“RCF” BANJARMASIN CERMINKAN KERUKUNAN UMAT BERAGAMA

     Oleh Hasan Zainuddin

    Banjarmasin, 4/10 (ANTARA)- Di antara orang berjilbab, berkopiah dan berbaju koko, tak sedikit pengunjung Ramadhan Cake Fair (RCF/Pasar Wadai Ramadhan) Kota Banjarmasin yang bermata sipit dan berkulit putih datang membeli penganan di lokasi tersebut.
         Belum lagi, kadangkala kedatangan pembeli berbaju biarawati ikut berjubel di tengah ribuan pengunjung pasar yang hanya muncul setiap bulan Ramadhan itu.
        Selain itu, kedatangan sekelompok wisatawan bule yang dipandu para peramuwisata yang seringkali berbaur di tengah keramaian pasar penganan itu, membuktikan bahwa RCF bukanlah untuk kepentingan satu golongan agama saja.
        “Dari pembeli kue bingka yang saya jual, tak sedikit dari mereka adalah orang-orang China,” kata Ibu Wardah, seorang dari 128 pemilik kios dagangan di pasar wadai Ramadhan yang berada di bilangan Jalan Jenderal Sudirman depan kantor Gubernur Kalimantan Selatan (Kalsel) itu.
         “Orang China biasanya berani membeli mahal dagangan saya, sehingga saya bisa untung lebih besar,” kata Ibu Wardah.
         Kebanyakan orang China yang berbelanja ke pasar wadai tersebut didengar dari bicaranya adalah mereka yang tinggal di Banjarmasin, serta kota-kota lain di Kalsel, umumnya mereka adalah orang kaya dan dari kalangan pedagang.
         Namun, berdasarkan keterangan, mereka orang China itu tak sedikit mengajak keluarga mereka dari Pulau Jawa serta daerah lain khusus datang menikmati penganan khas Kalsel di pasar tersebut.
         Sementara kedatangan kalangan wisatawan mancanegara (Wisman) yang mengenakan pakaian celana pendek, kaos senglet, kaos oblong, baik wisman pria dan wanita tak masalah berada di lokasi ini.
        Bahkan ada dari mereka setelah membeli penganan langsung menyantap di lokasi itu juga, tidak mengerti bahwa saat itu lagi bulan puasa, namun oleh masyarakat setempat hal itu dimaklumi.
         Menurut para pedagang, akibat banyaknya pendatang non-muslim di lokasi itu menyebabkan harga penganan dan masakan lebih mahal dibandingkan di tempat lain, dan berapa pun banyaknya barang dagangan hampir bisa dipastikan akan habis terjual.
         Deodora (35), warga Banjarmasin yang beragama Kresten, mengaku dia selalu menunggu kehadiran pasar Ramadhan ini, karena momen ini benar-benar memberikan kesenangan bagi keluarganya.
        “Keluarga kami hampir tiap hari membeli makanan di pasar Ramadhan tersebut, banyak pilihan makanan, begitu juga penganan aneka ragam, sulit didapati hari lain,” kata Deodora yang dikenal sebagai seorang PNS di lingkngan Pemko Banjarmasin tersebut.
         Kepala Dinas Pariwisata Kota Banjarmasin, Hesly Junianto, mengakui bahwa keberadaan RCF bukan semata untuk umat Islam, tetapi diciptakan untuk semua golongan, bahkan dijadikan kalender kepariwisataan tahunan yang terus dipublikasikan ke dunia luar sebagai andalan kepariwisataan Kalsel.
         Banyak fungsi di pasar ini selain sebagai objek wisata, juga sebagai lokasi ngabuburit (menunggu bedug berbuka puasa), serta sebagai sarana pelestarian budaya.
         Karena itu, tak heran bila ada sekelompok muda mudi berjalan santai sambil bercanda gurau berada di sana hanya untuk ngabuburit.
    Atau, sekelompok wisman begitu asyik membidik-bidikan kamera ke para pedagang atau pembeli yang sedang bertransaksi di lokasi itu, sedangkan yang lain ikut berjubel begitu asyik mencari-cari kue-kue tradisional yang juga hanya muncul pada saat digelarnya pasar tersebut.
         Selain penganan dan makanan di sana terdapat sekitar 41 macam kue khas dan tradisonal Suku Banjar, bahkan banyak di antaranya sebenarnya adalah kue-kue yang langka.
         Sebagai objek wisata maka keberadaan pasar ini pun diciptakan sedemikian rupa bernuansa budaya Suku Banjar yang merupakan suku terbesar di daratan Kalsel. 
    Menurut penuturan Hesly Junianto, pasar ramadhan ini sudah ada di Banjarmasin sejak tahun 70-an. Saat itu hanya kelompok-kelompok kecil saja, hingga kurang teratur dan mengganggu keindahan kota.
         Mulai tahun 80-an oleh Pemko Banjarmasin pedagang itu dikumpulkan di satu lokasi, lalu dinamakan Ramadhan Cake Fair. Sejak itu pula lokasi ini dinyatakan sebagai atraksi wisata tahunan.       
    Untuk memperkuat lokasi ini sebagai objek wisata maka digelar pula berbagai pertunjukan rakyat, seperti kesenian tradisional, seperti madihin, lamut, rebana, jepin, dan tarian serta seni-seni tradisi lainnya.
         Setiap pertunjukan selalu saja memperoleh sambutan hangat dari masyarakat, terutama kawula muda yang berdatangan bukan saja dari Kota Banjarmasin sendiri tetapi dari kota sekitarnya. Seperti tahun ini, lokasi pertunjukan persis di tengah pasar sehingga memudahkan pengunjung untuk menikmati seni tradisi tersebut.
         Sementara itu Kepala Bidang Pariwisata dan Budaya Dinas Pariwisata Banjarmasin, Noor Hasan, kegiatan ini tidak hanya  dimaksudkan untuk melestarikan seni budaya setempat, tetapi juga untuk melestarikan penganan tradisional khas Sulsel.
         “Banyak penganan (kue) yang hampir punah lantaran jarang ditemui di hari biasa, bisa ditemukan pada saat pegelaan pasar Ramdahan ini, yang membuktikan kegiatan tahunan ini mampu melestarikan budaya membuat penganan tersebut,” kata Noor Hasan.    
    Masyarakat suku Banjar yang tinggal di Kalsel dikenal sebagai masyarakat yang memiliki kekayaan budaya khususnya penganan tradisional, namun beberapa jenis penganan tersebut kini nyaris punah.
         Menurut Noor Hasan, terdapat 41 macam penganan tradisional Suku Banjar yang dikenal selama ini, tetapi tak sedikit penganan tradisional itu yang tak lagi terdata dan diketahui.
         Dari 41 macam itu saja mungkin belasan yang nyaris punah, dan penganan itu muncul bila ada hajatan, kenduri, atau acara ritual lainnya di masyarakat Suku Banjar.
         Penganan tradisional yang nyaris punah itu antara lain seperti kue kelalapon, kue kakikicak, sasagon, cucur, wajik, cangkarok batu, bubur habang, bubur putih, apam habang, apam putih, bingka barandam, garigit, ilat sapi, dan wadai satu.
         Di antara penganan tersebut seringkali dibuat hanya kebutuhan ritual atau kebutuhan kenduri karena diyakini kue-kue itu kalau dimakan diyakini akan membawa berkah.
         Penganan itu hilang setelah kian banyaknya penganan modern dan makanan kecil siap saji bermunculan, tetapi juga akibat kue-kue kering dan makanan kecil yang diproduksi perusahaan besar di Pulau Jawa.
         “Lihat saja makanan kecil, kue kering, snack, mie instan, kacang-kacang keluaran perusahaan besar seperti PT Indofood menyebar hingga ke pelosok pedesaan yang mendesak makanan khas asli daerah setempat,” kata Aminah, pedagang kue tradisional di Banjarmasin.
         Makanan modern tersebut datang melalui pedagang eceran menawarkan dengan harga sangat murah. Ada satu bungkus kue kering keluaran PT Indofood dijual hanya Rp250 per bungkus, sedangkan kue tradisional dijual Rp500 per buah.
         Karena lebih murah dan punya kemasan serta tahan lama maka kue modern dari perusahaan besar itu benar-benar menjadi pilihan masyarakat, akibatnya kue tradisional kurang dihiraukan lagi.
         Melihat kenyataan tersebut maka kehadiran pasar Ramadhan disambut hangat masyarakat, bukan saja sarana hiburan, atau lokasi ngabuburit serta objek wisata, tetapi sebagai sarana pelestarian penganan khas Kalsel tersebut.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: