Pertanian Kalsel

KALSEL PUNYA VARIETAS PADI GOGO BERAROMATIK
Banjarmasin,25/2 (ANTARA)- Provinsi Kalimantan Selatan (Kalsel) mempunyai varietas padi gogo yang biasa dikembangkan masyarakat  Dayak di Pedalaman antara Kabupaten Balangan, Kabupaten Hulu Sungai Tengah (HST), dan Kabupaten Tabalong yang disebut varietas buyung yang beraromatik.
Hal itu terungkap saat Bupati Balangan, Ir Sefek Effendi melaporkan berbagai kegiatan petani di wilayahnya yang mengembangkan varietas padi gogo lokal itu saat pertemuan rapat kordinasi pembangunan antara Gubernur Kalsel, Drs.Rudy Ariffin dan seluruh bupati dan walikota se Kalsel, di aula Graha Abdi Persada Kantor Gubernur Kalsel, Banjarmasin, Rabu.
Pertemuan tersebut membahas berbagai hal teruama terjadinya perubahan iklim global dimana musim hujan dan musim kemarau sudah tak beraturan yang berdampak terhadap penyediaan pangan di wilayah ini.
Menurut Sefek Effendi, Kalsel selain memiliki lahan irigasi teknis, lahan tadah hujan, lahan lebak dan tak sedikit hamparan lahan kering yang berpotensi baik bagi pengembangan  padi gogo lokal yang berproduksi tinggi seperti varietas  padi gogo buyung beraromatik tersebut.
Apalagi kebiasaan masyarakat sudah ada sejak turun temurun menggeluti budidaya padi gogo yang disebut dengan istilah setempat “manugal.”
Sehingga bila dikaitkan dengan penyediaan pangan kedepan  sudah sewajarnya pengembangan varietas padi gogo lokal itu diperhatikan.
Gubernur Kalsel Drs.Rudy Ariffin menyambut baik usulan tersebut, karena Kalsel harus berusaha keras dalampenyediaan pangan kedepan mengingat banyak lahan sawah yang belakangan ini kebanjiran hingga sulit melakukan pertanaman.
Melihat kenyataan tersebut maka sudah selayaknya, berbagai potensi yang bisa menghasilkan pangan dikembangkan termasuk pengembangan padi gogo di lahan kering tersebut.
Sementara Kepala Dinas pertanian Kalsel, Ir Seriono mengakui adanya jenis varietas padi gago Kalsel yang bearomatik tersebut, namun padi itu tak bisa dinyatakan sebagai padi unggul nasional karena produksinya dinilai rendah kalau dibandingkan padi unggul nasional lainnya.
Kalsel sendiri menurutnya, ada jenis padi gogo yang berproduksi tinggi tetapi tidak aromatik sehingga kalau dikembangkan juga diperkirakan akan sulit pemasarannya.
Sementara untuk jenis padi sawah, Kalsel sebenarnya baru-baru ini ada dua jenis padi lokal yang sudah dinyatakan sebagai padi unggul nasional, yaitu padi Siam Mutiara asal Kabupaten Barito Kuala serta padi Siam 11 asal Kabupaten Banjar.

SIAM MUTIARA DAN SABA PADI VARIETAS UNGGUL
Banjarmasin, Pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan (Kalsel) menetapkan dua jenis padi lokal yaitu Siam Mutiara dan Siam Saba sebagai padi varietas unggul.
Kepala Bidang Humas Pemprov Kalsel Ismet Setia Bhakti, Minggu mengatakan penetapan dua jenis padi lokal sebagai varietas unggul tanaman pangan itu bertujuan untuk meningkatkan produksi padi Kalsel.
Kata dia, di provinsi ini telah dilakukan pelepasan galur padi sawah lokal Siam Mutiara sebagai varietas unggul dengan nama varietas Siam Mutiara.
Berdasarkan penjelasan dari dinas pertanian, menurut Ismet varietas tersebut merupakan hasil seleksi positif dan populasi varietas padi lokal di Desa Anjir Seberang Pasar II, Kecamatan Anjir Pasar di Kabupaten Barito Kuala (Batola).
Padi yang merupakan penemuan Aan A Derajat dari Balai Besar Peneliti Padi itu telah ditetapkan sebagai varietas unggul melalui keputusan Menteri Pertanian Nomor 959/Kpts/SR.120/7/2008 tanggal 17 Juli 2008.
Pengusulan padi varietas tersebut dilakukan langsung oleh Pemprov Kalsel, BPSBTPH serta Dinas Pertanian dan Peternakan Kabupaten Batola.
Begitu pula dengan pelepasan terhadap galur padi sawah lokal Saba sebagai padi varietas unggul dengan nama Siam Saba, telah ditetapkan melalui surat keputusan Menteri Pertanian Nomor 961/Kpts/SR.120/7/2008 tanggal 17 Juli 2008.
Dari tahun ke tahun, kata dia, produksi padi Kalsel meningkat cukup tajam. Pada 2007 mengalami kenaikan yang cukup berarti hingga mencapai 1,9 juta ton, atau naik sekitar 19,37 persen dibanding tahun sebelumnya yang hanya 1,6 juta ton.
Tingginya produksi padi ini menempatkan Kalsel di peringkat II dalam meningkatkan produksi padi nasional.
Selain itu, Kalsel juga menduduki peringkat VIII dari 33 provinsi di Indonesia yang memberi kontribusi produksi padi nasional.
Kehadiran Siam Mutiara di Kalsel mendapat sambutan cukup baik dalam perdagangan beras di provinsi ini.
Warna beras yang putih bersih, dan buliran yang kecil rapi, sangat menarik warga untuk membelinya.
“Siam Mutiara harganya memang sedikit mahal, tapi rasanya cukup enak, dan warnanya lebih putih serta menarik,” kata Mamak Dita, warga kompleks AMD Permai Banjarmasin

SWASEMBADA BERAS TAHUN 2008
Di tengah situasi ekonomi yang tidak menentu ini, Sesungguhnya kita patut bersyukur. Kondisi Pangan Negara kita relatif baik dari banyak negara lain.Pada tahun ini kita kembali mencapai swasembada beras. Ini adalah untuk pertama kalinya sejak masa Orde Baru, Produksi beras Nasional lebih tinggi dari pada konsumsi beras kita.

Negara kita pertama kali mencapai swasembada beras pada tahun 1984, negara barat kagum dengan kita.produksi tahun 1985 sebesar 26,54 juta ton (terjadi surplus 371.000 ton).Pada tahun 1986 Produksi 27,01 juta ton(surplus 213.000 ton),demikian seperti ditulis M Taufik.

Tahun 1987 sekitar 27,25 juta ton (tapi minus 64.000 ton).Pencapaian swasembada ini dilakukan melalui kerja keras puluhan tahun dengan membangun irigasi,pabrik pupuk, Bimas, KUT,KUD dll. Sayang sekali perhatian terhadap pembangunan pertanian mengendor dengan mengalihkan kepada sektor lain, maka swasembada pun lepas.

Syukur pada 2004,swasembada beras tercapai lagi dengan produksi 54,09 juta ton gabah kering giling setara 33 juta ton beras dengan konversi 0,632. saat itu merupakan produksi beras tertinggi selama republik ini berdiri.Tahun ini kita mencapai lagi swasembada beras. Bagaimana 2009 ? Nampaknya pemerintah menargetkan produksi beras sebanyak 40 juta ton untuk mempertahankan sekaligus  meningkatkan swasembada beras 2009.dan ini memberi isyarat bagi Departemen terkait,Provinsi atau Kabupaten untuk lebih keras lagi bekerja di tahun depan.

Memang peluang peningkatan produksi ini masih bisa dengan mengoptimalkan  sumber daya alam yang ada dan pemanfaatan lahan –lahan yang masih telantar. Saat ini konsentrasi masih di Jawa.padahal lahan-lahan di Sumatera, Kalimantan ,dan kawasan Indonesia Timur masih potensial untuk meningkatkan produksi padi. Hal–hal di atas terus di dukung oleh dana anggaran oleh pemerintah, dalam RAPBN 2009 Deptan mendapat dukungan dana sebesar Rp.8,3 triliun.kecil dibandingkan departemen lain , semogo ke depan pemerintah lebih memperhatikan pertanian Indonesia dengan dukungan dana yang lebih banyak lagi.

UPAYA PETANI KALSEL HINGGA PEMASOK BERAS NASIONAL
Ditulis pada Desember 19, 2007

Oleh Hasan Zainuddin
Banjarmasin, 23/1 (ANTARA) – Kesulitan warga Propinsi Kalimantan Selatan (Kalsel) memperoleh beras di era tahun 60-an, tahun 70-an hingga tahun 80-an  telah membangkitkan semangat petani setempat  menggarap berbagai lahan untuk bisa ditanami padi.
Di era tahun tahun-tahun tersebut warga Kalsel masih terbiasa mengkonsumsi  beras yang berwarna merah, serta bercampur kapur, serta berbau apek lantaran beras tersebut sudah terlalu lama disimpan dan diperdagangkan dan didatangkan dari berbagai daerah lain di Indonesia bahkan beras impor.
Dengan semangat yang menggebu ditambah dorongan pemerintah setempat membuat pertanian Kalsel begitu maju, terbukti hamparan rawa yang tadinya penuh dengan hutan galam (kayu khas rawa) seperti di Kabupaten Banjar dan Kabupaten Barito Kuala digarap dengan menebang ribuan bahkan jutaan pohon kayu rawa itu.
Kemudian lahan rawa yang berhutan  pohon galam itu setelah ditebang kemudian dibersihkan menjadi sehamparan luas areal pertanian yang subur walau tanpa harus menggunakan sistem irigasi, seperti terlihat di wilayah Kecamatan Gambut dan Kecamatan Aluh-aluh..
Kemudian lahan yang tadinya dianggap marginal seperti rawa pasang  surut setelah ditemukannya berbagai tehnologi penurunan kadar air asam di lahan tersebut melalui teknologi sederhana yang disebut sistem irigasi Haji Idak lahan tersebutpun dimanfaatkan.
Sementara lahan tadah hujan yang merupakan lahan pertanian terluas di wilayah paling selatan Pulau Kalimantan inipun ditata  kemudian dibuatkan sistem irigasi, baik irigasi teknis maupun irigasi sederhana pedesaan hingga mampu ditanami padi dua kali setahun.
Begitu pula  lahan lebak (lahan yang selama musim hujan terendam air dan airnya surut musim kemarau ) semaksimal mungkin digarap,  khususnya pada saat musim kemarau, dan tak tanggung-tanggng lahan lebak Kalsel tercatat 150 ribu hektare, dan 60 ribu hektare sudah dimanfaatkan.
Dalam upaya meningkatkan produksi beras tersebut lahan keringpun akhirnya oleh pemerintah dianjurkan untuk ditanami padi melalui sistem tugal (gogo), apalagi masyarakat pedalaman (suku Dayak Kalsel) terlebih dahulu memiliki kebiasaan menggarap lahan kering untuk padi itu melalui ladang berpindah sehingga mampu pula menambah cadangan beras di wilayah ini.
Untuk meningkatkan produksi padi tersebut petani Kalsel bukan semata memperluas areal tanam dengan memanfaatkan berbagai jenis lahan tersebut tetapi juga mencoba meningkatkan teknologi pertaniannya.
Sebagai contoh saja petani Kalsel sudah mengerti  memanfaatan alat mesin pertanian (Alsintan) penggunaan bahan kimia pertanian seperi herbisida dan pestisida serta menggunakan berbagai jenis pupuk.
Bahkan pemulia padi asal Kalsel melalui Balai Penelitian Rawa (Balitra) Bajarbaru  berhasil menciptakan varietas padi khas Kalsel, yaitu varietas  Kapuas, Mahakam, Baroto, dan Varietas  Martapura.
Varietas tersebut oleh pemulia padi Balitra digulirkan untuk menyesuaikan  dengan lahan pasang surut, tetapi  berumur penedek serta produksi besar dan rasanya tak kalah dengan varietas lokal yang paling disukai.
Satu teknologi lain yang dimunculkan ahli pertanian Kalsel yaitu dengan penggarapan lahan sawah sistem “Sawit Dupa” (satu kali mewiwit dua kali panen), wiwit disini diartikan pembibitan.
Melalui pertanian sistem sawit dupa ini maka petani bisa menanam padi varietas unggul berumur pendek (tiga bulan) seperti IR-42, IR-66 dengan padi varietas lokal seperti padi Siam Unus, atau padi varietas Karandukuh yang berumur panjang (6 bulan).
Apapun gaya dan cara petani yang merupakan komunitas masyarakat terbesar Kalsel yang penting sektor Pertanian Kalsel bisa sejajar dengan wilayah lain yang sudah lebih maju dalam sektor pertanian ini.
Dengan demikian  bila beberapa dasawarsa lalu warga Kalsel selalu “menjerit”  kekurangan beras kini sudah bisa “tersenyum”  dengan mampu mencukupi beras sendiri, bahwa sudah mampu menjadi daerah pemasok beras nasional.
Gubernur Kalimantan Selatan, H.Rudy Ariffin ketika ditanya wartawan di Kantor Gubernur Kalsel Banjarmasin,  mengakui bahwa wilayahnya sudah mampu menyumbangkan beras bagi kebutuhan nasional, walaupun jumlahnya relatif masih kecil tetapi sudah memberikan arti bagi wilayah ini.
Oleh sebab itu, kemampuan Kalsel mensuplai beras nasional tersebut harus ditingkatkan lagi dimasa mendatang, dengan memanfaatkan semaksimal mungkin lahan yang ada.
Dalam pertemuan dengan pihak pimpinan Daerah Tingkat II se Kalsel belum lama ini, kata Gubernur Kalsel yang mantan Bupati  Banjar tersebut telah memerintahkan kepada seluruh bupati/walikota se Kalsel untuk melakukan perluasan areal tanam dari sekarang yang hanya sekitar 800 ribu hektare menjadi melebihi dari luas areal tanam tersebut.
Dengan cara melakukan pemetaan kembali luasan areal tanam tersebut bukan hanya di lahan yang sudah digarap sekarang ini tetapi juga pada lahan-lahan yang selama ini dianggap marginal tetapi sebenarnya bisa dimanfaatkan seoptimal mungkin mengejar produksi padi tersebut.
Hal lain, Gubernur Kalsel ini juga meminta kepada seluruh bupati/walikota untuk membuat jadual penananam yang dapat dikoordinasikan ke seluruh instansi terkait dengan menyesuaikan dengan musim atau cuaca.
Dalam upaya meningkatkan sektor pertanian itu tentu dengan melakukan intensifikasi dan diversifikasi, tambahnya, di sela-sela acara makan bareng makan bakso dan mie ayam gratis bebas formalin di halaman Kantor Gubernur Kalsel itu.
Sebelumnya, ia menyebutkan wilayahnya yang dikatagorikan sebagai salah satu daerah penyangga pangan nasional, tahun 2005 menyumbangkan sedikitnya 340 ton beras untuk pengadaan  pangan nasional.
”Meskipun Kalsel mengalami surplus beras sekitar 450 ribu ton selama tahun 2005, namun hanya sekitar 340 ton yang bisa dibeli oleh Perum Bulog Kalsel untuk kontribusi untuk pengadaan pangan nasional,” katanya.
Menurut Rudy, dengan kondisi surplus beras ratusan ribu ton di Kalsel selama ini dan mampu menyumbang untuk pengadaan pangan nasional, maka Kalsel tidak perlu beras impor mengingat beras yang ada mencukupi terutama beras lokal.
Kepala Dinas Pertanian Kalsel, Ir.H.Yohannes Sriyono mengakui, sebenarnya suprlus beras di Kalsel mencapai 450 ribu ton, namun sebagian besar beras itu merupakan beras lokal seperti Siam Unus dan Karandukuh yang tidak mampu dibeli Dolog karena harga lebih  mahal dari harga yan ditetapkan pemerintah.
Harga yang ditetapkan Dolog sekitar Rp3.550/kg, kalau jenis beras Siam Unus dan Karandukuh jauh mahal dari harga tersebut.
Dia menjelaskan, produksi gabah di Kalsel tahun 2005 (Januari-Desember) sesuai verifikasi Badan Pusat Statistik (BPS) setempat mencapai 1,577 juta ton Gabah Kering Giling (GKG) atau setara beras sekitar 950 ribu ton, sedangkan keperluan konsumsi masyarakat dan industri Kalsel hanya sekitar 500 ribu ton.
Selain itu, kata Sriyono, di Kalsel ini sepanjang tahun terjadi panen lantaran pemanfaatan lahan lebak dan lahan kering disamping lahan paang surut dan lahan berigasi sehingga bila musim kemarau panjang sekalipun bila daerah lain mengalami penceklik di Kalsel malah terjadi panen besar-besaran di lahan lebak.
Melihat kesungguhan petani Kalsel bangkit dari masa kemasa itu telah memberikan harapapan dimasa mendatang bahwa wilayah ini akan terus berkiprah dalam pemasok beras nasional, hingga mampu menekan terjadinya impor

KENDATI KEMARAU, KALSEL TAK TAKUT KEKURANGAN PANGAN
Banjarmasin,2/10 (ANTARA)- Propinsi Kalimantan Selatan (Kalsel) saat ini lagi dilanda kemarau, persawahan tadah hujan banyak yang kering tetapi tidak takut akan kekurangan pangan, khususnya beras.
Masalahnya di wilayah Kalsel terhampar laham lebak, yang berair dalam saat musim penghujan dan surut saat musim kemarau hingga bisa ditanami padi, kata Gubernur Kalsel, Drs.Rudy Arifin di Banjarmasin, Selasa.
Didampingi Kepala Bidang Humas Badan Informasi Daerah (BID) Kalsel, Drs.Ismet S gubernur Kalsel menjelaskan keberadaan lahan lebak yang wilayah ini mencapai 90 ribu hektare.
Dengan luas lahan lebak di Kalsel membuat wilayah ini agak unik dibandingkan daerah lain, terutama di musim kemarau karena di saat daerah lain kekurangan padi karena kekeringan justru Kalsel membuahkan panen.
Jenis padi yang dikembangkan di lahan rawa Kalsel adalah varietas lokal yang tahan terhadap lahan lebak, disebut masyarakat setempat sebagai padi “surung.”
Padi surung lantaran ketinggian padi mengikuti ketinggian air, bila airnya mendalam maka padi ini menyurung ke atas ingga tidak tenggelam.
Tidak heran bila melihat lahan padi yang sedang dipanen di wlayah rawa lebak Kalsel, petani setempat menggunakan sampan (perahu kecil) untuk memanen padinya.
Wilayah yang memiliki lahan lebak ini sebagian besar berada di persawahan Kabupaten Hulu Sungai Utara (HSU), Hulu Sungai Selatan (HSS) serta Kabupaten Hulu Sungai Tengah (HST).
Keberadaan lahan lebak ini pula yang telah berhasil menambah produksi padi Kalsel, sehingga mengharumkan nama daerah ini sebagai penyangga beras nasional dimana produksi beras Kalsel mengalami surplus dan banyak dikirim ke propinsi tetangga Kalteng dan kaltim bahkan diantarpulaukan ke Jawa.
Keunikan lain Kalsel juga memanfaatkan lahan kering yang begitu luas dengan memanfaatkan varitas padi gogo (ladang).
Walau memiliki lahan lebak dan lahan kering tetapi Kalsel tetap mengandalkan sawah tadah hujan, sawah beririgasi tehnis dan irigasi sederhana pedesaan.
Berbagai upaya yang dilakukan dalam upaya meningkatkan sektor pertanian dan telah membuahkan hasil yang siknifikan, buktinya saja angka tetap tahun 2006 produksi padi sawah mengalami kenaikan 3.10 persen dibandingkan tahun 2005.
Kenaikan tersebut disebabkan kenaikan luas panen 7.426 hektare atau naik 1,81 persen disamping itu kenaikan produktivitas 1,28 persen, disamping semakin meningkatnya penggunaan benih unggul seperti varitas cieherang, IR.66 dan IR.42 oleh petani.
Melihat hasil tahun 2005 dan tahun 2006 itu ditambah berbagai upaya pengembangan sektor tersebut maka produksi padi sawah tahun 2007 diperkirakan akan mencapai 1,6 juta ton  atau mengalami kenaikan yang cukup besar dari angka tetap (Atap) tahun 2006. Yakni dengan kenaikan produksi sebesar 81.039 ton atau 5,33 persen.
Kenaikan produksi ini diperkirakan adanya peningkatan luas panen 9,663 hektare atau naik 2,22 persen. Disamping kenaikan luas panen juga disebabkan kenaikan dari hasil perhektare dari 36,48 kuintal per hektare tahun 2006 menjadi 37,55 kuintal perhektare tahun 2007 ini.
KALSEL ALAMI MUSIM KEMARAU YANG BASAH
Banjarmasin,29/6 (ANTARA)- Kepala Dinas Pertanian Kalimantan Selatan, Ir Seriono mengutip keterangan dari BMG setempat, bahwa wilayah propinsi ini pada tahun ini mengalami kemarau basah atau musim kemarau yang ditnadai dengan turunnya hujan.
“Kondisi tersebut tidak terlalu menguntungkan bagi pertanian persawahan Kalimantan Selatan, karna itu seluruh petani harus mengantisipasi penomena musim seperti itu,” kata Seriono kepada wartawan saat berada di Banjarmasin, Jum’at.
Kemarau basah bagi Kalsel dianggap merugikan lantaran wilayah ini tak bisa memanfaatkan lahan lebak air dalam, padahal seandainya musim kemarau kering dimana lahan rawa lebak dalam mendangkal maka saat itpula petani di sekitar lahan seperti itu memanfaatkan lahan tersebut untuk menanam padi, sayuran, dan plawija.
Tetapi karena kemarau basah air dalam terus menerus di lahan seperti itu maka cukup merugikan padahal, potensi lahan lebak dalam begitu besar dengan luas puluhan ribu hektare.
Berdasarkan data jumlah lahan rawa di Kalsel  ternyata sekitar 150 ribu hektare, dan 60 ribu hektare diantaranya sudah dimanfaatkan, khususnya lahan rawa air dangtkal yang disebut rawa watun satu, sedangkan rawa air dalam juga diamnfaatkan tetapi disaat musim kemarau saja.
Pengalaman petani Kalsel, lahan lebak air dalam tersebut dibudidayakan satu varietas padi khas lokal yang sangat cocok dengan lahan rawa air dalam yang dikenal oleh penduduk setempat sebagai varietas padi surung.
Disebut padi surung karena ketinggian padi ini mengikuti ketinggian permukaan air, bila air surut saja maka ketinggian padi juga rendah, tetapi ila air terus dalam maka ketinggian padi terus meninggi.
Varietas yang banyak digunakan masyarakat sekitar Kabupaten Hulu Sungai Selatan (HSS) dan Hulu Sungai Utara (HSU), seperti persawahan rawa monotan di Danau Panggang, Babirik, Hambuku, Alabio, dan Negara tersebut ternyata produksinya cukup tinggi berkisar antara 3 hingga 4 ton Gabah Kering Giling (GKG), per hektarenya.
Oleh karena itu, berdasarkan pengalaman sebelumnya bagaimanapun panjangnya kemarau ternyata wilayah ini tak penah kekurangan beras, lantaran padi rawa air dalam ini yang bisa menutupi berkurangnya produksi padi lahan tadah hujan dan beririgasi.
Menurut seriono, kendati kemarau basah, masih ada segi baiknya karena lahan tadah hujan bisa dikembangkan dua kali setahun, atau lahan rawa air dangkal watun satu tetap bisa diberdayakan.
Namun Kalsel bukan saja memiliki lahan pertanian beririgasi tehnis, semi tehnis, tadah hujan , dan lahan lebak namun masih memiliki lahan kering sepeti dipegunungan yang teknis budidayaka padinya sudah dikuasai oleh masyarakat pegunungan sistem gogo atau tugal, sehingga kemarau basah yang melanda Kalsel sekarang ini tak perlu dirisaukan.
Berdasarkan pemantauan, hujan deras terus terjadi di wilayah kalimantan Selatan, khususnya di Banjarmasin, apalagi dalam seminggu terakhir ini seakan tak ada hari tanpa hujan, sehingga dimana-mana terlihat becek dan basah.
Kalimantan Selatan Perluas Areal Padi Rawa
Banjarmasin,  – Kalimantan Selatan yang kaya akan rawa-rawa kembali menargetkan perluasan areal padi rawa. Kebijakan itu untuk mendukung program pertanian rawa sebagai penyangga pertanian lahan kering di Pulau Jawa. Pertanian rawa selama ini dikenal sebagai pertanian yang justru “berkibar” jika musim kemarau, saat pertanian lahan kering paceklik.

Kepala Dinas Pertanian Kalsel Sriyono, Kamis (2/12), mengatakan akan ada perluasan areal lahan rawa dan lebak sebanyak 40.000 hektar. Luas areal itu dipastikan akan berkembang secara alami mengingat petani menambah sendiri arealnya.

Dalam evaluasi program penumbuhan kantong penyangga produksi di lahan rawa lebak tahun 2004, areal pertanian di lahan rawa dan lebak Kalsel dari tahun ke tahun terus meningkat, terlebih dalam dua tahun terakhir ini.

“Sebenarnya luas lahan rawa lebak potensial yang dimiliki Kalsel sampai 200.000 hektar, namun hingga kini baru dimanfaatkan petani sekitar 98.000 hektar,” kata Sriyono di sela-sela acara Evaluasi Program Penumbuhan Kantong Penyangga Produksi di Lahan Rawa Lebak Tahun 2004.

Lahan rawa sebenarnya tidak buruk, justru memiliki keunggulan, karena pada musim kemarau masih bisa ditanami. Karena itu, diharapkan ke depannya pertanian rawa bisa menjadi penyangga produksi pangan nasional, khususnya pada musim kemarau.

Jika waktu musim kemarau panjang beberapa waktu lalu Sriyono justru selalu menjawab optimistis. “Lho kalau kemarau, justru para petani rawa di daerah itu senang karena mereka bisa tanam, sedangkan saat musim hujan rawa tergenang air cukup tinggi sehingga tak bisa ditanami,” katanya.

Dalam dua tahun terakhir ini Departemen Pertanian juga terus memacu pertumbuhan lahan rawa yang tersebar di delapan provinsi, yaitu Sumatera Barat, Riau, Jambi, Bengkulu, Sumatera Selatan, Lampung, Kalimantan Barat, dan Kalsel.

Departemen Pertanian memang menargetkan lahan rawa tersebut untuk bisa menjadi buffer stock bagi sistem pertanian lahan kering Pulau Jawa yang kini terus tergusur akibat pembangunan perkotaan. “Kita memiliki tipologi lahan pertanian yang memungkinkan petani dapat bertani dan panen sepanjang tahun,” kata Sriyono.

Pertanian rawa juga memiliki keistimewaan tersendiri dibandingkan pertanian di Pulau Jawa, yaitu bisa ditanam tanpa diberikan pupuk. Padi di lahan rawa selalu bisa subur dan tanamannya tinggi mengikuti permukaan air rawa. Ini merupakan keunggulan yang tidak bergantung pada pupuk. (AMR)

PERTANIAN TETAP PRIMADONA PEMBANGUNAN KALSEL

Pemerintah Propinsi Kalimantan Selatan kedepan tetap akan  mengandalkan sektor pertanian sebagai penggerak perekonomian

masyarakat, apalagi sebagaian besar masyarakat Kalimantan Selatan bekerja di bidang pertanian, sehingga sektor ini dapat menyerap tenaga kerja mencapai 61 persen lebih, sektor ini juga menjadi penyumbang terbesar PDRB Kalimantan Selatan, menjadi penopang Ketahanan pangan dan menjadikan propinsi Kalimantan Selatan penyangga produksi beras nasional serta menjadi salah satu faktor pendorong pertumbuhan ekonomi  di daerah ini.

Sektor pertanian ini terus berkembang dengan baik yang meliputi tanaman pangan, perkebunan, peternakan, kehutanan dan perikanan. Dari sub sektor tanaman pangan yang menjadi unggulan adalah padi sawah, padi ladang, jagung dan Kacang Tanah.

Pemerintah Propinsi Kalimantan Selatan dibawah kepemimpinan Gubernur H. Rudy Ariffin sejak awal pemerintahannya telah melihat peluang sektor pertanian untuk mensejahterakan masyarakat, oleh karena itu dimasa pemerintahannya sektor ini terus dikembangkan, baik secara intensifikasi maupun diversifikasi, agar sektor ini khususnya padi, jagung dan kacang tanah terus meningkat  produksi dan produktivitasnya.

Peningkatan yang terus terjadi setiap tahunnya, dan kinerja dari sektor pertanian ini terlihat semakin menonjol ditunjukan pada tahun 2007 yang lalu, khususnya produksi padi  mengalami kenaikan yang sangat berarti hingga mencapai angka 1.953.868 ton, atau terjadi kenaikan sebesar 19,37 persen jika dibandingkan produksi tahun sebelumnya yang hanya mencapai 1.636.840 ton tahun 2006.

Meningkatkan efisiensi produksi pangan serta pemenuhan hak dasar atas pangan merupakan keinginan gubernur Kalimantan Selatan H. Rudy Ariffin dalam rangka mensejahterakan masyarakat di daerah ini. secara khusus pula gubernur memberikan perhatian dalam rangka kemajuan sektor ini, terutama dalam mendorong produktifitas dan produksi Tanaman pangan dan tanaman Hortikultura. Hingga hasilnyapun dapat kita rasakan bersama.

apalagi sebagian besar masyarakat Kalimantan Selatan bekerja di bidang pertanian, sehingga sektor ini dapat menyerap tenaga kerja mencapai 61 persen lebih, sektor ini juga menjadi penyumbang terbesar PDRB Kalimantan Selatan, menjadi penopang Ketahanan pangan dan menjadikan propinsi Kalimantan Selatan penyangga produksi beras nasional serta menjadi salah satu faktor pendorong pertumbuhan ekonomi  di daerah ini.

Sektor pertanian ini terus berkembang dengan baik yang meliputi tanaman pangan, perkebunan, peternakan, kehutanan dan perikanan. Dari sub sektor tanaman pangan yang menjadi unggulan adalah padi sawah, padi ladang, jagung dan Kacang Tanah.

Pemerintah Propinsi Kalimantan Selatan dibawah kepemimpinan Gubernur H. Rudy Ariffin sejak awal pemerintahannya telah melihat peluang sektor pertanian untuk mensejahterakan masyarakat, oleh karena itu dimasa pemerintahannya sektor ini terus dikembangkan, baik secara intensifikasi maupun diversifikasi, agar sektor ini khususnya padi, jagung dan kacang tanah terus meningkat  produksi dan produktivitasnya.

Peningkatan yang terus terjadi setiap tahunnya, dan kinerja dari sektor pertanian ini terlihat semakin menonjol ditunjukan pada tahun 2007 yang lalu, khususnya produksi padi  mengalami kenaikan yang sangat berarti hingga mencapai angka 1.953.868 ton, atau terjadi kenaikan sebesar 19,37 persen jika dibandingkan produksi tahun sebelumnya yang hanya mencapai 1.636.840 ton tahun 2006, sehingga menempatkan Kalimantan Selatan pada peringkat II, dalam meningkatkan produksi padi se Indonesia.

VARIETAS UNGGUL SIAM MUTIARA & SIAM SABA
Dalam upaya meningkatkan produksi padi varietas unggul memiliki peranan yang sangat penting, di Kalimantan Selatan telah dilakukan pelepasan Galur Padi Sawah Lokal Siam Mutiara sebagai varietas unggul dengan nama Varietas Siam Mutiara, merupakan hasil seleksi positif dan populasi varietas padi lokal di desa anjir seberang Pasar II kecamatan Anjir Pasar di Kabupaten Barito Kuala, dimana yang menjadi pemulia adalah Aan A Derajat dari Balai Besar Peneliti padi, varietas unggul siam mutiara ini diusulkan oleh Pemerintah Propinsi Kalimantan Selatan, BPSBTPH serta dinas Pertanian &Peternakan Kabupaten Barito Kuala, sehingga ditetapkan sebagai varietas unggul melalui keputusan Menteri Pertanian Nomor 959/Kpts/SR.120/7/2008, tanggal 17 juli 2008.

Begitu juga dengan Pelepasan Galur Padi Sawah Lokal Siam Saba sebagai Varietas Unggul dengan nama Siam Saba telah ditetapkan memalui surat Keputusan Menteri Pertanian Nomor 961/Kpts/SR.120/7/2008, tanggal 17 juli 2008.
Peternakan dalam Mewujudkan Ketahanan Pangan
Dengan mengemban 6 misi dari peternakan di Kalimantan Selatan, yaitu (1) Menciptakan Peternak Mandiri, (2) Mewujudkan Ketahanan Pangan, (3) Menghasilkan Produk Unggulan, (4) Menciptkan Lapangan Kerja Produktif, (5) Mengoptimalkan Potensi dan menjaga kelestarian Sumber Daya Alam, (6) serta menumbuhkan pusat-pusat pembibitan,  dinas peternakan Kalimantan Selatan bertekad akan untuk mewujudkan daerah ini menjadi sumber bibit sapi potong pada tahun 2010 nantinya.

Dengan kebijakan sumber bibit mulai tahun 2010 mengeluarkan sapi bibit 5.000 ekor pertahun, dengan harapan bisnis sapi potong nak 10 persen pertahun. Populasi ternak sapi potong di Kalimantan Selatan terus meningkat secara signifikan dari tahun ke tahun, dimana pada tahun 2005 berjumlah 182.639 ekor, jumlah ini terus meningkat pada tahun 2006 menjadi 193.920 ekor, atau naik sebesar 6,18 persen. Hal ini tentunya diiringi dengan meningkatnya produksi daging sapi dimana pada tahun 2005 sebesar 5.592.768 kilogram meningkat pada tahun 2006 menjadi 6.179.092 kilogram atau sebesar 10,48 persen.  Peningkatan populasi dan produksi daging ini tidak hanya terjadi pada sapi potong, namun juga diikuti oleh jenis ternak lainnya seperti sapi perah, kerbau, kuda, kambing, domba, babi, serta ternak unggas yang meliputi ayam buras, ayam ras petelur, ayam ras pedaging serta itik.

Populasi Ternak di Provinsi Kalimantan Selatan Tahun 2006 dan 2007

Sumber : Hasil Verifikasi dan Validasi Data Peternakan Tingkat Provinsi Tahun 2007

Produksi Daging dan Telur
Pencapaian produksi daging dan telur selama dua tahun terakhir mengalami kenaikan pertumbuhan rata-rata 13,08% untuk daging dan -0,17% untuk telur.  Produksi daging yang tertinggi terjadi pada komoditi daging ayam ras.  Hampir seluruh produksi daging  mengalami pertumbuhan, kecuali produksi daging babi, sapi, kerbau dan ayam buras mengalami penurunanan produksi telur selama dua tahun terakhir mengalami pertumbuhan sebesar -0,17% dan produksi telur ini sudah dapat memenuhi permintaan masyarakat Kalimantan Selatan.  Kontribusi produksi ayam buras masih yang terbanyak dan diikuti  telur ayam  petelur. secara jelas dapat dilihat pada Tabel

Pemotongan Ternak
Secara umum pemotongan ternak pada tahun 2007 mengalami kenaikan dibandingkan tahun 2006, dengan rata-rata kenaikan sebesar 20,68%, kecuali untuk pemotongan sapi, kerbau, kambing, babi, dan ayam buras turun masing-masing 13,65%, 0,24%, 3,37%, 41,07%; dan 18,14%;.
Pemotongan Ternak Provinsi Kalimantan Selatan Tahun 2006 dan 2007

Imagelahan pertanian di Kalsel

PENGEMBANGAN PADI :

PENINGKATAN PRODUKSI  PADI
KALIMANTAN SELATAN TAHUN  2005 – 2007

No. Tahun     Produksi (ton)   Persentase
——————————————–
1   2005      1,598,835
2   2006      1,636,840        2.38
3   2007      1,953,868        19.37
4   2008      1,976,966        1.18
Keterangan th2008 berdasarkan angka ramalan II 2008
PENINGKATAN  PRODUKTIVITAS  PADI
KALIMANTAN  SELATAN  TAHUN  2005 – 2007

No. Tahun  Produktivitas (ku/ha)  Persentase
1 2005             34.79
2 2006             35.38              1.70
3 2007             38.61              9.13
4 2008             39.03              1.09
Keterangan tahun 2008 berdasarkan angka ramalan II 2008

RANKING PRODUKSI PADI SECARA NASIONAL BERDASARKAN ATAP

No.Tahun Produksi  (ton) Kotribusi  Posisi
Kal.  Selatan Nasional Peringkat
1 2005 1,598,835  54,152,959         2.95 X
2 2006 1,636,840  54,454,937         3.01 X
3 2007 1,953,868  57,170,450         3.42 VIII
4 2008 1,976,966  59,906,950         3.30 IX
Keterangan tahun 2008 berdasarkan angka ramalan II 2008
PENGEMBANGAN JAGUNG
PENINGKATAN PRODUKSI JAGUNG
KALIMANTAN SELATAN TAHUN  2005 – 2007

No.Tahun Produksi (ton) Persentase
1  2005           48,103  5.29
2  2006           58,283       21.16
3  2007          100,957       73.22

PENINGKATAN  PRODUKTIVITAS JAGUNG
KALIMANTAN  SELATAN  TAHUN  2005 – 2007

Image

No.Tahun Produktivitas Persentase
1  2005             30.83
2  2006             34.20   10.93
3  2007             45.39   32.72
RANGKING PRODUKSI JAGUNG SECARA NASIONAL
BERDASARKAN ATAP
No. Tahun Produksi  (ton) Posisi
Kal.  Selatan Nasional
1 2005 48,103          12,510,696
2 2006 58,283          11,608,769  20
3 2007 100,957  13,287,553  16

PENGEMBANGAN KACANG TANAH

PENINGKATAN PRODUKSI KACANG TANAH
KALIMANTAN SELATAN TAHUN  2004 – 2007
No.Tahun Produksi (ton) Persentase
1  2005           16,735         1.79
2  2006           15,759        (5.83)
3  2007           18,214        15.58

PENINGKATAN  PRODUKTIVITAS KACANG TANAH
KALIMANTAN  SELATAN  TAHUN  2004 – 2007
No. Tahun Produktivitas Persentase
1 2005      11.46              (0.52)
2 2006      11.34              (1.05)
3 2007      11.50               1.41

RANGKING PRODUKSI KACANG TANAH SECARA NASIONAL
BERDASARKAN ATAP
No.Tahun Produksi  (ton) Posisi
Kal.  Selatan Nasional
1   2005      16,735  836,282
2   2006      15,759  838,161  11
3   2007      18,214  789,089  10
PENGEMBANGAN UBI KAYU
PENINGKATAN PRODUKSI UBI KAYU
KALIMANTAN SELATAN TAHUN  2004 – 2007
No.Tahun  Produksi (ton)    Persentase
1  2005   77,904        15.77
2  2006   82,389         5.76
3  2007   117,322        42.40

PENINGKATAN  PRODUKTIVITAS UBI KAYU
KALIMANTAN  SELATAN  TAHUN  2004 – 2007

No.Tahun  Produktivitas Persentase
1  2004      130.51
2  2005      133.10             1.98
3  2006      136.18             2.31
4  2007      142.99             5.00
RANGKING PRODUKSI UBI KAYU SECARA NASIONAL
BERDASARKAN ATAP
No.Tahun Produksi  (ton) Posisi
Kal.  Selatan   Nasional
1  2005          77,904    19,321,044
2  2006          82,389    19,986,640  20
3  2007          117,322    19,977,604  15
HORTIKULTURA

PENGEMBANGAN KAWASAN JERUK
Luas Pengembangan Sentra Produksi Jeruk di Kalsel
tahun  2005, 2006 dan 2007
No Kabupaten/Kota Luas (Ha)
2005 2006 2007 Jumlah
1. Barito Kuala 1.000 1.000 2.065 5.765
2. Banjar 300 85 154 999
3. Tapin 375 146 470 1.273
4. H.S.Tengah 100 - - 250
5. Banjarbaru 75 - - 175
Jumlah 1.850 1.231 2.689 8.462

Bisnis Menjanjikan Jeruk Siam Banjar
ditulis oleh : Zainul Arifin pada : 25/08/2008 – 09:24

Jeruk Siam Banjar asal Kalimantan Selatan merupakan Salah satu komoditas unggulan hortikultura yang sudah sangat berkembang dan memiliki potensi cukup prosfektif sebagai komoditi bernilai ekonomis.

Dukungan potensi lahan untuk usaha budidaya komoditas ini masih sangat terbuka mengingat
berdasarkan data dari Dinas pertanian Propinsi Kalimantan Selatan,luas lahan yang sudah dimanfaatkan selama tahun 2007 untuk usaha pertanian
baru mencapai 52,55%.
Pada tahun 2007 luas lahan pertanaman jeruk tercatat sebesar 8.740 Ha, sedangkan luas panen tanaman produktif 2.460 Ha
dengan tingkat produksi sebesar 78.474 ton dan produktivitas 31,90 ku/ha. Buah jeruk Siam  Banjar sangat disukai untuk dikonsumsi karena jeruk ini
memiliki kandungan air buah yang tinggi dan skala brix berkisar 9 – 10 sehingga mempunyai cita rasa buah yang manis dan segar dengan penampilan
fisik buah relatif besar, kulit buah luar mengkilap dan mudah dilepas dari daging buah serta warna buah matang kuning mengkilap menjadikan buah ini
menjadi pilihan favorit konsumen dalam preferensi konsumsi buah-buahan.

Dalam setiap kesempatan event Kontes Buah Nasional Jeruk Siam Banjar asal
Kalimantan Selatan ini selalu mendapat predikat Juara dan pada tahun 2006 menjadi juara I Tingkat Nasional . Daerah-daerah sentra penghasil buah jeruk siam banjar di kalimantan Selatan
antara lain terdapat di Kabupaten Tapin, Barito Kuala, Banjar dan Hulu Sungai Tengah, daerah-daerah sentra ini sangat mudah diakses baik dari segi
transportasi dan komunikasi karena telah didukung dengan infra struktur yang sangat baik, sehingga cukup memiliki keunggulan kompetitif dalam mendukung
usaha agribisnis pada komoditas ini.
Dengan dukungan potensi, infra struktur dan keunggulan buah jeruk Siam Banjar sudah barang tentu peluang pasar
dalam agribisnis komoditi ini masih terbuka dan sangat menjanjikan, dalam skala lokal Kalimantan Selatan saja dengan jumlah penduduk3 juta jiwa dimana 10%
penduduknya yang makan buah jeruk satu biji sehari, maka akan dalam satu hari akan terjual 300.000 biji buah jeruk atau kurang lebih 30 ton.  Apabila harga
jeruk per kilogram Rp. 6.000,- dan ketersedian buah jeruk selama 5 bulan, maka nilai ekonomis yang dapat diperoleh adalah sebesar (5 bln x 30 hr x 30.000 kg x
x Rp. 6.000,-) = Rp. 27 Miliar .suatu nilai bisnis yang cukup besar. Jaringan pemasaran yang sudah berkembang selain di pasar lokal Kalimantan Selatan, juga telah
meluas ke perdagangan luar pulau/propinsi lain seperti ke Kalimantan Tengah, Kalimantan Timur, Jawa Timur dan Jakarta.

PENGEMBANGAN KAWASAN PISANG

Luas Pengembangan Agribisnis Pisang di Kalsel
Tahun 2005, 2006 dan 2007
No.
Kabupaten/Kota Luas (Ha)
2005 2006 2007 Jumlah
1.Banjar 100 - - 300
2.Kotabaru  150 100 44 494
3.Balangan 5* 30 - 135
4.HSS    5* - - 95
5.Tanah Bumbu 5* 50* 50* 175
Jumlah 260 135 90 1.125

Pengembangan Sentra Agribisnis PisangPengembangan tanaman pisang
PENGEMBANGAN KELEMBAGAAN:
A.KELOMPOK TANI
Kelompok Tani Agribisnis Tanaman Pangan / Kelompoktani jagung
yaitu KSM Rumpun Pemuda Tani, Kec. Pelaihari, Kab. Tanah Laut
berhasil memperoleh penghargaan dari Presiden Susilo Bambang
Yudhoyono sebagai Kelompok Tani teladan Tingkat Nasional

B. KELOMPOK UPJA
Jumlah Kelompok UPJA di Provinsi Kalimantan Selatan

No Kabupaten Kecamatan Jumlah UPJA

1  Tabalong 10     44
2  H.S.Utara 7     49
3  H.S.Tengah 7     48
4  H.S.Selatan 8     49
5  T a p i n 9     18
6  B a n j a r 8     35
7  Tanah Laut 6     19
8  Barito Kuala 13     45
9  Kotabaru 15     44
10 Tanah Bumbu 5     18
11 Balangan 6     17
12 Banjarmasin 1     1
13 Banjarbaru 2     5

Jumlah 97     392
KELOMPOK P3A

No  Kabupaten Jumlah  Luas (Ha)

1  Tabalong 31 44
2  H.S.Utara 20 49
3  H.S.Tengah 9 48
4  H.S.Selatan 30 49
5  T a p i n 61 18
6  B a n j a r 20 35
7  Barito Kuala 31 19
8  Tanah Laut 23 45
9  Kotabaru 16 44
10  Tanah Bumbu 18 18
11  Balangan 4 17
12  Banjarmasin 0 1
13  Banjarbaru 4 5

Jumlah  392

BERAS SIAM MUTIARA SOLUSI BAGI PENDERITA DIABETES

Ketika seseorang di diagnosa mengidap penyakit kencing manis atau diabetes mellitus, pola hidupnya langsung berubah drastis. Tiba-tiba muncul berbagai pantangan. Sedihnya kebanyakan dari pantangan itu adalah hal-hal yang disuka, misalnya makanan yang enak.

Disiplin dalam diet diharuskan agar penyakit bisa terkontrol dengan baik. Diabetes yang tidak terkontrol akan mempercepat terjadinya komplikasi penyakit, seperti gangguan ginjal, hipertensi, gangguan penglihatan, yang ujung-ujungnya memperberat kehidupan diabetisi itu sendiri.demikian seperti ditulis M Taufik.

Meski tahu risiko komplikasi yang dihadapi, tidak semua diabetisi sanggup mengikuti pola hidup baru yang disarankan dokter dan ahli gizi. Terutama bila diharuskan mengurangi porsi nasi. Bagi sebagian besar orang Indonesia nasi, adalah makanan pokok yang tidak bisa digantikan oleh sumber karbohidrat lainnya. Meski sudah makan mi, roti, atau kentang, kita belum merasa “makan” bila belum makan nasi. Masalahnya, nasi yang umumnya kita makan sehari-hari, terbuat dari beras putih. Kajian ilmu gizi menyebutkan bahwa beras putih mengandung glukosa cukup tinggi sehingga berpotensi meningkatkan kadar gula darah. Jelas kurang baik untuk dikonsumsi penderita diabetes. lalu… Solusinya apa…?

Beras Siam Mutiara Solusi Bagi Diabetes
Mungkin Masyarakat kita  belum banyak yang tahu bahwa padi lokal kita yaitu padi siam mutiara sangat cocok di konsumsi oleh para penderita penyakit diabetes atau sensitive gula darah …..”kenapa demikian.”

Ternyata Beras Siam Mutiara mempunyai keunggulan tersendiri dari beras-beras yang lainnya. Kalau beras yang lain mempunyai kadar karbohidrat cukup tinggi,  80%, beras siam mutiara mempunyai kadar karbohidrat sedang,  48,88% dan ini cocok di konsumsi oleh orang yang menderita penyakit diabetes.

Dengan kandungan karbohidrat yang sedang,48,88% mungkin dapat di rekomendasikan oleh para dokter bahwa beras siam mutiara cocok di konsumsi oleh penderita diabetes kerena penyembuhan penyakit diabetes sangat dipengaruhi oleh pola konsumsi karbohidrat. Dengan mengkonsumsi beras mutiara mungkin porsi asupan bisa lebih banyak tetapi kandungan karbohidratnya lebih rendah sehingga penderita diabetes masa kenyangnya cukup lama dari dari mengkonsumsi beras yang lain.

Dinas Pertanian Provinsi Kalimantan Selatan melalui UPTD Balai Pengawasan Sertifikasi Benih telah melepas galur padi sawah lokal Siam Mutiara sebagai varietas unggul berdasarkan Keputusan Menteri Pertanian Nomor 595/Kpts/SR.120/7/2008 pada tanggal 17 Juli  2008,yang tentu melalui penelitian kandungan gizi dari beras tersebut.

Peternakan dalam Mewujudkan Ketahanan Pangan
Dengan mengemban 6 misi dari peternakan di Kalimantan Selatan, yaitu (1) Menciptakan Peternak Mandiri, (2) Mewujudkan Ketahanan Pangan, (3) Menghasilkan Produk Unggulan, (4) Menciptkan Lapangan Kerja Produktif, (5) Mengoptimalkan Potensi dan menjaga kelestarian Sumber Daya Alam, (6) serta menumbuhkan pusat-pusat pembibitan,  dinas peternakan Kalimantan Selatan bertekad akan untuk mewujudkan daerah ini menjadi sumber bibit sapi potong pada tahun 2010 nantinya.

Dengan kebijakan sumber bibit mulai tahun 2010 mengeluarkan sapi bibit 5.000 ekor pertahun, dengan harapan bisnis sapi potong nak 10 persen pertahun. Populasi ternak sapi potong di Kalimantan Selatan terus meningkat secara signifikan dari tahun ke tahun, dimana pada tahun 2005 berjumlah 182.639 ekor, jumlah ini terus meningkat pada tahun 2006 menjadi 193.920 ekor, atau naik sebesar 6,18 persen. Hal ini tentunya diiringi dengan meningkatnya produksi daging sapi dimana pada tahun 2005 sebesar 5.592.768 kilogram meningkat pada tahun 2006 menjadi 6.179.092 kilogram atau sebesar 10,48 persen.  Peningkatan populasi dan produksi daging ini tidak hanya terjadi pada sapi potong, namun juga diikuti oleh jenis ternak lainnya seperti sapi perah, kerbau, kuda, kambing, domba, babi, serta ternak unggas yang meliputi ayam buras, ayam ras petelur, ayam ras pedaging serta itik.
Populasi Ternak di Provinsi Kalimantan Selatan Tahun 2006 dan 2007
produksi Daging dan Telur
Pencapaian produksi daging dan telur selama dua tahun terakhir mengalami kenaikan pertumbuhan rata-rata 13,08% untuk daging dan -0,17% untuk telur.  Produksi daging yang tertinggi terjadi pada komoditi daging ayam ras.  Hampir seluruh produksi daging  mengalami pertumbuhan, kecuali produksi daging babi, sapi, kerbau dan ayam buras mengalami penurunanan produksi telur selama dua tahun terakhir mengalami pertumbuhan sebesar -0,17% dan produksi telur ini sudah dapat memenuhi permintaan masyarakat Kalimantan Selatan.  Kontribusi produksi ayam buras masih yang terbanyak dan diikuti  telur ayam  petelur. secara jelas dapat dilihat pada Tabel

pemotongan Ternak
Secara umum pemotongan ternak pada tahun 2007 mengalami kenaikan dibandingkan tahun 2006, dengan rata-rata kenaikan sebesar 20,68%, kecuali untuk pemotongan sapi, kerbau, kambing, babi, dan ayam buras turun masing-masing 13,65%, 0,24%, 3,37%, 41,07%; dan 18,14%;.
Pemotongan Ternak Provinsi Kalimantan Selatan Tahun 2006 dan 2007
Sumber : Verifikasi dan Validasi Data Peternakan Provinsi Kalsel Tahun 2007

Tinggalkan Balasan