PENGALAMAN BERADA DI KEDISIPLINAN WARGA SERAWAK MALAYSIA
Oleh Hasan Zainuddin
Perjalanan darat yang melelahkan Pontinak (Kalbar) ke Kuching (Serawak Malaysia Timur) seakan  tak terasa  bila perjalanan tersebut dimanfaatkan untuk mencermati perbedaan yang mencolok dalam hal kedisiplinan antara masyarakat kota Indonesia, khususnya warga kota saya Banjarmasin dengan warga Kuching.
Walau kedua warga tersebut sama-sama berada di daratan pulau terbesar, Kalimantan (Borneo) tetapi karena perbedaan budaya, akhirnya melahirkan perbedaan kedisiplinan yang pada gilirannya membentuk karaktek baik dalam kehidupan sosial budaya maupun ekonomi.
Kuching yang hijau

Sebagai contoh kecil saja, saat bus besar yang menghantarkan penulis dalam perjalanan Pontianak-Kuching, saat berada di wilayah Indonesia begitu mudah terlihat hutan yang terbakar, tumpukan kayu hasil gergajian di pinggir jalan, gunung gundul, hutan terbuka, gubuk-gubuk kecil bertumbuhan di pinggir jalan, serta terlihat kotor di wilayah jalan yang dilalui.
Tetapi setelah berada di perbatasan, Entikong kemudian masuk wilayah Malaysia, hutan yang gundul nyaris tak terlihat, yang ada hanyalah hutan lebat kendati terbuka itupun hamparan perkebunan lada yang menghijau.
Tak pernah lagi terlihat hutan terbakar, tumpukan kayu hasil tebangan di pinggir jalan, serta jalan begitu bersih dan licin.
Memasuki kota KUching, susana teratur begitu terasa, dimana kawasan pemukiman terlihat begitu rapi terletak pada satu kawasan sendiri, sementara kawasan perkantoran juga berada di kawasan lain, begitu pula kawasan pertokoan, sehingga tampak begitu teraturnya.
Jalan-jalan begitu lebar, sehingga walau kendaraan terlihat jumlah banyak tetapi begitu mudah meluncur tanpa adanya kemacetan, median jalan selalu dihiasi dengan pertamanan dengan aneka bunga bewarna-warni.
Yang menarik sepanjang perjalanan di dalam wilayah kota Kuching walau arus lalu-lintas begitu padat tetapi tak tampak ada polisi yang mengatur lalu-lintas, para sopir begitu disiplin di saat apa mereka harus berhenti, dan dilokasi mana mereka harus parkir kendaraan roda empat atau roda dua.
Yang menarik pula, walau kendaraan begitu padat tetapi nyaris tak pernah terdengar bunyi kelakson mobil atau motor. Sementara untuk kendaraan roda dua walau siang hari tetapi tetap menyalakan lampu depannya.
Setibanya terminal bus di Kuching, tak tampak ada kesemrawutan , bus parkir begitu rapinya, tidak ada sama sekali tukang parkir, apalagi calo-calo penumpang seperti yang ada di Indonesia, sama sekali tak pernah kelihatan.
Pedagang asongan yang biasanya berkeliaran di terminal di Indonesia sama sekali pula tak pernah kelihatandi kota ini, apalagi pengemis.
Bahkan pedagang kaki lima saja susah didapati dikota yang terletak dibagian Utara Pulau Kalimantan ini.
Kedisiplinan Kota Kuching telah melahirkan keteraturan kehidupan kota yang berlambang binatang Kuching tersebut, bukan saja di hotel, restauran, serta dimanapun budaya antri begitu terasa, sehingga kita merasa malu bila harus melanggar disiplin di kota ini.
Kota Kuching, di negara bagian Serawak, Malaysia, negara ini luasnya sekitar 124.000 kilometer dengan penduduk sekitar 2,3 juta itu. Memang penataan kota Kuching adalah salah satu yang terbaik di Malaysia… status nya juga sebagai kota ke 4 terbesar di Malaysia setelah Kuala Llumpur, Johor Bahru, dan Penang.
Kuching terbagi dua wilayah, Kuching Utara yang didominasi Melayu, dan Kuching Selatan dengan komunitas terbanyak orang China.
Kehidupan dua wilayah begitu kontras, di Utara terlihat tenang dan sejuk penuh dengan nuansa keIslamannya, sementara di Selatan terlihat hiruk pikuk dengan kehidupan modern yang metropolis.
Kendati Kuching Selatan telah berubah menjadi sebuah wilayah metropolis ditandai bermunculannya gedung pencakar langit, perhotelan, mall, dan lokasi-lokasi kosentrasi warga lainnya tidak berarti kota ini semrawut, tetapi dengan kedisiplinan warga tetap saja kota ini teratur, penuh dengan tanaman hijau, serta pertamanan yang berwarna-warni.
Porsi lahan terbuka hijau agaknya menjadi prioritas penataan kota ini, sehingga dimana-mana selalu terlihat ruang terbuka hijau yang terkenal adalah ditepian Sungai Serawak, water front city yang terkenal tersebut.
Satu hal yang perlu diacungi jempol dalam kehidupan di kota Kuching dimana-mana selalu terlihat aman dan tentram, tidak terdengar adanya pencopetan apalagi penjampretan di tengah keraiaman kota.
Toleransi kehidupan begitu tinggi, sebagai contoh di tepian sungai yang penuh dengan lokasi objek wisata warga bebas menikmati wisata tersebut tanpa harus terganggu oleh warga lainnya.
Bagi umat Islam yang berpakaian muslimnya begitu asyik membaca buku-buku agama, sementara di sisinya orang bule berpasangan dengan pakaian minim begitu mudah bercengkarama, sementara warga lain dengan aneka aktivitas bebas melakukan aktivitas dengan saling menghormati satu sama lain.
Berdasarkan keterangan kehidupan dunia wisata kota Kuching dalam dasawarsa belakangan ini begitu tumbuh dengan pesat, kiatnya hanya menjajakan potensi alam Serawak yang tidak lain sama saja dengan alam yang ada di wilayah Kalimantan, termasuk di kampung halamanku Banjarmasin atau Kalimantan Selatan.
Pihak orang bule yang ada di belahan dunia ini mengenal nama borneo atau kalimantan, maka orang seakan hanya ingat Serawak atau Kuching, karena negara ini begitu gencar menjual Kalimantan ke belahan dunia lain.
Padahal kita tahu, wilayah Serawak hanya sebagian kecil dari daratan Kalimantan yang luas ini dan sebagian besarnya justru berada di Indonesia, tetapi kurang promosi justru wisatawan mancanegara tidak tahu kalau Kalimantan itu berada di Indonesia, mereka
mengira kalau Borneo tersebut hanya berada di Malaysia.
Potensi alam Serawak itu diekploitasi sebegitu rupa sebagai objek wisata alam hanya menjual uniknya pepohonan dan tumbuhan kalimantan, kemudian menjual keberadaan hewannya, seperti keberadaan Bekantan (nasalis larvatus) begitu gencar dipromosikan sehingga wisatawan begitu deras kee wilayah ini.

gueaku dimenara Kuching

Padahal kita tahu, Bekantan itu justru terbanyak berada di wilayah Kalimantan Selatan, bahkan menjadi maskot wilayah ini, tetapi kurang promosi hingga wisatawan mengenal bekantan justru dari Serawak.
Melihat museum ikan di Kota Kuching hanya menjajakan ikan-ikan lokal, sepertri saluang, ikan baung, pepuyu, sepat, patin, lais , ikan puyau yang sama dengan ikan lokal di wilayah saya Kalimantan Selatan.
Tetapi karena ikan-ikan ini diletakan begitu rupa dalam sebuah museum ternyata sangat diminati wisatawan, buktinya banyak wisatawan mancanegara yang berlama-lama mencermati ikan-ikan lokal itu, bahkan membidik-bidikan kameranya hanya untuk mengambil gambar ikan-ikan lokal tersebut.
Peophonan lokal seperti pohon enau (aren) , pohon rumbia yang juga sengaja dibiarkan tumbuh ditengah perkotaan Kuching ternyata menjadi perhatian wisatawam, dengan hal-hal sederhana seperti itu tetapi dikelola sedemikian rupa ternyata dunia wisata Serawak berkembang luar biasa.
Mengapa negara kita yang memiliki kekayaan yang luar biasa seperti itu tidak dikelola sedemikian rupa pula.

Sejarah Serawak
Berdasarkan sejarahnya, pada awal abad ke-19, Sarawak termasuk wilayah Kesultanan Brunei. Dalam periode pemerintahan Sultan Brunei Omar Ali Saifudin II (1827–1852), terjadi berbagai kerusuhan dan pemberontakan yang tidak bisa diatasi pihak kesultanan. Akhirnya Pangeran Muda Hashim, Gubernur Sarawak pada masa itu, meminta bantuan James Brook, seorang utusan Kerajaan Inggris, untuk memadamkan kerusuhan dan mengendalikan keadaan.
Sebagai imbalannya, dihadiahi wilayah Kuching (sekarang ibu kota Sarawak) dan sekitarnya. Dalam perkembangannya Kesultanan Brunei kemudian mengangkat James Brook sebagai gubernur Sarawak.
James Brook akhirnya mengukuhkan diri sebagai penguasa penuh Sarawak pada 1842 dan dikenal sebagai pendiri Dinasti Rajah Putih. Dinasti Brook terus memperluas wilayahnya hingga Kesultanan Brunei akhirnya hanya menguasai daerah sungai dan pesisir, yaitu lokasi Kesultanan Brunei Darussalam kini.
Dinasti Rajah Putih ini berlangsung hingga tiga generasi. Salah satu aspek pemerintahan Dinasti Brook yang dianggap positif masyarakat Sarawak adalah komitmennya melindungi eksploitasi terhadap penduduk asli, khususnya suku-suku Dayak, yang pada era itu relatif lebih terbelakang dibanding dengan etnis Melayu atau China.
Dinasti Brook juga mengundang orang-orang China datang ke Serawak, tetapi melarang kaum pedagang ini tinggal di luar wilayah kota agar tidak merusak tradisi suku Dayak Iban dan Bidayuh.
Antara tahun 1962 dan 1966, Sarawak merupakan medan utama dari konfrontasi Indonesia-Malaysia, yang genderang perangnya ditabuh Bung Karno, Presiden Pertama RI.
Sejarah akhirnya berpihak kepada Malaysia yang berhasil menggandeng Sarawak dan Sabah ke dalam negara federasi Malaysia. Brunei memilih berdiri sendiri hingga kini.
Dalam proses tarik-menarik Sarawak itulah terjadi tawar-menawar politik yang hasilnya menguntungkan rakyat Sarawak hingga kini. Salah satu kesepakatan yang diperoleh dalam proses itu adalah kewenangan cukup besar dalam masalah kependudukan. Meskipun menjadi salah satu negara bagian Malaysia, setiap warga Malaysia non-Sarawak harus menggunakan paspor dan wajib lapor secara rutin jika mereka tinggal atau bekerja di Sarawak.
Dengan demikian, rakyat Sarawak mempunyai wewenang dan otonomi yang baik terhadap wilayahnya. Tidak mengherankan jika kini wilayah kurang lebih 37,5% dari luas daratan Malaysia itu lebih makmur daripada wilayah Kalimantan pada umumnya.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: