MENCARI SOLUSI ATASI KERUWETAN PENYELANGGARAAN HAJI INDONESIA

naik-bisbeginilah jemaah Indonesia selalul rebutan naik bis

OLEH HASAN ZAINUDDIN
Banjarmasin,8/10  Tiap tahun jumlah jemaah haji Inodonesia ke tanah suci Mekkah Arab Saudi  selalu saja bertambah seiring kian meningkatnya jumlah penduduk dan kesejahteraan masyarakat, sehingga menimbulkan keruwetan dalam penyelanggaraan ibadah haji tersebut.
Berbagai upaya telah pula ditempuh pemerintah agar penyelanggaraan haji tersebut lebih baik dari tahun-tahun sebelumnya, tetapi tetap saja menimbulkan banyak problematika dalam kegiatan tersebut sehingga diperlukan semacam format yang ideal dalam upaya meminimalisir persoalan.
Menteri Agama (Menag) Maftuh Basyuni dalam suatu kesempatan mengakui begitu banyak persoalan dalam penyelanggaraan haji oleh karenanya dirinya akan bekerja secara maksimal untuk suksesnya pelaksanaan ibadah haji.
?Tugas penyelanggaraan haji ini menjadi barometer dan citra departemen  saya makanya harus benar-benar dikelola secara baik dan benar,? kata Maftuh Basyuni beberapa waktu lalu.
Maftuh menambahkan, kalau Depag ingin sukses melaksanakan penyelenggaraan ibadah haji, maka harus memiliki keberanian menegakkan aturan. Sekali aturan dilanggar, maka seterusnya akan menemui hambatan.
Menurutnya pula ada pihak yang ingin ikut memperbaiki pelaksanaan ibadah haji, tapi yang terjadi justru memperkeruh. Hingga kini, hal itu masih dirasakan.
Sementara seorang seorang pejabat Depag RI, lainnya menyatakan bahwa penyelanggaraan ibadah haji Indonesia selalu menimbulkan keruwetan lantaran jumlah jemaah haji itu yang sangat besar dibandingkan dengan jumlah jemaah haji di negara lain.
“Bagaimanapun baiknya sistem penyelanggaraan haji di Indonesia  dengan jumlah jemaah yang begitu besar dipastikan selalu saja ada persoalan,” kata Direktur Pembinaan Haji, Direktorat Penyelanggaraan Haji dan Umrah, Departemen Agama RI, Prof Dr Iskandar, Idy saat berada di Banjarmasin, Rabu.
Hal itu, diketengahkan Iskandar Idy ketika memberikan pengarahan kepada peserta orientasi pemantapan kinerja Panitia Penyelanggaraan Ibadah Haji (PPIH) embarkasi tahun 2008 yang diikuti berbagai peserta dari berbagai instansi yang terkait dalam PPIH tersebut.
Ia menambahkan dengan jumlah jemaah yang besar itu ternyata berlatar belakang jemaah yang sangat berbeda-beda pula, ada pegawai, ada pedagang, ada petani, buruh, dan sebagainya.      Begitu juga tingkat pengetahuan, penddidikan yang berbeda-beda pula, sehingga melahirkan tingkat variatif yang sangat tajam.
Dibandingkan bila harus membawa sebuah tim olahraga yang memiliki latar belakang yang sama maka membawa jemaah haji relatikf sangat sulit.
“Kalau disebuah tim sepak bola ada yang nakal, maka yang bersangkutan bisa diberhentikan atau ditinggal dalam satu tim, tetapi kalau ada jemaah yang nakal, apanya yang diberhentikan,” katanya sambil tersenyum.
Oleh karena itu diperlukan pendekatan kepribadian atau pendekatan lainnya terhadap para jemaah yang begitu banyak tersebut.
Jumlah jemaah haji Indonesia berdasarkan kouta tercatat 210 ribu orang. Jumlah itu begitu besar bila dibandingkan jemaah lain,  negara Malaysia hanya 26 ribu jemaah saja, apalagi Brunei Darussalam 7000 orang, Singapura hanya 4700 orang.
Melihat begitu besarnya jumlah jemaah haji Indonesia itu maka janganlah bermimpi bila penyelanggaraan haji bisa berjalan tanpa ada persoalan.
Tindakan yang bisa dilakukan adalah bagaimana menekan sekecil mungkin berbagai persoalan itu, dengan cara melakukan penyelanggaraan secara profesional oleh tenaga atau sumberdaya manusia (SDM) yang profesional pula.
Selain itu harus dicarikan berbagai format penyelanggaraan haji yang ideal untuk mengurus jemaah yang begitu besar, salah satu yang bisa dilakukan adalah dengan sistem penyelanggaraan ibadah haji secara terpadu yang melibatkan banyak pihak yang terkait.
Selain itu persoalan yang selalu muncul dalam penyelanggara haji Indonesia, karena dengan jumlah jemaah yang besar maka di situ terdapat banyak uang, sehingga semua orang ingin melibatkan diri dalam urusan haji.
“Bayangkan saja, kalau saat ini jumlah jemaah haji Indonesia 210 ribu orang dikalikan Rp35 juta per orang maka sudah terdapat sedikitnya Rp7 triliun, suatu jumlah yang sungguh menggiurkan banyak orang untuk bisa melibatkan diri, termasuk para pedagang sandal, pedaganga baju, pedagang payung, pedagang jaket, yang ingin melibatkan diri itu,” katanya.
Oleh karena itu,  Menteri Agama telah mengharamkan pegawai depag melakukan kegiatan yang bisa mencari untung dalam penyelanggaraan ibadah haji ini.
Melihat dalam penyelanggaraan haji yang begitu banyak uang,  maka sudah saatnya petugas penyelanggaraan haji ini yang direkrut Depag tidak hanya seorang yang ahli tafsir, ahli hadist, atau ahli fikih, tetapi juga diperlukan tenaga yang benar-benar ahli bidang lainnya,  seperti para sarjana manajemen, sarjana ekonomi, atau sarjana bidang lain yang benar-benar profesional.
Tenaga-tenaga ahli tersebut bisa memperbaiki sistem penyelanggaraan haji kedepan, dengan sistem manajemen yang baik dan dilakukan dengan niat yang iklas tanpa ada motivasi lain,
Selain itu, tambahnya, perbedaan budaya antara masyarakat Indonesia dengan masyarakat Arab Saudi harus pula dipelajari dalam upaya mencari solusi pemecahan keruwetan penyelanggaraan haji tersebut, karena persoalan katering makanan dalam penyelanggaraan haji tahun 1428 lalu dilatar belakangi pula persoalan perbedaan budaya teresebut,
Solusi lainnya adalah dengan cara meningkatkan koordinasi antara berbagai pihak yang terlibat dalam penyelanggaraan haji ini, oleh karena itu harus pula dicari format yang baik dalam hal koordinasi tersebut.
Terpadu
Melihat berbagai persoalan yang  terus menjadi pekerjaan rumah pemerintah itulah maka  kantor Kanwil Depag Kalsel mencoba mencari format yang baik dalam upaya penyelanggaaran haji setidaknya di embarkasi haji Bandara Syamsudin Noor.
Upaya Kalsel mengurangi persoalan itu mengingat jemaah haji Kalsel juga terus meningkat dan hingga kini daftar tunggu calon jemaah haji Kalsel sudah tercatat sekitar 25 ribu orang, sementara kouta haji Kalsel per tahun dihitung dari kalkulasi penduduk hanya sekitar 3496 orang.
Berarti kalau seseorang mendaftarkan diri sebagai calon haji sekarang dengan menabung di bank, berarti lima tahun kedepan baru dapat giliran menunaikan ibadah haji.
Kepala Kanwil Depag Kalsel, Prof Dr Fahmi Arief  sendiri mengakui kian banyaknya jemaah haji ingin berangkat ke tanah suci maka harus ada sistem penyelanggaraan yang baik di wilayah ini, karena itu perlu ada penangannan secara seksama agar pelayanan bisa maksimal.
Melihat kenyataan itulah maka digelar orientasi pemantapan kinerja Panitia Penyelenggaraan Ibadah Haji (PPIH) yang diikuti 25 peserta yang merupakan petugas berbagai instansi yang terkait dalam PPIH tersebut.
“Tujuan penyelenggaraan orientasi itu dalam upaya meningkatkan kemampuan dan profesionalisme petugas PPIH,” kata Kepala Bidang Penyelanggaraan Haji dan Umrah Kanwil Depag Kalsel, Drs Anwar Hadimi di sela-sela latihan dan orientasi tersebut.
Tujuan lain adalah terwujudnya pembinaan, pelayanan, dan perlindungan yang sebaik-baiknya bagi jemaah haji sehingga jemaah haji dapat menunaikan ibadahnya sesuai dengan ketentuan ajaran agama Islam dengan aman, lancar, dan selamat.
Materi yang disampaikan dalam kegiatan yang dibuka Kepala Kanwil Depag Kalsel Prof Dr Fahmni Arief antara lain kebijakan teknis penyelanggaraan haji, tugas dan fungsi PPIH embarkasi, koordinasi dan sinkronisasi PPIH embarkasi, dan penyehatan lingkungan asrama haji.
Selain juga ada materi mengenai penanganan kesehatan haji, teknis keimigrasian, keselamatan penerbangan haji, teknis pengamanan pemberangkatan dan pemulangan jemaah haji, serta permasalahan yang timbul di embarkasi dan debarkasi.
“Materi disampaikan delapan narasumber, diantaranya Direktur Pembinaan Haji, Direktorat Penyelanggaraan Haji dan Umrah, Departemen Agama RI, Prof Dr Iskandar, Idy.
Latihan dan orientasi selama tiga hari itu diikuti peserta dari unsur perusahaan penerbangan PT Garuda, Imigrasi, Bea dan Cukai, PT Angkasa Pura I, Dinas Kesehatan, Kanwil Depag, dan beberapa instansi lainnya lagi.
“Penyelanggaraan kegiatan itu dimaksudkan untuk memberikan pembinaan, pelayanan, dan perlindungan yang sebaik-baiknya bagi jemaah haji sehingga jemaah haji dapat menunaikan ibadahnya sesuai dengan ketentuan ajaran agama Islam,” katanya.
Melalui berbagai latihan dan orientasi demikian diharapkan terdapat sebuah format yang ideal melibatkan semua pihak secara terpadu hingga bisa menjadi solusi mengatasi kekisruhan dalam penyelanggaraan haji setidaknya di embarkasi Bandara Syamsudin Noor Banjarmasin.

tidur-dan-lelahlelah dan tidur

MERIAM BAMBU JARANG TERDENGAR LAGI DI PERKOTAAN KALSEL

Oleh Hasan Zainuddin
Dentuman meriam bambu dengan bunyi menggelar kini hampir tak terdengar lagi di kawasan perkotaan Kalimantan Selatan (Kalsel) saat bulan Ramadhan seperti sekarang.
Kebiasaan perang-perangan dentuman meriam bambu oleh kawula muda yang dulu mewarnai Ramadhan di perkotaan Kalsel, mulai ditinggalkan.
Namun suara bising tidaklah hilang sama sekali karena dentuman meriam bambu kini berganti dengan dentuman bunyi mercon yang bersahut-sahutan yang dibarengi kerlap-kerlib kembang api di udara, khususnya di kota-kota besar seperti Banjarmasin, Ibukota Provinsi Kalsel.
Udin (10 tahun) warga Banjarmasin, mengakui lebih senang bermain mercon ketimbang harus bermain meriam bambu, seperti anak-anak tempo dulu.
Masalahnya, tambahnya, bermain mercon tinggal minta uang kepada orang tua lalu membeli mercon yang banyak dijual secara menjamur di pinggir jalan, tinggal sulut, maka berbunyilah dar—dir.. door– dan byaaaar suara kembang api.
Sementara kalau main meriam bambu, harus mennyiapkan sendiri  peralatannya seperti bambu, selain itu proses pembuatannya agak susah dan kalau tidak pandai merakitnya maka meriam bambu itu pun tidak akan berbunyi.
Apalagi bahan bambu di wilayah Kota Banjarmasin nyaris tak pernah ada lagi, kecuali harus membeli di penjual bambu, maka pembuatannya cukup merepotkan, kata Udin.
Ketimbang bersusah payah maka lebih baik, beli mercon atau kembang api tinggal kumpulkan teman-teman sulut bersama-sama baik di halaman rumah atau pinggir jalan maka kegembiraan sudah bisa dirasakan, kata Udin.
Kebiasaan memainkan meriam bambu sudah menghilang sejak beberapa dasawarsa ini, bukan saja di kota besar seperti Banjarmasin, tetapi juga di kota-kota kecil lainnya.
Meskipun demikian sesekali masih ada terdengar dentuman meriam bambu di beberapa desa di kawasan Banua Enam (enam kabupaten Utara Kalsel).
Memainkan meriam bambu saat bulan Ramadhan pernah dikenal pada masa lalu, tetapi belakangan mulai ditinggalkan oleh masyarakat  setelah ada larangan dari aparat pemerintah terhadap permainan yang dinilai bisa membahayakan tersebut.
Tetapi kemungkinan pula hilangnya permainan meriam bambu terjadi karena bahan bambu semakin sulit diperoleh di hutan, setelah banyak hutan kini terus digunduli untuk ditebang kayunya yang menurunkan populasi bambu.
Permainan meriam bambu semakin sulit karena untuk memainkannya juga memakai minyak tanah sebagai bahan dasar menyulut api dan minyak tanah juga kian langka atau mahal harganya.
“Ketimbang main meriam bambu uang untuk beli minyak tanah lebih baik dibelikan beras saja,” demikian ungkapan seorang pemuda di Banjarmasin.
Hilangnya permainan meriam bambu itu menimbulkan kerinduan pada generasi yang pernah memainkannya, karena dentumannya yang terdengar hanya pada saat Ramadhan dinilai sebagai penyemarak datangnya bulan suci tersebut.
“Dulu kalau dengar bunyi dar…dir… door meriam bambu bersahut-sahutan, hati ini rasanya senang sekali, dan merasakan   bahwa saat-saat datangnya bulan Ramadhan,” kata seorang penduduk di Bilangan Kabupaten Balangan, Kalsel.
Karena merasa senang, maka hampir semua anak yang tumbuh dapa tahun 1960-an hingga tahun 1980-an itu memiliki meriam bambu sendiri, sehingga suasana kampung benar-benar riuh rendah oleh bunyi dentuman secara bersahut-sahutan, katanya.
Kebiasaan menyulut meriam bambu ini dilakukan saat usai buka puasa dan jeda sebentar saat jemaah banyak shalat tarawih, kemudian dilanjutkan seusai tarawih hingga tengah malam, lalu jeda lagi kemudian dibunyikan lagi saat membangunkan warga makan sahur.
Berdasarkan ketarangan warga di Desa Maradap, Kecamatan Paringin Selatan, Kabupaten Balangan membunyikan meriam bambu tersebut kian menjadi-jadi saat saat menjelang lebaran, bahkan saat-saat seperti itu biasanya dilakukan lomba atau perang-perangan meriam bambu.
Bahkan untuk memenangi suatu kelompok perang-perangan, meriam bambu dirasa tidak cukup maka ditambah lagi dengan meriam karbit.
Dalam lomba perang-perangan antar kelompok yang satu berasal dari kampung yang satu dengan kelompok dari kampung yang lain.
Biasanya lokasi perang-perang ini dibatasi oleh sungai atau jembatan, maka setiap moncong meriam bambu atau meriam karbit   diarahkan ke kampung seberang.
Saat lomba perang-perangan ini banyak warga kampung yang bersedia menjadi donatur pembelian minyak tanah atau bahan karbit, karena keinginan agar kampung mereka bisa dinyatakan lebih unggul ketimbang kampung yang lain.
Hanya saja dalam arena perang-perang meriam buatan rakyat ini tak pernah memunculkan perselisihan atau konflik fisik antar kampung, kecuali hanya memunculkan sorak sorai kegirangan dibarengi gelak tawa karena tak sedikit pemain yang menyulut meriam bambu itu yang alis, bulu hidung, bahkan rambut bagian atas hangus terbakar terkena sambaran api saat membunyikan meriam bambu tersebut.
Meriam bambu
Meriam bambu dibuat dari buluh bambu yang besar dan tebal, yang dilubangi penyekat ruasnya seperti biasa dipakai buat saluran air yaitu dengan diameter kira-kira 10 cm, tebalnya sekitar 1 cm.
Membuat meriam bambu cukup gampang, yaitu pertama menghilangkan ruas-ruas bambu dengan cara menyodoknya memakai kayu atau besi, sehingga tabung bambu menyerupai pipa besar.
Tapi, satu sekat di salah satu ujung bambu dibiarkan utuh, dan di dekatnya dibuat lubang dengan diameter sekitar 2 cm.
Ada tiga fungsi lubang tadi, yaitu sebagai lubang tiup untuk memasukkan  minyak tanah, mencelupkan api yang membakar kain di ujung sebuah tongkat kecil, dan tempat untuk meniup api yang membakar minyak tanah di dalam tabung bambu.
Gas hasil pembakaran yang tersekap di dalam tabung bambu otomatis akan mencari jalan keluar.  Pemain akan memberikan tekanan udara dengan meniup udara yang terus-menerus dan gas hasil pembakaran itu akan bergerak ke arah ujung bambu yang bolong. Maka meletuslah suara “tum tam dor” yang terdengar menggelegar.
Setiap dentuman biasanya disambut sorak sorai para pemainnya.
Untuk memainkan meriam bambu harus memiliki keahlian, sehingga para pemain mampu menciptakan suara dentuman yang menggelegar, dan terhindar dari “kebakaran lokal” yang mungkin terjadi.
“Jika kurang terampil, salah-salah alis mata hangus atau rambut bagian depan gosong.” kata seorang pria yang dulu gemar memainkan meriam bambu.
Kecelakaan sering terjadi karena pemain kurang ahli sehingga gas hasil pembakaran yang sudah ditiup ke arah lubang di ujung keluar, malah berbalik ke arah lubang tiup, dan menyemburkan api serta gas yang sangat panas ke arah muka pemain.
Sementara meriam karbit, bukanlah meriam yang terbuat dari besi atau yang seperti dilihat untuk peperangan, tapi hanya meriam yang terbuat dari bambu besar, atau yang disebut bambu batung, atau batang pepaya yang dikat.
Untuk menghasilkan suara yang lebih menggelar bisa dibuat dari batang kayu besar yang berdiameter sekitar 50 cm – 100 cm dan panjang antara 4 – 7 meter, yang dilubangi ditengahnya.
Batang tersebut diisi dengan air dan dimasukkanlah bahan karbit sebagai mesiunya.
Karbit yang bereaksi dengan air akan menghasilkan gas yang jika disulut dengan api akan mengakibatkan ledakan. Untuk satu kali permainan paling tidak dibutuhkan sekitar 3-5 ons karbit.
Suara ledakkannya dapat menggoyangkan bangunan sekitar, bahkan memecahkan kaca-kaca rumah jika jarak antara meriam dengan rumah terlalu dekat. Itu sebabnya permainan ini dianggap membahayakan dan sekarang dilarang, katanya

(perang meriam bambu di desa Garut :foto:abuafatah

PERANG MERIAM BAMBU MASIH HIDUP PE DEDALAMAN KALSEL
Banjarmasin,3/10 ()- Kendati permainan perang-perangan meriam bambu dan meriam karbit mulai menghilang di kalangan masyarakat perkotaan Provinsi Kalimantan Selatan (Kalsel) di saat menyambut bulan Ramadhan dan hari Idul Fitri ternyata permainan tahunan itu masih hidup di beberapa wilayah pedalaman Kalsel.

Tiga anak bermain di atas meriam karbit terbuat dari batang enau di Desa Limpasu, Kabupaten Hulu Sungai Tengah (HST) Kalsel.

Seperti pemantauan penulis yang melakukan mudik lebaran 1429 hijriah ke kawasan Kabupaten Balangan, Jumat bunyi meriam bambu satu dua kali masih terdengar dimainkan anak-anak setempat, walau sudah memasuki hari ketiga Idul Fitri.
Seperti terlihat di kawasan Pandan Kecamatan Awayan, 230 KM Utara Banjarmasin masih banyak terlihat anak-anak memainkan meriam bambu, begitu juga ke arah Desa Polantan, Sikuntan, Tariwin, Hingga ke Desa Limpasu dan Karatongan Kabupaten Hulu Sungai Tengah (HST) bunyi meriam bambu masih terdengar.
Sementara di pinggir-pinggir jalan antara Desa Pudak Kecamatan Awayan Kabupaten Balangan hingga ke Birayang Kabupaten HST, di beberapa lokasi tertentu tampak berserakan bekas meriam bambu yang pecah akibat perang-perangan.
Berdasarkan beberapa pemuda di kawasan Desa Kimpasu, perang-perangan meriam bambu dan meriam karbit terus berlangsung setiap malam pada Ramadhan, namun puncaknya malam Idul Fitri.
Para pemuda setempat selain menyiapkan puluhan  meriam bambu juga puluhan pula meriam karbit yang terbuat dari pohon rumbia serta pohon enau.
Pohon-pohon itu oleh pemuda setempat setelah ditebang lalu diproses menjadi meriam karbit, kemudian diikat sekuatnya dengan rotan walatung agar tidak pecah saat diledakan.
Meriam tersebut setelah diberi air secukupnya lalu dimasukan karbit hingga melahirkan gas yang bila disulut dengan api menimbulkan ledakan yang menggelagar, sehingga terdengar beberapa kilometer dari lokasi ledakan.
Menurut beberapa pemuda, sengaja meletakan  meriam karbit tersebut berada di persawahan agak jauh dari lokasi rumah penduduk, karena bila dekat rumah bisa jadi kaca jendera rumah akan pecah berantakan terkena getaran meriam buatan tersebut.
Hanya saja saat wartawan berada di lokasi puluhan meriam karbit tersebut tidak lagi dibunyikan karena sudah memasuki hari ketiga Idul Fitri, kecuali beberapa meriam bambu yang masih dimainkan anak-anak.
Walau tidak dimainkan lagi meriam karbit tersebut namun lokasi dimana meriam karbit berada menjadi tontonan banyak pemuda dan anak-anak sehingga di lokasi itu terlihat ramai.
Lokasi perang-perangan meriam bambu dan meriam karbit tersebut menurut masyarakat setempat   sudah membudaya secara turun temurun, khususnya pada malam Idul Fitri,  walau sekarang sudah banyak mercon dan kembang api di pasaran setempat,namun tidak mengikis kebudayaan tersebut.

 Tiga anak bermain meriam bambu di dekat Pasar Awayan Kabupaten Balangan
Bunyi meriam bambu dan meriam karbit identik dengan datangnya Ramadhan sementara bunyi merecon atau kembang api biasa juga terdengar pada saat malam tahun baru atau perayaan-peraan lainnya sehingga setiap Ramadhan tak bisa dihilangkan kebudaaan menyulut meriam bambu tersebut.

MENGANGKAT KEMBALI BUDAYA BADADAMARAN SELAMA RAMADHAN

          Oleh Hasan Zainuddin
          Banjarmasin, 17/9 (ANTARA)- Sekelompok anak muda menyalakan obor terbuat dari minyak tanah sambil bercanda ria di tengah suasana kampung yang terang benderang sambil menggelolarkan budaya Badadamaran di malam bulan Ramadhan.
         Sesekali mereka bersuara agak kencang dengan kata-kata “kalah kampung di hulu, kalah kampung di hilir, manang kampung tengah,” seakan menandakan bahwa kelompok anak muda yang berada di kampung (desa) tengah tersebut memenangi gerakan menyalakan lampu malam Ramadhan tersebut.

          Kebiasaan menyalakan lampu obor, atau penerangan apa saja di saat malam-malam Ramadhan yang disebut budaya Badadaran merupakan budaya yang sudah turun temurun di dalam masyarakat Suku Banjar yang mendiami kawasan Kalimantan Selatan (Kalsel) khususnya lagi di kawasan Banua Enam (enam kabupaten Utara Kalsel).
          Tak ada yang tahu persis mengapa budaya tersebut sudah ada sejak turun temurun di dalam masyarakat yang tinggal di pulau terbesar Indonesia tersebut, namun perkiraan hal itu muncul setelah para ulama tempo dulu menganjurkan umat Islam supaya menyemarakkan datangnya ramadhan dengan memberikan penerangan di muka rumah masing-masing.
         Tujuannya agar umat Islam yang ingin bepergian ke masjid, ke surau untuk melaksanakan shalat tarawih berjemaah akan mudah, atau melakukan ibadah lainnya.
         Menurut berbagai cerita tetuha masyarakat di bilangan Kecamatan Paringin Selatan, Kabupaten Baangan, atau sekitar 210 Km Utara Banjarmasin berbagai cara dilakukan masyarakat untuk menyemarakan budaya memberikan penerangan di pekarangan rumah di malam-malam Ramadhan tersebut.
         “Waktu dulu karena tak ada alat yang mudah untuk menyalakan lampu penerangan di depan rumah, maka penduduk di wilayah Banua Enam (dulu masih Banua Lima) karena masih belum ada pemekaran kabupaten di  Kalsel ini, memanfaatkan gatah kayu damar untuk disulut menjadi obor, sebagai alat penerangan,” kata Wahyudin penduduk Desa Panggung.
         Akibat kebiasaan menyulut getah kayu damar yang dinamakan damar tersebut maka budaya penerangan tersebut disebut Badadamaran, tambahnya.
         Seiring perkembangan zaman di saat getah kayu damar sulit diperoleh maka selanjutnya warga setempat menggantikan damar dengan karet lembaran kering yang setelah disulut dengan api lalu menyala menjadi obor.
         Agar memudahkan menyalakan karet tersebut  maka dibuatkan wadah yang terbuat dari batang pisang, pelepah daun rumbia, atau menggunakan bambu.
         Tempat membakar karet tersebut pun di bentuk-bentuk ada yang menyerupai kapal terbang, menyerupai binatang, menyerupai rumah-rumahan dan sebagainya, sehingga ketika deretan karet yang dinyatakan di tempat itu maka terlihat indah.
         “Biasanya antar kelompok pemuda di kampung berbeda seakan berlomba membuat lokasi Badadaran seindah mungkin, agar dikatakan berjaya dalam arena Badadamaran tersebut,” kata Wahyudin.
         Pada perkembangan berikutnya, bukan saja karet yang dibakar tetapi sudah lebih modern dengan menempatkan batang-batang lilin di tempat-tempat yang dibuat untuk budaya Badadamaran tersebut, bahkan deretan ampu templok menggunakan minyak tanah.
         Lalu setelah zaman terus berkembang pada tahap berikutnya, budaya Badadamaran khususnya di kampung-kampung tertentu sudah pula memanfaatkan lampu lampion atau lampu berhias yang disebut tanglong.
         Bahkan perkembangan terakhir setelah listrik masuk desa ke seluruh wilayah Kalsel memasang lampu penerangan di depan rumah dengan bahan seadanya yang semakin berkurang, bahkan di ganti bola-bola listrik kecil warna warni menghiasi depan rumah dan pinggir jalan desa-desa tersebut.
         Akhirnya memasuki era tahun 90-an dan tahun 2000-an ini, budaya Badadamaran nyaris menghilang karena banyak warga menggantikannya dengan lampu listrik kecil kerlap-kerlib.
         Ketika penulis melakukan perjalan dari Banjarmasin ke wilayah Banua Enam  beberapa hari lalu tak melihat tradisi khas saat Ramadhan seperti “badadamaran” menyulut lampu minyak tanah atau obor karet di tepi jalan atau di muka rumah.
         Beberapa penduduk Banua Enam menuturkan budaya Badadamaran tersebut, mulai menghilang sejak berhasilnya program pemerintah menggalakkan listrik masuk desa yang hampir mencapai seluruh
wilayah Kalsel.
         “Perkiraan budaya Badadamaran ini sudah mulai hilang sekitar satu dasawarsa lalu. Tadinya walau listrik sudah menyala di desa namun ada saja warga yang melakukan budaya tersebut, tetapi belakangan ini benar-benar sudah hilang,” kata seorang penduduk.
         Selagi budaya tersebut masih marak, kedatangan bulan Ramadhan begitu terasa, sebab sepanjang desa yang tadinya gelap gulita tak ada penerangan menjadi suasana terang benderang. Setiap buah rumah menyalakan lampu-lampu di tepi jalan atau depan rumah dengan jumlah beberapa buah.
         Melihat kenyataan menghilangnya budaya tersebut maka melahirkan keinginan Pemerintah Kota (Pemko) Banjarmasin pada bulan Ramadhan tahun 1429 hijriah atau tahun 2008 ini kembali membudayakan kebisayaan masyarakat suku Banjar, menggelar atraksi budaya “badadamaran.”
    “Badadamaran atau menyalakan lampu penerangan sebanyak mungkin di pekarangan rumah selama bulan Ramadhan, khususnya masuk malam ke 21 Ramadhan atau malam selikur,” kata Walikota Banjarmasin. Haji Yudhi Wahyuni.
         Untuk mensukseskan tersebut pihak Pemko Banjarmasin melalui Dinas Tata Kota (Distako) dan Dinas Informasi dan Komunikasi (Infokum) akan membuat surat edaran yang ditujukan kepada seluruh pemilik rumah, pemilik toko, pemilik bangunan yang ada di Banjarmasin untuk membuat lampu penerangan berhias atau tanglong di depan rumah atau toko masing-masing.
         Pihak pemko Banjarmasin sendiri akan membangun lampu berhias atau tanglong di median jalan-jalan protokol, seperti jalan Sudirman, jalan Lambung Mangkurat, serta Jalan Hasanudin HM, agar jalan-jalan protokol tersebut semarak oleh lampu berhias khususnya memasuki malam ke-21 hingga malam lebaran.
         Selain itu Pemko Banjarmasin meminta kepada seluruh camat dan lurah untuk berbuat serupa beramai-ramai membuat tanglong atau lampu penerangan di lokasi kecamatan atau kelurahan hingga ke kampung-kampung agar Ramadhan tahun ini semarak dengan lampu penerangan.
         “Kepada kelurahan yang ternyata berdasarkan penilaian menciptakan suasana bulan Ramadhan dengan budaya badadamaran yang semarak akan memperoleh hadiah dari pemko Banjarmasin, juara yang diberikan hadiah dari kelurahan juara I hingga kelurahan juara III,” kata Walikota Banjarmasin.
         Berdasarkan berbagai keterangan budaya badadamaran ini beberapa tahun belakangan ini kian jarang dilakukan masyarakat, terutama setelah masuknya energi listrik ke berbagai pelosok kampung bukan sana di Kota Banjarmasin tetapi hingga ke pelosok desa Kalsel.
         Beberapa anggota masyarakat Banjarmasin menyambut baik prakarsa Pemko Banjarmasin menyemarakan kembali budaya yang sudah hilang tersebut, bahkan beberapa anggota masyarakat sudah menyiapkan beberapa lampu lentera yang bakal dihias  menjadi lampu tanglong yang akan ditempatkan di tepi-tepi jalan dan pekarangan rumah.
         “Kita berharap pembudayaan kembali Badadamaran tersebut, akan membangkitkan semangat menyambut Ramadhan dan bisa bernostalgia di kala masih anak-anak dulu,” Kata Kaspul warga Banjarmasin yang berasal dari Banua Enam tersebut.

PASAR WADAI RAMADHAN BANJARMASIN OBJEK WISATA KULINER TAHUNAN

     Oleh Hasan Zainuddin
      Banjarmasin,2/9 (ANTARA)- Mulyadi seorang usahawan pertambangan di Kalimantan Selatan (Kalsel) hilir mudik di kawasan Pasar Wadai Ramadhan (Ramadhan Cake Fair) di Jalan Sudirman tepatnya dipinggiran Sungai Martapura Banjarmasin,
      Sesekali ia berucap “dimana ya langganan saya membeli kue (penganan) amparan tatak yang enak dan lezat, di pasar wadai ini.”
      Mulyadi yang beserta anak buahnya ke lokasi pasar wadai tersebut akhirnya menemukan kios seorang ibu penjual kue dari puluhan kios kue di pasar yang hanya berdiri  hanya bulan Ramadhan tersebut, seraya membeli beberapa potong kue untuk dibawa pulang.
      “Saya sudah terbiasa membeli kue di lokasi kios milik ibu itu, walau ada kue sejenis di tempat lain, tetapi rasanya menurut saya paling enak punya ibu itu,”katanya seraya menunjuk bu haji penjual kios di pasar wadai Banjarmasin tersebut.
      Lain lagi, beberapa orang wisatawan asal Jepang yang dipandu seorang pramuwisata datang ke pasar wadai, dengan membidik-bidikan kamera digitalnya, para wisatawan tersebut lebih tertarik dengan masakan yang terbuat dari ikan-ikan lokal, seperti saluang goreng, lais pepes, haruan baubar, baung gangan asam, serta gangan batanak (ikan asin gabus digulai).
      Sementara beberapa pengunjung yang lain bergerombol menyerbu sebuah kios yang khusus menjual burung balibis goreng, burung puyuh dan burung punai goreng.

 

Ramadhan Cake Fair
      Di lokasi pasar kue tahunan yang dikelola Dinas Pariwisata, Seni dan Budaya Kota Banjarmasin ini memang menggelar setidaknya 41 macam kue tradisional khas suku Banjar, di Kalsel, seperti kue amparan tatak, kraraban, lamang, cingkarok batu, wajik, kelepon, sari pangantin, sarimuka, putrisalat, cincin, untuk-untuk, gagatas,onde-onde, pare, putu mayang, laksa, kokoleh,bingka, bingka barandam, bulungan hayam, kikicak, gayam, kraraban, amparan tatak, agar-agar bagula habang, dan kue tradisonal lainnya.
     Selain itu juga menggelar dagangan aneka masakan khas Kalsel, seperti gangan waluh, gangan balamak, papuyu baubar, saluang basanga, masak habang, laksa, lontong, katupat kandangan, soto banjar, gangan kecap haruan, gangan humbut, gangan rabung, pais patin, pais lais, pais baung, karih ayam, karih kambing, dan masakan lainnya.
     Gubernur Provinsi Kalimantan Selatan (Kalsel), Drs.Rudy Ariffin, saat membuka kegiatan tahunan Senin 1 September 2008 itu menyatakan, pasar Wadai Ramadhan (Ramadhan Cake Fair) yang berlangsung setiap bulan Ramadhan di Kota Banjarmasin dinyatakan sebagai objek wisata kuliner di wilayah Kalsel.
      Dinilai sebagai wisata kuliner lantaran keberadaan Pasar Wadai Ramadhan menyediakan aneka penganan (kue) dan makanan khas suku Banjar, yang sebagian sulit ditemukan di hari biasa.
      Mengingat pasar wadai Ramadhan objek wisata kuliner maka akan terus dipublikasikan ke penjuru tanah air dan penjuru dunia dalam kaitan memancing minat wisatawan datang ke Banjarmasin, kata Rudy Ariffin didampingi Walikota Banjarmasin, Yudhi Wahyuni.
      Menurut Rudy Ariffin yang merupakan putra asli suku Banjar tersebut, keberadaan pasar Wadai dinilai sebagai objek wisata kuliner lantaran di lokasi ini dijual aneka ragam penganan, makanan dan minuman khas suku Banjar Kalsel. Selain itu juga tersedia aneka penganan dan makanan yang berasal dari suku-suku yang ada di tanah air.
      Sebagian kue dan makanan khas Kalsel yang dijual itu jarang ditemukan di hari biasa kecuali di bulan Ramadhan seperti wajik, bingka, lamang, sarimuka, putri malu, kraraban,amparan tatak, papare, kelepon, kikicak, bingka barandam dan kue lainnya.
       Melihat banyaknya kue tradisional yang khas tersebut, maka pasar wadai Ramadhan tidak hanya diminati kaum muslimin saja, tapi juga oleh warga non-muslim serta kalangan wisatawan, baik wisatawan nusantara maupun wisatawan mancanegara.
      Kekhasan atraksi wisata dan juga atraksi budaya pasar wadai ini maka keberadaanya sudah menjadi event wisata tahunan dan bagian dari kalender kebudayaan Kalsel, yang bisa mendukung Visit Indonesia Year tahun 2008 serta visit Kalsel tahun 2009 mendatang, kata Rudy Ariffin.
      Gubernur Kalsel juga berharap pasar wadai dapat memenuhi kebutuhan untuk berpuka puasa kaum muslimin di wilayah ini, karena itu diingatkan kepada para pedagang agar memperhatikan segala aspek, seperti stabilitas harga, kebersihan, kesehatan, kualitas, serta variasi produk dagangan.
      “Bila pedagang bisa menjaga segala aspek tersebut di atas maka lokasi ini benar-benar akan memancing para pembeli, pada akhirnya mampu menjadikan pasar wadai sebagai lokasi wisata kuliner bagi semua orang,” katanya.
      Walikota Banjarmasin, Haji Yudhi Wahyuni menuturkan (Pemko), Banjarmasin melalui kantor Dinas Kebudayaan dan Pariwisata setempat kembali menggelar event wisata tahunan, Pasar Wadai Ramadhan di pusat kota Banjarmasin untuk memancing kunjungan wisatawan.
      Pasar wadai (kue) ini sudah menjadi kalender kepariwisataan yang terus dipromosikan sebagai atraksi wisata, budaya, dan keagamaan.

 


      Menurutnya, pegelaran pasar wadai tahun inipun, bukan semata kegiatannya sebagai ajang penjualan kue dan penganan lainnya, tetapi kegiatannya tetap dipadukan dengan atraksi seni budaya bernuansa kedaerahan Kalsel, serta nuansa keagamaan Islam.
      Sebagai atraksi wisata, budaya, dan agama, maka lokasi pasare wadai akan didesain sedemikian rupa dengan tetap lebih menonjolkan kebudayaan daerah dan keagamaan, dimana kue-kue yang dijual sebagian besar produk lokal atau kue tradisional, bahkan diantaranya ada yang hampir punah.
     “Makanya, kebaradaan pasar wadai ini juga bisa menjadi ajang nostalgia orang-orang suku Banjar, baik yang ada di Kalsel, maupun yang ada di luar Kalsel, seperti dari Pulau Jawa atau Tembilahan Provinsi Riau yang datang khusus untuk menikmati kue-kue nostalgia tersebut,” tuturnya.
     Tujuan lain mendirikan pasar wadai ini, kata Yudhi Wahyuni guna memberikan pelaung untuk terbukanya lapangan pekerjaan setidaknya selama bulan Ramadhan, meningkatkan roda perekonomian masyarakat dan menekan angka pengangguran.
     Hal lain yang bisa diambil manfaat keberadaan pasar wadai adalah memberikan peluang kepada masayarakat untuk melaksanakan invonasi dan pengembangan kreativitas seni dan budaya lokal yang bermanfaat bagi dunia kepariwisataan.
      Berdasarkan catatan, keberadaan pasar wadai Ramadhan di Banjarmasin tersebut dimulai pada tahun 1985, ketika walikota Banjarmasin saat itu, Haji Kamarudin yang melihat begitu banyaknya penjual wadai di berabagai sudut kota saat puasa yang bukan saja semrawut tetapi juga merusak mandangan.
     Oleh karena itu, atas kebijakannya kemudian para pedagang wadai tersebut dikumpulkan menjadi satu lokasi yang pertama berada di Jalan RE Martadinata. Dengan berkumpulnya pedagang wadai itu memperoleh sambutan positip masyarakat Umat Islam karena memudahkan mereka mencari hidangan berbuka puasa.
     Tetapi respon cukup menarik justru datang dari kalangan wisatawan, dimana banyak sekali kunjungan wisatawan ke lokasi tersebut. Akhirnya oleh Pemko Banjarmasin bahkan oleh Pemprop Kalsel, lokasi itu lebih dikembangkan yang tak sekedar tempat berjualan tetapi sebagai atraksi wisata tahunan dan atraksi budaya hingga populer sampai sekarang.  ***2***
      Fungsi lain
      Keberadaan pasar wadai ini menureut Walikota Banjarmasin tak semata untuk menjual penganan dan makanan tetapi masih banyak fungsi lainnya, sebagai contoh saja sebagai wahana meningkatkan nilai budaya dalampengembangan seni dan budaya.
      “Kita hampir setiap hari menggelar seni khas suku Banjar di lokasi ini, pada tahun ini ada kesenian kasidah, ada keseniah hadrah, melukis, seperti digelar lomba-lomba, seperti lomba azan, lomba mewarna, lomba tausyiah, serta aneka pertunjukan tradisional lainnya,” kata walikota kepada sejumlah wartawan yang memawancarainya.
      Namun sebagian orang menjadikan pasar wadai sebagai lokasi ngabuburit (menunggu bedug berbuka puasa).
      Karena itu, tak heran bila ada sekelompok muda mudi berjalan santai sambil bercanda gurau berada di sana hanya untuk ngabuburit.
      Sebagai objek wisata maka keberadaan pasar ini pun diciptakan sedemikian rupa bernuansa budaya Suku Banjar yang merupakan suku terbesar di daratan Kalsel.
    Menurut penuturan Kepala Dinas Pariwisata, Seni dan Budaya Kota Banjarmasin Hesly Junianto SH, pasar ramadhan ini sudah ada di Banjarmasin sejak tahun 70-an. Saat itu hanya kelompok-kelompok kecil saja, hingga kurang teratur dan mengganggu keindahan kota.
     Mulai tahun 80-an oleh Pemko Banjarmasin pedagang itu dikumpulkan di satu lokasi, lalu dinamakan Ramadhan Cake Fair. Sejak itu pula lokasi ini dinyatakan sebagai atraksi wisata tahunan.      
    Untuk memperkuat lokasi ini sebagai objek wisata maka digelar biasanya pula digelar berbagai pertunjukan rakyat, seperti madihin, lamut, jepin, dan tarian serta seni-seni tradisi lainnya.
    Setiap pertunjukan selalu saja memperoleh sambutan hangat dari masyarakat, terutama kawula muda yang berdatangan bukan saja dari Kota Banjarmasin sendiri tetapi dari kota sekitarnya. Seperti tahun ini, lokasi pertunjukan persis di tengah pasar sehingga memudahkan pengunjung untuk menikmati seni tradisi tersebut.
     Sementara itu Kepala Kasubdin Daya Tarik Wisata dan Seni Dinas Pariwisata Seni dan Budaya setempat Noor Hasan, mengatakan kegiatan ini tidak hanya  dimaksudkan untuk melestarikan seni budaya setempat, tetapi juga untuk melestarikan penganan tradisional khas Sulsel.
     “Banyak penganan (kue) yang hampir punah lantaran jarang ditemui di hari biasa, bisa ditemukan pada saat pegelaan pasar Ramdahan ini, yang membuktikan kegiatan tahunan ini mampu melestarikan budaya membuat penganan tersebut,” kata Noor Hasan.   
    Masyarakat suku Banjar yang tinggal di Kalsel dikenal sebagai masyarakat yang memiliki kekayaan budaya khususnya penganan tradisional, namun beberapa jenis penganan tersebut kini nyaris punah.
    Di antara penganan tersebut seringkali dibuat hanya kebutuhan ritual atau kebutuhan kenduri karena diyakini kue-kue itu kalau dimakan diyakini akan membawa berkah.
         Penganan itu hilang setelah kian banyaknya penganan modern dan makanan kecil siap saji bermunculan, tetapi juga akibat kue-kue kering dan makanan kecil yang diproduksi perusahaan besar di Pulau Jawa.
    “Lihat saja makanan kecil, kue kering, snack, mie instan, kacang-kacang keluaran perusahaan besar seperti PT Indofood menyebar hingga ke pelosok pedesaan yang mendesak makanan khas asli daerah setempat,” kata Aminah, pedagang kue tradisional di Banjarmasin.
    Makanan modern tersebut datang melalui pedagang eceran menawarkan dengan harga sangat murah. Ada satu bungkus kue kering keluaran PT Indofood dijual hanya Rp250 per bungkus, sedangkan kue tradisional dijual Rp500 per buah.
    Karena lebih murah dan punya kemasan serta tahan lama maka kue modern dari perusahaan besar itu benar-benar menjadi pilihan masyarakat, akibatnya kue tradisional kurang dihiraukan lagi.
     Melihat kenyataan tersebut maka kehadiran pasar Ramadhan disambut hangat masyarakat, bukan saja sarana hiburan, atau lokasi ngabuburit serta objek wisata, tetapi sebagai sarana pelestarian penganan khas Kalsel tersebut.

 

 

 

PASAR WADAI SURGA PENIKMAT MAKANAN TRADISIONAL
          Bunyi tabuhan beduk sebagai tanda saatnya berbuka puasa bagi umat muslim masih sekitar dua jam lagi, namun kawasan Jalan Sudirman Banjarmasin Kalimantan Selatan (Kalsel) sudah sesak dengan pengunjung.
         Tak kurang dari seribu warga memadati kawasan yang terletak di tepi Sungai Martapura itu. Umumnya tujuan mereka jalan-jalan sambil membeli makanan di Pasar Wadai untuk berbuka puasa.
         Setiap bulan Ramadhan, Jalan Jenderal Sudirman memang disulap Pemko Banjarmasin menjadi kawasan Pasar Wadai, sebuah pasar yang menjajakan masakan-masakah tradisional khas Kalsel.
         Pada bulan Ramadhan tahun ini sebanyak 143 pedagang berjualan di Pasar Wadai. Bahkan mencapai 200 pedagang jika ditambah dengan pedagang yang tak resmi.
         Para pedagang resmi menempati tenda yang disediakan panitia. Tenda berwarna biru tersusun rapi di pinggiran Sungai Martapura. Di dalamnya memanjang meja yang terbuat dari kayu sebagai tempat para pedagang Pasar Wadai memajang dagangannya.
         Sedangkan pedagang yang tak resmi memajang dagangannya di pinggir trotoar, di pinggir jalan dan ujung jalan tapi tak terlalu jauh dari lokasi pedagang resmi.
         Pasar Wadai Ramadhan, sebenarnya bukan hanya di kawasan Jalan Jenderal Sudirman, beberapa tempat di Banjarmasin terdapat pasar wadai, hanya saja tempatnya lebih kecil dan makanan yang dijual tak selengkap Pasar Wadai yang berada di depan kantor Gubernur Kalsel itu. 
    Bagi warga Banjarmasin, tak lengkap rasanya jika tak mengunjungi Pasar Wadai, karena pasar itu hanya ada pada bulan Ramadhan. Tak hanya itu kue-kue yang jual pun beragam dan hanya bisa dijumpai pada bulan Ramadhan.
         Umumnya kue yang dijual di pasar adalah kue tradisional khas Banjar, seperti bingka kentang, putri selat, lapis India dan bingka berandam.
         Selain kue, berbagai masakan Banjar juga dijual di pasar ini, seperti iwak pais, iwak masak habang, pais seluang, gangan waluh, sayur umbut dan itik panggang.
         Kue-kue tradisional itu pula yang menjadi daya pikat setiap pengunjung terutama penikmat makanan tradisional untuk datang ke Pasar Wadai. Bahkan, banyak pengujung dari luar daerah datang ke Banjarmasin hanya ingin berwisata kuliner di Pasar kebanggaan warga banua ini.
         “Sudah tiga hari saya di Banjarmasin. Saya tak memiliki saudara di kota Seribu Sungai ini, saya ke sini hanya sekadar ingin melihat dan membeli kue tradisional di pasar wadai. Kebetulan saya memang penggemar makanan tradisional,” kata Dodo, warga Jakarta. 
    Warga Banjarmasin biasanya mulai menyerbu pasar wadai sekitar pukul 16.00 Wita, bersamaan dengan pedagang makanan tradisional itu mulai menggelar dagangan mereka. Pengunjung mencapai puncaknya sekitar pukul 18.00 Wita dan mulai berkurang menjelang buka puasa.
         Selain berburu makanan tradisional, ada juga warga Banjarmasin datang ke Pasar Wadai sekadar jalan-jalan sambil menunggu beduk ditabuh sebagai tanda buka puasa telah tiba.
         Bagi warga menunggu saat berbuka puasa tak terasa jika sudah berada di pasar wadai, karena selain kue dan makanan, perhiasan dan kebutuhan rumah tangga juga banyak dijual di pasar itu.
         “Setiap hari saya ke pasar wadai, selain membeli kue juga jalan-jalan sambil menunggu waktu berkuka puasa,” ujar Yuli, warga Jalan Jafri Zam Zam, Banjarmasin saat berada di pasar wadai.  

panggung hiburan ditengah keramaian pengunjung pasar wadai

 

        

   Satu-satunya di Indonesia
    Warga Banjarmasin harus bangga dengan kehadiran pasar wadai setiap bulan Ramadhan, sebab sejumlah pengunjung dari luar daerah mengaku kagum dengan pasar wadai, karena makanan yang dijual bevariasi dan mengutamakan makanan tradisional.
         Tak hanya itu, Kalsel hanya satu-satunya daerah di Indonesia yang memikiki pasar wadai Ramadhan. Di daerah lain tak mungkin ditemui pasar seperti ini.
         Karena kekhasan itu pula yang “mengetuk” hati para pejabat di Kalsel untuk menjadikan Pasar Wadai sebagai salah satu objek wisata andalan Kalsel. 
    Gubernur Kalsel Rudy Ariffin dalam sambutannya saat acara pembukaan Pasar Wadai, mengatakan, Pasar Wadai Ramadhan merupakan objek wisata kuliner di Kalsel yang sudah menjadi kalender tahunan.
         Gubernur berjanji akan terus mempromisikan Pasar Wadai, sehingga makin dikenal baik oleh wisatawan lokal maupun mancanegara.
         “Pasar Wadai adalah objek wisata kuliner di Kalsel dan sudah menjadi kalender tahunan, jadi selayaknya terus dipromisikan,” ujarnya.
         Dari penelusuran ANTARA, Pasar Wadai Ramadhan ada sejak 1985, atas inisiatif Walikota H Kamarudin. Saat itu dia melihat banyaknya penjual kue tradisional di Banjarmasin setiap bulan Ramadhan.
         Walikota akhirnya meminta para pedagang itu dikumpulkan menjadi satu di tempat yang strategis dan dipilihlan Jalan RE Martadinata, sebagai pusat jajanan kue tradisional itu.
         Seiring makin banyaknya pedagang yang berminat berjualan di Pasar Wadai, Jalan RE Martadinata yang memang sempit dianggap tak layak lagi sebagai lokasi pasar wadai.
         Dipilihlan Jalan Jenderal Sudirman, depan Masjid Raya Sabilal Muhtadin sebagai lokasi yang baru, tapi tempat itu ternyata masih dianggap kurang layak, sehingga lokasi Pasar Wadai digeser ke depan kantor Gubernur Kalsel.
                          
                               Ajang lestarikan budaya
   Pasar wadai selain menjadi salah satu wadah untuk menunggu bedug magrib  bagi warga Banjarmasin dan wisata kuliner, juga menjadi ajang untuk melestarikan budaya Banjar yang kini semakin sulit ditemui.
        Berbagai pentas seni budaya ditampilkan dipanggung yang dibangun berhadapan dengan petak-petak pedagang yang menyajikan puluhan masakah khas Banjar.
        Musik seni panting, madihin hingga tari-tarian yang juga mulai punah, ikut disajikan menghibur warga yang sedang belanja berbagai panganan berbuka puasa.
        Sambil memilih berbagai macam panganan, mulai dari bingka kentang, bingka tapai, bingka telur atau bingka yang pecah dilidah yang rasanya mak nyuuus, warga bisa mendengarkan merdunya dentingan musik panting yang terdengar menyayat hati.
        Bukan hanya itu, begitu masuk pintu gerbang pasar, warga juga akan dimanjakan dengan aroma sedap dari berbagai masakan, mulai dari ikan patin bakar, ikan haruan, ikan papuyu, sepat siam hingga ikan asin dan berbagai macam ikan lokal lainnya, yang heeem, baunya bikin perut semakin keroncongan.
        Yang lebih membuat tantangan puasa semakin berat, berbagai macam panganan tradisional, dengan berbagai bentuk menarik seperti kue lam yang sangat manis, kue puteri selat, amparan tatak pisang, kelelapon, kekeraban, lapis india, yang semua jenis kue tersebut sulit ditemukan pada hari biasa.
        Pasar wadai adalah surganya bagi penikmat masakan tradisional, sehingga rugi besar bila harus dilewatkan berlalu begitu saja, seperti meruginya umat Muslim yang tidak bisa merasakan nikmatnya Ramadan dengan meningkatnya amal soleh (ulul M)

BAGARAKAN BUDAYA WARGA KALSEL MEMBANGUNKAN MAKAN SAHUR

Oleh Hasan Zainuddin

“Bagarakan sahur” merupakan aktivitas sekelompok pemuda Kalimantan Selatan yang bangun di tengah malam selama bulan puasa dengan tujuan membangunkan kaum muslim untuk makan sahur.

Tidak ada catatan yang menyebutkan awal bagarakan sahur dilakukan di daratan Kalimantan Selatan yang didominasi suku Melayu Banjar itu.

Tetapi di kalangan masyarakat tertanam pengertian bahwa budaya itu bagian dari kehidupan kaum Melayu Islam lainnya seiring masuknya Islam ke wilayah itu.

Sebenarnya budaya itu tidak jauh dengan banyak aktivitas pemuda lain di nusantara di malam bulan Ramadhan. Hanya saja, untuk wilayah Kalsel budaya bagarakan sahur lebih spesifik dengan kemampuannya menyesuaikan diri dengan kondisi kehidupan masyarakat dan potensi alam.

Makanya dalam acara bagarakan sahur sering kali orang memanfaatkan peralatan seadanya, seperti besi-besi tua, peralatan tani seperti pacul, bajak, parang, linggis, serta jenis besi lain yang mampu mengeluarkan suara nyaring, ditambah dengan kentungan terbuat dari bambu.

Pada era tahun 60-an hingga era tahun 70-an bagarakan sahur menjadi hiburan rakyat yang populer setiap Ramadhan. Saat itu, tak hanya besi tua yang menjadi alat yang dipukul tetapi ditambah dengan suara seruling, gendang, dan gong.

Suara dentingan besi tua diselengi dengan suara seruling, gendang, dan gong menghasilkan irama yang enak didengar. Akibatnya, warga selain mudah terbangun oleh suara bising besi tua juga merasa terhibur oleh suara suling dengan irama khas lagu-lagu Banjar.

 

 

Bagarakan Sahur

 

 

 

 

 

 

 

para pemuda sedang bagarakan sahura (mb)

 

Pada era tersebut setiap kampung memiliki kelompok sendiri, sehingga mereka sering saling berpapasan saat berkeliling kampung dan menimbulkan kesan sedang berlomba.

Tidak jarang kelompok bagarakan sahur dari sebuah kampung memasuki kampung lain, sehingga pemuda dari kampung yang dimasuki itu merasa berutang.

Pada malam berikutnya, pemuda kampung itu kemudian membalas mendatangi kampung yang pemudanya telah memasuki kampung mereka malam sebelumnya.

“Jadi ada kesan balas-membalas,” kata Haji Abdullah, seorang penduduk Kabupaten Balangan saat menceritakan pengalaman masa lalunya.

Akibat sering berbalas-balasan tersebut tak jarang dalam acara bagarakan sahur tersebut juga diwarnai atraksi lain, seperti wayang orang, bambarangon (semacam barongsai), hingga pergelaran sandiwara, agar mereka terlihat sebagai yang paling hebat.

“Pokoknya pada era tahun-tahun tersebut, bagarakan sahur merupakan hiburan rakyat saat Ramadhan yang menyenangkan,” katanya.

Tetapi seiring perkembangan zaman, yaitu ketika peralatan modern sudah tersedia maka bagarakan sahur dengan hanya memukul besi-besi tua pun mulai ditinggalkan dan digantikan alat-alat musik modern.

Pada 1980-1990-an, mulailah dipakai alat musik modern seperti seruling, biola, gitar, bahkan alat musik dengan sound sistem yang bagus, sehingga satu kelompok bagarakan sahur bisa dikatakan sebagai kelompok orkes kampung.

Lagu-lagu tradisional Banjar yang dulunya menjadi lagu-lagu seruling bambu bagarakan sahur kini sudah berubah menjadi lagu-lagu dangdut dan lagu kasidahan populer artis ibukota.

Sehingga acara bagarakan sahur yang sering diadakan di wilayah Kalsel Kuala, layaknya pergelaran orkes dangdut di malam hari.

Bahkan belakangan acara bagarakan sahur juga menggelar alat musik karaoke dengan hanya didampingi beberapa orang penyanyi. Itu makin meriah ketika rombongan bagarakan membawa satu gerobak berisi sistem penata suara.

 

Tetapi seiring perkembangan jaman pulalah, yaitu makin maraknya siaran radio dan televisi, lambat laun acara bagarakan sahurpun mulai ditinggalkan.

“Pemuda sekarang kayaknya sudah enggan keluar malam saat sahur, mereka lebih senang menyaksikan acara di televisi saat sahur seperti acara komide putar di TPI,” ucap seorang ibu rumah tangga di bilangan Kayutangi Banjarmasin.

Melihat kenyataan kian terlupakannya acara bagarakan sahur tersebut, suatu saat menimbulkan keprihatinan Walikota Kota Banjarbaru Drs.Rudy Restawan, yang kemudian membudayakan lomba bagarakan sahur setiap menjelang akhir bulan Ramadhan.

Lomba bagarakan sahur yang disponsori pemerintah kota Banjarmasin tersebut sudah terlaksana dalam beberapa tahun belakangan ini.

Kegiatan itu tak lain untuk menumbuhkan kembali minat pemuda Kalsel untuk menggelar budaya yang mulai terlupakan tersebut.

Untuk memancing minat masyarakat mengikuti lomba tersebut tak tanggung-tanggung, Pemko setempat mengeluarkan uang cukup besar.

Pengeluaran itu terutama untuk hadiah para pemenang, sehingga setiap tahun lomba bagarakan sahur Pemko Banjarbaru selalu dipadati peserta dan pengunjung.

Belakangan bukan hanya bagarakan sahur yang dilombakan tetapi juga sekaligus menggelar lomba arak-arakan tanglong sebagai simbol budaya Islam.

Kemeriahan setiap penyelanggaraan lomba bernuansa keislaman tersebut kemudian jadikan atraksi wisata oleh Pemko Banjarbaru.

Kegiatan itu dijadikan atraksi wisata yang dikalenderkan dan dipromosikan ke dunia luar sebagai atraksi budaya tahunan.

Acara itu dinilai mampu memancing kedatangan wisatawan ke daerah yang selama ini dikenal sebagai penghasil batu permata intan tersebut.(*)

MENGUNGKAP KEBERADAAN KOMUNITAS SUKU BANJAR TEMBILAHAN RIAU

Aku berada di Tembilahan

Oleh Hasan Zainuddin

Sekelompok warga bergerombol dan sambil berjongkok menikmati masakan suku Banjar, Laksa di salah sebuah kedai (warung) makanan di tengah kota Tembilahan, ibukota Kabupaten Indragiri Hilir, Propinsi Riau, Pulau Sumatera.
Sementara beberapa wanita nengenakan jilbab berpakaian kemeja panjang mententeng kresek pelastik berisikan kue khas suku Banjar pula seperti kraraban, untuk-untuk, gambung, gegatas, kelapon  dan lainnya setelah mebeli di kedai sebelah warung laksa itu.
Gurauan antara para pedagang serta para pembeli di beberapa kedai di Bilangan Parit 15 Tembilahan Hilir tersebut menunjukkan bahwa mereka bersuku Banjar, karena bahasa yang digunakan benar-benar berdialek suku Banjar terutama Banjar Pahuluan.
Ketika penulis menghampiri sekelompok ibu-ibu itu serentak mereka terhenyak, namun seketika itu pula penulis mengenalkan diri bahwa berasal dari kota Banjarmasin, ibukota Kalsel yang merupakan wilayah komunitas suku banjar bermukim sekarang ini.
Dari beberapa keterangan di kedai di pinggir Sungai Indragiri tersebut terungkap bahwa budaya mengolah masakan khas Banjar serta kue-kue tersebut sudah ada sejak ratusan tahun silam.
Budaya membuat masakan dan kue tersebut diperoleh dari generasi sekarang dari beberapa generasi sebelumnya yang telah tinggal secara turun=temurun di kawasan yang sebenarnya tidak terlalu jauh dari semenanjung Malaysia dan Singapura itu.
Berdasarkan keterangan itu, bukan hanya kue-kue Banjar yang tetap lestari di tengah pemukiman suku Banjar perantuan ini tetapi juga makanan dan lauk-pauk lainnya.
Sebagai contoh saja, masih terlihat dihidangkan gangan (gulai) humbut, gangan keladi, gangan waluh, gangan karuh, sayur bening oleh keluarga-keluarga di kota berpenduduk sekitar 300 ribu jiwa tersebut
Begitu juga terlihat papuyu baubar (bakar), gabus baubar, iwak karing (ikan asin) sepat, masak habang haruan atau telur, iwak bapais (pepes ikan) dan masakan khas Banjar lainnya.
Hanya saja, kata Haji Nurjanah (65 th) nenek tua asli suku Banjar, beberapa masakah khas Banjar lainnya sudah mulai tidak diminati generasi muda sekarang ini.
“Saya kemarin mencoba membuat mandai (kulit cempedak dipermentasi) penuh satu kuali, karena hanya saya yang doyan makan mandai itu,  akhirnya sebagian terbuang, sementara anak dan cucu sudah kurang suka,” kata nenek yang mengaku tidak pernah satu kalipun menginjak tanah Banjar di Kalimantan Selatan.
Bukan hanya masakan suku Banjar yang tetap lestari di kawasan luas berawa-rawa indragiri ini, tetapi juga cara hidup keseharian lainnya hampir tak berbeda dengan kebanyakan suku banjar yang tinggal di pahuluan Kalsel, (Banua lima: lima kabupaten Utara Kalsel).
Cara mereka bercocok tanam tak ada perubahan, yakni dengan menyiapkan lahan, menyiapkan benih, serta cara mereka panen.
Kehidupan beragama terlihat begitu kental di kalangan komunitas ini, dimana hampir terlihat masjid, surau, dipenuhi warga dan ditengah antara shalat magrib dan isha selalu diisi dengan ceramah menggunakan bahasa Banjar pula.
Seorang tokoh Banjar yang tinggal di Pekanbaru propinsi Riau, Bandrun A Saleh yang waktu itu anggota DPRD Riau ketika malam silaturahmi antara warga suku Banjar pekanbaru dengan para wartawan Kalsel dan Kalteng yang mengikuti Pekan Olahraga Wartawan Nasional (Porwanas) mengakui budaya Banjar di tembilahan masih sangat kuat.
Selain Badrun A Saleh yang berada diacara silaturahmi yang dihadiri Kepala Badan Informasi Daerah Kalsel, Drs,Amanul Yakin dan para pengurus PWI Kalsel itu juga terdapat beberapa pejabat teras Pemko Pekanbaru dan Pemprop Riau yang hadir, karena memang bersuku banjar seperti Sekretaris Kota Pekanbaru dan sekretaris DPRD Riau.
Badrun A Saleh yang asli Tembilahan ini menyebutkan bahwa budaya Banjar di kawasan masyarakat kampung halamannya ini memang sangat mendominasi, itu terlihat dalam kehidupan keseharian serta seni budayanya.
Kesenian Banjar seperti Bamanda, Balamut, Madihin, Japen, masih sering dipentaskan pada acara-acara tertentu dalam kaitan perayaan hari besar, perayaan perkawinan, kenduri, atau bentuk hajatan yang lain selepas musim panen.
Berdasarkan catatan, penduduk di Kabupaten Indragiri Hilir ini sekitar 560 ribu jiwa, 40 persen diantaranya adalah suku Banjar, disusul suku Melayu, Bugis, minang, Jawa serta etnis lainnya.
Tetapi khusus kota Tembilahan, Sapat, Pulau Palas, Sungai Salak, Pangalehan,  suku banjar diperkirakan mencapai 70 persen.
Keberadaan suku Banjar di tengah belantara Pulau Sumatera itu menurut tokoh yang pernah menjadi Plt Bupati Indragiri Hilir ini memang sulit diketahui secara pasti karena tak ada catatan atau sejarah yang menerangkan permasalahan tersebut.
Tetapi berdasarkan penuturan orang tua dulu bahwa ketika Gunung Krakatau di Selat Sunda meletus sekitar abad ke-18 komunitas suku Banjar tersebut sudah berada du kawasan itu.
Badrun menerangkan pula, bahwa pada awalnya keberadaan suku Banjar di kawasan ini bukan tujuan Tembilahan Riau, melainkan ke Batu Pahat Malaysia.
Eksodos suku Banjar Pahuluan ke Batu Pahat tersebut pada awalnya didasari persoalan politis dimana ketika itu kawasan Banua Lima Kalsel sedang dilanda kekacauan lantaran kedatangan penjajah Belanda di kawasan itu.

Aku bersama keluarga di parit 12 Tembilahan
Ditambah begitu banyaknya aksi kekauan akibat gerombolan sehingga warga merasa tidak tetang dan didasari perasaaan tidak mau dijajah itulah para suku Banjar ini berimigrasi ke Batu Pahat Malaysia.
Suku Banjar yang kebanyakan eksodos ke Sumatera tersebut berasal dari desa Kelua, Sungai Turak, Karias, Sungai Durian, Pimping, dan daerah lain di Hulu Sungai Utara, kemudian juga dari Paringin, Lampihong, Juai, Baruh Bahinu, Awayan di Balangan, beberapa desa di Barabai, Rantau, dan Kandangan.
Setelah eksodos ke Batupahat terus bertambah akhirnya masyarakat suku Banjar ini mulai menyebar ke kawasan lain yang dianggap bisa memberikan penghidupan baru.
Akhirnya pilihan suku banjar di perantuan ini jatuh ke wilayah Sapat Indragiri Hilir, karena alam di sekitar ini hampir serupa dengan Kalsel yaitu berawa-rawa Pasang surut. Bagi etnis lain sulit menggarap lahan semacam ini, kecuali terampil digarap suku Banjar asal Kalsel maupun suku Bugis asal Sulsel.
Apalagi ketika itu di Sapat Indragiri Hulir ini telah bermukim seorang ulama besar asal Dalam Pagar Martapura Kalsel, KH Abdurahman Sidiq yang dikenal seorang wali yang setia mengajarkan ilmu agama Islam diperantauan tersebut.
Setelah adanya ulama ini maka kian banyak warga Kalsel yang berpindah ke kawasan ini, bukan lagi sekedar faktor politis tetapi adalah faktor agama untuk mendalami ilmu agama Islam dengan ulama besar asal kota intan Martapura ini.
Makam ulama besar di di Parit Hidayah Sapat ini sekarang menjadi objek wisata religus terutama oleh penziarah dari suku banjar baik warga lokal, maupun asal Kalsel serta daerah lain seperti dari Malaysia.
Pemukin suku Banjar ini berhasil menggarap lahan pasang surut yang bergambut ini menjadi hamparan persawahan, disamping berkebun kelapa untuk dibuat kopra, serta berkebun kopi atau pinang.
Pada kala itu harga kopra dari kelapa memang lagi baik, sehingga usaha “mangaring” (pemroses kelapa menjadi kopra) dianggap menguntungkan dan memberikan kesejahteraan bagi masyarakat setempat.
Akhirnya usaha tersebut telah memancing kembali eksodos warga Kalsel ke Sumatera dengan alasan ekonomi yakni mencari kehidupan yang lebih baik dengan menggarap perkebunan kelapa secara besar-besaran di kawasan tersebut.
Namun seiring perkembangan zaman ternyata berkebun kelapa sekarang ini sudah tidak menguntungkan lagi menyusul terjadinya perkebunan besar kelapa sawit sebagai bahan baku pembuatan minyak goreng, akhirnya kebun kelapa milik suku Banjar ini banyak yang tidak terpelihara selain harganya murah juga banyak pohon kelapa yang sudah tua sekali dan tidak produktif akhirnya ditinggalkan.
Dengan demikian desa kebun kelapa yang tadinya berkembang menjadi kawasan pemukiman yang ramai berubah menjadi desa mati dabn ditinggalkan penduduknya.
Penulis yang melakukan perjalanan dengan wartawan Barito Post untuk menyusuri desa-desa pemukiman suku banjar indragiri ini menmukan desa Sungai Ambat kecamatan Enok yang dulu ramai sekarang menjadi desa mati dan sepi dan di desa tersebut tertinggal sekitar 100 rumah saja lagi.
Padahal dulu sekitar tahun 50-an Sungai Ambat adalah termasuk pusat kosentrasi suku Banjar perantauan, disana terdapat pertokoan, pasar, serta terdapat para tukeh (saudagar kopra) berniaga di sana.
Dulu menuju Sungai Ambat hanya bisa dilalui lewat sungai melalui Kuala Enok atau di kecamatan Enok, tetapi sekarang sudah bisa dijangkau kendaraan setelah dibangun jalan besar antara Tembilahan menuju Kuala Enok, jalan tersebut sekarang baru pengerasan dan belum pengaspalan. Perjalanan menuju Sungai Ambat dari Tembilahan selama dua jam.
Selain di desa-desa di tepian sungai Indragiri dan Sungai Enak warga suku Banjar  juga terdapat di parit-parit (anak-anak sungai) yang banyak terdapat di kawasan ini
Berdasarkan keterangan, warga di berbagai desa suku Banjar ini sudah banyak yang meninggalkan desa mereka menyusul usaha kelapa tidak menguntungkan lagi, mereka banyak yang menyebar bukan hanya ke kota-kota lain di sekitar indragiri tetapi tak sedikit yang lari ke Batam, Jambi, Pekanbaru, Medan, Malaysia, Singapura serta kota Tembilahan sendiri.
Bahkan ada yang kembali ke tanah leluhur Kalimantan Selatan, kata beberapa warga desa Sungai Ambat.
Dari banyak pelarian suku Banjar ke berbagai kota di sana ternyata banyak yang berhasil, bukan hanya menjadi pejabat sipil dan ABRI, pedagang, serta wiraswasta dan lainnya.
Hanya saja dari keturunan suku Banjar sekarang sudah banyak yang mengalami pembaharuan dengan kawin dengan suku=suku  lain seperti kawin dengan suku Melayu, Minang, Bugis, Batak, Jawa hingga keturunan belakangan tidak asli lagi dari suku banjar.
Di kota Batam yang hanya dijangkau tiga jam setengah naik spedboat dari Tembilahan banyak sekali suku Banjar, tetapi sulit diketahui keberadaan mereka sebab sudah menggunakan bahasa Melayu atau bahasa Indonesia.
Berdasarkan keterangan lagi suku Banjar di Sumatera khususnya Riau terdapat di Tembilahan, Pulau Palas, Sungai Salak, Pangalehan, Kuala Enok, Sapat, Enok, Kapal Pacah, kemudian di Rengat, Pekanbaru, Bengkalis dan daerah lainnya.
Sementara di Propinsi Jambi suku Banjar terkosentrasi di Kuala Tungkal, di Sumatera Utara terdapat di Kampung Banjar Binjai dan Deli Serdang.
Walau penyebaran suku Banjar di Sumatera mulai meluas tetapi di kawasan  Tembilahan Indragiri Hilir kosentrasi suku Banjar tetap kuat, bahkan hubungan emosional antara Kalsel dan Tembilahan tetap terjaga dengan baik.
Tukar menukar seni budaya antara Tembikahan dan kota Banjarmasin terus terjadi, bahkan beberapa ulama kharismatik Kalsel secara berkala di undang berceramah di kota tembilahan ini, seperti ulama Haji Bakeri yang beberapa kali diundang pada malam tahun baru Islam.
Keberadaan ulama kharismatik, Haji Zaini Ganie sekumpul Martapura juga sering mengusik warga Tembilahan untuk pulang kampung ke Kalsel, khususnya untuk mengikuti pengajian KH Zaini Ganie yang lajim disebut guru sekumpul itu, terutama pada malam nispu sa.ban.
“Banyak sekali orang kita di Sungai salak dan Tembilahan yang rutin mengikuti pengajian guru sekumpul Martapura, khususnya pada malam nispu sa’ban,” kata Nurdin penduduk Sungai Salak 30 km dari Tembilahan.
Bukti dikenalnya secara meluas guru sekumpul ini adalah begitu banyaknya foto ulama besar Kalsel ini yang berada di dinding dinding rumah penduduk, begitu juga kaset rekaman maulid habsyi yang dibawakan guru sekumpul sering berkumandang di rumah penduduk atau di pusat pasar penjualan kaset.
Selain itu, terdengar banyak omongan anak muda Tembilahan yang ingin mendalami berbagai ilmu ke tanah leluhurnya di Kalsel, selain mendalami ilmu agama Islam juga ilmu-ilmu yang lain seperti ilmu bela diri, ilmu kekebalan, ilmu pesugihan, atau ilmu kebibinian (ilmu memikat perempuan).
Karena dalam imige kaum muda suku banjar di kawasan Tembilahan ini ilmu-ilmu tersebut di atas paling baik atau lebih hebat kalau mendalami di daerah tanah leluhur mereka sendiri.

aku bersama para sepupu di jembatan Rumbai kilo 5 Tembilahan

BAHASA BANJAR JADI BAHASA SEHARI-HARI DITEMBILAHAN

Banjarmasin,31/10 (ANTARA)- Bupati Kabupaten Indragiri Hilir (Inhil) Propinsi Riau, Haji Indra Muchlis Adnan,SH mengungkapkan bahasa Banjar yang merupakan bahasa suku terbesar di Kalimantan Selatan (Kalsel) menjadi bahasa sehari-hari warga wilayahnya.
“Di tempat kami, orang China, Jawa, Melayu, Padang, Bugis, dan suku lainnya menggunakan bahasa Banjar sebagai bahasa sehar-hari,” kata Indra Muchlis Adnan kepada peserta seminar mengenai budaya Banjar, dalam kaitan Kongres Budaya Banjar ke-I, di Banjarmasin, Selasa.
Bupati Inhil dalam seminar tersebut menyajikan makalah berjudul “tradisi Madam Orang Banjar” dihadapan peserta yang berasal dari kalangan tokoh Suku Banjar, dari Kalsel sendiri, Kalteng, Kaltim, Jakarta, jogyakarta, Surabaya, Langkat Sumatera Utara, Tembilahan Riau, serta dari negara Selangor, Pahang, Negeri sembilan Malaysia.
Orang nomor satu Inhil yang datan ke Banjarmasin beserta rombongan dari kalangan pejabat Pemkab Inhil itu menyebutkan bahasa Banjar digunakan di kawasan itu sebagai bahasa sehar-hari lantaran penduduk suku Banjar mendominasi masyarakat yang hedrogen di kawasan pesisir Riau itu.
Menurutnya Suku Banjar sudah berada di wilayah Inhil sejak ratusan tahun lalu mungkin sudah empat generasi, dan membuka lahan persawahan dan pemkiman di berbagai wilayah di kawasan itu.
kedatangan suku Banjar yang di wilayah produksi kopra terbesar Riau tersebut, lantaran berbagai alasan, tetapi kalau dilihat sejarahnya hanya terdapat beberapa alasan.
Alasan pertama kedatangan Sku Banjar ke Tembilahan karena ingin berguru ilmu agama Islam kepada pada ulama-ulama yang ada di wilayah ini.
Alasan lain adalah untuk memuka lahan pertanian karena lahan rawa yang ada di inhil menerupai lahan rawa ang ada di Kalsel, sehingga warga Banjar pendanag itu mudah menggarap lahan itu ketimbang suku-suku lainnya.
Kemudian alasan yang lain lagi adalah berniaga atau berdagang karena Tembilahan merupakan kawasan yang berdekatan dengan Singapura atau kota-kota lain di Sumatera atau Malaysia.
“Orang-orang  suku Banjar waktu dulu termasuk orang yang “jagau” (pemberani), dan selalu membawa pisau kena-mana, tetapi sekarang kebiasaan membawa pisau sudah berubah, dan kini sudah suka membawa pulpen, komputer, lap top, dan banyak dari mereka menjadi kalangan birokrat dan pengusaha yang mampu memberikan kontribusi bagi pembangunan Inhil,” kata bupati yang masih muda tersebut.
Mengenai kongres Budaya Banjar ini ia menilai meupaan kegiatan positip untk membahas berbagai kebudayaan Banjar, khususnya bahasa Banjar agar tideak punah, karena bila bahasa Banjar punah maka berarti suku ini sudah tidak ada lagi.
Kongres Budaya Banjar tersebut dibuka oleh Gubenur Kalsel, Drs.Rudy Ariffin, Senin malam (30/10) dan akan berakhir pada Rabu (1/11) menyajikan beberapa pembicara antara lain pedagang intan perintis komunitas warga Banjar di Kesultnanan Jogyakarta, Sastra Banjar guna Meningkatkan Apresiasi Genarasi Muda, Kesenian Rakyat Banjar dan lain-lain.

salah satu sudut kota tembilahan

Tembilahan, Indragiri Hilir

Tembilahan merupakan sebuah Kota ibukota  Kabupaten Indragiri Hilir, Provinsi Riau.  Tembilahan memiliki luas wilayah 297,62 km², terdiri dari 6 kelurahan. Ibu kota kecamatan adalah Kota Tembilahan. Jumlah penduduk Tembilahan tahun 2002 adalah 52.773 jiwa.
Batas wilayah
Kota Tembilahan memiliki batas-batas wilayah sebagai berikut :

Sebelah utara berbatasan dengan Kecamatan Batang Tuaka.
Sebelah timur berbatasan dengan Kec. Kuala Indragiri dan Tanah Merah.
Sebelah selatan berbatasan dengan Kecamatan Enok.
Sebelah barat berbatasan dengan Kec. Tembilahan Ulu dan Batang Tuaka

Kelurahan di Kecamatan Tembilahan
Tembilahan Kota
Pekan Arba
Tembilahan Hilir
Sungai Beringin
Sungai Perak
Seberang Tembilahan
Keadaan tanah daerah ini sebagian besar terdiri dari tanah gambut dan endapan sungai serta rawa-rawa. Pusat Pemerintahan Wilayah Kecamatan dari permukaan laut adalah 1 s/d 4 meter. Ditepi-tepi sungai dan muara parit-parit banyak terdapat tumbuh-tumbuhan seperti pohon Nipah.

Karena kecamatan ini merupakan daerah gambut, maka daerah ini digolongkan daerah beriklim tropis basah, apabila diperhatikan jumlah hari hujan daerah ini yang memiliki ketinggian rata-rata 2,5 meter dari permukaan laut, tercatat hari hujan yang tertinggi pada bulan Maret 1999 yaitu 11 hari, sedangkan angka yang terendah pada bulan Juni 1999 yaitu 4 hari.

Penduduk
Penduduk Kecamatan Tembilahan terdiri dari berbagai suku bangsa yaitu suku Banjar, suku Bugis, suku Melayu, suku Minang, suku Jawa, suku Batak serta warga negara keturunan Tionghoa. Mata pencaharian utama penduduk Kecamatan Tembilahan adalah di sektor pertanian.

Kecamatan
Batang Tuaka • Enok • Gaung • Gaung Anak Serka • Kateman • Kemuning • Keritang • Kuala Indragiri • Mandah • Pelangiran • Pulau Burung • Reteh • Tanah Merah • Teluk Balengkong • Tembilahan • Tembilahan Hulu • Tempuling

CATATAN PERJALANAN, Mailangi Dangsanak di Tembilahan
Minggu, 23-09-2007
UNTUK memberikan apresiasi dan reaktualisasi budaya Banjar, Majelis Paripurna Lembaga Budaya Banjar (LBB) Kalsel memberikan gelar kehormatan kepada Gubernur Riau, HM Rusli Zaenal dan Bupati Indragiri Hilir, H Indra Muchlis Adnan, akhir Agustus 2007 lalu di Pekanbaru.

Kegiatan ini tentu saja menjadi ajang budaya akbar. Untuk berbagi pengalaman, peserta yang juga budayawan Banjar, H Syamsiar Seman akan menguraikan perjalanannya dalam kunjungannya ke pusat kebudayaan Banjar di Tembilahan Riau dalam tulisan berikut.

Kota Tembilahan, Riau sangat dikenal oleh orang Banjar di Kalsel. Sebagai wadah madam sejak ratusan tahun  lalu, banyak warga Banjar sudah tinggal di tempat tersebut secara turun temurun dalam beberapa generasi.

Kabupaten Indragiri Hilir dengan ibukotanya Tembilahan ini merupakan salah satu dari sebelas kabupaten Provinsi Riau yang berada di posisi selatan. Daerah ini dapat ditempuh dengan perjalanan darat dengan mobil dari Riau selama tujuh jam.

Kondisi alam baik Pekanbaru maupun Riau tak jauh berbeda dengan Kalsel, baik sungai dan floranya. Kondisi inilah yang memungkinkan orang-orang Banjar yang madam ke Tambilahan merasa betah bertani dan berkebun di sana.

Indragiri Hilir berpenduduk sekitar 639.450 jiwa yang diperkirakan warga Banjarnya sebanyak 242.991 jiwa yang tersebar di 20 buah kecamatan dan 192 desa.

Warga Banjar atau keturunan orang Banjar yang menjadi penduduk disini adalah di Kecamatan Tembilahan, Tampuling, Enok, Batang Tuaka, Gaung Anak Serka, Gaung, Tanah Merah serta Kuala Indragiri.

Dari delapan kecamatan yang dihuni warga Banjar tersebut, dalam berkomunikasi menggunakan Bahasa Banjar sebagai bahasa pengantar.

Seluruh penduduk di Tembilahan berbahasa sehari-hari dengan Bahasa Banjar dan cenderung dengan dialek Pahuluan. Uniknya, penduduk asal Bugis, Jawa dan Cina yang ada di daerah tersebut juga berkomunikasi dengan Bahasa Banjar.

Apalagi di Pasar Tembilahan yang pedagangnya justru banyak orang keturunan Banjar, pembicaraan dalam interaksi jual beli kedengaran barucau dalam Bahasa Banjar Urang Pahuluan. (bpost*/ncu)

Urang Banjar Banyak Tidak Kenal Budaya Leluhur
Banjarmasin (ANTARA News) – Perantauan Banjar atau urang Banjar Kalimantan Selatan (Kalsel) banyak yang tidak lagi mengenal seni budaya dan kerajinan khas daerah leluhurnya, kata H. Mardiansyah, anggota DPRD Kalsel.

Ia mencontohkan, urang Banjar yang berada di Tambilahan, Kabupaten Indra Giri Hilir (Inhil), Provinsi Riau, banyak yang tak mengenal seni budaya dan kerajinan leluhur mereka, katanya, di Banjarmasin, Rabu.

Anggota Komisi II bidang ekonomi keuangan DPRD Kalsel dari Fraksi Partai Bintang Reformasi (PBR) itu mengatakan, urang Banjar di Tambilahan banyak yang tak begitu mengenal seni budaya tradisional “mamanda” (bamanda, yakni sejenis sandiwara), “japin” (sejenis jepin), dan lainnya.

Begitu pula jenis kerajinan khas daerah Banjar layaknya “bakul purun” (bakul terbuat dari bahan sejenis mendong), “tikar purun”, “lampit paikat” (lampit/carpet terbuat dari rotan) dan “sasirangan” (kain batik khas daerah Banjar atau sejenis kain celup Yogyakarta).

Padahal, ia menilai, urang Banjar di perantauan sebenarnya ingin pula mengetahui sekaligus mempelajari seni budaya, terutama membuat kerajinan khas daerah leluhur mereka yang juga merupakan khasanah kekayaan seni budaya bangsa Indonesia.

“Misalnya, mengenai `sasirangan`, urang Banjar di Tambilahan pada umumnya cuma mengenal jenis kain batik khas Banjar yang seadanya atau tak berkualitas. Ternyata, `sasirangan` ada juga harganya mahal dan berkualitas ekspor, tak kalah dengan daerah lain,” katanya.

Oleh karena itu, pihaknya akan mengajak Dinas Kebudayaan dan Periwisata, serta Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kalsel untuk mengelar pameran pelatihan seni budaya dan kerajinan daerah Banjar tersebut di Tambilahan Provinsi RIau Sumatera.

“Apalagi, Tambilahan Inhil dulu disebut-sebut sebagai `kabupaten ke-14` untuk Provinsi Kalsel. Oleh karenanya pula, wajar kalau Pemerintah provinsi (Pemprov) Kalsel perlu menyikapi positif keinginan urang Banjar di Tambilahan tersebut,” ujarnya menambahkan.

Benarkah kantong pemukiman warga Banjar Inhil terpinggirkan

Pemukiman suku Banjar yang ada di kabupaten indragiri hilir umumnya di kawasan lahan berawa-rawa, sehingga sebagian besar penduduk warga Banjar menggarap pertanian dan perkebunan, khususnya berkebun kelapa yang berada di dalam parit-parit di sepanjang sungai enok, dan anak-anak sungai indragiri lainnya.
Umumnya kantong pemukiman suku Banjar ini hanya bisa dilewati dengan armada sungai, seperti katinting kalau dulu disebut sigul, jukung atau sampan, atau paling banter dengan spead boat.
Komunitas suku Banjar di perkebunan ini tinggal secara berkelompok-kelompok, di dalam parit-parit atau desa-desa pinggi sungai seperti di desa Panglihan, Desa Sungai Ambat, dan desa-desa lainnya lagi.
Ada anggapan miring terhadap komunitas ini, karena kantong pemukiman ini terkesan terpinggirkan oleh pemerintah propinsi Riau, pemeintah setempat lebih banyak membenahi kawasan kepulauan atau Riau Daratan.
Sementara kawasan-kawasan pesisir yang lahannya bergambut, kurang diperhatikan dalam segi pembangunan infrastruktur, sehingga dari waktu-kewaktu kawasan pesisir ini selalu saja tertinggal.
Tahun 70-an saat penulis pernah tinggal di kawasan ini, yaitu Desa Sungai Ambat Kecamatan Enok merasakan kondisi kantong pemukiman ini benar-benar tertinggal, bukan hanya listrik yang tidak ada, banyak warga yang tidak mengenal itu sepeda motor, mobil, bahkan sepeda pun kadangkala jarang yang pernah melihatnya, pasalnya kemana-mana  mereka warga menggunakan sampan.
Mata pencarian mengandalkan “mangaring” (usaha membuat kopra) merupakan andalan, dengan usaha sampingan menanam kopi sebagai tanaman sela kelapa, lalu bertani, atau berkebun lainnya.
Usaha berkebun kelapa tampaknya tidak membuat warga di kawasan ini sejahtera karena selain harga kelapa turun naik tak jelas, juga penjualan di kuasai para tokeh-tokeh mata sipit dengan kaki tangannya di lokasi sentra perkebunan.
Penentuan harga kopra usaha “mengaring” inipun terkesan lebih banyak ditentukan   oleh para tokeh dengan kaki tangannya.
Makanya untuk menambah penghasilan warga Banjar di perantauan ini ada yang mencari ikan dengan cara merawai, menugu, atau ada yang hanya mencari ikan betutu di dalam parit-parit, kecil atau menyauk udang galah dengan cara memberi umpan kelapa di bakar.
Ikan betutu di era tahun 70-an hingga 80-an masih banyak ditemukan di sungai-sungai kecil kawasan sungai Enok, memancingnya pun caranya mudah tinggal mencari umpan cacing pasir, lalu tempelkan di mata kail rendam sebentar ke sungai sudah dimakan ikan betutu dengan bentuk seperti ikan gabus dengan warna kulit kehitaman ini.
Hanya saja banyak warga yang kurang berminat mengkonsumsi ikan betutu ini lantaran bentuk kepalanya sedikit seperti kodok. Padahal rasa ikan ini begitu lezat bagi yang biasa mengkonsumsinya.
Kalau menyauk udang, warga hanya meletakan tali ke dalam air yang digantungi  kelapa bakar, bila terlihat tali tersebut bergerak-gerak maka dengan alat sauk, warga terus menyauk maka udang galah ukuran sedang tertangkap karena udang jenis ini suka dengan kelapa bakar.
Atau untuk mencari udang kecil seperti udang bajang, warga cukup membuat hancau (alat tangkap) berupa kain lusuh seperti bekas kelambu, tinggal rendamkan ke air diberi terasi atau ikan asin lalu udang kecil terkumpul maka hancau segera diangkat maka sekitar satu rantang udang kecil terperangkap di alat tersebut.
Mencari ikan lain dengan cara merawai  yaitu beberapa alat pancing yang satu sama lain saling berkaitan dengan tali belati, setelah mata kail diberi umpan berupa udang maka didiamkan di dalam air beberapa jam kemudian baru di “bangkit” (diambil) sehingga banyak ikan bergelantungan di rawai karena terkena kail rawai.

Para tetuha membuka lahan perkebunan kelapa dan kopi di lahan-lahan tersebut seringkali pula berhadapan dengan binatang buas seperti harimau Sumatera, atau buaya sungai-sungai di kawasan tersebut.
Kondisi warga yang miskin tahun 70-an tersebut setelah penulis kembali ke kawasan tersebut tahun 2000-an ternyata kondisi kawasan praktis tak ada perubahan, miskin dan terpinggirkan, keciali sudah ada jalan darat antara pekan baru hingga Panglihan, namun saat penulis berada di sana kondisinya baru pengerasan, konon jalan itu akan sampai ke pelabuhan samudera Kuala Enok.
Menurut beberapa warga kondisi perkampungan terbelakang itu sudah dirasakan beberapa dasawarsa sejak terbentuknya komunitas suku banjar di kawasan tersebut, akibat selalu terbelakang maka banyak warga yang tinggal berpindah-pindah dari desa yang satu hingga ke desa yang lain.
Bahkan ada yang berani menagmbil resiko dengan mengambil usaha “penyelundup” barang dari Malaysia atau Singapura ke dalam Indonesia hanya sekedar mencari untung sedikit yang disebut warga setempat dengan usaha simukil.
Walau usaha tersebut rentan sekali dengan usaha penangkapan polisi perbatasan laut, seperti KKO tetapi tetap saja ada yang berani menggeluti usaha tersebut, karena berkebun dan bertani tidak menjanjikan.
Apalagi tahun-tahun terakhir maka pohon kelapa yang sudah tua-tua hingga tak produktif tetapi untuk meremajakan maka perlu waktu, kemudian lahan pertanian kian masam, bahkan ada beberapa areal lahan pertanian yang tenggelan menyusul kian meningginya permukaan air laut di era pemanasan global ini , akhirnya usaha bertani tak bisa lagi diharapkan, pada gilirannya banyak warga banjar di pemukiman itu “menyerah” dan hengkang ke kawasan lain.
Sehingga banyak warga Banjar yang mencari usaha ke kota, atau bahkan ke Malaysia, dan Singapura.
Di Pekanbaru saja banyak wargan Banjar mengadu  nasib dan alhamdulillah tak sedikit yang ber hasil menjadi saudagar kaya atau menjadi pejabat, begitu juga di Batam  atau kota-kota lain di kawasan Kepulauan Riau terdapat warga Banjar yang sukses.
Melihat kenyataan tersebut, memang sudah saatnya Pemprop Riau memikirkan kantong-kantong masyarakat Banjar  tersebut, mengingat warga Banjar di Perantauan ini terbukti banyaknya sekali kontribusinya terhadap pembangunan Riau, secara khusus pembangunan Kabupaten Indragiri Hilir.

ORANG BANJAR  KE INHIL AKIBAT BERBAGAI SEBAB
Berbagai pertanyaan belakangan ini muncul terhadap keberadaan  komunitas suku banjar yang berada di berbagai wilayah Kabupaten Indragiri Hilir (Inhil) Provinsi Riau, Sumatera, karena begitu banyak orang Banjar disana  memunculkan anggapan, Inhil merupakan bagian kabupaten/kota Provinsi Kalimantan selatan (Kalsel).
Budayawan Kalsel, Drs.Syamsiar Seman ketika ditanya ANTARA, di Banjarmasin, Senin mengakui bahwa keberadaan komunitas suku Banjar di Inhil sudah begitu lama, diperkirakan gelombang transmigrasi suku Banjar ke pesisir Sumatera itu sebagian besar terjadi sebelum perang dunia kedua.
Sebagian besar warga suku Banjar Inhil sekrang ini, tidak tahu dan tidak pernah mengenal tanah leluluhur mereka di Kalsel yang merupakan wilayah komunitas terbesar suku Banjar. Yang membuktikan mereka sekarang adalah anak cucu dari keturunan orang Banjar perantau dulu.
“Saya baru saja datang ke Inhil, khususnya ibukota Inhil, Tembilahan semua budaya Banjar tetap bertahap di sana, sehingga kalau kita berada di sana seakan berada di kampung halaman sendri, karena bahasa warga semuanya menggunakan bahasa Banjar, makanan juga makanan khas Banjar,” kata budayawan yang mulai ujur tersebut.
Ia mencohtohkan saja, kue tradisional Banjar seperti kue untuk-untuk, cucur, kraraban, gaguduh, laksa, dan sebagainya banyak diperjual belikan disana, dan semua itu hasil olahan warga Banjar setempat.
Ia sendiri tidak tahu persis penyebab bertranmigrasinya suku Banjar ke Inhil tersebut, tetapi dari berbagai cerita, atau tulisan-tulisan lama yang pernah  dibacakan ternyata keberangkatan orang Banjar kesana tempu dulu akibat berbagai sebab.
Sebab pertama, ada yang tidak suka dengan tingkah laku penjajah Belanda yang kala itu cukup merajalela dan menekan warga suku Banjar di daratan Kalsel,kemudian saat itu banyak muncul pemberintakan-pemberontakan warga setempat terhadap Belanja sehingga kampung halaman tidak aman lalu mereka pergi merantau.
Penyebab  lain, sulitnya mencari lahan pertanian di Kalsel sehingga banyak petani pergi ke daerah lain khususnya ke Inhil, mengingat lahan inhil terbentang luas serta tipe lahan sama yaitu rawa-rawa dan lebak hingga mudah untuk menggarap lahan tersebut.
Apalagi lahan rawa-rawa di Sumatera tidak ada etnis lain kecuali suku Bugis yang mampu menggarapnya sehingga keberadaan suku Banjar mudah memperoleh lahan pertanian yang rawa-rawa di sana.
Penyabab lainnya keberangkatan orang Banjar  ke wilayah itu lantaran terjadi konflik antar keluarga atau antar warga sehingga merasa tersingkir lalu hengkang dengan pergi ke perantauan.
Ada lagi karena sakit hati, setelah lamaran untuk meminang wanita di kampung halaman di tolak, lalu merasa malu dan berangkat ke Inhil.
Lalu ada pula yang berangkat karena menuntut ilmu agama, setelah seorang ulama asal Banjar yang menjadi ulama besar yang diangkat menjadi mufti di Inhil, Syekh Haji Abdurahman Sidiq mengajarkan ilmu agama di sana sehingga banyak murid beliau asal Banjar yang berangkat ke sana lalu menetap hingga beranak cucu, kata Syamsiar Seman.
Belakangan ini keberangkatan orang Banjar hanyalah untuk perdagangan serta silarurahmi antar keluarga terutama saat-saat lebaran seperti sekarang ini dan kemudian masih ada yang menetap mau menetap di sana.
Kebanyakan warga Banjar yang tinggal di Inhil bekerja seperti dikampung halaman sendiri yakni bertani, baru berdagang dan pekerjaan lainnya. Namun walau sudah lama tinggal di sana komunikasi dengan warga yang tinggal di Kalsel terus terjalin.

Sejarah Indragiri Hilir

Untuk melihat latar belakang sejarah berdirinya Kabupaten Indragiri Hilir sebagai salah satu daerah otonom, dapat ditinjau dalam dua periode, yaitu periode sebelum kemerdekaan dan periode sesudah kemerdekaan Republik Indonesia.
1.  Periode Sebelum Kemerdekaan Republik Indonesia
a.   Kerajaan Keritang
Kerajaan ini didirikan sekitar awal abad ke-6 yang berlokasi di wilayah Kecamatan Keritang sekarang. Seni budayanya banyak dipengaruhi oleh agama Hindu, sebagaimana terlihat pada arsitektur bangunan istana yang terkenal dengan sebutan Puri Tujuh (Pintu Tujuh) atau Kedaton Gunung Tujuh. Peninggalan kerajaan ini yang masih dapat dilihat hanya berupa puing.
b.   Kerajaan Kemuning
Kerajaan ini didirikan oleh raja Singapura ke-V yang bergelar Raja Sampu atau Raja Iskandarsyah Zulkarnain yang lebih dikenal dengan nama Prameswara. Pada tahun 1231 telah diangkat seorang raja muda yang bergelar Datuk Setiadiraja. Letak kerajaan ini diperkirakan berada di Desa Kemuning Tua dan Desa Kemuning Muda. Bukti-bukti peninggalan kerajaan ini adalah ditemukannya selembar besluit dengan cap stempel kerajaan, bendera dan pedang kerajaan.
c.   Kerajaan Batin Enam Suku
Pada tahun 1260, di daerah Indragiri Hilir bagian utara, yaitu di daerah Gaung Anak Serka, Batang Tuaka, Mandah dan Guntung dikuasai oleh raja-raja kecil bekas penguasa kerajaan Bintan, yang karena perpecahan sebagian menyebar ke daerah tersebut. Diantaranya terdapat Enam Batin (Kepala Suku) yang terkenal dengan sebutan Batin Nan Enam Suku, yakni :
Suku Raja Asal di daerah Gaung.
Suku Raja Rubiah di daerah Gaung.
Suku Nek Gewang di daerah Anak Serka.
Suku Raja Mafait di daerah Guntung.
Suku Datuk Kelambai di daerah Mandah.
Suku Datuk Miskin di daerah Batang Tuaka
d.   Kerajaan Indragiri
Kerajaan Indragiri diperkirakan berdiri tahun 1298 dengan raja pertama bergelar Raja Merlang I berkedudukan di Malaka. Demikian pula dengan penggantinya Raja Narasinga I dan Raja Merlang II, tetap berkedudukan di Malaka. Sedangkan untuk urusan sehari-hari dilaksanakan oleh Datuk Patih atau Perdana Menteri. pada tahun 1473, waktu Raja Narasinga II yang bergelar Paduka Maulana Sri Sultan Alauddin Iskandarsyah Johan Zirullah Fil Alam ( Sultan Indragiri IV ), beliau menetap di ibu kota kerajaan yang berlokasi di Pekan Tua sekarang.
Pada tahun 1815, dibawah Sultan Ibrahim, ibu kota kerajaan dipindahkan ke Rengat. dalam masa pemerintahan Sultan Ibrahim ini, Belanda mulai campur tangan terhadap kerajaan dengan mengangkat Sultan Muda yang berkedudukan di Peranap dengan batas wilayah ke Hilir sampai dengan batas Japura.
Selanjutnya, pada masa pemerintahan Sultan Isa, berdatanganlah orang – orang dari suku Banjar dan suku Bugis sebagai akibat kurang amannya daerah asal mereka. Khusus untuk suku Banjar, perpindahannya akibat dihapuskannya Kerajaan Banjar oleh Gubernement pada tahun 1859 sehingga terjadi peperangan sampai tahun 1963.
e.  Masa Penjajahan Belanda

Dengan adanya tractaat Van Vrindchaap ( perjanjian perdamaian dan persahabatan ) tanggal 27 September 1938 antara Kerajaan Indragiri dengan Belanda, maka Kesultanan Indragiri menjadi Zelfbestuur. berdasarkan ketentuan tersebut, di wilayah Indragiri Hilir ditempatkan seorang Controlleur yang membawahi 6 daerah keamiran :
Amir Tembilahan di Tembilahan.
Amir Batang Tuaka di Sungai Luar.
Amir Tempuling di Sungai Salak.
Amir Mandah dan Gaung di Khairiah Mandah.
Amir Enok di Enok.
Amir Reteh di Kotabaru
Controlleur memegang wewenang semua jawatan, bahkan juga menjadi hakim di pengadilan wilayah ini sehingga Zelfbestuur Kerajaan Indragiri terus dipersempit sampai dengan masuknya Jepang tahun 1942.
f.  Masa Pendudukan Jepang
Balatentara Jepang memasuki Indragiri Hilir pada tanggal 31 Maret 1942 melalui Singapura terus ke Rengat. Tanggal 2 April 1942 Jepang menerima penyerahan tanpa syarat dari pihak Belanda yang waktu itu dibawah Controlleur K. Ehling . Sebelum tentara Jepang mendarat untuk pertama kalinya di daerah ini dikumandangkan lagu Indonesia Raya yang dipelopori oleh Ibnu Abbas.
Pada masa pendudukan Jepang ini Indragiri Hilir dikepalai oleh seorang Cun Cho yang berkedudukan di Tembilahan dengan membawahi 5 Ku Cho, yaitu :
Ku Cho Tembilahan dan Tempuling di Tembilahan.
Ku Cho Sungai Luar.
Ku Cho Enok.
Ku Cho Reteh.
Ku Cho Mandah.
Pemerintahan Jepang di Indragiri Hilir sampai bulan Oktober 1945 selama lebih kurang 3,5 tahun.
2.  Periode Setelah Berdirinya Negara Kesatuan Republik Indonesia
pada awal Kemerdekaan RI, Indragiri (Hulu dan Hilir) masih merupakan satu kabupaten. Kabupaten Indragiri ini terdiri atas 3 kewedanaan, yaitu Kewedanaan Kuantan Singingi dengan ibukotanya Taluk Kuantan, Kewedanaan Indragiri Hulu dengan ibukotanya Rengat dan Kewedanaan Indragiri Hilir dengan ibukotanya Tembilahan.
Kewedanaan Indragiri Hilir membawahi 6 wilayah yaitu :
Wilayah Tempuling/Tembilahan.
Wilayah Enok.
Wilayah Gaung Anak Serka.
Wilayah Mandah/Kateman.
Wilayah Kuala Indragiri.
Wilayah Reteh
Perkembangan tata pemerintahan selanjutnya, menjadikan Indragiri Hilir dipecah menjadi dua kewedanaan masing-masing :
a.  Kewedanaan Indragiri Hilir Utara meliputi kecamatan :
Kecamatan Tempuling.
Kecamatan Tembilahan.
Kecamatan Gaung Anak Serka.
Kecamatan Mandah.
Kecamatan Kateman.
Kecamatan Kuala Indragiri dengan ibukotanya Tembilahan.
b.  Kewedanaan Indragiri Hilir Selatan meliputi kecamatan :
Kecamatan Enok.
Kecamatan Reteh dengan ibukotanya Enok.
3.  Pemekaran Kabupaten Indragiri Hilir.

Merasa persyaratan administrasinya terpenuhi maka masyarakat Indragiri Hilir memohon kepada Menteri Dalam Negeri melalui Gubernur Riau, agar Indragiri Hilir dimekarkan menjadi Kabupaten Daerah Tingkat II yang berdiri sendiri (otonom).
Setelah melalui penelitian, baik oleh Gubernur maupun Departemen Dalam Negeri, maka pemekaran diawali dengan dikeluarkannya Surat Keputusan Gubernur Kepala Daerah Tingkat I Riau (Propinsi Riau) tanggal 27 April 1965 nomor 052/5/1965 sebagai Daerah Persiapan Kabupaten Indragiri Hilir.

Pada tanggal 14 Juni 1965 dikeluarkanlah Undang-undang nomor 6 tahun 1965 Lembaran Negara Republik Indonesia no. 49, maka Daerah Persiapan Kabupaten Indragiri Hilir resmi dimekarkan menjadi Kabupaten Daerah Tingkat II Indragiri Hilir (sekarang Kabupaten Indragiri Hilir) yang berdiri sendiri, yang pelaksanaannya terhitung tanggal 20 November 1965.(sumb:pemkab inhil)

ingin tahu tentang inhil klik http://www.inhilkab.go.id
MIGRASI ORANG BANJAR KE PAMADAMAN
April 14, 2010

oleh wajidi

“Pamadaman” merupakan kosa kata bahasa Banjar yang artinya sama dengan “Perantauan”. Pamadaman berasal dari kata “madam” yang artinya pergi merantau atau melakukan migrasi terutama keluar Kalsel.
Sejak akhir abad ke-19 atau awal-awal abad ke-20 banyak orang Banjar yang melakukan migrasi ke berbagai tempat di kepulauan Nusantara.
Sehingga tak mengherankan orang Banjar kini banyak bermukim di Sapat dan Tembilahan (Indragiri Hilir Provinsi Riau), Bintan (Provinsi Kepri), Kuala Tungkal (Provinsi Jambi), Deli Serdang, Langkat, Serdang Bedagai, Asahan (Provinsi Sumut), Kaltim, Kalteng, di pulau Jawa, pulau Lombok dan Bima (Nusa Tenggara Barat), Manado, Gorontalo, Kendari, Makasar, Maluku, dan lain sebagainya. Atau di daerah-daerah yang menjadi bagian negara Malaysia, seperti Parit Buntar di Perak, Tanjung Karang di Selangor dan Batu Pahat di Johor dan juga di negara Brunei Darussalam, Singapura, dan Pattani Thailand.
Fenomena migrasi yang dilakukan orang Banjar di akhir abad ke 19 dan awal abad ke 20 merupakan pola umum yang juga dilakukan oleh berbagai etnis di Nusantara. Migrasi yang dilakukan oleh sebagian masyarakat itu disebabkan oleh berbagai faktor, seperti faktor kondisi politik, ekonomi, keamanan, atau faktor tidak kondusifnya daerah asal mereka.
Faktor ekonomi seperti untuk mencari penghidupan yang lebih baik merupakan salah satu alasan mereka bermigrasi, misalnya yang dilakukan orang Banjar ketika bermigrasi ke Semenanjung Malaya sebagai buruh penyadap karet. Penyadapan getah karet dan perluasan lahan perkebunan karet tentu saja memerlukan tenaga kerja atau buruh harian. Dan tenaga itu didatangkan atau diperoleh dari orang-orang yang datang ke Semenanjung Malaya.
Orang-orang Banjar tidak segan bekerja di tempat yang jauh dari kampungnya. Walaupun mereka akan segera kembali jika telah mendapat banyak uang atau keadaan di perantauan tidak menguntungkan lagi. Seperti ketika perkebunan tembakau Deli baru dibuka, banyak orang Banjar pergi kesana untuk membuka lahan dan membuat bangunan (L. Potter dalam Tundjung, 2008: 6).
Menurut Sartono Kartodirdjo (1975: 116-118), fenomena migrasi bukanlah semata-mata faktor ekonomi yang menjadi pertimbangan mereka, namun dikarenakan oleh faktor lain seperti faktor politik yang kadang-kadang membuat orang menentukan harus pindah ke daerah lain.
Bambang Purwanto dalam A. Muthalib (2008:24) menyatakan bahwa ketika tekanan politik Belanda terhadap Banjarmasin dan kerajaan-kerajaan di Sulawesi Selatan semakin intensif, orang Bugis dan Banjar semakin banyak yang membuka daerah rawa-rawa di sepanjang pantai timur Sumatera.
Terkait dengan latar belakang migrasi orang Banjar, maka selain bertujuan untuk mencari penghidupan yang lebih baik (faktor ekonomi), juga untuk menghindar dari penindasan Pemerintah Hindia Belanda (faktor politik dan keamanan).
Kehidupan sosial ekonomi masyarakat di Kresidenan Borneo Selatan (Kalimantan Selatan) di tahun 1920 an turut mendorong terjadinya migrasi orang Banjar. Kondisi itu terkait dengan dampak ekonomi dunia yang tengah dilanda malaise. Selain itu, adanya perlakuan diskriminasi Pemerintah Hindia Belanda terhadap pribumi mengakibatkan kehidupan masyarakat Banjar di bawah penguasaan Belanda juga sangat memprihatinkan.
Orang Belanda (termasuk orang Eropa lainnya) sebagai kelas tertinggi, memegang kekuasaan ekonomi dan politik. Pembangunan seperti di bidang pendidikan, tempat rekreasi, perumahan, bioskop, dan fasilitas penting lainnya adalah untuk kepentingan Pemerintah Hindia Belanda dan orang-orang Eropa. Hanya orang kulit putih atau yang dipersamakan yang boleh memasuki fasilitas penting tersebut, sedangkan Bumiputera adakalanya dilarang masuk karena ada tanda-tanda tertentu bertulisan larangan, seperti: “Verboden toegang voor Inlanders en Honden (dilarang masuk untuk orang bumiputera dan anjing” (Saleh, 1981-1982: 37).
Perlakuan diskriminasi sebenarnya tidak hanya dikenakan antara golongan pribumi dengan orang Eropa atau Timur Asing, melainkan juga antara golongan pribumi muslim dengan pribumi penganut agama Kristen. Pada tahun 1920-an, guru-guru agama, guru-guru sekolah Islam, khatib, bilal dan kaum masjid dikenakan kewajiban oleh Pemerintah Hindia Belanda untuk menjalankan Ordonnantie Heeren Dienst yang menyangkut erakan atau kerja rodi, sedangkan guru-guru agama Kristen, Penyebar Injil, dan Kepala Jemaat, dan Guru-guru Sekolah Zending justru dibebaskan dari kewajiban itu.
Diskriminasi atau pengklasifikasian status sosial yang terjadi di dalam masyarakat mengundang pertentangan sosial dan ini menyebabkan seringnya terjadi penindasan terhadap kaum yang lemah. Diskriminasi dan penindasan seperti itulah yang pada akhirnya menimbulkan kesengsaraan pada masyarakat bumiputera.
Terhadap pribumi pemerintah Hindia Belanda mengenakan berbagai pungutan seperti Pajak Pencaharian, Pajak Tanah, Pajak Kepala, Pajak Erakan (uang kepala), Bea Masuk, Pajak Penyembelihan dan berbagai pungutan resmi maupun tidak resmi. Selain itu, setiap orang, kecuali golongan pangreh praja, yang berumur antara 18-45 tahun dapat dikenakan kerja rodi (kerja erakan) yang sangat memberatkan rakyat yang kesemuanya untuk kepentingan Pemerintah Hindia Belanda.
Mengenai pajak erakan (uang kepala), misalnya: (1) Tiap 1 orang petani yang punya 1 bidang sawah dan 1 bidang ladang dalam setahun harus bayar pajak sawah-ladangnya, walaupun hasilnya sangat kurang. Sawah dikenakan wajib pungut sebesar “tujuh puluh lima sen” (f 0,75), dan pajak ladang wajib bayar “lima puluh sen” (f. 0,50); (2) Tiap 1 orang berusia lanjut 50 s.d. 55 tahun harus bayar wajib pajak kepala per tahun “lima puluh sen” (f. 0,50). Tiap 1 orang dewasa (kawin/belum) umur 18 tahun ke atas harus bayar wajib pajak seperti tersebut di atas. Meski umur muda akan tetapi jika akan melaksanakan perkawinan, dia wajib kena pungut pajak kepala (Wajidi, 2008: 18).
Kondisi sosial ekonomi yang berkaitan dengan rodi dan berbagai pajak dan pungutan, dampak depresi ekonomi dunia saat itu, dan ditambah dengan pendidikan yang kurang maju menjadi dominan sifatnya antara tahun 1900 –1928 di Kalimantan Selatan. Kondisi demikian mengakibatkan keresahan yang bermuara kepada munculnya pemberontakan Guru Sanusi 1914-1918 dan pemberontakan Gusti Darmawi tahun 1927. Keadaan itu pula yang mengakibatkan banyak penduduk khususnya dari Hulu Sungai yang melakukan eksodus ke pesisir Timur Sumatera seperti Kuala Tungkal, Sapat, Tembilahan. Sampai tahun 1950 jumlah penduduk suku Banjar di daerah Sapat dan Tembilahan mencapai 250.000 orang (Saleh et al,1978/1979: 51).
Sumatera Utara merupakan salah satu daerah pamadaman yang cukup besar. Berdasarkan data yang diperoleh dari Ahmad Fauzi (2010:2) diperkirakan orang Banjar di Sumatera Utara saat ini berjumlah lebih kurang 180.000 orang dengan perincian kab. Langkat 70.000 orang, Deli Serdang 30.000 orang, Serdang Bedagai 50.000 orang, Asahan 20.000 orang, kabupaten/kota lainnya kurang lebih 10.000 orang.
Informasi lain sebagaimana disebutkan A. Muthalib (2008:26) bahwa orang Banjar yang telah bermukim di Indragiri Hilir pada tahun 1900 sekitar seribu jiwa. Lima belas tahun kemudian (1915) jumlah mereka meningkat drastis, yakni 18.798 jiwa. Pada akhir perang Dunia I atau dekade kedua abad ke-20, jumlah mereka diperkirakan 20 ribu jiwa.      Selain ke pesisir Sumatera, puluhan ribu penduduk Hulu Sungai juga pergi untuk menetap di Melaka (Sjamsuddin, 2001: 9). Mungkin yang dimaksud Sjamsuddin di Malaya, bukan di Melaka. Kalau di Melaka tidak ada orang Banjar seramai itu, kerana Melaka bukan tumpuan migrasi orang Banjar.
Menurut Tunku Shamsul Bahrin (1964) sebagaimana dikutip dari Mohamed Salleh Lamry (2010:4) bahwa berdasarkan sensus penduduk Semenanjung Malaya tahun 1911, orang Banjar di Malaya pada masa itu berjumlah 21.227 orang. Umumnya mereka bermukim di Perak, Selangor dan Johor. Pada tahun 1921 orang Banjar di Malaya meningkat hampir 80% menjadi 37.484 orang. Antara tahun 1921 hingga 1931 penduduk Banjar di Malaya bertambah 7.503 orang menjadi 45.351 orang. Perak, Johor dan Selangor masih merupakan negeri di mana jumlah orang Banjar paling ramai. Dalam tiga negeri inilah tinggal 96% orang Banjar di Malaya.
Proses migrasi orang Banjar memang sudah terjadi pada abad ke-18 ketika Belanda melakukan campur tangan dalam perebutan tahta antara Pangeran Nata dan Pangeran Amir yang berujung kepada kekalahan Pangeran Amir dan akhirnya dibuang ke Ceylon (Sri Langka). Untuk menghindari dari penangkapan dan hukuman dari pihak kolonial Belanda, maka pengikut Pangeran Amir melakukan eksodus ke berbagai tempat yang dirasa aman. Migrasi orang Banjar keluar Kalsel semakin banyak ketika terjadinya Perang Banjar yang berlangsung selama lebih dari 40 tahun (1859-1906). Dan migrasi itu mencapai puncaknya pada dekade-dekade pertama abad ke-20, disaat Pemerintah Hindia Belanda telah semakin intens menancapkan kekuasaan dan menjalankan pemerintahan kolonial yang diskriminatif dan menindas kaum pribumi.
Migrasi orang Banjar ke berbagai tempat di kepulauan Nusantara juga didukung oleh kemampuan orang Banjar dalam memiliki dan menguasai teknologi pembuatan perahu (jukung) dalam berbagai bentuk dan jenis keperluan baik untuk sungai, pantai dan lautan. Kemampuan itu dengan sendirinya menjadikan orang Banjar memiliki tradisi berlayar baik sebagai pelaut, nelayan, dan pedagang antar pulau (interensuler). Tak mengherankan jika pada masa Kerajaan Negara Dipa, Negara Daha, dan Kesultanan Banjar, jung-jung yang dibawa pedagang Banjar banyak berlabuh di berbagai bandar di pantai utara pulau Jawa.
Ketika Islam berkembang pesat di Kesultanan Banjar yang mengharuskan penganutnya untuk melakukan perjalanan haji ke Mekkah bagi yang mampu, maka kemampuan orang Banjar berlayar mengarungi samudera semakin terasah. Adalah hal biasa jika orang Banjar melakukan perjalanan ibadah haji ke Mekkah dengan menaiki kapal layar sendiri pulang pergi selama setahun lamanya. Kemampuan memiliki, menguasai teknologi perkapalan dan adanya tradisi berlayar dan berdagang antar pulau dengan perahu tradisional itulah yang menjadikan orang Banjar memiliki mobilitas tinggi, berlayar dari satu pulau ke pulau lain dan menyusuri sungai hingga jauh ke pedalaman untuk mencari tempat bermukim. Suatu hal yang tidak mungkin dilakukan jika hanya menumpang kapal uap milik maskapai Belanda yang hanya merapat di bandar besar saja.
Putusnya komunikasi antara orang Banjar banua dengan perantauan barangkali disebabkan karena semakin berkurangnya armada perahu-perahu tradisional Banjar yang melayari lautan karena semua kegiatan perdagangan diatur oleh Pemerintah Hindia Belanda, seiring dengan berhentinya perlawanan orang Banjar di awal abad ke-20 dan monopoli perdagangan Cina. Berbagai upaya untuk melawan pengaturan Belanda itu dan monopoli pedagang Cina, seperti yang dilakukan organisasasi Sarekat Islam cabang Banjarmasin dengan mendirikan Sarekat Pelayaran sebagai upaya untuk memperlancar transportasi sungai yang merupakan jalur perdagangan penting di Kalimantan Selatan, namun agaknya usaha-usaha itu tidak mampu melawan monopoli perdagangan yang telah lama dikuasai orang-orang Cina yang telah lama mendapat perlakuan istimewa yang diterimanya dari pemerintah, di samping eksploitasi pemerintah kolonial sendiri di bidang ekonomi (Wajidi, 2007: 123).
Dengan semakin sedikitnya perahu-perahu Banjar yang melayari lautan, maka semakin jarang orang Banjar di perantauan atau sebaliknya untuk saling berkunjung. Akibatnya untuk waktu sekarang masing-masing pihak mengalami kesulitan untuk menelusuri kembali sanak keluarga keluarganya. Sebagian dari mereka ada yang masih bisa menjalin komunikasi dengan kerabatnya di Kalsel, karena kerabatnya di banua masih dikenali. Namun tidak sedikit pula yang putus sama sekali karena yang mereka ketahui hanyalah padatuan mereka berasal dari Kalsel (seperti dari Barabai, Kandangan, Alabio, Nagara, Amuntai, Kelua), namun dimana atau di kampung apa padatuan mereka dahulunya berada mereka tidak mengetahuinya. (Diolah dari naskah yang saya persiapkan untuk Kepala Balitbangda Provinsi Kalsel Ir. Hj. Suriatinah, MS berjudul: “Kontak Budaya Antara Masyarakat Banjar Banua Dan Perantauan Dalam Rangka Pembangunan Daerah Kalimantan Selatan” pada Kongres Budaya Banjar II, 4-7 April 2010 di Banjarmasin), ditambah data yang bersumber dari pemakalah lain).

Urang Banjar di Tembilahan, Bumi Sri Gemilang

Konon sudah lebih dari 5 generasi urang banjar yang madam, migrasi, ’terdampar’ di Tembilahan. Sebenarnya bukan hanya di Tembilahan sebaran warga banjar di nusantara. Paling tidak di Sumatera ada di Tembilahan (Kab. Indragiri Hilir), Kuala Tungkal (Kab. Tanjung Jabung – Jambi), juga di Kab. Deli Serdang – Kab. Serdang Bedagai – Kab. Langkat di Sumut., bahkan di Singapura dan Malaysia (khususnya Batu Pahat). Inilah jejak urang Banjar di Tanah Melayu.

Pada tulisan yang lain ulun ceritakan jua bubuhan kampung Banjar di Manado, Makassar, Mataram, Pontianak, Bukittinggi dan Singapura.

Saat ulun berkesempatan ke Tembilahan dengan rombongan Gubernur dan Lembaga Budaya Banjar pada pemberian gelar adat TNB (Tutuha Nang Batuah) untuk Gubernur Riau Rusli Zainal dan Bupati Inhil Indera Muhlis Adenan, saat itulah ’ainul yaqiin (melihat langsung) kehidupan bubuhan kita dibanua urang. Menurut Bupati Inhil tidak kurang 60% penduduk Inhil adalah urang Banjar. Bukan tanpa sebab fakta ini terjadi, karena betapa kagetnya ulun melihat kondisi alam dan kehidupan yang sangat mirip dengan banua kita.

Sebut saja sungai Indragiri yang mirip sungai Barito, Jalan tembus yang mirip Anjir kita, rawa dan gambutnya yang seakan ulun berada di hulu sungai, kehidupan bubuhan panyiuran yang sangat bersahaja, dll.

Saat mencoba mengelilingi pasar Tembilahan dan kaget bukan kepalang, ternyata bahasa pengantara dan komunikasi di pasar itu bahasa Banjar barataan. Biar lain urang Banjar gin tatap bisa berbahasa Banjar. Saat mencoba mendekat ke tumpukan durian dan mencoba menawar, eh.. ternyata bubuhan Banjar Hulu Sungai, tepatnya bubuhan Alabio. ”bubuhanmu urang Banjar jua kah, jar din..” Inggih jar ulun, tapi kami ni sahibar mandangar kisah haja banua kita, kami kada biasa ka banjar, ujar seorang yang mengaku lahir dan besar di tembilahan. Padatuan haja nang bakisah banua Banjar. Kami ini turunan ke 4 sudah di tambilahan, kadada baduit handak manjinguki banua banjar. Kena lah jar ulun kita minta bantuan Gubernur Riau supaya mainjami Riau Airlines gasan bubuhan pian bulikan, manjanaki banua datu nini pian barataan. Takurihing sampai ka talinga sidinnya.

Jejak Banjar ini tercantum juga dalam prasasti Kerajaan Indragiri yang menjabat sebagi Mufti Kerajaan Selama 27 tahun, beliau lah Syeikh Abdurrahman Siddiq al Banjari atau lebih terkenal Guru Sapat.

Ada 3 teori migrasi urang Banjar di Tanah Melayu, yaitu 1. Permintaan Sultan Deli untuk bercocok tanam di rawa yang hanya bisa urang Banjar melakukannya. 2. Prahara di Kerajaan Banjar yang menyebabkan hijrahnya beberapa keluarga Kerajaan Banjar ke Tanah Melayu. 3. Penyebaran agama Islam, buktinya menjadi Mufti di Kerajaan Indragiri. Sementara teori atau cerita turun temurun bahwa migrasi Banjar dengan maksud merantau ke Tanah Malaka kemudian dihadang badai dan akhirnya terdampar di Tembilahan.(Ibnu Sina)

MIGRASI URANG BANJAR KE SUMATERA dan MALAYSIA

Suku Banjar yang tinggal di Sumatera ;Tembilahan (Provinsi Riau), Kuala Tungkal (Provinsi Jambi),Hamparan Perak/Paluh Kurau, Pantai Cermin, Perbaungan, Binjai Langkat (Provinsi Sumatera Utara) dan
Malaysia merupakan anak, cucu, intah, piat dari para imigran etnis
Banjar yang datang dalam tiga… gelombang migrasi besar.

Migrasi suku Banjar ke Sumatera khususnya ke Tembilahan, Indragiri
Hilir sekitar tahun 1885 di masa pemerintahan Sultan Isa, raja Indragiri
sebelum raja yang terakhir. Tokoh etnis Banjar yang terkenal dari
daerah ini adalah Syekh Abdurrahman Siddiq Al Banjari (Tuan Guru
Sapat/Datu Sapat) yang berasal dari Martapura, Banjar yang menjabat
sebagai Mufti Kerajaan Indragiri.

Banyak juga suku Banjar bermigrasi ke Malaysia antara lain ke negeri
Kedah, Perak ( Kerian, Sungai Manik, Bagan Datoh), Selangor(Sabak
Bernam, Tanjung Karang), Johor(Batu Pahat) dan juga negeri Sabah
(Sandakan, Tenom, Keningau, Tawau) yang disebut Banjar Melau.
Tokoh etnis Banjar yang terkenal dari Malaysia adalah Syekh Husein
Kedah Al Banjari, mufti Kerajaan Kedah. Salah satu etnis tokoh Banjar
dari Malaysia yang terkenal saat ini adalah Dato Seri (DR) Harussani
bin Haji Zakaria yang menjadi Mufti Kerajaan Negeri Perak. Daerah
(setingkat kabupaten) yang paling banyak terdapat etnis Banjar di
Malaysia adalah Daerah Kerian di Negeri Perak Darul Ridzuan.
Organisasi suku Banjar di Malaysia adalah Pertubuhan Banjar Malaysia (PBM). (dari berbagai sumber )

 

 

Asal-usul kedatangan orang Banjar ke Tanah Melayu (Malaysia)

Orang Banjar yang datang ke Tanah Melayu adalah berasal dari Kalimantan, Indonesia, di kawasan selatan Basin Barito, terutama sekali dari daerah Banjar Masin, iaitu pusat bandar daerah itu. Kawasan ini adalah terletak di bahagian tenggara Borneo. Di antara daerah-daerah utama tempat asal orang Banjar tersebut ialah dari daerah Balangan, Amuntai, Alai, Hamandit, Margasari dan Martapura. Sebahagian dari mereka juga berasal dari Sumatera Tengah di kawasan Bukit Tinggi dan Sepat. Daerah-daerah tersebut merupakan kawasan penanaman padi.

Oleh demikian, mereka yang berhijrah ke Tanah Melayu adalah merupakan petani-petani yang mahir dalam penanaman padi. Di samping itu, pekerjaan khusus seperti melukis, tukang permata dan berniaga juga ditekankan oleh mereka. Pekerjaan inilah yang membezakan mereka dari suku-suku bangsa lain di daerah orang-orang Dayak yang tinggal lebih ke utara barat Banjar Masin. Masyarakat ini juga dikenali dengan kemahiran membuat peralatan dari besi, sepertiperalatan pertanian dan senjata. Kebanyakan mereka suka tinggal di lembah beberapa buah sungai seperti di sepanjang lembah Sungai Barito dari Banjar Masin hingga ke Asuntai dan Tanjung di utara., Tenom, Keningau dan Tawau. Orang Banjar ini pula terbahagi kepada beberapa puak dan di antara yang terbesar ialah Tanjung dan Kalua dari daerah Balangan, Amuntai dari daerah Amuntai, Barabai dari daerah Alai, Nagara dan Kandangan dari daerah Hamandit, Rantau dari daerah Margasari dan Martapura dari daerah Martapura. Masyarakat ini sering mengidentifikasikan diri mereka berdasarkan daerah tempat asal-usul mereka di Tanah Banjar.

Tarikh migrasi masyarakat ini ke Tanah Melayu tidak dapat dipastikan, tetapi menurut Afred Bacon <span>Hudson</span> seorang pengkaji orang Banjar, migrasi ini bermula dalam pertengahan abad ke 19. Penempatan yang awal sekali dapat dikesan ialah di Batu Pahat, Johor. Pada masa itu, mereka sering berulang alik berdagang dan berniaga kelapa kering melalui Siak, Bentan, Inderagiri terus ke Batu Pahat dan Singapura. Selain daripada itu Bagan Datoh di Perak juga dikatakan tempat pertapakan awal masyarakat ini di Tanah Melayu.

Dari Batu Pahat, mereka berpecah ke kawasan lain. Mereka masih lagi manjalankan aktiviti yang serupa seperti bertani, berkebun getah, kelapa dan sebagainya. Pada masa kini, masyarakat Banjar boleh didapati di beberapa kawasan pantai barat, terutamanya di kawasan penanaman padi seperti di daerah Kerian, Sungai Manik dan Bagan Datoh di Perak, Sabak Bernam dan Tanjong Karang di Selangor serta Batu Pahat di Johor. Di Sabah pula, orang Banjar terdapat di Sandakan

Selain daripada faktor perdagangan, kemiskinan yang mencengkam kehidupan orang Banjar di tempat asal mereka juga telah mendorong penghijrahan ke Tanah Melayu. Keadaan mereka di Tanah Banjar agak sukar kerana tanah pertanian mereka sering menghadapi ancaman binatang buas. Faktor ini ditambah lagi dengan kemelaratan yang dihadapi di bawah pemerintahan penjajah Belanda yang terlalu menindas masyarakat tempatan dengan pelbagai cukai dan peraturan yang tidak munasabah. Di samping itu, mereka tertarik dengan kemakmuran kehidupan di Tanah Melayu pada masa itu yang dikhabarkan oleh pedagang-pedagang yang berulang-alik ke Tanah Melayu.

Pihak penjajah British di Tanah Melayu pula amat menggalakkan penghijrahan masyarakat dari Indonesia untuk membuka dan mengerjakan kawasan pertanian yang baru kerana masyarakat tersebut amat terkenal dengan sifat tabah dan gigih dalam menghadapi cabaran hidup.

Ciri-ciri awal orang Banjar di Tanah Melayu

Apa yang dimaksudkan dengan ciri-ciri awal ini ialah sosio-budaya orang Banjar pada tahap awal pertapakan mereka di tanah Melayu iaitu sekitar pertengahan abad ke-19 sehingga pertengahan abad yang ke-20. Terdapat ciri-ciri yang dominan dan ketara pada masyarakat ini yang membezakannya dengan masyarakat Melayu tempatan pada masa itu. Di antara ciri-ciri awal yang dapat diperhatikan dalam masyarakat ini pada masa itu ialah, fahaman kesukuan, teguh pegangan agama dan carahidup sederhana, berani dan panas baran.

Fahaman kesukuan

Perkara ini adalah berkait rapat dengan keadaan mereka yang baru berhijrah dari Tanah Banjar ke Tanah Melayu yang masih asing bagi mereka. Jadi, bagi memastikan kebajikan mereka terjaga, mereka sentiasa tinggal dalam satu kelompok. Salah satu ciri terpenting wujud pada masyarakat tersebut pada masa itu ialah mendalamnya fahaman kesukuan. Bagi mereka, orang orang selain dari suku mereka dianggap sebagai ‘orang luar’. Keadaan ini telah mempengaruhi pergaulan, perkembangan pemikiran dan seterusnya keperibadian mereka. Faham kesukuan ini juga telah menjadikan masyarakat ini pada masa itu sebagai sebuah masyarakat tertutup. Jarang-jarang benar berlaku perkahwinan di luar suku Banjar. Justeru itu, faktor ini telah dapat mengekalkan beberapa ciri-ciri keperibadian yang tersendiri masyarakat ini. Contoh yang nyata ialah pengekalan bahasa pertuturan sehari-hari iaitu dialek Banjar dan kawasan tempat tinggal yang berkelompok.

Teguh pegangan agama dan cara hidup sederhana

Kebanyakan orang Banjar yang berhijrah ke Tanah Melayu adalah terdiri daripada mereka yang kuat pegangan agama Islam dan mengamalkan cara hidup yang sederhana. Maka, tidak hairanlah bahawa masyarakat ini amat condong terhadap perkara-perkara yang berkaitan dengan agama Islam dalam kehidupan seharian mereka.

Keadaan ini ditambah lagi dengan corak pekerjaan mereka yang berbentuk pertanian dan lokasi petempataan mereka yang agak terpencil daripada bandar, telah menyebabkan peluang untuk mereka mengikuti kemudahan-kemudahan seperti pelajaran, kesihatan, dan lain-lain amat terhad. Perkembangan pendidikan secara formal yang wujud dalam masyarakat ini hanyalah berupa kelas membaca al-Quran, mempelajari hal-ehwal syariat Islam sama ada di sekolah-sekolah agama rakyat mahupun di madrasah-madrasah. Bagi golongan yang berkemampuan pula, mereka menghantarkan anak-anak mereka ke sekolah-sekolah arab mahupun pondok-pondok di tempat lain. Bagi yang lebih berkemampuan, mereka juga turut menghantar anak-anak mereka ke Tanah Suci Mekah untuk mendalami ilmu agama. Amat kurang sekali yang menghantar anak-anak mereka ke sekolah-sekolah kerajaan mahupun ke sekolah Melayu kerana mereka berpendapat mata pelajaran yang di ajar tidak sesuai dan semata-mata hal-ehwal duniawi sahaja. Begitu juga dengan sekolah-sekolah Inggeris mereka khuatir anak-anak mereka akan terpengaruh dengan dakyah Kristian jika menghantar anak-anak mereka belajar di sekolah tersebut. Walaupun pada umumnya, fahaman sebegini wujud dikalangan masyarakat Melayu yang lain, tetapi keadaan yang wujud dikalangan orang Banjar amat ketara sekali.

Sebagai buktinya, sehingga awal tahun-tahun 60an, amat kurang sekali pegawai-pegawai kerajaan mahupun kakitangan yang berketurunan Banjar. Kalau pun ada, hanya pegawai-pegawai agama atau guru-guru agama. Ringkasnya mereka lebih berminat untuk bergiat dalam bidang-bidang yang bersangkutan dengan hal-ehwal agama Islam sahaja. Kesan lain yang dapat diperhatikan dan masih kekal sehingga kini ialah terdapatnya dengan banyak sekali sekolah sekolah agama rakyat, madrasah mahupun pondok-pondok dikawasan-kawasan yang majoriti penduduknya orang Banjar seperti di daerah Kerian, Perak mahupun di daerah Sabak Bernam, Selangor.

Keadaan kehidupan mereka juga amat sederhana, rumah mereka dikatakan kosong kerana tidak mempunyai alat-alat perabut seperti kerusi, meja dan almari. Peralatan yang ada seperti tikar mengkuang yang dibentangkan ketika tetamu datang dan lain-lain perkakas yang mustahak sahaja.

Satu hal yang agak menarik juga ialah, masyarakat ini tidak suka bekerja makan gaji dengan kerajaan kerana mereka lebih suka bekerja sendiri khasnya dalam bidang pertanian. Perkara ini juga berkait dengan kebebasan untuk mereka membuat perkara-perkara sampingan khasnya untuk mendalami ilmu-ilmu keagamaan. Pekerjaan bertani khasnya penanaman padi mempunyai ruang masa yang banyak dan bebas untuk mereka melakukan perkara-perkara tersebut seperti ketika menunggu musim menuai dan seumpamanya. Kedudukan seseorang yang tinggi ilmu agama juga amat dihormati dan mendapat tempat yang istimewa di kalangan orang Banjar. Nilai yang diberikan ke atas seseorang individu dalam masyarakat ini adalah berdasarkan keahliannya dalam ilmu-ilmu agama Islam. Nilai-nilai seperti ini menjadikan masyarakat ini begitu kuat dan taat berpegang kepada ajaran <span>Islam</span> dan kepada kepimpinan yang ahli dalam bidang agama Islam. Perkara ini jelas dilihat daripada kemenangan calon parti yang menjadikan Islam sebagai dasar perjuangan pada Pemilihan Umum Persekutuan Tanah Melayu pada tahun 1955 Kawasan Kerian, Perak yang telah diketahui majoriti daripada penduduknya terdiri daripada orang Banjar. Beliau yang dimaksudkan ialah Tuan Guru Haji Ahmad Haji Hussein, keturunan Syeikh Muhammad Arsyad al Banjari, seorang tokoh ulama besar berasal dari Tanah Banjar, Kalimantan Selatan, Indonesia.

Berani dan pemanas

Salah satu sifat yang agak ketara terdapat dalam masyarakat Banjar ialah bersifat berani dan pemanas. Masyarakat ini pantang dicabar dan bersifat panas baran. Penggunaan senjata seperti pisau (biasanya disebut lading), parang panjang atau badik (sejenis pisau juga), tidak asing lagi bagi mereka terutama ketika berlaku pergaduhan. Dipercayai juga setiap keluarga orang Banjar pasti menyimpan sebilah parang panjang di rumah masing-masing untuk menjaga keselamatan mereka. Orang Banjar sering dianggap sebagai masyarakat yang gemar bergaduh oleh masyarakat lain. Sebenarnya, sifat ini telah timbul secara turun temurun semenjak mereka menetap di Tanah Banjar lagi. Keadaan alam sekeliling di Tanah Banjar yang penuh dengan hutan belukar dan binatang buas menjadikan mereka sentiasa berhadapan dengan cabaran dan halangan dalam meneruskan kehidupan mereka. Orang-orang yang berniaga pula sering berhadapan dengan lanun dan perompak memerlukan mereka sentiasa bertenaga dan bersedia untuk bertarung dengan pihak musuh. Perkara ini juga telah menyebabkan mereka suka menuntut ilmu-ilmu persilatan daripada pendekar-pendekar tempatan mahupun luar. Keadaan ini terbawa-bawa dan akhirnya telah menjadi sifat dan perangai mereka sehingga sekarang walaupun semakin berkurangan. Ciri-ciri ini jugalah yang sebenarnya menjadi penyebab kepada pergaduhan yang telah timbul di kawasan petempatan orang Banjar seperti di Sungai Manik, Teluk Intan, Perak pada tahun 1940an dan 1960an mahupun di Batu Pahat, Johor pada 13 Mei 1969, atas gabungan sifat mereka yang kuat pegangan agama dan berani serta pemanas.

Orang Banjar kini

Kini, orang Banjar di Malaysia sebagaimana masyarakat-masyarakat penghijrah dari Indonesia yang lain seperti orang Jawa, Bugis, Mendailing, Rawa, Kerinchi, Batak, Minangkabau dan lain-lain lagi, telah mengalami arus perubahan yang pesat seiring dengan kepesatan pembangunan di negara ini sendiri. Proses asimilasi yang berlaku ke atas masyarakat ini amat ketara terutama apabila mereka sudah tidak tinggal lagi bersama-sama dalam kelompok mereka mahupun apabila berlakunya perkahwinan campur. Program pendidikan di negara ini juga sedikit sebanyak telah mengasimilasikan masyarakat ini ke dalam masyarakat Melayu tempatan. Generasi muda masyarakat ini sudah agak kurang mahupun tidak tahu atau malu untuk bertutur dalam bahasa Banjar walaupun ketika berbicara sesama mereka.

Sifat mereka yang suka merantau masih membara dijiwa mereka. Buktinya, apabila adanya pembukaan tanah-tanah rancangan sama ada oleh FELDA mahupun FELCRA, mereka akan memberikan sambutan yang menggalakkan untuk menjadi peserta. Kini, orang Banjar juga banyak didapati di kawasan-kawasan tanah rancangan contohnya di negeri Pahang.

Di petempatan yang majoritinya adalah terdiri daripada masyarakat Banjar, Perpaduan mereka masih erat dan mereka masih terus memelihara dan menggunakan bahasa Banjar dalam pertuturan harian. Namun, dari segi pengamalaan adat resam dan organisasi sosial orang Banjar serta prasangkanya terhadap orang bukan Banjar sudah agak berkurangan dan mungkin sudah tiada lagi. Sikap mereka terhadap pendidikan juga telah jauh berubah di mana anak-anak mereka juga telah berjaya melanjutkan pelajaran sehingga ke menara gading dan menjawat jawatan-jawatan yang tinggi di sektor awam mahupun swasta. Namun begitu, pendidikan agama masih tetap menjadi pilihan utama kebanyakan dari mereka dan buktinya dapat di perhatikan daripada ramainya anak-anak masyarakat ini yang mempunyai kelulusan agama yang tinggi terutama orang Banjar dari daerah Kerian, Perak dan daerah Sabak Bernam di Selangor.

Along Putera

HARUSKAH “TERTAWAI” BANJARMASIN, KOTA TERKOTOR INDONESIA

 Oleh Hasan Zainuddin
 Banjarmasin,15/6 (ANTARA)- Sebagai seorang warga Banjarmasin tak ada yang pantas diucapkan, kecuali malu, setelah mendengar pengumuman pemerintah melalui Wakil Presiden Yusuf Kalla tentang penghargaan Adipura do hotel Shangrela Jakarta (12/6) lalu.
 Bagaimana tidak merasa malu kalau dikatakan kota Banjarmasin yang dijuluki kota “bungas” (cantik) itu dinobatkan sebagai kota terkotor di Indonesia setelah Tangerang.
 ”Gelar kota terkotor itu harus kita tertawai,” kata Yusuf Kalla didampingi Menteri Lingkungan Hidup Rachmat Witoelar dihadapan undangan pada acara malam penganugerahan Adipura.
 Menurut Wakil Presiden, dengan diketawai diharapkan kota terkotor mampu intropeksi diri lalu berbenah secara intensif agar terlepas dari predikat kota yang kotor demikian.
 Kalau terus kotor, maka warga kota merasa tidak nyaman, makanpun tidak enak, kata Yusuf Kalla sambil tersenyum.
 Menteri Lingkungan Hidup, Rachmat Witoelar menyatakan sengaja diciptakan penganugerahan Adipura terbersih dan Adipura terkotor, maksudnya hanya untuk memotivasi kota di Indonesia untuk selalu menjaga kebersihan.
 Gubenur Kalsel, Drs.Rudy Ariffin ketika dilapori Kepala Badan Pengendalian Dampak Lingkungan Daerah (Bapedalda), Drs.Rachmadi Kurdi saat acara coffie morning soal kota terkotor yang disandang ibukota Kalsel itu, hanya bisa tertegun dan berharap Pemko Banjarmasin bisa membenahinya dikemudian hari.
 Sementara Walikota Banjarmasin, Yudhi Wahyuni yang mengaku mendengarkan langsung pengumuman anugerah Adipura melalui televisi swasta menyatakan minta maaf sebesar-besarnya kepada seluruh masyarakat lantaran belum mampu menciptakan suasana yang bersih.
 Ia sendiri sudah memperoleh sinyal mengenai kotanya yang akan memperoleh predikat terkotor tersebut, setelah kedatangan tim penilai Adipura ke kota ini, termasuk kritikan Wakil Presiden Yusuf Kalla sendiri saat beliau selaku Ketua Umum Golkar ke Banjarmasin.
 ”Saya manusia biasa yang mudah membalik telapak tangan, atau seorang pelukis yang secepatnya merubah lukisan kotor ke sebuah lukisan yang bersih,” kata Yudhi Wahyuni.
 Pengakuan walikota yang dilantik 5 Agustus 2005 upaya menciptakan kota bersih sudah banyak dlakukan, seperti lomba kebersihan antar kampung, gerakan jumat bersih, gerakan kebersihan lainnya yang selalu diciptakan untuk menciptakan partisipasi masyarakat.
 Tetapi penilaian adipura demikian bukan semata kebersihan, namun juga faktor lain, seperti ketersediaan ruang terbuka hijau, keberadaan terminal, keteraturan pasar, rumah sakit, jalan protokol, tempat ibadah dan faktor lain.
 Kepala Dinas Kebersihan Kota Banjarmasin, Drs.Sayiddin Noor agaknya tidak terlalu mempermasalahan mengenai predikat kota terkotor tersebut, namun ia menganggap julukan baru itu sebagai pendorong semua pihak untuk memperhatikan kota Banjarmasin ini.
 ”Tanggungjawab kota ini kan seharusnya tak semata Pemko Banjarmasin, inikan ibukota Kalsel, hendaknya Pemprop Kalsel juga betanggungjawab, selain pihak swasta dan masyarakat,” tutur mantan Kepala Dinas Pariwisata Seni dan Budaya tersebut.
 Untk menciptakan kota Banjarmasin yang bersih hendaknya harus ada kerja “kroyokan” (bersama-sama) baik Pemko, Pemprop, perusahaan swasta dan masyarakat.
 Terutama menyangkut ketersediaan dana dan fasilitas yang tersedia, karena dana yang ideal untuk pengelolaan Banjarmasin Rp10 miliar per tahun, tetapi yang tersedia Rp8 miliar. Balikpapan sebagai relatif kecil saja Rp12 miliar per tahun.
 Dana Rp8 miliar itupun baru tahun ini, sebelumnya dana kebersihan hanya sekitar Rp2 miliar saja per tahun.
 Armada truk angkut sampah baru 29 unit, kalau melihat volume sampah yang hampir 500 meterkubik per hari idealnya minimal 50 unit truk ankut, apalagi truk yang diperasikan sekarang 50 persennya sudah tak layak operasi lagi.
 Begitu juga petugas kebersihan yang ada 400 orang, idiealnya juga minimal 500 petugas, jumlah tempat Pembuangan Sampah Sementara (TPS) baru 110 TPS idealnya juga 200 TPS.
 Sedangkan Tempat Pembuangan Akhir (TPA) sampah yang ada di Basisih kondisinya belum memadai, jalan menuju lokasi pembuangan saja tidak tersedia baik.
 Tetapi permasalahan yang dihadapi masalah kebersihan itu bukan semata keterbatasan, namun kekurang pedulian warga menjadi kunci utama masalah kebersihan, dimana warga senenaknya membuang sampah hingga pemukiman, perkotaan, dan jalanan dipenuhi sampah.
 Sedangkan pembuangan sampah ke TPS yang dilakukan masyarakat juga tak disiplin artinya tidak malam hari sebelum pengangkutan tetapi justru siang hari setelah danya pembersihan samah akibatnya sampah kembali berserakan.
 Apalagi sebagian besar TPS di kota Banjarmasin brada di pinggir jalan utama yang tak ditemui di kota lain, akhirnya berserakan sampah itu mudah terlihat, menimbulkan aroma kurang sedap serta becek.
 Menurut beberapa warga Masyarakat kota ini predikat jelek kota ini tak bisa dilemparkan penyebabnya masyarakat saja, tetapi peran Pemko yang paling dominan untuk merubah wajah kota ini.
  Kenyataan yang tak bisa dipungkiri seakan merusak kota ini justru Pemko Banjarmasin sendiri, dimana seharusnya suatu wilayah sebagai lokasi jalur hijau dan bantaran sungai justru diberi ijin oleh Pemko masyarakat untuk mendirikan bangunan.
 Begitu juga di lokasi pertokoan yang seharusnya tersedia untuk pejalan kaki justru muncul kios-kios kecil yang memiliki ijin, sedangkan pedagang kaki lima (PKL) banyak yang ditarik retribusinya seakan melegalkan kegiatan PKL akhirnya PKL menjamur, salah satu lokasi PKL yang terkesan dilegalkan malah berada di jalur Utama Jalan Belitung hingga menimbulkankemacetan yang luar biasa.
 Sebagai kota besar yang bependuduk melebihi 600 ribu jiwa seharusnya Banjarmasin memiliki sebuah terminal refresentatif, tetapi kenyataan pembangunan terminal pengganti terminal induk kilometer enam belum juga terwujud .
 Begitu  juga kerinduan warga kota seluas 72 kilometer persegi ini untuk memiliki sebuah alun-alun (ruang terbuka hijau) itu hanya sekedar mimpi, sebab tak pernah direalisasikan Pemko.
 Kesemrawutan bertambah setelah hampir  seluruh jalan utama dijejali parkir, karena tak satupun kota ini memiliki lahan parkir, apalagi gedung parkir, Bahkan satu jalan utama, Jalan Sudimampir yang seharusnya untuk lalu-lintas diubah menjadi lokasi parkir, eronis memang.

BANJARMASIN PROTES DIKATAKAN SEBAGAI KOTA TERKOTOR INDONESIA
Oleh Hasan Zainuddin
 
     Banjarmasin,19/11 (ANTARA)- Kota Banjarmasin  ibukota Propinsi Kalimantan Selatan (Kalsel) yang pernah menduduki kota terkotor kedua setengah Kota Tangerang dari 13 kota katagori kota besar di Indonesia, kini kembali terancam ke posisi tersebut.
     Melihat posisi yang tidak menguntungkan terhadap penilaian adipura itu maka Pemerintah Kota (pemko) akan melakukan protes ke tim penilaian adipura itu, kata Walikota Banjarmasin, Haji Yudhi Wahyuni kepada wartawan di Banjarmasin, Senin.
     “Kita akan berjuang ke tim penilaian yang ada di pusat, agar penilaian terhadap Kota Banjarmasin harus lebih toleransi dan berbeda, karena bila sistem penilaianya sama dengan kota lain, maka Banjarmasin akan tetap terkotor,” kata Yudhi Wahyuni.
     Masalahnya, kata walikota yang dikenal sebagai politisi senior dari Partai Amanat Nasional (PAN) Kalsel itu, kondisi geografis Kota Banjarmasin berbeda dengan kota yang lain.
     Dengan posisi yang berbeda yaitu datarannya berada di bawah permukaan laut, maka disaat air pasang maka sebagian besar wilayah kota Banjarmasin terendam.
     Bila kota sudah terendam walau dibersihkan bagaimanapun kota akan tetap kembali kotor, lantaran berbagai sampah sungai masuk ke darat, dan tertinggal di darat bila air surut akhirnya kota ini selalu kotor.
     Belum lagi kondisi jalan yang cepat rusak lantaran lahan Banjarmasin yang berawa-rawa hingga lembek dan labil, maka bila dibenahi dengan pengaspalan mulus sebentar saja berlubang-lubang dan degradasi.
     Melihat posisi demikian maka seharusnya ada perbedaan  penilaian terhadap kota lain yang berada di dataran tinggi atau pegunungan, tambah Yudhi Wahyuni.
     Sebelumnya diungkapkan Kepala Badan Pengendalian Dampak Lingkungan Daerah (Bapedalda) Kalsel, Drs.Rahmadi Kurdi bahwa berdasarkan hasil pemantauan sementara tim penilaian adipura posisi Banjarmasin sudah berada pada urutan ke-11 dari 13 kota besar yang dinilai tim adipura tersebut.
     Hasil sementara atau penilaian adipura I nilai point yang diperoleh Kota Banjarmasin rata-rata hanya 61,50 point dari 73 point yang harus diperoleh agar bisa  meraih adipura.
     “Waktu tinggal empat bulan saja lagi,  penilaian adipura II akan digelar, kalau Banjarmasin tak berhasil merubah kondidi kota kearah yang lebih bersih sesuai kreteria peraih adipura, maka kota ini bakal menjadi kota terkotor lagi,” kata Rahmadi Kurdi.
     Oleh karena itu, ia berharap Pemerintah Kota (Pemko) Banjarmasin bersama jajarannya serta masyarakat luas harus menciptakan kota ini lebih bersih dari keadaan sekarang, karena kalau dibiarkan seperti sekarang jelas kota ini akan memperoleh predekat yang memalukan tersebut.
     Penilaian terhadap kota Banjarmasin dengan point 61,50 tersebut berasal dari hasil penilaian tim adipura dari Kementerian Lingkungan Hidup (KLH) Pusat, tim adipura regional Kalimantan, serta tim penilaian dari tim adipura Kalsel sendiri.
     Point 61,50 tersebut berdasarkan hasil rata-rata dari beberapa objek yang menjadi penilaian, seperti objek penilaian bidang perumahan Banjarmasin memperoleh 69,64 point, jalan 62,11, pasar 57,30, pertokoan 56,31, perkantoran 68,52, sekolah 67,18, rumah sakit 68,89, hutan kota 58,63, taman kota 70,96, terminal 51,45, pelabuhan 65,49, perairan terbuka 60,87, tempat pembuangan akhir sampai (TPA) 49,75, serta pemanfaatan sampah senilai 68,83 point.
     Dari 13 kota besar di tanah air yang memperoleh penilaian adipura tahap I tersebut, Pekan Baru menduduki urutan teratas dengan nilai 73,09 point, Batam 69,52, Malang 67,52, Padang 67,31, Yogyakarta 67,15, Denpasar 66,97, Balikpapan 64,58, Bandar Lampung 63,65, Surakarta 63,15, Bogor 63,07, Banjarmasin 61,50, Samarinda 60,84, serta Tangerang 57,41 point.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 41 pengikut lainnya.