ikan lokal hidup di kalsel

jelawat    sanggang

puyau    rio

Adungan lawang

Lampam              tilan tilan/sisili

ikan-sebelah sisa nabi        barahmata

biawan          kapar

lais ganal         lais halus

patung        sanggiringan

pipih        kelabau

tapah iwak tauman

mihau

karandang

pada

puyau papuyu

sapat     sapat lajang

 Pepuyu

sapat siam  haruan

iwak pentet   Satu jenis ikan ditangkap disungai Barito yang warga tidak tahu nama ikan tersebut, maka disebut ikan aneh karena bentuknya kurang lajim

KHUSUS IWAK KARING

———————————-

KHUSUS IWAK MASAK

——————————-

Provinsi Kalimantan Selatan, memiliki hamparan rawa yang luas, serta sungai-sungai membelah berbagai wilayah ini sehingga memungkinkan aneka ikan lokal berkembang biak dan terdapat puluhan bahran ratusan spiciesikan lokal di wilayah ini.
Ikan lokal yang paling populer di wilayah Kalsel, adalah haruan (gabus), papuyu (betok) bakut (betutu), lais, sapat siam, sapat biasa, biawan, patung, pentet (lele), tauman, kihung, mihau, karandang, kapar, kalatau, tutumbuk banir, timah-timah, bangkinangan, julung-julung, marangan, dan ikan walut.
Semua ikan yang disebut di atas umumnya hidup dan berkembang di rawa-rawa kawasan lahan berambut, atau lahan lebak yang terlihat hamparan luas, seperti di kawasan Danau Panggang, Babirik, Alabio, Mahang, Amuntai, serta kawasan lainnya.
Sementara sungai-sungai yang membelah Kalsel, seperti Sungai Balangan, sungai Amandit, Sungai Tabalong, Sungai Martapura, Sungai Riam Kanan, Sungai Riam Kiwa, Sungai Nagara dan sungai-sungai yang lain mengandung spicies ikan sungai.
Ikan-ikan sungai yang terdata seperti jelawat, baung, sanggang, barahmata, kelabau, pipih (belida), patin, puyau, mangki, sanggiringan, adungan, tapah, tangara, kalui, tilan, sisili, dan iwak junu.
Sedangkan di perairan air payau hingga air asin di muara sungai arah ke laut, dikenal dengan ikan lundu, bandeng, sandilang, utik, menangin, telang, tanggiri, gulama, kakap, panting, puput, pare, sutung, dan sebagainya.

KALSEL MEMILIKI POTENSI BESAR DALAM SEKTOR PERIKANAN
Banjarmasin,19/9 (ANTARA)- Wilayah Provinsi Kalimantan Selatan (Kalsel) memiliki potensi besar dalam pengembangan sektor perikanan dan kelautan dalam kaitan meningkatkan pembangunan daerah dan kesejahteraan masyarakat.
Masalahnya untuk wilayah Kalsel saja memiliki sedikitnya panjang garis pantai lebih kurang 1.331,091 Km, kata Kepala Dinas Perikanan Kalsel, Dr Isra melalui bahan realase yang disampaikan Kepala Bidang Kehumasan Badan Informasi Daerah (BID) Kalsel, Drs.Ismet Setiabakti kepada pers di kantor Gubernur Kalsel, Banjarmasin, Jumat.
Garis pantai yang dihitung sepanjang 1.331.091 km tersebut sudah termasuk garis pantai beberapa pulau, yang diantaranya sebanyak 48 buah pulau yang sudah memiliki nama, pulau-pulau tersebut di luar Pulau Laut.
Sementara 42 buah pulau lainnya hingga kini belum memiliki nama, dan empat pulau lagi bisa saja dianggap masih delta.
Pulau Laut yang terletak di selat Makasar atau berada paling Timur Kalsel adalah pulau yang terbesar dari gugusan pulau-pulau kecil di provinsi ini, dan pulai ini memiliki garis pantai sepanjang 480 Km.
Melihat potensi garis pantai sepanjang itu maka sumberdaya perairan yang dapat dimanfaatkan untuk usaha dibidang perikanan adalah laut seluas 120.000 Km2, perairan umum seluas 1.000.000 Ha, air payau seluas 53.382 Ha, dan air tawar seluas 2.400 Ha.
Luas potensi perikanan air tawar tersebut menurut Isra bisa saja berubah bila harus menyesuaikan dengan jaringan irigasi yang tersedia, dan pembangunan irigasi tersebut kini terus dilakukan setelah Pemprop Kalsel membangun beberapa buah waduk.
Mengenai produksi perikanan Kalsel tahun disebutkannya pada tahun 2005 lalu sebesar 199.859.7 ton, yang terdiri dari produksi ikan laut sebanyak 136.519.9 ton, produksi ikan perairan umum sebanyak 49.622.90 ton dan produksi dari usaha budidaya sebanyak 13.726.9 ton.
Jika dibandingkan dengan produksi tahun 2004 maka produksi tahun 2005 mengalami peningkatan sebanyak 13.14 persen.
Sedangkan perkembangan jumlah armada perikanan di Kalsel pada tahun 2005 adalah 9.639 buah kapal/perahu motor, 1.042 buah kapal/perahu tanpa motor, 361 buah kapal/motor tempel.
Mengenai pemasaran disebutkannya bisa saja melalui pemasaran lokal, pemasaran antar pulau dan bahkan tak sedikit yang diekspor.
Produk perikanan Kalsel yang diekspor dari tahun ke tahun mengalami peningkatan atau mengalami kenaikan 80,91 persen 6.481.669,13 Dolar AS tahun 2005 menjadi menjadi 11.725.911,02. Dolar AS tahun 2006 yang disebabkan produk udang beku sebagai primadona pada kelompok ini ekspornya mengalami kenaikan.
Kegiatan produksi perikanan didukung oleh tenaga kerja nelayan dan pembudidaya ikan yang pada tahun 2005 berjumlah 46.079 jiwa atau meningkat 1,99 persen dibandingkan tahun 2001 yang lalu.

KONTRIBUSI PRODUKSI IKAN BUDIDAYA KALSEL KIAN MENINGKAT SAJA
Banjarmasin,18/9 (ANTARA)- Kontribusi produksi ikan hasil budidaya di Provinsi Kalimantan Selatan (Kalsel) dalam tiga tahun terakhir ini menunjukan angka yang kian meningkat saja dalam upaya mendukung tingkat produksi ikan Kalsel secara keseluruhan.
Kepala Dinas Perikanan dan Kelautan Kalsael, Dr.Isra didampingi Kepala Bidang Kehumasan Badan Informasi Daerah (BID) Kalsel, di kantor Gubernur Kalsel, Banjarmasin, Kamis membenarkan peningkatan hasil ikan budidaya tersebut.
Meningkatnya produksi ikan hasil budidaya tersebut setelah kian banyaknya warga yang membudidayakan ikan, biak sebagai mata pencarian, untuk menambah penghasilan, atau hanya sekedar untuk kebuthan ikan sehari-hari.
Berkembangnya budidaya ikan, seperti budidaya ikan di kolam, di kramba, tambak, atau sistem jaring apung di Kalsel telah terbukti mampu menambah produksi ikan di pasaran yang pada gilirannya mengurangi ketergantungan produksi ikan hasil penangkapan ikan di alam bebas.
Dijelaskannya, sejalan dengan arah pembangunan perikanan dan Kelautan yang berupaya untuk mengendalikan usaha penangkapan ikan dan mengembangan usaha budidaya perikanan, maka kontribusi produksi perikanan budidaya terhadap produksi total perikanan Kalsel selama kurun waktu 2005 s/d 2007 mengalami peningkatan rata-rata sebesar 21,85 persen per tahun.
Kontribusi produksi perikanan budidaya selama tahun 2005 s/d 2007 masih didominasi dari kegiatan budidaya air tawar, yaitu rata-rata sebesar 57 persen per tahun.
Dalam rangka meningkatkan usaha perikanan budidaya, selain pengembangan system usaha budidaya, sebagai prioritas utama yang dilaksanakan adalah pengembangan usaha perbenihan ikan.
Penyediaan benih ikan .
Penyaluran bantuan benih ikan unggul dan induk ikan unggul kepada kelompok UPR (Unit Pembenihan Rakyat). Adapun jumlah benih ikan dan induk ikan unggul yang telah tersalurkan ke pembudidaya ikan dari tahun 2005 s/d 2008 adalah sebagai berikut
Jumlah benih ikan dan induk ikan unggul yang telah tersalurkan ke pembudidaya ikan dari tahun 2005 s/d 2008 tahun 2005 sebanyak 278.050 ekor, tahun 2006 sebanyak 683.200 ekor, tahun 2007 sebanyak 100.000 ekor, tahun 2008 sebanyak 411.800 ekor.
Selain itu juga dilakukan paket bantuan pengembangan usaha perbenihan di lakukan di Balai Benih Ikan Sentral (BBIS), Balai Benih Ikan Lokal (BBIL), dan Balai Budidaya Ikan Pantai (BBIP) sebagai Unit Pelayanan penyedia dan pembinaan perbenihan ikan ke masyarakat pembudidaya.
Berdasarkan catatan ANTARA, produksi ikan hasil budidaya ini belakangan ini mendominasi pemasaran ikan di pasaran, dan harganyapun lebih murah ketimbang ikan hasil penangkapan ikan di alam.
Ikan-ikan hasil budidaya yang mendominasi di pasaran tersebut,seperti ikan nila, ikan mas, ikan patin, ikan bandeng, ikan bawal sungai, ikan lele, serta ikan gurami.
Walau ikan budidaya ini lebih murah, tetapi warga agaknya lebih memilih ikan hasil tangkapan di alam, karena dinilai lebih higines, sebagai contoh saja bila ikan patin hasil tangkapan alam mencapai Rp50 ribu per kg tetap saja banyak yang membeli, sementara ikan patin hasil budidaya bisa saja hanya Rp30 ribu per Kg.

IKAN HASIL TANGKAPAN DI LAUT KALSEL KIAN MENURUN
Banjarmasin,12/9 (ANTARA)- Produksi penangkapan ikan di laut Provinsi Kalimantan Selatan (Kalsel) tiga tahun terakhir mengalami penurunan sebesar 8,16 persen per tahun salah satu penyebabnya adalah biaya operasional yang kian mahal setelah kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM).
Kepala Dinas Perikanan dan Kelautan Kalsel, DR Isra didampingi Kepala Bidang Kehumasan Badan Informasi Daerah (BID), Drs.Ismed Setia Bakti kepada wartawan di Banjarmasin, Jumat mengatakan selain mahalnya harga BBM pihak nelayan juga sering terganggu bencana angin kencang saat penangkapan tersebut.
Seringnya terjadi tiupan angin yang kencang dilaut menyebabkan terjadinya gelombang laut yang besar pula akhirnya seringkali meurungkan niat petyani Kalsel untuk melaut.
Masalah lainnya yang menghambat nelayan Kalsel berproduksi adalah setelah musibah kebakaran di pemukiman nelayan di Kabupaten Kotabaru dan Tanah Bumbu yang merupakan sentra usaha penangkapan ikan Kalsel.
Belum lagi nelayan Kalsel hanya terkonsentrasi wilayah penangkapan ikan di perairan laut pada zona kurang dari 3 mil laut, karena nelayan Kalsel 82 persen armadanya adalah kapal atau armada ukuran kecil yaitu kurang dari 5 GT, sehingga tidak mampu melakukan penangkapan di laut di luar zona tersebut.
Akibat berbagai persoalan itu akhirnya produksi ikan tangkapan di laut itu dalam tiga tahun ini terus menurun sebagai contoh saja bila produksi pada tahun 2005 lalu sebanyak 186,1 ribu ton, menjadi 171,1 ribu ton tahun 2006. Sedangkan tahun 2007 lalu tinggal 157 ribu ton saja lagi.
Dalam upaya mengatasi persoalan nelayan tersebut pihak Pemprov Kalsel melalui Dinas Perikanan dan Kelautan setempat melakukan berbagai upaya, antara lain melakukan pembangunan Solar Packed Dealer Nelayan (SPDN) sebagai tempat mempermudah nelayan memperoleh bahan bakar.
“Pada masa kepemimpinan Gubernur Rudi Arifin telah diresmikan satu lokasi SPDN di Kecamatan Aluh-aluh Kabupaten Banjar.” kata Isra.
SPDN ini telah diresmikan Gubernur Kalsel 2 Juli 2006, dengan kapasitas 75 ton/bulan. Dengan telah beroperasinya SPDN di Kecamatan Aluh-aluh diharapkan akan mengurangi kesulitan nelayan dalam memperoleh BBM khususnya solar.
Kemudian Pemprov Kalsel memberikan paket bantuan bagi nelayan yang terkena musibah kebakaran di Kabupaten Kotabaru dan Tanah Bumbu melalui pemberian paket bantuan sarana penangkapan ikan.
Paket bantuan itu seperti untuk nelayan Kotabaru mesin ukuran 22 PK kepada 100 orang nelayan masing-mising satu unit, di Tanah Bumbu kepada 700 orang masing-masing satu unit.
Kemudian bantuan serupa di Kabupaten Tanah Bumbu lagi kepada 10 orang mesin ukuran 24 PK masing-masing nelayan memperoleh bantuan satu unit, serta alat tangkap jaring kepiting kepada 10 orang satu orang 20 unit.
“Dengan adanya pemberian paket bantuan tersebut, diharapkan dapat mengembalikan kemampuan nelayan dalam menjalankan usaha menangkap ikan di laut, sehingga produksi ikan hasil tangkapan di alam bebas ini bisa meningkat lagi” katanya.
Selain itu juga ada bantuan paket bantuan sarana penangkapan bagi nelayan dalam optimalisasi penangkapan ikan di laut selama tahun 2005 hingga 2008 seperti bantuan sarana penangkapan ikan, alat tangkap, kapal, alat bantu penangkapan.

Kalimantan Selatan mempunyai panjang garis pantai lebih kurang 1.331,091 Km (termasuk beberapa pulau), memiliki 48 buah pulau bernama (di luar Pulau Laut), 42 buah pulau tidak bernama dan 4 buah delta. Pulau Laut adalah pulau yang terbesar dari gugusan pulau-pulau kecil (memiliki garis pantai sepanjang 480 Km) dalam wilayah Kalimantan Selatan.
Potensi sumberdaya perairan yang dapat dimanfaatkan untuk usaha dibidang perikanan adalah sebagai berikut: :

· Laut : 120.000 Km2

· Perairan umum : 1.000.000 Ha

· Air payau : 53.382 Ha

· Air tawar : 2.400 Ha (dapat berubah sesuai dengan jaringan irigasi)

Disisi lain produksi perikanan Kalimantan Selatan tahun 2005 sebesar 199.859.7 ton, yang terdiri dari produksi ikan laut sebanyak 136.519.9 ton, produksi ikan perairan umum sebanyak 49.622.90 ton dan produksi dari usaha budidaya sebanyak 13.726.9 ton. Jika dibandingkan dengan produksi tahun 2004 maka produksi tahun 2005 mengalami peningkatan sebanyak 13.14 %.

Perkembangan jumlah armada Perikanan di Kalimantan Selatan pada tahun 2005 adalah 9.639 buah kapal/perahu motor, 1.042 buah kapal/perahu tanpa motor, 361 buah kapal/motor tempel. Pemasaran lokal, antar pulau dan ekspor produk perikanan Kalimantan Selatan dari tahun ke tahun mengalami peningkatan, gambaran distribusi ikan di Kalimantan Selatan dapat dilihat sebagai berikut :

ü Sumberdaya manusia pada bidang perikanan dan kelautan tidak hanya pembudidaya ikan/nelayan atau masyarakat perikanan pada umumnya, tetapi juga termasuk aparat-aparat pembina perikanan itu sendiri.

ü Kegiatan produksi perikanan didukung oleh tenaga kerja nelayan dan pembudidaya ikan yang pada tahun 2005 berjumlah 46.079 jiwa atau meningkat 1,99 % dibandingkan tahun 2001 yang lalu.

ü Sedangkan untuk konsumsi ikan per/kapita penduduk Kalimantan Selatan pada tahun 2002 telah melampaui ketentuan Widya Karya Gizi Nasional 1993 (26,55 kg/kapita/tahun) yaitu sebesar 33,9 kg/kapita/tahun.

Perkembangan Pemasaran Lokal, Antar Pulau dan Ekspor Produk Perikanan ditunjukkan segaimana gambar berikut ini :

1. Pertambakan

a. Potensi dan Pemanfaatan

Lahan pertambakan di Propinsi Kalimantan Selatan sangat potensial dengan luas lahan ± 53.382 Ha tersebar di sepanjang pantai. Dari luas lahan potensial tersebut telah dimanfaatkan untuk usaha budidaya udang/bandeng seluas ± 4.860 Ha dengan rincian sebagaimana pada tabel berikut ini .

b. Komoditi dan Produksi

Sebagian besar kegiatan budidaya tambak di Kalimantan Selatan diusahakan untuk menghasilkan komoditi Udang, sebagai sasaran produksinya dari jenis/species Udang Windu (Paneus monodon). Hal ini terkait dengan pasar dan nilai ekonomis yang tinggi baik di pasaran dalam negeri maupun luar negeri, disamping penguasaan teknologi mulai dari tahap pembenihan sampai dengan pembesarannya sudah dapat diterapkan oleh petambak/ pengusaha hatchery.

Untuk memenuhi Kebutuhan benih sebagian besar petambak masih mendatang-kan benih udang (benur) dari luar propinsi (Jawa Timur dan Sulawesi Selatan), karena produksi benur dari Hatchery yang ada di Kalimantan Selatan masih relatif kecil jumlahnya dibanding kebutuhan benur yang harus dipenuhi.

Teknologi yang diterapkan sebagian besar petambak masih sederhana, dengan padat penebaran rata-rata ± 20.000 ekor/ha dengan 2 (dua) kali musim tanam setiap tahunnya, sehingga apabila dihitung kebutuhan benih yang harus dipenuhi untuk seluruh tambak di Kalimantan Selatan diperkirakan mencapai ± 196 juta ekor/tahun.

Dari beberapa Hatchery yang beroperasi di Kalimantan Selatan dalam 1 (satu) tahun hanya mampu menghasilkan benur ± 10 juta ekor/tahun, dan sebagian lagi disuplai dari benur alam yang hanya mampu menghasilkan benur ± 5 juta ekor/tahun.

Produksi benur alam ini dari tahun ke tahun cenderung mengalami penurunan jumlah. Disamping mempunyai potensi benur alam, dibeberapa kawasan Perairan Kalimantan Selatan juga berpotensi sebagai penghasil induk udang windu (kawasan Tanjung Semalantakan dan kawasan Tanjung Seloka).

Selain budidaya udang, pembudidayaan ikan bandeng atau Milkfish (Chanos chanos) pada umumnya dilakukan sebagai usaha selingan pada saat musim benih bandeng (nener) alam yang dihasilkan di beberapa perairan Kalimantan Selatan.

2. Perkolaman

a. Potensi dan Pemanfaatan

Luas lahan potensial untuk usaha budidaya ikan dalam kolam di Kalimantan Selatan ± 2.400 Ha, dari luas ini telah dimanfaatkan 498,0 Ha untuk kegiatan pembesaran dan 270 Ha untuk Unit Perbenihan Rakyat (UPR).
b. Komoditi dan Produksi

Komoditi yang dihasilkan dari budidaya ikan di kolam meliputi : Ikan Mas (Cyprinus carpio), Ikan Nila (Tilapia nilotica), ikan Gurame (Osphronemus gouramy) dan Udang Galah (Macrobranchium Rosenbergii).

3. Karamba dan Jaring Apung

a. Potensi dan Pemanfaatan

Sebagai kawasan yang mempunyai potensi perairan umum (sungai, rawa dan waduk) yang cukup luas yaitu sekitar 1 juta Ha, Usaha budidaya ikan dengan karamba atau jaring apung sudah merupakan salah satu alternatif kegiatan budidaya ikan yang dikembangkan masyarakat Kalimantan Selatan.

Budidaya ikan dalam karamba di Kalimantan Selatan berkembang pesat di beberapa Kabupaten terutama di Kabupaten Banjar (Karang Intan, Riam Kanan) dan di Kabupaten Tabalong dan Kabupaten Hulu Sungai Utara.

Ditinjau dari potensi Perairan Umum yang cukup luas (1 juta Ha) dengan asumsi areal yang dapat dimanfaatkan untuk budidaya karamba tanpa merusak atau mengganggu lingkungannya sebesar 1 % atau seluas 10.000 Ha, maka tingkat pemanfaatan sampai dengan tahun 2002 masih ± 7,1 Ha (0,071 %) dari potensi yang tersedia. Pengembangan karamba oleh masyarakat Kalimantan Selatan sejalan dengan meningkatnya permintaan pasar terhadap beberapa komoditi, utamanya setelah ikan-ikan introdusir dapat diterima oleh pasar lokal.

b. Komoditi dan Produksi

Sebagaimana di sampaikan diatas bahwa perkembangan karamba juga didorong oleh pasar, beberapa komoditi introdusir yang yang sudah dapat dikembangkan teknologi perbenihannya seperti ; Ikan Mas (Cyprinus carpio), Ikan Nila (Tilapia Nilotica), Sepat Siam (Trichogaster pectoralis) dan Ikan Tawes (Puntius javanicus) dan Patin/Jambal Siam (Pangasius hypothalmus).

Sedangkan ikan lokal yang dikembangkan melalui pemeliharaan dalam karamba meliputi Ikan Toman (Ophiocephalus micropeltes), Ikan Gabus (Ophiocephalus striatus), Ikan Betok (Anabas testudineus), Ikan Gurami (Osphronemus gouramy), Ikan Tambakan (Helostoma temmincki), Ikan Nilem (Osteochilus hasselti), Ikan Jelawat (Leptobarbus hoevenii), Ikan Patin (Pangasius Ham.Buch) dan Ikan Betutu/Bakut (Oxyleotris marmorata).

Sebagian besar pemeliharaan ikan lokal dalam karamba ini masih bersifat pembesaran dari ikan-ikan yang ditangkap dari alam, Hal ini terkait dengan hasil benih dari pembenihan yang masih terbatas dan bahkan ada yang belum dikembangkan secara masal pembenihannya.

4. Budidaya Laut

a. Potensi dan Pemanfaatan

Potensi lahan budidaya laut di Propinsi Kalimantan Selatan sebagian besar lokasinya berada di Kabupaten Kotabaru. Dari hasil pengkajian yang dilakukan pada taraf desk study (Dr. Ir. Made L. Nurjana dkk. 1998) potensi lahan pengembangan budidaya laut di Kalimantan Selatan di ukur 5 km dari pantai adalah seluas ± 107.000 Ha dengan komoditi : Kakap (Lates carcarifer), Kerapu (Ephinephelus spp.), Tiram (Pinctada maxima) dan Rumput Laut (Euchema spp.).

Lahan budidaya laut yang diperhitungkan pada daerah-daerah teluk yang terlindung seluas ± 7.600 Ha dan saat ini yang sudah dimanfaatkan bagi usaha budidaya rumput laut seluas ± 415 Ha di perairan Teluk Tamiang (Kecamatan Pulau Laut Barat) sampai Teluk Sirih (Kecamatan Pulau Laut Selatan). Untuk budidaya Kakap dan Kerapu saat ini masih dalam tahap kaji terap, sedang Tiram/Kerang mutiara pada tahap penelitian.

b. Komoditi dan Produksi

Sebagaimana dikemukakan diatas, komoditi yang telah ikembangkan adalah Rumput Laut (Sea Weed) dari jenis Euchema, spp. Kemampuan produksi dari usaha budidaya Rumput Laut ini adalah sebesar ± 350 ton/tahun atau ± 3,75 ton/bln (dalam bentuk kering).

Pengembangan budidaya rumput laut masih terhambat pada masalah pemasaran . Hal ini tidak lepas dari lokasi yang terisolir dan kondisi prasarana transportasi yang belum memadai bagi pengembangan ekonomi kawasan tersebut.

5. Penangkapan di Laut

a. Potensi dan Pemanfaatan

Kalimantan Selatan yang mempunyai panjang pantai ± 1.331 km, sangat mendukung dalam pengembangan perikanan tangkap karena potensi sumber-daya hayati perikanan ditemukan hampir disepanjang pantai dan menyebar hampir diseluruh perairannya, terutama di kawasan perairan pertemuan antara Laut Jawa dan Selat Makasar. Kawasan ini kaya akan jenis ikan (Perairan Masalembo s/d Pulau Sembilan dan sekitarnya) Ditinjau dari letak, fishing ground kawasan ini paling dekat dengan daratan wilayah Kalimantan Selatan, sehingga cukup strategis bagi usaha penangkapan di wilayah Kalimantan Selatan.

Armada perikanan Kalimantan Selatan pada tahun 2005 sebanyak 9.639 unit yang meliputi : 6.914 unit (< 5 GT), 1.188 unit (5 – 10 GT) , 134 unit (10 – 20 GT), 99 unit (20 – 30 GT) sedangkan 361 unit (perahu tanpa motor).

Kondisi ini masih menggambarkan pemanfaatan potensi lepas pantai masih sangat terbatas oleh nelayan Kalimantan Selatan , sehingga sebagian besar nelayan pemanfaat perairan dimaksud masih di dominasi oleh nelayan “andon” yang datang dari Sulawesi, Jawa bahkan dari Sumatera yang mempunyai armada cukup memadai untuk mengarungi kawasan perairan tersebut, yang pada umumnya menggunakan sarana apung berukuran > 30 GT.

Sesuai hukum alam, dimana banyak ikan disitu berkumpul nelayan dan hal ini bisa dilihat dari jumlah titik- titik pendaratan ikan atau pemukiman nelayan, akan tetapi di Kalimantan Selatan sebagian besar titik pendaratan tersebut bukan untuk men-daratkan seluruh hasil tangkapannya, karena untuk ikan ekonomis sudah dijualnya ke-pada “penyambang” ditengah laut.

Budaya penyam-bang ini timbul, se-bagai akibat pada masa lalu transportasi darat yang dimiliki masih sangat terbatas, sehingga nelayan sulit menjual hasil tangkapannya di darat karena tidak ada pembeli. Saat ini dengan lancarnya transportasi darat di sebagian kawasan pada beberapa titik sudah dimanfaatkan bagi pendaratan ikan antara lain : Asam-asam, Kintap, Pagatan, Batulicin, Batakan, Rampa dan beberapa tempat lainnya.

b. Komoditi dan Produksi

Jika dilihat dari tingkat produksi perikanan tangkap pada kawasan pesisir, laut dan pulau-pulau kecil dalam kurun waktu 5 (lima) tahun terakhir mengalami kenaikan rata-rata sebesar 2,9 %, tercatat pada tahun 2005 produksi perikanan tangkap mencapai ± 186.132.8 ton.

6. Wisata Bahari

Disamping sebagai penghasil komoditi perikanan, kawasan perairan laut Kalimantan Selatan juga sangat potensial untuk dijadikan kawasan obyek wisata bahari. Hal ini di dukung po-tensi keindahan alam pulau-pulau, pantai, terumbu karang dan keaneka ragaman ikan hias serta adanya beberapa pulau yang menjadi tempat bertelurnya penyu hijau (Chelonia mydas) dan penyu sisik (Eret-mochelys impricata) yang sudah dikategorikan satwa langka.

Lokasi Terumbu Karang di Kalimantan Selatan terletak di kawasan pulau-pulau kecil yang berada di wilayah Kabupaten Kotabaru. Dari data terlihat bahwa luas terumbu karang ± 13.000 Ha.

Dari laporan hasil survey yang dilakukan oleh Ditjen Perlindungan Hutan dan Pelestarian Alam (PHPA) pada tahun 1990 dan Balai Konservasi Sumberdaya Alam (BKSDA) Kalimantan Selatan tahun 1999 dan tahun 2000. pulau-pulau kecil seperti : P. Marabatuan, P. Matasirih, P. Payung-payungan, P. Batu Utara, P.Batu Barat, P. Sarang, P. Maradapan, P. Kalang Bahu, P. Denawan, P. Pamalikan, P. Kunyit, P. Birah-birahan, P. Sambar Gelap, P. Kerayaan Kecil, P. Kerayaan dan P. Malangko, di temukan ekosistem terumbu karang tepi (Fringing reef) yang tersebar mengelilingi pulau-pulau tersebut dengan kondisi yang bervariasi.

Berdasarkan hasil sensus visual di beberapa pulau-pulau kecil tersebut ditemukan antara 52 sampai 74 jenis ikan, yang terdiri dari ikan ekonomis dan ikan hias. Terbanyak ditemukan di P. Kunyit. Di Kepulauan Sambar Gelap banyak ditemukan jenis Molusca diantaranya Kima (kima pasir, kima sisik, kima lubang , kima besar dan kima raksasa), serta berbagai jenis Keong dan Lola. Sedangkan jenis karang hasil pengamatan bervariasi antara 11 sampai 32 jenis karang.

Sebagaimana dalam upaya pengembangan budidaya laut, pengembangan wisata bahari ini masih terkendala pada prasarana transportasi dan akomodasi yang belum memadai.

IKAN TILAN DISEBUT JUGA AYAM SUNGAI

tilan

Bagi masyarakat Pedalaman Kalsel, kehadiran ikan tilan atau juga disebut iwak sisili sudah tidak asing lagi, karena ikan ini sering ditemukan pada sungai Tabalong, Sungai Balangan, Sungai Amandit dan sungai lainnya lainnya di Kalsel.
Menangkap ikan ini dilakukan masyarakat dengan berbagai cara, baik kena jala, kena renje, kena lukah, maupun akibat terkena pacing. Tetapi sebagian besar ikan ini tertangkap, karena kena pancing.
Biasanya untuk memancing ikan ini harus memperhatikan kondisi sungai, yaitu dikala terjadi air dalam atau saat sungia baah dalam bahasa Banjar.
Biasanya saat air baah, airnye keruh, dan air keruh ini  cocok memancing ikan tilan, tentu dengan umpan pancing harus berupa cacing tanah.
Caranya biarlah mata pancing atau unjun dalam bahasa Banjar, yang sudah diberi umpan cacing dilarutkan kedalam air, dan dibiarkan dalam bahasa Banjar ditajur, lama kelamaan biasanya ujung pancing bergerak pertanda sudah dimakan tilan, kemudian pancing ditarik akhirnya menggelepar-geleparlar ikan tilan ini.
Bagi masyarakat Kalsel pedalaman, sangat menyukai ikan ini karena rasanya yang gurih dan legit, dan biasanya pula ikan ini dengan cara dipepes (dipais) atau di sumap, caranya ikan ini setelah diberi bumbu terdiri dari terasi, kemiri, serai, bawang merah, janar (kunyit) dan asam setelah dibneri air secukupnya, baru masukan dalam wajan yang dilapisi dengan daun pisang, kemudian diatas ikan kembali di beri daun pisang lalu ditutup rapat-rapat kemudian baru dimasak.
Setelah tak lama ikan sudah bisa disantap, bersama nasi yang berasal dari berasa tugal (gogo) hingga makan terasa nikmat.
Sementara kalau masyarakat Marabahan Barito Kuala, menganggap ikan ini bagaikan ayam sungai, karena rasa dagingnya yang dinilai tak ubahnya rasa daging ayam kampung, sehingga dimasak apa saja rasanya lezat.
Berdasarkan keterangan dari petugas perikanan, ikan tilan termasuk ke dalam Famili Mastacembelidae dan Ordo Perciformes.
Ikan ini dikenal juga dengan nama umum Fire Eel/Spotted Fire Eel. Nilai ekonomis ikan Tilan (Mastacembelus erythrotaenia) selain sebagai ikan konsumsi juga menjadi ikan hias karena mempunyai bentuk dan pola warna yang menarik.
Tilan memiliki corak warna merah/oranye terang di atas dasar hitam, dan pita merah di kepala. Jari-jari sirip ekor berjumlah 14-15 dan bersambung dengan sirip punggung dan sirip dubur.
Tilan ukuran dewasa mencapai ukuran 1 m. Walaupun bergerak tenang, ikan ini mampu untuk meloncat keluar dari akuarium.
Tilan merupakan ikan predator yang mencari makan di malam hari, seringkali tidak bisa bertoleransi dengan ikan lain dan senang menyendiri.
Ikan ini hidup di substrat berpasir atau yang berlumpur dan lebih menyenangi daerah dengan intensitas cahaya yang rendah dengan suhu 24 – 280C dan pH 7.Tilan dapat ditemukan terutama di sungai bagian hilir.

SPESIES IKAN LOKAL MAKIN LANGKA

Ikan lokal endemis Kalimantan Selatan yang menduduki nilai ekonomi penting dalam kehidupan Kalimantan Selatan kini makin langka.
Selain karena banyak air rawa yang kualitasnya buruk, ikan lokal juga tergusur spesies introduksi (pendatang). Kondisi itu diperparah dengan perburuan anakan ikan lokal untuk makanan ikan hias.
Puluhan warga di daerah rawa-rawa Desa Malintang, Kecamatan Gambut, Kabupaten Banjar, Kalimantan Selatan (Kalsel), yang mencari ikan di rawa-rawa dengan alat tradisional Hancau-semacam jala, mengeluhkan sulitnya mendapatkan ikan. “Coba ini lihat, dapatnya hanya kecil-kecil,” kata Wahidah, perempuan tua yang puluhan tahun mencari ikan untuk lauk sehari-hari.
Ikan yang ditunjukkan oleh Wahidah dalam sebuah ember ternyata hanya anakan ikan yang besarnya tak lebih dari seukuran pentol korek api. “Ini ada anak ikan papuyu, anak ikan sepat, ada juga anak ikan haruan,” kata Wahidah.
Ikan yang disebutkan Wahidah adalah ikan khas Kalsel yang menduduki nilai penting dalam hidangan makanan Kalsel. Bahkan untuk ikan haruan berapa pun harganya di pasaran akan dibeli warga demi melengkapi hidangan makanan khas, terutama untuk hidangan ketupat kandangan.
Wahidah mengatakan, anakan ikan itu terpaksa akan digoreng hari itu untuk lauk makan karena tidak ada lauk lain. Masyarakat Banjar di daerah sekitar rawa sejak dulu memang terbiasa makan dengan lauk ikan, terutama ikan papuyu dan ikan haruan. Mereka terbiasa manja dengan menangkap ikan di rawa-rawa yang berada di sekitar rumahnya.
Namun, menurut Wahidah, sejak adanya perburuan anak ikan untuk umpan ikan louhan semakin marak, kini keberadaan ikan lokal, terutama haruan, makin langka.
Warga yang sudah terbiasa makan ikan akhirnya juga terpaksa makan anak ikan. Anakan ikan tersebut dimasak samu atau diasinkan.
Sementara itu, di Jalan Veteran, Banjarmasin, Kalsel, kini dipenuhi pedagang yang menjual anakan haruan untuk makanan ikan louhan. “Satu bungkus plastik ini harganya Rp 1.000,” kata seorang pedagang anak haruan.
Pemilik warung makan yang menyajikan menu ikan lokal di Banjarmasin, Diana, mengakui ikan haruan kini semakin langka. “Harganya terus naik. Sekarang untuk ikan basah sudah sampai Rp 30.000 per kilogram dan untuk ikan haruan kering sampai Rp 35.000,” katanya.
Dalam kesempatan terpisah, Kepala Dinas Perikanan dan Kelautan Kalsel Suriatinah mengakui bahwa spesies ikan lokal Kalsel kini makin terancam punah. Untuk mengatasinya, pihaknya kini membuat program penambahan stok ikan di habitat alamnya.
Ribuan benih ikan lokal tersebut disebar di kawasan yang dilindungi dan masyarakat harus menjaganya. Ikan lokal yang kini sedang menuju kepunahan, antara lain ikan papuyu, ikan haruan atau ikan gabus, ikan saluang, ikan lais, ikan patin rawa, ikan sepat siam, ikan baung, ikan bakut, dan ikan pauman. (amr/kmps)

Ikan Lokal Terancam Punah

Banjarmasin, Kompas – Akibat banyaknya pembukaan bentang alam dan lahan, serta maraknya penangkapan ikan menggunakan setrum, Kalimantan Selatan kini terancam kehilangan puluhan jenis ikan lokal khas Kalsel. Karena itu Pemerintah Provinsi Kalsel kini mulai merintis daerah konservasi rawa berbasis masyarakat untuk ditanami ikan-ikan jenis lokal.

Kepala Dinas Perikanan dan Kelautan Kalsel, Suriatinah, di sela-sela acara Rapat Teknis Perencanaan Pembangunan Perikanan Budidaya Tingkat Nasional di Banjarmasin, Rabu (1/10) mengungkapkan, Pemprov Kalsel kini sedang mencoba program penambahan kesediaan (restocking) ikan di habitat alamnya.

Ribuan benih ikan lokal tersebut disebar di kawasan yang dilindungi, dan masyarakat harus menjaganya. Ikan lokal yang kini sedang menuju kepunahan antara lain ikan papuyu, ikan haruan atau ikan gabus, ikan saluang, ikan lais, ikan patin rawa, ikan sepat siam, ikan baung, ikan bakut, dan ikan pauman.

“Restocking ini kami lakukan di daerah rawa-rawa, bekerja sama dengan masyarakat setempat. Pemerintah hanya membantu benih, dan masyarakat setempat yang harus menjaga keberlangsungan daerah konservasi itu,” kata Suriatinah.

Kawasan rawa-rawa yang harus dilindungi dan dijaga masyarakat adalah Banua Lawas di Kabupaten Tabalong, Rawa Muning di Kabupaen Tapin, Danau Bangkalau di Kabupaten Hulu Sungai Selatan, Mentaas di Kabupaten Hulu Sungai Tengah, Banyu Hirang di Kabupaten Hulu Sungai Utara, dan Alalak Padang di Kabupaten Banjar. (amr)

IWAK SISA NABI

Iwak atau ikan sebelah yang juga terdapat jenisnya di sungai Martapura Banjarmasin, bahkan di air sungai-sungai yang terdapat di pedalaman Kalsel.
Bagi masyarakat Banjar di Kalsel, ikan ini diberi nama iwak sisa nabi, atau iwak sebelah, iwak leper,  bahkan ada nama aneh yang diberikan terhadap ikan ini tetapi nama itu benar-benar tidak enak didengar lantaran cukup porno ditelinga masyarakat setempat, dengan julukan iwak tatampar puki.
Iwak ini banyak dikonsumsi masyarakat setempat, dengan cara dipanggang, dogoreng atau dipepes.
Berdasarkan sebuah literatur iwak sebelah sebut pula flatfish atau orang Indonesia sering menyebut ikan sebelah masuk dalam ordo Pleuronectiform, ikan berbadan pipih, kedua mata yang berada pada satu sisi (atas), sementara sisi yang satunya tidak ada mata dan sedikit pigmen. Justru itulah yang menjadikan menjadikan ikan ini paling unik diantara ikan bertulang belakang yang berbentuk simetris.
Secara komersial ikan ini cukup penting karena disamping kandungan nutrisinya yang cukup tinggi rasanya juga nikmat, akan tetapi di alam stoknya terbatas.
Ikan dalam spesies benthic ditemukan di perairan tropis dan hangat, biasanya bertelur di daerah lepas pantai, beberapa bertelur di muara sungai. Pada saat tingkat kesuburan tinggi, betina biasanya melepaskan sedikitnya beberapa ratus ribu telur. Untuk betina yang berukuran besar mampu bertelur hingga mencapai lebih dari 2 juta, dan dengan segera telur-telur itu menjadi larvae berukuran 1,5-3 mm.

ikan-sebelah

Ikan berbadan pipih ini suka sekali menyamar, menyesuaikan dengan kondisi lingkungannya dengan cara memendamkan badannya ke dalam lumpur atau pasir di dasar taut, sementara hanya matanya yang muncul ke permukaan.
Matanya dapat diangkat atau diturunkan dan digerakkan dengan bebas. lkan ini memakan terutama binatang berkulit keras, hewan tak bertulang punggung.     Tanpa gerak,dengan sangat sabar ia menunggu mangsanya sampai mangsa benar-benar dekat dan lengah dengan gerakan yang sangat cepat dan mendadak menyergap, jarang sekali mangsa dapat lolos dari sergapannya.
Sepertinya predator ini diciptakan demikian, pertama untuk melindungi diri dari predator yang lebih besar, kedua untuk memudahkan ia memangsa.
Ordo ini terdiri dart berbagai variasi spesies. Berdasarkan temuan para peneliti dari UE telah terkumpul sebanyak 28 spesies ikan sebelah (flatfish), dan hanya ada 6 spesies yang memiliki nilai komersial tinggi, yanu Botidae, Cynoglossidae, Citaridae, Pleuronectidae, Scoftalmidae, dan Soleidae. Jenis produk ini dipasarkan dalam bentuk fillet, dengan pasar utama Eropa.
ikan gabus

——————

Ikan darat yang cukup besar, dapat tumbuh hingga mencapai panjang 1 m. Berkepala besar agak gepeng mirip kepala ular (sehingga dinamai snakehead), dengan sisik-sisik besar di atas kepala. Tubuh bulat gilig memanjang, seperti peluru kendali. Sirip punggung memanjang dan sirip ekor membulat di ujungnya.

Sisi atas tubuh –dari kepala hingga ke ekor– berwarna gelap, hitam kecoklatan atau kehijauan. Sisi bawah tubuh putih, mulai dagu ke belakang. Sisi samping bercoret-coret tebal (striata, bercoret-coret) yang agak kabur. Warna ini seringkali menyerupai lingkungan sekitarnya. Mulut besar, dengan gigi-gigi besar dan tajam.

Kebiasaan

Ikan gabus biasa didapati di danau, rawa, sungai, dan saluran-saluran air hingga ke sawah-sawah. Ikan ini memangsa aneka ikan kecil-kecil, serangga, dan berbagai hewan air lain termasuk berudu dan kodok.

Seringkali ikan gabus terbawa banjir ke parit-parit di sekitar rumah, atau memasuki kolam-kolam pemeliharaan ikan dan menjadi hama yang memangsa ikan-ikan peliharaan di sana. Jika sawah, kolam atau parit mengering, ikan ini akan berupaya pindah ke tempat lain, atau bila terpaksa, akan mengubur diri di dalam lumpur hingga tempat itu kembali berair. Oleh sebab itu ikan ini acap kali ditemui ‘berjalan’ di daratan, khususnya di malam hari di musim kemarau, mencari tempat lain yang masih berair. Fenomena ini adalah karena gabus memiliki kemampuan bernapas langsung dari udara, dengan menggunakan semacam organ labirin (seperti pada ikan lele atau betok) namun lebih primitif.

Pada musim kawin, ikan jantan dan betina bekerjasama menyiapkan sarang di antara tumbuhan dekat tepi air. Anak-anak ikan berwarna jingga merah bergaris hitam, berenang dalam kelompok yang bergerak bersama-sama kian kemari untuk mencari makanan. Kelompok muda ini dijagai oleh induknya.

Penyebaran

Ikan gabus menyebar luas mulai dari Pakistan di barat, Nepal bagian selatan, kebanyakan wilayah di India, Bangladesh, Sri Lanka, Tiongkok bagian selatan, dan sebagian besar wilayah di Asia Tenggara termasuk Indonesia bagian barat.

pipih Ikan pipih (balida)

Keragaman Jenis

Gabus dan kerabatnya termasuk hewan Dunia Lama, yakni dari Asia (genus Channa) dan Afrika (genus Parachanna). Seluruhnya kurang lebih terdapat 30 spesies dari kedua genus tersebut.

Di Indonesia terdapat beberapa spesies Channa; yang secara alami semuanya menyebar di sebelah barat Garis Wallace. Namun kini gabus sudah diintroduksikan ke bagian timur pula.

Salah satu kerabat dekat gabus adalah ikan toman (Channa micropeltes), yang panjang tubuhnya dapat melebihi 1 m dan beratnya lebih dari 5 kg.

Manfaat dan Kerugian

Sebetulnya ikan gabus memiliki nilai ekonomi yang tinggi. Ikan-ikan gabus liar yang ditangkap dari sungai, danau dan rawa-rawa di Sumatra dan Kalimantan kerap kali diasinkan sebelum diperdagangkan antar pulau. Gabus asin merupakan salah satu ikan kering yang cukup mahal harganya. Selain itu ikan gabus segar, kebanyakan dijual dalam keadaan hidup, merupakan sumber protein yang cukup penting bagi masyarakat desa, khususnya yang berdekatan dengan wilayah berawa atau sungai.

Ikan gabus juga merupakan ikan pancingan yang menyenangkan. Dengan umpan hidup berupa serangga atau anak kodok, gabus relatif mudah dipancing. Namun giginya yang tajam dan sambaran serta tarikannya yang kuat, dapat dengan mudah memutuskan tali pancing.

Akan tetapi ikan ini juga dapat sangat merugikan, yakni apabila masuk ke kolam-kolam pemeliharaan ikan (Meskipun beberapa kerabat gabus di Asia juga sengaja dikembangbiakkan sebagai ikan peliharaan). Gabus sangat rakus memangsa ikan kecil-kecil, sehingga bisa menghabiskan ikan-ikan yang dipelihara di kolam, utamanya bila ikan peliharaan itu masih berukuran kecil.

Sejak beberapa tahun yang lalu di Amerika utara, ikan ini dan beberapa kerabat dekatnya yang sama-sama termasuk snakehead fishes diwaspadai sebagai ikan berbahaya, yang dapat mengancam kelestarian biota perairan di sana. Jenis-jenis snakehead sebetulnya masuk ke Amerika sebagai ikan akuarium. Kemungkinan karena kecerobohan, maka kini snakehead juga ditemui di alam, di sungai-sungai dan kolam di Amerika. Dan karena sifatnya yang buas dan invasif, Pemerintah Amerika khawatir ikan-ikan itu akan cepat meluas dan merusak keseimbangan alam perairan.

Gabus bagi kesehatan

Diketahui bahwa ikan ini sangat kaya akan albumin, salah satu jenis protein penting. Albumin diperlukan tubuh manusia setiap hari, terutama dalam proses penyembuhan luka-luka. Pemberian daging ikan gabus atau ekstrak proteinnya telah dicobakan untuk meningkatkan kadar albumin dalam darah dan membantu penyembuhan beberapa penyakit.

Ikan sepat rawa yang bertubuh sedang, panjang total mencapai 25 cm; namun umumnya kurang dari 20 cm. Lebar pipih, dengan mulut agak meruncing.

Warna ikan yang liar biasanya kehitaman sampai agak kehijauan pada hampir seluruh tubuhnya. Terkadang sisi tubuh nampak agak terang berbelang-belang miring. Sejalur bintik besar kehitaman, yang hanya terlihat pada individu berwarna terang, terdapat di sisi tubuh mulai dari belakang mata hingga ke pangkal ekor.

Sirip-sirip punggung (dorsal), ekor, sirip dada dan sirip anal berwarna gelap. Sepasang duri terdepan pada sirip perut berubah menjadi alat peraba yang menyerupai cambuk atau pecut, memanjang hingga ke ekornya.

kebiasaan dan Penyebaran

Seperti umumnya sepat, ikan ini menyukai rawa-rawa, danau, sungai dan parit-parit yang berair tenang; terutama yang banyak ditumbuhi tumbuhan air. Juga kerap terbawa oleh banjir dan masuk ke kolam-kolam serta saluran-saluran air hingga ke sawah.

Sebagian besar makanan sepat rawa adalah tumbuh-tumbuhan air dan lumut. Namun ikan ini juga mau memangsa hewan-hewan kecil di air, termasuk ikan-ikan kecil yang dapat termuat di mulutnya. Ikan ini sering ditemui di tempat-tempat yang kelindungan oleh vegetasi atau sampah-sampah yang menyangkut di tepi air.

Ikan sepat rawa menyimpan telur-telurnya dalam sebuah sarang busa yang dijagai oleh si jantan. Setelah menetas, anak-anak sepat diasuh oleh bapaknya itu hingga dapat mencari makanan sendiri.

Sepat rawa diketahui dapat bernafas langsung dari udara, selain menggunakan insangnya untuk menyerap oksigen dari air. Akan tetapi, tak seperti ikan-ikan yang mempunyai kemampuan serupa (lihat misalnya ikan gabus, betok atau lele), ikan sepat tak mampu bertahan lama di luar air. Ikan ini justru dikenal sebagai ikan yang amat mudah mabuk dan mati jika ditangkap.

Penyebaran asli ikan ini adalah dari Asia Tenggara, terutama dari lembah Sungai Mekong di Laos, Thailand, Kamboja dan Vietnam; juga dari lembah Chao Phraya. Di Indonesia ikan ini merupakan hewan introduksi (??) yang telah meliar dan berbiak di alam, termasuk di Jawa.
Nilai ekonomi

Ikan sepat memiliki nilai ekonomi yang tinggi, terutama sebagai sumber protein di daerah pedesaan. Selain dijual dalam keadaan segar di pasar, ikan sepat kerap diawetkan dalam bentuk ikan asin, bekasam dan lain-lain, sehingga dapat dikirimkan ke tempat-tempat lain.

Beberapa daerah yang banyak menghasilkan ikan sepat olahan di antaranya adalah Jambi, terutama dari Kumpeh dan Kumpeh Ulu; Sumatera Selatan, dan Kalimantan Selatan.

Di tingkat dunia, sepat rawa juga diperdagangkan sebagai ikan akuarium. Terdapat beberapa ras yang berwarna cerah (putih, kuning atau merah) yang populer sebagai ikan hias.

ikan baung

——————

Ikan Baung adalah ikan air tawar yang dapat hidup dari perairan di muara sungai sampai ke bagian hulu. Bahkan di Sungai Musi (Sumatera Selatan), baung ditemukan sampai ke muara sungai di daerah pasang surut yang berair sedikit payau. Selain itu, ikan ini juga banyak ditemui di tempat-tempat yang letaknya di daerah banjir. Secara umum, baung dinyatakan sebagai ikan yang hidup di perairan umum seperti sungai, rawa, situ, danau, dan waduk.

Baung bersifat noktural. Artinya, aktifitas kegiatan hidupnya (mencari makan, dll) lebih banyak dilakukan pada malam hari. Selain itu, baung juga memiliki sifat suka bersembunyi di dalam liang-liang di tepi sungai tempat habitat hidupnya. Di alam, baung termasuk ikan pemakan segala (omnivora). Namun ada juga yang menggolongkannya sebagai ikan carnivora, karena lebih dominan memakan hewan-hewan kecil seperti ikan-ikan kecil (Arsyad, 1973). Pakan baung antara lain ikan-ikan kecil, udang-udang kecil, remis, insekta, molusca, dan rumput.
Pemanfaatan

Di Asia Tenggara, baung merupakan ikan konsumsi yang penting. Tekstur dagingnya berwarna lembut, putih, tebal tanpa duri halus, sehingga sangat digemari masyarakat.[7] Berbagai masakan ikan baung yang terkenal enak, di antaranya adalah pindang baung dari Sumatera Selatan dan baung asam padeh dari Riau, serta ikan baung panggang dari Kalimantan. Selain itu, ikan baung juga biasa dijadikan ikan asap.

Salah satu jenisnya, yakni baung putih (H. nemurus), telah berhasil dikembangkan pembenihannya dan dibudidayakan oleh Balai Besar Pengembangan Budidaya Air Tawar (BBPBAT) Sukabumi semenjak tahun 1998.

Jenis-jenisnya

Secara biogeografi, marga Hemibagrus diketahui menyebar luas di sebelah timur lembah Sungai Gangga – Brahmaputra dan di selatan aliran Sungai Yangtze.

ikan pepuyu

——————

Ikan betok, Anabas testudineus

Ikan pepuyu (betok) umumnya berukuran kecil, panjang hingga sekitar 25 cm, namun kebanyakan lebih kecil. Berkepala besar dan bersisik keras kaku.

Sisi atas tubuh (dorsal) gelap kehitaman agak kecoklatan atau kehijauan. Sisi samping (lateral) kekuningan, terutama di sebelah bawah, dengan garis-garis gelap melintang yang samar dan tak beraturan. Sebuah bintik hitam (terkadang tak jelas kelihatan) terdapat di ujung belakang tutup insang.

Sisi belakang tutup insang bergerigi tajam seperti duri.

Betok umumnya ditemukan di rawa-rawa, sawah, sungai kecil dan parit-parit, juga pada kolam-kolam yang mendapatkan air banjir atau berhubungan dengan saluran air terbuka.

Ikan ini memangsa aneka serangga dan hewan-hewan air yang berukuran kecil. Betok jarang dipelihara orang, dan lebih sering ditangkap sebagai ikan liar.

Dalam keadaan normal, sebagaimana ikan umumnya, betok bernafas dalam air dengan insang. Akan tetapi seperti ikan gabus dan lele, betok juga memiliki kemampuan untuk mengambil oksigen langsung dari udara. Ikan ini memiliki organ labirin (labyrinth organ) di kepalanya, yang memungkinkan hal itu. Alat ini sangat berguna manakala ikan mengalami kekeringan dan harus berpindah ke tempat lain yang masih berair. Betok mampu merayap naik dan berjalan di daratan dengan menggunakan tutup insang yang dapat dimegarkan, dan berlaku sebagai semacam ‘kaki depan’. Namun tentu saja ikan ini tidak dapat terlalu lama bertahan di daratan, dan harus mendapatkan air dalam beberapa jam atau ia akan mati.

Ikan ini menyebar luas, mulai dari India, Tiongkok hingga Asia Tenggara dan Kepulauan Nusantara di sebelah barat Garis Wallace.

Cara mendapatkan ikan ini (betok) pada kebanyak daerah dengan dipancing dengan umpan cacing, akan tetapi ada juga dengan menggunakan jangkrik, cilung (ulat bambu) akan tetapi di wilayah Kalimantan tengah dan Banjarmasin kebiasaan penduduk disana memiliki cara tersendiri, yaitu dengan mencampur telor semut(kroto) dengan getah karet dan dimasak dengan cara dikukus.Umpan ini selain ikan betok juga dapat sebagai umpan ikan saluang.

Masakan

Masyarakat Banjar memiliki menu khas dari ikan betok (pepuyu dalam bahasa setempat). Pepuyu bakar terkenal sebagai masakan yang enak dari daerah Banjarmasin. Dikenal pula wadi pepuyu, ikan betok yang dibuang sisik, jerohan, dan insangnya dan difermentasi dengan bantuan garam dalam wadah beling. Wadi pepuyu dimasak sesuai selera, digoreng atau disayur.

(sumb:wikipedia)

ikan jelawat

————–

JELAWAT (River Carp) Leotobarbus

Ikan Jelawat (Leptobarbus hoeveni) ikan asli Indonesia terdapat dibeberapa sungai di Sumatra dan Kalimantan. Merupakan jenis ikan ekonomis penting sangat digemari masyarakat Indonesia bahkan beberapa negara tetangga. Termasuk komoditas ekspor potensial.

Meskipun pemeliharaan ikan jelawat sudah lama dilakukan namun pasokan benih sepenuhnya masih mengandalkan hasil penangkapan dari perairan umum yang dilakukan pada musim hujan. Jenis ikan ini berbiak di sungai pada permulaan musin hujan, dengan anak benih tersedia secara musiman. Kaena pasar benih hanya mengandalkan hasil penangkapan di perairan umum maka kurang terjamin kontinuitasnya sehingga budidaya ikan ini akan terganggu.

Melihat aspek kebutuhan benih yang masih mengandalkan alam maka penguasaan teknologi pembenihan jeni ikan ini merupakan upaya yang pelu diaktifkan. dan ini merupakan peluang usaha yang dapat menghasilkan keuntungan yang besar.

ikan lais

———-

IKAN LAIS (Kryptopterus palembangensis)

Termasuk Ordo Siluriformes, familia Siluridae.  Nama palembangensis pada akhir nama ilmiahnya merupakan penghargaan tersendiri bagi Propinsi Sumatera Selatan.  Hidup di dasar dan tengah perairan tawar. Terdistribusi di Sumatera, Indonesia.

Termasuk Ordo Siluriformes, familia Siluridae.  Nama palembangensis pada akhir nama ilmiahnya merupakan penghargaan tersendiri bagi Propinsi Sumatera Selatan.  Hidup di dasar dan tengah perairan tawar. Terdistribusi di Sumatera, Indonesia. Sirip punggung tereduksi, lebar badan kira-kira 3,5 kali lebih pendek dari panjang standar, sungut-sungut rahang atas mencapai sirip dubur, sungut-sungut rahang bawah lebih pendek daripada panjang kepala, hampir tembus pandang dengan garis warna gelap memanjang.  Ikan ini dapat mencapai panjang total 17 cm. Warnanya transparan seperti kaca, sehingga tulang dan isi perut di dalamnya dapat terlihat dengan jelas.
Umumnya ikan ini ditangkap untuk dikonsumsi dan sangat berpotensi untuk dikembangkan sebagai ikan hias.

Ikan adalah mahluk vertebrata (bertulang lunak) yang hidup di air. Sekarang ini diperkirakn ada sekitar 30.000 spesies ikan.
Mayoritas hidup di laut, dan sebagian lainnya hidup di air tawar seperti danau, sungai, atau kolam.
Sebenarnya, ikan mulai dibudidayakan sejak 4000 tahun lalu. Budi daya ikan secara modern pertamakali dilakukan di Jerman, yakni ikan trout pada 1733.      Setelah itu, ikan lain-pun mulai dibudidayakan diantaranya ikan salmon. Mulai serius dibudidayakan oleh manusia ketika memasuki abad 20, karena disadari populasi ikan di dunia mulai mengalami penurunan gara-gara penangkapan ikan yang berlebihan, polusi serta pembangunan industri.

Keunggulan daging ikan

Dibanding daging sapi, kambing, atau daging hewan lainnya, ikan punya banyak keunggulan atau kelebihan. Dagingnya lebih empuk dan gampang dimasak. Karena jaringan penghubung antara otot pada ikan hanya ada 3%.
Serabut ototnya pun lebih pendek, sehingga lebih mudah dikunyah dibading daging sapi, kambing atau lainnya. Jumlah lemak pada ikan tidak sebanyak lemak daging. Hal ini jadi memudahkan dalam pencernaan.
Karena itu meskipun telah memakan ikan, orang mudah kembali merasa lapar. Lemak yang terdapat dalam ikan mengandung asam lemak tak jenuh omega 3 yang sangat baik bagi kesehatan.
Asam lemak tak jenuh omega 3 sangat baik untuk mencegah penyakit degeneratif, seperti jantung koroner, tekanan darah tinggi, stroke, dan kanker.      Sering mengkonsumsi ikan dapat membantu menghambat terjadinya arteroskerosis (penyumbatan pembuluh darah).
Kajian epidemiologis mengungkapkan bahwa bangsa Eskimo yang rata-rata mengkonsumsi ikan 300–400 gram per hari jauh dari penyakit jantung. Sementara pada daging sapi atau lainnya lebih banyak mengandung asam lemak jenuh.
Para ahli gizi juga sepakat bahwa asam lemak omega 3 dan omega 6 yang terdapat dalam ikan dan produk olahannya (termasuk minyak ikan) punya peranan penting dalam peningkatan kecerdasan anak.
Untuk membentuk perkembangan otak janin dalam kandungan, ibu-ibu yang sedang hamil sangat dianjurkan untuk lebih banyak mengkonsumsi ikan. Fase cepat tumbuh otak janin terjai pada usia kehamilan 20 – 36 minggu. Pada periode tersebut ibu hamil sebaiknya banyak mengkonsumsi ikan laut.
Ikan juga mengandung protein sekitar 17%. Protein ikan memiliki komposisi dan kadar asam amino esensial (asam amino yang penting bagi tubuh, tapi tak bisa diproduksi oleh tubuh).
Berbagai hasil penelitian menunjukkan bahawa mutu protein ikan setingkat dengan mutu protein daging, sedikit dibawah mutu protein telur, dan diatas protein serelia dan kacang-kacangan. Asam amino dalam protein ikan dapat meningkatkan mutu protein pangan lainnya.
Misalnya, beras memiliki kadar asam amino lisin rendah ( 3,7 % dari protein), tetapi ikan mengandung lisin tinggi (8,1%). Jadi mengkonsumsi nasi dan ikan bersama-sama akan bersifat komplementer atau saling melengkapi. Ikan olahan yang sudah dikeringkan umumnya mengandung protein lebih tinggi bila dibandingkan ikan segar. Hal ini karenakan proses pengeringan telah mengurangi kadar air sedemikan rupa, sehingga kandungan protein per 100 gram bahan menjadi lebih tinggi.
Ikan-ikan segar apapun jenisnya, mengandung protein relatif sama sekitar 16–22%. Termasuk ikan patin yang kini kian populer. Khusus untuk ikan laut, umumnya kaya akan iodium. Kandungan iodiumnya mencapai 830 ug (mikro gram)/kg. Jika dibandingkan dengan iodium pada daging yang hanya 50 ug dan telur 93 ug. Akibatnya jika banyak mengkonsumsi ikan laut dapat mencegah penyakit gondok.

PELAIHARI, BPOST – Illegal fishing di Kabupaten Tanah Laut masih marak. Sejumlah populasi ikan lokal pun kini mulai menghilang dari pasaran.

Antara lain ikan lokal yang kini sulit dicari yaitu lais dan adungan. Ikan gabus (haruan) dan papuyu juga kian menyusut populasinya. Masih maraknya penangkapan ikan terlarang, seperti, penyetruman dan penggunaan potas, berada di balik semakin langkanya ikan-ikan lokal itu.

Kasi Bina Mutu dan Pemasaran pada Bidang Produksi Dislakan Tala Mustafa mengakui langkanya ikan-ikan lokal itu. “Adungan dan lais sudah hampir tak terlihat lagi di pasaran. Haruan dan papuyu memang masih ada, tapi umumya berasal dari Kalteng.”

Dia juga tak menyangkal langkanya ikan lokal tersebut akibat masih adanya penyetruman dan penangkapan ikan terlarang lainnya.

Intensnya razia di perairan umum dan laut yang dilakukan Dislakan Tala sejak tahun lalu cukup signifikan menekan pengkapan dan penggunaan alat tangkap terlarang. Namun belum mampu memberangus secara keseluruhan.

“Penyetruman dan penggunaan bahan/alat tangkap terlarang lainnya sudah berkurang drastis. Masih ada beberapa yang nakal, mereka beroperasi malam hari,” kata Mustafa, kemarin.

Laporan yang diterima, penyetruman yang masih sering terjadi yakni di wilayah Kecamatan Bati Bati. Ini tak lepas dari kondisi topografi setemat yang banyak memiliki lahan rawa dalam yang cukup banyak menyimpan sumberdaya perikanan (ikan air tawar).

Pihaknya sendiri, ucap Mustafa, telah beberapakali bergerak malam hari. Namun razia ini tak pernah membuahkan hasil, karena para penyetrum selalu kabur masuk ke hutan atau menghilang cepat mellaui sungai menggunakan kelotok.

Razia diperairan laut juga digencarkan mulai dari wilayah lautan di Kecamatan Kurau hingga Kintap dengan melibatkan Pol Air. Tahun 2007 lalu tercatat 7 kali razia dan berhasil menjaring puluhan kapal yang beroperasi tanpa dilengkapi dokumen (izin usaha penangkapan dan pengumpul hasil perikanan).

Sebagian besar nelayan di Tala tak memiliki izin penangkapan ikan. Pascarazia, mereka ramai-ramai mengurus perizinan itu ke kantor Dislakan Tala.

Mustafa mengatakan proses perizinan sangat cepat, mudah, dan murah. Syaratnya hanya membawa KTP dan mengisi formulir isian. Selanjutnya membayar retribusi izin usaha penangkapan ikan dengan tarif Rp 10 ribu per gross tonase (GT). (roy)

ZCZC
RR EKU

EKONOMI DAN KEUANGAN
BJM

KALSEL MANFAATKAN SEGALA POTENSI GENJOT PRODUKSI PERIKANAN
Banjarmasin,18/4 (ANTARA)- Pihak pemeintah Propinsi Kalimantan Selatan melalui Dinas Perikanan dan klautan setempat akan memanfaatkan segala potensi perikanan dalam upaya meningkatkan produksi perikanan, baik untuk kebutuhan masyarakat mauun kebutuhan ekspor.
Wakil Kepala Dinas Perikanan Kalsel, Ir Hardi Elmantir dalam dialog interaktif dengan pendengar radio Abdi Persada Kantor Gubernur Kalsel, Banjarmasin Selasa mengatakan bahwa wilayah ini sangat besar potensi perikanannya untuk bsa dimanfaatkan meningkatkan produksi.
Ia menggambarkan saja potensi perikanan tersebut seperti ang terlihat pada potensi perikanan laut di kalsel mencapai 120 kilometer, perikanan umum seluas satu juta hektare.
Kemudian potensi lahan budidaya tambak enam ribu hektare, kolam 988 hektare, keramba 68 ribu hektare, serta potensi mina padi 249,1 hektare disamping potensi jaring apung 2100 M2.
Untuk menggali potensi tersebut maka tahun 2006 ini akan dilakukan kegiatan dalam upaya meningkatkan produksi perikanan masyarakat, serta untk kebutuhan ekspor.
Seperti perairan umum ang paling berpotensi meningkatkan produksi perikanan masyarakat adalah perairan berawa-rawa yang terhampar luas di kawasan banua Enam (Enam kabupaten) Utara Kalsel, sehingga hamparan rawa itu sebatas mata memandang.
Sedangkan untuk meningkatkan produksi ekspor akan dimanfaatkan potensi pertambakan air payau dipanjang garis pantai seperti Kabupaten Kotabaru, Tanah Bumbu, Tanah Laut dan Barito Kuala.
Kebutuhan ekspor ini pula dikembangkan budidaya rumput laut di Teluk Temiang Kabupaten kotabaru yang terbukti sudah memberikan hasil yang bagus hanya saja kegiatan budidaya itu belum didukung dengan distribusi dan pemasaran yang baik, padahal teknologi budidaya tersebut sudah dikuasai nelayan setempat.
Dengan kemampuan penguasaan tehnologi budidaya rumput laut nelayan setempat hanya membutuhkan waktu 40 hari sejak persemaian bibit hingga panen, makanya budidaya ini akan terus dikembangkan pada potensi lahan yang baik untuk jenis komoditi ini sehingga komoditi ini akan menjadi primadona ekspor mata dagangan sektor perikanan.
Untuk daerah Teluk Temiang ini saja produksi rumput laut tercatat antara 30 hingga 50 ton per bulan, tambahnya.
Ketika ditanya pendengar radio dalam program siaran ronda kota yang dipandu Muhari serta penyiarannya bekerjasama dengan LKBN ANTARA Biro Banjarmasin tersebut mengenai keberadaan kapal porsine dari luar Hardi mengakui kehadiran nelayan Jawa Tengah tersebut.
Serta kehadiran nelayan kapal porsine Jawa Tengah itu telah menimbulkan kecemburuan serta terjadi konflik tetapi sekarang sudah diselesaikan.
Kecemburuan tersebut terjadi karena nelayan porsine Jawa Tengah tersebut berhasil menangkap ikan dengan jumlah besar, bayangkan saja satu kapal porsine Jawa tengah mampu menangkap lima ton sekali tangkap, bayangkan jumlah kapal itu sekitar 200 buah kapal porsine maka sdah isa dibayangkan ada seribu ton ikan berhasil mereka tangkap.
Sementara nelayan lokal yang hanya menggunakan kapal biasa tidak berhasil menangkap jumlah ikan secara besar, sehingga jatah nelayan Kalsel itu dianggap diambil nelayan dari luar tersebut.
Menurutnya, kapal porsine tersebut menebarkan jaring panjang di tengtah laut antara 300 hingga 500 meter kemudian menyalakan lampu di tengah jaring tersebut untuk memanicing seranga dan plangton untuk mendekati lampu tersebut.
Serangga dab plangton itlah yang diincar ikan-ikan di laut itu untuk menjadi makanan, sehingga ikan besar dan kecil berkumpul di dekat lampu tersebut sehingga dengan mudah dapat ditangkap melalui jaring kapal porsine tersebut.
Kecemburuan lain nelayan lokal terhadap nelayan kapal porsine ini adalah phak nelayan porsine memiliki tehnoloi lebih canggih, kapal lebih besar, peralatan lebih lengkap serta modal lebih kuat.

Ikan Menyehatkan dan Mencerdaskan

Menteri Kelautan dan Perikanan, Freddy Numberi “Gemarikan (Gerakan Makan Ikan)” Meningkatnya konsumsi ikan pada masyarakat tidak hanya berarti meningkatnya asupan gizi dan protein saja. Hal ini juga mengakibatkan produksi ikan secara nasional ikut naik.

Tak dapat disangkal lagi wilayah perairan Indonesia yang luasnya mencapai 5,8 juta km2 dan didalamnya menjajikan potensi ekonomi terutama dari ikan sebagai sumber gizi tinggi. Namun saat ini, baru sekitar 58,5 persen dari potensi lestari ikan laut yang mencapai 6,18 ton juta ton per tahun yang dimanfaatkan. Ini artinya optimalisasi pemanfaatan sumber daya kelautan masih jauh dari harapan. Apalagi tingkat konsumsi ikan orang Indonesia saat ini menurut Menteri Kelautan dan Perikanan, Freddy Numberi mencapai 26 kg/kapita/tahun pada tahun 2005.

Dibandingkan dengan Malaysia yang telah mencapai 45 kg/kapita/tahun, Indonesia jauh lebih rendah. “Berangkat dari sini dibutuhkan gerakan makan ikan lintas departemen karena Tuhan telah menciptakan ikan, sedangkan manusia tinggal mengambilnya. “Tapi kenapa masyarakat Indonesia rendah makan ikannya?” Pertanyaan ini mengemuka saat Menteri Kelautan dan Perikanan, Freddy Numberi memberikan sambutan pengu-kuhan Forum Peningkatan Konsumsi Ikan Nasional (Forikan) di Jakarta, Rabu 20 September 2006.

Menteri Kelautan dan Perikanan juga menambahkan semestinya orang Indonesia gemar makan ikan, karena mereka tanpa susah payah mengambilnya. Berbeda dengan padi atau singkong yang harus ditanam. Lagi pula ikan merupakan makanan yang memiliki kandungan gizi tinggi dan dapat menambah kecerdasan otak. Ada salah satu contoh yang cukup menggembirakan yaitu di Papua. Penduduk orang-orang yang tinggal di daerah pantai banyak yang menjadi pemimpin. Ini terbukti dari zaman Belanda sampai sekarang. Gubernur Papua berasal dari Sentani yang makan ikan danau Sentani. “Makanya bupati yang berada di pedalaman minta supaya dibuatkan tambak-tambak,” tutur Freddy.

Rendahnya konsumsi ikan di negara ini, disebabkan oleh lemahnya sistem penawaran dan kekurangan suplai ikan ke daerah-daerah yang jauh dari pantai. Melalui forum ini mudah-mudahan dapat mengkomunikasikan secara terpadu dan merupakan gerakan moral makan ikan agar masyarakat Indonesia mau makan ikan, sehingga lima atau sepuluh tahun kedepan orang-orang Indonesia memiliki kecerdasan yang lebih baik seperti halnya orang Jepang. Untuk itu, “Kami telah menyiapkan seperangkat kemasan ikan yang higienis. Mungkin orang yang punya uang enggan ke pasar lantaran pasarnya kotor sehingga dapat mengurangi selera makan ikan”, ujar Freddy lagi.

Sementara itu, Direktur Jenderal Pengolahan dan Pemasaran Hasil Perikanan, Martani Huseini mengatakan pembangunan sektor perikanan sebagai bagian dari pembangunan nasional tidak hanya bertujuan untuk meningkatkan perikanan. Lebih dari itu, membangun manusia Indonesia seutuhnya yang memiliki intelektual, emosional dan spiritual yang mantap dan menjadi modal dasar bagi pembangunan.

Guna mewujudkan hal itu, DKP menetapkan program peningkatan konsumsi ikan sebagai langkah strategis menuju Indonesia yang lebih maju. Oleh karena itu, program ini harus mendapat dukungan dari semua pihak, terutama FORIKAN Indonesia sebagai motivator dan inspirator dalam upaya meningkatkan konsumsi ikan yang pada gilirannya akan menguatkan pasar dalam negeri dan kesejahteraan masyarakat.

Salah satu penyebab rendahnya konsumsi makan ikan adalah belum adanya lembaga yang mendorong peningkatan konsumsi ikan nasional. Hal ini tidak bisa dibiarkan, tetapi harus segera mendapat perhatian serius dari seluruh stakeholder perikanan dalam memadukan langkah untuk mendukung upaya peningkatan konsumsi ikan nasional.

Makan Ikan Terhindar dari Penyakit

Lebih rinci lagi, Ketua Umum Dewan Pimpinan Nasional Asosiasi Perusahaan Jasaboga Indonesia, R.A.Hj. Ning Sudjito, ST mengungkapkan ikan selain rasanya enak juga memiliki kandungan gizi yang sangat berguna bagi manusia. Kandungan gizinya dapat menyebabkan terhindar dari penyakit degeranatif seperti jantung koroner, tekanan darah tinggi, stroke dan kanker.

Belum lagi, kandungan protein pada ikan juga sangat baik. Berdasarkan penelitian ditemukan bahwa mutu protein ikan setingkat dengan protein daging, sedikit di bawah telur dan diatas protein serealia dan kacang-kacangan. Asam amino ikan dapat meningkatkan mutu protein pangan lain. Misalnya, nasi memiliki kadar asam amino lisin rendah, tetapi ikan mempunyai kadar lisin tinggi. Jadi, mengkonsumsi nasi dengan lauk ikan akan saling melengkapi, tambah Ning.

Ikan laut kaya akan lemak, vitamin dan mineral, sedangkan ikan tawar banyak mengandung karbohidrat. Ikan laut memiliki kandungan yodium tinggi yang bisa mencapai 830 mikro gram per kilogram. Berbeda dengan daging yang hanya 50 mikro gram dan telur 93 mikrogram. Selain itu, ikan laut mengandung omega-3 yang bermanfaat menurunkan kadar kolestrol dalam darah. Jadi, sering mengkonsumsi ikan laut dapat membantu mencegah terjadinya aterosklerosis dan panyakit jantung. Apalagi asam lemak omega-3 dan omega-6 pada ikan dapat meningkatkan kecerdasan anak. Asam lemak ini juga sangat membantu bagi ibu hamil yang dapat membentuk otot janin. Makanya, disarankan ibu hamil banyak mengkonsumsi ikan.

Minyak hati ikan laut juga menjadi sumber vitamin A dan D. Vitamin A yang ada dalam minyak ikan termasuk yang mudah diserap. Dengan pemberian ikan minyak hati ikan pada balita bisa mencukupi kebutuhan vitamin A dan D, serta omega-3. Sekedar tambahan, ikan laut juga banyak mengandung flour. Pada anak-anak yang cukup mendapat flour didalam makanannya membuat giginya lebih sehat. Makanya, jarang ditemui anak sakit gigi yang tinggal di pantai karena banyak mengkonsumsi ikan laut.

Gerakan makan ikan yang dicanangkan DKP ini sebenarnya juga memiliki arti yang sangat luas. Meningkatnya tingkat konsumsi ikan pada masyarakat juga berarti meningkatkan produksi ikan secara nasional. Produksi ikan secara nasional pada tahun 2005 baru mencapai 4.970.010 ton, dan target produksi ikan nasional pada tahun ini mencapai 7,7 juta ton. Harapannya, menurut Fredy Numberi, pada tahun ini tingkat konsumsi ikan perkapita akan naik menjadi sekitar 28 kg. Dibandingkan tahun 2005 maka akan ada peningkatan sekitar 2 kg per kapita.

Jika diasumsikan jumlah penduduk Indonsia saat ini mencapai sekitar 220 juta, maka produksi ikan untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri saja akan mencapai 440 juta atau sekitar 440 ribu ton. Daya serap pasar sebesar itulah yang kira-kira akan meningkat tahun ini, bila tingkat konsumsi ikan masyarakat meningkat sesuai dengan yang diharapkan.

E-mail Cetak PDF
MANFAAT IKAN BAGI KESEHATAN

———————————————–
Perkembangan Informasi memang membuat banyak perubahan dalam perilaku kesehatan masyarakat. Dulu ada anggapan. “Kalau kebanyakan makan ikan , bisa cacingan,” sehingga banyak anak kecil enggan makan ikan..Sekarang, banyak makan ikan malah dianjurkan, karena dipercaya dapat mencegah gangguan jantung.

Tampaknya dari berbagai studi kesehatan yang menghubungkan manfaat ikan dengan jantung menunjukkan bahwa jenis hewan ini benar- benar bersahabat dengan organ jantung. Sampai saat ini, memang sudah lebih dari 5.000 publikasi penelitian di dunia melaporkan manfaat menu ikan terhadap kesehatan jantung saja.Salah satu studi tertua adalah yang dilakukan dua peneliti Denmark pada tahun 1970. Mereka menemukan fakta rendahnya kasus kematian orang Eskimo akibat Penyakit jantung Koroner (PJK) walaupun mereka banyak mengkonsumsi makanan berlemak tinggi.Rahasia dibalik fakta tersebut ternyata orang Eskimo mempunyai kebiasaan menyantap daging ikan.

Apa sebenarnya yang dikandung ikan sampai dia begitu berkhasiat?
Ternyata daging ikan memiliki kandungan asam lemak omega-3 yang berperan dalam melindungi jantung. Daging ikan ini mampu menurunkan kolesterol dalam darah, memperbaiki fungsi dinding pembuluh darah.menurunkan tekanan darah,mencegah terjadinya penggumpalan darah, dan sangat diperlukan untuk pembentukan otak.

Deretan manfaat ikan ini bagi jantung masih bertambah lagi seiring penelitian para ilmuwan. Salah satu yang terbaru adalah mencegah timbulnya fibrilasi atial ( FA), suatu jenis gangguan irama jantung yang sering terjadi pada orang tua. Bukti ini dimuat dalam jurnal Circulation- sebuah jurnal kesehatan terkemuka- pada tahun 2004.

Semua kandungan positif itu tidak akan kita rasakan bila memilih ikan yang salah. Bukan salah jenis, melainkan salah memilih ikan yang tidak segar atau salah dalam proses pengolahan.Para peneliti tidak menjelaskan jenis ikan yang memberikan khasiat terbaik. Namun, ikan salmon dipercaya mempunyai kandungan omega 3 yang cukup tinggi.Berbagai cara pengolahan sebenarnya baik untuk ikan. Namun, pemasakan dengan cara digoreng atau dibakar dengan olesan mentega akan meningkatkan kadar lemak sehingga tidak disarankan untuk terlalu sering dikonsumsi. Minyak goreng yang panas akan menurunlan kadar omega -3 sehingga efek protektif bagi jantung juga berkurang. Oleh karena itu jika dapat memilih ikan bakar, kukus atau pepes, mengapa tidak?

MANFAAT IKAN BELUT

Itu salah satu contoh berkaitan dengan belut (Monopterus albus), hewan licin berbentuk seperti ular ini menjadi obyek kesenangan manusia. Namun dibalik penampilannya yang kurang menarik, bahkan sementara orang jijik melihatnya, belut merupakan makanan unggulan yang sangat lezat dan kaya berbagai zat gizi. Salah satu keunggulannya, kaya hormon kalsitonin, yang berfungsi untuk memelihara kekurangan/kesehatan tulang. Selain itu, belut juga memiliki berbagai khasiat untuk kesehatan.Di Indonesia terdapat tiga jenis ikan belut, yaitu belut sawah (Monopterus albus Zuieuw), belut rawa (Synbranchus bengalensis Mc. Clell), dan belut bermata sangat kecil (Macrotema caligans Cant). Belut sawah merupakan jenis yang paling dikenal di Indonesia, sedangkan belut rawa jumlahnya terbatas sehingga kurang begitu dikenal.Panjang seekor belut sangat bervariasi. Monopterus indicus hanya berukuran 8,5 cm, sementara belut marmer Synbranchus marmoratus diketahui dapat mencapai 1,5m.Kebanyakan budi daya belut dimanfaatkan untuk kebutuhan konsumsi. Dilihat dari komposisi gizinya, belut mempunyai nilai energi yang cukup tinggi, yaitu 303 kkal per 100 gram daging. Nilai energi belut jauh lebih tinggi dibandingkan telur (162 kkal/ 100 gram tanpa kulit) dan daging sapi (207 kkal per 100 gram).Nilai protein pada belut (18,4 g/ 100 g daging) setara dengan protein daging sapi (18,8 g/ 100g), tetapi lebih tinggi dari protein telur (12,8 g/100 g). Seperti jenis ikan lainnya, nilai cerna protein pada belut juga sangat tinggi, sehingga sangat cocok untuk sumber protein bagi semua kelompok usia, dari bayi hingga usia lanjut.

Leusin berguna untuk perombakan dan pembentukan protein otot. Asam glutamat sangat diperlukan untuk meningkatkan sistem kekebalan tubuh dan asam aspartat untuk membantu kerja neurotransmitter.

Tingginya kadar asam glutamat pada belut menjadikan belut berasa enak dan gurih. Dalam proses pemasakannya tidak perlu ditambah penyedap rasa berupa monosodium glutamat (MSG).

Kandungan arginin (asam amino nonesensial) pada belut dapat memengaruhi produksi hormon pertumbuhan manusia yang populer dengan sebutan human growth hormone (HGH). HGH ini yang akan membantu meningkatkan kesehatan otot dan mengurangi penumpukan lemak di tubuh. Hasil uji laboratorium juga menunjukkan bahwa arginin berfungsi menghambat pertumbuhan sel-sel kanker payudara.

Belut kaya akan zat besi (20 mg/100 g), jauh lebih tinggi dibandingkan zat besi pada telur dan daging (2,8 mg/ 100g). Konsumsi 125 gram belut setiap hari telah memenuhi kebutuhan tubuh akan zat besi, yaitu 25 mg per hari. Zat besi sangat diperlukan tubuh untuk mencegah anemia gizi, yang ditandai oleh tubuh yang mudah lemah, letih, dan lesu.

Zat besi berguna untuk membentuk hemoglobin darah yang berfungsi membawa oksigen ke. seluruh jaringan tubuh. Oksigen tersebut selanjutnya berfungsi untuk mengoksidasi karbohidrat, lemak, dan protein menjadi energi untuk aktivitas tubuh. Itulah yang menyebabkan gejala utama kekurangan zat besi adalah lemah, letih, dan tidak bertenaga. Zat besi juga berguna untuk meningkatkan sistem kekebalan tubuh, sehingga tidak mudah terserang berbagai penyakit infeksi.

Belut juga kaya akan fosfor. Nilainya dua kali lipat fosfor pada telur. Tanpa kehadiran fosfor, kalsium tidak dapat membentuk massa tulang. Karena itu, konsumsi fosfor hares berimbang dengan kalsium, agar tulang menjadi kokoh dan kuat, sehingga terbebas dari osteoporosis. Di dalam tubuh, fosfor yang berbentuk kristal kalsium fosfat umumnya (sekitar 80 persen) berada dalam tulang dan gigi.

Fungsi utama fosfor adalah sebagai pemberi energi dan kekuatan pada metabolisme lemak dan karbohidrat, sebagai penunjang kesehatan gigi dan gusi, untuk sintesis DNA serta penyerapan dan pemakaian kalsium. Kebutuhan fosfor bagi ibu hamil tentu lebih banyal dibandingkan saat-saat tidak mengandung, terutama untuk pembentukan tulang janinnya. Jika asupan fosfor kurang, janin akan mengambilnya dari sang ibu. Ini salah satu penyebab penyakit tulang keropos pada ibu. Kebutuhan fosfor akan terpenuhi apabila konsumsi protein juga diperhatikan.

Kandungan vitamin A yang mencapai 1.600 SI per 100 g membuat belut sangat baik untuk digunakan sebagai pemelihara sel epitel. Selain itu, vitamin A juga sangat diperlukan tubuh untuk pertumbuhan, penglihatan, dan prows reproduksi.

Belut juga kaya akan vitamin B. Vitamin B umumnya berperan sebagai kofaktor dari suatu enzim, sehingga enzim dapat berfungsi normal dalam proses metabolisme tubuh. Vitamin B juga sangat penting bagi otak untuk berfungsi normal, membantu membentuk protein, hormon, dan sel darah merah.

Meskipun mempunyai nilai gizi yang tinggi, kandungan lemak pada belut juga cukup tinggi, yaitu mencapai 27 g per 100 g. Lebih tinggi dibandingkan lemak pada telur (11,5 g/100 g) dan daging sapi (14,0 g/100 g).

Di antara kelompok ikan, belut digolongkan sebagai ikan berkadar lemak tinggi. Kandungan lemak pada belut hampir setara dengan lemak pada daging babi (28 g/100 gram). Menurut publikasi yang dikeluarkan oleh Singapore General Hospital, belut termasuk makanan berkolesterol tinggi dan wajib untuk diwaspadai.

Walaupun kadar lemaknya tinggi, belut tidak perlu dihindari dalam pola makan kita. Bagaimanapun, lemak memegang peran penting sebagai somber kelezatan, sumber energi, penyedia asam lemak esensial, dan tentu saja sebagai pembawa vitamin min larut lemak (A, D, E dan K).

Pada lemak ikan terdapat vitamin D yang cukup tinggi, yaitu 10 kali lipat dibandingkan bagian dagingnya dan 50 kali lipat vitamin D yang terdapat pada susu. Vitamin D sangat berguna bagi tubuh untuk membantu penyerapan kalsium dan menghalanginya dad proses resorpsi (pelepasan kalsium dad tulang).

Upaya untuk mengurangi kadar lemak pada belut adalah dengan cara dipanggang di atas bara api. Proses pemanggangan akan menyebabkan lemak mencair dan keluar dari daging belut, menetes ke bara api. Sebaiknya belut tidak diolah dengan cara digoreng, agar kadar lemaknya tidak bertambah banyak.

Seperti pada jenis ikan lain, belut juga mengandung asam lemak omega 3. Kadar omega 3 pada lemak ikan, termasuk belut, sangat bervariasi tetapi berkisar antara 4,48 persen sampai dengan 11,80 persen. Kandungan omega 3 pada ikan, tergantung kepada jenis, umur, ketersediaan makanan, dan daerah penangkapan.

Dan hasil penelitian, diketahui bahwa bagian tubuh ikan memiliki lemak dengan komposisi omega 3 yang berbeda-beda. Kadar omega 3 pada bagian kepala sekitar 12 persen, dada 28 persen, daging permukaan 31,2 persen, dan isi rongga perut 42,1 persen (berdasarkan berat kering).

KHASIAT IKAN TONGKOL
——————————-

Bagi lidah Indonesia, ikan tongkol atau dalam bahasa latinnya adalah Thunnus maccoyii sangatlah cocok. Daging ikan tongkol sangat gurih, padat dan mudah diolah menjadi berbagai menu makanan sehingga ikan ini menjadi pilihan yang tepat untuk menjadi menu makanan sehari-hari. Selain itu, ikan tongkol juga memiliki kandungan protein yang tinggi dan sangat cocok dikonsumsi oleh anak-anak dalam masa pertumbuhan. Karena itulah ikan tongkol sebagai menu makanan laut sangat disarankan karena rasanya sangat enak dan bergizi. Bagi anda yang memiliki alergi terhadap makanan laut, anda tidak usah khawatir karena anda bisa menangkalnya dengan minum air rebusan tanaman kumis kucing. Obat atau ramuan ini dapat menghambat gejala akibat alergi terhadap ikan tongkol.

Di pasar ikan, tongkol biasanya dijual dalam keadaan sudah matang atau diasap. Namun jika yang anda cari adalah kandungan gizinya, akan lebih baik jika anda membeli tongkol segar untuk dimasak sendiri di rumah. Nilai gizi tongkol terletak pada cairan tertentu yang keluar saat diolah (bisa direbus, dikukus atau digoreng). Seandainya saja anda membeli tongkol asap, cairan yang terkandung dalam daging tongkol itu tentunya sudah menguap dan nilai gizinya berkurang banyak.

Selain lezat dan bergizi, tongkol juga memiliki khasiat yang cukup spesifik, yaitu merangsang pertumbuhan sel-sel darah merah dan menghambat proses penuaan. Makannya, jika ingin awet muda, disarankan untuk mengkonsumsi daging ikan tongkol. Jika dikonsumsi secara rutin, minimal tiga kali dalam seminggu sebagai menu utama, penyakit semacam rheumatic dan anemia akan sulit mengganggu anda. Khasiat tongkol lainnya adalah untuk mengobati penyakit antara lain:

1.Rheumatic dan Linu Tulang

Anda dapat memperoleh khasiat ikan tongkol yang ini dengan menjadikannya sebagai menu utama sehari-hari. Anda bisa merebus atau menggorangnya, tergantung selera. Karena khasiatnya terletak pada daging, akan sangat baik jika kita mengolah ikan tongkol segar. Untuk terapi Rheumatic yang serius, sebaiknya dikonsumsikan tiap hari dengan porsi yang cukup. Sedangkan untuk terapi ringan, cukup 2-3 kali dalam seminggu. Selam pengobatan ini, hindari mandi malam, hawa dingin, atau olah raga berlebihan.

2.Anemia atau Lesu Darah

Tanda-tanda anemia adalah cepat capek, pegal-pegal dipersendian , pucat, kuku dan kelopak mata pucat, dan terdapat garis-garis hitam dibawah mata. Jika anemia menyerang, segera, segera atasi. Pada kondisi tubuh yang demikian, virus mudah menyerang karena kekebalan tubuh sangat menurun. Yang harus dilakukan oleh tubuh adalah segera membentuk sel-sel darah merah agar sistem kekebalan menguat kembali. Kandungan alami dalam ikan tongkol sangat baik untuk merangsang pembentukan sel darah merah. Namun pengolahannya harus direbus, dan dimakan dengan kuahnya sekaligus.

Sebab jika melalui proses penggorengan, beberapa jenis protein akan rusak. Sebagai pengobatan, biasakan 3-4 kali dalam seminggu untuk mengkonsumsinya.

3.Mencegah Ejakulasi Dini

Jika kehidupan pasutri anda sedang menurun, mungkin saja disebabkan oleh berbagai faktor. Di sini apotek laut akan membantu anda dalam menghindarkan ejakulasi dini dan bisa tahan lama .

Caranya : ambil insang pada tongkol segar, rebus dengan daun jeruk purut 2 – 3 lembar dan sedikit garam hingga mendidih. Minum ramuan ini 1 – 2 jam sebelum berhubungan. Sedangkan bagi wanita cukup mengkonsumsi dagingnya secara teratur, akan meningkatkan vitalitas, termasuk di dalam urusan pasutri anda.

ANEKA UMPAN UNJUN (KAIL) YANG BANYAK DIJUAL BELIKAN DI KALSEL

ALAT TANGKAP IKAN TRADISIONAL KALSEL

Cara2 tradisional tangkap ikan

Menangkap ikan dengan menyumpit

Ikan adungan hasil tangkapan

 

Tangkap ikan pakai Hancau

10 Tanggapan

  1. om…
    kena buati lagi gambar iwaknya…
    kaya haruan, papuyu, kalatau, sapat, kapar, lundu, julung-julung, tauman, dan lain-lain…
    kalo ada tadapat gambarnya…..

  2. om…….
    tambahin dunk foto2 ikannya???
    seperti ikan tambakan dan ikan laut juga seperti ikan tenggiri??

  3. lundu nya mana, panting kedada jua, seluang maginnya kedada lalu, kapar kedada jua, hayooooooooooooooooo, mana?

  4. Oh sebab anak-anaknya diumpankan ke Louhan kah menurunnya populasi haruan? Tahun 70 an saya suka memancing haruan di kolam depan rumah. Anak-anaknya yang berkerumun di permukaan air menjadi tanda ada induk haruan dibawahnya. Biasanya orang cukup mengganggu kumpulan anak haruan, dengan mata kail. Tidak lama sang induk akan menyambarnya. Sekarang (baru) saya berfikir kejam sekali cara mengail seperti itu.

    • Menangkap ikan haruan dengan caramengganggu anaknya, ditempat saya disebut membandan pak edy

  5. hundang galah kenapa kadada tabuat?,

  6. Alhamdulilah, terima kasih banyak Pak. rasa2nya udah balik kampung cuma dengan meliat aja. maju terus ya

  7. perasaan saya ikan2 itu banyak juga di palembang kampung saya . . .
    sperti Haruan/gabus , Papuyuh/Betok , ikan tilan , ikan belida untuk kerupuk khas palembang , baung . tapa , dll . . .
    so , yg nama nya ikan lokal atau ikan asli kalsel yg mana . . . ? ? ?

  8. Thanks for sharing such a nice opinion, post is nice, thats why i have
    read it completely

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 38 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: