Kehidupan Islam Kalsel

PENOMENA NISFU SYA’ BAN

Suasana khusuk ibadah nisfu sya’ban 1429 hijiriah atau tahun 2008 masehi di Banjarmasin

PENOMENA RAMADHAN

Masjid Jami Sungai Jingah Banjarmasin merupakan masjid tertua di Banjarmasin setelah masjid Sultan Suriansyah di Kuin.

Masjid Sultan Suriansyah, masjid tertua di Banjarmasin .(astudio)

masjid Raya Sabilah Muhtadin pusat kegiatan Islam di Kalsel

Pengajian seperti ini seringkali menghiasi di dalam masyarakat Kalsel yang taat beragama Islam

Tiga ulama di Banjarmasin  yang berjasa dalam perkembangan Islam Kalsel.

1. pakai jas hitam,  Guru Juhdi ulama muda kharismatik yang melakukan pengajian di masjid Jami Banjarmasin.

2. KH Husien Nafarin (tengah)

3. KH Fahmi Arief, ulama muda yang kini Kakanwil Depag Kalsel (pakai baju putih)

Deretan santri, Darussalam Martapura

Kesemarakan Umat Islam selalu terlihat di masjid Raya Sabilah Muhtadin yang merupakan masjid terbesar di Kalsel, menandakan bawha wilayah ini termasuk agamis.

KH Zainie Ganie (guru sekumpul) ulama besar setelah KH Muhamad Arsyah Al Banjari, yang memiliki jutaan jemaah pengajian  sekumpul Martapura, Kabupaten Banjar.

Mahligai Al Qur’an salah satu lokasi pengembangan Islam Kalsel

Ini bukan di tanah suci, melainkan di lokasi miniatur Ka bah,  untuk lebih memperkenalkan tanah suci ke dalam masyarakat Kalsel, biasanya lokasi ini digunakan saat manasik haji ribuan umat Islam Kalsel.

Guru Muhammad Bakhiet, seorang ulama muda yang mengajarkan ilmu agama di Kota Barabai Kabupaten Hulu Sungai Tengah dan Paringin Kabupaten Balangan, ulama ini cukup kharismatik di kawasan hulu sungai atau kawasan Banua Enam (enam kabupaten Utara Kalsel).

PERKEMBANGAN ISLAM DI KALIMANTAN

Berdasarkan prasasti-prasasti yang ada disekitar abad V M di Kalimantan Timur telah ada kerajaan hindu yakni kerajaan Kutai. Sedangkan kerajaan-kerajaan Hindu yang lain adalah kerajaan Sukadana di Kalimantan Barat, kerajaan Banjar di Kalimantan Selatan.

Pada abad XVI Islam memasuki daerah kerajaan Sukadana. Bahkan pada tahun 1590 kerajaan Sukadana resmi menjadi kerajaan Islam, yang menjadi sultan pertamanya adalah sultan Giri Kusuma. Setelah itu digantikan oleh putranya Sultan Muhammad Syafiuddin. Beliau banyak berjasa dalam pengembangan agama Islam karena bantuan seorang muballigh bernama Syekh Syamsudin.

Di kalimantan Selatan pada abad XVI M masih ada beberapa kerajaan Hindu antara lain Kerajaan Banjar, Kerajaan Negaradipa, Kerajaan Kahuripan dan Kerajaan Daha. Kerajaan-kerajaan  ini berhubungan  erat dengan Majapahit.

Ketika Kerajaan demak berdiri, para pemuka agama di Demak segera mnyebarkan agama Islam ke Kalimantan Selatan. Raja Banjar Raden Samudra masuk Islam dan ganti nama dengan Suryanullah. Sultan Suryanullah dengan bantuan Demak dapat mengalahkan Kerajaan Negaradipa. Setelah itu agama Islam semakin berkembang di Kalimantan.

di Banjarmasin terdapat pusat kegiatan dan perpustakaan Islam

Diatas telah diutarakan, bahwa Kutai adalah kerajaan tertua di Indonesia dan sebagai kerajaan Hindu. Dengan pesatnya perkembangan Islam di Gowa, Tallo dan terutama Sombaopu, maka Islam mulai merembas ke daerah Kutai. Mengingat Kutai terletak di tepi Sungai Mahakam maka para pedagang yang lalu lalang lewat selat Makasar juga singgah di Kutai. Sebagai muballigh mereka tidak menyianyiakan waktu untuk berdakwah. Islam akhirnya dapat memasuki Kutai dan tersebar di Kalimantan Timur mulai abad XVI.(sumb:khotib)

Ziarah ke makam Syech Muhamad Arsyad Al Banjari, ciri kehidupan Islam Kalsel

Ustazd Arifin Ilham bersama Gubernur Kalsel, Rudy Arifin di tengah umat Islam Kalsel

Salah seorang ulama bersama Gub Kalsel

Seorang ulama Kalsel yang menjadi tokoh nasional, KH Ideham Khalid

SYAIKH MUHAMMAD ARSYAD AL-BANJARI
Nama Syaikh Muhammad Arsyad menempati hati masyarakat Kalimantan dan Indoensia sebagai ulama besar dan pengembang ilmu pengetahuan dan agama.   Belum ada tokoh yang mengalahkan kepopuleran nama Syaih Arsyad Al-Banjari. Karya-karyanya hinga kini tetap dibaca orang di masjid dan disebut-sebut sebagai rujukan. Nama kitabnya Sabilal Muhtadin diabadikan untuk nama Masjid Agung Banjarmasin. Nama kitabnya yan lain Tuhfatur Raghibin juga diabadikan untuk sebuah masjid yang tak jauh dari makan Syaikh Arsyad. Tak hanya itu, hampir seluruh ulama di Banjarmasin masih memiliki tautan dengannya. Baik sebagai  keturunan atau muridnya. Sebut saja nama almarhum K.H. Zaini, yang dikenal dengan nama Guru Ijay itu, adalah keturunan Syaikh Arsyad. Hampir semua ulama di Kalimantan, Sumatera, Jawa, dan Malaysia, pernah menimba ilmu dari syaikh atau dari murid-murid syaikh.


Ulama yang memiliki nama lengkap Syeikh Muhammad Arsyad bin Abdullah bin Abdur Rahman Al-Banjari itu ternyata memang bukan orang biasa. Ia adalah cicit Sayid Abu Bakar bin Sayid Abdullah Al-’Aidrus bin Sayid Abu Bakar As-Sakran bin Saiyid Abdur Rahman As-Saqaf bin Sayid Muhammad Maula Dawilah Al-’Aidrus. Silisahnya kemudian sampai pada Sayidina Ali bin Abi Thalib dan Sayyidatina Fatimah binti Rasulullah. Dengan demikian Syaikh Arsyad masih memiliki darah keturunan Rasulullah.
Abdullah tercatat sebagai pemimpin peperangan melawan Portugis, kemudian ikut melawan Belanda lalu melarikan diri bersama isterinya ke Lok Gabang (Martapura). Dalam riwayat lain menyebut bahwa apakah Sayid Abu Bakar As-Sakran atau Sayid Abu Bakar bin Sayid `Abdullah Al-’Aidrus yang dikatakan berasal dari Palembang itu kemudian pindah ke Johor, dan lalu pindah ke Brunei Darussalam, Sabah, dan Kepulauan Sulu, yang kemudian memiliki keturunan kalangan sultan di daerah itu. Yang jelas, para sultan itu masih memiliki tali temali hubungan dengan Syaikh Arsyad yang berinduk ke Hadramaut, Yaman. Bapaknya Abdullah merupakan seorang pemuda yang dikasihi sultan (Sultan Hamidullah atau Tahmidullah bin Sultan Tahlilullah 1700-1734 M).
Bapaknya bukan asal orang Banjar,tetapi datang dari India mengembara untuk  menyebarkan Dakwah,Belia seorang ahli seni ukiran kayu. Semasa ibunya hamil,kedua Ibu Bapaknya sering berdo’a agar dapat melahirkan anak yang alim dan zuhud. Setelah lahir,Ibu Bapaknya mendidik dengan penuh kasih sayang setelah mendapat anak sulung yg dinanti-nantikan ini. Beliau dididik dengan dendangan Asmaul-Husna,disamping berdo’a kepada Allah.Setelah itu diberikan pendidikan al-qur’an kepadanya. Kemudian barulah menyusul kelahiran adik-adiknya yaitu ;  ’Abidin, Zainal abidin, Nurmein, Nurul Amein.
Muhammad Arsyad lahir di Banjarmasin pada hari Kamis dinihari, pukul 03.00 (waktu sahur), 15 Safar 1122 H atau 17 Maret 1710 M.
Semasa Kecil
Sejak kecil, Syaikh Muhammad Arsyad Al-Banjari Cergas dan Cerdas serta mempunyai akhlak yang baik dan terpuji. Kehebatan beliau sejak kecil ialah dalam bidang seni Lukis dan seni tulis, sehingga siapa saja yang melihat karyanya akan merasa kagum dan terpukau.
Pada suatu hari, sultan mengadakan kunjungan kekampung-kampung, Pada saat baginda sampai kekampung lok Gabang, Baginda berkesempatan melihat hasil karya lukisan Muhammad Arsyad yang indah lagi memukau hati itu. justeru Sultan berhajat untuk memelihara dan mendidik Muhammad Arsyad yang tatkala itu baru berusia 7 tahun.
Syeikh Muhammad Arsyad al-Banjari mendapat pendidikan penuh di Istana sehingga usia mencapai 30 tahun. Kemudian beliau dikawinkan dengan seorang perempuan yang soleha bernam Tuan Bajut, Hasil perkawinan beliau memperoleh seorang putri yang diberinam Syarifah.
Beliau telah meneruskan pengembaraan ilmunya ke Mekah selama 30 tahun dan Madinah selama 5 tahun. Segala perbelanjaanya ditanggung oleh sultan.
Sahabatnya yang paling penting yang banyak disebut adalah Syeikh `Abdus Shamad Al-Falimbani, Syeikh Abdur Rahman Al-Mashri Al-Batawi dan Syeikh Abdul Wahhab Bugis (yang kemudian menjadi menantu Syaikh). Guru yang banyak disebut adalah Syeikh Muhammad bin Sulaiman Al-Kurdi, Syeikh `Athaullah dan Syeikh Muhammad bin Abdul Karim As-Sammani Al-Madani. Selama belajar di Mekah Syeikh Arsyad tinggal di sebuah rumah di Samiyah yang dibeli oleh Sultan Banjar. Syeikh Arsyad juga belajar kepada guru-guru Melayu di Arab Saudi, seperti Syeikh Abdur Rahman bin Abdul Mubin Pauh Bok Al-Fathani (Thailand Selatan), Syeikh Muhammad Zain bin Faqih Jalaluddin Aceh dan Syeikh Muhammad `Aqib bin Hasanuddin Al-Falimbani.

Makam M Arsyad Al Banjari (foto FB Muhtar Arifin)

Hampir semua ilmu keislaman yang telah dipelajari di Mekah dan Madinah mempunyai sanad atau silsilah hingga ke pengarangnya. Hal ini cukup jelas seperti yang ditulis oleh Syeikh Yasin bin Isa Al-Fadani (Padang, Sumatera Barat) dalam beberapa buah karya beliau. Selain bukti berupa karya-karyanya, juga dapat diambil jasa-jasanya membuka mata rakyat Banjar atau dunia Melayu.
Rekan-rekan Arsyad selama di Mekah kemudian juga menjadi ulama terkenal. Syeikh `Abdus Shamad Al-Falimbani pengarang Sayrus Salaikin, Syeikh `Abdur Rahman Al-Mashri Al-Batawi (akkek Sayid `Utsman bin Yahya, Mufti Betawi yang terkenal), Syeikh Muhammad Nafis bin Idris Al-Banjari, pengarang kitab Ad-Durrun Nafis, Syeikh Muhammad Shalih bin `Umar As-Samarani (Semarang) yang digelar dengan Imam Ghazali Shaghir (Imam Ghazali Kecil), Syeikh `Abdur Rahman bin `Abdullah bin Ahmad At-Tarmasi (Termas, Jawa Timur), Syeikh Haji Zainuddin bin `Abdur Rahim Al-Fathani (Thailand Selatan), dan banyak lagi.Penulisan
Tradisi kebanyakan ulama, ketika mereka belajar dan mengajar di Mekah, sekali gus menulis kitab di Mekah juga. Lain halnya dengan Syeikh Muhammad Arsyad bin `Abdullah al-Banjari, walaupun dipercayai bahawa beliau juga pernah mengajar di Mekah, namun karya yang dihasilkannya ditulis di Banjar sendiri. Lagi pula nampaknya beliau lebih mencurahkan khidmat derma baktinya di tempat kelahirannya sendiri yang seolah-olah tanggungjawab rakyat Banjar terbeban di bahunya. Ketika mulai pulang ke Banjar, sememangnya beliau sangat sibuk mengajar dan menyusun segala macam bidang yang bersangkut-paut dengan dakwah, pendidikan dan pentadbiran Islam. Walaupun begitu beliau masih sempat menghasilkan beberapa buah karangan.   batu bertuliskan Alllah
Karya-karya Syeikh Arsyad banyak ditulis dalam bahasa Arab-Melayu atau Jawi yang memang diperuntukkan untuk bangsanya. Meskipuin ia memiliki kemampuan menulis berbagai kitab dalam bahasa Arab, tapi, ia lebih suka menuliskannya dalam bahasa Jawi. Ia mengajarkan kitab-kitab semacam Ihya Ulumiddin karya Imam Ghazali kepada para muridnya.
Karangannya yang sempat dicatat adalah seperti berikut di bawah ini:
1. Tuhfah ar-Raghibin fi Bayani Haqiqah Iman al-Mu’minin wa ma Yufsiduhu Riddah ar-Murtaddin, diselesaikan tahun 1188 H/1774 M
2. Luqtah al-’Ajlan fi al-Haidhi wa al-Istihadhah wa an-Nifas an-Nis-yan, diselesaikan tahun 1192 H/1778 M.
3. Sabil al-Muhtadin li at-Tafaqquhi fi Amri ad-Din, diseselesaikan pada hari Ahad, 27 Rabiulakhir 1195 H/1780 M
4. Risalah Qaul al-Mukhtashar, diselesaikan pada hari Khamis 22 Rabiulawal 1196 H/1781 M.
5. Kitab Bab an-Nikah.
6. Bidayah al-Mubtadi wa `Umdah al-Auladi
7. Kanzu al-Ma’rifah
8. Ushul ad-Din
9. Kitab al-Faraid
10. Hasyiyah Fat-h al-Wahhab
11. Mushhaf al-Quran al-Karim
12. Fat-h ar-Rahman
13. Arkanu Ta’lim as-Shibyan
14. Bulugh al-Maram
15. Fi Bayani Qadha’ wa al-Qadar wa al-Waba’
16. Tuhfah al-Ahbab
17. Khuthbah Muthlaqah Pakai Makna. Kitab ini dikumpulkan semula oleh keturunannya, Abdur Rahman Shiddiq al-Banjari. Dicetak oleh Mathba’ah Al-Ahmadiah, Singapura, tanpa dinyatakan tarikh cetak.
Ada pun karyanya yang pertama, iaitu Tuhfah ar-Raghibin, kitab ini sudah jelas atau pasti karya Syeikh Muhammad Arsyad bin `Abdullah al-Banjari bukan karya Syeikh `Abdus Shamad al-Falimbani seperti yang disebut oleh Dr. M. Chatib Quzwain dalam bukunya, Mengenal Allah Suatu Studi Mengenai Ajaran Tasawuf Syeikh Abdus Samad AI-Falimbani, yang berasal daripada pendapat P. Voorhoeve. Pendapat yang keliru itu telah saya bantah dalam buku Syeikh Muhammad Arsyad (l990). Dasar saya adalah bukti-bukti sebagai yang berikut:
1. Tulisan Syeikh Daud bin Abdullah al-Fathani, “Maka disebut oleh yang empunya karangan Tuhfatur Raghibin fi Bayani Haqiqati Imanil Mu’minin bagi `Alim al-Fadhil al-’Allamah Syeikh Muhammad Arsyad.”
2. Tulisan Syeikh `Abdur Rahman Shiddiq al-Banjari dalam Syajaratul Arsyadiyah, “Maka mengarang Maulana (maksudnya Syeikh Muhammad Arsyad al-Banjari, pen:) itu beberapa kitab dengan bahasa Melayu dengan isyarat sultan yang tersebut, seperti Tuhfatur Raghibin …” Pada halaman lain, “Maka Sultan Tahmidullah Tsani ini, ialah yang disebut oleh orang Penembahan Batu. Dan ialah yang minta karangkan Sabilul Muhtadin lil Mutafaqqihi fi Amrid Din dan Tuhfatur Raghibin fi Bayani Haqiqati Imani Mu’minin wa Riddatil Murtaddin dan lainnya kepada jaddi (Maksudnya: datukku, pen  al-’Alim al-’Allamah al-’Arif Billah asy-Syeikh Muhammad Arsyad bin `Abdullah al-Banjari.”
3. Pada cetakan Istanbul, yang kemudian dicetak kembali oleh Mathba’ah Al-Ahmadiah, Singapura tahun 1347 H, iaitu cetakan kedua dinyatakan, “Tuhfatur Raghibin … ta’lif al-’Alim al-’Allamah asy-Syeikh Muhammad Arsyad al-Banjari.” Di bawahnya tertulis, “Telah ditashhihkan risalah oleh seorang daripada zuriat muallifnya, iaitu `Abdur Rahman Shiddiq bin Muhammad `Afif mengikut bagi khat muallifnya sendiri …”. Di bawahnya lagi tertulis, “Ini kitab sudah cap dari negeri Istanbul fi Mathba’ah al-Haji Muharram Afandi”.
4. Terakhir sekali Mahmud bin Syeikh `Abdur Rahman Shiddiq al-Banjari mencetak kitab Tuhfah ar-Raghibin itu disebutnya cetakan yang ketiga, nama Syeikh Muhammad Arsyad bin `Abdullah al-Banjari tetap dikekalkan sebagai pengarangnya.
Daripada bukti-bukti di atas, terutama yang bersumber daripada Syeikh Daud bin `Abdullah al-Fathani dan Syeikh `Abdur Rahman Shiddiq adalah cukup kuat untuk dipegang kerana kedua-duanya ada hubungan dekat dengan Syeikh Muhammad Arsyad bin `Abdullah al-Banjari itu. Syeikh Daud bin `Abdullah al-Fathani adalah sahabat Syeikh Muhammad Arsyad bin `Abdullah al-Banjari sedangkan Syeikh `Abdur Rahman Shiddiq pula adalah keturunan Syeikh Muhammad Arsyad bin `Abdullah al-Banjari. Mengenai karya-karya Syeikh Muhammad Arsyad bin `Abdullah al-Banjari yang tersebut dalam senarai, insya-Allah akan dibicarakan pada kesempatan yang lain.
Masih banyak lagi tulisan dan catatan syaikh yang disimpan kalangan muridnya yang kemudian diterbitkan di Istambul (Turki), Mesir, Arab Saudi, Mumbai (Bombai), Singapura, dan kemudian Jakarta Surabaya, dan Cirebon. Di samping itu beliau menulis satu naskah al Quranul Karim tulisan tentang beliau sedikit, yang sampai sekarang masih terpelihara dengan baik.
Keturunan
Zurriyaat (anak dan cucu) beliau banyak sekali yang menjadi ulama besar, pemimpin-pemimpin, yang semuanya teguh menganut Madzhab Syafi’i sebagai yang di wariskan oleh Syeikh Muhammad Arsyad Banjar.
Diantara zurriyat beliau yang kemudian menjadi ulama besar turun temurun adalah :
l . H. Jamaluddin, Mufti, anak kandung, penulis kitab “perukunan Jamaluddin”.
2. H. Yusein, anak kandung, penulis kitab “Hidayatul Mutafakkiriin”.
3. H. Fathimah binti Arsyad, anak kandung, penulis kitab “Perukunan Besar”, tetapi namanya tidak ditulis dalam kitab itu.
4. H. Abu Sa’ud, Qadhi.
5. H. Abu Naim, Qadhi.
6. H. Ahmad, Mufti.
7. H. Syahabuddin, Mufti.
8. H.M. Thaib, Qadhi.
9. H. As’ad, Mufti.
10. H. Jamaluddin II., Mufti.
11. H. Abdurrahman Sidiq, Mufti Kerajaan Indragiri Sapat (Riau), pengarang kitab “Risalah amal Ma’rifat”, “Asranus Salah”, “Syair Qiyamat”, “Sejarah Arsyadiyah” dan lain lain.
12. H.M. Thaib bin Mas’ud bin H. Abu Saud, ulama Kedah, Malaysia, pengarang kitab “Miftahul jannah”.
13. H. Thohah Qadhi-Qudhat, penbina Madrasah “Sulamul ‘ulum’, Dalam Pagar Martapura.
14. H.M. Ali Junaedi, Qadhi.
15. Gunr H. Zainal Ilmi.
16. H. Ahmad Zainal Aqli, Imam Tentara.
17. H.M. Nawawi, Mufti.
18. Dan lain-lain banyak lagi.
Semuanya yang tersebut di atas adalah zurriyat-zurrivat Syeikh Arsyad yang menjadi ulama dan sudah berpulang ke rahmatullah.
Sebagai kami katakan di atas, Syeikh Mubammad Arsyad bin Al Banjari dan sesudah beliau, zurriyat-zariyat beliau adalah penegak-penegak Madzhab Syafi’i dan faham Ahlussunna,h wal Jama’ah, khususnya di Kalimantan.
Syaikh Arsyad wafat pada 6 Syawal 1227 H atau 3 Oktober 1812 M. Beliau meninggal dunia pada usia 105 tahun dengan meninggalkan sumbangan yang besar terhadap masyarakat islam di Nusantara.
Makamnya dianggap keramat dan hingga kini masih diziarahi orang. Haulnya pada Syawwal lalu dihadiri Menteri Agama RI H. Muhamamd Maftuch Basyuni bersama ribuan masyarakat, termasuk dari Malaysia, Sumatera, dan Jawa.
Mudah-mudahan Allah menurunkan rahmat kepada keluarga mereka dan kita semuanya, amin-amin.
(Tulisan ini diambil dari salah satu situs yang ada di internet)

Syekh Abdurahman Siddik, yang dikenal dengan nama guru Sapat, memiliki banyak murid di Kalsel, makanya ulama besar ini banyak mempengharuhi perkembangan Islam di Kalsel.

kubah guru sapat

Makam Guru Sapat

Syekh Abdurrahman Siddiq bin Muhammad ‘Afif yang mengabdikan diri di Kerajaan Indragiri. Semasa mudanya, Abdurrahman banyak menulis buku-buku agama, sejarah dan sastra. Ia dikenal dimana-mana bahkan sampai di Mekkah karena ia juga menjadi guru agama. Muridnya tersebar sampai ke Singapura, Malaysia dan Kalimantan.

Syekh Abdurrahman Siddiq bin Muhammad ‘Afif dikenal sebagai Pujangga dan Sastrawan yang semasa hidupnya mengarang sejumlah buku sasta dan agama. Tuan guru Syekh Abdurrahman, demikian pangilan hormat beliau telah menulis karyanya berupa kumpulan puisi berjudul ” Syair Ibarat Kabar Kiamat ” yang diterbitkan oleh Ahmadiyah Press Singapura Tahun 1915.

Disamping sejumlah buku-buku sastra, Tuan Guru juga menulis buku-buku agama. Dan menurut sebuah tulisan pujangga muda Riau kelahiran Inhil, Mosthamir Thalib, “untuk Indragiri belum ada yang mencapai secemerlang namanya (Tuan Guru),” tulis Musthamir dalam harian Riau Pos 23 September 2002. Beberapa syair sangat kritis dalam nuansa religius.

Syekh Abdurrahman wafat di Parit Hidayat, Sapat, Kecamatan Kuala Indragiri, Pada Tanggal 10 Maret 1930. Peninggalan Syekh Abdurrahman yang terkenal adalah Masjid yang dibangunnya sendiri pada tahun 1927. Masjid ini berarsitektur khas pada atap dan berada 200 meter dari makamnya.

BIOGRAFI Syekh Abdurrahman Siddiq

Nama  : Syekh Abdurrahman Siddiq bin Muhammad ‘Afif bin Mahmud bin Jamaluddin Al-Banzari
Lahir : Kampung Dalam Pagar, Martapura Kalimantan Selatan, 1857 M/1284 H.
Wafat : Sapat, Tembilahan Riau, Tahun 1939 M/1366 H.
Pendidikan : – Dalam Pagar Martapura – Mekkah Al-Mukarramah 1889 s/d 1897 M

abatan :

Diangkat oleh Sultan Mahmud Shah (Raja Muda) sebagai Mufti Kerajaan Indragiri 1919-1939 berkedudukan di Rengat. (sumber situs Inhil)

Mahasiswa Malaysia Kagumi Karya Datu KelampayanContributed by AdministratorMonday, 19 February 2007Sebanyak 12 orang tim kajian ke Islaman dari Universitas Kebangsaan Malaysia (UKM) melakukan kunjungan ke kotaMartapura, Rabu (14/2) kemarin. Tujuannya untuk melakukan kajian tentang ke islaman dan melihat secara langsungkarya-karya ulama besar Syekh Muhammad Arsyad Al Banjari atau yang dikenal Datu Kelampayan, yang mereka kenallewat kitab berjudul Sabilal Muhtadin. “Kami tertarik datang ke sini karena ingin menggali informasi secara langsung, tentang berbagai karya tulis SyekhMuhammad Arsyad Al Banjari. Ia terkenal di negara kami—Malaysia, Red- karena karangannya kitab SabilalMuhtadin,” ujar Ketua Rombongan Dr HM Nasran di hadapan pejabat yang menyambut rombongannya. Selain itu, lanjut Nasran, kunjungan yang mereka lakukan juga bertujuan untuk melihat, serta menggali informasi secaralangsung tentang berbagai karya tulis dan karangan sang ulama besar, yang menjadi pokok kajian dari tim UKM sepertiKitab Sabilal Muhtadin, kitab Tukfatur Roqhibin serta beberapa kitab fiqih. “Kedatangan kami juga sekaligus ingin bersilaturahmi dengan masyarakat di sini, kata orang tak kenal maka taksayang,” katanya dengan logat Malaysia yang kental. Bupati Banjar, HG Khairul Saleh saat menyambut kedatangan rombongan menjelaskan tentang perkembangan Islam diKabupaten Banjar. “Saya selaku kepala daerah sangat berterima kasih, ternyata ulama kami dikenal khalayakluas,” ujarnya. Diceritakan Khairul, perkembangan agama Islam di Kabupaten Banjar tidak terlepas dari peran serta pihak kesultanandari kerajaan Banjar. Salah satunya adalah Sultan Suriansyah yang membawa ajaran Islam sekitar tahun 1570 Masehi,ketika itu pusat pemerintahannya berada di wilayah Kuin Banjarmasin, serta Sultan Adam Al Wasyiku Billah untukwilayah Kota Martapura. “Pada saat itu ajaran Islam dibawa kesultanan Banjar, para sultan lah yang sangat berperan hingga Islammenyebar ke seluruh penjuru Kalsel,” tegasnya. Dilanjutkan, perkembangan Islam setelah kesultanan juga tidak terlepas oleh peran serta ulama kharismatik yakni SyekhMuhammad Arsyad Al Banjari, yang saat itu telah memberikan pengetahuan melalui berbagai buku karangannya.Sejarah telah mencatat dan mengabadikan kiprah sang ulama, sebagai tokoh agama dan menjadi panutan masyarakat. “Beliau lah yang memberikan pengajaran tentang berbagai ilmu pengetahuan kepada penduduk Kalsel, terutamaKota Martapura,” pungkasnya. Setelah disambut Bupati Banjar HG Khairul Saleh beserta unsur Muspida Banjar, yang bertempat di Gedung mahligaiSultan Adam Martapura. Rombongan UGM dipimpin Wakil Bupati Banjar KH Hatim Salman lalu berangkat menujutempat pusat pengkajian dan pembelajaran kitab-kitab Syekh Muhammad Arsyad Al Banjari, seperti di Desa DalamPagar, serta mengunjungi makam sang ulama tersebut. (radar banjarmasin)

Sejarah IAIN Antasari

Berdirinya IAIN Antasari diawali oleh adanya kesadaran tentang penyempurnaan pendidikan Islam yang sudah merupakan kebutuhan masyarakat di Kalimantan Selatan dan harus diatasi bersama-sama. Yang mendorong hal tersebut antara lain adalah:

Sebelum masa kemerdekaan kesempatan untuk melanjutkan studi bagi lulusan madrasah tingkat aliyah atau sederajat ketingkat yabg lebih tinggi sangat terbatas sekali. Hanya mereka yang mampu dalam pembiayaan saja yang memiliki kesempatan, apalagi kalau harus melanjutkan pendidikan agama ke luar negeri seperti Mesir atau Saudi Arabia. Dengan didirikannya perguruan tinggi agama Islam di daerah ini, maka kesempatan untuk melanjutkan pendidikan ke tingkat yang lebih tinggi akan terbuka lebar bagi mereka yang berminat.

Adanya perubahan masyarakat yang begitu cepat  serta kemajuan ilmu pengetahuan yang menyebabkan munculnya masalah-masalah baru dalam kehiidupan kegamaan dan kemasyarakatan. Kelahiran sebuah perguruan tinggi agama yang dapat menghasilkan tenaga-tenaga terdidik yang diharapkan mampu memecahkan masalah tersebut tidak dapat ditunda lagi.

Langkah konkritnya adalah dengan diadakannya Kongres Umat Islam Kalimantan pada tanggal 15-19 Juli 1947 yang kemudian dilanjutkan dengan Kongres Serikat Muslimin Indonesia pada tanggal 17-20 Januari 1948 di Banjarmasin. Kemudian pada tanggal 28 Pebruari 1948 di Barabai terjadi kesepakatan antara ulama dan tokoh pendidik untuk membentuk sebuah badan yang dinamakan Badan Persiapan Sekolah Tinggi Islam Kalimantan berkedudukan di Barabai dan diketuai oleh H. Abdurrahman Ismail, MA.

Ulama yang hadir pada pertemuan tersebut antara lain: K.H. Hanafie Gobit dan H.M. Nor Marwan  dari Banjarmasin, H. Usman dan M. Arsyad dari Kandangan (Hulu Sungai Selatan), H. Mukhtar, H. M. As’ad, H. Abdurrahman Ismail, H. Mansyur dan H. Abdul Hamid dari Barabai (Hulu Sungai Tengah) serta H. Juhri Sulaiman, H. A. Hasan dan K.H. Idham Khalid dari Amuntai (Hulu Sungai Utara).

Dalam perkembangan selanjutnya, ternyata hasil kongk­rit pertemuan di Barabai tahun 1948 tersebut belum bisa diwujudkan.  Oleh karena itu atas prakarsa pemuka masyarakat Amuntai yang dipelopori H. Ahmad Hasan telah diputuskan untuk membentuk wadah kerjasama baru dengan nama “Persiapan Perguruan Tinggi Agama Islam Rasyidiyah” (PPTAIR).  Ternyata usaha inipun menemui jalan buntu.  Usaha berikutnya PPTAIR baru yang dipelo­pori H.A.Wahab Sya’rani pada tahun 1956 di Amuntai mengalami nasib yang sama, bahkan terpaksa dibubarkan. Kandasnya usaha terakhir ini sungguh mengkhawatirkan masyarakat tentang masa depan generasi muda lulusan madrasah setingkat ‘aliyah yang tidak menentu.  Kekha­watiran tersebut syukurlah akhirnya tidak berkepanjan­gan dengan dibentuknya kerjasama antara tokoh‑tokoh masyarakat dengan pemerintah daerah/gubernur Kalimantan Selatan yang dikala itu dijabat  oleh  H. Maksid setelah  masyarakat mengirim sebuah delegasi, khusus membicarakan hal tersebut kepada Gube`rnur. Wujud kerjasama itu adalah turun tangannya gubernur dalam membidani lahirnya sebuah fakultas agama ditiap kabu­paten via Bupati yang bersangkutan. Akhirnya pada bulan September 1961 apa yang dicita‑citakan tersebut telah menjadi kenyataan, dengan didirkannya 3 buah Fakultas Agama ditiga kabupaten yakni di Amuntai Fakultas Ushuluddin, di Barabai Fakultas Tarbiyah dan di Kandangan Fakultas Adab,(sebelumnya bernama Akademi Agama Islam dan Bahasa Arab). Agar ketiga Fakultas tersebut dapat dibina dengan baik dibentuklah sebuah Badan Koordinator di Banjarmasin yang diketuai Gubernur sendiri (H.Maksid) dan H.Abdurrasyid Nasar selaku Sekre taris. Kebijakan  gubernur  tersebut  nampaknya  cukup  melegakan  masyarakat sehingga  proses selanjutnya untuk mengintensifkan pembinaan perguruan tinggi agama tersebut dapat berjalan lancar. Cita‑cita mendirikan fakultas agama di ibukota propinsi Kalimantan Selatan ini tidak pernah padam. Pada tanggal 21 September 1958 diresmikan berdirinya Universitas Lambung Mangkurat Banjarmasin dengan 4 fakultas, salah satunya adalah Fakultas Agama Islam.

Fakultas Agama Islam ini umurnya tidak begitu lama, karena kemudian berubah menjadi Fakultas Islamologi dengan ketuanya H. Abdurrahman Ismail, MA (alm) dan Sekretaris H. Mastur Jahri, MA (alm).  Dalam  perkemban­gan selanjutnya pada tahun 1960 dibentuk Panitia Persia­pan Fakultas Syari’ah Banjarmasin. Salah satu pertimban­gannya adalah karena masyarakat Kalimantan Selatan mempunyai perhatian yang sangat besar terhadap Penegerian Fakultas Islamologi menjadi Fakultas Syari’ah Banjarmasin.

Keluarnya Peraturan Presiden RI No.11 tahun 1960 tentang pembentukan Institut Agama Islam Negeri (IAIN), dan Peraturan Presiden No.27 tahun 1963 tentang perubahan Peraturan Presiden No.11 tahun 1960, maka peluang untuk menegerikan Fakulas Islamologi menjadi Fakultas Syari’ah terbuka lebar.Selain Peraturan Presiden itu, TAP MPRS tanggal 3 Desember 1960 No.II/MPRS/1960 yang disusul dengan Resolusi MPRS No.1/MPRS/1963, memberikan dasar pijak yang lebih kuat bagi hasrat untuk mengembangkan pendidikan Agama dan perluasan Fakultas Agama.

Sebagai upaya untuk penegerian Fakultas Islamologi Unlam menjadi Fakultas Syari’ah itu, maka panitia Persiapan Fakultas Syari’ah mengutus H.M.Daud Yahya (alm) dan Abdurrivai, BA (sekarang  Drs. H. Abdurrivai) untuk menghadap Menteri Agama K.H.M.Wahib Wahab (alm) di Jakar­ta guna memantapkan usaha yang sedang ditempuh.

Usaha delegasi Panitia Persiapan Fakultas Syari’ah ini tidak sia‑sia, karena dengan Keputusan Menteri Agama RI No.28 tahun 1960 tanggal 24 Nopember 1960 yang ditandatangani sendiri oleh K.H. Wahib Wahab, diresmikanlah penegerian Fakultas Islamologi Banjarmasin menjadi Fakul­tas Syari’ah sebagai cabang dari Al Jami’ah Al Islamiah Al Hukumiah Yogyakarta.  Penegerian Fakultas Syari’ah ini terhitung mulai tanggal 15 Januari 1961 M bertepatan dengan tanggal 27 Rajab 1380 H.  Dan sebagai Dekan ditetapkan H.Abdurrahman Ismail, MA (alm).  Fakultas Syari’ah ini sejak dinegerikan sampai dengan tahun 1965 masih menempati kantor di Jalan Lambung Mangkurat bersama 3 Fakultas lainnya dari Universitas Lambung Mangkurat. Perkuliahan pada waktu itu bersama fakultas lainnya menggunakan gedung bekas Kodam X/LM di Jalan Lambung Mangkurat Banjarmasin.

Pada tahun 1965 kantor Fakultas Syari’ah dan sebagian perkuliahan dipindahkan ke gedung Sekolah Menengah Islam Atas (SMIA) di jalan Sungai mesa Darat. SMIA dimaksud kemudian menjadi SP IAIN dan terakhir menjadi Madrasah Aliyah Negeri 1 Banjarmasin.

Fakultas Syari’ah ini pulalah yang merupakan salah satu modal berdirinya IAIN Antasari. Pada saat fakultas Syari’ah ini menjadi salah satu fakultas dalam lingkungan IAIN Antasari pada bulan Nopember 1964 telah meluluskan Srjana muda (BA) sebanyak 25 orang.

Walaupun Fakultas Islamologi Universitas Lambung Mangkur­at telah dinegerikan menjadi Fakultas Syari’ah cabang al jami’ah Yogyakarta, keinginan masyarakat Kalimantan Selatan untuk memiliki sebuah perguruan tinggi agama Islam di daerah ini dirasakan belum terpenuhi seluruhnya.  Yang ada baru merupakan satu badan koordinator sebagaimana telah diutarakan terdahulu. Kemudian berdasarkan hasil kesepakatan musyawarah gabungan ketiga Fakultas yang ada di Kabupaten, maka hubungan koordinasi ditingkatkan dan sepakat untuk mendirikan Universitas Islam Antasari yang disingkat dengan UNISAN.  Unisan ini langsung dipimpin oleh Gubernur Kalimantan Selatan H. Maksid sebagai Presi­dennya. Dalam melaksanakan tugasnya beliau Presidium UNISAN ini dibantu oleh H.Mukhyar Usman, Abd.Gafar Hanafiah dan H.Abd.Rasyid Nasar, masing‑masing membidangi pendidikan, keuangan dan kemahasiswaan, serta H. M. Irsyad Jahri sebagai Sekretaris.

Pengumuman resmi berdirinya UNISAN ini dibacakan oleh H. Maksid sendiri pada tanggal 17 Mei 1962 di lapangan Dwi Warna Barabai sebagai bagian dari kegiatan peringatan Hari Proklamasi ALRI DivisiIV pertahanan kalimantan yang ke‑13.  Upacara tersebut dihadiri oleh Panglima ALRI Laksamana R.E.Martadinata. Sesudah peresmian tersebut, pada tahun itu juga Fakultas Publisistik di Banjarmasin yang dipimpin oleh Zafry Zamzam bergabung pada UNISAN. Dengan demikian UNISAN memiliki 4 Fakultas, yaitu :

Fakultas Ushuluddin di Amuntai Kabupaten HSU

Fakultas Tarbiyah di Baratai Kabupaten HST

Fakultas Adab di Kandangan Kabupaten HSS

Fakultas Publisistik di Kotamadya Banjarmasin.

Adanya Peraturan Presiden nomor 11 tahun 1960. tentang IAIN Al Jami’ah al Islamiyah al Hukumiyah), dan penetapan Menteri Agama Nomor 35 tahun 1960 tentang pembukaan resmi Al Jami’ah Al Islamiyah Al Hukumiyah serta penetapan Menteri Agama Nomor 43 tahun 1960 tentang penyelenggaraan IAIN disatu sisi, kemudian dipihak lain berdirinya UNISAN tahun 1961 serta adanya Fakultas Syari’ah cabang Al Jami’ah Yogyakarta, menjadi modal utama para tokoh masyarakat dan pemerintah daerah untuk mendirikan satu IAIN yang berdiri sendiri di Kalimantan Selatan.

Setelah melalui proses perjuangan yang panjang dan penegerian fakultas Tarbiyah Barabai, Fakultas Ushuluddin Amuntai serta Fakultas Syari’ah kandangan ditambah dengan fakultas Syari’ah cabang Al Jami’ah Yogyakarta, maka pada tanggal 20 Nopember 1964,berdasar Kepmenag nomor 89 tahun 1964, diresmikanlah pembukaan IAIN Al Jami’ah Antasari berkedudukan di Banjarmasin dengan rektor pertama Zafry Zamzam.

Pada waktu IAIN Antasari diresmikan pada tahun 1964, Fakultasfakultas yang sudah ada di Banjarmasin dan daerah-daerah kabupaten yang berasal  dari UNISAN dijadikan Fakultas-Fakultas Negeri di bawah IAIN Antasari. Ada empat fakultas yang resmi dikelola, yaitu:

Fakultas Syariah di Banjarmasin

Fakultas Syariah di Kandangan

Fakultas Tarbiyah di Barabai

Fakultas Ushuluddin di Amuntai

Karena hanya mempunyai empat fakultas yang tersebar di daerah dan hanya satu yang berada di Banjarmasin sebagai pusat Institut, sehingga Rektor merasa perlu agar  sebagai Pusat Institut tidak hanya ada satu fakultas, melainkan harus memiliki fakultas yang lengkap sebagaimana IAIN lainnya.. Disamping itu di daerah yang belum ada fakultasnya juga dirintis usaha untuk mendirikan Fakultas cabang. Hal ini didorong oleh keinginan untuk memudahkan calon mahasiswa yang tidak mampu ke luar daerah, agar bisa melanjutkan studinya di daerahnya sendiri, disamping ingin sebanyaak-banyaknya mendidik generasi Islam yang berpendidikan perguruan tinggi.

Sebagai realisasi dari keinginan tersebut, berturut-turut berdirilah beberapa fakultas di daerah, yaitu: Fakultas Tarbiyah Banjarmasin, diresmikan pada tahun 1965.

Fakultas Tarbiyah Cabang Martapura, diresmikan pada tahun 1969.

Fakultas Tarbiyah Cabang Rantau diresmikan pada tahun 1970.

Fakultas Tarbiyah Cabang Kandangan, diresmikan pada tahun 1965.

Fakultas Dakwah Banjarmasin, didirikan pada tahun 1970.

Dengan demikian, sejak berdiri pada tahun 1964 sampai tahun 1970, IAIN Antasari telah berkembang menjadi sembilan fakultas.Pada tahun 1973 diadakan oleh pimpinan IAIN Antasari diadakan evaluasi terhadap jalannya fakultas-fakultas di daerah dan akhirnya diputuskan untuk mengintegrasikan Fakultas Tarbiyah  Cabang Martapura, Rantau dan Kandangan ke Banjarmasin dan Barabai ke Banjarmasin dan Barabai. Selanjutnya mulai tahun 1978, Fakultas Syariah di Kandangan diintegrasikan ke Fakultas Syariah di Banjarmasin, Fakultas Tarbiyah di Barabai diintegrasikan ke Fakultas Tarbiyah Barabai dan Fakultas Ushuluddin di Amuntai dipindahkan ke Banjarmasin. Proses pengintegrasian dan pemindahan ini berakhir pada tahun 1980. Sehingga mulai tahun 1980, IAIN Antasari hanya  mempunyai empat fakultas yang semuanya ada di Banjarmasin, yaitu:

Fakultas Syariah

Fakultas Tarbiyah

Fakultas Dakwah

Fakultas Ushuluddin

Pada tahun 1988 fakultas yang ada di IAIN Antasari bertambah menjadi enam, yaitu dengan di integrasikasikannya Fakultas Tarbiyah Palangka Raya dan Fakultas Tarbiyah Samarinda sebagai Cabang dari IAIN Antasari.

Perkembangan selanjutnya pada tahun 1999 Fakultas Tarbiyah Palangka Raya berubah menjadi STAIN Palangka Raya  dan Fakultas Tarbiyah Samarinda menjadi STAIN Samarinda , sehingga sampai saat ini IAIN Antasari kembali menjdi empat fakultas, yaitu:

Fakultas Syariah

Fakultas Tarbiyah

Fakultas Dakwah

Fakultas Ushuluddin

(diambil dari situs IAIN Antasari)

Muhammad Nafis al-Banjari: Penganjur Aktivisme-Sufistik dari Banjar
Dalam deretan ulama Banjar, nama Muhammad Nafis al-Banjari tak kalah moncer dibanding Muhammad Arsyad al-Banjari. Kalau Muhammad Arsyad dikenal sebagai ahli syariat, maka Muhammad Nafis dikenal sebagai pakar ilmu kalam dan tasawuf. Dengan keilmuannya, ia berhasil menorehkan prestasi sebagai salah seorang ulama terkemuka Nusantara.

Nama lengkapnya adalah Muhamad Nafis bin Idris bin Husayn al-Banjari. Tak banyak data yang mengungkap masa kecilnya. Diperkirakan, ia lahir sekitar 1148 / 1735 di Martapura, dari keluarga bangsawan Banjar. Ada juga yang menyebut kelahirannya pada 1160 H/1745 M. Ini mengacu pada tahun penulisan kitab karangannya, al-Durr al-Nafis, 1200 H / 1785 M, sedang pada saat itu ia berusia sekitar 40-an. Yang jelas, ia hidup sekurun dengan Muhammad Arsyad.
Sejak kecil, ia belajar ilmu agama dari para ulama setempat. Ia dikenal sebagai anak yang cerdas. Sebab itulah, sebagaimana Syekh Muhammad Arsyad, ia dikirim oleh Sultan Banjar untuk menimba ilmu di Mekkah. Keberadaannya di Mekkah diperkuat dengan penjelasannya sendiri dalam kitab al-Durr al-Nafis: “Dia yang menulis risalah ini…yaitu Muhammad al-Nafis bin Idris bin al-Husayn…yang dilahirkan di Banjar dan hidup di Mekkah.”
Namun, tak diketahui dengan pasti, kapan ia berangkat ke Mekkah. Sebagian ahli berpendapat, masa belajar Muhammad Nafis tak jauh dari masa Muhammad Arsyad al-Banjari. Bahkan, para masyasyikh-nya juga kebanyakan sama, yakni Muhammad bin Abdul Karim al-Samman al-Madani, Muhammad al-Jauhari, Abdullah bin Hijazi al-Syarqawi al-Mishry (sykeh al-Azhar sejak 1207 H/ 1794 M), Muhammad Shiddiq bin Umar Khan (murid al-Sammani) dan Abdurrahman bin Abdul Aziz al-Maghribi.
Dari para gurunya itu, Muhammad Nafis banyak belajar tasawuf. Sekian lama ia mematangkan pengetahuan dan lelaku tasawufnya sampai ia diberi gelar kehormatan “Syekh Mursyid.” Dengan gelar itu, ia beroleh ijazah untuk mengajarkan dan membimbing ilmu tasawuf kepada orang lain. Pencapaian itu tentunya tak mudah dan instan, tapi membutuhkan waktu latihan dan perenungan yang sangat lama.
Sekian lama berada di Mekkah, ia akhirnya kembali ke Nusantara, diperkirakan pada 1210 H/1795. Saat itu, yang memerintah di Banjar adalah Sultan Tahmidillah (Raja Islam Banjar XVI, 1778-1808 M). Tapi, karena Nafis tak suka dekat dengan kekuasaan, ia memilih meninggalkan Banjar dan berhijrah ke Pakulat, Kelua, sebuah daerah yang terletak sekitar 125 km dari Banjarmasin. Alasan lain adalah perkembangan Islam di daerah sekitar Martapura dan Banjar sudah ditangani oleh Syekh Muhammad Arsyad.
Sedang daerah Kelua, termasuk daerah pedalaman, masih belum terjangkau oleh dakwah Islamiyah ulama Banjar. Dengan gigih, Muhammad Nafis mengenalkan Islam di sana. Berkat kegigihannya, daerah itu kemudian menjadi salah satu pusat penyebaran agama Islam di Kalimantan Selatan. Juga menjadi daerah yang turut melahirkan para pejuang anti-Belanda.
Dalam berdakwah, Muhammad Nafis dikenal sebagai sosok pengembang tasawuf yang andal. Meski di Banjar saat itu terjadi pertentangan antara kubu Muhammad Arsyad dengan Syekh Abdul Hamid Abulung yang didakwa sebagai pengembang wujudiyyah, dakwah tasawuf ala Muhammad Nafis berlangsung dengan lancar dan damai. Ini tak lepas dari corak tasawuf yang diusungnya, yakni “merukunkan” tasawuf sunni dan falsafi yang diposisikan secara diametral.
Ia juga tampak tak terikat dengan satu tarekat secara total. Shingga, menurut pengakuannya sendiri, ia adalah pengikut tarekat Qadariyah, Syathariyah, Naqsabandiyah, Khalwatiyah, dan Sammaniyah. Keikutsertaan Muhammad Nafis dalam ragam tarekat Mu’tabarah itu seolah menunjukkan bahwa suluk menuju Tuhan bisa dilakukan lewat berbagai jalan, tak hanya mengandalkan satu jalan saja. Juga menunjukkan betapa pengetahuan tasawuf Muhammad Nafis sangatlah mendalam.
Ciri khas ajaran tasawuf Muhammad Nafis adalah semangat aktivisme yang kuat, bukan sikap pasrah. Ia dengan gamblang menekankan transendensi mutlak dan keesaan Tuhan sembari menolak determinisme fatalistik yang bertentangan dengan kehendak bebas. Menurutnya, kaum muslim harus aktif berjuang mencapai kehidupan yang lebih baik, bukan hanya berdiam diri dan pasrah pada nasib.
Sebab itulah, ajaran tasawuf ala Muhammad Nafis turut membangkitkan semangat masyarakat Banjar untuk berjuang lepas dari penjajah. Malah, konon, setelah membaca kitab karangannya, orang menjadi tak takut mati. Situasi ini jelas membahayakan Belanda karena akan mengobarkan jihad. Tak heran kalau kemudian berbagai intrik dilakukan oleh Belanda untuk menghentikan ajaran Muhammad Nafis, mulai dari kontroversi ajaran sampai pelarangan. Namun, dakwah Muhammad Nafis terus berlanjut sampai ia wafat.
Tak banyak karya yang ditinggalkannya. Namun, karya-karyanya senantiasa menjadi rujukan, tak hanya bagi kaum muslim Nusantara, tapi juga manca negara. Di antara kitabnya adalah al-Durr al-Nafs fi Bayan Wahdat al-Af’al wa al-Asma’ wa al-Sifat wa al-Dzat. Kitab itu membicarakan sufisme dan tauhid, menjelaskan maqam-maqam perjalanan (suluk) untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT. Corak tasawuf dalam kitab ini adalah kombinasi tasawuf sunni dan falsafi.
Kitab itu ditulis atas permintaan sahabat-sahabatnya ketika berada di Mekkah. Menurut penuturannya, ia menulis kitab itu untuk menyelamatkan para salik (perambah jalan Tuhan) dari syirik khafi dan penyakit riya’ yang umum menghinggapi umat muslim. Kitab itu ditulis dalam bahasa Melayu Arab untuk memudahkan umat membaca dan memahaminya. Karena mutu dan ajarannya yang tinggi, kitab itu dicetak berkali-kali, baik di dalam maupun luar negeri.
Kitab lain adalah Majmu’ al-Asrar li Ahl Allah al-Athyar yang juga berisi tentang ajaran tasawuf.
Sebagai penganjur aktivisme-sufistik, kontribusi Muhammad Nafis al-Banjari dalam membangun Islam di Banjar sangatlah besar. Tak aneh kalau kemudian ia diberi gelar Maulana al-Allamah al-Fahhamah al-Mursyid ila Tariq as-Salamah (Yang mulia, berilmu tinggi, terhormat, pembimbing ke jalan kebenaran) sebagai bentuk penghormatan masyarakat atas jasa-jasanya. Menimbang pencapaian dan prestasinya, gelar itu memang tak berlebihan baginya.( M. Khoirul Muqtafa, peneliti masalah sosial keagamaan di Kantata Research Indonesia / diambil dari majalah komunitas ESQ NEBULA)
MENGENANG TUAN GURU H. M. ZAINI ABDUL GHANI AL-BANJARI*
Oleh: H.M. Irsyad Zein, Dalam Pagar, Martapura)
(Zuriat ke-6 Syekh Muhammad Arsyad al-Banjari)
Alimul ‘allamah Al ‘Arif Billah Asy-Syekh H. Muhammad Zaini Abdul Ghani bin Al ‘arif Billah Abdul Ghani bin H. Abdul Manaf bin Muhammad Seman bin H. M. Sa’ad bin H. Abdullah bin ‘Alimul ‘allamah Mufti H. M. Khalid bin ‘Alimul ‘allamah Khalifah H. Hasanuddin bin Syekh Muhammad Arsyad al-Banjari (Guru Sekumpul), dilahirkan pada, malam Rabu 25 Muharram 1361 H (11 Februari 1942 M).

Nama kecil beliau adalah Qusyairi. Sejak kecil beliau sudah termasuk dari salah seorang yang mahfuzh, yaitu suatu keadaan yang sangat jarang sekali terjadi, kecuali bagi orang-orang yang sudah dipilih oleh Allah SWT.
Beliau adalah salah seorang anak yang mempunyai sifat-sifat dan pembawaan yang lain daripada anak-anak yang lainnya, di antaranya adalah bahwa beliau tidak pernah ihtilam.

‘Alimul ‘allamah Al Arif Billah Asy-Syekh H. Muhammad Zaini Abdul Ghani sejak kecil selalu berada di samping kedua orang tua dan nenek beliau yang benama Salbiyah. Beliau dididik dengan penuh kasih sayang dan disiplin dalam pendidikan, sehingga di masa kanak-kanak beliau sudah mulai ditanamkan pendidikan Tauhid dan Akhlaq oleh ayah dan nenek beliau. Beliau belajar membaca Alquran dengan nenek beliau. Dengan demikian guru pertama dalam bidang ilmu Tauhid dan Akhlaq adalah ayah dan nenek beliau sendiri.

Meskipun kehidupan kedua orang tua beliau dalam keadaan ekonomi yang sederhana, namun mereka selalu memperhatikan untuk turut membantu dan meringankan beban guru yang mengajar anak mereka membaca Alquran, sehingga setiap malamnya beliau selalu membawa bekal botol kecil yang berisi minyak tanah untuk diberikan kepada guru yang mengajar Alquran.
Dalam usia kurang lebih 7 tahun beliau sudah mulai belajar di madrasah (pesantren) Darussalam Martapura.

Aku (penulis) saat bertemu guru Sekumpul, KH Zainie Ganie Martapura

Foto-foto haul almarhum KH Zainie Ganie Martapura 2013

12345678

Guru-guru ‘Alimul’allamah Al ‘Arif Billah Asy-Syekh H. M. Zaini Abdul Ghani, antara lain adalah:

1.  Di tingkat Ibtida adalah: Guru Abdul Mu’az, Guru Sulaiman, Guru Muh. Zein, Guru H. Abdul. Hamid Husin, Guru H. Mahalli, Guru H. Rafi’i, Guru Syahran, Guru H. Husin Dakhlan, Guru H. Salman Yusuf

2.  Di tingkat Tsanawiyah adalah: ‘Alimul Fadhil H. Sya’rani’Arif, ‘Alimul Fadhil H, Husin Qadri, ‘Alimul Fadhil H. Salilm Ma’ruf, ‘Alimul Fadhil H. Seman Mulya, ‘Alimul Fadhil H. Salman Jalil.

3.  Guru di bidang Tajwid ialah: ‘Alimul Fadhil H. Sya’rani ‘Arif, ‘Alimul Fadhil Al Hafizh H. Nashrun Thahir, ‘Al-Alim H. Aini Kandangan.

4.  Guru Khusus adalah: ‘Alimul’allamah H. Muhammad Syarwani Abdan Bangil, ‘Alimul’allamah Asy Syekh As Sayyid Muhammad Amin Qutby. Sanad sanad dalam berbagai bidang ilmu dan Thariqat, antara lain diterima dari:
Kyai Falak Bogor (Abah Falak), ‘Alimul’allamah Asy-Syekh Muhammad Yasin Padang (Mekkah), ‘Alimul’allamah Asy-Syekh Hasan Masysyath, ‘Alimul’allamah Asy- Syekh Isma’il Yamani dan ‘Alimul’allamah Asy-Syekh Abdul Qadir Al-Baar.

5.  Guru pertama secara Ruhani ialah: ‘Alimul ‘allamah Ali Junaidi (Berau) bin ‘Alimul Fadhil Qadhi H. Muhammad Amin bin ‘Alimul ‘allamah Mufti H. Jamaluddin bin Syekh Muhammad Arsyad, dan ‘Alimul ‘allamah H. Muhammad Syarwani Abdan (Bangil). Kemudian ‘Alimullailamah H. Muhammad Syarwani Abdan menyerahkan kepada Kyai Falak Bogor dan seterusnya Kyai Falak menyerahkan kepada ‘Alimul’allamah Asy-Syekh As-Sayyid Muhammad Amin Qutby, kemudian beliau menyerahkan kepada Syekh Muhammad Arsyad al-Banjari yang selanjutnya langsung dipimpin oleh Rasulullah Saw. Atas petunjuk ‘Alimul’allamah Ali Junaidi, beliau dianjurkan untuk belajar kepada ‘Alimul Fadhil H. Muhammad (Gadung Rantau) bin ‘Alimul Fadhil H. Salman Farisi bin ‘Allimul’allamah Qadhi H. Mahmud bin Asiah binti Syekh Muhammad Arsyad, untuk mengenal masalah Nur Muhammad; maka dengan demikian di antara guru beliau tentang Nur Muhammad antara lain adalah ‘Alimul Fadhil H. M. Muhammad tersebut di atas.

Dalam usia kurang lebih 10 tahun, sudah mendapat khususiat dan anugerah dari Tuhan berupa Kasyaf Hissi yaitu melihat dan mendengar apa-apa yang ada di dalam atau yang terdinding. Dan dalam usia itu pula beliau didatangi oleh seseorang bekas pemberontak yang sangat ditakuti masyarakat akan kejahatan dan kekejamannya. Kedatangan orang tersebut tentunya sangat mengejutkan keluarga di rumah beliau. Namun apa yang terjadi, laki-laki tersebut ternyata ketika melihat beliau langsung sungkem dan minta ampun serta memohon untuk dikontrol atau diperiksakan ilmunya yang telah ia amalkan, jika salah atau sesat minta dibetulkan dan diapun minta agar supaya ditobatkan.

Mendengar hal yang demikian beliau lalu masuk serta memberitahukan masalah orang tersebut kepada ayah dan keluarga, di dalam rumah, sepeninggal beliau masuk kedalam ternyata tamu tersebut tertidur. Setelah dia terjaga dari tidurnya maka diapun lalu diberi makan dan sementara tamu itu makan, beliau menemui ayah beliau dan menerangkan maksud dan tujuan kedatangan tamu tersebut. Maka kata ayah beliau tanyakan kepadanya apa saja ilmu yang dikajinya. Setelah selesai makan lalu beliau menanyakan kepada tamu tersebut sebagaimana yang dimaksud oleh ayah beliau dan jawabannva langsung beliau sampaikan kepada ayah beliau. Kemudian kata ayah beliau tanyakan apa lagi, maka jawabannyapun disampaikan beliau pula. Dan kata ayah beliau apa lagi, maka setelah berulang kali di tanyakan apa lagi ilmu yang ia miiki maka pada akhirnya ketika beliau hendak menyampaikan kepada tamu tersebut, maka tamu tersebut tatkala melihat beliau mendekat kepadanya langsung gemetar badannya dan menangis seraya minta tolong ditobatkan dengan harapan Tuhan mengampuni dosa-dosanya.

Pernah rumput-rumputan memberi salam kepada beliau dan menyebutkan manfaatnya untuk pengobatan dari beberapa penyakit, begitu pula batu-batuan dan besi. Namun kesemuanya itu tidaklah beliau perhatikan dan hal-hal yang demikian itu beliau anggap hanya merupakan ujian dan cobaan semata dari Allah SWT.

Dalam usia 14 tahun, atau tepatnya masih duduk di Kelas Satu Tsanawiyah, beliau telah dibukakan oleh Allah Swt atau futuh, tatkala membaca ayat: Wakanallahu syami’ul bashiir.

 Abah Guru Sekumpul waktu beliau masih muda bersama guru guru beliau yaitu Habib Zein al-Habsy,Tuan Guru KH.Semman Mulia,dan Habib Ali al-Habsy…murid dan guru sama sama Aulia Allah

‘Alimul’allamah Al-‘Arif Billah Asy-Syekh H. M. Zaini Abdul Ghani, sejak kecilnya hidup di tengah keluarga yang shalih, maka sifat-sifat sabar, ridha, kitmanul mashaib, kasih sayang, pemurah dan tidak pemarah sudah tertanam dan tumbuh subur di jiwa beliau; sehingga apapun yang terjadi terhadap diri beliau tidak pernah mengeluh dan mengadu kepada orang tua, sekalipun beliau pernah dipukuli oleh orang-orang yang hasud dan dengki kepadanya. Beliau adalah seorang yang sangat mencintai para ulama dan orang orang yang shalih, hal ini tampak ketika beliau masih kecil, beliau selalu menunggu tempat tempat yang biasanya ‘Alimul Fadhil H. Zainal Ilmi lewati pada hari-hari tertentu ketika hendak pergi ke Banjarmasin semata-mata hanya untuk bersalaman dan mencium tangan tuan Guru H. Zainal Ilmi.

Di masa remaja ‘Alimul ‘allamah Al ‘Arif Billah Asy-Syekh H. M Zaini Abdul Ghani pernah bertemu dalam rukyah (mimpi) dengan Saiyidina Hasan dan Saiyidina Husien (cucu Nabi Saw) yang keduanva masing-masing membawakan pakaian dan memasangkan kepada beliau lengkap dengan sorban dari lainnya. Dan beliau ketika itu diberi nama oleh keduanya dengan nama Zainal ‘Abidin. Setelah dewasa, maka tampaklah kebesaran dan keutamaan beliau dalam berbagai hal dan banyak pula orang yang belajar. Para Habaib yang tua-tua, para ulama dan guru-guru yang pernah mengajari beliau, karena mereka mengetahui keadaan beliau yang sebenarnya dan sangat sayang serta hormat kepada beliau.

‘Alimul ‘allamah Al ‘Arif Billah Asy-Syekh H. M. Zaini Abdul Ghani adalah seorang ulama yang menghimpun antara wasiat, thariqat dari haqiqat, dan beliau seorang yang hafazh Alquran beserta hafazh tafsirnya, yaitu tafsir Alquran Al-‘Azhim lil-Imamain Al-Jalalain. Beliau seorang ulama yang masih termasuk keturunan Syekh Muhammad Arsyad al-Banjari dan menghidupkan kembali ilmu dan amalan-amalan serta thariqat yang diamalkan oleh Syekh Muhammad Arsyad al-Banjari. Karena itu majelis pengajian beliau, baik majelis ta’lim maupun majelis ‘amaliyahnya di Komplek Raudah Sekumpul seperti majelis Syekh Abdul Kadir al-Jailani.

Sifat lemah lembut, kasih sayang, ramah tamah, sabar, dan pemurah sangatlah tampak pada diri beliau, sehingga beliau dikasihi dan disayangi oleh segenap lapisan masyarakat, sahabat dan anak murid. Kalau ada orang yang tidak senang melihat akan keadaan beliau dan menyerang dengan berbagai kritikan dan hasutan maka beliaupun tidak pernah membalasnya. Beliau hanya diam dan tidak ada reaksi apapun, karena beliau anggap mereka itu belum mengerti, bahkan tidak mengetahui serta tidak mau bertanya.

Tamu-tamu yang datang ke rumah beliau, pada umumnya selalu beliau berikan jamuan makan, apalagi pada hari-hari pengajian, seluruh murid murid yang mengikuti pengajian yang tidak kurang dari 3.000-an, kesemuanya diberikan jamuan makan. Sedangkan pada hari hari lainnya diberikan jamuan minuman dan roti.

Beliau adalah orang yang mempunyai prinsip dalam berjihad yang benar-benar mencerminkan apa apa yang terkandung dalam Alquran, misalnya beliau akan menghadiri suatu majelis yang sifatnya dakwah Islamiyah, atau membesarkan dan memuliakan syi’ar agama Islam. Sebelum beliau pergi ke tempat tersebut lebih dulu beliau turut menyumbangkan harta beliau untuk pelaksanaannya, kemudian baru beliau datang. Jadi benar-benar beliau berjihad dengan harta lebih dahulu, kemudian dengan anggota badan. Dengan demikian beliau benar-benar mengamalkan kandungan ayat Alquran yang berbunyi: Wajaahiduu bi’amwaaliku waanfusikum fii syabilillah.

‘Alimul ‘allamah Al ‘Arif Billah Asy-Syekh H. M. Zaini Abdul Ghani adalah satu-satunya Ulama di Kalimantan, bahkan di Indonesia yang mendapat izin untuk mengijazahkan (bai’at) thariqat Sammaniyah, karena itu banyaklah yang datang kepada beliau untuk mengambil bai’at thariqat tersebut, bukan saja dari Kalimantan, bahkan dari pulau Jawa dan daerah lainnya.

‘Alimul’allamah Al ‘Arif Billah Asy Syekh H. M. Zaini Abdul Ghani dalam mengajar dan membimbing umat tidak mengenal lelah dan sakit. Meskipun dalam keadaan kurang sehat, selama masih mampu, beliau masih tetap mengajar dan memberi pengajian.

Dalam membina kesehatan para peserta pengajian dalam waktu-waktu tertentu beliau datangkan dokter spesialis untuk memberiikan penyuluhan kesehatan sebelum pengajian dimulai, seperti dokter spesialis jantung, paru paru, THT, mata, ginjal, penyakit dalam, serta dokter ahli penyakit menular dan lainnya. Dengan demikian beliau sangatlah memperhatikan kesehatan para peserta pengajian dan kesehatan lingkungan tempat pengajian.

Berbagai karomah (kelebihan) telah diberikan oleh Allah kepada beliau. Ketika beliau masih tinggal di Kampung Keraton (Martapura), biasanya setelah selesai pembacaan maulid, beliau duduk-duduk dengan beberapa orang yang masih belum pulang sambil bercerita tentang orang orang tua dulu yang isi cerita itu untuk dapat diambil pelajaran dalam meningkatkan amaliyah.
Tiba tiba beliau bercerita tentang buah rambutan, pada waktu itu masih belum musimnya; dengan tidak disadari dan diketaui oleh mereka yang hadir beliau mengacungkan tangannya kebelakang dan ternyata di tangan beliau terdapat sebiji buah rambutan yang masak, maka heranlah semua yang hadir melihat kejadian akan hal tersebut. Dan rambutan itupun langsung beliau makan.

Ketika beliau sedang menghadiri selamatan dan disuguhi jamuan oleh shahibul bait (tuan rumah) maka tampak ketika, itu makanan, tersebut hampir habis beliau makan, namun setelah piring tempat makanan itu diterima kembali oleh yang melayani beliau, sesudah dilihat, ternyata makanan yang tampak habis itu masih banyak bersisa dan seakan-akan tidak pernah dimakan oleh beliau.

Pada suatu musim kemarau yang panjang, di mana hujan sudah lama tidak turun sehingga sumur-sumur sudah hampir mengering, maka cemaslah masyarakat ketika itu dan mengharap agar hujan bisa segera turun. Melihat hal yang demikian banyak orang yang datang kepada beliau mohon minta doa beliau agar hujan segera turun, kemudian beliau lalu keluar rumah dan menuju pohon pisang yang masih berada di dekat rumah beliau waktu itu, maka beliau goyang-goyangkanlah pohon pisang tersebut dan ternyata tidak lama kemudian, hujanpun turun dengan derasnya.

Ketika pelaksanaan Haul Syekh Muhammad Arsyad al-Banjari yang ke 189 di Dalam pagar Martapura, kebetulan pada masa itu sedang musim hujan sehingga membanjiri jalanan yang akan dilalui oleh ‘Alimul ‘allamah Al ‘Arif Billah Asy-Syeikh H. M. Zaini Abdul Ghani menuju ke tempat pelaksanaan haul tersebut. Keadaan itu sempat mencemaskan panitia pelaksana haul tersebut, namun dan tidak disangka sejak pagi harinya jalanan yang akan dilalui oleh beliau yang masih digenangi air sudah kering, sehingga dengan mudahnya beliau dan rombongan melewati jalanan tersebut; dan setelah keesokan harinya jalanan itupun kembali digenangi air sampai beberapa hari kemudian.

Banyak orang orang yang menderita sakit seperti sakit ginjal, usus yang membusuk, anak yang tertelan peniti, ibu yang sedang hamil dan bayinya jungkir (sungsang) serta meninggal dalam kandungan, di mana semua kasus ini menurut keterangan dokter harus dioperasi. Namun keluarga sisakit kemudian pergi minta didoakan oleh ‘Allimul’allamah ‘Arif Billah Asy Syekh H. M. Zaini Abdul Ghani. Dengan air yang beliau berikan kesemuanya dapat tertolong dan sembuh tanpa dioperasi.

Demikianlah di antara karamah dan kekuasaan Tuhan yang ditunjukkan kepada diri seorang hamba yang dikasihi-Nya.

Sebelum wafat, Tuan Guru H.M. Zaini Abdul Ghani telah menulis beberapa buah kitab, antara lain:

-   Risalah Mubaraqah.

-   Manaqib Asy-Syekh As-Sayyid Muharnmad bin Abdul Karim Al-Qadiri Al-Hasani As-Samman Al-Madani.

-   Ar-Risalatun Nuraniyah fi Syarhit Tawassulatis Sammaniyah.

-   Nubdzatun fi Manaqibil Imamil Masyhur bil Ustadzil a’zham Muhammad bin Ali Ba’alawy.

Beliau juga sempat memberikan beberapa pesan kepada seluruh masyarakat Islam, yakni:

1.  Menghormati ulama dan orang tua

2.  Baik sangka terhadap muslimin

3.  Murah hati

4.  Murah harta

5.  Manis muka

6.  Jangan menyakiti orang lain

7.  Mengampunkan kesalahan orang lain

8.  Jangan bermusuh-musuhan

9.  Jangan tamak atau serakah

10.Berpegang kepada Allah, pada kabul segala hajat

11.Yakin keselamatan itu pada kebenaran.

Setelah sempat dirawat selama lebih kurang 10 hari di rumah sakit Mount Elizabeth Singapura, karena penyakit ginjal yang beliau derita, pada hari Rabu, 5 Rajab 1426 H bertepatan dengan 10 Agustus 2005, beliau pun kembali menghadap Allah SWT. Innalillahi wa Inna Ilaihi Raaji’un, telah diangkat oleh Allah SWT ilmu melalui kewafatan seorang ulama.

Seluruh masyarakat Kalimantan merasa kehilangan seorang Tuan Guru yang menjadi panutan, penerang, dan penyuluh kehidupan umat. Kini umat Islam di Martapura dan Kalimantan Selatan umumnya, menantikan kembali, hadirnya generasi baru –ulama panutan– yang akan menggantikan atau paling tidak memiliki kharisma dan ilmu sebagaimana yang dimiliki oleh Guru Sekumpul, untuk memimpin dan membimbing umat menuju kedamaian di bawah ridha Allah SWT.

makam guru sekumpul Makam guru sekumpul

*Kepada pembaca blog ini dipersilakan pula untuk membaca beberapa apresiasi penting pada Guru Sekumpul1 dan Guru Sekumpul2.
Diposkan oleh ZHU-ELFA at 13:51 | Permanent Link | Komentar (0) |
Kamis, September 06, 2007
Guru-Sekumpul2
MEMBACA KEILMUAN, KEULAMAAN, DAN KETELADANAN GURU SEKUMPUL
Oleh Zulfa Jamalie
(Pelajar di Universiti Utara Malaysia, Sintok, Kedah, Darul Aman)
Email: zuljamalie@yahoo.co.id
Masih kuat dalam ingatan masyarakat Banjar, bagaimana rasa kehilangan dan kesedihan atas
wafatnya Al-Allimul Fadhil K.H.Muhammad Zaini bin Abdul Ghani al-Banjari yang populer dipanggil dengan nama Guru Sekumpul, dua tahun yang lalu. Generasi ketujuh dari ulama besar Banjar, Syekh Muhammad Arsyad al-Banjari ini wafat pada tanggal 5 Rajab 1426 H bertepatan dengan 10 Agustus 2005.
Beliau adalah sosok ulama kharismatik dan mumpuni, yang keharumanan nama dan keilmuannya
tidak hanya dikenal di Banua, namun juga sampai ke negara jiran, seperti Malaysia, Singapura, dan Brunei Darussalam. Kehadiran beliau di Bumi Kalimantan telah memberikan warna dan cahaya terang terhadap pengembangan dakwah dan syiar Islam, yang gemanya tidak hanya bergaung di banua, akan tetapi sampai keberbagai daerah di Indonesia. Dengan ilmu dan amal yang telah ditebarkannya,
kharisma dan keharuman Guru Sekumpul seakan ber-emanasi dan menyentuh hati ribuan jamaah yang menghadiri pengajiannya. Jamaahnya yang datang dari berbagai kota di Kalimantan Selatan
saban pengajian dilaksanakan, rela untuk berdesakan guna menyauk ilmu yang terus mengalir di Komplek Ar-Raudhah Sekumpul.

Guru Sekumpul adalah seorang ulama besar yang yang sulit dicarikan gantinya. Karena, beliau pergi dengan membawa ilmunya, “Sesungguhnya dicabut ilmu itu oleh Allah Swt dengan kewafatan ulama”. Beliau banyak meninggalkan teladan yang patut untuk kita contoh, beliau meninggalkan kebaikan
yang layak untuk dikenang, dan beliau meninggalkan warisan publik yang patut untuk diikuti. Kehadiran beliau di tengah masyarakat Banjar terasa sangat luar biasa. Kini, tidak terasa dua tahun sudah beliau meninggalkan kita semua. Tentu, bagi mereka yang pernah dekat dan berhubungan beliau, memiliki kesan dan kenangan tersendiri.

Umumnya, dalam komunitas Islam diberbagai daerah kehadiran ulama dalam memberi warna kehidupan
masyarakat memang sangat signifikan. Ulama memiliki kedudukan sangat penting di tengah-tengah masyarakatnya, sehingga kata-katanya dipatuhi dan perilakunya diikuti. Dalil utama yang sering menjadi sandaran atas peran penting ulama, sehingga mereka menjadi tokoh kunci (key people) adalah: “Ulama adalah pewaris para Nabi”.

Menurut bahasa, ulama merupakan bentuk plural dari kata alim, berarti orang yang mempunyai sifat tahu, mengerti, terpelajar, berilmu atau ilmuwan. Dalam Alquran seperti tercantum dalam surah Asy Syuraa 197 dan Al-Fathir 28 dijelaskan bahwa makna ulama yang terkandung dalam ayat tersebut tidak merujuk kepada pengertian khusus yang berarti sebagai orang-orang yang berpengetahuan agama saja, namun ia bersifat umum. Karena itu jika kita telusuri ulama hanyalah salah satu kelompok atau sinonim dari apa yang disebut dengan istilah ulil albab “orang-orang yang berakal, mempunyai pikiran, cendikiawan, ulama”, yakni sebagai “men of understanding and men of wisdom”. Kata-kata ulil albab disebut enam belas kali dalam Al Qur’an antara lain ia disebut sebagai orang yang diberi hikmah (Al-Baqarah 269), orang yang sanggup mengambil pelajaran (Yusuf 111), kritis mendengarkan pemikiran orang lain (Az-Zumar 18), orang yang bersungguh-sungguh dalam mencari ilmu (Ali Imran 109), yang mengambil pelajaran dari kitab yang diwahyukan oleh Allah (As-Shaad 29, Al-Mu’min 54 dan Ali Imran 7) dan yang
takut kepada Tuhannya.

Karena itulah, Ali Syariati (seorang sosiolog Muslim Iran) menjuluki kelompok ulil albab tersebut sebagai pemikir yang mencerahkan. Ulama diibaratkan tongkat pemandu jalan di siang hari dan obor penerang di malam Karena itu, kehadirannya tidak hanya concern dengan peran keulamaannya (Tuan Guru), tetapi mestinya jugaterpanggil untuk melaksanakan kebenaran guna memperbaiki masyarakatnya, menangkap aspirasi mereka, merumuskan bahasa yang dapat dipahami mereka, serta siap menawarkan
strategi dan alternatif solusi terhadap berbagai problem yang dihadapi oleh masyarakat. Inilah tugas utama ulama kata Syariati. Untuk itu ia tidak hanya pandai dalam ilmu-ilmu agama, akan tetapi ia juga harus tahu ilmu-ilmu pengetahuan lain guna menunjang tugas yang diembannya selaku waratsatul anbiyaa.

Imam Ali ra menegaskan bagaimana strategisnya kedudukan ulama di tengah-tengah masyarakat.
Menurut Imam Ali: “Ulama adalah lampu Allah di bumi, maka barangsiapa yang Allah menghendaki kebaikan baginya, dia akan memperoleh cahaya (ilmu) itu darinya. Kedudukan ulama bagaikan pohon kurma, engkau menunggu kapan buahnya jatuh kepadamu. Jika seorang ulama meninggal, maka terjadi lubang dalam Islam yang tidak tertutupi sehingga datang ulama lain yang menggantikannya. Kesalahan
yang dilakukan ulama seperti pecahnya sebuah kapal, yang tidak hanya menenggelamkan dirinya, akan tetapi juga orang-orang yang ikut bersamanya”.

Kecintaan murid, jamaah, dan masyarakat Banjar terhadap sosok Guru Sekumpul semasa hidupnya tidak diragukan lagi. Bahkan, dengan ilmu, kealiman, akhlak, perilaku, beliau sudah dianggap sebagai
seorang “wali”, dengan “karamah” tertentu yang diberikan oleh Allah SWT. Sehingga ada di antara masyarakat yang bersikap terkesan agak berlebihan, bahkan terkadang mengarah kepada pengkultusan). Misalnya, ada pernyataan yang menegaskan bahwa: “Bagaimanapun tingginya ilmu seseorang atau gelar akademik yang dicapainya, dianggap belum sempurna jika belum menyauk ilmu di Sekumpul”.

Bertemu, bersalaman, dan bahkan berfoto dengan Guru Sekumpul adalah sesuatu yang sangat luar biasa (dan dianggap sebagai suatu keharusan). Inilah yang kemudian ada tuduhan tidak laik, bahwa siapapun yang bersalaman atau berfoto dengan beliau dikenakan bayaran. Benda apapun yang pernah dipakai atau berhubungan dengan Guru Sekumpul dianggap memiliki tuah atau manna, sehingga merupakan sesuatu keberuntungan atau sesuatu yang luar biasa jika memilikinya. Dan sebagainya”

Boleh jadi memang sikap itu adalah manifestasi kecintaan dan penghormatan mereka kepada Guru Sekumpul. Karena itu, tidak salah sikap dan perilaku masyarakat dalam mencintai, menghormati, dan meneladani Guru Sekumpul. Namun, apapun alasannya harus tetap dalam konteks kewajaran dan koridor yang semestinya, sebagaimana yang telah diajarkan oleh Rasulullah SAW, bukan untuk pengkultusan. Karena pengkultusan tidak diperbolehkan dalam Islam.

Pasca dua tahun wafatnya Guru Sekumpul dan di tengah peringatan haulnya yang kedua, penulis
jadi teringat beberapa apresiasi tentang beliau yang dimuat dalam majalah Sufi ketika profil beliau (yang bersumber dari tulisan Ayahnda K.H.M. Irsyad Zein, Dalam Pagar Martapura) dimuat dalam majalah ini dan kemudian mendapat tanggapan dari berbagai kalangan pembaca, yang sempat penulis baca melalui akses internet. Semua orang memang berhak mengatakan ini dan itu tentang beliau, namun terasa kurang etis jika ada yang meragukan keulamaan beliau.Ataupun menjelek-jelekan beliau hanya karena tidak suka. Karena yang terpenting adalah bagaimana bisa mengikuti jejak perjuangan dan meneladani beliau sesuai dengan koridor yang semestinya, sebagaimana yang telah diajarkan oleh Rasul SAW.

Sejatinya dan sudahnya seharusnya jika manifestasi kecintaan kita terhadap Guru Sekumpul dalam rangka mengenang kewafatannya adalah dengan mengingat petuah dan nasihatnya, mengamalkan ilmu dan pengajarannya, serta mengikuti teladan kebaikan yang telah ditinggalkannya. “Semoga Allah Swt senantiasa mencurahkan rahmat, kasih sayang, dan ampunan-Nya kepada beliau dan kepada kita semua”. Amin.
(Teriring Salam takzhim untuk Guru K.H. M. Irsyad Zein, Dalam Pagar Martapura)
Diposkan oleh ZHU-ELFA at 11:06 | Permanent Link | Komentar (0) |
Guru-Sekumpul1
MENGENANG 1 TAHUN WAFATNYA GURU SEKUMPUL
Oleh Zulfa Jamalie
(Pelajar di Universiti Utara Malaysia, Sintok, Kedah, Darul Aman)
Email: zuljamalie@yahoo.co.id
Ada sesuatu yang membanggakan ketika saya membaca berita prosesi haul tahun pertama Guru Sekumpul, pada 10 Agustus 2006 yang lalu di Martapura, yakni dengan tampilnya generasi penerus (anak) beliau, Muhammad Amin Badaly dan Ahmad Hafi Badaly (mudah-mudahan Allah merahmati keduanya). Berikut beberapa apresiasi saya, yang jauh dari banua sebagai bentuk silaturrahmi kepada para pembaca yang mencintai beliau, selaku seorang ulama. Karena itu, tulisan berikut hanyalah salah satu refleksi kecil kenangan satu tahun pasca wafatnya beliau.
Saya percaya, bahwa hampir seluruh masyarakat Banjar yang mendiami kawasan Kalimantan tahu dengan nama Guru Sekumpul, yang pada tanggal 5 Rajab 1426 H bersamaan dengan 10 Agustus 2005 (setahun yang lalu) telah wafat. Adalah menjadi kesedihan yang luar bagi masyarakat Banjar mendengar berita kewafatan Guru Sekumpul menggema lewat berbagai media ketika itu. Sudah menjadi semacam kebiasaan, perasaan kita terkadang baru tersentak ketika kita harus kehilangan, seorang ulama besar yang yang sulit dicarikan gantinya. Karena, beliau pergi dengan membawa ilmunya, “Sesungguhnya dicabut ilmu itu oleh Allah Swt dengan kewafatan ulama”. Beliau banyak meninggalkan teladan yang patut untuk kita contoh, beliau meninggalkan kebaikan yang layak untuk dikenang, dan beliau meninggalkan warisan publik yang patut untuk diikuti. Kini, tidak terasa setahun sudah beliau meninggalkan kita semua. Bagi mereka yang pernah dekat dan berhubungan beliau tentu memiliki kesan dan kenangan tersendiri.
Dilahirkan di “bumi ulama”, Martapura pada 27 Muharram 1361 H (11 Februari 1942) dengan nama kecil Qushairi, kemudian berganti menjadi Muhammad Zaini dan populer dengan sebutan Guru Sekumpul, Al-Allimul Fadhil K.H.Muhammad Zaini bin Abdul Ghani adalah sosok kharismatik. Kehadiran beliau di bumi Kalimantan telah memberikan warna dan cahaya terang terhadap pengembangan dakwah dan syiar Islam, yang gemanya tidak hanya bergaung di banua, akan tetapi sampai ke berbagai daerah di Indonesia. Dengan ilmu dan amal yang telah ditebarkannya, kharisma dan keharuman Guru Sekumpul seakan ber-emanasi dan menyentuh hati ribuan jamaah yang menghadiri pengajiannya. Jamaahnya yang datang dari berbagai kota di Kalimantan Selatan saban pengajian dilaksanakan, rela untuk berdesakan guna menyauk ilmu yang terus mengalir di Komplek Ar-Raudhah Sekumpul.
Setiap orang mengidolakan beliau, dan para ibu pun ingin kasindiran, agar anak yang dikandungnya kelak jika sudah besar akan menjadi seperti beliau. Para pejabat tinggi bersilaturrahmi, bertamu, dan meminta doa restu untuk kelancaran melaksanakan tugas selaku aparatur pemerintahan yang diamanahkan. Ada pula yang meminta restu agar mendapat kedudukan yang diinginkan. Bisa bertemu dan berdialog langsung dengan beliau adalah anugerah, apalagi bisa bersalaman, dan berfoto bersama, sehingga banyak (dan mungkin) setiap orang berhajat untuk bertemu, bersalaman, dan berfoto dengan beliau.
Kharisma ilmu dan amal beliau begitu memancar, beliau adalah seorang ulama yang menghimpun antara syariat, tarekat, dan hakikat, dan satu-satunya ulama yang mendapat izin untuk mengijazahkan tarekat Sammaniyah. Namun demikian, ada pula sebagian kecil orang yang tidak senang dengan dakwah dan apa yang telah beliau lakukan, karena berbagai alasan.
Pengetahuan penulis sendiri terhadap sosok Guru Sekumpul dimulai ketika pertama kali memasuki kota para ulama (Martapura) ini di tahun 1985, untuk meneruskan pendidikan setelah menamatkan sekolah dasar dan Arabic School di salah satu kampung di kota Rantau (Kabupaten Tapin). Waktu itu Guru Sekumpul masih berdiam di Keraton dan belum begitu dikenal luas oleh masyarakat Kalimantan. Satu hal yang selalu penulis ingat dari beliau adalah sikap istiqomah yang beliau miliki. Sebagai contoh, ini terlihat dari posisi dan tempat beliau shalat saban Jumat di masjid Al-Karomah Martapura. Beliau selalu mengambil posisi tengah-tengah bagian sebelah kanan masjid, sehingga jamaah yang hafal dengan kebiasaan beliau pun selalu sedia untuk menunggu dan menyambut kedatangan beliau.
Jejak emas perjuangan dakwah dan syiar Islam dari nenek moyang beliau, ulama besar Banjar, Matahari Islam Kalimantan, Syekh Muhammad Arsyad al-Banjari telah pula mewarnai pola, strategi, dan model dakwah yang dilaksanakan oleh Guru Sekumpul, antara lain:
Pertama membuka wilayah pusat pengajian Islam. Semula beliau membuka pengajian kecil-kecilan di Keraton. Bibit pengajian ini terus tersemai dan berkembang pesat, sehingga intensitas perkembangan dakwah beliau dimulai ketika beliau hijrah dari Keraton ke Sekumpul. Sekumpul yang semula merupakan daerah ‘rawan’ dalam waktu singkat secara drastis berubah dan menjadi daerah madinatul ‘ilmu dan dakwah Islam, bahkan kemudian Sekumpul juga menjadi daerah pemukiman yang ramai, seiring dengan kedatangan Guru Sekumpul. Daerah ini kemudian ditata dengan baik dan menjadi semacam daerah percontohan, dalam hal kebersihan, pemberdayaan dan pengembangan masyarakat. Karena itu jika kita melihat bagaimana pembukaan wilayah Sekumpul kita akan teringat pula ratusan masa yang silam, bagaimana kegigihan Syekh Muhammad Arsyad al-Banjari dalam merintis pembukaan daerah Dalam Pagar menjadi pusat dan kawah candradimuka kader-kader Islam yang siap memperjuangkan Islam
Kedua, menulis risalah. Antara lain risalah yang pernah beliau tulis adalah Risalah Mubarakah, Manaqib Syekh as-Sayyid Muhammad Samman bin Abdul Karim al-Qadiri al-Hasani as-Samman al-Madani, Ar-Risalatun Nuraniyah fi Syarhit Tawasulatis Sammaniyah, dan Nubzatun min Manaqibil Imamil Masyhur bil-Ustadzil A’zham Muhammad bin Ali Ba’alawy.
Ketiga, akhlak yang baik dan uswatun hasanah. Beliau dikenal sebagai seorang ulama yang lemah lembut, kasih sayang kepada setiap orang, ramah-tamah, tidak pemarah, serta pemurah.
Guru Sekumpul adalah generasi emas ketujuh dari Syekh Muhammad Arsyad al-Banjari yang berhasil meneruskan tradisi ulama besar dalam sebuah model, yang saya namakan “keislaman, kedakwahan, dan kebangunan masyarakat” (utamanya masyarakat Islam Kalimantan) yang akan selalu dikenang.
Saya teringat catatan dari Ustadz H. M. Irsyad Zein (Dalam Pagar Martapura) berkenaan dengan Manaqib Guru Sekumpul yang telah beliau ijazahkan sebelum keberangkatan saya ke Malaysia-Kedah (Juli 2006), ketika saya berkunjung dan bersilaturrahmi ke rumah beliau di Dalam Pagar Martapura. Menurut beliau, di antara pesan-pesan yang sering disampaikan oleh Guru Sekumpul dalam pengajian di komplek ar-Raudhah adalah: jangan bakhil, jangan tertipu dengan karamah, dan kaji gawi, yakni sinerginya antara ilmu yang dituntut dengan amal yang dilaksanakan. Kemudian selebaran yang juga telah beredar secara luas di tengah-tengah masyarakat kita dinyatakan pula ada 11 wasiat (pesan) Guru Sekumpul, yakni: menghormati ulama dan orang tua, baik sangka terhadap Muslimin, murah hati, murah harta, manis muka, jangan menyakiti orang lain, memaafkan kesalahan orang lain, jangan bermusuh-musuhan, jangan tamak/serakah, berpegang kepada Allah pada kabul segala hajat, dan yakin keselamatan itu pada kebenaran. Versi lain menyatakan ada 13, dua tambahan dari wasiat dimaksud adalah: jangan merasa lebih baik daripada orang lain dan tiap-tiap orang iri dengki atau adu-asah jangan dilayani serahkan saja pada Allah Swt.
Demikianlah, hal terpenting bagi kita dalam mengenang kewafatan guru yang kita cintai adalah mengingat petuah dan nasihatnya, mengamalkan ilmu dan pengajarannya, serta mengikuti teladan kebaikan yang telah ditinggalkannya. “Semoga Allah Swt senantiasa mencurahkan rahmat, kasih sayang, dan ampunan-Nya kepada beliau dan kepada kita semua”. Amin.
(diambil dari situs Rumah Banjar)

Masjid Istiqomah Sungai Banar (1)
Lahirkan Ulama-ulama Kondang
SEBUAH beduk tua dari kulit lembu masih tersimpan utuh di bagian pojok teras Masjid Sungai Banar. Dari catatan berupa pahatan pada tabuh itulah diketahui masjid tua itu didirikan tahun 1804 masehi atau 1218 hijriah.

Masjid inipun dinyatakan sebagai masjid pertama yang didirikan di Kabupaten HSU. Dari pembangunan masjid inilah syiar agama Islam kemudian berkembang pesat dan menjadi pusat pengajian di daerah hulu sungai.

Masjid Istiqomah Sungai Banar di Desa Unjung Murung Kecamatan Amuntai Selatan, berada di tepi Sungai Nagara, sebelah kiri jalan raya menuju Alabio, sekitar 3 km dari Ibukota Kabupaten HSU.

Sungai Banar sendiri adalah sungai kecil yang bermuara ke sungai Nagara sekitar 10 meter sebelah hulu masjid. Hingga sekarang masjid ini dijadikan salah satu cagar budaya yang dilindungi.

Sejumlah ulama terkenal lahir dari pusat kegiatan mengaji di masjid itu. Sebut saja almarhum tuan guru H Abdul Qadir dan murid-muridnya antara lain H Ahmad Hasan, HM Janawi dari Amuntai, H Jamaluddin dari Nagara, HM Nawawi, HM Mukeri dan H Zamzam dari HST.

Selain pusat pengajian, dimasa penjajahan masjid ini bahkan dijadikan markas ‘tentara gaib’. Selain sebagai tempat ibadah juga untuk membicarakan strategi melawan penjajah Belanda.

Menurut buku berjudul “200 tahun Masjid Istiqomah Sungai Banar” yang ditulis H Abidin— seorang pengurus masjid selama 30 tahun-masjid ini dibangun secara gotong royong oleh warga setempat, atas rekomendasi ulama besar Kalsel pengarang kitab Sabilal Muhtadin yang terkenal, yakni Syekh Muhammad Arsyad Al Banjari (1710-1812M)(hanani Bpost)

ISLAM DALAM MASYARAKAT BANJAR
Oleh : H. Alfani Daud
Pengajar Fakultas Ushuluddin IAIN Antasari
I. PENDAHULUAN
SUKU bangsa Banjar ialah penduduk asli sebagian wilayah Propinsi Kalimantan Selatan, yaitu selain Kabupaten Kota Baru. Mereka itu diduga berintikan penduduk asal Sumatera atau daerah sekitarnya, yang membangun tanah air baru di kawasan ini sekitar lebih dari seribu tahun yang lalu. Setelah berlalu masa yang lama sekali akhirnya, setelah bercampur dengan penduduk yang lebih asli, yang biasanya dinamakan secara umum sebagai suku Dayak, dan dengan imigran-imigran yang berdatangan belakangan, terbentuklah setidak-tidaknya tiga subsuku, yaitu (Banjar) Pahuluan, (Banjar) Batang Banyu dan Banjar (Kuala). Orang Pahuluan pada asasnya ialah penduduk daerah lembah sungai-sungai (cabang sungai Negara) yang berhulu ke Pegunungan Meratus, orang Batang Banyu mendiami lembah sungai Negara, sedangkan orang Banjar (Kuala) mendiami daerah sekitar Banjarmasin (dan Martapura). Bahasa yang mereka kembangkan dinamakan bahasa Banjar, yang pada asasnya ialah bahasa Melayu, sama halnya seperti ketika berada di daerah asalnya di Sumatera atau sekitarnya, yang di dalamnya terdapat banyak sekali kosa kata asal Dayak dan asal Jawa.

Nama Banjar diperoleh karena mereka dahulu, sebelum dihapuskan pada tahun 1860, adalah warga Kesultanan Banjarmasin atau disingkat Banjar, sesuai dengan nama ibu-kotanya pada mula berdirinya. Ketika ibukota dipindahkan arah ke pedalaman, terakhir di Martapura, nama tersebut nampaknya sudah baku atau tidak berubah lagi. Orang Banjar memeluk agama Islam dan, seperti ternyata dalam uraian selanjutnya, tergolong taat men-jalankan perintah agamanya.

Dalam uraian berikut ini diikhtisarkan gambaran tentang wujud agama Islam dalam masyarakat Banjar. Yaitu bentuk-bentuk kepercayaan dan bentuk-bentuk kelakuan yang merupakan ungkapan rasa keagamaan mereka, serta faham yang mereka anut tentang keselamatan manusia. Yang terakhir ini ialah bukan saja gagasan-gagasan tentang apa yang harus dilakukan agar selamat dalam kehidupan sesudah mati kelak, melainkan juga gagasan-gagasan untuk menatap hidup masa yang akan datang di dunia ini juga. Gagasan-gagasan tentang kepercayaan dan tentang keselamatan manusia ini tentu sangat erat berkaitan dengan pengalaman masyarakat Banjar pada masa lampau. Oleh karena itu, sebelum sampai pada isi pokok karangan ini, dibicarakan juga tentang organisasi masyarakat, khususnya dalam zaman yang lampau, dan proses islamisasi yang dialami mereka, yang telah ikut mewarnai kepercayaan yang dianut mereka. Di dalam seksi yang disebut terakhir ini akan dikemukakan apa yang sebenarnya terjadi, sampai akhirnya Islam menjadi identitas masyarakat Banjar, serta perkembangan keislaman mereka kemudian.

Organisasi Masyarakat
SUKU bangsa Melayu, yang menjadi inti masyarakat Banjar, memasuki daerah ini, ketika dataran dan rawa-rawa yang luas yang saat ini membentuk bagian besar Propinsi Kalimantan Selatan dan Propinsi Kalimantan Tengah masih merupakan teluk raksasa yang jauh menjorok ke pedalaman. Sukubangsa Melayu itu, dengan melalui laut Jawa, memasuki teluk raksasa tersebut, lalu memudiki sungai-sungai yang bermuara ke sana, dan yang belakangan menjadi cabang-cabang sungai Negara, yang semuanya berhulu di kaki Pegunungan Meratus. Mereka tentu menjumpai penduduk yang lebih asli, yaitu suku Dayak Bukit, yang dahulu diperkirakan mendiami lembah-lembah sungai yang sama. Dengan memperhatikan bahasa yang dikembangkannya, suku Dayak Bukit adalah satu asal usul dengan cikal bakal suku-bangsa Banjar, yaitu sama-sama berasal dari Sumatera atau sekitarnya, tetapi mereka lebih dahulu menetap. Kedua kelompok masyarakat asal Melayu ini memang hidup bertetangga tetapi, setidak-tidaknya pada masa permulaan, pada asasnya tidak berbaur. Jadi, meski pun kelompok suku Banjar (baca: Pahuluan) membangun pemukiman di suatu tempat, yang mungkin tidak terlalu jauh letaknya dari balai suku Dayak Bukit, namun masing-masing merupakan kelompok yang berdiri sendiri. Untuk kepentingan keamanan dan atau karena memang ada ikatan kekerabatan, cikal bakal suku Banjar membentuk komplek pemukiman tersendiri. Komplek pemukiman cikal bakal suku Banjar (Pahuluan) yang pertama ini merupakan komplek pemukiman bubuhan, yang pada mulanya terdiri dari seorang tokoh yang berwibawa sebagai kepalanya, dan warga kerabatnya, dan mungkin ditambah dengan keluarga-keluarga lain yang bergabung dengannya. Model yang sama atau hampir sama juga ada pada masyarakat balai di kalangan masyarakat Dayak Bukit, yang pada asasnya masih berlaku sampai sekarang. Daerah lembah sungai-sungai yang berhulu di Pegunungan Meratus ini nampaknya wilayah pemukiman pertama masyarakat Banjar, dan di daerah inilah konsentrasi penduduk yang banyak sejak zaman kuno, dan daerah ini pulalah yang kemudian dinamakan Pahuluan.

Apa yang dikemukakan di atas menggambarkan terbentuknya masyarakat (Banjar) Pahuluan, yang tentu saja dengan kemungkinan adanya unsur Dayak Bukit ikut membentuknya. Masyarakat Batang Banyu terbentuk diduga erat sekali berkaitan dengan terbentuknya pusat kekuasaan yang meliputi seluruh wilayah Banjar, yang barangkali terbentuk mula pertama di hulu sungai Negara atau cabangnya yaitu sungai Tabalung. Selaku warga yang berdiam di ibukota tentu merupakan kebanggaan tersendiri, se-hingga menjadi kelompok penduduk yang terpisah. Daerah tepi sungai Tabalung adalah merupakan tempat tinggal tradisional dari suku Dayak Manyan (dan Lawangan), sehingga diduga banyak yang ikut serta membentuk subsuku Batang Banyu, di samping tentu saja orang-orang asal Pahuluan yang pindah ke sana dan para pendatang yang datang dari luar. Bila di Pahuluan umumnya orang hidup dari bertani, maka banyak di antara penduduk Batang Banyu yang bermata pencaharian sebagai pedagang dan pengrajin.

Ketika pusat kerajaan dipindahkan ke Banjarmasin (terbentuknya Kesultanan Banjar), sebagian warga Batang Banyu (dibawa) pindah ke pusat kekuasaan yang baru ini, dan dengan demikian terbentuklah subsuku Banjar. Di kawasan ini mereka berjumpa dengan suku Dayak Ngaju yang, seperti halnya dengan masyarakat Dayak Bukit dan masyarakat Dayak Manyan atau Lawangan, banyak di antara mereka yang akhirnya melebur ke dalam masyarakat Banjar, setelah mereka memeluk agama Islam, atau berimigrasi ke tempat-tempat lain, khususnya ke sebelah barat sungai Barito. Mereka yang bertempat tinggal di sekitar ibukota kesultanan inilah sebenarnya yang dinamakan atau menamakan dirinya orang Banjar, sedangkan masyarakat Pahuluan dan masyarakat Batang Banyu biasa menyebut dirinya sebagai orang (asal dari) kota-kota kuno yang terkemuka dahulu. Tetapi bila berada di luar Tanah Banjar, mereka itu tanpa kecuali mengaku sebagai orang Banjar.

Berkali-kali kita menyebut bubuhan. Bubuhan adalah merupakan kelompok kekerabatan ambilinial: seseorang menjadi warga masyarakat bubuhan karena ia masih se-keturunan dengan mereka, dari pihak ibu saja atau dari pihak ayah saja, mau pun kedua-duanya, dan menetap dalam lingkungan bubuhan tersebut. Seseorang dapat masuk menjadi warga kelompok apabila ia kawin dengan salah seorang warga dan menetap dalam lingkungan pemukiman mereka. Hal yang sama masih terjadi di kalangan masyarakat Bukit sampai setidak-tidaknya belum lama berselang. Kelompok bubuhan dipimpin oleh seorang warganya yang berwibawa. Sama halnya dengan masyarakat balai saat ini, kepala bubuhan, yang pada masa kesultanan sering disebut sebagai asli, berfungsi sebagai tokoh yang berwibawa, sebagai tabib, sebagai kepala pemerintahan dan mewakili bubuhan bila berhubungan dengan pihak luar, sama halnya seperti seorang kepala balai, yang biasanya selalu seorang balian bagi masyarakat Bukit sampai belum lama ini. Ketika terbentuk pusat kekuasaan, kelompok masyarakat bubuhan diintegrasikan ke dalamnya: kewibawaan kepala bubuhan terhadap warganya diakui. Biasanya sebuah kelompok bubuhan membentuk sebuah anakkampung, gabungan beberapa masyarakat bubuhan membentuk sebuah kampung, dan salah seorang kepala bubuhan yang paling berwibawa diakui sebagai kepala kampung itu. Untuk mengkoordinasikan beberapa buah kampung ditetapkan seorang lurah, suatu jabatan kesultanan di daerah, yaitu biasanya seorang kepala bubuhan yang paling berwibawa pula. Beberapa orang lurah dikoordinasikan oleh seorang lalawangan, suatu jabatan yang mungkin dapat disamakan dengan jabatan bupati di Jawa pada kurun waktu yang sama. Dengan sendirinya seseorang yang menduduki jabatan formal sebagai mantri atau penghulu merupakan tokoh pula di dalam lingkungan bubuhannya.

Dengan demikian dapat kita nyatakan bahwa sistem pemerintahan pada masa kesultanan, dan mungkin juga regim-regim sebelumnya, diatur secara hierarkis sebagai pemerintahan bubuhan. Di tingkat pusat yang berkuasa ialah bubuhan raja-raja, yang terdiri dari sultan beserta kerabatnya ditambah dengan pembesar-pembesar kerajaan (baca: mantri-mantri). Pada tingkat daerah memerintah tokoh-tokoh bubuhan, mulai dari lurah-lurah, yang dikoordinasikan oleh seorang lalawangan, berikutnya ialah kepala-kepala kampung, yang adalah seorang tokoh bubuhan, semuanya yang paling berwibawa di dalam lingkungannya, dan membawahi beberapa kelompok bubuhan rakyat jelata pada tingkat paling bawah. Peranan bubuhan ini sangat dominan pada zaman sultan-sultan, dan masih sangat kuat pada permulaan pemerintahan Hindia Belanda. Belakangan memang dilakukan perombakan-perombakan; jabatan kepala pemerintahan di atas desa (kampung) tidak lagi ditentukan oleh keturunan, melainkan melalui pendi-dikan, dan ini terjadi sekitar permulaan abad ke-20, tetapi di tingkat desa peranan bubuhan masih kuat sampai belum lama berselang. Kenyataan tokoh bubuhan tidak lagi menduduki jabatan tinggi membawa pengaruh pada wibawa bubuhan tersebut terhadap masyarakat-masyarakat bubuhan selebihnya.

Saat ini dominasi bubuhan sebagai kelompok kekerabatan sudah sangat lemah, tetapi masih terasa dan sewaktu-waktu masih muncul ke permukaan. Konsep bubuhan akhirnya difahami sebagai suatu lingkungan sosial sendiri, yang berbeda dengan lingkungan sosial lainnya. Demikianlah kita sering mendengar ungkapan bubuhan Kandangan, bubuhan SMP Negeri Pantai Hambawang, bubuhan kami (kelompok kami) atau bubuhan kita (kelompok kita) dan bubuhan ikam (kelompok kamu), bubuhannya (dalam arti kawan-kawan lainnya).

Kenyataan tentang dominasi bubuhan terhadap bubuhan lainnya dan dominasi tokoh bubuhan terhadap warga selebihnya ikut mewarnai keislaman masyarakat Banjar, yang bekas-bekasnya masih dapat ditemukan sampai sekarang.

Proses Islamisasi
SANGAT mungkin sekali pemeluk Islam sudah ada sebelumnya di sekitar keraton yang dibangun di Banjarmasin, tetapi pengislaman secara massal diduga terjadi setelah raja, Pangeran Samudera yang kemudian dilantik menjadi Sultan Suriansyah, memeluk Islam diikuti warga kerabatnya, yaitu bubuhan raja-raja. Perilaku raja ini diikuti oleh elit ibukota, masing-masing disertai kelompok bubuhannya, dan oleh elit daerah, juga diikuti warga bubuhannya, dan demikianlah seterusnya sampai kepada bubuhan rakyat jelata di tingkat paling bawah.

Dengan masuk Islamnya para bubuhan, kelompok demi kelompok, maka dalam waktu relatif singkat Islam akhirnya telah menjadi identitas orang Banjar dan merupakan cirinya yang pokok, meski pun pada mulanya ketaatan menjalankan ajaran Islam tidak merata. Dapat dikatakan bahwa pada tahap permulaan berkembangnya Islam tersebut, kebudayaan Banjar telah memberikan bingkai dan Islam telah terintegrasikan ke dalamnya: dengan masuk Islamnya bubuhan secara berkelompok, kepercayaan Islam diterima sebagai bagian dari kepercayaan bubuhan. Tidak heran bila ketika itu ungkapan keislaman secara berkelompok lebih dominan dibandingkan ibadah perseorangan umpamanya. Namun orang Banjar berusaha belajar mendalami ajaran agamanya serentak ada kesempatan untuk itu, sehingga akhirnya orang Banjar secara relatif dapat digolongkan orang yang taat menjalankan agamanya, seperti halnya sekarang.

Intensitas keberagamaan masyarakat Banjar meningkat tajam setelah Syekh Arsyad al-Banjari kembali dari mengaji di tanah Arab dan membuka pengajian di Dalam Pagar, sebuah perkampungan yang dibangunnya di atas tanah perwatasan yang dihadiahkan oleh sultan kepadanya, terletak sekitar lima kilo meter dari keraton. Murid-muridnya kemudian membuka pengajian pula di tempatnya masing-masing, yang antara lain adalah keturunannya sendiri, seakan-akan merupakan perwjudan dari hasil munajatnya kepada Tuhan agar dikaruniai ilmu keagamaan sampai tujuh keturunan (“alim tujuh turunan”). Salah sebuah kitab yang dianggap sebagai perwujudan ajaran-ajaran Syekh, terkenal sebagai kitab perukunan, menjadi pegangan umat di kawasan ini selama lebih dari satu abad. Ceritera rakyat menggambarkan bahwa kitab perukunan sebenarnya ialah hasil catatan salah seorang cucu perempuan Syekh yang cerdas ketika mengikuti pengajian khusus wanita yang diberikan oleh Syekh, dan kemudian dicetak dan diakukan sebagai dikarang oleh mufti Jamaluddin, salah seorang anak Syekh. Kitab ini, menurut penulis, belakangan ditambah dan disempurnakan, dan dinamakan Perukunan Besar atau Perukunan Melayu, yang dicetak sebagai dikarang oleh Haji Abdur-rasyid Banjar. Selain peningkatan pengamalan sehari-hari ajaran Islam, Syekh juga berhasil menegaskan peran tokoh agama dalam pemerintahan sebagai kadi dan mufti. Syekh juga berhasil membentuk pengadilan agama, yang tersebar di daerah-daerah dan terus berlanjut sampai lebih dari seratus tahun sesudah meninggalnya. Pada tahun 1835 Sultan Adam (meninggal 1857), melalui kitab hukum yang dinamakan Undang-Undang Sultan Adam, memerintahkan warganya agar membangun langgar dan mengisinya dengan kegiatan-kegiatan ibadah bersama yang, barangkali, merupakan asal muasal orang Banjar gemar membangun langgar.

Kenyataan bahwa bubuhan memeluk Islam secara berkelompok telah memberikan warna pada keislaman masyarakat di kawasan ini, yaitu pada asasnya diintegrasikannya kepercayaan Islam ke dalam kepercayaan bubuhan, yaitu kepercayaan yang dianut oleh warga bubuhan.

II. KEPERCAYAAN
BERIKUT ini kepercayaan yang dianut masyarakat Banjar, yang dipilah menjadi kepercayaan asal ajaran Islam dan kepercayaan asal kebudayaan lokal. Sebenarnya sulit untuk memilah, karena kepercayaan-kepercayaan yang nampaknya bersifat lokal, namun unsur-unsur Islamnya ditemukan juga; demikian pula kepercayaan-kepercayaan yang jelas-jelas bersumber dari ajaran Islam, tetapi mengandung unsur-unsur yang tidak dapat diketahui sumbernya. Yang pertama, umpamanya, tentang kepercayaan terhadap wali lokal, yang kuburannya menjadi sasaran ziarah, selalu ada ceritera tentang suara orang membaca tahlil di sekitar kuburan itu, yang tidak diketahui sumbernya. Yang kedua, umpamanya, tentang malaikat yang dapat dijadikan sahabat gaib.

Kepercayaan Islam

ORANG Banjar meyakini sepenuhnya keenam rukun iman, dan melaksanakan dengan rajin kelima rukun Islam. Orang Banjar percaya bahwa tidak ada Tuhan selain Allah, dan bahwa Allahlah yang menciptakan alam dan seluruh isinya, termasuk makhluk-makhluk halus. Allah Maha Kuasa dan Maha Mengetahui, menciptakan segala sesuatu dari tidak ada menjadi ada dan sanggup pula menjadikannya dari ada menjadi tidak ada. Sesuai dengan kemahatahuanNya ini, orang Banjar juga percaya bahwa Allah telah menentukan segala sesuatu sejak semula (azali), tetapi rincian tentang kepercayaan kepada takdir ini tidak berhasil diungkapkan.

Orang Banjar percaya tidak lama setelah kuburannya ditimbuni kembali, Allah mengembalikan ruh kepada si mati, yang segera menyadari tentang kematiannya, dan ia juga mendengar petuah-petuah yang diberikan dalam talkin. Tidak lama setelah itu dua orang malaikat datang menanyainya tentang agamanya dan akan menyiksanya bila jawabannya tidak benar atau tidak memuaskan. Pada hari kiamat nanti semua orang akan dibangkitkan dari kuburnya dan dihalau ke padang mahsyar untuk ditimbang amal baik dan amal buruknya. Buku berisi catatan amal baik dan amal buruk, hasil karya malaikat tertentu, diperlihatkan, dan masing-masing tidak dapat berkelit atau membantah isi buku amalnya, karena setiap anggota tubuh yang digunakan untuk berbuat buruk akan menjadi saksi. Setelah penimbangan amal, semua orang, dengan melalui sebuah titian yang lebih halus dari sehelai rambut dan lebih tajam dari sembilu, melewati lautan api menuju ke surga. Mereka yang telah tamat mengaji al-Qur’an dapat menumpang sebuah kapal, jelmaan kitab al-Qur’an, ketika menyeberang tersebut. Tergantung amal perbuatannya sewaktu hidup di dunia, seseorang melewati lautan api tersebut seperti kilat, yang lain agak lambat, sangat lambat, tertatih-tatih, bahkan ada yang jatuh. Orang-orang muslim yang berat amal buruknya lebih dibanding amal baik-nya akan dimasukkan ke dalam neraka guna menebus dosa-dosanya, sebelum akhirnya dimasukkan ke dalam surga menyusul para muslim yang taat yang telah lebih dahulu berada di sana.

Umumnya orang Banjar hafal di luar kepala nama-nama ke 25 rasul yang penting, meski pun kadang-kadang lupa ketika merincinya. Berkenaan dengan Nabi Muhammad semua orang hafal nama kedua orang tuanya, isteri-isterinya dan anak-anaknya, meski pun dua yang terakhir ini barangkali tidak semuanya, dan nama beberapa sahabatnya. Syafaat_ Nabi Muhammad sangat diharapkan pada hari kiamat nanti, yang akan meringankan azab, yang tidak mungkin diberikan oleh nabi yang lain. Nabi Muhammad mempunyai sebuah telaga tempat umatnya memuaskan dahaga pada teriknya hari kiamat di padang mahsyar kelak. Seksi berikutnya akan mengemukakan anggapan orang Banjar tentang (anak) Nabi Sulaiman dan Nabi Khaidir.

Malaikat diciptakan Allah dari cahaya (nur) dengan tugas-tugas tertentu, antara lain menyampaikan wahyu, mencabut nyawa, mencatat amal perbuatan manusia, menanyai setiap manusia di dalam kuburnya, dan menjadi penguasa surga dan neraka. Orang Banjar, setidak-tidaknya sebagian, percaya bahwa ada malaikat yang bertugas khusus untuk memelihara kemurnian al-Qur’an dan yang lain berfungsi untuk menyebarkan rahmat.

Orang Banjar yakin bahwa Allah telah menurunkan kitab-kitab suci guna menunjang rasul-rasulnya dalam menjalankan misi risalahnya masing-masing, yaitu Taurat (kepada Nabi Musa), Zabur (kepada Nabi Daud), Injil (kepada Nabi Isa) dan, yang terakhir al-Qur’an (kepada Nabi Muhammad). Selain dari pada itu juga Allah menurunkan lembaran-lembaran kecil (di lapangan orang menyebut sahifah) kepada Nabi Ibrahim, Nabi Musa dan Nabi Syis. Berkenaan dengan kitab al-Qur’an, mereka yakin masih banyak rahasia yang terkandung di dalamnya yang belum terungkapkan, baik bersangkutan dengan amalan-amalan bacaan yang berguna bagi kehidupan di dunia mau pun di akhirat, atau pun kegunaan lainnya.

Meski pun tidak termasuk unsur dalam rukun iman, di dalam ajaran Islam termasuk juga kepercayaan tentang wali, orang yang kedudukannya istimewa di sisi Tuhan. Di kalangan masyarakat Banjar wali (lokal) nampaknya ialah manusia keramat, orang suci, dan kuburannya menjadi sasaran ziarah. Sasaran ziarah lainnya ialah mesjid-mesjid keramat dan situs candi Agung.

Kepercayaan eks Kebudayaan Lokal
KEPERCAYAAN eks kebudayaan lokal yang mewarnai keislaman masyarakat Banjar pada hakekatnya mengandung paham tentang keunggulan kelompok kerabat bubuhan dan tokoh tertentu mereka dibandingkan dengan bubuhan lain atau warga selebihnya. Kewibawaan tokoh-tokoh ini berlanjut terus setelah mereka meninggal dunia, sehingga akhirnya dimitoskan menjadi tokoh di dunia gaib yang berfungsi menjaga keseimbangan kosmos dan memelihara adat istiadat. Demikianlah, selain malaikat (jin, iblis dan setan), yang bersumber dari ajaran Islam, orang Banjar juga percaya pada makhluk-makhluk halus lain, yang asal jelmaan manusia dan yang memang seasalnya makhluk halus. Semua makhluk halus tersebut dipercayai sebagai makhluk ciptaan Tuhan pula seperti halnya manusia. Makhluk-makhluk halus tersebut ialah orang-orang gaib, yang asal cikal bakal raja-raja Banjar yang wapat. Atau makhluk halus yang menghuni hutan dan danau atau rawa tertentu yang asal nenek moyang bubuhan tertentu yang biasa dipanggil datu, yang dapat diduga asal tokoh yang menyingkir ke tempat tersebut dan menetap disana. Makhluk halus lainnya ialah berbagai makhluk bawah air, yaitu naga, tambun, dan buaya, ketiganya yang asal jelmaan nenek moyang. Selain tokoh nenek moyang yang wapat, ada pula kelompok bubuhan tertentu yang yakin bahwa sepasang moyangnya dahulu telah menjelma menjadi naga dan seterusnya hidup sebagai makhluk bawah air itu sampai saat ini.

Makhluk halus lainnya ialah macan dan tabuan, keduanya yang gaib, yang dikonsepsikan hidup di gunung, dan buaya gaib yang hidup di dalam air. Macan dan buaya konon di dalam lingkungannya hidup bermasyarakat seperti halnya manusia, dan di antaranya ada yang dapat menyaru dan dengan demikian bergaul dengan manusia lainnya, yang dapat dikenali dengan tanda-tanda fisik yang berbeda (antara lain tangan dan kaki yang relatif lebih pendek, dan tiadanya lekukan pada bibir atasnya). Makhluk halus lainnya ialah yang dikonsepsikan sebagai mengganggu atau mendatangkan penyakit atau dapat disuruh dukun menyebabkan sakit: kuyang, hantu beranak, hantu sawan, hantu karungkup, hantu pulasit. Dan makhluk halus (hantu) yang dikonsepsikan sebagai jelmaan manusia yang telah mati, karena mengaji ilmu yang salah atau karena meminum salah satu minyak sakti agar kaya, kebal (taguh) atau kuat perkasa (gancang). Bayi dilahirkan bersama-sama dengan saudara-saudaranya, yang semuanya gaib, yaitu biasanya berupa personifikasi dari benda-benda yang menyertainya ketika lahir.

Selain itu di dalam kosmologi orang Banjar termasuk juga alam yang tidak kelihatan, alam gaib, antara lain, sebagai tempat makhluk-makhluk halus hidup bermasyarakat. Nampaknya dunia ini bagi orang Banjar relatif atau tumpang tindih, sebab mungkin saja hutan rawa, semak belukar atau pokok kayu tertentu sebenarnya di dalam dunia gaib ialah kota, perkampungan, atau gedung megah milik orang gaib. Dunia gaib di balik apa yang nampak ini di kalangan tertentu disebut sebagai bumi lamah (harpiah: bumi lemah). Juga ada istilah bumi rata untuk dunia gaib berupa gua-gua di gunung-gunung batu, yaitu tempat pemukiman masyarakat macan gaib. Istilah yang pertama agak luas penyebarannya, sedangkan yang kedua lebih terbatas. Sebenarnya ada dunia gaib lain lagi, yaitu dunia para buaya yang terletak di bawah permukaan sungai, yang tidak penulis ketahui namanya.

Keterampilan atau kelebihan, bahkan juga kewibawaan, yang dimiliki seseorang konon bukan semata-mata diperoleh dengan belajar, melainkan dapat pula terjadi berkat kekuatan gaib yang ada pada dirinya, karena ilmu gaib yang diwarisinya, atau karena adanya makhluk gaib yang menopangnya. Selain itu orang yang mempunyai keterampilan khusus atau mempunyai keistimewaan dibandingkan orang lain (seniman wayang, seniman topeng, ulama, tokoh berwibawa di kalangan bubuhan) dianggap mempunyai potensi untuk mengobati; hal ini nampaknya ada kaitannya dengan kekuatan gaib yang diduga ada padanya atau adanya makhluk gaib yang menopangnya. Selain itu berkembang anggapan bahwa bila ada 40 orang dalam suatu majelis doa atau majelis sembahyang jenazah, pasti termasuk di dalamnya orang yang saleh_, yang doa-nya atau pun kutuknya sangat makbul.

Orang Banjar percaya bahwa berbagai benda, termasuk binatang atau tumbuh-tumbuh-an dan bacaan tertentu mempunyai khasiat atau kegunaan tertentu, yang penulis istilahkan sebagai tuah. Demikian pula orang, binatang atau tumbuh-tumbuhan dan mungkin juga benda-benda lain mempunyai diri yang lain yang penulis istilahkan sebagai semangat dan di lapangan diistilahkan sebagai sumangat, ngaran (nama), raja (raja), dan ngaran raja. Tentang tuah dan semangat ini lihat uraian berikutnya..
III. KELAKUAN RELIGIUS

SUATU kelakuan religius memperjelas dan mengungkapkan kepercayaan religi, berfungsi mengkomunikasikannya ke dunia luar dan merupakan perwujudan dari usaha para warga komunitas untuk berkomunikasi dengan Tuhan atau makhluk-makhluk halus yang menjadi isi kepercayaan. Di samping itu kelakuan ritual atau seremonial tertentu berfungsi meningkatkan solidaritas masyarakat pula. Dengan demikian ber-bagai kelakuan religius yang terungkap dalam masyarakat Banjar dapat ditelusuri referensinya asal ajaran Islam atau dapat dikembalikan kepada kepercayaan Islam, dan yang lain dapat dicari asal usulnya dari kepercayaan asal kebudayaan lokal. Kali ini juga kita tidak dapat memilah secara ketat.

Pokok-pokok kewajiban ritual Islam tergambar dalam rukun Islam, yaitu kewajiban sembahyang, puasa, zakat, haji dan mengucapkan kalimat syahadat. Tetapi ungkapan religius umat di kawasan ini meliputi pula berbagai kelakuan kolektif yang bersifat ritual, seremonial atau pengajaran: ibadah bersama di rumah-rumah ibadah, perayaan maulud, perayaan mi’raj, berbagai selamatan, berbagai kelakuan ritual bersangkutan dengan kelahiran, perkawinan dan kematian, dan berbagai bentuk mengaji. Sedangkan wujud kelakuan ritual yang dapat dikembalikan pada kepercayaan asal kebudayaan lokal ialah berbagai bentuk upacara bersaji, berbagai upacara tahap hidup individu, berbagai upacara mandi, berbagai tabu dan keharusan, sering berkenaan dengan pakaian dan perhiasan, keharusan ziarah ke tempat-tempat tertentu, dan tabu membawa makanan tertentu di dalam kendara-an. Namun di dalam kelakuan tersebut sering kali terkandung unsur-unsur yang dapat dikembalikan kepada ajaran Islam.

Kelakuan Islam

ORANG Banjar relatif taat menjalankan agamanya: sembahyang dilakukan dengan teratur, meski pun adakalanya tidak tepat waktunya. Meski pun jelas ada saja orang yang tidak berpuasa dalam bulan Ramadlan, khususnya di kota-kota, tetapi yang jelas tidak ada orang yang secara terbuka memperlihatkan ia tidak berpuasa, dan anak-anak sering diperingatkan agar tidak “mengganggu” orang yang berpuasa dengan cara memakan sesuatu di hadapannya. Zakat juga ditunaikan dengan teratur, di sini khususnya zakat fitrah, zakat padi dan zakat barang-barang yang diperniagakan. Kegairahan untuk menunaikan ibadah haji di kawasan ini mungkin yang terbesar di Indonesia. Dan ada saat-saat tertentu syahadat diucapkan secara formal. Di lapangan diketahui jenis sembahyang tertentu dan syahadat berfungsi pula selaku upaya magis untuk berbagai keperluan tertentu. Selain itu ada saat-saat tertentu orang-orang melakukan ibadah sunat: sembahyang sunat, puasa sunat, sedekah sunat.

Segala ibadah dan doa memang ditujukan kepada Allah dan tidak dapat ditujukan kepada makhlukNya; tidak ada yang dapat mengabulkan doa kecuali Allah. Namun bagi orang Banjar doa yang diucapkan orang saleh dianggap makbul dan restu yang diberikannya dengan melakukan sembahyang hajat sangat bermanfaat. Rezeki, penyakit dan kesembuhan diakui berasal dari Allah, tetapi Allah juga yang menentukan dengan takdirNya sebab atau lantaran untuk itu, yang diluar kemampuannya untuk mengetahuinya. Ini mengharuskan orang berusaha dengan berbagai cara guna mencari sebab bagi terhalangnya rezeki atau guna mencari sumber kesembuhan, termasuk melakukan upacara bersaji atau meminta tolong kepada balian (pemimpin religi suku di Labuhan) atau kepada tabib. Dalam hal mencari kesembuhan ini doa orang saleh sangat bermanfaat.

Keyakinan, bahwa kehidupan sesudah mati tergantung pada amal perbuatannya ketika hidupnya, tidak menghalangi keluarga untuk menyantuni kerabatnya yang telah meninggal. Hal ini akan disinggung kembali dalam seksi berikutnya.

Di kalangan tertentu berkembang anggapan bahwa dengan cara balampah orang dapat menghubungi malaikat atau jin untuk dijadikan muwakkal atau sahabat, dan demikian pula dengan mahluk-mahluk halus lainnya, yaitu orang gaib, macan gaib atau salah satu kembaran kita sendiri sewaktu lahir. Malaikat yang dijadikan sahabat ialah khususnya malaikat pemelihara surah al-Ikhlas dan surah al-Mulk. Sahabat gaib ini akan membantu kita sewaktu-waktu diperlukan dalam berbagai kegiatan di dunia ini.

Perayaan maulud, yaitu peringatan hari lahir Nabi, dirayakan berganti-ganti hampir sepanjang bulan Rabi’ al-Awwal bahkan sampai permulaan bulan berikutnya, oleh hampir semua rumah tangga di Hulu Sungai, dan konon demikian pula halnya dahulu di Martapura. Memperingati maulud dan mi’raj Nabi merupakan kegiatan rumah-rumah ibadah, sekolah-sekolah dan perkumpulan-perkumpulan tertentu. Mengamalkan membaca selawat Nabi Muhammad konon memudahkan memperoleh syafaat beliau pada hari kiamat kelak, dan dapat serta meminum air di telaga beliau di padang mahsyar nanti. Di dalam masyarakat beredar berbagai bentuk selawat dengan kegunaannya masing-masing. Qasidah Burdah, sebuah syair puji-pujian untuk Nabi, diyakini berkhasiat mendinginkan (dinginan), dibaca berulang-ulang sebagai upaya mendinginkan suasana yang memanas dan dibacakan pada air dan airnya digunakan sebagai air keramat untuk mandi.

Nabi Sulaiman dianggap, setidak-tidaknya di kalangan tertentu, sebagai pemilik segala khazanah yang tersimpan dalam perut bumi atau segala sesuatu berkenaan dengan tanah. Di kalangan pendulang intan dan emas berkembang berbagai bacaan agar bisa memaku isi perbendaharaan Nabi Sulaiman di suatu tempat dan kemudian membuka khazanah perbendaharaan tersebut, agar mudah diambil. Bacaan atau mantra yang pertama dinamakan kunci bumi, dan yang sebuah lagi kunci Nabi Sulaiman. Konon mengetahui nama anak Nabi Sulaiman, yang tidak bertangan dan berkaki sehingga “tubuhnya bulat mirip semangka”, berarti bergaul intim dengannya dan, dengan demikian, mudah memperoleh hasil bila mela-kukan usaha berhubungan dengan tanah atau bumi. Nabi Khaidir dianggap sebagai penguasa bawah air, namun tidak nampak ia dipuja dalam fungsinya itu. Tetapi yang jelas ia secara khusus “diundang” ketika bersaji tahunan (aruh tahun) dengan menghidangkan nasi ketan kuning dan nasi ketan putih yang dibentuk seperti gunung, masing-masing dengan telur rebus di atasnya, yang di-anggap sebagai pembuka rezeki, dan (oleh kalangan tertentu “diundang”) ketika akan memulai suatu usaha dan setahun sekali.

Bagi orang Banjar kitab al-Qur’an mengandung rahasia, yang hanya sebagian kecil berhasil diungkapkan. Di lapangan diketahui ada ayat dan surah yang dibaca, diamalkan atau dipakai sebagai jimat agar murah rezeki, mudah memperoleh ilmu pengeta-huan, untuk mendinginkan badan si sakit, agar mudah memperoleh jodoh, atau mem-bebaskan pengamalnya dari siksa api neraka di akhirat kelak. Ayat lain berfungsi men-damaikan suami isteri yang sering bertengkar, memikat jodoh atau sebagai mantra untuk mengail. Kitab surah Yasin berfungsi selaku penangkal terhadap makhluk halus yang biasa mengganggu wanita yang sedang atau baru-baru melahirkan atau bayinya. Tali mubin, yang diperoleh dengan membuhul benang hitam setiap kali sampai pada kata mubin ketika membaca surah Yasin, dijadikan gelang untuk bayi dan berguna sebagai penangkal agar ia tidak sering menangis.

Doa orang banyak sangat bermanfaat, tetapi juga kutukan mereka sangat ditakuti. Jumlah empat puluh orang dewasa atau lebih yang menyembahyangkan dan kemudian mendoakan seorang warga menjelang dikuburkan, meletakkan botol berisi air di atas mimbar pada hari Jum’at dan menggunakannya sebagai air doa, dan orang senantiasa diperingatkan agar jangan sampai banyak orang yang menyebutnya sebagai gila atau nakal. Yang terakhir ini di-katakan bila sampai ada empat puluh orang mengatakan seseorang sebagai gila, orang ter-sebut akan benar-benar gila.

IV. FAHAM KESELAMATAN MANUSIA
ISLAM, seperti juga biasanya agama lainnya, berbicara tentang kehidupan lain sesudah kehidupan di dunia ini dan mengungkapkan apa yang harus diupayakan manusia agar selamat dalam alam akhirat tersebut. Faham tentang keselamatan manusia di kalangan orang Banjar menyangkut berbagai gagasan tentang bagaimana seharusnya sebaiknya hidup di dunia ini, bagaimana seharusnya kelakuan agar selamat dalam kehidupan akhirat kelak, usaha-usaha guna mempengaruhi hidup di dunia dan usaha-usaha mempengaruhi kehidupan lain sesudah mati; yang terakhir ini termasuk yang diupayakan sendiri oleh yang bersangkutan ketika hidupnya dan yang dilakukan oleh kerabat dekatnya sesudah meninggalnya.

Agar selamat hidup di dunia, orang harus memelihara hubungan baik dengan tetangganya, termasuk juga dengan tetangga yang gaib. Bagi kerabat-kerabat tertentu hubungan baik juga harus dipelihara dengan nenek moyang yang gaib atau yang telah menjelma menjadi naga, dan atau dengan makhluk gaib yang menjadi sahabat nenek moyang. Bagi orang Banjar ketidak serasian hubungan dengan tetangga atau masyara-kat atau seretnya rezeki dan terlambatnya mendapat jodoh, mungkin saja ada kaitannya dengan ulah orang gaib, yang tidak senang akan sikapnya. Agar selamat hidup di akhirat, orang harus menjalankan kewajiban agamanya dengan tekun dan teratur dan memelihara hubungan baik dengan tetangga, seperti nampak pada gagasan tentang orang yang dapat diminta untuk melakukan upacara bahilah, sembahyang fiil, puasa fiil, dan sembahyang hadiah bagi kepentingan kerabat yang baru-baru meninggal dunia. Konon kesempurnaan ibadah sukar diperoleh, karena itu ibadah harus dilengkapi dengan ibadah-ibadah sunat dan berbagai-bagai amalan bacaan. Meski pun demikian kegiatan ibadah sunat sebenarnya tidak banyak dilakukan kecuali pada waktu-waktu tertentu. Selain itu di lapangan nampak ada berbagai usaha untuk mendapatkan kehidupan yang lebih baik, baik di dunia ini juga mau pun di akhirat kelak.

Ada orang yang memakai wafak agar disenangi orang banyak atau agar mudah berurusan dengan para pembesar atau rezekinya dalam bidang kegiatan mencari nafkah tertentu meningkat atau jodohnya segera ditemukan. Amalan bacaan (termasuk ayat atau surah al-Qur’an) tertentu mempunyai fungsi demikian pula. Berbagai minyak sakti konon diminum atau dioleskan di tubuh agar kebal atau kuat perkasa atau agar disukai orang. Kegiatan balampah, kurang lebih bertapa, konon akan menjadikan kehidupannya, baik rohani mau pun fisik, akan menjadi lebih baik.

Orang-orang tertentu mempersiapkan alat-alat makan dan minum yang terbaik untuk dihadiahkan oleh ahli warisnya ketika meninggalnya kepada orang yang memandikan mayatnya kelak, dengan anggapan bahwa alat makan dan minum itulah yang akan diguna-kannya dalam alam barunya nanti. Amalan bacaan tujuh laksa (tujuh puluh ribu) zikir, yang dilakukan oleh orang-orang tertentu setelah memperoleh otoritas (ijazah) untuk itu dari seorang alim, diyakini akan membebaskannya dari siksaan api neraka kelak di hari akhirat. Amalan bacaan lainnya (antara lain berwujud ayat-ayat atau surah al-Qur’an, rumusan selawat tertentu) berfungsi demikian pula. Mengaji tasawuf bermotifkan keselamatan di alam akhirat pula, dan dengan mengaji fikih diharapkan meningkatkan kualitas ibadah, dan secara tidak langsung menjanjikan keselamatan di alam akhirat pula. Berwakaf untuk rumah ibadah atau gedung sekolah diyakini akan membuahkan pahala amal terus menerus yang mengalir kepadanya sesudah matinya kelak, setidak-tidaknya selama barang wakaf itu digunakan orang (amal jariah). Mempunyai anak yang alim berarti akan menerima hadiah bacaan sewaktu-waktu bila meninggal kelak.

Keluarga yang tinggal juga dapat mengusahakan keselamatan, khususnya, warganya yang baru-baru meninggal dunia. Di daerah tertentu, ibadah sembahyang dan puasa almarhum yang tidak dilaksanakan atau diduga ada kekurangan ketika dilaksanakan di-tebus dengan sejumlah harta secara simbolis pada acara bahilah. Amalan tujuh laksa zikir almarhum dapat dilengkapi oleh majelis doa, dan demikian pula halnya amalan berupa surah Qulhu (surah al-Ikhlas), yang dilakukan sebelum mayat selesai dimandikan, dan itu sama halnya seperti dilakukan almarhum sewaktu hidupnya. Puasa dan sembahyang yang tidak terkerjakan selama almarhum sakit menjelang kematiannya di-mintakan di-kerjakan kepada orang alim tertentu (dinamakan puasa fiil dan sembahyang fiil). Dengan disembahyangkan oleh empat puluh orang, yang kemudian memohonkan ampunan untuknya dan menyatakan bahwa ia orang baik-baik, dosa-dosa almarhum akan diampuni dan almarhum tergolong dalam kelompok orang baik-baik. Dibacakannya al-Qur’an di samping kuburannya konon akan memaksa malaikat menun-da menyiksanya dan, di daerah tertentu, dengan dibacakan surah al-Qadar pada gum-palan tanah yang digunakan sebagai pengganjal mayat (agar tidak berubah posisinya dalam kubur) konon malaikat tidak dapat mendekat untuk menyiksa si mati. Sembahyang hadiah yang dimintakan dilakukan untuknya kepada seorang alim akan memberikan penerangan di dalam kuburnya; dan keluarga sewaktu-waktu dapat mengeluar-kan amal jariah atas nama almarhum dan berakibat yang sama dengan bila dikerjakan almarhum sendiri sewaktu hidupnya. Anak almarhum dapat sewaktu-waktu mengirimkan hadiah bacaan baginya.

Untuk mengusahakan keselamatan kerabat yang pergi haji, dilakukanlah selamatan menjelang berangkat, ketika akan berangkat, dan setiap malam Jum’at sampai kerabat tersebut tiba kembali di rumah. Di dalam selamatan menjelang berangkat dan setiap malam Jum’at dan terutama pada malam ketika jemaah haji berangkat menuju padang Arafah undangan lebih banyak, acaranya antara lain sembahyang hajat bersama. Di antara hidangan-hidangan dan bacaan-bacaan ketika selamatan itu diyakini akan mendinginkan suasana sekitar kerabat yang tengah menunaikan ibadah haji tersebut

V. PENUTUP
KIRANYA dapatlah disimpulkan bahwa orang-orang Banjar termasuk penganut Islam yang taat menjalankan agamanya. Namun di dalam berbagai ungkapan religius mereka termasuk juga unsur-unsur yang tidak ada di dalam ajaran Islam, atau bahkan bertentangan dengannya. Yaitu antara lain kepercayaan tentang adanya orang gaib yang asalnya manusia yang tidak mati melainkan berpindah ke alam gaib (wapat) dahulu kala, dan berbagai upacara bersaji yang terkait, malaikat dan makhluk halus lain sebagai sahabat manusia, gagasan tentang tuah pada benda dan cara-cara untuk menentukannya, berbagai kelakuan yang bertujuan untuk menebus atau mengganti ibadah warga yang telah meninggal dunia dan guna menyantuni atau memberikan bekal bagi kehidupan dalam alam baru mereka, dan beredarnya rumusan-rumusan yang dibaca atau dilukis, antara lain ayat atau surah al-Qur’an dengan berbagai khasiat yang tertentu. Unsur pertentangannya dengan ajaran Islam antara lain terletak pada kenyataan adanya larangan memberikan persembahan bagi selain Allah SWT dan adanya larangan mengunjungi juru ramal.

Gagasan keislaman masyarakat Banjar seperti demikian itu terjadi karena dalam proses pengislaman secara berkelompok, kepercayaan Islam diterima sebagai bagian dari kepercayaan bubuhan. Dengan demikian berbagai kegiatan ritual yang mengungkapkan kepercayaan bubuhan tersebut ke permukaan tetap dilaksanakan.

Namun orang Banjar dalam berbagai kesempatan selalu belajar, dan ini berdampak kepada corak keislaman mereka. Selain itu tempat-tempat bersemayamnya orang gaib semakin jauh saja dari pemukiman, dan berbagai ritus kelompok yang diharuskan dalam rangka kepercayaan bubuhan dicela sebagai perbuatan memuja setan dan pembiayaannya yang mahal dan menurunnya partisipasi warga kelompok bubuhan dan warga lingkungan, menyebabkan berbagai ritus akhirnya ditinggalkan.

DAFTAR BACAAN
Adatrechbundel, No. XIII, XXVI, XXVIII, XXXVI, XLIV. (‘s-Gravenhage: Mar-tinus Nijhoff, 1917-1952).

“Adat Istiadat Daerah Kalimantan Selatan”. Ketua Tim peneliti: M. Idwar Saleh. (Banjarmasin: Proyek Penelitian dan Pencatatan Kebudayaan Daerah, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Kantor Wilayah Propinsi Kalimantan Selatan, 1978). Naskah stensil.

Baal, Jan van, Dema: Description and Analysis of Marind-Anim Culture (South New Guinea). With the Collaboration of Father J. Schueren. (The Hague: Martinus Nijhoff, 1966)

Baal, Jan van, Symbol for Communication: An Introduction to the Anthropologic-al Study of Religion. (Assen: Van Gorcum, 1968).

Bondan, Amir Hasan (Kiai), Suluh Sedjarah Kalimantan. (Banjarmasin: Percetakan Fajar, 1953)

Cense, A.A., De Kroniek van Bandjermasin. (Santpoort: C.A. Mees, 1928).

Ceritera Rakyat Daerah Kalimantan Selatan. 3 jenis naskah. (Banjarmasin, Jakarta: Proyek Inventarisasi dan Dokumentasi Kebudayaan Daerah, Departemen Pendidik-an dan Kebudayaan, 1976-1984).

Daud, Alfani, “Pengamalan Ajaran Al-Qur’an dalam Masyarakat (Kasus Masyarakat Banjar)”, makalah dalam Seminar Nasional Al-Qur’an dan Tantangan Zaman, April 1985 di Yogyakarta, yang kemudian dimuat (versi berbahasa Inggeris) dalam Mizan, jilid II, No. 4, 1987, hlm 72-88.

Durkheim, Imile, The Elementary Forms of Religious Life. Diterjemahkan oleh J.W. Swain. (New York: Collier Books, 1976).

Firth, Raymond, Elements of Social Organization. (Boston: Beacon Press, 1972). Edisi Pertama tahun 1951.

Goede, William J., Religion among the Primitives. (London: Collier-Macmillan, 1951).

Joekes, A.M., “De Wet van Sultan Adam van Bandjermasin van 1835″, dlm De Indische Gids, tahun ke 3, jilid II, 1881, hlm 146-179.

Lelang, Muhammad, “Gegevens over boeboehan of familieband (1904)” diterje-mahkan dan dikomentari oleh J.C. Vergouwen, dlm Adatrechtbundel XXVI, 1926, hlm 459-464.

Loomis, Charles P., dan Loomis, Zone K., Modern Social Theories: Selected American Writers. (London, Toronto, Princeton: D. van Nostrand Company, 1965).

Malefijt, Annemarie de Waal, Religion and Culture: An Introduction to Anthropology of Religion. (New York: Macmillan Publishing Co., Inc.; London: Collier Mac-millan Publishers 1968).

Mallincrodt, J., Het Adatrecht van Borneo. Dua jilid. (Leiden: M. Dubbeldeman, 1928).

Nottingham, Elizabeth K., Religion and Society. (New York: Random House, 1954). Versi berbahasa Indonesia oleh Abdul Muis Mahawy, Agama dan Masyarakat: Suatu Pengantar Sosiologi Agama. (Jakarta: Rajawali, 1985).

Sch@rer, Hans, Die Gottenidee der Ngadju Dajak im Shd Borneo. (Leiden: E.J. Brill, 1938). Edisi berbahasa Inggeris oleh Rodney Needam, Ngaju Religion: The Con-ception of God among a South Borneo People. (The Hague: Martinus Nijhoff, 1963).

Skeat, W.W., Malay Magic: Being an Introduction to the Folklore and Popular Religion of the Malay Peninsula. With a Preface by Charles Otto Blagden. (London: Macmillan & Co., Ltd, 1900).

Ven, A. van der, “Aanteekeningen omtrent het Rijk Bandjermasin” dlm Tijdschrift van het Bataviaasche Genootschaft, tahun ke 9, 1860, hlm 93-133.

Vergouwen, J.C. Lihat Muhammad Lelang.

Wallace, Anthony F.C., Religion: An Anthropological View. (London: Random House, 1966).
* Fakta dan teks yang ditulis tidak diubah seperti sedia adanya.

(Tulisan ini diambil dari salah situs )

Wali Allah yang pernah ada di Kalsel

foto2 ini diambil dari FB Iron Novieyar

tradisi nyekar menjelang puasa dan hari lebaran memberi warna kehidupan Islam Kalsel

Kembang berenteng, alat untuk tabur bunga kegiatan nyekar di wilayah Kalsel, kembang berenteng juga sebagai alat kegiatan keagamaan dan seni budaya setempat

Pembacaan Talakin, salah satu tradisi bagi sebagian umat Islam dalam proses pemakaman

telur dan daun bertuliskan  Allah

Batu akik bertuliskan Allah Awan bertuliskan Allah     Api Lapindo bertuliskan Allahi

34 Tanggapan

  1. wah, tulisan bp panjang bgt, salut pak

  2. Kami senang membaca blogroll Bapak, tetapi sedikit koreksi, masjid tertua di kota Banjarmasin bukan Masjid Jami Sungai Jingah, tetapi Masjid Sultan Suriansyah yang ada di Kuin, kebetulan di blogroll Bapak ini tidak ada gambarnya. Salam

  3. ulun senang membace blogrol ini,karna di sini banyak memuat manaqib terutama manaqib Abah GURU sekumpul

  4. Jadi suku banjar itu percampuran antara dayak dengan sumatra ya. Tapi sekarang ini saya lihat orang sumatra tidak banyak lagi kesini, bisa dihitung dengan jari. Sekarang yang banyak datang kesini adalah suku Jawa. Sehingga Orang banjar tidak bisa membedakan jawa dg sumatra. Apabila ada banjar bertanya. Dari mana asalnya. Kami jawab sumatra. Lalu mereka bilang, ooh dari jawa sumatra ya? Orang sumatra tidak setuju bila disamakan dg jawa. Karena mereka bukan orang jawa tapi orang melayu asli.! Di daerah sana agama Islam juga masih kuat (ahlu sunah waljama’ah). Tapi di jawa ada jil(jaringan iblis laknat) islib (insan setan liberal) islib=ib-l-is dan ada juga ahmadiah dan wahabi. Di sumatra tidak ada.

  5. Assalamualaikum…………
    salam kenal aja lah…
    ni sebujurnya anak banua jua,cuma lagi marantau kisahnya ka pulau urang d solo.
    Lumayan ngilangin kangen ama kalumantan juga sih…..

  6. sangat menarik dan memambah wawsan tentang islam , bagaimana agama islam mulai berkembang sampai dengan saat ini . sehingga dapat menambah keimanan saya untuk beribadah kepad allah.

  7. ulun simpanlah tulisan pian ini dikomputer ulun
    supaya kawa maasai mambaca dan maminta ijin manngoleksi gambarnya. banyak banyak tarima kasih.
    Mudahan pian dapat pahala mangesahkan urang alim.

  8. saya adalh byk belajar ilmu dari tuan guru safat.

  9. Alhamdulillah pak

  10. Terima kasih pak atas informasinya

  11. saya suka . saya juga berasal dari banjar tepat nya kampung saya amuntai desa palimbangan sari laut suga

  12. rasa bangga kami jadi urang banjar ,asa jauh dari bencana,.,.,,.,..? maqom para ali banyak apa lagi maqom abah guru mudahan kita bakumpul barata’an lawan sidin hari qiamat

  13. tambahi lagi kesahnya tentang guru sekumpul waktu di keraton saya masih mau tau lebih banyak lagi karomah beliau yang terkenal

  14. Mentep tep tep. . .kesah kan pank lagi anak anak cucu datu kelampayan yg masih hidup sampay sekarang?. .xman tahu ulun . .hehehe

  15. allhamdullillah….
    aq bisa tau…

  16. subhanallah senang bisa baca manaqib tuan guru-tuan guru semoga kita bisa mengiktuti jejak beliu,
    ulun yg dhoif mengucapkan SALAM kpd pian seberataan

  17. [...] however, saya kurang pasti tentang nama2 syaitan yang kononnya berada dalam al fatihah jika kita tak mementingkan tajwid..artikel ini sebenarnya dipetik daripada kitab teks jawi lama Kitab Miftah-ul-Jannah yang bermaksud “anak kunci syurga”..kitab ini ditulis oleh, H.M. Thaib bin Mas’ud bin H. Abu Saud, ulama Kedah, Malaysia yang memegang susur galur ulama terkenal banjar yang terkenal lagi dhormati bernama Syeikh Muhammad Arsyad bin `Abdullah al-Banjari..mereka adalah penegak mazhab syafiee dan fahaman ahlil sunnah wal jamaah..(source). [...]

  18. saya mau nanya apakah anda ada hubungan keluarga dgn ki demang yudha nagara?

  19. terima kasih atas artikelnya, ulun jadi tau kesah2 ulama di kal-sel, meski hannya sebagian.

  20. MANTAP ih yg bisi web ne… mudahan di berkahi hdpnya…
    ada gambar2 wali kaya wali kadap di hulu sungai… jarang2 ada informasi dll kisah ky ini… bagus ai… mun bisa kena ceritakan tentang sultan & khatib dayan yg dikuin lah… mksh

  21. Alhamdulillah, semua info disini menambah pengetahuan kita ttg ulama2 yg ada di Kalimantan, semoga yang punya web & kita yang mengunjungi selalu mendapat hidayah dari Allah swt serta dipanjangkan umur (amin)

  22. terimaksih informasinya pa keluaraga alm. ahmat rafi’e amuntai

  23. [...] Alfani, Kehidupan Islam Kalsel : Islam Dalam Masyarakat Banjar, [...]

  24. Sukran katsir y robby… Kerena keberkahan pian ad ulama dMartapura, ulun himung bnr kota martapura dgelar serambi mekkah krn tumpuan santri wn ulama and walinya kda tahitung, mudahan selalu dberkahi and tambah bnyak ulamanya aminn… Mudah2n kita semua menjadi org yang dberkahi

  25. sebetulnya InsyaAllah masih byk lg aulia Allah, terutama di amuntai dll di banua,ada ulama di barabai seperti guru bahit yang luas ilmu pemahamannya tegas istiqamah lg sejuk, berhubung sirkulasi manusia condrong kekota, populasinya lbh byk nampaknya martapura banjarmasin lebih mudah tersorot, ini hal yg wajar,kapan2 smoga bisa kita/sampian gali aulia Allah yg d banua yg zuriatnya ada jg dari kalampayan, terima ksh ats blog yg baik ini,..Sukran katsir..

  26. ass.saya Rafli dari tembilahan Inhil Riau, saya minta tolong kepada pian barataan amun ada nama-nama alim ulama baik dari banjarmasin,kaluak,kandangan,amuntai dsb.tolong kirimkan nama, alamat dan nomor HP beliau ke email saya Rafli_Unisi@yahoo.co.id terima kasih, semoga Allah membalas niat pian barataan.amin

  27. Ass,saya rafli dari tembilahan inhil riau.saya minta tolong kepada pian barataan, saya mencari nama,alamat dan nomor HP ulama-ulama banjar,amun pian katamu silahkan kirimkan kealamat email saya Rafli_Unisi@yahoo.co.id

  28. Sebaiknya kurangi dan dibuang Bid’ah-bid’ah dalam beragama! Kembali lah ke Alquran dan ajaran Rasullullah! Jaga hati dari kesyirikan!
    Guru sekumpul mestinya sadar dan mendidik umat betul2! Bukan malah mabuk dalam kultus!
    Habib yang dianggap keturunan nabi itu tidak ada! Arab menggunakan sistem patriakal! Nabi muhammad tidak punya anak laki2 yg sempat menikah dan punya keturunan, tidak ada! Yg ada cuma dapat cucu laki2, hasan dan husen bin ali bin abu thalib!

  29. Good post. I learn something new and challenging on sites
    I stumbleupon every day. It will always be interesting to read through articles from other authors and practice a little
    something from other sites.

  30. Insya Allah bisa kesana…

    Ahmad, Jogja.

  31. dangsanak, ulun minta foto2 ampun pian dangsanaklah, minta ampun minta rela minta keikhlasannya, terima kasih banyak :)

  32. Ternyata tradisi keislaman di Banjar sangat kuat ya. Salam dari jawa Tengah.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 41 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: