TBC, PELAN DAN PASTI GROGOTI WARGA DITENGAH GERAKAN PENYAKIT LAIN

  Oleh Hasan Zainuddin
 Banjarmasin,20/5 (ANTARA)- Setelah merebaknya isu kemunculan penyakit baru, seketika itu juga seluruh masyarakat termasuk pemerintah terkesan “ketakutan” lalu membentuk sebuah gerakan pemberantasan penyakit baru tersebut.
 Berbagai lembaga, organisasi, dan perkumpulan sepakat memberantas penyakit yang baru muncul itu, walau rela mengeluarkan dana besar, dalam pemikiran yang penting penyakit baru tersebut tidak menimbulkan korban jiwa jumlah besar.
 Padahal, penyakit baru tersebut walau isunya menakutkan tetapi tak terbukti menimbulkan korban jiwa dengan jumlah besar.
 Sebagai contoh saja ketika isu merebaknya penyakit AIDS/HIV, wah seluruh masyarakat merasa ketakutan, ditambah berbagai pernyataan para ahli kesehatan mengenai bahaya penyakit tersebut yang seakan menambah ketakutan masyarakat.
 Kemudian muncul lagi isu penyakit flu burung seketika pula masyarakat yang dikomandoi pemerintah melakukan usaha pemberantasan penyakit secara besar-besaran seakan penyakit baru ini akan menjadi malapetaka dalam kehidupan manusia.
 Disisi lain, kalau penyakit baru tersebut terus menular memang cukup mengkhawatirkan, tetapi apakah gerakan yang begitu besar-besaran dalam upaya pemberantasannya itu seakan terlalu berlebihan dibandingkan pemberantasan penyakit menular lainnya.
 Pasalnya di Indonesia ada satu penyakit yang sudah terbukti membunuh ratusan ribu mungkin jutaan orang, serangan penyakit ini bukan baru saja terjadi tetapi sunguh begitu lama, namun serangannya tak bisa dihentikan apalagi sampai bebas dari penyakit ini.
 Kendati penyakit ini sudah terbukti menjadi pembunuh, namun upaya pemberantasan seakan terlupakan oleh gebyar dan gerakan pemberantasan penyakit baru muncul tersebut.
 Perlahan tetapi pasti satu orang penderita terus menularkan kesepuluh orang penderita baru hanya dalam rentang waktu selama setahun, dan bila penderita tak diobati dibiarkan menderita puluhan tahun maka ratusan bahkan ribuan orang akan tertular hanya oleh seorang penderita.
 Apalagi di Indonesia ini sudah dinyatakan ribuan bahwa puluhan ribu positip mengidap penderita penyakit ini, tetapi seakan penyakit ini tak dianggap seakan tak membahayakan dibandingkan penyakit impor yang baru itu, sehingga tak ada satu pun gerakan yang benar-benar serius dan terpadu seperti layaknya pemberantasan penyakit Aids/HIV atau flu burung.
 Salah satu gerakan yang sejak tahun 1990-an sudah dicanangkan untuk memberantas penyakit ini tetapi juga tak kelihatan bentuk kegiatannya, sehingga gerakan terpadu nasional (Gardunas) pemberantasan penyakit ini sering dipelesetkan menjadi gerakan duduk nasional.
 Karena itu sudah saatnya pemerintah Indonesia beesama masyarakat kembali melirik pemberantasan penyakit yang pelan-pelan tetapi pasti telah menahun menyerang warga terutama masyarakat miskin pedesaan yang dikenal sebagai serangan TBC.
 Penyakit TBC (Tobercolosis) dinyatakan sebagai penyakit pembunuh nomor satu terhadap manusia dari kelompok penyakit menular yang selama ini dikenal, makanya seharusnya penyakit tersebut diberantas lebih serius lagi.
 Program officer Koalisi untuk Banjarmasin Sehat (KuBS) Banjarmasin, Dedey Rosyadi kepada pers di Banjarmasin belum lama ini mengakui begitu berbahayanya penyakit tersebut sehingga badan kesehatan dunia (WHO) telah menyatakan pemberantasan TBC sebuah kesepakatan global.
 Walau penyakit TBC sudah dikenal penyakit menular yang paling berbahaya, tetapi untuk di Indonesia terkesan pemberantasannya kurang intensif terbukti penyeraban penyakit tersebut  selalu saja terjadi.
 Tetapi bila ada penyakit lain yang menular dianggap berbahaya terlihat begitu antusias memberantasnya seperti penyakit AIDS/HIV, flu burung,demam berdarah, dan penyakit lain sehingga pemberantasan penyakit TBC seakan terlupakan lagi.
 Padahal penaykit TBC diketahui penyebarannya di Indonesia begitu mengkhawatirkan dan sejak lama sudah dikenal atau sejak zaman penjajahan dulu.
 Penyakit ini penularannya di Indonesia berada di nomor tiga  setelah negeri China, dan India, katanya saat menjelaskan ini bersama ketua program, Yuherly dan Ketua Tim Advokasi. Komunikasi, dan Mobilitasi Sosial tentang TBC (ACS TBC), Didiet Masjidi.
 Menurut catatan, tambahnya, seperempat juta kasus baru TBC bertambah setiap tahunnya, 140.000 pasien TBC meninggal setiap tahun, dan 384 kematian setiap harinya karena TBC, disamping 17 hingga 18 orang meninggal setiap jam karena penyakit ini.
 “Bahkan kalau di hitung lagi maka satu orang meninggal setiap menit karena TBC,” kata Dedey Rosyadi seraya mengatakan bahwa TBC bisa menyerang siapa saja, tetapi sebagian besar penderita TBC adalah kelompok usia produktif 15 hingga 55 tahun.
 Jenderal Sudirman salah satu tokoh nasional Indonesia meninggal dunia karena serangan penyakit TBC pada usia 34 tahun.
 Dari hasil survei hanya 11 persen penduduk Indonesia yang mengetahui secara benar tentang gejala TBC, dan sebagian besar pemerintah Kabupaten/kota di Indonesia justru tidak banyak menganggarkan dana untuk memberantas penyakit ini.
 Akibat kekurangan dana tersebut maka banyak Puskesmas sebagai ujung tombak pemberantasan penyakit menular kesulitan mendapatkan suspect TB.
 Menyinggung sebaran penyakit TBC di Kalsel, Dedey Rosyadi mengakui sudah cukup tinggi dan menjadikan wilayah ini enam besar daerah tertular TBC se Indonesia.
 Dari hasil penelitian penyakit TBC terbanyak menyerang warga Banjarmasin dan Kabupaten Banjar, untuk Kota Banjarmasin sendiri dari 978 warga kota yang dilakukan pemeriksaan TBC ternyata 630 warga positif TBC.
 Wilayah di Banjarmasin terbanyak terserang penyakit ini terdapat di Kecamatan Banjarmasin Selatan dari 12 orang suspect ternyata 8 orang positif.
 Demikian juga pada sampel terakhir dari 507 suspect di wilayah kecamatan tersebut setelah dilakukan pemeriksaan 53 orang dinyatakan teridap penyakit itu.
 Bukan Banjarmasin Selatan saja banyak warga tertular penyakit itu tetapi juga di wilayah lain di kota ini, padahal diketahui satu orang penderita berpotensi menularkan kesepuluh orang selama setahun, dan bisa dibayangkan kalau penyakit itu terkenba ribuan orang dibiarkan bertahun-tahun maka akan berapa banyak penderita TBC.
 Oleh sebab itu sudah saatnya seluruh elemen, pemerintah, masyarakat dan organisasi kemasyarakat lainnya bergerak memberantas penyakit ini setidaknya memotong rantai penularannya.
 Gerakan yang perlu dilakukan setidaknya memberikan pemahaman kepada masyarakat, mengenai penyakit ini khususnya cara pengobatan secara rutin selama enam bulan serta menghilangkan anggapan bahwa TBC akibat terkena ilmu itam yang oleh masyarakat pedalamam Kalsel dianggap sebagai terkena racun (guna-guna untuk pesugihan).

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: