BAAYUN, ANTARA ATRAKSI BUDAYA, PARIWISATA, AGAMA, DAN PENGOBATAN

 Oleh Hasan Zainuddin 
          Banjarmasin, 22/3 (ANTARA)- Baayun (ber-ayun) dalam buaian terbuat dari kain memang salah satu kiat seorang ibu dalam meninabobokan (menidurkan) seorang anak yang dilakukan sebagian besar masyarakat di tanah air, namun dalam cara baayun di masjid kramat Banua Halat Kabupaten Tapin, Propinsi Kalimantan Selatan (Kalsel) memiliki nuansa yang beda dari kebiasaan itu.
         Karena saat maayun harus diberikan mantra-mantra serta kain ayunan yang digunakan juga didominasi kain kuning ditambah ornamen ayunan harus ada bunga-bunga rampai dan janur kuning.
         Saat baayun di acara bernuansa agama, budaya serta atraksi pariwisata inipun bukan untuk menidurkan anak melainkan untuk maksud yang lebih jauh bagi masa depan anak kelak, yakni orang tua yang mengikutkan anaknya dalam acara baayun itu agar anak kelak taat beragama, anak yang sehat, anak yang cerdas, serta anak yang berbakti kepada orang tua.
         Namun yang unik saat acara baayun di lokasi masjid tertua Banua Halat Kalsel ini, bukan saja diikuti bayi dan anak balita tetapi diikuti pula kalangan orang dewasa sampai nenek-kakek, akhirnya tak heran dalam acara yang menjadi kalender kepariwisataan Kalsel itu melahirkan banyak senyum simpul ribuan pangunjung saat menyaksikan seorang kakek atau nenek juga ikut diayun.

 Suasana baayun anak Banua Halat
         Tujuan orang dewasa untuk ikut proses baayun ini beragam maksud, ada yang sekedar ingin ikut-ikutan tetapi sebagian besar karena nazar, ingin sembuh dari penyakit, membuang sial, mencari berkah, serta sebagai ucapan syukur setelah satu keinginan telah terwujud lalu ucapan syukur ini diwujudkan dengan ikut baayun  ini.
         Prosesi Baayun  saat perayaan peringatan Maulid Rasul yang digelar setiap 12 Rabiul Awal untuk memperingati kelahiran Nabi Besar Muhammad SAW di Masjid AL Mukarramah di Desa Banua Halat itupun selalu menarik untuk dikunjungi dan akhirnya acara tahunan itupun terus dipromosikan.
         Karena kian terkenal maka proses baayun Banua Halat bukan saja dikunjungi warga Kalsel, tetapi juga dikunjungi pendatang dari propinsi tetangga Kalimantan Tengah, Kalimantan Timur bahkan dari Pulau Jawa, Sumatera, dan Malaysia. Atraksi ini sudah menjadi kalender kepariwisataan Kabupaten Tapin dan Kalsel, kata Kepala Dinas Pariwisata dan Budaya Kabupaten Tapin, Drs. Rahmadi.
        Ketika acara baayun tahun ini tepatnya pada hari Kamis 20 Maret 2008 pesertanya kian membludak bahkan terbanyak dari selama ini akhirnya masuk Museum Rekor Indonesia (MURI).
        Jumlah peserta tahun ini sebanyak 1.544 orang terdiri dari 1.643 anak-anak, dan sisanya 401 orang dewasa. Dibandingkan tahun 2007 lalu jumlah peserta  hanya 1.055 orang yang berarti terjadi peningkatan 489 orang.
        Piagam MURI diserahkan Manager MURI Paulus Pangka kepada Bupati Tapin Drs H Idis Nurdin Halidi MAP dan Ketua Panitia Kegiatan H Nafiah Khairani, disaksikan Gubernur Kalsel H Rudy Arifin dan Guru Riduan atau Guru Kapuh, serta para pejabat di Provinsi Kalsel.
        Dalam piagam yang berbingkai keemasan tersebut tercatat MURI No 30311/R.MURI/III/2008 yang menyatakan Masjid Al Mukarramah Banua Halat sebagai penyelenggara Baayun Maulid dengan peserta terbanyak, yang ditandatangani oleh Jaya Suprana di Semarang, Maret 2008.
        Menurut Paulus Pangka, MURI mencatat kegiatan Baayun Maulid di Banua Halat ini dengan alasan acara ini telah menciptakan rekor MURI dengan jumlah peserta baayun terbanyak di Indonesia.
         Baayun tahun ini peserta yang paling tua berusia 75 tahun, nenek Hj Masriah dari Kandangan, dan yang termuda seorang bayi yang baru berumur 4 hari.
         Prosesi baayun dimulai saat Kelompok Maulid Al Habsy dari Martapura membaca Asyrakal dan seluruh peserta yang diayunpun langsung duduk, berbaring di ayunan yang sudah disediakan. Selain peserta anak-anak yang diayun, peserta dewasa pun duduk dan diayun oleh kerabat dan keluarganya.
         Menurut Kadis Pariwisata dan Budaya, Rahmadi banyak orang sakit yang menahun, sudah berobat kemana-mana termasuk ke rumah sakit tidak sembuh-sembuh penyakit itu, tetapi setelah ikut baayun maka penyakit itu sembuh, akhirnya baayun  juga dipercayai sebagai sarana pengobatan,” kata Rahmadi.
         Seorang penduduk Rantau ibukota Kabupaten Tapin, Abdurahman (55 th) mengaku ikut dalam proses baanyun ini lantaran ingin sembuh dari penyakit sesak nafas yang menahun, selain itu sebagai nazar agar bisa menunaikan ibadah haji.
        “Setelah saya bernazar itu kemudian terkabul, lalu saya ikut dalam proses baayun di Banua Halat itu,” kata Abdurahman yang dikenal sebagai seorang pensiunan PNS tersebut.
   
      Sejarah baayun
   Berdasarkan sebuah tulisan karya Zulfa Jamalie berjudul “Kearifan Lokal Dakwah Dalam Tradisi Baayun Anak” disebutkan baayun di Banua Halat sebagai sebuah tradisi yang saban tahun digelar, Baayun Anak sarat dengan sejarah, muatan nilai, filosofis, akulturasi, dan prosesi budaya yang berharga untuk dikaji secara komprehensif.
         Menurut catatan sejarah, Baayun Anak semula adalah upacara peninggalan nenek moyang yang masih beragama Kaharingan. Sejarawan H.A.Gazali Usman menyatakan tradisi ini semula hanya ada di Kabupaten Tapin (khususnya di Desa Banua Halat Kecamatan Tapin Utara). Namun kemudian, berkembang dan dilaksanakan diberbagai daerah di Kalimantan Selatan.
         Tradisi ini menjadi penanda konversi agama orang-orang Dayak yang mendiami Banua Halat dan daerah sekitarnya, yang semula beragama Kaharingan kemudian memeluk agama Islam. Karena itu upacara Baayun Anak tidak bisa dilepaskan dari sejarah masuknya Islam ke daerah ini.
        Sebagaimana diketahui, setelah Islam diterima dan dinyatakan sebagai agama resmi kerajaan oleh pendiri kerajaan Islam Banjar, Sultan Suriansyah, pada tanggal 24 September 1526, maka sejak itulah Islam dengan cepat berkembang, terutama daerah-daerah aliran pinggir sungai (DAS) sebagai jalur utama transportasi dan perdagangan ketika itu.
        Jalur masuknya Islam ke Banua Halat adalah, jalur lalu lintas sungai dari Banjarmasin ke Marabahan, Margasari, terus ke Muara Muning, hingga Muara Tabirai sampai ke Banua Gadang. Dari Banua Gadang dengan memudiki sungai Tapin sampailah ke kampung Banua Halat. Besar kemungkinan Islam sudah masuk ke daerah ini sekitar abad ke-16.
        Sebelum Islam masuk, orang-orang Dayak Kaharingan yang berdiam di kampung Banua Halat biasanya melaksanakan acara Aruh Ganal. Upacara ini dilaksanakan secara meriah dan besar-besaran ketika pahumaan (sawah) menghasilkan banyak padi, sehingga sebagai ungkapan rasa syukur sehabis panen mereka pun melaksanakan Aruh Ganal, yang diisi oleh pembacaan mantra dari para Balian. Tempat pelaksanaan upacara adalah Balai.
         Setelah Islam masuk dan berkembang serta berkat perjuangan dakwah para ulama, akhirnya upacara tersebut bisa “diislamisasikan”. Sehingga jika sebelumnya upacara ini diisi dengan bacaan-bacaan balian, mantra-mantra, doa dan persembahan kepada para dewa dan leluhur, nenek moyang di Balai, akhirnya digantikan dengan pembacaan syair-syair maulud, yang berisi sejarah, perjuangan, dan pujian terhadap Nabi Muhammad SAW, dilaksanakan di masjid, sedangkan Sistem dan pola pelaksanaan upacara tetap.     
   Nilai utama yang hendak ditanamkan oleh para ulama dalam upacara Baayun Anak dan mengisinya dengan pembacaan syair-syair maulud di Desa Banua Halat tersebut tidak lain sebagai bagian dari strategi dakwah kultural, yakni bentuk dakwah yang dilakukan melalui pendekatan aspek penjelasan dan tindakan yang bersifat sosiokultural dan keagamaan, jadi bukan dengan pendekatan politik, salah satunya adalah dengan mengunakan medium seni budaya Atau dimaknai sebagai suatu upaya menyampaikan ajaran Islam dengan mengakomodir budaya lokal serta lebih menyatu dengan lingkungan hidup masyarakat setempat.
         Karenanya pada akhirnya dakwah kultural menghendaki adanya kecerdikan dalam memahami kondisi masyarakat dan kemudian mengemasnya sesuai dengan pesan-pesan dakwah Islam.
         Dengan model dakwah itu mereka tetap menjaga dan melestarikan sebuah tradisi dengan prinsip “setiap budaya yang tidak merusak akidah dapat dibiarkan hidup”, sekaligus mewariskan dan menjaga nilai-nilai dasar kecintaan umat kepada Nabi Muhammad Saw, untuk dijadikan panutan dan teladan dalam kehidupan berkeluarga, bermasyarakat, dan berpemerintahan.

Iklan

4 Tanggapan

  1. salam…

  2. Asw….dari segi mananya baayun anak merupakan tradisi dayak pa??dan sama kah baayun anak dengan maayun anak.mohon penjelasannya. Apakah maayun anak yang dilakukakan ibu-ibu untuk menidurkan anaknya diayunan juga tradisi orang dayak pa?. makasih banyak pa…

  3. Boleh juga..ceritanya dan menarik untuk diangkat dipublikasikan lebih jauh di media televisi khususnya stasiun tv swasta nasional.Barangkali rangkaian tulisan Pa Haji diperdalam dengan gaya dan ungkapan-ungkapan, saya tulis yakin pak haji ( kata kawan-kawan ini gurunya Bang Risanta, senior saya di Jakarta ) paling lengkap diantara tulisan-tulisan kawan lainya soal mengangkat budaya di daerah.Salut buat Pa haji…Maaf jika kurang berkenan dari segi komentar…( Japra- Mantan salah produser di tv swasta dan aktif di Teater Jakarta )

  4. mf ya Saya Orng tapin (Kalsel) baayun anak bukan tradisi orng dayak itu tradisi warga tapin ( kalsel ) aliyas keturunan banjar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: