MEMOLES KOTA “PENINGGALAN SOEKARNO” PALANGKARAYA
Oleh Hasan Zainuddin
Palangkaraya,20/6 (ANTARA)- Pengakuan mereka yang baru bermukim di Kota Palangkaraya, Ibukota Provinsi Kalimantan Tengah (Kalteng) kota ini sangat nyaman, lancar, dan lengang, hingga kemana-mana mudah.
Kondisi jalan yang hampir semuanya lebar, memungkinan warga Kota Palangkaraya, terhindar dari situasi penyakit “macet” seperti yang dirasakan hampir semua kota di tanah air.
Jumlah penduduk yang tak terlalu padat hanya sekitar 200 ribu jiwa jelas tidak bakalan membuat kota menjadi hiruk-pikuk.
Tak heran bila sebuah rumah penduduk memiliki halaman yang lebar, lantaran masih tersedia lahan di kota seluas 2,6 ribu Km2.
Muncul pertanyaan, mengapa Palangkaraya begitu luas, tak sanggup kota manapun ditanah air yang bisa menyamai keluasan kota ini.
Jakarta ibukota negara saja 660 Km2, Banjarmasin kota tetangga yang merupakan ibukota Kalsel, hanya 72 Km2.
Lalu ada yang mengaitkan keluasan kota ini tak lepas dari peran Presiden Soekarno yang pernah merancang kota ini menjadi ibukota negara Indonesia.
Konon Soekarno yang seorang insinyur itu mendambakan sebuah ibukota negara yang dirancangnya sendiri, sementara Jakarta, sudah memiliki desain sendiri peninggalan Belanda yang relatif sulit dirubahnya.
Ditambah Palangkaraya yang tadinya hanya sebuah hutan belantara ini berada dilokasi cukup stratgeis ditengah Indonesia, serta aman dari gempa.
Kota ini benar-benar dibangun dari nol setelah kemerdekaan, ditandai pemancangan tiang pertama pembangunan kota oleh Presiden RI pertama, Soekarno 17 Juli 1957.
Dua tahun sejak pembangunan kota ini, terus dirancang melalui rancangan pikiran Ir. Sukarno, mulai dari bundaran besar, taman kota, tiang pancang, istana, bundaran kecil, dan kawasan lainnya.
Melihat sejarahnya yang demikian tidak heran dikala, calon Presiden Megawati Soekarnoputri datang ke kota ini sempat berpesan untuk menjaga keaslian Kota Palangkaraya.
“Mohon maaf pak wali kota, jadi jangan nanti ganti orang, ganti desain, lalu ganti tata kota,” kata Megawati Soekarnoputri kepada Wali Kota Palangkaraya Riban Satia ketika kedatangannya meresmikan pemakaian gedung PDI Perjuangan Kalteng, pekan lalu.
Mega berharap, sampai kapanpun masyarakat harus tetap mampu memelihara kota peninggalan Bapak Proklamator RI itu agar tetap terjaga keindahan dan keteraturannya.
Dilihat dari sisi arsitektur, kata Mega, Kota Palangkaraya didesain dengan sangat baik, planologinya teratur, dengan letak gang dan jalan yang mudah diingat.
Wali Kota Palangkaraya, HM Riban Satia ketika acara puncak peringatan hari jadi Kota Palangkaraya berjanji melestarikan kenyamanan kota Palangkaraya baik masa kini dan masa akan datang.
Upaya itu dengan cara pemanfaatan ruang yang diserasikan dengan penggunaaannya baik pemukiman, kegiatan sosial, kegiatan ekonomi, serta upaya konservasi dengan cara pemanfaatan alam lingkungan yang berkesinambungan.
Menjaga lingkungan hidup, memelihara keanekaragaman hayati merupakan modal dasar pembangunan, sekaligus mendukung kualitas kehidupan yang memberikan keindahan dan kenyamanan Kota Palangkaraya, tuturnya.
Ditengah tekadnya menjaga kelestarian lingkungan Palangkaraya, HM Riban Setia mengaku tak bisa mengelak dengan upaya pembangunan yang lain, yang jelas akan mempengaruhi keberadaan kota ini.
HM Riban Satia menyatakan akan menjadikan pula Kota Palangkaraya sebagai kota pendidikan, pusat pelayanan jasa, kota pemerintahan sebagai komnsekuinsi ibukota provinsi Kalteng.
Setelah kian berkembangnya pembangunan, kawasan yang dulunya hanya sebuah desa Pahandut mulai berubah kesebuah kota metropolis, ditandai berdirinya sebuah pusat perbelanjaan “Falma” berada persis didekat bundaran besar.
Pertokoan pun mulai bermunculan di sepanjang jalan-jalan protokol, penginapan dan hotel mulai menjamur, bahkan belakangan berdiri sebuah gotel bertaraf internasional “Aquarius Hotel” yang menjanjikan kenyamanan dan flus tempat hiburan diskotik, pusat karaoke, dan kafe.
“Kita bersyukur, akhirnya Palangkaraya memiliki juga sebuah hotel bertaraf internasional,” kata Gubernur Kalteng, Agustin Teras Narang saat meresmikan hotel yang dibangun pengusaha asal Banjarmasin tersebut.
Hadirnya hotel megah berlantai delapan itu jelas memberikan dampak bagi kota ini, terutama para tamu tidak kesulitan memperoleh fasilitas akomodasi yang memadai, kata Teras Narang.
“Seharusnya, kehadiran hotel mewah ini sejak 30 tahun lalu, disaat lagi boom produksi kayu, tetapi walau terlambat, tetap patut pula disyukuri,” kata Gubernur yang mantan anggota DPR-RI ini.
Kian berkembangnya kota ini, jelas dampak lainnya kian bertambahnya objek wisata, bertambahnya pusat keramaian, hadirnya sebuah pasar malam baluran, sentra jajanan Jl Yos Sudarso dan fasilitas perkotaan lainnya.
Tadinya tak ada yang menyangka kawasan hutan belantara ini bakal merubah menjadi sebuah kota yang pertumbuhannya begitu cepat.
Cepatnya pertumbuhan kota Palangkaraya tak jelas kian mudahnya akses menuju kota ini, bila tadinya dari Banjarmasin-Palangkara 190 Km harus rela naik angkutan sungai Spead Boat enam hingga 8 jam, kini melalui trans Kalimantan Poros Selatan yang beraspal hanya antara tiga dan empat jam saja dengan angkutan mobil.
Jalan Palangkaraya-Sampit (ibukota Kabupaten Kotawaringin Timur) sekitar 200 KM tersambung dengan jalan aspal mulus hingga perjalanan hanya empat jam, disamping tersambungnya jalan Palangkaraya-Buntok (ibukoya Kabupaten Barito Selatan) sepanjang 200 Km juga hanya empat jam.
Padahal dulunya kedua wilayah ini harus ditempuh belasan jam karena Palangkaraya ke Banjarmasin dulu baru ke Buntok.
Berdasarkan keterangan kota Palangkaraya termasuk kota yang lahirnya terlambat dibandingkan kota lain di Kalteng, seperti Kota Sampit atau Kuala Kapuas.
Bahkan kota disebut belakangan tadinya bakal dipilih sebagai ibukota Provinsi Kalteng, tetapi Kota Sampit dinilai letaknya terlalu jauh dari wilayah lain di Kalteng, dan Kota Kuala Kapuas dinilai terlalu dekat dengan Kota Banjarmasin ibukiota Kalsel.
Dari dua pilihan yang sulit itulah muncul pilihan alternatif, yaitu Kota Palangkaraya.
Berdasarkan cerita tetuha masyarakat, lahirnya sebuah Kota Palangkaraya berasal hanya dari sebuah desa yang disebut Pahandut, yaitu sebuah kampung yang kemudian menjadi sebuah kecamatan.
Pahandut berasal dari kata Bapa handut (bahasa dayak ngaju), yang artinya ayah Handut.
Bapa Handut adalah salah satu penduduk yang membuka hutan belantara untuk dijadikan tempat tinggal sementara, karena disitu hanya ada bapa Handut maka orang menyebutnya sebagai kampung Pahandut.
Berdasarkan ceritanya oleh Bapa Handut, daerah tersebut ditandai dengan pohon asam yang ditanamkannya dan kini letaknya disekitar dermaga Rambang.
PENULARAN VIRUS HIV/AIDS DI PALANGKA RAYA MENYEDIHKAN
Palangka Raya,20/5 (ANTARA)- Penularan virus HIV/Aids di Kota Palangka Raya, ibukota Provinsi Kalimantan Tengah (Kalteng) dalam beberapa tahun belakangan ini cukup menyedihkan hingga perlu penanggulangan seksama.
Upaya penanggulangan penularan penyakit HIV/Aids tersebut sampai-sampai di Kota Palangka Raya dibentuk sebuah Komisi Penanggulangan Aids (KPA), yang diketuai oleh Walikota Palangka Raya sendiri, kata Sekretaris KPA, Lembung A Datuk kepada ANTARA di Palangka Raya, Rabu.
Kasus penularan virus HIV/Aids di kota cantik Palangka Raya diketahui sejak tahun 2003 lalu, setelah dinyatakan seorang warga kota positif tertular penyakit yang mematikan tersebut.
Kasus HIV/Aids diketahui setelah dilakukan seru survei oleh pihak Dinas Kesehatan Kota palangka Raya tahun 2003 dengan 115 sampel, lalu diketahui seorang positif tertular.
Pada tahun 2004 kembali dilakukan survei terhadap 229 sampel ternyata 13 orang dinyatakan positif, tahun 2005 survei terhadap 165 sampel positif satu orang, tahun 2006 492 sampel positif empat orang, tahun 2007 117 sampel posotif tujuh orang.
“Tahun 2008 tercatat empat orang yang positip” kata Lembung A Datuk tanpa ingat jumlah sampel yang diperiksa tahun terakhir tersebut.
Sampel darah tersebut sebagian besar diambil dari mereka penghuni lokalisasi dan lembaga pemasyaratan, tambanya lagi.
Sementara di wilayah Kalteng sendiri, dijelaskannya sudah diketahui berjangkit penyakit HIV/Aids tersebut tahun 1997 di Kota Pangkalan Bun, kotawaringin Barat (Kobar).
Kemudian tahun 2002 ditemukan lagi di Kota Sampit, Kotawaringin Timur (Kotim), tahun 2003 di Kota Kasongan Ibukota Kabupaten Katingan serta Kota Palangka Raya.
Menurutnya, dalam upaya penanggulangan penyakit tersebut pihak KPA bersama petugas kesehatan setempat terus melakukan penyuluhan ke lokasi-lokasi rawan berjangkit penyakit itu.
Degan adanya upaya penyuluhan diharapkan mereka yang rawan tertular penyakit itu bisa menanggulanginya sendiri, dengan tidak melakukan kegiatan yang bisa tertular penyakit itu.
MUSEUM KALTENG SIMPAN MANDAU PUSAKA RAKSASA BERNILAI MAGIS
Palangka Raya,7/5 (ANTARA)- Museum Provinsi Kalimantan Tengah (Kalteng) yang berlokasi di jalan Cilik Riwut, Kota Palangka Raya menyimpan benda pusaka berupa sebuah mandau berukuran besar sepanjang satu setengah meter.
“Selain bentuknya yang ‘raksasa’ senjata tradisional Suku Dayak Pedalaman Kalteng itu, Mandau itu juga bernilai magis,” kata kepala Bidang Pelayanan Museum setempat, Bakri Y Saloh,SH ketika ditemui ANTARA, Kamis.
Bukan hanya bentuknya yang unik tetapi usia sejata yang berasal dari Suku Dayak di Kabupaten Kapuas tersebut berumur sekitar 400 tahun.
Karena terlalu tua maka bentuk besi mandau itupun tidak mengkilat seperti benda tajam kebanyakan, tetapi justru sudah karatan seperti kebanyakan besi tua lainnya.
Mandau yang memiliki “gagang” (pegangan tangan) terbuat tanduk menjangan (rusa) tersebut selalu menjadi perhatian pengunjung dibandingkan sekitar 5000 jenis koleksi lainnya di museum yang 20 buah gedung dilahan lima hektare itu.
Selain mandau, ada juga koleksi senjata suku Dayak lainnya berupa sumpit, telabang, kemudian benda rumah tangga seperti keramik, patung, dan benda lainnya.
“Biasanya pengunjung khususnya dari kalangan turis mancanegera sangat tertarik dengan benda pusaka tersebut, banyak hal selalu ditanyakan mereka berkaitan dengan keberadaan mandau tersebut,” kata Bakri Y Saloh.
Para turis selain begitu seksama mencermati mandau tersebut juga selalu membidik-bidikan kamera ke arah benda tersebut, seraya mengeluarkan berbagai pertanyaan.
Kalangan turis manca negara ke Kaltang memang selalu menyempatkan berkunjung ke meseum yang menyimpan sebagian besar peralatan dan benda bernilai sejarah bagi masyarakat Dayak Kalteng ini.
Turis asing itu kebanyakan dari Eropah, seperti dari Inggris, Perancis, dan Belanda serta dari Asia, seperti jepang dan Korea.
Keunikan mandau ini, pada gagangnya terdapat seni ukiran kawit kalahai yang menggambar kehidupan flora dan fauna khas Kalteng.
Dari ukiran khas itulah yang membedakan mandau dari Kalteng dengan mandau dari suku Dayak berasal dari Pulau Kalimantan lainnya.
Ia sendiri tidak tahu persis siapa pemilik asal mandau besar tersebut, karena mandau ini juga disebutkan bernilai magis sebagai alat untuk meramal (menenung) bagi kalangan suku Dayak, dimana melalui benda pusaka ini biasanya kalangan tetuha adat bisa meramalkan nasib baik atau nasib jelek seseorang.
Tapi bukan mandau besar ini saja biasanya digunakan masyarakat Dayak untuk menenung, juga mandau-mandau tua lainnya yang masih disimpan di kalangan masyarakat Dayak Pedalaman di kepulauan terbesar tanah air ini.
Yang menjadi pertanyaan, tambah Bakri Y Saloh yaitu bentuk tubuh pemilik asal mandau itu, jika melihat mandau itu begitu besar kemungkinan pemakainya adalah bertubuh besar.
“Tetapi orang Dayak dulu memiliki kedidagdayaan sehingga siapa tahu walau orangnya kecil tetapi dengan kemampuan besar mampu menggunakan benda besar seperti itu,” tambahnya.
KEKERUHAN AIR PDAM PALANGKA RAYA TAK MEMBAHAYAKAN
Palangka Raya, 12/5 (ANTARA)- Pihak manajemen Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Kota Palangka Raya, ibukota Kalimantan Tengah (Kalteng) menjamin walau ada kekeruhan di air produksi perusahaan tersebut tetapi tidak membahayakan bagi kesehatan.
Kekeruhan itu bukan diakibatkan oleh bahan kimia tetapi berasal dari warna air baku yang terkontaminasi tumbuh-tumbuhan, kata direktur PDAM Kota Palangka Raya, Ir Darwisem S.Taway,MT kepada ANTARA, dikantornya Palangka Raya, Selasa.
Hal itu diutarakan Darwisem Taway menanggapi seringkali muncul pertanyaan warga mengenai masih keruhnya air PDAM tersebut, walau sudah diolah secara baik dan benar.
Ia menjelaskan, air baku PDAM setempat diambil dari air Sungai Rongan, anak dari Sungai Kahayan. Di lokasi Sungai Rongan tersebut berdasarkan hasil penelitian berada di wilayah yang landai, sehingga terdapat banyak tumbuh-tumbukan, akar-akar kayu dan dedaunan yang gugur dari pohon.
Akibat tumbuh-tumbuhan tersebut maka warna air di Sungai Rangon tidak jernih melainkan agak keruh kecoklatan, dan hal itu berada di ambang batas kewajaran dan sulit diolah menjadi air yang benar-bener bersih.
Tetapi warna tersebut tidak mengandung bahan yang mebahayakan, sehingga aman bila diolah menjadi air bersih.
Dalam upaya menjernihkan air tersebut, pihak PDAM setempat sampai-sampai menggunakan kaolin, namun untuk mencapai pada tingkat yang bersih relatif masih sulit , akhirnya produksi air bersih PDAM setempat tetap keruh.
Tetapi, tambahnya, kondisi bewarna pada air Sungai Rongan tersebut terjadi disaat-saat musim hujan saja, sementara musim kemarau airnya cukup bersih hingga air PDAM menjadi jernih pula.
Oleh karena itu, pihaknya berharap masyarakat mengerti kondisi tersebut, dan tetap menggunakan air PDAM sebagaimana mestinya, sebab aman untuk konsumsi.
Apalagi dalam pengolahannya air bersih tersebut sesuai dengan baku mutu yang disyaratkan oleh pemerintah, yaitu Permenkes Nomor 416, katanya.
Dalam upaya mengurangi tingkat warna air minum PDAM tersebut pihak manajemen merencanakan akan mengambi langkah kedepan.
Langkah dimaksud dengan membangun intake agak ke atas dari Sungai Rongan tetapi masih berada di wilayah Sungai Kahayan.
Di lokasi yang dipilih sebagai alternatif pengambilan bahan baku tersebut dinilai memiliki tingkat kekeruhan yang rendah hingga airnya baik sebagai bahan baku pengolahan air bersih perusahaannya.
Mengenai pelayanan disebutkannya PDAM Palangka Raya sekarang ini baru mampu melayani 52 persen masyarakatnya dengan 15.681 jumlah sambungan rumah.
Padahal kapasitas terpasang perusahaan mencapai 255 liter per detik yang berarti baru dimanfaatkan sebesar 53 persen, selebihnya 47 persen menunggu pelanggan baru dimasa yang akan datang.
Kurang meningkatnya jumlah pelanggan lantaran warga Palangka raya ada sumber alternatif air bersih, yaitu mengambil air tanah yang tingkat kebersihannya cukup memadai, demikian Darwisem S.Taway.
AIR TANAH KOSUMSI WARGA PALANGKA RAYA KANDUNG ZAT BESI
Palangka Raya, 13/5 (ANTARA)- Berdasarkan hasil penelitian ternyata air tanah yang biasa disedot warga Kota Palangka Raya, ibukota Provinsi Kalimantan Tengah (Kalteng) untuk kegunaan konsumsi mengandung zat besi (fe).
Di beberapa wilayah kandungan zat besi itu masih ditoleransi sebagai air kosumsi, tetapi ada di beberapa wilayah karena kandungannya zat besi tinggi cukup membahayakan, kata Direktur Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Kota Palangka Raya,Ir Darwisem S.Taway,MT, Rabu.
“Saya tidak mengatakan kalau air tanah itu tak layak untuk dikosumsi, tetapi kalau memang di suatu wilayah kadar zat besi sudah diambang batas, memang secara kesehatan kurang baik aja,” katanya.
Ketika ditanya wilayah mana saja air tanah yang mengan dung zat besi, ia tidak bisa merincinya, tetapi ia menyebutkan di beberapa tempat dan itu bisa dilihat dari warna air itu sendiri yang kurang bersih.
Menurut ia secara umum memang kondisi air tanah di Kota Palangka Raya adalah cukup baik untuk konsumsi, hal itu sudah dirasakan warga yang memanfaatkan air tanah itu sejak dulu.
Lantaran kebiasaan warga menggunakan air tanah akhirnya minat warga memanfaatkan air produksi PDAM setempat juga agak kurang akhirnya jumlah pelanggan PDAM relatif sedikit bila dibandingkan dengan kapasitas produksi yang terpasang.
Jumlah pelanggan PDAM Palangka Raya baru 15.681 sambungan, padahal kapasitas terpasang perusahaan mencapai 255 liter per detik yang berarti baru dimanfaatkan sebesar 53 persen saja.
Artinya masih sekitar 47 persen lagi kapasaitas produksi itu bisa dimanfaatkan untuk pelanggan baru, tetapi karena kebiasaan warga memanfaatkan air tanah maka pencapaian 100 persen kapasitas produksi bagi pelanggan belum terpenuhi hingga sekarang.
Mereka yang menghentikan langganan PDAM di kota cantik ini juga cukup tinggi, pernah sampai 700 sambungan berhenti dalam setahun, hal itu diduga lantaran masih adanya air bersih alternatif yaitu air tanah itu tadi, tambahnya.
Bagaimanapun sebaiknya air tanah masih lebih baik air produksi PDAM, masalahnya air PDAM berasal dari air sungai yang diolah, dan sistem pengolahannyapun sudah dijamin kesehatannya lantaran harus sesuai dengan persyaratan air minum oleh pemerintah Permenkes Nomor 416, katanya.
TIAP BULAN RATUSAN WARGA PALANGKARAYA TERSERANG MALARIA
Banjarmasin,6/5 (ANTARA)- Pihak Dinas Kesehatan Kota Palangkaraya, Ibukota provinsi Kalimantan Tengah (Kalteng) beberapa tahun belakangan ini mengaku risau terhadap serangan penyakit menular, Malaria.
“Setiap bulan serangan melaria di kota “cantik” ini selalu melebihi seratus kasus,” kata Kepala Bidang Pengendalian Masalah, Dinas Kesehatan kota Palangkaraya, Tiur Simatupang ketika ditemui ANTARA di kantornya, Rabu.
Berdasarkan catatannya, jumlah serangan Malaria pada triulan pertama tahun 2009 ini sudah merisaukan, pada bulan Januari tercatat 161 kasus, bulan Pebruari tercatat 128 kasus.
Sementara bulan Maret, laporannya memang belum semua masuk, tetapi sudah tercatat 22 kasus.
Sedangkan kasus serangan penyakit yang ditimbulkan akibat gigitan nyamuk malaria (anopheles) ini pada tahun sebelumnya 2008 rata-rata setiap bulannya di atas angka seratus kasus.
Pihak Dinkes Kota Palangkraya, sendiri mengaku bingung begitu merebaknya penyakit yang bisa menimbulkan badan panas dingin ini dan bisa menyebabkan kematian ini.
Kasus malaria di kota ini yang terbanyak diderita warga pinggiran, seperti di wilayah Tangkiling, Kecamatan Bukit Batu yang memang berdekatan dengan kawasan semak belukar.
Merebaknya kasus malaria di kota ini pula telah menimbulkan semangat sebuah yayasan Usaha Mandiri yang tergerak ikut melakukan penanganan penyakit ini setidaknya melakukan pencegahan dengan memberantas sarang-sarang nyamuk.
Pihak Dinkes palangkaraya sendiri, mengaku kurang mengerti merebaknya serangan penyakit ini, karena sebelumnya wilayah kota Palangkaraya sempat dinyatakan bebas terhadap penyakit tersebut.
Namun perkiraan, serangan penyakit ini meningkat setelah kian banyaknya hutan lebat yang ditebang kemudian menjadi kawasan semak belukar yang sangat baik bagi berkembangbiaknya nyamuk pencetus penyakit tersebut.
Pihak petugas Dinkes Kota Palangkaraya sendiri, tak lelahnya terus melakukan penyuluhan kepada masyarakat, agar selalu memanfaatkan pola hidup yang mampu mencegah dari gigitan nyamuk tersebut.
Bahkan pihak petugas kesehatan yang disebut sebagai Juru malaria, telah keluar masuk desa mencari dan mendata penderita malaria. Pendataan difokuskan di daerah endemis malaria, yakni di Kecamatan Bukit Batu.
Pihak petugas kesehatan sebelumnya juga meminta warga mewaspadai serangan penyakit malaria seiring adanya indikasi migrasi nyamuk malaria yang biasa hidup di hutan-hutan ke wilayah pemukiman di perkotaan.
Sebab peningkatan kasus malaria sejak adanya pembukaan hutan skala besar dan menyebabkan perubahan ekosistem lingkungan tempat hidup nyamuk malaria.
Berdasarkan catatan, semua wilayah Kalteng adalah endemis malaria. Semakin banyak hutan dibabat, ancaman malaria semakin besar karena hutan merupakan habitat utama nyamuk malaria.
Selain mengindikasikan migrasi nyamuk malaria, hipotesa penelitian itu juga menyebutkan terjadinya peningkatan keganasan serangan nyamuk malaria meski relatif belum seganas nyamuk malaria di hutan Papua.
Kasus malaria, seringkali mewabah dan menjadi kejadian luar biasa di sekitar wilayah hutan, umumnya di pemukiman terdapatnya lokasi pertambangan maupun usaha kehutanan yang banyak tersebar di provinsi ini.
SERANGAN DBD DI KOTA PALANGKA RAYA MASIH MERISAUKAN
Palangkaraya,7/5 (ANTARA)- Pihak Dinas Kesehatan Kesehatan Kota Palangka Raya, Ibukota Provinsi Kalimantan Tengah (Kalteng) merisaukan terhadap masih terdapatnya serangan penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) yang melanda masyarakat setempat.
Seperti diutarakan Kepala Bidang Pengendalian Masalah, Dinas Kesehatan setempat, Tiur Simatupang, Kamis. bahwa penyakit itu masih berjangkit di tahun 2009 ini dengan jumlah penderita tercatat 17 kasus.
Bahkan satu penderita setelah keterlambatan dalam penanganan medis meninggal dunia, namun yang meninggal dunia ini mulai terserang sejak berada di Kota Banjarmasin, setelah dibawa ke Palangka Raya dan terlambat penanganannya lalu meninggal, tambahnya.
Pihak Dinkes kota setempat telah melakukan berbagai upaya pencegahan berjangkitnya penyakit yang ditimbulkan oleh gigitan nyamuk Aedes aegypti tersebut, terutama memberantas sarang nyamuk dengan cara pengasapan (fogging) massal di berbagai kelurahan.
Selain melakukan fogging petugas kesehatan bersama masyarakat telah melakukan gerakan abatisasi untuk membunuh jentik nyamuk demam berdarah tersebut.
Kasus DBD ini biasanya berlangsung disaat musim hujan, dimana terdapat banyak genangan air di kawasan pemukiman yang bisa menjadi sarang-sarang nyamuk.
Kasus DBD tahun sebelumnya seperti tahun 2008 tercatat 38 kasus dengan seorang penderita meninggal juga akibat keterlambatan penanganan.
Sementara tahun 2007 kasus DBD di kota “cantik” ini justru dinyatakan sebagai Kasus Luar Biasa (KLB) karena serangannya melebihi dua kali lipat dari masa sebelumnya yaitu tercatat 93 kasus dengan seorang penderita meninggal dunia.
Berdasarkan catatan, selama ini wilayah kota palangka Raya yang dikenal endemis DBD adalah Panarung, Pinus, dan sekitarnya. Sementara yang masuk kawasan potensial DBD adalah di Amaco dan Sam Ratulangi.
Pihak Dinkes sendiri kurang mengerti masuknya wilayah Palangka Raya sebagai kawasan endemis, padahal sebagian besar wilayah adalah rawa-rawa yang tidak cocok sebagai habitat berkembangnya nyamuk tersebut, karena itu banyak dugaan bahwa penyakit tersebut terbawa dari luar daerah yang terlebih dahulu endemis.
Untuk wilayah kabupaten/kota di Provinsi Kalteng, khususnya berdekatan dengan pelabuhan, seperti Sampit, Pangkalan Bun, dan seruyan harus mewaspadi masuknya penyakit ini yang terbawa dari wilayah lain.
Penderita DBD se Kalteng tahun 2008 tercatat 825 kasus dan terjadi hampir di seluruh wilayah Kalteng.
Dari 825 kasus pada tahun 2008, terbanyak di wilayah Kotawaringin Timur, sebanyak 381 kasus, disusul disusul Kotawaringin Barat 221 kasus, dan ketiga Barito Utara dengan 60 kasus, selebihnya diderita warga di wilayah lainnya.