KONVOI SEPEDA MOTOR TREND BARU MUDIK LEBARAN DI KALSEL

Oleh Hasan Zainuddin


Banjarmasin,30/10 (ANTARA)- Pemandangan sebuah sepeda motor yang penuh dengan satu keluarga, bapak, ibu, dan beberapa orang anak sudah agak terbiasa meluncur di jalan raya saat-saat musim lebaran di berbagai wilayah Propinsi Kalimantan Selatan.
Jumlah pemudik lebaran memanfaatkan kendaraan roda dua dalam beberapa tahun belakangan ini di wilayah paling selatan pulau terbesar di Nusantara tersebut merupakan trend baru sehingga pada lima hari menjelang dan sesudah lebaran  terjadi konvoi sepeda motor melewati trans Kalimantan.
Bila saat berangkat, muatan yang terlihat pada sebuah sepeda motor hanyalah pengendara satu keluarga dan sedikit tas pakaian, tetapi saat kembali kekota muatan disebuah sepeda motor kian bertambah.
Bukan hanya pengendara satu keluarga tetapi juga ditambah  setumpuk bawaan dari kampung berupa karung penuh dengan isi dan gantungan berbagai hasil alam.
Maka jangan heran bila sebuah sepeda motor oleh pemiliknya dimodifikasi sesederhana mungkin dengan menambahkan sebatang kayu agak ke belakang di sebuah sepeda motor, gunanya untuk gantungan ubi kayu, pisang, serta buah-buahan lainnya sebagai barang bawaan cenderamata pulang ke kota.
Bila jumlah kendaraan modifikasi  berangkat berbarengan kemudian terjadi konvoi di jalan raya dengan aspal yang mulus, maka terlihat sebuah pemandangan yang unik disaat mudik lebaran di wilayah Kalimantan selatan ini.
Apalagi disaat harga bahan bakar minyak (BBM) seperti sekarang begitu mahal, maka mudik lebaran dengan sepeda motor menjadi pilihan, kata Surya (30 tahun) penduduk Kayu tangi Banjarmasin.
Menurut Surya yang mudik lebaran ke Tanjung Tabalong pertimbangan mudik lebaran dengan kendaraan roda dua karena lebih memudahkan dan murah.
Bayangkan saja bila seorang pemudik yang harus menggunakan angkutan kendaraan roda empat harus beberapa tempat dilalui, mulai dari rumah ke terminal angkotan  kota dulu, dari terminal angkutan kota baru ke terminal induk.
Dari terminal induk di Banjarmasin itu bisa jadi akan beberapa kali singgah diterminal lainnya, baru sampai ke teriminal tujuan di kota yang dituju.
Sampai di terminal di kota yang dituju harus mencari angkotan  lagi baru sampao ke rumah, paling tidak mencari ojeki, akibatnya selain menelan waktu lama biaya yang dikeluarkan sangat mahal.
Ambil contoh saja, kalau naik angkutan umum dari Banjarmasin ke desanya di Tanjung Tabalong mungkin satu orang bisa mengeluarkan dana minimal Rp50 ribu, bayangkan kalau satu keluarga empat orang berarti uang harus keluar Rp200 ribu.
Dibandingkan kalau hanya menggunakan sepeda motor, tinggal mengisi bensin sepuluh liter itu sudah bisa pulang pergi berarti biaya yang harus dikeluarkan cuma Rp45 ribu, makanya pilihan naik kendaraan bermotor roda dua itu sekarang menjadi banyak pilihan pemudik lebaran di Kalsel.
Apalagi sekarang ini infrastruktur berupa jalan antara Banjarmasin ke berbagai pelosok desa di Kalsel sudah beraspal mulus, ditambah penerangan listrik desa yang telah menyebar kemana-mana mudik menggunakan kendaraan roda dua menjadi tidak masalah.
Yang memudahkan pula, setibanya di kampung halaman lalu ingin kemana-mana lagi mengunjungi sanak pamili mengucapkan selamat lebaran menjadi mudah dengan kendaraan sendiri.
Menurut keterengan, kian ramainya konvoi kendaraan bermotor mudik lebaran sekarang ini selain memang jalan sudah tersambung kemana-mana juga tingkat kesejehteraraan masyarakat kian membaik.
Dengan tingkat kesejahteraan yang membaik shingga sebagian besar keluarga di Kalsel belakangan ini memiliki sarana sepeda motor.
Apalagi belakangan ini berbagai dialer sepeda motor begitu kian gencarnya mempromosikan dagangannya serta mempermudah penjualan kendaraan roda dua itu dengan cara  sistem kredit, akhirnya jumlah kepemilikan sepeda motor warga Kalsel kian tak terbendung.
Hanya saja kendaraan yang dimiliki oleh warga Kalsel sebagian besar jenis bebek, sedikit sekali sepeda motor jenis lainnya.
Kepala Dinas Perhubungan Kalsel, Abdul Hafaz kepada sejumlah wartawan mengakui bahwa jumlah pemudik lebaran di wilayah Kalimantan Selatan ini baik yang meninggalkan Kalsel maupun antar daerah di propinsi ini terus meningkat.
Jumlah pemudik lebaran di Kalsel tahun ini diperkirakan 1,85 juta orang dan dari jumlah itu sebanyak 1,3 juta orang memanfaatkan mudik lebaran melalui jalur darat.
Dari 1,3 juta pemudik lebaran di Kalsel itu ditaksir 80 ribu orang pemudik menggunakan trend baru dengan memanfaatkan sepeda motor, katanya.
Apalagi dengan kenaikan harga BBM maka pilihan menggunakan sepeda motor menjadi alternatif untuk menghemat biaya berpergian, tambahnya.
Mengasikan
Pengalaman penulis sendiri beberapa kali mudik lebaran dari kota Banjarmasin menuju sebuah desa di Kaki Pegunungan Meratus Kabupaten Balangan sekitar 215 kilometer merupakan perjalanan yang mengasikan.
Walau perjalanan begitu jauh tetapi dengan perasaan suka dan senang maka perjalanan menjadi terasa tidak jauh.


Para pemudik lebaran menggunakan sepeda motor ini biasanya berangkat dari pagi hari menuju siang atau dari siang hari menuju malam, lama perjalanan antara Banjarmasin dengan tujuan Banua Enam (enam kabupaten Utara Kalsel) biasanya ditempuh antara tiga hingga lima jam.
Rute pertama rombongan konvoi kendaraan ini berangkat dariu Banjarmasin menuju Banua Enam dengan beberapa tempat persinggahan.
Bila disaat tidak bulan  puasa biasanya tempat persinggahan adalah warung-warung kecil atau rumah makan di Pulau Pinang atau Binuang Kabupaten Tapin.
Tetapi saat musim lebaran dimana para pemudik sedang menjalan ibadah puasa, biasanya tempat persinggahan adalah perkebunan karet unggul di dekat Binuang karena di perkebunan tersebut rimbun dan dingin dan dibawah nya bersih.
Tak jarang di bawah perkebunan karet unggul itu, puluhan hingga ratusan pengendara sepeda motor istirahat dengan menggelar tikar lalu saling berbarengan mengurangi kepenatan.
Bahkan bagi anak-anak yang tidak sedang berpuasa biasanya mereka menggelar makanan dengan makan beramai-ramai di bawah rindangnya pohon karet dengan hembusan angin segar pegunungan kawasan tersebut.
“Kalau kita naik angkutan umum, jangan harap kita bisa menikmati suasana seperti ini, karena supir angkutan umum biasanya enggan berlama-lama istirahat,” kata seorang pengendara bergurau dengan penulis.
Keasikan lain dengan menggunakan kendaraan roda dua, dimana ingin singgah maka disitu singgah, seperti kalau lagi melihat ada tempat penjualan buah maka bisa beli buah, atau barang apa saja yang dilihat di tepi jalan mudah disinggahi untuk dibeli.
Kebiasaan pemudik lebaran naik kendaraan roda dua ini tidak sendirian melainkan harus berjanjian dan berbarengan berangkat dengan tetangga dengan tujuan sama atau sanak pamili sehingga berangkat berbarengan ini juga menjadi kesikan tersendiri.
Maksudnya berangkat berbarengan dan berkonvoi ini tak lain bila dalam suatu perjalana mendapat masalah, seperti sepeda motor mogok maka secara gotong royong bisa diperbaiki bersama-sama.
Begitu pula bila dalam perjalanan ada pengendara yang sakit maka di salah satu peserta konvoi mubik lebaran ini ada yang membawa obat-obatan sesuai dengan penyakit yang diderita pengendara tersebut hingga ada kesan saling kebersamaan dan saling menolong.
Melihat kemudahan dan murahnya mudik lebaran dengan kendaraan bermotor roda dua ditambah ada nilai keasikan tersendiri maka mudik lebaran konvoi sepeda motor menjadi trend baru di Kalimantan selatan.

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: