TRENGGILING SI SATWA “JELMAAN SETAN” ITU KINI JADI BARANG DAGANGAN

    Oleh Hasan Zainuddin
          Banjarmasin, 20/4 (ANTARA)- Jangankan memakan, menangkap binatang Trenggiling saja hampir dipastikan tidak ada yang berani, setidaknya bagi warga pedalaman Kalimantan Selatan (Kalsel) era tahun 60 hingga tahun 80-an.
         Pasalnya, binatang trenggiling bukanlah binatang seperti binatang lainnya, tetapi binatang yang memiliki nilai mistis, bahkan dianggap sebagai jelmaan setan atau hantu.
         Bahkan banyak yang percaya keberadaan trenggeling disuatu desa bertanda kurang baik, akhirnya binatang itu diburu jauh ke dalam hutan atau ditangkap untuk dimusnahkan dengan cara membakarnya, agar roh jahat yang ada di dalam tubuh binatang itu itu ikut musnah terbakar dan tidak menganggu manusia.

 saat pembakaran ratusan satwa trenggiling di Tahura Sultan Adam (foto bpost)
         Tetapi tak jarang, binatang sudah tertangkap dibuat ke dalam karung atau diikat dengan tali ternyata hilang begitu saja, akhirnya anggapan trenggiling sebagai jelmaan setan kian kuat.
         Dengan anggapan demikian di era tahun-tahun tersebut populasinya cukup terpelihara di hutan tidak ada yang berani memburunya, tetapi kemudian populasi itu terus menurun hingga sekarang ini, karena bukan saja ditangkap untuk dikonsumsi dan diperdagangkan tetapi juga akibat hutan yang kian rusak seperti gundul atau  terbakar.
         Apalagi belakangan daging binatang ini ternyata di lidah sebagian orang dinilai lezat bagaikan daging bebek dan dinilai memiliki berbagai khasiat akhirnya binatang ini kian diburu dan diperdagangkan bukan saja diperdagangkan di pasar lokal tetapi tak sedikit yang diantarpulaukan bahkan di ekspor ke luar negeri.
         Seperti yang terjadi di Banjarmasin Kalsel sebanyak 360 ekor trenggiling (Manis Javanica) disita Polsekta Banjarmasin Selatan dari rumah warga Banjarmasin, kemudian dimusnahkan aparat Dinas Kehutanan dan BKSDA Kalsel di Tahura Sultan Adam Mandiangin, Kabupaten Banjar, Kamis (17/4).
         Penemuan barang bukti perdagangan ilegal satwa tersebut merupakan yang kedua kalinya di rumah warga di bilangan Kampung Pekauman tersebut, karena sebelumnya petugas juga telah menemukan 10 ekor trenggiling dan 25 buah tanduk rusa untuk diperdagangkan.
         Menurut isteri tersangka kepada petugas bahwa suaminya hanya sebagai pengumpul dan pengolah.
         Trenggiling-trenggiling itu dipasok oleh beberapa orang dari Palangka Raya (Kalimantan Tengah), Kandangan (Kabupaten Hulu Sungai Selatan/Kalimantan Selatan) serta daerah lainnya di wilayah Kalsel dan Kalteng ini. Biasanya, binatang tersebut dihargai Rp 50 ribu per ekor.
         Kemudian, trenggiling diolah dengan cara dibedah dan dikuliti, lalu dijual dagingnya itu kepada para pembeli yang datang ke rumah.
         “Untuk yang sudah dikuliti dijual dengan harga Rp 200 ribu, sedang jika ada yang masih hidup bisa laku sampai Rp 400 ribu. Biasanya yang datang orang Jakarta.” kata isteri tersangka seperti dikutip sebuah surat kabar di Banjarmasin.
         Trenggiling itu kemudian diolah jadi makanan. Langganan makanan daging trenggiling itu katanya orang China dan Jepang.
         Atau tambahnya, setelah dibedah, sisiknya dikelupas, dagingnya diawetkan kemudian bisa sudah terkumpul banyak, barulah dikirim ke China.
         Lakunya daging binatang untuk dijual lantaran diyakini dapat menyembuhkan penyakit jantung dan paru-paru. Bahkan ada yang percaya bisa menjadi obat kuat. Sedang kulitnya, bisa dimanfaatkan untuk kosmetik. Satu kilogram sisik, bisa laku sampai Rp 350 ribu.
         Usaha bisnis ilegal warga Banjarmasin itu akhirnya tercium petugas yang akhirnya digrebek petugas gabungan Polsekta Banjarmasin Selatan dan Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Selatan yang hasilnya ditemukan 360 ekor trenggiling yang sudah dibedah dan dikuliti di dalam delapan lemari pendingin.
         Daging binatang yang ditemukan di rumah warga Banjarmasin seberat 1,5 ton itu dimasukkan ke dalam lubang besar di Tahura Sultan Adam Mandiangin Kabupaten Banjar, kemudian dibakar.
         Menurut seorang petugas, binatang ini tak boleh dijualbelikan karena ada peraturan yang menyatakan hal itu seperti Undang-undang RI No 5/1990, Peraturan Pemerintah RI No 17/1999.
         Kepala Seksi Konservasi Wilayah II Banjarmasin, Nurani kepada wartawan mengatakan, mereka yang memperjualbelikan trenggiling diancam dengan hukuman lima tahun penjara dan denda Rp 100 juta.

 (foto Koran berani)
         Berdasarkan sebuah literatur bahwa binatang ini ditemukan oleh seorang bernama Desmarest pada 1822, binatang ini disebut juga ant eater (pemakan semut) wakil dari ordo Pholidota yang masih ditemukan di Asia Tenggara.
         Tubuh trenggiling lebih besar dari kucing. Berkaki pendek dengan ekor panjang dan berat. Yang unik adalah tubuhnya bersisik tersusun seperti genting rumah. Sisik pada bagian punggung dan bagian luar kaki berwarna cokelat terang. Binatang berambut sedikit ini tidak mempunyai gigi.
         Untuk memangsa makanannya yang berupa semut dan serangga, trenggiling menggunakan lidah yang terjulur dan bersaput lendir. Panjang juluran lidahnya dapat mencapai setengah panjang badan.
         Pada siang hari trenggiling tidur di dalam tanah. Sarang ini biasanya dibuat sendiri atau merupakan bekas sarang binatang lain yang tidak lagi ditinggali.
         Untuk melindungi diri dari serangan musuh, trenggiling menyebarkan bau busuk. Ia memiliki zat yang dihasilkan kelenjar di dekat anus yang mampu mengeluarkan bau busuk, sehingga musuhnya lari. Musuh trenggiling adalah anjing dan harimau.
         Binatang unik ini berkembang biak dengan melahirkan. Hanya ada satu anak yang dilahirkan seekor trenggiling betina. Lama buntingnya hanya dua sampai tiga bulan saja.
         Jika diganggu, trenggiling akan menggulungkan badannya seperti bola. Ia dapat pula mengebatkan ekornya, sehingga “sisik”nya dapat melukai kulit pengganggunya.
         Trenggiling yang hidup di tanah mempunyai ekor berotot kuat. Panjangnya kira-kira sama dengan tubuhnya dan seluruhnya bersisik. Trenggiling yang hidup di pohon mempunyai ekor yang lebih panjang dari tubuhnya.
         Pada ujung ekor itu terdapat bagian yang gundul. Ekor digunakan sebagai lengan untuk berpegang waktu memanjat pohon.
         Ada tujuh jenis Trenggiling yang masih hidup yaitu Trenggiling India (Manis crassicaudata) terdapat di India dan Srilangka, Trenggiling Cina (M. pentadactyla) terdapat di Taiwan dan RRC Selatan, Trenggiling Pohon (M. tricuspis), Trenggiling Berekor Panjang (M. tetradactyla), Trenggiling Raksasa (M.gigantea) dan Trenggiling Temmick (M. Temmicki) terdapat di Afrika serta yang terakhir adalah Trenggiling Jawa (M. javanica) terdapat di Semenanjung Malaysia, Birma, Indocina (Vietnam, Laos, Kamboja) dan pulau-pulau Sumatera, Kalimantan dan Jawa.
         Binatang ini memakan semut, telur semut, dan rayap. Untuk menggantikan fungsi gigi, lalu ia akan memakan kerikil untuk melumatkan makanannya.
         Apakah hal ini tidak berbahaya bagi lambungnya, menurut literatur tersebut tentu saja tidak, karena lambung trenggiling telah dilapisi oleh epitel pipih berlapis banyak dan mengalami keratinisasi cukup tebal.
         Epitel yang mengandung keratin ini akan melakukan adaptasi terhadap jenis makanan keras. Gesekan mekanik antara rangka semut atau rayap yang dimakan dapat diminimalisir dengan adanya keratin tersebut.

Iklan

KERBAU RAWA JADI OBYEK AGROWISATA DI KALSEL

           Oleh Hasan Zainuddin 
          Banjarmasin, 18/4 (ANTARA)- Sekelompok pemuda bersorak sorai di hamparan ribuan hektare rawa monoton, Desa Bararawa, Kecamatan Danau Panggang, Kabupaten Hulu Sungai Utara (HSU) Propinsi Kalimantan Selatan (Kalsel).
         Seorang pemuda bertindak sebagai joki, menunggang seekor kerbau besar di hamparan lahan berrawa-rawa tersebut, sementara yang lain juga melakukan hal serupa seraya memacu sekencangnya lari kerbau yang ditunggangnya saat perlombaan kerbau di lokasi desa sentra peternakan kerbau rawa tersebut.
         Perlombaan kerbau rawa itu persis seperti perlombaan atau atraksi karapan sapi di Madura, tetapi lomba karapan sapi di lahan kering atau lapangan luas sementara lomba kerbau rawa di hamparan berair yang penuh dengan tanaman rawa.
         Dalam lomba yang seringpula didatangi ribuan penonton tersebut tampaknya sebagai arena kompetisi antar desa di wilayah penghasil daging ternak terbesar Kalsel itu.
         Tak jarang dalam kegiatan lomba yang merupakan hiburan segar bagi masyarakat yang bermata pencariannya bertani, menangkap ikan, dan beternak itu dihadiri pejabat bukan sebatas camat, dan bupati, tetapi seringpula dihadiri gubernur Kalsel.

 
         “Lomba kerbau rawa merupakan objek wisata tahunan Kalsel yang terus dipopulerkan guna mendukung kunjungan wisata ke daerah ini,” kata Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kalsel, Bihman Muliansyah.
          Lomba kerbau rawa tersebut, biasanya diselanggarakan pada setiap perayaan hari kemerdekaan RI, di lokasi yang sudah disediakan di kawasan tersebut, sehingga bagi turis mudah melihat atraksi lomba kerbau rawa itu.
          Tetapi, bukan hanya atraksi lomba kerbau rawa yang menjadi daya pikat wisatawan khususnya wisatawan mancanegara ke daerah itu, yang menarik mereka jusru menyaksikan usaha peternakan kerbau itu yang dinilai rada unik.
          Oleh karena itu, seringkali paket wisata kunjungan wisatawan selama di Kalsel selalu dikaitkan dengan lokasi peternakan kerbau rawa ini, seperti rute pendulangan intan tradisional, pasar permata, lalu Museum Lambung Mangkurat, Pasar Terapung Banjarmasin, Pulau kaget (pulau dihuni bekantan/nasalis larvatus).
          Setelah itu, wisatawan baru diajak ke lokasi kerbau rawa Danau Panggang yang lalu menuju ke Pegunungan Meratus menyaksikan komunitas suku Dayak Meratus, pulangnya berarung jeram menyusuri Sungai Amandit, dan terakhir kembali ke Banjarmasin.
          Berdasarkan catatan, kerbau rawa (Bubalus carabanensis) yang pula disebut sebagai kerbau (hadangan) kalang, karena kehidupan kerbau-kerbau ini berada di atas kalang di atas rawa.
          Kalang terbuat dari kayu-kayu besar yang disusun di tengah rawa untuk berteduhnya ternak besar ini, setelah berenang ke sana-kemari seharian di air dalam rawa untuk mencari makan.
          Sebuah kalang yang dibangun para peternak masyarakat Danau Panggang ini bisanya mampu menampung antara puluhan hingga ratusan ekor kerbau.
          Kerbau rawa merupakan aset asli atau plasma nutfah Kalsel, yang sudah beranak pinak atau berkembang biak di hamparan rawa seluas 2,6 juta hektare yang tersebar di lima kabupaten Hulu Sungai Utara (HSU), Hulu Sungai Tengah (HST), Hulu Sungai Selatan (HSS), Banjar, dan Kabupaten Barito Kuala (Batola).
          Tidak ada yang tahu persis asal usul kerbau rawa yang terbilang berbadan besar bila dibandingkan kerbau yang hidup di daratan ini, namun keberadaan kerbau itu sudah ada dari genereasi ke generasi.
          Menurut Kepala Dinas Peternakan Kalsel, Ir Maskamian Andjam kepada wartawan saat berada di kantor Gubernur Kalsel, Banjarmasin pada tahun 2000 lalu populasi hewan ini tercatat 11.605 ekor kemudian berkembang tahun 2004 lalu menjadi 38.488 ekor.
          Populasi kerbau rawa terbanyak berada di Kecamatan Danau Panggang HSU yang meliputi tujuh desa sentra peternakan, yakni desa Palbatu, Bararawa, Sapala, Peminggir, Ambahai, Tapus Dalam, dan Desa Danau Cermin dengan total populasi di kawasan itu sekitar 8000 ekor.
          Pada tahun 2002 dari 8000 ekor di tujuh desa  tersebut dimiliki oleh 215 orang peternak, dengan tingkat kepemilikan antara 50 hingga 100 ekor per orang dengan luas pengembalaan di kawasan rawa itu sekitar 61 ribu hektare dan 41 ribu diantara berupa rawa monoton berair dalam atau berupa danau.
          Kerbau rawa biasanya hidup secara berkelompok, satu kelompok biasanya terdapat antara satu atau dua penggembala (peternak) yang tindak tanduk peternak tersebut sangat di patuhi kerbau-kerbau besar ini.
          Jenis kerbau ini dengan spesifik tanduk yang melingkar panjang ke belakang, warna abu-abu coklat, dengan bentuk tubuh yang gempal, padat, dan berisi yang membuktikan bahwa kerbau rawa dengan mikroba rumen yang dimilikinya mampu mengubah makanan berkualitas rendah berupa rumput rawa menjadi daging.
          Berat kerbau ini berumur satu tahun sudah 195-200 kilogram, panjang badan 95,4-97,6 CM, dan lingkar dada 135,7-138,4 CM.
          Saat dewasa atau berusia tiga tahun kerbau itu memiliki 400-500 kilogram, dengan tinggi gumba 122,1-123,0 CM, panjang badan 128-138 CM, dan lingkar dada 174,6-177 CM.
          Bahkan ada kerbau rawa besar yang disebut atau berstatus “majir” pernah mencapai berat badan 600 kilogram, kata Maskaiman Andjam.
          Kerbau ini melahirkan anak setiap 400-500 hari (calving interval) dengan bobot lahir 28 kilogram. Kerbau rawa memasuki usia produktif saat berusia 15 tahun, dengan tingkat produksi susu cukup tinggi sehingga perkembangam anaknya begitu cepat.
          Akhmad Arifin yang seorang pemandu wisata Kalsel menuturkan untuk memancing wisatawan datang ke peternakan kerbau rawa tersebut setiap pemandu harus bisa menceritakan keunikan kerbau tersebut.
          Keunikan kerbau itu selain memang badannya besar, hidupnya berenang ke sana kemari di atas air rawa, hidup di atas kalangan jauh dari pemukiman penduduk, juga hanya ada di daerah rawa Kalsel dan sulit ditemui di daerah lain, biasanya setelah mendengar keunikan itu wisatawan khususnya yang memiliki perhatian terhadap binatang pasti minta di antarkan ke lokasi tersebut.
          Di lokasi peternakan. para wisatawan biasanya serius menyaksikan sistem peternakan yang dinilai benar-benar alamiah tanpa sentuhan tekhnologi itu
     “Wisatawan dengan menggunakan kamera biasanya membidik-bidik lokasi kalang sebagai tempat berteduh kerbau di malam hari, serta kelompok kerbau yang berenang di atas air  di kawasan tersebut.” kata Akhmad Arifin.
          Akhmad Arifin sendiri berharap dalam pengembangan peternakan kerbau ini bukan semata menambah pupulasi ternak, tetapi bagaimana lokasi peternakan ini menjadi daya pikat wisatawan dengan mempertahankan lomba kerbau rawanya, ditambah akses ke lokasi itu yang dipermudah.
          Bila semua itu lebih diperhatikan baik oleh Pemprop Kalsel maupun Pemkab HSU maka lokasi peternakan kerbau rawa kian dikenal sebagai objek agrowisata andalan Kalsel.

Imagekerbau rawa

 

 
KERBAU RAWA
—————
Kerbau rawa merupakan salah satu ternak ruminansia yang banyak diusahakan oleh petani ternak khususnya di daerah lahan rawa Kalimantan Selatan. Kerbau rawa mempunyai potensi dan peluang yang baik untuk dikembangkan, hal ini didukung dengan peningkatan jumlah penduduk, peningkatan kesejahteraan dan kesadaran akan pangan bergizi dari masyarakat, sehingga permintaan konsumen akan daging meningkat. Kontribusi produksi daging kerbau yang dihasilkan di Kalimantan Selatan sekitar 12,22% dari total produksi ternak ruminansia. Makalah ini merupakan review dan bertujuan untuk memaparkan pemikiran-pemikiran tentang strategi pengembangan kerbau rawa di Kalimantan Selatan khususnya di daerah rawa di Kabupaten Hulu Sungai Utara (HSU), Hulu Sungai Tengah (HST), Hulu Sungai Selatan (HSS) dan Batola dengan pertimbangan populasi kerbau rawa cukup tinggi. Pengembangan kerbau rawa dapat dilakukan di daerah rawa baik lebak maupun pasang surut dengan memperhatikan daya dukung lahan terhadap penyediaan hijauan pakan ternak. Masalah yang dihadapi petani ternak kerbau yaitu areal padang penggembalaan yang terbatas dan berkurang akibat bertambahnya jumlah penduduk, pergeseran penggunaan lahan menjadi lahan usahatani; ketersediaan hijauan sangat tergantung musim, dan adanya hama (ulat dan keong mas); rendahnya produktivitas akibat rendahnya kualitas pakan, penurunan mutu bibit, inbreeding dan manajemen pemeliharaan yang kurang optimal; lokasi pemeliharaan ternak kerbau yang cukup jauh menyebabkan sulitnya akses untuk mendapatkan penyuluhan dan pencegahan/pengobatan penyakit. Berdasarkan analisis SWOT terdapat beberapa upaya yang dapat dilakukan untuk pengembangan kerbau rawa dengan memperhatikan faktor eksternal dan internal. Dan untuk mendukung strategi pengembangan disarankan agar program pengembangan kerbau mendapat prioritas baik dari pemerintah pusat atau daerah; pengembangan ternak kerbau harus sesuai dengan potensi daerah yang didukung dengan perbaikan teknologi (bibit, manajemen dan pakan) dan dapat diarahkan sebagai obyek wisata; serta perlunya pembinaan dan penyuluhan yang lebih intensif.(SUMB:Puslitbangnak)

KONTAMINASI TINJA, SEBUAH ANCAMAN KESEHATAN SUNGAI BANJARMASIN

Oleh Hasan Zainuddin
Banjarmasin,3/4 (ANTARA)- Deretan jamban (bangunan kecil tempat buang tinja langsung ke sungai) merupakan pemandangan biasa di Kota Banjarmasin, dianggap tak masalah karena keberadaan jamban sudah ada secara turun temurun.
Membuang limbah rumah tangga ke sungai juga dianggap biasa di dalam masyarakat kota seribu sungai itu. Sungai dijadikan urat nadi kehidupan, sebagai tempat tinggal, sarana transportasi dan sarana ekonomi.
Akibat kebiasaan itu sungai Banjarmasin tak bersih lagi, tercemar bahan kimia, menyempit, dangkal, bahkan ada yang mati.
Kantor Dinas Permukiman dan Prasarana Kota (Kimpasko) setempat mencatat 57 sungai dinyatakan kurang berfungsi lagi.
Tahun 1995, kota ini tercatat 117 sungai berfungsi sebagaimana mestinya tapi kini tinggal 60 yang mengalir baik, jika tidak dipelihara maka sungai itu kian rusak khususnya sungai kecil anak sungai Martapura dan Barito.

deretan jamban tepi sungai
Direktur Perusahaan Daerah Instalasi Pengolahan Air Limbah (PD Ipal) Kota Banjarmasin, Muhidin MT mengakui sungai sudah tercemar sampah dan limbah serta cukup mengkhawatirkan terdapat kandungan bakteri koli di air sungai yang berasal dari pembuangan tinja sembarangan.
Pencemaran tinja itu bukan saja adanya budaya jamban, juga Septec Tank (tempat penampungan tinja WC/kakus) rumah warga kurang standar, akhirnya tinja mencemari air di sekitar kakus dan mengalir kemana-mana.
Tiap warga buang tinja sekitar 125 gram/hari, bila penduduk Kota 700 ribu jiwa dapat dibayangkan produksi tinja yang dapat mencemari lingkungan, belum lagi pencemaran limbah rumah tangga dan industri yang juga sangat mempengaruhi kondisi air sungai itu.
Dalam kaitan memperingati hari air internasional 22 Maret 2008 lalu, tambahnya pihak PD Ipal melakukan berbagai kegiatan untuk menyadarkan mayarakat guna menjaga kualitas air melalui sistem sanisati yang baik.

Sanitasi Indonesia
Masalah penanganan sanitasi buruk itu ternyata bukan saja di Banjarmasin tetapi juga dialami secara masional.
Sebuah catatan, menyebutkan satu lagi prestasi buruk terhadap Indonesia dibanding negara lain di Asean, yakni negara terburuk ketiga l penanganan sanitasi yang dampaknya bisa menimbulkan kerugian besar, sementara sanitasi terjelek Asean diraih negara laos dan Nyanmar.
Menurut Nugroho Tri Utomo yang juga Sekretaris Koordinator Indonesian Sanitasi Sector Development Program (ISSDP) saat lokakarya beberapa waktu lalu di Banjarmasin, akibat sanitasi buruk itu berdampak besar bagi Indonesia seperti masalah ekonomi, kesehatan, dan sosial budaya.
Ilustrasinya dampak ekonomi akibat sanitasi yang buruk itu, Indonesia alami kerugian sedikitnya Rp40 triliun, belum lagi dampak kesehatan dimana masyarakat miskin harus mengeluarkan sedikitnya 25 persen penghasilannya hanya untuk membayar dampak dari sanitasi yang buruk itu.
Misalnya, kerugian itu bila masyarakat harus membayar pengobatan akibat serangan berbagai penyakit dari sanitasi jelek itu, membayar keperluan air bersih, membayar keperluan mandi cuci dan kakus (MCK) dan sebagainya.
Buruknya masalah penanganan sanitasi Indonesia terlahir akibat adanya anggapan masalah sanitasi tanggungjawab tiap rumah tangga, dimana sebuah rumah tangga yang sudah menyediakan fasilitas sanitasi yang baik maka dianggap selesai.
Padahal seharusnya sanitasi bukan lagi urusan pribadi-pribadi masyarakat tetapi harus menjadi persoalan bersama, masyarakat dan pemerintah, dan itu harus bersama-sama untuk menanganinya, tidak bisa ditunda lagi dalam penanganan tersebut, katanya.
Sementara sebuah catatan lagi disebutkan bahwa dalam kurun 30 tahun terakhir ini pemerintah indonesia hanya menyediakan dana sekitar 820 juta Dolar AS untuk sektor sanitasi, artinya hanya Rp200,- setahunnya untuk setiap penduduk, jumlah yang sangat sedikit mengingat kebutuhan dana untuk itu idealnya Rp47 ribu per orang per tahun.
Anggaran pemerintah untuk sektor sanitasi memang sangat minim, apalagi bila dibandingkan dengan anggaran sektor air bersih yang besarnya lebih dari Rp6 miliar Dolar AS untuk periode yang sama, padahal untuk kedua urusan kesehatan masyarakat kedua sektor tersebut memiliki saling ketergantungan.
Mengenai penanganan buangan tinja berdasarkan sebuah catatan bukanlah masalah sepele. Seseorang tiap harinya membuang tinja seberat 125-250 gram, jika saat ini seratus juta orang Indonesia tinggal di kawasan perkotaan, maka setiap harinya kawasan perkotaan bisa menghasilkan 25 ribu ton tinja.
Selain jumlah tinja begitu banyak, tinja juga memiliki potensi dampak dari keempat kandungannya, dan dampak itu sudah tentu merepotkan.
Empat dampak tinja seperti mikroba, sebagian diantaranya tergolong sebagai mikroba patogen, seperti bakteri salmonela typhi penyebab tifus, bakteri vibrio cholerae penyebab kolera, virus penyebab hepatitis A, dan virus penyebab polio, tinja mengandung puluhan miliar mikroba termasuk bakteri koli-tinja.
Tinja juga mengandung materi organik sebagian merupakan sisa dan ampas makanan yang tidak tercerna, ia dapat membentuk karbohidrat, dapat pula berupa protein, enzim, lemak, mikroba, dan sel-sel mati. Satu liter tinja mengandung materi organik yang setara dengan 200-300 mg BOD5.
Kemudian tinja juga mengandung telur cacing, seseorang yang cacingan akan mengeluarkan tinja yang mengandung telur-telur cacing. Beragam cacing dapat dijumpai di perut seseorang, sebut saja cacing keremi, cacing cambuk, cacing tambang, serta cacing gelang.
Satu gram tinja berisi ribuan telur cacing yang siap berkembang biak di perut seseorang.
Kandungan lain tinja adalah nutrien, umumnya merupakan senyawa nitrogen (N) dan senyawa fosfor (P) yang dibawa sisa-sisa protien dan sel-sel mati. Nitrogen keluar dalam bentuk solfat. satu liter tinja manusia mengandung amonium sekitar 25 mg dan fosfat seberat 30 mg.

Pananganan
Melihat kondisi air sungai dan penanganan sanitasi buruk di Banjarmasin itu maka pemerntah setempat mendirikan PD Ipal guna mencegah pencemaran air lingkungan dengan mengolah air limbah hingga air jadi bersih alu dibuang kelingkungan agar lingkungan tetap baik.
PD Ipal sudah melakukan upaya perbaikan air dengan mendirikan tiga titik lokasi pengolahan air limbah di Jalan Lambung Mangkurat dan Pekapuran Raya serta Jalan HKSN Banjarmasin yang berhasil menjaring 900 pelanggan perhotelan, rumah sakit, pertokoan, dan sebagian rumah tangga.
Air limbah pelanggan tak lagi langsung dibuang tapi diolah dulu hingga bersih baru bisa dipergunakan atau dikocorkan ke sungai dan lingkungan.
Guna menciptakan lingkungan yang bersih PD Ipal mentargetkan membangun 14 titik lokasi Ipal agar bisa sebanyak mungkin mengcover sehingga seluruh lingkungan menjadi sehat.
Guna mewujudkan itu kini dikerjakan proyek besar pemasangan sistem perpipaan dalam upaya mengolah air limbah. Melalui dana APBN, menambah berbagai fasilitas sistem perpipaan, khususnya pipa primer.
14 titik lokasi pengembangan Ipal kedepan, antaranya di lokasi S Parman, Pekauman, Karang Mekar, Kampung Melayu, Gatot Soebroto, Kayu Tangi, Sultan Adam, Belitung, Pemurus, Pramuka, serta kawasan Teluk Dalam.
Menurutnya bila sistem perpipaan air limbah tersebut berhasil dengan baik, diharapkan satu perlima air limbah di masyarakat kota bisa tertangani baik.
Upaya lain membersihkan kondisi air dari pencemaran tinja dilakukan melalui Dinas Kimprasko dengan mengembangkan sanitasi masyarakat (sanimas).
Sanimas didirikan di lokasi kumuh, padat penduduk miskin (kumis), dibangunkan tempat mandi dan cuci, serta untuk buang tinja (MCK), kemudian air limbahnya ditampung lalu diolah hingga airnya yang terbuang tak mengandung bakteri lagi.
Tahun 2007 ada empat lokasi sanimas yakni di Kelayan Tengah, Teluk Dalam, Pelambuan, dan Antasan Kecil timur. Tahun 2008 ini kembali membangun sanimas lima lokasi di Sungai Jingah, Kelayan Luar, Kampung Melayu, Pekauman, serta di Belitung Selatan.
Melalui upaya itu ditambah meningkatnya kesadaran warga menjaga kondisi air sungai maka kedepan diharapkan ancaman penyakit akibat penanganan sanitasi buruk itu tidak terdengar lagi.

INDONESIA BARU LIMA PERSEN MENGOLAH AIR LIMBAH PEMUKIMAN
Banjarmasin,11/3 (ANTARA)- Ketua Forum Komunikasi Pengelolaan Air Limbah Pemukiman (Forkalim) H.Abimayu,BE mengungkapkan negara Indonesia baru lima persen air limbah pemukiman yang mampu diolah menjadi air bersih yang baru dibuang ke lingkungan.
Tingkat pengolahan air limbah pemukiman yang relatif kecil itu maka lingkungan Indonesia  berpotensi tercemar berat air limbah pemukiman yang pada gilirannya membahayakan kelestarian lingkungan dan kesehatan manusia, kata Abimayu, Rabu.
Ketika ditanya ANTARA di sela-sela mengikuti acara Rapat Kerja Nasional (Rakernas) Forkalim di Hotel Rodeta Banjarmasin, Abimayu menyebutkan minimnya pengelolaan air limbah pemukiman itu karena investasi untuk itu sangat  mahal sementara usaha tersebut tidak memberikan keuntungan yang besar hingga kurang diperhatikan.
Dibandingkan dengan pengolahan air bersih untuk kebutuhan dasar masyarakat yang begitu pesat perkembangannya, pengolahan air limbah pemukiman ini sangat jauh tertinggal.
Padahal di negara maju, dimana sangat memperhatikan kelestarian lingkungan dan kesehatan masyarakatnya, maka pengolahan air limbah tersebut seakan perioritas hingga tingkat pengolahannya begitu tinggi.
Mengolahan air limbah dimaksud adalah air limbah yang berada di dalam perpipaan pemukiman kemudian di olah hingga kondisi air tersebut mampu berada di kisaran baku mutu air yang aman bagi lingkungan baru di buang ke sungai dan sebagainya hingga tidak lagi merusak lingkungan.
Salah satu air limbah yang berbahaya jelas kotoran manudia yang membawa bakteri coli yang berbahaya bagi kesehatan, khususnya di wilayah pemukiman padat penduduk, seperti di perkotaan.
Sebagai contoh saja, Kota Banjarmasin tempat diselanggarakannya Rakernas Forkalim peretama di luar Jawa, ternyata kondisi limbah kotoran manusia begitu tinggi mencemari air sungai.
Secara terpisah, Kepala Perusahaan Daerah (PD) Pengolahan Air Limbal (PAL) Banjarmasin, H.Muh Muhidin,ST membenarkan kandungan baktari coli di sungai Banjarmasin sudah tercatat 16000 PPM, sementara batas baku mutu hanya 30 PPM, begitu tingginya pencemaran tinja di wilayah ini.
Hal itu terjadi karena kondisi Septec Tank (tempat penampngan tinja)  atau kakus rumah-rumah penduduk di Banjarmasin kebanyakan dibuat tidak standar,  akhirnya tinja mencemari air di sekitar kakus dan mengalir kemana-mana.
Selain itu memang ada budaya masyarakat Banjarmasin yang membuang kotoran sembarangan langsung ke  sungai melalui budaya jamban.
Oleh karena itu, Pemko Banjarmasin melalui PD Pal berusaha mencegah pencemaran air limbah pemukiman itu kemudian diolah hingga bersih agar lingkungan juga bersih, tambahnya.
Menurut Abi Mayu sesuai dengan MDG’S 2015 hendaknya air limbah pemukiman ini harus diolah menjadi air bersih yang sehat bagi lingkungan, tetapi karena investasi mengenai itu besar, maka kemungkinan sesuai MDG’S 2015 air pengelolaan limbah tidak bisa mencapainya.
Beberapa daerah di tanaha air memang sudah mulai serius mengelola air limbah ini, khususnya di Banjarmasin sudah terdapat tiga titik lokasl instalasi pengolahan air limbah dengan kapasitas cukup besar, dari 14 titik lokasi yang direncakakan agar wilayah ini bersih dari air limbah tersebut.
Kota-kota lain yang terus memacu produksi air limbah pemukiman itu, adalah 11 kota, antara lain Kota Medan, Jakarta,Bandung, Cirebon, Jogyakarta, Balikpapan, Denpasar, Solo, serta Kota Makassar.
Berdasarkan keterangan sebelum Rakernas digelar peserta yang berasal dari kota-kota pengolah air limbah tersebut berkesempatan menyusuri sungai-sungai wilayah pemukiman Banjarmasin untuk menyaksikan kondisi air sungai tersebut dari limpahan air limbah pemukiman.
Paparan yang disampaikan pada rakernas tersebut antara lain, dari ketua Forkalim Abimayu sendiri juga ada dari PDAM DKI Jaya, PDAM Balikpapan, BLU Denpasar, DLH Sekber Kerta Mantul Yogyakarta, PDAM bandung, PDAM Surakarta, serta PD PAL  Banjarmasin.

KALSEL DALAM BAYANG-BAYANG TB

      Oleh Hasan Zainuddin
          Yusuf (40) warga Dusun Paharuangan Desa Sungai Raya Selatan, Kabupaten Hulu Sungai Selatan, Kalimantan Selatan (Kalsel) mati  gantung diri. Cerita menyedihkan itu dilansir sebuah media massa di Banjarmasin, baru-baru ini.
         Yusuf nekad mengakhiri hidup dengan cara itu, karena ia frustasi menjalani hari-hari yang menyiksa, sejak kuman tuberculosis (TB) bersarang di tubuhnya beberapa tahun lalu.
         Buruh bangunan ini tak tahan dengan penderitaan akibat penyakit yang disebut oleh warga Kalsel sebagai “manggah”.
         TB, sejak dulu hingga sekarang merupakan momok bagi penduduk di wilayah paling selatan pulau Kalimantan ini.
         Selama tahun 2007, sebanyak 169 warga Kalsel meninggal akibat TB, 122 orang yang meninggal itu diantaranya merupakan pengidap penyakit TB positif.
         Sementara 46 orang lainnya terditeksi pengidap penyakit TBC negatif dan satu orang lagi pengidap TBC yang sudah pernah sembuh namun kembali kambuh.

 penderita tbc
         Dari 13 kabupaten dan kota di Kalsel, Kabupaten Hulu Sungai Tengah (HS) merupakan daerah paling tinggi kasus kematiannya (14 orang), disusul Barito Kuala (12 orang), Hulu Sungai Selatan (HSS) (11 orang) dan Tapin (10 orang).
         Selanjutnya, Kabupaten Tanah Bumbu (9 orang), Banjar (8 orang), Hulu Sungai Utara (HSU) dan Tabalong masing-masing (7 orang), Tanah Laut (Tala) dan Balangan masing-masing 6 orang dan Kotabaru serta Banjarbaru masing-masing satu orang.
         Kepala Dinas Kesehatan Kalsel, Rosihan Adhani, mengungkapkan prevalensi penderita TBC di Kalsel saat ini masih mencapai 210/100 ribu penduduk.
         Artinya, setiap 100 ribu penduduk terdapat 210 orang penderita TB. Saat ini jumlah penduduk Kalsel mencapai 3,5 juta jiwa lebih, jadi diperkirakan jumlah penderita TB mencapai 7.000 orang lebih.
         Sayangnya, dari hasil survei selama 2007 petugas baru menemukan sebanyak 3.200 penderita atau sekitar 47 persen. Padahal seharusnya
ditemukan sedikitnya 4.900 penderita (kasus), sesuai target pemerintah pusat sebesar 70 persen dari total perkiraan penderita.
         Namun, jumlah penemuan penderita TBC tersebut tetap jauh lebih banyak dibanding tahun-tahun sebelumnya, yaitu pada tahun 2005 sebanyak 2.987 penderita dan tahun 2006 sebanyak 3.577 orang.
        “Penemuan penderita TB selama 2007 masih sangat jauh dari target yang ditentukan, kondisi ini mengkhawatirkan, karena semakin sedikit penemuan penderita, kemungkinan penyebaran TB terhadap warga lainnya akan bertambah tinggi,” katanya.
         Dari jumlah penderita TB tersebut, sebanyak 87 persen berhasil disembuhkan atau di atas rata-rata nasional yang hanya 85 persen, sedangkan angka konvensi atau penderita yang sebelumnya positif menderita virus TB menjadi negatif sebanyak 80 persen.
         Konvensi tambahnya, yaitu penderita yang kendati belum sembuh 100 persen dari serangan TBC namun virusnya telah hilang, namun sewaktu-waktu mungkin bisa kembali.
         Sementara itu, tingkat kesalahan terhadap hasil laboratorium juga cukup bagus yaitu hanya sekitar 3,8 persen atau jauh di bawah ketentuan maksimal pemerintah pusat 5 persen.
         Kebanyakan, tambahnya, penderita TBC di Kalsel adalah laki-laki, akibat pola hidup yang tidak sehat, seperti merokok dan lainnya.
         “Dari 2.987 penderita TBC pada tahun 2005, sebanyak 1.807 penderita adalah laki-laki,” tambahnya.
          Penularan TB akan cepat terjadi di daerah-daerah kumuh terutama kawasan perkotaan, di daerah lingkungan padat.
         Sementara Dedey Rosyadi  dari Program officer Koalisi untuk Banjarmasin Sehat (KuBS) Banjarmasin saat menjelaskan mengenai penyakit TB belum lama ini mengatakan perlahan tetapi pasti satu orang penderita TB kalau tidak diobati bisa dipastikan terus menularkan kesepuluh orang penderita baru hanya dalam rentang waktu  setahun.
         Dengan demikian sudah bisa dibayangkan, bila suatu daerah terdapat penderita ratusan orang apalagi sampai ribuan orang maka nantinya akan terjadi ledakan penderita baru.
         Apalagi di Indonesia ini sudah dinyatakan ribuan bahwa puluhan ribu positif mengidap penderita penyakit ini
    Penyakit TB dinyatakan sebagai penyakit pembunuh nomor satu  dari kelompok penyakit menular yang selama ini dikenal, begitu berbahayanya penyakit tersebut sehingga badan kesehatan dunia (WHO) telah menyatakan pemberantasan TB menjadi sebuah kesepakatan global.
         Walau penyakit TB sudah dikenal penyakit menular yang paling berbahaya, tetapi pemberantasannya kurang intensif terbukti penyeraban penyakit itu di Indonesia semakin meluas.
         Penularan TB di Indonesia nomor tiga di dunia setelah China dan India.
         Seperempat juta kasus baru TB ditemukan setiap tahunnya di dunia, 140.000 pasien TB meninggal setiap tahun, dan 384 kematian setiap harinya karena TB. Disamping 17 hingga 18 orang meninggal setiap jam karena penyakit ini, kata Dedey Rosyadi.
         Celakanya, hanya 11 persen penduduk Indonesia yang mengetahui secara benar tentang gejala TB, dan sebagian besar pemerintah Kabupaten/kota di Indonesia justru tidak banyak menganggarkan dana untuk memberantas penyakit ini.
         Akibat kekurangan dana tersebut maka banyak Puskesmas sebagai ujung tombak pemberantasan penyakit menular kesulitan mendapatkan “suspect” TB.
         Dedey Rosyadi mengakui sebaran TB di Kalsel sudah cukup tinggi. “Wilayah ini enam besar daerah tertular TB di Indonesia,” katanya.
         Menurutnya, perlu sebuah gerakan dalam pemberantasan TB, bukan saja untuk memberantas penyakit tersebut tetapi juga memberikan pemahaman kepada masyarakat mengenai penyakit ini, khususnya cara pengobatannya.
         Selama ini masyarakat Kalsel masih ada yang beranggapan bahwa TB disebabkan ilmu hitam. Sebagian masyarakat pedalamam Kalsel menganggap terkena “racun” (ilmu guna-guna untuk pesugihan).
         “Anggapan keliru itu membuat penular TB di pedalaman Kalsel semakin cepat,” ujarnya.
        Ilmu racun itu dipercayai dipelihara seseorang yang ingin kaya, karena bila seorang terkena racun dan meninggal maka razeki yang meninggal itu nantinya akan berpindah kepada si pemelihara ilmu guna-guna tersebut.
        Akibat anggapan keliru itu maka penderita bukan berobat ke Puskesmas atau rumah sakit,  tapi ke dukun. Dukun hanya akan  memberi ramuan kampung, yang tak berhubungan dengan TB.
        Praktik seperti itu masih terjadi di Kota Paringin, Kabupaten Balangan.
        Setelah seorang petugas Puskesmas Kota Paringin melakukan penelitian, ternyata sekitar 70 persen orang “manggah” itu, terditeksi mengidap TB, sebab mereka berada di lingkungan pemukiman yang tidak sehat.
        Pekerjaan warga setempat sebagian besar adalah penyadap karet, mereka bekerja pagi hari hingga siang hari dilanjutkan menggarap sawah hingga sore. Rumah mereka tak berpenghuni dan selama berhari-hari selalu tertutup.
        Rumah-rumah penduduk juga berada di bawah rumpun pepohonan yang rimbun, yang tidak tersinari matahari. Akibatnya udara dalam rumah lembab dan menjadi tempat yang subur berkembangbiaknya kuman tuberkolosis.
        “Pola hidup seperti itulah yang menyebabkan wilayah Kecamatan Paringin sejak dulu hingga sekarang dianggap warga sebagai wilayah penyebaran racun, padahal sebenarnya sarang TB,” kata petugas Puskesmas tersebut.
        Melihat tingginya angka prevalensi TBC di Kalsel, berbagai kalangan berharap pemerintah mendirikan rumah sakit khusus penderita penyakit TB, karena ruang isolasi di sejumlah rumah sakit yang ada di Kalsel sekarang ini sangat terbatas.
        “Seharusnya harus ada RSU TB di Kalsel, karena penyakit ini perlu perawatan khusus,” kata Tono, seorang keluarga pasien yang kecewa karena tak mendapatkan ruang isolasi untuk orangtuanya yang harus dirawat karena menderita TB.