PERJALANAN HAJI INDONESIA TERKESAN KURANG MENGENAKAN

foto kenang2anku di tanah suci

—————————————

aku di atas gedung pelontaran  mina

bersama isteri di dalam masjidil haram

aku di atas jabal uhut

aku lagi berada di jabal rahmah

aku lagi berada di padang arafah saat wukuf

sudut kota Makkah di kawasan Syaukiah

Bersama Isteri berada di kawasan Syaukiah

Aku sedang i tikaf di dalam masjid Nabawi

di Kawasan Padang Arafah saat Wukuf

Lagi Berdoa di atas masjidil Haram Makkah

Bersama Isteri di tepian Laut Merah Jeddah

Bersama Isteri di lantai empat gedung pelontaran Mina

PERJALANAN HAJI INDONESIA TERKESAN KURANG MENGENAKAN

Oleh Hasan Zainuddin
Banjarmasin,18/1 ()- Kelelahan, kurang tidur, nafsu makan kurang, terkena flu, demikian yang sering diderita sebagian besar kalangan jemaah haji Indonesia yang berangkat ke tanah suci.
Berdesakan, antri, rebutan, agaknya yang selalu dirasakan jemaah haji Indonesia baik dalam perjalanan, penginapan, perkemahan, serta di lokasi-lokasi ibadah lainnya.
Kondisi yang kurang mengenakan itu bukan saja sejak di embarkasi di tanah air, di bandara King Abdul Azis Jeddah,  tetapi juga selama berada di Kota Makkah, maupun Madinah.
Akibat kondisi demikian membuat sebagian jemaah haji Indonesia sering dilanda stress, ditambah cuaca panas menyengat saat siang dan dingin mengggigil saat malam seakan menambah ketidak nyamanan tersebut.
Beberapa penuturan jemaah haji Indonesia yang berangkat tahun 1429 Hijriah (2008) agaknya keluhan demikian juga dirasakan, tetapi karena nawaitunya hanya ibadah, maka hal itu dilalui dengan perasaan sabar, tulus dan ikhlas saja.
Ketidak nyamanan itu, sebenarnya sudah dirasakan di tanah air sendiri, umpamanya saat pemeriksaan kesehatan.
Menurut seorang jemaah termasuk kloter 13 embarkasi Bandara Syamsudin Noor Banjarmasin, ia melakukan  pemeriksaan kesehatan di Puskesmas Cempaka Banjarmasin, satu-satnya lokasi yang ditunjuk pemerintah untuk memeriksa calon jemaah haji Banjarmasin.
Pemeriksaan kesehatan itu saja, sudah antri dari pukul 08:00 dan baru dapat diperiksa hingga pukul 16:00 Wita, dengan segala keterbatasan fasilitasnya.
Kondisi berdesakan dan antri juga dirasakan saat berangkat dari Embarkasi Banjarmasin, Bandara Jeddah, hingga ke Pondokan.
Kloter 13 Banjarmasin berada di Maktab 38 di wilayah sektor 7 pemondokan jemaah haji Indonesia ditempatkan  di kawasan pengembangan baru Kota Makkah, yaitu Syauqiah sekitar 12 kilometer dari Masjdil Haram.
Pondokan yang seharunys di huni empat orang harus rela berdesakan antara tujuh hingga 17 orang, dengan fasilitas serba terbatas,terutama ketiadaan dapur untuk memasak, kata H. Agus peserta kloter 13.
Kesulitan paling dirasakan jemaah haji Indonesia 1429 adalah angkutan antara pondokan di Syauqiah ke Masjidil Haram, karena bus yang disediakan pemerintah sulit diperoleh akhirnya jemaah harus mencari angkutan umum sendiri pulang pergi agar bisa beribadah ke Masjidil Haram.
“Saya hanya pernah dua kali naik bus gratis antara pondokan ke masjidil haram, selebihnya selama hampir sebulan di kota Makkah, selalu menggunakan mobil angkutan kota (angkot),” kata H.Zainudin seorang jemaah kloter 13 lainnya.
Jemaah haji Kalsel Kloter 13   berada di wilayah sektor 7 Syauqiah, di kawasan ini terdapat 42 kloter jemaah haji Indonesia, bukan hanya Kalsel tetapi jemaah dari berbagai provinsi di tanah air.
Guna menempuh jarak pondokan-masjidil haram jemaah naik angkot dengan tarif cukup bervariasi.
Pada awalnya tarif berkisar sekitar 2 hingga 3 riyal per orang, tetapi belakangan tambah mahal hingga mencapai Rp10 royal per orang.
Ongkos itu kalau dihitung nilai rupiah maka biaya angkot pulang pergi pondokan Masjidil Haram bisa mencapai Rp50 ribu per hari.
Padahal  uang saku sebagian besar jemaah hanya diperoleh dari living cost, akhirnya uang tersebut lebih besar hanya dipergunakan untuk menutupi biaya angkutan saja.
Kesulitan lain dalam hal angkutan ini adalah sulitnya mencari jenis angkutan kota Makkah yang bersedia rute Masjidil Haram-Syauqiah.
“Kalau menuju Masjidil Haram dari Syauqiah itu mudah saja, karena hampir semua sopir angkot tahu arah tersebut, tetapi pada saat pulang dari Masjdil Haram seringkali jemaah tersesat dibawa para sopir angkot sebagian tidak tahu arah ke Syauqiah,” kata seorang jemaah.
Banyak sopir angkot Kota Makkah berlagak tahu arah Masjidil Haram Ke Syauqiah hingga jemaah bersedia naik angkot itu, tetapi saat di tengah jalan seringkali mobil salah arah lalu tersesat dan berputar-putar di kota Makkah, akhirnya si sopir minta tambahan biaya lagi.
Saat seperti itu seringkali jemaah komplin ke sopir tetapi yang menjadi masalah lagi, kesulitan dalam berkomunikasi, akhirnya lebih banyak menggunakan bahasa isyarat saja.
“Seandainya kondisi saat itu tidak saat beribadah, ingin rasanya sopir itu kita dampar, tetapi karena ini ibadah maka ya lebih baik mengalah apa maunya sopir sajalah, dan banyak-banyak bersabar,” tambahnya.
Keluhan soal angkutan tahun 1429 H ini tampaknya bukan saja terdengar dari sektor 7 Syauqiah,  melainkan juga yang tinggal di pondokan lain yang jauh dari Masjidil Haram, seperti dari Bahutmah, Rusyaifah, Aziziah, Makiah, dan lokasi-lokasi lainnya.
Suasana berdesakan sangat dirasakan saat berangkat dari pondokan menuju padang Arafah mengikuti proses ibadah wukuf, dimana sebuah bus yang seharusnya hanya mampu menampung 45 orang harus dimuat sebanyak 80 orang.
Begitu pula antara perkemahan Arafah menuju mabit di Mudzalifah, serta dari Mudzalifah terus ke perkemanan Mina  kondisi berdesakan dalam bus seperti ikan “sarden dalam kaleng” begitu dirasakan.
Setibanya di perkemahan Mina jemaah ditampung salam satu kemah dengan kapasitas puluhan orang, dengan kondisi serba terbatas khususnya, keberadaan buang air besar dan kecil, serta tempat mandi dan  wudhu hingga harus rela antri berjam-jam.
Kondisi terasa agak nyaman dalam proses ibadah haji tahun 1420 H hanya selama di Madinah, mengikuti ibadah shalat Arbain 40 waktu, pondokan lebih dekat, berdesakan sudah berkurang, kecuali tempat penginapan yang masih tetap jumlah banyak dalam satu kamar tetapi relatif lebih enak.
Keluhan banyak terdengar dari jemaah selama di Madinah hanyalah soal menu katering yang dinilai menjenuhkan.
Beberapa jemaah Kalsel, ketika ditanya persoalan keterbatasan tersebut mengakui hal itu sudah dimaklumi sejak keberangkatan dari rumah, dan menyadari menunaikan ibadah haji bagi jemaah Indonesia pasti dirasakan serba tidak enak selama penyelanggara ibadah haji dalam hal ini pemerintah belum mampu menunjukan ke profesionalannya.
Lantaran semua proses perjalanan haji itu merupakan sebuah rangkaian ibadah maka semangat beribadah itulah yang lebih menonjol yang bisa melahirkan perasaan “enak-enak” saja, sehingga perasaan serba tidak enak tenggelam oleh semangat beribadah tersebut.
“Kita sudah maklum kondisi beribadah haji serba mengeluarkan tenaga fisik yang melelahkan, bukan saja perjalanan, penginapan, tetapi juga saat ibadah tawab, sa’i, wukuf, mabit, serta melontar di Mina, semuanya harus rela berdesak-desakan dan melelahkan, makanya memerlukan kondisi fisik prima,” kata Haji Muksin anggota kloter 13 yang lain.
Ketidak nyamanan itu baru hal fasilitas belum lagi soal pelayanan, dimana banyak tenaga yang diterjunkan untuk membantu jemaah yang dipilih pemerintah seperti Tim Pembimbing Haji Indonesia, atau Tim Kesehatan Haji Indonesia tidak menjalankan tugas sebagaimana semestinya.
Sebagai contoh saja, banyak tenaga pembimbing dan tenaga kesehatan yang sebenarnya diberangkatkan membantu jemaah, setibanya di Makkah dan Madinah lebih banyak melakukan peribadan pribadi seakan lupa tugasnya yang sebenarnya.
Lantaran tugas tenaga pembimbing tak maksimal ada jemaah Kalsel yang meminta bantuan pembimbing dari Kelompok Bimbingan Ibadaha Haji (KBIH) swasta, dalam beberapa kegiatan peribadatan.
Begitu juga tenaga kesehatan, khususnya dokter sebaiknya yang sudah berpengalaman, bukan dokter hanya lulusan fakultas kedokteran, karena baru lulus hingga deokter sering kebingungan sendiri, dan tak bisa memberikan pelayanan maksimal.
Begitu juga obat-obatan yang banyak diberikan dalam proses pengobatan jemaah haji Indonesia bukan obat paten hanya obat-obatan generik yang banyak dijual dipinggir jalan di Indonesia, akibatnya proses penyembuhan terkesan lambat.
Karena serba ketidak nyaman itu telah melahirkan kecemburuan jemaah haji Indonesia setelah melihat kondisi perjalanan ibadah haji bangsa lain, seperti dari Malaysia, Singapura, Filipina, Brunei Darussalam, dan jemaah Thailand yang terdengar relatif lebih nyaman dari proses perjalanan haji Indonesia.
Para jemaah haji Indonesia tahun 1429 H, berharap kondisi yang selalu tak mengenakan dalam ibadah haji Indonesia itu, hanya bisa dirasakan tahun ini saja, seterusnya diharapkan kondisi itu lebih diperbaiki lagi.
Oleh karenaitu, mereka berharap pihak pemerintah selaku penyelanggara ibadah haji supaya selalu mengantisipasi berbagai kemungkinan persoalan yang akan dihadapi jemaah selama proses perjalanan haji, agar berbagai persoalan yang tidak mengenakan itu bisa diminimalkan agar tidak menjadi sebuah penderitaan oleh jemaah.

berdesakan naik bis

KIAT MENGATASI KETIDAK NYAMANAN PERJALANAN HAJI
Oleh Hasan Zainuddin
Berdasarkan berbagai pengalaman mereka yang sudah menjalankan ibadah haji, banyak cerita mengenai perjalanan haji tersebut, namun sebagian besar menyatakan bahwa menunaikan ibadah haji sebaiknya di usia dini.
Mengapa pendapat tersebut sering terlontar, karena ibadah haji merupakan ibadah fisik yang merupakan napak tilas dari sejarah nabi Muhamad SAW serta nabi lainnya, oleh karena itu dengan usia muda maka fisik akan lebih kuat untuk melakukan perjalanan ibadah haji.
Tetapi bukan hanya persiapan fisik menghadapi ibadah haji, karena berdasarkan pengalaman penulis keberangkatan haji  ke tanah suci di kloter 13 embarkasi Banjarmasin tahun 1429 hijriah atau tahun 2008, memerlukan pula kesiapan mental dan spritual.
Dalam upaya menyiapkan kekuatan fisik, penulis terlebih dahulu berlatih dan berolahraga sebelum berangkat ke tanah suci, serta memeriksakan kesehatan ke dokter.
Persiapan menjaga kesehatan berdasarkan pengalaman penulis adalah membawa obat-obatan, dan vitamin, khususnya obat flu, obat maag, anti biotik, obat gosok analgesik untuk menahan rasa sakit di kaki, tangan,  obat pelembab bibir (lipgloss) dan bagian tubuh lainnya.
Selain itu penulis juga membawa madu, serta vitamin dosis tinggi khususnya vitamin c yang dibeli di apotik agar badan tetap vit dan energi kuat, dengan jumlah cukup 40 hari selama per jalanan ibadah haji.
Melakukan imunisasi miningitis tetap diikuti, ditambah dengan imunisasi penyakit influenza.
Pengalaman teman yang tidak ikut imunisasi influenza maka penyakit flu selama di tanah suci dinilai cukup parah, sementara bagi siapa yang meimunisasi influenza kendati terserang penyakit tersebut tetapi tidak sampai parah.
Agar tetap vit selama di tanah suci berdasarkan pengalaman penulis  selalu meminum air putih, serta perut tak boleh kosong, artinya apa yang bisa dikonsumsi harus di konsumsi agar perut tetap terisi.
Karena bila perut kosong, maka perut akan diisi angin hingga produksi asam lambung tinggi  akhirnya selera makan akan hilang.
Makanan yang harus tetap dimakan selain nasi dan lauk pauknya juga perlu buah-buahan dan sayuran, janganlah meminum es, atau es crem, dan jangan pula meminum yang punya soda, seperti sprit, coca cola, atau sejenisnya.
Karena meminum es mudah terserang flu, dan meminum minuman mengandung soda mudah terserang sakit perut dan maag.
Selain itu, di Kota Makkah atau Madinah, banyak dijual susu yang disebut susu laban dan susu luna, kedua jenis susu ini sangat bermanfaat untuk menjaga kesehatan tubuh.
Makan kurma juga ternyata cukup baik menjaga stamina, karena kurma mengandung kadar gula dan zat lain yang berguna bagi meningkatkan stamina.
Jangan terlalu memilih makanan, apa yang bisa kita makan makan saja, seperti roti arab, lempeng arab, nasi samin, kebab, dan makanan arab lainnya, sikat saja yang penting kenyang jangan biarkan perut kosong.
Janganlah terlalu bernafsu untuk beribadah selama di Makkah atau Madinah sebelum menyelasaikan rukun dan wajib haji, karena banyak pengalaman jemaah  akibat terlalu bernafsu beribadah sebelum rukun dan wajib haji , akhirnya sampai saat wukuf di arafah, mabit (bermalam) di Muzdhalifah, dan melontar di Mina terserang sakit akibatnya terhambat dalam proses puncak ibadah haji tersebut.
Selain itu dalam upaya menjaga kesehatan tubuh jiwa harus sehat, artinya selama di sana tak boleh stress walau kondisi ketidak nyamanan itu selalu dirasakan.
Kiatnya adalah dari awal kita sudah sadar, bahkan apapun kesulitan dalam menjalankan ibadah maka itu bagian dari ibadah, semakin sulit dijalani diharapkan pahala yang diperoleh akan lebih besar ketimbang yang lebih mudah.
Bila sudah sadar apapun kesulitan dan ketidak nyaman dalam perejalanan haji merupakan bagian , maka kita memperoleh perasaraan sabar, tulus dan iklas saja menghadapi ketidak nyamanan tersebut, akhirnya jiwa kita tenteram akhirnya jiwa kita sehat, jiwa sehat maka fifik kita juga sehat.
Sebagai contoh saja, bila naik bis yang seharusnya cukup 40 penumpang bisa terjadi ditumpangi hingga 90 orang, kita harus menerima hal itu, jangan jengkel atau jangan kecewa dan hadapi saja dengan perasaan sabar, tulus dan iklas.
Begitu juga saat kita tawab, sai, atau melontar dimana ditengah jutaan manusia, badan kita terhimpit, terinjak, dan sebagainya hingga merasa sakit, ya sabar saja dan jangan jengkel apalagi membalas kepada orang lain yang meinjak kita, itulah resiko menjalankan ibadah fisik seperti haji ini.
Begitu juga saat shalat di masjid, kita harus rela memberi tempat kepada orang lain, walau harus berhimpitan, dan kalau terhimpit pun kita hadapi saja jangan  jengkel atau kesal, dan kita harus sadar itulah kondisi disana.
Kalau kita dari awal sudah sadar bahwa semua itu merupakan bagian dari ibadah maka perasaan kita tidak akan kesal, malah ada perasaan senang dan itulah sebuah tantangan menghadapi berbagai kesulitan tersebut akhirnya timbul  perasaan lega.
Yang tak kalah penting saat berada di Kota Makkah atau Madinah, fikiran kita harus bersih atau netral, jangan berpikir macam-macam yang di luar logika atau di luar kemampuan, karena bila pikiran kita tidak netral bisa jadi kita kehilangan kontrol kejiwaan, akhirnya bisa terjadi pula  des lokasi atau des orientasi.
Akibat pikiran tidak netral banyak jemaah yang tak tahu mau berbuat apa setelah tiba di sana, atau tak tahu lagi berada di mana, akhirnya banyak jemaah yang tersesat tak bisa pulang, atau bingung tak karuan hingga tak bisa beribadah, bahkan yang fatal lagi ada jemaah yang tidak bisa melihat keberadaan ka bah.
Oleh karena itu selama di sana pikiran harus netral, dan jernih dan sadar sedang berada di Masjidil Haram dengan Ka bah nya dengan jutaan umat, hingga tidak akan bingung sendiri.
Jenuh, seringkali menghinggapi para jemaah,  untuk menghilangkan kejenuhan selama di Kota Makkah atau Madinah tak salahnya kita banyak-banyak beribadah, atau bolehlah sering-sering  mungkin jalan-jalan baik di lingkungan pemondokan atau lingkungan masjidil haram, jangan terlalu banyak tinggal di pemondokan.
Kalau memang suka berbelanja dan kalau memang ada uangnya tak salahnya pula mengunjungi lokasi pedagang kaki lima, mengunjungi toko-toko, super market dan lokasi dagangan lainnya, atau sekedar melihat-lihat dagangan dan mendengar kaset-kaset bacaan al qur’an yang banyak di toko-toko dekat masjidil haram, karena dengan demikian mungkin hati kita senang dan puas maka akan terhindar dari perasaan bete (jenuh).
Dengan cara-cara tersebut di atas maka akan menghilang kejenuhan selama berada disana, karena kalau jenuh, jengkel atau kesal serta bete, maka jiwa kita berarti sakit akhirnya badan kita pun sakit.
Makanya usahakan agar hati kita merasa senang terus, walau dengan kondisi apapun, selain berdesakan, rebutan, antri berjam-jam ditambah dengan cuaca yang panas saat siang atau dingin menggigil di saat malam.
Jangan pula terlalu sibuk memikirkan rumah serta keluarga yang ditinggalkan di tanah air, yang perlu kita pikirkan apa yang kita hadapi hari itu juga.
Tetapi kunci yang paling baik adalah mensyukuri nikmat tuhan karena kita bisa berangkat ke tanah suci, karena tidak semua orang bisa, makanya keberangkatan kita ke sana dinikmati senikmat-nikmat mungkin, karena dengan demikian bisa jadi di kala orang lain bergegas ingin segera pulang kita ingin tetap berlama-lama di sana.


Iklan

Satu Tanggapan

  1. Assalamu’alaikum Pak Hasan Zainuddin,

    Waktu membaca tulisan Bapak diinternet, ada rasa haru dan kangen dengan suasana beribadah selama haji, apalagi saya lihat foto Bapak dengan latar belakang hotel tempat saya tinggal, ternyata kita bertetangga di Syauqiah. Saya tinggal di rumah 652, yang bangunannya berwarna coklat susu, didepan gedung yang putih biru itu. Bapak berarti di rumah yang rombongan Kalsel ya, kira-kira dua blok dari tempat tinggal saya. Rumah itu dan pemilik serta pembantunya bagi kami sudah seperti rumah sendiri, dimana kita tinggal selama lebih kurang 1 bulan disana,. Selama menunaikan ibadah haji, hanya kenikmatan yang saya rasakan, semua terasa indah walaupun antri, berdesakan dan sebagainya. Karena bagi saya itu adalah bagian dari ibadah yang saya nikmati, ujian dari Allah yang disyukuri. Mudah-mudahan Allah kembali memberi kemudahan bagi kita kembali kesana, karena perasaan itulah yang kini sangat besar saya rasakan, ingin selalu kembali ketanah suci. semoga Allah senantiasa memberikan kesehatan dan rezeki untuk kembali bersujud di Baitullah dan nabawi. Amiin. Wassalam

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: