PEMANASAN GLOBAL PICU DBD KIAN GANAS

PEMANASAN GLOBAL PICU DBD KIAN GANAS
     Oleh Hasan Zainuddin
   Banjarmasin,26/11 (ANTARA)- Dulu, 30 tahun lalu penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) disebut penyakit aneh, lantaran hanya beberapa orang saja yang terserang.
        Kala itu, DBD sama dengan flu burung sekarang, aneh dan sulit diobati.
        “Dulu DBD juga hanya menyerang anak di bawah 10 tahun saja, tidak menyerang orang dewasa,” kata Dosen senior Fakultas Ilmu Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia (UI) Dr. Zarfil Talal, dalam Seminar Penanggulangan DBD yang di Universitas Islam Kalimantan (Uniska), Banjarmasin, Sabtu (24/11).
        Bahkan serangan DBD juga hanya terdengar di Jakarta dan Surabaya, sementara daerah lain tak pernah. Belakangan DBD terus menyebar bukan saja di kota-kota besar tetapi hingga ke kabupaten, kecamatan dan desa-desa.
        DBD juga bukan hanya menyerang anak-anak tetapi semua orang termasuk para jompo.
        Dulu para ahli menyimpulkan, orang yang sudah pernah terserang DBD tidak akan terserang lagi. Tetapi kini serangan DBD bisa berulang-ulang terhadap pasien yang sama.
        Kenyataan itu telah membuktikan penyakit ini telah berubah menjadi lebih ganas dan itu diperkirakan lantaran perubahan iklim global dan meningkatnya efek rumah kaca di atmosfer bumi, kata Zarfil Talal.
        Penyebaran penyakit DBD, terus meluas di seluruh Indonesia tak terkecuali di Kalsel ini. Kepala Dinas Kesehatan Kalimantan (Kalsel), dr Rosehan Adhani mengatakan serangan penyakit DBD di wilayahnya sudah ditetapkan sebagai kejadian luar biasa (KLB), karena korbannya dua kali lipat dibandingkan sebelumnya.
        “Selama 2007 saja, korban DBD di Kalsel sudah mencapai 1.288 orang, suatu jumlah kasus yang sudah mengkhawatirkan,” katanya.
        Kasus DBD di Kalsel paling banyak terjadi antara Januari hingga Maret 2007, mencapai 1010 kasus. Serangan itu menyebabkan 15 orang meninggal dunia. Rata-rata karena pasien terlambat ke rumah sakit.
        Rosehan Adhani menduga DBD kian merebak erat kaitannya  dengan perubahan musim yang tak lagi beraturan.
        “Tahun ini musim hujan begitu panjang. Cuaca demikian, memberikan peluang nyamuk aedes agypti bertelur berulang-ulang,” ujarnya.
        Akibatnya pertumbuhan nyamuk “si belang” itu menjadi tak terkendali. Nyamuk-nyamuk itulah yang menebar virus dengue –virus penyebab demam berdarah– ke tubuh manusia.
        Kasus DBD di Kalsel terbanyak di Tanah laut, kemudian Tabalong, Hulu Sungai Selatan (HSS), Hulu Sungai Tengah (HST), Banjarbaru, Hulu sungai Utara (HSU) dan Kota Banjarmasin.
        “DBD menyebabkan kematian terbanyak di Kabupaten Barito Kuala,” katanya.
        Tarfil Talal, yang juga anggota Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) itu menyatakan, penanggulangan DBD yang dilakukan selama ini tidak membuahkan hasil berarti.
        Padahal semua orang sudah tahu bahwa penyakit tersebut ditimbulkan virus yang disebarkan oleh media nyamuk, dan sebenarnya pemberantasan itu relatif mudah.
        “Bila nyamuk sudah tidak ada lagi, maka DBD akan hilang,” katanya.
        Lihat saja pengalaman Singapura yang bertekad memberantas DBD dengan tidak membiarkan sarang-sarang nyamuk. Terbukti setelah nyamuk di negara tersebut hilang, maka tidak pernah terdengar lagi serangan DBD.
        Upaya Singapura harus dicontoh. Negeri kecil itu tak membiarkan selokan terbuka, sampah berserakan, serta kaleng dan apa saja yang membuat nyamuk mudah bersarang.
        Melihat kian merebaknya serangan DBD di Kalsel, Rosehan Adhani mengajak semua kalangan masyarakat ikut berpartisipasi menanggulangi penyakit tersebut agar tidak kian meluas.
        Dinas Kesehatan Kalsel selama ini berupaya memberantas sarang DBD melalui fogging dan abatisasi.
        “Segeralah melaporkan bila ada serangan DBD. Kami akan melokalisir lokasi itu dengan foging pada radius 100 meter atau 10 hingga 20 rumah.”
        Perubahan Paradigma
      Pencegahan DBD di Kalsel belum berhasil, terbukti dengan masih meningkatnya angka kejadian DBD. Oleh karena itu sejumlah kalangan menyarankan perubahan paradigma dalam penanganan penyakit tersebut.
        Strategi penanganan DBD sekarang ini lebih banyak intervensi ke manuasianya bukan lingkungan. Padahal penyebab utama DBD adalah lingkungan.
        “Kalau Kalsel ingin bebas dari Penyakit DBD maka paradigmanya harus diubah dari kuratif (pengobatan) ke promotif preventif (peningkatan pencegahan),” ujar Fahrurazi, penggagas Seminar Penanggulangan DBD di Banjarmasin.
        Komitmen ini harus ada pada pimpinan daerah provinsi, Kabupaten dan Kota untuk bersama-sama membuat kebijakan pencegahan DBD.
        “Keberhasilan penggunaan metode promotif preventif itu telah dirasakan oleh Mojokerto. Penyakit Demam Berdarah di daerah tersebut tahun 2007 turun drastis,” kata Fahrurazi dalam seminar yang diikuti ratusan praktisi kesehatan, mahasiswa dam umum.
        Di daerah itu, partisipasi masyarakat untuk pembiayaan kesehatan juga tinggi, mencapai 80 persen.
        Apa itu DBD?
    DBD pertama ditemukan pada tahun 1780-an secara bersamaan di Asia, Afrika dan Amerika Utara. Penyakit ini dinamai pada 1779. Wabah besar global dimulai di Asia Tenggara pada 1950-an dan hingga 1975. Demam berdarah saat itu telah menjadi penyebab kematian utama anak-anak di wilayah itu.
        DBD adalah penyakit febril akut yang ditemukan di daerah tropis, dengan penyebaran geografis yang mirip dengan malaria.
        Penyakit ini disebabkan oleh salah satu dari empat serotipe virus dari genus flavivirus, famili flaviviridae. Setiap serotipe berbeda sehingga tidak ada proteksi-silang dan wabah yang disebabkan beberapa serotipe (hiperendemisitas) dapat terjadi. Demam berdarah disebarkan kepada manusia oleh nyamuk aedes aegypti.
        Keberadaan virus dengue dalamn tubuh ditunjukkan melalui munculnya demam secara tiba-tiba, disertai sakit kepala berat, sakit pada sendi dan otot (myalgia dan arthralgia) dan ruam. Ruam demam berdarah mempunyai ciri-ciri merah terang, petekial dan biasanya muncul pada bagian bawah badan. Pada beberapa pasien bercak itu menyebar hingga seluruh tubuh.
       Selain itu, radang perut bisa juga muncul dengan kombinasi sakit di perut, rasa mual, muntah-muntah atau diare.
        Masa tunas (inkubasi) demam berdarah umumnya antara 3 – 15 hari, dengan puncak demam yang lebih kecil terjadi pada akhir masa demam.
        Sesudah masa tunas, orang yang tertular akan mengalami salah satu dari empat bentuk berikut ini;
       1. Abortif, penderita tidak merasakan suatu gejala apapun.
       2. Dengue klasik, penderita mengalami demam tinggi selama 4 – 7 hari, nyeri-nyeri pada tulang, diikuti dengan munculnya bintik-bintik atau bercak-bercak perdarahan di bawah kulit.
       3. Dengue Haemorrhagic Fever (Demam berdarah dengue/DBD) gejalanya sama dengan dengue klasik ditambah dengan perdarahan dari hidung (epistaksis/mimisan), mulut, dubur dsb.
       4. Dengue Syok Sindrom, gejalanya sama dengan DBD ditambah dengan syok/presyok. Bentuk ini sering berujung pada kematian.
       Karena seringnya terjadi perdarahan dan syok maka pada penyakit ini angka kematiannya cukup tinggi, oleh karena itu setiap penderita yang diduga menderita Penyakit DBD dalam tingkat yang manapun harus segera dibawa ke dokter atau rumah sakit.

KUE TRADISONAL “APAM BARAS” DOMINASI HIDANGAN LEBARAN

Oleh Hasan Zainuddin

Gema takbir dan tahmid berkumandang dengan bersahut-sahutan di antara dua surau diiringi pukulan bedug bertalu-talu menandakan hari itu hari itu sebagai Hari Raya Idul Fitri.

“Maaf lahir dan bathin”. Kalimat pendek itu biasanya terdengar dari mulut orang desa Galumbang Kecamatan Paringin, Kabupaten Balangan kawasan kaki pegunungan Meratus yang merupakan daerah pedalaman Propinsi Kalimantan Selatan yang merupakan sub dari Suku Banjar.

Sambil bersalam-salaman para warga desa itu lazimnya merayakan hari kemenangan tersebut sambil mencicipi hidangan lebaran yang sudah disediakan para ibu-ibu di setiap rumah kawasan yang berhawa dingin itu.

Kawasan desa yang berada di sepanjang sungai Pitap berair deras itu pun akan tampak terlihat semarak, jumlah orang terlihat meningkat hampir satu kali lipat dibandingkan hari biasa.

Maklum kawasan permukiman yang geografisnya agak berada di tengah antara jarak Banjarmasin ibukota propinsi Kalsel dengan Balikpapan di provinsi tetangga Kalimantan Selatan itu merupakan desa yang penduduknya suka merantau.

apam baras habang     apam baras putih

Tujuan warga desa itu untuk merantau, khususnya generasi mudanya adalah Banjarmasin, ibukota Kalsel, atau ke Samarinda dan Balikpapan Kaltim.

Saat-saat hari raya seperti ini biasanya perantau yang sudah beberapa dasawarna berada di kampung orang itu, rindu pulang kampung waktu tepat adalah musim lebaran.

Maksudnya selain sungkeman kepada orang tua, sanak famili sekaligus juga berziarah ke makam orang tua atau sanak famili yang sudah meningal dunia.

Para pendatang yang umumnya berhasil mengadu nasib di kota itu rindu kampung halaman sekaligus bernostalgia mencicipi berbagai hidangan khas setempat terutama di saat musim lebaran.

Kerinduan semacam itu itu biasanya mampu menyingkirkan penganan atau biskuit serta makanan kecil yang dibuat secara modern yang dibeli di super market yang dibawa para pendatang itu ke kampung halaman.

Pada saat itu, menu yang dinikmati mereka justru kue-kue tradisional setempat yang mendominasi kue “apam baras”.

Kue apam yaitu satu kue tradisional yang dibuat melalui hasil permentasi kemudian dikukus dan dihidangkan setelah dibubuhi berbagai campuran termasuk gula aren (enau) untuk apam habang dan gula pasir untuk apam putih.

Bahkan untuk lebih dianggap nikmat lagi maka tak jarang apam yang sudah manis itu dikasih “juruh” (cairan gula aren) yang beraroma buah-buahan seperti aroma durian atau aroma “pempakin” (buah jenis durian tapi bewarna kuning).

Hidangan lebaran di berbagai desa wilayah kaki Pegunungan Meratus yang tidak jauh dari pemukim suku Dayak Pitap tersebut memang beraneka ragam.

Bukan hanya apem yang dihidangkan penduduk setempat yang mayoritas beragama Islam tersebut, tetapi juga kue-kue tradisional yang lain. Bahkan kue tradisional lainnya itu termasuk kue langka yang biasanya hanya dibuat saat lebaran atau acara-acara kenduri yang bersifat sakral.

Taruhlah kue tradisional dimaksud seperti kue lemper, kue cucur, lemang, tapei ketan atau tapei ubi kayu, cingkarok batu, pupudak, gagatan, bulungan hayam, kikicak, kraraban, pais waluh, dan lainnya.

Ada di antara kue yang dihidangkan itu dinilai sakral dan tak sembarang orang boleh membuatnya, sebab kalau tidak mengindahkan kaidah yang sudah dipercayai dan berlaku di kawasan tersebut maka pembuat kue itu bisa kualat.

Kue yang bersifat sakral tersebut, seperti lemang, wajik, bubur habang, bubur putih, cucur, serta kue sasagon.

Kue-kue ini oleh nenek moyang dulu dibuat dan digunakan untuk suguhan acara tertentu, seperti acara pengobatan untuk pasien yang sakit.

“Tak bisa dipungkiri kepercayaan nenek moyang di kawasan pedalaman Kalimantan Selatan ini masih kental nuansanya dan mempengaruhi budaya warga hingga sekarang, karena nenek moyang warga setempat beraliran animesme kaharingan yang terdapat pula nilai-nilai Hindu,” kata seorang penduduk setempat.

Seorang pemudik lebaran dari Banjarmasin Abumansyur menyatakan bahagia ketika pulang kampung, karena ia bisa bernostalgia mencicipi kue-kue zaman dulu.(*)

KEARIFAN LOKAL SUKU BANJAR LAHIRKAN KEBIJAKAN RAWA NASIONAL

        Oleh Hasan Zainuddin
          Banjarmasin, 7/8 (ANTARA)- Pemanfaatan lahan rawa untuk pertanian di wilayah Provinsi Kalimantan Selatan (Kalsel) diperkirakan telah terjadi sejak zaman kerajaan Majapahit, abad ke-13 masehi ketika kerajaan tersebut melakukan perluasan pengaruhnya hingga ke Kalimantan khususnya wilayah pantai selatan pulau tersebut.
         Rektor Universitas Lambung Mangkurat (Unlam) Banjarmasin, Prof. Ir HM Rasmadi, MS mengatakan, sebenarnya warga Banjar yang tinggal di Provinsi Kalsel sudah memanfaatkan lahan rawa sejak zaman kerajaan hingga zaman kolonial lalu.
         Sistem yang dikembangkan untuk membuka lahan rawa menjadi lahan pertanian adalah dengan sistem Anjir dan Handil, katanya ketika seminar nasional mengenai rawa di Banjarmasin, Selasa (5/8) lalu.
         Anjir adalah yang menghubungkan dua buah sungai besar dan sebelah kiri dan sebelah kanan anjir dikembangkan menjadi lahan pertanian.
         Handil adalah kanal kecil yang dibuat memotong atau tegak lurus sungai atau anjir sejauh 1-2 kilometer. Sama halnya dengan sistem anjir, di sebelah kiri dan kanan handil dikembangkan menjadi lahan pertanian.
         Masyarakat pahuluan (kawasan enam kabupaten Utara Kalsel) Kalsel sebagian bermigrasi ke daerah rawa yang baru dibuka dan menempati wilayah sepanjang anjir atau handil dan membangun peradaban baru sesuai dengan kondisi wilayah.
         Seringkali nama pemukiman baru dinamai dengan daerah asal mereka atau nama tokoh masyarakat. Pengalaman mengembangkan lahan rawa ini akhirnya melahirkan kearifan lokal (indigeneous knowledge) seperti menajak, memuntal, mencacah, serta lain-lainnya.
         Kemampuan mengikuti irama alam dan kearifan lokal yang dimiliki ternyata juga diterapkan di daerah lain ketika masyarakat Banjar bermigrasi ke daerah lain, seperti ke sepanjang Timur Sumatera Banyak dijumpai masyarakat asli Banjar, seperti di daerah Kabupaten Indragiri Hilir, Provinsi Riau.
         Setelah pengelolaan rawa terus berkembang dengan baik maka akhirnya lahan yang dulunya dianggap tak bernilai karena kadar keasaman air yang tinggi berubah menjadi lahan yang subur.
          Dalam seminar yang diikuti ahli lahan rawa Indonesia tersebut terungkap bahwa perkembangan pemanfaatan rawa di Kalsel dimulai ditepian Sungai Martapura dan Sungai Barito.
         Guna memenuhi kebutuhan pangan maka diusahakanlah lahan rawa itu dengan cara pembuatan saluran-saluran air yang dapat mengatur ketersediaan air untuk tanaman dan kebutuhan sehari-hari, serta sebagai sarana transportasi masyarakat setempat.
         Pada masa awal, banyak masyarakat zaman dulu yang tinggal di daerah rawa-rawa di tepi sungai sehingga mereka bisa memahami manfaat dari gerakan air pasang surut. Waktu pasang air sungai masuk rawa-rawa dan waktu surut air kembali ke sungai.
         Tanah rawa tepi sungai ini makin lama makin habis atau dengan kata lain semakin jauh dari tempat tinggal penduduk, maka mulailah penduduk meluaskan pengaruh pasang surut itu ke arah pedalaman, dengan membangun parit-parit, dari sungai masuk ke dalam daerah rawa dengan harapan agar air sungai bisa keluar masuk  daerah rawa melalui parit-parit tersebut.
         Dengan proses aliran air pasang surut tersebut, makin lama tanah sekitar parit menjadi baik dan subur hingga bisa ditanami padi.
         Pada tahun 1890 Anjir Serapat sepanjang 28 kilometer yang menghubungkan Sungai Kapuas (wilayah Kalimantan Tengah) dan Sungai Barito (wilayah Kalsel) dimulai digali. Pertama-tama penggalian dilakukan dengan tangan, tujuan utama dari penggalian Anjir ini adalah untuk jalur lalu-lintas air.
         Pada tahun 1935 Anjir ini diperlebar dan diperdalam dengan kapal keruk. Sebagai dampak positif dari pembangunan Anjir ini maka tata air di daerah sekitarnya menjadi baik dan cocok untuk persawahan.
         Sejak saat itulah secara spontan banyak orang yang membuka persawahan di sekitar saluran Anjir tersebut dan akhirnya menjadi pemukiman penduduk, khususnya petani yang menggarap lahan sawah di sekitar rawa-rawa Anjir.
         Sementara itu pembukaan jalan raya di sekitar Kota Banjarmasin pada era tahun 1920-an dengan cara menggali dan mengurug hasil galian untuk badan jalan akhirnya terbentuk jaringan saluran air atau drainase daerah sekitar pembuatan jalan tersebut.
         Karena tersedianya saluran air dan jalan maka mulailah warga saat itu tertarik bertempat tinggal di tepi jalan dan daerah drainase lalu membuka pertanian lahan rawa, khususnya mengembang padi.
         Usaha pertanian ini berkembang baik dan membuat kawasan tersebut menjadi sentra persawahan yang sangat subur dan dikenal sebagai “gudang”-nya beras Kota Banjarmasin yaitu yang disebut daerah Gambut yang dikenal memang daerah lahan bergambut.
         Akibat hasil padi yang melimpah itulah maka daerah Gambut yang sekarang menjadi wilayah Kecamatan Gambut Kabupaten Banjar dinamakan daerah “Kindai Lumpuar”(lumbung penuh padi).
         Melihat kenyataan bahwa orang jaman dulu berhasil memanfaatkan rawa pasang surut maka mulai tahun 1957 pemerintah diputuskan membuka persawahan pasang surut secara besar-besaran di tanah air.
         Saat pertama pembukaan lahan pasang surut dipakai sistem kanalisasi, pelaksanaan proyek kanalisasi dimulai wilayah Kalteng dan Kalsel.
         Disamping kanal yang merupakan saluran primer pemerintah menggali pula saluran sekunder dengan harapan drainase di daerah itu dapat berjalan lancar.
         Sebagai proyek percontohan adalah “Proyek Basarang” kemudian tahun 1969 ditetapkan oleh pemerintah sebagai awal dari pembukaan persawahan pasang surut secara besar-besaran di tanah air yang membuka lahan 5.2 juta hektare sawah di Sumatera dan Kalimantan.
                      
                         Satu juta Ha
    Khusus di wilayah Kalsel, seperti diungkapkan Kepala Dinas Pemukiman dan Prasarana Wilayah (Kimpraswil) Kalsel Ir HM Arsyadi terdapat sejuta hektare lahan rawa yang terhampar luas di wilayah propinsi ini menunggu digarap untuk meningkatkan produksi pertanian.
          “Jumlah lahan rawa Kalsel tercatat 1,4 juta hektare, tetapi 400 ribu hektare sudah dikelola tinggal sejuta hektare lagi yang menunggu dikembangkan,” kata Arsyadi di tengah seminar itu.
          Dengan jumlah lahan rawa yang luas tersebut bisa dikembangkan menjadi lahan pertanian maka akan bisa meningkatkan penambahan pangan nasional, karena bukan hanya bisa dikembangkan tanaman padi juga ubi-ubian, kacang-kacangan, hortikultura lainnya, termasuk sayuran.
          Itu bisa dilihat dari 400 ribu hektare lahan rawa yang sudah dikembangkan di Kalsel ternyata telah menghasilkan produksi pertanian yang tidak sedikit.
          Hanya saja diakui tingkat produktivitas lahan rawa yang sudah dikelola tersebut belakangan ini agak menurun makanya perlu direvitalisasi lagi, serta pengembangan budidaya rawa yang lebih maju, agar lahan rawa tersebut bisa meningkat produksinya dari yang sudah-sudah.
          Oleh karena itu, ia berharap seluruh pakar rawa bisa mengkaji lebih dalam bagaimana agar lahan rawa tersebut produksi hasil pertaniannya bisa sebanding dengan lahan kering, lahan tadah hujan atau lahan beririgasi lainnya.
          Mengingat di lahan rawa ada kandungan asam yang tinggi, makanya perlu pengelolaan lahan secara baik dan benar agar tingkat keasaman lahan tersebut berkurang, hingga lahan subur bisa ditanami tanaman pertanian apa saja.
         Harapan Ir Arsyadi tertuju kepada pakar di Universitas Lambung Mangkurat (Unlam) Banjarmasin yang sudah lama mengkaji soal lahan rawa tersebut, dan kalau bisa Unlam menjadi perguruan tinggi pioner dalam hal pengkajian lahan rawa tersebut
    Pengkajian mengenai lahan rawa itu dinilai penting untuk masa depan bangsa ini, mengingat terdapat sekitar 39 juta hektare lahan rawa di Indonesia masih belum digarap maksimal.
         Padahal lahan yang menyebar di berbagai wilayah tersebut potensial dimanfaatkan khususnya untuk pertanian, lebih khusus pengembangan tanaman padi guna menambah cadangan pangan nasional.
         Dari luas 39 hektare lahan rawa tersebut sebanyak 24 juta hektare potensial untuk tanaman padi.Rawa tersebut terdiri dari rawa pasang surut sekitar tujuh juta hektare dan rawa non pasang surut sekitar 32 juta hektare.
         Dilihat dari penyebarannya di tiap pulau, Sumatera sekitar 13 juta hektare, Kalimantan 12 juta hektare, Sulawesi 0,5 juta hektare, serta wilayah Irian Jaya sekitar 12 juta hektare. Luas lahan rawa tersebut dibandingkan luas seluruh daratan di empat pulau tersebut diatas sekitar 168,4 juta hektare adalah sekitar 23,4 persen.
         Rektor Unlam ingin menjawab tantangan itu, karena tambahnya Unlam dengan pola ilmiah pokok atau keunggulan lahan basah berkepentingan dengan sumberdaya rawa.
         Jumlah penelitian dengan topik lahan rawa terus meningkat. Dalam lingkup pendidikan tinggi, sejak tahun 2007-2010 Unlam dipercaya untuk menerapkan konsep pengembangan rawa terpadu melalui proyek IMHERE (Indonesia Managing Higher Education Relevance and Efficiancy).  Disamping itu, Unlam telah membangun Stasiun Rawa di daerah Jajangkit yang dikelola oleh lembaga penelitian Unlam.

PARADIGMA PENANGANAN PENYAKIT DBD DI KALSEL HARUS DIRUBAH

Oleh Hasan Zainuddin
Banjarmasin,27/11 (ANTARA)-Pencegahan penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD)di Provinsi Kalimantan Selatan belum berhasil, terbukti  incident rate meningkat bahkan daerah tertular lebih banyak, karena perlu perubahan paradigma penanganan penyakit tersebut.
Strategi penanganan Penyakit DBD sekarang ini lebih banyak intervensi ke manuasianya bukan pada lingkungan, padahal  penyebab utama Penyakit Demam berdarah adalah lingkungan yang diakibatkan oleh perilaku manusia, demikian kseimpulan seminar penanganan DBD di Kalsel, seperti diutarakan Ketua Panitia seminar penanganan DBD, Drs.Fahrurazi, M.Si, kepada ANTARA, di Banjarmasin Selasa.
Kalau Kalsel ingin bebas dari Penyakit DBD maka paradigmanya harus dirubah dari kuratif (pengobatan) ke promotif preventif (peningkatan pencegahan).
“Komitmen ini harus ada pada pimpinan daerah provinsi (Gubernur), Kabupaten/Kota (Bupati/Walikota),serta DPRD untuk bersama-sama membuat kebijakan tentang pencegahan Penyakit DBD sebagaimana kesimpulan seminar yang diselanggarakan Fakultas Ilmu Kesehatan Masyarakat (IKM) Universitas Islam Kalimantan, Muhamad Arsyad Al Banjari (Uniska),” kata Fahrurazi.
Seperti yang dicontohkan dalam seminar yang diikuti ratusan peserta dari kalangan mahasiswa IKM dan kalangan kesehatan dam umum keberhasilan daerah Mojokerto setelah terjadi perubahan paradigma, Penyakit Demam Berdarah didaerah tersebut tahun 2007 turun drastis.
Padahal tahun 2006 Mojokerto juga diserang wabah penyakit demam berdarah, bahkan sempat dilakukan fogging menyeluruh.

wagub Kalsel Rosehan NB lakukan pengasapan jentik nyamuk DBD
Partisipasi masyarakat untuk pembiayaan kesehatan sudah cukup tinggi mencapai 80 persen (20 persen Pemerintah) tetapi hampir semuanya adalah kuratif (pengobatan) inilah tugas Dinas Kesehatan (promosi Kesehatan) melakukan advokasi kepada pimpinan daerah dan masyarakat agar partisipasi kuratif berubah ke partisipasi promotif preventif, tambahnya.
Seminar yang berlansung, Sabtu (24/11) menampilkan nara sumber utama seorang pakar kesehatan, Dr.dr.Zarfil Talal yang juga dosen senior Fakultas IKM Universitas Indonesia (UI).
Sementara Kepala Dinas Kesehatan Kalimantan (Kalsel), dr Rosehan Adhani mengatakan bahwa serangan penyakit DBD di wilayahnya sudah dianggap kejadian luar biasa (KLB) karena dua kali lipat dibandingkan sebelumnya.
Selama tahun 2007 ini saja serangan DBD di wilayah Kalsel sudah tercatat 1288 kasus, suatu jumlah kasus yang sudah mengkhawatirkan, katanya.
Kasus serangan DBD di Kalsel berdasarkan catatan paling banyak terjadi pada rentang waktu antara Januari hingga Maret 2007 atau sekitar  tiga bulan yang mencapai 1010 kasus, katanya saat seminar tersebut.
Dari kasus DBD tahun 2007 ini ternyata yang menyebabkan meninggal dunia sebanyak 15 orang. Dari kasus meninggal ini disebabkan pasien terlambat dibawa ke rumah sakit untuk diobati.
Rosehan Adhani sendiri juga menduga serangan DBD yang kian merebak belakangan ini erat kaitannya dengan perubahan cuaca secara global, dimana musim tak lagi beraturan, termasuk tahun ini musim hujan begitu panjang, dimana seharusnya kemarau tetapi hujan terus-terusan apa yang disebut sebagai kemarau basah.     Dengan cuaca demikian maka memberikan peluang kepada nyamuk penyebab DBD untuk bertelur berulang-ulang.
Serangan DBD di Kalsel terbanyak kasusnya di Tanah laut, kemudian tabalong, Hulu Sungai Selatan (HSS), Hulu Sungai Tengah (HST), Banjarbaru, Hulu sungai Utara (HSU) dan Kota Banjarmasin.
Kasus serangan DBD yang menyebabkan meninggal dunia terbanyak di Kabupaten Barito Kuala, katanya.

berita-berita

—————
Delapan Meninggal Karena DBD

BANJARMASIN – Dari Januari sampai Oktober 2008, terjadi 731 kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) di Kalimantan Selatan, dan delapan orang diantaranya meninggal dunia.

Berdasarkan data Dinas Kesehatan (Dinkes) Kalsel, kasus DBD terbanyak di Kota Banjarmasin meliputi 103 penderita, empat diantaranya meninggal dunia. Disusul Kota Banjarbaru sebanyak 55 korban, empat diantaranya meninggal dunia, dan Kabupaten Tanah Laut yang mencapai 53 kasus.

Untuk mengantisipasi merebaknya DBD menjelang musim hujan ini, Kepala Dinkes Kalsel Rosihan Adhani kepada wartawan, Rabu (15/10), mengatakan, pihaknya akan melakukan tindakan dini, seperti fogging (pengasapan), sebelum terjadi penularan.

Bila dibanding dengan kasus DBD tahun sebelumnya, menurut dia, angka DBD tahun ini mengalami penurunan yang cukup besar, baik jumlah kasus maupun korban yang meninggal. “Tahun 2007 ada 1.321 kasus DBD, dengan jumlah korban meninggal 16 orang,” ujarnya membandingkan.

Rosihan memprediksi, penurunan itu merupakan pengaruh positif gerakan waspada demam berdarah di masyarakat dengan diiringi pemutusan mata rantai pengembangbiakkan nyamuk Aedes Agepty yang jadi sumber penyakit ini, antara lain melalui fogging secara dini.

Masih terkait upaya penekanan angka deman berdarah, jajaran Dinkes Kalsel mencanangkan Siaga Demam Berdarah dan Dimensi Pemuda Siaga Peduli Bencana (Dasi Pena) yang pelaksanaannya dilakukan 22 November2008.

“Pencanangan ini bertepatan dengan puncak peringatan Hari Kesehatan Nasional (HKN) ke 44 tahun 2008 di Gelanggang Olah Raga (GOR) Banjarmasin yang rencanya disaksikan Menteri Kesehatan (Menkes) Siti Fadilah Supari,” jelasnya.

Waspadai Diare dan Demam Berdarah

Banjarmasin , Intensitas hujan yang mulai sering terjadi dua pekan terakhir, akan berdampak pada mudahnya terjadi penularan penyakit demam berdarah dengue (DBD) dan diare, khususnya untuk anak anak.
Itu sebabnya, Kepala Dinas Pendidikan Kalsel, drg Rosihan Adhani dan Kasubdin Bina Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan, Dinkses Kalsel, Sukamto Mkes mengingatkan, masyarakat agar waspada terhadap kedua jenis penyakit yang dapat menimbulkan kematian bila terlambat penanganan.
“Sampai bulan Februari musim hujan diperkirakan masih berlangsung, bahkan puncaknya, jadi masih perlu diwaspadai,” ujar Sukamto kepada wartawan, Minggu (9/11) di sela sela acara gerak jalan sehat jajaran Dinkes Kalsel dan instansi terkait sebagai rangkaian Hari Kesehatan Nasional (HKN) ke 44.
Dikatakan, dari Januari sampai Oktober, lebih dari 731 kasus demam berdarah terjadi dengan jumlah korban mencapai 9 orang.”Yang terbanyak masig Kota Banjarmasin,” ujarnya.
Untuk mengantisipasi merebaknya penyakit ini, jajaran Dinkes Kalsel melakukan tindakan dini, seperti fogging (pengasapan), sebelum terjadi penularan dan penyuluhan kepada masyarakat tentang hidup sehat dan bersih.
Bila dibanding dengan kasus DBD tahun sebelumnya, dimana terjadi 1.321 kasus dengan korban meninggal 16 orang, maka tahun ini mengalami penurunan yang cukup besar, baik jumlah kasus maupun korban yang meninggal.”Jadi tidak akan KLB,” tegasnya.
Penurunan kasus ini juga menurutnya sebagai indikasi mulai membaiknya prilaku masyarakat sehingga memutus mata rantai pengembangbiakan nyamuk Aedes Agepty yang jadi sumber penyakit ini.
Terkait dengan diare, secara terpisah Rosihan Adhani menjelaskan, kasus ini setiap tahun selalu merenggut korban jiwa. Pada 2007 jumlah kasus diare di Kalsel berjumlah 35.778 orang dengan 10 orang meninggal. Tahun 2008, kasus diare menurun menjadi 24.077 kasus dengan 3 meninggal.
Pasien yang meninggal meliputi 1 orang di Kecamatan Daha Utara Kabupaten HSS pada bulan Januari, 1 orang di Kecamatan Daha Barat Kabupaten HSS pada bulan Maret dan 1 orang di Kecamatan Birayang Kabupaten HST pada bulan Mei 2008.
“Kita upayakan agar bisa nol.Antisipasi diare ini kan bersifat lintas sektor. Misalnya dengan PDAM selaku penyedia air bersih. Masih banyak penduduk kita yang kekurangan akir bersih, karena tingkat ketercukupan air bersih kita masih enam puluh persen,” jelasnya kepada Barito Post.
Rosihan menambahkan angka CFR (case fatality rate) atau yang menyebabkan kematian pada diare masih pada angka 0,012. “Angka CFR diare untuk Kalsel masih dibawah satu, itu masih dianggap normal dan terkendali. Untuk Kalsel angka kasus diare jangan sampai 99 ribu,” terangnya.
Perilaku masyarakat lainnya yang harus dibenahi adalah buang air. Masyarakat dinilai masih sembarangan buang air besar (BAB), misalnya di tempat terbuka.
Gerak Jalan Sehat
Terkait kegiatan gerak jalan sehat, Rosihan mengatakan kegiatan tersebut merupakan rangkaian peringatan HKN ke 44 tahun 2008.
Kegiatan diikuti segenap jajaran dinas kesehatan dan mitra kerjanya seperti akademi kebidanan, rumah sakit, Puskesmas, dan pihak lainnya yang turut berpartisipasi memeriahkan acara tersebut.
Garis star di halaman kantor Dinkes Kalsel Jalan Belitung Darat menuju Jalan Simpang Anim, kemudian Kuin Selatan, Simpang Belitung dan kembali Jalan Belitung menuju tempat pertama dilepas.
Dalam perjalanan, peserta membawa plastik kosong yang diisi dengan sampah seperti plasik, kertas, kaleng, botong mineral dan sebagainya yang mereka ditemui selama berjalan.
Diakhir acara, peserta bisa berkesempatan mendapat door prize seperti TV, kipas angin dan sebagainya, dari panitia melalui undian.

LEMBAH KAHUNG KALSEL MILIKI NILAI JUAL WISATA PETUALANGAN

Oleh Hasan Zainuddin
Banjarmasin,8/5 -Suara gemercik air sungai yang jernih di hamparan dedaunan hijau hutan hujan tropis, Lembah Kahung Kecamatan Aranio, Kabupaten Banjar, Propinsi Kalimantan Selatan (Kalsel) menjadi daya pikat orang mendatangi kawasan itu.
Apalagi kawasan ini dinilai masih tersimpan “sejuta” pesona flora dan fauna yang menandakan kawasan alam ini masih perawan atau belum terjamah banyak tangan jahil manusia.
Kawasan bercurah hujan rata-rata 1.150 – 2.000 mm pertahun dengan Kelembaban rata-rata 73 – 82 persen itu terdapat banyak sungai melingkar, berbukit bebatuan, gua, lembah, riam, jeram, pohon besar, dan ber tebing.
Kondisi alam demikian maka diyakini pula miliki potensi wisata petualangan (adventure) yang layak jual  di era Visit Indonesia Year (VIY) 2008 atau visit Kalsel tahun 2009 mendatang.
Kepala Dinas Pariwisata Kalsel, Bihman Muliansyah disaat pertemuan (coffie morning) pejabat Pemerintah Propinsi (Pemprop) Kalsel dipimpin Sekdaprop, Muchlis Gafuri di Graha Abdi Persada kantor Gubernur setempat, Banjarmasin, (7/5) menyatakan akan menjual keasrian lembah Kahung itu.
“Keperawanan” alam lembah Kahung yang lokasinya relatif lebih dekat dengan kota Banjarmasin, dinilai  menjadi solusi pariwisata Kalsel kedepan.
Upaya menjual kawasan objek wisata tersebut diperlukan sejumlah dana setidaknya menyediakan infrastrukturnya minimal Rp4 miliar, dana tersedia baru Rp1 miliar, tapi bila dibantu pemerintah pusat infrasstruktur iru selasai tahun 2009 nanti, katanya.
Gubernur Kalsel, Drs.Rudy Arifin sendiri memuji keberadaan lembah Kahung ini, bahkan berjanji akan lebih mempopulerkan kawasan ini sebagai objek wisata petualangan masa depan.
Bahkan saat pertemuan dengan jajaran perusahaan penerbangan PT Garuda Indonesia belum lama ini sepakat untuk menjual objek wisata Kalsel itu ke seluruh Indonesia, bahkan sampai ke luar negeri.
Kesepakatan itu tercetus saat gubernur serta Muspida ke markas PT Garuda Indonesia Jalan Merdeka Selatan Jakarta dalam acara Tour Eksekutif Safety Program.
Diakui gubernur tujuan utama wisman itu Bali, tapi kebanyakan wisman ingin pula kelain tempat seperti Kalsel,  agar Kalsel jadi tujuan harus ada kerjasama promosi dengan penyelanggara penerbangan internasional seperti PT Garuda ini.
Lembah Kahung
Lembah Kahung yang merupakan bagian dari Pegunungan Meratus Kalsel selama ini masih mengandung segudang misteri, lantaran jarang dijangkau manusia.
Bahkan warga sekitar itupun enggan berkunjung ke kawasan hutan lebat ini lantaran adanya anggapan setiap hutan lebat mengandung nilai-nilai mistik.
Tetapi yang membuat kawasan itu jarang terjamah adalah keberadaan hewan liar yang disebut kalimatak  atau pacat (lintah darat) yang siap menghisap darah manusia yang berani menjajakan kaki ke kawasan itu.
Belum lagi sering dijumpainya tumbuhan beracun yang disebut “jelatang” yang siap membuat kulit manusia kesakitan dan kegatalan. Atau sakitnya tusukan onak dan duri dari berbagai tanaman berduri dan rotan yang puluhan spicies hidup di kawasan itu.
Pengalaman yang agak “menyeramkan” tersebut setidaknya pernah dialami saat tombongan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Banjar yang dipimpinan Sekda setempat, Yusni Anani menjelajah kawasan itu guna menyingkap misteri Lembah Kahung.
Untuk menuju ke lembah kahung, ditempuh delapan jam dari ibukota Kabupaten Banjar, Martapura.
Jarak Martapura dengan Banjarmasin ibukota Propinsi Kalsel, 45 KM waktu tempuh naik mobil sekitar satu jam, berarti dari Banjarmasin ke lokasi objek wisata petulangan itu sekitar sembilan jam.
Dari Martapura, dapat ditempuh perjalanan darat selama satu jam menuju Waduk Riam Kanan. Perjalanan dilanjutkan via sungai menggunakan kelotok (perahu mesin tempel) selama dua jam.  Setelah itu baru dilanjutkan dengan hanya  berjalan kaki selama lima jam lebih.
”Wah Keindahan alam di sini ternyata benar adanya. Bukan dongeng belaka. Hutannya masih bagus, sungainya masih jernih,” kaya Yusni Anani saat berada di Lembah Kahung bersama rombongan dalam perjalanan dua hari Jumat-Sabtu (21-22 Maret 2008).
Rombongan Pemkab Banjar tadinya 90 anggota tinggal sekitar 30 anggota tim yang sampai ke dalam hutan Lembah Kahung yakni ke pusat lembah yaitu air terjun Kahung Besar, selebihnya balik kanan karena kelelahan serta karena takut lantaran anggapan angker kawasan itu.
“Sangat melelahkan,” begitu komentar setiap anggota rombongan dalam perjalanan membuka misteri kawasan itu.
Berdasarkan laporan wartawan yang mengikuti rombongan tersebut seperti dilansir media massa setempat jarak tempuh ke Lembah Kahung sangat jauh,  jalannya terjal mendaki serta melewati sisi jurang sangat curam.
Perjalanan diikuti Camat Martapura Timur dan Camat Aranio, Kapolsek Aranio, Kasatpol PP dan Kabag Humas kabupaten Banjar, staf dari Dinas Pariwisata dan Dinas Kesehatan kabupaten Banjar, beberapa personel dari Kepolisian dan Koramil setempat, anggota Orari Lokal Banjar serta anggota rombongan lainnya.
Dalam perjalanan hanya jalan kaki di medan berat rombongan sempat beberapakali beristirahat,  saat tiba di salah satu selter atau tempat peristirahatan dibangun warga sejak empat tahun lalu.
Ada tiga selter tersedia di sana, jarak tiap satu selter minimal satu jam perjalanan.
Sarana  transportasi lembah Kahung selain rakit bambu juga ada kerbau yang bisa ditunggang untuk menyebarangi sungai guna menjelajah kawasan itu.
Menurut Yusni, wisata lembah Kahung masuk dalam Rencana Induk Pariwisata Daerah (RIPDA) Kabupaten Banjar dan Propinsi Kalsel, agar kedepannya menjadi “magnet” kunjungan wisatawan nusantara (Wisnu) dan wisman ke wilayah ini.
Pemkab Banjar sendiri menilai Lembah Kahung merupakan kawasan wisata baru di kabupaten ini selain pendulangan intan tradisional, serta pasar permata Bumi Selamat Martapura.
Kelebihan Lembah Kahung adalah sebagai objek petualangan yang belakangan kian diminati wisman, apalagi di sana terdapat ratusan dan mungkin ribuan spicies flora dan fauna hutan hujan tropis atau hutan tropis basah.
Berdasarkan  catatan flora dan fauna yang terdapat di kawasan itu antara lain meranti (Shorea spp.), ulin (Eusideroxylon zwageri), kahingai (Santiria tomentosa), damar (Dipterocarpus spp.), pampahi (Ilexsimosa spp.), dan kuminjah laki (Memecylon leavigatum).
Kemudian ada pohon keruing (Dipterocarpus grandiflorus), mawai (Caethocarpus grandiflorus), jambukan (Mesia sp.), kasai (Arthocarpus kemando), dan lain-lain.
Sementara spicies faunanya antara lain bekantan (Nasalis larvatus), owa-owa (Hylobates muelleri), lutung merah (Presbytis rubicunda), beruang madu (Helarctos malayanus), rusa (Cervus unicolor), kijang merah (Muntiacus muntjak), kijang mas (Muntiacus atherodes), pelanduk (Tragulus javanicus), dan landak (Hystrix brachyura).
Kemudian juga ada satwa musang air (Cynogale benetti), macan dahan (Neofelis nebulosa), kuau/harui (Argusianus argus), rangkong badak (Buceros rhinoceros), enggang (Berenicornis comatus), elang hitam (Ictinaetus malayensis), elang bondol (Haliastur indus), raja udang sungai (Alcedo atthis), raja udang hutan (Halycon chloris), dan lain-lain.
Mengingat Lembah Kahung bagian pula dari kawasan Pegunungan Meratus di Kalsel, maka diperkirakan pula menyimpan pesona anggrek hutan Kalimantan.
Kawasan anggrek yang cukup di kenal di Kalsel adalah hutan Pegunungan Meratus wilayah yang membujur dari selatan ke utara meliputi Kabupaten Tanah Laut, Kotabaru, Banjar, Tapin, Hulu Sungai Selatan (HSS), Tabalong, Balangan dan Hulu Sungai Tengah (HST).
Bukan saja terdapat dua jenis anggrek yang dikenal luas hidup di daratan Kalimantan yakni anggrek hitam (Coelogyne pandurata) dan anggrek tebu (Grammatophyllum Speciosum), tetapi beberapa jenis anggrek lainnya.
Beberapa jenis anggrek yang dikenal tumbuh di kawasan hutan Kalsel  seperti jenis Phalaenopsis bellina, Arachis breviscava, Paraphalaenopsis serpentilingua, Macodes petola,jewel orchids, Tainia pausipolia, anggrek tanah, Phalaenopsis cornucervi, Coelogyne asperata -Bulbophyllum beccari.
Anggrek pandan Cymbidium finlaysonianum, Dorrotis pulcherrima, Chairani punya Plocoglotis lowii, Tainia pauspolia, Destario Metusala, Ceologyne espezata, Paphiopedilum lowii dan Paphiopedilum supardii (anggrek nanas) diperkirakan menghiasi kawasan ini.
Yang pasti di kawasan ini terdapat sejenis anggrek bulan khas setempat, yakni anggrek bulan peleihari yang konon hanya hidup di kawasan hutan Kabupaten Banjar dan Peleihari Kabupaten Tanah Laut.
Anggrek ini pula yang sangat menjadi perhatian Ketua Persatuan Anggrek Indonesia (PAI), Ny Jusuf Kalla saat berkunjung ke Kalsel, dan membawanya untuk menambah koleksi anggreknya di Jakarta.
Melihat keunikan Lembah Kahung, maka wajar bila Pemprop Kalsel melalui Dinas Pariwisata  Kalsel akan lebih mempopulerkan objek wisata ini bersama kawasan Loksado sebagai objek wisata petualangan disamping objek wisata pasar terapung dan 122 objek wisata lainnya saat  VIY 2008 dan visit Kalsel 2007.
Tentu saja objek wisata tersebut akan meningkatkan kunjungan wisata ke Kalsel yang sudah tercatat 368 ribu wisnu 30 ribu wisman 2007 lalu, asal kehandalan wisata itu dipadukan dengan konsep aman, ramah, tertib, sopan,  dan indah, kata Kepala Dinas Pariwisata Kalsel Bihman Muliansyah.

kahung

LEMBAH KAHUNG

Dengan sebuah mobil berangkat di pagi dari kotaMartapura menuju sebuah danau buatan Riam Kanan, danau buatan ? ……….. karena danau itu adalah up streamnya bendungan Ir.Pangeran M. Noor sebagai salah satu PLTA di Kalimantan Selatan, waktu tempuh sampai ke dermaga Tiwingan di Riam Kanan (nama danau bendungan Riam Kanan) kira kira 30 menit. Sesampai di dermaga telah menuggu beberapa buah kelotok ( perahu bermesin) yang siap untuk disewa Rp. 250.000,- pulang pergi.
Dari dermaga Tiwingan dengan kecepatan sedang kelotok meluncur di tengah danau menyusuri alur menuju dermaga Desa Belangian yang penduduknya berjumlah 90 KK, dimana mata pencaharian pendudukan setempat adalah bertani, mencari ikan, memelihara kerbau dan sapi, tapi penduduknya sangat menjaga kelestarian hutan dibelakang desanya karena keberadaan hutan adalah bagian keberadaan kehidupan mereka sebagai sumber mengalirnya air sungai yang melintasi desa mereka dan juga tempat mereka mencari ikan untuk lauk makan sehari hari. Cukup lama, sekitar 2 jam baru sampai ke dermaga desa Tiwingan.
Cukup dengan berjalan kaki selama 15 menit sampailah ke desa Belangian, kalau hari masih pagi maka perjalanan dapat diteruskan menuju Lembah Kahung, tapi kalau sudah siang apalagi sore, profesional sugestion is  . . . . .  nginep aja di desa, lumayan menambah pendapatan masyarakat desa walaupun mereka tidak memasang tarif nginep atau supper n breakfast . . . . . esok paginya baru berangkat, tentunya setelah bebenah mandi pagi, menyiapkan ransum,dll . . . maklum diperjalanan nggak cafe yg buka !!! jangankan cafe, warung aja nggak ada (yusni Anani)

Kalsel Garap Wisata Lembah Kahung

BANJARMASIN – Pemerintah Provinsi (pemprov) Kalsel mulai tahun ini menggarap secara lebih serius Wisata Alam Lembah Kahung di Aranio Kabupaten Banjar menjadi salah satu obyek wisata andalan.

Dana yang dibutuhkan untuk membangun infrastruktur dan fasilitas wisata diperkirakan Rp 4 milyar.

Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Kalsel Drs H Bihman Yuliansyah menuturkan anggaran tersebut diupayakan tidak akan terlalu menguras APBD.

Dia berharap, pemerintah pusat memberikan dukungan untuk realisasi pembangunan taman wisata alam tersebut.

Pekerjaan paling mendesak menurutnya adalah pembuatan akses jalan di kawasan tersebut. Karena merupakan wisata alam, maka wisatawan diajak menikmati keindahan di daerah yang termasuk kawasan hutan lindung tersebut. Sehingga jalan yang akan dibuat adalah prasarana untuk bersepeda dan menggunakan ojek.

Dalam pemaparan di Graha Abdi Persada kemarin, Bihman bersama konsultan menerangkan grand design Wisata Alam Lembah Kahung dihadapan Sekdaprov Kalsel Muchlis Gafuri dan para pejabat Pemprov Kalsel.

“Lembah Kahung memiliki daya tarik wisata karena kondisi alamnya yang masih perawan, air terjun yang jernih dan terdapat Flora dan Fauna. Sehingga layak untuk dikembangkan karena memiliki daya saing dengan obyek wisata lain,” urainya.

Untuk menuju Lembah Kahung memang cukup memakan waktu. Kawasan tersebut berada di Desa Belangian. Kalau dari Banjarmasin, maka perjalanan darat dilakukan melalui Aranio sekitar kurang lebih 1,5-2 jam. Diteruskan dengan 2 jam naik kelotok mencapai desa.

“Selama perjalanan menggunakan kelotok, akan dijumpai hutan pinus, desa-desa dan pesona keindahan alam dengan hawa yang dingin. Selain itu disedikan shelter atau tempat pemberhentian untuk beristirahat,” imbuhnya.

Sekdaprov Kalsel Muchlil Gapuri mengharapkan karena merupakan kawasan hutan lindung, maka perlu sinkronisasi dan kerjasama antar instansi terkait. Misalnya Kehutanan, PU dan dinas Pariwisata.

“Kalau bisa dananya dari dana sharing dan ada manajemen sinergi sehingga tidak ada saling lempar tangan dalam mengelola kawasan tersebut,” ujarnya.

Sekdaprov juga menginginkan tugas pemerintah daerah bukan hanya sebatas membangun. Melainkan juga menjaga dan memelihara sehingga tidak hancur termakan waktu.

kompas foto kompas images

BELAJAR DI RUMPUN BAMBU, GAYA SEKOLAH ANAK DAYAK MERATUS

  Oleh Hasan Zainuddin
     Banjarmasin,1/5 (ANTARA)- Rindangnya pohon bambu Desa Hampang bagian dari Desa Urin, Kecamatan Halong, Kabupaten Balangan Propinsi Kalimantan Selatan (Kalsel) menjadi lokasi belajar puluhan anak masyarakat Dayak Pegunungan Meratus, kawasan setempat.
     Beralaskan, dedaunan puluhan anak duduk sambil menulis dan membaca dibawah bimbingan guru kunjung yang datang dari desa non jauh dengan berjalan kaki hanya untuk memberikan pelajaran, bagaimana cara membaca, menulis dan menghitung.
     Para anak sekolah yang juga harus datang berjalan kaki menempuh waktu tiga hingga lima jam menyusuri jalan setapak, naik dan turun gunung, melewati jeram, lembah serta jalan bersemak ada onak dan duri, membuat waktu belajar sekolah yang disebut Sekolah Dasar (SD) Kecil tak bisa ditentukan begitu saja.
     Anak-anak itupun bersekolah setelah membantu orang tuanya menggarap ladang tugalan (sawah padi gunung) atau menyadap karet serta mencari damar.
     “Bagi kami apapun fasilitas yang tersedia tak masalah, yang penting bagaimana para anak pedalaman Kalimantan ini, setidaknya bisa membaca dulu,” kata Hijri seorang guru kunjung yang bersedia melajari para anak masyarakat terisolir tersebut.

 foto bpost
     Terdapat tiga guru kunjung yang bersedia mendatangi lokasi belajar SD kecil di kawasan yang berlembah itu, selain Hijri juga ada Sumardi selaku kepala sekolahnya, serta seorang guru lagi. Mereka memperoleh upah sekitar Rp400 ribu per bulan dari pemerintah.
     Proses belajar itupun tak bisa disetiap hari hanya ditentukan hari-hari tertentu saja, dan belajarpun bisa bubar seketika saat turun hujan.
     Pelajaran yang diajarkan para guru kunjung antara lain, adalah pelajaran bahasa Indonesia, matematika, biologi, PPKN, serta pelajaran agama Budha, karena sebagian besar warga setempat adalah agama nenek moyang mereka Kaharingan (kepercayaan animisme) yang hampir menyerupai agama Budha lalu kemudian sebagian warga memeluk agama Budha.
     Dapau (40 th) ayah dari SD kecil yang juga penduduk setempat, merasa bangga adanya SD kecil itu, karena kehadiran sekolah khusus itu, maka sudah ada beberapa anak setempat bisa memnbaca dan menulis serta cara menghitung melalui pelajaran matematika.
     “Sejak zaman dulu, baru sekarang warga kami bisa membaca dan menulis, diantaranya adalah anak saya,” kata Dapau didampingi   warga lainnya yang berkerumun ketika berada di lokasi itu ikut hadir saat peresmian bangunan SD kecil oleh Bupati Balangan, Ir Sefek Effendi.
     Bupati Balangan bersama, Ketua Umum PWI Pusat, Haji Tarman Azzam, Ketua PWI Kalsel Faturahman serta puluhan wartawan dan pejabat Balangan mendatangi lokasi masyarakat Dayak Meratus tersebut berkaitan Hari Pers Nasional (HPN) tingkat Kalsel,Selasa (29/4) lalu.
    Menurut Sefek Effendi kepada pers, belajar di bawah pohon bambu tersebut berlangsung selama enam bulan, setelah itu warga setempat bergotong royong membuatkan semacam pondokan dengan ruangan yang mampu menampung 20 murid sekolah.
     Pondokan terbuat dari atap daun dan dinding bambu berlantaikan tanah, dibuat sedemikian  rupa, disediakan bangku-bangku duduk yang memanjang terbuat dari batangan bambu pula.
     Dengan fasilitas seadanya itulah kemudian para murid bisa belajar dengan lebih tertib, kata Sefek Effendi seraya menunjuk pondokan tersebut.
     Pondokan yang merupakan SD kecil tersebut sempat digunakan beberapa bulan pula tetapi kini sudah tak dimanfaatkan lagi hingga mulai runtuh, dimana-mana atapnya berlubang dan tidak terawat lagi setelah dibangunkan gedung SD kecil yang lebih permanen dengan bahan kayu yang tak jauh dari lokasi tersebut.
     Kedatangan Bupati ke areal penghasil karet alam, rotan, kemiri, damar, dan padi tugal (gogo) tersebut dalam rangkaian meresmikan gedung agak permanen SD kecil tersebut. 
     Di sekolah SD kecil itu menampung anak warga bukit (panggilan warga pedalaman) antara 15 hingga 20 orang per sekolah, dan mereka sekolah hanya sampai kelas tiga saja, setidaknya mereka sudah bisa menghitung dan membcaca.
     Setelah mereka dinilai lulus di SD kecil itu barulah mereka bisa melanjutkan ke SD Negeri atau SD yang resmi sampai dengan lulus kelas enam.
     Untuk melanjutkan hingga kelas enam anak anak itu bisa bersekolah ke SD terdekat seperti dibukota kecamatan Halong atau Awayan.
     SD kecil ini terpaksa didirikan untuk menolong anak warga Dayak yang rumah tinggalnya begitu terpencar dari satu gunung ke gunung yang lain sehingga untuk mengajak mereka sekolah ke SD resmi agak sulit karena lokasi yang terpencer-pencar itu.
     Oleh karena itu Pemkab Balangan berinisiatif mendirikan SD kecil di lokasi-lokasi tertentu agar anak itu bisa menjangkaunya, karena lokasi Pegunungan Meratus itu terpencar di wilayah itu maka didirikanlah enam lokasi SD kecil.
     Saat presemian tersebut Ketua Umum PWI Tarman Azzam, bahkan sempat menjadi guru dadakan di sekolah yang menampung anak-anak Pegunungan Meratus itu.
     Sekolah khusus yang diresmikan itu satu dari enam sekolah serupa di kawasan perbukitan Pegunungan Meratus Kabupaten Balangan. Selain di Desa Hampang SD kecil juga ada di desa Tengger, Desa Wayuanin, Desa Ajung, Palaran, serta Desa Lebero Sungkai.
    Seluruh lokasi SD kecil itu menyebar di pegunungan Meratus tersebut, ada yang berdekatan dengan ibukota kecamatan Halong atau ibukota kecamatan Tebing Tinggi, dan Awayan.
     Berdasarkan keterangan terdapat sekitar empat ribu Kepala Keluarga (KK) warga di kawasan perbukitan tersebut, dan dari jumlah itu sekitar 500 anak usia sekolah yang harus diberikan pelajaran agar mereka tidak lagi buta huruf seperti orang tua mereka.
     Selain itu juga diberikan pelajaran paket A untuk warga yang sudah berusia di atas 15 tahun agar warga juga bisa membaca, melalui jasa guru kunjung tersebut.
      Berdasarkan pemantauan ANTARA lokasi SD Kecil yang diresmikan tersebut  terletak cukup jauh di Pegunungan Meratus, yakni jarak 22 KM dari Halong. sementara Halong sendiri berjarak sekitar 240 Km Utara Banjarmasin.
     Banjarmasin Halong agaknya tak masalah karena tersedianya jalan darat yang memadai, hanya saja antara Halong menuju Pegunungan Meratus yang medannya sangat berat karena tak tersedia jalan darat memadai.
      Untuk menempuh perjalanan tersebut, rombongan PWI Kalsel, dan Pemkab Balangan serta Ketua PWI Tarman Azzam harus menempuh perjalanan yang melelahkan, dengan jalan yang seadanya dan berliku-liku menempuh lembah dan gunung.
     Bahkan mobil Tarman Azzam dan Bupati Balangan sempat amblas pada lokasi jalan yang rusak berat, karena jalan dari tanah yang belum ada pengerasan akibatnya jalan berlubang-lubang besar, becek, berlumpur dan berair.
     Untung saja beberapa petugas sudah disiapkan untuk membantu mobil rombongan yang amblas di lokasi sulit tersebut sehingga perjalanan rombongan sampai ke tujuan.
     Tak heran ketika sampai ke lokasi SD Kecil yang paling dekat dengan ibukota kecamatan itu, banyak anggota rombongan yang kelelahan, dan terpaksa istirahat dulu di bawah pepohonan sebelum mengikuti upacara  peresmian SD kecil tersebut
     Peresmian SD kecil itu dilakukan setelah selesainya peringatan Hari Pers Nasional (HPN) yang diikuti ribuan masyarakat di lapangan Kota Halong yang sekaligus mencanangkan gerakan gemar membaca bagi masyarakat pedalaman Kalsel tersebut.

TRENGGILING SI SATWA “JELMAAN SETAN” ITU KINI JADI BARANG DAGANGAN

    Oleh Hasan Zainuddin
          Banjarmasin, 20/4 (ANTARA)- Jangankan memakan, menangkap binatang Trenggiling saja hampir dipastikan tidak ada yang berani, setidaknya bagi warga pedalaman Kalimantan Selatan (Kalsel) era tahun 60 hingga tahun 80-an.
         Pasalnya, binatang trenggiling bukanlah binatang seperti binatang lainnya, tetapi binatang yang memiliki nilai mistis, bahkan dianggap sebagai jelmaan setan atau hantu.
         Bahkan banyak yang percaya keberadaan trenggeling disuatu desa bertanda kurang baik, akhirnya binatang itu diburu jauh ke dalam hutan atau ditangkap untuk dimusnahkan dengan cara membakarnya, agar roh jahat yang ada di dalam tubuh binatang itu itu ikut musnah terbakar dan tidak menganggu manusia.

 saat pembakaran ratusan satwa trenggiling di Tahura Sultan Adam (foto bpost)
         Tetapi tak jarang, binatang sudah tertangkap dibuat ke dalam karung atau diikat dengan tali ternyata hilang begitu saja, akhirnya anggapan trenggiling sebagai jelmaan setan kian kuat.
         Dengan anggapan demikian di era tahun-tahun tersebut populasinya cukup terpelihara di hutan tidak ada yang berani memburunya, tetapi kemudian populasi itu terus menurun hingga sekarang ini, karena bukan saja ditangkap untuk dikonsumsi dan diperdagangkan tetapi juga akibat hutan yang kian rusak seperti gundul atau  terbakar.
         Apalagi belakangan daging binatang ini ternyata di lidah sebagian orang dinilai lezat bagaikan daging bebek dan dinilai memiliki berbagai khasiat akhirnya binatang ini kian diburu dan diperdagangkan bukan saja diperdagangkan di pasar lokal tetapi tak sedikit yang diantarpulaukan bahkan di ekspor ke luar negeri.
         Seperti yang terjadi di Banjarmasin Kalsel sebanyak 360 ekor trenggiling (Manis Javanica) disita Polsekta Banjarmasin Selatan dari rumah warga Banjarmasin, kemudian dimusnahkan aparat Dinas Kehutanan dan BKSDA Kalsel di Tahura Sultan Adam Mandiangin, Kabupaten Banjar, Kamis (17/4).
         Penemuan barang bukti perdagangan ilegal satwa tersebut merupakan yang kedua kalinya di rumah warga di bilangan Kampung Pekauman tersebut, karena sebelumnya petugas juga telah menemukan 10 ekor trenggiling dan 25 buah tanduk rusa untuk diperdagangkan.
         Menurut isteri tersangka kepada petugas bahwa suaminya hanya sebagai pengumpul dan pengolah.
         Trenggiling-trenggiling itu dipasok oleh beberapa orang dari Palangka Raya (Kalimantan Tengah), Kandangan (Kabupaten Hulu Sungai Selatan/Kalimantan Selatan) serta daerah lainnya di wilayah Kalsel dan Kalteng ini. Biasanya, binatang tersebut dihargai Rp 50 ribu per ekor.
         Kemudian, trenggiling diolah dengan cara dibedah dan dikuliti, lalu dijual dagingnya itu kepada para pembeli yang datang ke rumah.
         “Untuk yang sudah dikuliti dijual dengan harga Rp 200 ribu, sedang jika ada yang masih hidup bisa laku sampai Rp 400 ribu. Biasanya yang datang orang Jakarta.” kata isteri tersangka seperti dikutip sebuah surat kabar di Banjarmasin.
         Trenggiling itu kemudian diolah jadi makanan. Langganan makanan daging trenggiling itu katanya orang China dan Jepang.
         Atau tambahnya, setelah dibedah, sisiknya dikelupas, dagingnya diawetkan kemudian bisa sudah terkumpul banyak, barulah dikirim ke China.
         Lakunya daging binatang untuk dijual lantaran diyakini dapat menyembuhkan penyakit jantung dan paru-paru. Bahkan ada yang percaya bisa menjadi obat kuat. Sedang kulitnya, bisa dimanfaatkan untuk kosmetik. Satu kilogram sisik, bisa laku sampai Rp 350 ribu.
         Usaha bisnis ilegal warga Banjarmasin itu akhirnya tercium petugas yang akhirnya digrebek petugas gabungan Polsekta Banjarmasin Selatan dan Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Selatan yang hasilnya ditemukan 360 ekor trenggiling yang sudah dibedah dan dikuliti di dalam delapan lemari pendingin.
         Daging binatang yang ditemukan di rumah warga Banjarmasin seberat 1,5 ton itu dimasukkan ke dalam lubang besar di Tahura Sultan Adam Mandiangin Kabupaten Banjar, kemudian dibakar.
         Menurut seorang petugas, binatang ini tak boleh dijualbelikan karena ada peraturan yang menyatakan hal itu seperti Undang-undang RI No 5/1990, Peraturan Pemerintah RI No 17/1999.
         Kepala Seksi Konservasi Wilayah II Banjarmasin, Nurani kepada wartawan mengatakan, mereka yang memperjualbelikan trenggiling diancam dengan hukuman lima tahun penjara dan denda Rp 100 juta.

 (foto Koran berani)
         Berdasarkan sebuah literatur bahwa binatang ini ditemukan oleh seorang bernama Desmarest pada 1822, binatang ini disebut juga ant eater (pemakan semut) wakil dari ordo Pholidota yang masih ditemukan di Asia Tenggara.
         Tubuh trenggiling lebih besar dari kucing. Berkaki pendek dengan ekor panjang dan berat. Yang unik adalah tubuhnya bersisik tersusun seperti genting rumah. Sisik pada bagian punggung dan bagian luar kaki berwarna cokelat terang. Binatang berambut sedikit ini tidak mempunyai gigi.
         Untuk memangsa makanannya yang berupa semut dan serangga, trenggiling menggunakan lidah yang terjulur dan bersaput lendir. Panjang juluran lidahnya dapat mencapai setengah panjang badan.
         Pada siang hari trenggiling tidur di dalam tanah. Sarang ini biasanya dibuat sendiri atau merupakan bekas sarang binatang lain yang tidak lagi ditinggali.
         Untuk melindungi diri dari serangan musuh, trenggiling menyebarkan bau busuk. Ia memiliki zat yang dihasilkan kelenjar di dekat anus yang mampu mengeluarkan bau busuk, sehingga musuhnya lari. Musuh trenggiling adalah anjing dan harimau.
         Binatang unik ini berkembang biak dengan melahirkan. Hanya ada satu anak yang dilahirkan seekor trenggiling betina. Lama buntingnya hanya dua sampai tiga bulan saja.
         Jika diganggu, trenggiling akan menggulungkan badannya seperti bola. Ia dapat pula mengebatkan ekornya, sehingga “sisik”nya dapat melukai kulit pengganggunya.
         Trenggiling yang hidup di tanah mempunyai ekor berotot kuat. Panjangnya kira-kira sama dengan tubuhnya dan seluruhnya bersisik. Trenggiling yang hidup di pohon mempunyai ekor yang lebih panjang dari tubuhnya.
         Pada ujung ekor itu terdapat bagian yang gundul. Ekor digunakan sebagai lengan untuk berpegang waktu memanjat pohon.
         Ada tujuh jenis Trenggiling yang masih hidup yaitu Trenggiling India (Manis crassicaudata) terdapat di India dan Srilangka, Trenggiling Cina (M. pentadactyla) terdapat di Taiwan dan RRC Selatan, Trenggiling Pohon (M. tricuspis), Trenggiling Berekor Panjang (M. tetradactyla), Trenggiling Raksasa (M.gigantea) dan Trenggiling Temmick (M. Temmicki) terdapat di Afrika serta yang terakhir adalah Trenggiling Jawa (M. javanica) terdapat di Semenanjung Malaysia, Birma, Indocina (Vietnam, Laos, Kamboja) dan pulau-pulau Sumatera, Kalimantan dan Jawa.
         Binatang ini memakan semut, telur semut, dan rayap. Untuk menggantikan fungsi gigi, lalu ia akan memakan kerikil untuk melumatkan makanannya.
         Apakah hal ini tidak berbahaya bagi lambungnya, menurut literatur tersebut tentu saja tidak, karena lambung trenggiling telah dilapisi oleh epitel pipih berlapis banyak dan mengalami keratinisasi cukup tebal.
         Epitel yang mengandung keratin ini akan melakukan adaptasi terhadap jenis makanan keras. Gesekan mekanik antara rangka semut atau rayap yang dimakan dapat diminimalisir dengan adanya keratin tersebut.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 41 pengikut lainnya.