BUMI KALTENG KINI TERBUKA KE SEGALA PENJURU

Oleh Hasan Zainuddin
Palangkaraya, 5/7 (ANTARA)- Pengalaman pahit itu masih membekas dalam diri Saiful, saat beberapa tahun lalu menempuh perjalanan Banjarmasin (Kalsel) ke Palangkaraya (Kalteng) sepanjang 190 kilometer (km).
Perjalanan dua kota begitu melelahkan, menerobos gumpalan rawa, jalan berlubang, beceknya tanah merah, tajamnya tumpukan krikil, hingga harus menyeberangi sungai besar melalui fery.
“Pokoknya sulit diceritakan, perjalanan dua kota itu berhari-hari, bahkan bila lambat naik fery harus bermalam, esok hari perjalanan baru dilanjutkan,” kata Saiful, supir angkutan penumpang, kenang masa lalu.
Ia pun menceritakan, mobil kijang yang dikemudikannya pernah tercebur ke sungai saat berjuang melawan pekatnya rawa di kawasan Tumbang Nusa.
Bagi warga Banjarmasin yang ingin ke Palangkaraya, kalau tak ingin naik mobil darat bisa lewat sungai dengan bis air dua hari dua malam atau spead boat 6-8 jam.
Itu dulu, kini Saiful bersama puluhan bahkan ratusan supir angkutan sudah bisa “tersenyum.” Ruas jalan jurusan dua kota itu begitu mulus, waktu tempuh hanya 3,5 jam- 4 jam saja lagi.
Perubahan drastis jalan darat bukan saja arah Selatan, Palangkaraya-Banjarmasin, tapi juga arah ke Barat, Palangkaraya-Sampit, Kotawaringin Timur (kotim), 220km.
“Dulu Palangkaraya-Sampit, kalau tak naik kapal pesisir beberapa malam, juga jalan darat, tapi medannya parah lagi ketimbang ke Banjarmasin, dua tahun belakangan sudah beraspal mulus,” kata Saiful.
Sementara arah ke Utara Palangkaraya-Buntok Kabupaten Barito Selatan (Barsel), 183 km pembangunan jalannya sedang menggeliat.
Walau ruas Palangkaraya-Buntok tak semulus Palangkara-Banjarmasin atau Palangkaraya-Sampit, tapi setelah pembangunannya terus digiatkan setahun terakhir kini bisa dilewati mobil dan sepeda motor.
“Saya ke Palangkaraya dari Buntok bersepeda motor cuma empat jam,” kata Yulius warga Buntok saat berurusan ke ibukota Provinsi Kalteng ini.
Padahal dulu, kata Yulius, dari Buntok ke Palangkaraya memutar ke Banjarmasin dulu, baru ke Palangkaraya.
Yulius mengakui, tidak semua jalan beraspal di Palangkaraya-Buntok, selebihnya masih pengerasan, selain itu di dua sungai belum ada jembatan terpaksa naik fery penyeberangan.
Gubernur Kalteng, Agustin Teras Narang mengatakan, pembangunan jalan darat prioritas, mengingat keberadaannya memicu pembangunan sektor lain.
Keberadaan jalan darat itu dimodifikasi sinergis dengan moda trasportasi lain seperti angkutan sungai, laut, dan udara mengingat Kalteng terdapat 11 sungai besar, pesisir dengan beberapa pelabuhan dan sudah tersedianya Bandara.
“Kita benar-benar ingin menciptakan Kalteng menjadi wilayah yang terbuka,”kata Teras Narang kepada sejumlah wartawan baru-baru ini.
Dalam upaya mewujudkan jaringan jalan darat itu, Pemprop Kalteng melalui Dinas Pekerjaan umum (PU) setempat kini terus menyelesaikan jaringan jalan ke berbagai penjuru.
Kepala Dinas PU Kalteng, Ben Brahim SB, didampingi Kabid Jasa Marga, Ridwan Manurung, mengatakan perbaikan jalan darat terus digenjot, bukan saja jalan provinsi 1708 Km terlebih jalan negara.
Ruas Palangkaraya-Buntok harus selesai, sebab memudahkan hubungan Palangkaraya ke empat kabupaten Kalteng lainnya.
Empat kabupaten itu Barsel, Barito Timur (Bartim), Barito Utara (Barut), serta Kabupaten Murung Raya (Mura).
“Kalau ruas itu selesai empat kabupaten ke Palangkaraya hanya sekitar lima jam, kalau memutar lewat Kalsel memakan waktu belasan jam,” katanya.
Melancarkan ruas itu, ada empat jembatan, Jembatan  Mengkutu dan Jembatan Meruai sudah selesai, jembatan Timpah dan Kalahiyan dalam tahap perampungan.
“Kita berharap paket pekerjaan jalan Palangkaraya-Buntok selesai akhir 2009,”katanya.
Pekerjaan lain trans Kalimantan Poros Selatan dari Anjir Serapat perbatasan Kalsel-Kuala Kapuas-Pulang Pisau-Palangkaraya – Kasongan – Sampit – Pangkalan Bun – Nanga Bulik – Kudangan sekitar 800 Km.
Trans Kalimantan itu sudah tersambung tinggal pelebaran lagi, dari panjang 800 Km, 450 Km sudah lebar 6 m, tinggal 350 Km yang lebarnya masih 4,5 m, dan kini dikerjakan agar 6 m.
Ruas Poros Selatan itu bukan hanya dilebarkan, tapi juga ditingkatkan kapasitasnya minimal 8 ton beban berat yang bisa melalui jalan tu. Pekerjaannya bertahap, sistem kontrak multi years, artinya bila tak selesai tahun ini dikerjakan tahun berikutnya, tahun 2010 selesai.
Tekad lain Pemprop Kalteng dengan dukungan pemerintah pusat mewujudkan trans Kalimantan poros Tengah, Kalteng-Kaltim-Kalbar, 700 Km, dikerjakan setelah proyek Poros Selatan terselesaikan.
Melihat begitu pesatnya pembangunan jalan darat, maka bumi Kalteng yang dulu dinilai terisolir kini jadi wilayah terbuka yang mampu memicu kemajuan berbagai sektor wilayah seluas 15,7 juta hektar dengan penduduk 1.045.186 jiwa itu.

layang

Jembatan layang Tumbang Nusa, jembatan menyeberangi rawa terpanjang 7 kilometer lebih, subuah bangunan monumental membuka wilayah Kalteng.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: