OBJEK WISATA PASAR TERAPUNG MUNGKIN TINGGAL KENANGAN

 Oleh Hasan Zainuddin
 Bagi seseorang yang belum pernah menyaksikan aktivitas pasar terapung  di Sungai Barito Banjarmasin, Propinsi Kalimantan Selatan  mungkin membayangkan  begitu ramainya kegiatan pasar tersebut, setidaknya bayangannya seperti yang selalu terlihat ditayangan televisi swasta RCTI.
 Padahal keramaian pasar yang satu-satunya berada di atas air di Indonesia itu belakangan tidak seperti itu lagi, karena sudah jauh berkurang baik jumlah pelaku transaksi di pasar itu  maupun waktu kegiatannya yang sekarang hanya tinggal beberapa jam saja.
 Penulis sendiri ketika  mengunjungi kawasan pasar yang pelaku transaksinya didominasi kaum ibu itu menyaksikan begitu berkurangnya aktivitas di wilayah objek wisata yang sudah dikenal luas tersebut.
 Beberapa pedagang pasar terapung menyebutkan berkurangnya aktivitas di pasar tersebut lantaran prasarana darat ke berbagai pelosok desa di Banjarmasin dan daerah sekitarnya termasuk wilayah Kabupaten Barito Kuala sudah mulai membaik.
 Tersedianya jalan darat itu maka banyak pedagang  eceran tidak lagi menggunakan sampan (perahu) melainkan menggunakan kendaraan roda dua atau sepeda.
 Penyebab  berkurangnya aktivitas di pasar terapung itu bukan semata tersedianyaa jalan darat, melainkan pula begitu banyak aktivitas kapal angkutan umum dan angkutan karyawan yang melintasi kawasan pasar terapung perairan desa Kuin dan Alalak itu.
 Terlihat  tiga buah kapal fery penyebarangan untuk mengangkut penumpang umum dan karyawan perusahaan kayu antara Desa Kuin ke Handil Subarjo Kabupaten Barito Kuala bolak-balik melintas persis di tengah pasar terapung.
 Tidak jarang kapal ferry itu begitu kencang jalannya melahirkan gelombang air yang besar, dengan demikian pengguna jukung kecil yang biasanya paling banyak di pasar terapung itu menjadi takut terhantam gelombang itu, karena bila tidak hati-hati bisa tenggelam.
 “Operasi kapal ferry penyebarngan dua wilayah itu sudah berlangsung tiga tahun belakangan ini, sejak itulah kegiatan pasar terapung agak berkurang,”kata Bahri seorang pedagang soto Banjar terapung di kawasan tersebut.
 Belum lagi hilir mudiknya kapal pengangkut karyawan perusahaan kayu lapis, seperti kapal milik PT Barito Pasific, PT Tanjung Raya Group, PT Kawi, dan perusahaan PT Tanjung Selatan yang juga tak kalah kencangnya hilir mudik di tengah sekumpulan pedagang di pasar terapung itu.
 Kapal-kapal perusahaan tersebut kalau lewat kawasan ini juga kencang, sampai-sampai gelombang kapal itu seringkali menerpa paru kami yang sedang jualan ini, dan pernah piring dan gelas minum dagangan kami berguguran dari tempatnya dan pecah setelah perahu dihantam gelombang kapal karyawan itu.
 Setelah gencarnya gangguan kapal angkutan karyawan itu juga banyak pelaku pasar yang memiliki oerahu kecil takut berada di tengah sungai Barito dan akhirnya pelaku pasar berhenti sendirinya.
 Selain jumlah pelaku pasar berkurang, sekarang ini keadaan pasar terapung juga terpencar tidak lagi terkosentrasi persis tepi Desa Kuin melainkan terdapat tiga kelompom termasuk satu kelompok di wilayah Alalak yang berjarak sekitar 500 meter dari lokasi asal.
 Belum lagi adanya  kelompok-kelompok kecil seperti kelompok, pedagang ikan basah, kelompok pedagang beras, kelompok sayur-mayuran dan buahan yang memencarkan diri secara sendiri-sendiri.
 “Kalau membandingkan kondisi pasar terapung diera tahun 80-an dan 90-an lalu dengan sekarang jauh sekali berubah, sehingga banyak pendatang ke objek wisata tersebut merasa kecewa setelah menyaksikan kondisi sekarang, mereka membayangkan kondisi pasar terapung itu seperti yang terlihat di layar RCTI itu,”kata Bahri.
 Sementaran keterangan dari Dinas Pariwisata Kota Banjarmasin, menyebutkan bahwa pihak pemerintah berusaha menyelamatkan objek wisata tersebut dari kepunahan dengan memberikan bantuan modal kepada para pelaku di pasar itu melalui koperasi.
 Selain itu, pemerintah pusat melalui Menteri Koperasi dan Usaha Kecil Menengah (UKM) juga akan membantu sebuah kapal wisata yang refresentatif yang bisa digunakan untuk para  wisatawan ke areal tersebut.
 Bahkan sekarang pemerintah telah membangunkan sebuah dermaga wisata di tempat itu sekaligus membangun sebuah tempat penginapan agar wisatawan bisa menyaksikan kegiatan pasar terapung lebih awal setelah menginap di penginapan sederhana tersebut.
 Menteri Kebudayaan dan Pariwisata, Jero Wacik ketika berada di Banjarmasin saat festival Borneo mengagumi keberadan objek wisata andalan Kalsel yang menurutnya  tidak kalah dibandingkan pasar terapung yang ada di Bangkok Thailand, maupun di  Italia.
 Pemerintah sendiri berkewajiban untuk melestarkan pasar tersebut dengan segala upaya, baik pemerintah pusat, pemerintah propinsi, maupun pemerintah  Kota Banjarmasin sendiri.
 Ketika berada di Banjarmasin tersebut, Jero Wacik bersama dengan Wakil Gubernur Kalsel, Rosehan NB, Walikota Banjarmasin Yudhi Wahyuni serta Kepala Dinas Pariwisata Kalsel, Bihman Yulinasyah mengelilingi lokasi pasar terapung, kala itu Menteri terasa betah berada di kawasan wisata perairan tersebut.
 Oleh karena itu Menteri menyarankan agar secara bersama-sama semua pihak bagaimana agar pasar yang konon sudah berada di Sungai Barito sejak kerajaan Banjar itu sudah terus lestari hingga kapanpun, baik sebagai lokasi ekonomi masyarakat maupun sebagai kegiatan budaya dan pariwisata.
 Pasar terapung Banjarmasin ini merupakan objek wisata andalan yang sudah dipromosikan secara gencar oleh Pemprop Kalsel hingga ke berbagai mancanegara, dengan membagikan famlet, brosur ke perusahaan p;enerbangan, hotel berbintang, travel, biro perjalanan, dan aktivitas wisata lainnya termasuk promosi dari mulut kemulut wisatawan itu sendiri.
 Pasar itu  biasanya mulai beraktivitas pada pukul 06.00 Wita  dan berakhir sekitar pukul 09.00 Wita karena sifatnya pasar ini pedagang grosir untuk melayani pedagang eceran yang kemudian membawa hasil pembelian itu ke kampung-kampung yang bisa dilalui angkutan sungai untuk dijual lagi ke masyarakat.
 Namun berbagai kalangan menilai kalau kondisi pasar terapung yang terus berkurang kemudian tidak menjadi perhatian semua pihak bisa jadi masa yang akan datang, objek wisata unik yang bisa diandalkan meraih kedatangan wisatawan mancanegara itu kemungkinan tinggal kenangan saja lagi.

 

 

 

“FESTIVAL PASAR TERAPUNG” UPAYA LESTARIKAN BUDAYA SUNGAI
                 Oleh Hasan Zainuddin
      Banjarmasin,14/6 ()-Satu dasawarsa lalu, keberadaan pasar terapung (floating market) begitu semarak, namun kesemarakan aktivitas transaksi di kawasan pasar di atas Sungai Barito dan Sungai  Martapura, Banjarmasin Propinsi Kalimantan Selatan (Kalsel) tersebut belakangan mulai berkurang.
      Banyak yang mengkhawatirkan pasar terapung menjadi objek wisata andalan Kalsel tersebut bakal punah, menyusul zaman terus bergulir dimana pelaku transaksi di pasar yang sudah ada sejak berabad-abad tersebut  mulai mengalihkan kegiatannya ke darat.
       Pemerintah Propinsi (Pemprop) Kalsel melalui Dinas Pariwisata dan Budaya setempat pun turut mengkhawatirkan punahnya objek wisata  yang ada di Desa Kuin Sungai Barito, maupun di Desa Lok Baintan Sungai Martapura itu, seperti dituturkan Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kalsel, Drs.Bihman  Muliansyah.
      Kekhawatiran hilangnya pasar terapung itu kini mulai terbukti, setelah berkurangnya aktivtas pelaku pasar terapung di dua lokasi tersebut.     
      Pelaku di pasar terapung kebanyakan adalah pedagang eceran, yang membeli barang kebutuhan pokok, seperti sayuran, ikan, buah-buahan, dan bahan makanan termasuk sembilan kebutuhan pokok di pasar terapung.
     Setelah membeli barang dagangan di pasar terapung pedagang eceran yang menggunakan jukung (sampan kecil) itu menyusuri sungai-sungai kecil di pemukiman penduduk untuk menjual baranbg dagangan itu lagi ke masyarakat, begitulah setiap hari sehingga keberadaan pasar terapung dinilai vital sekali.
      Tetapi setelah jalan darat di tiga wilayah seperti di Kota Banjarmasin, Kabupaten Banjar, dan Kabupaten Barito Kuala (Batola) mulai tersedia  maka pedagang eceran beralih  berdagang menggunakan sepeda, atau sepeda motor. Merekapun tak lagi membeli barang jualan di pasar terapung tetapi di pasar induk di ketiga wilayah tersebut.
      Akibatnya bukan pedagang kecil saja yang tak lagi mendatangi pasar terapung tetapi juga pedagang besar (grosir) kini mulai enggan pula mendatangi kawasan pasar terapung Desa Kuin Sungai Barito tersebut.
      Melihat kenyataan tersebut, maka bisa jadi nantinya pasar terapung tidak lagi keberadaannya secara alamiah seperti sekarang .  Artinya pasar terapung tak lagi menjual barang  kebutuhan masyarakat, melainkan hanya rekayasa seperti layaknya pasar terapung di objek wisata  Bangkok Thailand yang hanya menjual barang cenderamata.
       Untuk melestarikan pasar terapung itulah maka berbagai upaya telah dilakukan termasuk membina para pedagang agar tetap bertahan di lokasi tersebut. 
       “Kegiatan Festival Pasar Terapung (FPT) tanggal 21-22 Juni 2008 mendatang merupakan satu bagian dari upaya pelestarian pasar terapung itu,” kata Bihman Muliansyah.
       Guna mensukseskan FPT itu Pihak Disbudpar Banjarmasin maupun Disbudpar Kalsel kini sudah mempersiapkan matang penyelanggaraannya. Koordinasi terus dilakukan bukan saja kedua instansi itu tetapi juga dengan pihak Bank Indonesia (BI) Banjarmasin mengingat BI terlibat juga pendanaan dalam kegiatan tersebut.
      Koordinasi juga dengan pihak kepolisian yang menerjunkan polisi wisata, serta dengan Himpunan Pramuwisata Indonesia (HPI) Kalsel yang diharapkan peran pramuwisata mensukseskan event tersebut dengan cara mendampingi para wisatawan selama di wilayah ini, termasuk koordinasi dengan Asita Kalsel, Perhimpunan Hotel dan Restauran Indonesia (PHRI), agen perjalanan  dan komunitas pengelola wisata Kalsel lainnya.    
      Kadisbudpar Banjarmasin Hesly Junianto menuturkan,  panitia membangun sebuah miniatur perkampungan suku Banjar, (kampung banjar) di tepian Sungai Martapura, atau halaman kantor Gubernur Kalsel, jalan Sudirman Banjarmasin.untuk mendukung kegiatan budaya dan  pariwisata di arena FPT.
     Melalui kampung Banjar para wisatawan bisa melihat aneka jenis budaya masyarakat Banjar yang tinggal di Kalsel, tanpa harus mendatangi wilayah 13 kabupaten/kota  yang ada di provinisi ini, karena lokasi itu diisi perwakilan warga kabupaten/kota Kalsel.
     Melalui kampung Banjar itu pula terdapat aneka kerajinan suku Banjar, lukisan daerah Banjar, serta aneka peralatan tradisional seperti alat pendulangan intan  setempat, disamping akan digelar festival kuliner yang menyajikan aneka macam penganan dan masyarakat khas daerah ini yang disebut makanan 41 macam.
     Di perkampungan buatan itu pula akan digelar pameran berbagai potensi ekonomi dan sosial budaya daerah Kalsel, pameran kerajinan rakyat, serta pameran foto kampung Banjar tempo dulu.
    Di lokasi itu pula digelar festival permainan rakyat, seperti permainan anak-anak Kalsel tempo dulu, badaku, balogo,bagasing, batungkau, lariu menggunakan sandal terbuat dari tempurung kelapa, dagongan,bakarasminan termasuk menampilkan seni budaya 13 kabupaten/kota se Kalsel, serta festival sinoman hadrah.
    Sedangkan kegiatan di atas sungai Martapura, terdapat lomba jukung hias yang sudah dinyatakan diikuti 250 peserta, lomba jukung tradisional (sampung jaga), lomba jukung tanglong yang diikuti ratusan peserta pula.
    Bahkan ada  farade atau kegiatan   modeling di atas perhu yang diikuti oleh peragawan dan peragawai menggunakan kain khas Kalsel, Sasirangan, tambah Hesly Junianto.
    Dalam acara pembukaan tersebut selain dihadiri Gubernur Kalsel, Drs.Rudy Ariffin yang sekaligus memberikan sambutan pembukaan, juga ada sambutan dari Dirjen Pemasaran Departemen Kebudayaan dan Pariwisata.
     Selama pembukaan kesenian yang disajikan adalah tarian baksa kembang, tarian radap rahayu, pegelaran musik panting, serta madihin.
    Pada malam harinya kegiatan dimeriahkan penampilan hiburan rakyat, serta pesta kembang api, kata Hesly yang didampingi kepanitiaan lainnya dalam konferensi pers menyambut penyelanggaraan akbar tersebut.
    Pengunjung yang diharapkan menghadiri sesuai dengan undangan yang sudah disampaikan antara lain para pejabat daerah, pejabat pemerintah pusat, perwakilan negara asing yang undangannya sudah disampai ke Departemen Luar Negeri , dan kalangan pejabat dari Departemen Kebudayaan dan Pariwisata.
    Pemerintah Propinsi yang diundang khususnya dinas yang menangani kebudayaan dan pariwisata yang  sudah menyatakan datang, dari pemerintah Kalimantan Barat, Kalimantan Timur, Kalimantan Tengah, Jawa Barat, dan Jawa Timur, serta propinsi lainnya.
    Kemudian juga diundang asosiasi, dewan kerajinan nasional, Asita, PHRI, HPI, serta media cetak dan elektronika baik di daerah dan Jakarta.
                    Kalender
    Pemvrop Kalsel akan  menjadikan FPT sebagai kalender kepariwisataan Kalsel, digelar tiap tahun, dan selalu dipromosikan  melalui berbagai media massa dan pembagian brosur dan buku wisata  ke seluruh biro perjalanan dan agen wisata.
     Menurut Kadisbudpar Kalsel Bihman  Muliansyah karena ini kalender kepariwisataan maka penyelanggraan yang pertama ini akan menjadi contoh kesukseskan guna menggelar berikutnya.
      “Kita mengujicoba kemampuan kepastiaan, FPT khususnya dalam koordinasi. Kalau koordinasi antar instansi dan pihak yang terlibat cukup baik, maka pola ini yang akan dilakukan ketika menggelar event budaya yang lainnya, “katanya.
      FPT di Kalsel merupakan program nasional yang diselanggarakan di daerah selama VIY, sedangkan kegiatan lain adalah Mappanretasie (memberi makan laut) di Pantai Pagatan, Kabupaten Tanah Bumbu (Tanbu).
     Acara Baayun Anak saat Mauludan Rasul di masjid Al Mukaramah, Desa Banua Halat Kabupaten Tapin, juga merupakan event budaya dan kalender keparwisataan Kalsel yang selalu dipromosikan selama VIY 2008 dan visit Kalsel tahun 2009. Kegiatan lain adalah budaya aruh ganal (selamatan besar) di pemukiman suku  Dayak Pedalamam Kalsel atau di Pegunungan Meratus.
    FPT di Banjarmasin ini sudah pula dipublikasikan secara luas agar masyarakat Kalsel dan masyarakat indonesia dan mancanegara mengetahuinya sehingga memancing wisatawan datang menyaksikan festival tersebut.
     Menurut Bihman Muliansyah yang juga dikenal sebagai ketua I, kepanitian FPT tersebut,   beberapa biro perjalanan di tanah air sudah menyatakan membawa wisatawan datang ke daerah ini.
    Umpamanya saja biro perjalanan di Jawa Timur, Jogyakarta, Jawa Tengah, Jawa Barat, dan Jakarta menyatakan kesediaan datang ke Kalsel, Sementara warga asal Kalsel yang sudah lama tinggal di daerahlain juga sudah menyatakan bakal datang menyaksikan kegiatan budaya tersebut, seperti dari Pulau Jawa, dari Indragiri Hilir (Inhil) Riau, serta dari Malaysia.
     “Kita berharap FPT kali ini sukses, sebagai ajang menyambut Visit Indonesia Year (VIY) tahun 2008, sekaligus menyabut visit Kalsel tahun 2009, disamping berhasil memelastarikan budaya sungai pasar terapung, yang sudah begitu dikenal luas di tanah air, setelah selalu ditayangkan melalui televisi swasta di Jakarta,” kata Bihman Muliansyah.

Iklan

2 Tanggapan

  1. pemberian bantuan perbaikan jukung…saya rasa tidak menyelesaikan masalah….kecewa dgn kinerja Dinas yang tak mencoba mencari jalan keluar mengenai masalah ini….mengenai kapal karyawan itu…perlu adanya sikap tegas dari pemerintah untuk membuat kebijakan2 ttg masalah tersebut….pasar terapungku…jangan sampai punah…

  2. Bagus komentar kamu

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: