KONVOI SEPEDA MOTOR TREND BARU MUDIK LEBARAN DI KALSEL

Oleh Hasan Zainuddin


Banjarmasin,30/10 (ANTARA)- Pemandangan sebuah sepeda motor yang penuh dengan satu keluarga, bapak, ibu, dan beberapa orang anak sudah agak terbiasa meluncur di jalan raya saat-saat musim lebaran di berbagai wilayah Propinsi Kalimantan Selatan.
Jumlah pemudik lebaran memanfaatkan kendaraan roda dua dalam beberapa tahun belakangan ini di wilayah paling selatan pulau terbesar di Nusantara tersebut merupakan trend baru sehingga pada lima hari menjelang dan sesudah lebaran  terjadi konvoi sepeda motor melewati trans Kalimantan.
Bila saat berangkat, muatan yang terlihat pada sebuah sepeda motor hanyalah pengendara satu keluarga dan sedikit tas pakaian, tetapi saat kembali kekota muatan disebuah sepeda motor kian bertambah.
Bukan hanya pengendara satu keluarga tetapi juga ditambah  setumpuk bawaan dari kampung berupa karung penuh dengan isi dan gantungan berbagai hasil alam.
Maka jangan heran bila sebuah sepeda motor oleh pemiliknya dimodifikasi sesederhana mungkin dengan menambahkan sebatang kayu agak ke belakang di sebuah sepeda motor, gunanya untuk gantungan ubi kayu, pisang, serta buah-buahan lainnya sebagai barang bawaan cenderamata pulang ke kota.
Bila jumlah kendaraan modifikasi  berangkat berbarengan kemudian terjadi konvoi di jalan raya dengan aspal yang mulus, maka terlihat sebuah pemandangan yang unik disaat mudik lebaran di wilayah Kalimantan selatan ini.
Apalagi disaat harga bahan bakar minyak (BBM) seperti sekarang begitu mahal, maka mudik lebaran dengan sepeda motor menjadi pilihan, kata Surya (30 tahun) penduduk Kayu tangi Banjarmasin.
Menurut Surya yang mudik lebaran ke Tanjung Tabalong pertimbangan mudik lebaran dengan kendaraan roda dua karena lebih memudahkan dan murah.
Bayangkan saja bila seorang pemudik yang harus menggunakan angkutan kendaraan roda empat harus beberapa tempat dilalui, mulai dari rumah ke terminal angkotan  kota dulu, dari terminal angkutan kota baru ke terminal induk.
Dari terminal induk di Banjarmasin itu bisa jadi akan beberapa kali singgah diterminal lainnya, baru sampai ke teriminal tujuan di kota yang dituju.
Sampai di terminal di kota yang dituju harus mencari angkotan  lagi baru sampao ke rumah, paling tidak mencari ojeki, akibatnya selain menelan waktu lama biaya yang dikeluarkan sangat mahal.
Ambil contoh saja, kalau naik angkutan umum dari Banjarmasin ke desanya di Tanjung Tabalong mungkin satu orang bisa mengeluarkan dana minimal Rp50 ribu, bayangkan kalau satu keluarga empat orang berarti uang harus keluar Rp200 ribu.
Dibandingkan kalau hanya menggunakan sepeda motor, tinggal mengisi bensin sepuluh liter itu sudah bisa pulang pergi berarti biaya yang harus dikeluarkan cuma Rp45 ribu, makanya pilihan naik kendaraan bermotor roda dua itu sekarang menjadi banyak pilihan pemudik lebaran di Kalsel.
Apalagi sekarang ini infrastruktur berupa jalan antara Banjarmasin ke berbagai pelosok desa di Kalsel sudah beraspal mulus, ditambah penerangan listrik desa yang telah menyebar kemana-mana mudik menggunakan kendaraan roda dua menjadi tidak masalah.
Yang memudahkan pula, setibanya di kampung halaman lalu ingin kemana-mana lagi mengunjungi sanak pamili mengucapkan selamat lebaran menjadi mudah dengan kendaraan sendiri.
Menurut keterengan, kian ramainya konvoi kendaraan bermotor mudik lebaran sekarang ini selain memang jalan sudah tersambung kemana-mana juga tingkat kesejehteraraan masyarakat kian membaik.
Dengan tingkat kesejahteraan yang membaik shingga sebagian besar keluarga di Kalsel belakangan ini memiliki sarana sepeda motor.
Apalagi belakangan ini berbagai dialer sepeda motor begitu kian gencarnya mempromosikan dagangannya serta mempermudah penjualan kendaraan roda dua itu dengan cara  sistem kredit, akhirnya jumlah kepemilikan sepeda motor warga Kalsel kian tak terbendung.
Hanya saja kendaraan yang dimiliki oleh warga Kalsel sebagian besar jenis bebek, sedikit sekali sepeda motor jenis lainnya.
Kepala Dinas Perhubungan Kalsel, Abdul Hafaz kepada sejumlah wartawan mengakui bahwa jumlah pemudik lebaran di wilayah Kalimantan Selatan ini baik yang meninggalkan Kalsel maupun antar daerah di propinsi ini terus meningkat.
Jumlah pemudik lebaran di Kalsel tahun ini diperkirakan 1,85 juta orang dan dari jumlah itu sebanyak 1,3 juta orang memanfaatkan mudik lebaran melalui jalur darat.
Dari 1,3 juta pemudik lebaran di Kalsel itu ditaksir 80 ribu orang pemudik menggunakan trend baru dengan memanfaatkan sepeda motor, katanya.
Apalagi dengan kenaikan harga BBM maka pilihan menggunakan sepeda motor menjadi alternatif untuk menghemat biaya berpergian, tambahnya.
Mengasikan
Pengalaman penulis sendiri beberapa kali mudik lebaran dari kota Banjarmasin menuju sebuah desa di Kaki Pegunungan Meratus Kabupaten Balangan sekitar 215 kilometer merupakan perjalanan yang mengasikan.
Walau perjalanan begitu jauh tetapi dengan perasaan suka dan senang maka perjalanan menjadi terasa tidak jauh.


Para pemudik lebaran menggunakan sepeda motor ini biasanya berangkat dari pagi hari menuju siang atau dari siang hari menuju malam, lama perjalanan antara Banjarmasin dengan tujuan Banua Enam (enam kabupaten Utara Kalsel) biasanya ditempuh antara tiga hingga lima jam.
Rute pertama rombongan konvoi kendaraan ini berangkat dariu Banjarmasin menuju Banua Enam dengan beberapa tempat persinggahan.
Bila disaat tidak bulan  puasa biasanya tempat persinggahan adalah warung-warung kecil atau rumah makan di Pulau Pinang atau Binuang Kabupaten Tapin.
Tetapi saat musim lebaran dimana para pemudik sedang menjalan ibadah puasa, biasanya tempat persinggahan adalah perkebunan karet unggul di dekat Binuang karena di perkebunan tersebut rimbun dan dingin dan dibawah nya bersih.
Tak jarang di bawah perkebunan karet unggul itu, puluhan hingga ratusan pengendara sepeda motor istirahat dengan menggelar tikar lalu saling berbarengan mengurangi kepenatan.
Bahkan bagi anak-anak yang tidak sedang berpuasa biasanya mereka menggelar makanan dengan makan beramai-ramai di bawah rindangnya pohon karet dengan hembusan angin segar pegunungan kawasan tersebut.
“Kalau kita naik angkutan umum, jangan harap kita bisa menikmati suasana seperti ini, karena supir angkutan umum biasanya enggan berlama-lama istirahat,” kata seorang pengendara bergurau dengan penulis.
Keasikan lain dengan menggunakan kendaraan roda dua, dimana ingin singgah maka disitu singgah, seperti kalau lagi melihat ada tempat penjualan buah maka bisa beli buah, atau barang apa saja yang dilihat di tepi jalan mudah disinggahi untuk dibeli.
Kebiasaan pemudik lebaran naik kendaraan roda dua ini tidak sendirian melainkan harus berjanjian dan berbarengan berangkat dengan tetangga dengan tujuan sama atau sanak pamili sehingga berangkat berbarengan ini juga menjadi kesikan tersendiri.
Maksudnya berangkat berbarengan dan berkonvoi ini tak lain bila dalam suatu perjalana mendapat masalah, seperti sepeda motor mogok maka secara gotong royong bisa diperbaiki bersama-sama.
Begitu pula bila dalam perjalanan ada pengendara yang sakit maka di salah satu peserta konvoi mubik lebaran ini ada yang membawa obat-obatan sesuai dengan penyakit yang diderita pengendara tersebut hingga ada kesan saling kebersamaan dan saling menolong.
Melihat kemudahan dan murahnya mudik lebaran dengan kendaraan bermotor roda dua ditambah ada nilai keasikan tersendiri maka mudik lebaran konvoi sepeda motor menjadi trend baru di Kalimantan selatan.

 

MIMPI KALSEL KAWASAN PRODUKSI BAJA DIAMBANG KENYATAAN

  Oleh Hasan zainuddin
 Banjarmasin,19/6 (ANTARA)- Komsumsi Baja di Indonesia dinilai menduduki posisi yang paling rendah di kawasan Asia Tenggara (Asean), padahal kalau melihat penduduk Indonesia yang mendekati 220 juta jiwa merupakan potensi pasar yan sangat besar di masa mendatang.
 Melihat potensi pasar Indonesia yan sangat besar tersebut melahirkan semangat berbagai pengusaha dan pemerintah daerah yang memiliki cadangan tambang biji untuk mendirikan kawasan pabrik baja, tak terkeuali Kalimantan Selatan.
 Gubernur Kalsel, Drs.Rudy Ariffin kepada pers mengakui bahwa wilayah ini sudah lama mengincar pendirian pabrik baja mengingat potensi tambang biji besi relaif begitu besar.
 Kawasan Kalsel dinilainya cukup strategis sebagai kawasan produksi baja di tanah air, selain memiliki tambang bahan baku pabrik baja yang besar juga berbagai insfrastruktur sudah tersebut.
 Apalagi seluruh wilayah Kalsel tersambung jalan darat yang baik serta ada beberapa wilayah yang memiliki lapangan terbang dan pelabuhan samudera yang refresentatif, sehingga berprospek bagi pengembangan industri di masa mendatang.
 Ditambah posisi Kalsel yang berada paling Selatan Pulau Kalimantan, dekat Laut Jawa dan selat Makasar serta berada persis di tengah-tengah nusantara.

gambar bebatuan biji besi di Kalsel 
 Melihat prospek Kalsel itulah Wakil Presiden Yusuf Kalla yang dikenal sebagai sorang pengusaha tersebut menilai sudah saatnya Kalsel mewujudkan mimpinya sebagai produsen baja Indonesia.
 Menteri Perindustrian, Fahmi Idris ketika menhadiri penandatangan MoU antara PT Krakatau Steel (PTKS) dan Pemprop dan Pemkab Kalsel mengenai rencana pendirian pabrik baja di Kalsel itu belum lama ini meyakinkan, bahwa rencana pendirian pabrik baja ini merupakan investasi besar, sehingga akan terus ditindaklanjuti, tidak mungkin hanya sekedar MoU.
 “Tentu kita semua akan malu dan dipandang rendah oleh Wapres, bila rencana ini akan berhenti di MoU saja,” kata menteri menjawab kekhawatiran para bupati se Kalsel yang meragukan keinginan PTKS tersebut.
 Menurutnya, Wapres cukup serius untuk segera menindak lanjuti rencana espansi PTKS ke Kalsel.
  “Beberapa kali saya diminta Wapres untuk melakukan penyelidikan tentang rencana ekspansi PTKS ke Kalsel, dan dia tidak pernah menyebut daerah lain seperti Sumatera atau daerah lain yang juga memiliki biji besi,” demikian Fahmi Idris.
 Begitu besarnya keinginan Wapres dan Pemerintah Pusat serta Pemprop Kalsel mendirikan pabrik baja tersebut memang diakui menimbulkan berbagai pertanyaan di berbagai kalangan yang mempertanyakan kemampuan wilayah ini sebagai kawasan produsen baja di tanah air.
 Dari berbagai data yang diperoleh penulis memang menyabutkan potensi bahan baku untuk pabrik baja di Kalsel relatif cukup besar, seperti pada peta potensi biji besi yang ada di Kabupaten Tanah laut (Tala) tercatat 5,4 juta ton, Kabupaten Tanah Bumbu (Tanbu) 51,2 juta ton, Kabupaten Kotabatu 434,2 juta ton serta Kabupaten Balangan sebanyak 5,06 juta ton.
 Sementara tambang batubara sebagai pendukung pendirian pabrik baja untuk seluruh Kalsel tercatat sedikitnya memiliki cadangan 1.787,32 juta ton.
 Melihat prospek demikian pula maka ketika pemerintah pusat menggiring sebuah perusahaan baja terbesar nasional PTKS untuk menginvasi usaha ke Kalsel memperoleh respon positif dari perusahaan yang beroperasi di Celegon Jawa Barat tersebut.

 pembuatan krangka baja
 Sebab selama ini PTKS menggunakan bahan baku (pellet biji besi) 2,3 juta ton per tahun seluruhnya hasil impor yang membuat PTKS sangat tergantung sumber pamasok, angkutan kapal, dan harga.
 Makanya untuk meningkatkan daya saing, PTKS memandang perlu ntuk membangun industri besi baja yang berbasis pada bahan baku biji besi lokal.
 Direktur Utama PT. Krakatau Steel (KS) Ir. Daenulhay, MM,  mengungkapkan pembangunan pabrik baja Krakatau Steel di Kalimantan Selatan  di mulai paling lambat akhir tahun 2006 ini juga.
 Kepastian rencana pembangunan pabrik baja yang bakal menyedot ribuan tenaga kerja tersebut, disampaikan Daenulhay dalam acara ekspos rencana pembangunan PTKS di Kalsel, di hotel Banjarmasin International (HBI) Banjarmasin.
 Menurutnya, untuk segera merealisasikan pembangunan industri berskala international tersebut, Wakil Presiden Yusuf Kalla meminta agar PTKS segera membangun perkantoran di Kalsel.
 Selain itu, beberapa perusahaan dari beberapa negara seperti Cina, juga telah “meminang” PTKS untuk menanamkan investasinya dalam pembangunan pabrik baja di Kalsel.
 “Banyak perusahaan yang ingin menanamkan investasinya dalam pembangunan pabrik baja ini, bahkan rata-rata perusahaan tersebut telah melakukan ekspos,” katanya.
 Menurutnya, untuk tahap pertama, pembangunan pabrik akan dilakukan mulai 2006-2009, yang diperkirakan akan menelan dana sekitar 119 juta US Dolar.
 Pada tahap awal tersebut, kegiatan yang bakal dilakukan diantaranya yaitu tahun 2006 akan dilaksanakan eksplorasi, tahun 2007 akan dilakukan study banding  dan 2008 persiapan konstruksi.
 Sedangkan untuk pembangunan tahap dua akan direncanakan 2009-2013 dengan total dana sekitar 426 juta US Dolar.
 Diharapkan, pemerintah daerah maupun propinsi bersedia membantu rencana pembangunan pabrik baja ini, diantaranya dengan memberikan izin kuasa pertambangan kepada PTKS dan persiapan sarana prasarana termasuk pelabuhan, dan mengusulkan regulasi tataniaga industri baja.
 Sebelum acara ekspos tentang rencana pendirian pabrik baja di Kalsel, juga telah diadakan penandatanganan MoU antara PT Krakatau Steel dengan pemerintah Provinsi dan delapan Kabupaten di Kalsel.
 Delapan Kabupaten yang memiliki sumber daya alam biji besi yang ikut menandatangani MoU tersebut, yaitu Kabupaten Tanah Laut (Tala), Tapin, Balangan, Banjar, Hulu Sungai Tengah (HST,) Banjarbaru, Kota Baru dan Tanah Bumbu (Tanbu).
 Pihak Pemkab di Kalsel menyambut antusias rencana PTKS beroperasi di wilayah ini bahkan antar kabupaten/kota se Kalsel rebutan untuk menjadi lokasi pabrik baja PTKS.
 Bupati Tanah Laut Drs. Adriansyah berharap perusahaan yang bakal menyedot ribuan tenaga kerja tersebut di bangun di Tala, alasannya Tala, kabupaten yang sangat strategis dan cocok untuk rencana pembangunan perusahaan baja tersebut, mengingat seluruh sarana prasarana, baik itu jalan, pelabuhan telekomunikasi, listrik dan lahan sudah sangat memadahi.
  Sementara Bupati Tanbu dr. Zairullah Azhar juga tidak kalah hebatnya mempromosikan daerahnya, agar PTKS tertarik untuk membangun perusahaan baja tersebut di daerahnya.
 “Bila dilihat depositnya Kotabaru adalah yang paling banyak sehingga paling cocok untuk dibangun perusahaan baja, namun akan lebih baik bila perusahaan yang telah banyak mendatangkan devisa tersebut dibangun di Tanbu” katanya.
 Alasannya, tambah Zairullah, Tanbu merupakan kabupaten yang dekat seluruh kabupaten di Kalsel, karena seluruh daerah berbatasan dengan daerah lainnya, seperti Kotabaru, Tala, Tapin, HST dan lainnya.
 Selain itu, Tanbu mempunyai sarana prasarana yang jauh lebih memadai, baik itu sarana pelabuhan maupun jalan.
 Tampaknya, Kabupaten Kotabaru yang diwakili Sekdanya tidak mau kalah mengincar PTKS agar ke wilayah mereka sebab tambahnya deposit biji besi yang paling banyak adalah Kotabaru, yang paling cocok untuk didirikan perusahaan baja adalah Kotabaru.
 Beberapa kalangan menyatakan gembira begitu antusiasnya berbagai pihak meninvestasikan modal dalam pendirian pabrik baja di Kalsel itu, tapi itu diharapkan bukanlah bagian dari mimpi yang berkepanjalamaan, tetapi sebuah gapura yang harus direalisasikan.

TEKNOLOGI PEMADAMAN KEBAKARAN LAHAN GAMBUT SOLUSI ATASI TRAGEDI ASAP

              Oleh Hasan Zainuddin
 Banjarmasin,17/10 (ANTARA)-Bila anda berkunjung Ke Kalimantan Selatan, disaat musim kemarau seperti sekarang ini dan melewati wilayah Kecamatan Gambut, Kabupaten Banjar, pasti  anda akan kaget dan boleh jadi anda akan ketakutan, karena seperti anda aberada di dalam awan tebal.
 Padahal wilayah Kecamatan Gambut Kabupaten Banjar ini dilintasi trans Kalimantan yang paling padat arus lalu-litasnya dibandingkan trans  Kalimantan dimana saja, termasuk jalur jalan antara pusat Kota Banjamasin ke airpot Syamsudin Noor.
 Oleh karena itu setiap kali ada pendatang ke Banjarmasin disaat musim kmarau seperti ini akan bisa merasakan tragedi asap yang selalu terjadi setiap musim kemarau.
 Kabut asap di sepanjang Jalan A Yani Kecamatan Gambut ini kian pekat disaat pagi hari hingga menjelang siang, sebagai gambaran saja melali jalur jalan tersebut harus eksra hati-hati, pasalnya seoarng pengemudi mobil atau pengendara sepeda motor hanya bepatokan dengan garis putih marka jalan.
 Pasalnya dari badan jalan tersebut pada saat kabut pekat pandangan paling jauh hanya lima meter saja, salah satu panduan agar mobil yang dikendarai tidak terpeleset ke pinggir jalan  bahkan bisa jadi kecebur ke sungai mengingat sepanjang jalan itu adalah sungai adalah mengikuti garis putih jalan.
 Seringkali pengemudi yang tidak mengikuti garis putih tersesat seperti pengemudi dari luar kota mau ke Banjarmasin, tersesat justru ke arah Pelaihari ibukota Kabupaten Tanah laut.
 Tetapi bagi pengendara mobil yang mampu melewati kawasan trans Kalimantan di Kecamatan Gambut sekitar 20 kilometer itu maka tidak bakal lagi ketemu kondisi yang buruk demikian.
 Kenapa hanya wilayah Kecamatan Gambut yang berkabut pekat sementara kabupaten lain tidak setebal itu, karena wilayah Kecamatan Gambut sesuai dengan namanya adalah wilayah paling bergambut (peat) di Kalimantan Selatan.
 Seperti dikemukan Kepala Dinas Kehutanan Kalsel, Ir Sony Partono kepada penulis, wilayah ini tak bisa terhindar dari serbuan kabut asap disaat musim kemarau, karena lahan di sana bila terbakar memproduksi asap begitu banyak.
 Tidak dengan kebakaran hutan atau lahan semak belukar lainnya, bila api sudah padam maka asap tidak akan kembali muncul, namkun di lahan gambut kendati api sudah padam namun kepulan asap tebal terus saja terjadi di lahan itu gambut yang terbakar  itu berminggu-minggu, bahkan kadangkala memunculkan lagi kobaran api.
 Tetapi untuk menghentikan produksi asap itu sangat sulit, lantaran tidak ada teknologi yang efektif memadamkan api di kebakaran lahan gambut.
 Sementara kebakaran regu kebakaran yang ada di kalsel yang mungkin sekitar  200 unit terutama di Banjarmasin tidak punya keahlian memadamkan api di lahan gambut demikian.
 Masalahnya memadamkan api di lahan hutan dan semak elukar atau kebakaran pemukiman cukup menyemprotkan api ke pusat api, api padam maka pekerjaan selesai.
 Tetapi kalau memadamkan api di lahan gambut tidak bisa demikian, karena walau api dipermukaan sudah padam namun api tetap membara di kedalaman bawah lapisan gambut, dan suatu saat akan memunculkan kembali kobaran api baru.
 Selain itu di lapisan tebal gamut itu ternyata memproduksi asap pekat ke udara berhar-hari bahkan berminggu-minggu dan itulah yang menyebabkan asap di kecamatan gambut tidak seperti di daerah lain.
 Sementara satu tim pemadam kebakaran hutan yang dibentuk pemerintah Manggala Agni walau berkemampuan memadamkan api di lahan gambut, yakni dengan cara “menyuntikan” moncong selang pemadam kebakaran ke dalam tanah, tetapi tenaga dan faslitas tim ini sangat terbatas.
 Keberadaan tim inipun hanya ada di Kabupaten Tanah laut dan Tanah Bumbu dengan alat bebetrapa buah mobil kebakaran hutan saja, itupun saranya terbatas pula, akhirnya tidak mampu memadamkan kebakaran api yang begitu luas.

 pemadaman kebakaran  lahan gambut di Kalsel
 Apalagi kebakaran tahun ini dikatagorekan kemarau paling panas, dimana kebakaran hutan dan semak belukar mencapai enam kali ipat jumlahnya dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.
 Data terakhir jumlah titik api yang berhasil dipantau satelit sejak tahun 2006 ini sudah mencapai 5.351 titik  api, tetapi dari jumlah tersebut, hanya 20 persen yang berada di lahan hutan produksi selebihnya adalah di lahan terbuka, seperti semak belukar, padang alang-alang, perkebunan, pertanian, serta lahan gambut.
 Usaha pemadaman api di wilayah Kalsel itu menurut Sekretaris Satuan Pelaksana Penanggulangan Bencana (Satkorlak PB) Kalsel, Drs.Hadi Soesilo sudah maksimal dilakukan, selain menerjunkan tim dari regu pemadam kebakaran tradisoonal yang ada juga dari tim Manggala Agni sendiri.
 Bahkan melalui Basarnas, telah melakukan penanggulangan kebakaran hutan dan semak belukar tersebut melalui hujan buatan dengan cara peneburan garam ke udara oleh sebuah pesawat hercules, tetapi hujan buatan tersebut gagal membuahkan hujan.
 Masalahnya, kata Hadi Seosilo yang juga dikenal sebagai Ketua Badan Kesatuan Bangsa dan Perlindungan Masyarakat (Kesbanglinmas) Kalsel itu, awan di udara Kalsel tidak mencukupi untuk mengumpulkan butiran air hujan.
 Konon, tambahnya, ketiadaan awan di udara Kalsel tersebut lantaran terjadi badan di udara China yang menyebabkan kosentrasi awan berali ke sana sehingga di wilayah ini ketiadaan awan pembentuk hujan.
 Gubernur Kalsel, drs.Rudy Ariffin sendiri ketika ditanya wartawan mengaku pusing juga dengan tragedi asap demikian, harus bagaimana, upaya sudah dilakukan, bahkan doa kalangan ulama dan masyarakat sudah pula dilakukan, melalui shalat istiqsa tinggal kemampuan teknologi saja yang haus dikuasi untuk memadamkan kebakaran hutan terutama lahan gambut tersebut.
 “Mobil regu pemadaman kebakaran yang kita miliki kan terbiasa memadamkan api di pemukiman dan hutan biasa tidak teramil di lahan gambut, makanya kedepan teknologi pemadaman api di lahan gambut itu harus dikuasai,” katanya.
 salah satu penyebab kemampuan regu kebakaran di wilayah ini memadamkan api di lahan hutan gan gambut lantaran minimnya fasilitas dan peralatan, sebagai contoh kecil saja tidak memiliki selang air yang panjang yang mampu masuk ke lahan hutan dan dan hamparan gambut yang terbakar.
 Untuk melengkapi sebuah mobil pemadaman kebakaran hutan dan lahan gambut ini memag dipelukan dana sangat besar, satu unit bisa mencapai Rp20 miliar, sehingga kalau harus ada beberapa unit maka biaya yang diperlukan begitu besar.
 Bukan hanya alat tetapi keterampilan regu pemadam itu sendiri serta teknologinya harus pula dikuasai agar dimasa mendatang lebih mudah mengatasi kebakaran hutan yang menyebabkan udara Indonesia ini berasap.
 Dengan udara berasap maka kesehatan mayarakat seperti di Banjarmasin terganggu, dimana penyakit inspeksi saluran pernapasan bagian atas (Ispa) meningkat dua kali lipat, begitu juga penyakit asma dan penyakit pernapasan lainnya.
 Kabut asap membuat kota Banjamasin ibukota Kalsel seringkali dilanda mendung yang bukan berati akan hujan, matahari terlihat seperti bulan dan bewarna jingga, walau siang terasa senja bahkan  diserbu hujan kelalatu (benda hitam bekas tanaman terbakar).
 Bukan hanya Kalsel yang memiliki lahan gambut yang memiliki kabut asap, tetapi juga berdasarkan keterangan dimana wilayah yang bergambut tebal semuanya dilanda serbuan kabut asap ini.
 Sebagai contoh saja, dari empat Propinsi Kalimantan hanya Kalimantan Timur yang tidak memliki hamparan gambut, dan agaknya propinsi ini walau berasap hanya kiriman, sementrara Kalimantan Selatan, Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Barat semuanya bergambut dan kabut tebal telah melanda ketiga wilayah ini.
 Begitu juga di Pulau Sumatera dimana wilayah terdapat hamparan gambut tebal seperti Propinsi Riau, Jambi, dan Sumatera Selatan tak bisa dipungkiri wilayah yang memproduksi asap tebal yang menyebar kema-mana.
 Sedangkan propinsi lain di Sumatera seperti  Sumatera Utara, Sumatera Barat, dan propinsi lainnya yang hamparan gambut relatif kecil maka serbuan asap juga tidak sehebat di propinsi yang memliki hamparan gambut.

OBJEK WISATA PASAR TERAPUNG MUNGKIN TINGGAL KENANGAN

 Oleh Hasan Zainuddin
 Bagi seseorang yang belum pernah menyaksikan aktivitas pasar terapung  di Sungai Barito Banjarmasin, Propinsi Kalimantan Selatan  mungkin membayangkan  begitu ramainya kegiatan pasar tersebut, setidaknya bayangannya seperti yang selalu terlihat ditayangan televisi swasta RCTI.
 Padahal keramaian pasar yang satu-satunya berada di atas air di Indonesia itu belakangan tidak seperti itu lagi, karena sudah jauh berkurang baik jumlah pelaku transaksi di pasar itu  maupun waktu kegiatannya yang sekarang hanya tinggal beberapa jam saja.
 Penulis sendiri ketika  mengunjungi kawasan pasar yang pelaku transaksinya didominasi kaum ibu itu menyaksikan begitu berkurangnya aktivitas di wilayah objek wisata yang sudah dikenal luas tersebut.
 Beberapa pedagang pasar terapung menyebutkan berkurangnya aktivitas di pasar tersebut lantaran prasarana darat ke berbagai pelosok desa di Banjarmasin dan daerah sekitarnya termasuk wilayah Kabupaten Barito Kuala sudah mulai membaik.
 Tersedianya jalan darat itu maka banyak pedagang  eceran tidak lagi menggunakan sampan (perahu) melainkan menggunakan kendaraan roda dua atau sepeda.
 Penyebab  berkurangnya aktivitas di pasar terapung itu bukan semata tersedianyaa jalan darat, melainkan pula begitu banyak aktivitas kapal angkutan umum dan angkutan karyawan yang melintasi kawasan pasar terapung perairan desa Kuin dan Alalak itu.
 Terlihat  tiga buah kapal fery penyebarangan untuk mengangkut penumpang umum dan karyawan perusahaan kayu antara Desa Kuin ke Handil Subarjo Kabupaten Barito Kuala bolak-balik melintas persis di tengah pasar terapung.
 Tidak jarang kapal ferry itu begitu kencang jalannya melahirkan gelombang air yang besar, dengan demikian pengguna jukung kecil yang biasanya paling banyak di pasar terapung itu menjadi takut terhantam gelombang itu, karena bila tidak hati-hati bisa tenggelam.
 “Operasi kapal ferry penyebarngan dua wilayah itu sudah berlangsung tiga tahun belakangan ini, sejak itulah kegiatan pasar terapung agak berkurang,”kata Bahri seorang pedagang soto Banjar terapung di kawasan tersebut.
 Belum lagi hilir mudiknya kapal pengangkut karyawan perusahaan kayu lapis, seperti kapal milik PT Barito Pasific, PT Tanjung Raya Group, PT Kawi, dan perusahaan PT Tanjung Selatan yang juga tak kalah kencangnya hilir mudik di tengah sekumpulan pedagang di pasar terapung itu.
 Kapal-kapal perusahaan tersebut kalau lewat kawasan ini juga kencang, sampai-sampai gelombang kapal itu seringkali menerpa paru kami yang sedang jualan ini, dan pernah piring dan gelas minum dagangan kami berguguran dari tempatnya dan pecah setelah perahu dihantam gelombang kapal karyawan itu.
 Setelah gencarnya gangguan kapal angkutan karyawan itu juga banyak pelaku pasar yang memiliki oerahu kecil takut berada di tengah sungai Barito dan akhirnya pelaku pasar berhenti sendirinya.
 Selain jumlah pelaku pasar berkurang, sekarang ini keadaan pasar terapung juga terpencar tidak lagi terkosentrasi persis tepi Desa Kuin melainkan terdapat tiga kelompom termasuk satu kelompok di wilayah Alalak yang berjarak sekitar 500 meter dari lokasi asal.
 Belum lagi adanya  kelompok-kelompok kecil seperti kelompok, pedagang ikan basah, kelompok pedagang beras, kelompok sayur-mayuran dan buahan yang memencarkan diri secara sendiri-sendiri.
 “Kalau membandingkan kondisi pasar terapung diera tahun 80-an dan 90-an lalu dengan sekarang jauh sekali berubah, sehingga banyak pendatang ke objek wisata tersebut merasa kecewa setelah menyaksikan kondisi sekarang, mereka membayangkan kondisi pasar terapung itu seperti yang terlihat di layar RCTI itu,”kata Bahri.
 Sementaran keterangan dari Dinas Pariwisata Kota Banjarmasin, menyebutkan bahwa pihak pemerintah berusaha menyelamatkan objek wisata tersebut dari kepunahan dengan memberikan bantuan modal kepada para pelaku di pasar itu melalui koperasi.
 Selain itu, pemerintah pusat melalui Menteri Koperasi dan Usaha Kecil Menengah (UKM) juga akan membantu sebuah kapal wisata yang refresentatif yang bisa digunakan untuk para  wisatawan ke areal tersebut.
 Bahkan sekarang pemerintah telah membangunkan sebuah dermaga wisata di tempat itu sekaligus membangun sebuah tempat penginapan agar wisatawan bisa menyaksikan kegiatan pasar terapung lebih awal setelah menginap di penginapan sederhana tersebut.
 Menteri Kebudayaan dan Pariwisata, Jero Wacik ketika berada di Banjarmasin saat festival Borneo mengagumi keberadan objek wisata andalan Kalsel yang menurutnya  tidak kalah dibandingkan pasar terapung yang ada di Bangkok Thailand, maupun di  Italia.
 Pemerintah sendiri berkewajiban untuk melestarkan pasar tersebut dengan segala upaya, baik pemerintah pusat, pemerintah propinsi, maupun pemerintah  Kota Banjarmasin sendiri.
 Ketika berada di Banjarmasin tersebut, Jero Wacik bersama dengan Wakil Gubernur Kalsel, Rosehan NB, Walikota Banjarmasin Yudhi Wahyuni serta Kepala Dinas Pariwisata Kalsel, Bihman Yulinasyah mengelilingi lokasi pasar terapung, kala itu Menteri terasa betah berada di kawasan wisata perairan tersebut.
 Oleh karena itu Menteri menyarankan agar secara bersama-sama semua pihak bagaimana agar pasar yang konon sudah berada di Sungai Barito sejak kerajaan Banjar itu sudah terus lestari hingga kapanpun, baik sebagai lokasi ekonomi masyarakat maupun sebagai kegiatan budaya dan pariwisata.
 Pasar terapung Banjarmasin ini merupakan objek wisata andalan yang sudah dipromosikan secara gencar oleh Pemprop Kalsel hingga ke berbagai mancanegara, dengan membagikan famlet, brosur ke perusahaan p;enerbangan, hotel berbintang, travel, biro perjalanan, dan aktivitas wisata lainnya termasuk promosi dari mulut kemulut wisatawan itu sendiri.
 Pasar itu  biasanya mulai beraktivitas pada pukul 06.00 Wita  dan berakhir sekitar pukul 09.00 Wita karena sifatnya pasar ini pedagang grosir untuk melayani pedagang eceran yang kemudian membawa hasil pembelian itu ke kampung-kampung yang bisa dilalui angkutan sungai untuk dijual lagi ke masyarakat.
 Namun berbagai kalangan menilai kalau kondisi pasar terapung yang terus berkurang kemudian tidak menjadi perhatian semua pihak bisa jadi masa yang akan datang, objek wisata unik yang bisa diandalkan meraih kedatangan wisatawan mancanegara itu kemungkinan tinggal kenangan saja lagi.

 

 

 

“FESTIVAL PASAR TERAPUNG” UPAYA LESTARIKAN BUDAYA SUNGAI
                 Oleh Hasan Zainuddin
      Banjarmasin,14/6 ()-Satu dasawarsa lalu, keberadaan pasar terapung (floating market) begitu semarak, namun kesemarakan aktivitas transaksi di kawasan pasar di atas Sungai Barito dan Sungai  Martapura, Banjarmasin Propinsi Kalimantan Selatan (Kalsel) tersebut belakangan mulai berkurang.
      Banyak yang mengkhawatirkan pasar terapung menjadi objek wisata andalan Kalsel tersebut bakal punah, menyusul zaman terus bergulir dimana pelaku transaksi di pasar yang sudah ada sejak berabad-abad tersebut  mulai mengalihkan kegiatannya ke darat.
       Pemerintah Propinsi (Pemprop) Kalsel melalui Dinas Pariwisata dan Budaya setempat pun turut mengkhawatirkan punahnya objek wisata  yang ada di Desa Kuin Sungai Barito, maupun di Desa Lok Baintan Sungai Martapura itu, seperti dituturkan Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kalsel, Drs.Bihman  Muliansyah.
      Kekhawatiran hilangnya pasar terapung itu kini mulai terbukti, setelah berkurangnya aktivtas pelaku pasar terapung di dua lokasi tersebut.     
      Pelaku di pasar terapung kebanyakan adalah pedagang eceran, yang membeli barang kebutuhan pokok, seperti sayuran, ikan, buah-buahan, dan bahan makanan termasuk sembilan kebutuhan pokok di pasar terapung.
     Setelah membeli barang dagangan di pasar terapung pedagang eceran yang menggunakan jukung (sampan kecil) itu menyusuri sungai-sungai kecil di pemukiman penduduk untuk menjual baranbg dagangan itu lagi ke masyarakat, begitulah setiap hari sehingga keberadaan pasar terapung dinilai vital sekali.
      Tetapi setelah jalan darat di tiga wilayah seperti di Kota Banjarmasin, Kabupaten Banjar, dan Kabupaten Barito Kuala (Batola) mulai tersedia  maka pedagang eceran beralih  berdagang menggunakan sepeda, atau sepeda motor. Merekapun tak lagi membeli barang jualan di pasar terapung tetapi di pasar induk di ketiga wilayah tersebut.
      Akibatnya bukan pedagang kecil saja yang tak lagi mendatangi pasar terapung tetapi juga pedagang besar (grosir) kini mulai enggan pula mendatangi kawasan pasar terapung Desa Kuin Sungai Barito tersebut.
      Melihat kenyataan tersebut, maka bisa jadi nantinya pasar terapung tidak lagi keberadaannya secara alamiah seperti sekarang .  Artinya pasar terapung tak lagi menjual barang  kebutuhan masyarakat, melainkan hanya rekayasa seperti layaknya pasar terapung di objek wisata  Bangkok Thailand yang hanya menjual barang cenderamata.
       Untuk melestarikan pasar terapung itulah maka berbagai upaya telah dilakukan termasuk membina para pedagang agar tetap bertahan di lokasi tersebut. 
       “Kegiatan Festival Pasar Terapung (FPT) tanggal 21-22 Juni 2008 mendatang merupakan satu bagian dari upaya pelestarian pasar terapung itu,” kata Bihman Muliansyah.
       Guna mensukseskan FPT itu Pihak Disbudpar Banjarmasin maupun Disbudpar Kalsel kini sudah mempersiapkan matang penyelanggaraannya. Koordinasi terus dilakukan bukan saja kedua instansi itu tetapi juga dengan pihak Bank Indonesia (BI) Banjarmasin mengingat BI terlibat juga pendanaan dalam kegiatan tersebut.
      Koordinasi juga dengan pihak kepolisian yang menerjunkan polisi wisata, serta dengan Himpunan Pramuwisata Indonesia (HPI) Kalsel yang diharapkan peran pramuwisata mensukseskan event tersebut dengan cara mendampingi para wisatawan selama di wilayah ini, termasuk koordinasi dengan Asita Kalsel, Perhimpunan Hotel dan Restauran Indonesia (PHRI), agen perjalanan  dan komunitas pengelola wisata Kalsel lainnya.    
      Kadisbudpar Banjarmasin Hesly Junianto menuturkan,  panitia membangun sebuah miniatur perkampungan suku Banjar, (kampung banjar) di tepian Sungai Martapura, atau halaman kantor Gubernur Kalsel, jalan Sudirman Banjarmasin.untuk mendukung kegiatan budaya dan  pariwisata di arena FPT.
     Melalui kampung Banjar para wisatawan bisa melihat aneka jenis budaya masyarakat Banjar yang tinggal di Kalsel, tanpa harus mendatangi wilayah 13 kabupaten/kota  yang ada di provinisi ini, karena lokasi itu diisi perwakilan warga kabupaten/kota Kalsel.
     Melalui kampung Banjar itu pula terdapat aneka kerajinan suku Banjar, lukisan daerah Banjar, serta aneka peralatan tradisional seperti alat pendulangan intan  setempat, disamping akan digelar festival kuliner yang menyajikan aneka macam penganan dan masyarakat khas daerah ini yang disebut makanan 41 macam.
     Di perkampungan buatan itu pula akan digelar pameran berbagai potensi ekonomi dan sosial budaya daerah Kalsel, pameran kerajinan rakyat, serta pameran foto kampung Banjar tempo dulu.
    Di lokasi itu pula digelar festival permainan rakyat, seperti permainan anak-anak Kalsel tempo dulu, badaku, balogo,bagasing, batungkau, lariu menggunakan sandal terbuat dari tempurung kelapa, dagongan,bakarasminan termasuk menampilkan seni budaya 13 kabupaten/kota se Kalsel, serta festival sinoman hadrah.
    Sedangkan kegiatan di atas sungai Martapura, terdapat lomba jukung hias yang sudah dinyatakan diikuti 250 peserta, lomba jukung tradisional (sampung jaga), lomba jukung tanglong yang diikuti ratusan peserta pula.
    Bahkan ada  farade atau kegiatan   modeling di atas perhu yang diikuti oleh peragawan dan peragawai menggunakan kain khas Kalsel, Sasirangan, tambah Hesly Junianto.
    Dalam acara pembukaan tersebut selain dihadiri Gubernur Kalsel, Drs.Rudy Ariffin yang sekaligus memberikan sambutan pembukaan, juga ada sambutan dari Dirjen Pemasaran Departemen Kebudayaan dan Pariwisata.
     Selama pembukaan kesenian yang disajikan adalah tarian baksa kembang, tarian radap rahayu, pegelaran musik panting, serta madihin.
    Pada malam harinya kegiatan dimeriahkan penampilan hiburan rakyat, serta pesta kembang api, kata Hesly yang didampingi kepanitiaan lainnya dalam konferensi pers menyambut penyelanggaraan akbar tersebut.
    Pengunjung yang diharapkan menghadiri sesuai dengan undangan yang sudah disampaikan antara lain para pejabat daerah, pejabat pemerintah pusat, perwakilan negara asing yang undangannya sudah disampai ke Departemen Luar Negeri , dan kalangan pejabat dari Departemen Kebudayaan dan Pariwisata.
    Pemerintah Propinsi yang diundang khususnya dinas yang menangani kebudayaan dan pariwisata yang  sudah menyatakan datang, dari pemerintah Kalimantan Barat, Kalimantan Timur, Kalimantan Tengah, Jawa Barat, dan Jawa Timur, serta propinsi lainnya.
    Kemudian juga diundang asosiasi, dewan kerajinan nasional, Asita, PHRI, HPI, serta media cetak dan elektronika baik di daerah dan Jakarta.
                    Kalender
    Pemvrop Kalsel akan  menjadikan FPT sebagai kalender kepariwisataan Kalsel, digelar tiap tahun, dan selalu dipromosikan  melalui berbagai media massa dan pembagian brosur dan buku wisata  ke seluruh biro perjalanan dan agen wisata.
     Menurut Kadisbudpar Kalsel Bihman  Muliansyah karena ini kalender kepariwisataan maka penyelanggraan yang pertama ini akan menjadi contoh kesukseskan guna menggelar berikutnya.
      “Kita mengujicoba kemampuan kepastiaan, FPT khususnya dalam koordinasi. Kalau koordinasi antar instansi dan pihak yang terlibat cukup baik, maka pola ini yang akan dilakukan ketika menggelar event budaya yang lainnya, “katanya.
      FPT di Kalsel merupakan program nasional yang diselanggarakan di daerah selama VIY, sedangkan kegiatan lain adalah Mappanretasie (memberi makan laut) di Pantai Pagatan, Kabupaten Tanah Bumbu (Tanbu).
     Acara Baayun Anak saat Mauludan Rasul di masjid Al Mukaramah, Desa Banua Halat Kabupaten Tapin, juga merupakan event budaya dan kalender keparwisataan Kalsel yang selalu dipromosikan selama VIY 2008 dan visit Kalsel tahun 2009. Kegiatan lain adalah budaya aruh ganal (selamatan besar) di pemukiman suku  Dayak Pedalamam Kalsel atau di Pegunungan Meratus.
    FPT di Banjarmasin ini sudah pula dipublikasikan secara luas agar masyarakat Kalsel dan masyarakat indonesia dan mancanegara mengetahuinya sehingga memancing wisatawan datang menyaksikan festival tersebut.
     Menurut Bihman Muliansyah yang juga dikenal sebagai ketua I, kepanitian FPT tersebut,   beberapa biro perjalanan di tanah air sudah menyatakan membawa wisatawan datang ke daerah ini.
    Umpamanya saja biro perjalanan di Jawa Timur, Jogyakarta, Jawa Tengah, Jawa Barat, dan Jakarta menyatakan kesediaan datang ke Kalsel, Sementara warga asal Kalsel yang sudah lama tinggal di daerahlain juga sudah menyatakan bakal datang menyaksikan kegiatan budaya tersebut, seperti dari Pulau Jawa, dari Indragiri Hilir (Inhil) Riau, serta dari Malaysia.
     “Kita berharap FPT kali ini sukses, sebagai ajang menyambut Visit Indonesia Year (VIY) tahun 2008, sekaligus menyabut visit Kalsel tahun 2009, disamping berhasil memelastarikan budaya sungai pasar terapung, yang sudah begitu dikenal luas di tanah air, setelah selalu ditayangkan melalui televisi swasta di Jakarta,” kata Bihman Muliansyah.

BELI LISTRIK SWASTA, KIAT PLN KALSEL/TENG TAMBAH DAYA

Oleh Hasan Zainuddin
Banjarmasin,1/1 (ANTARA)- Sekarang ini agaknya terbuka lebar bagi investor swasta yang  memiliki uang banyak meinvestasikan uangnya untuk pembangunan pembangkit listrik, pasalnya energi listrik itu bakal laku dijual dan dibeli pihak PT Perusahaan Litrik Negara   (PT PLN) sendiri, keuntungan sudah pasti didepan mata.
Pembelian listrik milik swasta tersebut sudah dilakukan pihak PT PLN Wilayah Kalimantan Selatan dan Kalimantan Tengah (Kalselteng) dalam upaya menambah daya listrik bagi kebutuhan masyarakat di dua propinsi bertetangga di puau paling besar nusantara, Kalimantan ini.

General Menejer PT PLN Wilayah Kalsel/teng, Ari Agus Salim sendiri mengakui pihaknya agak kewalahan untuk memenuhi energi listrik untuk masyarakat di kedua wilayah tersebut yang kebutuhan listriknya terus meningkat.
Ia menyebutkan untuk memenuhi kebutuhan lsitrik itu, maka pihaknya tanpa malu membeli listrik dari beberapa perusahaan kayu yang ada di Banjarmasin.
Beberapa pabrik kayu lapis yang beroperasi di Banjarmasin memiliki pembangkit listrik sendiri seperti Pembangkit Listrik tenaga Diesel (PLTD) dan Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU)  untuk kegiatan mereka, tetapi kebutuhan tenaga listrik mereka melebihi dari kebutuhan  perusahaan itu, dan kelebihan itulah yang dibeli PLN.
Selain itu ada juga sebuah perusahaan pabrik semen yang memiliki Pembangkit Listrik Tenag uap (PLTU) di Batulicin, Kabpaten Tanah Bumbu yang memiliki kelebihan tenaga lstrik juga dibeli PLN.\
“Pokoknya bila ada swasta yang mempunyai energi listrik bersedia dibeli, oleh sebab itu silahkan swasta bangun pembangkit baru dan dijual ke PLN kita beli asal sesuai aturan,”mkata Ari Agus Salim.
Kalau dikumpul-kumpulkan kelebihan listrik swasta yang berasal dari perusahaan-perusahaan di kalsel itu lalu dibeli PLN mencapai sekitar 10 mega watt (MW), lumayan untuk menambah kemampuan suplai PLN ke masyarakat.
Perusahaan kayu yang ada di Banjarmasin menjual listriknya ke PLN itu, seperti perusahaan kayu lapis PT Wijaya, serta PT Gunung Meranti.
Menurut sebuah  catatan kondisi kelistrikan di Kalselteng berdasarkan katagori yang dibuat pemerintah memang termasuk daerah yang kritis, yang masih memerlukan tambahan tenaga listrik, baik untuk industri, rumah tangga, atau penerangan jalan.
Jumlah daya listrik yang ada di Kalsel/teng dalam sistem Barito secara terkoneksi tercatat sekitar sekitar antara 250 hingga 255 MW, sedangkan kebutuhan listrik di Kalsel/teng sekitar 235 hingga 240 MW, dalam kondisi pembangkit normal memang tidak ada masalah tetapi bila ada pembangkit yang mengalami gangguan maka terjadi persoalan, hingga harus terjadi pemadaman yang bergiliran.
Seperti pemadaman yang bergiliran di wilayah Kalsel/teng belum lama ini sangat menjadi keluhan warga setempat, tak jarang akibat pemadaman listrik tersebut menimbulkan berbagai persoalan, antara lain seringnya terjadi kebakaran akibat lampu templok yang tumpah, atau lilin yang jatuh kemudiam membakar sebuah rumah hingga terjadi kebakaran besar.
Berdasarkan catatan pula sedikitnya sepuluh kali kebakaran di Banjarmasin selama terjadinya pemadaman listrik yang bergiliran setelah PLTU Asam-asam berkapasitas 65 kali 2 MW milik PT PLN mengalami kerusakan.
Protes warga ke PLN di wilayah ini begitu sering terdengar bukan saja melalui komentar di berbagai media massa cetak dan elektronik tak sedikit pula bentuk protes masyarakat itu ditunjukkan melalui sebagai demontrasi mendatangi kantor PLN setempat.
Menurut warga, akibat seringnya pemadaman bergiliran tersebut bukan saja menambah biaya kehidupan sekaligus merugikan akibat banyaknya peralatan elektronik di rumah tangga yang rusak setelah listrik byar pet.
“Terus terang saya sangat kecewa pelayanan PLN belakangan ini, terkesan seenaknya melakukan pemadaman, padahal banyak kegiatan warga yang membutuhkan pelananan listrik, seperti acara perkawinan, berbagai pertandingan olahraga di malam hari, dan kegiatan lainnya,”kata Muhamad penduduk kota Banjarmasin. \
Untung saja berbagai keluhan warga mengenai pemadaman listrik bergiliran selama berbulan-bulan itu ditanggapi serius pihak PLN Wilayah Kalsel/teng yang  memperbaiki PLTU Asam-asam sesuai jadual yang mengalami
Alhamdulilah perbaikan PLTU asam-asam tersebut sudah baik, dan hingga saat Natal, Tahun Baru dan seterusnya hingga Idul Adha dijamin tidak ada lagi pemadaman aliran listrik secara berguliran itu, kata Ari Agus Salim.
Jaringan listrik Kalsel/teng melalui sistem Barito itu memang disuplai terbesar melalui pembangkit PLTU Asam-asam, disamping  Pembangkit Listrik tenaga Air (PLTA) Riam Kanan berkapasitas 10 kali 3 MW,  serta puluhan PLTD berskala kecil dan pembelian dari  swasta akhirnya secara keseluruhan kemampuan daya listrik wilayah ini mencapai 250-155 MW.
Pihak PLN ke depan memang mengharapkan sekali penambahan pembangkit listrik baru, mengingat dana pemerintah terbatas silahkan swasta membangun pembangkit baru itu.
Berdasarkan berbagai reencana yang agaknya sudah pasti akan diwujudkan dalam upaya mengantisipasi kebuthan listrik yang terus meningkat tersebut akan dibangun pembangkit baru, khususnya PLTU milik swasta sebanyak lima buah.
\ PLTU Swasta yang segera dibangun itu seperti PLTU  Kapuas kapasitas 10 MW, PLTU Batulicin 2 kali 3 MW, PLTU Sampit 7 MW, PLTU Pangkalan Bun 7 MW, PLTU Kotabaru 2 kali 3 MW yang keseluruhan bila semua terwujud ada tambahan 60 MW.
Seluruh PLTU yang akan dibangun pihak swasta tersebut berada di mulut tambang batubara di berbagai kota Kalsel/teng itu, untuk memudahkan pengangkutan bahan bakar batubara yang menjadi bahan bakar PLTU tersebut.
Perkiraan pada tahun 2007 mendatang dua dari PLTU swasta tersebut sudah benar-benar terujud, dan PLTU yang lain ditaksir terwujud tahun berikutnya.
Sementara pihak  PLN sendiri merencanakan pembangunan PLTA di Sungai Kusan Tanah Bumbu kapasitas sebesar 40-60 MW, pembangunan pembangkit ini rencananya atas bantuan pemerintah Jepang.
Padahal berdasarkan pnelitian PLTA di Sungai Kusan ini bisa saja kemampuannya mencapai 120 MW tetapi bila itu dipaksakan maka akan banyak pemukiman penduduk yang tenggelam maka dampak sosialnya begitu mahal.
Satu lagi pemnagkit listrik tenaga air di kawasan Tanah Bumbu akan dibangun PLN tetapi skalanya kecil, tambahnya.\
Pembangunan pembangkit menggunakan tenaga air dam batubara tersebut dilakukan mengingat biaya operasi kedua pembangkit itu begitu murah.
Untuk pembangkit listrik tenaga air, biaya produksi hanya sekitar Rp35 per KWH, sementara kalau untuk tenaga desiel menggunakan bahan bakar solar dengan harga enam ribu rupiah lebih per liter, maka biaya produksi PLN Rp1000,- lebih per KWH, maka bila dijual dengan tarif sekarang Rp600,- per KWH maka PLN mengalami kerugian cukup besar.
Sementara kalau pembangkit berbahan bakar batubara biaya produksi relatif jauh lebih murah pula dibandingkan dengan BBM, makanya jalan terbaik adalah pembangkit listrik, tenaga air maupun uap.
Kerugian PLN Kalsel/teng akibat banyaknya pembangkit tenaga desiel itu cukup besar, sebelum kenaikan BBM saja rugi PLN wilayah tersebut sudah capai Rp150miliar per tahun, sebab biaya produksi tercatat Rp1,053 triliun, sementara penghasilan PLN wilayah itu hanya sekitar Rp995 miliar saja.
Kerugian tersebut mengingat 39 persen biaya produksi itu hanya disedot oleh penggunaan BBM, sedangkan 8 persen dari penggunaan bahan bakar batubara, dan 6 persen biaya pembelian listrik swasta

PLN KALSEL ANDALKAN MESIN TUA YANG “SAKIT-SAKITAN”
Harapan masyarakat Kalimantan Selatan dan Kalimantan Tengah bebas dari pemadaman listrik akhirnya tinggal impian, setelah Menteri Dalam Negeri (Mendagri) menolak rencana menyewa generator untuk mengatasi krisis listrik di kedua wilayah itu.
Melalui surat keputusan yang dikirim ke Gubernur Kalsel, Mendagri menyatakan penyewaan genset yang menggunakan anggaran pendapatan dan belanja daerah (APBD) itu tak dibenarkan secara hukum, karena memang tak ada dasarnya hukumnya.
Adalah General Manager (GM) PLN Kalselteng Wahidin Sitompul yang mengeluarkan gagasan penyewaan genset itu, dengan alasan krisis listrik di Kalselteng tak mungkin teratasi dengan cepat tanpa bantuan genset.
Menurutnya, pelanggan listrik di Kalselteng tak mungkin hanya mengandalkan tiga pembangkit yang ada sekarang, yakni PLTU Asam Asam di Tanah Laut, PLTA Riam Kanan di Kabupaten Banjar dan PLTD Sektor Barito di Banjarmasin.
Ketiga pembangkit itu sudah ngos-ngosan alias “sekarat”, sehinga daya yang dihasilkan pun tak sebanding dengan keperluran listrik warga Kalselteng.
Dengan bantuan pembangkit kecil di daerah daya yang dihasilkan PLN di Kalsel hanya 260,5 mega watw (MW), sementara pada beban puncak daya yang diperlukan bagi pelanggan listrik di Kalselteng 290,5 MW. Artinya terjadi kekurangan daya sekitar 30 MW.
Kekurangan itu baru teratasi jika kepala daerah kedua provinsi bertetangga itu berani mengeluarkan uang APBD untuk menyewa genset yang masing-masing berkekuatan 2×40 MW.
Para kepala daerah di Kalsel dan Kalteng (gubernur dan bupati), sebenarnya mendukung usulan penyewaan genset itu. Gubernur Kalteng Teras Narang, merupakan kepala daerah pertama di Pulau kaya sumber daya alam ini yang menyatakan bersedia menyisihkan dana dari APBD untuk penyewaan itu.
Namun dengan keluarnya keputusan Mendagri itu, para kepala daerah di Kalsel dan Kalteng harus menarik kembali pernyataan dukungan penyewaan genset, jika mereka tak ingin masuk kerangkeng dengan tuduhan penyelewengan uang rakyat, meski itu untuk kepentingan rakyat.
Masyarakat kedua provinsi bertetangga ini pun kembali harus bersabar menunggu tuntasnya krisis listrik dan tetap selalu bersiap-siap menerima pemadaman bergilir yang memang sudah terjadi setiap hari.
Begitu pula PLN kembali harus memaksakan ketiga pembangkit yang selama ini dianggap sejumlah pengamat kelistrikan sebagai pembangkit yang sudah usang dan sakit-sakitan dan selalu memerlukan perawatan agar tetap bisa bertahan hidup.
Contohnya, PLTU Asam Asam di Tanah Laut, meski beroperasi tahun 1995 lalu, ternyata kedua mesin PLTU ini hanya mampu bertahan 8.000 jam, setelah itu mesin itu bergantian mendapat perawatan dari “dokter-dokter” mesin PLN.
Jika mesin yang bahan bakar utamanya batu bara ini dipaksakan beroperasi tanpa perawatan bisa mengakibatkan kerusakan yang fatal.        Pembangkit yang terletak di Pelaihari, Tanah Laut ini merupakan sumber listrik utama bagi masyarakat Kalselteng. Memiliki kekuatan 2×65 MW. Keduanya, setiap tahun selalu sakit-sakitan. Saat, salah satu mesin istirahat, maka daya tersedia dari pembangkit ini tersisa hanya 1×65 MW.
Sejumlah anggota DPRD Kalsel pernah mengusulkan agar pengadaan mesin PLTU Asam Asam diselidiki pihak yang berwenang, karena diduga mesin yang dibeli belasan tahun yang lalu itu bukan barang baru alias mesin tua, sehingga meski belum terlalu lama beroperasi sudah sering mengalami kerusakan.
“Penelisikan perlu dilakukan untuk memastikan apakah mesin PLTU Asam Asam itu bekas atau baru,” kata anggota DPRD Kalsel H Saifullah Tamliha.
Dukungan penyelidikan juga datang dari mantan Gubernur Kalsel yang kini menjadi anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPD) Kalsel, H M Said.
Kondisi tak jauh berbeda dialami PLTD Trisakti, mesin berkuatan 10 MW yang dimiliki PLTD ini, juga dalam kondisi “sekarat”, malah sakitnya jauh lebih fatal dari PLTU Asam Asam, karena saat terjadi kerusakan, suku cadang tak tersedia lagi di dalam negeri.
Satu-satunya negara yang menyediakan suku cadang PLTD ini hanya Belanda. PLTD Trisakti sempat beberapa bulan tak bisa beroperasi, karena suku cadang dari negeri kincir angin itu belum datang.               Bagaimana dengan PLTA Riam Kanan, pembangkit yang mengandalkan debit air danau Riam Kanan di Kabupaten Banjar itu juga tak bisa diandalkan, saat debit air turun, otomotis turbin PLTA ini tak bisa bergerak.
Mesin PLTA ini juga perlu perawatan tiap tahun. Saat PLTA tak beroperasi, maka PLN Kalselteng kehilangan daya 28,5 MW.

Industri Kecil Menderita
Krisis listrik di Kalselteng membawa dampak negatif bagi kelangsungan industri kecil dan rumah produksi di kedua provinsi itu. Tak sedikit, industri kecil yang terpaksa tutup, gara-gara minimnya pasokan listrik.
Begitupula rumah produksi, banyak yang mengalami kerugian, karena seringnya terjadi pemadaman baik yang bergilir maupun pemadaman mendadak.
Latif, pemilik video shoting di Jalan Sutoyo S, Banjarmasin, mengaku langganannya sering mengeluh karena pesanan selalu selesai tak tepat waktu.
“Gara-garanya listrik yang sering padam, sementara pekerjaan saya sangat tergantung listrik dari PLN. Empat unit komputer saya miliki tak mungkin beroperasi jika listrik padam,” katanya.
Pengusaha properti juga sangat terpukul dengan krisis listrik ini. Ketua Real Estate Indonesia (REI) cabang Kalsel H Anwar Hadimi, mengungkapkan, saat ini sedikitnya 7.000 unit rumah di Kalsel belum kebagian sambungan listrik dari PLN dan dipastikan akan terus bertambah, mengingat pengusaha perumahan terus membangun rumah baru.

Hemat Energi
Berharap dari tiga pembangkit yang dimiliki PLN untuk mengatasi krisis listrik di Kalselteng memang mustahil, di samping mesin yang sudah tua, daya yang dihasilkan tak sebanding dengan kebutuhan listrik pelanggan.
Solusi sementara, PLN meminta agar pelanggan melakukan penghematan dan mengganti bola lampu yang boros energi dengan yang hemat energi.
“Dari kampanye hemat energi yang kita lakukan, hasilnya sudah mulai terlihat dengan terjadinya penggunaan pengurangan daya sebesar 10 MW,” kata General Manager PLN Kalselteng Wahidin Situmpol.
Selain melakukan kampanye hemat energi, PLN Kalselteng juga melakukan pemadaman listrik di jalan-jalan raya hingga pukul 22.00 Wita.
Solusi jangka panjang, saat ini PLN Kalselteng mulai membangun dua pembangkit baru di Asam Asam untuk membantu pembangkit lama yang selalu sakit-sakitan.
Terobosan baru
Kondisi kelistrikan Kalsel tidak hanya membuat geram masyarakat, tetapi juga Gubernur Kalsel Rudy Ariffin. Bahkan dia mengancam untuk mengambil alih PLN menjadi perusahaan daerah.
Mungkin keinginan gubernur tersebut didorong oleh perasaan emosi karena sudah tidak tahan lagi mendengar teriakan warganya yang terus menjerit karena hampir sepanjang tahun pemadaman listrik selalu terjadi di Kalsel.
Namun seberapapun geramnya gubernur, ternyata juga tidak membuat PLN bergeming, pemadaman bergilir terus berlangsung dan pemerintah provinsi tetap tidak berdaya. Sementara jeritan masyarakat, seolah tidak lagi menjadi beban kerisauan bagi instansi berwenang.
Kondisi tersebut berbeda dengan yang dilakukan oleh Bupati Hulu Sungai Selatan (HSS) Syafi’i. Pemadaman bergilir yang terus terjadi di Kalsel justru melahirkan terobosan baru bagi pemimpin daerah tersebut.
Pemerintah Kabupaten HSS mulai mengembangkan pembangkit listrik tenaga air atau mikrohidro untuk memenuhi kebutuhan listrik daerah terpencil.
Saat ini, sedang dikembangkan empat pembangkit mikrohidro untuk daerah yang tidak mungkin “dijamah” PLN, melalui dana APBD II dan bantuan pemerintah pusat.
Keempat proyek pembangunan pembangkit mikrohidro tersebut, yaitu, di desa Malingin Dusun Paniungan Kecamatan Padang Batung. Pembangkit yang mampu menghasilkan daya sebesar 5.000 kwh kini sudah mampu menerangi 28 rumah dan satu mushola di daerah tersebut.
Hebatnya lagi, untuk menikmati listrik yang berasal dari air sungai Paniungan tersebut, masyarakat tidak dipungut biaya, alias gratis, bahkan lampu hingga perlengkapan lainnya juga diberikan secara cuma-cuma.
Setelah adanya listrik mikrohidro yang dibangun dengan dana Rp400 juta tersebut, dusun Paniungan yang terletak di lembah pegunungan meratus yang sebelumya gelap gulita, kini terang benderang, apalagi kalau malam terlihat sangat indah.
Selanjutnya, Pemkab HSS kembali mengembangkan proyek listrik mikrohidro tersebut di daerah Desa Muara Ulang dengan kekuatan 20 kilo atau 2000 Kwh, yang pembangkitnya berasal dari air Sungai Ulang.
Pembangunan pembangkit yang mengandalkan air sungai juga dibangun di desa Malinau Kecamatan Padang Batung, dengan mengandalkan pembangkit dari air terjun Tangkaramin.
Selanjutnya, direncanakan  membangun pembangkit kapasitas yang lebih besar, yaitu 100 kilo dengan memanfaatkan air terjun Haratai.
Bukan hanya mikrohidro, pemerintah kabupaten HSS juga telah dikembangkan pembangkit tenaga surya, di Desa Muning Kecamatan Daha Selatan yang lokasinya juga sangat terpencil.
“Sejak 2007 lalu, ratusan rumah di desa tersebut telah memanfaatkan listik gratis,” katanya.
Selain itu HSS tercatat paling hemat, karena mereka memanfaatkan lampu hemat energi, bahkan masyarakat menggunakan lampu warni-warni yang hanya memerlukan listrik beberapa watt saja.
Sudah saatnya, seluruh masyarakat dan pimpinan daerah membuka mata terhadap segala potensi yang ada di sekelilingnya untuk kesejahteraan warganya, karena mengeluh dan berteriak tidaklah menyelesaikan masalah.

PLN KALSELTENG BAKAL DILEBUR JADI TRANSMISI KALIMANTAN
Banjarmasin,16/3 (ANTARA)- Wilayah kerj Perusahaan Listrik Negara (PLN) yang selama ini masih wilayah Kalimantan Selatan dan Kalimantan Tengah (PLN Kalselteng) bakal dilebur menjadi PLN Transmisi Kalimantan.
Gemeral Menejer (GM) PT PLN Kalselteng, Wahidin Situmpol kepada ANTARA di Banjarmasin, Senin membenarkan adanya rencana perubahan PLN Kalselteng menjadi PLN Transmisi Kalimantan, bila seluruh wilayah pulau terbesar di Indonesia sudah tersambung jaringan listriknya (terinterkoneksi).
Pihak PLN kini sedang melakukan penyambungan jaringan kabel ke suluruh Kalimantan ini agar seluruh wilayah bisa terkoneksi.
“Tidak kurang dari 4000 kilometer, rencana penyambungan kabel listrik agar semua jaringan di empat provinsi Kalimantan ini bisa terinterkoneksi, dan investasi itu sangat mahal,” katanya.
Selain melakukan penambahan jaringan kabel PLN juga terus melakukan pembangunan pembangkit-pembangkit baru, baik  memanfaatkan tenaga air, tenaga uap, atau tenaga lainnya.
Untuk wilayah Kalselteng ini saja dibangun pembangkit baru seperti Pembangkit Listrik Tenaga  Uap (PLTU) Asam-asam tahap kedua kapasitas 2 kali 65 megawa satt atas bantuan negara China.
Kemudian dibangun pula PLTU Pulang Pisau kapasitas 2 kali 60 mega waat, dan masih dibangun sebuah Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) Sungai Kusan, Kabupaten Tanah Bumbu sebesar 68 mega watt kapasitasnya.
Selain itu masih dibangun pembangkit yang ada di Kaltim dan Kalbar sehingga seluruh daya listrik di Kalimantan ini akan terkoneksi melalui jaringan yang akan dibangun sepanjang 4000 kilometer tersebut.
Walau investasi untuk melengkapi fasilitas  PLN di Kalimantan ini mahal tetapi itu terus dilakukan, agar pelayanan kepada masyarakat bisa lebih ditingkatkan.
Jaringan yang kini diuasahakan untuk wilayah Kalselteng ke Kalimantan Timur (Kaltim) bakal rampung 2010 mendatang, sementara interkoneksi ke wilayah Batulicin akan tersambung 2010 juga.
Sedangkan interkoneksi ke wilayah Kalimantan Barat (Kalbar) diproyeksikan tersambung pada tahun 2014 mendatang, bila semua jaringan tersambung maka tidak ada lagi PLN Kalselteng, PLN Kalbar, atau PLN Kaltim yaang ada adalah PLN Transmisi Kalimantan yang berpusat di Banjarmasin, katanya.***2***

PLN KALSELTENG BANGUN PLTA SUNGAI KUSAN

Banjarmasin,14/3 (ANTARA)- PT Perusahaan Listrik Negara (PT PLN) Kalimantan Selatan dan Kalimantan Tengah (Kalselteng) merencanakan membangun sebuah pembangkit baru di kawasan Sungai Kusan, Kabupaten  Tanah Bumbu (Tanbu), wilayah Kalsel.
General Menejer PT PLN Kalselteng, Wahidin Situmpul kepada ANTARA di Banjarmasin, Sabtu membenarkan  rencana pembangunan pembangkit menggunakan tenaga air (PLTA) Sungai Kusan dalam upaya memenuhi kebutuhan listrik wilayah ini.
Pembangunan PLTA Sungai Kusan tersebut ditargetkan akan selesai 2014 mendatang, dengan investasi sekitar  Rp1,5 trilun.
Untuk mewujudkan rencana pembangunan pembangkit listrik tersebut maka akan dilakukan studi kelayanan, dan pada bulan Agustus 2009 ini studi kelayanan tersebut sudah rampung, sehingga akan dilanjutkan dengan proses pembangunannya kedepan.
Pembangunan pembangkit dengan kapasitas 68 mega watt tersebut akan memperoleh bantuan dari negera Jepang, Jipec, makanya teknisi pembangunan PLTA tersebut semuanya dari Jepang.
“Kita berharap dengan adanya pembangunan PLTA Sungai Kusan akan menambah daya listrik wilayah ini,” katanya.
Sekarang ini kapasitas listrik Kalselteng hanya 300 MW  berasal dari PLTA Riam Kanan, PLTU Asam-asam tahap pertama, serta beberapa buah Pembangkit Listrik Tenaga Diesel (PLTD), sementara beban puncak sudah mencapai 310 MW sehingga kondisi listrik wilayah ini seringkali mengalami pemadaman.
Selain PLTA Sungai Kusan PLN Kalselteng kini sudah sedang menyelasaikan pembangunan Pembangkit Listrik  Tenaga Upa (PLTU) Asam-asam tahap kedua investasi Rp1,3 triliun dengan kapasitas 2 kali 65 MW atas bantuan Cina dengan masa pengembalian 10 tahun.
“Rencana kedepan masih ada pembangkit lagi yang akan dibangun seperti PLTU Pulang Pisau, dan akhirnya seluruh wilayah Kalselteng memiliki kapasitas hingga 800 MW,” demikian Wahidin Situmpol.

PLTU Asam-asam

JAKARTA, JUMAT — PT Wijaya Karya (Persero) Tbk (Wika) memulai pembangunan proyek PLTU senilai Rp 1,2 triliun di Tahan Laut, Kalimantan Selatan. Proyek milik PT PLN (Persero) ini dikerjakan Wika bersama dengan kontraktor asal China, Chengda. Proyek ini diharapkan selesai dalam 24 bulan untuk unit 1 dan dua bulan berikutnya untuk unit 2.

Menurut keterangan Direktur Utama Wika, Bintang Perbowo, PLTU ini akan menghasilkan listrik 130 MW. Pembangkit menggunakan bahan bakar batu bara yang tersedia melimpah di wilayah Kalsel. Pembangkit digerakkan dua turbin masing-masing berkekuatan 65 MW. “Pembangunan PLTU Kalsel 2 x 65 MW ini diharapkan membantu program percepatan pemerintah menyukseskan program percepatan pembangkit 10.000 MW,” kata Bintang Perbowo, Jumat (27/2).

Wika bertekad menyelesaikan proyek ini tepat waktu sehingga tahun 2010 sudah dapat dioperasikan. “Diharapkan dengan adanya penambahan pembangkit listrik ini yang akan beroperasi penuh pada tahun 2010 akan menjawab masalah kekurangan pasokan listrik di daerah tersebut. Kualitas hidup masyarakat Kalsel juga akan meningkat dengan adanya pasokan energi yang cukup,” tambahnya.

Wika berkolaborasi dengan Chengda untuk mengerjakan proyek besar di Kalsel ini. Wika mengerjakan engineering, procuring, dan construction. Selebihnya dikerjakan oleh Chengda, yang memang sudah berpengalaman membangun proyek pembangkit listrik sejak 1950. Bahkan sudah mengerjakan berbagai proyek listrik besar di berbagai negara, seperti Vietnam dan Pakistan sejak tahun 1960.

Kalsel Bangun Pembangkit Listrik

Meski sedang membangun Pusat Listrik Tenaga Uap (PLTU) Asam-asam unit III dan IV di Kabupaten Tanah Laut (Tala), Kalimantan Selatan (Kalsel), namun pihak PLN nantinya tidak berani menjamin akan terpenuhinya kebutuhan listrik di wilayah tersebut. Direktur PLN luar Jawa, Madura dan Bali, Haryadi Sitompul, hanya berharap pembangkit tambahan tersebut bisa mencukupi kebutuhan listrik masyarakat.
“Dengan dibangunnya pembangkit listrik bertenaga dua kali 65 mega watt (MW) ini, diharapkan daftar tunggu pemasangan listrik untuk wilayah Kalsel dan Kalimantan Tengah yang jumlahnya mencapai 47 ribu pemohon dapat terselesaikan,” ungkapnya, Kamis (26/2) usai meresmikan dimulainya pembangunan PLTU Asam-asam unit III dan IV di daerah yang berjarak 125 km dari Kota Banjarmasin.
General Manager PT PLN (Persero) Wilayah Kalselteng, Wahidin Sitompul, mengemukakan, PLTU yang ada saat ini memiliki daya 2 x 65 MW. Hanya saja, kondisi itu belum mencukupi kebutuhan masyarakat setempat yang terdiri dari dua propinsi. Untuk itu, pembangunan unit III dan IV PLTU Asam-asam berkapasitas 2 x 65 MW tersebut sangat membantu pemenuhan kebutuhan listrik masyarakat Kalsel dan Kalteng. “Ditargetkan, pembangunan PLTU senilai Rp 1,2 triliun itu akan rampung pada Oktober 2010,” paparnya Wahidin Sitompul.
Gubernur Kalsel, H Rudy Ariffin, menyambut positif pembangunan PLTU Asam-Asam unit III dan IV. “Kehadirannya bisa mendukung pertumbuhan pembangunan daerah. Hal itu didasarkan karena semakin maju suatu daerah maka permintaan listrik daerah juga semakin tinggi,” sebutnya.
Apalagi, kata Rudy, bahan baku PLTU berupa batu bara, sementara Kalsel mempunyai cukup banyak simpanan, sehingga pihak PLN tidak perlu khawatir kekurangan “emas hitam” sebagai bahan pembangkit tenaga listriknya.

KALIMANTAN BAKAL SUPLAI LISTRIK KE JAWA DENGAN KABEL LAUT
Banjarmasin,18/3 (ANTARA)-PLN bakal mengembangkan terus pembangkit listrik di wilayah Kalimantan dalam upaya mencukupi daya listrik di wilayah ini, bahkan berencana mensuplai daya listrik melalui kabel laut ke Pulau Jawa.
General Menejer PLN Kalimantan Selatan dan Kalimantan Tengah (Kalselteng) Wahidin Situmpol kepada ANTARA, di Banjarmasin, Rabu membenarkan rencana pengembangan PLN kedepan akan interkoneksi Kalimantan-Jawa.
Pengembangan pembangunan pembangkit listrik Kalimantan kedepan adalah menggunakan Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) dengan memanfaatkan potensi batubara muda (low rank coal) dengan kapasitas besar.
Batubara muda dinilai tidak ekonomis bila di bawa ke luar pulau Kalimantan, sehingga lebih baik dimanfaatkan sebagai bahan bakar pembangkit listrik di wilayah ini saja.
Dengan memanfaatkan PLTU diharapkan daya yang dihasilkan bisa untuk kepentingan sendiri di wilayah Kalimantan dan kemudian suplai daya ke Pulau Jawa dalam upaya membantu daya di pulau terpadat penduduknya tersebut.
Oleh karena itu diperlukan pembangunan jaringan interkoneksi Kalimantan-Jawa, tambahnya seraya menjelaskan rencana interkoneksi Kalimantan-Jawa melalui transmisi HVDC 500 KV kabel laut dengan panjang 410 kilometer dengan kemampuan transfer daya 6000 mega watt.
Rencana pengembangan interkoneksi Kalimantan-Jawa itu diharapkan bisa dioperasikan tahun 21018 mendatang.
Biaya investasi untuk mewujudkan keinginan tersebut ditaksir mencapai dana Rp23,01 triliun dengan rincian pembangunan kabel laut panjang 410 kilometer Rp4,53 triliun, converter station 6000 MW  di Kalimantan Rp9,24 triliun dan Pulau Jawa Rp9,24 triliun.
Biaya tersebut di atas sudah termasuk instalasi, ongkos angkut batubara, transfer daya 6000 MW, transfer energi per hari 144 Gwh, konsumsi batubara 100 ribu ton per hari dan lainnya,

UPAYA PETANI KALSEL HINGGA PEMASOK BERAS NASIONAL

 Oleh Hasan Zainuddin
 Banjarmasin, 23/1 (ANTARA) – Kesulitan warga Propinsi Kalimantan Selatan (Kalsel) memperoleh beras di era tahun 60-an, tahun 70-an hingga tahun 80-an  telah membangkitkan semangat petani setempat  menggarap berbagai lahan untuk bisa ditanami padi.
 Di era tahun tahun-tahun tersebut warga Kalsel masih terbiasa mengkonsumsi  beras yang berwarna merah, serta bercampur kapur, serta berbau apek lantaran beras tersebut sudah terlalu lama disimpan dan diperdagangkan dan didatangkan dari berbagai daerah lain di Indonesia bahkan beras impor.
 Dengan semangat yang menggebu ditambah dorongan pemerintah setempat membuat pertanian Kalsel begitu maju, terbukti hamparan rawa yang tadinya penuh dengan hutan galam (kayu khas rawa) seperti di Kabupaten Banjar dan Kabupaten Barito Kuala digarap dengan menebang ribuan bahkan jutaan pohon kayu rawa itu.
 Kemudian lahan rawa yang berhutan  pohon galam itu setelah ditebang kemudian dibersihkan menjadi sehamparan luas areal pertanian yang subur walau tanpa harus menggunakan sistem irigasi, seperti terlihat di wilayah Kecamatan Gambut dan Kecamatan Aluh-aluh..
 Kemudian lahan yang tadinya dianggap marginal seperti rawa pasang  surut setelah ditemukannya berbagai tehnologi penurunan kadar air asam di lahan tersebut melalui teknologi sederhana yang disebut sistem irigasi Haji Idak lahan tersebutpun dimanfaatkan.
 Sementara lahan tadah hujan yang merupakan lahan pertanian terluas di wilayah paling selatan Pulau Kalimantan inipun ditata  kemudian dibuatkan sistem irigasi, baik irigasi teknis maupun irigasi sederhana pedesaan hingga mampu ditanami padi dua kali setahun.
 Begitu pula  lahan lebak (lahan yang selama musim hujan terendam air dan airnya surut musim kemarau ) semaksimal mungkin digarap,  khususnya pada saat musim kemarau, dan tak tanggung-tanggng lahan lebak Kalsel tercatat 150 ribu hektare, dan 60 ribu hektare sudah dimanfaatkan.
 Dalam upaya meningkatkan produksi beras tersebut lahan keringpun akhirnya oleh pemerintah dianjurkan untuk ditanami padi melalui sistem tugal (gogo), apalagi masyarakat pedalaman (suku Dayak Kalsel) terlebih dahulu memiliki kebiasaan menggarap lahan kering untuk padi itu melalui ladang berpindah sehingga mampu pula menambah cadangan beras di wilayah ini.
 Untuk meningkatkan produksi padi tersebut petani Kalsel bukan semata memperluas areal tanam dengan memanfaatkan berbagai jenis lahan tersebut tetapi juga mencoba meningkatkan teknologi pertaniannya.
 Sebagai contoh saja petani Kalsel sudah mengerti  memanfaatan alat mesin pertanian (Alsintan) penggunaan bahan kimia pertanian seperi herbisida dan pestisida serta menggunakan berbagai jenis pupuk.
 Bahkan pemulia padi asal Kalsel melalui Balai Penelitian Rawa (Balitra) Bajarbaru  berhasil menciptakan varietas padi khas Kalsel, yaitu varietas  Kapuas, Mahakam, Baroto, dan Varietas  Martapura.
 Varietas tersebut oleh pemulia padi Balitra digulirkan untuk menyesuaikan  dengan lahan pasang surut, tetapi  berumur penedek serta produksi besar dan rasanya tak kalah dengan varietas lokal yang paling disukai.
 Satu teknologi lain yang dimunculkan ahli pertanian Kalsel yaitu dengan penggarapan lahan sawah sistem “Sawit Dupa” (satu kali mewiwit dua kali panen), wiwit disini diartikan pembibitan.
 Melalui pertanian sistem sawit dupa ini maka petani bisa menanam padi varietas unggul berumur pendek (tiga bulan) seperti IR-42, IR-66 dengan padi varietas lokal seperti padi Siam Unus, atau padi varietas Karandukuh yang berumur panjang (6 bulan).
 Apapun gaya dan cara petani yang merupakan komunitas masyarakat terbesar Kalsel yang penting sektor Pertanian Kalsel bisa sejajar dengan wilayah lain yang sudah lebih maju dalam sektor pertanian ini.
 Dengan demikian  bila beberapa dasawarsa lalu warga Kalsel selalu “menjerit”  kekurangan beras kini sudah bisa “tersenyum”  dengan mampu mencukupi beras sendiri, bahwa sudah mampu menjadi daerah pemasok beras nasional.
 Gubernur Kalimantan Selatan, H.Rudy Ariffin ketika ditanya wartawan di Kantor Gubernur Kalsel Banjarmasin,  mengakui bahwa wilayahnya sudah mampu menyumbangkan beras bagi kebutuhan nasional, walaupun jumlahnya relatif masih kecil tetapi sudah memberikan arti bagi wilayah ini.
 Oleh sebab itu, kemampuan Kalsel mensuplai beras nasional tersebut harus ditingkatkan lagi dimasa mendatang, dengan memanfaatkan semaksimal mungkin lahan yang ada.
 Dalam pertemuan dengan pihak pimpinan Daerah Tingkat II se Kalsel belum lama ini, kata Gubernur Kalsel yang mantan Bupati  Banjar tersebut telah memerintahkan kepada seluruh bupati/walikota se Kalsel untuk melakukan perluasan areal tanam dari sekarang yang hanya sekitar 800 ribu hektare menjadi melebihi dari luas areal tanam tersebut.
 Dengan cara melakukan pemetaan kembali luasan areal tanam tersebut bukan hanya di lahan yang sudah digarap sekarang ini tetapi juga pada lahan-lahan yang selama ini dianggap marginal tetapi sebenarnya bisa dimanfaatkan seoptimal mungkin mengejar produksi padi tersebut.
 Hal lain, Gubernur Kalsel ini juga meminta kepada seluruh bupati/walikota untuk membuat jadual penananam yang dapat dikoordinasikan ke seluruh instansi terkait dengan menyesuaikan dengan musim atau cuaca.
 Dalam upaya meningkatkan sektor pertanian itu tentu dengan melakukan intensifikasi dan diversifikasi, tambahnya, di sela-sela acara makan bareng makan bakso dan mie ayam gratis bebas formalin di halaman Kantor Gubernur Kalsel itu.
 Sebelumnya, ia menyebutkan wilayahnya yang dikatagorikan sebagai salah satu daerah penyangga pangan nasional, tahun 2005 menyumbangkan sedikitnya 340 ton beras untuk pengadaan  pangan nasional.
 “Meskipun Kalsel mengalami surplus beras sekitar 450 ribu ton selama tahun 2005, namun hanya sekitar 340 ton yang bisa dibeli oleh Perum Bulog Kalsel untuk kontribusi untuk pengadaan pangan nasional,” katanya.
 Menurut Rudy, dengan kondisi surplus beras ratusan ribu ton di Kalsel selama ini dan mampu menyumbang untuk pengadaan pangan nasional, maka Kalsel tidak perlu beras impor mengingat beras yang ada mencukupi terutama beras lokal.
 Kepala Dinas Pertanian Kalsel, Ir.H.Yohannes Sriyono mengakui, sebenarnya suprlus beras di Kalsel mencapai 450 ribu ton, namun sebagian besar beras itu merupakan beras lokal seperti Siam Unus dan Karandukuh yang tidak mampu dibeli Dolog karena harga lebih  mahal dari harga yan ditetapkan pemerintah.
 Harga yang ditetapkan Dolog sekitar Rp3.550/kg, kalau jenis beras Siam Unus dan Karandukuh jauh mahal dari harga tersebut.
 Dia menjelaskan, produksi gabah di Kalsel tahun 2005 (Januari-Desember) sesuai verifikasi Badan Pusat Statistik (BPS) setempat mencapai 1,577 juta ton Gabah Kering Giling (GKG) atau setara beras sekitar 950 ribu ton, sedangkan keperluan konsumsi masyarakat dan industri Kalsel hanya sekitar 500 ribu ton.
 Selain itu, kata Sriyono, di Kalsel ini sepanjang tahun terjadi panen lantaran pemanfaatan lahan lebak dan lahan kering disamping lahan paang surut dan lahan berigasi sehingga bila musim kemarau panjang sekalipun bila daerah lain mengalami penceklik di Kalsel malah terjadi panen besar-besaran di lahan lebak.
 Melihat kesungguhan petani Kalsel bangkit dari masa kemasa itu telah memberikan harapapan dimasa mendatang bahwa wilayah ini akan terus berkiprah dalam pemasok beras nasional, hingga mampu menekan terjadinya impor

MENGUNGKAP KEBARADAAN KOMUNITAS SUKU BANJAR TEMBILAHAN RIAU

 Sekelompok warga bergerombol dan sambil berjongkok menikmati masakan suku Banjar, Laksa di salah sebuah kedai (warung) makanan di tengah kota Tembilahan, ibukota Kabupaten Indragiri Hilir, Propinsi Riau, Pulau Sumatera.
 Sementara beberapa wanita nengenakan jilbab berpakaian kemeja panjang mententeng kresek pelastik berisikan kue khas suku Banjar pula seperti kraraban, untuk-untuk, gambung, gegatas, kelapon  dan lainnya setelah mebeli di kedai sebelah warung laksa itu.
 Gurauan antara para pedagang serta para pembeli di beberapa kedai di Bilangan Parit 15 Tembilahan Hilir tersebut menunjukkan bahwa mereka bersuku Banjar, karena bahasa yang digunakan benar-benar berdialek suku Banjar terutama Banjar Pahuluan.
 Ketika penulis menghampiri sekelompok ibu-ibu itu serentak mereka terhenyak, namun seketika itu pula penulis mengenalkan diri bahwa berasal dari kota Banjarmasin, ibukota Kalsel yang merupakan wilayah komunitas suku banjar bermukim sekarang ini.
 Dari beberapa keterangan di kedai di pinggir Sungai Indragiri tersebut terungkap bahwa budaya mengolah masakan khas Banjar serta kue-kue tersebut sudah ada sejak ratusan tahun silam.

tembilahan.jpg Penulis bersama keluarga di jembatan kilo lima Rumbai, Tembilahan
 Budaya membuat masakan dan kue tersebut diperoleh dari generasi sekarang dari beberapa generasi sebelumnya yang telah tinggal secara turun=temurun di kawasan yang sebenarnya tidak terlalu jauh dari semenanjung Malaysia dan Singapura itu.
 Berdasarkan keterangan itu, bukan hanya kue-kue Banjar yang tetap lestari di tengah pemukiman suku Banjar perantuan ini tetapi juga makanan dan lauk-pauk lainnya.
 Sebagai contoh saja, masih terlihat dihidangkan gangan (gulai) humbut, gangan keladi, gangan waluh, gangan karuh, sayur bening oleh keluarga-keluarga di kota berpenduduk sekitar 300 ribu jiwa tersebut
 Begitu juga terlihat papuyu baubar (bakar), gabus baubar, iwak karing (ikan asin) sepat, masak habang haruan atau telur, iwak bapais (pepes ikan) dan masakan khas Banjar lainnya.
 Hanya saja, kata Haji Nurjanah (65 th) nenek tua asli suku Banjar, beberapa masakah khas Banjar lainnya sudah mulai tidak diminati generasi muda sekarang ini.
 “Saya kemarin mencoba membuat mandai (kulit cempedak dipermentasi) penuh satu kuali, karena hanya saya yang doyan makan mandai itu,  akhirnya sebagian terbuang, sementara anak dan cucu sudah kurang suka,” kata nenek yang mengaku tidak pernah satu kalipun menginjak tanah Banjar di Kalimantan Selatan.
 Bukan hanya masakan suku Banjar yang tetap lestari di kawasan luas berawa-rawa indragiri ini, tetapi juga cara hidup keseharian lainnya hampir tak berbeda dengan kebanyakan suku banjar yang tinggal di pahuluan Kalsel, (Banua lima: lima kabupaten Utara Kalsel).
 Cara mereka bercocok tanam tak ada perubahan, yakni dengan menyiapkan lahan, menyiapkan benih, serta cara mereka panen.
 Kehidupan beragama terlihat begitu kental di kalangan komunitas ini, dimana hampir terlihat masjid, surau, dipenuhi warga dan ditengah antara shalat magrib dan isha selalu diisi dengan ceramah menggunakan bahasa Banjar pula.
 Seorang tokoh Banjar yang tinggal di Pekanbaru propinsi Riau, Bandrun A Saleh yang sekarang menjabat sebagai anggota DPRD Riau ketika malam silaturahmi antara warga suku Banjar pekanbaru dengan para wartawan Kalsel dan Kalteng yang mengikuti Pekan Olahraga Wartawan Nasional (Porwanas) mengakui budaya Banjar di tembilahan masih sangat kuat.
 Selain Badrun A Saleh yang berada diacara silaturahmi yang dihadiri Kepala Badan Informasi Daerah Kalsel, Drs,Amanul Yakin dan para pengurus PWI Kalsel itu juga terdapat beberapa pejabat teras Pemko Pekanbaru dan Pemprop Riau yang hadir, karena memang bersuku banjar seperti Sekretaris Kota Pekanbaru dan sekretaris DPRD Riau.
 Badrun A Saleh yang asli Tembilahan ini menyebutkan bahwa budaya Banjar di kawasan masyarakat kampung halamannya ini memang sangat mendominasi, itu terlihat dalam kehidupan keseharian serta seni budayanya.
 Kesenian Banjar seperti Bamanda, Balamut, Madihin, Japen, masih sering dipentaskan pada acara-acara tertentu dalam kaitan perayaan hari besar, perayaan perkawinan, kenduri, atau bentuk hajatan yang lain selepas musim panen.
 Berdasarkan catatan, penduduk di Kabupaten Indragiri Hilir ini sekitar 560 ribu jiwa, 40 persen diantaranya adalah suku Banjar, disusul suku Melayu, Bugis, minang, Jawa serta etnis lainnya.
 Tetapi khusus kota Tembilahan, Sapat, Pulau Palas, Sungai Salak, Pangalehan,  suku banjar diperkirakan mencapai 70 persen.
 Keberadaan suku Banjar di tengah belantara Pulau Sumatera itu menurut tokoh yang pernah menjadi Plt Bupati Indragiri Hilir ini memang sulit diketahui secara pasti karena tak ada catatan atau sejarah yang menerangkan permasalahan tersebut.
 Tetapi berdasarkan penuturan orang tua dulu bahwa ketika Gunung Krakatau di Selat Sunda meletus sekitar abad ke-18 komunitas suku Banjar tersebut sudah berada du kawasan itu.
 Badrun menerangkan pula, bahwa pada awalnya keberadaan suku Banjar di kawasan ini bukan tujuan Tembilahan Riau, melainkan ke Batu Pahat Malaysia.
 Eksodos suku Banjar Pahuluan ke Batu Pahat tersebut pada awalnya didasari persoalan politis dimana ketika itu kawasan Banua Lima Kalsel sedang dilanda kekacauan lantaran kedatangan penjajah Belanda di kawasan itu.
 Ditambah begitu banyaknya aksi kekauan akibat gerombolan sehingga warga merasa tidak tetang dan didasari perasaaan tidak mau dijajah itulah para suku Banjar ini berimigrasi ke Batu Pahat Malaysia.
 Suku Banjar yang kebanyakan eksodos ke Sumatera tersebut berasal dari desa Kelua, Sungai Turak, Karias, Sungai Durian, Pimping, dan daerah lain di Hulu Sungai Utara, kemudian juga dari Paringin, Lampihong, Juai, Baruh Bahinu, Awayan di Balangan, beberapa desa di Barabai, Rantau, dan Kandangan.
 Setelah eksodos ke Batupahat terus bertambah akhirnya masyarakat suku Banjar ini mulai menyebar ke kawasan lain yang dianggap bisa memberikan penghidupan baru.
 Akhirnya pilihan suku banjar di perantuan ini jatuh ke wilayah Sapat Indragiri Hilir, karena alam di sekitar ini hampir serupa dengan Kalsel yaitu berawa-rawa Pasang surut. Bagi etnis lain sulit menggarap lahan semacam ini, kecuali terampil digarap suku Banjar asal Kalsel maupun suku Bugis asal Sulsel.
 Apalagi ketika itu di Sapat Indragiri Hulir ini telah bermukim seorang ulama besar asal Dalam Pagar Martapura Kalsel, KH Abdurahman Sidiq yang dikenal seorang wali yang setia mengajarkan ilmu agama Islam diperantauan tersebut.
 Setelah adanya ulama ini maka kian banyak warga Kalsel yang berpindah ke kawasan ini, bukan lagi sekedar faktor politis tetapi adalah faktor agama untuk mendalami ilmu agama Islam dengan ulama besar asal kota intan Martapura ini.
 Makam ulama besar di di Parit Hidayah Sapat ini sekarang menjadi objek wisata religus terutama oleh penziarah dari suku banjar baik warga lokal, maupun asal Kalsel serta daerah lain seperti dari Malaysia.
 Pemukin suku Banjar ini berhasil menggarap lahan pasang surut yang bergambut ini menjadi hamparan persawahan, disamping berkebun kelapa untuk dibuat kopra, serta berkebun kopi atau pinang.
 Pada kala itu harga kopra dari kelapa memang lagi baik, sehingga usaha “mangaring” (pemroses kelapa menjadi kopra) dianggap menguntungkan dan memberikan kesejahteraan bagi masyarakat setempat.
 Akhirnya usaha tersebut telah memancing kembali eksodos warga Kalsel ke Sumatera dengan alasan ekonomi yakni mencari kehidupan yang lebih baik dengan menggarap perkebunan kelapa secara besar-besaran di kawasan tersebut.
 Namun seiring perkembangan zaman ternyata berkebun kelapa sekarang ini sudah tidak menguntungkan lagi menyusul terjadinya perkebunan besar kelapa sawit sebagai bahan baku pembuatan minyak goreng, akhirnya kebun kelapa milik suku Banjar ini banyak yang tidak terpelihara selain harganya murah juga banyak pohon kelapa yang sudah tua sekali dan tidak produktif akhirnya ditinggalkan.
 Dengan demikian desa kebun kelapa yang tadinya berkembang menjadi kawasan pemukiman yang ramai berubah menjadi desa mati dabn ditinggalkan penduduknya.
 Penulis yang melakukan perjalanan dengan wartawan Barito Post untuk menyusuri desa-desa pemukiman suku banjar indragiri ini menmukan desa Sungai Ambat kecamatan Enok yang dulu ramai sekarang menjadi desa mati dan sepi dan di desa tersebut tertinggal sekitar 100 rumah saja lagi.
 Padahal dulu sekitar tahun 50-an Sungai Ambat adalah termasuk pusat kosentrasi suku Banjar perantauan, disana terdapat pertokoan, pasar, serta terdapat para tukeh (saudagar kopra) berniaga di sana.
 Dulu menuju Sungai Ambat hanya bisa dilalui lewat sungai melalui Kuala Enok atau di kecamatan Enok, tetapi sekarang sudah bisa dijangkau kendaraan setelah dibangun jalan besar antara Tembilahan menuju Kuala Enok, jalan tersebut sekarang baru pengerasan dan belum pengaspalan. Perjalanan menuju Sungai Ambat dari Tembilahan selama dua jam.
 Selain di desa-desa di tepian sungai Indragiri dan Sungai Enak warga suku Banjar  juga terdapat di parit-parit (anak-anak sungai) yang banyak terdapat di kawasan ini
 Berdasarkan keterangan, warga di berbagai desa suku Banjar ini sudah banyak yang meninggalkan desa mereka menyusul usaha kelapa tidak menguntungkan lagi, mereka banyak yang menyebar bukan hanya ke kota-kota lain di sekitar indragiri tetapi tak sedikit yang lari ke Batam, Jambi, Pekanbaru, Medan, Malaysia, Singapura serta kota Tembilahan sendiri.
 Bahkan ada yang kembali ke tanah leluhur Kalimantan Selatan, kata beberapa warga desa Sungai Ambat.
 Dari banyak pelarian suku Banjar ke berbagai kota di sana ternyata banyak yang berhasil, bukan hanya menjadi pejabat sipil dan ABRI, pedagang, serta wiraswasta dan lainnya.
 Hanya saja dari keturunan suku Banjar sekarang sudah banyak yang mengalami pembaharuan dengan kawin dengan suku=suku  lain seperti kawin dengan suku Melayu, Minang, Bugis, Batak, Jawa hingga keturunan belakangan tidak asli lagi dari suku banjar.
 Di kota Batam yang hanya dijangkau tiga jam setengah naik spedboat dari Tembilahan banyak sekali suku Banjar, tetapi sulit diketahui keberadaan mereka sebab sudah menggunakan bahasa Melayu atau bahasa Indonesia.
 Berdasarkan keterangan lagi suku Banjar di Sumatera khususnya Riau terdapat di Tembilahan, Pulau Palas, Sungai Salak, Pangalehan, Kuala Enok, Sapat, Enok, Kapal Pacah, kemudian di Rengat, Pekanbaru, Bengkalis dan daerah lainnya.
 Sementara di Propinsi Jambi suku Banjar terkosentrasi di Kuala Tungkal, di Sumatera Utara terdapat di Kampung Banjar Binjai dan Deli Serdang.
 Walau penyebaran suku Banjar di Sumatera mulai meluas tetapi di kawasan  Tembilahan Indragiri Hilir kosentrasi suku Banjar tetap kuat, bahkan hubungan emosional antara Kalsel dan Tembilahan tetap terjaga dengan baik.
 Tukar menukar seni budaya antara Tembikahan dan kota Banjarmasin terus terjadi, bahkan beberapa ulama kharismatik Kalsel secara berkala di undang berceramah di kota tembilahan ini, seperti ulama Haji Bakeri yang beberapa kali diundang pada malam tahun baru Islam.
 Keberadaan ulama kharismatik, Haji Zaini Ganie sekumpul Martapura juga sering mengusik warga Tembilahan untuk pulang kampung ke Kalsel, khususnya untuk mengikuti pengajian KH Zaini Ganie yang lajim disebut guru sekumpul itu, terutama pada malam nispu sa.ban.
 “Banyak sekali orang kita di Sungai salak dan Tembilahan yang rutin mengikuti pengajian guru sekumpul Martapura, khususnya pada malam nispu sa’ban,” kata Nurdin penduduk Sungai Salak 30 km dari Tembilahan.
 Bukti dikenalnya secara meluas guru sekumpul ini adalah begitu banyaknya foto ulama besar Kalsel ini yang berada di dinding dinding rumah penduduk, begitu juga kaset rekaman maulid habsyi yang dibawakan guru sekumpul sering berkumandang di rumah penduduk atau di pusat pasar penjualan kaset.
 Selain itu, terdengar banyak omongan anak muda Tembilahan yang ingin mendalami berbagai ilmu ke tanah leluhurnya di Kalsel, selain mendalami ilmu agama Islam juga ilmu-ilmu yang lain seperti ilmu bela diri, ilmu kekebalan, ilmu pesugihan, atau ilmu kebibinian (ilmu memikat perempuan).
 Karena dalam imige kaum muda suku banjar di kawasan Tembilahan ini ilmu-ilmu tersebut di atas paling baik atau lebih hebat kalau mendalami di daerah tanah leluhur mereka sendiri.

 

Bahasa Banjar jadi bahasa seharihari di Tembilahan

 Banjarmasin,31/10 (ANTARA)- Bupati Kabupaten Indragiri Hilir (Inhil) Propinsi Riau, Haji Indra Muchlis Adnan,SH mengungkapkan bahasa Banjar yang merupakan bahasa suku terbesar di Kalimantan Selatan (Kalsel) menjadi bahasa sehari-hari warga wilayahnya.
     “Di tempat kami, orang China, Jawa, Melayu, Padang, Bugis, dan suku lainnya menggunakan bahasa Banjar sebagai bahasa sehar-hari,” kata Indra Muchlis Adnan kepada peserta seminar mengenai budaya Banjar, dalam kaitan Kongres Budaya Banjar ke-I, di Banjarmasin, Selasa.
     Bupati Inhil dalam seminar tersebut menyajikan makalah berjudul “tradisi Madam Orang Banjar” dihadapan peserta yang berasal dari kalangan tokoh Suku Banjar, dari Kalsel sendiri, Kalteng, Kaltim, Jakarta, jogyakarta, Surabaya, Langkat Sumatera Utara, Tembilahan Riau, serta dari negara Selangor, Pahang, Negeri sembilan Malaysia.
     Orang nomor satu Inhil yang datan ke Banjarmasin beserta rombongan dari kalangan pejabat Pemkab Inhil itu menyebutkan bahasa Banjar digunakan di kawasan itu sebagai bahasa sehar-hari lantaran penduduk suku Banjar mendominasi masyarakat yang hedrogen di kawasan pesisir Riau itu.
     Menurutnya Suku Banjar sudah berada di wilayah Inhil sejak ratusan tahun lalu mungkin sudah empat generasi, dan membuka lahan persawahan dan pemkiman di berbagai wilayah di kawasan itu.
     kedatangan suku Banjar yang di wilayah produksi kopra terbesar Riau tersebut, lantaran berbagai alasan, tetapi kalau dilihat sejarahnya hanya terdapat beberapa alasan.
     Alasan pertama kedatangan Sku Banjar ke Tembilahan karena ingin berguru ilmu agama Islam kepada pada ulama-ulama yang ada di wilayah ini.
     Alasan lain adalah untuk memuka lahan pertanian karena lahan rawa yang ada di inhil menerupai lahan rawa ang ada di Kalsel, sehingga warga Banjar pendanag itu mudah menggarap lahan itu ketimbang suku-suku lainnya.
     Kemudian alasan yang lain lagi adalah berniaga atau berdagang karena Tembilahan merupakan kawasan yang berdekatan dengan Singapura atau kota-kota lain di Sumatera atau Malaysia.
    “Orang-orang  suku Banjar waktu dulu termasuk orang yang “jagau” (pemberani), dan selalu membawa pisau kena-mana, tetapi sekarang kebiasaan membawa pisau sudah berubah, dan kini sudah suka membawa pulpen, komputer, lap top, dan banyak dari mereka menjadi kalangan birokrat dan pengusaha yang mampu memberikan kontribusi bagi pembangunan Inhil,” kata bupati yang masih muda tersebut.
    Mengenai kongres Budaya Banjar ini ia menilai meupaan kegiatan positip untk membahas berbagai kebudayaan Banjar, khususnya bahasa Banjar agar tideak punah, karena bila bahasa Banjar punah maka berarti suku ini sudah tidak ada lagi.
    Kongres Budaya Banjar tersebut dibuka oleh Gubenur Kalsel, Drs.Rudy Ariffin, Senin malam (30/10) dan akan berakhir pada Rabu (1/11) menyajikan beberapa pembicara antara lain pedagang intan perintis komunitas warga Banjar di Kesultnanan Jogyakarta, Sastra Banjar guna Meningkatkan Apresiasi Genarasi Muda, Kesenian Rakyat Banjar dan lain-lain

 

Konon sudah lebih dari 5 generasi urang banjar yang madam, migrasi, ’terdampar’ di Tembilahan. Sebenarnya bukan hanya di Tembilahan sebaran warga banjar di nusantara. Paling tidak di Sumatera ada di Tembilahan (Kab. Indragiri Hilir), Kuala Tungkal (Kab. Tanjung Jabung – Jambi), juga di Kab. Deli Serdang – Kab. Serdang Bedagai – Kab. Langkat di Sumut., bahkan di Singapura dan Malaysia (khususnya Batu Pahat).

 

 ASAL USUL SUKU BANJAR KE SUMATERA DAN MALAYSIA

Suku Banjar yang tinggal di Sumatera dan Malaysia merupakan anak, cucu, intah, piat dari para imigran etnis Banjar yang datang dalam tiga gelombang migrasi besar. Pertama, pada tahun 1780 terjadi migrasi besar-besaran ke pulau Sumatera. Etnis Banjar yang menjadi emigran ketika itu adalah para pendukung Pangeran Amir yang menderita kekalahan dalam perang saudara antara sesama bangsawan Kerajaan Banjar, yakni Pangeran Tahmidullah. Mereka harus melarikan diri dari wilayah Kerajaan Banjar karena sebagai musuh politik mereka sudah dijatuhi hukuman mati. Kedua, pada tahun 1862 terjadi lagi migrasi besar-besaran ke pulau Sumatera. Etnis Banjar yang menjadi imigrannya kali adalah para pendukung Pangeran Antasari dalam kemelut Perang Banjar. Mereka harus melarikan diri dari pusat pemerintahan Kerajaan Banjar di kota Martapura karena posisi mereka terdesak sedemikian rupa. Pasukan Residen Belanda yang menjadi musuh mereka dalam Perang Banjar yang sudah menguasai kota-kota besar di wilayah Kerajaan Banjar. Ketiga, pada tahun 1905 etnis Banjar kembali melakukan migrasi besar-besaran ke pulau Sumatera. Kali ini mereka terpaksa melakukannya karena Sultan Muhammad Seman yang menjadi Raja di Kerajaan Banjar ketika itu mati syahid di tangan Belanda.

Migrasi suku Banjar ke Sumatera khususnya ke Tembilahan, Indragiri Hilir sekitar tahun 1885 di masa pemerintahan Sultan Isa, raja Indragiri sebelum raja yang terakhir. Tokoh etnis Banjar yang terkenal dari daerah ini adalah Syekh Abdurrahman Siddiq Al Banjari (Tuan Guru Sapat/Datu Sapat) yang berasal dari Martapura, Banjar yang menjabat sebagai Mufti Kerajaan Indragiri.

Dalam masa-masa tersebut, suku Banjar juga bermigrasi ke Malaysia antara lain ke negeri Kedah, Perak ( Kerian, Sungai Manik, Bagan Datoh), Selangor(Sabak Bernam, Tanjung Karang), Johor(Batu Pahat) dan juga negeri Sabah (Sandakan, Tenom, Keningau, Tawau) yang disebut Banjar Melau. Tokoh etnis Banjar yang terkenal dari Malaysia adalah Syekh Husein Kedah Al Banjari, mufti Kerajaan Kedah. Salah satu etnis tokoh Banjar dari Malaysia yang terkenal saat ini adalah Dato Seri (DR) Harussani bin Haji Zakaria yang menjadi Mufti Kerajaan Negeri Perak. Daerah (setingkat kabupaten) yang paling banyak terdapat etnis Banjar di Malaysia adalah Daerah Kerian di Negeri Perak Darul Ridzuan.
(sumb:salah satu situs)

 

 

 

CATATAN PERJALANAN, Mailangi Dangsanak di Tembilahan 
Minggu, 23-09-2007 | 01:36:38 
UNTUK memberikan apresiasi dan reaktualisasi budaya Banjar, Majelis Paripurna Lembaga Budaya Banjar (LBB) Kalsel memberikan gelar kehormatan kepada Gubernur Riau, HM Rusli Zaenal dan Bupati Indragiri Hilir, H Indra Muchlis Adnan, akhir Agustus 2007 lalu di Pekanbaru.

Kegiatan ini tentu saja menjadi ajang budaya akbar. Untuk berbagi pengalaman, peserta yang juga budayawan Banjar, H Syamsiar Seman akan menguraikan perjalanannya dalam kunjungannya ke pusat kebudayaan Banjar di Tembilahan Riau dalam tulisan berikut.

Kota Tembilahan, Riau sangat dikenal oleh orang Banjar di Kalsel. Sebagai wadah madam sejak ratusan tahun  lalu, banyak warga Banjar sudah tinggal di tempat tersebut secara turun temurun dalam beberapa generasi.

Kabupaten Indragiri Hilir dengan ibukotanya Tembilahan ini merupakan salah satu dari sebelas kabupaten Provinsi Riau yang berada di posisi selatan. Daerah ini dapat ditempuh dengan perjalanan darat dengan mobil dari Riau selama tujuh jam.

Kondisi alam baik Pekanbaru maupun Riau tak jauh berbeda dengan Kalsel, baik sungai dan floranya. Kondisi inilah yang memungkinkan orang-orang Banjar yang madam ke Tambilahan merasa betah bertani dan berkebun di sana.

Indragiri Hilir berpenduduk sekitar 639.450 jiwa yang diperkirakan warga Banjarnya sebanyak 242.991 jiwa yang tersebar di 20 buah kecamatan dan 192 desa.

Warga Banjar atau keturunan orang Banjar yang menjadi penduduk disini adalah di Kecamatan Tembilahan, Tampuling, Enok, Batang Tuaka, Gaung Anak Serka, Gaung, Tanah Merah serta Kuala Indragiri.

Dari delapan kecamatan yang dihuni warga Banjar tersebut, dalam berkomunikasi menggunakan Bahasa Banjar sebagai bahasa pengantar.

Seluruh penduduk di Tembilahan berbahasa sehari-hari dengan Bahasa Banjar dan cenderung dengan dialek Pahuluan. Uniknya, penduduk asal Bugis, Jawa dan Cina yang ada di daerah tersebut juga berkomunikasi dengan Bahasa Banjar.

Apalagi di Pasar Tembilahan yang pedagangnya justru banyak orang keturunan Banjar, pembicaraan dalam interaksi jual beli kedengaran barucau dalam Bahasa Banjar Urang Pahuluan. */ncu/bpost