MENCARI ALTERNATIF WILAYAH HUNIAN INDONESIA YANG AMAN GEMPA

Oleh Hasan Zainuddin
Banjarmasin,19/7 (ANTARA)- Goncangan gempa disertai hantaman tsunami di Pantai Pangandaran, Jawa Barat hari Senin, 17 Juli 2006 bukan saja menimbulkan kerugian material yang cukup besar tetapi juga korban jiwa mencapai ratusan orang telah menimbulkan luka dalam di hati bangsa Indonesia.
Apalagi bencana yang terjadi di pesisir selatan Pulau Jawa tersebut hanya beberapa waktu berselang setelah terjadinya gempa yang juga cukup besar melanda wilayah Jogyakarta, dan Jawa Tengah. Padahal kedua gempa teknonik tersebut terjadi disaat bangsa indonesia masih merasakan betapa sakitnya bencana gempa yang terjadi di Aceh yang menimbulkan korban ratusan ribu jiwa dan kerugian harta benda tak bisa dihitung nilainya.
“Bencana demi bencana demikian agaknya bukan saja menjadi renungan kita semua apakah kita sudah lupa dengan sang pencipta, ataukan kita memang lengah, lalu merusak alam dan kelestariannya, hingga alam murka” demikian sebuah SMS yang dilemparkan ke sebuah tekevisi swasta di Jakarta. “Atau karena kita merasa bangga dengan dosa-dosa,” demikian salah satu syair yang dilantunkan penyanyi Ebiet G.
Terlepas dari penilaian semua itu, sudah sewajarnya bangsa Indonesia mengambil hikmah dari rentetan kejadian tersebut, tidak bijaksana kalau hanya meratapi. kalau tidak mengambil pelajaran yang berharga, setidaknya untuk mencegah atau meminimalisasi kerugian bila nanti kembali bencana melanda.
Padahal berbagai literatur mengenai manajemen bencana gempa bumi begitu banyak yang sudah ditulis kalangan ahli, begitu juga peta-peta bencana gempa sudah banyak yang mengetahuinya.
Walau kejadian gempa yang terjadi berasal dari perut bumi tidak bisa diprediksi atau diramal waktu kejadiannya atau kekuatannya, tetapi setidaknya sudah diketahui titik=titik mana saja yang berpotensi terjadi bencana demikian.
Dirjen Kelautan Pesisir dan Pulau-pulau kecil Departemen Kelautan dan Perikanan Prof.Ir.Widi A.Pratikto MSc.PHd ketika berada di Banjarmasin mengakui hingga kini sumberdaya mansuia (SDM) bangsa Indonesia belum siap mengelola sektor kelautan, apalagi mengenai pengelolaan bencana khususnya tsunami.
Bukti ketidak ketersediaan SDM kelautan tersebut bisa dlihat pada sektor-sektor vital bidang kelautan di Indonesia, baik itu dari segi pariwisata, ekonomi dan lainnya kini banyak dimanfaatkan pihak asing.
Tak sedikit pulau-pulau kecil, seperti di daerah Sumatra Barat, Jawa Tengah, Kalimantan Timur, di kelola oleh warga asing. Padahal pulau-pulau tersebut memiliki sumber daya alam luar bisa, seperti terumbu karang yang indah dan kekayaan kelautan yang tidak ternilai harganya.
Sebagian besar laut di Indonesia juga dimanfaatkan oleh nelayan-nelayan asing, baik itu warga dari Pilipina, Thailand dan negara lainnya.
Hal itu terjadi, karena bangsa Indonesia terlambat mempersiapkan diri, sangat sedikit generasi muda yang belajar tentang kelautan. Selain itu juga ilmu-ilmu kelautan dan teknologi tidak dipersiapkan sejak awal, tidak ada metodologi dan edukasi untuk menata masyarakat pesisir.
“Indonesia adalah negara yang paling sempurna merusak lingkungan hidup, karena tidak memiliki ilmunya,” kata Widi. Akibatnya, bencana alam terjadi dimana-mana, sektor kelautan maupun darat banyak yang rusak, tsunami terjadi dimana-mana. Kondisi ini harus menjadi pelajaran yang sangat berharga. Kenapa laut Indonesia banyak dikuasai asing, karena bangsa Indonesia sendiri tidak siap untuk memanfaatkannya.
Di Amerika ketika terjadi bencana tsunami luar biasa yang juga mampu menewaskan ribuan rakyatnya, mampu dijadikan sebagai bahan kajian ilmu pengetahun tentang kelautan dan alam, seharusnya demikian juga di Indonesia.
Salah satu upaya pencegahan agar tidak terlalu menelan korban bila terjadi bencana adalah mengembalikan fungsi dan keberadaan hutan-hutan bakau seluruh pesisir laut yang rawan tsunami, katanya diacara lokakarya daerah program mitra bahari regional center Kalimantan Selatan.
Sementara seorang dosen senior di Banjarmasin, Drs.Armain janit yang juga dikenal sebagai Ketua Harian Kawasan Pengembangan Ekonomi Terpadu (Kapet) Batulicin Kalsel menyarankan bangsa Indonesia selayaknya menyusun kembali tata ruang, setidaknya mencegah timbulnya korban jiwa dan harta bila terjadi gempa atau tsunami.
Kasus terjadinya gempa dan tsunami di Pulau Jawa dan Sumatera itu bukan sekarang saja terjadi, tetapi memang berulang-ulang sejak dulu, seharusnya bangsa ini berpikir untuk itu.
Presiden pertama Indonesia, Ir Soekarno salah seorang yang pernah memikirkan masalah tersebut dan mewacanakan agar ibukota Indonesia dipindah saja dari Jakarta ke sebuah kota di Kalimantan yang sudah dinyatakan relatif aman goncangan gempa. Salah satu kota yang dipilih Soekarno adalah Kota Palangkaraya, ibukota Propinsi Kalimantan Tengah.
Tetapi Menurut Armain, Kota Palangkaraya kurang layak menjadi sebuah ibukota negara pasalnya selain lahannya rawa-rawa dan bergambut juga berada jauh di daratan Pulau Kalimantan hingga tidak memiliki pelabuhan laut yang representatif yang bisa dijadikan pelabuhan Samudera.
Salah satu wilayah yang menurutnya sangat potensial untuk dijadikan ibukota negara adalah Kota Batulicin, ibukota Kabupaten Tanah Bumbu karena selain lahannya keras dan sudah memiliki berbagai sarana dan prasarana disamping memiliki pelabuhan laut alamiah yang bisa menjadi pelabuhan samudera.
Apalagi Batulicin secara geografis berada di tengah-tengah nusantara, persis dekat dengan Selat Makassar dan Laut Jawa hingga mudah berakses ke Samudera Hindia dan Samudera Pasific ditunjang sumberdaya alam Pulau Kalimantan yang melimpah maka akan mempercepat sebuah kota menjadi kota besar.
“Kita jangan berpikir sekarang tetapi haruslah berpikir jauh, puluhan tahun atau mungkin ratusan dan ribuan tahun kedepan, Pulau Jawa selain rawan gempa sudah terlalu padat, sudah selayaknya kosentrasi pemukiman rakyat Indonesia ke daerah Kalimantan,” tambahnya.

Kalimantan aman
Menurut sejarah kegempaan, Indonesia terletak pada lajur sumber gempa bumi yang membentang sepanjang tak kurang dari 5.000 kilometer, mulai dari Andaman sampai busur Banda Timur, sehingga gempa tektonik berskala besar dan kecil banyak melanda wilayah Selatan dan Barat Indonesia.
Potensi gempa mulai dari Nusa Tenggara hingga Sumatera, begitu juga halnya Sulawesi, kepulauan Maluku dan Papua, kecuali Kalimantan. Gempa-gempa tersebut sebagian besar berpusat di perairan yang relatif dekat dengan pulau-pulau tersebut, yang berkaitan dengan lempeng benua yang berada di dasar laut.
Suhardjono, Kepala Bidang Gempa Badan Meteorologi dan Geofisika (BMG) dalam sebuah tulisan di salah satu media terbit di Jakarta menjelaskan wilayah Indonesia merupakan lokasi pertemuan tiga lempeng benua seperti lempeng Indo Australia, lempeng Eurasia, dan lempeng Pasific.
Lempeng-lempeng tersebut selalu bergerak 3-4 sentimeter setiap tahun, karena pergerakan itu terjadi gesekan antara satu lempeng dengan lempeng lainnya. Apabila tingkat elastisitas satu lempeng tidak kuat menahan gesekan maka akan terjadi patah lempeng yang mengakibatkan gempa bumi yang seringkali disertai tsunami.
Daerah pertemuan ini merupakan wilayah yang berpotensi terjadinya gempa, proses gerak relatif lempeng ini berjalan terus. Pada tempat pertemuan ini ada suatu titik yang tidak tahan lagi terhadap dorongan, sehingga akan patah. Di saat patah itulah maka akan memancarkan energi potensial dalam bentuk gelombang slesmik, kejadian itulah yang disebut dengan gempa.
Pada bagian kedua, pergerakan lempeng yang saling bersentuhan akan berdampak pada bagian punggungnya, sehingga akan melengkung ke atas. Lengkungan itu akan membentuk gunung berapi, prosesnya telah terjadi selama jutaan tahun.
Di samping ada rangkaian gunung berapi atau “ring of fire” maka di bagian belakangnya ada retak.
Menurutnya, mulai ujung Aceh hinga Selat Sunda ada patahan atau titik seismic, maka sepanjang Pulau Sumatera menjadi titik-titik gempa, hal yang sama juga terjadi di Pulau Jawa, dengan adanya dorongan itu maka ada bagian yang mudah patah,yang disebut sebagai patahan lokal atau sesar lokal, seperti patahan Jogyakarta dekat bantul ke arah Utara yang disebut sebagai patahan opak.
Melihat peta gempa, maka tambahnya, Indonesia ini dapat dibagi menjadi enam zona gempa, mulai dari daerah yang paling aktif hingga daerah yang sangat stabil.
Daerah paling aktif ada Papua bagian Utara, lalu Sumatera bagian Utara, dan daerah yang paling lemah adalah Kalimantan Tengah dan Kalimantan barat, Sumatera bagian Timur, Papua Bagian Selatan.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: