PARADIGMA PENANGANAN PENYAKIT DBD DI KALSEL HARUS DIRUBAH

Oleh Hasan Zainuddin
Banjarmasin,27/11 (ANTARA)-Pencegahan penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD)di Provinsi Kalimantan Selatan belum berhasil, terbukti  incident rate meningkat bahkan daerah tertular lebih banyak, karena perlu perubahan paradigma penanganan penyakit tersebut.
Strategi penanganan Penyakit DBD sekarang ini lebih banyak intervensi ke manuasianya bukan pada lingkungan, padahal  penyebab utama Penyakit Demam berdarah adalah lingkungan yang diakibatkan oleh perilaku manusia, demikian kseimpulan seminar penanganan DBD di Kalsel, seperti diutarakan Ketua Panitia seminar penanganan DBD, Drs.Fahrurazi, M.Si, kepada ANTARA, di Banjarmasin Selasa.
Kalau Kalsel ingin bebas dari Penyakit DBD maka paradigmanya harus dirubah dari kuratif (pengobatan) ke promotif preventif (peningkatan pencegahan).
“Komitmen ini harus ada pada pimpinan daerah provinsi (Gubernur), Kabupaten/Kota (Bupati/Walikota),serta DPRD untuk bersama-sama membuat kebijakan tentang pencegahan Penyakit DBD sebagaimana kesimpulan seminar yang diselanggarakan Fakultas Ilmu Kesehatan Masyarakat (IKM) Universitas Islam Kalimantan, Muhamad Arsyad Al Banjari (Uniska),” kata Fahrurazi.
Seperti yang dicontohkan dalam seminar yang diikuti ratusan peserta dari kalangan mahasiswa IKM dan kalangan kesehatan dam umum keberhasilan daerah Mojokerto setelah terjadi perubahan paradigma, Penyakit Demam Berdarah didaerah tersebut tahun 2007 turun drastis.
Padahal tahun 2006 Mojokerto juga diserang wabah penyakit demam berdarah, bahkan sempat dilakukan fogging menyeluruh.

wagub Kalsel Rosehan NB lakukan pengasapan jentik nyamuk DBD
Partisipasi masyarakat untuk pembiayaan kesehatan sudah cukup tinggi mencapai 80 persen (20 persen Pemerintah) tetapi hampir semuanya adalah kuratif (pengobatan) inilah tugas Dinas Kesehatan (promosi Kesehatan) melakukan advokasi kepada pimpinan daerah dan masyarakat agar partisipasi kuratif berubah ke partisipasi promotif preventif, tambahnya.
Seminar yang berlansung, Sabtu (24/11) menampilkan nara sumber utama seorang pakar kesehatan, Dr.dr.Zarfil Talal yang juga dosen senior Fakultas IKM Universitas Indonesia (UI).
Sementara Kepala Dinas Kesehatan Kalimantan (Kalsel), dr Rosehan Adhani mengatakan bahwa serangan penyakit DBD di wilayahnya sudah dianggap kejadian luar biasa (KLB) karena dua kali lipat dibandingkan sebelumnya.
Selama tahun 2007 ini saja serangan DBD di wilayah Kalsel sudah tercatat 1288 kasus, suatu jumlah kasus yang sudah mengkhawatirkan, katanya.
Kasus serangan DBD di Kalsel berdasarkan catatan paling banyak terjadi pada rentang waktu antara Januari hingga Maret 2007 atau sekitar  tiga bulan yang mencapai 1010 kasus, katanya saat seminar tersebut.
Dari kasus DBD tahun 2007 ini ternyata yang menyebabkan meninggal dunia sebanyak 15 orang. Dari kasus meninggal ini disebabkan pasien terlambat dibawa ke rumah sakit untuk diobati.
Rosehan Adhani sendiri juga menduga serangan DBD yang kian merebak belakangan ini erat kaitannya dengan perubahan cuaca secara global, dimana musim tak lagi beraturan, termasuk tahun ini musim hujan begitu panjang, dimana seharusnya kemarau tetapi hujan terus-terusan apa yang disebut sebagai kemarau basah.     Dengan cuaca demikian maka memberikan peluang kepada nyamuk penyebab DBD untuk bertelur berulang-ulang.
Serangan DBD di Kalsel terbanyak kasusnya di Tanah laut, kemudian tabalong, Hulu Sungai Selatan (HSS), Hulu Sungai Tengah (HST), Banjarbaru, Hulu sungai Utara (HSU) dan Kota Banjarmasin.
Kasus serangan DBD yang menyebabkan meninggal dunia terbanyak di Kabupaten Barito Kuala, katanya.

berita-berita

—————
Delapan Meninggal Karena DBD

BANJARMASIN – Dari Januari sampai Oktober 2008, terjadi 731 kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) di Kalimantan Selatan, dan delapan orang diantaranya meninggal dunia.

Berdasarkan data Dinas Kesehatan (Dinkes) Kalsel, kasus DBD terbanyak di Kota Banjarmasin meliputi 103 penderita, empat diantaranya meninggal dunia. Disusul Kota Banjarbaru sebanyak 55 korban, empat diantaranya meninggal dunia, dan Kabupaten Tanah Laut yang mencapai 53 kasus.

Untuk mengantisipasi merebaknya DBD menjelang musim hujan ini, Kepala Dinkes Kalsel Rosihan Adhani kepada wartawan, Rabu (15/10), mengatakan, pihaknya akan melakukan tindakan dini, seperti fogging (pengasapan), sebelum terjadi penularan.

Bila dibanding dengan kasus DBD tahun sebelumnya, menurut dia, angka DBD tahun ini mengalami penurunan yang cukup besar, baik jumlah kasus maupun korban yang meninggal. “Tahun 2007 ada 1.321 kasus DBD, dengan jumlah korban meninggal 16 orang,” ujarnya membandingkan.

Rosihan memprediksi, penurunan itu merupakan pengaruh positif gerakan waspada demam berdarah di masyarakat dengan diiringi pemutusan mata rantai pengembangbiakkan nyamuk Aedes Agepty yang jadi sumber penyakit ini, antara lain melalui fogging secara dini.

Masih terkait upaya penekanan angka deman berdarah, jajaran Dinkes Kalsel mencanangkan Siaga Demam Berdarah dan Dimensi Pemuda Siaga Peduli Bencana (Dasi Pena) yang pelaksanaannya dilakukan 22 November2008.

“Pencanangan ini bertepatan dengan puncak peringatan Hari Kesehatan Nasional (HKN) ke 44 tahun 2008 di Gelanggang Olah Raga (GOR) Banjarmasin yang rencanya disaksikan Menteri Kesehatan (Menkes) Siti Fadilah Supari,” jelasnya.

Waspadai Diare dan Demam Berdarah

Banjarmasin , Intensitas hujan yang mulai sering terjadi dua pekan terakhir, akan berdampak pada mudahnya terjadi penularan penyakit demam berdarah dengue (DBD) dan diare, khususnya untuk anak anak.
Itu sebabnya, Kepala Dinas Pendidikan Kalsel, drg Rosihan Adhani dan Kasubdin Bina Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan, Dinkses Kalsel, Sukamto Mkes mengingatkan, masyarakat agar waspada terhadap kedua jenis penyakit yang dapat menimbulkan kematian bila terlambat penanganan.
“Sampai bulan Februari musim hujan diperkirakan masih berlangsung, bahkan puncaknya, jadi masih perlu diwaspadai,” ujar Sukamto kepada wartawan, Minggu (9/11) di sela sela acara gerak jalan sehat jajaran Dinkes Kalsel dan instansi terkait sebagai rangkaian Hari Kesehatan Nasional (HKN) ke 44.
Dikatakan, dari Januari sampai Oktober, lebih dari 731 kasus demam berdarah terjadi dengan jumlah korban mencapai 9 orang.”Yang terbanyak masig Kota Banjarmasin,” ujarnya.
Untuk mengantisipasi merebaknya penyakit ini, jajaran Dinkes Kalsel melakukan tindakan dini, seperti fogging (pengasapan), sebelum terjadi penularan dan penyuluhan kepada masyarakat tentang hidup sehat dan bersih.
Bila dibanding dengan kasus DBD tahun sebelumnya, dimana terjadi 1.321 kasus dengan korban meninggal 16 orang, maka tahun ini mengalami penurunan yang cukup besar, baik jumlah kasus maupun korban yang meninggal.”Jadi tidak akan KLB,” tegasnya.
Penurunan kasus ini juga menurutnya sebagai indikasi mulai membaiknya prilaku masyarakat sehingga memutus mata rantai pengembangbiakan nyamuk Aedes Agepty yang jadi sumber penyakit ini.
Terkait dengan diare, secara terpisah Rosihan Adhani menjelaskan, kasus ini setiap tahun selalu merenggut korban jiwa. Pada 2007 jumlah kasus diare di Kalsel berjumlah 35.778 orang dengan 10 orang meninggal. Tahun 2008, kasus diare menurun menjadi 24.077 kasus dengan 3 meninggal.
Pasien yang meninggal meliputi 1 orang di Kecamatan Daha Utara Kabupaten HSS pada bulan Januari, 1 orang di Kecamatan Daha Barat Kabupaten HSS pada bulan Maret dan 1 orang di Kecamatan Birayang Kabupaten HST pada bulan Mei 2008.
“Kita upayakan agar bisa nol.Antisipasi diare ini kan bersifat lintas sektor. Misalnya dengan PDAM selaku penyedia air bersih. Masih banyak penduduk kita yang kekurangan akir bersih, karena tingkat ketercukupan air bersih kita masih enam puluh persen,” jelasnya kepada Barito Post.
Rosihan menambahkan angka CFR (case fatality rate) atau yang menyebabkan kematian pada diare masih pada angka 0,012. “Angka CFR diare untuk Kalsel masih dibawah satu, itu masih dianggap normal dan terkendali. Untuk Kalsel angka kasus diare jangan sampai 99 ribu,” terangnya.
Perilaku masyarakat lainnya yang harus dibenahi adalah buang air. Masyarakat dinilai masih sembarangan buang air besar (BAB), misalnya di tempat terbuka.
Gerak Jalan Sehat
Terkait kegiatan gerak jalan sehat, Rosihan mengatakan kegiatan tersebut merupakan rangkaian peringatan HKN ke 44 tahun 2008.
Kegiatan diikuti segenap jajaran dinas kesehatan dan mitra kerjanya seperti akademi kebidanan, rumah sakit, Puskesmas, dan pihak lainnya yang turut berpartisipasi memeriahkan acara tersebut.
Garis star di halaman kantor Dinkes Kalsel Jalan Belitung Darat menuju Jalan Simpang Anim, kemudian Kuin Selatan, Simpang Belitung dan kembali Jalan Belitung menuju tempat pertama dilepas.
Dalam perjalanan, peserta membawa plastik kosong yang diisi dengan sampah seperti plasik, kertas, kaleng, botong mineral dan sebagainya yang mereka ditemui selama berjalan.
Diakhir acara, peserta bisa berkesempatan mendapat door prize seperti TV, kipas angin dan sebagainya, dari panitia melalui undian.

LEMBAH KAHUNG KALSEL MILIKI NILAI JUAL WISATA PETUALANGAN

Oleh Hasan Zainuddin
Banjarmasin,8/5 -Suara gemercik air sungai yang jernih di hamparan dedaunan hijau hutan hujan tropis, Lembah Kahung Kecamatan Aranio, Kabupaten Banjar, Propinsi Kalimantan Selatan (Kalsel) menjadi daya pikat orang mendatangi kawasan itu.
Apalagi kawasan ini dinilai masih tersimpan “sejuta” pesona flora dan fauna yang menandakan kawasan alam ini masih perawan atau belum terjamah banyak tangan jahil manusia.
Kawasan bercurah hujan rata-rata 1.150 – 2.000 mm pertahun dengan Kelembaban rata-rata 73 – 82 persen itu terdapat banyak sungai melingkar, berbukit bebatuan, gua, lembah, riam, jeram, pohon besar, dan ber tebing.
Kondisi alam demikian maka diyakini pula miliki potensi wisata petualangan (adventure) yang layak jual  di era Visit Indonesia Year (VIY) 2008 atau visit Kalsel tahun 2009 mendatang.
Kepala Dinas Pariwisata Kalsel, Bihman Muliansyah disaat pertemuan (coffie morning) pejabat Pemerintah Propinsi (Pemprop) Kalsel dipimpin Sekdaprop, Muchlis Gafuri di Graha Abdi Persada kantor Gubernur setempat, Banjarmasin, (7/5) menyatakan akan menjual keasrian lembah Kahung itu.
“Keperawanan” alam lembah Kahung yang lokasinya relatif lebih dekat dengan kota Banjarmasin, dinilai  menjadi solusi pariwisata Kalsel kedepan.
Upaya menjual kawasan objek wisata tersebut diperlukan sejumlah dana setidaknya menyediakan infrastrukturnya minimal Rp4 miliar, dana tersedia baru Rp1 miliar, tapi bila dibantu pemerintah pusat infrasstruktur iru selasai tahun 2009 nanti, katanya.
Gubernur Kalsel, Drs.Rudy Arifin sendiri memuji keberadaan lembah Kahung ini, bahkan berjanji akan lebih mempopulerkan kawasan ini sebagai objek wisata petualangan masa depan.
Bahkan saat pertemuan dengan jajaran perusahaan penerbangan PT Garuda Indonesia belum lama ini sepakat untuk menjual objek wisata Kalsel itu ke seluruh Indonesia, bahkan sampai ke luar negeri.
Kesepakatan itu tercetus saat gubernur serta Muspida ke markas PT Garuda Indonesia Jalan Merdeka Selatan Jakarta dalam acara Tour Eksekutif Safety Program.
Diakui gubernur tujuan utama wisman itu Bali, tapi kebanyakan wisman ingin pula kelain tempat seperti Kalsel,  agar Kalsel jadi tujuan harus ada kerjasama promosi dengan penyelanggara penerbangan internasional seperti PT Garuda ini.
Lembah Kahung
Lembah Kahung yang merupakan bagian dari Pegunungan Meratus Kalsel selama ini masih mengandung segudang misteri, lantaran jarang dijangkau manusia.
Bahkan warga sekitar itupun enggan berkunjung ke kawasan hutan lebat ini lantaran adanya anggapan setiap hutan lebat mengandung nilai-nilai mistik.
Tetapi yang membuat kawasan itu jarang terjamah adalah keberadaan hewan liar yang disebut kalimatak  atau pacat (lintah darat) yang siap menghisap darah manusia yang berani menjajakan kaki ke kawasan itu.
Belum lagi sering dijumpainya tumbuhan beracun yang disebut “jelatang” yang siap membuat kulit manusia kesakitan dan kegatalan. Atau sakitnya tusukan onak dan duri dari berbagai tanaman berduri dan rotan yang puluhan spicies hidup di kawasan itu.
Pengalaman yang agak “menyeramkan” tersebut setidaknya pernah dialami saat tombongan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Banjar yang dipimpinan Sekda setempat, Yusni Anani menjelajah kawasan itu guna menyingkap misteri Lembah Kahung.
Untuk menuju ke lembah kahung, ditempuh delapan jam dari ibukota Kabupaten Banjar, Martapura.
Jarak Martapura dengan Banjarmasin ibukota Propinsi Kalsel, 45 KM waktu tempuh naik mobil sekitar satu jam, berarti dari Banjarmasin ke lokasi objek wisata petulangan itu sekitar sembilan jam.
Dari Martapura, dapat ditempuh perjalanan darat selama satu jam menuju Waduk Riam Kanan. Perjalanan dilanjutkan via sungai menggunakan kelotok (perahu mesin tempel) selama dua jam.  Setelah itu baru dilanjutkan dengan hanya  berjalan kaki selama lima jam lebih.
”Wah Keindahan alam di sini ternyata benar adanya. Bukan dongeng belaka. Hutannya masih bagus, sungainya masih jernih,” kaya Yusni Anani saat berada di Lembah Kahung bersama rombongan dalam perjalanan dua hari Jumat-Sabtu (21-22 Maret 2008).
Rombongan Pemkab Banjar tadinya 90 anggota tinggal sekitar 30 anggota tim yang sampai ke dalam hutan Lembah Kahung yakni ke pusat lembah yaitu air terjun Kahung Besar, selebihnya balik kanan karena kelelahan serta karena takut lantaran anggapan angker kawasan itu.
“Sangat melelahkan,” begitu komentar setiap anggota rombongan dalam perjalanan membuka misteri kawasan itu.
Berdasarkan laporan wartawan yang mengikuti rombongan tersebut seperti dilansir media massa setempat jarak tempuh ke Lembah Kahung sangat jauh,  jalannya terjal mendaki serta melewati sisi jurang sangat curam.
Perjalanan diikuti Camat Martapura Timur dan Camat Aranio, Kapolsek Aranio, Kasatpol PP dan Kabag Humas kabupaten Banjar, staf dari Dinas Pariwisata dan Dinas Kesehatan kabupaten Banjar, beberapa personel dari Kepolisian dan Koramil setempat, anggota Orari Lokal Banjar serta anggota rombongan lainnya.
Dalam perjalanan hanya jalan kaki di medan berat rombongan sempat beberapakali beristirahat,  saat tiba di salah satu selter atau tempat peristirahatan dibangun warga sejak empat tahun lalu.
Ada tiga selter tersedia di sana, jarak tiap satu selter minimal satu jam perjalanan.
Sarana  transportasi lembah Kahung selain rakit bambu juga ada kerbau yang bisa ditunggang untuk menyebarangi sungai guna menjelajah kawasan itu.
Menurut Yusni, wisata lembah Kahung masuk dalam Rencana Induk Pariwisata Daerah (RIPDA) Kabupaten Banjar dan Propinsi Kalsel, agar kedepannya menjadi “magnet” kunjungan wisatawan nusantara (Wisnu) dan wisman ke wilayah ini.
Pemkab Banjar sendiri menilai Lembah Kahung merupakan kawasan wisata baru di kabupaten ini selain pendulangan intan tradisional, serta pasar permata Bumi Selamat Martapura.
Kelebihan Lembah Kahung adalah sebagai objek petualangan yang belakangan kian diminati wisman, apalagi di sana terdapat ratusan dan mungkin ribuan spicies flora dan fauna hutan hujan tropis atau hutan tropis basah.
Berdasarkan  catatan flora dan fauna yang terdapat di kawasan itu antara lain meranti (Shorea spp.), ulin (Eusideroxylon zwageri), kahingai (Santiria tomentosa), damar (Dipterocarpus spp.), pampahi (Ilexsimosa spp.), dan kuminjah laki (Memecylon leavigatum).
Kemudian ada pohon keruing (Dipterocarpus grandiflorus), mawai (Caethocarpus grandiflorus), jambukan (Mesia sp.), kasai (Arthocarpus kemando), dan lain-lain.
Sementara spicies faunanya antara lain bekantan (Nasalis larvatus), owa-owa (Hylobates muelleri), lutung merah (Presbytis rubicunda), beruang madu (Helarctos malayanus), rusa (Cervus unicolor), kijang merah (Muntiacus muntjak), kijang mas (Muntiacus atherodes), pelanduk (Tragulus javanicus), dan landak (Hystrix brachyura).
Kemudian juga ada satwa musang air (Cynogale benetti), macan dahan (Neofelis nebulosa), kuau/harui (Argusianus argus), rangkong badak (Buceros rhinoceros), enggang (Berenicornis comatus), elang hitam (Ictinaetus malayensis), elang bondol (Haliastur indus), raja udang sungai (Alcedo atthis), raja udang hutan (Halycon chloris), dan lain-lain.
Mengingat Lembah Kahung bagian pula dari kawasan Pegunungan Meratus di Kalsel, maka diperkirakan pula menyimpan pesona anggrek hutan Kalimantan.
Kawasan anggrek yang cukup di kenal di Kalsel adalah hutan Pegunungan Meratus wilayah yang membujur dari selatan ke utara meliputi Kabupaten Tanah Laut, Kotabaru, Banjar, Tapin, Hulu Sungai Selatan (HSS), Tabalong, Balangan dan Hulu Sungai Tengah (HST).
Bukan saja terdapat dua jenis anggrek yang dikenal luas hidup di daratan Kalimantan yakni anggrek hitam (Coelogyne pandurata) dan anggrek tebu (Grammatophyllum Speciosum), tetapi beberapa jenis anggrek lainnya.
Beberapa jenis anggrek yang dikenal tumbuh di kawasan hutan Kalsel  seperti jenis Phalaenopsis bellina, Arachis breviscava, Paraphalaenopsis serpentilingua, Macodes petola,jewel orchids, Tainia pausipolia, anggrek tanah, Phalaenopsis cornucervi, Coelogyne asperata -Bulbophyllum beccari.
Anggrek pandan Cymbidium finlaysonianum, Dorrotis pulcherrima, Chairani punya Plocoglotis lowii, Tainia pauspolia, Destario Metusala, Ceologyne espezata, Paphiopedilum lowii dan Paphiopedilum supardii (anggrek nanas) diperkirakan menghiasi kawasan ini.
Yang pasti di kawasan ini terdapat sejenis anggrek bulan khas setempat, yakni anggrek bulan peleihari yang konon hanya hidup di kawasan hutan Kabupaten Banjar dan Peleihari Kabupaten Tanah Laut.
Anggrek ini pula yang sangat menjadi perhatian Ketua Persatuan Anggrek Indonesia (PAI), Ny Jusuf Kalla saat berkunjung ke Kalsel, dan membawanya untuk menambah koleksi anggreknya di Jakarta.
Melihat keunikan Lembah Kahung, maka wajar bila Pemprop Kalsel melalui Dinas Pariwisata  Kalsel akan lebih mempopulerkan objek wisata ini bersama kawasan Loksado sebagai objek wisata petualangan disamping objek wisata pasar terapung dan 122 objek wisata lainnya saat  VIY 2008 dan visit Kalsel 2007.
Tentu saja objek wisata tersebut akan meningkatkan kunjungan wisata ke Kalsel yang sudah tercatat 368 ribu wisnu 30 ribu wisman 2007 lalu, asal kehandalan wisata itu dipadukan dengan konsep aman, ramah, tertib, sopan,  dan indah, kata Kepala Dinas Pariwisata Kalsel Bihman Muliansyah.

kahung

LEMBAH KAHUNG

Dengan sebuah mobil berangkat di pagi dari kotaMartapura menuju sebuah danau buatan Riam Kanan, danau buatan ? ……….. karena danau itu adalah up streamnya bendungan Ir.Pangeran M. Noor sebagai salah satu PLTA di Kalimantan Selatan, waktu tempuh sampai ke dermaga Tiwingan di Riam Kanan (nama danau bendungan Riam Kanan) kira kira 30 menit. Sesampai di dermaga telah menuggu beberapa buah kelotok ( perahu bermesin) yang siap untuk disewa Rp. 250.000,- pulang pergi.
Dari dermaga Tiwingan dengan kecepatan sedang kelotok meluncur di tengah danau menyusuri alur menuju dermaga Desa Belangian yang penduduknya berjumlah 90 KK, dimana mata pencaharian pendudukan setempat adalah bertani, mencari ikan, memelihara kerbau dan sapi, tapi penduduknya sangat menjaga kelestarian hutan dibelakang desanya karena keberadaan hutan adalah bagian keberadaan kehidupan mereka sebagai sumber mengalirnya air sungai yang melintasi desa mereka dan juga tempat mereka mencari ikan untuk lauk makan sehari hari. Cukup lama, sekitar 2 jam baru sampai ke dermaga desa Tiwingan.
Cukup dengan berjalan kaki selama 15 menit sampailah ke desa Belangian, kalau hari masih pagi maka perjalanan dapat diteruskan menuju Lembah Kahung, tapi kalau sudah siang apalagi sore, profesional sugestion is  . . . . .  nginep aja di desa, lumayan menambah pendapatan masyarakat desa walaupun mereka tidak memasang tarif nginep atau supper n breakfast . . . . . esok paginya baru berangkat, tentunya setelah bebenah mandi pagi, menyiapkan ransum,dll . . . maklum diperjalanan nggak cafe yg buka !!! jangankan cafe, warung aja nggak ada (yusni Anani)

Kalsel Garap Wisata Lembah Kahung

BANJARMASIN – Pemerintah Provinsi (pemprov) Kalsel mulai tahun ini menggarap secara lebih serius Wisata Alam Lembah Kahung di Aranio Kabupaten Banjar menjadi salah satu obyek wisata andalan.

Dana yang dibutuhkan untuk membangun infrastruktur dan fasilitas wisata diperkirakan Rp 4 milyar.

Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Kalsel Drs H Bihman Yuliansyah menuturkan anggaran tersebut diupayakan tidak akan terlalu menguras APBD.

Dia berharap, pemerintah pusat memberikan dukungan untuk realisasi pembangunan taman wisata alam tersebut.

Pekerjaan paling mendesak menurutnya adalah pembuatan akses jalan di kawasan tersebut. Karena merupakan wisata alam, maka wisatawan diajak menikmati keindahan di daerah yang termasuk kawasan hutan lindung tersebut. Sehingga jalan yang akan dibuat adalah prasarana untuk bersepeda dan menggunakan ojek.

Dalam pemaparan di Graha Abdi Persada kemarin, Bihman bersama konsultan menerangkan grand design Wisata Alam Lembah Kahung dihadapan Sekdaprov Kalsel Muchlis Gafuri dan para pejabat Pemprov Kalsel.

“Lembah Kahung memiliki daya tarik wisata karena kondisi alamnya yang masih perawan, air terjun yang jernih dan terdapat Flora dan Fauna. Sehingga layak untuk dikembangkan karena memiliki daya saing dengan obyek wisata lain,” urainya.

Untuk menuju Lembah Kahung memang cukup memakan waktu. Kawasan tersebut berada di Desa Belangian. Kalau dari Banjarmasin, maka perjalanan darat dilakukan melalui Aranio sekitar kurang lebih 1,5-2 jam. Diteruskan dengan 2 jam naik kelotok mencapai desa.

“Selama perjalanan menggunakan kelotok, akan dijumpai hutan pinus, desa-desa dan pesona keindahan alam dengan hawa yang dingin. Selain itu disedikan shelter atau tempat pemberhentian untuk beristirahat,” imbuhnya.

Sekdaprov Kalsel Muchlil Gapuri mengharapkan karena merupakan kawasan hutan lindung, maka perlu sinkronisasi dan kerjasama antar instansi terkait. Misalnya Kehutanan, PU dan dinas Pariwisata.

“Kalau bisa dananya dari dana sharing dan ada manajemen sinergi sehingga tidak ada saling lempar tangan dalam mengelola kawasan tersebut,” ujarnya.

Sekdaprov juga menginginkan tugas pemerintah daerah bukan hanya sebatas membangun. Melainkan juga menjaga dan memelihara sehingga tidak hancur termakan waktu.

kompas foto kompas images

BELAJAR DI RUMPUN BAMBU, GAYA SEKOLAH ANAK DAYAK MERATUS

  Oleh Hasan Zainuddin
     Banjarmasin,1/5 (ANTARA)- Rindangnya pohon bambu Desa Hampang bagian dari Desa Urin, Kecamatan Halong, Kabupaten Balangan Propinsi Kalimantan Selatan (Kalsel) menjadi lokasi belajar puluhan anak masyarakat Dayak Pegunungan Meratus, kawasan setempat.
     Beralaskan, dedaunan puluhan anak duduk sambil menulis dan membaca dibawah bimbingan guru kunjung yang datang dari desa non jauh dengan berjalan kaki hanya untuk memberikan pelajaran, bagaimana cara membaca, menulis dan menghitung.
     Para anak sekolah yang juga harus datang berjalan kaki menempuh waktu tiga hingga lima jam menyusuri jalan setapak, naik dan turun gunung, melewati jeram, lembah serta jalan bersemak ada onak dan duri, membuat waktu belajar sekolah yang disebut Sekolah Dasar (SD) Kecil tak bisa ditentukan begitu saja.
     Anak-anak itupun bersekolah setelah membantu orang tuanya menggarap ladang tugalan (sawah padi gunung) atau menyadap karet serta mencari damar.
     “Bagi kami apapun fasilitas yang tersedia tak masalah, yang penting bagaimana para anak pedalaman Kalimantan ini, setidaknya bisa membaca dulu,” kata Hijri seorang guru kunjung yang bersedia melajari para anak masyarakat terisolir tersebut.

 foto bpost
     Terdapat tiga guru kunjung yang bersedia mendatangi lokasi belajar SD kecil di kawasan yang berlembah itu, selain Hijri juga ada Sumardi selaku kepala sekolahnya, serta seorang guru lagi. Mereka memperoleh upah sekitar Rp400 ribu per bulan dari pemerintah.
     Proses belajar itupun tak bisa disetiap hari hanya ditentukan hari-hari tertentu saja, dan belajarpun bisa bubar seketika saat turun hujan.
     Pelajaran yang diajarkan para guru kunjung antara lain, adalah pelajaran bahasa Indonesia, matematika, biologi, PPKN, serta pelajaran agama Budha, karena sebagian besar warga setempat adalah agama nenek moyang mereka Kaharingan (kepercayaan animisme) yang hampir menyerupai agama Budha lalu kemudian sebagian warga memeluk agama Budha.
     Dapau (40 th) ayah dari SD kecil yang juga penduduk setempat, merasa bangga adanya SD kecil itu, karena kehadiran sekolah khusus itu, maka sudah ada beberapa anak setempat bisa memnbaca dan menulis serta cara menghitung melalui pelajaran matematika.
     “Sejak zaman dulu, baru sekarang warga kami bisa membaca dan menulis, diantaranya adalah anak saya,” kata Dapau didampingi   warga lainnya yang berkerumun ketika berada di lokasi itu ikut hadir saat peresmian bangunan SD kecil oleh Bupati Balangan, Ir Sefek Effendi.
     Bupati Balangan bersama, Ketua Umum PWI Pusat, Haji Tarman Azzam, Ketua PWI Kalsel Faturahman serta puluhan wartawan dan pejabat Balangan mendatangi lokasi masyarakat Dayak Meratus tersebut berkaitan Hari Pers Nasional (HPN) tingkat Kalsel,Selasa (29/4) lalu.
    Menurut Sefek Effendi kepada pers, belajar di bawah pohon bambu tersebut berlangsung selama enam bulan, setelah itu warga setempat bergotong royong membuatkan semacam pondokan dengan ruangan yang mampu menampung 20 murid sekolah.
     Pondokan terbuat dari atap daun dan dinding bambu berlantaikan tanah, dibuat sedemikian  rupa, disediakan bangku-bangku duduk yang memanjang terbuat dari batangan bambu pula.
     Dengan fasilitas seadanya itulah kemudian para murid bisa belajar dengan lebih tertib, kata Sefek Effendi seraya menunjuk pondokan tersebut.
     Pondokan yang merupakan SD kecil tersebut sempat digunakan beberapa bulan pula tetapi kini sudah tak dimanfaatkan lagi hingga mulai runtuh, dimana-mana atapnya berlubang dan tidak terawat lagi setelah dibangunkan gedung SD kecil yang lebih permanen dengan bahan kayu yang tak jauh dari lokasi tersebut.
     Kedatangan Bupati ke areal penghasil karet alam, rotan, kemiri, damar, dan padi tugal (gogo) tersebut dalam rangkaian meresmikan gedung agak permanen SD kecil tersebut. 
     Di sekolah SD kecil itu menampung anak warga bukit (panggilan warga pedalaman) antara 15 hingga 20 orang per sekolah, dan mereka sekolah hanya sampai kelas tiga saja, setidaknya mereka sudah bisa menghitung dan membcaca.
     Setelah mereka dinilai lulus di SD kecil itu barulah mereka bisa melanjutkan ke SD Negeri atau SD yang resmi sampai dengan lulus kelas enam.
     Untuk melanjutkan hingga kelas enam anak anak itu bisa bersekolah ke SD terdekat seperti dibukota kecamatan Halong atau Awayan.
     SD kecil ini terpaksa didirikan untuk menolong anak warga Dayak yang rumah tinggalnya begitu terpencar dari satu gunung ke gunung yang lain sehingga untuk mengajak mereka sekolah ke SD resmi agak sulit karena lokasi yang terpencer-pencar itu.
     Oleh karena itu Pemkab Balangan berinisiatif mendirikan SD kecil di lokasi-lokasi tertentu agar anak itu bisa menjangkaunya, karena lokasi Pegunungan Meratus itu terpencar di wilayah itu maka didirikanlah enam lokasi SD kecil.
     Saat presemian tersebut Ketua Umum PWI Tarman Azzam, bahkan sempat menjadi guru dadakan di sekolah yang menampung anak-anak Pegunungan Meratus itu.
     Sekolah khusus yang diresmikan itu satu dari enam sekolah serupa di kawasan perbukitan Pegunungan Meratus Kabupaten Balangan. Selain di Desa Hampang SD kecil juga ada di desa Tengger, Desa Wayuanin, Desa Ajung, Palaran, serta Desa Lebero Sungkai.
    Seluruh lokasi SD kecil itu menyebar di pegunungan Meratus tersebut, ada yang berdekatan dengan ibukota kecamatan Halong atau ibukota kecamatan Tebing Tinggi, dan Awayan.
     Berdasarkan keterangan terdapat sekitar empat ribu Kepala Keluarga (KK) warga di kawasan perbukitan tersebut, dan dari jumlah itu sekitar 500 anak usia sekolah yang harus diberikan pelajaran agar mereka tidak lagi buta huruf seperti orang tua mereka.
     Selain itu juga diberikan pelajaran paket A untuk warga yang sudah berusia di atas 15 tahun agar warga juga bisa membaca, melalui jasa guru kunjung tersebut.
      Berdasarkan pemantauan ANTARA lokasi SD Kecil yang diresmikan tersebut  terletak cukup jauh di Pegunungan Meratus, yakni jarak 22 KM dari Halong. sementara Halong sendiri berjarak sekitar 240 Km Utara Banjarmasin.
     Banjarmasin Halong agaknya tak masalah karena tersedianya jalan darat yang memadai, hanya saja antara Halong menuju Pegunungan Meratus yang medannya sangat berat karena tak tersedia jalan darat memadai.
      Untuk menempuh perjalanan tersebut, rombongan PWI Kalsel, dan Pemkab Balangan serta Ketua PWI Tarman Azzam harus menempuh perjalanan yang melelahkan, dengan jalan yang seadanya dan berliku-liku menempuh lembah dan gunung.
     Bahkan mobil Tarman Azzam dan Bupati Balangan sempat amblas pada lokasi jalan yang rusak berat, karena jalan dari tanah yang belum ada pengerasan akibatnya jalan berlubang-lubang besar, becek, berlumpur dan berair.
     Untung saja beberapa petugas sudah disiapkan untuk membantu mobil rombongan yang amblas di lokasi sulit tersebut sehingga perjalanan rombongan sampai ke tujuan.
     Tak heran ketika sampai ke lokasi SD Kecil yang paling dekat dengan ibukota kecamatan itu, banyak anggota rombongan yang kelelahan, dan terpaksa istirahat dulu di bawah pepohonan sebelum mengikuti upacara  peresmian SD kecil tersebut
     Peresmian SD kecil itu dilakukan setelah selesainya peringatan Hari Pers Nasional (HPN) yang diikuti ribuan masyarakat di lapangan Kota Halong yang sekaligus mencanangkan gerakan gemar membaca bagi masyarakat pedalaman Kalsel tersebut.

TRENGGILING SI SATWA “JELMAAN SETAN” ITU KINI JADI BARANG DAGANGAN

    Oleh Hasan Zainuddin
          Banjarmasin, 20/4 (ANTARA)- Jangankan memakan, menangkap binatang Trenggiling saja hampir dipastikan tidak ada yang berani, setidaknya bagi warga pedalaman Kalimantan Selatan (Kalsel) era tahun 60 hingga tahun 80-an.
         Pasalnya, binatang trenggiling bukanlah binatang seperti binatang lainnya, tetapi binatang yang memiliki nilai mistis, bahkan dianggap sebagai jelmaan setan atau hantu.
         Bahkan banyak yang percaya keberadaan trenggeling disuatu desa bertanda kurang baik, akhirnya binatang itu diburu jauh ke dalam hutan atau ditangkap untuk dimusnahkan dengan cara membakarnya, agar roh jahat yang ada di dalam tubuh binatang itu itu ikut musnah terbakar dan tidak menganggu manusia.

 saat pembakaran ratusan satwa trenggiling di Tahura Sultan Adam (foto bpost)
         Tetapi tak jarang, binatang sudah tertangkap dibuat ke dalam karung atau diikat dengan tali ternyata hilang begitu saja, akhirnya anggapan trenggiling sebagai jelmaan setan kian kuat.
         Dengan anggapan demikian di era tahun-tahun tersebut populasinya cukup terpelihara di hutan tidak ada yang berani memburunya, tetapi kemudian populasi itu terus menurun hingga sekarang ini, karena bukan saja ditangkap untuk dikonsumsi dan diperdagangkan tetapi juga akibat hutan yang kian rusak seperti gundul atau  terbakar.
         Apalagi belakangan daging binatang ini ternyata di lidah sebagian orang dinilai lezat bagaikan daging bebek dan dinilai memiliki berbagai khasiat akhirnya binatang ini kian diburu dan diperdagangkan bukan saja diperdagangkan di pasar lokal tetapi tak sedikit yang diantarpulaukan bahkan di ekspor ke luar negeri.
         Seperti yang terjadi di Banjarmasin Kalsel sebanyak 360 ekor trenggiling (Manis Javanica) disita Polsekta Banjarmasin Selatan dari rumah warga Banjarmasin, kemudian dimusnahkan aparat Dinas Kehutanan dan BKSDA Kalsel di Tahura Sultan Adam Mandiangin, Kabupaten Banjar, Kamis (17/4).
         Penemuan barang bukti perdagangan ilegal satwa tersebut merupakan yang kedua kalinya di rumah warga di bilangan Kampung Pekauman tersebut, karena sebelumnya petugas juga telah menemukan 10 ekor trenggiling dan 25 buah tanduk rusa untuk diperdagangkan.
         Menurut isteri tersangka kepada petugas bahwa suaminya hanya sebagai pengumpul dan pengolah.
         Trenggiling-trenggiling itu dipasok oleh beberapa orang dari Palangka Raya (Kalimantan Tengah), Kandangan (Kabupaten Hulu Sungai Selatan/Kalimantan Selatan) serta daerah lainnya di wilayah Kalsel dan Kalteng ini. Biasanya, binatang tersebut dihargai Rp 50 ribu per ekor.
         Kemudian, trenggiling diolah dengan cara dibedah dan dikuliti, lalu dijual dagingnya itu kepada para pembeli yang datang ke rumah.
         “Untuk yang sudah dikuliti dijual dengan harga Rp 200 ribu, sedang jika ada yang masih hidup bisa laku sampai Rp 400 ribu. Biasanya yang datang orang Jakarta.” kata isteri tersangka seperti dikutip sebuah surat kabar di Banjarmasin.
         Trenggiling itu kemudian diolah jadi makanan. Langganan makanan daging trenggiling itu katanya orang China dan Jepang.
         Atau tambahnya, setelah dibedah, sisiknya dikelupas, dagingnya diawetkan kemudian bisa sudah terkumpul banyak, barulah dikirim ke China.
         Lakunya daging binatang untuk dijual lantaran diyakini dapat menyembuhkan penyakit jantung dan paru-paru. Bahkan ada yang percaya bisa menjadi obat kuat. Sedang kulitnya, bisa dimanfaatkan untuk kosmetik. Satu kilogram sisik, bisa laku sampai Rp 350 ribu.
         Usaha bisnis ilegal warga Banjarmasin itu akhirnya tercium petugas yang akhirnya digrebek petugas gabungan Polsekta Banjarmasin Selatan dan Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Selatan yang hasilnya ditemukan 360 ekor trenggiling yang sudah dibedah dan dikuliti di dalam delapan lemari pendingin.
         Daging binatang yang ditemukan di rumah warga Banjarmasin seberat 1,5 ton itu dimasukkan ke dalam lubang besar di Tahura Sultan Adam Mandiangin Kabupaten Banjar, kemudian dibakar.
         Menurut seorang petugas, binatang ini tak boleh dijualbelikan karena ada peraturan yang menyatakan hal itu seperti Undang-undang RI No 5/1990, Peraturan Pemerintah RI No 17/1999.
         Kepala Seksi Konservasi Wilayah II Banjarmasin, Nurani kepada wartawan mengatakan, mereka yang memperjualbelikan trenggiling diancam dengan hukuman lima tahun penjara dan denda Rp 100 juta.

 (foto Koran berani)
         Berdasarkan sebuah literatur bahwa binatang ini ditemukan oleh seorang bernama Desmarest pada 1822, binatang ini disebut juga ant eater (pemakan semut) wakil dari ordo Pholidota yang masih ditemukan di Asia Tenggara.
         Tubuh trenggiling lebih besar dari kucing. Berkaki pendek dengan ekor panjang dan berat. Yang unik adalah tubuhnya bersisik tersusun seperti genting rumah. Sisik pada bagian punggung dan bagian luar kaki berwarna cokelat terang. Binatang berambut sedikit ini tidak mempunyai gigi.
         Untuk memangsa makanannya yang berupa semut dan serangga, trenggiling menggunakan lidah yang terjulur dan bersaput lendir. Panjang juluran lidahnya dapat mencapai setengah panjang badan.
         Pada siang hari trenggiling tidur di dalam tanah. Sarang ini biasanya dibuat sendiri atau merupakan bekas sarang binatang lain yang tidak lagi ditinggali.
         Untuk melindungi diri dari serangan musuh, trenggiling menyebarkan bau busuk. Ia memiliki zat yang dihasilkan kelenjar di dekat anus yang mampu mengeluarkan bau busuk, sehingga musuhnya lari. Musuh trenggiling adalah anjing dan harimau.
         Binatang unik ini berkembang biak dengan melahirkan. Hanya ada satu anak yang dilahirkan seekor trenggiling betina. Lama buntingnya hanya dua sampai tiga bulan saja.
         Jika diganggu, trenggiling akan menggulungkan badannya seperti bola. Ia dapat pula mengebatkan ekornya, sehingga “sisik”nya dapat melukai kulit pengganggunya.
         Trenggiling yang hidup di tanah mempunyai ekor berotot kuat. Panjangnya kira-kira sama dengan tubuhnya dan seluruhnya bersisik. Trenggiling yang hidup di pohon mempunyai ekor yang lebih panjang dari tubuhnya.
         Pada ujung ekor itu terdapat bagian yang gundul. Ekor digunakan sebagai lengan untuk berpegang waktu memanjat pohon.
         Ada tujuh jenis Trenggiling yang masih hidup yaitu Trenggiling India (Manis crassicaudata) terdapat di India dan Srilangka, Trenggiling Cina (M. pentadactyla) terdapat di Taiwan dan RRC Selatan, Trenggiling Pohon (M. tricuspis), Trenggiling Berekor Panjang (M. tetradactyla), Trenggiling Raksasa (M.gigantea) dan Trenggiling Temmick (M. Temmicki) terdapat di Afrika serta yang terakhir adalah Trenggiling Jawa (M. javanica) terdapat di Semenanjung Malaysia, Birma, Indocina (Vietnam, Laos, Kamboja) dan pulau-pulau Sumatera, Kalimantan dan Jawa.
         Binatang ini memakan semut, telur semut, dan rayap. Untuk menggantikan fungsi gigi, lalu ia akan memakan kerikil untuk melumatkan makanannya.
         Apakah hal ini tidak berbahaya bagi lambungnya, menurut literatur tersebut tentu saja tidak, karena lambung trenggiling telah dilapisi oleh epitel pipih berlapis banyak dan mengalami keratinisasi cukup tebal.
         Epitel yang mengandung keratin ini akan melakukan adaptasi terhadap jenis makanan keras. Gesekan mekanik antara rangka semut atau rayap yang dimakan dapat diminimalisir dengan adanya keratin tersebut.

KERBAU RAWA JADI OBYEK AGROWISATA DI KALSEL

           Oleh Hasan Zainuddin 
          Banjarmasin, 18/4 (ANTARA)- Sekelompok pemuda bersorak sorai di hamparan ribuan hektare rawa monoton, Desa Bararawa, Kecamatan Danau Panggang, Kabupaten Hulu Sungai Utara (HSU) Propinsi Kalimantan Selatan (Kalsel).
         Seorang pemuda bertindak sebagai joki, menunggang seekor kerbau besar di hamparan lahan berrawa-rawa tersebut, sementara yang lain juga melakukan hal serupa seraya memacu sekencangnya lari kerbau yang ditunggangnya saat perlombaan kerbau di lokasi desa sentra peternakan kerbau rawa tersebut.
         Perlombaan kerbau rawa itu persis seperti perlombaan atau atraksi karapan sapi di Madura, tetapi lomba karapan sapi di lahan kering atau lapangan luas sementara lomba kerbau rawa di hamparan berair yang penuh dengan tanaman rawa.
         Dalam lomba yang seringpula didatangi ribuan penonton tersebut tampaknya sebagai arena kompetisi antar desa di wilayah penghasil daging ternak terbesar Kalsel itu.
         Tak jarang dalam kegiatan lomba yang merupakan hiburan segar bagi masyarakat yang bermata pencariannya bertani, menangkap ikan, dan beternak itu dihadiri pejabat bukan sebatas camat, dan bupati, tetapi seringpula dihadiri gubernur Kalsel.

 
         “Lomba kerbau rawa merupakan objek wisata tahunan Kalsel yang terus dipopulerkan guna mendukung kunjungan wisata ke daerah ini,” kata Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kalsel, Bihman Muliansyah.
          Lomba kerbau rawa tersebut, biasanya diselanggarakan pada setiap perayaan hari kemerdekaan RI, di lokasi yang sudah disediakan di kawasan tersebut, sehingga bagi turis mudah melihat atraksi lomba kerbau rawa itu.
          Tetapi, bukan hanya atraksi lomba kerbau rawa yang menjadi daya pikat wisatawan khususnya wisatawan mancanegara ke daerah itu, yang menarik mereka jusru menyaksikan usaha peternakan kerbau itu yang dinilai rada unik.
          Oleh karena itu, seringkali paket wisata kunjungan wisatawan selama di Kalsel selalu dikaitkan dengan lokasi peternakan kerbau rawa ini, seperti rute pendulangan intan tradisional, pasar permata, lalu Museum Lambung Mangkurat, Pasar Terapung Banjarmasin, Pulau kaget (pulau dihuni bekantan/nasalis larvatus).
          Setelah itu, wisatawan baru diajak ke lokasi kerbau rawa Danau Panggang yang lalu menuju ke Pegunungan Meratus menyaksikan komunitas suku Dayak Meratus, pulangnya berarung jeram menyusuri Sungai Amandit, dan terakhir kembali ke Banjarmasin.
          Berdasarkan catatan, kerbau rawa (Bubalus carabanensis) yang pula disebut sebagai kerbau (hadangan) kalang, karena kehidupan kerbau-kerbau ini berada di atas kalang di atas rawa.
          Kalang terbuat dari kayu-kayu besar yang disusun di tengah rawa untuk berteduhnya ternak besar ini, setelah berenang ke sana-kemari seharian di air dalam rawa untuk mencari makan.
          Sebuah kalang yang dibangun para peternak masyarakat Danau Panggang ini bisanya mampu menampung antara puluhan hingga ratusan ekor kerbau.
          Kerbau rawa merupakan aset asli atau plasma nutfah Kalsel, yang sudah beranak pinak atau berkembang biak di hamparan rawa seluas 2,6 juta hektare yang tersebar di lima kabupaten Hulu Sungai Utara (HSU), Hulu Sungai Tengah (HST), Hulu Sungai Selatan (HSS), Banjar, dan Kabupaten Barito Kuala (Batola).
          Tidak ada yang tahu persis asal usul kerbau rawa yang terbilang berbadan besar bila dibandingkan kerbau yang hidup di daratan ini, namun keberadaan kerbau itu sudah ada dari genereasi ke generasi.
          Menurut Kepala Dinas Peternakan Kalsel, Ir Maskamian Andjam kepada wartawan saat berada di kantor Gubernur Kalsel, Banjarmasin pada tahun 2000 lalu populasi hewan ini tercatat 11.605 ekor kemudian berkembang tahun 2004 lalu menjadi 38.488 ekor.
          Populasi kerbau rawa terbanyak berada di Kecamatan Danau Panggang HSU yang meliputi tujuh desa sentra peternakan, yakni desa Palbatu, Bararawa, Sapala, Peminggir, Ambahai, Tapus Dalam, dan Desa Danau Cermin dengan total populasi di kawasan itu sekitar 8000 ekor.
          Pada tahun 2002 dari 8000 ekor di tujuh desa  tersebut dimiliki oleh 215 orang peternak, dengan tingkat kepemilikan antara 50 hingga 100 ekor per orang dengan luas pengembalaan di kawasan rawa itu sekitar 61 ribu hektare dan 41 ribu diantara berupa rawa monoton berair dalam atau berupa danau.
          Kerbau rawa biasanya hidup secara berkelompok, satu kelompok biasanya terdapat antara satu atau dua penggembala (peternak) yang tindak tanduk peternak tersebut sangat di patuhi kerbau-kerbau besar ini.
          Jenis kerbau ini dengan spesifik tanduk yang melingkar panjang ke belakang, warna abu-abu coklat, dengan bentuk tubuh yang gempal, padat, dan berisi yang membuktikan bahwa kerbau rawa dengan mikroba rumen yang dimilikinya mampu mengubah makanan berkualitas rendah berupa rumput rawa menjadi daging.
          Berat kerbau ini berumur satu tahun sudah 195-200 kilogram, panjang badan 95,4-97,6 CM, dan lingkar dada 135,7-138,4 CM.
          Saat dewasa atau berusia tiga tahun kerbau itu memiliki 400-500 kilogram, dengan tinggi gumba 122,1-123,0 CM, panjang badan 128-138 CM, dan lingkar dada 174,6-177 CM.
          Bahkan ada kerbau rawa besar yang disebut atau berstatus “majir” pernah mencapai berat badan 600 kilogram, kata Maskaiman Andjam.
          Kerbau ini melahirkan anak setiap 400-500 hari (calving interval) dengan bobot lahir 28 kilogram. Kerbau rawa memasuki usia produktif saat berusia 15 tahun, dengan tingkat produksi susu cukup tinggi sehingga perkembangam anaknya begitu cepat.
          Akhmad Arifin yang seorang pemandu wisata Kalsel menuturkan untuk memancing wisatawan datang ke peternakan kerbau rawa tersebut setiap pemandu harus bisa menceritakan keunikan kerbau tersebut.
          Keunikan kerbau itu selain memang badannya besar, hidupnya berenang ke sana kemari di atas air rawa, hidup di atas kalangan jauh dari pemukiman penduduk, juga hanya ada di daerah rawa Kalsel dan sulit ditemui di daerah lain, biasanya setelah mendengar keunikan itu wisatawan khususnya yang memiliki perhatian terhadap binatang pasti minta di antarkan ke lokasi tersebut.
          Di lokasi peternakan. para wisatawan biasanya serius menyaksikan sistem peternakan yang dinilai benar-benar alamiah tanpa sentuhan tekhnologi itu
     “Wisatawan dengan menggunakan kamera biasanya membidik-bidik lokasi kalang sebagai tempat berteduh kerbau di malam hari, serta kelompok kerbau yang berenang di atas air  di kawasan tersebut.” kata Akhmad Arifin.
          Akhmad Arifin sendiri berharap dalam pengembangan peternakan kerbau ini bukan semata menambah pupulasi ternak, tetapi bagaimana lokasi peternakan ini menjadi daya pikat wisatawan dengan mempertahankan lomba kerbau rawanya, ditambah akses ke lokasi itu yang dipermudah.
          Bila semua itu lebih diperhatikan baik oleh Pemprop Kalsel maupun Pemkab HSU maka lokasi peternakan kerbau rawa kian dikenal sebagai objek agrowisata andalan Kalsel.

Imagekerbau rawa

 

 
KERBAU RAWA
—————
Kerbau rawa merupakan salah satu ternak ruminansia yang banyak diusahakan oleh petani ternak khususnya di daerah lahan rawa Kalimantan Selatan. Kerbau rawa mempunyai potensi dan peluang yang baik untuk dikembangkan, hal ini didukung dengan peningkatan jumlah penduduk, peningkatan kesejahteraan dan kesadaran akan pangan bergizi dari masyarakat, sehingga permintaan konsumen akan daging meningkat. Kontribusi produksi daging kerbau yang dihasilkan di Kalimantan Selatan sekitar 12,22% dari total produksi ternak ruminansia. Makalah ini merupakan review dan bertujuan untuk memaparkan pemikiran-pemikiran tentang strategi pengembangan kerbau rawa di Kalimantan Selatan khususnya di daerah rawa di Kabupaten Hulu Sungai Utara (HSU), Hulu Sungai Tengah (HST), Hulu Sungai Selatan (HSS) dan Batola dengan pertimbangan populasi kerbau rawa cukup tinggi. Pengembangan kerbau rawa dapat dilakukan di daerah rawa baik lebak maupun pasang surut dengan memperhatikan daya dukung lahan terhadap penyediaan hijauan pakan ternak. Masalah yang dihadapi petani ternak kerbau yaitu areal padang penggembalaan yang terbatas dan berkurang akibat bertambahnya jumlah penduduk, pergeseran penggunaan lahan menjadi lahan usahatani; ketersediaan hijauan sangat tergantung musim, dan adanya hama (ulat dan keong mas); rendahnya produktivitas akibat rendahnya kualitas pakan, penurunan mutu bibit, inbreeding dan manajemen pemeliharaan yang kurang optimal; lokasi pemeliharaan ternak kerbau yang cukup jauh menyebabkan sulitnya akses untuk mendapatkan penyuluhan dan pencegahan/pengobatan penyakit. Berdasarkan analisis SWOT terdapat beberapa upaya yang dapat dilakukan untuk pengembangan kerbau rawa dengan memperhatikan faktor eksternal dan internal. Dan untuk mendukung strategi pengembangan disarankan agar program pengembangan kerbau mendapat prioritas baik dari pemerintah pusat atau daerah; pengembangan ternak kerbau harus sesuai dengan potensi daerah yang didukung dengan perbaikan teknologi (bibit, manajemen dan pakan) dan dapat diarahkan sebagai obyek wisata; serta perlunya pembinaan dan penyuluhan yang lebih intensif.(SUMB:Puslitbangnak)

KONTAMINASI TINJA, SEBUAH ANCAMAN KESEHATAN SUNGAI BANJARMASIN

Oleh Hasan Zainuddin
Banjarmasin,3/4 (ANTARA)- Deretan jamban (bangunan kecil tempat buang tinja langsung ke sungai) merupakan pemandangan biasa di Kota Banjarmasin, dianggap tak masalah karena keberadaan jamban sudah ada secara turun temurun.
Membuang limbah rumah tangga ke sungai juga dianggap biasa di dalam masyarakat kota seribu sungai itu. Sungai dijadikan urat nadi kehidupan, sebagai tempat tinggal, sarana transportasi dan sarana ekonomi.
Akibat kebiasaan itu sungai Banjarmasin tak bersih lagi, tercemar bahan kimia, menyempit, dangkal, bahkan ada yang mati.
Kantor Dinas Permukiman dan Prasarana Kota (Kimpasko) setempat mencatat 57 sungai dinyatakan kurang berfungsi lagi.
Tahun 1995, kota ini tercatat 117 sungai berfungsi sebagaimana mestinya tapi kini tinggal 60 yang mengalir baik, jika tidak dipelihara maka sungai itu kian rusak khususnya sungai kecil anak sungai Martapura dan Barito.

deretan jamban tepi sungai
Direktur Perusahaan Daerah Instalasi Pengolahan Air Limbah (PD Ipal) Kota Banjarmasin, Muhidin MT mengakui sungai sudah tercemar sampah dan limbah serta cukup mengkhawatirkan terdapat kandungan bakteri koli di air sungai yang berasal dari pembuangan tinja sembarangan.
Pencemaran tinja itu bukan saja adanya budaya jamban, juga Septec Tank (tempat penampungan tinja WC/kakus) rumah warga kurang standar, akhirnya tinja mencemari air di sekitar kakus dan mengalir kemana-mana.
Tiap warga buang tinja sekitar 125 gram/hari, bila penduduk Kota 700 ribu jiwa dapat dibayangkan produksi tinja yang dapat mencemari lingkungan, belum lagi pencemaran limbah rumah tangga dan industri yang juga sangat mempengaruhi kondisi air sungai itu.
Dalam kaitan memperingati hari air internasional 22 Maret 2008 lalu, tambahnya pihak PD Ipal melakukan berbagai kegiatan untuk menyadarkan mayarakat guna menjaga kualitas air melalui sistem sanisati yang baik.

Sanitasi Indonesia
Masalah penanganan sanitasi buruk itu ternyata bukan saja di Banjarmasin tetapi juga dialami secara masional.
Sebuah catatan, menyebutkan satu lagi prestasi buruk terhadap Indonesia dibanding negara lain di Asean, yakni negara terburuk ketiga l penanganan sanitasi yang dampaknya bisa menimbulkan kerugian besar, sementara sanitasi terjelek Asean diraih negara laos dan Nyanmar.
Menurut Nugroho Tri Utomo yang juga Sekretaris Koordinator Indonesian Sanitasi Sector Development Program (ISSDP) saat lokakarya beberapa waktu lalu di Banjarmasin, akibat sanitasi buruk itu berdampak besar bagi Indonesia seperti masalah ekonomi, kesehatan, dan sosial budaya.
Ilustrasinya dampak ekonomi akibat sanitasi yang buruk itu, Indonesia alami kerugian sedikitnya Rp40 triliun, belum lagi dampak kesehatan dimana masyarakat miskin harus mengeluarkan sedikitnya 25 persen penghasilannya hanya untuk membayar dampak dari sanitasi yang buruk itu.
Misalnya, kerugian itu bila masyarakat harus membayar pengobatan akibat serangan berbagai penyakit dari sanitasi jelek itu, membayar keperluan air bersih, membayar keperluan mandi cuci dan kakus (MCK) dan sebagainya.
Buruknya masalah penanganan sanitasi Indonesia terlahir akibat adanya anggapan masalah sanitasi tanggungjawab tiap rumah tangga, dimana sebuah rumah tangga yang sudah menyediakan fasilitas sanitasi yang baik maka dianggap selesai.
Padahal seharusnya sanitasi bukan lagi urusan pribadi-pribadi masyarakat tetapi harus menjadi persoalan bersama, masyarakat dan pemerintah, dan itu harus bersama-sama untuk menanganinya, tidak bisa ditunda lagi dalam penanganan tersebut, katanya.
Sementara sebuah catatan lagi disebutkan bahwa dalam kurun 30 tahun terakhir ini pemerintah indonesia hanya menyediakan dana sekitar 820 juta Dolar AS untuk sektor sanitasi, artinya hanya Rp200,- setahunnya untuk setiap penduduk, jumlah yang sangat sedikit mengingat kebutuhan dana untuk itu idealnya Rp47 ribu per orang per tahun.
Anggaran pemerintah untuk sektor sanitasi memang sangat minim, apalagi bila dibandingkan dengan anggaran sektor air bersih yang besarnya lebih dari Rp6 miliar Dolar AS untuk periode yang sama, padahal untuk kedua urusan kesehatan masyarakat kedua sektor tersebut memiliki saling ketergantungan.
Mengenai penanganan buangan tinja berdasarkan sebuah catatan bukanlah masalah sepele. Seseorang tiap harinya membuang tinja seberat 125-250 gram, jika saat ini seratus juta orang Indonesia tinggal di kawasan perkotaan, maka setiap harinya kawasan perkotaan bisa menghasilkan 25 ribu ton tinja.
Selain jumlah tinja begitu banyak, tinja juga memiliki potensi dampak dari keempat kandungannya, dan dampak itu sudah tentu merepotkan.
Empat dampak tinja seperti mikroba, sebagian diantaranya tergolong sebagai mikroba patogen, seperti bakteri salmonela typhi penyebab tifus, bakteri vibrio cholerae penyebab kolera, virus penyebab hepatitis A, dan virus penyebab polio, tinja mengandung puluhan miliar mikroba termasuk bakteri koli-tinja.
Tinja juga mengandung materi organik sebagian merupakan sisa dan ampas makanan yang tidak tercerna, ia dapat membentuk karbohidrat, dapat pula berupa protein, enzim, lemak, mikroba, dan sel-sel mati. Satu liter tinja mengandung materi organik yang setara dengan 200-300 mg BOD5.
Kemudian tinja juga mengandung telur cacing, seseorang yang cacingan akan mengeluarkan tinja yang mengandung telur-telur cacing. Beragam cacing dapat dijumpai di perut seseorang, sebut saja cacing keremi, cacing cambuk, cacing tambang, serta cacing gelang.
Satu gram tinja berisi ribuan telur cacing yang siap berkembang biak di perut seseorang.
Kandungan lain tinja adalah nutrien, umumnya merupakan senyawa nitrogen (N) dan senyawa fosfor (P) yang dibawa sisa-sisa protien dan sel-sel mati. Nitrogen keluar dalam bentuk solfat. satu liter tinja manusia mengandung amonium sekitar 25 mg dan fosfat seberat 30 mg.

Pananganan
Melihat kondisi air sungai dan penanganan sanitasi buruk di Banjarmasin itu maka pemerntah setempat mendirikan PD Ipal guna mencegah pencemaran air lingkungan dengan mengolah air limbah hingga air jadi bersih alu dibuang kelingkungan agar lingkungan tetap baik.
PD Ipal sudah melakukan upaya perbaikan air dengan mendirikan tiga titik lokasi pengolahan air limbah di Jalan Lambung Mangkurat dan Pekapuran Raya serta Jalan HKSN Banjarmasin yang berhasil menjaring 900 pelanggan perhotelan, rumah sakit, pertokoan, dan sebagian rumah tangga.
Air limbah pelanggan tak lagi langsung dibuang tapi diolah dulu hingga bersih baru bisa dipergunakan atau dikocorkan ke sungai dan lingkungan.
Guna menciptakan lingkungan yang bersih PD Ipal mentargetkan membangun 14 titik lokasi Ipal agar bisa sebanyak mungkin mengcover sehingga seluruh lingkungan menjadi sehat.
Guna mewujudkan itu kini dikerjakan proyek besar pemasangan sistem perpipaan dalam upaya mengolah air limbah. Melalui dana APBN, menambah berbagai fasilitas sistem perpipaan, khususnya pipa primer.
14 titik lokasi pengembangan Ipal kedepan, antaranya di lokasi S Parman, Pekauman, Karang Mekar, Kampung Melayu, Gatot Soebroto, Kayu Tangi, Sultan Adam, Belitung, Pemurus, Pramuka, serta kawasan Teluk Dalam.
Menurutnya bila sistem perpipaan air limbah tersebut berhasil dengan baik, diharapkan satu perlima air limbah di masyarakat kota bisa tertangani baik.
Upaya lain membersihkan kondisi air dari pencemaran tinja dilakukan melalui Dinas Kimprasko dengan mengembangkan sanitasi masyarakat (sanimas).
Sanimas didirikan di lokasi kumuh, padat penduduk miskin (kumis), dibangunkan tempat mandi dan cuci, serta untuk buang tinja (MCK), kemudian air limbahnya ditampung lalu diolah hingga airnya yang terbuang tak mengandung bakteri lagi.
Tahun 2007 ada empat lokasi sanimas yakni di Kelayan Tengah, Teluk Dalam, Pelambuan, dan Antasan Kecil timur. Tahun 2008 ini kembali membangun sanimas lima lokasi di Sungai Jingah, Kelayan Luar, Kampung Melayu, Pekauman, serta di Belitung Selatan.
Melalui upaya itu ditambah meningkatnya kesadaran warga menjaga kondisi air sungai maka kedepan diharapkan ancaman penyakit akibat penanganan sanitasi buruk itu tidak terdengar lagi.

INDONESIA BARU LIMA PERSEN MENGOLAH AIR LIMBAH PEMUKIMAN
Banjarmasin,11/3 (ANTARA)- Ketua Forum Komunikasi Pengelolaan Air Limbah Pemukiman (Forkalim) H.Abimayu,BE mengungkapkan negara Indonesia baru lima persen air limbah pemukiman yang mampu diolah menjadi air bersih yang baru dibuang ke lingkungan.
Tingkat pengolahan air limbah pemukiman yang relatif kecil itu maka lingkungan Indonesia  berpotensi tercemar berat air limbah pemukiman yang pada gilirannya membahayakan kelestarian lingkungan dan kesehatan manusia, kata Abimayu, Rabu.
Ketika ditanya ANTARA di sela-sela mengikuti acara Rapat Kerja Nasional (Rakernas) Forkalim di Hotel Rodeta Banjarmasin, Abimayu menyebutkan minimnya pengelolaan air limbah pemukiman itu karena investasi untuk itu sangat  mahal sementara usaha tersebut tidak memberikan keuntungan yang besar hingga kurang diperhatikan.
Dibandingkan dengan pengolahan air bersih untuk kebutuhan dasar masyarakat yang begitu pesat perkembangannya, pengolahan air limbah pemukiman ini sangat jauh tertinggal.
Padahal di negara maju, dimana sangat memperhatikan kelestarian lingkungan dan kesehatan masyarakatnya, maka pengolahan air limbah tersebut seakan perioritas hingga tingkat pengolahannya begitu tinggi.
Mengolahan air limbah dimaksud adalah air limbah yang berada di dalam perpipaan pemukiman kemudian di olah hingga kondisi air tersebut mampu berada di kisaran baku mutu air yang aman bagi lingkungan baru di buang ke sungai dan sebagainya hingga tidak lagi merusak lingkungan.
Salah satu air limbah yang berbahaya jelas kotoran manudia yang membawa bakteri coli yang berbahaya bagi kesehatan, khususnya di wilayah pemukiman padat penduduk, seperti di perkotaan.
Sebagai contoh saja, Kota Banjarmasin tempat diselanggarakannya Rakernas Forkalim peretama di luar Jawa, ternyata kondisi limbah kotoran manusia begitu tinggi mencemari air sungai.
Secara terpisah, Kepala Perusahaan Daerah (PD) Pengolahan Air Limbal (PAL) Banjarmasin, H.Muh Muhidin,ST membenarkan kandungan baktari coli di sungai Banjarmasin sudah tercatat 16000 PPM, sementara batas baku mutu hanya 30 PPM, begitu tingginya pencemaran tinja di wilayah ini.
Hal itu terjadi karena kondisi Septec Tank (tempat penampngan tinja)  atau kakus rumah-rumah penduduk di Banjarmasin kebanyakan dibuat tidak standar,  akhirnya tinja mencemari air di sekitar kakus dan mengalir kemana-mana.
Selain itu memang ada budaya masyarakat Banjarmasin yang membuang kotoran sembarangan langsung ke  sungai melalui budaya jamban.
Oleh karena itu, Pemko Banjarmasin melalui PD Pal berusaha mencegah pencemaran air limbah pemukiman itu kemudian diolah hingga bersih agar lingkungan juga bersih, tambahnya.
Menurut Abi Mayu sesuai dengan MDG’S 2015 hendaknya air limbah pemukiman ini harus diolah menjadi air bersih yang sehat bagi lingkungan, tetapi karena investasi mengenai itu besar, maka kemungkinan sesuai MDG’S 2015 air pengelolaan limbah tidak bisa mencapainya.
Beberapa daerah di tanaha air memang sudah mulai serius mengelola air limbah ini, khususnya di Banjarmasin sudah terdapat tiga titik lokasl instalasi pengolahan air limbah dengan kapasitas cukup besar, dari 14 titik lokasi yang direncakakan agar wilayah ini bersih dari air limbah tersebut.
Kota-kota lain yang terus memacu produksi air limbah pemukiman itu, adalah 11 kota, antara lain Kota Medan, Jakarta,Bandung, Cirebon, Jogyakarta, Balikpapan, Denpasar, Solo, serta Kota Makassar.
Berdasarkan keterangan sebelum Rakernas digelar peserta yang berasal dari kota-kota pengolah air limbah tersebut berkesempatan menyusuri sungai-sungai wilayah pemukiman Banjarmasin untuk menyaksikan kondisi air sungai tersebut dari limpahan air limbah pemukiman.
Paparan yang disampaikan pada rakernas tersebut antara lain, dari ketua Forkalim Abimayu sendiri juga ada dari PDAM DKI Jaya, PDAM Balikpapan, BLU Denpasar, DLH Sekber Kerta Mantul Yogyakarta, PDAM bandung, PDAM Surakarta, serta PD PAL  Banjarmasin.

KALSEL DALAM BAYANG-BAYANG TB

      Oleh Hasan Zainuddin
          Yusuf (40) warga Dusun Paharuangan Desa Sungai Raya Selatan, Kabupaten Hulu Sungai Selatan, Kalimantan Selatan (Kalsel) mati  gantung diri. Cerita menyedihkan itu dilansir sebuah media massa di Banjarmasin, baru-baru ini.
         Yusuf nekad mengakhiri hidup dengan cara itu, karena ia frustasi menjalani hari-hari yang menyiksa, sejak kuman tuberculosis (TB) bersarang di tubuhnya beberapa tahun lalu.
         Buruh bangunan ini tak tahan dengan penderitaan akibat penyakit yang disebut oleh warga Kalsel sebagai “manggah”.
         TB, sejak dulu hingga sekarang merupakan momok bagi penduduk di wilayah paling selatan pulau Kalimantan ini.
         Selama tahun 2007, sebanyak 169 warga Kalsel meninggal akibat TB, 122 orang yang meninggal itu diantaranya merupakan pengidap penyakit TB positif.
         Sementara 46 orang lainnya terditeksi pengidap penyakit TBC negatif dan satu orang lagi pengidap TBC yang sudah pernah sembuh namun kembali kambuh.

 penderita tbc
         Dari 13 kabupaten dan kota di Kalsel, Kabupaten Hulu Sungai Tengah (HS) merupakan daerah paling tinggi kasus kematiannya (14 orang), disusul Barito Kuala (12 orang), Hulu Sungai Selatan (HSS) (11 orang) dan Tapin (10 orang).
         Selanjutnya, Kabupaten Tanah Bumbu (9 orang), Banjar (8 orang), Hulu Sungai Utara (HSU) dan Tabalong masing-masing (7 orang), Tanah Laut (Tala) dan Balangan masing-masing 6 orang dan Kotabaru serta Banjarbaru masing-masing satu orang.
         Kepala Dinas Kesehatan Kalsel, Rosihan Adhani, mengungkapkan prevalensi penderita TBC di Kalsel saat ini masih mencapai 210/100 ribu penduduk.
         Artinya, setiap 100 ribu penduduk terdapat 210 orang penderita TB. Saat ini jumlah penduduk Kalsel mencapai 3,5 juta jiwa lebih, jadi diperkirakan jumlah penderita TB mencapai 7.000 orang lebih.
         Sayangnya, dari hasil survei selama 2007 petugas baru menemukan sebanyak 3.200 penderita atau sekitar 47 persen. Padahal seharusnya
ditemukan sedikitnya 4.900 penderita (kasus), sesuai target pemerintah pusat sebesar 70 persen dari total perkiraan penderita.
         Namun, jumlah penemuan penderita TBC tersebut tetap jauh lebih banyak dibanding tahun-tahun sebelumnya, yaitu pada tahun 2005 sebanyak 2.987 penderita dan tahun 2006 sebanyak 3.577 orang.
        “Penemuan penderita TB selama 2007 masih sangat jauh dari target yang ditentukan, kondisi ini mengkhawatirkan, karena semakin sedikit penemuan penderita, kemungkinan penyebaran TB terhadap warga lainnya akan bertambah tinggi,” katanya.
         Dari jumlah penderita TB tersebut, sebanyak 87 persen berhasil disembuhkan atau di atas rata-rata nasional yang hanya 85 persen, sedangkan angka konvensi atau penderita yang sebelumnya positif menderita virus TB menjadi negatif sebanyak 80 persen.
         Konvensi tambahnya, yaitu penderita yang kendati belum sembuh 100 persen dari serangan TBC namun virusnya telah hilang, namun sewaktu-waktu mungkin bisa kembali.
         Sementara itu, tingkat kesalahan terhadap hasil laboratorium juga cukup bagus yaitu hanya sekitar 3,8 persen atau jauh di bawah ketentuan maksimal pemerintah pusat 5 persen.
         Kebanyakan, tambahnya, penderita TBC di Kalsel adalah laki-laki, akibat pola hidup yang tidak sehat, seperti merokok dan lainnya.
         “Dari 2.987 penderita TBC pada tahun 2005, sebanyak 1.807 penderita adalah laki-laki,” tambahnya.
          Penularan TB akan cepat terjadi di daerah-daerah kumuh terutama kawasan perkotaan, di daerah lingkungan padat.
         Sementara Dedey Rosyadi  dari Program officer Koalisi untuk Banjarmasin Sehat (KuBS) Banjarmasin saat menjelaskan mengenai penyakit TB belum lama ini mengatakan perlahan tetapi pasti satu orang penderita TB kalau tidak diobati bisa dipastikan terus menularkan kesepuluh orang penderita baru hanya dalam rentang waktu  setahun.
         Dengan demikian sudah bisa dibayangkan, bila suatu daerah terdapat penderita ratusan orang apalagi sampai ribuan orang maka nantinya akan terjadi ledakan penderita baru.
         Apalagi di Indonesia ini sudah dinyatakan ribuan bahwa puluhan ribu positif mengidap penderita penyakit ini
    Penyakit TB dinyatakan sebagai penyakit pembunuh nomor satu  dari kelompok penyakit menular yang selama ini dikenal, begitu berbahayanya penyakit tersebut sehingga badan kesehatan dunia (WHO) telah menyatakan pemberantasan TB menjadi sebuah kesepakatan global.
         Walau penyakit TB sudah dikenal penyakit menular yang paling berbahaya, tetapi pemberantasannya kurang intensif terbukti penyeraban penyakit itu di Indonesia semakin meluas.
         Penularan TB di Indonesia nomor tiga di dunia setelah China dan India.
         Seperempat juta kasus baru TB ditemukan setiap tahunnya di dunia, 140.000 pasien TB meninggal setiap tahun, dan 384 kematian setiap harinya karena TB. Disamping 17 hingga 18 orang meninggal setiap jam karena penyakit ini, kata Dedey Rosyadi.
         Celakanya, hanya 11 persen penduduk Indonesia yang mengetahui secara benar tentang gejala TB, dan sebagian besar pemerintah Kabupaten/kota di Indonesia justru tidak banyak menganggarkan dana untuk memberantas penyakit ini.
         Akibat kekurangan dana tersebut maka banyak Puskesmas sebagai ujung tombak pemberantasan penyakit menular kesulitan mendapatkan “suspect” TB.
         Dedey Rosyadi mengakui sebaran TB di Kalsel sudah cukup tinggi. “Wilayah ini enam besar daerah tertular TB di Indonesia,” katanya.
         Menurutnya, perlu sebuah gerakan dalam pemberantasan TB, bukan saja untuk memberantas penyakit tersebut tetapi juga memberikan pemahaman kepada masyarakat mengenai penyakit ini, khususnya cara pengobatannya.
         Selama ini masyarakat Kalsel masih ada yang beranggapan bahwa TB disebabkan ilmu hitam. Sebagian masyarakat pedalamam Kalsel menganggap terkena “racun” (ilmu guna-guna untuk pesugihan).
         “Anggapan keliru itu membuat penular TB di pedalaman Kalsel semakin cepat,” ujarnya.
        Ilmu racun itu dipercayai dipelihara seseorang yang ingin kaya, karena bila seorang terkena racun dan meninggal maka razeki yang meninggal itu nantinya akan berpindah kepada si pemelihara ilmu guna-guna tersebut.
        Akibat anggapan keliru itu maka penderita bukan berobat ke Puskesmas atau rumah sakit,  tapi ke dukun. Dukun hanya akan  memberi ramuan kampung, yang tak berhubungan dengan TB.
        Praktik seperti itu masih terjadi di Kota Paringin, Kabupaten Balangan.
        Setelah seorang petugas Puskesmas Kota Paringin melakukan penelitian, ternyata sekitar 70 persen orang “manggah” itu, terditeksi mengidap TB, sebab mereka berada di lingkungan pemukiman yang tidak sehat.
        Pekerjaan warga setempat sebagian besar adalah penyadap karet, mereka bekerja pagi hari hingga siang hari dilanjutkan menggarap sawah hingga sore. Rumah mereka tak berpenghuni dan selama berhari-hari selalu tertutup.
        Rumah-rumah penduduk juga berada di bawah rumpun pepohonan yang rimbun, yang tidak tersinari matahari. Akibatnya udara dalam rumah lembab dan menjadi tempat yang subur berkembangbiaknya kuman tuberkolosis.
        “Pola hidup seperti itulah yang menyebabkan wilayah Kecamatan Paringin sejak dulu hingga sekarang dianggap warga sebagai wilayah penyebaran racun, padahal sebenarnya sarang TB,” kata petugas Puskesmas tersebut.
        Melihat tingginya angka prevalensi TBC di Kalsel, berbagai kalangan berharap pemerintah mendirikan rumah sakit khusus penderita penyakit TB, karena ruang isolasi di sejumlah rumah sakit yang ada di Kalsel sekarang ini sangat terbatas.
        “Seharusnya harus ada RSU TB di Kalsel, karena penyakit ini perlu perawatan khusus,” kata Tono, seorang keluarga pasien yang kecewa karena tak mendapatkan ruang isolasi untuk orangtuanya yang harus dirawat karena menderita TB.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 38 pengikut lainnya.