TEKNOLOGI PEMADAMAN KEBAKARAN LAHAN GAMBUT SOLUSI ATASI TRAGEDI ASAP

              Oleh Hasan Zainuddin
 Banjarmasin,17/10 (ANTARA)-Bila anda berkunjung Ke Kalimantan Selatan, disaat musim kemarau seperti sekarang ini dan melewati wilayah Kecamatan Gambut, Kabupaten Banjar, pasti  anda akan kaget dan boleh jadi anda akan ketakutan, karena seperti anda aberada di dalam awan tebal.
 Padahal wilayah Kecamatan Gambut Kabupaten Banjar ini dilintasi trans Kalimantan yang paling padat arus lalu-litasnya dibandingkan trans  Kalimantan dimana saja, termasuk jalur jalan antara pusat Kota Banjamasin ke airpot Syamsudin Noor.
 Oleh karena itu setiap kali ada pendatang ke Banjarmasin disaat musim kmarau seperti ini akan bisa merasakan tragedi asap yang selalu terjadi setiap musim kemarau.
 Kabut asap di sepanjang Jalan A Yani Kecamatan Gambut ini kian pekat disaat pagi hari hingga menjelang siang, sebagai gambaran saja melali jalur jalan tersebut harus eksra hati-hati, pasalnya seoarng pengemudi mobil atau pengendara sepeda motor hanya bepatokan dengan garis putih marka jalan.
 Pasalnya dari badan jalan tersebut pada saat kabut pekat pandangan paling jauh hanya lima meter saja, salah satu panduan agar mobil yang dikendarai tidak terpeleset ke pinggir jalan  bahkan bisa jadi kecebur ke sungai mengingat sepanjang jalan itu adalah sungai adalah mengikuti garis putih jalan.
 Seringkali pengemudi yang tidak mengikuti garis putih tersesat seperti pengemudi dari luar kota mau ke Banjarmasin, tersesat justru ke arah Pelaihari ibukota Kabupaten Tanah laut.
 Tetapi bagi pengendara mobil yang mampu melewati kawasan trans Kalimantan di Kecamatan Gambut sekitar 20 kilometer itu maka tidak bakal lagi ketemu kondisi yang buruk demikian.
 Kenapa hanya wilayah Kecamatan Gambut yang berkabut pekat sementara kabupaten lain tidak setebal itu, karena wilayah Kecamatan Gambut sesuai dengan namanya adalah wilayah paling bergambut (peat) di Kalimantan Selatan.
 Seperti dikemukan Kepala Dinas Kehutanan Kalsel, Ir Sony Partono kepada penulis, wilayah ini tak bisa terhindar dari serbuan kabut asap disaat musim kemarau, karena lahan di sana bila terbakar memproduksi asap begitu banyak.
 Tidak dengan kebakaran hutan atau lahan semak belukar lainnya, bila api sudah padam maka asap tidak akan kembali muncul, namkun di lahan gambut kendati api sudah padam namun kepulan asap tebal terus saja terjadi di lahan itu gambut yang terbakar  itu berminggu-minggu, bahkan kadangkala memunculkan lagi kobaran api.
 Tetapi untuk menghentikan produksi asap itu sangat sulit, lantaran tidak ada teknologi yang efektif memadamkan api di kebakaran lahan gambut.
 Sementara kebakaran regu kebakaran yang ada di kalsel yang mungkin sekitar  200 unit terutama di Banjarmasin tidak punya keahlian memadamkan api di lahan gambut demikian.
 Masalahnya memadamkan api di lahan hutan dan semak elukar atau kebakaran pemukiman cukup menyemprotkan api ke pusat api, api padam maka pekerjaan selesai.
 Tetapi kalau memadamkan api di lahan gambut tidak bisa demikian, karena walau api dipermukaan sudah padam namun api tetap membara di kedalaman bawah lapisan gambut, dan suatu saat akan memunculkan kembali kobaran api baru.
 Selain itu di lapisan tebal gamut itu ternyata memproduksi asap pekat ke udara berhar-hari bahkan berminggu-minggu dan itulah yang menyebabkan asap di kecamatan gambut tidak seperti di daerah lain.
 Sementara satu tim pemadam kebakaran hutan yang dibentuk pemerintah Manggala Agni walau berkemampuan memadamkan api di lahan gambut, yakni dengan cara “menyuntikan” moncong selang pemadam kebakaran ke dalam tanah, tetapi tenaga dan faslitas tim ini sangat terbatas.
 Keberadaan tim inipun hanya ada di Kabupaten Tanah laut dan Tanah Bumbu dengan alat bebetrapa buah mobil kebakaran hutan saja, itupun saranya terbatas pula, akhirnya tidak mampu memadamkan kebakaran api yang begitu luas.

 pemadaman kebakaran  lahan gambut di Kalsel
 Apalagi kebakaran tahun ini dikatagorekan kemarau paling panas, dimana kebakaran hutan dan semak belukar mencapai enam kali ipat jumlahnya dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.
 Data terakhir jumlah titik api yang berhasil dipantau satelit sejak tahun 2006 ini sudah mencapai 5.351 titik  api, tetapi dari jumlah tersebut, hanya 20 persen yang berada di lahan hutan produksi selebihnya adalah di lahan terbuka, seperti semak belukar, padang alang-alang, perkebunan, pertanian, serta lahan gambut.
 Usaha pemadaman api di wilayah Kalsel itu menurut Sekretaris Satuan Pelaksana Penanggulangan Bencana (Satkorlak PB) Kalsel, Drs.Hadi Soesilo sudah maksimal dilakukan, selain menerjunkan tim dari regu pemadam kebakaran tradisoonal yang ada juga dari tim Manggala Agni sendiri.
 Bahkan melalui Basarnas, telah melakukan penanggulangan kebakaran hutan dan semak belukar tersebut melalui hujan buatan dengan cara peneburan garam ke udara oleh sebuah pesawat hercules, tetapi hujan buatan tersebut gagal membuahkan hujan.
 Masalahnya, kata Hadi Seosilo yang juga dikenal sebagai Ketua Badan Kesatuan Bangsa dan Perlindungan Masyarakat (Kesbanglinmas) Kalsel itu, awan di udara Kalsel tidak mencukupi untuk mengumpulkan butiran air hujan.
 Konon, tambahnya, ketiadaan awan di udara Kalsel tersebut lantaran terjadi badan di udara China yang menyebabkan kosentrasi awan berali ke sana sehingga di wilayah ini ketiadaan awan pembentuk hujan.
 Gubernur Kalsel, drs.Rudy Ariffin sendiri ketika ditanya wartawan mengaku pusing juga dengan tragedi asap demikian, harus bagaimana, upaya sudah dilakukan, bahkan doa kalangan ulama dan masyarakat sudah pula dilakukan, melalui shalat istiqsa tinggal kemampuan teknologi saja yang haus dikuasi untuk memadamkan kebakaran hutan terutama lahan gambut tersebut.
 “Mobil regu pemadaman kebakaran yang kita miliki kan terbiasa memadamkan api di pemukiman dan hutan biasa tidak teramil di lahan gambut, makanya kedepan teknologi pemadaman api di lahan gambut itu harus dikuasai,” katanya.
 salah satu penyebab kemampuan regu kebakaran di wilayah ini memadamkan api di lahan hutan gan gambut lantaran minimnya fasilitas dan peralatan, sebagai contoh kecil saja tidak memiliki selang air yang panjang yang mampu masuk ke lahan hutan dan dan hamparan gambut yang terbakar.
 Untuk melengkapi sebuah mobil pemadaman kebakaran hutan dan lahan gambut ini memag dipelukan dana sangat besar, satu unit bisa mencapai Rp20 miliar, sehingga kalau harus ada beberapa unit maka biaya yang diperlukan begitu besar.
 Bukan hanya alat tetapi keterampilan regu pemadam itu sendiri serta teknologinya harus pula dikuasai agar dimasa mendatang lebih mudah mengatasi kebakaran hutan yang menyebabkan udara Indonesia ini berasap.
 Dengan udara berasap maka kesehatan mayarakat seperti di Banjarmasin terganggu, dimana penyakit inspeksi saluran pernapasan bagian atas (Ispa) meningkat dua kali lipat, begitu juga penyakit asma dan penyakit pernapasan lainnya.
 Kabut asap membuat kota Banjamasin ibukota Kalsel seringkali dilanda mendung yang bukan berati akan hujan, matahari terlihat seperti bulan dan bewarna jingga, walau siang terasa senja bahkan  diserbu hujan kelalatu (benda hitam bekas tanaman terbakar).
 Bukan hanya Kalsel yang memiliki lahan gambut yang memiliki kabut asap, tetapi juga berdasarkan keterangan dimana wilayah yang bergambut tebal semuanya dilanda serbuan kabut asap ini.
 Sebagai contoh saja, dari empat Propinsi Kalimantan hanya Kalimantan Timur yang tidak memliki hamparan gambut, dan agaknya propinsi ini walau berasap hanya kiriman, sementrara Kalimantan Selatan, Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Barat semuanya bergambut dan kabut tebal telah melanda ketiga wilayah ini.
 Begitu juga di Pulau Sumatera dimana wilayah terdapat hamparan gambut tebal seperti Propinsi Riau, Jambi, dan Sumatera Selatan tak bisa dipungkiri wilayah yang memproduksi asap tebal yang menyebar kema-mana.
 Sedangkan propinsi lain di Sumatera seperti  Sumatera Utara, Sumatera Barat, dan propinsi lainnya yang hamparan gambut relatif kecil maka serbuan asap juga tidak sehebat di propinsi yang memliki hamparan gambut.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: