MAKANAN DARI DAGING KALONG DISUKAI SUKU DAYAK

    Oleh Hasan Zainuddin
      Tinggal diberi irisan bawang merah, kasih garam secukupnya, ditambah rerempah sop alakadarnya ke dalam air mendidih di kuali, lalu masukan daging kelalawar besar (kalong) tinggal menimati saja lagi.
     “Wah rasanya enak sekali beda dengan sop daging-daging binatang lainnya,” kata Ny Menur saat menjelaskan cara gampang memasak daging kalong.
      Penjelasan Ny Menur tersebut menjawab pertanyaan seorang dari sekian orang yang mengerumuni pedagang kalong di bilangan persimpangan Jalan Willem AS, Kota Palangkaraya.
      Pengunjung itu bertanya bagaimana cara memasak daging kalong, karena ia sendiri belum pernah mencicipi masakan terbuat dari daging kalong tersebut.
      Menjawab pertanyaan itu NY Menur, nyeletuk bahwa ia sudah sering membeli daging kalong di pedagang di Kota Palangkaraya, ibukota Provinsi Kalimantan tengah (Kalteng) ini.
      Tetapi dari sekian menu yang menyajikan daging kalong di dalam masyarakat suku Dayak Kalteng, ia lebih menyukai sop daging Kalong.
      Masalahnya, katanya, selain membuat sop itu gampang sekali, juga terasa sekali rasa enaknya daging kalong tersebut.

kalong
      “Kalau kita buat menu lain selain sop, itu yang dominan bukan rasa daging asli kalongnya, tetapi rasa rempah dan bumbu-bumbunya saja, makanya saya lebih suka sop, ketimbang menu lain,” katanya  kepada puluhan orang yang berkerumun di lokasi pedagang kalong tersebut.
      Sementara ibu penjual kalong sambil membersihkan satwa itu menceritakan berbagai macam makanan yang terbuat dari Kalong biasa di olah oleh warga Dayak Kalteng.
      “Bukan hanya sop, bisa dibuat bestek, dibuat kare, rica-rica, sambal goreng, yah terserah mau diapakan sajalah, seperti daging binatang lainnya,” kata ibu berusia sekitar 55 tahun yang enggan menyebutkan namanya itu.
      Tangan ibu yang tampak masih berlumuran darah itu begitu terampil memainkan pisau dapurnya membersihkan seekor kalong, memisahkan antara kulit dengan daging, daging dengan isi perutnya, serta memisahkan jeriji kaki, sayap, dan ekor kalong tersebut.
      Sesekali ia berucap bahwa mengkelupas kulit satwa ini dengan daging kalau tidak terbiasa memang susah, karena kalau salah maka daging kalong akan hancur, sehingga kurang enak dilihat.
      Daging kalong yang sudah dibersihkan itu kemudian dipotong-potong kecil sesuai permintaan pembelinya, dan tampak terlihat bagaikan daging burung, agak kemerah-merahan.
      Ibu pedagang kalong biasanya menggelar dagangannya agak mencolok dengan menggelar dagangan kalong yang sudah dibersihkan di tepi jalan yang ramai lalu-lintasnya tersebut.
      Selain menggelar daging kalong yang dibersihkan, dia juga menggelar kalung yang masih hidup di dalam sangkar yang tampak bergelantungan, atau kalong yang sudah mati juga bergelantungan diikat pada tempat khusus.
      Sehingga bagi siapa saja yang lewat di jalan Willem AS kota cantik Pakangkaraya pasti menyaksikan keberadaan pedagang ini, apalagi biasanya pedagang ini dikerumini banyak pembeli.
      Banyak pengguna jalan yang berhenti sejanak ketika melihat kerumunan orang, karena penasaran ingin tahu apa yang dikerumuni itu, tapi tak sedikit pengguna jalan akhirnya juga ikut membeli satwa tersebut. 
     Berdasarkan keterangan, ratusan ekor kelalawar besar atau yang disebut masyarakat dengan kaluang (kalong) diperjualbelikan untuk konsumsi oleh sebagian warga Kota Palangka Raya ini.
      Penjualan hewan terbang malam hari tersebut biasanya dilakukan beberapa pedagang, salah seorang diantara bernama Misdan, Pemuda Suku Dayak yang mengaku profesi menjual hewan tersebut sudah cukup lama.
      Menurut Misdan, ia menjual ratusan ekor kalong perhari tersebut setelah diperolehnya kalong itu dari hutan kawasan Bukit Tangkiling yang relatif tak terlalu jauh jaraknya dari Kota Palangkaraya.
       Selain itu, tak sedikit pula kalong yang dibawa ke Palangkaraya hasil penangkapan di hutan Timpah, arah ke Buntok Kabupaten Barito Selatan.
       Berdasarkan cerita, banyak penduduk yang menggantungkan hidupnya menangkap kalong di dalam hutan saat malam hari.
       Penangkap kalong ini kemudian membawa hasil buruannya ke kota-kota besar seperti ke Palangkaraya, dan menjualnya dengan harga partai.
       Kemudian kalong tersebut dibeli pedagang pengecer kemudian baru djual di beberapa tempat, bukan hanya di pinggir jalan tetapi juga di beberapa lokasi pasar yang ramai pengunjungnya.
      “Hari ini saja saya sudah jual 115 ekor, belum lagi pedagang yang lain, membuktikan daging hewan ini cukup diminati,” kata Misdan seraya memperlihatkan seekor kalong ukuran besar.
      Menurut Misdan, daging kalong bagi penduduk Kalteng merupakan makanan yang sedap, lebih sedap ketimbang daging burung atau bebek.
      Daging kalong berwarna merah itu, boleh dibuat menu apa saja, boleh dibuat makanan kare, dibuat gorengan, atau dibakar begitu saja, sama saja sedapnya.
      Diminatinya daging kalong karena bukan hanya enak tetapi oleh mereka yang menyukai daging ini ternyata berkhasiat obat, seperti obat asma, obat pedarahan, atau sangat baik bagi ibu yang baru melahirkan.
      Kalau ibu baru melahirkan terkena penyakit yang dalam bahasa Dayak disebut “Maruyan” (badan panas dingin) cukup mengkonsumi daging kalong, maka penyakit itu akan sembuh, kata Misdan seraya diiyakan oleh pedagang kalong yang lain.
      Misdan menjual satu ekor kalong dengan harga Rp30 ribu per ekor, bila ia berhasil menjual ratusan ekor maka akan mengantongi uang jutaan rupiah.
      Pembeli ada yang membawanya begitu saja kalong yang dibeli dari Misdan, ada pula pembeli yang minta kalong itu bersihkan, yaitu dengan membuang perut, membuang kulit dan paruhnya sampai bersih dan gading hewan dipotong-potong hingga siap dimasak.
      Menurutnya penangkapan kalong di malam hari menggunakan jaring besar dan dilakukan beberapa orang.
     Penangkapan hewan ini oleh penduduk setempat tidak masalah lantaran populasi hewan itu masih banyak di hutan, malah dianggap hewan penggangu tanaman buah-buahan.
     “Banyak warga bersyukur penangkapan hewan ini, karena bila gerombolan hewan ini terjun ke pohon buah rambutan, langsat, atau buah apa saja maka dengan sekedap buah di pohon akan habis,” katanya.

Iklan

3 Tanggapan

  1. emang rasanya enak ya????????

    hehehehehehe

  2. dagingnya nak Nyusssss…enak tenan

  3. enak tuh… klo bahasa dayak nya”Mangat tutu”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: