KUE TRADISONAL “APAM BARAS” DOMINASI HIDANGAN LEBARAN

Oleh Hasan Zainuddin

Gema takbir dan tahmid berkumandang dengan bersahut-sahutan di antara dua surau diiringi pukulan bedug bertalu-talu menandakan hari itu hari itu sebagai Hari Raya Idul Fitri.

“Maaf lahir dan bathin”. Kalimat pendek itu biasanya terdengar dari mulut orang desa Galumbang Kecamatan Paringin, Kabupaten Balangan kawasan kaki pegunungan Meratus yang merupakan daerah pedalaman Propinsi Kalimantan Selatan yang merupakan sub dari Suku Banjar.

Sambil bersalam-salaman para warga desa itu lazimnya merayakan hari kemenangan tersebut sambil mencicipi hidangan lebaran yang sudah disediakan para ibu-ibu di setiap rumah kawasan yang berhawa dingin itu.

Kawasan desa yang berada di sepanjang sungai Pitap berair deras itu pun akan tampak terlihat semarak, jumlah orang terlihat meningkat hampir satu kali lipat dibandingkan hari biasa.

Maklum kawasan permukiman yang geografisnya agak berada di tengah antara jarak Banjarmasin ibukota propinsi Kalsel dengan Balikpapan di provinsi tetangga Kalimantan Selatan itu merupakan desa yang penduduknya suka merantau.

apam baras habang     apam baras putih

Tujuan warga desa itu untuk merantau, khususnya generasi mudanya adalah Banjarmasin, ibukota Kalsel, atau ke Samarinda dan Balikpapan Kaltim.

Saat-saat hari raya seperti ini biasanya perantau yang sudah beberapa dasawarna berada di kampung orang itu, rindu pulang kampung waktu tepat adalah musim lebaran.

Maksudnya selain sungkeman kepada orang tua, sanak famili sekaligus juga berziarah ke makam orang tua atau sanak famili yang sudah meningal dunia.

Para pendatang yang umumnya berhasil mengadu nasib di kota itu rindu kampung halaman sekaligus bernostalgia mencicipi berbagai hidangan khas setempat terutama di saat musim lebaran.

Kerinduan semacam itu itu biasanya mampu menyingkirkan penganan atau biskuit serta makanan kecil yang dibuat secara modern yang dibeli di super market yang dibawa para pendatang itu ke kampung halaman.

Pada saat itu, menu yang dinikmati mereka justru kue-kue tradisional setempat yang mendominasi kue “apam baras”.

Kue apam yaitu satu kue tradisional yang dibuat melalui hasil permentasi kemudian dikukus dan dihidangkan setelah dibubuhi berbagai campuran termasuk gula aren (enau) untuk apam habang dan gula pasir untuk apam putih.

Bahkan untuk lebih dianggap nikmat lagi maka tak jarang apam yang sudah manis itu dikasih “juruh” (cairan gula aren) yang beraroma buah-buahan seperti aroma durian atau aroma “pempakin” (buah jenis durian tapi bewarna kuning).

Hidangan lebaran di berbagai desa wilayah kaki Pegunungan Meratus yang tidak jauh dari pemukim suku Dayak Pitap tersebut memang beraneka ragam.

Bukan hanya apem yang dihidangkan penduduk setempat yang mayoritas beragama Islam tersebut, tetapi juga kue-kue tradisional yang lain. Bahkan kue tradisional lainnya itu termasuk kue langka yang biasanya hanya dibuat saat lebaran atau acara-acara kenduri yang bersifat sakral.

Taruhlah kue tradisional dimaksud seperti kue lemper, kue cucur, lemang, tapei ketan atau tapei ubi kayu, cingkarok batu, pupudak, gagatan, bulungan hayam, kikicak, kraraban, pais waluh, dan lainnya.

Ada di antara kue yang dihidangkan itu dinilai sakral dan tak sembarang orang boleh membuatnya, sebab kalau tidak mengindahkan kaidah yang sudah dipercayai dan berlaku di kawasan tersebut maka pembuat kue itu bisa kualat.

Kue yang bersifat sakral tersebut, seperti lemang, wajik, bubur habang, bubur putih, cucur, serta kue sasagon.

Kue-kue ini oleh nenek moyang dulu dibuat dan digunakan untuk suguhan acara tertentu, seperti acara pengobatan untuk pasien yang sakit.

“Tak bisa dipungkiri kepercayaan nenek moyang di kawasan pedalaman Kalimantan Selatan ini masih kental nuansanya dan mempengaruhi budaya warga hingga sekarang, karena nenek moyang warga setempat beraliran animesme kaharingan yang terdapat pula nilai-nilai Hindu,” kata seorang penduduk setempat.

Seorang pemudik lebaran dari Banjarmasin Abumansyur menyatakan bahagia ketika pulang kampung, karena ia bisa bernostalgia mencicipi kue-kue zaman dulu.(*)

Iklan

Satu Tanggapan

  1. kaya nya enak tuch,, patut di coba………………

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: