SERANGAN MALARIA HANTUI MASYARAKAT KALIMANTAN SELATAN

(Oleh Hasan Zainuddin)
Banjarmasin,12/7 (ANTARA)- Malaria salah satu penyakit menular yang paling ditakuti masyarakat dunia kini telah menghantui sekitar tiga juta jiwa lebih masyarakat penghuni wilayah Propinsi Kalimantan Selatan.
Masalahnya sejak dulu hingga sekarang penyakit yang terbukti telah menimbulkan sejuta orang meninggal per tahun di seluruh dunia tersebut tak pernah bebas menyerang warga di wilayah paling Selatan pulau terbesar di tanah air ini, bahkan belakangan serangan yang ditularkan melalui gigitan nyamuk tersebut kian merajalela saja.
Kepala Dinas Kesehatan Kalimantan Selatan, drg.Rosehan Adhani ketika dikonfirmasikan wartawan saat mengikuti kegiatan coffie morning Gubernur Kalsel diaula Abdi Persada kantor Gubernur Kalse, Banjarmasin Rabu (11/7) membenarkan serangan malaria kini sudah mengkhawatirkan.
Empat Kabupaten/Kota dari 13 kabupaten/kota di wilayah Provinsi Kalimantan Selatan, Kabupaten Banjar, Tanah Laut, Balangan, dan Banjarbaru serangan malaria sudah dinyatakan dalam kondisi Kejadian Luar Biasa (KLB) dan telah merenggut 22 orang korban meninggal dunia.
Di Kabupaten Banjar malaria menyerang warga Desa Paramasan dengan korban meninggal sebanyak 14 orang, enam orang warga dinyatakan positif mengidap malaria harus mendapatkan pengobatan secara rutin.
Di Kota Banjarbaru yaitu di Desa Landasan Ulin dan Syamsuddin Noor, satu orang meninggal, Kabupaten Balangan di Kecamatan Halong, tiga orang meninggal dan yang terakhir adalah Tanah Laut di desa Damit, dua orang meninggal.
Sementara itu, itu Kabupaten Tanah Bumnbu, satu orang meninggal dan Kabupaten Tabalong dua orang meninggal, Kendati ada warga yang meninggal akibat nyamuk malaria namun dua kabupaten tersebut tidak ditetapkan sebagai daerah KLB karena jumlah kasusnya tidak terlalu besar atau tidak meningkat drastis.
Khusus korban Malaria di Desa Damit kabupaten Tanah Laut yaitu kakak beradik atas nama Suga Hanok (8) dan Dakka Abraham (5) yang meninggal pada 26 Juni 2007.
Dari 30 penderita yang ditemukan di Desa Damit Hulu, 29 penderita dinyatakan terkena gigitan nyamuk plasmodium falsiparum dan 1 penderita disebabkan plasmodium vivax.
Menurut Rosehan, dari hasil survei yang dilakukan sejak Januari 2007, terdapat 747 warga yang tersebar di 13 kabupaten dan kota di Kalsel dinyatakan positif mengindap penyakit Malaria dari 2839 warga yang diperiksa.
Dari 13 kabupaten tersebut, kabupaten Tabalong merupakan kabupaten yang paling banyak penderita penyakit Malaria mencapai 374 penderita, selanjutnya yaitu, kabupaten Banjar mencapai 146 orang.
Kabupaten Tanah Laut dari 210 orang yang diperiksa 79 orang juga dinyatakan positif Malaria, Banjarbaru 59 orang penderita, Tanah Bumbu (Tanbu) 47 orang, Hulu Sungai Selatan (HSS),44 orang, Kotabaru 39 orang.
Selanjutnya di Kabupaten Balangan 12 orang, Banjarmasin, enam orang, Hulu Sungai Tengah (HST) lima orang, Barito Kuala (Batola) satu orang. Sedangkan dua kabupaten lainnya, Tapin dan HSU, dinyatakan bebas kasus malaria.
Meningkatnya serangan malaia di Kalsel cukup membingungkan masyarakat, masalahnya wilayah ini tak henti-hentinya melakkan penanggulangan terhadap penyakit menular bahkan sudah miliaran rupiah uang digunakan hanya dalam upaya pemberantasan berbagai penyakit menular ini.
Kebingungan lain bertambah lagi setelah melihat serangan malaria kini bukan saja di masyarakat pedalaman tetapi kini justru menyebar di perkotaan.
Di Kabupaten Banjar malaria menyerang 14 warga Desa Peramasan Atas, suatu desa yang jauh di Pedalaman tepatnya di atas Pegunungan Meratus yang sulit dijangkau petugas kesehatan, dan agaknya serangan itu sudah bisa dimaklumi.
Masyarakat pedalaman menganggap penyakit ini akibat “wisa” semacam penyakit yang dibuat orang atau guna-guna, sehingga seringkali warga hanya berobat kedukun, atau meminum ramuan tanaman lokal yang pahit, seperti akar penawar sampai, akat pepaya, atau biji langsat.
Tetapi belakangan penyakit malaria justru berada di perkotaan, contohnya saja di Landasan Ulin sebuah wlayah yang padat penduduk perkotaan masuk Kota Banjarbaru, dekat Bandara Syamsudin Noor, dekat dengan Kota Banjarmasin, bahkan dengan kota Banjarbaru Martapura.
“Ini pertanda apa,” kata Agus Mulyadi seorang warga Banjarbaru, apakah petanda alam Kalsel sudah rusak, sehingga penyakit malaria menyebar di perkotaan.
Perkiraan kian merebaknya penyakit malaria perkotaan akibat rusaknya alam Kalsel agaknya ada benarnya, sebab hasil penelitian Dinas Kesehatan Kalsel ternyata nyamuk penyebab penyakit ni banyak bersarang di lubang-lubang bekas galian penambangan batubara.
Usaha penambangan batubara Kalsel belakangan sudah tidak terkendali lagi dimana-mana terlihat lubang bekas galian usaha pertambangan yang telah memproduksi sedikitnya 60 juta ton batubara per tahun.
Perkiraan akibat rusaknya alam juga bisa dibuktikan dengan begitu banyak hutan lebat yang telah dibabat, kemudian menjadi hutan terbuka dan semak belukar yang merupakan habitat dari penyabaran nyamuk yang oleh penduduk Kalsel disebut sebagai Nyamuk Tiruk ini.
Kerusakan alam demikian telah menyebabkan kehidupan nyamuk secara fisik lebih besar dari nyamuk biasa dan kala menggigit kemanusia selalu nungging ini terus menyebar tak terkecuali ke perkotaan.
Pertumbuhan penduduk, migrasi, sanitasi yang buruk dan daerah yang terlalu padat, memudahkan penyebaran penyakit ini. Pembukaan lahan-lahan baru serta perpindahan penduduk dari desa ke kota (urbanisasi) telah memungkinkan kontak antara nyamuk dengan manusia yang bermukim di daerah itu.
Selain itu, perubahan iklim, perubahan lingkungan seperti penelantaran tambak, genangan air di bekas galian pasir juga penebangan hutan bakau, juga mempercepat penyebaran penyakit malaria. Hal itu diperparah dengan perpindahan penduduk dari daerah endemis ke daerah bebas malaria dan sebaliknya.
Apa itu malaria
Berdasarkan sebuah catatan yang ada dalam situs menyebutkan malaria adalah sejenis penyakit menular yang menyebabkan sekitar 350-500 juta orang terinfeksi dan lebih dari 1 juta kematian setiap tahun, terutama di daerah tropis dan di Afrika di bawah gurun Sahara.
Malaria disebabkan oleh parasit protozoa. Plasmodium (salah satu Apicomplexa) dan penularan vektor untuk parasit malaria manusia adalah nyamuk Anopheles. Ragam dari Plasmodium falciparum dari parasit ini bertanggung jawab atas 80 persen kasus dan 90 persen kematian.
Untuk penemuannya atas penyebab malaria, seorang dokter militer Prancis Charles Louis Alphonse Laveran diberikan Penghargaan Nobel untuk Fisiologi dan Medis pada 1907.
Gejala dari malaria termasuk demam, menggigil, arthralgia (sakit persendian), muntah-muntah, anemia, dan convulsion. Dan mungkin juga rasa “tingle” di kulit terutama malaria yang disebabkan oleh P. falciparum. Komplikasi malaria termasuk koma dan kematian bila tak terawat anak kecil lebih mungkin berakibat fatal
Malaria adalah penyakit yang menyerang manusia, burung, kera dan primata lainnya, hewan melata dan hewan pengerat yang disebabkan oleh infeksi protozoa dari genus plasmodium.
Penyakit ini memiliki empat jenis dan masing-masing disebabkan spesies parasit yang berbeda. Jenis malaria itu adalah Malaria tertiana (paling ringan), yang disebabkan plasmodium vivax dengan gejala demam dapat terjadi setiap dua hari sekali setelah gejala pertama terjadi (dapat terjadi selama dua minggu setelah infeksi).
Kemudian malaria aestivo-autumnal atau disebut juga malaria tropika, disebabkan plasmodium falciparum merupakan penyebab sebagian besar kematian akibat malaria.
Organisme bentuk ini sering menghalangi jalan darah ke otak, menyebabkan koma, mengigau dan kematian.
Malaria kuartana yang disebabkan plasmodium malariae, memiliki masa inkubasi lebih lama daripada penyakit malaria tertiana atau tropika gejala pertama biasanya tidak terjadi antara 18 sampai 40 hari setelah infeksi terjadi. Gejala itu kemudian akan terulang lagi tiap tiga hari.
Malaria yang paling jarang ditemukan adalah yang disebabkan plasmodium ovale yang mirip dengan malaria tertiana.
Penyakit yang mudah dikenali dari gejala meriang (panas dingin dan menggigil) serta demam berkepanjangannya ini berasal dari nyamuk Anopheles sp. Ketika nyamuk anopheles betina (yang mengandung parasit malaria) menggigit manusia, akan keluar sporozoit dari kelenjar ludah nyamuk masuk ke dalam darah dan jaringan hati.
Dalam siklus hidupnya parasit malaria membentuk stadium sizon jaringan dalam sel hati (stadium ekso-eritrositer). Setelah sel hati pecah, akan keluar merozoit atau kriptozoit yang masuk ke eritrosit membentuk stadium sizon dalam eritrosit (stadium eritrositer).
Disitu mulai bentuk troposit muda sampai sizon tua atau matang sehingga eritrosit pecah dan keluar merozoit.
Sebagian besar Merozoit masuk kembali ke eritrosit dan sebagian kecil membentuk gametosit jantan dan betina yang siap untuk diisap nyamuk malaria betina dan melanjutkan siklus hidupnya di tubuh nyamuk (stadium sporogoni).
Di dalam lambung nyamuk, terjadi perkawinan antara sel gamet jantan (mikro gamet) dan sel gamet betina (makro gamet) yang disebut zigot. Zigot berubah menjadi ookinet, kemudian masuk ke dinding lambung nyamuk dan berubah menjadi ookista. Setelah ookista matang akan pecah dan keluar sporozoit yang berpindah ke kelenjar liur nyamuk, dan siap untuk ditularkan ke manusia.

KABUPATEN HSS KALSEL KLB MALARIA, DUA MENINGGAL
    Banjarmasin, 31/1 (ANTARA) – Empat desa di Kabupaten Hulu Sungai Selatan (HSS) Kalimantan Selatan (Kalsel) ditetapkan sebagai daerah yang mengalami kejadian luar biasa (KLB) Malaria, setelah adanya 14 orang warga yang dirawat akibat positif gigitan nyamuk anopheles dan dua orang meninggal.
    Wakil Kepala Dinas Kesehatan Kalsel, Gusti Asykin Noor SpKJ, Kamis, mengungkapkan,empat desa yang kini sedang terkena serangan malaria tersebut, yaitu Desa Bajayau, Kecamatan Daha Barat, Tanjung Selor, Bajau Tengah, Badaun dan Desa Baru.
    Asyikin Noor yang didamping Kabid P2PL, Sukamto mengungkapkan, terungkapnya kasus malaria di HSS berawal dari ditemukannya 14 penderita malaria yang dalam perawatan rumah sakit HSS dan dua orang meninggal.
    Dengan ditemukannya kasus tersebut, tambahnya, tim dinas kesehatan provinsi dan kabupaten langsung mengadakan identifikasi ke desa Bajayau dan beberapa desa tetangga lainnya.
    Hasilnya dari pemeriksaan yang dilakukan terhadap 68 orang, 40 orang diantaranya positif terkena serangan malaria.
    Bukan hanya melakukan pemeriksaan terhadap warga, petugas juga menemukan sebanyak 313 nyamuk anopheles yaitu nyamuk yang membawa dan menyebarkan bibit penyakit malaria.
    “Dari hasil investigasi yang dilakukan tim kesehatan, ternyata bibit penyakit malaria tersebut di bawa oleh warga yang baru datang dari kawasan tambang emas di gunung mayit Kabupaten Tanah Laut,” katanya.
    Usai bekerja di kawasan pertambangan, beberapa warga Bajayau pulang ke kampungnya, dan ternyata mereka itu menderita malaria dan dengan mudah menyebar ke beberapa warga dan desa lainnya.
    Akhir Desember 2007, KLB Malaria juga terjadi di Kabupaten Barito Kuala (Batola) di Desa Kolam Kiri Kecamatan Berambai. Puluhan warga juga terserang nyamuk Malaria.
    Dari hasil infestigasi, ternyata pencetusnya penyebaran penyakit tersebut juga berasal dari Gunung Mayit atau tambang emas di Tanah Laut.
    Mengantisipasi agar tidak terjadi penyebaran penyakit tersebut, petugas akan segera melakukan pengasapan di empat desa yang dinyatakan KLB Malaria, selain itu juga membagikan kelambu yang telah dicelup obat.
    Petugas kini juga mendirikan posko malaria, untuk menangani dengan cepat bila ada warga yang menunjukkan gejala penyakit serupa dengan penyakit yang telah banyak merenggut nyawa warga Kalsel tersebut.
    “Memutus mata rantai penularan penyakit mematikan tersebut, kini dinas kesehatan juga telah melakukan pengobatan massal dan selalu waspada dilokasi kejadian,” demikian Sukamto.

532 WARGA DI KALSEL TERSERANG MALARIA 5 MENINGGAL
    Banjarmasin, 20/2 (ANTARA) – Hingga saat ini serangan penyakit Malaria masih menghantui warga di Kabupaten Hulu Sungai Selatan (HSS) dan Barito Kuala (Batola).
    Kepala Dinas Kesehatan Kalsel, Rosehan Adhani, Rabu, mengungkapkan, sampai saat ini sudah 532 warga di Kecamatan Daha Barat, Kaliring Kabupaten HSS dan Kecamatan Jejangkit Batola positif terkena penyakit mematikan tersebut dan 5 orang meninggal dunia.
    Dari lima orang yang meninggal dunia akibat terlambat ditolong atau dilakukan pengobatan tersebut tiga orang warga HSS dan dua orang merupakan warga Batola.
    Saat ini, tambahnya petugas dinas kesehatan telah melakukan pengambilan sampel darah terhadap 384 warga di HSS, dan hasilnya sebanyak 136 warga positif mengidap penyakit malaria klinis, yang bisa menularkan.
    Dari hasil penelitian yang dilakukan tersebut, sebanyak 112 orang terkena gigitan nyamuk malaria dengan jenis Palsiparum dan 23 orang terkena gigitan nyamuk dengan jenis vivax.
     Masih tingginya serangnya nyamuk malaria di tiga kecamatan tersebut, hingga kini pemerintah belum mencabut status kejadian luar biasa (KLB) yang telah ditetapkan sejak beberapa bulan lalu.
    Diungkapkannya, saat ini pihak telah melakukan antisipasi dengan cara membagikan kelambu tidur yang telah disemprot obat anti malaria, memberikan pengobatan, melakukan penyemprotan agar nyamuk pembawa penyakit malaria tidak terus berkembang.
    Selain itu, menempatkan petugas medis untuk selalu siaga di tiga kecamatan tersebut, untuk segera melakukan pertolongan pertama bila ada warga yang sewaktu-waktu mendapatkan serangan penyakit mematikan tersebut.
    Bukan hanya itu, tambah Rosehan, Kamis (21/2) Dinkes Kalsel juga akan merekrut tenaga kontrak paramedis sebanyak 12 orang untuk ditempat di seluruh daerah yang rawan serangan malaria, terutama dikawasan pegunungan meratus.
    Dalam beberapa tahun terakhir, penyakit malaria merupakan penyakit yang perlu mendapatkan perhatian serius dari pihaknya, karena selalu menyerang dalam setiap tahun dan menimbulkan kematian.
    Pada 2007, 9289 warga yang tersebar di Kalsel dinyatakan positif menderita penyakit malaria, dan 31 orang meninggal dunia.
    “Kita berharap pada 2008 ini akan terjadi penurunan kasus yang signifikan, dengan mulai tumbuhnya kesadaran masayrakat tentang menjaga lingkungan tetap bersih dan segera berobat bila terserang gejala malaria,” katanya.
    Apalagi dengan ditempatkannya 12 petugas paramedis yang akan dikontrak selama satu tahun untuk bertugas di daerah yang selama ini endemis malaria, demikain Rosehan.

Iklan

KALSEL INGIN REBUT PELUANG SENTRA KARET INDONESIA

Oleh Hasan Zainuddin
Banjarmasin,20/9 (ANTARA)- Bila sepuluh tahun lalu sebagian besar lahan di kiri dan kanan jalan Trans Kalimantan baik poros Utara maupun poros Timur yang berada di wilayah Kalimantan selatan (Kalsel) hanya hamparan penuh ilalang dan semak belukar kini sudah berubah menghijau dengan luasan kebun karet.
Seakan tak ada lorong sedikitpun lahan yang tadinya terlantar untuk tidak dimanfaatkan masyarakat Kalsel dalam upaya mengembangkan kebun karet.
Masalahnya, dari usaha sektor pertanian yang agaknya berprospek dan memberikan bukti mensejahterakan petani adalah berkebun karet menyusul kian meningkatnya harga karet alam dunia belakangan ini.

karet.jpg Salah satu bentuk transaksi karet bakuan di sentra karet rakyat Balangan Kalsel.
Gubernur Kalsel, Drs. Rudy Ariffin sendiri selalu mengajak rakyatnya kembali ke sektor pertanian sebagai sektor unggulan meningkatkan kesejahteraan masyarakat, khususnya berkebun karet dan kelapa sawit.
Sebab tambahnya, usaha perkayuan maupun pertambangan yang sempat marak di Kalsel tidak terbukti memberikan kesejahterakan yang berarti bagi mayarakat.
Oleh karena itu Gubernur Kalsel berharap rakyat kembali berpaling ke sektor perkebunan karet yang pernah populer pada era tahun 50-an di wilayah ini.
Apalagi tambah Gubernur Kalsel, permintaan karet alam dunia terus meningkat menyusul kian meningkatnya kebutuhan karet alam. Sementara negara produsen karet dunia hanya Indoneia, Thailand , Malaysia, dan sedikit India, maka peluang usaha karet terus menjanjikan.
Membaiknya harga karet belakangan ini tak terlepas setelah adanya kebijakan tree Patrit tiga Negara Asean (Indonesia, Malaysia dan Thailand) sehingga harga karet lebih besar ditentukan negara produsen tidak lagi ditentukan negara konsumen.
Ditambah terjadinya apresiasi rupiah terhadap dolar semakin melemah, akhirnya harga karet di pasaran tanah air kian terdongkrak yang berdampak terhadap pendapatan petani.
Melihat kenyataan tersebut, agaknya tidak disia-siakan Pemprop Kalsel dalam hal ini Dinas Perkebunan setempat untuk mengetuk hati masyarakat untuk memperluas perkebunan karet.
Oleh karenanya Dinas Perkebunan Kalsel telah memprogramkan revitalisasi kebun karet rakyat agar wilayah ini bisa menjadi sentra perkebunan karet di tanah air.
Kepala Dinas Perkebunan Kalsel Ir. Haryono di Banjarmasin, Rabu mengatakan revitalisasi kebun karet rakyat tersebut menyusul kian membaiknya harga karet alam dunia.
Lokasi lahan yang bakal menjadi perkebunan karet adalah sebagian dari lahan yang dianggap terlantar selama ini yang tercatat sekitar 500 ribu hektare di Kalsel, terdiri dari padang alang-alang, semak belukar, atau hutan yang gundul.
Selain itu Pemprop Kalsel bersama petani setempat akan melakukan perluasan kebun karet rakyat, dengan cara peremajaan kebun karet yang sudah dianggap kurang berproduksi.
Haryono sendiri yakin keinginan Kalsel menjadi sentra perkebunan karet bakal terwujud mengingat Kalsel termasuk wilayah yang selama ini menjadi sentra perkebunan karet alam di Indonesia yang memberikan kontribusi cukup besar bagi mata dagangan ekspor karet yang mencapai 200 ribu ton per tahun.
Selain pengembangan karet melalui program revitalisasi dari pemerintah pusat Pemprop Kalsel sendiri juga telah menyediakan dana melalui APBD untuk mengembangkan karet rakyat seluas 2800 hektare.
Program revitalisasi kebun karet rakyat yang dilakukan pemerintah pusat dikembangkan 300 ribu hektare terdiri dari 250 ribu hektar peremajaan sedangkan 50 ribu lainnya merupakan perluasan kebun atau kebun baru.
Dari seluas 300 ribu hektare revitalisasi tersebut diharapkan Kalsel memperoleh 50 ribu hektarenya. Karena Kalsel berharap 24 ribu untuk perluasan dan 25 ribu lainnya untuk peremajaan.
Pengembangan karet melalui dana sendiri ini diharapkan melalui pembiayaan sistem sharing baik dana dari APBD tingkat I Kalsel sendiri APBD tingkat II masing-masing daerah yang mempunyai sentra kebun karet rakyat ditambah dana-dana dari APBN, katanya.
Dengan adanya pengembangan dan perluasan karet tersebut akhirnya Kalsel memiliki keluasan kebun karet rakyat mencapai 300 ribu hektare dari sekarang ini yang masih tercatat 178 ribu hektare.
Kebun karet Kalsel 178 ribu hektare itu terdiri dari perkebunan Rakyat 154 ribu hektare dengan produksi 79.552 ton per tahun, Perkebunan Besar Swasta (PBS) 13,9 ribu hektare produksi 4.267 ton per tahun dan Perkebunan Besar Negara (PBN) 9.9 ribu hektare produksi 7.585 ton per tahun.
Rata-rata produktivitas per-ha untuk tiga kategori pengembangan dimaksud baru mencapai 925,75 kg per hektare per tahun masih dibawah standart 1.500kg per hektare per tahun.
Selain melakukan perluasan kebun karet pemerintah juga berusaha memberikan penyuluhan kepada petani agar menjaga kualitas produksi karet dan kualitas pohon karet itu sendiri yakni dengan cara melakukan penyadapan dengan benar serta adanya pemeliharaan yang baik agar umur produksi pohon karet bisa diperpanjang.
Momen pengembangan kebun karet ini sekarang ini pas sekali dilakukan mengingat masyarakat lagi bergairah mengelola kebun karet menyusul kian membaiknya harga karet alam dunia yang sekarang sekitar 2 Dolar AS per kilogram dan diperkirakan akan mencapai livel 2,3 Dolar AS per kilogram dimasa mendatang.
Harga karet yang setinggi itu telah pula memicu penghasilan masyarakat penyadap karet yang sekarang sudah mendekati angka ratusan ribu rupiah per hari per orang penyadap karet.
Dampak lain dari perkebunan karet ini sebagai solusi untuk mengatasi kekurangan bahan baku kayu, menyusul kian berkurangnya kayu di hutan alam, khususnya untuk persedian bahan baku kayu lapis karena kayu karet juga berkualitas untuk berbagai industri perkayuan tersebut.
Harapan lain sebagai solusi atasi kebakaran lahan padang alang-alang dan semak belukar yang sering memproduksi asap cukup tebal, karena bila hamparan lahan terlantar menjadi perkebunan karet yang rindang maka kebakaran lahan semacam itu akan berkurang. 

KARET ALAM INDONESIA CAPAI HARGA TERTINGGI 
         Banjarmasin, 25/2 (ANTARA)- Produksi karet alam Indonesia saat  ini memasuki masa keemasan dengan harga jual mencapai 2,8 Dollar AS per kilogram (kg) atau harga tertinggi dalam sejarah perkaretan di tanah air.
        “Harga karet alam di pasaran dunia saat ini mencapai 2,8 Dolar AS suatu harga yang sungguh menggiurkan bagi dunia usaha perkaretan,” kata seorang pengusaha karet di Provinsi Kalimantan Selatan, Kodrat Syukur kepada ANTARA di Banjarmasin, Senin.
         Menurut pimpinan  PT Insan Bonafide yang merupakan pabrik pengolahan karet terbesar di Banjarmasin itu, kalau  dulu seorang petani harus mengumpulkan sedikitnya empat ton karet untuk dijual agar bisa beli sebuah sepeda motor, sekarang petani cukup mengumpulkan setengah ton karet sudah mampu beli sepeda motor.
         Tingginya harga karet saat ini dibanding sebelumnya, diharapkan dapat menggairahkan dan meningkatkan   kesejahteraan petani karet.
         Kondisi di Kalsel dengan harga karet yang tinggi maka memberi peluang  petani dan penyadap karet Kalsel sudah memiliki sepeda motor, ujarnya.
         Kian bergairah  petani berkebun karet, maka  hampir tak ada lagi lahan kosong dan terlantar di kawasan sentra perkebunan karet seperti di kawasan Banua Enam meliputi enam kabupaten di wilayah  Utara Provinsi Kalsel yang tidak ditanami komoditi karet.
         Berdasarkan pengamatan Kodrat Syukur yang memiliki pula pabrik karet di wilayah Kalimantan Tengah (Kalteng) ini, harga karet yang membaik itu lantaran permintaan karet alam dunia yang terus melonjak, setelah permintaan dari negara raksasa China yang kian meningkat belakangan ini.
         Kalau sebelumnya  konsumen karet alam dunia sebagian adalah Amerika Serikat, negara Eropa dan Jepang,  belakangan permintaan paling besar justru datang dari negara China setelah negara tersebut membangun insfrastruktur jalan raya seperti jaringan jalan-jalan tol yang luar biasa.
         Tersedianya prasarana jalan darat yang demikian telah melahirkan kebutuhan kendaraan bermotor seperti mobil yang meningkat drastis pula di negara yang dulu dikatakan sebagai negara tirai bambu tersebut.
         Meningkatnya jumlah kendaraan bermotor maka meingkat pula permintaan akan ban kendaraan tersebut yang akhirnya melahirkan pabrikan-pabrikan kendaraan bermotor di negara tersebut yang membutuhkan jumlah karet alam yang meningkat pesat.
         Walaupun tersedianya sejumlah karet sentetis tetapi untuk ban kendaraan bermotor tetap kualitasnya lebih baik karet alam, dimana tingkat elastisitasnya lebih baik atau tingkat kekeyalan ban itu yang lebih baik.
         Produsen karet alam dunia terbesar saat ini masih dipegang Thailand, menyusul Indonesia dan Malaysia.
         Kalau dilihat luasan kebun karet maka Indonesia berada tingkat teratas, tetapi kalau melihat jumlah produksi Indonesia kalah dengan Thailand, lantaran di negara tersebut kebun karet kebanyakan di kelola skala kebun  besar oleh pemerintah.
         Sementara di Indonesia kebun karet terbesar justru dikelola oleh rakyat biasa dengan skala kebun yang kecil sehingga tingkat produksi juga terbatas.
         Melihat kenyataan tersebut maka sudah seharusnya pemerintah Indonesia memperhatikan perkebunan karet ini dengan skala   besar pula agar Indonesia menjadi pengekspor karet alam terbesar dunia.
         Peningkatan jumlah permintaan karet di pasar dunia, ternyata juga berdampak positif ekspor karet Kalsel. Berdasarkan data ekspor di Dinas Perkebunan (Disbun) Kalsel selama dua tahun terakhir ekspor karet Kalsel mengalami pertumbuhan yang cukup menggembirakan.
         Bahkan selama dua tahun ini, volume ekspor karet Kalsel melonjak hingga 140 persen dengan nilai ekspor meningkat pula menjadi sebesar 200 persen.
         Dari data ekspor produksi karet Kalsel 2 tahun terakhir itu, komoditas karet SIR paling mendominasi. Untuk tahun 2006 lalu, ekspor karet SIR mengalami peningkatan volume hingga mencapai 120 persen dan peningkatan ekspor mencapai 187 persen.
         Setelah itu disusul karet RSS yang mengalami peningkatan volume 143 persen dan 208 persen untuk nilai ekspor.
         Sedangkan untuk produk karet Lateks mengalami pertumbuhan volume 77 persen dengan nilai ekspor tumbuh 68 persen sejak tahun 2005.

KALIMANTAN KINI MENGGELIAT “MELAWAN” KETERTINGGALAN

Oleh hasan Zainuddin
Banjarmasin,25/6 ()- 60 persen uang beredar di jakarta, atau 90 persen di Jawa, hanya 10 di daerah lain termasuk Kalimantan.
Betapa tertinggalnya Kalimantan, kata Ketua Kaukus Kalimantan Dewan Perwakilan Daerah (DPD) Republik Idnonesia, Prof.H.KMA Usop,MA di seminar dan lokakarya (semiloka) “Dari Kalimantan Untuk Indonesia” dan “Strategi Percepatan Pembangunan Kawasan Kalimantan.” di Banjarmasin, 24 Juni 2007 lalu.
Kata Usop, pembangunan tersentralisasi di Jawa, maka kemajuan terasa disana, Kalimantan kaya Sumberdaya Alam (SDA) tapi tetap termarginalkan.
Senada dengan Usop, Ketua Gerakan Nasional Jaring Politisi dan Pemimpin Bersih (Genas JP2B) Drs.A.Murjani,SH selaku panitia semiloka menyatakan Kalimantan terbukti berikan kontribusi besar pembangunan nasional, tapi fakta menunjukkan kondisi Kalimantan jauh tertinggal.
Kondisi itu sangat terkait pola pendekatan pembangunan RI masa lalu dengan pendekatan sentralistik, berorientasi pertumbuhan, tak menguntungkan daerah luar pusat kosentrasi pembangunan, mengakibatkan kesenjangan, melahirkan bentuk apatis serta perasaraan terhegemoni oleh kutub pusat dan daerah.
Diperlukan strategi mengintegrasikan empat wilayah Kalimantan, Kalsel, Kalteng, Kaltim, dan Kalbar secara komrehensif, kaitan percepatan pembangunan kawasan, hingga menuntaskan ketertinggalan ekonomi, pendidikan, kesehatan, maupun sosial politik, kebudayaan dan lingkungan hidup.
Membuka wilayah baru, membuat jalan, membuat pelabuhan, serta meningkatkan petanian, industri, perkebunan serta pedagangan dan jasa.
“Pemekaran wilayah diperlukan guna membuka wilayah terisolir, agar potensi ekonomi di daerah cepat tergali,” kata Usop lagi seraya mengakui wilayah Kalteng begitu banyak kawasan terisolir, artian hanya bisa dijangkau jalan sungai padahal berada di pedalaman.
Riak-riak ketidakpuasan terhadap kepincangan pembangunan di Kalimantan terus menggelembong di berbagai pertemuan, terakhir kencang terdengar di musyawarah adat Dayak Kalimantan di Pontianak.
Bahkan ketidak puasan pembangunan Kalimantan seringkali ditunjukkan dengan berbagai cara, melalui tulisan dimedia cetak, pernyataan dimedia televisi dan radio bahkan melalui unjukrasa.
Riak-riak itu juga terlihat seperti penolakan eksploitasi SDA yang memperoleh ijin pemerintah pusat, ada keinginan minta otonomi khusus seperti Aceh Nangro Darussalam, atau bentuk kegiatan lain kalau dibiarkan terkesan bisa mengarah pada perpecahan.
Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara (Menpan) HM Taufik Effendi yang juga putra Kalimantan saat membuka semiloka itu, mengingatkan tiap pertemuan membahas kawasan pembangunan Kalimantan harus memiliki sama tujuan, persepsi, serta kesamaan aksi, dalam kerangka negara kesatuan republik Indonesia (NKRI).
Kata dia negeri ini bisa hancur bila ada pengkhianatan, seperti tertulis dalam sejarah negeri ini berganti-ganti kerajaan, dari kerajaan Majapahit sampai kerajaan terakhir.
Mengapa kerajaan ditanah air tak bertahan lama, hanya adanya pengkhiatan, bandingkan kerajaan Inggris, kerajaan belanda, atau Kerajaan Thailand yang lenggeng hingga sekarang.
Bukti negeri bisa hancur karena pengkhiatan maka ia minta NKRI tak boleh bercerai berai, seperti diperjuangkan Sumpah Pemuda 1928.
Kata Menpan lagi, percepatan pembangunan Kalimantan menindak lanjuti berbagai program terdahulu, serta jujur dan berani mengakui kondisi objektif wilayah ini, dan dibuat daya tarik agar didatangi orang.
Riak ketidakpuasan masyarakat atas ketertinggalan kalimantan tersebut, bukan tak direspon petinggi wilayah ini, melalui empat gubernurnya telah membentuk forum kerjasama pembangunan Kalimantan, intinya mendesak pemerintah pusat berikan perhatian terhadap Kalimantan.
Berdasarkan catatan, forum ini sebenarnya sudah ada sejak 1980-an bernama Forum Kerjasama Pembangunan se-Kalimantan, sebagai wahana kerjasama dan membahas usulan bersama agar sinergisitas program pembangunan Kalimantan.
Koordinator forum dipimpin secara bergiliran di antara empat Gubernur se-Kalimantan dan tahun 2007 dan 2008 dipercayakan kepada Gubernur Kalimantan Tengah.
Pada 6 Pebruari 2007 saat rapat koordinasi di Jakarta dan disepakati nama forum ini berubah jadi Forum Kerjasama Revitalisasi dan Percepatan Pembangunan Regional Kalimantan (FKRP2RK) terdiri dari empat Kelompok Kerja (Pokja), Pokja Tata Ruang & LH, Infrastruktur, Perekonomian, dan Pokja Sumber Daya Manusia.
Agenda yang sudah dilaksanakan forum, Rakorbang pertanian Pebruari 2007 di Banjarmasin, dihadiri Menteri dan pejabat Deptan dan para gubernur, bupati, walikota dan pejabat lingkup pertanian se-Kalimantan.
Pertemuan dengan Menteri PU 9 Maret 2007 di Jakarta membahas percepatan pembangunan infrastruktur jalan lintas Kalimantan poros Selatan dan poros Tengah.
Pertemuan dengan Menteri Kehutanan 12 Maret 2007 di Jakarta membahas permasalahan pembangunan sektor kehutanan (pengelolaan kawasan hutan sehubungan dengan pengembangan sektor perkebunan, pertambangan, transmigrasi, dan lain sebagainya).
Kegiatan lain Musrenbang Regional Kalimantan 23 April 2007, dalam rangka merumuskan usulan program pembangunan bersama empat provinsi se Kalimantan dalam bidang tata ruang dan SDA, perekonomian, infrastruktur dan SDM Tahun 2008.
Pertemuan empat Gubernur se-Kalimantan dengan aparat penegak hukum Menko Polhukkam, Kapolri, Jaksa Agung, Meteri Pemberdayaan Aparatur Negara, Ketua Badan Pemeriksa Keuangan (BPK), Ketua Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP), Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dan Ketua Komisi III DPR-RI.
Pertemuan ini dilaksanakan di Jakarta 25 April 2007 juga dihadiri para Kajati, Kapolda, Bupati/Walikota dan para kepala SKPD terkait se Kalimantan. Ada 10 butir kesepakatan yang perlu ditindaklanjuti beberapa pihak terkait yang merupakan hasil dari pertemuan tersebut.
Pihak forum juga melakukan penyampaian usulan program pembangunan bersama Kalimantan Kepada Bapak Presiden dan Menteri terkait serta pimpinan panitia anggaran DPR RI, Pimpinan Komisi-Komisi DPR RI, Anggota DPR RI dan DPD RI daerah pemilihan Kalimantan. Agenda ini akan dilaksanakan Juli 2007.
“Kita tak akan main-main dengan agenda yang sudah disepakati itu.” kata Gubernur Kalteng Teras Narang,SH yang juga selaku Ketua FKRP2RK, saat menghadiri semiloka pembangunan Kalimantan itu, seraya berjanji mendesak pemerintah pusat mempercepat pembangunan Kalimantan.
Agenda yang sudah disepakti itu antara lain revitalisasi perkebunan khusus karet dan kelapa sawit dengan luasan puluhan ribu hektare, pembenahan sektor kehutanan, serta menuntaskan jalan trans Kalimantan.
Menuntaskan trans Kalmantan merupakan janji Menteri PU, trans Kalimantan selasai 2009, janji itu harus ditagih terus agar pemerinah pusat tidak akan main-main membuat janji.
Berdasarkan janji tak kurang dari Rp3,1 triliun dana yang akan digulirkan dalam percepatan penyelasaian trans Kalimantan tersebut.
Percepatan trans Kalimantan 2008-2009 melintasi Kalsel sepanjang 393,83 km untuk jalan, jembatan 330 m, Kalteng untuk jalan 820,20 km jembatan 5.068 m, Kalbar untuk jalan 736,29 jembatan 2.750 m, serta Kaltim untuk jalan 664,56 km jembatan 1.750 m, total jalan 2.615,58 km dan jembatan 9.848 m.
Selain Penuntasan Pembangunan Jalan dan Jembatan Lintas Kalimantan Poros Selatan, juga Pembangunan Jalan dan Jembatan Lintas Kalimantan Poros Tengah, serta poros Utara.
Diperlukan pula rehabilitasi/Pemeliharaan Jalan dan Jembatan Lintas Kalimantan Poros Tengah dan poros Utara.
Menurut Teras Narang percepatan pembangunan di wilayah pulau terbesar, Kalimantan atau seluas 507.412 km2 (27,27% dari luas wilayah RI) perlu dilakukan mengingat berbagai ketertinggalan tadi.
Wilayah dengan jumlah 52 Kabupaten/Kota di empat provinsi
Jumlah Penduduk sebanyak 12,583 juta (5,76% dari total penduduk Indonesia) kemiskinan masih terasa.
Angka kemiskinan masih cukup tinggi, yakni 25,14 persen dari total penduduk pulau Kalimantan, memiliki potensi SDA yang besar namun karena keterbatasan infrastruktur belum bisa dikelola secara optimal.
Dari tiga jalan lintas yang ada yakni Poros Utara, Poros Tengah dan Poros Selatan tidak satupun yang selesai. Progres penyelesaian jalan berjalan sangat lamban bahkan terkesan jalan ditempat, demikian Teras Narang.
Akhirnya melalui semiloka di Banjarmasin melahirkan deklarasi Kalimantan yang mengeluarkan sebelas butir tuntutan, antaranya menghendaki pembagian keuangan hasil SDA Kalimantan minimal 50 persen pusat dan 50 persen daerah dalam upaya percepatan pembangunan itu, tidak seperti sekarang hanya 13,5 persen untuk daerah.

MADU LEBAH KIAN SULIT DIPEROLEH DI PEDALAMAN KALSEL

Balangan, Kalsel,17/10 (ANTARA)- Serang lebah yang bergelantungan d pohon-pohon besar kawasan hutan Pegunungan Meratus, Pedalaman kalimantan Selatan (Kalsel) kini tak banyak kagi terlihat.

lebah.jpg sarang lebah madu di atas pohon
Akibat berkurangnya jumlah sarang lebah di hutan-hutan pedalaman Kalsel itu gilirannya madu lebah yang dihasilkan dari sarang lebah itupun sulit diperoleh dikawasan-kawasan tersebut, demikian dilaporkan, Rabu.
Wartawan ANTARA yang melakukan mudik lebaran memperoleh penjelasan masyarakat, kian berkurangnya sarang lebah di pohon besar akibat terjadi penebangan pohon kayu besar yang menjadi habitat lebah madu.
“Sepuluh tahun lalu, masih banyak sarang lebah bergelantungan di dahan-dahan kayu, tetapi kini setelah pohon kayu besar banyak ditebang untuk kebutuhan kayu gergajian, maka sulit dilihat lagi sarang lebah bergelantungan itu,” kata Nurdin penduduk Desa Panggung, Kabupaten Balangan.
Jenis kayu besar yang selama ini menjadi habitat lebah adalah kayu kusi (sejenis kayu besi), kayu kupang (kidaung), kayu surian, kayu lahung (pohon kayu sejenis keluarga durian-durianan)dan beberapa jenis pohon kayu besar lagi.
Tetapi kayu-kayu itu banyak diburu warga untuk ditebang, kemudian melalui peralatan mesin gergaji kayu-kayu itu dibelah-belah menjadi papan, kayu gergajian, karena kayu besar maka jumlah kayu gergajian dari pohon itu menjadi banyak jumlahnya, akhirnya kayu-kayu itupun di buru.
Akibat hilangnya kayu-kayu besar akhirnya lebah madu sulit bersarang lagi, binatang kecil itupun kini lari ke dalam hutan lagi yang jauh dari jangkauan manusia.
Dampak yang dirasakan sekarang adalah sulitnya memperoleh madu lebah dari sarang lebah di pohon-pohon besar, padahal madu merupakan kebutuhan masyarakat sejak dulu, baik untuk kondusmi mapun untuk kebutuhan kesehatan.
“Kalau dulu setiap warga pasti menyimpan madu lebah untuk campuran makanan, seperti untuk teman makan ubi kayu rebus, pisang rebus, campuran makanan roti atau sebagai minuman kesehatan, tetapi sekarang kebiasaan itu sudah sulit dipenuhi lagi,” kata warga lain.
Dengan sulitnya mencari madu lebah itu, maka harga madu lebah juga kini kian mahal antara Rp40 ribu hingga Rp50 ribu per botol, padahal dulu paling banter hanya sekitar p5 ribu hingga Rp10 ribu per botol.
Madu lebah yang banyak dijual sekarangpun bukan dari lebah yang bersarang dipohon besar, tetapi lebah yang bersarang di pohon kecil dengan bentuk tubuh lebah yang lebih kecil yang disebut masyarakat sebagai lebah iruan, padahal lebah yang bersarang dipohon besar disebut lebah wanyi.
Untuk kesehatan tubuh madu yang dihasilkan lebah iruan dianggap kurang khasiatnya, tetapi lebah yang dianggap berkualitas adalah madu dari hasil ekstrak lebah wanyi.
Lebah iruan hanya mencari makan di hutan disekitar sarangnya saja sementara lebah wanyi yang dikenal terbang berkelompok besar kema-mana mampu mencari makan ke hutan-hutan yang luas, dan kembali pada malam hari ke sarang secara berkelompok pula.

 

DI PEDALAMAN KALSEL DITEMUKAN SEJENIS MADU BUKAN DARI LEBAH

Proses pencarian madu kelulut

 muncung sarang kalulut di pohon

Banjarmasin,10/6 (ANTARA)- Masyarakat yang tinggal di pedalaman Propinsi Kalimantan Selatan persisnya di lereng Pegunungan Meratus Kabupaten Balangan menemukan sejenis madu yang bukan dari hasil pembuatan lebah.
Binatang yang mengolah madu tersebut bentuk kecil lebih kecil dari lalat disebut masyarakat setempat sebagai binatang kalulut, sehingga madu yang dihasilkannya itu disebut madu kelulut, demikian keterangan dari warga di Kecamatan Paringin, Kabupaten Balangan,Kalsel, Minggu.
Madu kalulut kini mulai digandrungi masyarakat bukan sekedar untuk kesehatan tubuh sebagaimana madu lebah, juga sebagai teman makan kue, atau makanan pisang rebus dan ubi rebus.
Menurut, Aliansyah yang dikenal sebagai pencari madu kalulut di Desa Inan, Kecamatan Paringin, madu tersebut dianggap lebih berkhasiat dibandingkan madu lebah.
Masalahnya binatang kelulut lebih kecil dibandingkan lebah sehingga binatang ini pasti lebih teliti dalam mengekstrak madu untuk makanan anak-anaknya.
Hanya saja, bagi sebagian orang di wilayah ini kurang suka terhadap jenis madu ini, lantaran rasanya sedikit asam dibandingkan madu lebah, tetapi bentuk warna atau kekentalan sama saja dibandingkan madu lebah.
Untuk mencari madu kalulut ini memang rlatif lebih sulit dibandingkan madu lebah, karena setiap satu sarang kalulut hanya sedikit sekali menghasilkan madu.
“Makanya untuk mendapatkan satu liter madu kalulut, itu harus mampu mengambil madu untuk beberapa sarang kalulut, sementara kalau mengambil madu lebah hanya satu sarang bisa mencapai puluhan liter” kata Aliansyah.
Apalagi sarang kalulut itu bukan berada bergelantungan di dahan pohon seperti layaknya sarang lebah, tetapi sarang kalulut itu berada dalam rongga batang pohon besar.
Biasanya sarang kalulut itu berada dalam rongga batang pohon besar, Untuk mengenali batang pohon itu ada atau tidak sarang kalulut, ditandai dengan sekelompok binatang kalulut yang beterbangan di sekitar itu.
Untuk mendapatkan madu kalulut tersebut pencari madu ini harus menebang dulu pohon itu, kemudian baru membelahnya pakai kampak, setelah itu baru kelihatannya sarang kalulut lengkap dengan wadah-wadah madunya.
Wadah madu ini persis seperti balon-balon kecil menggelembong, balon itu terbuat dari bahan yang diproduksi binatang ini menyerupai lilin hitam. Bila gelembong itu pecah sedikit saja maka madu akan ngocor dari gelembong tersebut.
Makanya cara mengambil madu tersebut terlebih dahulu mengumpulkan balon-balon kecil itu ke dalam wadah, setelah terkumpul baru balon itu dipecah atau diperas hingga madunya terkumpul.
Enaknya mengambil madu itu karena gigitan binatang ini tidak sakit dibandingkan gigitan lebah, paling banter sakitnya seperti gigitan nyamuk, tetapi kalau binatang ini marah biasanya secara berkelompok menyerang bagian rambut orang hingga seringakali binatang ini banyak nyangkut dirambut orang.
Binatang ini selain banyak bersarang di dalam pohon besar, juga ada yang bersarang dalam gondokan tanah merah semacam gunung kecil atau yang disebut penduduk setempat tanah balambika.
Bila madu kalulut yang bersarang dalam tanah merah ini diambil maka warna madu kalulut agak merah keputih-putihan, sedangkan madu dalam pohon agak merah ke hitam-hitaman.
Lantaran sulit diperoleh maka kalau ada yang menjual madu inipun harganya lebih mahal ketimbang harga madu lebah, bila harga madu lebah asli rp50 ribu per liter di pedalaman Kalsel, maka harga madu lebah ini bisa Rp60 ribu per liter.
Konon agar madu ini lebih berkhasiat kalau didiamkan lebih lama dulu, sehingga dikenal ada madu kalulut usianya tahunan di tangan masyarakat.
Konon pula madu banyak sekali khasiatnya, selain bisa untuk kejantanan laki-laki atau awet muda, atau untuk obat demam, atau obat luka.

BUAH KHAS KALIMANTAN KIAN LANGKA

Banjarmasin,18/10 (ANTARA)-Buah-buahan khas Kalimantan yang berada di kawasan Kalimantan Selatan kian kian langka setelah pohon buah-bauah tersebut terus ditebang untuk digunakan sebagai bahan baku gergajian.
Demikian keterangan warga di bilangan Kabupaten Balangan, kepada ANTARA saat melakukan mudik lebaran, demikian dilaporkan Kamis.
Berdasarkan keterangan penduduk Desa Panggung, buah khas yang sudah langka seperti jenis maritam (buah sejenis rambutan tapi tidak berbulu), siwau (juga jenis ramburan juga tidak berbulu) asam hurang (mangga kecil rasanya manis).
Buah lain yang pohon kayunya terus ditebang, tandui (sejenis mangga tetapi rasanya sangat kecut, biasanya disenangi hanya dijadikan rujak), lahung (sejenis durian berbulu panjang dan lancip dengan warna kulit merah tua), serta mantaula (sejenis durian berklit tebal berduri besar rasanya khas).
Buah-buahan yang hanya berada di pedalaman Kalimantan khususnya di Pegunungan Meratus tersebut dicari lantaran pohonnya selalu besar, sehingga bila dijadikan kayu gergajian maka kayu gergajian dari pohon itu volumenya banyak.
“Sejak sepuluh tahun terakhir ini, kayu buahan tersebut ditebang diambil kayunya untuk dijual dan untuk bahan bangunan pembangunan rumah penduduk,” kata Rusli penduduk setempat.
Perbuuan kayu buah-buahan tersebut setelah kayu-kayu besar dalam hutan sudah kian langka pula, setelah terjadi penebangan kayu dalam hutan secara besar-besar dalam dekade belakangan ini.
Sementara permintaan kayu untuk dijadikan vener ( bahan untuk kayu lapis) terus meningkat, setelah kayu-kayu ekonomis dalam hutan sudah sulit dicari,
Bukan hanya untuk vener, kayu-kayu dari pohon buah itu dibuat papan untuk dinding rumah penduduk, atau dibuat balokan serta kayu gergajian.
Beberapa warga menyayangkan penebangan kayu buah tersebut, lantaran jenis kayu ini adalah kayu yang berumur tua.
“Kalau sekarang ditanam maka mungkin 50 tahunan bahkan ratusan tahun baru kayu itu besar,” kata warga yang lain.
Sebagai contoh saja, jenis pohon buah lahung yang ditebang adalah pohon yang ratusan tahun usianya, makanya pohon lahung yang banyak ditebang ukuran garis tengahnya minimal satu meter.
Warga mengakui agak sulit melarang penebangan kayu pohon buah tersebut lantaran itu kemauan pemilik lahan dimana pohon itu berada, sebab pohn itu sebelum ditebang dijual dengan harga mahal, sehingga oleh pemilik lahan dianggap menguntungkan.

SEGUDANG MISTERI SELIMUTI SEMBURAN LUMPUR GAS BERAMBAI KALSEL

Oleh Hasan Zainuddin
Banjarmasin,31/7 (ANTARA)- Semburan gas dan lumpur di perkampungan Transmigrasi Desa Kolam Kanan Dusun III RT 10 Kecamatan Barambai, Kabupaten Barito Kuala (Batola) Propinsi Kalimantan Selatan (Kalsel) sejak 25 September 2006 lalu hingga kini masih mengandung segudang misteri.

Keluarnya gas misterius tersebut terjadi setelah empat pekerja penduduk setempat menggali sumur bor sedalam 135 meter untuk memperoleh air bersih menyusul empat bulan warga sekitar itu kesulitan air bersih.

Setelah semburan gas di tengah pemukim transmigrasi asal bali tersebut terangkat kepermukaan telah melahirkan banyak spekulasi di tengah masyarakat.

Ada yang menyebutkan bahwa gas tersebut beracun, adapula yang menyatakan gas itu masih aman bagi kehidupan sekitarnya.

Namun setelah adanya penelitian dari pihak Dinas Pertambangan (Distamben) Kalsel yang menyatakan gas itu tdak berbahaya maka cukup melegakan masyarakat setempat.

Sebelum adanya penelitian tersebut kemunculan lumpur misterius tersebut telah merisaukan warga setempat akan adanya sebaran racun dari dalam tanah, sehingga warga enggan mendekati lokasi bahkan enggan keluar rumah untuk bekerja.

Apalagi adanya dugaan gas yang keluar pernah muncrat setinggi pohon kelapa tersebut seperti layaknya gas elpiji, bila terkena api sedikit maka menimbulkan kebakaran besar sehingga sangat menakutkan warga sekitar.

Berdasarkan penelitian Distamben Kalsel menyebutkan semburan lumpur itu mengandung antaranya unsur S02 (Sulfur Dioksida), N02 (Nitrogen Dioksida), CO (Karbon Monoksida), NH3 (Amoniak) dan H2S (Hidrogen Sulfida).

Kesimpulan masih amannya gas Berambai tersebut juga pernah diungkapkan Kepala Badan Pengendalian Dampak Lingkungan Daerah (Bapedalda) Kalimantan Selatan, Drs.Rahmadi Kurdi.

Menurutnya berdasarkan pemeriksaan Bapedalda Kalsel bersama Balai Teknik Kesehatan Lingkungan dan Pemberantasan Penyakit Menular (BTKL-PPM) Kelas I Banjarbaru, semburan gas masih aman bagi kesehatan.

Rincian hasil pemeriksaan tersebut. Yaitu kandungan Nitrogen Dioksida (NO2) 10,264 ug/M3 per jam, sedangkan batas masuk kategori berbahaya 400 ug/M3 per jam. Kemudian, kandungan Surfur Dioksida (SO2) ditemukan 29,846 ug/M3 per jam, sementara batas berbahaya paling rendah 900 ug/M3 per jam.

Berikutnya, Karbon Monoksida (CO) ditemukan 633,525 ug/M3 per jam, sedangkan batas berbahaya 30.000 ug/M3 per jam. Begitu pula dengan kandungan Hitrogen Sulfida (H2S), jauh di bawah ambang batas, yaitu 0,0001 ug/M3 per jam, sedangkan batas bebahaya adalah 0,02 ug/M3 per jam, jelasnya.

Gubernur Kalsel Drs.Rudy Ariffin sendiri cukup bingung munculnya penomena alam yang tak pernah terjadi sebelumnya di wilayahnya itu, sehingga iapun melaporkan kasus tersebut baik kepada Menteri ESDM Purnomo Yusgiantoro, serta kepada Menteri Tenga Kerja dan Transmigrasi Erman Suparno dalam kesempatan kunjungan ke Barito Kuala (Batola) belum lama ini.

Kemunculan gas dari perut bumi Kalsel itu telah melahirkan berbagai analisa. Ada yang menyebutkan perkiraan gas itu adalah gas metan dari batubara ada pula yang menyebutkan gas itu merasal dari gas minyak bumi.

Ada pula yang menyebutkan gas tersebut mengandung energi alternatif Coal Belt Methane (CBM) yang merupakan energi alternatif yang sangat potensial di masa depan.

Di Indonesia sendiri kandungan CBM ditemukan di Sumatera Selatan dan Sumatera Tengah. Selebihnya, tersebar antara lain di Kalimantan dan Sulawesi.

Analisa gas itu berasal dari minyak bumi karena lokasi semburan lumpur gas tersebut berada daerah cekungan Barito.

Cekungan Barito ini di sebelah Timur dibatasi oleh Pegunungan Meratus, dengan posisi topografinya merupakan landaian.

Pegunungan Meratus merupakan batas sebelah Timur dari cekungan ini. Batas cekungan ini berupa patahan demikian salah satu analisa yang diperoleh penulis dari sebuah situs yang ada di internet.

Sumur lumpur Barambai terletak di tengah-tengah lingkungan alam berawa-rawa dan bergambut yang luas sekali dari sistem sungai Barito.

Karena berada di cekungan Barito yang landai sehingga diduga terhubung dengan lokasi-lokasi sumur minyak bumi yang berada dilapangan minyak Kambitin dan lapangan Minyak Tanjung Kabupaten tabalong wilayah bagian Utara Propinsi Kalsel.

Minyak dan gas cenderung naik ke lokasi lebih tinggi, karena berat jenis minyak lebih ringan dari berat jenis air, sehingga minyak yang terbentuk dibawah itu mengalir ke atas.

Demikian juga dengan gas, karena gas berat-jenisnya sangat kecil, tentunya gas yang terbentuk di bagian paling dalam di cekungan Barito ini akan mengalir ke atas juga.

Gas yang keluar dari sumur bor Berambai batola tersebut diduga gas yang merupakan bagian yang terhubungkan dari lapangan minyak dan gas Warukin-DHS-Tanjung-Kambitin.

Ada juga yang menduga sumur Barambai itu bisa jadi merupakan sumber air artesis, atau bisa juga gabungan adanya jebakan gas dan minyak.

Sementara dugaan lain menyebutkan gas Berambai merupakan bagian dari Gas Metan Batubara (GMB), karena wilayah Kabupaten Batola salah satu dari empat kabupaten yang memiliki potensi GMB yang cukup besar.

Tiga kabupaten lain yang memiliki potensi GMB itu adalah Kabpaten Banjar, Kabupaten Tapin, dan Kabupaten Hulu Sungai Selatan (HSS).

Wakil Kepala Dinas Pertambangan Kalsel,Haryo Darma mengungkapkan, potensi terjadinya akumulasi GMB di empat kabupaten itu cukup besar karena, kandungan gas di masing-masing daerah berada di kedalaman lebih dari 500 meter.

“Diempat kabupaten terdapat kandungan batu bara yang cukup besar, hanya saja berada pada kedalaman lebih dari 500 meter, sehingga kemungkinan terjadinya akumulasi gas juga sangat besar,” katanya.

Besarnya kandungan gas di daerah itu membuat warga di keempat daerah harus hati-hati melakukan pengeboran, karena potensi munculnya lumpur bercampur gas seperti di Desa Berambai Kabupaten Tala, juga cukup besar.

“Makanya ada aturan tentang pengeboran diempat daerah yang memiliki GMB tersebut, yaitu bagi warga yang mengebor dengan kedalaman lebih dari 100 meter harus mendapatkan izin dari pertambangan,” tambahnya.

Peraturan tersebut tambahnya, untuk menghindari munculnya letupan-letupan gas yang bercampur gas seperti yang terjadi di Desa Berambai yang sempat menggemparkan warga.

Sayangnya, hingga saat ini dinas pertambangan belum mampu mendeteksi besarnya kandungan GMB yang berada di keempat daerah tersebut.

“Untuk mengetahui besarnya kandungan GMB harus ada penelitian dengan peralatan khusus dan tehnik-tehnik canggih, fasilitas-fasilitas tersebut yang belum ada di Kalsel,” tambahya.
Sementara itu, di daerah-daerah tambang lainnya yaitu di Kabupaten Kotabaru, Tanah Laut (Tala), Tanah Bumbu (Tanbu) maupun Tabalong dan beberapa daerah lainnya, untuk sementara tidak ditemukan kandungan GMB.

Kendati kandungan batu bara di daerah-daerah tersebut cukup besar, namun posisi batu baranya berada pada permukaan daratan, sehingga tidak mungkin terjadi akumulasi GMB.

Guna memanfaatkan semburan gas seperti yang terjadi di Berambai tersebut pemerintah bersedia menawarkan pemanfaatan gas tersebut kepada pihak investor agar bisa digunakan sebaik-baiknya bagi kepentingan ekonomi dan masyarakat, terbukti sudah ada beberapa investor yang berminat dan menghadap Bupati Batola, Edy Sukarma.

Munculnya semburan lumpur berambai kian menambah panjang daftar semburan lumpur yang melanda beberapa wilayah di tanah air belakangan ini.

Sebelumnya dihebohkan dengan munculnya semburan lumpur bercampur gas di Bojonegoro, semburan lumpur di Porong Sidoarjo, semburan lumpur bercampur minyak di Gresik, semburan lumpur di Brebes, lumpur minyak di sumur bor di Jambi serta semburan lumpur di Serang, terakhir adanya semburan lumpur di Palingkau Kuala Kapuas Kalteng.

Untuk mengetahui misteri yang menyelimuti semburan lumpur dan gas dimana-mana termasuk di Berambai Kalsel itu diperlukan penelitian khusus agar bisa terungkap dan melegakan banyak orang, sekaligus menghilangkan spekulasi yang membingungkan apalagi bila dihubungkan dengan segudang mistik.

PT.SUGICO GROUP SEGERA GARAP GAS MITAN DI BATOLA KALSEL
         Banjarmasin, 25/2 (ANTARA) – Dirjen Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) memutuskan PT.Sugico sebagai perusahaan yang akan melakukan eksplorasi atas gas mitan di Desa Berambai Kabupaten Barito Kuala (Batola) Kalimantan Selatan (Kalsel).
        Wakil Kepala Dinas Pertambangan Kalsel, Haryo Dharma, Senin, mengungkapkan, dengan keputusan dari Kementerian ESDM itu, maka sejak saat ini, PT.Sugico Group yang akan mengelola gas mitan di Kabupaten Batola tersebut.
        Diungkapkannya, surat izin eksplorasi tersebut yang dikeluarkan Dirjen ESDM kepada salah satu perusahaan modal dalam negeri (PMDN) sejak Januari 2008.
        Kini perusahaan yang bekerjasama dengan perguruan tinggi dari Universitas Padjajaran (UNPAD) dan UPN Veteran Yogyakarta itu sedang melakukan evaluasi layak tidaknya lokasi keluarnya semburan gas mitan tersebut untuk dilakukan eksplorasi.
        Selain itu, evaluasi juga dimaksudkan untuk menentukan blok-blok yang layak untuk dilakukan eksplorasi.
        Diperkirakan, evaluasi tersebut akan berakhir hingga Maret mendatang. “Senin hari ini, tiga peneliti dari Unpad sudah ke lapangan, setelah dari Unpad selesai akan dilanjutkan oleh UPN Veteran,” tambahnya.
        Dari hasil evaluasi itu juga diharapkan diketahui besarnya kandungan gas yang ada di daerah Berambai yang hingga kini juga belum bisa dipastikan.
       Namun demikian, tambahnya, dari hasil penelitian yang dilakukan sebelumnya, potensi batu bara yang mengandung gas mitan hingga kedalaman 600-700 meter di bawah permukaan laut masih ada.
        Artinya, dari hasil penelitian tersebut diduga kandungan mItan di kawasan sumur yang mengeluarkan semburan lumpur di Desa Berambai tersebut cukup besar.
        Sekitar dua tahun lalu, warga Desa Berambai Kabupaten Batola digegerkan oleh keluarnya semburan lumpur yang mengandung gas dari sumur salah seorang warga.
        Semburan lumpur yang hingga kini masih terus bergolak tersebut menjadi tontonan warga dari berbagai daerah di Kalsel, sekaligus juga mengkhawatirkan warga sekitar, khawatir atas peristiwa lumpur Lapindo akan terjadi di daerah tersebut.
        Selain itu, fenomena alam tersebut juga banyak menarik minat para peneliti untuk melakukan penelitian di sumur yang diduga kuat banyak mengandung gas mitan tersebut.