BELAJAR DI RUMPUN BAMBU, GAYA SEKOLAH ANAK DAYAK MERATUS

  Oleh Hasan Zainuddin
     Banjarmasin,1/5 (ANTARA)- Rindangnya pohon bambu Desa Hampang bagian dari Desa Urin, Kecamatan Halong, Kabupaten Balangan Propinsi Kalimantan Selatan (Kalsel) menjadi lokasi belajar puluhan anak masyarakat Dayak Pegunungan Meratus, kawasan setempat.
     Beralaskan, dedaunan puluhan anak duduk sambil menulis dan membaca dibawah bimbingan guru kunjung yang datang dari desa non jauh dengan berjalan kaki hanya untuk memberikan pelajaran, bagaimana cara membaca, menulis dan menghitung.
     Para anak sekolah yang juga harus datang berjalan kaki menempuh waktu tiga hingga lima jam menyusuri jalan setapak, naik dan turun gunung, melewati jeram, lembah serta jalan bersemak ada onak dan duri, membuat waktu belajar sekolah yang disebut Sekolah Dasar (SD) Kecil tak bisa ditentukan begitu saja.
     Anak-anak itupun bersekolah setelah membantu orang tuanya menggarap ladang tugalan (sawah padi gunung) atau menyadap karet serta mencari damar.
     “Bagi kami apapun fasilitas yang tersedia tak masalah, yang penting bagaimana para anak pedalaman Kalimantan ini, setidaknya bisa membaca dulu,” kata Hijri seorang guru kunjung yang bersedia melajari para anak masyarakat terisolir tersebut.

 foto bpost
     Terdapat tiga guru kunjung yang bersedia mendatangi lokasi belajar SD kecil di kawasan yang berlembah itu, selain Hijri juga ada Sumardi selaku kepala sekolahnya, serta seorang guru lagi. Mereka memperoleh upah sekitar Rp400 ribu per bulan dari pemerintah.
     Proses belajar itupun tak bisa disetiap hari hanya ditentukan hari-hari tertentu saja, dan belajarpun bisa bubar seketika saat turun hujan.
     Pelajaran yang diajarkan para guru kunjung antara lain, adalah pelajaran bahasa Indonesia, matematika, biologi, PPKN, serta pelajaran agama Budha, karena sebagian besar warga setempat adalah agama nenek moyang mereka Kaharingan (kepercayaan animisme) yang hampir menyerupai agama Budha lalu kemudian sebagian warga memeluk agama Budha.
     Dapau (40 th) ayah dari SD kecil yang juga penduduk setempat, merasa bangga adanya SD kecil itu, karena kehadiran sekolah khusus itu, maka sudah ada beberapa anak setempat bisa memnbaca dan menulis serta cara menghitung melalui pelajaran matematika.
     “Sejak zaman dulu, baru sekarang warga kami bisa membaca dan menulis, diantaranya adalah anak saya,” kata Dapau didampingi   warga lainnya yang berkerumun ketika berada di lokasi itu ikut hadir saat peresmian bangunan SD kecil oleh Bupati Balangan, Ir Sefek Effendi.
     Bupati Balangan bersama, Ketua Umum PWI Pusat, Haji Tarman Azzam, Ketua PWI Kalsel Faturahman serta puluhan wartawan dan pejabat Balangan mendatangi lokasi masyarakat Dayak Meratus tersebut berkaitan Hari Pers Nasional (HPN) tingkat Kalsel,Selasa (29/4) lalu.
    Menurut Sefek Effendi kepada pers, belajar di bawah pohon bambu tersebut berlangsung selama enam bulan, setelah itu warga setempat bergotong royong membuatkan semacam pondokan dengan ruangan yang mampu menampung 20 murid sekolah.
     Pondokan terbuat dari atap daun dan dinding bambu berlantaikan tanah, dibuat sedemikian  rupa, disediakan bangku-bangku duduk yang memanjang terbuat dari batangan bambu pula.
     Dengan fasilitas seadanya itulah kemudian para murid bisa belajar dengan lebih tertib, kata Sefek Effendi seraya menunjuk pondokan tersebut.
     Pondokan yang merupakan SD kecil tersebut sempat digunakan beberapa bulan pula tetapi kini sudah tak dimanfaatkan lagi hingga mulai runtuh, dimana-mana atapnya berlubang dan tidak terawat lagi setelah dibangunkan gedung SD kecil yang lebih permanen dengan bahan kayu yang tak jauh dari lokasi tersebut.
     Kedatangan Bupati ke areal penghasil karet alam, rotan, kemiri, damar, dan padi tugal (gogo) tersebut dalam rangkaian meresmikan gedung agak permanen SD kecil tersebut. 
     Di sekolah SD kecil itu menampung anak warga bukit (panggilan warga pedalaman) antara 15 hingga 20 orang per sekolah, dan mereka sekolah hanya sampai kelas tiga saja, setidaknya mereka sudah bisa menghitung dan membcaca.
     Setelah mereka dinilai lulus di SD kecil itu barulah mereka bisa melanjutkan ke SD Negeri atau SD yang resmi sampai dengan lulus kelas enam.
     Untuk melanjutkan hingga kelas enam anak anak itu bisa bersekolah ke SD terdekat seperti dibukota kecamatan Halong atau Awayan.
     SD kecil ini terpaksa didirikan untuk menolong anak warga Dayak yang rumah tinggalnya begitu terpencar dari satu gunung ke gunung yang lain sehingga untuk mengajak mereka sekolah ke SD resmi agak sulit karena lokasi yang terpencer-pencar itu.
     Oleh karena itu Pemkab Balangan berinisiatif mendirikan SD kecil di lokasi-lokasi tertentu agar anak itu bisa menjangkaunya, karena lokasi Pegunungan Meratus itu terpencar di wilayah itu maka didirikanlah enam lokasi SD kecil.
     Saat presemian tersebut Ketua Umum PWI Tarman Azzam, bahkan sempat menjadi guru dadakan di sekolah yang menampung anak-anak Pegunungan Meratus itu.
     Sekolah khusus yang diresmikan itu satu dari enam sekolah serupa di kawasan perbukitan Pegunungan Meratus Kabupaten Balangan. Selain di Desa Hampang SD kecil juga ada di desa Tengger, Desa Wayuanin, Desa Ajung, Palaran, serta Desa Lebero Sungkai.
    Seluruh lokasi SD kecil itu menyebar di pegunungan Meratus tersebut, ada yang berdekatan dengan ibukota kecamatan Halong atau ibukota kecamatan Tebing Tinggi, dan Awayan.
     Berdasarkan keterangan terdapat sekitar empat ribu Kepala Keluarga (KK) warga di kawasan perbukitan tersebut, dan dari jumlah itu sekitar 500 anak usia sekolah yang harus diberikan pelajaran agar mereka tidak lagi buta huruf seperti orang tua mereka.
     Selain itu juga diberikan pelajaran paket A untuk warga yang sudah berusia di atas 15 tahun agar warga juga bisa membaca, melalui jasa guru kunjung tersebut.
      Berdasarkan pemantauan ANTARA lokasi SD Kecil yang diresmikan tersebut  terletak cukup jauh di Pegunungan Meratus, yakni jarak 22 KM dari Halong. sementara Halong sendiri berjarak sekitar 240 Km Utara Banjarmasin.
     Banjarmasin Halong agaknya tak masalah karena tersedianya jalan darat yang memadai, hanya saja antara Halong menuju Pegunungan Meratus yang medannya sangat berat karena tak tersedia jalan darat memadai.
      Untuk menempuh perjalanan tersebut, rombongan PWI Kalsel, dan Pemkab Balangan serta Ketua PWI Tarman Azzam harus menempuh perjalanan yang melelahkan, dengan jalan yang seadanya dan berliku-liku menempuh lembah dan gunung.
     Bahkan mobil Tarman Azzam dan Bupati Balangan sempat amblas pada lokasi jalan yang rusak berat, karena jalan dari tanah yang belum ada pengerasan akibatnya jalan berlubang-lubang besar, becek, berlumpur dan berair.
     Untung saja beberapa petugas sudah disiapkan untuk membantu mobil rombongan yang amblas di lokasi sulit tersebut sehingga perjalanan rombongan sampai ke tujuan.
     Tak heran ketika sampai ke lokasi SD Kecil yang paling dekat dengan ibukota kecamatan itu, banyak anggota rombongan yang kelelahan, dan terpaksa istirahat dulu di bawah pepohonan sebelum mengikuti upacara  peresmian SD kecil tersebut
     Peresmian SD kecil itu dilakukan setelah selesainya peringatan Hari Pers Nasional (HPN) yang diikuti ribuan masyarakat di lapangan Kota Halong yang sekaligus mencanangkan gerakan gemar membaca bagi masyarakat pedalaman Kalsel tersebut.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: