KEPARIWISATAAN KALSEL TAK SEMARAK DULU LAGI

     Oleh Hasan Zainuddin 
     Banjarmasin,3/2 (ANTARA) – Saat pertemuan dengan pejabat di jajaran Pemprop, Sekretaris Daerah Propinsi (Sekdaprop) Kalimantan Selatan (Kalsel), Muchlis Gafuri menilai apa yang bisa dibanggakan Kalsel di saat VIY sekarang ini, karena hampir tak ada objek wisata yang layak dijual bagi wisatawan.
     Kritikan Drs.Muchlis Gafuri mengenai minimnya objek wisata Kalsel menghadapi program pemerintah Visit Indonesia Year (VIY) perlu dipikirkan bersama.
      Makanya sebelum dipromosikan gencar sebaiknya objek-objek wisata tersebut dibenahi dulu, jangan sampai promosi begitu gencar setelah dikunjungi wisatawan kemudian mengecewakan, katanya mengingatkan. 
    Sebenarnya Kalsel memiliki banyak objek wisata layak jual, tetapi karena kurang diperhatikan dan dibenahi maka objek-objek itu seakan  tenggelam.
     Senada dengan Sekdaprop Kalsel, seorang pemerhati masalah kepariwisataan setempat, Drs.Akhmad Arifin menilai, kepariwisataan Kalsel seakan sedang mati suri, karena sudah saatnya kehidupan dunia kepariwisataan itu dihidupkan sejalan dengan program Visit Indonesia Year.
     Ahmad Arifin, yang dikenal sebagai Sekretaris Forum Pariwisata Kalsel, yang juga dikenal sebagai pemandu wisata tersebut mengakui bahwa kedatangan wisatawan mancanegara (Wisman) ke Kalsel praktis tak pernah terdengar lagi. Padahal era tahun 80-an hingga awal 90-an kedatangan wisman sungguh menyemarakkan dunia wisata wilayah ini.
     “Dulu hampir setiap minggu datang grup-grup wisatawan ke Kalsel, melihat pasar Terapung Sungai Barito Banjarmasin, ke pendulangan intan Cempaka Martapura, kehidupan monyet Bekantan (Nasalis larvatus) Pulau Kaget Barito Kuala, serta kehidupan kerbau rawa atau kerbau kalang di Kabupaten Hulu Sungai Utara (HSU),” katanya.
      Kemudian petualangan ke dalam hutan tropis basah Pegunungan Meratus juga menjadi pilihan wisman datang berkelompok tersebut ke Kalsel, khususnya saat-saat musim liburan di kawasan Eropa, seperti bulan Juli dan Agustus, mereka datang dari Inggris, Perancis, Belanda, Swedia, dan negara Eropa lainnya.  
    Turis Asia yang banyak datang ke Kalsel, seperti dari Jepang, kata Ahmad Arifin yang sekarang menjadi staf kantor Gubernur Kalsel tersebut.
     Tetapi setelah pertengahan tahun 90-an hingga sekarang wisman itu seakan tak terdengar lagi seiring kurang berkembangnya dunia kepariwisataan. Hal itu ditandai dengan kondisi pasar terapung tidak semeriah lagi, pendulangan intan Cempaka yang tadinya tradisional berubah ke mekanisasi juga tidak menarik lagi untuk dikunjungi.
     Sementara kehidupan ratusan bekantan di Pulau Kaget juga kian terganggu oleh pemukiman hingga populasi bekantan tinggal beberapa ekor saja lagi tak bisa lagi diandalkan menjadi objek wisata.
     “Makanya untuk menghidupkan kembali kepariwisataan Kalsel itu perlu pemikiran semua pihak. Dan, yang penting, ada keinginan kuat dari Dinas Pariwisata Kalsel untuk menghidupkannya, ibarat kita ingin memancing semut harus sediakan gulanya dulu. Agar semut-semut itu datang,” tambah Arifin.
     Salah satu objek yang harus dihidupkan lagi karena begitu dikenal adalah pasar terapung dan pendulangan intan. Kedua objek ini yang menjadi primadona Kalsel. Bagaimana cara menghidupkan lagi objek itu terserah Pemprop Kalsel-lah yang memikirkannya.
     Daya tarik lain yang harus dihidupkan adalah pusat cenderamata, pusat kebudayaan, kesenian, dan atraksi-atraksi di masyarakat karena hal-hal semacam itu memiliki daya pikat kuat.
     Hal lain adalah menyediakan pemandu wisata Kalsel, karena selama ini tak pernah terdengar lagi Pemprop Kalsel mencetak kader-kader pemandu wisata yang handal.
     “Dulu era tahun 80-an hingga awal tahun 90-an tersebut pernah diselenggarakan empat angkatan pelatihan pemandu wisata, angkatan pertama 40 orang, angkatan kedua juga 40 orang, lalu angkatan ketiga 30 orang serta angkatan keempat juga 40 orang, tetapi setelah itu tak pernah lagi ada pelatihan pemandu wisata tersebut” tambahnya.
      Pemandu wisata yang sudah diberikan pelatihan Dinas Pariwisata Kalsel akhirnya handal memandu wisata serta memiliki sertifikat yang menjadi legalitas bagi seorang pemandu membawa kalangan turis di wilayah ini.
      Para pemandu wisata yang pernah diberikan pelatihan itu sekarang sudah tidak bisa aktif lagi karena lapangan pekerjaan seakan tak tersedia setelah berkurangnya kedatangan wisatawan mancanegara, lalu para pemandu wisata itu bekerja di berbagai instansi atau perusahaan serta  profesi lainnya.
     Loksado 
    Menurut Akhmad Arifin, alam Pegunungan Meratus di pedalaman propinsi ini memiliki nilai jual yang tinggi kepada wisatawan mancanegara, khususnya wisatawan petualangan.
     Oleh karena itu, selama program Visit Indonesia Year (VIY) keberadaan hutan alam yang merupakan hutan tropis basah Pegunungan Meratus itu harus lebih dipopulerkan melalui berbagai promosi.
      Ada beberapa kekhasan dan keistemewaan hutan tropis basah Pegunungan Meratus, khususnya yang berada di wilayah Kecamatan Loksado Kabupaten Hulu Sungai Selatan (HSS) Kalsel.
      Di lokasi tersebut selain memiliki ratusan spicies flora dan fauna juga memiliki alam yang lengkap bagi kepariwisataan, seperti disana terdapat gua, lembah, tebing, hutan lebat, serta sungai dengan arus deras hingga cocok bagi yang suka arung jeram.
      “Bagi wisatawan mancanegara yang suka berpetualang ke hutan  Loksado merupakan pilihan yang tepat,” kata Ahmad Arifin yang puluhan tahun sempat menjadi pramuwisata wisatawan mancanegara ke lokasi tersebut, terutama di era sebelum tahun 90-an.
       Untuk satwanya saja di sana ada bekantan atau kera hidung panjang (Nasalis larvatus) yang merupakan maskotnya Kalsel, kera Abu – Abu (Maccaca Irrus ), elang (Butatstur sp), beruang madu (Hylarotis Malayanus), Kijang Pelaihari (Muntiacus salvator, Owa – Owa ( hylobatus mullerii ), Elang Raja Udang (Palargapais carpusis), Cabakak (Hakyan chalaris), Rusa sambar (Cervus Unicular), Biawak (Varanus spesi), kancil, landak, lutung dan satwa lainnya.
      Sementara flora terdapat ratusan spicies anggrek, jenis palm, rotan, keladi-keladian, bambu-bambuan, serta  tanaman buah-buahan jenis durian (Duriospesi), Kasturi ( Mangifera delmiana ) yang merupakan maskot Kalsel bidang floranya.
      Jenis buah lain yang juga terdapat di sana rambutan (Nephelium lappocum ), sedangkan kayu-kayuan ekonomi adalah meranti (Dipterocorpus spesi ), Hopea ( Hopea spesia ), ulin ( Eusideroxlyon ), damar ( Agathis bornensis ), serta puluhan spicies lagi kayu-kayuan lainnya.
       Keunikan lain di hutan ini terdapatnya komunitas suku dayak Pedalaman Lokasdo yang memiliki balai-balai adat, sehingga wisatawan bisa diajak berbaur dengan suku yang ada di pedalaman dan perbukitan Pegunungan Meratus.
       “Pengalaman saya menjadi peramuwisata ke lokasi itu, ternyata banyak wisatawan yang berpetualang betah tinggal di dalam hutan atau berkumpul dengan komunitas suku Dayak Pedalaman ini,” kata Arifin.
      Bukan kemiskinan mereka yang dieksploitasi untuk kepariwisataan tetapi nilai-nilai yang unik dan khas itu yang bisa menjadi daya tarik, dan itu yang harus dipelihara, sementara kesejahteraan masyarakat hendaknya harus ditingkatkan seiring kian berkembangnya dunia kepariwisataan.
      Untuk menuju lokasi itu belakangan ini tidak sulit, tinggal menuju ibukota Kecamatan Lokasado yang sudah beraspal, baru berpetualang kemana wisatawan ingi mengunjunginya, ke komunitas suku Dayak, ke hutan belantara, ke gua-gua, atau berarung jeram menyusurui Sungai Amandit, tinggal bagaimana pramuwisata untuk mempromosikannya.
      Oleh sebab itu keberadaan hutan Pegunungan  Meratus ini bisa menjadi nilai jual Kalsel selama VIY selain pasar terapung Banjarmasin dan Pendulangan intan martapura, atau ke kehidupan kerbau kalang di kawasan rawa-rawa Danau Panggang Kabupaten Hulu Sungai Utara (HSU).
    Visit Kalsel 2009
    Sementara itu Kepala Dinas Paeriwisata Kalsel, Drs.Bihman Muliansyah pemerintah Provinsi Kalsel mencanangkan tahun 2009 sebagai tahun kunjungan wisata atau Visit Kalimantan Selatan Year. Sejumlah persiapan tengah dilakukan untuk menyukseskan program tersebut.
      Persiapan yang dilakukan di antaranya melakukan koordinasi dengan sejumlah pemerintah kabupaten/kota yang memiliki potensi wisata layak jual. Sementara di dalam program Visit Kalimantan Selatan Year 2009, tiga objek wisata jadi andalan.
      Andalan tersebut yaitu objek Pasar Terapung di Kota Banjarmasin, Pendulangan Intan Martapura di Kabupaten Banjar, dan Wisata Alam Loksado di HSS.
      Pemprop Kalsel juga akan membenahi sejumlah sarana dan prasarana di lokasi wisata lainnya serta menggelar seni dan budaya Kalsel.
      Pemprop Kalsel atas bantuan dana pemerintah pusat akan membenahi objek wisata yang ada di Banjarmasin, Kabupaten Banjar, serta kawasan wisata loksado HSS.
      Dinas Budaya dan Pariwisata Kalsel telah menyiapkan beberapa event menyukseskan program ini. Seperti, Agenda Nasional Festival Pasar Terapung, Lomba Pinisi Nusantara, Napak Tilas di Kotabaru dan Konfrensi Antropolog Internasional.
      Berbagai kalangan lain menghendaki bukan hanya membenahi objek wisata dalam menyemarakan Visit Kalsel 2009 tersebut, tetapi harus ada upaya lain yang dilakukan wilayah ini, seperti sadar wisata bagi masyarakat, keamanan yang ditingkatkan, keramahan, fasilitas jalan, penginapan,dan hal pendukung lainnya bagi kenyamanan wisatawan itu.
      Tak kalah pentingnya keterlibatan pihak perusahaan penerbangan untuk memberikan kenyamanan, dengan membuka rute-rute baru antara Banjarmasin dengan kota-kota lain di tanah air, terutama ke kota yang banyak dikunjungi wisatawan.
      Selain itu, pihak perusahaan penerbangan tidak mengenakan tarif yang “keterlaluan” di saat musim-musim liburan, karena wisatawan khususnya nusantara biasanya memanfaatkan waktu bertamasya saat liburan seperti ini, tetapi kalau harga tiket pesawat mencekik maka akan mengurangi niat wisatawan nusantara berpergian kemana-mana.
      Visit Kalsel yang ditetapkan tahun 2009 ini maka sudah selayaknya Pemprop Kalsel beserta masyarakat dan kalangan dunia usaha membangunkan kembali dari ketertiduran dunia wisata Kalsel, sehingga Kalsel yang dikatakan memiliki “segudang” objek wisata itu akan setara dengan kawasan wisata lainnya di tanah air.

Iklan

4 Tanggapan

  1. salam kenl pak dari banjarmasin, kunjungi blog saya di taufik79.wordpress.com

  2. Saya hanya berharap, propinsi kalsel jangan kalah sama propinsi yang lain. Salah satu aset yang berharga di kalsel adalah budaya masyarakatnya yang masih religius. Itu adalah aset yang tak ternilai harganya. Bandingkan dengan surabaya atau bali, yang masyarakatnya sudah “ternoda” oleh modernisasi ala barat.

  3. ya ternyata di kalsel banyak tempat wisatanya…..
    saya yangpernah kesana tidak tahu tempat2 wisata yang adadi sana, karena memang penduduk sekitar kurang bperhatian dengan dunia kepariwisataan,
    tapi klo masalah religius…… saya rasa tiada duanya…..
    hampir semua wanita di sana memkai jilbab,
    budayareligius itu sangat melekat sekali pada penduduk setempat,
    saya saja merasa agak kaku, karna di daerah asal saya kebudayaan religius tidak begitu di perhatikan,
    saya bangga dengan kalsel dengan budaya ini,,,,,,
    i love it

  4. Usie kamu dimana sih

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: