PENGALAMAN DELAPAN HARI DI KOTA MADINAH

masjid Nabawi

Oleh Hasan Zainuddin
Setelah hampir sebulan di Kota Makkah ketika mengikuti perjalanan gelombang kedua ibadah haji Indonesia , 1429 Hijriah atau tahun 2008, rasanya hati ini ingin sekali melihat kota Madinah dengan masjid Nabawinya.
Setelah diberitahu akan keberangkatan ke kota dimana Nabi Muhammad SAW dimakamkan itu, serta merta aku bersama isteri berkemas, seraya menaiki bis yang memmbawa rombongan kami kloter 13 embarkasi Banjarmasin menuju Madinah.
aku i’ tikaf

Perjalanan enam jam rasanya sebentar saja dalam perjalanan tersebut, karena bis yang membawa kami ke kota dengan warganya relatif ramah tersebut, seakan tidak berada di jalanan karena begitu licinnya jalan, dan lempang tak ada hambatan sedikitpun.
Setibanya di kota Madinah kami ditempatkan pada sebuah pondokan yang bernama Janamat Abrar tidak jauh dari masjid Nabawi, artinya bila terdengar azan pertama, bergegas ke masjid masih sempat ikut shalat berjemaah di masjid Nabawi.
Kedatangan hari pertama, cuaca begitu dingin, badan menggigil walau sudah menggunakan pakaian berlapis, kendati dingin tetapi tidak mengurangi semangat mengikuti shalat arbain 40 waktu di masjid yang begitu indah.
bagian atas masjid

Apalagi ratusan ribu bahkan mungkin jutaan jemaah dari berbagai negara di dunia terlihat berjubel mengikuti shalat arbain, menambah semangat untuk selalu ber i tikaf dan beribadah.
Selain mengikuti shalat arbain 40 waktu, selama di Madinah rombongan kami juga melakukan perjalanan dan ziarah ke berbagai tempat, seperti ke masjid Kuba, ke jabal uhut, atau ke perkebunan kurma dengan selalu memperhitungkan waktu agar tidak sampai ketinggalan mengikuti shalat arbain.
Pertama ke masjid Nabawi, mata ini rasanya tak ingin lepas memcermati satu demi satu bangunan masjid megah tersebut, termasuk keindahan menaranya, pintu-pintunya, bahkan kubah dan segala macam yang ada di sekitar masjid.
aku di halaman nabawi

Subhanallah, demikian ucapan pertama setelah menginjakan kaki di dalam masjid yang walau matahari terang benderang tetapi di dalam masjid rasanya sejuk, atau walau di luar masjid menggigil akibat kedinginan saat subuh atau malam tetapi di dalam masjid tetap sejuk.
Satu demi satu orang disekelilingku ku salami, lalu salingberkenalan dengan bahasa seadanya, campur-campur bahasa Arab sedikit-sedikit, ditambah sedikit-sedikit bahasa Inggris bagi yang bisa berbahasa inggris.
Kosa kata yang aku ketahui baik bahasa Arab maupun bahasa inggris sebatas mampu berkenalan, tanya bangsa, tanya nama, nanya alamat dan tanya kerjaan, selebihnya hanya bisa diam saja.
Temanku bertanya,mengapa saya selalu berkenalan dan salam-salaman kepada orang disekelingku yang berasal dari berbagai bangsa tersebut, semua itu kulakukan hanya sebagai rasa syukur bisa bersalaman dan berkenalan juga agar menambah akrab saat beribadah.
Tujuan lain, siapa tahu di akhirat nanti,mereka-mereka yang sudah aku salami dan berkenalan itu akan menjadi saksi dan menyatakan bahwa aku benar-benar shalat di masjid Rasullullah tersebut.
Karena sesuai janji Rasullulah barang siapa shalat 40 waktu tanpa putus di masjid Nabawi maka surgalah limpahannya.
Dalam satu riwayat l Rasul bersabda,” Barang siapa sholat di masjidku 40 waktu tanpa terputus, maka ia pasti selamat dari neraka dan segala siksa dan selamat dari sifat munafik”.
kamera pantau ditiang

Berziarah ke masjid Nabawi ini adalah masyru’ (diperintahkan) dan termasuk ibadah. Penyataan ini sesuai dengan sabda Rasul : ” Janganlah kau mementingkan bepergian kecuali kepada tiga masjid, yaitu Masjidil Haram, Masjidku ini (Masjid Nabawi) dan Masjidil Aqsa’.
Selain berkenalan, selama di masjid Nabawi aku juga selalu duduk di samping tiang dalam masjid yang megah  tersebut, seraya tiang di dalam masjid itu ku ucap dan dalam hatinya mudahan tiang masjid ini juga menjadi saksi bahwa aku pernah i tikaf dan beribadah di masjid tersebut.
Setiap sudut, setiap ruangan, aku perhatikan satu demi satu,  terlihat hampir tiap tiang terdapat kamera pemantau, dan setiap tiang pula khususnya di bawah tiang itu terdapat lubang-lubang pendingin (AC), setiap tiang juga terdapat tempat al qur’an.
Untuk mengetahui lebih detil keberadaan masjid, sesekali seusai shalat aku berkeliling masjid,menyaksikan  indahnya tenda-tenda besar di luar masjid, indahnya lampu-lampu penerangan, indahnya ukiran-ukiran pintu, ornamen nuasna Arabia pada dinding-dinding masjid yang berkilau kekuningan karena di lapisi emas.
Indahnya, kubah yang bisa menutup dan membuka sendiri saat cuaca panas atau dingin, serta serba serbi keindahan menyelimuti masjid tersebut.
makam nabi

Suara muazin, suara imam yang merdu menambah kekhusukan jemaah yang memadati ruang demi ruang, bahkan halaman masjid yang sangat luas.
Aku berusaha mengetahui berbagai hal mengenai masjid tersebut termasuk berbagai literatur yang ada kukumpulkan, hanya mengobati penasarannya terhadap kemegahan tersebut.
Berdasarkan sebuah keterangan tertulis yang aku peroleh menyebutkan masjid Nabawi adalah Masjid yang dibangun oleh Nabi Muhammad  SAW beserta para sahabatnya di tengah kota Madinah.
Pembangunannya dimulai pada bulan Rabiul Awal tahun 1 H (September 662M) setelah beliau hijrah dari Mekah ke Yastrib (nama Madinah dulu).
lubang ac pada tiang

Perletakan batu pertama dilakukan oleh Nabi SAW diikuti oleh Abu Bakar, Umar, Usman dan Ali dan pada awalnya Masjid ini sangat kecil yaitu hanya sekitar 1050 m2 saja. Tiang-tiang dibuat dari batang kurma sedangkan penerangannya dari pelepah kurma yang dibakar.
Masjid ini berapa kali terbakar dan kemudian diperbaiki kembali.
Menurut sejarahnya pertama kali dibangun panjang masjid 29m dan lebarnya 25m.
Dua bulan sebelum perang Badar, pada bulan Rajab tahun kedua, setelah adanya perintah merubah arah kiblat maka pintu masjid dirubah dari dinding utara ke dinding selatan yang dinamakan pintu Bab-ut-tawassul dan luas masjid menjadi 1764m2 (42m x 42m).
Selama pemerintahan Walid bin Abdulmalik  tahun 781M panjang masjid menjadi 126 dan lebar 76m, kemudian pada tahun 1955 panjangnya menjadi 128m dan lebar 91m.
Masjid Nabawi  mempunyai 5 pintu utama, 2 terletak di sebelah barat yang dekat arah kiblat disebut Babussalam dan pintu satu lagi terletak didekat pojok utara disebut Baburrahma. Sisi timur Masjid tidak terdapat pintu, dekat dinding sebelah selatan terletak Bab Jibril yang berlawanan arah dengan Baburrahma.
Dalam perjalanannya Masjid ini mengalami berbagai perkembangan besar. Bulan Safar 1405 H (Nov 1984M) Raja Fahd meletakan batu pertama projek perluasan Masjid yang akan menjadi Masjid termegah sepanjang sejarah.
Pembangunannya baru dimulai tepat 1 tahun kemudian yaitu oktober 1985 dengan menggusur semua bangunan yang ada sekitar Masjid berupa pertokoan, pasar, hotel dan gedung bertingkat yang sudah berusia ratusan tahun silam dengan ganti kerugian yang sangat mahal.
Sebuah majalah bahkan menyatakan harga tanah disana mencapai SR 250.000/m2 atau sekitar USD67.000, padahal harga tanah di kawasan elite New York hanya USD26.000 saja.
Penggusuran pertama seluas 100.000m2 dan diatas tanah tersebut dibangun Masjid baru seluas 82.000m2 yang mengitari dan menyatu dengan bangunan yang sudah ada dan dengan tambahan ini maka luas Masjid menjadi 98.000m2 yang mampu menampung sekitar 167.000 jemaah sekaligus dilantai dasar.
Lantai atasnya dapat menampung 90.000 jemaah dan apabila ditambah dengan halaman Masjid bisa mencapai 650.000 jemaah pada hari biasa dan lebih dari 1.000.000 pada musim haji atau bulan ramadhan.
Untuk pengaturan udara dalam Masjid yang sangat luas ini dibuat 27 ruangan terbuka dengan ukuran 18x18m yang mengagumkan ada 9 buah atap Masjid berbentuk kubah yang dapat terbuka dan tertutup secara manual atau otomatis.
pintu nabawi

Biasanya kubah ini dibuka setelah sembahyang Zuhur, udara segar mengalir dan masjid tidak terasa panas. Setiap kubah mempunyai berat sekitar 80 ton terbuat dari kerangka baja dan beton yang dilapisi kayu pilihan dengan hiasan relief yang sangat indah.
Untuk menyejukan seluruh ruangan didalam Masjid dibangun satu unit AC central raksasa diatas tanah seluas 70.000m2 yang letaknya 7 km sebelah barat Masjid.
Hawa dingin disalurkan melalui pipa bawah tanah dan didistribusikan ke setiap penjuru Masjid melalui bagian bawah dari setiap pilar yang berjumlah 2104 buah.
Sebelum diperluas, Masjid ini hanya punya 4 menara namun sekarang setiap pojok ada menara baru sehingga jumlahnya menjadi 10 buah termasuk 2 menara besar yang mengapit pintu gerbang utama.
Dipuncak semua menara yang tingginya 104m terdapat ornamen bulan sabit dari bahan perunggu dilapis emas murni 24 karat dengan tinggi 7m dan berat 4.5 ton.
Diketinggian 87m dipasang sinar laser yang memancarkan cahaya kearah Mekah sejauh 50Km untuk menunjukan arah kiblat dan dinyalakan pada waktu tertentu terutama waktu solat.
Pada bagian tengah Masjid terdapat 2 ruang terbuka yang setiap ruangan dilengkapi enam buah payung artistik hasil perpaduan arsitektur modern dan teknologi canggih dan dapat digerakan secara otomatis untuk membuka dan menutupnya. Payung ini anti api dan batang payung juga berfungsi sebagai saluran AC.
Jangan khawatir kalau rindu minum air zam-zam karena seperti di Masjid Haram, disinipun banyak sekali terdapat tempat minum air zam-zam, saya tidak bisa membayangkan bagaimana mereka mengalirkan atau membawa air zam-zam dari Mekah kesini dengan jarak 450km.
dalam masjid yang megah

Dibawah Masjid ada tempat parkir mobil untuk lebih dari 10.000 mobil dengan jalan akses langsung ke luar kota Madinah sehingga tidak mengganggu lalu lintas sekitar Masjid, luar biasa sekali konstruksi masjid ini dan secara arsitektur sangat modern

Iklan

Satu Tanggapan

  1. mampir nich dari jakarta selatan…
    saya suka blog anda. also visit jasa pengamanan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: