UPAYA PETANI KALSEL HINGGA PEMASOK BERAS NASIONAL

 Oleh Hasan Zainuddin
 Banjarmasin, 23/1 (ANTARA) – Kesulitan warga Propinsi Kalimantan Selatan (Kalsel) memperoleh beras di era tahun 60-an, tahun 70-an hingga tahun 80-an  telah membangkitkan semangat petani setempat  menggarap berbagai lahan untuk bisa ditanami padi.
 Di era tahun tahun-tahun tersebut warga Kalsel masih terbiasa mengkonsumsi  beras yang berwarna merah, serta bercampur kapur, serta berbau apek lantaran beras tersebut sudah terlalu lama disimpan dan diperdagangkan dan didatangkan dari berbagai daerah lain di Indonesia bahkan beras impor.
 Dengan semangat yang menggebu ditambah dorongan pemerintah setempat membuat pertanian Kalsel begitu maju, terbukti hamparan rawa yang tadinya penuh dengan hutan galam (kayu khas rawa) seperti di Kabupaten Banjar dan Kabupaten Barito Kuala digarap dengan menebang ribuan bahkan jutaan pohon kayu rawa itu.
 Kemudian lahan rawa yang berhutan  pohon galam itu setelah ditebang kemudian dibersihkan menjadi sehamparan luas areal pertanian yang subur walau tanpa harus menggunakan sistem irigasi, seperti terlihat di wilayah Kecamatan Gambut dan Kecamatan Aluh-aluh..
 Kemudian lahan yang tadinya dianggap marginal seperti rawa pasang  surut setelah ditemukannya berbagai tehnologi penurunan kadar air asam di lahan tersebut melalui teknologi sederhana yang disebut sistem irigasi Haji Idak lahan tersebutpun dimanfaatkan.
 Sementara lahan tadah hujan yang merupakan lahan pertanian terluas di wilayah paling selatan Pulau Kalimantan inipun ditata  kemudian dibuatkan sistem irigasi, baik irigasi teknis maupun irigasi sederhana pedesaan hingga mampu ditanami padi dua kali setahun.
 Begitu pula  lahan lebak (lahan yang selama musim hujan terendam air dan airnya surut musim kemarau ) semaksimal mungkin digarap,  khususnya pada saat musim kemarau, dan tak tanggung-tanggng lahan lebak Kalsel tercatat 150 ribu hektare, dan 60 ribu hektare sudah dimanfaatkan.
 Dalam upaya meningkatkan produksi beras tersebut lahan keringpun akhirnya oleh pemerintah dianjurkan untuk ditanami padi melalui sistem tugal (gogo), apalagi masyarakat pedalaman (suku Dayak Kalsel) terlebih dahulu memiliki kebiasaan menggarap lahan kering untuk padi itu melalui ladang berpindah sehingga mampu pula menambah cadangan beras di wilayah ini.
 Untuk meningkatkan produksi padi tersebut petani Kalsel bukan semata memperluas areal tanam dengan memanfaatkan berbagai jenis lahan tersebut tetapi juga mencoba meningkatkan teknologi pertaniannya.
 Sebagai contoh saja petani Kalsel sudah mengerti  memanfaatan alat mesin pertanian (Alsintan) penggunaan bahan kimia pertanian seperi herbisida dan pestisida serta menggunakan berbagai jenis pupuk.
 Bahkan pemulia padi asal Kalsel melalui Balai Penelitian Rawa (Balitra) Bajarbaru  berhasil menciptakan varietas padi khas Kalsel, yaitu varietas  Kapuas, Mahakam, Baroto, dan Varietas  Martapura.
 Varietas tersebut oleh pemulia padi Balitra digulirkan untuk menyesuaikan  dengan lahan pasang surut, tetapi  berumur penedek serta produksi besar dan rasanya tak kalah dengan varietas lokal yang paling disukai.
 Satu teknologi lain yang dimunculkan ahli pertanian Kalsel yaitu dengan penggarapan lahan sawah sistem “Sawit Dupa” (satu kali mewiwit dua kali panen), wiwit disini diartikan pembibitan.
 Melalui pertanian sistem sawit dupa ini maka petani bisa menanam padi varietas unggul berumur pendek (tiga bulan) seperti IR-42, IR-66 dengan padi varietas lokal seperti padi Siam Unus, atau padi varietas Karandukuh yang berumur panjang (6 bulan).
 Apapun gaya dan cara petani yang merupakan komunitas masyarakat terbesar Kalsel yang penting sektor Pertanian Kalsel bisa sejajar dengan wilayah lain yang sudah lebih maju dalam sektor pertanian ini.
 Dengan demikian  bila beberapa dasawarsa lalu warga Kalsel selalu “menjerit”  kekurangan beras kini sudah bisa “tersenyum”  dengan mampu mencukupi beras sendiri, bahwa sudah mampu menjadi daerah pemasok beras nasional.
 Gubernur Kalimantan Selatan, H.Rudy Ariffin ketika ditanya wartawan di Kantor Gubernur Kalsel Banjarmasin,  mengakui bahwa wilayahnya sudah mampu menyumbangkan beras bagi kebutuhan nasional, walaupun jumlahnya relatif masih kecil tetapi sudah memberikan arti bagi wilayah ini.
 Oleh sebab itu, kemampuan Kalsel mensuplai beras nasional tersebut harus ditingkatkan lagi dimasa mendatang, dengan memanfaatkan semaksimal mungkin lahan yang ada.
 Dalam pertemuan dengan pihak pimpinan Daerah Tingkat II se Kalsel belum lama ini, kata Gubernur Kalsel yang mantan Bupati  Banjar tersebut telah memerintahkan kepada seluruh bupati/walikota se Kalsel untuk melakukan perluasan areal tanam dari sekarang yang hanya sekitar 800 ribu hektare menjadi melebihi dari luas areal tanam tersebut.
 Dengan cara melakukan pemetaan kembali luasan areal tanam tersebut bukan hanya di lahan yang sudah digarap sekarang ini tetapi juga pada lahan-lahan yang selama ini dianggap marginal tetapi sebenarnya bisa dimanfaatkan seoptimal mungkin mengejar produksi padi tersebut.
 Hal lain, Gubernur Kalsel ini juga meminta kepada seluruh bupati/walikota untuk membuat jadual penananam yang dapat dikoordinasikan ke seluruh instansi terkait dengan menyesuaikan dengan musim atau cuaca.
 Dalam upaya meningkatkan sektor pertanian itu tentu dengan melakukan intensifikasi dan diversifikasi, tambahnya, di sela-sela acara makan bareng makan bakso dan mie ayam gratis bebas formalin di halaman Kantor Gubernur Kalsel itu.
 Sebelumnya, ia menyebutkan wilayahnya yang dikatagorikan sebagai salah satu daerah penyangga pangan nasional, tahun 2005 menyumbangkan sedikitnya 340 ton beras untuk pengadaan  pangan nasional.
 “Meskipun Kalsel mengalami surplus beras sekitar 450 ribu ton selama tahun 2005, namun hanya sekitar 340 ton yang bisa dibeli oleh Perum Bulog Kalsel untuk kontribusi untuk pengadaan pangan nasional,” katanya.
 Menurut Rudy, dengan kondisi surplus beras ratusan ribu ton di Kalsel selama ini dan mampu menyumbang untuk pengadaan pangan nasional, maka Kalsel tidak perlu beras impor mengingat beras yang ada mencukupi terutama beras lokal.
 Kepala Dinas Pertanian Kalsel, Ir.H.Yohannes Sriyono mengakui, sebenarnya suprlus beras di Kalsel mencapai 450 ribu ton, namun sebagian besar beras itu merupakan beras lokal seperti Siam Unus dan Karandukuh yang tidak mampu dibeli Dolog karena harga lebih  mahal dari harga yan ditetapkan pemerintah.
 Harga yang ditetapkan Dolog sekitar Rp3.550/kg, kalau jenis beras Siam Unus dan Karandukuh jauh mahal dari harga tersebut.
 Dia menjelaskan, produksi gabah di Kalsel tahun 2005 (Januari-Desember) sesuai verifikasi Badan Pusat Statistik (BPS) setempat mencapai 1,577 juta ton Gabah Kering Giling (GKG) atau setara beras sekitar 950 ribu ton, sedangkan keperluan konsumsi masyarakat dan industri Kalsel hanya sekitar 500 ribu ton.
 Selain itu, kata Sriyono, di Kalsel ini sepanjang tahun terjadi panen lantaran pemanfaatan lahan lebak dan lahan kering disamping lahan paang surut dan lahan berigasi sehingga bila musim kemarau panjang sekalipun bila daerah lain mengalami penceklik di Kalsel malah terjadi panen besar-besaran di lahan lebak.
 Melihat kesungguhan petani Kalsel bangkit dari masa kemasa itu telah memberikan harapapan dimasa mendatang bahwa wilayah ini akan terus berkiprah dalam pemasok beras nasional, hingga mampu menekan terjadinya impor

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: