KALTENG BERMIMPI KEHADIRAN PELABUHAN SKAKAL BESAR

Oleh Hasan Zainuddin
Palangka Raya, 13/6 (ANTARA)- Warga Kalimantan Tengah (Kalteng) wajar iri ke proivinsi lain, yang memiliki pelabuhan skala besar, guna memasarkan berbagai  komoditi.
Kalteng memiliki wilayah terluas ketiga setelah Papua dan Kalimantan Timur (Kaltim)  mengandung sumber daya alam (SDA) melimpah ruah.
Tapi lantaran tak ada pelabuhan besar, komodti Kalteng diekspor melalui pelabuhan lain.
Potensi Kalteng melimpah dilihat dari luas hutan 10.2 juta ha mengandung hasil hutan kayu dan hasil hutan ikutan, semuanya bisa jadi mata dagangan ekspor.
Perairan apalagi, perairan umum  terdapat 11 sungai besar panjang  100- 900 Km, 690 danau besar dan kecil serta kawasan rawa.
Tak dikelola saja perairan itu sudah gudang produksi ikan, apalagi kalau dijadikan lahan budidaya berikan kontribusi bagi peningkatan mata dagangan sektor perikanan.
Perairan laut miliki garis pantai menghadap Laut Jawa begitu panjang, terdapat kawasan air payau bisa dijadikan budidaya ikan pula.
Potensi peternakan juga besar, padang rumput yang luas janjikan sektor ini, walau masih digarap tradisional, peternakan Kalteng berupa sapi, kerbau, domba, unggas sudah menghasilkan.
SDA tak kalah memikat di “Bumi Tambun Bungai” (wilayah sejuta sungai) Kalteng adalah perkebunan kelapa sawit, terus meningkat luasannya, kini berproduksi jutaan ton tandan buah segar (TDS), diolah menjadi crude palm oil (CPO).
Secara geologis, Kalteng terdiri atas satuan batuan beku 25 persen, bantuan sedimen 65 persen, dan batuan metamorf 10 persen.
Ketiga satuan batuan ini membawa potensi bahan galian tambang yang beragam. Pada satuan beku ini, terdapat di bagian utara Kalteng dan dikenal sebagai ”Borneo Gold Belt”, tersimpan potensi emas dan perak serta beberapa jenis logam dasar.
Satuan sedimen terdiri atas tiga cekungan besar masing-masing cekungan Balito, cekungan Melawi dan cekungan Kutai.
Ketiga cekungan ini mangandung cebakan minyak dan gas bumi, batubara, logam mulia dan logam dasar sekunder. Kalteng kini tersedia potensi 3,5 miliar ton batubarar.
“Kalau melihat potensi Kalteng, berarti wilayah ini kaya sekali,” kata seorang anggota DPRD Kalteng, Arief Budiatmo.
Mempercepat pemanfaatan potensi tersebut, tak ada pilihan lain, kecuali Kalteng memiliki sebuah pelabuhan skala besar, dalam upaya mengapalkan berbagai macam produk ekspor dan barang lainnya.
Contoh, lantaran tak punya pelabuhan besar akhirnya pengangkutan produk dan barang jadi ekonomi biaya tinggi, kata anggota DPRD dari komisi C ini.
Bagaimana Kalteng bisa meningkatkan kesejahteraan warganya bila sarana memasarkan berbagai komoditi melimpah itu terhambat.
“Baik warga, pemerintah,  harus mewujudkan pelabuhan skala besar, bagi kemajuan Kalteng,” kata politisi dari PAN Kalteng itu.
Berdasarkan catatan, Kalteng sudah memiliki dua pelabuhan, Pelabuhan Sampit dan Pelabuhan Kumai, tapi pelabuhan itu tak memungkin untuk kapal berbobot besar, akhirnya hanya dilayari kapal berbobot kecil, dampaknya bongkar muat di pelabuhan jadi sangat mahal.
“Biaya pengapalan barang Pelabuhan Sampit ke Pelabuhan Surabaya Jawa Timur lebih tinggi ketimbang barang itu dibawa ke Banjarmasin lalu mulai sana dikapalkan ke Surabaya,” kata Arief Budiatmo.
Biaya tinggi pelabuhan Sampit itu lantaran sewa kontainer mahal, jumlah kontainer terbatas.
Keterbatasan kontainer itu lantaran bila dibawa dari Surabaya 50 buah yang terisi dan balik ke Surabaya paling banter hanya 10 kontaiener saja.
Dampak ketiadaan pelabuhan itu pula wilayah ini tak memiliki pabrik pengolahan kelapa sawit menjadi CPO, akhirnya sawit diantar pulaukan, baru di olah di Pulau Jawa atau Sumatera, baru ekspor.
Begitu juga karet, sebagian besar produksi pabrikan karet di Kota Banjarmasin, padahal hasil pembelian karet dari Kalteng, lalu diekspor menikmati pajak ekspornya wilayah lain.
Hutan Kalteng melimpah kayunya, tapi kayu dibawa ke Banjarmasin disana 18 buah pabrik kayu lapis mengolah kayu Kalteng, hingga Kalteng kurang menikmati hasil hutan itu.
Kabid Perdagangan Luar Negeri, Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kalteng, Toni Jhonsiano, menyatakan pula keprihatinan atas ketiadaan pelabuhan, akhirnya dagangan Kalteng dikirim kepelabuhan lain.
Menurutnya potensi perdagangan luar negeri Kalteng sangat besar, tapi lantaran tak ada sarana laut memadai ya akhirnya, Kalteng hanya bisa gigit jari lihat pajak ekspor dinikmati pihak lain.
Bukan hanya peralatan bongkar muat minim di pelabuhan Kalteng tapi pelabuhannya tidak bisa dilayani kapal besar, pelabuhan Kalteng dangkal, seperti di Kumai, Sampit, atau Pelabuhan Pulang Pisau.
Karena itu, wajar bila kedepan Kalteng harus memikirkan memiliki pelabuhan besar sendiri, untuk memudahkan ekspor non migas itu.
Kalteng miliki pantai menghadap Laut Jawa dengan tingkat kedalaman memadai bagi sebuah pelabuhan skala besar.
Umpamanya saja pantai di Kabupaten  Katingan, di Pagatan, atau di Bahaur Pulang Pisau, tinggal bagaimana kemauan politik pemerintah setempat mewujudkan sarana tersebut.
Seandainya tersedia pelabuhan yang refresentatif maka akan menjadi “magnet” bagi investasi pendirian pabrik pengolahan hasil perkebunan dan sumber daya alamnya yang akan memberikan dampak bagi kemajuan Kalteng.***2***

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: