PENYAKIT CACING BUSKI RISAUKAN WARGA RAWA-RAWA KALSEL

     Oleh Hasan Zainuddin

    Rusma (13), gadis Desa Telaga Mas, Danau Panggang, Kabupaten Hulu Sungai Utara (HSU) Kalimantan Selatan itu, menerawang jauh ke hamparan rawa-rawa di desanya.
         Pandangannya kosong, mukanya pucat, badannya kurus serta perutnya yang membuncit. Ia tidak tahu mengapa tubuhnya menjadi seperti itu,  sehingga ia tidak lagi bisa bermain seperti teman-temannya.
         Rambut di kepala perempuan itu juga terus rontok. Itu semakin  membuatnya rendah diri dan enggan bermain dengan sebayanya. Lantaran malu, ia pun tak bersekolah lagi.
         Derita gadis desa keluarga petani itu kian parah dalam enam bulan ini. Dari tubuhnya keluar binatang aneh menyerupai lintah darat  berwarna kemerahan.
         Binatang itu bukan saja keluar saat buang hajat, tetapi juga melalui mulut.
         Banyak warga setempat menganggap penyakit aneh ini akibat gangguan makluk halus atau karena guna-guna, sehingga banyak penderita yang diobati melalui dukun.
         Penderitaan serupa juga dialami oleh belasan gadis di desa berpenduduk sekitar 1400 jiwa itu, terutama yang usianya di bawah 15 tahun.
         Menurut Ny Murdia (48), ibunda Rusma, penderitaan Rusma tersebut diawali dengan gejala mual-mual, nafsu makannya mulai berkurang, serta badannya lemah dan lesu.
         Setelah itu lambat-laun, Rusma mengalami gangguan pencernaan, anemia (kurang darah) serta acites (perut kembung). Ia pun tak berselera lagi makan dan minum.
         Kondisi seperti itu dialaminya selama enam bulan hingga berat tubuhnya terus menurun. Selanjutnya rambut perempuan mungil ini terus rontok.
         Kasus Rusma itu, merupakan yang kesekian kalinya terjadi di Telaga Mas, sehingga memancing pihak dinas kesehatan setempat memeriksa penyakit tersebut. 
    Berdasarkan penelitian, disimpulkan penyakit yang diderita Rusma dan teman-temannya adalah “Fasciolopsis Buski” atau sering pula disebut cacing buski.
         Data Dinkes Hulu Sungai Utara (HSU) menyebutkan, hampir tiap tahun ada saja anak di kawasan desa berawa-rawa Kecamatan Danau Pangang itu terserang penyakit aneh itu, namun yang palng banyak terdapat di desa Telaga Mas.
         Data tahun 2005 lalu tercatat sebanyak 16 warga Desa Telaga Mas positif terjangkit cacing buski, sementara tahun 2006 jumlahnya mulai berkurang, yakni hanya lima orang.
         Masyarakat Telaga Mas memang tergolong miskin, dengan mata pencarian bertani, menangkap ikan, beternak itik atau ayam.
         Masyarakat yang kerap berinteraksi dengan air yang mengandung telur cacing buski inilah yang paling rentan terserang.
   
                       Endemis
    Dinas Kesehatan Propinsi Kalimantan Selatan, mengakui sejak dua dasawarsa ini, sudah ratusan warga di Kabupaten Hulu Sungai Utara, Propinsi Kalimantan Selatan, terserang penyakit cacing Fasciolopsis Buski.
         Seperti penuturan Kepala Dinas Kesehatan Kalsel, drg Rosehan Adhani kepada ANTARA di sela-sela peringatan Hari Kebangkitan Nasional (Harkitnas) di halaman Kantor Gubernur Kalsel, penyakit cacing buski sudah ada sejak tahun 80-an.
         Tetapi dari tahun ke tahun, serangan penyakit langka tersebut terus berkurang, terutama setelah pemberantasan penyakit tersebut diintensifkan.
         Pada tahun 2007 ini tercatat hanya sebanyak 14 orang yang positif terinfeksi penyakit endemis Hulu Sungai Utara itu.
         Penyakit tersebut, sama saja seperti penyakit cacing perut lainnya, tetapi lebih ganas.  Selain penderita kurang gizi akibat parasit cacing buski, perut penderita juga membesar dan rambut kepala rontok.
         Rosehan Adhani tidak tahu persis kenapa penyakit tersebut endemis di beberapa desa kawasan berawa-rawa HSU, padahal serangan penyakit itu jarang di temukan di dunia. Indonesia pun hanya pernah terjadi di Kalsel dan Propinsi Sulawesi Tengah.
         Untuk menanggulangi penyakit tersebut Dinkes Kalsel sudah melakukan berbagai penyuluhan, agar berpola hidup sehat, yakni tidak memakan makanan yang belum dimasak, terutama makanan yang berasal dari tumbuhan di rawa-rawa, seperti buah teratai dan umbi-umbian di kawasan tersebut.
         Selain itu, ia juga mengharapkan masyarakat segera berobat dokter bila diketahui terserang penyakit cacing buski, karena obatnya sudah ditemukan, dan disediakan di Dinkes Kalsel.
         “Obat sama dengan cacing yang lain,” ujarnya.
         Rosehan Ardhani menambahkan para penderita penyakit tersebut umumnya adalah anak-anak. Karena anak-anak biasanya suka bermain di air rawa-rawa kawasan desa tersebut dan memakan apa saja yang ada di rawa seperti buah teratai, umbi-umbian, dan buah tanaman rawa lainnya tanpa di masak lebih dahulu.
         Meski telah banyak yang terinfeksi, masyarakat tetap menganggap  penyakit itu aneh.  Mereka umumnya hanya mengenal penyakit cacing gelang atau cacing kremi. 
    “Masyarakat belum pernah melihat cacing seperti itu. Bentuknya menyerupai pacet (lintah), sehingga seringkali pula disebut warga setempat sebagai cacing pacet,” katanya.
         Fasciolopsis Buski hidup di kawasan Asia Selatan yakni perairan rawa seperti di Banglades, Kamboja, China Tengah dan China Selatan, Vietnam, Malaysia, Thailand, Pakistan, Vietnam dan Indonesia.
         Cacing ini bukan saja bisa menyerang manusia, tapi juga babi, anjing, dan kelinci. Cacing buski dewasa bisa sepanjang 75 mm, atau 3 inci dan lebar 20 mm atau 1 inci.
         Cacing buski tidak hidup di hati, melainkan hanya hidup di area teratas usus kecil, dalam jumlah bisa sangat banyak, dan dapat pula hidup di area bawah usus dan di dalam perut, tetapi tak pernah ditemukan di bagian tubuh lain.
         Dalam tubuh, cacing buski dewasa dapat memproduksi sedikitnya 25 ribu telur per hari, dan terus berkembang biak.

Iklan

3 Tanggapan

  1. Tolong pemerintah supaya lebih concern terhadap masalah ini.
    karena sungguh menyedihkan melihat manusia dimangsa oleh hewan sedikit demi sedikit.
    sungguh metrupaka penghinaan terhadap derajat kita manusia. trimaksih.

  2. babi tu comel ke.?

  3. seigatku penyakit ini sudah pernah masuk media ketika aku masih sekolah (lupa, SMP apa SMA). sudah bertahun-tahun yang lalu lah! kenapa sampai sekarang masih ada?!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: