KALTENG WASPADAI KIAN MELUASNYA PENYAKIT AIDS

Oleh Hasan Zainuddin
Palangkaraya,21/6 (ANTARA)- Kian mencuatnya kasus penyakit HIV/AIDS  di wilayah Kalimantan Tengah (Kalteng) meirisaukan banyak orang, tak kecuali kalangan tokoh adat, tokoh masyarakat, serta para pemimpin pemerintahan wilayah ini.
Bentuk kerisauan itu melahirkan tindakan yang mewaspadai kian berjangkitnya peyakit yang merusak tingkat kekebalan tubuh itu. Salah satu tindakan adalah melakukan penyuluhan kepada masyarakat arti bahaya penyakit itu.
Satu lagi bentuk kewaspadaan lahirnya Komisi Penanggulangan Aids (KPA) seperti yang berada di Kota Palangkaraya, ibukota Kalteng.
Wakil Gubernur Kalteng, Achmad Diran mengatakan kewaspadaan terhadap penyakit ini harus dilakukan, walau penyakit ini tak terlihat banyak, kalau tak waspada bisa bisa jadi malapetaka di kemudian hari.
Ketika memberikan sambutan pada acara penyuluhan kesehatan seksual, infeksi menular sekseual, dan HIV/AIDS bagi pemuda, pelajar, dan mahasiswa di Palangkaraya, pekan lalu Diran mengajak warga khususnya kawula muda untuk menghindari kegiatan yang bisa tertular HIV/AIDS.
Membendung penularan HIV/AIDS tak bisa pemerintah saja, tanpa kesadaran masyarakat sendiri, mulai berprilaku baik di wilayah terkecil, keluarga, lingkungan tempat tinggal, dan baru lingkungan yang lebih luas.
Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Kalteng Dr.Don F.B.Leiden juga berulangkali  mengingatkan warga berhat-hati terhadap penularan HIV/AIDS.
“Kalteng sudah menjadi daerah tertular HIV/AIDS, kasus  penyakit walau relatif sedikit tapi sudah merisaukan,” kata Kadinses Kalteng saat ditemui di ruang kerjanya.
Berdasarkan catatan 138 warga Kalteng terjangkit HIV (Human Immunodeficiency Virus) dari hasil sero survei yang dilakukan sepanjang tahun 1997 hingga 2008 lalu.
Dibandingkan jumlah penduduk sekitar dua juta orang, penderita HIV itu memang agak minim atau hanya 0,0069 persen atau hanya sekitar 12 orang yang terjangkit setiap tahun.
Sementara jumlah penderita AIDS (Acquired Immunodeficiency Syndrome) jauh lebih sedikit lagi, hanya 23 orang sepanjang 2005 hingga 2008 atau sekitar tujuh orang setiap tahunnya.
Kadinkes mengingatkan ada tiga hal yang berkaitan dengan proses penularan penykit HIV/AIDS, yaitu seksualitas, penyalahgunaan narkoba, serta HIV/AIDS itu sendiri.
Menurutnya, terdapat pandangan masyarakat Kalteng membicarakan masalah seks suatu yang tabu, lantaran terdapatnya nilai adat dan budaya setempat.
Hal itu menjadi tidak tabu, manakala dibicarakan dalam lingkup pengetahuan masyarakat mengenai penanggulangan HIV/Aids, oleh karena itu Dinskes bertekad meningkatkan pemahaman mengenai bahasa penyakit tersebut agar warga bisa menghindarinya.
Sebelumnya Sekretaris Komisi Penanggulangan Aids (KPA),Lembung A Datuk menjelaskan penularan virus HIV/AIDS di Kota Palangka Raya, ibukota Kalteng belakangan cukup menyedihkan.
Upaya pencegahan penyakit HIV/AIDS itu sampai-sampai Palangka membentuk sebuah Komisi  Penanggulangan Aids (KPA), yang diketuai oleh Wali Kota Palangka Raya sendiri.
Kasus penularan virus HIV/Aids di kota cantik Palangka Raya diketahui sejak tahun 2003 lalu, setelah dinyatakan seorang warga kota positif tertular penyakit yang mematikan tersebut.
Kasus HIV/Aids diketahui setelah dilakukan seru survei oleh pihak Dinas Kesehatan Kota palangka Raya tahun 2003 dengan 115 sampel, lalu diketahui seorang positif tertular.
Pada tahun 2004 kembali dilakukan survei terhadap 229 sampel ternyata 13 orang dinyatakan positif, tahun 2005 survei terhadap 165 sampel positif satu orang, tahun 2006 492 sampel positif empat orang, tahun 2007 117 sampel posotif tujuh orang.
“Tahun 2008 tercatat empat orang yang positip” kata Lembung A Datuk tanpa ingat jumlah sampel yang diperiksa tahun terakhir tersebut.
Sampel darah tersebut sebagian besar diambil dari mereka penghuni lokalisasi dan lembaga pemasyaratan (LP), tambahnya lagi.
Sementara di wilayah Kalteng sendiri, dijelaskannya sudah diketahui berjangkit penyakit HIV/AIDS tersebut tahun 1997 di Kota Pangkalan Bun, kotawaringin Barat (Kobar).
Kemudian tahun 2002 ditemukan lagi di Kota Sampit, Kotawaringin Timur (Kotim), tahun 2003 di Kota Kasongan Ibukota Kabupaten Katingan serta Kota Palangka Raya.
Menurutnya, dalam upaya penanggulangan penyakit tersebut pihak KPA bersama petugas kesehatan setempat terus melakukan penyuluhan ke lokasi rawan berjangkit penyakit itu, seperti lokalisasi atau LP dan lokasi lainnya.
Dengan adanya upaya penyuluhan diharapkan mereka yang rawan tertular penyakit itu bisa menanggulanginya sendiri, dengan tidak melakukan kegiatan yang bisa menularkan penyakit itu.
Banyak hal yang menyebabkan tertularnya penyakit ini di Kalteng, lantaran bergerakan masyarakat yang begitu leluasa, khususnya di kawasan terdapat Pelabuhan, seperti Kotawaringin Barat dan Kotawaringin Timur.
Apalagi masih terdapatnya lokalisasi sebagai transaksi seks komersial dan pemakaian narkoba, memberikan peluang besar berjangkitnya penyakit tersebut.
Berdasarkan hasil sebuah survey menunjukkan masyarakat belum sadar betul arti pentingnya penggunaan kondom untuk beraktifitas seks aktif.           Selain itu para pekerja seks komersial (PSK) juga tidak menganjurkan pasangannya menggunakan kondom. Para PSK beralasan demi kenyamanan pelanggan.
Dari data Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia (PKBI) Kalteng hampir 80 persen masyarakat Kalteng belum mengenal kondom. Hanya 1 persen yang menggunakan alat kontrasepsi tersebut.
Rendahnya pengetahuan masyarakat mengenai alat kontrasepsi ini dikarenakan kurang sosialisasi dari pihak pemerintah maupun pemerhati masalah ini.
Selain itu juga mitos di kalangan masyarakat yang tabu membicarakan masalah ini, menjadi salah satu penyebab kondom tidak dikenal.
20 tahun lalu, ketika berita HIV/AODS merebak di luar negeri, masyarakat Indonesia hanya mendengar ceritanya saja.
Namun kini penyakit HIV/AIDS sudah bukan cerita tetapi  penderita sudah ada dimana-mana wilayah ini, bila tidak ditangani dengan baik, tidak mustahil 10 tahun mendatang masyarakat akan terbiasa hidup dengan penderita HIV/AIDS di lingkungannya bahkan di dalam rumahnya.
Oleh karena itu berbagai kalangan berharap upaya kewaspadaan yang sudah ditunjukkan pihak pemerintah setempat, harus didukung sepenuhnya dengan meminimalkan aktivitas masyarakat yang bisa memunculkan penderita baru.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: