PESONA ANGGREK KALIMANTAN MELAHIRKAN PERBURUAN

     Oleh Hasan Zainuddin
   Ketika berkunjung ke Banjarmasin, Ny Jusuf Kalla menemukan spesies anggrek yang lama diidam-idamkannya.
        Anggrek yang dibawa pulang isteri Wakil Presiden itu adalah spesies anggrek khas Kalimantan, seperti “phalaenoasis amabilis pleihari”, yakni anggrek yang berkembang di wilayah Pleihari, Kabupaten Tanah Laut, Kalimantan Selatan.
        “Saya dapat satu batang anggrek khas Loksado, bentuknya unik,” kata Rusmin seraya menunjuk anggrek miliknya tersebut.
        Yang ditunjuk dia merupakan tanaman dengan batang dan daun kemerahan, bunganya kecil-kecil tidak seperti anggrek kebanyakan. Menurut dia, bentuk anggrek itu seperti anggrek yang tumbuh di tanah, padahal itu tumbuh di batang pohon.
        Menurut Rusmin, belakangan ini memang banyak perburuan beberapa spesies anggrek Kalimantan untuk menambah koleksi pecinta anggrek Indonesia.
        “Kita sendiri memiliki sebuah tempat khusus pembudidayaan anggrek khas Kalimantan, dan itu selalu menjadi sasaran pembeli anggrek yang datang dari berbagai daerah,” katanya.
        Pada sisi lain, kian diminatinya anggrek Kalimantan melahirkan peluang keuntungan bagi sebagian orang yang kemudian masuk hutan Pegunungan Meratus untuk menjarah aneka spesies.
        Bukan hanya anggrek yang menjadi sasaran penjarahan, aneka tanaman hutan lain yang berpotensi menjadi tanaman hias, seperti aneka pakis,  keladi, palm, rotan, serta tumbuhan karnivora kantong semar.
        Berbagai tanaman hutan hasil perburuan itu sebagian digelar begitu saja oleh pedagang tanaman  hias di tepi jalan  A Yani, Banjarmasin.
        Pusat penjualan tanaman hias itu mudah terlihat karena berada di tepi jalan trans Kalimantan. Penjualan tanaman hias di lokasi itu hanya berlangsung pada tiap-tiap Minggu pagi saja.
        Salah satu yang dijual dipinggir jalan itu adalah jenis anggrek khas kalimantan yang terbilang anggrek raksasa, yaitu anggrek tebu (grammatophyllum speciosum) karena bentuknya setinggi tebu.
        Harga anggrek yang juga disebut anggrek macan atau anggrek harimau inipun bervariasi bergantung pada besar kecilnya ukuran.
        Sebatang anggrek tebu ada yang dijual seharga Rp150 ribu per batang, atau ada pula yang kurang dari Rp100ribu.
        Tetapi sebatang anggrek tebu yang sedang berbunga ditawarkan pedagang yang konon mencari tanaman tersebut hingga ke kawasan hutan seharga sekitar Rp1,5 juta.
        Anggrek jenis itu banyak diminati kolektor, karena memiliki anggrek terbesar di dunia itu berarti mendapatkan gengsi tinggi.
        Anggrek itu berkembang biak di sela-sela pohon besar, hingga bisa mencapai panjang lima meter. Satu rumpunnya bisa memiliki berat dua ton.
        Tanaman ini berada di lingkungan panas, hutan tropis yang lembab di kawasan Pulau Kalimantan, ada pula di Sumatera, dan Papua, serta daratan Malaysia.
        Anggrek ini dikenal karena penampilannya yang luar biasa pada saat berbunga, walupun cuma berbunga sekali dalam dua sampai empat tahun.
        Bunga anggrek tebu tahan lama dan dapat bertahan sampai dua bulan. Bunganya berwrana krem denga bintik coklat atau merah tua.
   
                Perburuan
   Banyaknya perburuan anggrek yang melahirkan penjarahan ke dalam hutan itu merisaukan Wahana Lingkungan Hidup (Walhi) Kalsel.
        Ketua Walhi Kalsel Berry Nahdiyin Furqun mengataan, masyarakat sebaiknya menghentikan penjarahan anggrek hutan seperti yang terjadi di kawasan Loksado, Kabupaten Hulu Sungai Selatan (HSS).
        “Penjarahan anggrek hutan itu harus segera dihentikan oleh instansi terkait, bila tidak dalam waktu yang tidak lama, puluhan spesies anggrek gunung tersebut akan musnah,” tuturnya.
        Berry Nahdiyin Furqon mengungkapkan, sejak beberapa bulan terakhir, penjarahan anggrek secara besar-besaran  terjadi di beberapa daerah di Pegunungan Meratus.
        Dia mengatakan, pada dasarnya pencurian anggrek yang hidup di pegunungan Meratus sudah berlangsung sejak 1997, namun tidak sebesar seperti saat ini.
        Menurutnya, saat ini banyak warga luar daerah yang membujuk warga sekitar pegunungan Meratus untuk mencarikan bunga-bunga anggrek tersebut dengan iming-iming sejumlah uang.
        “Sebenarnya warga asli tidak akan mengambil tanaman anggrek tersebut bila tidak disuruh oleh pendatang. Makanya harus ada pendidikan dan penyuluhan khusus kepada warga sekitar pegunungan tentang larangan jaul beli anggrek tersebut,” katanya.
        Berry mengatakan, pihak terkait harus segera melakukan pelatihan konsevasi kepada penduduk asli, agar mereka menjual anggrek turunannya saja atau yang telah dibudidayakan, bukan anggrek yang asli.
        Menurut dia,  daerah yang paling banyak spesies anggreknya adalah di Loksado, Balangan dan Sampanahan baru, tersebar di pegunungan Meratus lainnya.
        Rata-rata anggrek tersebut banyak yang dijarah, dan dijual ke berbagai daerah, baik dalam negeri maupun luar negeri karena kurangnya perlindungan dan pengawasan.
        Sebelumnya dari seminar pelestarian anggrek yang diselenggarakan BKSDA, terungkap,  setiap malamnya tidak kurang dari empat mobil pick-up bermuatan anggrek selalu dibawa dari Loksado maupun daerah-daerah yang masih dalam kawasan pegunungan Meratus.
        Bunga-bungaan yang memiliki nilai ekonomis tinggi tersebut dijual ke berbagai daerah, di antaranya di Banjarmsin, bahkan ke luar negeri.
        Menurut beberapa pedagang, anggrek dari pegunungan Meratus sangat diminati para penggemar anggrek dari berbagai wilayah di Indonesia, karena dianggap berkwalitas.
        Beberapa pedagang anggrek di kawasan Belitung mengaku rela menukar tambah  satu buah anggrek pegunungan dengan beberapa anggrek impor yang mereka miliki, atau membelinya dengan harga ratusan ribu rupiah.
   
         2000 spesies
   Berdasarkan bebagai literatur, hutan Kalimantan mengandung banyak anggrek yang berkwalitas, anggrek yang menyebar di hutan pulau terbesar tanah air itu tak kurang dari 2000 spesies.
        Pendokumentasian anggrek alam Kalimantan dimulai sekitar tahun 1825 oleh George Muller asal Jerman.
        Pada 1901-1902, ahli botani asal Jerman bernama Friederick Ricard Rudolf Schlechter melakukan ekspedisi di Kaltim mengumpulkan sekitar 300 tanaman anggrek.
        Pada 1925, Eric P Mjoberg melakukan perjalan ke Kaltim dan mengumpulkan 15.000 tanaman. Sebagian di antaranya diberikan ke Kebun Raya Bogor, yakni 127 jenis pakis dan anggrek.
        Pada tahun yang sama, F Hendrik Endert, warga Belanda yang bekerja di Balai Penelitian Bogor juga melakukan ekspedisi ke Kaltim dan mengumpulkan 5.417 tanaman, termasuk anggrek. Di Kaltim juga terdapat cagar alam khas anggrek di Kersik Luway, Kecamatan Melak, Kutai Barat.
        Spesies paling terkenal yang menjadi primadona Kersik Luway adalah anggrek hitam (coelogyne pandurata) yang hanya dapat ditemukan di daerah itu.
        Anggrek hitam pekat ini adalah maskot pedalaman Kaltim sekaligus Pulau Kalimantan.

Iklan

2 Tanggapan

  1. Bung Hasanudin, diharapkan kehadirannya pada acara COACHING CLINIC TANAMAN ANGGREK bersama pakar anggrek alam Bp. Frankie Handoyo, pengarang buku The Native Orchide Indonesia. Sabtu, 14 Maret 2009, pk. 09 Wita. Bertempat di DF Orchids Jl belitung Darat Banjar Masin. Hub. Bp. Yulianto Telp. 05117526207, 081251115910. tks

  2. Tolong jaga dan lestarikan alam hutan Loksado dari penambang-penambang yang hanya menginginkan uang dan harta tanpa memikirkan kerusakan hutan nantinya.
    Hutan ini adalah warisan untuk anak cucu kita di masa depan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: