GIZI BURUK DITENGAH MELIMPAHNYA KEKAYAAN ALAM KALSEL

     Hasan Zainuddin

   Banjarmasin,8/6 (ANTARA)- Air mata Ernawati (20 th) tak sanggup lagi terbendung ketika melihat anak sulungnya, Milda (2,5 th), dibungkus kain kafan, Senin (28/5) sekitar pukul 10.00 Wita, bayi tersebut dikebumikan di kampung halamannya di Desa Tilahan Kecamatan Hantakan Kabupaten Hulu Sungai Tengah (HST) Propinsi Kalimantan Selatan.
        Dokter Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Damanhuri Barabai, Ibukota Kabupaten setempat tak sanggup berbuat banyak karena Milda terlambat ditangani.
        Anak pasangan Sayuti-Ernawati ini menderita gizi buruk sejak lahir. Kondisinya semakin parah karena digerogoti diare dan kelainan paru-paru, demikian berita yang dilansir harian lokal Banjarmasin.
        Gizi buruk bukan hanya menimpa keluarga Ernawati, tetapi juga ratusan keluarga lain di Kalimantan Selatan.
        Serangan gizi buruk bukan saja terjadi di desa wilayah Kalsel, yang terbanyak justru terjadi di Kota Banjarmasin, Ibukota Propinsi Kalimantan Selatan.
        Beberapa waktu lalu, di Kelayan B Kota Banjarmasin, penderita gizi buruk, Dina Safitri (19 bln), jiwanya tak tertolong walau sudah dirawat inteksif di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Ulin Banjarmasin.
        Dina meninggal pada sore hari, padahal pagi harinya sempat dijengok Walikota Banjarmasin, Yudhi Wahyuni.
        Tak banyak komentar keluar dari mulut Yudhi Wahyuni saat bersama sejumlah wartawan membezuk Dina Safitri di rumah sakit, ia hanya menggeleng-gelengkan kepalanya.
        “Kok bisa begitu ya,” katanya kala itu, seraya meminta kepada Dinas Kesehatan kota Banjarmasin lebih intensif lagi menangani kasus gizi buruk di kota berpenduduk sekitar 700 ribu jiwa ini.
        “Ironis memang, di wilayah Kalsel yang kaya sumberdaya alam, begitu banyak warga yang terserang gizi buruk,” demikianlah komentar orang ketika menyaksikan tayangan televisi, berita di surat kabar, maupun di radio mengenai korban gizi buruk di wilayah Kalsel.
        Kalsel memiliki hutan yang luas, tambang batubara, biji besi, intan dan kekayaan barang mineral lainnya, yang seharusnya sanggup untuk menyejahterakan rakyatnya.
        Di Banjarmasin saja, sedikitnya 20 industri kayu lapis skala besar mengeksloitasi kayu dari hutan Kalsel dan memperoleh devisa sangat besar.
        Begitu juga sektor tambang, sedikitnya 60 juta ton batubara per tahun keluar dari perut bumi Kalsel, padahal operasi pertambangan emas hitam ini sudah belasan tahun. Uang miliaran dolar AS pasti telah didapat, tapi nyatanya hasil kekayaan tak mampu memberikan kesejahteraan masyarakat wilayah ini.
        “Kita akui, berbagai pemanfaatan sumberdaya alam, khususnya tambang batubara benar-benar tidak berpihak kepada rakyat, begitu banyak uang yang dihasilkan dari tambang, tetapi rakyat tetap miskin,” kata Ketua Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Kalimantan Selatan, Noor Riwandi.
        Sistem penambangan batubara di Kalsel masih menganut aturan yang tak berpihak rakyat, seperti pejanjian PKB2B atau kontak karya yang hanya memberikan royalti 13 persen perton tambang batubara.
        Royalti sekecil itu dibagi lagi untuk pemerintah pusat dan pemerintah propinsi serta kabupaten/kota penghasil tambang itu.
        Pembagian royalti itu juga tidak imbang karena sebagian besar jatuh tangan pemerintah pusat, hanya sebagian kecil ke pemerintah propinsi dan kabupaten/kota penghasil tambang itu.
        Kemudian dana royalti yang jatuh ke tangan pemerintah propinsi dan kabupaten/kota itupun begitu berliku-liku jalannya dan menelan waktu lama baru sampai ke daerah.
        Pernyataan Noor Riwandi dilontarkan di hadapan puluhan wartawan angota Cabang Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Kalimantan Selatan, PWI Kalimantan Barat, PWI Kalimantan Timur, serta anggota PWI Kalimantan Tengah saat mengikuti Safari Jurnalistik 2007 sesi ketiga yang diselenggarakan oleh PWI Pusat.
        Dalam pelatihan jurnalistik ini, selain berbagai materi jurnalistik, juga dikupas persoalan gizi buruk, karena PWI menganggap persoalan gizi buruk merupakan persoalan serius di Kalsel.
        Wakil Kepala Dinas Kesehatan Kalsel, dr Asikin mengatakan, bila anak mengalami gizi buruk, setelah dewasa akan menjadi beban bagi negara.
        “Berdasarkan penelitian, ibu hamil yang kekurangan gizi, bayinya akan kehilangan intelegensi 20 persen, dan bila lahir hanya mampu sekolah sampai lanjutan pertama saja.”
   Asikin menyatakan penderita gizi buruk yang berada di wilayah propinsi Kalimantan Selatan belakangan ini kian merisaukan, makanya ia meminta agar semua pihak harus memikirkan secara bersama.
        Balita dizi buruk di Kalsel cukup tinggi. Sejak 2001 tercatat 58 kasus dan tujuh orang diantaranya meninggal dunia.
        Pada 2002 kasus gizi buruk tercatat 27 kasus sembilan diantaranya meninggal dunia.
        Pada tahun-tahun selanjutnya kasusnya tidak juga berkurang, bahkan cenderung meningkat. Pada 2003 tercatat 32 kasus empat diantaranya meninggal, 2004 tercatat 48 kasus tujuh diantaranya meninggal dunia.
        Kasus gizi buruk, bahkan melonjak tajam pada 2005, tercatat 183 kasus, delapan diantaranya meninggal dunia, dan kasus itu meningkat lagi tahun 2006 dengan jumlah 205 kasus dan 22 dinyatakan meninggal dunia.
        Sampai Mei 2007, kasus gizi buruk tercatat 45 kasus dan delapan diantaranya meninggal dunia.
        Selama periode 2006-2007, kasus gizi buruk di Kalsel, paling banyak terjadi di Banjarmasin, tercatat 142 kasus.
        Menyusul Kabupaten Banjar, 27 kasus (2006) dan enam kasus (2007), Barito Kuala (Batola) 17 kasus (2006) dan dua kasus (2007), Kotabaru 15 kasus (2006) dan satu kasus (2007), serta Tabalong 11 kasus (2006) dan satu kasus (2007).
        Menurut Asikin, kondisi ini memang menyedihkan, oleh karena itu ia meminta masyarakat yang berkemampuan supaya ikut memberikan kontribusi terhadap penanggulangan gizi buruk, karena bila tidak sulit untuk mengatasinya.
        Banyak faktor yang melatarbelakangi kasus gizi buruk di Kalsel, selain kemiskinan juga ketidakmengertian masyarakat terhadap pentingnya kebutuhan gizi. Warga umumnya lebih mementingkan kebutuhan lain dibandingkan gizi keluarganya.
        “Seorang tukang becak di Banjarmasin, lebih memilih membeli rokok Rp5 ribu perbungkus, ketimbang harus membelikan tiga bungkus susu bagi anaknya,” ujarnya.
        Pengetahuan masyarakat yang dangkal, juga telah membuat penanganan gizi buruk mengalami banyak kendala sosial. “Gizi buruk dibiarkan begitu saja, lantaran ada kepercayaan bahwa anak yang kurang gizi karena diganggu setan dengan sebutan penyakit “diisap buyu”.
        Merebaknya kasus penderita gizi buruk telah berpengaruh terhadap indeks pembangunan manusia (HDI) Kalsel dari skor 66,3 pada 1996 menjadi 64,3 skornya pada 2002.
        Untuk mendata angka gizi buruk , Pemprop Kalsel melalui dinas kesehatan setempat, terus memantau tumbuh kembang balita dengan KMS  dan melaksanakan Survei Pemantauan Status Gizi (PSG) Balita.
        Selain itu survei pemantauan konsumsi gizi (PKG) juga dilakukan di tingkat rumah tangga dan pemberian makanan tambahan (PMT).
        Upaya lain dengan melacak kejadian luar biasa (KLB) gizi buruk dan pemberian paket bantuan, peningkatan koordinasi pelayanan gizi dengan tim terkait (Tim Pangan dan Gizi, SKPG), monitoring dan evaluasi penanggulangan KLB Gizi Buruk.
        Pemprop Kalsel juga berupaya mengaktifkan lagi kegiatan Posyandu, pengisian KMS, mengaktifkan kembali sistem lima, melaksanakan penyuluhan.
        Dinkes Kalsel juga membentukan Desa Siaga dengan pembentukan  pos kesehatan desa (Poskesdes) yang dilayani oleh bidan dan kader kesehatan.
        Pada 2006 telah dibentuk 223 desa siaga, tahun 2007 sebanyak 750 desa dan tahun 2008 mendatang sebanyak 975 Desa Siaga.
        Melihat kenyataan begitu banyaknya kasus gizi buruk itu maka berbagai kalangan berharap pemerintah serius memberikan penyuluhan pentingnya arti gizi keluarga, memberikan makanan tambahan.
        Dalam mengelola sumber daya alam yang melimpah, pemerintah juga harus berpihak kepada rakyat, bukan hanya segelintir orang apalagi asing.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: