SEGUDANG MISTERI SELIMUTI SEMBURAN LUMPUR GAS BERAMBAI KALSEL

Oleh Hasan Zainuddin
Banjarmasin,31/7 (ANTARA)- Semburan gas dan lumpur di perkampungan Transmigrasi Desa Kolam Kanan Dusun III RT 10 Kecamatan Barambai, Kabupaten Barito Kuala (Batola) Propinsi Kalimantan Selatan (Kalsel) sejak 25 September 2006 lalu hingga kini masih mengandung segudang misteri.

Keluarnya gas misterius tersebut terjadi setelah empat pekerja penduduk setempat menggali sumur bor sedalam 135 meter untuk memperoleh air bersih menyusul empat bulan warga sekitar itu kesulitan air bersih.

Setelah semburan gas di tengah pemukim transmigrasi asal bali tersebut terangkat kepermukaan telah melahirkan banyak spekulasi di tengah masyarakat.

Ada yang menyebutkan bahwa gas tersebut beracun, adapula yang menyatakan gas itu masih aman bagi kehidupan sekitarnya.

Namun setelah adanya penelitian dari pihak Dinas Pertambangan (Distamben) Kalsel yang menyatakan gas itu tdak berbahaya maka cukup melegakan masyarakat setempat.

Sebelum adanya penelitian tersebut kemunculan lumpur misterius tersebut telah merisaukan warga setempat akan adanya sebaran racun dari dalam tanah, sehingga warga enggan mendekati lokasi bahkan enggan keluar rumah untuk bekerja.

Apalagi adanya dugaan gas yang keluar pernah muncrat setinggi pohon kelapa tersebut seperti layaknya gas elpiji, bila terkena api sedikit maka menimbulkan kebakaran besar sehingga sangat menakutkan warga sekitar.

Berdasarkan penelitian Distamben Kalsel menyebutkan semburan lumpur itu mengandung antaranya unsur S02 (Sulfur Dioksida), N02 (Nitrogen Dioksida), CO (Karbon Monoksida), NH3 (Amoniak) dan H2S (Hidrogen Sulfida).

Kesimpulan masih amannya gas Berambai tersebut juga pernah diungkapkan Kepala Badan Pengendalian Dampak Lingkungan Daerah (Bapedalda) Kalimantan Selatan, Drs.Rahmadi Kurdi.

Menurutnya berdasarkan pemeriksaan Bapedalda Kalsel bersama Balai Teknik Kesehatan Lingkungan dan Pemberantasan Penyakit Menular (BTKL-PPM) Kelas I Banjarbaru, semburan gas masih aman bagi kesehatan.

Rincian hasil pemeriksaan tersebut. Yaitu kandungan Nitrogen Dioksida (NO2) 10,264 ug/M3 per jam, sedangkan batas masuk kategori berbahaya 400 ug/M3 per jam. Kemudian, kandungan Surfur Dioksida (SO2) ditemukan 29,846 ug/M3 per jam, sementara batas berbahaya paling rendah 900 ug/M3 per jam.

Berikutnya, Karbon Monoksida (CO) ditemukan 633,525 ug/M3 per jam, sedangkan batas berbahaya 30.000 ug/M3 per jam. Begitu pula dengan kandungan Hitrogen Sulfida (H2S), jauh di bawah ambang batas, yaitu 0,0001 ug/M3 per jam, sedangkan batas bebahaya adalah 0,02 ug/M3 per jam, jelasnya.

Gubernur Kalsel Drs.Rudy Ariffin sendiri cukup bingung munculnya penomena alam yang tak pernah terjadi sebelumnya di wilayahnya itu, sehingga iapun melaporkan kasus tersebut baik kepada Menteri ESDM Purnomo Yusgiantoro, serta kepada Menteri Tenga Kerja dan Transmigrasi Erman Suparno dalam kesempatan kunjungan ke Barito Kuala (Batola) belum lama ini.

Kemunculan gas dari perut bumi Kalsel itu telah melahirkan berbagai analisa. Ada yang menyebutkan perkiraan gas itu adalah gas metan dari batubara ada pula yang menyebutkan gas itu merasal dari gas minyak bumi.

Ada pula yang menyebutkan gas tersebut mengandung energi alternatif Coal Belt Methane (CBM) yang merupakan energi alternatif yang sangat potensial di masa depan.

Di Indonesia sendiri kandungan CBM ditemukan di Sumatera Selatan dan Sumatera Tengah. Selebihnya, tersebar antara lain di Kalimantan dan Sulawesi.

Analisa gas itu berasal dari minyak bumi karena lokasi semburan lumpur gas tersebut berada daerah cekungan Barito.

Cekungan Barito ini di sebelah Timur dibatasi oleh Pegunungan Meratus, dengan posisi topografinya merupakan landaian.

Pegunungan Meratus merupakan batas sebelah Timur dari cekungan ini. Batas cekungan ini berupa patahan demikian salah satu analisa yang diperoleh penulis dari sebuah situs yang ada di internet.

Sumur lumpur Barambai terletak di tengah-tengah lingkungan alam berawa-rawa dan bergambut yang luas sekali dari sistem sungai Barito.

Karena berada di cekungan Barito yang landai sehingga diduga terhubung dengan lokasi-lokasi sumur minyak bumi yang berada dilapangan minyak Kambitin dan lapangan Minyak Tanjung Kabupaten tabalong wilayah bagian Utara Propinsi Kalsel.

Minyak dan gas cenderung naik ke lokasi lebih tinggi, karena berat jenis minyak lebih ringan dari berat jenis air, sehingga minyak yang terbentuk dibawah itu mengalir ke atas.

Demikian juga dengan gas, karena gas berat-jenisnya sangat kecil, tentunya gas yang terbentuk di bagian paling dalam di cekungan Barito ini akan mengalir ke atas juga.

Gas yang keluar dari sumur bor Berambai batola tersebut diduga gas yang merupakan bagian yang terhubungkan dari lapangan minyak dan gas Warukin-DHS-Tanjung-Kambitin.

Ada juga yang menduga sumur Barambai itu bisa jadi merupakan sumber air artesis, atau bisa juga gabungan adanya jebakan gas dan minyak.

Sementara dugaan lain menyebutkan gas Berambai merupakan bagian dari Gas Metan Batubara (GMB), karena wilayah Kabupaten Batola salah satu dari empat kabupaten yang memiliki potensi GMB yang cukup besar.

Tiga kabupaten lain yang memiliki potensi GMB itu adalah Kabpaten Banjar, Kabupaten Tapin, dan Kabupaten Hulu Sungai Selatan (HSS).

Wakil Kepala Dinas Pertambangan Kalsel,Haryo Darma mengungkapkan, potensi terjadinya akumulasi GMB di empat kabupaten itu cukup besar karena, kandungan gas di masing-masing daerah berada di kedalaman lebih dari 500 meter.

“Diempat kabupaten terdapat kandungan batu bara yang cukup besar, hanya saja berada pada kedalaman lebih dari 500 meter, sehingga kemungkinan terjadinya akumulasi gas juga sangat besar,” katanya.

Besarnya kandungan gas di daerah itu membuat warga di keempat daerah harus hati-hati melakukan pengeboran, karena potensi munculnya lumpur bercampur gas seperti di Desa Berambai Kabupaten Tala, juga cukup besar.

“Makanya ada aturan tentang pengeboran diempat daerah yang memiliki GMB tersebut, yaitu bagi warga yang mengebor dengan kedalaman lebih dari 100 meter harus mendapatkan izin dari pertambangan,” tambahnya.

Peraturan tersebut tambahnya, untuk menghindari munculnya letupan-letupan gas yang bercampur gas seperti yang terjadi di Desa Berambai yang sempat menggemparkan warga.

Sayangnya, hingga saat ini dinas pertambangan belum mampu mendeteksi besarnya kandungan GMB yang berada di keempat daerah tersebut.

“Untuk mengetahui besarnya kandungan GMB harus ada penelitian dengan peralatan khusus dan tehnik-tehnik canggih, fasilitas-fasilitas tersebut yang belum ada di Kalsel,” tambahya.
Sementara itu, di daerah-daerah tambang lainnya yaitu di Kabupaten Kotabaru, Tanah Laut (Tala), Tanah Bumbu (Tanbu) maupun Tabalong dan beberapa daerah lainnya, untuk sementara tidak ditemukan kandungan GMB.

Kendati kandungan batu bara di daerah-daerah tersebut cukup besar, namun posisi batu baranya berada pada permukaan daratan, sehingga tidak mungkin terjadi akumulasi GMB.

Guna memanfaatkan semburan gas seperti yang terjadi di Berambai tersebut pemerintah bersedia menawarkan pemanfaatan gas tersebut kepada pihak investor agar bisa digunakan sebaik-baiknya bagi kepentingan ekonomi dan masyarakat, terbukti sudah ada beberapa investor yang berminat dan menghadap Bupati Batola, Edy Sukarma.

Munculnya semburan lumpur berambai kian menambah panjang daftar semburan lumpur yang melanda beberapa wilayah di tanah air belakangan ini.

Sebelumnya dihebohkan dengan munculnya semburan lumpur bercampur gas di Bojonegoro, semburan lumpur di Porong Sidoarjo, semburan lumpur bercampur minyak di Gresik, semburan lumpur di Brebes, lumpur minyak di sumur bor di Jambi serta semburan lumpur di Serang, terakhir adanya semburan lumpur di Palingkau Kuala Kapuas Kalteng.

Untuk mengetahui misteri yang menyelimuti semburan lumpur dan gas dimana-mana termasuk di Berambai Kalsel itu diperlukan penelitian khusus agar bisa terungkap dan melegakan banyak orang, sekaligus menghilangkan spekulasi yang membingungkan apalagi bila dihubungkan dengan segudang mistik.

PT.SUGICO GROUP SEGERA GARAP GAS MITAN DI BATOLA KALSEL
         Banjarmasin, 25/2 (ANTARA) – Dirjen Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) memutuskan PT.Sugico sebagai perusahaan yang akan melakukan eksplorasi atas gas mitan di Desa Berambai Kabupaten Barito Kuala (Batola) Kalimantan Selatan (Kalsel).
        Wakil Kepala Dinas Pertambangan Kalsel, Haryo Dharma, Senin, mengungkapkan, dengan keputusan dari Kementerian ESDM itu, maka sejak saat ini, PT.Sugico Group yang akan mengelola gas mitan di Kabupaten Batola tersebut.
        Diungkapkannya, surat izin eksplorasi tersebut yang dikeluarkan Dirjen ESDM kepada salah satu perusahaan modal dalam negeri (PMDN) sejak Januari 2008.
        Kini perusahaan yang bekerjasama dengan perguruan tinggi dari Universitas Padjajaran (UNPAD) dan UPN Veteran Yogyakarta itu sedang melakukan evaluasi layak tidaknya lokasi keluarnya semburan gas mitan tersebut untuk dilakukan eksplorasi.
        Selain itu, evaluasi juga dimaksudkan untuk menentukan blok-blok yang layak untuk dilakukan eksplorasi.
        Diperkirakan, evaluasi tersebut akan berakhir hingga Maret mendatang. “Senin hari ini, tiga peneliti dari Unpad sudah ke lapangan, setelah dari Unpad selesai akan dilanjutkan oleh UPN Veteran,” tambahnya.
        Dari hasil evaluasi itu juga diharapkan diketahui besarnya kandungan gas yang ada di daerah Berambai yang hingga kini juga belum bisa dipastikan.
       Namun demikian, tambahnya, dari hasil penelitian yang dilakukan sebelumnya, potensi batu bara yang mengandung gas mitan hingga kedalaman 600-700 meter di bawah permukaan laut masih ada.
        Artinya, dari hasil penelitian tersebut diduga kandungan mItan di kawasan sumur yang mengeluarkan semburan lumpur di Desa Berambai tersebut cukup besar.
        Sekitar dua tahun lalu, warga Desa Berambai Kabupaten Batola digegerkan oleh keluarnya semburan lumpur yang mengandung gas dari sumur salah seorang warga.
        Semburan lumpur yang hingga kini masih terus bergolak tersebut menjadi tontonan warga dari berbagai daerah di Kalsel, sekaligus juga mengkhawatirkan warga sekitar, khawatir atas peristiwa lumpur Lapindo akan terjadi di daerah tersebut.
        Selain itu, fenomena alam tersebut juga banyak menarik minat para peneliti untuk melakukan penelitian di sumur yang diduga kuat banyak mengandung gas mitan tersebut.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: