HARUSKAH “TERTAWAI” BANJARMASIN, KOTA TERKOTOR INDONESIA

 Oleh Hasan Zainuddin
 Banjarmasin,15/6 (ANTARA)- Sebagai seorang warga Banjarmasin tak ada yang pantas diucapkan, kecuali malu, setelah mendengar pengumuman pemerintah melalui Wakil Presiden Yusuf Kalla tentang penghargaan Adipura do hotel Shangrela Jakarta (12/6) lalu.
 Bagaimana tidak merasa malu kalau dikatakan kota Banjarmasin yang dijuluki kota “bungas” (cantik) itu dinobatkan sebagai kota terkotor di Indonesia setelah Tangerang.
 ”Gelar kota terkotor itu harus kita tertawai,” kata Yusuf Kalla didampingi Menteri Lingkungan Hidup Rachmat Witoelar dihadapan undangan pada acara malam penganugerahan Adipura.
 Menurut Wakil Presiden, dengan diketawai diharapkan kota terkotor mampu intropeksi diri lalu berbenah secara intensif agar terlepas dari predikat kota yang kotor demikian.
 Kalau terus kotor, maka warga kota merasa tidak nyaman, makanpun tidak enak, kata Yusuf Kalla sambil tersenyum.
 Menteri Lingkungan Hidup, Rachmat Witoelar menyatakan sengaja diciptakan penganugerahan Adipura terbersih dan Adipura terkotor, maksudnya hanya untuk memotivasi kota di Indonesia untuk selalu menjaga kebersihan.
 Gubenur Kalsel, Drs.Rudy Ariffin ketika dilapori Kepala Badan Pengendalian Dampak Lingkungan Daerah (Bapedalda), Drs.Rachmadi Kurdi saat acara coffie morning soal kota terkotor yang disandang ibukota Kalsel itu, hanya bisa tertegun dan berharap Pemko Banjarmasin bisa membenahinya dikemudian hari.
 Sementara Walikota Banjarmasin, Yudhi Wahyuni yang mengaku mendengarkan langsung pengumuman anugerah Adipura melalui televisi swasta menyatakan minta maaf sebesar-besarnya kepada seluruh masyarakat lantaran belum mampu menciptakan suasana yang bersih.
 Ia sendiri sudah memperoleh sinyal mengenai kotanya yang akan memperoleh predikat terkotor tersebut, setelah kedatangan tim penilai Adipura ke kota ini, termasuk kritikan Wakil Presiden Yusuf Kalla sendiri saat beliau selaku Ketua Umum Golkar ke Banjarmasin.
 ”Saya manusia biasa yang mudah membalik telapak tangan, atau seorang pelukis yang secepatnya merubah lukisan kotor ke sebuah lukisan yang bersih,” kata Yudhi Wahyuni.
 Pengakuan walikota yang dilantik 5 Agustus 2005 upaya menciptakan kota bersih sudah banyak dlakukan, seperti lomba kebersihan antar kampung, gerakan jumat bersih, gerakan kebersihan lainnya yang selalu diciptakan untuk menciptakan partisipasi masyarakat.
 Tetapi penilaian adipura demikian bukan semata kebersihan, namun juga faktor lain, seperti ketersediaan ruang terbuka hijau, keberadaan terminal, keteraturan pasar, rumah sakit, jalan protokol, tempat ibadah dan faktor lain.
 Kepala Dinas Kebersihan Kota Banjarmasin, Drs.Sayiddin Noor agaknya tidak terlalu mempermasalahan mengenai predikat kota terkotor tersebut, namun ia menganggap julukan baru itu sebagai pendorong semua pihak untuk memperhatikan kota Banjarmasin ini.
 ”Tanggungjawab kota ini kan seharusnya tak semata Pemko Banjarmasin, inikan ibukota Kalsel, hendaknya Pemprop Kalsel juga betanggungjawab, selain pihak swasta dan masyarakat,” tutur mantan Kepala Dinas Pariwisata Seni dan Budaya tersebut.
 Untk menciptakan kota Banjarmasin yang bersih hendaknya harus ada kerja “kroyokan” (bersama-sama) baik Pemko, Pemprop, perusahaan swasta dan masyarakat.
 Terutama menyangkut ketersediaan dana dan fasilitas yang tersedia, karena dana yang ideal untuk pengelolaan Banjarmasin Rp10 miliar per tahun, tetapi yang tersedia Rp8 miliar. Balikpapan sebagai relatif kecil saja Rp12 miliar per tahun.
 Dana Rp8 miliar itupun baru tahun ini, sebelumnya dana kebersihan hanya sekitar Rp2 miliar saja per tahun.
 Armada truk angkut sampah baru 29 unit, kalau melihat volume sampah yang hampir 500 meterkubik per hari idealnya minimal 50 unit truk ankut, apalagi truk yang diperasikan sekarang 50 persennya sudah tak layak operasi lagi.
 Begitu juga petugas kebersihan yang ada 400 orang, idiealnya juga minimal 500 petugas, jumlah tempat Pembuangan Sampah Sementara (TPS) baru 110 TPS idealnya juga 200 TPS.
 Sedangkan Tempat Pembuangan Akhir (TPA) sampah yang ada di Basisih kondisinya belum memadai, jalan menuju lokasi pembuangan saja tidak tersedia baik.
 Tetapi permasalahan yang dihadapi masalah kebersihan itu bukan semata keterbatasan, namun kekurang pedulian warga menjadi kunci utama masalah kebersihan, dimana warga senenaknya membuang sampah hingga pemukiman, perkotaan, dan jalanan dipenuhi sampah.
 Sedangkan pembuangan sampah ke TPS yang dilakukan masyarakat juga tak disiplin artinya tidak malam hari sebelum pengangkutan tetapi justru siang hari setelah danya pembersihan samah akibatnya sampah kembali berserakan.
 Apalagi sebagian besar TPS di kota Banjarmasin brada di pinggir jalan utama yang tak ditemui di kota lain, akhirnya berserakan sampah itu mudah terlihat, menimbulkan aroma kurang sedap serta becek.
 Menurut beberapa warga Masyarakat kota ini predikat jelek kota ini tak bisa dilemparkan penyebabnya masyarakat saja, tetapi peran Pemko yang paling dominan untuk merubah wajah kota ini.
  Kenyataan yang tak bisa dipungkiri seakan merusak kota ini justru Pemko Banjarmasin sendiri, dimana seharusnya suatu wilayah sebagai lokasi jalur hijau dan bantaran sungai justru diberi ijin oleh Pemko masyarakat untuk mendirikan bangunan.
 Begitu juga di lokasi pertokoan yang seharusnya tersedia untuk pejalan kaki justru muncul kios-kios kecil yang memiliki ijin, sedangkan pedagang kaki lima (PKL) banyak yang ditarik retribusinya seakan melegalkan kegiatan PKL akhirnya PKL menjamur, salah satu lokasi PKL yang terkesan dilegalkan malah berada di jalur Utama Jalan Belitung hingga menimbulkankemacetan yang luar biasa.
 Sebagai kota besar yang bependuduk melebihi 600 ribu jiwa seharusnya Banjarmasin memiliki sebuah terminal refresentatif, tetapi kenyataan pembangunan terminal pengganti terminal induk kilometer enam belum juga terwujud .
 Begitu  juga kerinduan warga kota seluas 72 kilometer persegi ini untuk memiliki sebuah alun-alun (ruang terbuka hijau) itu hanya sekedar mimpi, sebab tak pernah direalisasikan Pemko.
 Kesemrawutan bertambah setelah hampir  seluruh jalan utama dijejali parkir, karena tak satupun kota ini memiliki lahan parkir, apalagi gedung parkir, Bahkan satu jalan utama, Jalan Sudimampir yang seharusnya untuk lalu-lintas diubah menjadi lokasi parkir, eronis memang.

BANJARMASIN PROTES DIKATAKAN SEBAGAI KOTA TERKOTOR INDONESIA
Oleh Hasan Zainuddin
 
     Banjarmasin,19/11 (ANTARA)- Kota Banjarmasin  ibukota Propinsi Kalimantan Selatan (Kalsel) yang pernah menduduki kota terkotor kedua setengah Kota Tangerang dari 13 kota katagori kota besar di Indonesia, kini kembali terancam ke posisi tersebut.
     Melihat posisi yang tidak menguntungkan terhadap penilaian adipura itu maka Pemerintah Kota (pemko) akan melakukan protes ke tim penilaian adipura itu, kata Walikota Banjarmasin, Haji Yudhi Wahyuni kepada wartawan di Banjarmasin, Senin.
     “Kita akan berjuang ke tim penilaian yang ada di pusat, agar penilaian terhadap Kota Banjarmasin harus lebih toleransi dan berbeda, karena bila sistem penilaianya sama dengan kota lain, maka Banjarmasin akan tetap terkotor,” kata Yudhi Wahyuni.
     Masalahnya, kata walikota yang dikenal sebagai politisi senior dari Partai Amanat Nasional (PAN) Kalsel itu, kondisi geografis Kota Banjarmasin berbeda dengan kota yang lain.
     Dengan posisi yang berbeda yaitu datarannya berada di bawah permukaan laut, maka disaat air pasang maka sebagian besar wilayah kota Banjarmasin terendam.
     Bila kota sudah terendam walau dibersihkan bagaimanapun kota akan tetap kembali kotor, lantaran berbagai sampah sungai masuk ke darat, dan tertinggal di darat bila air surut akhirnya kota ini selalu kotor.
     Belum lagi kondisi jalan yang cepat rusak lantaran lahan Banjarmasin yang berawa-rawa hingga lembek dan labil, maka bila dibenahi dengan pengaspalan mulus sebentar saja berlubang-lubang dan degradasi.
     Melihat posisi demikian maka seharusnya ada perbedaan  penilaian terhadap kota lain yang berada di dataran tinggi atau pegunungan, tambah Yudhi Wahyuni.
     Sebelumnya diungkapkan Kepala Badan Pengendalian Dampak Lingkungan Daerah (Bapedalda) Kalsel, Drs.Rahmadi Kurdi bahwa berdasarkan hasil pemantauan sementara tim penilaian adipura posisi Banjarmasin sudah berada pada urutan ke-11 dari 13 kota besar yang dinilai tim adipura tersebut.
     Hasil sementara atau penilaian adipura I nilai point yang diperoleh Kota Banjarmasin rata-rata hanya 61,50 point dari 73 point yang harus diperoleh agar bisa  meraih adipura.
     “Waktu tinggal empat bulan saja lagi,  penilaian adipura II akan digelar, kalau Banjarmasin tak berhasil merubah kondidi kota kearah yang lebih bersih sesuai kreteria peraih adipura, maka kota ini bakal menjadi kota terkotor lagi,” kata Rahmadi Kurdi.
     Oleh karena itu, ia berharap Pemerintah Kota (Pemko) Banjarmasin bersama jajarannya serta masyarakat luas harus menciptakan kota ini lebih bersih dari keadaan sekarang, karena kalau dibiarkan seperti sekarang jelas kota ini akan memperoleh predekat yang memalukan tersebut.
     Penilaian terhadap kota Banjarmasin dengan point 61,50 tersebut berasal dari hasil penilaian tim adipura dari Kementerian Lingkungan Hidup (KLH) Pusat, tim adipura regional Kalimantan, serta tim penilaian dari tim adipura Kalsel sendiri.
     Point 61,50 tersebut berdasarkan hasil rata-rata dari beberapa objek yang menjadi penilaian, seperti objek penilaian bidang perumahan Banjarmasin memperoleh 69,64 point, jalan 62,11, pasar 57,30, pertokoan 56,31, perkantoran 68,52, sekolah 67,18, rumah sakit 68,89, hutan kota 58,63, taman kota 70,96, terminal 51,45, pelabuhan 65,49, perairan terbuka 60,87, tempat pembuangan akhir sampai (TPA) 49,75, serta pemanfaatan sampah senilai 68,83 point.
     Dari 13 kota besar di tanah air yang memperoleh penilaian adipura tahap I tersebut, Pekan Baru menduduki urutan teratas dengan nilai 73,09 point, Batam 69,52, Malang 67,52, Padang 67,31, Yogyakarta 67,15, Denpasar 66,97, Balikpapan 64,58, Bandar Lampung 63,65, Surakarta 63,15, Bogor 63,07, Banjarmasin 61,50, Samarinda 60,84, serta Tangerang 57,41 point.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: