MENGANGKAT CITRA ANGKUTAN SUNGAI “BUMI TAMBUN BUNGAI” KALTENG

Oleh Hasan Zainuddin
Palangka Raya,7/6 (ANTARA)- Kian berkembangnya fasilitas jalan darat melalui trans Kalimantan, bukan berarti Provinsi Kalimantan Tengah (Kalteng) meninggalkan jenis angkutan tradisionalnya, yaitu angkutan sungai.
Bahkan belakangan ini jenis angkutan sungai kian dikembangkan, alasannya transportasi ini tak memerlukan investasi besar, sebaliknya mampu mengangkut barang dengan jumlah besar dengan biaya sangat murah.
Atas keunggulan jenis angkutan sungai itulah, maka angkutan ini dipertahankan bahkan ditingkatkan, kata Kepala Dinas Perhubungan Komunikasi dan Informasi Provinsi Kalimantan Tengah (Kalteng), Rigumi.
Apalagi Kalteng yang berjuluk “Bumi Tambun Bungai” atau “Daerah Sejuta Sungai” memiliki jaringan sungai hampir menyentuh seluruh wilayah, hingga memudahkan orang bepergian kemanapun hanya menggunakan angkutan tersebut.

kahayan Sungai Kahayan salah satu sungai sarana transpotasi Kalteng
Belum lagi wilayah Kalteng, bukan hanya sungai tetapi juga terdapat danau, dan anjir (kanal) yang sudah lama berfungsi sebagai sarana angkutan air bagi provinsi di Pulau terbesar di tanah air ini.
Melihat kenyataan itu, jenis angkutan sungai merupakan primadona moda transportasi Kalteng sejak lama dan penggerak perekonomian setempat.
Kepala Bidang angkutan Sungai Danau dan Penyebarangan (SDP), Dinas Perhubungan Komunikasi dan Informasi setempat, Sino secara terpisah mengakui angkutan sungai moda transportasi andalan Kalteng, mengingat ribuan kilometer (Km) jalur sungai mampu dilayari.
Jalur sungai  itu berada sambung-menyambung diantara sebelas buah sungai yang ada di wilayah ini lengkap dengan anak-anak sungainya yang menembus seluruh wilayah yang memiliki luas 1,5 kali Pulau Jawa ini.
Kesebelas sungai di Kalteng tersebut, seperti Sungai Jelai Kabupaten Sukamara  panjang 200 Km lebar 50 meter dalam 8 meter (m), dapat dilayari 150 Km, Sungai Arut Kabupaten Kotawaringin Barat (Kobar) panjang 250 Km lebar 100 m, dalam 4 m bisa dilayari 190 Km, Sungai Lamandau Kabupaten Kobar dan Kabupaten Lamandau panjang 300 Km dalam 6 m, lebar 150 m, bisa dilayari 250 Km.
Sungai Kumai Kabupaten Kobar panjang 175 Km, dalam 6-9 m, lebar 250 m,  bisa dilayari 100 Km, Sungai Seruyan Kabupaten Seruyan panjang 400 Km, lebar 250 m, dalam 5 m bisa dilayari 300 Km.
Sungai Mentaya Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) panjang 400 Km lebar 350 m, dalam 6 m, bisa dilayari 270 Km, Sungai Katingan Kabupaten Katingan panjang 650 Km, lebar 250 m, dalam 3-6 m, bisa dilayari 520 Km.
Sungai Sebangau Kota Palangka Raya dan Kabupaten Pulang Pisau panjang 600 Km lebar 450 m, dalam 7 m, bisa dilayari 500 Km, Sungai Kapuas  Kabupaten Kapuas, panjang 600 Km, lebar 450 m, dalam 6 m bisa dilayari 420 Km.
Sungai Kahayan Kabupaten Gunung Mas (Gumas), Kabupaten Pulang Pisau dan Kota Palangka Raya, panjang 600 Km lebar 450 m, dalam 7 m, dan bisa dilalui armada sungai sepanjang 500 Km.
Terakhir adalah Sungai terbesar Indonesia yakni Sungai Barito panjang 900 Km lebar 350-500 m, dalam 6-14 m dilalui pelayanan sungai 700 Km, kata Sino.
Melihat potensi sungai yang begitu besar ditambah dengan anak sungainya,  maka wajar bila Pemprov Kalteng tetap mengandalkan angkutan sungai sebagai moda transportasi andalan sampai kapanpun, tambahnya.
Bukan hanya angkutan penumpang dilayani angkutan sungai ini, tetapi diutamakan angkutan bermuatan berat, seperti pasir, tanah merah, krikil, batu gunung, semen, besi, batubara, serta hasil bumi lainnya.
“Bumi Kalteng, sebagian besar lahan basah dengan tingkat kestabilan lahan yang rendah, maka jalan darat yang dibuat pemerintah cepat rusak bila harus dilewati truk atau armada lainnya bermuatan berat,” kata Rigumi.
Apalagi jaringan jalan di Kalteng, khususnya trans Kalimantan baru saja dibuat dari pengerasan tanah merah, mudah rusak dan hancur.
Guna menjaga ke awetan jalan darat itu, maka Pemprov Kalteng berharap armada yang lewat tak boleh berat dari 8 ton, dengan batasan demikian mana mungkin armada harus mengangkut pasir, tanah, krikil, batu, besi, semen dan lainnya.
Alternatifnya, harus melalui jalur sungai. Menggunakan armada tongkang jumlah barang yang berat ini bisa diangkut dengan jumlah besar.
Keinginan kuat mengembangkan angkutan sungai itu bukan hanya Pemprop Kalteng tetapi juga pemerintah di 14 kabupaten/kota se Kalteng.
Sebagai contoh saja Kabupaten Barito Selatan (Barsel) yang banyak dilintasi sungai paling dominan angkutan penumpang dan barang melalui sarana air ini.
Tahun 2008 lalu saja, jumlah pergerakan kapal melayani angkutan sungai di semua Unit Pelaksana Teknis Dinas (UPTD) Dinas Perhubungan Komunikasi dan Informasi Barsel mencapai angka 7.131 kali, baik truk air, bus air, spead boat,  lung bot, klotok, dan sampan.
Sementara data di Dinas Perhubungan Komunikasi dan Informasi Kalteng,  se provinsi ini jumlah armada meramaikan moda transportasi sungai terdiri dari motor boat 834 buah, 2159 buah motor getek,482 buah spead boat, 85 buah long boat, 297 buah truk air, 78 buah tongkang, dan 33 buah bus air.
Armada sungai tersebut melayari berbagai wilayah dan menyinggapi 92 dermaga yang menyebar di berbagai kabupaten dan kota wilayah ini.
Melihat keinginan kuat Pemprop Kalteng melestarikan angkutan sungai tersebut telah pula direspon positif pemerintah pusat.
Melalui Direktorat Angkutan Darat, Departemen Perhubungan telah memberikan bantuan penambahan armada bis air yang dirancang untuk angkutan 60 orang sudah beroperasi di Kabupaten Katingan dan Seruyan dan akan datang lagi untuk Kabupaten Kapuas.
“Kita bersyukur dapat bantuan bis air tersebut, karena kalau harus beli sendiri, harganya cukup mahal sekitar lima hingga 10 miliar,” kata Rigumi.
Menurut Rigumi, pihak Pemprov Kalteng tetap berharap bantuan serupa datang dari dari pemerintah pusat agar semua kabupaten kota di Kalteng  memiliki armada angkutan sungai demikian.
Upaya melengkapi armada air tersebut, pihak Pemprov Kaltengpun akan berusaha menyediakannya, dalam artian bila bantuan pemerintah pusat sudah tak ada lagi maka Pemprov Kalteng yang akan membuatkannya, tetapi tentu sesuai dengan kemampuan yang ada.
Bukan hanya armada air yang selalu ditambah upaya meningkatkan angkutan air tersebut, tetapi juga melakukan normalisasi anjir (kanal) Serapat dan anjir Tamban.
Normalisasi anjir meningkatkan kedalaman cara pengerukan lumpur di dasar anjir tersebut melalui dana APBN direncanakan pada tahun 2010.
Melalui peningkatan citra angkutan sungai yang berbarengan peningkatan moda transportasi darat dan udara, maka merumuskan visi pembangunan dengan seuntai kalimat “Menembus Isolasi Menuju Kalimantan Tengah yang Sejahtera dan Bermartabat.” ***2***

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: