KUSTA MASIH JADI PERSOALAN SERIUS DI KALSEL

Oleh Hasan Zainuddin
Banjarmasin, 2/3 (ANTARA)- Beberapa jenis penyakit yang dulu menjadi momok menakutkan masyarakat Propinsi Kalimantan Selatan berhasil diberantas, tetapi ada pula penyakit yang dulu sering menyerang warga dan kini masih penderita bisa dihitung dengan jari.
Sebagai contoh saja penyakit cacar api, penyakit puru (frambosia) krumut (morbili), kaki gajah (flaria), serta gondok yang di zaman penjajahan hingga awal kemerdekaan merupakan penyakit yang banyak diderita  masyarakat.
Tetapi penyakit Kusta yang sejak nenek moyang menjadi momok di tengah masyarakat ternyata serangannya sampai sekarang masih saja menakutkan, karena jumlah penderita penyakit ini tetap mengkhwatirkan.
Memang banyak hambatan untuk memberantas penyakit yang dinilai sebagian masyarakat sebagai penyakit kutukan, keturunan, dan akibat guna-guna ini. Salah satu penyebab sulitnya memberantas penyakit itu  adalah akibat anggapan yang salah demikian.
Seperti diakui Kepala Dinas Kesehatan Kalsel, Drg. Rosihan Adhani akibat anggapan yang salah demkianlah menimbulkan ketakutanan yang  berlebihan terhadap penyakit kusta, hingga jadi penghambat program pemberantasan kusta, padahal penyakit itu tidak hanya mengancam pada aspek medis, tapi juga mengganggu aspek sosial dan ekonomi penderitanya.
“Masih terdapat kecenderungan besar di masyarakat untuk mengucilkan mereka yang terserang kusta, sehingga orang dengan kusta sulit melakukan aktivitas layaknya orang normal karena stigma yang ada di masyarakat,” tambahnya.

penderita kusta (ft unair)
Image masyarakat yang memvonis penderita kusta dengan cap-cap tidak baik itulah yang akhirnya membuat para penderita kusta takut untuk datang berobat dan berdampak pada lambannya penanggulangan. Padahal penyakit kusta jika ditangani sedari dini, tidak akan sampai menimbulkan kecacatan.
Begitu melihat sudah takut duluan, katanya, tentang persepsi masyarakat selama ini terhadap penderita kusta dan phobia tersebut tidak jarang juga dialami oleh petugas kesehatan di lapangan.
Dia menambahkan dalam pengobatan penyakit kusta, sekarang sudah dapat diperoleh di puskesmas secara gratis, yang rumit adalah rehabilitasi dan pemulihan aspek psikologis penderita dan membuat lingkungan mereka dapat menerima mereka kembali.
Disadari, untuk merubah persepsi orang memang perlu waktu lama namun dengan upaya berkelanjutan diharapkan leprophobia akan dapat dihilangkan.
Salah satu caranya adalah dengan terus menekankan agar tidak menganggap rendah mereka yang terkena kusta karena mereka tidak menghendaki terkena penyakit itu dan hal ini dilakukan melalui sosialisasi dan kampanye.
Intinya, dengan menginformasikan pada para penderita kusta untuk tidak perlu takut datang berobat karena nama dan keberadaan mereka tidak akan diumumkan dan juga sekarang pengobatan kusta dapat berobat jalan dan tidak perlu diisolasi.
Pengobatan sedini mungkin terhadap penyakit kusta akan menghindarkan penderita dari kecacatan dan para petugas kesehatan juga telah dibekali pengetahuan agar dapat melakukan deteksi dini penyakit kusta.
Sementara itu, masyarakat juga perlu tahu bahwa kusta yang sudah sembuh (kusta yang sudah kering/PB) tidak akan menular lagi, dan penularan kusta basah/MB hanya terjadi jika ada kontak yang lama dengan penderita.
Setelah penderita kusta menerima pengobatan jangka panjang, 6 hingga 12 bulan, dengan menggunakan MDT (Multi Drug Treatment) yang bisa diperoleh secara gratis di Puskesmas-Puskesmas penderita kusta akan dinyatakan berstatus RFT (Release From Treatment), artinya tidak akan menularkan lagi karena kustanya sudah kering.

Masih Tinggi
Berdasarikan catatan  jumlah penderita kusta yang mengalami kecacatan fisik di Kalimantan Selatan masih tinggi, mencapai 14,1 persen dari rata-rata target nasional kurang dari 5 persen.
berdasarkan hasil survei yang dilakukan sampai dengan Juni 2007 terdeteksi sekitar 14 orang mengalami cacat fisik.
Jumlah tersebut masih tergolong sangat tinggi, mencapai 14,1 persen dibandingkan dengan total penderita sebanyak 305 orang yang tersebar di 13 kabupaten dan kota di Kalsel.
Cacat fisik akibat kusta yang kini diderita warga Kalsel merupakan cacat tingkat dua, yaitu cacat yang mengakibatkan tangan kiting, sedangkan untuk yang tingkat parah biasanya kecacatan sampai pada hilangnya beberapa anggota badan.
Masih tingginya cacat fisik penderita kusta di Kalsel tersebut, akibat keterlambatan pengobatan saat mengalami gejala dini penyakit dengan ciri terjadi bercak-bercak putih di badan.
Dari hasil survei hingga Juni 2007, tercatat penderita kusta  tidak menular mencapai 24 orang dan penderita kusta menular mencapai 281 orang atau 92,1 persen.
Angka prosentase penularan hingga 92,1 persen tersebut merupakan angka yang cukup tinggi, dan harus mendapatkan perhatian seluruh pihak.
Penderita yang tidak menular biasanya saat mengalami gejala dini berupa bercak-bercak putih segera dilakukan pengobatan dan bisa sembuh seperti sediakala.
Sedangkan yang menular biasanya penyakitnya sudah terlanjur parah, sehingga bisa menular dengan sentuhan kulit atau menggunakan baju dan handuk secara bersamaan.
Daerah tertinggi penyebaran kusta tersebut terdapat di Kabupaten Banjar, yaitu 56 orang penderita dan 54 diantaranya merupakan penderita kusta menular (atau masuk katagori MB) dan hanya dua orang yang tidak menular (PB).
Selanjutnya Kabupaten Hulu Sungai Tengah (HST) mencapai 42 orang, 41 diantaranya penderita kusta MB, Kabupaten Barito Kuala (Batola) mencapai 39 orang, dengan katagori MB 35 orang.
Kota Banjarmasin penderita kusta mencapai 28 orang, 27 diantaranya masuk katagori MB, Kotabaru, 27 penderita, 22 diantaranya bisa menularkan ke warga lainnya.
Kabupaten Tapin mencapai 23 penderita, 20 orang penderita diantaranya masuk MB, selanjutnya hulu Sungai Utara (HSU) mencapai 18 penderita, 18 diantaranya katagori MB.
Kemudian Kabupaten Balangan, 18 orang penderita, seluruhnya masuk katagori MB, Tanah Laut (Tala) terdapat 15 penderita, 14 diantaranya MB, Tanah Bumbu (Tanbu) 13 pendirita, 7 diantaranya masuk katagori MB.
Selanjutnya, berturut-turut Kabupaten Hulu Sungai Selatan (HSS), 12 orang dan Tabalong 11 penderita dan Banjarbaru 2 orang, seluruhnya masuk katagori bisa menularkan ke orang lain.
Wakil Kepala Dinas Kesehatan Kalsel, dr Asyikin Noor secara terpisah menyebutkan sebenarnya hampir semua daerah di Kalsel terdapat penderita penyakit kusta.
Secara keseluruhan, kata Asyikin, prevalensi penderita kusta di Kalsel tergolong rendah yakni kurang dari satu penderita per 10.000 ribu penduduk. Namun di beberapa kabupaten seperti Hulu Sungai Tengah, Barito Kuala, Tapin dan Balangan, penyakit ini tergolong masih tinggi yakni lebih dari satu penderita per 10.000 penduduk.
Menurut Asykin, beberapa hambatan yang menjadi kendala penanggulangan penyakit kusta di empat kabupaten itu antara lain, komitmen politik dan kerja sama kemitraan dengan lintas sektor belum optimal, pengetahuan masyarakat tentang penyakit kusta masih kurang, masih adanya anggapan kusta merupakan penyakit kutukan, keturunan, dan akibat guna-guna. Serta status ekonomi dan pendidikan beberapa penderita masih kurang.
Tak kalah memprihatinkan, kata Asykin, umumnya mantan penderita penyakit kusta yang sebenarnya sudah sembuh total kesulitan mencari pekerjaan yang layak, karena sebagian masyarakat belum bisa menerima mereka.
Kusta di Indonesia
Berdasarkan catatan penyakit kusta tersebar di Indonesia secara tidak merata dengan angka penderita yang terdaftar sangat bervariasi menurut propinsi dan kabupaten.
Secara geografis, daerah yang belum mencapai eliminasi ini sebagian besar terletak di Indonesia bagian Timur yang wilayahnya sulit dijangkau seperti Papua, Maluku Utara dan Nusa Tenggara Timur.
Selain itu daerah konflik seperti Nanggroe Aceh Darusalam (NAD), Maluku dan daerah dengan jumlah penduduk yang tinggi seperti Jawa Timur, Sulawesi dan Kalimantan Selatan.
Data WHO kusta menunjukkan bahwa Indonesia masih menduduki peringkat ke-4 di dunia setelah India, Brazil dan Nepal. Sedangkan di wilayah Asia Tenggara jumlah penderita kusta di Indonesia menempati urutan ke-3 setelah India dan Nepal.
Salah satu kendalanya adalah letak geografis yang sulit dijangkau dan penempatan dokter spesialis penyakit kulit dan kelamin di daerah-daerah terpencil.
Penyakit kusta adalah penyakit menahun yang disebabkan oleh kuman kusta (Mycobacterium leprae). Penyakit tersebut sering menyerang syaraf tepi dan kulit. Penularan kusta secara pasti belum diketahui.
Sebagian besar ahli berpendapat kusta dapat menular melalui udara dan dengan adanya kontak kulit dengan kulit penderita yang berlangsung lama.
Kusta yang menular adalah kusta tipe basah yang belum mendapat pengobatan. Masa inkubasinya berlangsng lama, rata-rata 2-5 tahun bahkan bisa mencapai 40 tahun.
Penyakit ini merupakan penyakit yang sudah lama ada di dunia, dari literatur diketahui bahwa di India, kusta sudah ada sejak 600 SM dan di Cina ditemukan pada 400 SM. Kata kusta sendiri berasal dari bahasa sansekerta yang berarti hilangkan.
Pada zaman dahulu dimana pengobatan belum ada, maka beberapa penderita dibakar hidup-hidup atau ditenggelamkan. Rasa takut kusta masyarakat sangat tinggi karena penderita kusta tanpa pengobatan mengakibatkan cacat yang mengerikan.
BERITA-BERITA

‘Leprophobia’ Hambat Program Eliminasi Kusta

Masih banyaknya masyarakat ketakutan berlebihan terhadap penyakit kusta dan para pengidap kusta (leprophobia) saat ini masih menjadi salah satu permasalahan yang dihadapi dalam pelaksanaan program pemberantasan kusta.

Kepala Dinas Kesehatan (Diskes) Provinsi Kalimantan Selatan Drg.Rosihan Andhani,MS kepada wartawan di Banjarmasin, Jumat (05/05) mengatakan penyakit kusta tidak hanya mengancam dengan aspek medis, tapi juga mengganggu aspek sosial dan ekonomi penderitanya.

Masih terdapat kecenderungan besar di masyarakat untuk mengucilkan mereka yang terserang kusta, sehingga orang dengan kusta sulit melakukan aktivitas layaknya orang normal karena peluang-peluang usaha mereka terkendala keberadaan penyakit mereka yang ditakuti masyarakat.

Image masyarakat yang memvonis penderita kusta dengan cap-cap tidak baik itulah yang akhirnya membuat para penderita kusta takut untuk datang berobat dan berdampak pada lambannya penanggulangan. Padahal penyakit kusta jika ditangani sedari dini, tidak akan sampai menimbulkan kecacatan.

“Begitu melihat udah phobia duluan”, katanya tentang persepsi masyarakat selama ini terhadap penderita kusta dan phobia tersebut tidak jarang juga dialami oleh petugas kesehatan di lapangan.

Dia menambahkan dalam pengobatan penyakit kusta, sekarang sudah dapat diperoleh di puskesmas secara gratis, yang rumit adalah rehabilitasi dan pemulihan aspek psikologis penderita dan membuat lingkungan mereka dapat menerima mereka kembali.

Disadari, untuk merubah persepsi orang memang perlu waktu lama namun dengan upaya berkelanjutan diharapkan leprophobia akan dapat dihilangkan.

Salah satu caranya adalah dengan terus menekankan agar tidak menganggap rendah mereka yang terkena kusta karena mereka tidak menghendaki terkena penyakit itu (tidak ada yang berkehendak terkena penyakit kusta), dan hal ini dilakukan melalui sosialisasi dan kampanye.

Intinya, dengan menginformasikan pada para penderita kusta untuk tidak perlu takut datang berobat karena nama dan keberadaan mereka tidak akan diumumkan dan juga sekarang pengobatan kusta dapat dengan berobat jalan dan tidak perlu diisolasi.

Pengobatan sedini mungkin terhadap penyakit kusta akan menghindarkan penderita dari kecacatan dan para petugas kesehatan juga telah dibekali pengetahuan agar dapat melakukan deteksi dini penyakit kusta.

Sementara itu, masyarakat juga perlu tahu bahwa kusta yang sudah sembuh (kusta yang sudah kering/PB) tidak akan menular lagi, dan penularan kusta basah/MB hanya terjadi jika ada kontak yang lama dengan penderita.

Setelah penderita kusta menerima pengobatan jangka panjang, 6 hingga 12 bulan, dengan menggunakan MDT (Multi Drug Treatment) yang bisa diperoleh secara gratis di Puskesmas-Puskesmas penderita kusta akan dinyatakan berstatus RFT (Release From Treatment), artinya tidak akan menularkan lagi karena kustanya sudah kering.

Satukan langkah

Kalsel merupakan satu dari 17 provinsi yang tingkat prevalensi kustanya masih di atas 1 per 10.000 penduduk dan karenanya tergabung dalam forum Aliansi Nasional Eliminasi Kusta (ANEK) yang akan mengadakan pertemuan tahunannya di Banjarmasin 10 hingga 11 Mei mendatang.

Pertemuan Anek akan memfasilitasi para pemegang kendali atau pengambil kebijakan di provinsi-provinsi high endemic (endemis tinggi, prevalensi di atas 1 per 10.000 penduduk) untuk dapat duduk bersama dengan tujuan bersama-sama merencanakan dan melaksanakan berbagai kegiatan menuju Eliminasi Kusta Tahun (EKT) 2010.

Forum tersebut dibentuk karena perlu ada inovasi kegiatan secara komprehensif baik dalam struktur manajemen, aksesibilitas terhadap pelayanan maupun pembentukan forum komitmen politis dan sosial pada semua level pengambil kebijakan publik.

Prevalensi (tingkat kesakitan) penyakit kusta di Kalimantan Selatan pada akhir tahun 2005 adalah 1,0 per 10.000 penduduk yang terdiri dari PB 69 penderita dan MB 741 penderita.

Angka yang kalau dilihat dari prevalensinya sudah merupakan kemajuan dibanding angka prevalensi tahun 2000 yang mencapai 2,7 per 10.000 penduduk, namun di beberapa kabupaten angka prevalensinya masih lebih dari lebih dari 1 per 10.000 penduduk seperti Kabupaten Tapin, Banjar, Hulu Sungai Utara, Hulu Sungai Selatan dan Balangan.

Satu lagi yang disoroti, yaitu masih tingginya proporsi penderita MB dibanding PB yang secara tersirat memperlihatkan adanya peluang terjadi penularan-penularan baru karena PB yang belum sembuh betul masih berkemungkinan menular.

Di Kalsel, proporsi MB dibanding PB yang tercatat hingga Maret 2006 mencapai 83,8% sedangkan idealnya angka tersebut dapat ditekan hingga kurang dari 50%. “Itu juga sedang kami upayakan” papar Rosihan Andhani.

Penyandang Kusta di Indonesia Masih Tinggi

Menteri Kesehatan, (Menkes) Siti Fadillah Supari, mengatakan, penyandang kusta di negaranya masih tergolong tinggi, karena itu pemerintah terus berupaya mengeliminasi penyakit tersebut.

Namun orang nomor satu di jajaran kesehatan di republik itu tak menyebutkan jumlah penyandang kusta tersebut, kecuali menyatakan, secara nasional target eliminasi sampai tahun 2020, untuk regional provinsi 2010 dan daerah kabupaten/kota 2008, demikian dilaporkan, Jumat (12/05).

Untuk itu, jajaran kesehatan bersama pemerintah daerah diharapkan proaktif guna mengeliminasi penyakit kusta tersebut, ajaknya saat silaturrahmi jamuan makan malam dengan peserta diskusi panel yang digelar Aliansi Nasional Eliminasi Kusta (ANEK) 2006 di Banjarmasin.

Karena itu pula guna keberhasilan program eliminasi tersebut hendaknya dalam penanganan penderita kusta betul-betul memperhatikan petunjuk atau panduan yang sudah ada, seperti memberikan pelayanan kesehatan gratis, pesannya.

Pada kesempatan silaturrahmi yang berlangsung di Mahligai Pancasila, Kamis malam itu, Menkes secara khusus berpesan kepada Gubernur Kalimantan Selatan, H.Rudy Ariffin agar pemerintah daerah menambah Puskesmas Pembantu (Pustu).

Pasalnya Pustu yang merupakan ujung tombak instalasi kesehatan dalam pelayanan kesehatan masyarakat di Kalsel saat ini kelihatannya masih kurang, yaitu semestinya ada 800 unit, ternyata baru 600, berarti masih perlu menambah 200 unit lagi, ungkapnya.

Sedangkan pembiayaan untuk pembangunan Pustu tersebut pada dasarnya sudah tersedia melalui Dana Alokasi Umum (DAU) yang harus dikelola dan diberdayakan seoptimal mungkin bagi peningkatan sumber daya manusia (SDM) termasuk bidang kesehatan, lanjutnya.

Menyinggung masalah penderita kekurangan gizi dan gizi buruk, Menkes mengungkapkan, untuk Kalsel sekarang nampaknya masih rentan yaitu mencapai 25 persen dari jumlah bayi di bawah usia lima tahun (balita).

“Hal tersebut hendaknya juga menjadi perhatian serius, dimana ke depan atau pada tahun 2010 diharapkan paling tinggi tinggal 20%,” demikian Siti Fadillah Supari.

Kedatangan Menkes ke “Bumi Perjuangan Antasari” Kalsel antara lain untuk memberikan pengarahan pada Diskusi Panel Advokasi Nasional Eliminasi Penyandang Kusta di Banjarmasin, yang dihadiri sejumlah Gubernur di Indonesia, sejak 11 Mei 2006 selama tiga hari.

DISKES KALSEL HARUS AKTIF BERANTAS KUSTA

Banjarmasin, 1/9 (ANTARA) : JAJARAN Dinas Kesehatan (Diskes) dan perangkatnya yang tersebar pada 13 kabupaten/kota se Provinsi Kalimantan Selatan diminta untuk meningkatkan kinerja dalam penanganan dan antisipasi meluasnya penyebaran penyakit kusta.

“Jajaran Diskes se Kalsel harus aktif dalam upaya memberantas penyakit kusta atau lepra,” kata ketua Komisi IV bidang Kesra DPRD Provinsi Kalsel H.Nurdin HB,BA di Banjarmasin, Senin.

Anggota fraksi PPP DPRD Kalsel itu menyatakan guna mendorong supaya jajaran kesehatan lebih aktif memberantas kusta, maka harus ada target seperti kapan Kalsel bisa bebas dari penyakit kusta.

“Saya trenyuh program Diskes Pemprov Sulawesi Utara (Sulut) yang telah berhasil membebaskan provinsi tersebut dari masalah penyakit kusta,” ucapnya.

Dia menilai Kalsel juga bisa terbebas dari kusta seperti halnya Sulut, asalkan jajaran kesehatan kita lebih aktif bergandeng tangan dengan masyarakat dalam upaya memberantas penyakit yang masa inkubasinya cukup lama itu.

Selain itu, baik keluarga maupun penyandang kusta tersebut tidak perlu malu dalam memeriksakan kesehatan atau berobat secara aktif terus menerus hingga mencapai kesebuhan total, saran alumnus Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Antasari Banjarmasin itu.

Begitu pula pihak petugas kesehatan hendaknya jangan sampai membebankan biaya pemeriksaan dan pengobatan terhadap keluarga/penderita kusta, karena rata-rata mereka itu berasal dari golongan masyarakat yang kondisi ekonominya kelas menengah ke bawah, demikian Nurdin HB.

Sementara data Dinas Kesehatan (Dinkes) Kalsel, di provinsi yang kini berpenduduk sekitar 3,5 juta jiwa terdapat ratusan penderita lepra, bahkan sebagian besar jenis kusta basah.

Penyandang kusta terbanyak di Kabupaten Banjar, kemudian Kabupaten Hulu Sungai Tengah (HST), selebihnya di Kabupaten Barito Kuala (Batola), Kota Banjarmasin, Kabupaten Kotabaru, Tapin, Hulu Sungai Utara (HSU) dan Kabupaten Tanah Bumbu (Tanbu).

Sedangkan daerah yang terkecil penderita kusta, Kabupaten Tanah Laut (Tala), kemudian Kota Banjarbaru, Kabupaten Hulu Sungai Selatan (HSS) dan Kabupaten Balangan.
Masuk Tiga Besar Dunia, Penderita Kusta di RI 16 Ribu Orang

Jakarta – Pengidap kusta di seluruh Tanah Air saat ini mencapai 16 ribu orang. Angka ini menempatkan Indonesia di peringkat tiga besar dunia setelah India dan Brasil sebagai negara dengan penderita kusta terbanyak.

Walau termasuk tiga besar dunia, jumlah penderita kusta atau lepra di Indonesia sudah jauh menurun dibandingkan dengan awal tahun 90-an. Saat itu jumlah penderita kusta di Indonesia mencapai 60 ribu orang. Penurunan drastis berlangsung dalam kurun waktu 1994-2004.

“Dari 16 ribu, sebanyak 14.554 ada di Indonesia Timur,” kata Menkes Siti Fadilah Supari usai mendampingi Duta Besar WHO untuk Penyakit Kusta Yohei Sasakawa bertemu Wapres Jusuf Kalla di Istana Wapres, Jl. Medan Merdeka Selatan, Jakarta, Kamis (1/12/2005).

Dijelaskan Menkes, 16 ribu penderita kusta tersebar di 140 kabupaten di 12 provinsi. Di Provinsi NAD, Jatim, Kalsel, Sulut, Sulsel, Sulteng, Sultra, NTT, Papua, Maluku, dan Gorontalo, jumlah penderitanya di atas 1 orang per 10 ribu penduduk. Sementara di Provinsi Jabar dan Jateng, jumlah penderitanya kurang dari 1 orang per 10 ribu penduduk.

Penurunan drastis penderita kusta merupakan hasil kerja Depkes dibantu WHO dalam menjalankan program pengobatan gratis bagi penderita kusta. Program pengobatan gratis ini sangat penting karena sebagian besar penderita kusta adalah kaum miskin.

“Yang penting sekarang disosialisasikan bahwa penyakit kusta bisa diobati. Dan jangan distigmakan mantan penderita kusta harus dihindari. Mereka sudah bisa berbaur dengan masyarakat,” kata Menkes.

Sementara Yohoi Sasakawa menjelaskan, selama tahun 1995-2000 WHO telah membantu pengobatan kusta di 58 negara. Sebagian besar dari obat-obatan yang disediakan merupakan sumbangan dari Yayasan Nippon Foundation.

Kusta atau lepra adalah suatu penyakit kulit yang disebabkan oleh kuman mycobacterium leprae. Serangan kuman yang berbentuk batang ini biasanya pada kulit, saraf, mata, selaput lendir hidung, otot, tulang, dan buah zakar.

Penyakit kusta telah dikenal sejak lama. Catatan-catatan mengenai penyakit ini, yang ditemukan di India, ditulis pada tahun 600 sebelum Masehi. Namun, kuman penyebab kusta baru ditemukan pada tahun 1873 oleh Armauer Hansen di Norwegia. Penyakit kusta banyak terdapat di Benua Afrika, Asia, Amerika Tengah, dan Amerika Selatan.

Kusta  Kini Bisa Disembuhkan

Keluarga atau sahabat anda ada yang terkena penyakit kusta? Jangan takut dan jangan mengucilkan penderita penyakit kusta. Kini para ahli farmasi sudah menemukan obat yang bisa menyembuhkan kusta dalam setiap tahap penyakit, tergantung dari tipe penyakit dan cepatnya deteksi. Dan 26 Januari merupakan Hari Kusta Sedunia.

Bagi anda yang memiliki keluarga pengidap kusta, jangan takut dan jangan pula dikucilkan, karena kini penyakit kusta sudah bisa disembuhkan. Penyembuhan kusta dimungkinkan ketika ditemukan obat kusta, yaitu Dapson yang digunakan sejak 1941. Obat ini lalu dikombinasikan dengan Rifampicin dan Lampren, yang kemudian dikenal sebagai multi drug therapy atau MDT.

Menurut dokter Sri Astuti Soeparmanto, kepala Badan Litbangkes, yang mewakili Dirjen Pemberantasan Penyakit Menular dan Penyehatan Lingkungan Pemukiman (P2M & PLP) di Jakarta beberapa waktu lalu, penyakit kusta tipe PB (Paucibacillary) atau tipe kering, memerlukan waktu pengobatan selama 6 bulan.

Sedangkan pengobatan kusta tipe MB (Multibacillary) atau tipe basah, membutuhkan waktu 12 bulan. “Bila ditemukan cepat, maka pengobatannya mudah dan sembuh tanpa cacat. Tapi bila ditemukan terlambat, maka akan sembuh dengan cacat,” ujarnya.

Astuti menyebutkan bahwa pemerintah memperingati Hari Kusta Sedunia (World Leprosy Day), bertema Kemitraan dan Komitmen yang Kuat Modal Eliminasi Kusta 2005, yang akan diperingati Minggu, 26 Januari ini.

Tujuan peringatan ini, katanya, terutama untuk meningkatkan kesadaran dan kepedulian berbagai pihak dalam pemberantasan penyakit kusta. Supaya penyakit ini tidak lagi menjadi masalah kesehatan dan menghilangkan stigma di kalangan masyarakat.

Penyakit kusta merupakan penyakit menahun yang disebabkan oleh kuman kusta, atau Mycobacterium leprae, yang menyerang syaraf tepi dan kulit. Penularan kusta secara pasti belum diketahui. Sebagian besar ahli berpendapat penularannya melalui udara, dan dengan adanya kontak kulit dengan kulit penderita yang berlangsung lama.

Umumnya manusia kebal terhadap penyakit tersebut. Kusta yang menular adalah tipe basah yang belum mendapat pengobatan. Manifestasi kusta terlihat dikulit, yang merupakan bagian luar dari tubuh dan dapat dilihat orang. Bentuknya seperti bercak, bentol-bentol pada kulit yang akan membentuk penampilan seseorang jadi menakutkan.

Ironisnya, lanjut Astuti, sebagian besar penderita kusta berasal dari masyarakat kalangan ekonomi lemah.

Sudah lama ada

Penyakit kusta sudah lama ada di dunia. Dari literatur diketahui bahwa penyakit ini di India sudah ada sejak 600 SM. Kusta berasal dari bahasa Sansekerta yang berarti hilangkan (eating away). Sedangkan di Cina, kusta ditemukan sejak 400 SM.

Pada jaman dahulu ketika pengobatan kusta belum ada, banyak penderitanya yang dibakar hidup-hidup, ditembak atau ditenggelamkan. Masyarakat sangat takut terhadap penyakit ini, karena penderitanya tanpa pengobatan akan mengakibatkan cacat yang mengerikan.

WHO pada akhir 2001 melaporkan bahwa Indonesia masih menduduki peringkat ke empat sebagai penyumbang penderita kusta terbanyak di dunia, setelah India, Brazil dan Nepal. Sedangkan di wilayah Asia Tenggara, jumlah penderita kusta di Indonesi terbanyak ketiga setelah India dan Nepal.

Namun dalam kurun waktu 10 tahun (1990-2001) jumlah penderita kusta telah dapat diturunkan secara drastis. Yakni dari 107.271 penderita menjadi kurang dari seperenamnya, atau 17.137 penderita pada Desember 2001. Sebanyak 72,25% penderita berada di Jatim, Jabar, Sulsel, Jateng, Irian Jaya dan DKI Jakarta.

Hingga 2001 penderita baru yang diketemukan berjumlah 14.061 orang, dan total jumlah penderita yang telah disembuhkan sebanyak 272.252 orang.

Secara nasional Indonesia telah mencapai eliminasi kusta sejak pertengahan 2000. Namun untuk tingkat provinsi dan kabupaten, hingga akhir 2002, ternyata masih ada 12 provinsi dan 111 kabupaten yang angka prevalensinya masih di atas 1/10.000 penduduk.

Secara geografis daerah yang belum mencapai eliminasi ini, sebagian besar terletak di kawasan timur Indonesia dan di wilayah yang sulit, seperti Papua, Maluku Utara dan NTT. Ataupun daerah konflik seperti Nanggroe Aceh Darussalam dan Maluku, serta daerah dengan populasi penduduk yang tinggi, seperti Jatim, seluruh provinsi di P. Sulawesi dan Kalsel.

Peduli kusta

Untuk meningkatkan kepedulian terhadap kusta, Pendiri Yayasan Kusta seorang wartawan berkebangsaan Prancis, bernama Raoul Fallereau telah mengorganisir penetapan Hari Kusta (Leprosy Day). Tahun 1955, ada 150 radio dari 60 negara yang menyiarkan tentang kampanye pemberantasan penyakit kusta, dimana untuk pertama kalinya orang-orang Afrika (laki-laki, perempuan dan anak-anak) secara besar-besaran datang berkunjung ke Leprosaria, yang kemudian ditetapkan sebagai Hari Kusta. Peristiwa ini terjadi Minggu, yaitu Minggu terakhir Desember 1955.

Karena itu di Eropa, Hari Kusta Sedunia (World Leprosy Day) ditetapkan Minggu terakhir Desember. Sedangkan di negara-negara Asia, untuk mengenang jasa-jasa Mahatma Gandhi yang sangat menaruh perhatian, dan besar jasanya kepada penderita kusta, Hari Kusta Sedunia ditetapkan pada minggu terakhir Januari (untuk memperingati terbunuhnya Gandhi).

Masalah kusta bukan hanya soal kesehatan (medis), tapi juga masalah sosial ekonomi dan psikologis. Secara sosial ekonomi, penderita kusta sebagian besar adalah golongan ekonomi lemah. Dengan adanya cacat, memperburuk kondisi ekonominya karena kehilangan lapangan pekerjaan, kehilangan kesempatan kerja.

Sedangkan secara psikologis, bercak, benjolan-benjolan pada kulit penderita membentuk paras yang menakutkan. Cacat juga memberi gambaran yang menakutkan, menyebabkan penderita kusta merasa rendah diri, depresi dan menyendiri bahkan sering dikucilkan oleh keluarganya.

Setelah WHO merekomendasikan pengobatan kusta dengan regimen MDT, negara-negara di dunia yang melaksanakan program pemberantasan dengan pengobatan MDT mencapai hasil yang memuaskan. Hal ini dapat diketahui lebih dari 10 juta penderita telah disembuhkan. Dari jumlah itu lebih 1 juta penderita yang dapat diselamatkan dari kecacatan.

Berdasarkan keberhasilan yang dicapai, pada World Health Assembly (Sidang Kesehatan Sedunia-WHA) pada Mei 1991, telah mengeluarkan Resolusi No. 449. Yaitu Eliminasi Kusta Tahun 2000. Eliminasi adalah menurunkan angka kesakitan lebih kecil dari 1 per 10.000 penduduk dengan strategi penemuan penderita secara dini, dan mengoboti dengon tepat.

Iklan

2 Tanggapan

  1. Maaf,saya mau nanya.

    Sbnrny,sy sgt tkut.

    Pd tgl 5/7 08 sbtu.Sy ktm pngemis yg trkena kusta.

    Sya tdk tau. Dia tipe kusta bsh/kring.

    Lalu saya brikan uang.sy tdk sngja mnyntuh jr tgn-ny yg sdh putus. Sy tkt skli trinfeksi!

    Ap mmg tdk ap2 bl trkn sbntr?

  2. saya rasa tidak apa2.. karena penderita yang bisa terkena kusta adalah yang sanitasi buruk makanya sering kita dapatkan penderita adalah dari sosek yang rendah yang kebanyakan adalah sanitasi buruk. pada penderita yang sudah memiliki cacat tersebug justru memiliki lebih sedikit kuman di tubuhnya dan tidak menularkan.
    semoga bermanfaat.terimakasih

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: