PEMANASAN GLOBAL PICU DBD KIAN GANAS

PEMANASAN GLOBAL PICU DBD KIAN GANAS
     Oleh Hasan Zainuddin
   Banjarmasin,26/11 (ANTARA)- Dulu, 30 tahun lalu penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) disebut penyakit aneh, lantaran hanya beberapa orang saja yang terserang.
        Kala itu, DBD sama dengan flu burung sekarang, aneh dan sulit diobati.
        “Dulu DBD juga hanya menyerang anak di bawah 10 tahun saja, tidak menyerang orang dewasa,” kata Dosen senior Fakultas Ilmu Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia (UI) Dr. Zarfil Talal, dalam Seminar Penanggulangan DBD yang di Universitas Islam Kalimantan (Uniska), Banjarmasin, Sabtu (24/11).
        Bahkan serangan DBD juga hanya terdengar di Jakarta dan Surabaya, sementara daerah lain tak pernah. Belakangan DBD terus menyebar bukan saja di kota-kota besar tetapi hingga ke kabupaten, kecamatan dan desa-desa.
        DBD juga bukan hanya menyerang anak-anak tetapi semua orang termasuk para jompo.
        Dulu para ahli menyimpulkan, orang yang sudah pernah terserang DBD tidak akan terserang lagi. Tetapi kini serangan DBD bisa berulang-ulang terhadap pasien yang sama.
        Kenyataan itu telah membuktikan penyakit ini telah berubah menjadi lebih ganas dan itu diperkirakan lantaran perubahan iklim global dan meningkatnya efek rumah kaca di atmosfer bumi, kata Zarfil Talal.
        Penyebaran penyakit DBD, terus meluas di seluruh Indonesia tak terkecuali di Kalsel ini. Kepala Dinas Kesehatan Kalimantan (Kalsel), dr Rosehan Adhani mengatakan serangan penyakit DBD di wilayahnya sudah ditetapkan sebagai kejadian luar biasa (KLB), karena korbannya dua kali lipat dibandingkan sebelumnya.
        “Selama 2007 saja, korban DBD di Kalsel sudah mencapai 1.288 orang, suatu jumlah kasus yang sudah mengkhawatirkan,” katanya.
        Kasus DBD di Kalsel paling banyak terjadi antara Januari hingga Maret 2007, mencapai 1010 kasus. Serangan itu menyebabkan 15 orang meninggal dunia. Rata-rata karena pasien terlambat ke rumah sakit.
        Rosehan Adhani menduga DBD kian merebak erat kaitannya  dengan perubahan musim yang tak lagi beraturan.
        “Tahun ini musim hujan begitu panjang. Cuaca demikian, memberikan peluang nyamuk aedes agypti bertelur berulang-ulang,” ujarnya.
        Akibatnya pertumbuhan nyamuk “si belang” itu menjadi tak terkendali. Nyamuk-nyamuk itulah yang menebar virus dengue –virus penyebab demam berdarah– ke tubuh manusia.
        Kasus DBD di Kalsel terbanyak di Tanah laut, kemudian Tabalong, Hulu Sungai Selatan (HSS), Hulu Sungai Tengah (HST), Banjarbaru, Hulu sungai Utara (HSU) dan Kota Banjarmasin.
        “DBD menyebabkan kematian terbanyak di Kabupaten Barito Kuala,” katanya.
        Tarfil Talal, yang juga anggota Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) itu menyatakan, penanggulangan DBD yang dilakukan selama ini tidak membuahkan hasil berarti.
        Padahal semua orang sudah tahu bahwa penyakit tersebut ditimbulkan virus yang disebarkan oleh media nyamuk, dan sebenarnya pemberantasan itu relatif mudah.
        “Bila nyamuk sudah tidak ada lagi, maka DBD akan hilang,” katanya.
        Lihat saja pengalaman Singapura yang bertekad memberantas DBD dengan tidak membiarkan sarang-sarang nyamuk. Terbukti setelah nyamuk di negara tersebut hilang, maka tidak pernah terdengar lagi serangan DBD.
        Upaya Singapura harus dicontoh. Negeri kecil itu tak membiarkan selokan terbuka, sampah berserakan, serta kaleng dan apa saja yang membuat nyamuk mudah bersarang.
        Melihat kian merebaknya serangan DBD di Kalsel, Rosehan Adhani mengajak semua kalangan masyarakat ikut berpartisipasi menanggulangi penyakit tersebut agar tidak kian meluas.
        Dinas Kesehatan Kalsel selama ini berupaya memberantas sarang DBD melalui fogging dan abatisasi.
        “Segeralah melaporkan bila ada serangan DBD. Kami akan melokalisir lokasi itu dengan foging pada radius 100 meter atau 10 hingga 20 rumah.”
        Perubahan Paradigma
      Pencegahan DBD di Kalsel belum berhasil, terbukti dengan masih meningkatnya angka kejadian DBD. Oleh karena itu sejumlah kalangan menyarankan perubahan paradigma dalam penanganan penyakit tersebut.
        Strategi penanganan DBD sekarang ini lebih banyak intervensi ke manuasianya bukan lingkungan. Padahal penyebab utama DBD adalah lingkungan.
        “Kalau Kalsel ingin bebas dari Penyakit DBD maka paradigmanya harus diubah dari kuratif (pengobatan) ke promotif preventif (peningkatan pencegahan),” ujar Fahrurazi, penggagas Seminar Penanggulangan DBD di Banjarmasin.
        Komitmen ini harus ada pada pimpinan daerah provinsi, Kabupaten dan Kota untuk bersama-sama membuat kebijakan pencegahan DBD.
        “Keberhasilan penggunaan metode promotif preventif itu telah dirasakan oleh Mojokerto. Penyakit Demam Berdarah di daerah tersebut tahun 2007 turun drastis,” kata Fahrurazi dalam seminar yang diikuti ratusan praktisi kesehatan, mahasiswa dam umum.
        Di daerah itu, partisipasi masyarakat untuk pembiayaan kesehatan juga tinggi, mencapai 80 persen.
        Apa itu DBD?
    DBD pertama ditemukan pada tahun 1780-an secara bersamaan di Asia, Afrika dan Amerika Utara. Penyakit ini dinamai pada 1779. Wabah besar global dimulai di Asia Tenggara pada 1950-an dan hingga 1975. Demam berdarah saat itu telah menjadi penyebab kematian utama anak-anak di wilayah itu.
        DBD adalah penyakit febril akut yang ditemukan di daerah tropis, dengan penyebaran geografis yang mirip dengan malaria.
        Penyakit ini disebabkan oleh salah satu dari empat serotipe virus dari genus flavivirus, famili flaviviridae. Setiap serotipe berbeda sehingga tidak ada proteksi-silang dan wabah yang disebabkan beberapa serotipe (hiperendemisitas) dapat terjadi. Demam berdarah disebarkan kepada manusia oleh nyamuk aedes aegypti.
        Keberadaan virus dengue dalamn tubuh ditunjukkan melalui munculnya demam secara tiba-tiba, disertai sakit kepala berat, sakit pada sendi dan otot (myalgia dan arthralgia) dan ruam. Ruam demam berdarah mempunyai ciri-ciri merah terang, petekial dan biasanya muncul pada bagian bawah badan. Pada beberapa pasien bercak itu menyebar hingga seluruh tubuh.
       Selain itu, radang perut bisa juga muncul dengan kombinasi sakit di perut, rasa mual, muntah-muntah atau diare.
        Masa tunas (inkubasi) demam berdarah umumnya antara 3 – 15 hari, dengan puncak demam yang lebih kecil terjadi pada akhir masa demam.
        Sesudah masa tunas, orang yang tertular akan mengalami salah satu dari empat bentuk berikut ini;
       1. Abortif, penderita tidak merasakan suatu gejala apapun.
       2. Dengue klasik, penderita mengalami demam tinggi selama 4 – 7 hari, nyeri-nyeri pada tulang, diikuti dengan munculnya bintik-bintik atau bercak-bercak perdarahan di bawah kulit.
       3. Dengue Haemorrhagic Fever (Demam berdarah dengue/DBD) gejalanya sama dengan dengue klasik ditambah dengan perdarahan dari hidung (epistaksis/mimisan), mulut, dubur dsb.
       4. Dengue Syok Sindrom, gejalanya sama dengan DBD ditambah dengan syok/presyok. Bentuk ini sering berujung pada kematian.
       Karena seringnya terjadi perdarahan dan syok maka pada penyakit ini angka kematiannya cukup tinggi, oleh karena itu setiap penderita yang diduga menderita Penyakit DBD dalam tingkat yang manapun harus segera dibawa ke dokter atau rumah sakit.

Iklan

2 Tanggapan

  1. makasih banyak bahasan tentang DBD nya… sgt berguna untuk tugas kuliah sy. mdh2an anda dapat pahala yg buanyak,amien…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: