BAGARAKAN BUDAYA WARGA KALSEL MEMBANGUNKAN MAKAN SAHUR

Oleh Hasan Zainuddin

“Bagarakan sahur” merupakan aktivitas sekelompok pemuda Kalimantan Selatan yang bangun di tengah malam selama bulan puasa dengan tujuan membangunkan kaum muslim untuk makan sahur.

Tidak ada catatan yang menyebutkan awal bagarakan sahur dilakukan di daratan Kalimantan Selatan yang didominasi suku Melayu Banjar itu.

Tetapi di kalangan masyarakat tertanam pengertian bahwa budaya itu bagian dari kehidupan kaum Melayu Islam lainnya seiring masuknya Islam ke wilayah itu.

Sebenarnya budaya itu tidak jauh dengan banyak aktivitas pemuda lain di nusantara di malam bulan Ramadhan. Hanya saja, untuk wilayah Kalsel budaya bagarakan sahur lebih spesifik dengan kemampuannya menyesuaikan diri dengan kondisi kehidupan masyarakat dan potensi alam.

Makanya dalam acara bagarakan sahur sering kali orang memanfaatkan peralatan seadanya, seperti besi-besi tua, peralatan tani seperti pacul, bajak, parang, linggis, serta jenis besi lain yang mampu mengeluarkan suara nyaring, ditambah dengan kentungan terbuat dari bambu.

Pada era tahun 60-an hingga era tahun 70-an bagarakan sahur menjadi hiburan rakyat yang populer setiap Ramadhan. Saat itu, tak hanya besi tua yang menjadi alat yang dipukul tetapi ditambah dengan suara seruling, gendang, dan gong.

Suara dentingan besi tua diselengi dengan suara seruling, gendang, dan gong menghasilkan irama yang enak didengar. Akibatnya, warga selain mudah terbangun oleh suara bising besi tua juga merasa terhibur oleh suara suling dengan irama khas lagu-lagu Banjar.

 

 

Bagarakan Sahur

 

 

 

 

 

 

 

para pemuda sedang bagarakan sahura (mb)

 

Pada era tersebut setiap kampung memiliki kelompok sendiri, sehingga mereka sering saling berpapasan saat berkeliling kampung dan menimbulkan kesan sedang berlomba.

Tidak jarang kelompok bagarakan sahur dari sebuah kampung memasuki kampung lain, sehingga pemuda dari kampung yang dimasuki itu merasa berutang.

Pada malam berikutnya, pemuda kampung itu kemudian membalas mendatangi kampung yang pemudanya telah memasuki kampung mereka malam sebelumnya.

“Jadi ada kesan balas-membalas,” kata Haji Abdullah, seorang penduduk Kabupaten Balangan saat menceritakan pengalaman masa lalunya.

Akibat sering berbalas-balasan tersebut tak jarang dalam acara bagarakan sahur tersebut juga diwarnai atraksi lain, seperti wayang orang, bambarangon (semacam barongsai), hingga pergelaran sandiwara, agar mereka terlihat sebagai yang paling hebat.

“Pokoknya pada era tahun-tahun tersebut, bagarakan sahur merupakan hiburan rakyat saat Ramadhan yang menyenangkan,” katanya.

Tetapi seiring perkembangan zaman, yaitu ketika peralatan modern sudah tersedia maka bagarakan sahur dengan hanya memukul besi-besi tua pun mulai ditinggalkan dan digantikan alat-alat musik modern.

Pada 1980-1990-an, mulailah dipakai alat musik modern seperti seruling, biola, gitar, bahkan alat musik dengan sound sistem yang bagus, sehingga satu kelompok bagarakan sahur bisa dikatakan sebagai kelompok orkes kampung.

Lagu-lagu tradisional Banjar yang dulunya menjadi lagu-lagu seruling bambu bagarakan sahur kini sudah berubah menjadi lagu-lagu dangdut dan lagu kasidahan populer artis ibukota.

Sehingga acara bagarakan sahur yang sering diadakan di wilayah Kalsel Kuala, layaknya pergelaran orkes dangdut di malam hari.

Bahkan belakangan acara bagarakan sahur juga menggelar alat musik karaoke dengan hanya didampingi beberapa orang penyanyi. Itu makin meriah ketika rombongan bagarakan membawa satu gerobak berisi sistem penata suara.

 

Tetapi seiring perkembangan jaman pulalah, yaitu makin maraknya siaran radio dan televisi, lambat laun acara bagarakan sahurpun mulai ditinggalkan.

“Pemuda sekarang kayaknya sudah enggan keluar malam saat sahur, mereka lebih senang menyaksikan acara di televisi saat sahur seperti acara komide putar di TPI,” ucap seorang ibu rumah tangga di bilangan Kayutangi Banjarmasin.

Melihat kenyataan kian terlupakannya acara bagarakan sahur tersebut, suatu saat menimbulkan keprihatinan Walikota Kota Banjarbaru Drs.Rudy Restawan, yang kemudian membudayakan lomba bagarakan sahur setiap menjelang akhir bulan Ramadhan.

Lomba bagarakan sahur yang disponsori pemerintah kota Banjarmasin tersebut sudah terlaksana dalam beberapa tahun belakangan ini.

Kegiatan itu tak lain untuk menumbuhkan kembali minat pemuda Kalsel untuk menggelar budaya yang mulai terlupakan tersebut.

Untuk memancing minat masyarakat mengikuti lomba tersebut tak tanggung-tanggung, Pemko setempat mengeluarkan uang cukup besar.

Pengeluaran itu terutama untuk hadiah para pemenang, sehingga setiap tahun lomba bagarakan sahur Pemko Banjarbaru selalu dipadati peserta dan pengunjung.

Belakangan bukan hanya bagarakan sahur yang dilombakan tetapi juga sekaligus menggelar lomba arak-arakan tanglong sebagai simbol budaya Islam.

Kemeriahan setiap penyelanggaraan lomba bernuansa keislaman tersebut kemudian jadikan atraksi wisata oleh Pemko Banjarbaru.

Kegiatan itu dijadikan atraksi wisata yang dikalenderkan dan dipromosikan ke dunia luar sebagai atraksi budaya tahunan.

Acara itu dinilai mampu memancing kedatangan wisatawan ke daerah yang selama ini dikenal sebagai penghasil batu permata intan tersebut.(*)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: