LIMBAH, AIR BARITO DAN MARTAPURA TAK ENAK LAGI BAGI KEHIDUPAN

Oleh Hasan Zainuddin

Banjarmasin, 3/6 (ANTARA) – Bila selama ini Air Sungai Barito dan Sungai Martapura Kota Banjarmasin menjadi tumpuan kehidupan warga setempat, sekarang ini tumpuan demikian agaknya sudah tak bisa lagi diandalkan mengingat terpaan limbah telah merubah kebersihan air di kedua sungai tersebut.

Seperti diketengahkan Kepala Dinas Kesehatan Kalimantan Selatan Drg.Rosihan Adhani,MS kepada wartawan di Banjarmasin, Jum’at bahwa air tersebut tak bisa dikonsumsi begitu saja tanpa melalui proses pengolahan yang benar.
Contohnya saja, bila air itu dikonsumsi tanpa proses yang baik bisa terjadi kecacatan terhadap bayi maupun warga, karena air sudah tercemar limbah pertambangan emas dan penambangan batubara skala besar di hulu-hulu sungai.
Dari hasil survei yang dilakukan Dinas Kesehatan Kalsel yang dilakukan secara berkala, penyakit yang berbasis lingkungan masih merupakan masalah kesehatan terbesar masyarakat.
Hal tersebut tercermin dari masih tingginya kejadian seperti keracunan dan timbulnya penyakit yang berbasis lingkungan demikian.
Kondisi ini di disebabkan masih buruknya kondisi sanitasi dasar terutama air bersih dan penggunaan jamban keluarga yang tidak memperhatikan ketentuan kesehatan.
Selain itu, perilaku hidup sehat masyarakat juga masih sangat rendah, yang diantaranya tercermin dalam kurang bersihnya pengelolaan bahan makanan serta buruknya penatalaksanaan bahan kimia dan pestisida yang kurang memperhatikan aspek kesehatan.
Data hasil survei yang dilakukan Dinkes sejak tahun 1995, kematian bayi di Kalsel rata-rata disebabkan karena buruknya kondisi lingkungan.
Penyakit akibat faktor lingkungan tersebut diantaranya, Asthma, 2,5 persen, Pneumena 16,4 persen, Diare, 11,4 persen, tetanus, 4,7 persen, ISPA, 3,9 persen, Ensefalitis 2,5 persen, Bronchitis 2,5 dan Emfisema, 2,5 persen.
Sementara itu, Rusdiansyah SH, Kasi pengawasan tempat umum dan lingkungan, mengungkapkan, kendati air sungai sudah tercemar, asalkan warga mengolahnya dengan benar, air sungai Barito dan Sungai Martapura bisa saja dikonsumsi.
Menurutnya, sebaiknya sebelum air yang tercemar limbah tersebut di konsumsi maka terlebih dahulu di endapkan baru kemudian di rebus hingga mendidih 100 drajat celcius selama satu menit, dengan demikian diharapkan bakteri yang ada dalam air tercemar tersebut bisa mati.
Sebagaimana diketahui, hingga saat ini warga Banjarmasin, terutama yang tinggal di pinggiran sungai masih sangat tergantung dengan keberadaan sungai untuk melakukan aktivitas sehari-hari baik itu, mandi, mencuci memasak dan membuang air besar.
Bahkan beberapa warung yang berada di pinggir sungai, masih sering mencuci beras disungai tersebut secara langsung, padahal di sungai itu juga warga lainnya membuang air besar.
Berdasarkan keterangan budaya masyarakat Banjarmasin yang banyak membuang air besar (Tinja) kangsung ke sungai melalui budaya jamban menyebabkan kandungan bakteri coliform yang berasal dari tinja manusia tersebut sangat tinggi di dalam air kedua sungai tersebut dan kandungannya jauh berada dari ambang batas toleransi.
Bila air yang tercemar bakteri coliform tersebut dikonsumsi tanpa proses pemanasan yang sesuai maka bisa menimbulkan penyakit diare serta infeksi pencernaan.
Bukti demikian bisa dilihat dikala air PDAM mecet pada musim kemarau dan banyak warga mengandalkan air sungai untuk makan dan minum maka akhitnya sering terjadi Kejadian Luar Biasa (KLB) penyakit diare di kota Banjarmasin.
Kantor Badan Pengendalian Dampak Lingkungan Daerah (Bapedalda) Kota Banjarmasin sendiri juga mengungkapkan akibat begitu tingginya tingkat pencemaran limbah di sungai maka kandungan oksigen dalam air Sungai Barito dan Martapura terus berkurang.
Akibat dari kandungan oksigen dalam air (DO) terus berkurang maka beberapa jenis ikan air Sungai Martapura kini menghilang. kata Kepala Bapedalda Kota Banjarmasin, Hesly Junianto,SH.
Didampingi Kepala bidang Pengawasan dan Pengendalian Bapedalko Banjarmasin, Drs.Hamdi dan staf lainnya, Hesly Junianto mengutarakan hasil penelitian pihaknya ternyata kandungan oksigen dalam air tersebut di bawah ambang batas.
Sebagai contoh saja, kandungan udara dalam air yang ideal 6 miligram (Mg) per liter, tetapi nyatanya di sepuluh titik lokasi yang diteliti kondisinya sudah memprihatinkan.
Akibatnya banyak ikan yang tidak bisa lagi bernapas lantaran oksigen yang kurang itu, tambahnya seraya menyebutkan berkurangnya oksigen tersebut tersebut karena begitu tingginya tingkat pencemaran di sungai.
Seperti pencemaran limbah rumah tangga, limbah industri, serta limbah alam lainnya, di Kota Banjarmasin masyarakat terbiasa membuang sampah ke sungai, sementara 23 industri kayu dan industri lainnya skala besar di pinggir sungai juga dinyatakan positip mencemari air dikedua sungai tersebut.
Pencemaran limbah demikian mengakibatkan limbah itu harus diproses oleh jasad organik dalam air. Jasad-jasad dalam air yang memproses limbah air tersebut ternyata memerlukan oksigen cukup besar pula akhirnya jumlah oksigen di dalam air terus berkurang.
Dampak kian berkurangnya jumlah oksigen tersebut adalah menghilangnya beberapa jenis ikan terutama ikan khas Sungai Martapura seperti Kelabau, Sanggang, Jelawat, serta ikan Puyau.
Berdasarkan penelitia tersebut kandungan oksigen di dalam air sungai yang diteliti seperti di Sungai Basirih kandungan udaranya mencapai 5,36 Mg/L, air Sungai Mantuil 5,8 Ml/L, air Sungai pelambuan 5,8 Mg/L, air Sungai Kuin Cerucuk 4,8 Mg/L, air Sungai Kayutangi 4,78,Ml/L, air Sungai Banua Anyar 4,79 Ml/L, air Sungai Bilu 5,03 Ml/L, air Sungai Baru 4,74 Ml/L, serta air Sungai Muara Kelayan 4,79 Ml/L.
Sungai-sungai kecil yang diteliti itu merupakan anak sungai Martapura, sedangkan Sungai Martapura sendiri adalah bagian dari Sungai Barito.
Selain kandungan udara yang terus berkurang di sungai yang membelah kota Banjarmasin tersebut ternyata kandungan besi juga ternyata terlalu tinggi di atas ambang batas hingga juga membahayakan kesehatan.
Menurutnya dalam acara jumpa pers yang dipandu oleh kepala Dinas Infokum Kota Banjarmasin, Drs.Bambang Budianto tersebut juga terungkap bahwa kandungan besi yang ideal untuk kehidupan hanyalah 0,3 Ml/l, tetapi hasil penelitian disepuluh titik lokasi juga sangat tinggi.
Pengaruh yang bisa dirasakan masyarakat Banjarmasin dengan kandungan besi yang tinggi tersebut banyak warga yang mengalami kerusakan gigi, tambahnya seraya menyebutkan kandungan besi itu lebih banyak karena faktor alam yang berawa-rawa.
Hasil penelitian kandungan besi yang ada seperti di sungai Basisih terdapat kandungan besi 1,1 Mg/L, air Sungai Mantuil 1,91 Mg/L, air Sungai Pelamuan 1,5 Mg/, air Sungai Suaka Insan 1,65 Mg/L, air Sungai Kuin Cerucok 2,08 Mg/L, di air Saungai Kayutangi 1,76 Mg/L, dan air Sungai banua Anyar 1,84 Mg/L.
Berdasarkan cacatan lain bukan hanya kandungan besi, yang tinggi di kedua sungai membelah kota Banjamasin tertapi juga terdapat kandungan logam berat lainnya yang kalau tidak diantisipasi berbahaya bagi kesehatan, seperti kandungan tembaga, maupun kandungan timah hitam.
Melihat kondisi sungai yang demikian, maka berbagai kalangan menganjurkan agar pemerintah lebih serius menangani sungai dan membuat peraturan daerah (Perda) tentang sungai yang memberikan sanksi berat kepada warga maupun industri membuang limbah ke sungai.
Dengan upaya demikian diharapkan mamou mengembalikan fungsi sungai bagi kehidupan masyarakat Banjarmasin sekaligus memperkuat posisi kota Banjarmasin yang dijuluki dengan kota air.

Iklan

3 Tanggapan

  1. appakabaaaaaaaaaaaarr!!

    ikam dissanaa , .

    uka tingal di blanda.

    tungg de pan to indonesie di famlily die banjarmassin

    tini , deborah

    salam

  2. please contact me in for kalimantan tour august

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: