MENCARI SOLUSI ATASI KERUWETAN PENYELANGGARAAN HAJI INDONESIA

naik-bisbeginilah jemaah Indonesia selalul rebutan naik bis

OLEH HASAN ZAINUDDIN
Banjarmasin,8/10  Tiap tahun jumlah jemaah haji Inodonesia ke tanah suci Mekkah Arab Saudi  selalu saja bertambah seiring kian meningkatnya jumlah penduduk dan kesejahteraan masyarakat, sehingga menimbulkan keruwetan dalam penyelanggaraan ibadah haji tersebut.
Berbagai upaya telah pula ditempuh pemerintah agar penyelanggaraan haji tersebut lebih baik dari tahun-tahun sebelumnya, tetapi tetap saja menimbulkan banyak problematika dalam kegiatan tersebut sehingga diperlukan semacam format yang ideal dalam upaya meminimalisir persoalan.
Menteri Agama (Menag) Maftuh Basyuni dalam suatu kesempatan mengakui begitu banyak persoalan dalam penyelanggaraan haji oleh karenanya dirinya akan bekerja secara maksimal untuk suksesnya pelaksanaan ibadah haji.
?Tugas penyelanggaraan haji ini menjadi barometer dan citra departemen  saya makanya harus benar-benar dikelola secara baik dan benar,? kata Maftuh Basyuni beberapa waktu lalu.
Maftuh menambahkan, kalau Depag ingin sukses melaksanakan penyelenggaraan ibadah haji, maka harus memiliki keberanian menegakkan aturan. Sekali aturan dilanggar, maka seterusnya akan menemui hambatan.
Menurutnya pula ada pihak yang ingin ikut memperbaiki pelaksanaan ibadah haji, tapi yang terjadi justru memperkeruh. Hingga kini, hal itu masih dirasakan.
Sementara seorang seorang pejabat Depag RI, lainnya menyatakan bahwa penyelanggaraan ibadah haji Indonesia selalu menimbulkan keruwetan lantaran jumlah jemaah haji itu yang sangat besar dibandingkan dengan jumlah jemaah haji di negara lain.
“Bagaimanapun baiknya sistem penyelanggaraan haji di Indonesia  dengan jumlah jemaah yang begitu besar dipastikan selalu saja ada persoalan,” kata Direktur Pembinaan Haji, Direktorat Penyelanggaraan Haji dan Umrah, Departemen Agama RI, Prof Dr Iskandar, Idy saat berada di Banjarmasin, Rabu.
Hal itu, diketengahkan Iskandar Idy ketika memberikan pengarahan kepada peserta orientasi pemantapan kinerja Panitia Penyelanggaraan Ibadah Haji (PPIH) embarkasi tahun 2008 yang diikuti berbagai peserta dari berbagai instansi yang terkait dalam PPIH tersebut.
Ia menambahkan dengan jumlah jemaah yang besar itu ternyata berlatar belakang jemaah yang sangat berbeda-beda pula, ada pegawai, ada pedagang, ada petani, buruh, dan sebagainya.      Begitu juga tingkat pengetahuan, penddidikan yang berbeda-beda pula, sehingga melahirkan tingkat variatif yang sangat tajam.
Dibandingkan bila harus membawa sebuah tim olahraga yang memiliki latar belakang yang sama maka membawa jemaah haji relatikf sangat sulit.
“Kalau disebuah tim sepak bola ada yang nakal, maka yang bersangkutan bisa diberhentikan atau ditinggal dalam satu tim, tetapi kalau ada jemaah yang nakal, apanya yang diberhentikan,” katanya sambil tersenyum.
Oleh karena itu diperlukan pendekatan kepribadian atau pendekatan lainnya terhadap para jemaah yang begitu banyak tersebut.
Jumlah jemaah haji Indonesia berdasarkan kouta tercatat 210 ribu orang. Jumlah itu begitu besar bila dibandingkan jemaah lain,  negara Malaysia hanya 26 ribu jemaah saja, apalagi Brunei Darussalam 7000 orang, Singapura hanya 4700 orang.
Melihat begitu besarnya jumlah jemaah haji Indonesia itu maka janganlah bermimpi bila penyelanggaraan haji bisa berjalan tanpa ada persoalan.
Tindakan yang bisa dilakukan adalah bagaimana menekan sekecil mungkin berbagai persoalan itu, dengan cara melakukan penyelanggaraan secara profesional oleh tenaga atau sumberdaya manusia (SDM) yang profesional pula.
Selain itu harus dicarikan berbagai format penyelanggaraan haji yang ideal untuk mengurus jemaah yang begitu besar, salah satu yang bisa dilakukan adalah dengan sistem penyelanggaraan ibadah haji secara terpadu yang melibatkan banyak pihak yang terkait.
Selain itu persoalan yang selalu muncul dalam penyelanggara haji Indonesia, karena dengan jumlah jemaah yang besar maka di situ terdapat banyak uang, sehingga semua orang ingin melibatkan diri dalam urusan haji.
“Bayangkan saja, kalau saat ini jumlah jemaah haji Indonesia 210 ribu orang dikalikan Rp35 juta per orang maka sudah terdapat sedikitnya Rp7 triliun, suatu jumlah yang sungguh menggiurkan banyak orang untuk bisa melibatkan diri, termasuk para pedagang sandal, pedaganga baju, pedagang payung, pedagang jaket, yang ingin melibatkan diri itu,” katanya.
Oleh karena itu,  Menteri Agama telah mengharamkan pegawai depag melakukan kegiatan yang bisa mencari untung dalam penyelanggaraan ibadah haji ini.
Melihat dalam penyelanggaraan haji yang begitu banyak uang,  maka sudah saatnya petugas penyelanggaraan haji ini yang direkrut Depag tidak hanya seorang yang ahli tafsir, ahli hadist, atau ahli fikih, tetapi juga diperlukan tenaga yang benar-benar ahli bidang lainnya,  seperti para sarjana manajemen, sarjana ekonomi, atau sarjana bidang lain yang benar-benar profesional.
Tenaga-tenaga ahli tersebut bisa memperbaiki sistem penyelanggaraan haji kedepan, dengan sistem manajemen yang baik dan dilakukan dengan niat yang iklas tanpa ada motivasi lain,
Selain itu, tambahnya, perbedaan budaya antara masyarakat Indonesia dengan masyarakat Arab Saudi harus pula dipelajari dalam upaya mencari solusi pemecahan keruwetan penyelanggaraan haji tersebut, karena persoalan katering makanan dalam penyelanggaraan haji tahun 1428 lalu dilatar belakangi pula persoalan perbedaan budaya teresebut,
Solusi lainnya adalah dengan cara meningkatkan koordinasi antara berbagai pihak yang terlibat dalam penyelanggaraan haji ini, oleh karena itu harus pula dicari format yang baik dalam hal koordinasi tersebut.
Terpadu
Melihat berbagai persoalan yang  terus menjadi pekerjaan rumah pemerintah itulah maka  kantor Kanwil Depag Kalsel mencoba mencari format yang baik dalam upaya penyelanggaaran haji setidaknya di embarkasi haji Bandara Syamsudin Noor.
Upaya Kalsel mengurangi persoalan itu mengingat jemaah haji Kalsel juga terus meningkat dan hingga kini daftar tunggu calon jemaah haji Kalsel sudah tercatat sekitar 25 ribu orang, sementara kouta haji Kalsel per tahun dihitung dari kalkulasi penduduk hanya sekitar 3496 orang.
Berarti kalau seseorang mendaftarkan diri sebagai calon haji sekarang dengan menabung di bank, berarti lima tahun kedepan baru dapat giliran menunaikan ibadah haji.
Kepala Kanwil Depag Kalsel, Prof Dr Fahmi Arief  sendiri mengakui kian banyaknya jemaah haji ingin berangkat ke tanah suci maka harus ada sistem penyelanggaraan yang baik di wilayah ini, karena itu perlu ada penangannan secara seksama agar pelayanan bisa maksimal.
Melihat kenyataan itulah maka digelar orientasi pemantapan kinerja Panitia Penyelenggaraan Ibadah Haji (PPIH) yang diikuti 25 peserta yang merupakan petugas berbagai instansi yang terkait dalam PPIH tersebut.
“Tujuan penyelenggaraan orientasi itu dalam upaya meningkatkan kemampuan dan profesionalisme petugas PPIH,” kata Kepala Bidang Penyelanggaraan Haji dan Umrah Kanwil Depag Kalsel, Drs Anwar Hadimi di sela-sela latihan dan orientasi tersebut.
Tujuan lain adalah terwujudnya pembinaan, pelayanan, dan perlindungan yang sebaik-baiknya bagi jemaah haji sehingga jemaah haji dapat menunaikan ibadahnya sesuai dengan ketentuan ajaran agama Islam dengan aman, lancar, dan selamat.
Materi yang disampaikan dalam kegiatan yang dibuka Kepala Kanwil Depag Kalsel Prof Dr Fahmni Arief antara lain kebijakan teknis penyelanggaraan haji, tugas dan fungsi PPIH embarkasi, koordinasi dan sinkronisasi PPIH embarkasi, dan penyehatan lingkungan asrama haji.
Selain juga ada materi mengenai penanganan kesehatan haji, teknis keimigrasian, keselamatan penerbangan haji, teknis pengamanan pemberangkatan dan pemulangan jemaah haji, serta permasalahan yang timbul di embarkasi dan debarkasi.
“Materi disampaikan delapan narasumber, diantaranya Direktur Pembinaan Haji, Direktorat Penyelanggaraan Haji dan Umrah, Departemen Agama RI, Prof Dr Iskandar, Idy.
Latihan dan orientasi selama tiga hari itu diikuti peserta dari unsur perusahaan penerbangan PT Garuda, Imigrasi, Bea dan Cukai, PT Angkasa Pura I, Dinas Kesehatan, Kanwil Depag, dan beberapa instansi lainnya lagi.
“Penyelanggaraan kegiatan itu dimaksudkan untuk memberikan pembinaan, pelayanan, dan perlindungan yang sebaik-baiknya bagi jemaah haji sehingga jemaah haji dapat menunaikan ibadahnya sesuai dengan ketentuan ajaran agama Islam,” katanya.
Melalui berbagai latihan dan orientasi demikian diharapkan terdapat sebuah format yang ideal melibatkan semua pihak secara terpadu hingga bisa menjadi solusi mengatasi kekisruhan dalam penyelanggaraan haji setidaknya di embarkasi Bandara Syamsudin Noor Banjarmasin.

tidur-dan-lelahlelah dan tidur

3 Tanggapan

  1. Salam blogger nah,..kyp habar Balangan..mana lagi blogger dari Balangan..?

    Sekali-sekali mampir ke http://www.pahuluan.org tempat gabungnya blogger dari Tapin, HSS, HST, HSU, Balangan dan Tabalong.

    Kami tunggu keikutsertaan sampeyan dalam misi memasyarakatkan blog di pahuluan. Dan kalau ada info tentang alamat blog kawan-kawan lain dari Tabalong atau Balangan tolong email yah, ke info@pahuluan.org

    Terima kasih.

  2. lakasi jar pak syam bagabung….kaina kita ada acara aruh blogger

  3. Akan sangat berharga tulisan anda di internet ini. Akan semakin banyak ummat yang memikir masalah agama ini bila kita memaparkannya di dunia maya ini. Marilah kita menyiarkan agama ini dengan segala upaya. Saya juga sudah menulis sebuah buku tentang pengalaman haji. Saudaraku boleh kunjungi website saya di http://www.mandailingnatal.page.tl

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: