“RCF” BANJARMASIN CERMINKAN KERUKUNAN UMAT BERAGAMA

     Oleh Hasan Zainuddin

    Banjarmasin, 4/10 (ANTARA)- Di antara orang berjilbab, berkopiah dan berbaju koko, tak sedikit pengunjung Ramadhan Cake Fair (RCF/Pasar Wadai Ramadhan) Kota Banjarmasin yang bermata sipit dan berkulit putih datang membeli penganan di lokasi tersebut.
         Belum lagi, kadangkala kedatangan pembeli berbaju biarawati ikut berjubel di tengah ribuan pengunjung pasar yang hanya muncul setiap bulan Ramadhan itu.
        Selain itu, kedatangan sekelompok wisatawan bule yang dipandu para peramuwisata yang seringkali berbaur di tengah keramaian pasar penganan itu, membuktikan bahwa RCF bukanlah untuk kepentingan satu golongan agama saja.
        “Dari pembeli kue bingka yang saya jual, tak sedikit dari mereka adalah orang-orang China,” kata Ibu Wardah, seorang dari 128 pemilik kios dagangan di pasar wadai Ramadhan yang berada di bilangan Jalan Jenderal Sudirman depan kantor Gubernur Kalimantan Selatan (Kalsel) itu.
         “Orang China biasanya berani membeli mahal dagangan saya, sehingga saya bisa untung lebih besar,” kata Ibu Wardah.
         Kebanyakan orang China yang berbelanja ke pasar wadai tersebut didengar dari bicaranya adalah mereka yang tinggal di Banjarmasin, serta kota-kota lain di Kalsel, umumnya mereka adalah orang kaya dan dari kalangan pedagang.
         Namun, berdasarkan keterangan, mereka orang China itu tak sedikit mengajak keluarga mereka dari Pulau Jawa serta daerah lain khusus datang menikmati penganan khas Kalsel di pasar tersebut.
         Sementara kedatangan kalangan wisatawan mancanegara (Wisman) yang mengenakan pakaian celana pendek, kaos senglet, kaos oblong, baik wisman pria dan wanita tak masalah berada di lokasi ini.
        Bahkan ada dari mereka setelah membeli penganan langsung menyantap di lokasi itu juga, tidak mengerti bahwa saat itu lagi bulan puasa, namun oleh masyarakat setempat hal itu dimaklumi.
         Menurut para pedagang, akibat banyaknya pendatang non-muslim di lokasi itu menyebabkan harga penganan dan masakan lebih mahal dibandingkan di tempat lain, dan berapa pun banyaknya barang dagangan hampir bisa dipastikan akan habis terjual.
         Deodora (35), warga Banjarmasin yang beragama Kresten, mengaku dia selalu menunggu kehadiran pasar Ramadhan ini, karena momen ini benar-benar memberikan kesenangan bagi keluarganya.
        “Keluarga kami hampir tiap hari membeli makanan di pasar Ramadhan tersebut, banyak pilihan makanan, begitu juga penganan aneka ragam, sulit didapati hari lain,” kata Deodora yang dikenal sebagai seorang PNS di lingkngan Pemko Banjarmasin tersebut.
         Kepala Dinas Pariwisata Kota Banjarmasin, Hesly Junianto, mengakui bahwa keberadaan RCF bukan semata untuk umat Islam, tetapi diciptakan untuk semua golongan, bahkan dijadikan kalender kepariwisataan tahunan yang terus dipublikasikan ke dunia luar sebagai andalan kepariwisataan Kalsel.
         Banyak fungsi di pasar ini selain sebagai objek wisata, juga sebagai lokasi ngabuburit (menunggu bedug berbuka puasa), serta sebagai sarana pelestarian budaya.
         Karena itu, tak heran bila ada sekelompok muda mudi berjalan santai sambil bercanda gurau berada di sana hanya untuk ngabuburit.
    Atau, sekelompok wisman begitu asyik membidik-bidikan kamera ke para pedagang atau pembeli yang sedang bertransaksi di lokasi itu, sedangkan yang lain ikut berjubel begitu asyik mencari-cari kue-kue tradisional yang juga hanya muncul pada saat digelarnya pasar tersebut.
         Selain penganan dan makanan di sana terdapat sekitar 41 macam kue khas dan tradisonal Suku Banjar, bahkan banyak di antaranya sebenarnya adalah kue-kue yang langka.
         Sebagai objek wisata maka keberadaan pasar ini pun diciptakan sedemikian rupa bernuansa budaya Suku Banjar yang merupakan suku terbesar di daratan Kalsel. 
    Menurut penuturan Hesly Junianto, pasar ramadhan ini sudah ada di Banjarmasin sejak tahun 70-an. Saat itu hanya kelompok-kelompok kecil saja, hingga kurang teratur dan mengganggu keindahan kota.
         Mulai tahun 80-an oleh Pemko Banjarmasin pedagang itu dikumpulkan di satu lokasi, lalu dinamakan Ramadhan Cake Fair. Sejak itu pula lokasi ini dinyatakan sebagai atraksi wisata tahunan.       
    Untuk memperkuat lokasi ini sebagai objek wisata maka digelar pula berbagai pertunjukan rakyat, seperti kesenian tradisional, seperti madihin, lamut, rebana, jepin, dan tarian serta seni-seni tradisi lainnya.
         Setiap pertunjukan selalu saja memperoleh sambutan hangat dari masyarakat, terutama kawula muda yang berdatangan bukan saja dari Kota Banjarmasin sendiri tetapi dari kota sekitarnya. Seperti tahun ini, lokasi pertunjukan persis di tengah pasar sehingga memudahkan pengunjung untuk menikmati seni tradisi tersebut.
         Sementara itu Kepala Bidang Pariwisata dan Budaya Dinas Pariwisata Banjarmasin, Noor Hasan, kegiatan ini tidak hanya  dimaksudkan untuk melestarikan seni budaya setempat, tetapi juga untuk melestarikan penganan tradisional khas Sulsel.
         “Banyak penganan (kue) yang hampir punah lantaran jarang ditemui di hari biasa, bisa ditemukan pada saat pegelaan pasar Ramdahan ini, yang membuktikan kegiatan tahunan ini mampu melestarikan budaya membuat penganan tersebut,” kata Noor Hasan.    
    Masyarakat suku Banjar yang tinggal di Kalsel dikenal sebagai masyarakat yang memiliki kekayaan budaya khususnya penganan tradisional, namun beberapa jenis penganan tersebut kini nyaris punah.
         Menurut Noor Hasan, terdapat 41 macam penganan tradisional Suku Banjar yang dikenal selama ini, tetapi tak sedikit penganan tradisional itu yang tak lagi terdata dan diketahui.
         Dari 41 macam itu saja mungkin belasan yang nyaris punah, dan penganan itu muncul bila ada hajatan, kenduri, atau acara ritual lainnya di masyarakat Suku Banjar.
         Penganan tradisional yang nyaris punah itu antara lain seperti kue kelalapon, kue kakikicak, sasagon, cucur, wajik, cangkarok batu, bubur habang, bubur putih, apam habang, apam putih, bingka barandam, garigit, ilat sapi, dan wadai satu.
         Di antara penganan tersebut seringkali dibuat hanya kebutuhan ritual atau kebutuhan kenduri karena diyakini kue-kue itu kalau dimakan diyakini akan membawa berkah.
         Penganan itu hilang setelah kian banyaknya penganan modern dan makanan kecil siap saji bermunculan, tetapi juga akibat kue-kue kering dan makanan kecil yang diproduksi perusahaan besar di Pulau Jawa.
         “Lihat saja makanan kecil, kue kering, snack, mie instan, kacang-kacang keluaran perusahaan besar seperti PT Indofood menyebar hingga ke pelosok pedesaan yang mendesak makanan khas asli daerah setempat,” kata Aminah, pedagang kue tradisional di Banjarmasin.
         Makanan modern tersebut datang melalui pedagang eceran menawarkan dengan harga sangat murah. Ada satu bungkus kue kering keluaran PT Indofood dijual hanya Rp250 per bungkus, sedangkan kue tradisional dijual Rp500 per buah.
         Karena lebih murah dan punya kemasan serta tahan lama maka kue modern dari perusahaan besar itu benar-benar menjadi pilihan masyarakat, akibatnya kue tradisional kurang dihiraukan lagi.
         Melihat kenyataan tersebut maka kehadiran pasar Ramadhan disambut hangat masyarakat, bukan saja sarana hiburan, atau lokasi ngabuburit serta objek wisata, tetapi sebagai sarana pelestarian penganan khas Kalsel tersebut.

Iklan

SEJUTA KELUHAN BAGI LAYANAN LISTRIK KALSELTENG

     Oleh Hasan Zainuddin

   Banjarmasin, 15/3 (ANTARA)- Pekan ini, poling pesan pendek (SMS) sebuah surat kabar Banjarmasin “overload”, tak sanggup menampung keluhan warga Kalimantan Selatan dan Tengah (Kalselteng).
        Aneka perasaan warga disampaikan lewat layanan pesan pendek itu. Isinya sebagian besar berupa kecaman, kekecewaan, protes, bahkan “gugatan” atas ketidakbecusan layanan PT PLN di pulau nan kaya tambang batubara itu.
        “Saya 36 th, tinggal di Banjarmasin sejak kecil sampai punya dua anak, pelayanan PLN tak becus. Alasan selalu pemeliharaan mesin (overhaul),”  protes seorang warga.
        Komentar lain, “saya pernah tinggal di kota lain, seharipun tak pernah ada pemadaman listrik baik hujan ataupun panas. Di Banjarmasin, tak kenal panas ataupun hujan, pemadaman sering terjadi. Apakah peralatan listrik di sini (kabel, travo, dan alat lain) terbuat dari plastik, benang ataupun kayu?”
   “PLN jangan banyak buat alasan, kalau  kekurangan daya katakan kekurangan, upayakan ditambah, kalau tak ditambah daya, sampai dunia kiamat selalu ada pemadaman.”
   SMS buruknya layanan PLN juga datang dari Wakil Gubernur Kalsel Rosehan NB yang berharap PLN bisa melakukan perubahan manajemen.
        Keluhan Rosehan NB juga disampaikan saat perayaan Maulid Nabi belum lama ini. Gara-gara listrik “byar pet byar pet”, masyarakat tidak bisa merayakan Maulid Nabi dengan lancar dan khusyu.
        Celakanya, setelah perayan itu usai, layanan listrik tidak bertambah baik, sampai kini.
        10 Mei 2007 lalu, General Manajer PLN Kalselteng, Ir Ari Agus Salim melalui media massa mengumumkan bakal terjadi pemadaman serentak di Kalselteng. Sontak, kebijakan itu kembali memunculkan protes masyarakat.
        Komentar bukan hanya masyarakat umum tetapi datang dari DPRD, pegacara, LSM, pengusaha, organisasi massa, dan Yayasan Lembaga Konsmen Indonesia (YLKI).
        Seringnya pemadaman listrik, membuat seluruh sendi perekonomian di Kalsel dan Kalteng terhambat. Pemadaman itu membaut industri berkurang produktivitasnya, peralatan elektronik cepat rusak, menyebabkan semakin seringnya musibah kebakaran, dan aktivitas masyarakat terganggu.
        Ketua Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) Kalsel, Arpawi Ramon mengatakan, PLN adalah perpanjangan tangan pemerintah untuk memenuhi kebutuhan masyarakat.
        “Jika PLN sering melakukan pemadaman dengan berbagai alasan, itu artinya kepercayaan yang diberikan tidak dijalankan dengan baik,” katanya.
        Masyarakat, sudah memenuhi kewajiban dengan membayar rekening tagihan listrik setiap bulannya. Jika sering dilakukan pemadaman maka masyarakat telah dirugikan.
        Dia juga menyayangkan Banjarmasin belum berdiri Badan Penyelesaian Sengketa Konsumen (BPSK). “Jika saja BPSK sudah didirikan di Banjarmasin, kemungkinan besar YLKI akan menggugat PLN dan pemerintah.”

                         Kurang daya
   PT PLN Wilayah Kerja Kalselteng menyatakan untuk sementara pemadaman listrik bergilir di wilayah ini akan tetap ada selama kebutuhan listrik tetap lebih tinggi dibandingkan kemampuan suplai listrik yang ada.
        “Akibat kekurangan daya listrik, pemadaman listrik di wilayah Kalselteng dilakukan tiga kali dalam setahun,” kata Manajer Transmisi dan Distribusi PT PLN Kalselteng, Suharto.
        Ketika berbicara dalam acara “Gerakan Sosialisasi Penghematan Listrik dan Pemanfatan Peralatan Listrik secara Baik dan Benar” di Balaikota Banjarmasin, Suharto menyebutkan pemadaman dilakukan karena kondisi pembangkit yang ada tidak mencukupi kebutuhan listrik masyarakat.
        “Pemadaman pada Januari 2007 berkaitan debit air waduk Pangeran Muhamad Noor, Banjar yang mengalami pendangkalan.”
   Pedangkalan itu membuat turbin PLTA Muhammad Noor, tidak bekerja maksimal. Musim kemarau yang berkepanjangan membuat  debit air tak mampu memutar turbin PLTA.
        Februari 2007 kembali pemadaman dilakukan, bukan karena PLTA dangkal, melainkan saat itu jadual pemeliharaan periodik Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) Asam-asam unit satu, sehingga daya listrik berkurang.
        Pemadaman ketiga kembali dilakukan pada November 2007 mendatang, merupakan jadual pemeliharaan periodik PLTU unit empat.
        “Kasus pemadaman semacam ini sudah terjadwal, harus diketahui dan dimaklumi” katanya.
        Namun, pemadaman bisa saja dilakukan diluar jadwal itu, seperti jika terjadi kerusakan jaringan, kerusakan peralatan, gangguan alam seperti pohon tumbang, petir, banjir, tanah longsor, kekurangan BBM atau kekurangan batubara.
        Listrik Kalselteng saat ini disuplai oleh dua unit PLTU Asam-asam berkapasitas 126 mega watt (MW), tiga unit turbin PLTA Riam Kanan berkapasitas 28,50 MW, serta 29 unit Pembangkit Listrik Tenaga Diesel (PLTD) berkapasitas 86,45 MW.
        PLN Kalselteng juga memndapat pasokan dari listrik swasta sebesar 10,50 MW dan membeli kelebihan listrik perusahaan sebesar 9,5 MW.
        Sejumlah perusahaan kayu di Kalsel mempunyai pembangkit sendiri, sehingga kelebihan suplainya bisa dimanfaatkan PLN.
        Dengan demikian kapasitas yang dikelola PLN Kalselteng saat ini sekitar 260,95 MW. Jika saat normal, kapasitas sebesar itu tidak masalah, karena pada saat beban puncak, kebutuhan listrik Kalselteng hanya 252,59 MW, tapi saat salah satu pembangkit tidak beroperasi, maka terjadi defisit listrik, dan akhirnya terjadilah pemadaman.
   
               Atasi krisis
   “PLN bukannya tidak berupaya mengatasi persoalan itu, kami tengah membangun pembangkit baru serta membangun jaringan interkoneksi ke Kalimantan Timur,” kata General Manajer PT PLN Kalselteng, Ari Agus Salim.
        Rencana jangka pendek mengatasi krisis kelistrikan di Kalselteng juga dilakukan, antara lain dengan tambahan sewa pembangkit 20 MW serta pengendalian beban puncak.
        Sementara rencana jangka panjangnya adalah pembangunan PLTU yang dijadwalkan beroperasi 2010 mendatang, katanya.
        PLTU baru yang akan dibangun meliputi PLTU Asam-asam unit 3 dan 4 berkapasitas 2 kali 65 MW di Kabupaten Tanah Laut (Kalsel), PLTU Pulang Pisau unit 1 dan 2 berkapasitas 2 kali 60 MW di Kabupaten Pulang Pisau (Kalteng), serta PLTU Tanjung unit 1 dan 2 Kabupaten Tabalong (Kalsel) berkapasitas 2 kali 65 MW.
        Dengan kapasitas yang ada ditambah tiga proyek PLTU baru, kapasitas listrik Klaselteng mencapai 610 MW, suatu jumlah sangat cukup untuk melistriki daerah itu.
        Bila itu benar-benar terealisasi, diharapkan keluhan krisis listrik tidak akan terdengar lagi.
   
 PLN KALSELTENG TAK BISA HENTIKAN PEMADAMAN BERGILIRAN
     Banjarmasin, 13/12 (ANTARA) – Manajemen PT. PLN (Persero) Wilayah Kalimantan Selatan dan Tengah (Kalselteng) tak bisa memenuhi tuntutan warga masyarakat agar menghentikan sistim pemadaman listrik bergirilan di kedua provinsi itu, termasuk di Kota Banjarmasin yang menjadi ibukota Kalsel.
     “Bagaimana kami mau menghentikan pemadaman bergiliran, dalam keadaan daya terbatas, bahkan sangat kurang pada saat ini, karena salah satu unit Pembangkit Tenaga Listrik Uap (PLTU) Asam-Asam masih dalam perawatan (pemeliharaan),” ujar General Manager (GM) PT.PLN Kalselteng, Ari Agus Salim ketika dihubungi lewat telepon selular, Kamis.
     Begitu pula terhadap tuntutan masyarakat agar Perusahaan Listrik Negara itu mengurangi atau memberikan potongan (keringanan) sebesar 50% dari tarif rekening yang semestinya bayar selama sistim pemadaman bergiliran di wilayah Kalselteng berlangsung, sejak minggu kedua November lalu yang dijadwalkan hingga 19 Desember 2007, pihak PLN tak bisa memenuhi tuntutan tersebut.
     GM PT. PLN Kalselteng mengemukakan itu saat berada di Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT) atas pertanyaan ANTARA Banjarmasin, sehubungan tuntutan sejumlah elemen mahasiswa dan warga masyarakat Kalsel saat demo 4 Desember lalu yang minta Perusahaan Listrik Negara itu menghentikan sistim pemadaman bergiliran serta potongan tarif 50% selama pemadaman bergiliran berlangsung.
     Namun para pendemo itu nampaknya tak mau tahu alasan dari pihak PLN tersebut, karenanya mereka kembali menjadwalkan unjukrasa, Kamis (13/12) dengan jumlah massa lebih banyak lagi dari demo 4 Desember lalu yang mau menyegel kantor PLN Cabang Banjarmasin untuk melakukan tuntutan serupa dan menagih janji Manajer PLN Cabang Banjarmasin, Ida Bagus Ari Wadhana.
     Pasalnya saat demo 4 Desember lalu, Manajer PLN Banjarmasin berjanji membicarakan tuntutan potongan tarif 50% tersebut dengan pihak manajemen yang lebih atas, dan ketika itu meminta waktu kepada pengunjukrasa selama sepakan, tapi Ari Wardhana tak berjanji tuntutan tersebut bisa terpenuhi.
     Ketika itu, Manajer PLN Banjarmasin menerangkan, pihaknya terpaksa melakukan pemadaman listrik bergiliran karena daya yang tersedia pada November – Desember 2007 atau selama masa pemeliharaan mengalami defisit 66,28 Mega Watt (MW) terutama saat beban puncak sekitar pukul 18.00 – 24.00 Wita.
     Persoalannya salah satu unit pada PLTU Asam-Asam (125 Km timur Banjarmasin) di Kabaupaten Tanah Laut, Kalsel sedang dalam pemeliharaan (overhaul), sehingga pembangkit listrik tersebut yang semestinya secara keseluruhan dapat menghasilkan 2 X 65 MW, kini cuma tinggal seperduanya saja lagi.
     “Pemeliharaan itu mau tidak mau harus dilakukan agar tidak menimbulkan permasalahan kelistrikan di Kalselteng yang lebih parah lagi. Oleh sebab itulah mau tak mau pula harus dilakukan sistim pemadaman bergiliran terutama saat beban puncak,” tandasnya.
     Mengenai tarif, dia menerangkan, sesuai peraturan PLN, pihaknya bisa membrikan potong sebesar 10% kepada pelanggang bila terjadi pemadaman listrik selama tiga hari (3 X 24 jam) berturut-turut. “Potonan itupun hanya dari bea beban, bukan tarif atas pemakaian,” demikian Ari Wardhana.
     Data PT.PLN Kalselteng menunjukkan, untuk kebutuhan daya listrik pada kedua wilayah tersebut selama ini PLTU dua unit (2 X 65 MW), Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) tiga unit (3 X 10 MW), Pembangkit Listrik Tenaga Desiel (PLTD) 29 unit, dan menyewa 10,50 MW serta beli KWH 9,50 MW.
     Namun dari semua itu, walau dalam keadaan normal daya mampu listrik untuk Kalselteng seluruhnya 260,95 MW termasuk sewa dan beli KWH tersebut. Tapi pada Nov/Des 2007 karena ada pemeliharaan satu unit di PLTU Asam-Asam, sehingga daya tersedia cuma 202,85 MW, sedangkan kebutuhan saat beban puncak 269,13 MW sehingga defisit 66,28 MW.

GIZI BURUK DITENGAH MELIMPAHNYA KEKAYAAN ALAM KALSEL

     Hasan Zainuddin

   Banjarmasin,8/6 (ANTARA)- Air mata Ernawati (20 th) tak sanggup lagi terbendung ketika melihat anak sulungnya, Milda (2,5 th), dibungkus kain kafan, Senin (28/5) sekitar pukul 10.00 Wita, bayi tersebut dikebumikan di kampung halamannya di Desa Tilahan Kecamatan Hantakan Kabupaten Hulu Sungai Tengah (HST) Propinsi Kalimantan Selatan.
        Dokter Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Damanhuri Barabai, Ibukota Kabupaten setempat tak sanggup berbuat banyak karena Milda terlambat ditangani.
        Anak pasangan Sayuti-Ernawati ini menderita gizi buruk sejak lahir. Kondisinya semakin parah karena digerogoti diare dan kelainan paru-paru, demikian berita yang dilansir harian lokal Banjarmasin.
        Gizi buruk bukan hanya menimpa keluarga Ernawati, tetapi juga ratusan keluarga lain di Kalimantan Selatan.
        Serangan gizi buruk bukan saja terjadi di desa wilayah Kalsel, yang terbanyak justru terjadi di Kota Banjarmasin, Ibukota Propinsi Kalimantan Selatan.
        Beberapa waktu lalu, di Kelayan B Kota Banjarmasin, penderita gizi buruk, Dina Safitri (19 bln), jiwanya tak tertolong walau sudah dirawat inteksif di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Ulin Banjarmasin.
        Dina meninggal pada sore hari, padahal pagi harinya sempat dijengok Walikota Banjarmasin, Yudhi Wahyuni.
        Tak banyak komentar keluar dari mulut Yudhi Wahyuni saat bersama sejumlah wartawan membezuk Dina Safitri di rumah sakit, ia hanya menggeleng-gelengkan kepalanya.
        “Kok bisa begitu ya,” katanya kala itu, seraya meminta kepada Dinas Kesehatan kota Banjarmasin lebih intensif lagi menangani kasus gizi buruk di kota berpenduduk sekitar 700 ribu jiwa ini.
        “Ironis memang, di wilayah Kalsel yang kaya sumberdaya alam, begitu banyak warga yang terserang gizi buruk,” demikianlah komentar orang ketika menyaksikan tayangan televisi, berita di surat kabar, maupun di radio mengenai korban gizi buruk di wilayah Kalsel.
        Kalsel memiliki hutan yang luas, tambang batubara, biji besi, intan dan kekayaan barang mineral lainnya, yang seharusnya sanggup untuk menyejahterakan rakyatnya.
        Di Banjarmasin saja, sedikitnya 20 industri kayu lapis skala besar mengeksloitasi kayu dari hutan Kalsel dan memperoleh devisa sangat besar.
        Begitu juga sektor tambang, sedikitnya 60 juta ton batubara per tahun keluar dari perut bumi Kalsel, padahal operasi pertambangan emas hitam ini sudah belasan tahun. Uang miliaran dolar AS pasti telah didapat, tapi nyatanya hasil kekayaan tak mampu memberikan kesejahteraan masyarakat wilayah ini.
        “Kita akui, berbagai pemanfaatan sumberdaya alam, khususnya tambang batubara benar-benar tidak berpihak kepada rakyat, begitu banyak uang yang dihasilkan dari tambang, tetapi rakyat tetap miskin,” kata Ketua Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Kalimantan Selatan, Noor Riwandi.
        Sistem penambangan batubara di Kalsel masih menganut aturan yang tak berpihak rakyat, seperti pejanjian PKB2B atau kontak karya yang hanya memberikan royalti 13 persen perton tambang batubara.
        Royalti sekecil itu dibagi lagi untuk pemerintah pusat dan pemerintah propinsi serta kabupaten/kota penghasil tambang itu.
        Pembagian royalti itu juga tidak imbang karena sebagian besar jatuh tangan pemerintah pusat, hanya sebagian kecil ke pemerintah propinsi dan kabupaten/kota penghasil tambang itu.
        Kemudian dana royalti yang jatuh ke tangan pemerintah propinsi dan kabupaten/kota itupun begitu berliku-liku jalannya dan menelan waktu lama baru sampai ke daerah.
        Pernyataan Noor Riwandi dilontarkan di hadapan puluhan wartawan angota Cabang Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Kalimantan Selatan, PWI Kalimantan Barat, PWI Kalimantan Timur, serta anggota PWI Kalimantan Tengah saat mengikuti Safari Jurnalistik 2007 sesi ketiga yang diselenggarakan oleh PWI Pusat.
        Dalam pelatihan jurnalistik ini, selain berbagai materi jurnalistik, juga dikupas persoalan gizi buruk, karena PWI menganggap persoalan gizi buruk merupakan persoalan serius di Kalsel.
        Wakil Kepala Dinas Kesehatan Kalsel, dr Asikin mengatakan, bila anak mengalami gizi buruk, setelah dewasa akan menjadi beban bagi negara.
        “Berdasarkan penelitian, ibu hamil yang kekurangan gizi, bayinya akan kehilangan intelegensi 20 persen, dan bila lahir hanya mampu sekolah sampai lanjutan pertama saja.”
   Asikin menyatakan penderita gizi buruk yang berada di wilayah propinsi Kalimantan Selatan belakangan ini kian merisaukan, makanya ia meminta agar semua pihak harus memikirkan secara bersama.
        Balita dizi buruk di Kalsel cukup tinggi. Sejak 2001 tercatat 58 kasus dan tujuh orang diantaranya meninggal dunia.
        Pada 2002 kasus gizi buruk tercatat 27 kasus sembilan diantaranya meninggal dunia.
        Pada tahun-tahun selanjutnya kasusnya tidak juga berkurang, bahkan cenderung meningkat. Pada 2003 tercatat 32 kasus empat diantaranya meninggal, 2004 tercatat 48 kasus tujuh diantaranya meninggal dunia.
        Kasus gizi buruk, bahkan melonjak tajam pada 2005, tercatat 183 kasus, delapan diantaranya meninggal dunia, dan kasus itu meningkat lagi tahun 2006 dengan jumlah 205 kasus dan 22 dinyatakan meninggal dunia.
        Sampai Mei 2007, kasus gizi buruk tercatat 45 kasus dan delapan diantaranya meninggal dunia.
        Selama periode 2006-2007, kasus gizi buruk di Kalsel, paling banyak terjadi di Banjarmasin, tercatat 142 kasus.
        Menyusul Kabupaten Banjar, 27 kasus (2006) dan enam kasus (2007), Barito Kuala (Batola) 17 kasus (2006) dan dua kasus (2007), Kotabaru 15 kasus (2006) dan satu kasus (2007), serta Tabalong 11 kasus (2006) dan satu kasus (2007).
        Menurut Asikin, kondisi ini memang menyedihkan, oleh karena itu ia meminta masyarakat yang berkemampuan supaya ikut memberikan kontribusi terhadap penanggulangan gizi buruk, karena bila tidak sulit untuk mengatasinya.
        Banyak faktor yang melatarbelakangi kasus gizi buruk di Kalsel, selain kemiskinan juga ketidakmengertian masyarakat terhadap pentingnya kebutuhan gizi. Warga umumnya lebih mementingkan kebutuhan lain dibandingkan gizi keluarganya.
        “Seorang tukang becak di Banjarmasin, lebih memilih membeli rokok Rp5 ribu perbungkus, ketimbang harus membelikan tiga bungkus susu bagi anaknya,” ujarnya.
        Pengetahuan masyarakat yang dangkal, juga telah membuat penanganan gizi buruk mengalami banyak kendala sosial. “Gizi buruk dibiarkan begitu saja, lantaran ada kepercayaan bahwa anak yang kurang gizi karena diganggu setan dengan sebutan penyakit “diisap buyu”.
        Merebaknya kasus penderita gizi buruk telah berpengaruh terhadap indeks pembangunan manusia (HDI) Kalsel dari skor 66,3 pada 1996 menjadi 64,3 skornya pada 2002.
        Untuk mendata angka gizi buruk , Pemprop Kalsel melalui dinas kesehatan setempat, terus memantau tumbuh kembang balita dengan KMS  dan melaksanakan Survei Pemantauan Status Gizi (PSG) Balita.
        Selain itu survei pemantauan konsumsi gizi (PKG) juga dilakukan di tingkat rumah tangga dan pemberian makanan tambahan (PMT).
        Upaya lain dengan melacak kejadian luar biasa (KLB) gizi buruk dan pemberian paket bantuan, peningkatan koordinasi pelayanan gizi dengan tim terkait (Tim Pangan dan Gizi, SKPG), monitoring dan evaluasi penanggulangan KLB Gizi Buruk.
        Pemprop Kalsel juga berupaya mengaktifkan lagi kegiatan Posyandu, pengisian KMS, mengaktifkan kembali sistem lima, melaksanakan penyuluhan.
        Dinkes Kalsel juga membentukan Desa Siaga dengan pembentukan  pos kesehatan desa (Poskesdes) yang dilayani oleh bidan dan kader kesehatan.
        Pada 2006 telah dibentuk 223 desa siaga, tahun 2007 sebanyak 750 desa dan tahun 2008 mendatang sebanyak 975 Desa Siaga.
        Melihat kenyataan begitu banyaknya kasus gizi buruk itu maka berbagai kalangan berharap pemerintah serius memberikan penyuluhan pentingnya arti gizi keluarga, memberikan makanan tambahan.
        Dalam mengelola sumber daya alam yang melimpah, pemerintah juga harus berpihak kepada rakyat, bukan hanya segelintir orang apalagi asing.

PENYAKIT CACING BUSKI RISAUKAN WARGA RAWA-RAWA KALSEL

     Oleh Hasan Zainuddin

    Rusma (13), gadis Desa Telaga Mas, Danau Panggang, Kabupaten Hulu Sungai Utara (HSU) Kalimantan Selatan itu, menerawang jauh ke hamparan rawa-rawa di desanya.
         Pandangannya kosong, mukanya pucat, badannya kurus serta perutnya yang membuncit. Ia tidak tahu mengapa tubuhnya menjadi seperti itu,  sehingga ia tidak lagi bisa bermain seperti teman-temannya.
         Rambut di kepala perempuan itu juga terus rontok. Itu semakin  membuatnya rendah diri dan enggan bermain dengan sebayanya. Lantaran malu, ia pun tak bersekolah lagi.
         Derita gadis desa keluarga petani itu kian parah dalam enam bulan ini. Dari tubuhnya keluar binatang aneh menyerupai lintah darat  berwarna kemerahan.
         Binatang itu bukan saja keluar saat buang hajat, tetapi juga melalui mulut.
         Banyak warga setempat menganggap penyakit aneh ini akibat gangguan makluk halus atau karena guna-guna, sehingga banyak penderita yang diobati melalui dukun.
         Penderitaan serupa juga dialami oleh belasan gadis di desa berpenduduk sekitar 1400 jiwa itu, terutama yang usianya di bawah 15 tahun.
         Menurut Ny Murdia (48), ibunda Rusma, penderitaan Rusma tersebut diawali dengan gejala mual-mual, nafsu makannya mulai berkurang, serta badannya lemah dan lesu.
         Setelah itu lambat-laun, Rusma mengalami gangguan pencernaan, anemia (kurang darah) serta acites (perut kembung). Ia pun tak berselera lagi makan dan minum.
         Kondisi seperti itu dialaminya selama enam bulan hingga berat tubuhnya terus menurun. Selanjutnya rambut perempuan mungil ini terus rontok.
         Kasus Rusma itu, merupakan yang kesekian kalinya terjadi di Telaga Mas, sehingga memancing pihak dinas kesehatan setempat memeriksa penyakit tersebut. 
    Berdasarkan penelitian, disimpulkan penyakit yang diderita Rusma dan teman-temannya adalah “Fasciolopsis Buski” atau sering pula disebut cacing buski.
         Data Dinkes Hulu Sungai Utara (HSU) menyebutkan, hampir tiap tahun ada saja anak di kawasan desa berawa-rawa Kecamatan Danau Pangang itu terserang penyakit aneh itu, namun yang palng banyak terdapat di desa Telaga Mas.
         Data tahun 2005 lalu tercatat sebanyak 16 warga Desa Telaga Mas positif terjangkit cacing buski, sementara tahun 2006 jumlahnya mulai berkurang, yakni hanya lima orang.
         Masyarakat Telaga Mas memang tergolong miskin, dengan mata pencarian bertani, menangkap ikan, beternak itik atau ayam.
         Masyarakat yang kerap berinteraksi dengan air yang mengandung telur cacing buski inilah yang paling rentan terserang.
   
                       Endemis
    Dinas Kesehatan Propinsi Kalimantan Selatan, mengakui sejak dua dasawarsa ini, sudah ratusan warga di Kabupaten Hulu Sungai Utara, Propinsi Kalimantan Selatan, terserang penyakit cacing Fasciolopsis Buski.
         Seperti penuturan Kepala Dinas Kesehatan Kalsel, drg Rosehan Adhani kepada ANTARA di sela-sela peringatan Hari Kebangkitan Nasional (Harkitnas) di halaman Kantor Gubernur Kalsel, penyakit cacing buski sudah ada sejak tahun 80-an.
         Tetapi dari tahun ke tahun, serangan penyakit langka tersebut terus berkurang, terutama setelah pemberantasan penyakit tersebut diintensifkan.
         Pada tahun 2007 ini tercatat hanya sebanyak 14 orang yang positif terinfeksi penyakit endemis Hulu Sungai Utara itu.
         Penyakit tersebut, sama saja seperti penyakit cacing perut lainnya, tetapi lebih ganas.  Selain penderita kurang gizi akibat parasit cacing buski, perut penderita juga membesar dan rambut kepala rontok.
         Rosehan Adhani tidak tahu persis kenapa penyakit tersebut endemis di beberapa desa kawasan berawa-rawa HSU, padahal serangan penyakit itu jarang di temukan di dunia. Indonesia pun hanya pernah terjadi di Kalsel dan Propinsi Sulawesi Tengah.
         Untuk menanggulangi penyakit tersebut Dinkes Kalsel sudah melakukan berbagai penyuluhan, agar berpola hidup sehat, yakni tidak memakan makanan yang belum dimasak, terutama makanan yang berasal dari tumbuhan di rawa-rawa, seperti buah teratai dan umbi-umbian di kawasan tersebut.
         Selain itu, ia juga mengharapkan masyarakat segera berobat dokter bila diketahui terserang penyakit cacing buski, karena obatnya sudah ditemukan, dan disediakan di Dinkes Kalsel.
         “Obat sama dengan cacing yang lain,” ujarnya.
         Rosehan Ardhani menambahkan para penderita penyakit tersebut umumnya adalah anak-anak. Karena anak-anak biasanya suka bermain di air rawa-rawa kawasan desa tersebut dan memakan apa saja yang ada di rawa seperti buah teratai, umbi-umbian, dan buah tanaman rawa lainnya tanpa di masak lebih dahulu.
         Meski telah banyak yang terinfeksi, masyarakat tetap menganggap  penyakit itu aneh.  Mereka umumnya hanya mengenal penyakit cacing gelang atau cacing kremi. 
    “Masyarakat belum pernah melihat cacing seperti itu. Bentuknya menyerupai pacet (lintah), sehingga seringkali pula disebut warga setempat sebagai cacing pacet,” katanya.
         Fasciolopsis Buski hidup di kawasan Asia Selatan yakni perairan rawa seperti di Banglades, Kamboja, China Tengah dan China Selatan, Vietnam, Malaysia, Thailand, Pakistan, Vietnam dan Indonesia.
         Cacing ini bukan saja bisa menyerang manusia, tapi juga babi, anjing, dan kelinci. Cacing buski dewasa bisa sepanjang 75 mm, atau 3 inci dan lebar 20 mm atau 1 inci.
         Cacing buski tidak hidup di hati, melainkan hanya hidup di area teratas usus kecil, dalam jumlah bisa sangat banyak, dan dapat pula hidup di area bawah usus dan di dalam perut, tetapi tak pernah ditemukan di bagian tubuh lain.
         Dalam tubuh, cacing buski dewasa dapat memproduksi sedikitnya 25 ribu telur per hari, dan terus berkembang biak.

PESONA ANGGREK KALIMANTAN MELAHIRKAN PERBURUAN

     Oleh Hasan Zainuddin
   Ketika berkunjung ke Banjarmasin, Ny Jusuf Kalla menemukan spesies anggrek yang lama diidam-idamkannya.
        Anggrek yang dibawa pulang isteri Wakil Presiden itu adalah spesies anggrek khas Kalimantan, seperti “phalaenoasis amabilis pleihari”, yakni anggrek yang berkembang di wilayah Pleihari, Kabupaten Tanah Laut, Kalimantan Selatan.
        “Saya dapat satu batang anggrek khas Loksado, bentuknya unik,” kata Rusmin seraya menunjuk anggrek miliknya tersebut.
        Yang ditunjuk dia merupakan tanaman dengan batang dan daun kemerahan, bunganya kecil-kecil tidak seperti anggrek kebanyakan. Menurut dia, bentuk anggrek itu seperti anggrek yang tumbuh di tanah, padahal itu tumbuh di batang pohon.
        Menurut Rusmin, belakangan ini memang banyak perburuan beberapa spesies anggrek Kalimantan untuk menambah koleksi pecinta anggrek Indonesia.
        “Kita sendiri memiliki sebuah tempat khusus pembudidayaan anggrek khas Kalimantan, dan itu selalu menjadi sasaran pembeli anggrek yang datang dari berbagai daerah,” katanya.
        Pada sisi lain, kian diminatinya anggrek Kalimantan melahirkan peluang keuntungan bagi sebagian orang yang kemudian masuk hutan Pegunungan Meratus untuk menjarah aneka spesies.
        Bukan hanya anggrek yang menjadi sasaran penjarahan, aneka tanaman hutan lain yang berpotensi menjadi tanaman hias, seperti aneka pakis,  keladi, palm, rotan, serta tumbuhan karnivora kantong semar.
        Berbagai tanaman hutan hasil perburuan itu sebagian digelar begitu saja oleh pedagang tanaman  hias di tepi jalan  A Yani, Banjarmasin.
        Pusat penjualan tanaman hias itu mudah terlihat karena berada di tepi jalan trans Kalimantan. Penjualan tanaman hias di lokasi itu hanya berlangsung pada tiap-tiap Minggu pagi saja.
        Salah satu yang dijual dipinggir jalan itu adalah jenis anggrek khas kalimantan yang terbilang anggrek raksasa, yaitu anggrek tebu (grammatophyllum speciosum) karena bentuknya setinggi tebu.
        Harga anggrek yang juga disebut anggrek macan atau anggrek harimau inipun bervariasi bergantung pada besar kecilnya ukuran.
        Sebatang anggrek tebu ada yang dijual seharga Rp150 ribu per batang, atau ada pula yang kurang dari Rp100ribu.
        Tetapi sebatang anggrek tebu yang sedang berbunga ditawarkan pedagang yang konon mencari tanaman tersebut hingga ke kawasan hutan seharga sekitar Rp1,5 juta.
        Anggrek jenis itu banyak diminati kolektor, karena memiliki anggrek terbesar di dunia itu berarti mendapatkan gengsi tinggi.
        Anggrek itu berkembang biak di sela-sela pohon besar, hingga bisa mencapai panjang lima meter. Satu rumpunnya bisa memiliki berat dua ton.
        Tanaman ini berada di lingkungan panas, hutan tropis yang lembab di kawasan Pulau Kalimantan, ada pula di Sumatera, dan Papua, serta daratan Malaysia.
        Anggrek ini dikenal karena penampilannya yang luar biasa pada saat berbunga, walupun cuma berbunga sekali dalam dua sampai empat tahun.
        Bunga anggrek tebu tahan lama dan dapat bertahan sampai dua bulan. Bunganya berwrana krem denga bintik coklat atau merah tua.
   
                Perburuan
   Banyaknya perburuan anggrek yang melahirkan penjarahan ke dalam hutan itu merisaukan Wahana Lingkungan Hidup (Walhi) Kalsel.
        Ketua Walhi Kalsel Berry Nahdiyin Furqun mengataan, masyarakat sebaiknya menghentikan penjarahan anggrek hutan seperti yang terjadi di kawasan Loksado, Kabupaten Hulu Sungai Selatan (HSS).
        “Penjarahan anggrek hutan itu harus segera dihentikan oleh instansi terkait, bila tidak dalam waktu yang tidak lama, puluhan spesies anggrek gunung tersebut akan musnah,” tuturnya.
        Berry Nahdiyin Furqon mengungkapkan, sejak beberapa bulan terakhir, penjarahan anggrek secara besar-besaran  terjadi di beberapa daerah di Pegunungan Meratus.
        Dia mengatakan, pada dasarnya pencurian anggrek yang hidup di pegunungan Meratus sudah berlangsung sejak 1997, namun tidak sebesar seperti saat ini.
        Menurutnya, saat ini banyak warga luar daerah yang membujuk warga sekitar pegunungan Meratus untuk mencarikan bunga-bunga anggrek tersebut dengan iming-iming sejumlah uang.
        “Sebenarnya warga asli tidak akan mengambil tanaman anggrek tersebut bila tidak disuruh oleh pendatang. Makanya harus ada pendidikan dan penyuluhan khusus kepada warga sekitar pegunungan tentang larangan jaul beli anggrek tersebut,” katanya.
        Berry mengatakan, pihak terkait harus segera melakukan pelatihan konsevasi kepada penduduk asli, agar mereka menjual anggrek turunannya saja atau yang telah dibudidayakan, bukan anggrek yang asli.
        Menurut dia,  daerah yang paling banyak spesies anggreknya adalah di Loksado, Balangan dan Sampanahan baru, tersebar di pegunungan Meratus lainnya.
        Rata-rata anggrek tersebut banyak yang dijarah, dan dijual ke berbagai daerah, baik dalam negeri maupun luar negeri karena kurangnya perlindungan dan pengawasan.
        Sebelumnya dari seminar pelestarian anggrek yang diselenggarakan BKSDA, terungkap,  setiap malamnya tidak kurang dari empat mobil pick-up bermuatan anggrek selalu dibawa dari Loksado maupun daerah-daerah yang masih dalam kawasan pegunungan Meratus.
        Bunga-bungaan yang memiliki nilai ekonomis tinggi tersebut dijual ke berbagai daerah, di antaranya di Banjarmsin, bahkan ke luar negeri.
        Menurut beberapa pedagang, anggrek dari pegunungan Meratus sangat diminati para penggemar anggrek dari berbagai wilayah di Indonesia, karena dianggap berkwalitas.
        Beberapa pedagang anggrek di kawasan Belitung mengaku rela menukar tambah  satu buah anggrek pegunungan dengan beberapa anggrek impor yang mereka miliki, atau membelinya dengan harga ratusan ribu rupiah.
   
         2000 spesies
   Berdasarkan bebagai literatur, hutan Kalimantan mengandung banyak anggrek yang berkwalitas, anggrek yang menyebar di hutan pulau terbesar tanah air itu tak kurang dari 2000 spesies.
        Pendokumentasian anggrek alam Kalimantan dimulai sekitar tahun 1825 oleh George Muller asal Jerman.
        Pada 1901-1902, ahli botani asal Jerman bernama Friederick Ricard Rudolf Schlechter melakukan ekspedisi di Kaltim mengumpulkan sekitar 300 tanaman anggrek.
        Pada 1925, Eric P Mjoberg melakukan perjalan ke Kaltim dan mengumpulkan 15.000 tanaman. Sebagian di antaranya diberikan ke Kebun Raya Bogor, yakni 127 jenis pakis dan anggrek.
        Pada tahun yang sama, F Hendrik Endert, warga Belanda yang bekerja di Balai Penelitian Bogor juga melakukan ekspedisi ke Kaltim dan mengumpulkan 5.417 tanaman, termasuk anggrek. Di Kaltim juga terdapat cagar alam khas anggrek di Kersik Luway, Kecamatan Melak, Kutai Barat.
        Spesies paling terkenal yang menjadi primadona Kersik Luway adalah anggrek hitam (coelogyne pandurata) yang hanya dapat ditemukan di daerah itu.
        Anggrek hitam pekat ini adalah maskot pedalaman Kaltim sekaligus Pulau Kalimantan.