Tanaman khas Kalsel

KAYU ULIN KALSEL KIAN LANGKA
Banjarmasin,11/4 (ANTARA)- Keberadaan jenis kayu khas Kalimantan yang disebut kayu Ulin (Eusideroxylon zwageri) belakangan ini kian langka dan sulit diperoleh di wilayah Kalimantan Selatan (Kalsel).
Padahal keberadaan kayu tersebut banyak dicari masyarakat khususnya untuk bahan bangunan rumah, kantor, gedung, serta bangunan lainnya, kata Haji Sandri penduduk Jalan Sultan  Adam Banjarmasin, Rabu.
Haji sandri yang dikenal sebagai pedagang kayu ulin tersebut menyebutkan akibat sulitnya memperoleh kayu tersebut maka harga bahan bangunan terbuat dari kayu itupun kini melambung.
Menurutnya, jenis bahan bangunan yang terbuat dari kayu ulin yang belakangan masih banyak ditemukan di Banjarmasin atau daerah lain di Kalsel, bukan lagi hasil tebangan baru melainkan kayu ulin bekas hasil tebangan lama yang sudah tersimpan bertahun-tahun.
“Dulu kayu ulin yang masih berupa balokan atau berbentuk pohon di potong-potong dengan panjang sekitar tiga hingga empat meter lalu balokan itu potong-potong lagi sehingga menjadi persegi empat dengan panjang tetap sekitar tiga hingga empat meter,” katanya.
Nah sisa-sisa potongan kayu itulah  yang sekarang dibuat lagi menjadi bahan bangunan seperti ini, katanya seraya memperlihatkan beberapa kayu gergajian hasil olahan kayu sisa tersebut.
Bukti kayu ulin ini sisa, lihat saja warna kayunya sudah ada yang  agak kehitaman, ada bekas tanaman lumut (tumbuhan air) ada bekas gergajian, bekas terbakar dan tanda-tanda lainnya.
Walau kayu ini  kayu ulin bekas olahan tetapi tetap saja diminati karena kualitas kayu ini kuat dan baik, sehingga untuk jenis bahan bangunan papan saja harganya sekarang sudah mencapai Rp52 ribu per keping, padahal dulu paling banter hanya Rp20 ribu per keping.
Mahalnya harga itu selain memang kian langka juga untuk mengangkut kayu tersebut dari lokasi penggergajian di Bilangan Liang Anggang sekitar 60 kilometer dari Banjarmasin ke arah Banjarmasin sering dipersoalkan pihak kepolisian, akibatnya  banyak pedagang yang takut membawa kayu tersebut.
Berdasarkan keterangan yang ia peroleh kayu lin tersebut, berasal dari tebangan lama di wilayah Kabupaten tanah Laut, Tanah Bumbu, serta Kabupaten Kotabaru atau wlayah pesisir Timur Kalsel.
Berdasarkan catatan, kayu ulin merupakan salah satu jenis kayu hutan tropika basah yang tumbuh secara alami di wilayah Sumatera Bagian Selatan dan Kalimantan.
Jenis ini dikenal dengan nama daerah ulin, bulian, bulian rambai, onglen, belian, tabulin dan telian.
Pohon ulin termasuk jenis pohon besar yang tingginya dapat mencapai 50 m dengan diameter samapi 120 cm, tumbuh pada dataran rendah sampai ketinggian 400 m.
Kayu ulin banyak digunakan sebagai konstruksi bangunan berupa tiang bangunan, sirap (atap kayu), papan lantai,kosen, bahan untuk banguan jembatan, bantalan kereta api dan kegunaan lain yang memerlukan sifat-sifat khusus awet dan kuat.

tumpukan kayu ulin untuk bahan bangunan

Ulin Bisa Dijadikan Obat

PELAIHARI, SPIRIT – Ulin ternyata tak sekadar bernilai ekonomis tinggi dari nilai kayunya. Lebih dari itu, kayu khas hutan tropis di Kalimantan bernama latin eusideroxylon zwagery ini juga bisa dijadikan obat-obatan.

Manfaat ganda kayu ulin tersebut diutarakan Staf Ahli Bidang Ekonomi Menhut Ir Indriastuti MS. “Ulin termasuk jenis tanaman obat,” ungkapnya di hadapan kalangan pejabat Dinas Kehutanan Tala dan peserta Sosialisasi Penguatan Kelembagaan Kelompoktani Hasil Hutan Bukan Kayu (HHBK), Rabu (16/7).

Indriastuti menyebutkan, ada tiga jenis bagian dari kayu ulin yang bisa dimanfaatkan untuk obat-obatan yaitu daun muda, esktrak biji, dan buahnya. “Ini sudah diteliti,” sebutnya. Staf ahli Menhut itu hadir di Tala guna menjadi pembicara utama dalam Sosialisasi Penguatan Kelembagaan Kelompoktani HHBK tersebut. Di Tala sendiri kelompoktani HHBK kian berkembang.

Secara khusus Indriastuti menyampaikan apreasiasinya kepada seluruh jajaran Dinas Kehutanan Tanah Laut yang serius dan berkomitmen tinggi untuk mengembangkan dan membina masyarakat (petani) di sekitar hutan.

Kelompoktani HHBK di Tala saat ini bahkan ada yang telah menghasilkan produk yang cukup prospekstif. Salah satu contohnya adalah madu kemasan yang dihasilkan dari penangkaran lebah di pohon akasia.

Indriastuti mengatakan HHBK kini menjadi program utama yang kini terus digaungkan Departemen Kehutanan. Pasalnya selama ini potensi HHBK kurang tersentuh, padahal potensi ini cukup prospekstif untuk meningkatkan taraf hidup petani.

HHBK tidak hanya berupa madu lebah, tapi sangat banyak. Di antaranya jamur, rotan, getah-getahan, bambu, rerumputan, satwa langka, satwa elok, air, dan udara. roy

KAYU RAMIN
Gonystylus bancanus (Ramin) merupakan salah satu jenis tanaman hutan yang banyakterdapat di hutan rawa gambut. Daerah penyebarannya di Indonesia meliputi pantai Timur Sumatera dan pantai Barat Daya Kalimantan.Jenis ini tumbuh pada ketinggian 2 – 50 m (< 100 m) pada tanah-tanah gambut, glei humus dan pdsol yang mempunyai PH rendah (dibawah 5) dan iklim basah atau tipe hujan A menurut Schmidt-Ferguson. Pohon ini termasuk jenis setengah toleran terhadap cahaya. Oleh karena itu penanamannya diwaktu muda membutuhkan pohon peneduh. Diluar lahan gambut, glei humus dan podsol, pohon ramin tidak cocok untuk dikembangkan.Kayu ramin memiliki corak serat kayu yang khas, berkualitas tinggi dan mudah dikerjakan. Pemanfaatan kayunya sangat seragam dan digunakan untuk keperluan alat-alat rumahtangga, kayu lapis, alat-alat olahraga dan mainan.B
Pembibitan Ramin dapat diperoleh dari biji dan permudaan alam. Cara pembuatan asal biji dapat dilakukan dua cara yaitu melalui bedeng tabur, kemudian setelah bibit sudah mengayu bibit tersebut disapih dan cara lain biji langsung ditanam dalam kantong-kantong plastik. Cara yang terakhir tidak perlu penyapihan.1. Pengadaan bibitMusim bunga dari pohon ramin beragam daerah ke daerah, tergantung pada kondisi lingkungannya. Di Kalimantan pohon ramin berbunga pada bulan Agustus –September dan berbuah masak antara bulan Oktober sampai dengan pertengahan Januari. Bahkan ada pula yang berbuah bulan Juni dan Mei.
Buah tua umumnya ditandai oleh warna buah hijau kemerah-merahan sampai kekuning-kuningan. Setelah buah dikumpulkan harus segera bijinya dikeluarkan, karena arillusnya seringmengandung ulat yang dapat menurunkan daya kecambahnya. Penyeleksian bijididasarkan pada ukuran dari biji. Biji yang berukuran besar, padat dan berwarna hitam, umumnya menghasilkan daya kecambah tinggi. Satu kg biji jumlahnya 200 – 300. Biji yang sudah terkumpul kemudian diangin-angin, setelah kering dimasukkan dalam blek dicampur serbuk gergaji atau serbuk arang dan ditutup rapat. Dengan cara demikian daya kecambahnya dapat dipertahankan 50 – 80% dalam waktu 15 – 30 hari.Mengingat biji ramin mudah turun daya kecambahnya, maka perlu ada pengaturan yang tepat antara pengadaan biji, pembuatan bibit dan waktu penanaman. Beberapa halyang harus diperhatikan dalam pengadaan bibit yaitu :• Biji hendaknya diambil dari pohon yang pertumbuhannya baik, lurus, sehat, segar dan jelas asal usulnya.• Biji bermutu baik dan tidak mengandung hama penyakit.• Biji bisa diperoleh dari kebun sendiri atau dibeli dari perusahaan yang ditunjuk oleh Departemen Kehutanan.2. Penaburan bijiSebelum kegiatan ini dilakukan, terlebih dahulu disiapkan bak penaburan antara lain yang terbuat dari plastik ukuran sedang, agar mudah diangkat. Siapkan media tabur Informasi lebih lanjut (Irwanto)
KAYU SUNGKAI (LURUS)

SUNGKAI. UMUMKayu sungkai (Peronema canescens) bernilai ekonomi yang dapat dipergunakanuntuk bangunan, furniture, laintai, papan dinding, patung, ukiran, kerajinan tangandan finir mewah. Disamping itu daunnya dapat dipergunakan sebagai obat penyakitgigi dan untuk menurunkan demam panas. Faktor inilah yang mendorongpengembangan jenis ini.Kayu sungkai termasuk dalam kelas awet III dan kelas kuat II-III, berat jenis 0,53 -0,73. Disamping itu dijumpai pula bahwa, kayu gubalnya berwarna putih yang dalamkeadaan kering berubah menjadi kekuning-kuningan dan kayu terasnya mempunyaiwarna hampir menyerupai bagian gubal, daya retak tinggi dan sifat pengeringanyang mudah.
B. KETERANGAN BOTANISungkai termasuk suku Vebernaceae yang dikenal dengan nama daerah jatiseberang atau kisabrang. Bentuk batang sungkai lurus dengan parit kecil, tetapikadang-kadang bentuk batangnya jelek akibat serangan hama pucuk, kulit luarnyaberwarna abu-abu atau sawo muda, beralur dangkal, mengelupas kecil-kecil dantipis. Kulit luar penampangnya berwarna kuning, coklat atau merah muda.Rantingnya penuh dengan bulu-bulu.Ciri yang lainnya adalah bunga dalam kedudukan malai, cabangnya lebar-lebar danletaknya berpasangan, panjang 20 – 40 cm. Bunga letaknya hampir duduk, kelopakbunga agak tertutup rapat dan berbulu. Ukurannya 1/2 mm – 2 mm, warnanya hijaupada pangkal.

pohon sungkai
C. TEMPAT TUMBUH1. PenyebaranPohon sungkai tersebar di daerah Sumatera Selatan, Jawa Barat, KalimantanBarat, Kalimantan Selatan dan Kalimantan Tengah. Tempat tumbuh utamasungkai di hutan sekunder yang berair dan kadang-kadang terdapat juga dihutan sekunder yang kering, akan tetapi tidak dijumpai di hutan primer sertadaerah yang periodik tergenang air.2. Persyaratan tempat tumbuhSungkai umumnya tumbuh baik pada ketinggian 0 – 600 meter dengan tipe iklimA – C menurut tipe curah hujan Schmidt dan Ferguson. Penanaman pohonsungkai memerlukan tanah yang baik sedangkan ditanah margel tidakdianjurkan karena tanaman akan menjadi layu dan kering.D. PERSIAPAN LAPANGAN1. Penataan lapangan. Penataan areal penanaman dimaksudkan untuk mengaturtempat dan waktu, pengawasan serta keperluan pengelolaan hutan lebih lanjut.Areal dibagi menjadi blok-blok tata hutan dan blok dibagi lagi menjadi petak-petak tata hutan. Unit-unit ini ditandai dengan patok (diambil dari situs/irwanto)

KAYU BALAU

Kayu Balau juga banyak tumbuh di hutan Kalsel dan populasinya pun kian menurun setelah terus di tebang karena kayu ini dinilai berkualitas tinggi

Karena kekuatan dan keawetannya yang tinggi, kayu balau dipergunakan untuk konstruksi berat, terutama jika berhubungan dengan keadaan yang lembab dan berhubungan dengan tanah. Jenis kayu ini antara lain dipergunakan untuk jembatan, bantalan,tiang listrik, lantai, bangunan maritim, perkapalan (antara lain untuk kemudi, pendayung, tiang layar, lunas dan gading-gading), perumahan, karoseri, batang cikar, sumbu gilingan, bahkan dipergunakan juga untuk membuat tong atau jenis wadah lainnya

Wilayah propinsi Kalsel akan akan sumber plasma nutfah dan dianggap sebagai tempat asal dari berbagai tumbuhan seperti :
1. Durian ( Duriospesi )
2. Tebu ( Sacharum Officinarum )
3. Kasturi ( Mangifera Delmiana )
4. Rambutan ( Nephelium Lappocum )

Hutan Daratan rendah dan tinggi didominasi oleh spesies :
1. Meranti (Dipterocorpus Spesi )
2. Hopea ( Hopea spesia )
3. Ulin ( Eusideroxlyon )
4. Kempos ( Komposia Spesi )
5. Damar ( Agathis bornensis )
6. Sindor ( Sindora Spesi )

Didaerah hutan tanah bergambut pepohonan utamanya meliputi :
1. Ramin ( Gonostylus Bancadud )
2. Jeluntung ( Dura Spesi )
3. Ebony ( Displyros Spesi )

Didaerah hutan rawa dibagian barat Kalimantan Selatan banyak ditemui
1. Xylopia Spesi :
2. Tarantang ( Comnaperma Spesi )
4. Nipah ( Nipahfruitcans )

Didaerah hutan air payau banyak terdapat :
1. Bakau ( Rhizospora spesi )
2. Prapat ( Soneratia spesi )
3. Api – Api ( Avicenia spesi )
4. Bruguira spesi

Dua spesi rotan yaitu spesi dan Daemonorps adalah tanaman memanjat terpenting. Tanaman memanjat lainnya adalah ficus spesi. Diatas pohon-pohon besar di dalam hutan terdapat berbagai anggrek. (Sumber: Dishut Kalsel)

HUTAN GALAM KALSEL TERDESAK KONVERSI PERTANIAN
Banjarmasin, – Ekosistem hutan galam yang unik di Kalimantan Selatan hingga kini makin menipis dan terus terancam konversi lahan untuk pertanian dan permukiman. Padahal, kayu galam merupakan komoditas penting di Kalsel untuk bahan utama fondasi rumah di lahan rawa-rawa.

Pantauan Kompas di berbagai kawasan rawa di Kalsel, Rabu (11/5), kawasan rawa-rawa di pinggiran Kota Banjarmasin yang dulu berupa hutan kini sudah menjadi areal terbuka. Di berbagai lokasi yang dulu termasuk pedalaman kini sudah bertebaran perumahan yang dibangun oleh pengembang.

Di Kecamatan Gambut dan Kecamatan Aluh-Aluh, Kabupaten Banjar, misalnya, yang dulu identik dengan hutan gambut yang ditumbuhi kayu galam kini sudah hampir tidak ditemukan lagi. Areal terbuka di hutan gambut dan rawa-rawa telah membuat daerah tersebut selalu terbakar jika kemarau dan selalu tergenang banjir jika musim hujan.

Hingga kini eksploitasi kayu galam di hutan-hutan rawa-rawa dan gambut terus berlangsung marak karena galam merupakan satu-satunya kayu yang andal untuk dibuat fondasi di daerah berair.

“Musim hujan dan banjir seperti ini justru dimanfaatkan warga untuk menebang kayu galam dari hutan. Mereka memanfaatkan ketinggian air banjir untuk menarik kayu dari hutan ke sungai,” ujar Suhariyono, warga Kuripan Barito Kuala.

Kepala Dinas Kehutanan Kabupaten Barito Kuala Iwan Hernawan menjelaskan, galam merupakan komoditas penting Kabupaten Barito Kuala dan hingga kini Barito Kuala masih menjadi produsen utama. Namun, dia akui kini kayu galam mulai langka. “Sekarang susah untuk mencari galam ukuran besar dan lurus,” ujarnya.

Eksploitasi di luar hutan

Di Barito Kuala eksploitasi galam diatur hanya untuk kawasan di luar hutan. “Ada 17 perusahaan yang ditunjuk menjadi pengumpul kayu galam ini dan semua produksi kayu galam legal di Barito Kuala dipungut retribusi untuk pendapatan asli daerah sesuai dengan Peraturan Daerah Nomor 19 Tahun 2000,” ujarnya memaparkan.

Di Barito Kuala galam tumbuh di berbagai areal, termasuk di pekarangan rumah warga. Karena itu, pemerintah tidak mungkin mengendalikan eksploitasi galam karena tanaman tersebut sudah seperti tanaman perkebunan yang bisa hidup di sembarang tempat.

Pihaknya menganjurkan warga masyarakat agar menanam kembali hutan galam untuk mengimbangi penebangan.

Produksi kayu galam di Barito Kuala per tahun mencapai 20.000 meter kubik sehingga menjadikan kabupaten itu sebagai penghasil galam terbesar di Kalsel. Walaupun galam merupakan salah satu bahan baku utama pembangunan rumah di Kalsel, hingga kini kelestariannya terabaikan.

“Musuh utama masa depan kayu galam adalah konversi lahan untuk pertanian dan permukiman,” ujar Iwan menambahkan. Pemerintah tidak bisa melarang konversi itu karena memang lahan galam yang dikonversi merupakan hak milik warga.

Akibat hutan rawa habis

Sementara itu, banjir susulan kembali melanda Kecamatan Gambut, Kabupaten Banjar, Kalsel, kawasan penyangga Kota Banjarmasin yang selama ini dikenal sebagai “bekas” hutan rawa-rawa dan gambut. Kawasan rawa yang kini dipadati dengan permukiman penduduk dan menjadi ruas utama Provinsi Kalsel itu tergenang banjir beberapa hari terakhir ini karena kiriman air dari arah hulu.

Di Kecamatan Gambut, Kabupaten Banjar, Kalsel, Rabu, perumahan di sisi utara jalan utama yang menghubungkan Kota Banjarmasin dengan Kota Banjarbaru tersebut kini mulai terendam banjir. Beberapa sekolahan di daerah itu pun tergenang halamannya.

Tahun ini kawasan tersebut memang belum dilanda banjir besar-besaran seperti setahun lalu. Warga menuturkan, sebenarnya hujan di sekitar kawasan gambut tersebut tidak terlalu deras. Namun, karena air gambut dan rawa-rawa yang sudah rusak mudah jenuh oleh air, maka hujan yang tak seberapa pun mudah menggenangi permukiman di sekitarnya. (amr)

tumpukan kayu galam (Melaleuca sp)untuk bahan bangunan

Deretan tumbuhan kayu galam

Hutan rawa galam merupakan hutan rawa air tawar yang didominasi oleh spesies tumbuhan galam (Melaleuca cajuputi syn. M. leucadendron). Spesies tumbuhan berkayu ini tumbuh alami dan mampu beradaptasi dengan kondisi lingkungan yang relatif ekstrim (air masam, tanah miskin hara, dan mudah terbakar terutama pada musim kemarau). Pendominasian spesies tumbuhan yang bisa mencapai tinggi 15 m dan diameter batang (setinggi dada) 30 cm ini menjadikannya dikenal sebagai tumbuhan khas di lahan rawa.

Umbi gadung, tanaman gadung salah satu jenis tanaman penghasil karbohedrat dan banyak dimanfaatkan warga pedalaman Kalsel sebagai sumber pangan alternatif, gadung bisa dibuat tepung, kripik, atau dibuat kue-kue, tetapi harus melalui proses pengolahan yang benar guna menghindari kandungan racun yang ada dalam umbi gadung tersebut.

GUMBILI NAGARA, UBI RAKSASA DARI KALSEL

gumbili1 gumbili nagara
Jangan heran jika ke Kalimantan Selatan melihat ubi raksasa sebesar kepala kerbau. Itulah gumbili nagara (Ipomoea batatas L), yakni ubi jalar khas Kalimantan Selatan.

Dijuluki ubi raksasa karena gumbili nagara yang sejenis ubi jalar ini ukurannya bisa sebesar semangka, berbentuk lonjong tak beraturan, beratnya bisa mencapai empat sampai tujuh kilogram!

Namun, bukan cuma ukurannya yang istimewa. Gumbili nagara rasanya enak. Jika digoreng, rasanya renyah, empuk, dan kandungan airnya tidak berlebihan. Adapun kandungan tepungnya tinggi dan tahan disimpan selama dua bulan.

Dari sisi ekonomi, gumbili nagara sangat menguntungkan karena masa panennya setiap empat bulan, sedangkan produksinya bisa sekitar 20-60 ton per hektar (ha). Angka ini jauh lebih tinggi dibandingkan dengan ubi jalar biasa yang produksinya maksimal 50 ton per hektar.

Uniknya, gumbili nagara ini hanya bisa dibudidayakan di sekitar perairan rawa Sungai Nagara, terutama di Kecamatan Daha Utara, Kabupaten Hulu Sungai Selatan, Provinsi Kalimantan Selatan. Dari 35.247 ha lahan pertanian di Kabupaten Hulu Sungai Selatan, sekitar 9.000 ha di antaranya berada di daerah paling subur Kecamatan Daha Utara. Di kecamatan ini komoditas yang menjadi unggulan adalah gumbili nagara.

Umumnya, gumbili nagara ini digoreng, baik dengan tepung maupun tidak, ataupun direbus. Makanan ini populer di sekitar Nagara, Kandangan, Banjarmasin. Selain populer di masyarakat Kalsel, gumbili nagara juga ”diekspor” hingga ke Kalimantan Timur dan Kalimantan Tengah.

Tidak diperoleh keterangan tentang total produksi gumbili nagara dalam setiap panen. Petani hanya menanam gumbili pada saat musim kemarau ketika kawasan rawa menjadi daratan, bersama tanaman semangka, jagung, dan cabai.

Akhmad Rijali Saidy, pengajar Fakultas Pertanian Universitas Lambung Mangkurat di Banjarbaru, memaparkan berdasarkan penelitiannya ada empat jenis gumbili nagara, yakni gumbili kai lama dan kai baru, gumbili habang, serta terakhir gumbili biru.

Gumbili kai lama dan kai baru warna ubinya putih, sedangkan gumbili habang warna ubinya merah ke kuning-kuningan. Adapun gumbili biru, sesuai namanya, warna ubinya biru ke ungu-unguan.

Hidup di rawa

Luar biasa! Itulah kata-kata paling tepat untuk menggambarkan cara bertani di areal pertanian rawa perairan Sungai Nagara, Kecamatan Daha Utara, Kabupaten Hulu Sungai Selatan. Warga di daerah ini yang memilih pekerjaan bertani gumbili nagara lebih banyak menghabiskan waktunya dengan kehidupan alam di kawasan rawa. Maka, tak heran jika mendatangi rumah-rumah petani di kecamatan itu banyak rumah yang kosong.

Para petani selama sepekan penuh berada di pahumaan (areal pertanian atau kebun). Untuk menemui mereka, tamu harus menunggu mereka kembali pada Kamis atau Jumat.

”Para petani itu pulang hanya untuk shalat Jumat, sekaligus menyiapkan bekal selama sepekan tinggal di lapau atau gubuk di kebun,” tutur Yuseran, warga Kecamatan Daha Utara.

Lokasi mereka bertani juga tidak mudah dijangkau karena tidak bisa dicapai dengan kendaraan darat seperti sepeda motor atau mobil. Satu-satunya transportasi yang bisa digunakan adalah jukung atau perahu kecil bermesin yang dikenal dengan jukung ces.

Meskipun area pertanian mereka jaraknya kurang dari 10 kilometer, namun untuk mencapainya memakan waktu 1,5 jam karena menggunakan jukung atau perahu kayu berkapasitas tiga orang yang hanya berkekuatan mesin 16 PK.

Kompas yang berkesempatan mendatangi area pahumaan gumbili nagara pada ray (istilah yang dipakai untuk menyebut kanal atau kali kecil) 10 dengan jukung ces, tidak menyangka daerah itu merupakan areal pertanian. Di daerah itu ada sekitar 20 ray dengan panjang tiga hingga lima pal (kilometer) dan lebarnya sekitar dua meter. Sepanjang mata memandang kiri dan kanan ray-ray di daerah itu yang terlihat hanyalah hamparan kumpai (padang rumput yang tebal) serta semak belukar.

Kegiatan pertanian baru terasa ketika terlihat lapau atau gubuk-gubuk milik para petani. Gubuk tersebut dibangun seperti rumah panggung setinggi dua meter. Tujuannya, kalau musim hujan dan rawa tergenang, lapau-lapau itu berubah menjadi tempat mereka memasang berbagai alat tangkap ikan. Pada sebuah persimpangan ray 10 tertulis, pada Senin warga petani diminta turun bergotong royong.

Setelah memarkir jukung di parit kecil, barulah terlihat tanaman pertanian seperti cabai merah, jagung, kacang tanah, waluh, kacang tanah, dan kundur. Adapun tanaman gumbili nagara hampir menutupi seluruh pahumaan.

Alamiah

Berbeda bertani ubi jalar di Jawa yang sebelum ditanam, terlebih dahulu rumputnya dibersihkan dan tanahnya diolah sehingga gembur. Untuk mengolah tanah, mereka hanya melakukan manguit atau dikikih (membongkar dengan tangan) tanah dan manyepak atau tinjak (sepak atau injak dengan kaki untuk mengetahui besaran ubinya) dalam tanah.

Untuk bisa bahuma (bertani) cepat, para petani biasanya terlebih dahulu maupahakan (mengupah) sekitar 10 orang per satu hektar untuk membersihkan kumpai dan semak belukar. Kumpai-kumpai yang mereka bersihkan tidak dibuang, tetapi dibiarkan hingga kering. Tujuannya, selain untuk melindungi ubi dari sengatan matahari juga menahan tanah tidak cepat kering. Setelah itu, mereka membuat tukungan (lajur pematang) untuk menanam bibit gumbili dengan jarak sekitar 1,5 meter.

Layaknya teknik pertanian organik, bertani gumbili nagara sampai sekarang masih bertahan dengan cara alamiah, artinya tidak menggunakan pupuk dan obat-obatan. Kalaupun memakai obat, itu hanya dilakukan saat mengalami serangan hama ulat. Serangan hama babi, mereka atasi dengan menyalakan lampu minyak atau menyirami air seni manusia ke seluruh pematang kebun. ”Air seni itu dikumpulkan. Babi hutan ternyata tidak berani datang selama 10 hari karena mencium air seni manusia,” ungkap Yuseran.

Petani terkadang mengalami kerugian besar kalau muncul serangan hama tikus. Untuk hama yang satu ini, para petani masih kesulitan memberantasnya. Para petani biasanya mengatasi dengan cara menanam gumbili nagara secara bersamaan atau menanam jagung bibit lokal setempat. Tujuannya agar tikus hanya akan memilih tanaman jagung.

”Petani tidak sanggup memberantas hama tikus karena jumlah mereka sangat banyak, sedangkan tenaga petani sangat terbatas,” ujar Yuseran pula.

Produksi gumbili nagara selama ini selalu melimpah. Petani mengeluh, pada saat produksi melimpah harganya jatuh. Harga di tingkat petani saat ini cuma Rp 625 per kg. Padahal di Banjarmasin, ibu kota Kalsel, harganya sekitar Rp 2.500 per kg.

”Keuntungan pedagang dan tengkulak terlalu besar, sedangkan petani menikmati harga yang sangat rendah,” tutur Halidi, petani Daha Utara.

Petani berharap, panen gumbili nagara kali ini harganya bisa di atas Rp 1.000 per kg atau Rp 2.000 per lajur.

Saat ini musim panen sedang berlangsung. Di beberapa lokasi terlihat hasil panen gumbili nagara itu ditumpuk begitu saja di ray atau ujung kanal tanpa khawatir bakal dicuri. Keesokan paginya, barulah gumbili nagara itu mereka angkut ke pasar di Nagara, ibu kota Kecamatan Daha Utara. Dari sanalah ubi jalar yang diwariskan turun-temurun dari bekas kerajaan Negara Dipa itu menyebar ke daerah Kalsel lainnya, ke Kaltim serta Kalteng.

Akhmad Rijali Saidy mengemukakan, pemerintah daerah mestinya turun tangan membantu petani gumbili nagara sebab petanilah yang sebenarnya telah menjaga kelestarian ubi raksasa gumbili nagara.(MUHAMMAD SYAIFULAH)

UBI ALABIO TANAMAN KHAS WILAYAH ALABIO

Ubi Alabio merupakan sumber karbohidrat potensial yang dapat dijadikan bahan pangan alternatif untuk mengurangi konsumsi beras terus meningkat. Di samping sebagai bahan pokok, ubi alabio juga berpotensi dijadikan sebagai bahan industri rumah tangga (kecil) hingga industri besar.

Alabio mungkin lebih dikenal sebagai nama ternak itik. Namun di Kalimantan Selatan, Alabio merupakan nama sejenis ubi lahan rawa. Masyarakat awam mengenalnya dengan sebutan ubi kelapa (Dioscorea alata L). Ubi Alabio, tanaman perdu merambat hingga mencapai 3-10 m, memiliki bentuk bulat dan bercabang, serta berwarna merah/ungu atau putih.

Biasanya masyarakat mengkonsumsi ubi alabio dengan cara dikukus/direbus, dan digoreng. Ada pula yng mengolahnya menjadi sejenis makanan ala pizza, yang disebut “lempeng”. Umbi  yang berbentuk bulat dan bercabang ini memiliki warna merah/ungu atau putih. Sebagai bahan pangan, ubi alabio komposisinya cukup memadai. Selain sebagai sumber karbohidrat, juga mengandung PATI, protein, serta, bahkan gula. Agar memiliki nilai tambah lebih, peneliti dari Balai Penelitian Pertanian Lahan Rawa (Balittra) Banjarbaru – Kalimantan Selatan, mencoba mengolah ubi alabio menjadi berbagai produk olahan yang lebih variatif, penampilan menarik dan rasa sesuai selera masyarakat.

Produk Olahan
Disamping dapat dikonsumsi melalui cara merebus dan menggoreng, ubi alabio dapat diolah menjadi kripik. Tidak jauh berbeda seperti pembuatan kripik lainnya. Pembuatan kripik ini dapat dilakukan dengan sederhana, yaitu dikupas, diiris dan digoreng. Dapat juga setelah diiris dikukus lima menit, kemudian dijemur/dikeringanginkan agar tahan disimpan, baru kemudian digoreng.
Untuk produk setengah jadi, ubi alabio dapat diolah menjadi sawut, berbentuk serpihan kering dengan kadar air sekitar 10%, sehingga tahan disimpan. Penggunaannya mudah. Cukup disiram dengan air panas, diaduk, kemudian dikukus sekitar 15 menit sampai lunak. Sawut dapat dikonsumsi pula dengan sayur dan lauk, atau dicampur dengan larutan gula merah. Sedangkan untuk pembuatan tepung adalah dengan cara menggiling sawut ubi yang berbentuk serpihan kering. Ubi ini juga berpotensi sebagai bahan baku industri seperti pati, roti, dan alkohol. Bahkan ubi alabio merah dapat dibuat sebagai bahan baku es krim.

ubi alabioubi1warna ubi ini ungu,

konon makanan antioksidan paling baik

Budidaya Ubi Alabio
Ubi alabio dibudidayakan di lahan lebak dengan pola monokultur atau dapat ditumpangsarikan dengan tanaman padi, jagung, cabe dan terong. Jenis ubi ini menuntut lahan yang gembur dan tidak terendam dengan air. Sehingga sebaiknya penanamannya dilakukan pada guludan atau surjan dan disaat air surut di musim kemarau. Bibit ubi berasal dari ubi yang dipotong-potong dari semua bagian yaitu pangkal, tengah dan ujung. Makin besar potongan, maka makin besar pula hasil ubi. Bibit disemai pada persemaian dan jika telah muncul tunas, baru ditanam di lahan. Umur panen sejak usia tanam adalah 5 bulan, ketika daun dan batang sudah mengering. Biasanya musim tanam antara bulan Mei – Juli dan panen pada bulan Oktober – Desember.
Ubi alabio Sampai saat ini masih dibudidayakan secara tradisional sehingga hasilnya masih tergolong rendah yaitu berkisar 12-28 ton/ha. Padahal bila dibudidayakan dengan menerapkan teknologi usahatani, pemupukan, pengendalian  hama dan penyakit yang tepat, potensi hasil dapat mencapai 40-50 ton/ha.
Ubi Alabio, Sumber Pangan Alternatif dari Lahan Rawa Pengganti Beras

Ubi Alabio merupakan sumber karbohidrat potensial yang dapat dijadikan bahan pangan alternatif untuk mengurangi konsumsi beras terus meningkat. Di samping sebagai bahan pokok, ubi alabio juga berpotensi dijadikan sebagai bahan industri rumah tangga (kecil) hingga industri besar.

Alabio mungkin lebih dikenal sebagai nama ternak itik. Namun di Kalimantan Selatan, Alabio merupakan nama sejenis ubi lahan rawa. Masyarakat awam mengenalnya dengan sebutan ubi kelapa (Dioscorea alata L). Ubi Alabio, tanaman perdu merambat hingga mencapai 3-10 m, memiliki bentuk bulat dan bercabang, serta berwarna merah/ungu atau putih.

Biasanya masyarakat mengkonsumsi ubi alabio dengan cara dikukus/direbus, dan digoreng. Ada pula yng mengolahnya menjadi sejenis makanan ala pizza, yang disebut “lempeng”. Umbi  yang berbentuk bulat dan bercabang ini memiliki warna merah/ungu atau putih. Sebagai bahan pangan, ubi alabio komposisinya cukup memadai. Selain sebagai sumber karbohidrat, juga mengandung PATI, protein, serta, bahkan gula. Agar memiliki nilai tambah lebih, peneliti dari Balai Penelitian Pertanian Lahan Rawa (Balittra) Banjarbaru – Kalimantan Selatan, mencoba mengolah ubi alabio menjadi berbagai produk olahan yang lebih variatif, penampilan menarik dan rasa sesuai selera masyarakat.

Produk Olahan
Disamping dapat dikonsumsi melalui cara merebus dan menggoreng, ubi alabio dapat diolah menjadi kripik. Tidak jauh berbeda seperti pembuatan kripik lainnya. Pembuatan kripik ini dapat dilakukan dengan sederhana, yaitu dikupas, diiris dan digoreng. Dapat juga setelah diiris dikukus lima menit, kemudian dijemur/dikeringanginkan agar tahan disimpan, baru kemudian digoreng.

Untuk produk setengah jadi, ubi alabio dapat diolah menjadi sawut, berbentuk serpihan kering dengan kadar air sekitar 10%, sehingga tahan disimpan. Penggunaannya mudah. Cukup disiram dengan air panas, diaduk, kemudian dikukus sekitar 15 menit sampai lunak. Sawut dapat dikonsumsi pula dengan sayur dan lauk, atau dicampur dengan larutan gula merah. Sedangkan untuk pembuatan tepung adalah dengan cara menggiling sawut ubi yang berbentuk serpihan kering. Ubi ini juga berpotensi sebagai bahan baku industri seperti pati, roti, dan alkohol. Bahkan ubi alabio merah dapat dibuat sebagai bahan baku es krim.

Budidaya Ubi Alabio
Ubi alabio dibudidayakan di lahan lebak dengan pola monokultur atau dapat ditumpangsarikan dengan tanaman padi, jagung, cabe dan terong. Jenis ubi ini menuntut lahan yang gembur dan tidak terendam dengan air. Sehingga sebaiknya penanamannya dilakukan pada guludan atau surjan dan disaat air surut di musim kemarau. Bibit ubi berasal dari ubi yang dipotong-potong dari semua bagian yaitu pangkal, tengah dan ujung. Makin besar potongan, maka makin besar pula hasil ubi. Bibit disemai pada persemaian dan jika telah muncul tunas, baru ditanam di lahan. Umur panen sejak usia tanam adalah 5 bulan, ketika daun dan batang sudah mengering. Biasanya musim tanam antara bulan Mei – Juli dan panen pada bulan Oktober – Desember.

Ubi alabio Sampai saat ini masih dibudidayakan secara tradisional sehingga hasilnya masih tergolong rendah yaitu berkisar 12-28 ton/ha. Padahal bila dibudidayakan dengan menerapkan teknologi usahatani, pemupukan, pengendalian  hama dan penyakit yang tepat, potensi hasil dapat mencapai 40-50 ton/ha.

SIFAT-SIFAT KAYU DAN PENGGUNAANNYA

Dalam kehidupan kita sehari-hari, kayu merupakan bahan yang sangat sering dipergunakan untuk tujuan penggunaan tertentu.  Terkadang sebagai barang tertentu, kayu tidak dapat digantikan dengan bahan lain karena sifat khasnya.  Kita sebagai pengguna dari kayu yang setiap jenisnya mempunyai sifat-sifat yang berbeda, perlu mengenal sifat-sifat kayu tersebut sehingga dalam pemilihan atau penentuan jenis untuk tujuan penggunaan tertentu harus betul-betul sesuai dengan yang kita inginkan.  Berikut ini diuraikan sifat-sifat kayu (fisik dan mekanik) serta macam penggunaannya.

Pengenalan Sifat-Sifat Kayu

Kayu merupakan hasil hutan yang mudah diproses untuk dijadikan barang sesuai dengan kemajuan teknologi.  Kayu memiliki beberapa sifat yang tidak dapat ditiru oleh bahan-bahan lain.  Pemilihan dan penggunaan kayu untuk suatu tujuan pemakaian, memerlukan pengetahuan tentang sifat-sifat kayu. Sifat-sifat ini penting sekali dalam industri pengolahan kayu sebab dari pengetahuan sifat tersebut tidak saja dapat dipilih jenis kayu yang tepat serta macam penggunaan yang memungkinkan, akan tetapi juga dapat dipilih kemungkinan penggantian oleh jenis kayu lainnya apabila jenis yang bersangkutan sulit didapat secara kontinyu atau terlalu mahal.

Kayu berasal dari berbagai jenis pohon yang memiliki sifat-sifat yang berbeda-beda.  Bahkan dalam satu pohon, kayu mempunyai sifat yang berbeda-beda.  Dari sekian banyak sifat-sifat kayu yang berbeda satu sama lain, ada beberapa sifat yang umum terdapat pada semua jenis kayu yaitu :

Kayu tersusun dari sel-sel yang memiliki tipe bermacam-macam dan susunan dinding selnya terdiri dari senyawa kimia berupa selulosa dan hemi selulosa (karbohidrat) serta lignin (non karbohidrat).

Semua kayu bersifat anisotropik, yaitu memperlihatkan sifat-sifat yang berlainan jika diuji menurut tiga arah utamanya (longitudinal, radial dan tangensial).

Kayu merupakan bahan yang bersifat higroskopis, yaitu dapat menyerap atau melepaskan kadar air (kelembaban) sebagai akibat perubahan kelembaban dan suhu udara disekelilingnya.

Kayu dapat diserang oleh hama dan penyakit dan dapat terbakar terutama dalam keadaan kering.

Sifat Fisik Kayu

Berat dan Berat Jenis

Berat suatu kayu tergantung dari jumlah zat kayu, rongga sel, kadar air dan zat ekstraktif didalamnya.  Berat suatu jenis kayu berbanding lurus dengan BJ-nya.  Kayu mempunyai berat jenis yang berbeda-beda, berkisar antara BJ minimum 0,2 (kayu balsa) sampai BJ 1,28 (kayu nani).  Umumnya makin tinggi BJ kayu, kayu semakin berat dan semakin kuat pula.

Keawetan

Keawetan adalah ketahanan kayu terhadap serangan dari unsur-unsur perusak kayu dari luar seperti jamur, rayap, bubuk dll. Keawetan kayu tersebut disebabkan adanya zat ekstraktif didalam kayu yang merupakan unsur racun bagi perusak kayu.  Zat ekstraktif tersebut terbentuk pada saat kayu gubal berubah menjadi kayu teras sehingga pada umumnya kayu teras lebih awet dari kayu gubal.

Warna

Kayu yang beraneka warna macamnya disebabkan oleh zat pengisi warna dalam kayu yang berbeda-beda.

Tekstur

Tekstur adalah ukuran relatif sel-sel kayu.  Berdasarkan teksturnya, kayu digolongkan kedalam kayu bertekstur halus (contoh: giam, kulim dll), kayu bertekstur sedang (contoh: jati, sonokeling dll) dan kayu bertekstur kasar (contoh: kempas, meranti dll).

Arah Serat

Arah serat adalah arah umum sel-sel kayu terhadap sumbu batang pohon.  Arah serat dapat dibedakan menjadi serat lurus, serat berpadu, serat berombak, serta terpilin dan serat diagonal (serat miring).

Kesan Raba

Kesan raba adalah kesan yang diperoleh pada saat meraba permukaan kayu (kasar, halus, licin, dingin, berminyak dll).  Kesan raba tiap jenis kayu berbeda-beda tergantung dari tekstur kayu, kadar air, kadar zat ekstraktif dalam kayu.

Bau dan Rasa

Bau dan rasa kayu mudah hilang bila kayu lama tersimpan di udara terbuka.  Beberapa jenis kayu mempunyai bau yang merangsang dan untuk menyatakan bau kayu tersebut, sering digunakan bau sesuatu benda yang umum dikenal misalnya bau bawang (kulim), bau zat penyamak (jati), bau kamper (kapur) dsb.

Nilai Dekoratif

Gambar kayu tergantung dari pola penyebaran warna, arah serat, tekstur, dan pemunculan riap-riap tumbuh dalam pola-pola tertentu.  Pola gambar ini yang membuat sesuatu jenis kayu mempunyai nilai dekoratif.

Higroskopis

Kayu mempunyai sifat dapat menyerap atau melepaskan air.  Makin lembab udara disekitarnya makin tinggi pula kelembaban kayu sampai tercapai keseimbangan dengan lingkungannya.  Dalam kondisi kelembaban kayu sama dengan kelembaban udara disekelilingnya disebut kandungan air keseimbangan (EMC = Equilibrium Moisture Content).

Sifat Kayu terhadap Suara, yang terdiri dari :

Sifat akustik, yaitu kemampuan untuk meneruskan suara berkaitan erat dengan elastisitas kayu.

Sifat resonansi, yaitu turut bergetarnya kayu akibat adanya gelombang suara.  Kualitas nada yang dikeluarkan kayu sangat baik, sehingga kayu banyak dipakai untuk bahan pembuatan alat musik (kulintang, gitar, biola dll).

Daya Hantar Panas

Sifat daya hantar kayu sangat jelek sehingga kayu banyak digunakan untuk membuat barang-barang yang berhubungan langsung dengan sumber panas.

Daya Hantar Listrik

Pada umumnya kayu merupakan bahan hantar yang jelek untuk aliran listrik.  Daya hantar listrik ini dipengaruhi oleh kadar air kayu.  Pada kadar air 0 %, kayu akan menjadi bahan sekat listrik yang baik sekali, sebaliknya apabila kayu mengandung air maksimum (kayu basah), maka daya hantarnya boleh  dikatakan sama dengan daya hantar air.

Sifat Mekanik Kayu

Keteguhan Tarik

Keteguhan tarik adalah kekuatan kayu untuk menahan gaya-gaya yang berusaha menarik kayu.  Terdapat 2 (dua) macam keteguhan tarik yaitu :

Keteguhan tarik sejajar arah serat dan

Keteguhan tarik tegak lurus arah serat.

Kekuatan tarik terbesar pada kayu ialah keteguhan tarik sejajar arah serat.  Kekuatan tarik tegak lurus arah serat lebih kecil daripada kekuatan tarik sejajar arah serat.

Keteguhan tekan / Kompresi

Keteguhan tekan/kompresi adalah kekuatan kayu untuk menahan muatan/beban. Terdapat 2 (dua) macam keteguhan tekan yaitu :

Keteguhan tekan sejajar arah serat dan

Keteguhan tekan tegak lurus arah serat.

Pada semua kayu, keteguhan tegak lurus serat lebih kecil daripada keteguhan kompresi sejajar arah serat.

Keteguhan Geser

Keteguhan geser adalah kemampuan kayu untuk menahan gaya-gaya yang membuat suatu bagian kayu tersebut turut bergeser dari bagian lain di dekatnya.  Terdapat 3 (tiga) macam keteguhan yaitu :

Keteguhan geser sejajar arah serat

Keteguhan geser tegak lurus arah serat dan

Keteguhan geser miring

Keteguhan geser tegak lurus serat jauh lebih besar dari pada keteguhan geser sejajar arah serat.

Keteguhan lengkung (lentur)

Keteguhan lengkung/lentur adalah kekuatan untuk menahan gaya-gaya yang berusaha melengkungkan kayu atau untuk menahan beban mati maupun hidup selain beban pukulan.  Terdapat 2 (dua) macam keteguhan yaitu :

Keteguhan lengkung statik, yaitu kekuatan kayu menahan gaya yang mengenainya secara perlahan-lahan.

Keteguhan lengkung pukul, yaitu kekuatan kayu menahan gaya yang mengenainya secara mendadak.

Kekakuan

Kekakuan adalah kemampuan kayu untuk menahan perubahan bentuk atau lengkungan. Kekakuan tersebut dinyatakan dalam modulus elastisitas.

Keuletan

Keuletan adalah kemampuan kayu untuk menyerap sejumlah tenaga yang relatif besar atau tahan terhadap kejutan-kejutan atau tegangan-tegangan yang berulang-ulang yang melampaui batas proporsional serta mengakibatkan perubahan bentuk yang permanen dan kerusakan sebagian.

Kekerasan

Kekerasan adalah kemampuan kayu untuk menahan gaya yang membuat takik atau lekukan atau kikisan (abrasi). Bersama-sama dengan keuletan, kekerasan merupakan suatu ukuran tentang ketahanan terhadap pengausan kayu.

Keteguhan Belah

Keteguhan belah adalah kemampuan kayu untuk menahan gaya-gaya yang berusaha membelah kayu.  Sifat keteguhan belah yang rendah sangat baik dalam pembuatan sirap dan kayu bakar. Sebaliknya keteguhan belah yang tinggi sangat baik untuk pembuatan ukir-ukiran (patung). Pada umumnya kayu mudah dibelah sepanjang jari-jari (arah radial) dari pada arah tangensial.

Ukuran yang dipakai untuk menjabarkan sifat-sifat keku-atan kayu atau sifat mekaniknya dinyatakan dalam kg/cm2.  Faktor-faktor yang mempengaruhi sifat mekanik kayu secara garis besar digolongkan menjadi dua kelompok :

Faktor luar (eksternal): pengawetan kayu, kelembaban lingkungan, pembebanan dan cacat yang disebabkan oleh jamur atau serangga perusak kayu.

Faktor dalam kayu (internal): BJ, cacat mata kayu, serat miring dsb.

Macam Penggunaan Kayu

Penggunaan kayu untuk suatu tujuan pemakaian tertentu tergantung dari sifat-sifat kayu yang bersangkutan dan persyaratan teknis yang diperlukan.  Jenis-jenis kayu yang mempunyai persyaratan untuk tujuan pemakaian tertentu antara lain dapat dikemukan sebagai berikut :

Bangunan (Konstruksi)

Persyaratan teknis : kuat, keras, berukuran besar dan mempunyai keawetan alam yang tinggi.

Jenis kayu : balau, bangkirai, belangeran, cengal, giam, jati, kapur, kempas, keruing, lara, rasamala.

Veneer biasa

Persyaratan teknis : kayu bulat berdiameter besar, bulat, bebas cacat dan beratnya sedang.

Jenis kayu : meranti merah, meranti putih, nyatoh, ramin, agathis, benuang.

Veneer mewah

Persyaratan teknis : disamping syarat di atas, kayu harus bernilai dekoratif.

Jenis kayu : jati, eboni, sonokeling, kuku, bongin, dahu, lasi, rengas, sungkai, weru, sonokembang.

Perkakas (mebel)

Persyaratan teknis : berat sedang, dimensi stabil, dekoratif, mudah dikerjakan, mudah dipaku, dibubut, disekrup, dilem dan dikerat.

Jenis kayu : jati, eboni, kuku, mahoni, meranti, rengas, sonokeling, sonokembang, ramin.

Lantai (parket)

Persyaratan teknis : keras, daya abrasi tinggi, tahan asam, mudah dipaku dan cukup kuat.

Jenis kayu : balau, bangkirai, belangeran, bintangur, bongin, bungur, jati, kuku.

Bantalan Kereta Api

Persyaratan teknis : kuat, keras, kaku, awet.

Jenis kayu : balau, bangkirai, belangeran, bedaru, belangeran, bintangur, kempas, ulin.

Alat Olah Raga

Persyaratan teknis : kuat, tidak mudah patah, ringan, tekstur halus, serat halus, serat lurus dan panjang, kaku, cukup awet.

Jenis kayu : agathis, bedaru, melur, merawan, nyatoh, salimuli, sonokeling, teraling.

Alat Musik

Persyaratan teknis : tekstur halus, berserat lurus, tidak mudah belah, daya resonansi baik.

Jenis kayu : cempaka, merawan, nyatoh, jati, lasi, eboni.

Alat Gambar

Persyaratan teknis : ringan, tekstur halus, warna bersih.

Jenis kayu : jelutung, melur, pulai, pinus.

Tong Kayu (Gentong)

Persyaratan teknis : tidak tembus cairan dan tidak mengeluarkan bau.

Jenis kayu : balau, bangkirai, jati, pasang.

Tiang Listrik dan Telepon

Persyaratan teknis : kuat menahan angin, ringan, cukup kuat, bentuk lurus.

Jenis kayu : balau, giam jati, kulim, lara, merbau, tembesu, ulin.

Patung dan Ukiran Kayu

Persyaratan teknis : serat lurus, keras, tekstur halus, liat, tidak mudah patah dan berwarna gelap.

Jenis kayu : jati, sonokeling, salimuli, melur, cempaka, eboni.

Korek Api

Persyaratan teknis : sama dengan persyaratan veneer, cukup kuat (anak korek api), elastis dan tidak mudah pecah (kotak).

Jenis kayu : agathis, benuang, jambu, kemiri, sengon, perupuk, pulai, terentang, pinus.

Pensil

Persyaratan teknis : BJ sedang, mudah dikerat, tidak mudah bengkok, warna agak merah, berserat lurus.

Jenis kayu : agathis, jelutung, melur, pinus.

Moulding

Persyaratan teknis : ringan, serat lurus, tekstur halus, mudah dikerjakan, mudah dipaku. Warna terang, tanpa cacat, dekoratif.

Jenis kayu : jelutung, pulai ramin, meranti dll.

Perkapalan

Lunas

Persyaratan teknis : tidak mudah pecah, tahan binatang laut.

Jenis kayu : ulin, kapur.

Gading

Persyaratan teknis : kuat, liat, tidak mudah pecah, tahan binatang laut.

Jenis kayu : bangkirai, bungur, kapur.

Senta

Persyaratan teknis : kuat, liat, tidak mudah pecah, tahan binatang laut.

Jenis kayu : bangkirai, bungur, kapur.

Kulit

Persyaratan teknis : tidak mudah pecah, kuat, liat, tahan binatang laut.

Jenis kayu : bangkirai, bungur, meranti merah.

Bangunan dan dudukan mesin

Persyaratan teknis : ringan, kuat dan awet, tidak mudah pecah karena getaran mesin.

Jenis kayu : kapur, meranti merah, medang, ulin, bangkirai.

Pembungkus as baling-baling

Persyaratan teknis : liat, lunak sehingga tidak merusak logam.

Jenis kayu : nangka, bungur, sawo.

Popor Senjata

Persyaratan teknis : ringan, liat, kuat, keras, dimensi stabil.

Jenis kayu : waru, salimuli, jati.

Arang (bahan bakar)

Persyaratan teknis :  BJ tinggi.

Jenis kayu : bakau, kesambi, walikukun, cemara, gelam, gofasa, johar, kayu malas, nyirih, rasamala, puspa, simpur.

Penutup

Pengenalan atas sifat-sifat fisik dan mekanik akan sangat membantu dalam menentukan jenis-jenis kayu untuk tujuan pengunaan tertentu.  Diharapkan dengan memahami sifat-sifat kayu dan jenis-jenis kayu untuk penggunaan tertentu akan semakin mengurangi ketergantungan konsumen akan suatu jenis kayu tertentu saja sehingga pemanfaatan jenis-jenis kayu yang semula belum dimanfaatkan (jenis-jenis yang belum dikenal umum) akan semakin meningkat (sumber Dephut :diambil dari salah satu situs)

22 Tanggapan

  1. makasi postingan na, sangat membantu tugas kuliah saya…..

  2. complitly…………

  3. Hello admin yth.,

    blog kamu bagus. Kamu tahu thesis dari Varietas Kayu Ulin (Eusideroxylon) dari Sumatra (Sumatra is an island west of your island Borneo) dari Bambang Irawan:
    http://www.cuvillier.de/flycms/en/html/30/-UickI3zKPSjxcUY=/Buchdetails.html?SID=1o1oZbW7d871 .

    Salam dari Bogor

    Didik

  4. bagus isi posting na,
    ada artikel mengenai jenis selangan batu nda ya????
    shorea brunescens, makasih bang…..

  5. Pak boleh tanya kira2 kayu apa yg bisa di tanam di lahan yg kalau musim hujan sering tergenang air?

  6. pro hendra : kayu galam

  7. kalau beli kayu ulin dalam jumlah besar, mencarinya di mana ya..

  8. terimakasih untuk artikel nya
    benar-benar membantu saya, apalagi yang ubi alabio, sebab di beberapa daerah memiliki nama yang berbeda-beda, apalagi disini ada gambarnya. terimakasih sekali lagi…

  9. apa ada daftar nama pohon endemik kalimantan selatan?
    tks

  10. SALAM UNTUK BAPAK
    SELAMAT PAGI

    SAYA roven ingin bertanya kira-kira lahan atau tanah yang kondisinya bila musim banjir tergenang air kira-kira 2meter kalau musim kemarau lahan tersebut kering cocok nya ditanam kayu jenis apa pak ia yang bermanfaat bisa dijual dengan nilai jual tinggi. Bila ada bibitnya kira-kira dicari atau dibeli dimana?

    terimakasih atas jawabannya

  11. artikelnya bagus,, makasih pa lah..
    tp adalah pa cara pembudiadayaannya mengenai gumbili nagara wan hubi alabiu..
    bila ada posting lagi pak lah,,
    makasiiih :))

  12. thanks for all…
    sangat bermanfaat untuk tugasku

  13. tertarik beli bibit pohon ulin, untuk dlm pekarangan rumah, kalo ada sekitar 20 pohon, bisakah dibantu?

  14. as wr wb…pa mohon informasi untuk pohon atau daun ,buah asli banjarmasin ada ngga ya pa,,,,serta manfaatnya bagi kesehatan tks,,ditunggu ya pa jawabannya

  15. Mohon info untuk CP,alamat / lokasi budidaya tanaman Mandong,Lai,Ulin, terimakasih ya pak….salam

  16. bagus mari kita lestarikan sisa sda yang tersisa leh

  17. Pak artikelnya bagus banget..saya mau nanya pak,bagaimana cara mengembang kan hutan galam yg ada d daerah saya yg hampir punah akibat penebngan hutan galam oleh masyarakat sekitar saya yg berda di desa.Jejangkit kecamatan jejangkit ?saya ingin membudiyakannya lagi.saya tunggu tanggapan bapak.terimakih

  18. baguss bangettt,,, likeee forever dehh artikel2nya

  19. nisko
    buzia. Kiedyś jakiś człowiek wychlapał. że dysponuje
    “złe więcej na ten temat tutaj oko”. Wobec tego w dalszym
    ciągu nie wiedziała, co
    mianowicie, toż dowiedziała się co koń wyskoczy.
    Skończyło się wybiciem zęba, na
    szczęście mlecznego. Wolała nie próbować tego doświadczenia.
    Nie bacząc na ciepła
    owinęła się szczelnie dziurawą burką, kryjąc lico przy spadającymi na oczy
    włosami. Czasami rzucała spod włosów.

  20. Beberapa bulan yang lalu, saya berbicara dengan pedagang kayu galam, mereka mengeluhkan makin jauh untuk mencari Galam, kerena hutan galam di gantikan Lahan Sawit ( di kelola perusahaan dan hanya menguntungkan segelintir orang ), mereka mohon ada perhatian terhadap kelestarian dan perlindungan alam sekaligus mata pencaharian mereka . Mudahan hal ini menjadi renungan kita bersama untuk hajat hidup orang banyak, khususnya warga Kal-Sel sebagai pemanfaat Galam.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 38 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: