KALSEL DALAM BAYANG-BAYANG TB

      Oleh Hasan Zainuddin
          Yusuf (40) warga Dusun Paharuangan Desa Sungai Raya Selatan, Kabupaten Hulu Sungai Selatan, Kalimantan Selatan (Kalsel) mati  gantung diri. Cerita menyedihkan itu dilansir sebuah media massa di Banjarmasin, baru-baru ini.
         Yusuf nekad mengakhiri hidup dengan cara itu, karena ia frustasi menjalani hari-hari yang menyiksa, sejak kuman tuberculosis (TB) bersarang di tubuhnya beberapa tahun lalu.
         Buruh bangunan ini tak tahan dengan penderitaan akibat penyakit yang disebut oleh warga Kalsel sebagai “manggah”.
         TB, sejak dulu hingga sekarang merupakan momok bagi penduduk di wilayah paling selatan pulau Kalimantan ini.
         Selama tahun 2007, sebanyak 169 warga Kalsel meninggal akibat TB, 122 orang yang meninggal itu diantaranya merupakan pengidap penyakit TB positif.
         Sementara 46 orang lainnya terditeksi pengidap penyakit TBC negatif dan satu orang lagi pengidap TBC yang sudah pernah sembuh namun kembali kambuh.

 penderita tbc
         Dari 13 kabupaten dan kota di Kalsel, Kabupaten Hulu Sungai Tengah (HS) merupakan daerah paling tinggi kasus kematiannya (14 orang), disusul Barito Kuala (12 orang), Hulu Sungai Selatan (HSS) (11 orang) dan Tapin (10 orang).
         Selanjutnya, Kabupaten Tanah Bumbu (9 orang), Banjar (8 orang), Hulu Sungai Utara (HSU) dan Tabalong masing-masing (7 orang), Tanah Laut (Tala) dan Balangan masing-masing 6 orang dan Kotabaru serta Banjarbaru masing-masing satu orang.
         Kepala Dinas Kesehatan Kalsel, Rosihan Adhani, mengungkapkan prevalensi penderita TBC di Kalsel saat ini masih mencapai 210/100 ribu penduduk.
         Artinya, setiap 100 ribu penduduk terdapat 210 orang penderita TB. Saat ini jumlah penduduk Kalsel mencapai 3,5 juta jiwa lebih, jadi diperkirakan jumlah penderita TB mencapai 7.000 orang lebih.
         Sayangnya, dari hasil survei selama 2007 petugas baru menemukan sebanyak 3.200 penderita atau sekitar 47 persen. Padahal seharusnya
ditemukan sedikitnya 4.900 penderita (kasus), sesuai target pemerintah pusat sebesar 70 persen dari total perkiraan penderita.
         Namun, jumlah penemuan penderita TBC tersebut tetap jauh lebih banyak dibanding tahun-tahun sebelumnya, yaitu pada tahun 2005 sebanyak 2.987 penderita dan tahun 2006 sebanyak 3.577 orang.
        “Penemuan penderita TB selama 2007 masih sangat jauh dari target yang ditentukan, kondisi ini mengkhawatirkan, karena semakin sedikit penemuan penderita, kemungkinan penyebaran TB terhadap warga lainnya akan bertambah tinggi,” katanya.
         Dari jumlah penderita TB tersebut, sebanyak 87 persen berhasil disembuhkan atau di atas rata-rata nasional yang hanya 85 persen, sedangkan angka konvensi atau penderita yang sebelumnya positif menderita virus TB menjadi negatif sebanyak 80 persen.
         Konvensi tambahnya, yaitu penderita yang kendati belum sembuh 100 persen dari serangan TBC namun virusnya telah hilang, namun sewaktu-waktu mungkin bisa kembali.
         Sementara itu, tingkat kesalahan terhadap hasil laboratorium juga cukup bagus yaitu hanya sekitar 3,8 persen atau jauh di bawah ketentuan maksimal pemerintah pusat 5 persen.
         Kebanyakan, tambahnya, penderita TBC di Kalsel adalah laki-laki, akibat pola hidup yang tidak sehat, seperti merokok dan lainnya.
         “Dari 2.987 penderita TBC pada tahun 2005, sebanyak 1.807 penderita adalah laki-laki,” tambahnya.
          Penularan TB akan cepat terjadi di daerah-daerah kumuh terutama kawasan perkotaan, di daerah lingkungan padat.
         Sementara Dedey Rosyadi  dari Program officer Koalisi untuk Banjarmasin Sehat (KuBS) Banjarmasin saat menjelaskan mengenai penyakit TB belum lama ini mengatakan perlahan tetapi pasti satu orang penderita TB kalau tidak diobati bisa dipastikan terus menularkan kesepuluh orang penderita baru hanya dalam rentang waktu  setahun.
         Dengan demikian sudah bisa dibayangkan, bila suatu daerah terdapat penderita ratusan orang apalagi sampai ribuan orang maka nantinya akan terjadi ledakan penderita baru.
         Apalagi di Indonesia ini sudah dinyatakan ribuan bahwa puluhan ribu positif mengidap penderita penyakit ini
    Penyakit TB dinyatakan sebagai penyakit pembunuh nomor satu  dari kelompok penyakit menular yang selama ini dikenal, begitu berbahayanya penyakit tersebut sehingga badan kesehatan dunia (WHO) telah menyatakan pemberantasan TB menjadi sebuah kesepakatan global.
         Walau penyakit TB sudah dikenal penyakit menular yang paling berbahaya, tetapi pemberantasannya kurang intensif terbukti penyeraban penyakit itu di Indonesia semakin meluas.
         Penularan TB di Indonesia nomor tiga di dunia setelah China dan India.
         Seperempat juta kasus baru TB ditemukan setiap tahunnya di dunia, 140.000 pasien TB meninggal setiap tahun, dan 384 kematian setiap harinya karena TB. Disamping 17 hingga 18 orang meninggal setiap jam karena penyakit ini, kata Dedey Rosyadi.
         Celakanya, hanya 11 persen penduduk Indonesia yang mengetahui secara benar tentang gejala TB, dan sebagian besar pemerintah Kabupaten/kota di Indonesia justru tidak banyak menganggarkan dana untuk memberantas penyakit ini.
         Akibat kekurangan dana tersebut maka banyak Puskesmas sebagai ujung tombak pemberantasan penyakit menular kesulitan mendapatkan “suspect” TB.
         Dedey Rosyadi mengakui sebaran TB di Kalsel sudah cukup tinggi. “Wilayah ini enam besar daerah tertular TB di Indonesia,” katanya.
         Menurutnya, perlu sebuah gerakan dalam pemberantasan TB, bukan saja untuk memberantas penyakit tersebut tetapi juga memberikan pemahaman kepada masyarakat mengenai penyakit ini, khususnya cara pengobatannya.
         Selama ini masyarakat Kalsel masih ada yang beranggapan bahwa TB disebabkan ilmu hitam. Sebagian masyarakat pedalamam Kalsel menganggap terkena “racun” (ilmu guna-guna untuk pesugihan).
         “Anggapan keliru itu membuat penular TB di pedalaman Kalsel semakin cepat,” ujarnya.
        Ilmu racun itu dipercayai dipelihara seseorang yang ingin kaya, karena bila seorang terkena racun dan meninggal maka razeki yang meninggal itu nantinya akan berpindah kepada si pemelihara ilmu guna-guna tersebut.
        Akibat anggapan keliru itu maka penderita bukan berobat ke Puskesmas atau rumah sakit,  tapi ke dukun. Dukun hanya akan  memberi ramuan kampung, yang tak berhubungan dengan TB.
        Praktik seperti itu masih terjadi di Kota Paringin, Kabupaten Balangan.
        Setelah seorang petugas Puskesmas Kota Paringin melakukan penelitian, ternyata sekitar 70 persen orang “manggah” itu, terditeksi mengidap TB, sebab mereka berada di lingkungan pemukiman yang tidak sehat.
        Pekerjaan warga setempat sebagian besar adalah penyadap karet, mereka bekerja pagi hari hingga siang hari dilanjutkan menggarap sawah hingga sore. Rumah mereka tak berpenghuni dan selama berhari-hari selalu tertutup.
        Rumah-rumah penduduk juga berada di bawah rumpun pepohonan yang rimbun, yang tidak tersinari matahari. Akibatnya udara dalam rumah lembab dan menjadi tempat yang subur berkembangbiaknya kuman tuberkolosis.
        “Pola hidup seperti itulah yang menyebabkan wilayah Kecamatan Paringin sejak dulu hingga sekarang dianggap warga sebagai wilayah penyebaran racun, padahal sebenarnya sarang TB,” kata petugas Puskesmas tersebut.
        Melihat tingginya angka prevalensi TBC di Kalsel, berbagai kalangan berharap pemerintah mendirikan rumah sakit khusus penderita penyakit TB, karena ruang isolasi di sejumlah rumah sakit yang ada di Kalsel sekarang ini sangat terbatas.
        “Seharusnya harus ada RSU TB di Kalsel, karena penyakit ini perlu perawatan khusus,” kata Tono, seorang keluarga pasien yang kecewa karena tak mendapatkan ruang isolasi untuk orangtuanya yang harus dirawat karena menderita TB.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: