PEMBANGUNAN KALTENG MELAMBAT AKIBAT KEKURANGAN LISTRIK

Oleh Hasan Zainuddin
Palangkaraya,29/6 (ANTARA)- Provinsi Kalimantan Tengah (Kalteng) satu diantara beberapa wilayah yang  kini “berlari kencang” mengejar ketertinggalan dari wilayah lain yang lebih maju di Indoensia.
Gubernur Kalteng, A Teras Narang melalui kebijakannya mencoba menggali berbagai potensi yang ada di wilayah seluas 15,7 juta hektare untuk membangun wilayahnya.
Upayanya itu antara lain membangun jaringan jalan darat, meningkatkan sarana angkutan udara, menyediakan sarana telekomunikasi, fasilitas transportasi air, serta penyediaan air bersih yang memadai.
Hanya saja Kalteng yang sudah berhasil merangkak, dan bahkan mulai berlari kencang itu, kini terhambat akibat keterbatasan tenaga listrik.
“Listrik adalah sarana dasar untuk memicu pembangunan, tanpa listrik sulit Kalteng berkembang,” kata Gubernur Teras Narang.
Melihat kenyataan itu, Pemprop Kalteng kini terus menuntut penambahan daya listrik di wilayah punya 14 kabupaten dan kota itu.
Tadinya warga Kalteng agak “tersenyum” mendengar janji PLN akan membangunkan PLTU  2×60 MW.
Tapi apa daya, janji PLN tak pernah terealisasi, bahkan kabar terakhir proyek yang sudah ada pekerjaan awal itu dibatalkan.
Gubernur Teras Narang mengaku sangat kecewa kegagalan proyek PLTU 2×60 MW di Kabupaten Pulang Pisau (Pulpis) itu.
“Rencana awal dijanjikan selesai akhir 2009, lalu Direktur Utama PLN kembali menjanjikan selesai awal 2010, tapi kini tak ada buktinya,” katanya di Palangkaraya.
Teras menilai, proyek PLTU Pulpis senilai 73 juta dollar AS itu sifatnya sudah gagal sehingga pemerintah daerah sulit memberi “angin segar” lain bagi rakyat di wilayah itu.
Kegagalan proyek itu, lanjutnya, sangat merugikan daerah karena rakyat tidak bisa menikmati listrik, seperti yang sudah dijanjikan PLN selesai awal 2010 mendatang.
Kontrak PLTU Pulpis itu sebelumnya ditandatangani pada 14 Januari 2008, dengan kontraktor China National Heavy Machinery Corporation, Shandong Electric Power Construction dan PT Mega Power Mandiri.
Sehingga dari tiga proyek yang menjadi bagian Proyek Listrik 10 ribu MW di Kalteng hanya satu yang masih jalan yakni PLTU Pangkalan Bun 2 x 7 MW, karena PLTU Sampit 2 x 7 MW sebelumnya juga telah gagal.
Teras menilai kegagalan proyek listrik tersebut sangat ironis mengingat wilayahnya memiliki banyak potensi batu bara sebagai bahan bakar utama PLTU, namun tidak bisa memiliki pembangkit lisrik yang berkecukupan.
“Cukup eronis, Kalteng merupakan penghasil batubara sebagai bahan bakar pembangkit listrik justru kekurangan tenaga listrik,” katanya.
Sebesar 94 persen kebutuhan batubara untuk PLTU Pulau Jawa dan Bali, didatangkan dari Kalimantan. Sementara itu, Kalimantan teteap menjadi daerah tertinggal di bandingkan Pulau Jawa dan Bali.
“Sewajarnya Kalimantan, khususnya Kalteng diberikan berbagai faslitas dalam upaya mengejar ketertinggalan, bukan sebaliknya kekayaannya dikeruk tetapi wlayah ini dibiarkan terus tertinggal,” ujarnya.
Bukan hanya batubara yang dimiliki Kalteng, tetapi juga sumberdaya lainnya yang melimpah termasuk emas hijau “kayu” yang diambil besar-besaran dalam kurun waktu beberapa waktu lalu, tetapi rakyat tetap gigit jari.
Selaku kepala daerah, Teras mengaku berupaya mencari alternatif membangun PLTU baru upaya sendiri, menggandeng kalangan swasta yang berminat menanamkan investasi kelistrikan, sebab bagaimanapun wilayah ini harus menyediakan listrik yang mencukupi.
Dampak yang dirasakan akibat kekurangan listrik di wilayah berpenduduk1.874.900 jiwa  itu adalah seringnya “byar pet byar pet” yang membuat seluruh sendi perekonomian Kalteng sedikit lumpuh.
Akibat seringnya pemadaman listrik membuat industri Kalteng berkurang berkembang,  peralatan elektronik rumah tangga cepat rusak, seringnya musibah kebakaran, dan aktivitas masyarakat lainnya terganggu.
Gara-gara minimnya pasokan listrik, banyak yang mengalami kerugian, seperti pemilik las listrik di Jalan RTA Milono Palangkaraya, gerah kondisi listrik sering padam.
“Pemadaman listrik yang bergilir maupun pemadaman mendadak, membuat langganan kami sering mengeluh karena pesanan selalu selesai tak tepat waktu.” kata Goyono pemilik bengkel las tersebut.
Bukan hanya kalangan pekerja dan industri kecil yang menderita akibat terbatas listrik tetapi juga kalangan bisnis lain seperti usaha properti juga terpukul tak bisa mengejar target pembangunan perumahan bagi masyarakat.
Bahkan kalangan investor ditengarai banyak yang membatalkan investasi di Kalteng lantaran terbatasnya aliran listrik itu.
Berdasarkan catatan  Kalteng saat ini disuplai melalui interkoneksi pembangkit PLN Kalselteng berasal dari dua unit PLTU Asam-asam berkapasitas 126 mega watt (MW), tiga unit turbin PLTA Riam Kanan berkapasitas 28,50 MW, serta 29 unit Pembangkit Listrik Tenaga Diesel (PLTD) berkapasitas 86,45 MW.
PLN Kalselteng juga mendapat pasokan dari listrik swasta sebesar 10,50 MW dan membeli kelebihan listrik perusahaan sebesar 9,5 MW.
Jumlah daya listrik Kalselteng dalam sistem Barito secara terkoneksi tercatat sekitar sekitar antara 250 hingga 255 MW, sedangkan kebutuhan listrik di Kalsel/teng sekitar 235 hingga 240 MW,
Dalam kondisi pembangkit normal memang tidak ada masalah tetapi bila ada pembangkit yang mengalami gangguan maka terjadi persoalan, hingga harus terjadi pemadaman yang bergiliran, kata Menejer PLN Kalselteng, Wahidin Sitompul.
Melihat keterbatasan listrik itu berbagai upaya akan dilakukan pihak Pemprop Kalteng dan masyarakat setempat, mengingat berbagai potensi pembangkit listrik di wilayah ini cukup tersedia.
Salah satu program jangka pendek mengatasi krisis listrik itu, Pemprov Kalteng bersama tiga pemkab/kota berencana menyewa 2 unit genset dengan total kapasitas 36 mega watt guna menjamin tidak akan terjadi pemadaman listrik setidaknya pada bulan puasa mendatang.
Menurut Teras Narang, ketiga kab/kota tersebut adalah Tulangpisau, Kapuas dan Kota Palangkaraya.
Teras Narang menambahkan bahwa genset tersebut nantinya akan ditempatkan di Palangkaraya dengan kapasitas 35 MW dan genset dengan kapasitas 11 MW akan ditempatkan di kabupaten Kapuas.
Ia menjelaskan pula bahwa genset tersebut bernilai miliaran rupiah, oleh karenanya pihaknya akan segera berkoordinasi dengan DPRD untuk membicarakan masalah anggaran tersebut.
Pemecahan selanjutnya, mencarikan alternatif pembangunan  PLTU pengganti PLTU Pulang pisau, serta membangun PLTA mengingat beberapa sungai di Kalteng berpotensi untuk didirikan PLTA itu.
Berdasarkan keterangan Kepala Bidang Sumber Daya Air (SDA) Dinas Pekerjaan Umum (PU) Kalteng, Jarot Wutyoko ada beberapa sungai bisa dibangunkan PLTA mengatasi krisis listrik Kalteng.
Lokasi dimaksud, Sungai Muara Juloi sudah studi kelayakan kapasitas 284 MW, Sungai Tuhup hasil master pland wilayah sungai kapasitas 10,3 MW, di Lehei Sungai Nganarayan  32,3 MW, Teweh di Sungai Benangin 34 MW serta Riam Jewari Sungai Katingan 2 kali 36 MW.
Bila pembangunan pembangkit Kalteng itu benar-benar terwujug maka keluhan akan kritis listrik setempat tak akan terdengar lagi.

Iklan

2 Tanggapan

  1. GRATIS BAYAR LISTRIK 5 TH, ADALAH SOLUSI BAGI IBU RUMAH TANGGA…

  2. Lho kok bisa ya kekurangan listrik ya trus bagaimana pemerintahan daerah kalimantan tengah untuk mengatasi hal seperti itu….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: