MEMOLES KOTA “PENINGGALAN SOEKARNO” PALANGKARAYA

Oleh Hasan Zainuddin

Palangkaraya,20/6 (ANTARA)- Pengakuan mereka yang baru bermukim di Kota Palangkaraya, Ibukota Provinsi Kalimantan Tengah (Kalteng) kota ini sangat nyaman, lancar, dan lengang,  hingga kemana-mana mudah.
Kondisi jalan yang hampir semuanya lebar, memungkinan warga Kota Palangkaraya, terhindar dari situasi penyakit “macet” seperti yang dirasakan hampir semua kota di tanah air.
Jumlah penduduk yang tak terlalu  padat hanya sekitar 200 ribu jiwa jelas tidak bakal membuat kota menjadi hiruk-pikuk.
Tak heran bila sebuah rumah penduduk memiliki halaman yang lebar, lantaran masih tersedia lahan di kota seluas 2,6 ribu Km2.
Muncul pertanyaan, mengapa Palangkaraya begitu luas, tak sanggup kota manapun di tanah air yang bisa menyamai keluasan kota ini.
Jakarta ibukota negara saja 660 Km2, Banjarmasin kota tetangga yang merupakan ibukota Kalsel, hanya 72 Km2.
Lalu ada yang mengaitkan keluasan kota ini tak lepas dari peran Presiden Soekarno yang pernah merancang kota ini menjadi ibukota negara Indonesia.
Konon Soekarno yang seorang insinyur itu mendambakan sebuah ibukota negara yang dirancangnya sendiri, sementara Jakarta, sudah memiliki desain sendiri peninggalan Belanda yang relatif sulit dirubahnya.
Ditambah Palangkaraya yang tadinya hanya sebuah hutan belantara ini berada dilokasi cukup strategis di tengah Indonesia, serta aman dari gempa.
Kota ini benar-benar dibangun dari nol setelah kemerdekaan, ditandai pemancangan tiang pertama pembangunan kota oleh Presiden RI pertama, Soekarno 17 Juli 1957.
Dua tahun sejak pembangunan kota ini, terus dirancang melalui rancangan pikiran Ir. Sukarno, mulai dari bundaran besar, taman kota, tiang pancang, istana, bundaran kecil, dan kawasan lainnya.
Melihat sejarahnya yang demikian tidak heran saat  calon Presiden Megawati Soekarnoputri datang ke kota ini sempat berpesan untuk menjaga keaslian Kota Palangkaraya.
“Mohon maaf pak wali kota, jadi jangan nanti ganti orang, ganti desain, lalu ganti tata kota,” kata Megawati Soekarnoputri kepada Wali Kota Palangkaraya Riban Satia ketika kedatangannya meresmikan pemakaian gedung PDI Perjuangan Kalteng, pekan lalu.
Mega berharap, sampai kapanpun masyarakat harus tetap mampu memelihara kota peninggalan Bapak Proklamator RI itu agar tetap terjaga keindahan dan keteraturannya.
Dilihat dari sisi arsitektur, kata Mega, Kota Palangkaraya didesain dengan sangat baik, planologinya teratur, dengan letak gang dan jalan yang mudah diingat.
Wali Kota Palangkaraya, HM Riban Satia ketika acara puncak peringatan hari jadi Kota Palangkaraya berjanji melestarikan kenyamanan kota Palangkaraya baik masa kini dan masa akan datang.
Upaya itu dengan cara pemanfaatan ruang yang diserasikan dengan penggunaaannya baik pemukiman, kegiatan sosial, kegiatan ekonomi, serta upaya konservasi dengan cara pemanfaatan alam lingkungan yang berkesinambungan.
Menjaga lingkungan hidup, memelihara keanekaragaman hayati merupakan modal dasar pembangunan, sekaligus mendukung kualitas kehidupan yang memberikan keindahan dan kenyamanan Kota Palangkaraya, tuturnya.
Ditengah tekadnya menjaga kelestarian lingkungan Palangkaraya, HM Riban Setia mengaku tak bisa mengelak dengan upaya pembangunan yang lain, yang jelas akan mempengaruhi keberadaan kota ini.
HM Riban Satia menyatakan akan menjadikan pula Kota Palangkaraya sebagai kota pendidikan, pusat pelayanan jasa, kota pemerintahan sebagai komnsekuinsi ibukota provinsi Kalteng.
Setelah kian berkembangnya pembangunan, kawasan yang dulunya hanya sebuah desa Pahandut mulai berubah kesebuah kota metropolis, ditandai berdirinya sebuah pusat perbelanjaan “Falma” berada persis didekat bundaran besar.
Pertokoan pun mulai bermunculan di sepanjang jalan-jalan protokol, penginapan dan hotel mulai menjamur, bahkan belakangan berdiri sebuah gotel bertaraf internasional “Aquarius Hotel” yang menjanjikan kenyamanan dan flus tempat hiburan diskotik, pusat karaoke, dan kafe.
“Kita bersyukur, akhirnya Palangkaraya memiliki juga sebuah hotel bertaraf internasional,” kata Gubernur Kalteng, Agustin Teras Narang saat meresmikan hotel yang dibangun pengusaha asal Banjarmasin tersebut.
Hadirnya hotel megah berlantai delapan itu jelas memberikan dampak bagi kota ini, terutama para tamu tidak kesulitan memperoleh fasilitas akomodasi yang memadai, kata Teras Narang.
“Seharusnya, kehadiran hotel mewah ini sejak 30 tahun lalu, di saat lagi boom produksi kayu, tetapi walau terlambat, tetap patut pula disyukuri,” kata Gubernur yang mantan anggota DPR-RI ini.
Kian berkembangnya kota ini, jelas dampak lainnya kian bertambahnya objek wisata, bertambahnya pusat keramaian, hadirnya sebuah pasar malam baluran, sentra jajanan Jl Yos Sudarso dan fasilitas perkotaan lainnya.
Tadinya tak ada yang menyangka kawasan hutan belantara ini bakal merubah menjadi sebuah kota yang pertumbuhannya begitu cepat.
Cepatnya pertumbuhan kota Palangkaraya tak jelas kian mudahnya akses menuju kota ini, bila tadinya dari Banjarmasin-Palangkara 190 Km harus rela naik angkutan sungai Spead Boat enam hingga 8 jam, kini melalui trans Kalimantan Poros Selatan yang beraspal hanya antara tiga dan empat jam saja dengan angkutan mobil.
Jalan Palangkaraya-Sampit (ibukota Kabupaten Kotawaringin Timur)  sekitar 200 KM tersambung dengan jalan aspal mulus hingga perjalanan hanya empat jam, disamping tersambungnya jalan Palangkaraya-Buntok (ibukoya Kabupaten Barito Selatan) sepanjang 200 Km juga hanya empat jam.
Padahal dulunya kedua wilayah ini harus ditempuh belasan jam karena Palangkaraya ke Banjarmasin dulu  baru ke Buntok.
Berdasarkan keterangan kota Palangkaraya termasuk kota yang lahirnya terlambat dibandingkan kota lain di Kalteng, seperti Kota Sampit atau Kuala Kapuas.
Bahkan kota disebut belakangan tadinya bakal dipilih sebagai ibukota Provinsi Kalteng, tetapi Kota Sampit dinilai letaknya terlalu jauh dari wilayah lain di Kalteng, dan Kota Kuala Kapuas dinilai terlalu dekat dengan Kota Banjarmasin ibukiota Kalsel.
Dari dua pilihan yang sulit itulah muncul pilihan alternatif, yaitu Kota Palangkaraya.
Berdasarkan cerita tetuha masyarakat, lahirnya sebuah Kota Palangkaraya berasal hanya dari sebuah desa yang disebut Pahandut, yaitu sebuah kampung yang kemudian menjadi sebuah kecamatan.
Pahandut berasal dari kata Bapa handut (bahasa dayak ngaju), yang artinya ayah Handut.
Bapa Handut adalah salah satu penduduk yang membuka hutan belantara untuk dijadikan tempat tinggal sementara, karena disitu hanya ada bapa Handut maka orang menyebutnya sebagai kampung Pahandut.
Berdasarkan ceritanya oleh Bapa Handut, daerah tersebut ditandai dengan pohon asam yang ditanamkannya dan kini letaknya di sekitar dermaga Rambang.

plk Jl Tjilik Riwut menghadap bundaran besar Palangkaraya

plk1 Rimbunnya pepohonan menyejukan kota cantik peninggalan Soekarno Palangkaraya

 bagian sudut kota Palangkaraya

Iklan

2 Tanggapan

  1. palangkaraya memang keren, ,

  2. setuju palangkaraya jadi ibu kota indo tapi jgn sampai rusak kaya jakarta,,,
    maju terus buat palangkaraya!!!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: