tersebut ke bank sampah, maka nilai jualnya akan ditulis petugas di buku tabungan khusus.

Mereka yang mengumpulkan bisa mengambil uang hasil penjualan barang bekas tersebut setelah tiga bulan. Dengan cara tersebut, sampah tak lagi dibuang percuma tetapi menghasilkan uang bagi warga setempat.

Saat ini sudah ada beberapa bank sampah yang cukup aktif difungsikan, banyak dimanfaatkan masyarakat seperti terlihat di kompleks Mahligai, Kompleks Malkon Temon, serta di kawasan Sungai Andai.

Sedangkan Kepala Badan Lingkungan Hidup Daerah (BLHD) Banjarmasin Hamdi menyambut gembira keberadaan bank sampah di kota ini, dan itu harus dikembangkan lebih luas lagi.

Di beberapa daerah tanah air keberadaan bank sampah sudah memberikan kesejahteraan masyarakat, sampah tak lagi dianggap masalah tetapi jutru dianggap berkah.

Di beberapa daerah, banyak warga terbantu oleh sampah melalui program bank sampah, mereka pinjan uang bayar dengan sampah, mereka mau barang elektronik bisa bayar dengan sampah, bahkan kredit kendaraan roda dua pun bisa bayar dengan sampah.

“Pokoknya sampah sudah bukan barang mencemari lingkungan lagi, tetapi barang menghasilkan rupiah,” tutur Hamdi saat pelatihan jurnalistik lingkungan di balaikota Banjarmasin.

Di beberapa daerah tanah air belakangan ini mulai ramai dikembangkan bank sampah, konon bank sampah sudah melebihi 800 lokasi secara nasional.

Menurut Kepala Dinas kebersihan dan Pertamanan Banjarmasin, Rusmin selain melalui bank sampah penanganan sampah di kota ini juga melalui cara yang disebut Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) “3R” yaitu reuse (menggunakan kembali), reduce (mengurangi), recycle (daur ulang) seperti ditujuh lokasi Banjarmasin.

Tujuh lokasi Banjarmasin itu, TPST 3R Jalan Angsana dan Cemara Raya dan Sungai Andai di wilayah Banjarmasin Utara, Simpang Jagung Banjarmasin Barat, Sungai Lulut Banjarmasin Timur, Sentra Antasari Banjarmasin Tengah, serta TPST 3R Basirih Selatan Banjarmasin Selatan.

Melalui TPST ini juga telah memberikann nilai tambah ekonomi bagi masyarakat setempat serta kalangan pemulung.

Upaya lain bahkan Pemkot Banjarmasin menerjunkan 60 petugas pengawas untuk mengawasi pembuangan sampah ke TPS agar tidak berserakan, serta membentuk komunitas warga peduli samnpah.

Jangka panjangnya terus menambah pendanaan, tenaga kerja, peralatan, serta peningkatan tehnologi serta mengelola TPA agar mampu menampung pembuangan sampah secara baik dan benar pula.

Mengenai mengelolaan sampah di Banjarmasin, Rusmin bercerita berbagai kendala mengurus sampah, bukan hanya kekurangan dana, tetapi juga kekurangan tenaga kerja, minimnya jumlah peralatan, serta kondisi alam, tetapi yang paling memusingkan adalah perilaku masyarakat itu sendiri yang selalu membuang sampah sembarangan di berbagai tempat.

“Kalau hanya mengandalkan pemerintah tanpa dukungan masyarakat sampai hari kiamat pun persoalan sampah tak akan pernah selesai di kota ini,” kata Rusmin lagi.

Sebagai contoh saja, sudah diingatkan warga membuang sampah di Tempat Pembuangan Sementara (TPS) harus malam hari, nyatanya selalu membuang di siang hari.

Bahkan katanya, setelah tumpukan sampah diangkut pada pagi hari dan TPS sudah bersih, tapi hanya beberapa waktu berselang lokasi itu menggunung lagi sampah.

Bahkan bukan hanya individu warga yang membuang sampah sembarangan tetapi juga berbagai perusahaan besar seperti hotel, restauran, rumah makan, dan perusahaan lainnya yang membuang skala besar secara sembarangan pula.

Padahal sebagian besar dari 117 TPS di kota ini justru di pinggir jalan besar, dan akibatnya sampah terus meluber hingga ke tengah jalan raya dan menganggu warga kota.

“Kalau cara-cara masyarakat seperti itu terus dilakukan siapa pun pasti pusing tujuh keliling mengurus sampah ini,” kata Rusmin lagi.

Apalagi kian waktu produksi sampah volumenya terus meningkat seiring bertambahnya penduduk, dan sekarang terdata 573 ton atau 1.800 meterkubik per hari.

Bagaimana sampah sebanyak itu dibersihkan dengan peralatan dan tenaga yang masih terbatas, dengan jumlah truk angkut sampah hanya 38 buah, tosa (kendaraan roda tiga) t11 buah, padahal idealnya truk sampah minimal 125 buah.

Dengan kondisi terbatas itu maka jumlah sampah yang terangkut ke TPA 200 ton saja, sisa sampah yang tak terangkut tersebut memang ada yang diambil pemulung, dibuang ke sungai oleh oknum warga atau di daur ulang untuk pupuk organik dan sebagainya, tapi masih banyak yang tertinggal dan jumlah itulah yang terus mengotori kota ini.

“Melalui program sampah dan TPST 3R itulah sampah di Banjarmasin bisa tertangani kedepannya,” katanya.

LEDAKAN PENDUDUK YANG BESAR BERARTI KIAMAT

Oleh Hasan Zainuddin

Kemacetan Simpang Ampat Sungai Andai Banjarmasin
“Seratus tiga puluh lima juta penduduk Indonesia,” dekian salah satu bait dari lagu ciptaan penyanyi dangdut terkenal,Haji Rhoma Irama yang populer tahun 80 hingga tahun 90-an, rupanya lagu itu tak berlaku lagi di era tahun 2012-an ini.
Pasalnya sensus penduduk 2010 jumlah penduduk Indonesia sudah mencapai 237 juta jiwa yang meningkat hampir dua kali lipat, bahkan sekarang total penduduk Indonesia sesungguhnya melewati angka 240 juta jiwa.
Dari data statistik itu memperlihatkan laju pertumbuhan penduduk Indonesia begitu mengkhawatirkan, penduduk yang banyak tanpa diimbangi tingkat kemakmuran negara, hanya menciptakan persoalan sangat besar, dan itu yang terjadi di negara ini.
Berdasarkan sebuah catatan, angka laju pertumbuhan penduduk Indonesia dalam lima tahun terakhir mencapai 1,4 persen-1,5 persen per tahun. Pada periode 2000-2005, angka laju pertumbuhan penduduk bahkan berkisar 2 persen per tahun.
Bisa diprediksi dengan dengan tingkat pertumbuhan penduduk stabil di angka 1,5 persen per tahun saja, pada tahun 2057 total penduduk Indonesia sudah lebih dari 475 juta jiwa.
Jumlah penduduk yang besar itu akan menjadi celaka bila tanpa diimbangi kemampuan negara memberikan kemakmuran.
Bumi Indonesia penuh sesak dipadati manusia menjadikan ruang gerak terbatas,hingga muncul “berjuta” persoalan berasal dari manusia itu sendiri.
Misalnya saja masalah sampah yang dipastikan akan memukul balik manusia,kemacetan lalu lintas yang membuat kendaraan roda empat menjadi tidak berharga sama sekali, ketersediaan bahan pokok, dituntut menyelesaikan ketersediaan air bersih.
Jelaslah bahwa ledakan penduduk yang tak terkendali akan membuat bumi penuh sesak. Pada gilirannya, keselamatan manusia menjadi terancam. Jika demikian, masih layakkah bumi ini sebagai tempat hunian, yang berarti pula sama saja dengan kiamat.
Melihat kenyataan itulah maka memperlambat pertumbuhan penduduk Indonesia bukanlah sekadar kebutuhan, melainkan sebuah keharusan.
Tanpa strategi yang tepat dan akurat, pada 2050 Indonesia bakal menghadapi beban ganda. Di satu pihak ada ledakan penduduk usia manula yang diperkirakan sekitar 80 juta jiwa dan di lain pihak jumlah penduduk usia muda juga begitu membludak.
Persoalan yang pasti dirasakan yaitu mampukah negara memenuhi sejumlah kebutuhan dasar bagi warga khususnya, pemenuhan pangan, lapangan pekerjaan, pelayanan kesehatan, pelayanan pendidikan, perumahan serta segudang persoalan lagi di belakangnya.
Oleh karena itu bisa dibayangkan, betapa repotnya negara mengurus penduduk yang jumlahnya kian membeludak.
Indonesia perlu mewaspadai ledakan penduduk dikarenakan berdampak pada kualitas kehidupan manusia, kata kepala Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional Sugiri Syarief, seperti yang dikutif Kantor Berita ANTARA.
“Indonesia saat ini masih dalam posisi peringkat empat besar negara di dunia yang menyumbang jumlah penduduk terbesar,” kata dia dalam seminar nasional tentang kesehatan reproduksi perempuan yang di Yogyakarta, belum lama ini.
Dia mengatakan ledakan jumlah penduduk di Indonesia setiap 100 tahun naik lima kali lipat kerimbang 100 tahun sebelumnya.
“Pada Tahun 1900 jumlah penduduk mencapai 40 juta, sedangkan pada Tahun 2000 mencapaii 200 juta,” katanya.
Dia mengatakan dengan kondisi Indonesia saat ini, pihaknya memprediksi jumlah penduduk Indonesia pada tahun 2100 mencapai satu miliar atau naik lima kali lipat ketimbang seratus tahun sebelumnya.
“Kalau jumlah penduduknya bertambah maka akan berdampak pada kebutuhan pangan yang besar. Indonesia bebannya akan semakin besar karena saat ini masih mengimpor beras,” kata dia lagi.
Sementara itu, untuk masalah kesehatan akan berdampak pada tingkat kematian ibu hamil dan beragam persoalan kesehatan, seperti kasus aborsi.
Ia mengatakan menekan jumlah penduduk perlu dilakukan untuk menghemat investasi pemenuhan hak dasar masyarakat, seperti, pendidikan, kesehatan, gizi, nutrisi, sandang, dan perumahan.
Selain itu, jumlah penduduk yaang bisa ditekan juga akan menghemat biaya perawatan kesehatan saat kehamilan, kelahiran, perawatan bayi dan balita.
Persoalan kesehatan selama ini menyangkut angka kematian ibu yang masih tinggi dan angka kematian balita. Kesehatan reproduksi selama ini menjadi bagian penting dari masalah kependudukan yang sulit diselesaikan.
Untuk aspek lingkungan jumlah penduduk yang bisa ditekan akan mengurangi penyediaan perumahan dan air bersih, daya tampung dan daya dukung lingkungan juga semakin tidak ideal serta bisa menimbulkan banyak masalah lingkungan, sampah, banjir, kemacetan, kesulitan akses udara atau air bersih serta isu perubahan iklim hingga bencana akibat perusakan alam.
Tuntutan atas kebutuhan dasar seperti pangan yang akhir-akhir ini semakin mahal dan sulit, jumlah lapangan kerja tidak seimbang dengan angkatan kerja baru, serta peningkatan kriminalitas akibat kebutuhan pokok yang tidak terpenuhi juga bisa menjadi dampak ledakan penduduk.
Untuk menghindari terjadinya ledakan penduduk maka diperlukan desain induk kependudukan,katanya.
Desain induk itu akan menjadi acuan kependudukan yang meliputi berbagai aspek diantaranya kualitas, kuantitas, pembangunan keluarga, mobilitas dan administrasi penduduk.
“Desain induk sangat diperlukan untuk menghindari terjadinya ledakan penduduk. Pada saat ini desain induk masih pada tahap penyusunan dan pembahasan,” katanya.
Selain itu, untuk menyikapi laju pertumbuhan penduduk juga diperlukan upaya revitalisasi keluarga berencana (KB).

Penduduk Dunia

Berdasarkan sebuah laporan, pertumbuhan penduduk di setiap negara akan berdampak pula terhadap pertumbuhan penduduk dunia secara keseluruhan.
Menurut Perserikatan Bangsa – Bangsa (PBB) yang menangani masalah kependudukan melaporkan bahwa pada tahun 2003 jumlah penduduk dunia 6,3 milyar.
Menurut Thomas Robert Malthus dalam Essay on the Principle of Population (1798), dikatakan bahwa ” penduduk bertambah menurut deret ukur dan bahan makanan bertambah menurut deret hitung “.
Dengan demikian pertumbuhan penduduk lebih cepat dari pada produksi makanan yang dibutuhkan. Jika hal ini terus menerus dibiarkan maka akan terjadi ledakan penduduk.
Ledakan penduduk sebagai akibat pertumbuhan penduduk yang cepat seperti itu memberikan dampak yang buruk bagi kehidupan sosial-ekonomi masyarakat dan hal inipun membuat pemerintah berusaha untuk mengatasinya ledakan penduduk tersebut.
Dampak ledakan penduduk,disebutkannyah pengangguran kian meningkat, kekurangan pangan yang menyebabkan kelaparan dan gizi rendah, kebutuhan pendidik, kesehatan dan perumahan sukar diperoleh, terjadinya polusi dan kerusakan lingkungan, serta tingkat kemiskinan semakin meningkat
Sementara upaya yang harus dilakukan antsipasi ledakan penduduk, antara lain memperluas lapangan kerja melalui industrialisasi, melaksanakan program Keluarga Berencana (KB),meningkatkan produksi pangan sesuai kebutuhan penduduk, melaksanakan program transmigrasi, serta menambah sarana pendidikan dan perumahan sederhana.
Ledakan penduduk tentu akan mengancam ketersediaan pangan, berdasarkan catatan, konsumsi perkapita beras di Indonesia masih sangat tinggi yakni 139,15 kilogram per kapita per tahun.
Sementara itu konversi lahan di Indonesia terjadi sangat cepat dari persawahan menjadi pemukiman dan lain sebagainya akibat tingginya jumlah pertumbuhan penduduk.
Selain itu, perubahan iklim yang dipicu tingginya jumlah penduduk juga mengakibatkan gagal panen dan lain sebagainya.
Penduduk banyak bisa mempengaruhi perubahan iklim, dan sebaliknya penduduk juga akan terpengaruh pada perubahan iklim yang terjadi.
Laju pertumbuhan yang tinggi akan mengakibatkan konversi lahan persahawan juga terus meningkat padahal jumlah penduduk yang tinggi juga mengakibatkan meningkatnya kebutuhan dan konsumsi akan beras.
Untuk menghindari terjadinya ancaman ketersediaan pangan maka laju pertumbuhan penduduk harus ditekan,makanya diperlukan upaya dan langkah konkret guna menurunkan laju pertumbuhan penduduk dan meningkatkan kualitas penduduk melalui berbagai program, baik dalam aspek kualitas maupun kuantitas.
Untuk menyikapi laju pertumbuhan penduduk, juga diperlukan upaya revitalisasi Keluarga Berencana.
Revitalisasi program KB
Bagaimana kondisi KB saat ini,sebagai gambaran, prevalensi penggunaan kontrasepsi selama lima tahun (2002-2007) tidak banyak mengalami perubahan.
Hanya naik sedikit dari 60,3 persen menjadi 61,4 persen. Bahkan unmet need (kebutuhan ber-KB yang tidak terlayani) dalam periode yang sama naik dari 8,6 persen menjadi 9,1 persen.
Jika kondisi ini tidak cepat ditangani, ledakan penduduk akan menjadi kenyataan dalam beberapa tahun ke depan.
Dari hasil penelitian Sri Moertiningsih Adioetomo (peneliti LD FE UI), program KB telah berhasil mengubah paradigma dalam masyarakat bahwa jumlah anak bukanlah ‘nasib’. Jumlah anak yang lebih sedikit menciptakan peluang yang lebih besar dalam mencapai keluarga kecil yang bahagia dan sejahtera.
Sebelum pemerintah berperan penuh dalam pelaksanaan program KB (1970), pertumbuhan penduduk Indonesia sangat tinggi. Sebagian besar masyarakat Indonesia beranggapan bahwa semua kejadian demografis seperti peristiwa kelahiran dan kematian adalah kuasa Tuhan.
Tidak dikenal jumlah anak ideal, dan jumlah anak bukanlah hal yang pantas untuk didiskusikan.
Program Keluarga Berencana (KB) merupakan upaya pengendalian jumlah penduduk dan peningkatan kualitas keluarga Indonesia. Program KB di awal 1970-an telah berhasil mengendalikan laju pertumbuhan penduduk Indonesia, dan manfaatnya baru dapat dirasakan di awal 2000.
Indonesia berhasil ‘mencegah’ 80 juta kelahiran bayi. Program KB berhasil mengubah cara pandang masyarakat bahwa jumlah anak lebih sedikit, lebih baik.
Banyak keberhasilan program KB di era Orde Baru. Penggunaan kontrasepsi naik drastis (dari 5 persen menjadi 60 persen), jumlah anak perempuan usia subur turun (dari 5,6 persen menjadi 2,3 persen), rata-rata usia kawin pertama perempuan naik menjadi 19 tahun, menurunnya kehamilan yang tidak diinginkan, serta masih banyak keberhasilan lainnya.
Program KB jelas memiliki dampak langsung terhadap peningkatan kualitas penduduk, kesejahteraan, derajat kesehatan, dan pendidikan penduduk.
Penduduk miskin cenderung memiliki jumlah anak yang lebih banyak daripada yang tidak miskin.
Program KB dapat menjadi salah satu instrumen untuk mengatasi kemiskinan di Indonesia. Oleh karenanya, program KB juga jelas berkontribusi terhadap pencapaian target millenium development goals.
Sebagai langkah nyata untuk merespons tingginya pertumbuhan penduduk, itulah maka pemerintah RI perlu segera merealisasikan revitalisasi program KB nasional.
Kata revitalisasi sendiri bermakna bahwa program KB harus dihidupkan kembali dan menjadi prioritas karena memiliki peran vital dalam pembangunan.
Pemerintah harus segera memperbaiki akses masyarakat terhadap pelayanan KB. Perlu perbaikan kompetensi teknis KB terutama di daerah, mengingat terbatasnya sumber daya manusia di daerah yang memahami teknis program KB. Sehingga, perlu perkuatan institusi KB daerah. Pemerintah harus segera membangun metode komunikasi yang efektif dalam penyebarluasan informasi tentang KB.
Hal ini penting mengingat KB bukan sekadar mengendalikan jumlah penduduk, tetapi juga membangun cara pandang masyarakat terhadap norma keluarga kecil yang bahagia dan sejahtera.
Pemerintah segera melakukan tindakan nyata untuk pengelolaan penduduk dalam format program KB. Jika pemerintah memiliki anggaran yang terbatas, harus segera melibatkan pihak swasta.
Pemerintah harus mampu meyakinkan pihak swasta untuk berpartisipasi, serta bentuk partisipasi yang dibutuhkan. Satu hal yang perlu dipahami ialah membangun bangsa ini tidak bisa sendirian. Tetapi pemerintah harus menunjukkan kesungguhan agar tidak sendirian pula dalam menghadapi ancaman ledakan penduduk.

KEMARAU KINI SUDAH MENJADI SEBUAH “TRAGEDI”

Oleh Hasan Zainuddin


Banjarmasin, 6/10 (ANTARA) – Musim kemarau tak asing bagi masyarakat Indonesia, karena sudah berlangsung setiap tahun sejak berada-abad lalu.

Hanya saja kemarau dulu dan sekarang terjadi perbedaan, kemarau dulu lahan kering tetapi sekarang kemarau lebih kerontang, kalau dulu kemarau menimbulkan asap tipis sekarang kian pekat.

Panas selalu terjadi musim kemarau, tetapi sekarang panasnya kian gerah, dan banyak lagi perbedanaan lain yang dirasakan disaat perubahan iklim global sekarang ini.

“Kemarau baru sebentar sudah menyengsarakan, terutama kesulitan air bersih serta kabut asap pekat menganggu banyak aktivitas, seperti di Kalsel, kata Gubernur Kalsel Rudy Ariffin di Banjarbaru, Rabu (3/10) saat menggelar rapat dadakan dengan Badan Penanggulangan Bencana Daerah .

Rapat dadakan bersama perwakilan pemerintah pusat membahas serangan asap dikaitkan melakukan hujan buatan. Selain hujan buatan, juga dinilai perlu menggelar sholat istisqa (shalat minta hujan).

Gubernur mengaku sudah menyampaikan surat permohonan ke Badan Penanggulangan Bencana Nasional (BPBN) agar memperoleh jatah hujan buatan.

Berdasarkan catatan, asap Kalsel adanya kebakaran semak belukar dan hutan 615 titik, kabut asap paling parah di Banjarbaru, Kabupaten Banjar, Tanah Laut, dan Barito Kuala serta Kota Banjarmasin.

Kepala Dinas Kesehatan Kalsel, Rosihan Adhani mengatakan serangan kabut asap mulai mengganggu kesehatan masyarakat, ditandai peningkatan ISPA hingga 59 persen, dengan jumlah penderita ISPA setiap bulannya sebanyak 22.000 orang.

Mengatasi hal itu 10.000 masker dibagikan dari 51.000 masker yang dicadangkan, 51.000 masker sifatnya perbantuan kabupaten dan kota se Kalsel yang memerlukan tambahan,katanya.

Kepala Dinas Perhubungan Kalsel, M Tahkim, asap menganggu penerbangan bandara Syamsuddin Noor serta jalur Lalu-lintas darat dalam sepekan terakhir, lantaran jarak pandang yang pendek.

“Saat ini jadwal penerbangan selalu saja ada yang tertunda akibat asap,” katanya.

Asap tak hanya menyebabkan ganggu transportasi, tetapi juga membuat warga merasa sesak napas dan penglihatan terasa pedih saat berada di luar rumah.

Beberapa warga mengaku cepat lelah, saat melakukan aktivitas di luar rumah, karena udara pengap dan panas menyengat, kendati cuaca seakan mendung.

Cuaca ekstrim terjadi di Kalsel, ditandai meningkatnya suhu dan kelembaban udara hingga di atas standar normal, suhu dan kelembaban udara tergolong ekstrim, melebihi standar normal, ujar Miftahul Munir dari BMG.

Suhu udara normal 32 derajat celsius hingga 35 derajat celsius, jika di atas standar maka tergolong ekstrim, suhu ekstrim terukur di Banjarbaru, Banjarmasin, dan Kabupaten Banjar dengan panas 35,2 derajat celsius.
Terjadinya cuaca ekstrim di Kalsel karena curah hujan rendah sejak dua bulan lalu, curah hujan Agustus 60-70 milimeter dan September 50-100 milimeter hingga tergolong rendah dan memicu meningkatnya suhu udara dipermukaan hingga terjadi cuaca ekstrim, jelasnya.

Dampak ditimbulkan suhu udara demikian kekeringan melanda hampir seluruh kawasan, pepohonan kekurangan air mudah terbakar disamping volume air sumur berkurang.

Kawasan terpekat asap, justru berada di dekat Bandara Syamsudin Noor merupakan bandara terpadat di Kalimantan, menyebabkan tertundanya penerbangan seperti penerbangan ke Jakarta, Surabaya, dan Yogyakarta.

Manager Operasi PT Angkasa Pura I Bandara Syamsudin Noor Haruman mengatakan, jarak pandang aman bagi penerbangan minimal 400 meter saat pesawat lepas landas dan 800 meter saat pesawat mendarat.

“Jarak pandangnya buruk sekali pernah terjadi hanya lima meter sehingga sangat tidak mungkin pesawat lepas landas dan diputuskan enam penerbangan ditunda,” katanya
Kepala Dinas kehutanan Kalsel, Rahmadi menambahkan titik panas (hotspot) di wilayahnya meningkat 100 persen. Pantuan satelit NOAA-18 (ASMC) 4 September 315 titik, sekarang 615 titik.

Titik api diperkirakan terus bertambah mengingat musim hujan ditaksir akhir Oktober, atau dasarian tiga, ujar Kasi Data dan Informasi BMKG Staklim Banjarbaru Miftahul Munir.

Terkait keinginan gubernur melakukan hujan buatan, disarankan menunggu munculnya awan pembentuk hujan sehingga hujan cepat turun sesuai harapan.

“Saat ini, awan pembentuk hujan belum terbentuk di atas wilayah Kalsel sehingga tidak efektif jika hujan buatan dilakukan sekarang, lebih baik menunggu munculnya awan hujan sehingga hasilnya maksimal,” kata dia.


Perubahan Iklim
Berdasarkan sebuah catatan saat ini terjadi peningkatan konsentrasi gas-gas rumah kaca (CO2, CH4, CFC, HFC, N2O), terutama peningkatan konsentrasi CO2, di atmosfir menyebabkan terjadinya global warming (peningkatan suhu udara secara global) yang memicu terjadinya global climate change (perubahan iklim secara global).

Fenomena ini memberikan berbagai dampak yang berpengaruh penting terhadap keberlanjutan hidup manusia dan makhluk hidup lainnya di planet bumi ini, di antaranya adalah pergeseran musim dan perubahan pola atau pendistribusi hujan yang memicu terjadinya banjir dan tanah longsor pada musim penghujan dan kekeringan pada musim kemarau.

Naiknya muka air laut yang berpotensi menenggelamkan pulau-pulau kecil dan banjir rob.

Perubahan iklim global sebagai implikasi dari pemanasan global mengakibatkan ketidakstabilan atmosfer di lapisan bawah terutama dekat permukaan bumi.

Pemanasan global ini disebabkan oleh meningkatnya gas-gas rumah kaca yang dominan ditimbulkan oleh industri-industri.

Pengamatan temperatur global sejak abad 19 menunjukkan adanya perubahan rata-rata temperatur yang menjadi indikator adanya perubahan iklim.

Perubahan temperatur global ini ditunjukkan dengan naiknya rata-rata temperatur hingga 0.74oC antara tahun 1906 hingga tahun 2005.

Temperatur rata-rata global ini diproyeksikan akan terus meningkat sekitar 1.8-4.0oC di abad sekarang ini, dan bahkan menurut kajian lain dalam IPCC diproyeksikan berkisar antara 1.1-6.4oC.

Perubahan iklim akibat kegiatan manusia itu meningkatnya suhu udara yang berpengaruh terhadap kondisi parameter iklim lainnya.

Perubahan iklim mencakup perubahan dalam tekanan udara, arah dan kecepatan angin, dan curah hujan.

Di Indonesia saat perubahan musim ini menyebabkan suhu rata-rata tahunan menunjukkan peningkatan 0,3 derajat Celcius sejak tahun 1990, musim hujan datang lebih lambat, lebih singkat, namun curah hujan lebih intensif sehingga meningkatkan risiko banjir.

Variasi musiman dan cuaca ekstrim diduga meningkatkan risiko kebakaran hutan dan lahan, terutama di Selatan Sumatera, Kalimantan, dan Sulawesi.

Perubahan pada kadar penguapan air, dan kelembaban tanah akan berdampak pada sektor pertanian dan ketahanan pangan. Perubahan iklim akan menurunkan kesuburan tanah sekitar 2 persen sampai dengan 8 persen.

Melihat kondisi cuaca seperti ini maka hal itu bisa dikatakan sebuah tragedi baik dimusim hujan maupun dimusim kemarau, karena itu berbagai kalangan mengharapkan kewaspadaan semua pihak menyikapi kondisi demikian

SPAM REGIONAL “BANJARBAKULA” SOLUSI AIR MINUM KALSEL

Oleh Hasan Zainuddin
Banjarmasin, 25/9 (ANTARA) – Persoalan air minum kini menghantui warga Provinsi Kalimantan Selatan, lantaran persediaan tidak sebanding dengan kebutuhan masyarakat wilayah tersebut.

Menteri Pekerjaan Umum Joko Kirmanto saat kunjungan ke Banjarmasin, Senin (24/9) menyatakan pihaknya telah mencermati kondisi pelayanan air minum di wilayah paling selatan Pulau Kalimantan ini.

Menurut dia, capaian pelayanan air minum di Kalsel sampai dengan penghujung tahun 2011, tingkat akses aman air minum masyarakat wilayah ini baru mencapai 51,79 persen, sedikit di bawah rata-rata nasional sebesar 53,26 persen.

Dengan jumlah penduduk sekitar 3,6 juta jiwa, berarti penduduk yang belum memiliki akses aman air minum di Provinsi Kalsel sebanyak 1,7 juta jiwa.

Di sisi lain, sasaran MDGs tahun 2015 untuk Provinsi Kalimantan Selatan adalah tingkat akses aman air minum sebesar 70 persen.

Dengan demikian, dalam kurun waktu 2,5 (dua setengah) tahun ke depan pemerintah provinsi dan kabupaten-kota di Kalsel perlu menyediakan tambahan akses aman air minum bagi 600 ribu jiwa.

Melihat kenyataan tersebut maka diperlukan kerja keras antara pemerintah daerah di Kalsel untuk melakukan tambahan pelayanan air minum tersebut.

“Sistem penyediaan air minum untuk Kota Banjarmasin dan lima Instalasi air Ibukota Kecamatan (IKK) di Kalsel yang akan kita resmikan pemanfaatannya hari ini akan menambah kapasitas produksi air minum sebesar 600 liter per detik,” katanya saat meresmikian proyek air bersih Kalsel di Banjarmasin tersebut.

Proyek air diresmikan SPAM Banjarmasin 500 liter per detik (l/D) menjadi 1000 l/d, IKK Paringin Selatan, Kabupaten Balangan 20 l/d, IKK Tabukan Kabupaten Hulu Sungai Utara (HSU) 20 l/d, IKK Babirik HSU 20 l/d, IKK Hatungun Kabupaten Tapin 20 l/d dan IKK Hantakan Kabupaten HST 20 l/d.

Kedatangan Menteri PU didampingi Dirjen Cipta Karya selain meresmikan proyek air bersih sekaligus menghadiri peringatan puncak hari jadi Kota Banjarmasin ke-486 di halaman balaikota setempat.

Menurut Menteri PU, adanya penambahan fasilitas air minum 600 liter per detik tersebut berarti akan menyumbang peningkatan pelayanan air minum sampai dengan 48.000 sambungan rumah atau tambahan pelayanan bagi 240.000 jiwa.

Dengan target MDGs Provinsi Kalsel sebesar 600 ribu jiwa, tambahan pelayanan tersebut masih jauh dari sasaran. Oleh karenanya diperlukan upaya yang lebih serius guna percepatan peningkatan pelayanan air minum ke depan.

“Kami yakin apabila ada komitmen yang kuat dari Pemerintah Daerah hal tersebut bisa terwujud.” katanya didampingi Wakil Gubernur Kalsel, Rudy Resnawan.

Sebagai contoh nyata adalah Kota Banjarmasin yang saat ini pelayanan air minumnya sudah mencapai 98,7 persen, keberhasilan itu tak terlepas dari tingginya komitmen pemerintah setempat dalam meningkatkan pelayanan air minum yang tercermin dari komitmen pendanaan dari daerah baik melalui alokasi pendanaan APBD maupun memanfaatkan pinjaman perbankan.

Pemerintah telah mengeluarkan kebijakan melalui Peraturan Presiden Nomor 29 tahun 2009 tentang Pemberian Jaminan dan Subsidi Bunga Oleh Pemerintah Pusat Dalam Rangka Percepatan Penyediaan Air Minum.

Saat ini telah ada komitmen dari Perbankan Nasional sebesar Rp4,36 triliun, katanya lagi.

“Saya mengapresiasi komitmen PDAM Bandarmasih yang didukung Pemerintah Kota dan DPRD Kota Banjarmasin untuk memanfaatkan fasilitas tersebut dan hasil pembangunannya akan kita resmikan hari ini,” tuturnya.

Ini adalah contoh yang baik bagi 13 pemerintah kabupaten dan kota lain di Kalsel sebagai pembelajaran dalam pelayanan air minum di masing-masing wilayah.

Ia juga berharap Pemerintah Kota Banjarmasin dan PDAM Bandarmasih dapat berbagi pengalaman kepada pemerintah daerah dan PDAM lain khususnya di Provinsi Kalsel.

PDAM Bandarmasih diharapkan dapat berperan aktif sebagai “Center Of Excellence” di Kalsel untuk dapat memacu kinerja pelayanan air minum oleh PDAM di provinsi ini.


SPAM Regional
Kehadiran Menteri PU bersama rombongan tersebut sekaligus juga menyaksikan penandatangan MoU lima pimpinan daerah di Kalsel untuk mengerjakan Sistem Pengolahan Air Minum (SPAM) Regonal “Banjarbakula.”
Banjarbakula singkatan dari Banjarmasin, Banjarbaru, Kabupaten Banjar, Kabupaten Barito Kuala, dan Kabupaten Tanah Laut.

Menteri PU Joko Kirmanto sendiri mendukung inisiatif mengembangkan SPAM regional Banjarbakula.

Menurut Joko Kirmanto, untuk pemenuhan kebutuhan air minum diperlukan jaminan ketersediaan air baku dengan kuantitas dan kualitas yang memadai.

Pemerintah pusat, provinsi, maupun pemerintah kota dan kabupaten sesuai dengan kewenangannya berkewajiban melakukan hal tersebut melalui langkah operasional yang meliputi perlindungan daerah tangkapan air, manajemen terpadu daerah aliran sungai, serta mengendalikan pencemaran air.

Penertiban izin penggunaan air serta upaya antisipasi penyediaan sumber air baku untuk masa yang akan datang, katanya.

Dengan keterbatasan air baku yang tersedia di masing-masing Kabupaten dan kota maka pemerintah pusat sangat mendukung adanya inisiatif untuk mengembangkan SPAM regional Banjarbakula.

Semua itu untuk menjawab pemenuhan kebutuhan air minum yang lebih merata dengan pemanfaatan bersama sumber air baku di wilayah ini.

Ia berharap agar Pemerintah provinsi berperan aktif dalam mengkoordinasikan dan memberikan kontribusi APBD untuk mewujudkan SPAM regional dimaksud.

Wakil Gubernur Kalsel, Rudy Resnawan sendiri mmenyebutkan kerjasama regional melalui SPAM memperoleh dukungan penuh Pemprov Kalsel, karena itu segera akan direalisasikan.

Hanya saja ia belum bisa menyebutkan di mana tempat SPAM tersebut dibangun, yang jelas bukan di Banjarmasin dan kemungkinan di Kabupaten Banjar lantaran di sana ada Bendungan dan Irigasi Riam Kanan sebagai penyedia air baku.

Menurut dia, SPAM tersebut akan dikelola Pemprov Kalsel, tetapi dalam pendistribusian air minum curah akan dilakukan oleh PDAM di lima daerah masing-masing.

Dengan adanya SPAM diharapkan penyediaan air minum di lima daerah Kalsel tersebut lebih merata, tidak lagi seperti sekarang hanya didominasi Banjarmasin.

Menurut Rudy Resnawan, tanpa SPAM, Banjarmasin yang sekarang pelayanan air minum pun dalam lima dan 10 tahun ke depan akan kesulitan mencari air baku, karena persoalan utama adalah bagaimana air baku yang terus tersedia.

Berbagai kalangan menilai walau SPAM terbentuk tetapi kalau tidak adanya pemeliharaan wilayah resapan air maka SPAM pun tak akan berhasil.

Salah satu cara terpelihara resapan air di kawasan Bendungan Riam Kanan adalah bagaimana menyelamatkan hutan kawasan bendungan yang masuk Hutan Pegunungan Meratus yang belakangan ini kian rusak saja akibat adanya pemukiman penduduk, penebangan hutan, dan pertambangan batubara.

Oleh karena itu ada saran agar Bendungan Riam Kanan dikelola secara profesional, oleh semacam lembaga khusus atau badan, tanpa pemeliharaan bendungan maka semua keinginan itu akan sia-sia belaka.

PERNIKAHAN DINI, ANCAMAN BESAR KEHIDUPAN SOSIAL KALSEL

Oleh Hasan Zainuddin

Banjarmasin, 17/9 ()- Seorang perempuan muda berambut bercat pirang, dengan pakaian minor sambil mengisap sebatang rokok duduk di warung Jalan A Yani dekat Hotel Banjarmasin Internasional (HBI).
Ketika didekati ia bertanya “bapak naikkah?” Penulis bingung harus menjawab apa, karena tak mengerti apa yang dimaksud naik.
Ketika ditanya apa maksudnya, lalu gadis berkulit putih berusia sekitar 19 tahun itu menjelaskan maksud naik itu alah masuk ke dalam diskotik yang ada di HBI tersebut.
Secara panjang lebar ia bercerita, Lisa (nama samaran) hampir tiap malam masuk diskotik, sebagai wanita penghibur tamu di dunia gemerlap (dugem), ya sekedar menambah penghasilan setelah menjanda hampir dua tahun lalu.
Dengan seorang anak hasil perkawinan dengan pasangan sama-sama muda usia, kehidupan yang menjanda sekarang ini bisa dikatakan morat-marit, tak ada orang yang bisa memberikan nafkah dalam kehidupannya termasuk mantan suaminya yang sekarang tak tahu lagi ujung rimbanya.
Ujung-ujungnya setelah kebingungan Lisa pun terjerumus ke dalam dunia malam. “Yah lumayan tiap malam, ada saja uang tip yang diberikan tamu di diskotik,” tutur Lisa tanpa malu-malu.
Menurut Lisa, di dalam dunia gemerlap, ia tak sendiri bahkan puluhan atau ratusan dan mungkin juga ribuan orang yang nasibnya serupa, yakni terjun ke dunia malam setelah menjadi korban dari perceraian yang sebelumnya nikah dini.
Berdasarkan ceritanya, dia bersama teman-temannya umumnya adalah janda muda yang mencari sesuap nasi dengan berjingkrak ria di diskotik, peramusaji di ruang karaoke, pelayan di meja biliar, pub, cafe, bahkan ada dari mereka yang bertindak lebih jauh lagi sebagai wanita panggilan.
Keberadaan wanita muda yang sudah menjadi binal tersebut,agaknya dimanfaatkan pengusaha hiburan malam, dengan memberikan fasilitas masuk gratis bagi mereka pada malam tertentu, maksudnya agar tempat hiburan tersebut dipenuhi wanita malam, hingga memancing lebih banyak pengujung pria.
Akhirnya sudah bisa dipastikan tempat-tempat hiburan malam seperti yang ada di Banjarmasin seakan-akan tak mampu lagi menampung pengunjung yang selalu memludak seperti yang terlihat di Diskotik HBI,Grand Plaza, dan Diskotik Aria Barito.
“Aku heran, wilayah  kita ini adalah daerah yang agamis, tetapi kok begitu maraknya tempat-tempat seperti itu,” kata seorang warga kota Banjarmasin.
Berarti penanganan sosial di daerah ini ada yang salah yang harus dicarikan solusi terbaik, tambah warga kota.

Pernikahan Dini
Banyak batasan mengenai arti pernikahan dini, tetapi secara umum disebutkan pernikahan dini adalah pernikahan manusia masih remajaatau masa peralihan antara masa anak-anak ke dewasa.
Saat pernikahan mereka bisa dikatakana bukan lagi anak, baik bentuk badan, sikap dan cara berpikir serta bertindak, namun bukan pula orang dewasa yang telah matang berfikir.
Angka pernikahan dini atau pernikahan pada usia dibawah yang dianjurkan ternyata masih tinggi di Kalimantan Selatan (Kalsel). Bahkan angka tersebut tertinggi di Indonesia.
Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Kalsel Rosihan Adhani kepada wartawan pernah mengungkapkan, angka pernikahan dini di Kalsel mencapai 9 persen.
Angka tersebut merupakan angka pasangan yang menikah pada usia di bawah 15 tahun.
Menurut data Riskesdas (Riset Kesehatan Dasar) Kalsel diatas angka rata-rata nasional, ucapnya.
Angka pernikahan dini nasional sendiri hanya 4,8 persen. Jumlah tersebut jauh dibandingkan dengan Kalsel.
Menurut Rosihan, tingginya angka pernikahan dini di Kalsel disebabkan oleh beberapa faktor, diantaranya faktor ekonomi dan budaya, atau lantaran tidak mampu melanjutkan pendidikan yang lebih tinggi, banyak diantara pelajar yang memilih menikah.
Fakta tersebut, lanjut Rosihan, cukup mengkhawatirkan, pasalnya usia menikah yang terlalu muda membuat risiko kesehatan terutama untuk ibu dan bayi.
“Ini penyumbang angka kematian bayi dan ibu, menikah kan perlu kesiapan fisik dan kalau usia terlalu dini tidak baik,” katanya.
Menurut Rosehan Adhani selain berisiko terhadap kesehatan, menikah terlalu dini juga membuat pasangan kerap mengalami kesulitan ekonomi. Akhirnya, banyak anak pasangan yang menikah dini tidak mendapat asupan gizi yang memadai, bahkan pola asuh anak juga kerap tidak diperhatikan.
“Makanya dianjurkan menikah usia 20 tahun untuk perempuan dan usia 25 untuk laki-laki, harapannya sudah siap fisik dan mental termasuk soal ekonomi,” tandasnya.
Sekadar diketahui, berdasarkan data Riskesdas tahun 2010 yang dirilis Kementerian Kesehatan RI, Kalimantan Selatan ternyata membukukan “prestasi” yang cukup mencengangkan. Provinsi dengan penduduk lebih dari 3,6 juta jiwa ini ternyata menempati urutan pertama angka pernikahan dini di Indonesia.
Angka pernikahan dini Kalsel menempati urutan pertama di Indonesia dan mengalahkan Jawa Barat yang pada tahun sebelumnya menempati urutan pertama. Angka umur perkawinan secara nasional masing-masing berbeda-beda.
Untuk umur 10-14 tahun tercatat sebanyak 4,8 persen pasangan menikah di usia ini. Yang cukup mencengangkan adalah perkawinan usia 15-19 tahun yang merupakan angka tertinggi yakni 41,9 persen.
Untuk usia 20-24 tahun, tercatat angka perkawinan sebanyak 33,6 persen.

Angka Perceraian
Dengan banyaknya kasus pernikahan dini di wilayah paling Selatan pulau terbesar tanah ini menyebabkan juga seringnya terjadi perceraian.
Tingkat perceraian di Kalimantan Selatan dalam setiap tahunnya cukup tinggi, kata Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Kalsel Abdul Halim Ahmad di Banjarmasin.
Menurut dia, selama 2010 jumlah perceraian di Kalsel tidak kurang dari empat ribu kasus, yang terjadi pada pihak swasta maupun pegawai negeri sipil (PNS) bahkan guru.
“Jumlah perceraian tersebut masih cukup tinggi, dengan berbagai sebab dan alasan,” katanya.
Salah satu penyebab terjadinya perceraian, tambah dia, antara lain karena masalah ekonomi baik karena ekonomi kurang maupun ekonomi yang membaik.
Selain itu, kata dia, juga karena perkawinan di bawah umur sehingga menyebabkan seseorang belum terlalu siap menghadapi persoalan rumah tangga yang terjadi.
Untuk menekan angka perceraian tersebut, kata dia, pihaknya akan melakukan sosialisasi masalah perkawinan melalui badan penasehatan perkawinan.
“Pasangan yang akan menikah akan kita berikan penyuluhan dan bimbingan, begitu juga yang ingin melakukan cerai akan dilakukan mediasi, sehingga persoalan yang dihadapi tidak harus berakhir pada perpisahan,” katanya.
Sementara data BKKBN Kalsel selama 2009 menunjukkan bahwa jumlah janda atau duda yang belum menikah kembali sebanyak 156.835 orang atau 15,82 persen dari 991.641 keluarga.
Dari jumlah tersebut, Kabupaten Hulu Sungai Tengah (HST) merupakan kabupaten paling banyak jumlah janda atau dudanya yaitu 21,58 persen.
Disusul Kabupaten Hulu Sungai Selatan (HSS) sebanyak 21,31 persen dan Hulu Sungai Utara (HSU) sebanyak 19,42 persen.
Banyaknya jumlah janda atau duda di Kalsel tersebut, kemungkinan dipicu karena tingginya pernikahan di bawah umur.
Namun tidak menutup kemungkinan tingkat perceraian akibat menikah di bawah umur lebih rentan terjadi, karena pasangan belum matang dalam menghadapi persoalan rumah tangga.
Berdasarkan hasil survei demografi kesehatan Indonesia (SDKI) tingkat pernikahan di bawah umur Kalsel cukup tinggi.
Berdasarkan hasil SDKI 2009, pasangan yang menikah di bawah umur 20 tahun sebanyak 32.483 orang dari total pasangan usia subur sebanyak 732.206.


SEKS BEBAS REMAJA SEBUAH KERISAUAN

Oleh Hasan Zainuddin


Banjarmasin,17/9 ()- Hampir sebagian besar dari 64 juta penduduk remaja Indonesia belakangan ini memiliki alat komunikasi handpone (HP) dan sebagian besar pula dari HP tersebut mampu mengakses internet.
“Sudah bisa dibayangkan kalau seorang remaja memiliki alat komunikasi yang mampu mengakses internet, siapa yang disalahkan bila remaja itu mengakses situs porno,” kata pejabat Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN), pusat.
Deputi Bidang Advodkasi,Penggerakan dan Informasi (Adpin) BKKBN Hardiyanto saat berada di Banjarmasin, mengakui keberadaan remaja belakangan ini kian merisaukan saja.
Bukan HP saja remaja dengan mudah mengakses berbagai informasi dunia tetapi juga laptop, komputer, serta peralatan elektronik lainnya yang mudah akses jaringan internet, disamping media-media lain yang beredar bebas.
“Dimanapun remaja berada termasuk dalam kamar sendirian, siapa yang bisa menangkal agar remaja tidak menyaksikan tayangan film dan gambar porno,”katanya saat berada di Banjarmasin menghadiri acara Hari Keluarga Nasional (Harganas) tingkat Kalsel.
Kerisauan pejabat BKKBN tersebut, besar kemungkinan sudah merata di Indonesia, tak terkecuali di Banjarmsin ibukota Provinsi Kalimantan Selatan sendiri.
Seperti penuturan Kepala Dinas Kesehatan Kota Banjarmasin, Hj Diah R Praswasti, angka seks bebas kalangan remaja menunjukkan peningkatan yang mencengahkan.
Berdasarkan data Dinas Kesehatan setempat hingga akhir 2011 ada peningkatan persalinan remaja. Dari sebanyak 50 orang pada 2010, melonjak menjadi 235 orang pada 2011.
Data lainnya terjadi pada kasus KTD (Kehamilan yang tidak diinginkan), dari 35 orang 2010, melonjak menjadi 220 orang pada 2011.
Data tersebut berdasarkan acuan dari 26 Pusat Kesehatan Masyarakat (Puskesmas) setempat bekerjasama dengan Unit Kesehatan Sekolah (UKS).
] Semua itu untuk jenjang Sekolah Menengah Pertama (SMP) dan Sekolah Menengah Atas (SMA) di seluruh Kota Banjarmasin, dengan rentang usia dari sembilan tahun hingga 19 tahun.
Hj Diah menerangkan setiap Puskesmas membina UKS yang ada di setiap sekolah. Kemudian hasilnya didapat dari laporan setiap UKS kepada Puskesmas dan dievaluasi Dinkes Kota Banjarmasin.
Dari perkembangan seks bebas tersebut terimplikasi terhadap perkembangan penyakit yang menakutkan yakni Aids/Hiv.


“Berdasarkan data kumpulan dari 26 Puskesmas yang tersebar se Kota Banjarmasin dan telah dievaluasi Dinkes,” ujarnya.
“Serangan Aids di kota ini juga meningkat dan itu sungguh merisaukan hingga memerlukan kewaspadaan kita semua untuk menanggulanginya,” katanya.
Yang cukup merisaukan pula penyakit yang menakutkan tersebut sudah menjalar ke kalangan usia remaja yaitu pelajar, tambahnya lagi tanpa merinci pelajar mana yang terkena penyakit tersebut.
Berdasarkan data yang dihimpun dari petugas di lapangan warga Banjarmasin yang terkena Aids 33 orang dan terinveksi Human Immunodeficiency Virus (HIV) tercatat 52 orang.
Mereka yang terbanyak terjangkit penyakit yang pernah menghebohkan dunia tersebut,adalah kelompok yang memang beresiko tinggi yaitu Pekerja Seks Komersial (PSK).
Selain itu mereka yang berprilaku seks menyimpang seperti homoseks, lesbian, serta prilaku bebas lainnya disamping jarum suntik, obat-obatan terlarang, dan akibat lainnya.
Pihak Dinkes Banjarmasin sendiri selalu melakukan penyuluhan agar penyakit tersebut tidak meluas, terutama penyuluhan di kalangan pelajar,mahasiswa, dan masyarakat umum. Adis.
Melihat kenyataan tersebut membuat Wali Kota Banjarmasin Haji Muhidin juga menjadi risau dan meminta semua pihak melakukan pengawasan terhadap perilaku remaja tersebut.
“Saya menghimbau kepada orang tua, guru, ataupun masyarakat untuk mengawasi anak-anak kita, sebab jumlah remaja yang mengalami kasus ini semakin meningkat,” katanya lagi.
Menurutnya, pengawasan tidak hanya pada lingkungan rumah, namun juga di lingkungan sekolah, seperti para guru atau pun masyarakat umum yang kebetulan melihat hal-hal ganjil dilakukan oleh remaja hendaknya diawasi hingga tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan.
“Misalnya, jika melihat dua remaja yang sengaja duduk di tempat remang-remang dan gelap segera ditegur, jangan sampai mereka terperosok ke hal-hal yang dilarang agama,”kata Muhidin.
Dia pun berencana agar Dinas Pendidikan juga menyiapkan program khusus untuk ini yakni melakukan ceramah agama untuk siswa SMP dan SMA. Program ini dimaksudkan untuk meberikan gambaran bahaya serta dampak dari pergaulan bebas.
“Nantinya kita juga anggarkan untuk program ini, sebab kita akan menggunakan tokoh agama atau alim ulama yang nanti keliling ke sekolah-sekolah tiap minggu untuk memberikan nasihat agama kepada murid-murid,”kata Muhidin.
Untuk tempat-tempat yang mungkin rentan terjadinya seks bebas oleh remaja, perlu diawasi pula, seperti warnet, maka Pemkot pun akan melakukan razia terhadap lokasi tersebut.
Misalnya ada warnet buka 24 jam dan banyak remaja yang nongkrong di situ, Pemkot melalui Satpol PP akan melakukan razia, karena seperti alporan yang diterima para remaja mudah melakukan hal-hal yang tak lazim di tempat itu.
Tiga Persoalan Besar
Menurut Deputi Adpin BKKBN, Drs Hardiyanto terdapat tiga persoalan besar yang menghadang remaja Indonesia.
Tiga persoalan besar tersebut selain masalah seks bebas pranikah, penyalahgunaan narkotika, dan berjangkitnya penyakit hiv/aids.
Padahal penduduk remaja sekarang ini begitu banyak dari 237 juta jiwa penduduk Indonesia 30 persen atau 64 juta jiwa diantaranya adalah usia remaja atau usia 10 hingga 24 tahun.
Kelompok remaja tersebut sedang galau menghadapi tiga persoalan besar tersebut, lantaran berbagai informasi belakangan yang sekarang sulit dibendung yang mempengaruhi tingkat perilaku remaja itu sendiri.
Oleh karena itu BKKBN sekarang ini mencoba mencari solusi menghadapi tiga persoalan tersebut, dengan mengembangkan apa yang disebut Remaja Berencana (Rebre),yakni pendidikan refproduksi agar mereka mengerti dan tahu apa yang baik dan tidak baik.
Dengan mengetahui persoalan remaja diharapkan mereka mengerti bahwa kawin muda itu tidak baik, dan berusaha sekolah setinggi mungkin sebelum memasuki jenjang pernikahan.
Masalahnya kawin dini menjadi persoalan dalam kemudian karena kesehatan refproduksi wanita masih belum baik, sementara laki-lakinya belum bisa bertanggungjawab.
Kalau ibu muda yang masih rawan melahirkan itu bisa menimbulkan kematian ibu lahir atau kematian bayi lahir.
“Apa mau setelah kawin dan punya anak, ditinggalkan begitu saja oleh pasangan laki-lakinya, sementara perempuan remaja yang sudah punya anak dan tidak ada kerjaan mau kemana membawa kehidupan itu, akhirnya semua jadi berentakan dan menjadi beban keluarga dan masyarakat,” tuturnya.
Pusat Informasi Pelayanan (PIP) remaja juga dibentuk BKKBN agar para meraja saling curhat mengenai refproduksi, sehingga melalui PIP mereka bisa mengetahui bahayanya pergaulan bebas, narkotika, dan hiv/aids.
Di lokasi PIP remaja tersebut BKKBN menyediakan seorang tenaga konsuling yang memberikan bimbingan terhadap remaja dalam menghadapi tiga persoalan tersebut.
Dari PIP remaja maka akan melahirkan remaja berencana yang mengerti menghadapi kehidupan kedepan, dan PIP remaja bisa dikembangkan di sekolah, madrasah, pesantren, di dalam masyarakat umum, dan kelompok dimana banyak terdapat remaja.
Seluruh indonesia tidak kurang dari 20 ribu PIP remaja yang sudah dibentuk, dan bisa dijadikan alat pengembangan pemikiran remaja menghadapi tiga persoalan besar yang dihadapi remaja tersebut, katanya.

“STIKER” CEGAH JAJANAN SEKOLAH DARI BAHAN BERBAHAYA

Oleh Hasan Zainuddin

foto :www.zonatya.blog
Anak-anak yang terus menerus mengkonsumsi jajanan berbahaya yang dijual di sekolah akan menghadapi ancaman ingkat kecerdasan terus menurun, dan berakibat pada kualitas sumber daya manusia bangsa ke depan.

“Jajanan yang banyak dijual di sekolah-sekolah terus dikonsumsi anak-anak, dan ternyata jajanan tersebut mengandung bahan berbahaya, maka lama kelamaan kesehatan anak terganggu, dan akan mempengaruhi sistem kecerdasan anak,” kata Kepala Dinas Kesehatan Kota Banjarmasin, Diah R Praswasti.

Soal jajanan, keliatannya sepele, tetapi mengandung dampak yang sangat besar, baik individu warga, masyarakat, bahkan bangsa dan negara, karena itu persoalan ini harus dituntaskan, kata Diah R Praswasti.

Melihat kenyataan itulah, Dinkes Banjarmasin mengambil sebuah program mengatasi jajanan sekolah yang disebut program “stiker jajanan”.

Program tersebut adalah dengan mendata para pedagang kecil jajanan yang biasa mangkal di sekolah-sekolah, kemudian pedagang tersebut diberikan penyuluhan dan dibina melalui pelatihan kemudian setelah mengerti lalu mereka menjual jajanan dengan bebas bahan berbahaya.

“Bagi pedagang yang dinyatakan menjual jajanan yang sudah bebas bahan berbahaya itulah yang kemudian diberikan stiker, sehingga baik petugas kesehatan, balai Pengawasan Obat dan Makanan (POM), serta anak sekolah itu sendiri bisa membedakan mana pedagang aman, dan mana pedagang yang mengkhawatirkan,” katanya seraya menunjukan bentuk stiker tersebut.

Berdasarkan pendataan Dinkes setempat, terdapat 895 pedagang jajanan anak sekolah yang mangkal di halaman 310 gedung Sekolah dasar (SD) di Banjarmasin.

Dari jumlah pedagang tersebut sebanyak 682 pedagang sudah menempelkan stiker yang membuktikan mereka tidak menjual makanan berbahaya, Sementara jumlah stiker yang dibagikan sudah 1156 lembar.

Menurut Diah, hal itu dilakukan karena beberapa kali dilakukan penelitian pihak Dinkes, Balai POM ternyata banyak jajanan yang mengandung bahan berbahaya seperti pengawet, pemanis, pewarna, dan bahan berbahaya lainnya.

Bahan berbahaya tersebut seperti rodhamin B, boraks, formalin, dan pemanis buatan, tambahnya lagi.

“Kita tak ingin masyarakat terserang penyakit lantaran mengkonsumsi makanan yang kurang sehat itu, sebab tambahnya dengan menghindari jajanan sembarangan melindungi dari serangan Penyakit Bawaan Makanan (PBM), seperti keracunan atau infeksi,” tutur Diah.

Sebelumnya pihak Balai POM Banjarmasin mengakui bukan hanya jajanan sekolah yang mengandung bahan berbahaya tetapi juga makanan dan minuman yang dijual secara umum di masyarakat.

Balai POM mencontohkan aneka penganan berupa kue beraneka warna mencolok menarik perhatian pembeli, padahal dibalik keindahan kue-kue bewarna tersebut terkandung bahan berbahaya seperti pewarna tekstil yang mengancam kesehatan masyarakat.

Kepala Balai Pengawasan Obat dan Makanan (Bali POM) Banjarmasin, Dewi Prawitasari dalam dialog dengan Wali Kota Banjarmasin, Muhidin belum lama ini mengakui adanya produk makanan mengandung bahan berbahaya tersebut.

Bukan hanya pewarna berbahaya yang ditemukan pada kue dan makanan yang dijual belikan tetapi juga pemanis buatan, pengawet, yaitu rodhamin B, boraks, formalin, dan methanyl yellow.

Pemanis buatan ditemukan penggunaan berlebihan pada kue bingka barandam, pengawet terdapat pada bakso dan makanan ringan anak-anak.

Berdasarkan hasil pendataan Balai POM setempat sedikitnya 491 tempat pembuatan produk makanan di Kota Banjarmasin yang harus diwaspadai, dan mereka perlu pembinaan.

Masalahnya muncul produk dengan bahan berbahaya tersebut boleh jadi ketidaktahuan saja, makanya diperlukan penyuluhan.

Padahal banyak saja bahan yang manfaatnya sama untuk produk makanan dan minuman tersebut tetapi tidak merusak kesehatan bagi yang mengkonsumsinya.

“Kami Balai POM mengajak Pemkot Banjarmasin untuk bersama-sama mengawasi dan mensosialisasi mengenai bahan berbahaya tersebut dengan berbagai kegiatan, seperti penyuluhan, pelatihan, atau bentuk lomba dan kontes makanan minuman tanpa bahan berbahaya,” tuturnya.

 

foto :Intisari
Dampak Kesehatan
Berdasarkan catatan, kontaminasi zat berbahaya pada produk pangan menandakan lemahnya pengawasan dan kontaminasi tersebut jelas berbahaya bagi kesehatan.

Umpamanya makanan mengandung formalin jelas merusak, formalin biasanya digunakan sebagai bahan antiseptik, germisida dan pengawet.

Fungsinya formalin sering diselewengkan untuk bahan pengawet makanan dengan alasan karena biaya lebih murah seperti mengawetkan ikan, dengan sebotol kecil dapat mengawetkan ikan secara praktis tanpa harus memakai batu es.

Biasanya makanan yang tidak diberi bahan pengawet seringkali tidak akan tahan lebih dalam 12 jam.

Formalin masuk ke dalam tubuh manusia melalui dua jalan yakni pernapasan dan mulut.

Sebetulnya setiap hari menghirup formalin dari lingkungan sekitar yang dihasilkan oleh asap knalpot dan pabrik yang mengandung formalin, formalin juga dapat menyebabkan kanker (zat yang bersifat karsinogenik).

Kemudian boraks merupakan senyawa yang bisa memperbaiki tekstur makanan sehingga menghasilkan rupa yang bagus pada makanan seperti bakso dan kerupuk.

Bakso yang menggunakan boraks memiliki kekenyalan yang kas yang berbeda dari bakso yang menggunakan banyak daging, sehingga terasa renyah dan disukai serta tahan lama.

Sedang kerupuk yang mengandung boraks kalau digoreng akan mengembang dan empuk, teksturnya bagus dan renyah.

Dalam industri boraks dipakai untuk mengawetkan kayu, anti septic kayu dan pengontrol kecoa. Bahaya boraks terhadap kesehatan diserap melalui usus, kulit yang rusak dan selaput lender.

Jika dikonsumsi dalam jangka waktu lama atau berulang-ulang akan memiliki efek toksik. Pengaruh kesehatan secara akut adalah muntah dan diare.

Dalam jangka waktu panjang dapat menyebabkan gangguan pencernaan, nafsu makan menurun, anemia, rambut rontok, dan kanker.

Pemanis Buatan hanya digunakan pada pangan rendah kalori dan pangan tanpa penambahan gula, namun kenyatannya banyak ditemukan pada produk permen, jelly dan minuman yang mengandung pemanis buatan.

Beberapa produk juga tidak mencantumkan batas maksimum penggunaan pemanis buatan Aspartam. Pemakaian Aspartam berlebihan memicu kanker dan leukimia pada tikus, bahkan pada dosis pemberian Aspartam hanya 20mg/Kg BB.

Zat pewarna alami sudah dikenal sejak dulu dalam industri makanan untuk meningkatkan daya tarik produk makanan sehingga konsumen tergugah untuk membelinya.

Namun celakanya ada juga penyalahgunaan dengan adanya pewarna buatan yang tidak diizinkan untuk digunakan sebagai zat adiktif. Contoh yang sering ditemui adalah penggunaan bahan pewarna rhodamin B, yaitu zat pewarna yang lazim digunakan dalam industri tekstil, namun digunakan dalam zat pewarna makanan.

Berbagai penelitian dan uji telah membuktikan bahwa penggunaan zat makanan ini dapat menyebabkan kerusakan pada organ hati.

Melihat dampak yang mengerikan terhadap bahan berbahaya pada makanan tersebut sudah selayaknya pemerintah dengan caranya sendiri mampu melindungi konsumen dari bahan tersebut.

 

UTUNG, ATLET CACAT BALANGAN TERUS BERENANG MENGEJAR KESEJAHTERAAN

Oleh Hasan Zainuddin


Banjarmasin,8/9 ()- Berjalan saja susah,apalagi untuk bekerja menyadap karet atau bersawah seperti temannya sekampungnya di Desa Panggung, Kabupaten Balangan Provinsi Kalimantan Selatan, sekitar 210 kilometer dari Banjarmasin.

Begitulah keaadaan Ahmat Rijali (23 tahun) seorang pemuda cacat, dengan kaki buntung sejak lahir 2 Desember 1989 tersebut hingga membuat hidupnya serba kekurangan, namun dalam benaknya tersimpan tekad bahwa cacat bukanlah awal “kiamat” bagi masa depan kehidupannya.

Tinggal di kampung kawasan lereng Pegunungan Meratus, Ahmat Rijali yang oleh warga kampung di panggil Utung tersebut mencoba bertahan hidup dalam kondisi miskin.

Utung sejak kecil memang sudah yatim, ibunya Siti Jubaidah meninggal dunia, sementara ayahnya Aspiani (60 tahun) seorang buruh sadap karet dengan kondisi miskin tak mampu membuat anak-anaknya sejahtera.

Dengan kondisi miskin Utung anak ketiga dari empat bersaudara hanya mampu bersekolah hingga lulus Sekolah Dasar (SD), hatinya ingin sekali sekolah ke lanjutan lebih tinggi tapi apa daya tak punya biaya.

“Jangankah sekolah untuk makan setiap hari saja susah,” kata Utung sambil memegang kakinya yang kedua-duanya cacat tersebut.

“Saya pernah diajak teman untuk minta-minta sedekah (mengemis) di masjid-masjid dan pasar agar memperoleh uang, tetapi ajakan ini berdasarkan hati nurani, saya tak mau, selain malu juga penilaian saya pekerjaan tersebut agak nista,” tambahnya.

Hari demi hari dilalui Utung dengan kehidupan seadanya, guna menopang kehidupannya, ia mencoba bekerja dengan memancing ikan, atau menangkap ikan dengan cara “menyumpit.”
Menyumpit yakni menangkap ikan dengan cara berenang di air deras atau menyelam untuk menangkap ikan dengan dibantu alat atau senjata yang disebut sumpit.

Ia pun terlihat berenang ke sana kemari di Sungai Pitap, anak Sungai Balangan yang berair deras dan berhulu ke Pegunungan Meratus.

Melihat kebiasanya berenang itulah yang kemudian diketahui oleh seorang pengurus organisasi atlet cacat Kabupaten Balangan, dokter Ferry.

Oleh dokter ferry Utung diajak untuk bergabung dengan atlet cacat se Kabupaten Balangan, lalu dilatih berenang di kolam renang Tanjung ibukota Kabupaten Tabalong, tetangga Kabupatan Balangan.

Melalui latihan itulah kemudian Utung diikutkan dalam kejuaraan daerah atlet Cacat se Kalsel di Kotabaru, dan berhasil berprestasi meraih medali.

Atas prestasi demikian oleh dokter Ferry, Utung diikutkan dengan kelompok atlet cacat yang tergabung dalam National Paralympic Committee (NPC), lalu latihan selama tujuh bulan di kolam renang Jebres dan Manahan Solo Jawa Tengah.

Selama di Solo Utung bersama puluhan atlet renang yang juga cacat fisik memperoleh bimbingan empat pelatih, Devi, Ratih, Handoko dan Gatot.

Setelah dinilai handal, Utung kemudian diikutkan dalam arena Para Games di Kota Solo tahun 2011.

Dalam Kejuaraan yang dibuka Wakil Presiden Boediono yang diikuti sebelas negara Asean itu, Utung berhasil meraih medali perunggu di nimor renang 50 meter gaya punggung kelas s8, katu tempuh 41.11 detik.

Sementara peraih emas diraih atlet Vietnam dengan waktu 39.10 dan peraih perak direbut atlet Thailand, Wongnongth Aphum Paibun waktu 40.91 detik.

“Waktu itu, saya pertama kali bergabung dengan begitu banyak atlet dari begitu banyak negara, ada rasa mender, dan gugup, sehingga saat bertanding gagal meraih emas, padahal saat latihan di Kota Solo tersebut, waktu yang saya tempuh selalu lebih baik,” katanya ketika ditemui saat latihan di kolam Renang Gelanggang Remaja Hasanudin HM Banjarmasin, Sabtu (8/9).

Utung yang kini bersama 10 atlet renang lainnya terus melakukan latihan intensif, lantaran ia oleh KONI Kalsel dipilih untuk mewakili daerah ini ke Pekan Paralimpic Nasional (Peparnas) XIV tahun 2012.

Peparnas XIV tahun 2012 diselenggarakan dua minggu setelah selesai pelaksanaan Pekan Olah Raga Nasional (PON) atau tepatnya pada tanggal 7 s/d 12 Oktober 2012 mendatang juga di Pekanbaru, Riau.

“Saya tak ingin gagal lagi, seperti Pra Games, saya ingin meraih medali emas,” tuturnya.

Sebab tambahnya, bila nanti berhasil berprestasi maka begitu banyak ajang kejuaraan yang terus menantinya, dan bila berhasil juara tentu memperoleh bonus dan hadiah akan menantinya , yang akan membuatnya hidup sejahtera.

“Saya sudah mikir, pekerjaan apa yang bisa saya kerjakan agar kehidupan nanti bisa sejahtera dengan kondisi fisik seperti ini, tak ada pilihan kecuali berenang dan berenang,”tambahnya dengan suara miris.

Oleh karena itu, menghadapi Papernas ia pun kosentrasi latihan, sebelum di Gelanggang Remaja Hasanudin Banjarmasin beberapa bulan sebelumnya juga terus latihan berenang di kolam Renang Banjarbaru melalui bimbingan KONI dan NPC Kalsel.

Dalam latihan yang dibimbing tiga pelatih, antaranya Imuk dan Maki tersebut Utung terjun gaya punggung 50 meter, gaya punggung 100 meter, gaya bebas 50 meter dan gaya kupu-kupou 50 meter.

“Saya pernah merasakan pemberian bonus saat saya peroleh medali Perunggu Rp5 juta dari KONI Kalsel, dan Rp5 juta lagi dari Pemkab Balangan hingga punya uang Rp10 juta, “katanya.

Satu hal yang belum kesampaian dalam cita-citanya adalah keinginannya memperbaiki rumah ayahnya yang juga tempat tinggalnya yang reot di desanya, terutama bagian “padu” (rumah bagian belakang) yang sekarang mau roboh.

“Tolong doa saja, agar di Peparnas XIV saya berhasil meraih medali emas lalu dapat bonus lagi, sehingga bisa memperbaiki rumah di kampung,” tuturnya tersenyum.

AHMAT RIJALI

ALAMAT :DESA  PANGGUNG KECAMATAN  PARINGIN  SELATAN

KABUPATEN  BALANGAN, PROVINSI  KALIMNANTAN  SELATAN

NO HP AHMAT RIJALI ATAU UTUNG : 081251758347

——————————————————

ATLET CACAT BALANGAN RAIH EMAS PEPARNAS

Utung, peraih medali emas pertama kontingen Kalsel di Peparnas Riau, ia memperoleh ucapan selamat dari Ketua Umum KONI Kalsel,Haji Sulaiman HB, seperti yang dilansir di beberapa penerbitan di Banjarmasin.
    Banjarmasin, () Hari pertama peparnas (pekan paralympic nasional) 14 di riau tgl 7- 13 oktober 2012…ahmad rijali perenang asal kabupaten balangan meraih medali emas di kelas S8 gaya punggung 100 meter,dengan waktu 1 menit 20 detik memecahkan rekor nasional atas namanya sendiri.
    Ahmad rijali dilatih oleh trio pelatih NPC (national paralympic commitee) Kalsel maki,imuh,ating dlm pelatda di banjarbaru kalsel, kata Dokter Ferry Kuntono, pembina atlet cacat Balangan visa telpon dari Pekanbaru Riau, Selasa malam.
    sementara di hari ke2 peparnas ,ahmad rijali meraih perunggu di kelas S8 gaya punggung 50 meter, medali emas guntur(kaltim),sementara perak direbut perenang tuan rumah riau chandra.yang juga rekannya selama di pelatnas paragames solo 2012..
    Hasil ini sangat membanggakan dan diharapkan memotivasi atlet paralympic kabupaten Balangan.
    “Kami mengucapkan terimakasih kepada pemerintah provinsi Kalsel, KONI kalsel serta NPC kalsel atas dukungan yg luar biasa kepada atllet NPC Kalsel dalam Peparnas ini,” kata Ferry Kuntono yang juga dokter NPC.
     Selama persiapan menuju Pelatda Peparnas di Kalsel kami mendapat dukungan dan support dari Bupati Balangan dan wakil serta Ketua KONI balangan, demikian menurut dr ferry (dokter klasifikasi NPC Kalsel) yg juga merupakan PNS kabupaten Balangan.
     Ahmad rijali masih berpeluang  menambah medali dikelas S8 pada 2 nomer gaya bebas 50 mtr dan bebas 100 mtr yg akan di ikutinya.
Pada hari ketiga, dikelas s8  gaya punggung 50 meter Ahmad Rijali kembali persembahkan emas bagi kontingan Kalsel di Peparnas Riau,perak diraih Ilham dari Jabar dan Perunggu Erliansyah dari Kalbar.
     Dengan demikian Ahmad Rijali sudah menyabet dua medali emas dan dua perunggu di arena yang dibuka oleh Wakil Presiden, Budiono tersebut

AHMAD RIJALI SUMBANG EMAS LEWAT PEPARNAS
Beberapa kali Ketua KONI Kalsel Haji Sulaiman HB memeluk erat Ahmad Rijali (23 th) atlet penyandang cacat pertama bagi kontingen Kalimantan Selatan meraih medali emas cabang renang di arena Pekan Paralympic Nasional (Peparnas) Pekan Baru Riau.

Sementara Ahmad Rijali sendiri dengan mata berkaca-kaca beberapa kali pula mencium tangan Hali Leman sebutan dari Haji Sulaiman HB, seperti yang terlihat dalam tayangan Duta TV Banjarmasin dan beberapa telvisi lokal Banjarmasin lainnya.

Pemberitaan lainnya juga terlihat di beberapa harian di ibukota Kalsel itu yang menyajikan Pemberitaan Ahmad Rijali bersama Haji Leman.

“Saya bangga, walau mereka cacat dan serba keterbatasan, tetapi semangat mereka luar biasa untuk mengharumkan nama daerah Kalsel, dan itu harus dihargai,” kata Haji Leman yang dikenal sebagai seorang pengusaha sukses di Kalsel dan juga Ketua Umum Golkar Kalsel tersebut.

Melihat perjuangan atlet cacat itulah, Haji Leman berjanji memberikan bonus yang bisa membahagiakan mereka.

Dokter Ferry Kuntono pembina atlet cacat yang dihubungi melalui telepon menuturkan, Ahmad Rijali perenang asal Kabupaten Balangan meraih medali emas di kelas S8 gaya punggung 100 meter dengan waktu 1 menit 20 detik memecahkan rekor nasional.

Ahmad Rijali kembali meraih emas di hari ketiga dikelas S8 gaya punggung 50 meter, perak diraih Ilham dari Jabar, dan Perunggu Erliansyah dari Kalbar.

sementara di hari ke-2 Peparnas, Ahmad meraih perunggu di kelas S8 gaya punggung 50 meter, medali emas diraih Guntur (Kaltim), sementara perak direbut Chandra perenang tuan rumah Riau yang juga rekannya selama di Pelatnas Paragames Solo 2012.

Hasil ini sangat membanggakan dan diharapkan memotivasi atlet paralympic kabupaten Balangan.

“Kami mengucapkan terima kasih kepada pemerintah Provinsi Kalsel, KONI kalsel serta NPC Kalsel, Bupati Balangan atas dukungan yang luar biasa kepada atllet NPC Kalsel dalam Peparnas ini,” kata Ferry Kuntono yang juga dokter NPC yang juga pengurus organisasi atlet cacat Kabupaten Balangan.

Menurut dia keinginan Ahmad Rijali meraih emas begitu besar makanya setiap hari selalu saja latihan.

Sedangkan Ahmad Rijali ketika dihubungi via telpon menyatakan gembira atas keberhasilan tersebut sehingga akan memacu semangat untuk terus berlatih.

“Masih banyak kejuaraan lain menunggu, baik kejuaraan nasional maupun kejuaraan Asean,” ujarnya.

ATLET BALANGAN SUMBANGKAN PERAK PARA GAMES MYANMAR
Oleh Hasan Zainuddin
Banjarmasin,19/1 (Antara)- Seorang atlet renang yang berasal dari Desa Inan Kabupaten Balangan, Kalimantan Selatan, kembali mengharumkan Indonesia setelah berhasil menyumbangkan satu perak dan dua perunggu di arena Asean Para Games 2014 di negara Myanmar.

Atlet Balangan yang menyumbangkan tiga medali di arena Para Games tersebut, adalah Akhmad Rijali, demikian Akhmad Rijali via SMS dari kota Nay Pyi Taw Myanmar ke ANTARA Cabang Banjarmasin, Minggu.

Menurut keterangannya, medali pertama yang diperolehnya adalah medali perunggu dalam kejuaraan yang diikuti beberapa negara di Asean tersebut.

Hari pertama itu Rabu tanggal 15 Januari 2014 dalam pertandingan renang di nomor punggung 100 meter, Ahmad Rijali mengaku hanya bisa meraih medali perunggu dengan waktu 01.28.63 sedangkan medali emas diraih perenang Vietnam dengan nama Dang ketepatan waktu 01.26.16.

Sementara juara dua atau peraih perak dimemangkan atlet dari Thailand dengan Wong dengan waktu 01.28.29.

Hari kedua 50 meter gaya punggung juara i (emas) dari Vietnam dengan nama Dang waktu 00.38.34 kemudian perak diraih Akhmah Rijali (Indonesia) waktu 00.39.46, dan perunggu diraih Wong (Thailand) catatan waktu 00.40.22.

Kemudian pertandingan hari ketiga 100 meter gaya bebas emas diraih Ilham (Indonesia) waktu 01.13.55, perak Tien Yu (Malaysia) 01.15.46, dan perunggu Akhmad Rijali waktu 01.16.74.

Menurut putra pasangan Supaini dan Jubaidah ini sebelum berangkat ke Nyanmar mewakili Indonesia ia bersama atlet cacat lainnya dari Indonesia dilatih secara intensif di Solo selama enam bulan.
Mereka memperoleh latihan oleh pelatihnya yakni bapak Dimin dan Bapak Handoko, katanya.

Sebelumnya dalam kejuaraan serupa di Solo Jawa Tengah (Indonesia) tahun 2011 lalu, Akhmad Rijali hanya bisa menyumbangkan perunggu.
Dalam kejuraan yang kala itu dibuka Wakil Presiden Boediono Ahmad Rijali meraih perunggu dicabang renang 50 meter gaya punggung kelas s8 waktu tempuh 41.11 detik.

Sementara peraih emas kala itu atlet Vietnam dengan waktu 39.10 dan peraih perak direbut atlet Thailand, Wongnongth Aphum Paibun waktu 40.91 detik.

Berdasarkan catatan Para Games diikuti atlet dari negara-negara ASEAN – Brunei, Kamboja, Indonesia, Laos, Malaysia, Myanmar, Filipina, Singapura, Thailand, Timor Leste, dan Vietnam

amat1

 

amat

Bersama Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora) Roy Suryo

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 42 pengikut lainnya.